Hae! Lagi pada ngapain?
Nungguin update blog ini ya? *kepedean* Hahaha.

Maap ya, akhir-akhir ini selain sibuk, semangat ngeblog saya menurun lagi. Jadi, saya akhirnya memutuskan, akan update kapan pun saya sempat. Sudah nggak berani lagi janji update tiap weekend.

Iya sih, saya sering menyarankan teman-teman untuk bisa konsisten nulisnya, punya jadwal teratur, ina inu. Tapi ya, kembali lagi deh. Menyesuaikan kondisi. Ada beberapa hal lain yang mesti diprioritaskan, dan saya makin yakin, kalau saya sudah nggak selincah dulu lagi multitaskingnya.

Jadi, mending saya pakai skala prioritas aja.

Nah, supaya kamu nggak ketinggalan update blog ini, coba deh, langganan newsletter aja ya. Setiap bulan, (lagi-lagi) Insya Allah, saya akan update newsletter untuk postingan terbaru. Saya juga masih akan nge round up tulisan teman-teman lain yang bahas tips blogging, tapi ya nggak selalu. Tergantung ada yang memang layak dibagikan atau enggak.

Cara langganan newsletter-nya, tinggal masukin aja email kamu di bagian atas sana itu. Udah gitu aja.

Anyway, balik lagi ke soal nulis dan blogging ya.

Lagi pada ngapain? Nyari tip nulis lagi ya?
Tip nulis memang banyak yah? Pada bingung nggak sih? Saking banyaknya. Belum lagi kalau satu sama lain ternyata ada kontra.

Waaaha. Jadi, mau menganut tip nulis yang mana nih?

Well, sebenarnya, kalau mau pada diambil intinya, dari semua tip nulis yang ada itu tuh, tersisalah 5 "writing golden rules" yang bisa diterapkan dalam berbagai jenis tulisan, media online sih terutama. Ya, kalau nulis di buku sih memang agak beda sedikit, perlu penyesuaian. Tapi nggak banyaklah.

Nah, kalau buat blog, buat portal, atau jenis content writing lain, hanya ada 5 hal prinsipil ini saja yang mesti selalu diingat.

Yeah, cuma 5! Apa aja?


5 Writing golden rules untuk content writing




1. Gunakan kalimat yang efektif


Nah, tadinya saya memang percaya, bahwa kalimat untuk artikel online itu mestinya memang pendek-pendek. Tapi, ada beberapa hal yang memang bisanya disampaikan melalui kalimat yang ... yahhh ... agak panjang dikit.

Jadi, prinsip pertama ini pun saya ubah sedikit, yaitu kalimat efektif.

Mau panjang atau pendek, tapi kalimat dalam artikel online itu harus efektif.

Berapa jumlah kata dalam kalimat pendek yang paling ideal dalam tulisan? Sekitar 8 - 10 kata. Itu sebenarnya sudah cukupan sih. Kepanjangan? Bikin kita ngos-ngosan.

Coba lihat contoh berikut.


Tanaman Hias untuk dalam ruangan disebut dengan istilah indoor plant, menampilkan ruangan rumah agar lebih tampak indah adalah tugas dari ibu ibu yang tidak pernah berhenti di dalam rumah tangga, tidak ada salahnya bila anda mencoba memadukan keindahan alam dengan mewakilkan tanaman hias indoor.

Capek nggak bacanya?

Kalimat efektif itu berarti kalimatnya jelas, nggak mengandung kata yang diulang-ulang.

Untuk mengecek apakah kalimat kita kepanjangan atau enggak, efektif atau enggak, bacalah dengan bersuara. Kalau kamu ngos-ngosan bacanya, nah, berarti kalimatmu terlalu panjang. Karena biasanya sih kalimat akan terbaca dalam satu tarikan napas.

Untuk contoh di atas, bisa dipecah dalam 3 kalimat.

Tanaman hias, atau biasa disebut indoor plant, akan membuat ruangan menjadi lebih indah. Nah, biasanya sih ini jadi tugas para ibu ya. Coba deh, masukkan unsur keindahan alam ke dalam rumah melalui indoor plant ini.


2. Setiap kalimat harus mengandung 1 makna yang jelas

Kalau mau lebih gampang ngeceknya apakah makna kalimatnya sudah tepat, coba deh dicek struktur kalimatnya. Ada subjek, predikat, objek dan keterangan.

Masih ingat kan, pelajaran SD ini?

Nggak harus selalu lengkap SPOK, atau selalu tepat SPOK juga sih. Tapi yang pasti, ada yang melakukan, ada aktivitas, ada objek, plus keterangan misalnya. Secar struktur ya,

Coba perhatikan lagi contoh yang salah pertama di atas itu. Kira-kira SPOK-nya gimana?
Nggak ada SPOK kan?


3. Tepat saat berpindah paragraf

Gantilah paragraf jika:

  • Ada tokoh/karakter lain yang hadir. Misalnya, paragraf 1 bahas anak sebagai inti cerita. Lalu mau cerita soal bapaknya, ya harus ganti paragraf.
  • Ada kejadian lain yang kemudian terjadi
  • Ada gagasan baru yang ingin disampaikan
  • Ada kalimat langsung baru
  • Ada perubahan waktu ke depan atau ke belakang yang cukup jauh.
  • Ada sudut pandang yang beralih/berganti
  • Ada hal yang ditekankan.



4. Pemilihan kata yang tepat

Yah, namanya orang. Kadang pengin nunjukin kalau kita agak lebih tahu ketimbang orang lain, yes?
Yeslahhh.

Saya juga kok. Hihihi.

Di sinilah ego kita sebagai penulis diuji. Tsah.

Mau nulis untuk diri sendiri, atau untuk dibaca orang lain?
Mau nulis untuk berbagi, atau untuk pamer?

Jangan menggunakan kata yang tak benar-benar kita ketahui maknanya. Write to express, not to impress. Don't write just to impress anyone.


5. Jangan gunakan dua kata negatif untuk menekankan 1 makna positif, tanpa alasan

Misalnya, jangan tak bicara.
Mendingan, jangan diam.

Lebih simpel dan nggak mengaburkan arti.
Kadang, pembaca kita membaca secara fast reading atau skimming. Kalimat rumit seperti itu akan membuat orang jadi salah paham.

Kata lain yang sering bikin rancu adalah "bukan tak mungkin".



Nah, itu dia 5 writing golden rules untuk menulis apa saja. Asal 5 itu diterapkan, pasti deh tulisannya akan lebih enak dibaca dan lebih rapi.

Tinggal memperkaya kosakata kita saja, sehingga dalam satu kalimat (bahkan satu paragraf) kita bisa membuat kalimat yang variatif dan tidak berkesan repetitif.

Tapi, ih, ribet amat. SPOK, kalimat efektif, endebra endebre. Males ah! Nggak jadi nulis entar.

Ada yang mikir gitu?
Nggak apa. Lanjutkan saja yang menurutmu nyaman. Blog mah bebasss!
Asal nggak usah nanya, kok yang inu menang lomba mulu? Kok yang ina dapat job nulis terus? Atau bingung, kok pageview bloher yang itu spektakuler sekali ya?

Oke? Ehe~

Selamat menulis, gaes!
Ada 5 pelajaran hidup yang saya dapatkan dari blogging


Bagi sebagian orang, ngeblog mungkin hanyalah sekadar hobi. Sedangkan bagi sebagian yang lain lebih dari itu.

Kamu termasuk yang mana, seharusnya itu nggak jadi masalah besar. Mau hobi, atau kamu jadikan sebagai sumber penghasilan. Semua sah-sah saja. Yang jadi masalah adalah ketika kegiatan bloggingmu ini lantas membuatmu jadi punya musuh.

Anyway, selama 10 tahunan ngeblog, ternyata saya pun mendapatkan banyak pelajaran hidup dari kegiatan blogging saya ini. I don't know about you, tapi seenggaknya, buat saya, ngeblog telah mengubah hidup saya secara keseluruhan.

Apa saja?


5 Pelajaran yang saya dapatkan dari blogging



1. Nggak pernah ada yang namanya hasil instan yang bagus


You know, saya sudah jalan 11 tahun and I've been through things. Kalau mau tahu cerita proses saya ngeblog, saya pernah bercerita juga di blog ini. Jadi, nggak usah saya ceritakan secara lebih detail lagi.

Sekarang, saya sering dapat pertanyaan, "Saya sudah ngeblog 3 bulan, kok trafficnya menyedihkan ya?" Atau, "Duh, udah ngeblog setahun masih nggak bisa juga dapat job review."

Yang bisa saya lakukan hanyalah menyuntikkan semangat pada mereka-mereka ini.

Ngeblog mengajarkan saya bahwa nggak ada hasil instan. Saya sudah ngeblog selama 5 tahun, baru blog saya dilirik oleh satu brand besar. Itu pun saya harus melalui dulu one day one post, rajin promosi de el el, hingga Alexa saya menembus angka 80.000 an.

Saya sudah ngeblog 10 tahun, baru deh saya bisa ikut menulis sana sini sebagai content writer dengan fee di atas standar Projects.co.id.

Begitu juga saat saya mengelola Rocking Mama. Setahun saya berjuang keras, baru deh beberapa artikel nangkring di page one Google. Itu pun dibantu juga oleh kerja keras tim marketing Zetta Media, nggak cuma SEO on page yang saya lakukan doang. Mereka yang rajin banget jalin kerja sama sana sini dengan aplikasi-aplikasi berita untuk menyebarkan konten yang sudah saya dan tim redaksi buat.

Desember nanti 2 tahun, Rocking Mama sudah punya pageview 1.1 juta per bulan. Kerja setahun, bisa dibilang 24/7. Itu pun belum apa-apa dibanding Trivia dah. 2 tahun 4 juta PV/bulan! Pppffft :))) *bully Resty*

Saya pernah nggak all out di Rocking Mama. Maunya Sabtu Minggu libur, nggak ngedit. Malas mikirin SEO, dan sebagainya. Tapi performanya lantas seret. Meski saya nggak ditegur secara langsung, tapi lihatnya sungguh ngenes. Kayak nggak maksimal. So, saya pun tancap.

Sungguh, nggak pernah ada hasil instan di dunia ini. Semua harus dilalui dengan kerja keras. Karena ngeblog, saya pun semakin memahaminya.


2. You won't get anything, if you don't give first


Saya pernah dengar Mbak Ollie Salsabeela bilang begini, "Give people what they want, and then ask what you need."

Ya, kurang lebih gitu deh. Persisnya saya lupa kalimatnya.

Intinya, kalau kamu memerlukan sesuatu dari orang lain, maka berikan dulu buat mereka baru deh minta apa yang kamu mau.

Soal ngeblog juga begitu. Give your audience the information they need, and they will give you anything.

Ngeblog buat saya jadi sarana dan media berbagi. Selain buat catatan untuk diri saya sendiri sih. Yah, istilahnya pengin belajar bareng. Siapa tahu kalau saya kasih bahasan, terus ada yang lain yang lebih tahu bisa kasih tahu saya lebih banyak lagi. Kan, jadi nambah ilmu saya kan?

Dalam kerjaan juga gitu. Saya kasih apa yang menjadi kewajiban saya, dan kemudian saya pun akan menerima hak saya.

Mau di mana-mana, kalau mau sesuatu, ya beri dulu. Nanti pasti kamu akan mendapatkan apa yang kamu mau.

Setuju kan?



3. We can't walk alone


Dulu, saya pernah malas gaul, termasuk di dunia blogging. Saya suka sendirian. Single fighter ke mana-mana.

Ngeblognya? Ya, sendirian juga. Saya sih kenal dengan beberapa blogger. Nggak banyak sih,  tapi hubungannya dekat.

Terus gimana dengan performa blognya? Ya gitu-gitu aja sih. Sekadar tempat curhat, mencatat kejadian sehari-hari. Hampir nggak penting buat orang lain (yang nggak kenal dengan saya),  tapi penting buat saya. Akhirnya, ya, yang baca ya saya sendiri =))) dan si suami sih. Karena ia merasa related dengan kontennya.

Yang lain? Ya ... ya ada yang ngomen, karena kan mereka teman saya.
Selain itu?
Ya .. ya gitu deh. Wkwkwkwk.

Hingga kemudian saya bosan. Ternyata ngeblog gini aja. Nggak ada tantangan, pun nggak jelas mau saya apa. Orang hidup saya itu lempeng-lempeng aja kok. Nggak ada yang istimewa. Kalaupun saya ceritakan, ya kurang lebih ceritanya sama dengan yang lain. Terus, ngapain? Nggak ada nilai tambah pun.

Bosan. Membosankan betul.

Lalu, saya memutuskan untuk lebih terbuka. Saya gabung ke beberapa komunitas, saya kenal lebih banyak orang.

Ternyata networking itu penting banget di dunia ngeblog, dan di kehidupan lain!

Melalui ngeblog dan networking, akhirnya saya dapat tantangan baru. Dapat job nulis, dapat job desain, dapat job sketsa. Lebih banyak orang yang tahu, kalau saya bisa nulis, ndesain dan nyeketsa. Satu per satu pun mendatangi minta bantuan.

Lalu bola salju menggelinding.
Sampai saya nggak bisa berhenti sekarang.
Tantangan selalu ada setiap hari! Saya nggak sempat bosan.

Ternyata, saya nggak bisa hidup sendiri ya. Hahahaha.


4. Bullying is a habit


Dulu saat saya paling keras ngebully orang kalau ada yang nggak sesuai dengan pendapat atau pandangan saya. Iya, saya dulu bulliers banget. Somehow, itu membuat saya merasa superior dan lebih hebat ketimbang yang lain.

Kalau ada keributan di sana sini, entah itu twitwor, perang status no mention Facebook, bahkan saling serang di artikel blog, saya ikutan! Saya kepo, saya ikut komen. Saya pilih satu pihak yang sesuai dengan diri saya, lalu saya pun ikutan "menyerang".

Namun kemudian seiring waktu saya merasa, ck, buat apa ya saya gitu? Apa untungnya buat saya? Apakah ini berarti saya pengin diterima di "masyarakat" hingga saya jadi "followers" war?

Ada manfaat nggak buat saya?
Kayaknya kok enggak ada manfaat sama sekali ya?

Ngeblog saya juga gitu-gitu aja. Skill nulis saya juga segitu aja. Malah attitude saya yang jadi minus.

Kemudian saya belajar untuk pasang kacamata kuda. Saya nggak pernah lagi ikut perang-perangan itu. Saya menghindari membully, saya berusaha memahami saat ada orang lain punya pendapat dan pandangan berbeda.

Saya akhirnya jadi pro pilihan.
Saya berusaha menghormati pilihan orang lain, sedangkan saya juga pengin pilihan saya dihargai.

Ini akhirnya juga berefek ke networking saya juga sih. Saya memutuskan untuk menarik diri dari berbagai keramaian di dunia blogging, dengan harapan saya akan mendapat "pengganti" lain yang lebih baik daripada sekadar keramaian.

Hidup saya pun lebih tenang.
Saya bisa fokus meningkatkan kualitas diri.


5. Giving up is easy


Dulu saya sering bertanya-tanya, saat awal-awal mengelola blog.

Buat apa coba saya menulis sehari satu postingan? Buat naikin Alexa? Supaya performance blog lebih baik?

Kalau semua sudah lebih baik, terus apa? Apa memangnya terus job dijamin bakal berdatangan, gitu?
Nggak juga. Semua yang di depan itu nampak blur. Lalu, buat apa ya saya ngeblog?

Nggak tahu.
Kalaupun saya saat itu lantas menyerah, ya barangkali saya nggak di sini sekarang.

Sungguh, kalau mau menyerah itu gampang!
Ngeblog mengajarkan saya begitu.

Kalau saya kemudian menyerah juga saat di awal-awal mengelola Rocking Mama, barangkali itu portal juga sudah bhay. Beneran deh, di bulan-bulan awal saya sering bertanya-tanya sendiri, "Bakalan jadi apa ya ini?"

Saya pun sering kepikiran, bahwa persistensi dan kebodohan itu beda tipiiis sekali. Saya hanya harus yakin, yang saya lakukan ini persistensi atau kebodohan. Kalau saya yakin ini adalah persistensi, maka saya harus lanjut. Kalau ini adalah kebodohan, maka saya harus segera berhenti, sebelum saya jadi lebih bodoh lagi.

Ternyata naluri saya bener. Saya yakin ini bentuk persistensi. Maka saya teruskan.
Ah, Puji Tuhan :D


Pelajaran terbesar dari semuanya adalah ikhlas.
Ikhlas saat sharing.
Ikhlas saat tulisan saya diplagiat orang.
Ikhlas saat infografis saya diambil tanpa izin.
Ikhlas juga jadi ukuran saat saya menerima job. Kan saya nggak pernah patok harga standar, semua berdasarkan ikhlas nggak saya melakukannya. Kalau nggak ikhlas, berarti harganya ditambah. Hahaha. Makanya kadang suka bingung kalau ada yang nanya standar fee ini itu :P

Ikhlas.

Yah, pengalaman orang pasti berbeda-beda. Pengalaman saya ngeblog dan pelajaran yang saya dapat darinya pasti berbeda denganmu.

Kamu juga punya cerita dan pelajaran yang kamu dapatkan dari kegiatan ngeblogmu? Ayo, sini cerita, Tulis di blogmu ya. Nanti colek saya di medsos, saya akan round up di sini.

Simak cerita Mbak Ade Delina Putri soal pelajaran hidup dari ngeblog juga, yuk!


Mungkin saat kamu ikutan lomba atau mau mengirim tulisan ke media, sering kamu bertanya-tanya sendiri.
Ide tulisan ini sudah bagus belum sih? Cukup bagus untuk bisa dimuat apa enggak ya? Cukup bagus untuk dilirik oleh juri nggak ya?

Atau, saat kamu mau menulis untuk blog kamu sendiri.
Tulisan ini gaje nggak sih? Jangan-jangan nggak ada yang mau baca.

Atau, mungkin, pertanyaannya begini.
Banyak orang yang menghadapi persoalan yang sama nggak sih sama saya, hingga saya perlu menuliskan ini?

Well, I'm sure. Sebagian pasti sering bertanya-tanya begitu ya. Terutama mereka yang mengutamakan pembaca blog, atau yang pengin traffic blognya lancar, plus memang punya kecenderungan kurang pede.

Yes?
Saya juga soalnya. Wkwkwk.

Pertanyaan-pertanyaan yang bahkan sudah muncul SEBELUM kita menulis itu, kalau dibiarkan berlalu tanpa jawaban, pasti deh, akan bikin kita surut langkah untuk menulis. Semacam jadi inner voice yang bikin kita menunda nulis.

Yang muncul kemudian adalah, ah, idenya kurang oke ah. Ntar, nyari yang lebih oke dulu ah.

Padahal, saya sangat percaya, nggak ada ide yang terlalu buruk. Even sebuah ide lama, bisa saja ternyata memberikan insight baru kalau kita bisa memasaknya dengan benar.

Setuju?

So, saya sendiri punya beberapa pertanyaan checklist yang bisa dipakai untuk mencari tahu, apakah ide konten yang akan saya tulis cukup worthy untuk ditayangkan.

Mau tahu nggak? :D
Ini dia.

4 Pertanyaan yang bisa kamu tanyakan pada dirimu sendiri, untuk meyakinkan apakah ide tulisanmu sudah cukup bagus untuk dieksekusi




1. Does it teach the reader something they may not already know?

Pastinya ini pertanyaan pertama yang harus dimunculkan dan dijawab.

Di Rocking Mama, kami punya standar, bahwa setiap tulisan yang ditayangkan haruslah bisa memberi informasi, memberi nilai tambah, atau menyampaikan pesan dan insight baru pada pembaca.

Begitu juga di blog ini.
Kalau sekiranya audience blog ini sudah tahu, atau topiknya sudah banyak ditemukan di tempat lain, ya buat apa saya tulis di blog ini?

Ini namanya efisiensi kerja sih. Bahahaha.
Kalau sudah dilakukan oleh orang lain, ya kenapa mesti saya lakukan? Kan energi saya mendingan saya pakai untuk yang lain, yang belum ada kan?

So, (buat saya pribadi, terutama) pertanyaan ini jadi yang paling penting.

Kadang memang ada artikel yang membahas problem atau topik yang sudah banyak dibahas, tapi kemudian kita bisa melihat angle-nya. Jika angle penulisannya unik, sehingga bisa melahirkan pemahaman, pengalaman membaca dan insight yang baru, ya pastinya it's worth to read.

Sebelumnya, di Rocking Mama, saya sering melakukan belanja artikel. Saya sering menjumpai beberapa artikel blog yang topiknya sudah banyak dibahas. Somehow, saya sudah merasa bahwa yang ditulis masih kurang spesifik or kurang ada sesuatu yang baru yang ditawarkan. Saat saya "paksakan" untuk tayang, bener saja, pageview-nya nggak begitu bagus.


2. Does the topic help to qualify the prospect as someone suffering from a problem or pain point we can solve?


Pain, adalah sesuatu yang selalu menjadi target saya menulis.
Pain adalah sesuatu atau problema yang dialami oleh pembaca yang datang mencari informasi.

Pain ini akan selalu ada.
Mungkin orang yang mengalaminya akan berbeda, tapi "pain"-nya akan tetap sama.

Misalnya.
Pain yang selalu saya angkat di setiap artikel yang tayang di blog ini adalah kesulitan para blogger untuk meramu konten yang berkualitas. Setiap pertanyaan blogger pemula, seperti gimana cara menaikkan traffic, bagaimana mendapatkan penghasilan dari blog, bagaimana supaya punya pembaca yang loyal, semuanya selalu bermuara ke bagaimana kita bisa memproduksi konten yang berkualitas. Konten yang dicari.

Bener nggak?
Pain tersebut yang selalu menjadi dasar setiap artikel yang saya tulis di sini.
Karena, saya pun menghadapi problema yang sama. Somehow, saya sudah menemukan pemecahannya. Yang lantas saya tulis di sini sebagai catatan.

Di Rocking Mama lain lagi.
"Pengin kurus" merupakan "pain" abadi bagi semua perempuan. "Ingin menjadi ibu yang baik" adalah "pain" abadi para ibu.

Meski sudah banyak dibahas di mana pun, orang seakan nggak pernah puas dengan jawaban yang ada.

So, define apa sih yang biasanya menjadi "pain" pembaca blog kita. Dengan mengetahui "pain" dari pembaca, kita pun bisa menawarkan alternatif solusi.

Jadi, adakah solusi yang bisa ditawarkan dalam artikel kita? Apakah solusi itu sudah biasa ditulis di artikel lain? Kalau iya, coba pikirkan alternatif lain. Think out of the box!


3. Is it aligned with your voices?

Rocking Mama punya "suara" yang mewakili para perempuan (yang pernah) menikah, baik yang sudah punya anak ataupun yang belum.

So, nggak mungkin ada artikel cara utak atik smartphone di Rocking Mama. Di list draf tulisan di Rocking Mama, ada tuh penulis yang "ngeyel" selalu mengirimkan artikel atau tulisan semacam "Download FIFA 17 Mod Versi 2 ISO PSP For Android", atau "Tips Memilih Aplikasi Perpesanan TeramanSmartphone Android" dan lain-lain.
Iya sih, barangkali memang ada mama-mama yang begitu techno-geek. Tapi ya, kurang common aja kan jadinya?

Begitu juga di blog ini.
Saya masih bisa bahas yang berhubungan dengan freelancer, macam fashion style tips atau soal cyber bullying. Somehow itu masih masuk ke dalam "area" saya.

Tapi, saya nggak mungkin bahas resep masakan di sini.
(Terutama karena saya hampir nggak pernah masak sih. Wakakakk)

So, make sure artikelmu memang berada di dalam "area"-mu, kalau nggak bisa dibilang dalam niche blog yang kamu kelola.

Because, somehow, sekarang niche sudah sedikit overrated, isn't it? :P *sarcasm detected*


4. Are the topics and stats current—no more than a year or so old?

Sebenarnya, currency sebuah artikel ini cukup relatif. Beberapa topik memang cenderung "lebih sensitif" tingkatan currency-nya dibanding yang lain. Misalnya, topik soal selebriti, film atau dunia fashion trend pastinya berumur lebih pendek ketimbang topik mendidik anak, relationship, atau kesehatan.

Maka, saya selalu memastikan, kalau topiknya yang based on trend ya harus benar-benar sedang ngehits. Ceknya di mana? Di media sosial atau di Google Trend.

Untuk topik mendidik anak, relationship, kesehatan, makanan dan lainnya, yang mungkin kita pikir lebih evergreen pun, juga tetap harus dicek, apakah cukup update.

Seperti kesehatan, misalnya. Harus dicek, apakah ada update dari pakar kesehatan akan penyakit tertentu? Apakah pengobatan A sekarang masih digunakan, misalnya. Atau sudah muncul obat baru?

Di blog ini juga sama. Banyak banget topik kontroversial wira-wiri di blogsphere.
Mau diangkat juga boleh banget, demi traffic yang bisa melejit seketika. Wkwkwkwk. Tapi biasanya sih trafficnya juga nggak bertahan lama. Sehari dua hari, terus drop lagi.
Untuk membuatnya stabil, kamu harus ekstra kerja keras update berita.

Well. Saya sih lebih suka konten yang evergreen sih. Biar ada yang nyari terus.



Nah, semoga makin yakin, dan tulisannya makin keren ya.
Yuk, berkontribusi dan menjadi penulis profesional bersama Rocking Mama!

=== ROCKING MAMA WRITING LAB SUDAH DIAKHIRI PADA BULAN SEPTEMBER 2017. Baca selengkapnya ya. ===

Halo!
Barangkali teman-teman sudah sering melihat invitation ini di Facebook dan juga Twitter saya. Tapi sepertinya banyak yang kurang jelas ya, terbukti selalu saja ada pertanyaan mengenai seputar berkontribusi di Rocking Mama ini.

So, saya pikir, pastinya akan lebih membantu kalau saya jabarkan sekalian di sini. Biar kalau ada yang nanya, bisa saya rujukkan langsung ke sini. Hahaha.

Tentang Rocking Mama


Karakter pembaca Rocking Mama

Rocking Mama, di bawah naungan ZETTA MEDIA, A Viral Content Media Network, merupakan situs portal berisi semua lifehacks dan lifeguide untuk para mama muda, yang berusia antara 23 - 40 tahun, yang baru saja menikah dan berencana punya anak hingga mereka yang telah menikah kurang lebih selama 15 tahun, dan telah mempunyai anak remaja dan praremaja.

Visi Rocking Mama adalah menjadi komunitas dan networking terbesar bagi para perempuan yang sudah menikah di Indonesia, dan menjadi barometer lifestyle bagi para ibu masa kini.

Sedangkan misi Rocking Mama adalah menjadi tempat utama dan pertama yang dituju oleh para ibu muda yang:
  • membutuhkan solusi bagi setiap permasalahan yang dialaminya; pernikahan, keluarga, kecantikan, fashion, bisnis, kesehatan, hobi, trik interior, teknologi hingga pengembangan diri
  • membutuhkan tempat interaksi dan saling sharing pengalaman, inspirasi, dan ide dalam menghadapi persoalan pribadi.
  • menginginkan sosok teman yang dapat menguatkannya melalui segala persoalan.
  • ingin menjadi perempuan yang lebih smart, lebih up to date, lebih stylish, dan lebih kuat.
Nah, kamu mau ikut berkontribusi di Rocking Mama dan pengin tulisan kamu dibaca oleh puluhan ribu orang setiap harinya?

Ayo, kirimkan tulisan kamu ke Rocking Mama. Caranya?
Hmmm ... ada baiknya kamu kenalan dulu dengan konten Rocking Mama ya, biar lebih luas peluangnya untuk ditayangkan. Yes, cyinn ... nggak sembarang konten bisa ditampilkan di Rocking Mama. Kita ada seleksi tetepan yah.

Konten Rocking Mama


Nah, pertama yang harus dipahami mengenai konten di Rocking Mama.
Ada 2 jenis konten di Rocking Mama:

1. Fresh content


Kamu ada ide yang ingin disampaikan pada para mama muda, yang belum pernah ditulis di media lain?

Fresh content adalah konten yang baru dan belum pernah dipublish di tempat lain, termasuk di blog pribadi kamu. Ya, ini adalah konten original Rocking Mama.
FYI, jenis fresh content akan mendapatkan prioritas untuk tayang lebih cepat ketimbang jenis konten yang lain yah :)

2. Reposting content


Nah, ini terutama buat kamu yang suka ngeblog nih ya. Kamu boleh repost artikel blog kamu (tentunya yang sesuai dengan target audience dan topik utama) di Rocking Mama. Namun, kami, tim editor Rocking Mama, tentunya berhak untuk menyeleksi konten yang sesuai, juga mengedit konten kamu tersebut agar memenuhi standar minimal 90% original, supaya nggak double content yang berakibat nggak bagus untuk peringkat kita di Google.

Perlu kamu tahu, bahwa Rocking Mama bukanlah aggregator blog, bukan pula online bookmarking. Sehingga, mohon maaf, kami tidak menyediakan link back ke blog kamu. Tapi kamu boleh mencantumkan URL blog kamu pada bio yang kami sediakan.

Sudah paham ya, dengan jenis konten yang bisa ditayangkan oleh Rocking Mama?


Cara berkontribusi di Rocking Mama

Klik button 'Sign In' di bagian kanan atas

Kamu hanya tinggal mengakses web Rocking Mama di http://www.rockingmama.id/.

Di bagian pojok atas sebelah kanan, ada tombol untuk SignIn. Klik, kemudian kamu bisa login menggunakan Facebook ataupun Google Plus (keduanya sama-sama lebih mudah ketimbang menggunakan email). Tapi seandainya kamu mau sign in dengan email pun nggak masalah kok.

Setelah kamu sudah bisa masuk ke bagian dasbor, kamu pun sudah bisa mulai menulis. Klik pada jenis konten yang kamu inginkan, Article atau Listicle. Dan, tulis ceritamu!


Panduan menulis konten Rocking Mama


1. Topik

  • Berhubungan dengan dunia perempuan, terutama perempuan yang sudah menikah berusia 23 - 40 tahun.
  • Berisi seputar tip dan trik, how to dan inspirasi menata rumah, kecantikan, fashion, keluarga, resep dan tip memasak, kesehatan, hobi, pengembangan diri, mompreneurship, pernikahan, dan teknologi.
Contoh topik:
  • 7 Gaya Parenting Ala Gilmore Girls Yang Bisa Dicontoh
  • Trend Fashion Modern Yang Membahayakan Kesehatan
  • Inilah 7 Pikiran Seksi Suami yang Harus Dimengerti
  • 5 Cara Menjadi Mompreneur yang Lebih Empatis
  • Menyusui Saat Sakit - Aman Nggak, Ya?
  • 9 Movies Based On Novel Ini Siap Meramaikan Bioskop pada 2016
  • Dekat dengan Si Buah Hati Meski Mama Tetap Bekerja? Bisa Dong!
  • 9 Mitos vs Fakta Makanan Pembangkit Gairah

2. Jenis konten

  • How to atau panduan
  • Tip dan trik
  • Listicle
  • Interviews
  • Photo Article
  • Review
  • Success Stories & inspirations
  • Artikel berseri
  • Infografis

3. Suara dan gaya bahasa

  • spontan
  • sederhana dan memakai bahasa sehari-hari
  • ramah, dekat, dan personal
  • menggunakan kata ‘Mama’ dan ‘kita’ untuk artikel tip, trik, howto, dan inspirasi
  • menggunakan kata ‘saya’ untuk artikel sharing success story atau pengalaman pribadi

4. Panjang tulisan

  • Esai panjang: 1.000 - 1.500 kata
  • Tip dan panduan: 500 - 1.000 kata
  • Listicle: maksimal 1.200 kata dengan jumlah poin ganjil (3, 5, 7, 9, 11 dan seterusnya)
  • Photo article: maksimal 500 kata

5. Isi konten

  • Bebas SARA
  • Ditulis dalam bahasa Indonesia yang sederhana dan mudah dicerna, hangat, dan dekat.
  • Bukan artikel yang merupakan hasil jiplakan tulisan lain
  • Boleh artikel hasil menulis ulang tulisan sendiri yang sudah pernah dimuat di media lain. Sertakan nama media yang pernah memuat tulisan tersebut.
  • Tidak berisi promosi produk atau brand mana pun, tanpa seizin dan persetujuan Rocking Mama sebelumnya.
  • Gambar-gambar ilustrasi apa pun yang disertakan dalam tulisan harus berlisensi CC0 atau menyertakan izin tertulis dari pihak pemegang hak ciptanya agar dapat dipergunakan oleh Rocking Mama.
  • Rocking Mama berhak untuk melakukan edit atas tulisan mana pun yang masuk ke redaksi, tanpa mengurangi isi dan pesan artikel

Rocking Mama Writing Lab (updated)


UPDATE:
ROCKING MAMA WRITING LAB TELAH DIAKHIRI PADA BULAN SEPTEMBER 2017.

Kami masih menerima kontribusi dari para penulis, namun sudah tidak lagi memberikan tips menulis, rewards dan triggers.

Rocking Mama akan sesekali membuka rekruitmen untuk kontributor dengan sistem kontrak, jika nanti diperlukan. Bisa melalui Facebook pribadi saya, atau melalui web-web penyedia jasa freelancer seperti Projects.co.id, atau Sribulancer.


Namun, di luar kontributor kontrak tersebut, kami masih menerima kiriman tulisan dari siapa pun yang ingin berkontribusi.


Yuk, kirimkan tulisanmu!




Berikut ini adalah infografis panduan untuk menulis di Zetta Media Network ya, berlaku di semua portal.



Masih tertarik untuk menulis di Rocking Mama? We welcome you!
Kuy, segera kirim tulisanmu ya!

Kalau kamu masih ragu-ragu dengan tulisanmu, apakah sesuai untuk ditayangkan di Rocking Mama, kamu boleh kok mengirimkannya dulu ke saya via email ke carolinaratri@rockingmama.id.

Saya tunggu ya!

Keep writing!


Sebagai seorang penulis blog, tentu kita tak hanya memikirkan diri sendiri ketika sedang menulis.

Maksudnya, begini. Apa sih tujuan kita menulis di blog? Kalau tujuannya adalah berbagi, baik berbagi ilmu, berbagi pengalaman, berbagi perasaan aka curhat, maka tentulah kita mengharapkan ada pembaca yang sudi mampir ke blog kita. Betul ga?

Ini kalau tujuannya adalah berbagi ya. Kalau tujuannya, "Pokoknya gue nulis. Perkara mau dibaca apa engga, mau disukai apa engga tulisan gue, mau dikunjungi apa engga, bodo amat!", itu sih pilihan masing-masing blogger :P

Kalau yang begini, sok sajalah blognya mau diapain. Tapi jangan nanya, "Kok, blog saya nggak ada yang komen ya?" Atau, "Pageview si mbak yang itu kok bisa sampe 100 ribu per hari ya? Saya sepuluh PV aja susah."

Hehehe. Just a thought sih. No baper please.

Nah, kalau kamu ngeblog dengan tujuan supaya dibaca oleh orang lain, ada baiknya kamu memosisikan dirimu sebagai pembaca blog, selain sebagai penulis blog sendiri.

Maksudnya begini.
Kadang kita menulis dan mendekorasi blog yang menurut kita pribadi enak dan nyaman. Tapi, pernahkah terpikir, bahwa mungkin saja pengunjung blog berpikiran lain?


Nah, berdasarkan pengalaman dan pengamatan, berikut ini adalah beberapa checklist blog yang nyaman dikunjungi.


1. Loading cepat





Yep. Blog yang bagus dan bakalan sering dikunjungi adalah blog yang loadingnya cepet. Gimana caranya ngecek kecepatan loading?

Ada banyak tools, di antaranya ada PageSpeed Insight punya Google, ada SpeedTest.net, Fast.com, Pingdom, dan lain-lain. Kamu bisa googling dengan keyword web speed test. Masing-masing sih punya standar sendiri-sendiri soal kecepatan, tapi ya bisa kamu rata-rata deh kalau memang kamu coba banyak dan hasilnya beda-beda.

Contoh, blog ini di Pingdom hasilnya seperti ini.

Sedangkan menurut PageSpeed Insights-nya Google, saya punya PR banyak untuk performance blog ini :)))))


Ya itu yang versi desktop, kalau buat mobile-nya udah cukup lumayan.

Yah, nanti diberesin. Kalau sempat. Kalau nggak lupa. *dikeplak*



2. Tampilan simple, tak terlalu banyak pernak-pernik, animasi ataupun musik



Minimalist Template by ThemeXpose


Pernah nggak mengunjungi suatu blog di malam hari, ketika anak-anak sudah tidur dan suasananya sudah lengang, lalu tiba-tiba blog yang dikunjungi ada backsound MP3-nya? Saya sering!

Dan, alhasil, saya terlonjak kaget, dan langsung pencet simbol X di sudut. Hahaha.

Jadi begini, buat sebagian besar pembaca blog, jika mereka ingin mendengarkan musik, mereka akan prefer mendengarkan dari media masing-masing. Jadi sebenarnya, mereka nggak butuh diputerin musik di blog yang mereka kunjungi.

Tapi tapi ... kan bisa tinggal dimute aja.
Ya, baiklah. Memang bisa dimute. Tapi saya pribadi sih, berpikir-pikir lagi kalo mau berkunjung lagi. Ehe~

Lagian, segala macam pernak-pernik, seperti animasi-animasi yang nggak perlu, dan juga backsound MP3 itu bisa melambatkan kecepatan loading dan menambah kuota blog yang harus diloading oleh pembaca. Seharusnya cuma 1.35 MB ternyata harus ngeload 1.8 MB, misalnya. Kan nambah jadinya.

Iya, jadi begitu logikanya, yes?

Buat sebagian besar pembaca, juga rada risih ketika harus membaca sebuah blogpost ketika ada animasi salju-saljuan atau burung-burung yang beterbangan sana sini. Membuat capek mata lebih cepat.

Jadi, please deh, pertimbangkan lagi kalau kamu pengin menghias blog dengan animasi-animasi ya?



3. Background terang




Blog dengan background yang terang tentu saja lebih bersahabat bagi mata pembaca. Pembaca tak harus memicing-micingkan mata, seperti ketika membaca blog dengan background hitam, misalnya.

Saya sendiri kadang mbrebes mili ketika membaca blog dengan background gelap. Iya, padahal sebelumnya saya juga suka pasang background hitam.

Tapi semenjak mata saya suka perih-perih saat membaca-baca artikel atau blog, saya langsung berusaha untuk menyukai background terang.

Ya, memang sih. Blog itu kan ibarat "rumah" kita ya. Ya, terserah kita mau gimana mendekorasinya. Tapi ah ... susah menjelaskannya kalau sudah sampai ke masalah begini ya.

Saya pribadi sih prefer mendengarkan kenyamanan "tamu" saya sih, supaya mereka suka dan balik lagi.

Gitu aja sih.


4. Navigasi yang mudah


Image via SpyreStudios

Apa yang dimaksud dengan navigasi?

Navigasi dalam blog, misalnya adanya arsip blog, postingan terkini, atau postingan terpopuler di sidebar dengan jelas.

Juga ada menubar seperti About Us dan lain-lain, yang dengan gampang diklik dan ditemukan. Juga ada kotak search, untuk membantu para pembaca menemukan postingan yang diinginkan dengan memasukkan kata kunci.


5. Font yang cukup jelas


Image via KeyCDN

Sila dicek di blog masing-masing. Apakah font yang dipakai cukup jelas?

Berwarna kontras dengan background, berukuran tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar, serta bentuk huruf yang standar, nggak keriting-keriting atau terlalu lebay bentuknya.


6. Kemudahan komentar


Image via WP Beginner


Kalau mau komen saja sudah susah menemukan kotak komentar, wah, sudah bisa dipastikan bakalan fakir komen blognya.

Atau mungkin untuk bisa komen, kita mesti melalui beberapa langkah nan rumit, atau harus jadi member dari fitur tertentu. Seprti Disqus misalnya. Bagi sebagian orang, Disques mungkin memang lebih praktis. Tapi kalau komen melalui Disqus, kita pun harus punya akun di sana.

Jadi pastikan, kotak komen langsung terlihat ketika sebuah blogpost ditampilkan. Pastikan orang komen tanpa harus melalui banyak kerumitan. Biar hidup sajalah yang rumit. Komen jangan terlalu rumit.

Jika ingin menggunakan captcha, silakan pilih captcha yang gampang dilihat dan dibaca. Sayangnya di blogspot tak ada pilihan captcha.

Jadi kalau saya boleh menyarankan, ketimbang memakai captcha, lebih baik kita memoderasi komen saja. Saya pribadi sih mengerti betapa menyebalkannya komen spam. Dan ini memang perlu kita filter. Salah satu caranya dengan captcha. Tapi saya cukup bermasalah juga dengan captcha. Apalagi kalau pas BW dari HP. Wogh. Ga keliatan sama sekali!

Jadi, saya suka mengurungkan niat buat nulis komen (meski nggak selalu itu juga sih penyebab saya nggak ninggal komen. Ehe~)

Selain itu, di blog yang berplatform blogspot, sering tidak diberi keleluasaan untuk mengisi nama dan URL non blogspot. Padahal ini cukup penting buat para blogger yang nggak pakai blogspot. Jadi, saya menyarankan, please set ulang kolom komentar dengan mencentang kotak “anyone”.
Jadi, pengunjung nonblogspot juga bisa menuliskan URL blog mereka.



Nah, itu tadi beberapa checklist agar blog kita nyaman dibaca dan dikunjungi.

Blogmu sudah memenuhi semuanya belum? Kalau sudah, well done!
Kalau belum, yuk, kita perbaiki pelan-pelan!

Nah, saya juga butuh masukan dari kamu.
Menurut kamu, blog ini kurang apa nih? Apa yang perlu diperbaiki?
Tell me ya. I'll be glad to hearing from you.

Semangat!