Hae. Saya mau ngelanjutin bahasan mengenai latihan menulis untuk menghasilkan tulisan yang powerful kemarin nih :)

Kentang banget, nggak diterusin. Yekan? Wqwqwq.

Kemarin sudah bahas latihan untuk bisa menghasilkan tulisan yang jujur, dengan gaya yang khas, dan bagaimana agar bisa kreatif out of the box.

Sekarang, saya mau lanjutin, cuma tinggal beberapa aja kok nih. Hehehe.


Beberapa Jenis Latihan Menulis untuk Menghasilkan Tulisan yang Powerful


1. Latihan menulis efisien dan ringkas


Nah, ini sebenarnya sudah pernah ada juga saya tulis di blog ini, bagaimana cara melatih diri menulis efisien. Tapi bolehlah kita bahas lagi ya, biar satu rangkaian gitu.

Menulis tanpa efisiensi pemakaian kata bakalan berpeluang tulisannya OOT, nggak fokus, panjang tapi pointless. Orang yang baca juga lebih berpeluang gagal paham. Dan OOT ini kadang nggak disadari banget deh. Apalagi kalau kita emang hobi ngobrol di real life. Suka cerita, suka ghibah #eh Wqwqwq.

Biasanya kalau sudah punya kebiasaan begini, ya kebawa juga ke tulisan.

Jadi, gimana cara melatihnya, biar "kebiasaan buruk" ini nggak kebawa ke tulisan kita? Simpel aja kok. Kamu cukup melakukan beberapa hal berikut sering-sering:

  • Set timer ke 2 menit. Atau, 5 menit juga boleh. Terserah deh, mau berapa lama.
  • Siapkan satu topik untuk kamu bahas. Bebas aja, terserah. Yang receh-receh juga boleh. Nggak usah yang susah-susah. Misalnya, mau nulis tentang "hujan".
  • Begitu timer sudah mulai berdetik, mulailah menulis bebas dengan topik hujan. Just write, jangan diedit, jangan dipikirkan kata-katanya jelek, atau banyak typo. Just write!
  • Begitu timer berhenti di 5 menit, maka kamu harus berhenti. Nggak perlu dikasih ending atau closing. Pokoknya berhenti saja.
  • Lalu lihat berapa jumlah kata yang berhasil kamu kumpulkan dalam tulisan mengenai "hujan" itu.
  • Tugas berikutnya adalah rewrite atau tulis ulang tulisanmu itu menjadi separuhnya. Kalau tadinya panjang mungkin 100 kata, coba jadikan 50 kata. Dan usahakan intinya tetap sama, dengan kualitas informasi yang sama.
Nah, beberapa hal yang bisa kamu lakukan untuk mengefisienkan tulisan adalah dengan:
  • Memilih diksi yang tepat dan lebih singkat. Kadang ada beberapa kata yang ternyata bisa diwakili oleh satu kata aja lo, hanya karena kita menggunakan diksi yang tepat.
  • Satukan subjek yang sama. Kadang ada beberapa kalimat bersubjek sama yang bisa disatukan saja menjadi kalimat utuh.
  • Cek pengulangan informasi. Kadang kita berkali-kali menyebutkan sesuatu dalam satu paragraf atau tulisan. Coba dicek, sebisa mungkin jangan ada pengulangan kalau memang nggak penting-penting amat.
Semakin sering latihan ini kamu lakukan, maka semakin peka pula kamu dalam menentukan efisiensi pemakaian kata yang kamu pakai. Peluang untuk OOT pun semakin sedikit.


2. Latihan menulis dengan emosi




Artikel yang bagus itu adalah artikel yang dipenuhi dengan emosi, tapi bukan emosional.

Nah, ini pernah saya baca di mana, juga saya lupa :)) Silakan, yang tahu, info saya di kolom komen ya. Biar saya tambahkan atribusinya.

Pernah baca artikelnya Pungky Prayitno, yang soal depresi pascamelahirkan yang pernah dialaminya? Tahu nggak, kenapa tulisan itu begitu viral? Apakah Pungky mikirin syarat-syarat artikel viral saat menulisnya? Saya berani taruhan, enggak.

Tapi satu hal yang pasti, tulisan itu sarat emosi dan related to people.

Adalah penting banget untuk memasukkan emosi saat kita menulis. Emosi ini bisa berarti emosi positif (bahagia, puas, senang, dan sebagainya), dan emosi negatif (sedih, kecewa, marah, dan seterusnya). Dengan melibatkan emosi, kita akan menyeret pembaca untuk ikut merasakan hal yang sama dengan kita.

Tapi tetap kendalikan diri supaya nggak emosional saat menulisnya.

Bagaimana cara melatihnya?
Kamu bisa melatihnya dengan cara menulis hal-hal yang:
  • Menakutkanmu. Tuliskan hal-hal yang bikin kamu khawatir. Scares you the most.
  • Membahagiakanmu. Excites you.
  • Menjijikkan untukmu. Disgusts you.
  • Bikin kamu sedih. Sadden you.
  • Bikin kamu semangat. Fuels you.
  • Bikin kamu marah. Angers you.
  • Membuatmu merasa dicinta. Fills you with love.
Nah, kamu bisa giliran tuh latihan nulisnya, sesuai waktu yang kamu punya. Boleh dipublish nggak? Ya bolehlah. Enggak juga nggak apa-apa. Ini sekadar latihan.

Saat kamu sudah terlatih, maka saat kamu menulis artikel, kamu akan terbiasa turut mengungkapkan perasaanmu juga dalam tulisan itu.


3. Tulisan yang "bercerita" dan mengalir

Nah, latihan menulis terakhir yang bisa kamu lakukan untuk menghasilkan tulisan yang powerful adalah berlatih menulis cerita. Because everyone likes stories, right?

Cuma ya, seperti halnya di latihan menulis no. 1 di atas, kita itu kalau sudah dikasih panggung buat cerita akhirnya ngoyoworo (baca: gagal fokus) ke mana-mana. Yah, mungkin alamnya kita gitu ya. Seneng banget kalau disuruh cerita. Wqwqwq.

Tapi soal menulis cerita ini juga bisa dilatih kok. Yang pasti, kamu memang mesti niat dan rajin aja berlatihnya.

Cara melatihnya:
  • Pikirkan satu hari dalam hidup, Jangan pilih yang hari biasa aja, pilih yang "heboh". Artinya, bisa hari yang bagus banget, atau hari yang sial banget.
  • Lalu tuliskan secara kronologis kejadian saat itu.
Ingat, kata kuncinya ada pada kronologis.
Jadi, tuliskanlah secara berurutan kejadiannya ya. Usahakan jangan lompat-lompat. Pokoknya alurnya just A to Z. Jangan dibikin twist :)))

Kalau kamu sudah lancar menceritakan sesuatu dari A - Z secara kronologis, baru deh kita bisa atur lagi. Karena kadang bisa dibikin flashback atau maju-mundur alurnya, agar lebih menarik.

Tapi yang pertama kali harus dikuasai adalah menulis dengan lengkap secara kronologis.

Karena cerita yang melompat-lompat, kalau kamu belum menguasai tekniknya, bakalan bikin pembaca pusing. Karena ada trik khusus saat kita menyambungkan puzzle-puzzle ceritanya hingga tetap bisa diikuti meski tak berurutan.


Nah, demikian tambahan 3 jenis latihan menulis untuk membuat tulisan yang powerful. Simpel kan? Dan nggak banyak kok. Cuma memang kamu mesti disempet-sempetin melatihnya.

Berlatih menulis itu memang membutuhkan waktu khusus. Kalau hanya "meluangkan", emang siapa yang punya waktu luang? Nggak ada. Sejatinya, nggak pernah ada yang namanya waktu luang itu mah :))

Yang ada adalah saat kita membuat waktu ...

So, selamat berlatih ya.



Menulis itu 10% bakat, 90%-nya latihan.

Itu bukan saya yang bilang. Ada, saya pernah baca. Tapi lupa baca di mana.
Dan, itu kalau saya. Beda lagi sama Pidi Baiq. Pidi Baiq itu kalau mungkin disuruh latihan nulis, jadinya malah kacau, ga kayak sekarang. Konon, Pidi Baiq itu kalau tulisannya sampai diedit, nggak jadi tulisannya Pidi Baiq lagi. Ilang udah ciri khasnya.

Beda sama saya. Untuk jadi buku, saya harus didampingi editor. Kenapa? Kacau kalau enggak. Saya butuh editor untuk memonitor tulisan saya memenuhi semua aspek tulisan yang baik dan layak baca.

Karena, saya bukan orang yang bakat nulis. Tapi saat didahului dengan suka, lalu latihan, dan akhirnya melakukannya setiap hari, kita bisa menyamai orang yang kondisinya punya bakat menulis sejak lahir seperti Pidi Baiq.

Nggak, bukan berarti saya mengklaim diri sendiri sudah setaraf Pidi Baiq. Saya belum se-halu itu kok.

Dari hasil belajar sana-sini, akhirnya saya tahu ada beberapa latihan menulis yang bisa kita lakukan demi mempertajam keterampilan menulis. Beberapa jenis latihan menulis sudah pernah saya share di blog ini juga. Lebih tepatnya, dalam artikel sebelumnya itu, saya mengajak teman-teman untuk latihan menulis agar lebih efisien menggunakan kata-kata dan membentuk kalimat.

Nah, sekarang saya akan share beberapa macam latihan menulis yang tujuannya untuk membuat tulisanmu lebih powerful.

Seperti apa sih tulisan yang powerful?

Lagi-lagi berdasarkan pengamatan sana-sini (jadi silakan koreksi jika saya salah), tulisan itu powerful, dalam arti kuat dan berkarakter jika memenuhi syarat:

  • Orisinal, jujur, apa adanya
  • Dituturkan secara khas
  • Kreatif dan out of the box
  • Efisien
  • Penuh emosi tapi tidak emosional
  • Storytelling

Wah! Persyaratan kelas berat!
Tenang.

Masing-masing elemen tersebut bisa kita latih kok. Dan, nggak semuanya mesti dilatih sekaligus. Kamu bisa mencoba latihannya satu per satu. Pokoknya intinya, setiap hari latihlah setidaknya satu elemen di atas. Dengan demikian, seiring waktu, akan terbentuklah tulisan yang powerful dengan gayamu sendiri.

Iya, saya sudah mempraktikkannya.

Begini cara melatihnya.



Beberapa Jenis Latihan Menulis untuk Menghasilkan Tulisan yang Powerful


1. Latihan Menulis dengan Jujur




Sebagian orang bilang, saya kalau nulis to the point. Langsung, kadang terasa nyinyir dan sering bernada menyindir. Ada yang bilang lagi, saya kalau nulis cabenya banyak. Malah ada yang bilang, tulisan saya kasar.

HAHAHA.

Saya nggak pernah nyinyir padahal. Saya juga nggak pernah bermaksud menyindir (kalau ada yang kerasa, ya syukur. #eh) Cabai banyak? Enak kan? Pedes. Kasar? Ah, biasa saja.

Satu hal yang pasti: saya cuma berusaha jujur.

Itu dia. Dan memang, nggak semua orang kuat dengan kejujuran #tsah
Tapi tulisan yang jujur itu biasanya membawa nyawa. Ada nyawa terselip di dalamnya, ketimbang tulisan yang terasa di-hold back karena berbagai alasan.

Nah, mau latihan menulis dengan jujur?
Bisa. Ada caranya.
  • Coba pikirkan satu orang yang pernah menyakitimu. Lalu tulis surat untuknya. Keluarkan semua yang menjadi ganjalan di hatimu. Semua. Take your time, nggak perlu buru-buru. Saat selesai, kamu pasti akan menemukan satu tulisan yang sangat jujur. Untuk latihan pertama ini, pasti akan terasa lebih mudah kan? Iya dong. Kalau sudah gape di latihan pertama, lanjut ke latihan kedua berikut.
  • Coba pikirkan satu orang sahabatmu yang paling dekat. Atau boleh juga pacar. Atau suami or istri. Sudah pasti banyak kebaikan yang pengin kamu ungkapkan kan? Etapi bentar. Bukan itu yang harus ditulis. Tulislah hal-hal yang sebenarnya kamu kurang suka dari mereka. Entah dari cara mereka melakukan sesuatu, atau cara mereka berinteraksi denganmu. Nah. Di latihan kedua ini, sekali lagi, tulislah semua apa adanya. Namun, kamu harus memikirkan dari dua sudut yang berbeda juga. Bagaimana agar kekurangannya ini tetap terasa manis dibacanya.
Nah, dua jenis surat sudah tertulis.
Mau disampaikan pada orangnya? Silakan.
Hahaha.

Selamat, kamu sudah melakukan latihan menulis dengan jujur.




2. Latihan Menulis dengan Gaya yang Khas




Ternyata, tak semua orang bisa memunculkan kekhasan pribadinya dalam sebuah tulisan. Dalam artikel blog mengenai ciri khas lifestyle blog yang lalu, saya pernah kasih contoh beberapa orang bloger yang memang sudah punya gaya khas dari sononya. Boleh diintip, kalau ada yang belum baca ya :)

Memang, ada orang yang sudah sangat khas sekali gaya menulisnya, dari sononya. 
Tapi, ada yang gaya tulisannya biasa saja, sampai-sampai ketika kita sudah menutup blognya, kita sudah langsung lupa lagi aja gitu dengan nama blog yang barusan kita kunjungi itu. Saking nggak berkesannya.

Sedih. Tapi justru, yang terakhir ini yang banyak terjadi.

Saya sendiri pernah dibilang begini.
Saat saya menulis di tempat lain, tulisan saya terasa seperti "penulis yang sedang bekerja untuk memenuhi tugasnya". Sedangkan, ketika saya menulis di blog pribadi, lebih terasa seperti teman akrab.

Yaeyalah. Nulis di tempat lain kan saya nggak boleh merepresentasikan diri sendiri. Saya harus menjadi "suara" dari web di mana tulisan saya muncul tah? Hahaha. Beda sama di blog.

Saya anggap itu sebagai "pengakuan" kecil, bahwa personality saya berhasil saya bangun di blog ini.

Kamu juga bisa begitu.
Saya dulu melatihnya dengan cara: Amati, Tiru, dan Modifikasi.

Ha, pasti sudah pernah dengar istilah ini ya? Kamu bisa baca juga artikel soal keidean ini.

Saya dulu punya teman yang saya suka banget gaya menulisnya. Saya pengin bisa menulis seperti itu. Akhirnya, saya tulis ulang tulisan dia, dengan modifikasi sana-sini.





Begitulah saya. Kalau sudah jatuh cinta pada karya seseorang, maka saya pun akan memburu karyanya yang lain sampai lengkap. . Ini adalah buku-buku @agusnoor_ Kesemuanya buku kumpulan cerpen dan puisi. Rasanya sih sudah lengkap. Entahlah. Saya belum ngecek lagi di Goodreads, atau ngecek apakah ada buku yang tercecer di bagian lain dalam rumah 😂. . . Lagi pengin nyusun ulang rak buku. Karena toko buku online-nya mau saya udahin aja. Kalaupun ada buku yang mau saya lepas, akan saya lepas sebagai book swap atau donasi aja. Nggak diperjualbelikan. Demi cita-cita mewujudkan punya Cafe Buku, sebuah kafe sekaligus taman bacaan sastra #CarraCafeBuku2025 😂 aminkan! . sekalian susun ulang, sekalian pamer. Siapa tahu ada yg kasih info untuk melengkapi koleksi. #bookaddict #bookstagram #book #books #booklover #bookworm #books #buku #literature #literasi #sastra #flatlay #flatlays
A post shared by Carolina Ratri's (@carra.artworks) on


Saya mengagumi Agus Noor. Saya sukak pake banget gaya menulis Agus Noor. Saya tahu, Agus Noor adalah "murid" Seno Gumira Ajidarma, sang empu. Tapi, entah kenapa, saya nggak berminat meng-copycat SGA, tapi saya justru lebih tertarik meng-copycat ke Agus Noor.

Maka, ada beberapa fiksimini, flashfiction, dan cerpen Agus Noor saya copycat--lebih tepatnya saya amati, tiru, dan modifikasi--hingga menjadi fiksimini, flashfiction, dan cerpen yang baru. Ending saya ganti, tokoh saya ganti, atau plot cerita saya geser sedikit. Tapi gaya bahasa benar-benar saya tiru habis.

Nah. Kamu juga bisa melakukan hal yang sama.
Coba ambil satu tulisan penulis idolamu, yang punya gaya tulis yang sangat khas, yang pengin kamu tiru dan kembangkan.

Lalu jiplak tulisannya persis. Lalu ubah di beberapa bagian. Setelah selesai, ambil jeda untuk diendapkan. Kembalilah nanti, untuk kemudian menulisnya ulang.
Lakukan ini berulang kali, hingga tak ada lagi bekas-bekas jiplakan kata. Yang masih tinggal adalah gayanya.

Tenang, cara menjiplak ini hanya sebagai latihan. Tulisannya tak harus kamu publish, kalau kamu takut dibilang plagiat. Cara ini adalah cara untuk melatih kita menulis dengan menyerap gaya dari penulis favoritmu.

Jika latihan ini bisa rutin kamu lakukan, di alam bawah sadarmu akan terbentuk sebuah ciri khas baru. Kombinasi antara gaya penulis idolamu dengan gayamu sendiri. Percaya deh. Hasilnya nanti lama kelamaan akan berbeda, tapi gayamu jadi lebih khas lagi seperti penulis idolamu itu.




3. Latihan Menulis agar Kreatif dan Out of The Box



Soal kreatif dan berpikiran out of the box ini juga bukan bakat lo. Tapi bisa dilatih.
Prinsipnya adalah kita harus berpikir dengan cara yang berbeda, dari kacamata yang lain dari biasanya atau yang biasa orang lain pakai.

Dan ini tuh bisa dilatih. Nggak perlu waktu yang lama juga ngelatihnya, asal ada niat dan mau, sertta mau sering-sering praktik.

Caranya:
Ambil satu benda, atau objek apalah terserah. Saya ambil misalnya iPad.
Lalu coba bertanya pada diri sendiri, apa sih fungsi iPad?
Kalau orang lain mungkin akan menjawab, iPad ya sebagai gadget; buat browsing, buat bikin ina inu, buat ngeblog, buat nonton Youtube, buat main games, dan seterusnya.

Tapi coba pikir dengan cara berbeda.
iPad bisa saja menjadi talenan, alas buat ngiris bawang bagi #horangkayah. Bisa kan? Bisa dong. Horangkayah ini. Dari titik mula ini, tuliskan lanjutan ceritamu mengenai iPad sebagai talenan, alas ngiris bawang. Lalu, kalau iPad jadi talenan, piring makan horangkayah itu apa ya? 
Jadi semacam obrolan #CrazyRichSurabayan dll kemarin di media sosial itu loh.

Seru kan?



Saya pernah mendapat ide menulis saat melamun dan kebetulan mata saya tertumbuk pada sebuah snow globe. Tahu kan, snow globe? Itu loh, bola kaca yang dalemnya biasanya diisi cairan dan salju-saljuan. Terus biasanya ada rumah kecil dan pohon-pohon kecilnya. Snow globe ini kalau diputar-balikkan gitu terus kayak rumahnya hujan salju, gitu. Pernah liat kan?

Nah, saya membayangkan, bahwa ada entity atau makhluk yang benar-benar hidup dan tinggal di dalam rumah kecil di dalam snow globe itu. Saya kembangkan ini jadi sebuah flashfiction.

Latihan menulis out of the box ini tak hanya kepakai kalau kita menulis fiksi saja nanti. Bahkan menulis tip dan howto, latihan menulis out of the box ini bisa banget membuat tulisan jadi lebih powerful dan memorable.



***

Nah, sebenarnya masih ada 3 jenis latihan menulis lagi yang bisa kita lakukan untuk menghasilkan tulisan yang powerful. 
Tapi ini sudah 1300 kata. Jadi lebih baik saya sambung saja di artikel depan ya. Biar nggak kepanjangan :)

Jadi, sampai ketemu di Beberapa Jenis Latihan Menulis yang Bisa Dilakukan untuk Menghasilkan Tulisan yang Powerful - Part 2 ya :)