Artikel-artikel yang harus saya simpan di bulan Juli


Halo!

Ternyata nggak kerasa, sudah di akhir bulan lagi. Which means sekarang saatnya untuk nge-round up beberapa postingan artikel keren dari teman-teman blogger, yang membahas seputar topik blogging dan media sosial (sesuai dengan niche blog ini).

Beberapa hari belakangan, sepertinya saya makin kesulitan menemukan waktu untuk sekadar mencatat apa yang sudah saya pelajari di dunia tulis menulis online dan juga media sosial. Frekuensi ngeblog molor, saya menunggak beberapa tulisan guest blogging, dan juga nggak sempat balesin komen satu per satu, pun kadang nggak sempat untuk sekadar share artikel. Puji Tuhan sih masih banyak yang berkunjung dan ikut membaca, juga ikut berdiskusi sama saya. Terima kasih banyak ya!

So far saya masih berusaha menemukan ritme menulis kembali, dan menyeimbangkan nulis di blog dengan di media lain yang sekarang sedang saya kelola. Karena, ya, memang di sini kan saya nulis semua catatan mengenai apa yang saya pelajari tiap harinya. Dan, to be honest, catatan saya sudah numpuk, dan harus segera disimpan di sini, kalau nggak mau hilang. Hiks. Doakan sajalah, saya bisa bagi waktu lagi.

Anyway. Enough about me!
Round up time!

Berikut ini beberapa artikel blog lain yang saya kumpulkan selama bulan Juli, yang bisa membantu kita meningkatkan skill blogging ataupun tulis menulis pada umumnya.


1. 3 Plugin Untuk Mengamankan Blog WordPress Selfhosted - Guest Post di blog Mbak Isnuansa

Please, pay attention more on security!

Blog saya yang lama dengan sangat terpaksa nggak saya perpanjang lagi umurnya, karena terserang malware nggilani, yang mengarahkan pengunjung ke situs porno. Sebelumnya saya pernah terserang juga dan mengalami deface di web toko online saya yang sekarang juga sudah matik.

Dua pengalaman pahit sudah saya alami bersama Wordpress Self-hosted, yang kemudian membuat saya kapok menggunakannya. Terlalu rumit, buat saya yang gagap security blog. So, buat yang masih suka dengan Wordpress Selfhosted, please, pay attention terhadap security more ya. Ini bisa sebagai langkah awalnya. Jangan malas maintenance.


2. Konten Konten dan Konten - Demi Traffic Aku Rela... Tapi Capek  - Tulisan Blogger Indonesia


#DemiKonten aku rela! - Image courtesy of Tulisan Blogging Indonesia

Yes, everything is about content! Content is the king, and the writer is the god! :)))

Susah kan berburu ide konten?
Ya, kalau konten ala kadarnya sih, 10 menit juga dapatlah ya. Tapi konten yang akan dishare oleh ribuan orang, dibaca oleh ratusan ribu orang ... itu kadang perlu waktu berhari-hari buat nguliknya. Kadang sudah published pun masih diulik lagi, entah judulnya, entah ditambahin konten visual ini itu, dan seterusnya.

Tapi, tetep ya, semua bertolak dari awal. Yaitu, saat ide ditemukan. Dari mana ide konten bisa ditemukan, dan bagaimana caranya? Yes, people, ide itu dicari bukan ditunggu macam jodoh.
Di artikel ada caranya.
Cara buat menemukan ide konten loh, bukan buat menemukan jodoh. :P


3.  Ini Lho Cara Mengamankan Anak Dari Video Dewasa Di Youtube - Terren


Youtube!

Nah, ini penting ya, buat parents!
Banyak yang suka ngeliatin video ini itu ke anak di Youtube. Nanti kalau anaknya sudah bisa surfing sendiri di sana, pastikan nih kita sudah melakukan pengamanan kayak yang dijelasin Terren di sini.

PR buat Carra ya. Iya.


4. Tips: Menghemat Kuota Youtube - Lidya Fitrian


Biar makin asyik nontonnya ye!

Masih soal Youtube. Saya juga sudah liat iklannya beberapa kali di televisi soal ngirit kuota Youtube ini. Dan, Mbak Lidya Fitrian menjelaskannya di blog. Jadi lebih mudah diikuti, dan bisa dilihat lagi kapan-kapan.


5. Jangan Jualan Dulu Kalau Belum Memahami Statistik Blog WordPress! - Mendadak WP


Image courtesy of Mendadak WP

Saya pribadi selalu berprinsip, bahwa kalau melakukan sesuatu dan want to make the most of it, kita harus memahami dulu segala macam pengetahuan dasarnya. Kalau basic-nya saja nggak ngerti, bisa dipastikan nantinya juga kelabakan, atau kalau enggak ya jadinya nggak bisa mengerjakannya hingga optimal. Minimal kita nggak akan tahu apa yang bisa kita ulik supaya usaha kita membuahkan hasil.

So, saya selalu berusaha meluangkan waktu memang untuk mengulik hal-hal mendasar, baru kemudian secara bertahap meningkat ke yang lain. Sekolah aja kan kita nggak mungkin begitu lahir langsung SMA kan?

Yang dijelaskan di sini adalah kita kenali dulu segala macam tentang statistik blog. Gimana mau optimasi blog, kalau baca statistik aja nggak bisa?


6. Write a Product Review – Is It Okay to Write the Truth? - Febriyan Lukito


Image courtesy of Febriyan Lukito

Job review berceceran ditawarkan oleh brand, sayang banget blogger suka asal-asal saat nulisnya.

Asal-asalan gimana?

Ya, asal melunasi utang review. Udah dikasih barang gratis kok nggak ditulis reviewnya?
Kalau sudah gitu, kira-kira, brand yang sudah kasih produk bakalan kecewa nggak kalau baca tulisannya ya? Hmmm ... Coba dipikirkan lagi ya. :)

Saya pernah bahas mengenai artikel job review di web Kumpulan Emak Blogger ini. Dan kemudian dilengkapi lagi oleh artikel ini. Silakan disimak ya, and please ...tulis artikel job review yang bagus ya. Itu tanggung jawab dan tugas lho. Bukan sembarang biar dapat barang gratisan.


Kamu ada rekomendasi artikel serupa dengan artikel-artikel di atas? Please info ya!
Atau kamu ada rekomendasi blog yang khusus membahas tip-tip blogging, menulis dan seluk beluk media sosial yang menjadi andalan referensi kamu? Please info juga ya!

Terima kasih sudah membaca :)
Nulis panjang tapi nggak fokus, ya buat apa?


"Seberapa panjang sih, artikel kita yang paling optimal itu?"

Pertanyaan ini sering banget akhir-akhir saya dengar dilontarkan oleh teman-teman. Mbak Indah Juli juga pernah menanyakannya saat saya sedang berdiskusi dengan beliau di suatu event beberapa bulan yang lalu. Pun banyak kali yang menanyakannya pada saya di setiap kesempatan saya sharing mengenai konten viral.

Pada kesempatan yang sudah-sudah, saya selalu menjawab biasanya 1.000 kata itu rata-rata yang paling ideal. Minimal 700 kata adalah panjang artikel yang mudah diindex oleh Google (Google sekarang lebih suka artikel yang panjang). Kalau menurut data dari hasil surveynya Hubspot, artikel yang mencapai share terbanyak adalah artikel yang panjangnya kurang lebih 2.500 kata.

Uuuu ... pinjing sikili yi! *saking panjangnya*

Nah, sebenarnya kenapa sih kita harus merhatiin panjang tulisan artikel ini? Mau 500 kata, 1.000 kata atau 100 kata, kan nggak masalah kan?

Well, the myth is, yang dulu sering saya baca dan saya tahu dari orang-orang yang menulis duluan daripada saya, bahwa menulis untuk dibaca secara online (melalui handphone, tablet, dan PC/laptop) itu sebaiknya jangan lebih dari 600 kata. Mengapa? Ini kaitannya dengan ketahanan orang untuk membaca secara elektronik, yang memang lebih melelahkan ketimbang buku.

Namun, makin ke sini, saya sendiri merasakan, bahwa nulis 600 kata itu cukup kentang. Hahaha. Ada banyak hal yang rasanya harus dihilangkan, padahal cukup penting. Saya merasakan bahwa saya nggak bisa menyajikan tulisan yang runut, jadi harus melompat-lompat demi terpenuhinya tulisan pendek namun padat itu. Saya jadi merasa nggak bisa menyampaikan pesan saya secara detail dalam tulisan, yang barangkali dibutuhkan oleh orang lain.

Hingga akhirnya, saya melepaskan aturan 600 kata, dan menulis saja sesuai dengan apa yang sudah saya outline-kan. Sedetail mungkin. Serunut mungkin. Dan hasilnya? Rata-rata tulisan saya akhirnya memanjang sampai 1.000 kata, bahkan lebih.

Ndilalah kemudian Google mengupdate algoritmanya, bahwa dia lebih menyukai good and long article. Saya cari tahu lagi, ternyata 700 kata itu dianggap ideal untuk Google. Dan kemudian ada hasil survey dari Hubspot itu tadi untuk artikel viral.

Dan yang saya ketahui kemudian, bahwa sebenarnya panjangnya sebuah artikel itu harusnya disesuaikan dengan tujuan artikel itu dibuat.

Maksudnya gimana?

Panjangnya sebuah artikel itu harusnya disesuaikan dengan tujuan artikel itu dibuat.

Adalah Joe Bunting, seorang penulis dan entrepreneur, yang menulis artikel mengenai hal ini. So, saya akan menuliskan ulang saripatinya ya.

Saat kita menulis artikel di blog maka tujuan kita menuliskannya adalah salah satu dari berikut:
  • Untuk dibaca oleh orang lain
  • Untuk mendapatkan komentar atau feedback dari orang lain
  • Untuk mendapatkan backlink (dari share)
  • Untuk mendapatkan traffic
Hmmm ... apa lagi ya? Coba ditambahin kalau ada yang kurang. :D

Joe Bunting kemudian mencoba untuk melakukan eksperimen terhadap panjang artikel di blognya. Dia menulis banyak blogpost dengan panjang yang sangat bervariasi, dari mulai mini post sepanjang hanya 100 kata, hingga artikel sepanjang 2.000 kata lebih. Nah, ternyata nih, saudara-saudara, dia telah menyimpulkan sesuatu yang barangkali bisa jadi pencerahan kita mengenai panjang ideal sebuah tulisan ini.

Pada dasarnya, nggak ada yang salah memang panjangnya mau 100 kata, 500 kata, atau 2.000 kata. Tapi, masing-masing ada peruntukannya!

Nah, menurut Joe Bunting, ada 3 pertanyaan mendasar yang harus kita tanyakan pada diri kita sendiri untuk kemudian bisa menentukan seberapa panjang artikel yang harus kita tulis.

1. Apakah kita menulis untuk mendapatkan komen?


Buat konten pendek, yang bisa driving discussion untuk bisa mendapatkan komen yang banyak

Kalau iya, berarti 'shorter is better' adalah dalil yang cocok untuk jenis artikel seperti ini. Pembaca belum sampai lelah membaca, dalam kondisi kentang, lalu pancing dengan pertanyaan.

Maka, yang biasanya terjadi adalah diskusi yang panjang. Joe Bunting sendiri suka banget memberikan writing prompt di blognya, yang kemudian akan mengundang orang untuk berpartisipasi. Dia bilang, panjang artikel jenis ini nggak boleh lebih dari 275 kata. Ya, dikira-kira aja sih. Pokoknya jangan panjang-panjang, nggak bikin pembaca capek duluan terus udah males mikirin jawaban.

Writing prompt itu bisa dibilang pancingan, atau pertanyaan survey gitu deh. Kayak yang hari ini saya lakukan di Facebook. Itu kan cuma berapa kata yah? Komennya? Udah lumayan.




Coba kalau itu ditulis di blog, apakah efeknya sama? Sepertinya sama saja. Cuma mungkin nggak secepat di Facebook, yang realtime ya.

Tapi, meski bisa mengundang banyak komen, artikel pendek seperti ini cenderung kurang share-nya, dan berat banget untuk diindex oleh Google. Jadi Joe Bunting menyarankan, artikel sejenis ini paling cocok untuk building audience dan membangun engagement.

So, maybe bisa kita pakai juga di Facebook Page, jika kamu menginginkan awareness nambah dan build more engaging content untuk Facebook Page kamu.

2. Apakah kita menulis agar di-share oleh orang-orang?

Hasil penelitian OkDork

Kalau iya, Joe Bunting menyarankan untuk menulis medium length posts, sekitar 600 - 1.250 kata.

Tapi tentu saja, panjangnya tulisan ini bukan faktor satu-satunya yang bisa membuat sebuah tulisan itu akan dishare lho ya. Tetap ada itu yang namanya kualitas konten, topik yang diangkat, dan apakah tulisan kita itu memecahkan masalah yang dibawa oleh pembaca, akan menentukan seberapa besar sebuah konten bisa viral.

Yang saya tambahkan di sini juga adalah fokus tulisan. Kalau tulisannya panjang tapi nggak runut, mbleber ke mana-mana, bahas apa-apa yang nggak ada hubungan dengan topik utama ... ya dadah bhaybhay saja tetepan.

Oh iya. Dan judul ya! Judul ini penting banget kalau kamu mau postingan kamu viral. (meski kemudian yang terjadi adalah, artikel kamu dishare tanpa dibaca :))) wakakakak. Tapi viral kan?)

3. Apakah kita menulis untuk mendapatkan traffic dari Google (based on algoritma terbaru)?

Hasil penelitian serp IQ

Kalau iya, Joe Bunting menyarankan untuk menulis setidaknya 2.400 kata. Dia mengatakan bahwa, "Search Engine Optimization (SEO) is a tricky business, and while the rewards for getting it right can be extremely high, focusing too much on it can be a huge waste of time."

Kalau mau baca lebih lengkap mengenai penelitian terhadap hubungan antara Google dan artikel panjang, kamu bisa baca di sini nih. Bahasa Inggris ya, artikelnya. Hehehe. Soalnya belum ada kayaknya yang bahas itu di sini kayaknya mah.

Search engine suka artikel yang panjang, original, dan yang berfokus pada pemecahan masalah yang mungkin sedang dialami oleh pembaca. Inget kan sekarang SEO bukan lagi Search Engine Optimization, melainkan Search Experience Optimization? Bahwa search engine i.e. Google, lebih menekankan pada pengalaman atau experience dari user. Ya, kita-kita gini deh. Saat kita lama menghabiskan waktu di satu website, apalagi terus buka-buka yang lain, data visiting kita akan dirangkum oleh Google.


Nah, jadi kesimpulannya gimana nih?
Begini yang saya tangkap yah, nggak cuma dari tulisan Joe Bunting, tapi juga dari beberapa artikel referensi luar. CMIIW.

  • 75 - 300 kata, untuk artikel yang bertujuan meng-generate discussion. Artikel ini akan jarang dishare, kecuali kalau ngajakin yang lain untuk ikutan diskusi, juga akan sulit mendapatkan trafik dari Google.
  • 300 - 600 kata, adalah ukuran standar artikel di blog yang disarankan oleh banyak blogging guru (terutama di luar negeri sih saya bacanya). Tapi pengalaman saya, nulis artikel sepanjang ini tuh kentang nanggung abisssss, nggak sempet jelasin apa-apa deh :)) Terlalu singkat juga untuk bisa di-noted sama Google sebagai artikel yang bisa memuaskan pembacanya.
  • 750 kata, merupakan panjang artikel jurnalisme yang paling ideal. Menurut beberapa blogging guru, artikel dengan panjang segini tuh cukupan deh jumlah share-nya.
  • 1.000 - 1.500 kata, komennya mungkin akan lebih sedikit. Karena orang-orang yang baca sampai selesai biasanya telah terpenuhi hasrat ingin tahunya, dan nggak ada lagi yang ditanyakan. Biasanya artikel sepanjang segini itu juga sudah mencakup pembahasan masalah yang cukup detail, dan juga sudah menawarkan solusi meski nggak terlalu dalam. Tapi ya, cukuplah.
  • 2.500 kata atau lebih, ini yang didemenin Google. Logika saya sih, kalau memang artikelnya menarik dan mampu membuat pembacanya menyelesaikan sampai akhir, berarti pembaca akan tinggal lama di artikel tersebut yang berarti ini akan mengurangi bounce rate. Bener nggak? Sehingga hal ini akan dinilai Google sebagai good user experience. So, Google pun akan merekomendasikan artikel sejenis ini pada pembaca yang lain.
Nah, semoga bisa menjawab pertanyaan umum mengenai seberapa panjang artikel blog itu sebaiknya. Kita harus menyesuaikannya dengan peruntukan masing-masing.

But ... you know what?
Jangan jadikan ini patokan saklek sebuah tulisan. Untuk blog pribadi apalagi, just write as you want. Pastikan saja artikelmu tetap fokus, entah pendek entah panjang. Kalau memang perlu bahas mendetail, ya tulis saja secara detail. Setiap panjang artikel masing-masing punya keuntungan sendiri-sendiri, tinggal kamu kenali saja, lalu make the most of it.

Yang paling penting: apakah kamu menawarkan solusi pada pembacamu? Apakah kamu menulis apa yang diperlukan oleh pembacamu? Apakah kamu mendengarkan pembacamu?

Ada pendapat lain? Atau ada yang mau ditambahin?
Sok, ditulis di kolom komen yah!
Demi kesehatan, orang-orang tipe begini saya hindari saja. Gimana dengan kamu?


Media sosial layaknya kerumunan orang banyak. Karakter pun bermacam-macam, dan jangan salah, pun bisa dibaca dan dikenali dengan cepat. Karena meski nggak muka ketemu muka, dari tulisan dan attitude online pun bisa kelihatan, seseorang itu toxic apa enggak.

Tapi kan, kita nggak bisa menghakimi orang yang belum kenal mendalam dan langsung. Bisa saja aslinya nggak seperti yang di online.

Betul banget! Kalau memang aslinya beda jauh dengan yang nampak di online, maksudnya orangnya lebih baik, lebih anteng, lebih enak diajak bersahabat, ya menurut saya itu derita dia. Kenapa macak sebagai toxic people saat online kan? :)) Toh, kita bisa memilih mau seperti apa kita saat online. Wise-nya orang sebenarnya juga bisa kelihatan kok meski hanya lewat cuitan di Twitter, status di Facebook, dan lain-lain.

Kalau memang beda, dan yang asli ternyata lebih asyik sedangkan yang di media sosial dia lebih toxic, ya saya tetep kok. Mendingan agak jaga jarak di media sosial.
Kenapa?

Demi kesehatan.


Baca juga: Ini Lho 7 Tanda Insecure Saat Gaul di Media Sosial. Hati-hati! 


Bukankah kita harus surround ourself dengan positive people kan? Begitu juga saat berada di media sosial. Karena itu, saya menghindari atau menjaga jarak dengan orang-orang tipe seperti ini.
(Barangkali, mereka juga sebaiknya kamu hindari saja. Demi kesehatanmu.)


1. The no-mentioners



Biasanya yang kayak gini tuh, ngomongnya pedes.

Namanya bergaul, biasa kali ya ada pro dan kontra, ada yang setuju atau enggak.
Tipe ini adalah tipe orang-orang yang sebenarnya nggak setuju dengan satu kondisi atau pernyataan, kemudian membuat status atau apa pun yang lain. Status yang dibuatnya tersebut memang nggak menyebutkan nama secara langsung. Tapi dengan clue-clue-nya, orang jadi tahu, siapa yang dituju. Nyindir, istilahnya.

Yang begini lalu membuat kepo yang lain. Dan, akhirnya bola salju membesar hingga tak terbendung. Terciptalah suasana yang nggak mengenakkan. Apalagi kalau yang di-no mention-in juga balas. Wah, sedap.

Saya biasanya sih ketawa kalau ada yang suka no mention. Tapi kalau kebanyakan, eneg juga ya. Saya lebih baik menjauh.

2. The blind sharer

Sudah share berita heboh ... ternyata beritanya hoax. Beugh!

Tipe ini adalah tipe-tipe yang suka nge-share berita nggak jelas, gambar mengerikan, konten-konten yang diragukan kebenarannya, tanpa mau kroscek, tanpa mau lihat-lihat. Tipe orang yang membutakan diri sendiri dan picik.

Biasanya sih saya suka sepet kalau ada yang share konten-konten SARA, padahal saya TAHU banget yang dishare itu adalah produk kegagalpahaman. Atau misalnya suka share foto-foto nggilani. Padahal sudah banyak yang bilang kalau yang kayak gitu nggak nyaman. Atau suka share konten-konten provokatif yang konyol, dan udah jelas hoax-nya tanpa kroscek kebenarannya.

Pokoknya yang sharing berita atau konten yang nggak dikroscek dulu deh.

Saya lebih baik menghindarinya, karena yang begini ini bisa membodohkan diri sendiri.


3. The over sharer

Saya dulu pernah melakukannya juga sih. Duh, kalau inget, malu bener!

Sharing is caring. Berbagi itu baik. Tapi kalau berlebihan atau lebay, yah ... nggak sehat juga. Mau contoh? Misalnya, ngobok-obok drama keluarga (meski keluarga sendiri). Atau nyetatus soal how boring pekerjaannya, atau malah ngerumpiin bos.

Atau ... sudah sering kita lihat banyak imbauan untuk nggak terlalu eksploitasi anak di media sosial, karena bahaya. Eh ... malah makin kenceng share foto anak. Duh, saya mah miris kalau yang kayak begini mah. I really feel sorry for the kids. Saya sedih melihat hak privacy mereka terenggut. Apalagi kalau anaknya berpose yang malu-maluin. Lagi mandi, misalnya. Atau lagi nangis.

Ya, pokoknya tipe-tipe yang terlalu mengumbar privacy deh.

Saya mendingan unfollow tipe-tipe yang terlalu mengumbar privacy kayak gini. Sumpah, bukan saya nggak simpati. Mungkin dramanya memang bener, tapi ... that's not the way it works. Really.


4. The braggers

It's the negative people that I avoid gladly!

Nah, yang ini, saya dengan sangat senang hati hindari.

Tipe begini adalah tipe yang meremehkan keberadaan, keunggulan, dan peran orang lain. Tipe begini adalah tipe yang selalu menginginkan panggung untuk dirinya sendiri all the time.

Misalnya, saat ada yang sharing, maka dia pun juga nggak mau ketinggalan ikut "tampil", dan menunjukkan bahwa dia punya yang lebih dari yang lain. Namanya juga bragging, ya dia akan berlagak, belagu. Aslinya? Nggak tahu juga. Biasanya sih yang tipe begini kalau sudah bragging, saat ditanya lebih lanjut, dia akan ngeles atau diam.

Saya sebenarnya kasihan sih dengan tipe yang begini. Whether mereka memang attention whore, atau memang butuh eksistensi. Saya pribadi akan dengan senang hati menyerahkan panggung buat mereka kalau pada mau sih :)) Saya nggak butuh panggung buat eksis. Hahahaha. Eh ini, bragging juga ya? Hahaha.

Cuma ya gitu deh, biasanya mereka ini dengan enteng merebut panggung orang lain. Jadi lama-lama ya, eneg juga lihatnya.


5. The bulliers

Sepertinya ini tipe-tipe orang suci yang nggak pernah melakukan kesalahan.

Saya paling takut sama tipe ini. Jujur banget nih. Saya lebih baik menjauh saja.

Tipe ini akan dengan senang hati "mendamprat" orang lain yang dirasakan merugikan dirinya. Nggak berhenti sampai di situ, dia juga akan memengaruhi orang-orang di sekitarnya untuk berpihak padanya, dan kemudian bersama-sama "menyerang" pihak lain yang dianggapnya bersalah.

Come on, Gaes! Apakah kita bisa pernah benar-benar luput dari kesalahan? Siapakah kita hingga kita boleh menghakimi sesama?

"Tapi kalau nggak begitu, dia nggak akan merasa bersalah dan kapok!"

Iyakah? Siapakah kamu hingga kamu merasa berkewajiban untuk membuatnya jera?
Ketimbang makan hati, saya lebih baik menghindarinya saja. Tipe ini sungguh mengerikan. Apalagi kalau sampai ada ancaman, semacam, "Jangan main-main deh sama kita!"
Waduw! Kayak preman yah :(


Baca juga: [Guest Post] Ini Dia 4 Tipe Social Media Junkies. Kamu Termasuk yang Mana?


Nah, itu dia 5 toxic people yang dengan senang hati saya hindari. Kalau kamu, adakah tipe-tipe tertentu yang lebih baik kamu hindari saja demi kesehatan jiwamu? Atau, kamu tipenya orang yang bisa woles bergaul dengan siapa aja? Kalau gitu, bagi resep dong, gimana caranya selalu woles gitu :)

Postingan ini saya tulis sebagai dasar introspeksi diri sendiri, agar selalu ingat jangan sampai jadikan diri sendiri menjadi toxic. Kalau saya pernah being toxic, please, maafkan saya ya :) *salim* #masihsuasanaLebaran :))
Dan, tolong ingatkan saya, kalau suatu kali melakukan yang ada di atas itu :)
Sekadar catatan dari beberapa saat mengelola Facebook Page


Hai!

Sebelumnya, ada artikel yang mencatat mengenai Facebook Page secara basic dulu. Dan sekarang adalah catatan seputar pemanfaatan Facebook Page untuk menambah, seenggaknya, sedikit traffic ke web atau blog kita. Sengaja dipecah menjadi beberapa bagian, supaya enak nulisnya dan juga lebih detail. Karena saya akan membutuhkan catatan ini suatu saat nanti. Setelah ini besok kemungkinan saya akan bahas mengenai serba serbi organic reach sebuah postingan di Facebook Page.

Dalam postingan terdahulu tersebut, saya sudah sebutkan kalau sebenarnya saya sayang banget kalau sampai Facebook Page udah dibuat, tapi nggak dioptimalkan. Sayang aja udah ada sarana, tapi nggak dipakai kan? Saya cukup penasaran soalnya, masa sih nggak bisa dioptimalkan untuk blog juga? Saya sendiri saat ini sedang mengelola dua Facebook Page, yang satu sebagai PR penerbit, yang satunya untuk portal web.

Yang PR penerbit saya kelola benar-benar secara organic. Nggak pernah pakai iklan sama sekali. Dan bisa bertambah sekitar 3.000-an likers semenjak 2 tahun lalu. Yang untuk promosi portal web, memang ada pasang iklan. Makanya bisa berkembang sampai 12.000 likers dalam 6 bulan. Iklannya sih bukan saya yang pasang. Tapi, saya masih tetap berusaha secara organic-nya.

Keduanya saya pakai sebagai tempat trial and error beberapa tips dan trik yang saya dapatkan dari beberapa tempat. Ada beberapa hal yang memberikan efek yang sama dan cukup signifikan. Makanya, saya harus punya catatan.
Dan saya cukup penasaran, seharusnya yang saya lakukan ini bisa juga dipakai untuk Facebook Page yang akan dipakai sebagai alat promosi blog. Karena secara prinsip, seharusnya sama saja.

Selanjutnya, langsung aja deh.

Ada beberapa hal yang pernah saya coba lakukan pada Facebook Pages yang saya kelola.


1. Menganggap Facebook lebih serius

Facebook - Harus kita manfaatkan sebaik-baiknya supaya memberikan nilai tambah.

Ini yang pertama kali memang harus digarisbawahi. Saya pada awalnya juga nggak pernah menganggap serius Facebook. Facebook hanya sebagai tempat kongkow-kongkow secara virtual, komen sana komen sini, lihat yang lucu-lucu, dinyinyirin, and that's it.

Yang pertama harus kita lakukan adalah melihat Facebook lebih dari sekadar alat buat mainan. We have to take it seriously. Begitupun saat kita mulai membuat Facebook Page. Jangan 'bikin dulu, urusan nanti'. Because, Facebook kita juga nggak akan anggap kita serius juga. So, sedari sekarang, kalau pengin driving traffic dari Facebook Page ke blog, alokasikan waktu khusus untuk mengerjakannya. Dan itu, di luar waktu ngeblog sendiri, atau di luar waktu mainan Facebook. Karena membuat konten di Facebook Page itu juga time consuming.

Kok time consuming? Kan tinggal share aja postingan di blog?
NO. No. Itulah yang selama ini salah. Sekadar sharing doang, it won't take you anywhere at all. Kalau hanya share postingan di blog doang terus tinggal, itu nggak akan ngaruh banyak ke statistik mana pun, entah itu likers, engagement, juga ke traffic. Ternyata itu nggak cukup.
Dari beberapa pengamatan saya terhadap Facebook Pages beberapa brand terkenal, mereka nggak cuma share mentah-mentah dari web mereka. Mereka mengolah konten Facebook-nya secara khusus. Dan, seharusnya, hal ini juga bisa kita terapkan dengan Facebook Page blog kita.

Kok gitu? Terus gimana dong, kalau bukan share postingan di blog?
Nanti ya, akan dijelaskan di bawah.

2. Pilih nama Facebook Page dengan saksama

 

Dengan lebih serius memanfaatkan, kita bisa membuatnya menjadi PR bagi blog kita.

So, mulai dari nama Facebook Page saja, kita harus mulai memikirkannya benar-benar. Menurut pengamatan, nama Facebook Page yang mengadopsi dari nama orang, itu kurang menarik. Kecuali, kalau kita sudah setenar Raditya Dika, atau setenar Riana Rara Maksum, baru deh bakalan menarik perhatian orang. Kalau pengin menarik orang di luar pertemanan, kita harus menggunakan nama yang lebih umum tapi sekaligus unik. Kenapa? Ya karena ... siapa kita sampai orang mau tahu soal kita? Cuma menjadi 'blogger' saja bukan jaminan orang tahu. Blogger itu bukan siapa-siapa di luar sana. Nggak banyak orang tertarik, kecuali yang menggeluti bidang yang sama.

Terus gimana dong? Barangkali nih ya, kalau memang mau menggunakan nama kita sebagai nama Facebook Page, pastikan pula kita punya satu atau dua keywords mengenai topik blog kita.
Misalnya, Facebook Page saya ada kata 'design'-nya. Kata 'design' itulah yang menjadi keyword. Dulu saya pernah bikin Facebook Page buat jualan, dan saya pastikan ada kata 'batik' di dalamnya.
Lalu bagaimana dengan blog gado-gado? Tambahkan saja keyword yang sekiranya mewakili sekaligus menarik juga. Misalnya, lifestyle.

Atau misalnya nih, saya ambil dari blog ini ya. Kalau saya mau bikin Facebook Page, saya akan kasih nama "CR Creative Writing" misalnya. Itu CR dari Carolina Ratri ya, bukan Cristiano Ronaldo. #apeu *dikeplak

Atau kalau mau pakai kata lifestyle, ya misalnya "Carolina Ratri - Lifestyle Blog". Tapi saya sih cenderung nggak usah pakai nama sih. Siapa sih saya? Biar saja orang-orang kenal dengan kontennya. Dengan begitu kan malah lebih baik.
Nah, kalau mau ambil contoh blog teman hmmm ... siapa ya? Mas Dani Rachmat, misalnya. Facebook Page-nya saya akan kasih nama, "Ngobrolin Duit Sambil Nyantai". Hahahaha. Kan unik dan menarik tuh XD *dijepret Mas Dani*.

Terus, gimana dong brandingnya? Kan kita pengin ngebranding nama kita sebagai blogger. Sesungguhnya, akan lebih berat ngebranding nama sendiri, ketimbang topik sebuah blog atau web. Saya melihatnya begini, pertama kita branding dulu blog kita, setelah mendapatkan banyak likers, baru deh nama kita afterwards. Ya kecuali kalau memang sudah jadi blogger kondang atau seleblog, macam Diana Rikasari, misalnya. Dia mau pasang nama, ya sukses aja. Semua netizen juga tahu kalau dia itu blogger.

Logikanya juga nyambung kok. Kalau blognya sendiri sudah terbranding dengan baik, nama kita juga akan ikutan. Jadi, kalau saya sih alih-alih ngebranding nama, mendingan ngebranding topik blog dulu. Nggak tahu kalau Mas Anang.

Sebenarnya ini juga balik ke blogger masing-masing juga sih. Kalau sudah merasa punya cukup magnet untuk menarik dengan nama diri, ya terserah saja.

3. Konten, konten, dan konten

Konten tetap jadi yang utama.

Sekarang saatnya mikirin konten, setelah kita sudah menganggap serius Facebook dan punya nama Facebook Page yang tepat.

Kok konten lagi mesti dipikirin? Facebook Page saya mau dipakai untuk sharing artikel di blog. Ya, berarti tinggal share aja konten dari blog kan? Langsung aja gitu. Kalau perlu pakai dlvr.it aja. Saya sibuk soalnya, nggak sempat kalau sharing yang terlalu ribet.

Yaaa ... nggak apa juga sih. Hak masing-masing. Perhatikan saja reach-nya seperti yang saya kasih screenshoot di artikel basic Facebook Page kemarin. Apakah reaching-nya cukup untuk men-drive traffic ke blog? Dari kebanyakan penjawab survei saya yang lalu sih, kebanyakan masih merasa belum optimal.

Coba deh, come with me ya. Cek, apakah saya bener nih alur pikirnya.
Untuk bisa men-drive traffic dari Facebook Page ke blog, kita harus menautkan antara artikel blog yang dimaksud dengan postingan di Facebook Page. Betul? Nah, berarti kita harus memikirkan bagaimana caranya agar kita bisa menarik perhatian dulu sehingga postingan di Facebook Page itu bisa dibaca oleh banyak orang. Betul? Dengan demikian, kita HARUS mengolah konten di Facebook Page tersebut secara khusus (based on artikel blog kita) supaya eye catching. Betul?

Ada perbandingan seperti ini yang saya lakukan.
Saya ada dua postingan Facebook Page, yang satu langsung nge-drive ke web. Satunya lagi secara nggak langsung nge-drive traffic ke web, tapi coba perhatikan engagement dan viralitasnya.

Konten yang langsung share dari web. Tergantung dari konten webnya sendiri, reachingnya mencapai 2.124 orang secara organic, tanpa diiklankan
Dari konten web yang sama, saya buat sebagai visual content berseri. Reachingnya bisa 5x lipat.

Dari kedua konten di atas, lalu bagaimana traffic ke web-nya? Barangkali logika umumnya adalah karena konten yang pertama di atas itu langsung me-refer ke artikel asli, pastinya akan lebih banyak klik ke webnya. Betulkah? Apalagi konten kedua yang image berseri itu sudah ada konten pula di masing-masing gambar. Jadi orang nggak perlu lagi datang ke webnya untuk membaca artikelnya yang utuh.

Kalau kamu berpikir demikian, coba lihat dua screenshoot berikut ini.

Berhasil 'membuahkan' 70 link clicks
Membuahkan 151 link clicks, belum yang lain-lain.
Lihat perbedaannya kan ya?

So, apakah semua konten web atau blog bisa dijadikan begini? Berdasarkan pengamatan dan pengalaman saya yang pendek ini, biasanya sih yang bisa dijadikan visual content berseri seperti ini adalah yang berupa listicle.
Lalu topik apa saja yang bisa dijadikan begini? Mmm, sepertinya semua juga bisa. Makin detail kita mengamati, makin banyak kita mencoba, maka makin peka pula kita bisa memprediksikan sebuah artikel bisa kita viralkan di Facebook Page atau enggak.

Saya juga sering gagal mem-viral-kan seperti ini. Tapi beberapa kali saya mencatat, ada beberapa jenis konten yang bisa viral di Facebook, yaitu video atau slide atau gif, dan image berseri seperti di atas.

Namun sebelumnya, kita ya harus punya konten yang kuat dulu di blog. Kalau enggak, ya tetep susah juga kalau mau nge-drive traffic-nya.
Nah, sekarang tahu kan, kenapa bikin konten Facebook Page itu time consuming, dan juga membutuhkan keseriusan?

Dari beberapa kali percobaan, saya akhirnya nggak bisa menyangkal lagi, bahwa traffic dari Facebook Page ke blog itu tergantung pada organic reach terlebih dahulu. Sepertinya kalau organic reach-nya saja nggak terlalu bagus, mau diiklankan juga reaching-nya pun nggak terlalu memuaskan. Nah, organic reach yang bagus itu tergantung pada konten blog juga, berarti kan.

Terus, apa lagi ya yang bisa kita lakukan untuk bisa mendapatkan organic reach yang bagus? Ternyata ada beberapa hal yang bisa kita usahakan untuk bisa meningkatkan organic reach ini. Eh tapi kayaknya kita perlu tahu dulu sih, basic-basic mengenai organic reach ini. Kalau kita tahu apa saja formula yang ada di dalam organic reach itu, kita pasti akan tahu apa yang harus kita manfaatkan untuk bisa meningkatkan jumlahnya.

Betul nggak logika saya?

Hmmm ... nyambung ke postingan berikutnya deh.
Udah panjang. :)))
Siapa sekarang yang nggak tergantung dengan koneksi internet?


Entah kenapa akhir-akhir ini energi menulis di blog agak menurun. Mungkin efek liburan, ataukah memang tersedot habis untuk pekerjaan. Belum lagi masalah lain-lain yang juga breathtaking. Ah, sudahlah. Malah jadi curcol nanti yah :)) Sekali lagi, entahlah.

Untunglah saya kerja lepas. Jadi masih bisa ulik-ulik jadwal harian supaya tetap bisa memberikan hasil yang optimal.

Ya begitulah, kerjaan freelancer ya. Enaknya, kalau lagi down, kita bisa atur ulang time management sesuai dengan situasi dan kondisi tanpa harus ribet juga. Kebayang kan kalau kita kerja terikat di kantor? Kalau lagi down, ya harus memaksa nggak down. Karena akan berefek juga ke yang lain. Jadilah efek domino. Karena kelalaian satu orang, yang lain juga akan kena.

Tapi, meski begitu ya tetap aja sih ada minusnya. Kalau semangat dan energi nggak meningkat juga, akhirnya kita sendiri yang rugi. Kerjaan molor, klien nggak puas. Ujung-ujungnya juga ngaruh ke kualitas dan profesionalisme kita kan?

Terus, caranya gimana supaya semangat dan energi terpompa lagi? Biasanya sih ya, dengan jalan-jalan. Lupakan dulu deh kerjaan rutin. Ngeblognya, nyosmed-nya ...

(((nyosmed))) ... cemana ada istilah itu? >_<

Tinggalin dulu semua, lalu jalan-jalan!
Jalan-jalan juga nggak mesti traveling ke negeri antah berantah yang musti naik speedboat buat menjangkaunya. Ya, kecuali kalau kamu memang traveler. Tapi, sesekali waktu juga penting itu piknik ke mana gitu.
Atau kalau enggak bisa, ya, jalan-jalan virtual juga sudah cukup. #sayaorangnyanrimo

Kalau traveling beneran ada speedboat buat menjangkau daerah-daerah terpencil untuk dijelajahi, terus gimana dengan traveling virtual? Ada speedboat-nya juga. Indihome. Hahaha.

Beugh. Saya makin sadar bahwa saya ternyata nggak bisa melepas Indihome sejak saya datang ke acara Seminar Embracing the Future of Indihome, 28 Juni 2016 yang lalu di Skylounge Hotel Neo Yogyakarta. Seminar yang juga sekaligus acara buka bersama itu memang diadakan dalam rangka memperkenalkan masa depan Indihome untuk masyarakat Indonesia, melalui media blogger dan sosial media terkemuka di Jogja.


Ki - ka: Pak Sujito, Mbak Indah Juli, Pak Firmansyah


Hadir di acara tersebut adalah Bapak Sujito dan Bapak Firmansyah dari Indihome, yang akan menjabarkan apa saja yang akan diberikan oleh Indihome setidaknya hingga lima tahun mendatang. Dengan dimoderatori oleh blogger kondyang, Mbak Indah Juli, acara pun berlangsung lancar dan renyah. *kriuk*

Saya, sebagai seorang pekerja digital, ya pastilah mengikuti acara dengan takzim *halagh* Ya, gimana enggak ya? Saya kerja freelance, pun remote. Apa-apa tergantung banget sama koneksi internet. Saya nyaris nggak bisa kerja tanpa internet. Dari mulai ngumpulin data, pas meramu data menjadi karya, hingga mengirimkannya, semua serba digital kan? Makanya saya perlu tahu banget perkembangan Indihome di masa depan kayak apa. Demi kemaslahatan umat, dan demi lancarnya kerjaan.

Termasuk saat saya down begini, saya bisa jalan-jalan menyegarkan pikiran secara virtual juga tergantung sama kecepatan koneksi. Lha, kalau mau youtube-an, ya masa pakai buffering? Bisa tambah stres pasti. Mau instagraman, mesti ngitung kuotanya masih cukup apa enggak? Hadeh. Yang bener aja.


Pak Sujito sedang memberikan penjelasan


Dan, ternyata perkembangan Indihome makin keren aja ke depannya lho. Hmmm ... baiklah, biar lebih jelas dan singkat, seperti biasa, saya akan kasih per pointer aja deh ya.

Alasan mengapa seorang freelancer membutuhkan Indihome sebagai speedboat sahabat dan partner kerja.


1. Jaringan fiber Telkom kini mencapai 81.714 kilometer


Yes, mulai dari Aceh hingga Papua, sekarang sudah mulai ter-cover oleh kabel fiber milik Telkom. Kabel tembaga yang tadinya dipakai, secara bertahap sudah mulai diganti semuanya. Pelanggan speedy yang tadinya menggunakan kabel tembaga ini, juga secara bertahap mulai dialihkan ke fiber.

Mengapa fiber? Konon sih lebih cepat koneksinya, dan ... apa sih ya, istilahnya ... saya lupa. Tapi semacam bisa paralel gitu lho. Makanya layanan Indihome sekarang kan macem-macem kan? Ya telepon, ya internet, ya TV. Tadinya kalau lagi dipakai Internet kan teleponnya jadi nggak bisa dipakai. Ya, itulah, karena pakai kabel tembaga.

Sekarang sudah enggak lagi. Sekarang zamannya fiber. Dan akan semakin panjang aja tuh, kabel fibernya soalnya sekarang juga belum semua ter-cover dan diganti. Jadi, kita tunggu aja.

Mau cek apakah daerahmu sudah ter-cover fiber? Bisa. Ke sini ya.

2. Ada ribuan titik Wifi.id corner di seluruh Indonesia


Saya agak-agak kurang dengar apa gimana, tapi kalau nggak salah 30.000-an atau 130.000-an ya? Pokoknya saya dengernya cuma tiga puluh ribu doang deh. Hahahaha. Gimana sih ini audience-nya. Yamaap, sambil mengamati mas-mas Neo yang nyiapin menu bukber sih :))) *dikeplak*

Dengan hanya Rp 5.000 aja, kita sudah bisa menikmati koneksi internet secepat 100Mbps di titik-titik Wifi.id corner tersebut.

3. Ada 3 macam layanan fleksibel


Kalau tadinya kamu pernah mendengar bahwa saat pelanggan berhenti langganan layanan internet dan kemudian layanan telepon rumahnya dicabut, itu hoax ya.

Indihome menyediakan 3 macam paket layanan yang secara fleksibel bisa kamu pilih, yaitu 1P (telepon rumah saja), 2P (telepon rumah dan internet), dan Triple Play (telepon rumah, internet, dan TV). Kamu boleh memilih yang mana yang sesuai buat kamu. Hanya saja, menurut Pak Firmansyah, sayang banget kalau cuma 1P atau 2P, karena dengan kekuatan bulan kabel fiber sekarang, kamu bisa banget memanfaatkan fasilitas lebih dari Indihome. Bayarnya nggak seberapa besar selisihnya, tapi dapetnya lebih banyak. Gitu.

Mau tahu paket-paket yang ditawarkan Indihome? Ada di sebelah sini.

4. Harga paket disesuaikan


Menurut Pak Sujito, harga per paket yang ditawarkan oleh Indihome sebenarnya nggak fixed, tapi tergantung oleh survey yang dilakukan oleh petugas. Jadi bisa saja harga paket di satu kawasan berbeda dengan harga paket di kawasan lain. Kan pendapatan penduduknya bisa berbeda-beda. Jadi kalau kamu mau mengajukan permohonan jaringan fiber, coba ajaklah tetangga-tetangga sekompleks buat ngajuin. Pas petugasnya datang survey itulah nanti kemudian juga akan diperkirakan berapa harga paket yang cocok untuk daerah kamu.

Juga, menurut tambahan dari Pak Sujito, kadang memang ada satu rumah yang nampak bagus, tapi tetap bisa saja dinegosiasikan harga paketnya kalau memang tidak memungkinkan si penghuni membayar mahal.

*lalu mikir pindah rumah ke lokasi dengan harga paket yang lebih murah*

5. Banyak sekali perkembangan ke depannya


Telkom juga nggak berhenti di sini saja nih pengembangan jaringannya. Bahkan sudah ada planning sampai dengan tahun 2020.

Nggak cuma penyediaan koneksi internet, Indihome juga menyediakan berbagai konten menarik. Ya, gimana enggak ya? Kayak hooq, iflix, dan CatchPlay sudah bisa dinikmati lho. Belum lagi add ons yang lain. Juga disediakan STB Hybrid (dengan nambah biaya sedikit saja) untuk menggantikan STB yang biasa, sehingga kita bisa menyulap TV tabung kita menjadi smart TV lho. Ih, pengin coba!

Image via Indihome . co . id


Nah, kan? Gimana enggak bisa jadi sahabat para freelancer ini Indihome?
Mulai dari jadi sahabat pas kerja, pun bisa banget kan jadi sahabat pas lagi mood kerja lagi down? Bisa nonton film-film keren dan juga siaran-siaran TV yang menarik.

Untuk layanan service-nya pun menurut saya so far baik-baik saja. Kadang ya namanya koneksi internet, ada down-nya. Tapi begitu saya telepon 147 atau kulik-kulik akun Twitternya di @telkomcare, nggak sampai 24 jam biasanya juga sudah up lagi. Dan biasanya kalau sudah up, malah makin kenceng aja. Hahaha.

Saya lagi nungguin aja untuk dialihkan ke jaringan fiber nih. Karena sekarang saya masih pakai kabel tembaga. Ya maklum, saya kan udah langganan speedy (waktu itu) dari tahun 2005 :) Setia banget kan saya? Hehehe.
Mau memanfaatkan Facebook Page untuk Mendukung Performa Blog? Ketahui dulu apa yang bisa kita manfaatkan!


Hai!

Sebelumnya, sudah membaca pengenalan awal mengenai Facebook Page dan Facebook Ad yang pernah ditulis oleh Terren belum di blog ini?
Belum? Kalau belum, boleh dibaca dulu.

Sebelumnya juga disclaimer juga nih.
Yang akan saya tulis di bawah ini, murni adalah catatan dari hasil pengamatan saya, kemudian saya cross-check dengan tips-tips blogging yang bertebaran, yang kemudian memang saya simpulkan dan tulis sebagai bahan pembelajaran saya sendiri. Jika ada yang tertarik dan ikutan baca, silakan. Jika ada salah data, please let me know :) Karena saya juga masih belajar jalan di industri ini :)

So, sudah makin banyak yang memanfaatkan Facebook Page sebagai 'staf' marketing  blog masing-masing kayaknya. Kecuali saya, yang memang nggak pakai Facebook Page buat blog. Hihihi. Facebook Page saya cenderung buat portfolio sih. Sudah like belum? #eaaaa Teteup ya, cyinnn ... Promosiong. Hahaha.

Facebook Page yang saya manfaatkan sebagai portfolio.


Sebenarnya, dari fenomena pada bikin Facebook Page itu, kemudian tanpa bisa saya kendalikan, berbagai pertanyaan lantas muncul di benak. Apa ya, yang menyebabkan terus pada bikin Facebook Page? Apakah karena katanya bisa dipergunakan untuk branding? Apakah karena katanya bisa dipergunakan untuk promosi blog? Apakah karena katanya bisa mendatangkan traffic?

Kalau jawaban salah satu pertanyaan di atas adalah "Iya.", maka kemudian nggak salah kan jika muncul pertanyaan, "How?".
Facebook Page memang bisa kita pergunakan untuk branding, meski kata "branding" itu pun kalau kita pertanyakan lagi, juga akan lebih abstrak lagi. Branding apanya? Blognya? Seperti apa? Apa sih artinya blog branding? Nanti efeknya apa kalau dibranding?
(Ah, tapi mungkin memang saya yang nggak terlalu tertarik sama teori-teori muluk-muluk sih. Hahaha.)

Facebook Page dan Branding

Contoh branding through Facebook Page: Coca cola. Salah satu dari 50 Facebook Page dengan likes terbanyak.

Saat para blogger ramai-ramai membuat Facebook Page, saya tak bisa menghindarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut datang dengan begitu liarnya ke otak saya. Karena itu, saya pernah menanyakan hal ini pada teman-teman blogger di beranda Facebook saya beberapa waktu yang lalu.




Ada banyak jawaban dalam status tersebut.

Beberapa di antaranya, menyebutkan tentang branding :D Keren banget! Saya sendiri nggak begitu berani mempergunakan kata "branding" dan "rebranding" buat sekadar personal blog apalah apalah yang saya kelola ini.

It's a huge term for me!

Saya lebih suka menyebutnya "repurposing", saat saya berganti haluan dari blog gado-gado ke blog creative writing seperti sekarang. Memperbaiki tujuan, mereka-ulang target audience, dan memperbaiki konten. Cuma satu yang ingin saya lakukan saat itu, menjadikannya sebagai reference blog. Saya pengin jadi kayak Jeff Bullas atau Seth Godin atau Neil Patel. Hahahaha. Alamak! Kejauhan yak? =))

Latar belakang mengapa saya menanyakannya adalah, kalau membuat Facebook Page dengan tujuan untuk promosi blog, pertanyaan berikutnya yang nyangkut di otak saya adalah, mengapa butuh Facebook Page, kalau Facebook pertemanan yang biasa saja lebih banyak teman ketimbang likers Facebook Page?
Apakah ada efeknya? Ada bedanya dengan share di Facebook sendiri? Apalagi kalau likers-nya lagi-lagi teman yang juga sudah jadi teman di Facebook pribadi.

Kalau dengan alasan, "Facebook pertemanan kan terbatas, sedangkan Facebook Page bisa lebih open." ... hmmmm ... kan si Mark sudah menyediakan opsi "Who can see your post?" di mana kita bisa menyetting postingan kita supaya public sehingga bisa dilihat oleh orang meskipun mereka off Facebook? Ada juga pilihan follow profil Facebook seseorang kan? Fungsinya kurang lebih ya sama dengan likers.

Ah, pertanyaan-pertanyaan absurd yang kebelet banget saya tanyakan, tapi ya gitu deh. Soalnya bisa saja pertanyaan tersebut disalahartikan kan? :))) Padahal saya aslinya cuma mikir, bahwa saat melakukan sesuatu, seharusnya kita tahu sebabnya, cara kerjanya, dan terus gimana nih caranya biar berhasil guna. Bener nggak?

Facebook Page, yang sudah susah-susah kita buat itu harus secara efektif bisa mendukung kegiatan blogging kita. Karena buat apa punya Facebook Page kalau nggak kita manfaatkan? Kalau cuma dianggurin? Kalau akhirnya hanya sekadar punya-punyaan? Itu juga supaya waktu kita buat bikin juga nggak mubazir, begitu juga tenaganya. Begitu juga Facebook Page-nya sendiri. Padahal kalau dioptimalkan, Facebook Page cukup mampu membentuk komunitas atau massa lho. Memang ngaruhnya ke blog nanti nggak langsung, tapi dengan terbentuk massa, itu akan membuat kita menjadi lebih influential (yang akhirnya ya, ngaruh juga ke blog).
Bener nggak logika saya?


So, untuk mendapatkan hasil guna, maka kita pun harus melakukan sesuatu dengan Facebook kita. Iya nggak?

Yang pertama, apa dulu nih yang harus kita lakukan untuk mengoptimalkan Facebook Page kita?

Menurut saya, yang pertama kali harus kita lakukan adalah menaikkan reach setiap postingan kita di Fcebook Page itu lebih dulu.

Apa itu reach postingan Facebook Page?


Kalau kita post sesuatu di Facebook Page, nanti akan muncul yang seperti berikut ini. Yang saya kotakin warna merah, itulah reach penghuni Facebook yang berhasil kita engage.

Facebook Page Reach
Nah, kalau reach tersebut diklik, kemudian akan muncul data, seberapa besar engage yang berhasil kita dapatkan. Reach post ini adalah organic reach, dalam artian saya nggak bayar buat mendapatkan reaching segini. Hanya sekali doang post, dan angka tersebut yang saya dapatkan.
Ini yang dinamakan engagement.


Untuk ukuran Facebook Page dengan jumlah likers 11.000+, engagement di atas termasuk kecil

Nah, saya telah menghabiskan waktu berjam-jam sehari 'cuma' buat mengamati pergerakan dua Facebook Page yang saya kelola ini memang :)), dan berikut ini yang berhasil saya dapatkan dari pengamatan panjang tersebut.

Reaching Facebook Page post itu tergantung dari:
  • Jumlah likers, yang mana kita harus mendapatkan likers di luar teman Facebook kita. Betul? Kalau likers-nya lagi-lagi teman Facebook, ya, apa gunanya kan? Nggak usah pakai Facebook Page.
  • Konten. Ya! Benar! Semua memang konten. Konten, konten, dan konten! Mau likersnya segambreng, kalau kontennya gitu-gitu aja, ya jadinya gitu-gitu aja, pemirsa!
Nah, dua hal di atas memang saling memengaruhi. Konten yang bagus, akan bisa meningkatkan jumlah likers secara signifikan secara organic. Begitupun likers yang sudah ada juga akan memengaruhi tingkat engagement sebuah post. Jadi, memang sepertinya nggak bisa dipisahkan. Kita harus memanfaatkan keduanya.

Kalau mau diiklanin, ya bisa bangetlah, meningkat dengan cepat. Hehehe. Tapi, kalau dari pengamatan sih, sebaiknya kalau mau iklan, mendingan iklanin untuk meningkatkan jumlah likers dulu, sebelum boosting your post. Meski boosting your post itu juga bisa meningkatkan jumlah likers juga, KALAU konten kamu memang bermanfaat dan menarik.

Jadi, seperti apa sih konten Facebook Page yang bermanfaat dan menarik itu?
Ternyata ada formulanya lho! Yaitu 70/20/10 Facebook Posting Rule.

Apa itu 70/20/10 Facebook Posting Rule?


Berikut saya screenshoot-kan penggalan artikel yang saya baca di ProBlogger.

Kesimpulan: konten dalam Facebook Page kita ternyata nggak boleh hanya berisi postingan dari blog kita saja. Mengapa? Ada tuh, penjelasannya.


Terus apa yang bisa kita 'adopsi' menjadi konten Facebook Page kita?
Hmmm ... karena artikel ini sudah kepanjangan, maka disambung saja ke artikel berikutnya ya :))
5 Jenis Investasi Alat untuk Memulai Profesi Freelancer

 Mau usaha apa pun, butuh modal.

Setuju nggak, dengan pernyataan di atas?

Modal itu investasi. Dalam bentuk apa pun. Betul?
Saya sih, setuju banget. Saya sudah membuktikan beberapa kali. Usaha itu nggak bisa tanpa modal sama sekali. Iya sih, modal yang diminimalisir sih bisa. Tapi modal zero? Hmmm ... Kalau ada yang bisa kasih contoh usaha tanpa modal sama sekali, boleh info saya ya. Please ditulis di kolom komen, ya. Bukan, bukan maksud kenapa-kenapa sih. Saya mau coba juga. Hahaha.

Termasuk menjadi freelancer. Freelancer apa? Apa saja, saya kira ya? Misal nih, freelance editor. Kan ya harus punya yang dipakai buat ngedit kan? PC, minimal kan?

Nah, untuk seorang content writer ya kurang lebih ya samalah ya. Kalau freelancer desain? Hmmm, kayaknya sama juga. Mereka harus punya seenggaknya 5 investasi ini untuk bisa memulai usahanya.

1. Laptop atau PC


Jelas ya. Zaman sekarang apa-apa kan dikerjakan dengan laptop atau PC, minimal. Kerjaannya semua digital. Enggak bisa enggak. Tulisan, meski dimuat di media cetak, nulisnya juga secara digital. Gambar, meski hand illustrated, tapi ya tetep harus diolah digital. Apalagi kalau kita kerjanya remote. Hasil kerjaan dikirim dengan email.

Semua memang membutuhkan sarana laptop atau PC.

Kalaupun nggak punya laptop atau PC, ya bisa sih pakai smartphone ya. Kalau para blogger, biasa tuh nulis di smartphone :) Namun pasti ada suatu kali, ngebayangin, wah kalau pakai laptop lebih enak nih? Bener nggak? Jadinya ya tetep butuh kan? Pinjam, atau ke warnet. Rempong ya cyinn ... Hahaha. Tapi ya tetap butuh kan?

2. Internet


Kerja zaman sekarang, apa-apa virtual. Termasuk kantor, juga virtual. Apalagi yang kerjaannya remote, kayak saya. Internet jadi modal paling utama. Sinyal ilang-ilangan, bakalan menghambat kerjaan. Meski sesekali ngider nyari wifi gratisan, ya tetep, suatu kali harus punya koneksi internet sendiri kan?

3. Smartphone atau gadget yang lain


Nah, kalau nggak ada laptop, biasanya terus pada nulis di smartphone atau di tablet. Betul?
Sesekali juga butuh buat motret. Juga buat ngecek email, dan balesin yang butuh fast respond. Terus buat WhatsApp, apps komunikasi sejuta umat saat ini. Cara cepat buat koordinasi dengan klien kan lewat apps chatting, kayak WhatsApp ini kan? Atau BBM, atau Telegram, atau Line. Whatever.



4. Blog atau bentuk online portfolio yang lain


Untuk selanjutnya ya kita butuh juga tempat buat majang hasil karya kita.

Buat apa sih dipajangin? Pamer?

Iya dong, pamer! Yang sudah kita hasilkan harus dipamerkan! Demi apa? Demi untuk memancing 'ikan' yang lain. Kalau umpan nggak dipasang, gimana ikannya mau mendekat kan? Dan freelancer bisanya pamer ya, pajang deh hasil karyanya di tempat-tempat strategis.

Bisa di mana saja, di Facebook dalam album khusus bisa. Kalau kamu desainer grafis, pasti juga sudah kenal banget dengan Deviantart, atau Dribbble. Kalau content writer, portfolionya gimana? Bikin blog dong :)

Blog bisa banget menjadi online portfolio kan? You can do anything in your blog :) dan kamu selalu bisa menyebutnya sebagai portfolio kapan pun kamu ditanyai.

5. Alat promosi lain seperti kartu nama


Nah, kartu nama ya butuh bangetlah ya. Kalau ketemu klien, harus tuh dikasih kartu nama dulu. Begitu pun pas gaul di mana-mana. Harus tuh, yang kira-kira potensial dikasih kartu nama.

Pesan kartu nama mah mudah. Di mana pun bisa, murah-murah pula. Yang mahal, kayak saya, juga ada. Huahahaha :))) *malah jualan diri*

Coba lihat-lihat portfolio kartu nama yang sudah pernah saya desain di sini: Portfolio Kartu Nama

Ngomong-ngomong soal kartu nama, saya ini termasuk yang rada susah juga. Dulu saya pernah punya kartu nama, baru sedikit yang disebar, eh ternyata usaha online shop saya terus berhenti, gara-garanya saya udah nggak bisa bagi waktu buat kulakan. Jadinya, ya nganggur deh kartu namanya. Nggak bisa dipakai lagi. Yamasa' saya ngasih kartu nama dengan nama web dan bisnis yang udah expired? Kan aneh ...

Kartu nama saya yang lama


Terus, kan saya bikin kartu nama lagi tuh. Pokoknya saya bikin keren deh. Baru selesai cetak, eh beberapa hari berikutnya, blog saya (yang saya tulis di kartu nama) tiba-tiba terserang virus, dan akhirnya nggak berapa lama kemudian, jadi almarhum. Nah, kan? Padahal baru berapa lembar itu yang kesebar ya?

Saya belum bikin lagi deh sekarang. Kalau lagi ada di acara atau event, dan kartu nama harus diserahkan, ya saya pakai deh kartu nama yang lama. Terus nama blognya gimana? Terpaksa saya urek-urek.

Hadehhhh ... nggak usah ditanya deh tampilannya jadi kayak gimana? T__T Sedih deh.

Makanya, saya sekarang kepikiran deh, kalau kartu nama mending nyetak dikit aja. Selain kalau ada perubahan juga mubazirnya nggak kebangetan, juga kan desainnya bisa ganti-ganti *kemudian dibilang labil*. Hahaha.

Tapi, kan kalau nyetakin di digiprint minimal 1 box ya? Iya. Jadi gimana dong? Berarti harus nyetak sendiri. Printernya? Ya, nggak bisa printer yang asal printer. Musti yang bagus. Seenggaknya yang kualitasnya oke.

Nah, kebetulan bangetlah ya, tanggal 21 Juni 2016 yang lalu, saya diundang ke Brother Indonesia Gathering di Ambarrukmo Royal Hotel. Sudah tahu kan produk merek Brother? Kalau ibu-ibu sih biasanya tahu, soalnya Brother itu merek mesin jahit terkemuka di Indonesia.

Sudah siap di TKP. Kenapa ya, yang sadar kamera cuma yang satu ini doang?


Eh tapi, jangan salah deh ya. Brother ternyata juga punya berbagai jenis produk lain yang bisa banget membantu kita dalam usaha atau bisnis yang sedang kita kembangkan lho. Seperti printer, salah satunya.

Printer Brother ini kalau di pasaran memang harganya lebih mahal, tapi lihat deh hasilnya. Ini foto-foto yang ada di smartphone-nya Mak Tunjung Sari nih. Diprint oleh Brother, nggak kalah kan hasilnya sama foto di digiprint?


Foto-foto Budok Tunjung


So, meski sebenarnya printer Brother ini sasarannya adalah korporasi, dan juga seharusnya buat ngeprint dokumen, tapi bisa juga buat ngeprint foto. Hasilnya bagus juga kan? Jadi, logika saya, bisa juga nih dimiliki oleh para freelancer, sebagai investasi. Bisa buat ngeprint kartu nama sendiri, ngeprint dokumen-dokumen kerja, banyak tentunya ya. Buat desainer lepas juga bisa banget. Sesekali juga perlu untuk bikin mockup kan? Juga buat ngecek warna. Kalau bisa sekalian investasi printer yang sekaligus scanner juga lebih bagus, karena biasanya scanner juga menjadi alat penting bagi desainer.

Selain kualitas cetaknya memang oke banget, dia juga dilengkapi dengan teknologi anti paper jam dan juga wireless.

Ohiya, Brother Indonesia juga punya produk scanner lho! Praktis pun! Karena ukurannya kecil, dan bisa dilipat. Jadi bisa dibawa ke mana-mana. Keren kan?

Kalau soal harga, ya sebanding sama kualitasnya. Dari hasil demo kemarin sih, kualitasnya memang oke punya. So, kalau untuk investasi, bukan sekadar punya-punyaan, mendingan ya Brother aja.

Konon, ini printer paling simpel. Hanya hitam putih aja. Tapi kualitasnya nggak sesimpel itu. Wireless lho ini.


Ohiya, kalau kamu butuh produk-produk Brother Indonesia, gampang aja kok. Unduh deh apps Brother IShop di smartphone kamu.
Gampang kok.

Apps Brother iShop


So, doakan saya bisa nabung. Saya pengin investasi printer yang bagus ini. Siapa tahu terus bisa bikin usaha cetak kartu nama sendiri. Kamu nanti kalau pesan, saya kasih diskon deh. Hahaha.