Konten evergreen untuk traffic yang lebih stabil

Salah satu pernyataan dari seorang content marketer adalah sebagai berikut

Eugene Woo - Chief Data Scientist and Co-Founder of Venngage

Apakah konten yang saya tulis itu akan tetap relevan 1 tahun ke depan? 10 tahun ke depan?

"Memasak" konten memang bisa dengan berbagai cara. Hasilnya pun, banyak jenisnya. Penggunaannya sendiri-sendiri. Kita nggak bisa cuma memasak satu jenis masakan saja untuk satu rumah (baca: blog) setiap harinya. Ibarat masak beneran ya, bayangkan saja kalau setiap hari makan sayur bayam, tempe goreng, dan sambal saja. Iya, enak sih. Awalnya, karena memang makanan itu favorit keluarga. Sehari dua hari masih kemakan. Coba saja seminggu penuh masak yang sama. Bosen nggak?

Ya gitu juga, saat menyajikan konten baik itu untuk blog maupun buat kamu para penulis konten pada umumnya.

Konten kontroversial, pernah saya ulas sebelumnya, memang bisa mendatangkan traffic yang banyak dalam satu waktu. Tapi, apakah bisa terus bertahan? Dari pengamatan saya yang pendek kok ya enggak ya. Karena biasanya yang kontroversial itu juga hanya topik musiman. Yang lagi ramai aja diomongin. Saat ada pengalihan isu lain ya sudah, bubar.

(((pengalihan isu)))

Terus? Apa mau cuma ngomongin yang ramai dibicarain aja? Cuma bahas yang lagi trending doang? Capek di pikiran kayaknya ya. Sesekali perlu juga menulis mengenai hal-hal yang tak lekang oleh waktu.

Untuk apa?
Tentu saja, untuk mendapatkan traffic stabil dari Google.

Mengapa harus mendapatkan traffic dari Google?
Lha terus mau dari mana? Ada yang bilang, konten ramai nggak butuh SEO, cuma mengandalkan virality. Saya juga punya banyak artikel viral, tapi tetep kok, traffic paling stabil datang dari konten yang evergreen. Sudah buktiin sendiri sayanya.

Mau menggantungkan diri dari ngemis share di media sosial dan komen dari orang-orang di postingan yang kontroversial terus? Sehari dua hari bisa, seterusnya? Balik lagi ke awal. Mau boosting up lagi? Ya, harus nyari lagi bahasan kontroversial lain. Yang kemarin udah out of date. Harus siap sedia setiap saat mencari "keributan".

Yang viral itu nantinya juga lama-lama akan kalah dengan traffic stabil.
Itu sih pendapat saya. Nggak tahu Mas Anang.

Coba yuk sesekali nyari ide yang evergreen. Yang biasa dicari oleh orang-orang dari Google. Nggak bakalan puyeng tiap kali ngeboosting up pageview lagi, karena konten evergreen cenderungnya lebih stabil memberikan traffic. Setiap saat orang nyari. Setiap saat ada orang baru lagi yang nyari lagi.
Paling-paling kita hanya harus update sedikit kalau memang ada perubahan (tapi karena evergreen, nggak banyak juga perubahannya).

Terus gimana caranya menulis artikel yang evergreen?

Sebelum ke "caranya", mendingan kita lihat dulu apa itu artikel evergreen.

Konten artikel yang evergreen, sudah saya singgung sedikit di atas, adalah konten yang bakalan relevan sampai kapan pun, nggak tergantung waktu, selalu dicari orang karena bakalan selalu ada orang baru atau "newbie" yang butuh.

Nah, terus apa saja yang termasuk ke konten evergreen? Hmmm, marilah kita balik dulu.

Apa saja yang TIDAK termasuk dalam konten evergreen?


  • Informasi berdasarkan data tertentu dalam kurun waktu tertentu. Apa itu misalnya? Misalnya, "Ini Dia 10 Universitas Terbaik menurut data UNICEF untuk tahun 2016". Artikel sejenis ini jelas bukan konten evergreen, karena nggak akan berlaku lagi tahun 2017, 2018 dan seterusnya. Tapi apakah berarti nggak ada yang nyari? Tetep ada. Tapi nggak lama.
  • Artikel berita, misalnya seperti "Rekonstruksi Pembunuhan Polisi di Bali, Tersangka Bingung". Nah ini jelas kenapa nggak termasuk dalam konten evergreen ya. Besok juga akan tergantikan dengan berita lain lagi, misalnya "Rekonstruksi Pembunuhan Polisi Ricuh" dan seterusnya.
  • Konten infotainment soal selebriti. Misalnya, "Reza Artamevia Positif Narkoba, Ini Reaksi Anaknya" jelas bukan konten evergreen. Mungkin ada yang mikir juga, tapi kalau dibikin misalnya "Begini Cara Syahrini Eksis di Instagram" gitu kan juga jadi konten evergreen kan? Enggaklah. Ntar kalau si Inces udah tuwir, atau udah nggak laku lagi? Atau, "Begini cara mendidik anak ala Shahnaz Haque". Ada si Shahnaz-nya itu yang bikin nggak evergreen. See the point?
  • Konten tentang fashion trends. Trend lho ya! Karena apa? Karena fashion itu cuepet buanget pergerakannya. 
Kamu bisa menambahkan lagi di kolom komen, kalau ada yes? :) Ada beberapa lagi harusnya sih.

Terus  gimana cara "masak" konten agar evergreen dan terus relevan sepanjang waktu?

Tips menulis konten evergreen


1. Targetkan pada para "pemula"


Prinsipnya, setiap orang yang mencari informasi adalah dikarenakan mereka nggak tahu mengenai akan suatu hal. Orang-orang yang mencari tahu ini bisa digolongkan sebagai "pemula".

When you want to learn a new skill or gain knowledge on a certain topic, you are a beginner.

Nah, targetkan konten pada mereka-mereka ini. Pada mereka yang belum tahu, supaya akhirnya menjadi tahu. Lebih jauh lagi, pastikan informasinya mengenai hal yang sangat mendasar.

Contoh.
"Tips menyusui bayi dengan nyaman."
"Pengin punya perpustakaan pribadi di rumah? Begini cara mudahnya."
"Tips jitu hemat listrik."

See the point?
Artikel tips menghemat listrik punya saya sekarang sudah dibaca oleh 24.3K orang, tanpa diboost sama sekali di media sosial mana pun. Cuma saya anggurin doang. Sharenya? Cuma 65 doang.

2. Pilih topik yang membahas masalah dasar yang universal dengan objek yang jelas


Ini sudah saya sebutkan juga di atas.
Contoh: pengin menulis artikel tentang bagaimana menjadi bahagia.

Bahagia adalah life goal buat semua orang. Betul? Bahagia adalah hal yang paling diinginkan oleh setiap manusia kapan pun di mana pun. Tapi hanya "bagaimana menjadi bahagia" saja juga kurang fokus.

Akan lebih baik jika tambahkan "objek".
Contoh: "Menjadi Ibu Rumah Tangga yang Bahagia"

Bakalan lebih bagus lagi, kalau kita meletakkan "objek" yang kontradiktif.
Contoh: "Menjadi Workaholic yang Bahagia"

Workaholic kan identik dengan stres, lalu tawarkanlah cara untuk bahagia.

3. Tunjukkan expertise-mu


One of the main features of an evergreen post is that it's referable.
Menjadi bahan rujukan dari siapa saja.

Misalnya.
Artikel "tips memilih tabungan dan asuransi pendidikan" jika ditulis oleh saya pasti sounds sangat berbeda dengan artikel yang ditulis oleh seorang ahli keuangan. So, saya meminta seorang ahli untuk menuliskannya. Hasilnya? Akan kita lihat saja. Karena baru saja tayang yes? :))

Apa tujuannya mengangkat topik tersebut?
Karena masih banyak ibu-ibu yang bingung soal tabungan dan asuransi pendidikan. Apalagi yang kayak saya :)) So, tujuannya ya, supaya bisa menjadi artikel rujukan bagi semua yang lagi bingung nyiapin dana pendidikan buat anaknya.

Agar bisa menjadi artikel rujukan, tentu saja, harus dikupas mendalam. Penuhi aturan 5W 1H saat menuliskannya. What, who, when, where, why and how. Kurang satu unsur saja, pasti artikel tersebut timpang.

Saya pernah mengedit beberapa artikel yang kurang 'why', dan itu benar-benar failed. Nggak jadi saya lanjutin dah. Hahaha.

4. Pilih format yang tepat


Faktanya, format esai biasanya lebih sulit untuk dibaca. Kalau nggak benar-benar pintar meramunya, dengan topik yang saaaangat menarik, biasanya hanya di-fast reading saja.

So, apa format yang paling oke?
So far, saya mencatat jenis artikel how to (panduan) dan tips yang paling banyak dicari orang. Saya coba mengetikkan kata "tips" di Ubersuggest, dan yang pertama keluar adalah "tips cepat hamil" itu banyak sekali dicari orang.

Saya sendiri kayaknya juga lebih banyak nyari info "gimana cara ...", atau "tips ...". Kayak kemarin Samsung Tab saya ngehang. Ya, nyarilah info how to fix frozen Samsung Tab. Ya langsung dapat, dan sembuh.

So, saran saya sih perbanyak di tips dan how to untuk evergreen content. Kalau jenis top list, itu agak nggak evergreen. Storytelling ... hmmm ... kecuali kalau kamu menulis secara wikipedia style. Tahu kan, yang kayak gimana?

5. Re-update and retouch


Kalau sudah tertulis terus apakah sudah pasti evergreen sepanjang waktu?

Nggak mesti juga. Ada kalanya zaman memang berubah. Jadi tetap harus diadakan penyesuaian. Seperti artikel soal Samsung yang ngehang itu, pada bagian akhir ada update, yang menyebutkan bahwa tips tersebut bisa berlaku untuk setiap jenis tab atau smartphone dengan non removable battery.

Nah, gitu juga dengan konten evergreen yang sudah kamu buat.
Kamu bisa saja sudah menuliskan tips cepat hamil yang oke, buat para calon mama muda. Tapi tetap keep update dengan perkembangan zaman. Saat ada perubahaan pada ilmu kesehatan, kamu juga harus menyesuaikannya dalam artikel kamu tersebut.

Bikin baru dong?!
Bikin baru bisa, tapi jangan lupa untuk merefer juga artikel lama kamu. Lalu di artikel lama juga diupdate, bahwa ada berita baru soal tips cepat hamil yang ditulis di sebelah sini (dengan link). Dengan demikian, pembaca kamu pun ikutan terupdate.

6. Ajak to take action


Pada akhir artikel, jangan lupa untuk mengajak pembaca kamu untuk melakukan action.

"Silakan dicoba."
"Tetap sehat!"
"Share tips tambahan kamu di kolom komen!"
Dan seterusnya.

Orang-orang membaca blog atau artikel karena mereka membutuhkan informasi atau untuk belajar sesuatu yang baru. Setelah membacanya maka mereka akan mempraktikkannya. Yakinkan bahwa tips atau panduan dari kamu pasti berhasil.

7. Share setiap waktu


Yang terakhir, rajin-rajin share.
Share di media sosial juga bagus untuk SEO. Selain itu, juga untuk kasih tahu teman atau follower kamu kalau kamu punya informasi yang berharga.


Kalau sudah jadi, tambahkan dengan optimasi-optimasi SEO dasar yang lain yang sudah dipelajari, misalnya seperti hirarki H1, H2, H3, dan seterusnya, juga optimasi image-nya endebre endebre.

Maka, artikel evergreen kamu pun akan mampu mendatangkan traffic yang stabil dari search engine.

Kesimpulan


Memang ada banyak jenis konten, namun masing-masing juga mempunyai fungsi sendiri-sendiri. Artikel viral cukup membantu buat ngeboost traffic, tapi hanya bertahan sebentar. Evergreen memang trafficnya nggak sebanyak artikel kontroversial, tapi memberi traffic lebih lama.
Yang mana yang menguntungkan kita?
Semua menguntungkan, karena itu kenali tujuan kamu saat menuliskannya.

Selamat nulis!

Karena ukuran image yang pas adalah koentji kerapian dan tampil optimal


Hai!
Seharusnya sekarang saatnya saya bikin round up posts of the month. Tapi dodol banget, kemarin kan saya jalan-jalan via Feedly yang berisi feed blog teman-teman blogger. Maunya ya nyari info menarik, sambil siapa tahu ada yang cocok buat di-repost di portal sebelah.

Saya scrolling dan scrolling, baca yang menarik, kunjungi yang cocok, komen kalau memang mau komen dan seterusnya. Pas feed di Feedly habis, tiba-tiba saja saya langsung mark all as read. Dan jengjeng! Ternyata postingan yang seharusnya bisa masuk ke round up belum saya save dan bookmark dong. Hilang semua deh -__-! Beugh.
Akhirnya hanya tinggal feed 9 hari terakhir saja. Bah.

Saya berasa nggak optimal jadinya kalau nge roundup, karena sebelumnya ada postingan-postingan yang menarik tapi saya lupa punya siapa saja. Huhuhu.
Ya sudahlah. Saya libur dulu saja nge round up-nya.

Terus, beberapa hari kemarin, Mbak Indah Juli nanya soal ukuran image Pinterest exactly-nya berapa, soalnya blio bikin via Canva kok jadinya kegedean. Bla bla bla, saya diskusi, dan saya ingat kalau saya nyimpen cheat sheet dari Hubspot mengenai ukuran-ukuran exactly untuk masing-masing platform media sosial. Iya, saya emang suka nyimpen-nyimpen yang kayak ginian. Tapi ya gitu deh, tukang timbun. Saya nyarinya sampe ubek sana ubek sini, soalnya bookmarking saya itu di tiga tempat; Feedly, Twitter sama Facebook. Hahahaha. Kalau udah butuh gini, bingung deh, nyari di mana.

Akhirnya, saya mikir *tumben, mikir lo, Ra.* mendingan saya simpen di sini aja deh. Sekalian saya kasih catatan-catatan. Siapa tahu ada yang butuh juga.

Mengapa sih saya merhatiin ukuran sampe kayak gini?
Iya, saya mah dari sononya orangnya detail. Saking detailnya, kadang ya mumet sendiri. Kalau udah mumet, pundung. Duhdek.

Saya suka everything yang pas, nggak kurang dan nggak berlebih. Hahaha. Apasih? Maksudnya gini lho. Untuk image, terutama sih di blog, saya selalu ingatkan diri sendiri untuk ngepasin ukuran tampil di blog. Jadi kalau frame blognya 600 px, ya saya akan resize image-nya dengan lebar pas 600 px. Kalau frame-nya 1200 px, kayak portal sebelah, ya saya selalu siapkan image selebar 1200 px.

Kenapa harus pas?
Karena image yang pas dan optimal seperti itu menguntungkan. Pertama, biasanya sih loadingnya jadi lebih ringan, karena pas dengan frame web atau blognya. Jadi sesuai aja gitu. Kedua, pasti lebih rapi dilihat. Kalau image-nya kegedean, ya kalau templatenya responsif bisa menyesuaikan. Kalau nggak? Ya, mbleber ke mana-manalah itu image. Biasanya terus image-nya lebih gede ketimbang tulisan kontennya, atau malah merangsek ke area sidebar.

Wah, itu menggelitik jiwa so-called-web-OCD saya banget tuh :)))))) OCD saya memang cuma di desain web dan blog sih. Risih banget kalau ada yang nggak rapi. Hahaha. Kalau meja kerja, boro-boro OCD. Bisa numpuk aja udah bagus.

Nah, itu di blog. Gimana dengan media sosial?
Sebenernya kalau di medsos sih saya nggak terlalu OCD-OCD amat. Tapi saya berasa kelilipan juga kalau ada image yang pecah saat diunggah. Beugh. *ambil tetes mata* Apalagi dengan header-header media sosial itu. Kayak header Twitter saya, pecah tuh. Tapi masih bisa saya cuekin, soalnya nggak liat tiap hari ya. Kalau saya nggak ke profil kan nggak liat. Hahaha. Lain sama cover Facebook, tiap hari keliatan. Saya juga risih kalau ada cover Facebook yang kepotong-potong. Hadeh. Saya emang riwil.

So, untuk membuat semua optimal dan enak dipandang, ya harus rela resize-resize supaya pas. Nah, tapi ya masa tiap kali mau bikin image mesti screenshoot terus diukur pakai Photoshop? Saya kan nggak bisa hafal angka juga. Jadi, cheat sheet ini selalu jadi sontekan. Cuma ya gitu, kalau butuh, baru ubek-ubek itu kok ya lama-lama bikin kepala botak.

Jadi, saya simpen di sini aja deh.
Btw, ini sebenarnya bentuk awalnya adalah infografis yang panjaaang sekali di Hubspot. Saya pecah saja per media sosial, biar gampang dilihat dan dicari.

Ukuran Image Optimal untuk Masing-masing Media Sosial

Facebook


Facebook's Image Size Cheat Sheet
Yang penting dari Facebook adalah:
  • Ukuran cover: 851 x 315 px
  • Profil image: 180 x 180 px
  • Thumbnail untuk shared link: pokoknya dibikin lebar 1200 px

Google +


Google +'s Image Size Cheat Sheet
Yang penting dari Google + adalah
  • Cover photo: 1080 x 608 px
  • Profile photo: 250 x 250 px
  • Shared thumbnail lainnya lebih kecil ketimbang Facebook ya.

Instagram


Instagram's Image Size Cheat Sheet
Nah, kayaknya Hubspot masih pakai layout Instagram yang lama nih, belum yang update. Tapi saya kira ukuran image-nya masih sama sih. Untuk image, Instagram sekarang juga nggak harus selalu square ya, bisa portrait ataupun landscape, asal jangan terlalu jauh perbandingan antara lebar dan tinggi image-nya. Bakalan tetep kepotong ntar. Perbandingannya paling optimal 4 : 5 itu, kalau nggak salah.


Linkedin


Linkedin's Image Size Cheat Sheet
Buat yang suka ngoprek di Linkedin ya.

Saya sendiri masih belum bisa banyak jalan-jalan di Linkedin. PR banget deh, waktunya. Havft.
Padahal sekali saya share di sana, banyak juga yang nanggapin loh. Apalagi circle saya di sana agak-agak berbeda dengan circle saya di Facebook maupun di Twitter. Harusnya bisa saya manfaatkan ya.
Tapi, ah ... ntar deh. Semoga bisa atur waktu lagi.


Pinterest


Pinterest's Image Size Cheat Sheet

Pinterest ini sebenarnya fleksibel sih ukuran image-nya.
Yang di atas itu adalah ukuran optimal image tampil di boards dan di home. Kalau diklik, kan masuk ke image besar. Nah, kalau saya nggak salah, size optimalnya adalah 600 px pada lebar. Kalau tingginya, nggak terbatas. Makanya banyak infografis disimpan juga di sana kan? Soalnya mudah dilihat.


Tumblr


Tumblr's Image Size Cheat Sheet
Ini kayaknya untuk template Tumblr standar ya? Sekarang banyak template Tumblr yang lucu-lucu. Tapi saya nggak mainan Tumblr, jadi barangkali yang punya Tumblr bisa ngecek, apakah ukurannya benar segini atau enggak. Silakan nanti infoin yah, kalau ada perubahan :) I'll be glad menambahkannya di sini.

Dan, kenapa Tumblr masuk ke platform media sosial ya? Bukan platform blog? Hmmm ...


Twitter


Twitter's Image Size Cheat Sheet
Kayaknya cover Twitter ini emang paling gede di antara semuanya. Saya pecah mulu kalau masang. Hahaha. Ntar deh kapan-kapan dioptimize.


Youtube


Youtube's Image Size Cheat Sheet
Buat yang main Youtube ya. Saya sih pengin banget ngoprek Youtube. Tapi nggak punya video apa pun buat disimpan di situ. Abisnya ya gitu deh, udah dasarnya saya nggak suka ngomong on record gitu, plus saya kurang piknik. Hahaha. Mau videoin apa coba ya? :)))


Nah, itu dia ukuran-ukuran image optimal untuk berbagai media sosial yang populer.
Semoga bermanfaat bagi yang butuh.
Yang nggak butuh atau semacam "Haih ... ribet!", yasudahlah. Hahaha. Nggak usah diperhatiin.


credit

Infografis-infografis di atas saya dapatkan dari Hubspot.

Happy social media-ing!
*halagh* Follow my blog with Bloglovin
Presentasi saya untuk acara #NgopiBarengTiket beberapa waktu yang lalu


Hola!

Kebetulan pada hari Sabtu, tanggal 13 Agustus 2016 yang lalu, saya diajakin untuk sharing bareng tiket.com di Hotel Harper Mangkubumi.

Sambil iseng cobain, presentasi yang saya gunakan kemudian saya upload ke SlideShare. Dan sekalian juga saya cobain fitur Newsletter by Mailchimp, presentasi tersebut saya bagikan pada teman-teman yang sudah subscribe di blog ini via email.

Nah, karena istilahnya ini adalah "edisi perkenalan", maka nggak apa deh, saya kasih liat di sini juga. Kemarin sih saya udah share juga di Facebook dan Twitter ya. Silakan ditengok aja wall saya. But next, paling saya cuma share teaser aja. Hihihi. Hanya yang subscribe di blog saja yang bakalan bisa lihat catatan-catatan saya :)

So, ini dia a complete guide for blog monetizing ala saya :)





Kalau mau menambahkan juga boleh kok, kalau ada yang kurang. Silakan ditambahkan di kolom komen di sini, atau di SlideShare-nya.

Untuk yang berikutnya, saya akan berusaha untuk membuat yang semacam ini, dan khusus bagi subscribers. Formatnya apa? Masih berupa newsletter via Mailchimp, terus entah deh, mungkin link SlideShare mungkin PDF. Atau mungkin round up postingan saya di blog. Semoga saya bisa membuatnya sebulan sekali. 

Kok sempet amat, Mak?

Ya justru ini agenda saya bulan ini. Tapi terlambat banget mulainya. Saya mau mengurangi update postingan di blog, tapi ngebanyakin posting as guest blogger di blog atau web lain. Plus, membuat newsletter. Oh ya, kamu mau saya nulis guest posting untuk blog kamu? Please simply ask me ya, nanti saya akan jadwalkan. Tapi ya gini deh, topik saya bisanya hanya sekitar blogging, menulis, dan media sosial :)

Sampai kapan begini?

Nggak tahu juga. Sampai nanti saya rasa cukup. Hihihi.

Anyway...
Kalau kamu pengin ikut dapetin berbagai tips blogging dan menulis kreatif ala saya, boleh banget lho. Tapi ya semua kan merupakan hasil percobaan saya selama saya masih dalam tahap belajar ini. Jadi, istilahnya kita belajar bareng ya. Please, drop me your email address di bagian atas dari blog ini ya. Pastikan email kamu adalah email yang aktif. Saya tahu lho, kalau emailnya fiktif atau spam. Setiap bulan, paling saya akan mengirimkan satu newsletter saja kok. Kalau sibuk, ya dua bulan sekali. Hahaha. Nggak akan banyak-banyak. Jadi nggak perlu khawatir flooding :)

Liat bagian ini di atas kan? Nah, masukkan alamat email kamu ke situ ya :)


Dan, please, hanya buat kamu yang serius saja ya. Please, jangan diperjualbelikan materi dari saya nanti, dan juga harus digunakan secara bertanggung jawab. Jika saya menemukan ada hal-hal yang sekiranya mengganggu, saya nggak segan-segan menghapus email kamu dari list :)
Iya, saya sadis.
Makanya kalau nggak serius, mending nggak usah deh. Hahahaha. Saya males ngurusin orang nggak serius. Karena waktu saya berharga :)

Terima kasih ya!
Menulis artikel kontroversial tidak sama dengan mencari musuh.


Saat ditanya artikel seperti apa yang berpotensi viral, saya selalu menjawab dengan artikel yang kontroversial.
Dan kemudian, jawaban saya itu akan dijawab kembali dengan, "Wah, saya nggak berani nulis artikel kontroversial. Nggak siap punya musuh."

Hmmm ...
Sampai di sini saya kemudian mikir, apa benar kontroversial artinya cari musuh?

Well, controversy sells indeed!
Siapa yang akan atau bisa mendebatnya?

Setiap orang, pembaca online to be precised, suka hal-hal yang berbau kehebohan dan kontroversial. Orang akan dengan mudah diajak untuk membaca, apalagi kalau ada kesempatan buat nyinyirin. Wah, pasti deh pada semangat yeuh.

Artikel kontroversi yang akan kita bahas di sini adalah artikel yang memanfaatkan sifat psikis orang tersebut. Tujuannya? Ya, dapetin pageviewlah.

Memang sih, saran saya di atas bisa terdengar begitu ambigu. Satu sisi, saya hanya sekadar menjawab apa adanya sesuai pengalaman pendek saya dalam kepenulisan online. Sisi lain, seakan-akan saya sedang menjerumuskan orang. It's kinda an open invitation to trouble, don't you think? :)

Apalagi dengan kalimat "demi pageview". Duh, kesannya ... penyembah pageview banget lu, Mak!
Hahaha. Hayo, siapa yang mikir kayak gitu pas baca tulisan ini? :P
Bebaslah, nggak apa juga kalau dianggap begitu. Saya mencoba realistis aja. Siapa yang nggak butuh pageview, terutama buat yang suka nulis konten? Website mana yang nggak senang dapat pageview tinggi? Semuanya mencoba bersaing mendapatkan PV terbaik yang mereka bisa. Sama kayak kalau kita bilang, buat hidup cuma butuh cinta? Cih!

*ini ngomong apa sih saya?*

Mari kita kembali fokus.
Pageview nggak seburuk itu, fellas. Dengan pageview yang tinggi kita bisa melakukan banyak hal. Kita bisa menyampaikan pesan, kita bisa mengedukasi, kita bisa meluruskan pendapat yang salah ... apa lagi? So, kita bisa dong mendatangkan pageview yang nggak cuma sembarang pageview kan?
Kita mau pageview yang positif. Bukan negatif. Sepakat nggak sampai di sini?

So, controversy does sell, tapi kalau ditulis secara sembarangan, nggak dipikirkan baik-baik, dan dengan nggak bertanggung jawab, ya jadinya artikel kontroversi tersebut bisa menjadi bumerang buat kita. Topik kontroversial yang seharusnya bisa menjadi senjata untuk mendatangkan pageview, akan membuat blog atau web kita hancur.

Iya sih, pageview akan meningkat tajam di satu dua hari. And after that? Balik lagi ke normal juga sudah syukur. Bisa saja yang terjadi kemudian, blog kita akan kehilangan pembacanya, gara-gara kita dikenal sebagai "si idiot yang nulis tentang anu".

Haish. That's one wrong kind of attention, isn't it?

Beberapa orang yang telah menulis seputar topik yang kontroversial, menurut pengamatan saya, biasanya mempunyai tendensi salah satu dari yang berikut ini:
  1. Meluruskan sesuatu
  2. Memberikan edukasi
  3. Menarik perhatian
  4. Or just simply goofing around
Nah, permasalahannya adalah, kadang batas tendensi satu dengan yang lainnya itu tipis banget. Apalagi dipengaruhi oleh gaya bahasa dan gaya tulis si penulis. PLUS ditambah level pemahaman pembaca yang berbeda-beda.

Dan kita, sebagai penulis, nggak bisa semata-mata menyalahkan otak pembaca yang "nggak nyampai" ini. Kalau sampai banyak pembaca yang nggak bisa menangkap maksud dari tulisan kontroversial kita itu, berarti ADA YANG SALAH dengan cara kita menulis. Lepas dari kondisi bahwa setiap orang punya pandangan yang berbeda lho ya. Antara gagal paham sama pandangan yang berbeda itu juga beda. Bisa dirasain kok.

Tapi sebenarnya, menulis topik yang kontroversial itu nggak sesulit dan se"keras" itu kok. Ini ada beberapa tip berdasarkan pengalaman menulis topik kontroversial secara smooth.

1. Pilihlah topik yang tepat


Pemilihan topik ini memang yang paling penting. Kesuksesan artikel kontroversial kita sangat ditentukan oleh ketepatan kita dalam memilih topik.

Kenapa?
Karena dengan topik yang tepat dan sesuai dengan minat kita, tentu kita akan lebih siap "menghadapi" jika ada komen kontra yang masuk. Lebih gampang ngeles, gitu istilahnya kali ya. Hehehe.

Karena kalau dengan kita menguasai dan meminati topik tertentu, pastinya pengetahuan kita juga banyak di seputar topik tersebut. Meski mungkin nggak lebih banyak juga dari beberapa orang yang lain ya. Tapi seenggaknya kita bisa kasih jawaban.

Jadi, saran, pilihlah topik-topik yang benar-benar dipahami dan dikuasai.

2. Perhatikan tone tulisan



Ada banyak tujuan kita menulis artikel kontroversi. Artikel kontroversial bisa dibilang artikel di mana kita ikut urun pendapat mengenai suatu hal, dengan mengambil satu sisi pandangan yang menurut kita benar.

But please keep this in mind.
Meski pendapat kita berbeda dengan pendapat orang, ini nggak sama dengan mencari musuh. Jadi perhatikan intonasi tulisan kamu, perhatian tanda baca (karena penempatan tanda baca yang salah sedikit saja bisa memberikan tone yang berbeda pada kalimat), dan sesekali bercandalah untuk menurunkan tensi.

Sesekali saat saya blogwalking, saya sering menemukan artikel yang lagi membahas topik yang hot tapi berasa adem saat dibaca. Kali yang lain, saya sering membaca artikel yang sebenarnya biasa aja, tapi entah kenapa, auranya panas sekali. Bikin jengah. Ada kesan songong, dan seakan-akan hendak berkata, "Ini tulisan gue, dan terserah gue mau ngomong apa."
Coba rasakan bedanya jika kamu menuliskannya dengan maksud, "Ini pendapat gue, dan sekarang gue lagi kasih tahu kalian bahwa faktanya seperti ini lho."

Ada baiknya kita berlatih kepekaan saat menulis, karena kerasa lho nyolot sama enggaknya. So, kalau topiknya saja sudah kontroversial, usahakan tone-nya adem ya. And no, you can't say ini balik ke gaya menulis masing-masing. Tone tulisan seperti ini bisa dipelajari kok. Apalagi kalau kamu sempat untuk membaca kembali artikel kamu berulang kali.

3. Ingat kembali tujuan menulis artikel kontroversial


Apakah kamu menuliskannya karena emosi terhadap pernyataan atau situasi tertentu? Kalau iya, lebih baik, tunda sebentar. Tapi mau tetep 'nyampah'? Boleh. Tapi jangan langsung dipublish. Make sure kepalamu benar-benar sudah dingin saat memencet tombol publish. Don't make yourself embarrased dengan publish artikel penuh emosi, meski itu tujuannya untuk meluruskan pendapat yang salah.

Jika tujuannya untuk meluruskan pendapat atau opini yang salah terhadap satu hal yang populer di masyarakat, pastikan bahwa tujuan kamu menulis adalah agar orang lain well-informed. So, posisikan diri sebagai seorang pemberi informasi.

Dan ingat ya, namanya kontroversi, so you have to take one side. Jadi ingatkan diri sendiri selalu, sepanjang waktu menulis, bahwa kita sedang menulis di tengah banyak versi yang ada. Mungkin versi kita justru against versi kebanyakan orang, bisa jadi versi kita adalah versi unpopular one. Jadi teteup ya, cyinn, menghormati versi yang lain itu penting banget untuk kita ingat.

Ingat, panggungnya nggak cuma buat kita sendiri ya. So, play fair!

4. Speak as third person


Kalau mau lebih aman lagi sih, nulis artikel sejenis editorial. Jadi, cari pakar yang sesuai di topik tersebut, lalu lakukan wawancara. Istilahnya, kita sedang mengonfirmasi situasi yang ada, gitu deh.

Lalu tulis editorial mengenai topik tersebut di blog. Kalau ada apa-apa, ya pasti amanlah. Kan kita nggak beropini sendirian toh? Hahaha.

Nggak curang kan ya? Kan malah bagus, kita punya dasar pemikiran, bahkan akan lebih bagus lagi kalau dilengkapi dengan fakta dan data yang lengkap. Tapi ingat ya, make sure expert yang diajak untuk berdiskusi itu harus benar-benar berkompetensi.

5. Nulis bukan di blog sendiri


Iya, ini juga langkah yang cukup aman banget dah.
Kan sudah banyak UGC dan media online yang menerima tulisan dari siapa pun sekarang ini ya. Saya sih cenderungnya gitu, kalau seumpama kontroversial, saya lebih suka menuliskannya di media lain. Selain, biasanya lebih banyak yang baca, juga nggak terlalu bikin baper sih efeknya. Hahahaha. Pengecut sekali! =)))

Nggak kok, kan nama penulis juga ada. Tetep bisa dicari kalau mau kan. Tapi seenggaknya memang terus bisa langsung move on, nggak perlu mikirin komen kontra yang mungkin mampir.

Tapi, kalau nulis di media online lain ntar nggak ngasih traffic dong ke blog kita? Ya, iya nggak secara langsung sih. Tapi pengalaman saya so far, dengan menulis di mana-mana, nama kitalah yang makin di-notice. Dengan nama kita yang makin di-notice, maka yang memang tertarik pasti akan mencari tahu. Toh di identitas penulis juga kadang ada data identitas yang lain.


Beberapa kali saya menulis dan mengedit artikel yang cukup kontroversial, namun tujuannya adalah mengedukasi masyarakat.

Di tengah semua tuntutan menjadi ibu yang baik itu, saya menulis bahwa (kurang lebih) ibu itu juga manusia. Sering berbuat dosa. Tapi bagaimanapun, ibu tetaplah yang terbaik. Kalau mau baca ada di sini ya.
Yang sempat ramai beberapa waktu yang lalu. Saya hanya sekadar menyuarakan suara-suara yang bakalan melintas di pikiran banyak ibu saja sih. Kalau mau baca, ada di sini.

Sebuah artikel yang mengedukasi para ibu, bahwa seharusnya merokok itu jangan dijadikan alasan untuk berhenti menyusui. Against apa yang dianggap di masyarakat, bahwa ibu merokok harus berhenti menyusui. Kalau mau baca ada di sini ya.

Ya, itu hanya sedikit contoh aja sih.
Ada sih beberapa teman blogger yang sering juga menulis artikel kontroversial, namun saat dibaca tetap adem. Di antaranya ada Mbak Indah Juli, yang juga beberapa kali menulis bareng saya. Tulisannya yang seputar topik ibu bekerja versus stay at home mom itu sejuk banget dibaca ya. Nggak bikin menjengit. Hihihi.

Terus satu lagi yang saya suka tulisan kontroversinya, tapi penuh dengan pengetahuan yang bikin kita bilang "Ooooo ...", adalah Mbak Widyanti Yuliandari. Blognya seputar food combining sih. Dan beberapa di antara cukup bikin saya melongo aja gitu. Lho, ternyata gitu toh? Jadi selama ini saya salah dong.
Coba deh, baca artikel terakhirnya mengenai susu dalam pandangan food combining. Kenapa para fc-er kayak pada antipati sama susu.

Nah, see?
Artikel kontroversi bukan berarti mencari musuh kan? Semua kembali ke awal tujuan kita menuliskannya. Biasanya sih memang efek dan tone yang dihasilkan memang dimulai dari tujuan kita nulis sih. Apa pun itu.
Coba cermati beberapa kesalahan yang kerap terjadi saat membuat kalender editorial ini.


Beberapa kali saya sempat ditanya oleh teman sesama blogger. Pertanyaannya sih kurang lebih sama.

"Mbak, saya coba bikin editorial blog seperti yang Mbak tulis, tapi anu jeh ... paling cuma bisa ta' lakukan itu sekali dua kali doang. Selebihnya ... sudah nggak pernah sesuai lagi dengan editorial yang saya bikin itu."

Nah, hal yang lalu meloncat secara spontan di otak saya adalah ... Lha piye? Pengin kembali sesuai editorial yang sudah dibikin, apa ya sudah, bablas saja dan lupakan si editorial?

Baca juga:  Mengapa Seorang Content Writer Membutuhkan Editorial Calendar? Ini 7 Alasan Utamanya!

Karena toh, pikir saya, ya percuma to pakai editorial kalau memang nggak merasa butuh? Hahaha.

Seperti yang sudah-sudah, bahwa editorial itu merupakan alat bantu agar kita produktif ngeblog. Bukan sebaliknya, alat yang malah merepotkan. Kalau memang bisa blogging, tanpa editorial, ya sudah kan, nggak usah dipaksain untuk memakai kalender editorial blog segala macam. Entar malah jadi terikat, nggak bebas mengekspresikan diri, ... akhir-akhirnya terus bikin label baru, blogger editorial dan blogger selo (nulis nek selo dan karena selo, tapi penghasilan cetho welo-welo).

Hahahaha. Becandaaa ... Jangan diseriusin ya :P

Sekali lagi ya, kalender dan/atau planner ini sekadar alat bantu, yang tentu saja diharapkan bisa memperlancar kita mengerjakan sesuatu, yaitu blogging. Kalau nggak merasa terbantu, sekali lagi, tinggalin aja. Toh, juga nggak ada yang maksa to? :D

Anyway ...

Kalau memang pengin menggunakan alat bantu satu ini supaya bisa produktif ngeblognya, maka ya, ayo coba kita lihat lagi. Biasanya sih ada beberapa kesalahan yang kita lakukan, sehingga planning ngeblog kita nggak berjalan sesuai dengan seharusnya.

Apa aja?
Mari dilihat.
Sekali lagi, ini buat yang mau pakai kalender editorial atau planner lho ya. *Iya, iya, Mak! Berisik amat sih lu! Buruan!*

1. Langsung plot banyak


Kesalahan 1. Langsung plot banyak

Nah, ini biasanya yang jadi kesalahan orang-orang yang cerita kalau kalender editorialnya nggak jalan.

"Nganu je, Mbak, saya sekali dua kali masih bisa taat sama topik yang saya rencanakan. Sudah dua minggu, bubar semua."
"Lha, emang mau update blog berapa hari sekali?"
"Seminggu dua kali."
"Editorialnya untuk berapa lama?"
"Setahun."

Gubrak. *pingsan dalam slow motion*
Semakin banyak ngeplot planning, maka kemungkinan untuk melupakannya pun akan semakin besar. Saran saya sih, jangan ngeplot terlalu banyak. Maksimal untuk 4 - 5 postingan ke depan.

Jadi, mau berapa kali mau update blog dalam sebulan? Dalam seminggu?
Kalau mau update seminggu dua kali, barangkali kamu perlu bikin editorial selama dua minggu saja. Jadi ada 4 postingan yang sudah dipikirkan.

Kalau ngeblognya seminggu sekali? Lebih baik, kamu bikin editorial untuk sebulan. Ha kalau ngeblognya mau tiap hari? Bikin per minggu.

Kayak saya gini, bikinnya per minggu, karena saya setiap hari ada update, baik itu di blog pribadi, di media sosial kantor, ataupun di portal. Saya punya 3 kalender editorial, yang dua untuk seminggu ke depan, yang satu untuk sebulan ke depan. Sama sekali nggak berani ngeplot lebih untuk sebulan, kecuali tema super besar buat si portal. Tapi itu pun bisa berubah juga. Malah lebih banyak deh berubahnya. Hmpf.

2. Takut mood berubah di tengah jalan


Kesalahan 2. Takut mood berubah di tengah jalan

Kebanyakan yang ragu-ragu memakai kalender editorial atau planner gini alasannya adalah karena takut ntar berubah juga di tengah-tengah jalan.

Nih, saya ceritain deh.
Kalau partner saya ngedit di portal sih sepertinya sudah mulai hafal kebiasaan saya. :))

Untuk portal tersebut, saya ngeplot artikel untuk seminggu. Ada kurang lebih 10 - 15 artikel akan tayang dalam satu minggu itu. Dan yang berubah? Sedari hari Senin saja sudah ada 1 artikel yang diganti dengan artikel lain. Selasanya? Ada 2. Rabunya? Mmm ... ada 1 artikel yang diganti untuk ditayangkan. Hahaha.

Perubahan yang terjadi karena biasanya ada pertimbangan khusus juga sih. Misalnya, di menit-menit injury time, ada artikel lain yang masuk dan momennya lebih pas. Atau tiba-tiba ingat kalau minggu depan itu ada event atau peringatan yang akan cocok kalau ada artikel A yang nongol pas di hari itu. Atau ... just simply, saya nggak bisa masuk ke dalam artikelnya dan susah banget buat ngedit. Akhirnya saya ganti saja dengan artikel lain, ketimbang puyeng nggak jelas. Hihihi.

Itu dari portal.

Dari blog? Sama-sama bedalah.

Biasanya saya berubah juga karena ada alasan tertentu. Misalnya, referensinya ternyata kurang oke, atau masih ada beberapa hal yang mesti saya kroscek lagi. Atau ... just simply, saya nggak mood bahas mengenai topik yang tadinya dijadwalkan, bisa membuat saya mengubah postingan.

See?
Berubah di tengah jalan itu biasa. Mood berubah, tiba-tiba nggak jadi pengin publish artikel yang bersangkutan itu mah ... wajar aja.

Tapi, apakah terus menyerah nggak usah pakai kalender editorial?
Kalau saya sih, enggak. Saya tetap pakai. Yang terpending kemarin ya saya masukkan lagi. Nanti kalau kepending lagi, ya saya masukin lagi ke jadwal berikutnya. Gitu terus. Sampai sudah benar-benar tereksekusi. Kalau moodnya benar-benar ilang, nggak pengin bahas sama sekali lagi ... ya udah, coret!

Apakah dengan demikian saya rugi?
Enggak kan?

Kalender editorial itu saya pergunakan sebagai tool atau alat bantu, supaya pas sudah saatnya saya menulis, saya nggak perlu bingung lagi mau bahas apa. Namun sekaligus saya nggak pengin terikat juga. So, saat kondisi begitu hectic, dan nggak memungkinkan saya posting, ya udah, pass! Skip! Next! Hahaha.

Bagus kalau kita bisa bekerja secara terstruktur, itu membantu banget supaya bisa lebih produktif. Tapi ingat, kita harus tetap enjoy saat mengerjakannya.

Baca juga: Yuk, Tingkatkan Produktivitas dengan Editorial Calendar - Bonus: Editorial Calendar untuk April, Mei dan Juni 2016!

3. Belum punya waktu yang pasti untuk menulis

Kesalahan 3. Belum punya waktu yang pasti untuk menulis

Biasanya merasa kurang produktif ngeblog, ngeblog saat inget atau saat selo doang, lalu karena "kejar setoran" pengin kayak yang lain yang bisa ngeblog tiap hari, tiap minggu konsisten, terus ngebut deh.

Sesungguhnya, niat ngeblog itu sama kayak niat diet. Kalau motivasinya datang dari luar, itu biasanya nggak akan bertahan lama. Yang ada ya, dietnya mulai besok begitupun niat menulis di blog. Sama kayak niat berhenti merokok. Hari ini terakhir deh ngerokok, besok enggak lagi. Bentar ah, besok aja nulisnya. Hari ini nggak sempat.

Kebiasaan itu memang nggak gampang diubah. Kalau memang sudah niat untuk menulis lebih konsisten, ya harus sedari awal sudah diniatkan. Mau menulis kapan, dan lalu buat waktu untuk menulis. Bukan meluangkan waktu lho ya. Beda. Buat waktu untuk menulis. No matter what, harus menulis di jam itu di hari anu.

Pertama mungkin sebulan sekali dulu. Baru seminggu sekali. Kalau sudah lancar, mau setiap hari juga bisa kok update blog, dan postingannya juga nggak asbun. Asal bunyi.

Percaya dengan kalimat, "Practice makes perfect" kan?
Dengan semakin banyak dan semakin sering kita nulis, kita akan semakin peka menangkap sesuatu untuk dijadikan ide tulisan lho. Hambok kamu ngelamun sambil ada di TransJakarta pun bisa kok jadi tulisan.

Tapi, ide membuncah, kalau nggak dibarengi dengan waktu yang pasti untuk menulis, percaya deh, nggak bakalan kesampaian nulis.

So?
Mau konsisten ngeblog? Tentukan dulu waktu pasti untuk menulis. Temukan jam-jam di mana kamu paling bebas dari gangguan, dan menulislah. Saat sudah menemukan waktu yang pasti, baru deh kamu bikin kalender editorial. Pasti kepake.


4. Brainstorming sambil ngeplot


Kesalahan 4. Brainstorming sambil ngeplot

Nah, ini juga biasanya terjadi.
Sambil buka kalender, sambil nyari ide.

Ya, enggak apa-apa juga sih. Ini sih sebenarnya nggak salah-salah amat. Eh, yang sebelum-sebelumnya juga nggak salah juga sih. Hahahaha. Cuma kurang tepat.

*apa sih, Mak, lu nggak jelas amat?!*

Cuma, kalau gini caranya, bakalan lama deh ngeplotnya. Nggak selesai-selesai, cyin!

Coba cara lain yuk.
Sudah punya bank ide belum? Kalau belum, sediakan waktu buat brainstorming khusus. Saya pernah nulis juga soal brainstorming untuk hasilkan 100 lebih ide artikel. Silakan dibaca, kalau berkenan :)

Kalau sudah terkumpul, baru deh diplot ke kalender editorial. Dengan begini, akan lebih cepet. Bengongnya nggak kelamaan :P


Nah, terus ... apa lagi ya, yang biasanya terjadi kalau kita lagi bikin editorial ini? Hmmm, kayaknya itu aja sih. Ya, entar kalau ada tambahan lagi, saya update aja deh ya. Hehehe.

Terima kasih sudah nyimak.

Happy blogging!