Hai semua!
Hari ini saya mau libur ngomenin orang.

Ya, hari ini saya cuma mau berbagi informasi saja nih, terutama buat kamu para kuli kata, baik itu kuli konten--kek saya--editor, penulis, blogger ... whatever, pokoknya yang sehari-hari mesti nulis.

Sudah tahu kan, ya, kalau kata-kata dalam bahasa Indonesia kita itu barangkali ada jutaan, termasuk kata-kata alay dan kata-kata yang entah-datangnya-dari-mana-lalu-tetiba-nongol-di-linimasa-kita.

Yah, kalau yang kata-kata itu mah ya sudahlah ya. *nggak jelas banget sih, Mak.*
Tapi dalam bahasa tulisan, tentunya kita sebagai penulis mesti tahu kata-kata yang benar dalam bahasa Indonesia. Meski kemudian kita mau olah bersama dengan kata-kata slang dan gawul yang lain sih enggak masalah.

Tapi yang pasti, kita mesti tahu dulu mana kata baku dalam bahasa Indonesia, sebelum "memainkan"-nya dalam tulisan, sehingga tulisan lebih enak dibaca dan juga bisa mengalir. Karena sebenarnya hasil akhirnya itu ditentukan oleh gape enggaknya kita dalam memilih kata-kata.

Setuju kan?

Nah, supaya kamu bisa dengan mudah mengenali kata baku dan kata yang enggak baku dalam bahasa Indonesia di tulisanmu, Mas Wisnu Widiarta punya sesuatu yang barangkali bisa bantu kamu untuk menemukan kata kurang baku.

Ini dia, software Kata Baku Bahasa Indonesia.
Masih versi 1.0, dan masih perlu buanyak buanget pengembangan.


Cara Menggunakan Software Kata Baku


Sebelumnya, Mas Wisnu Widiarta sih sudah menjelaskan secara jelas bagaimana cara memakai software Kata Baku ini. Nah, kamu bisa lihat di sana saja untuk cara pemakaiannya ya. Hehehe. Sudah jelas keknya.

Saya cuma mau menambahi dikit saja, terutama soal apa yang bisa dan yang belum bisa dilakukan oleh software ini.

Ini dia penampakannya, kalau software-nya sudah kamu unduh.


Gampang kan ya?

Nah, seperti inilah penampakannya kalau dia sudah selesai memeriksa kata.

Via Mas Wisnu Widiarta

Nah, kamu lihat kan, kalau di sana ada panel Naskah, Basis Data, Informasi, dan Panduan. Informasi dan Panduan bisa kamu lihat sendiri nanti.
Saya mau kasih lihat Basis Datanya ya.

Ini dia Basis Data software Kata Baku ini.
Kamu bisa menambahkan sendiri kata-katanya. Saya sendiri sudah ngupdate sekitar 300-an kata. Kalau yang punya Mas Wisnu belum sebanyak punya saya :))

Kayak ginian nggak mungkin selesai sehari dua hari. Mesti diupdate secara terus menerus.

Nah, rencana saya sih, saya akan share excel-nya nanti di Google Drive. Kamu bisa unduh kalau ada updatean, terus tinggal Impor Kata saja. Nanti kalau katanya sudah masuk ke Basis Data, enggak akan dobel kok.


Ada 2 cara untuk update Basis Data Kata Baku.


1. Masukkan satu per satu ke dalam gridnya.

Caranya gampang:

Klik "+" dulu, masukkan kata, lalu centang.


  • Klik tanda "plus".
  • Begitu muncul baris kosong yang ter-highlight, tinggal kamu masukkan kata sesuai kolomnya. Yang salah di sebelah kiri, yang benar di sebelah kanan.
  • Lalu klik tanda centang.
Untuk menghapus kata juga mudah:

Klik tanda minus untuk menghapus kata

  • Klik pada baris kata yang akan dihapus.
  • Lalu klik tanda "minus".
  • OK

2. Masukkan sekaligus banyak

Caranya juga gampang:
  • Kamu harus buat dulu kamusnya dalam format Excel.
  • Kalau sudah selesai, select all, dan copy.
  • Buka software Kata Baku, buka Basis Data. Di bagian kanan ada panel kosong, nah paste-kan di situ.
  • Klik "Impor Data"
  • Secara otomatis, kata-kata yang sudah kamu paste di situ akan masuk ke Basis Data.
  • Tuh, gambar saya di atas itu menunjukkan saya baru saja update data Kata Baku sekaligus banyak dari Excel saya.

Gampang kan ya?

Sebagai gambaran, bisa lihat video yang sudah saya unggah di Instagram saya.


Jadi, salah seorang sahabat saya--si papah yang supercool-- @wisnuwidiarta ini bikin software semacam "Kata Baku Checker" gitu kayak Grammarly. Sepertinya omongan saya tempo hari beneran dianggap serius sehingga beliau pun beneran bikin program ini 😂😂 . Bentuknya software, versinya sekarang masih 1.0. Masih perlu banyak perbaikan dan perkembangan. . Semoga suatu kali bisa dipakai oleh para penyunting untuk memperingan kerjaan menyunting naskah. Secara ya, bok, menyunting naskah itu kerjaan berat, mulai dari meriksa kata baku, meriksa tanda baca, sampai ngecek logika dan kronologis endebre endebre. . Seenggaknya satu tahapan bisa diselesaikan dengan cepat dengan tool ini. . Nanti bahas juga di blog aku sih. Sekarang, mari kita perbaiki basis datanya dulu. . Moga2 kapan2 bisa segera dipamerkan ke Ivan Lanin. Moga mau bantu ngaudit juga yes? 😂😂😂
A post shared by Carra's (@carra.artworks) on


Nah, beberapa hal yang mesti kamu perhatikan ya untuk penggunaan software Kata Baku ini.


1. Belum bisa mengganti kata secara otomatis


Jadi kata-kata tak baku yang sudah ditemukan oleh software ini dalam tulisanmu belum bisa langsung digantikan secara otomatis dengan kata bakunya.

Jadi, kalau kamu menggunakan software ini untuk bantu kamu memperbaiki tulisan, maka setelah menemukan kata-kata tak baku dan sudah ada kata bakunya, kamu harus menggantinya sendiri secara manual dalam draf tulisanmu.

Ya, kamu bisa minta bantuan tool Replace yang ada di Word.
Misal, kamu akan mengganti kata "sarap" dengan yang lebih baku "saraf", maka buka tool Find and Replace ini.

Find and Replace Microsoft Word

Masukkan kata "sarap" di bagian "Find what", lalu masukkan "saraf" di bagian "Replace with".
Cuma ingat ya, Word akan mengganti tiap kata yang mengandung "sarap" secara otomatis dengan "saraf". Jadi nanti kalau ada kata "sarapan" juga akan terganti jadi "sarafan". Hahaha.

Ya, jadi mesti kamu cek juga.


Update: versi terbaru ada penambahan panel untuk teks yang sudah dikoreksi. Jadi kata bakunya sudah langsung mengganti kata-kata yang tidak baku. 


Via Mas Wisnu Widiarta

Silakan dicek langsung ke bagian Update di bawah sana.


2. Belum bisa mendeteksi kata baku berimbuhan secara otomatis


Jadi misalnya "kendor" gitu bisa terdeteksi sebagai kata tak baku, dan akan ada kata baku "kendur" dalam hasil periksanya.
Nah, kalau ada kata "mengendor", nah, itu tidak akan terdeteksi kalau tidak ada dalam Basis Data. Seharusnya kan "mengendur" ya kan?

Nah, ini kamu mesti input sendiri juga.
Masukkan kata "mengendor" dalam kolom kata yang salah, dan masukkan "mengendur" dalam kolom yang benar.

Ini berlaku juga untuk kata ulang, kata majemuk dan sejenisnya.
Pokoknya dia bisanya hanya mendeteksi kata sesuai yang dimasukkan dalam Basis Data.


3. Belum bisa Impor Kata sekaligus banyak untuk kata majemuk dengan spasi, kata ulang, yang terdiri lebih dari satu kata


Misalnya "obrak-abrik", kalau kamu mau masukkan secara masif melalui Excel dan Impor Data, nggak akan masuk ke Basis Data. Harus kamu masukkan secara manual, dalam gridnya, kayak petunjuk update Basis Data no. 1 di atas.

Klik tanda plus, masukkan "obrak-abrik" di kolom salah, dan masukkan "ubrak-abrik" di kolom kata yang benar. Lalu klik centang.

Begitu juga dengan "bertanggung jawab" harus kamu masukkan secara manual di grid.



Terus, apa lagi ya?
Kayaknya itu aja sih.

Yah, memang belum sempurna ya. Tapi so far saya sudah menggunakannya beberapa kali buat daily editing saya untuk Rocking Mama. Hehehe. 
Saya belum coba menggunakannya mengecek draf naskah yang panjang sih.
Kalau ada yang mau dan sudah mencoba, boleh dishare pengalamannya ya.

Oh iya. Kalau mau unduh langsung ke update-an di bawah sana, sesuai update yang paling baru ya, karena software ini akan selalu berkembang. Jadi silakan dicek sewaktu-waktu.
Saya akan update terus sesuai perkembangannya di bawah.

Untuk daftar kata baku yang akan saya update secara berkala ada di sebelah sini.
Kalau kamu kemarin sudah unduh punya Mas Wisnu, dan mau update daftar kata baku, unduh aja yang ini. Lalu Impor Kata.

Doain semoga software Kata Baku ini bisa makin lengkap, dengan fitur-fitur tambahan lainnya ya. Juga tampilannya makin oke, gitu. Sehingga tugas-tugas para penulis dan penyunting draf naskah makin terbantu, setidaknya bisa memotong tahapan dalam proses penyuntingan.
Kan mayan banget, secara kerjaan editor itu banyaaak, Kakaaak~

Doain yang bikin juga lancar rezeki, dan punya banyak waktu luang supaya sempat mengembangkannya lebih baik lagi.

AMIN!




============ UPDATE ==============



Silakan update software Kata Baku versi 1.1 di sini.
Penjelasan mengenai versi terbaru ini ada di sebelah sini.
Pantengin blog Mas Wisnu Widiarta atau Facebook-nya untuk update software ini sewaktu-waktu.


Konon katanya, setiap hari ada lebih dari 2 juta blog post terpublish di dunia maya.

Ini adalah data menurut Worldometers. Nggak percaya? Silakan cek saja langsung ke Worldometers, karena di sana ada hitungan real timenya.

Saat saya menulis artikel ini, hari Minggu 22 April 2018 pukul 12.19, Worldometer menunjukkan angka segini, and still counting ...

Screenshot Worldometer

Nah, kalau liat keterangan di bawahnya, blog post sejumlah itu pun HANYA yang dipublishkan melalui Wordpress.

Belum yang dari Blogspot, Tumblr, blog.com, TypeJournal, dan seterusnya. Itu yang seluruh dunia ya. Di Indonesia berapa? Enggak tahu, banyak yang pasti.

Now, kita coba ke lain sisi.

Saat ada job atau lomba, lalu banyak blogger yang publish artikel dengan topik yang sama. Berapa persen yang bisa menonjol di antara lain? Biasanya sih yang punya ide "beda", atau yang punya gaya khas.

Bener nggak?

Dan, saya nggak bisa menutup mata. Bahwa dari pengamatan, yang punya ciri khas memang akan lebih long lasting stand out-nya. Dan ini tuh berlaku di mana pun.

Katakan saja para seniman. Novelis, misalnya. Mereka yang punya gaya khas, biasanya ya lebih bertahan lama--baik bukunya atau dianya sendiri yang bisa terus berkarya sampai tua.
Faisal Oddang punya gaya yang khas. Para penulis wattpad juga. Tapi saya berani taruhan, Faisal Oddang akan bertahan di kursinya hingga ia tua nanti, karena apa yang ia tuliskan menjadi bagian dari dirinya. Penulis wattpad? Saat musim trend bergeser, mereka pun akan ikut tenggelam bersama Wattpad.

Pelukis-pelukis yang sudah punya ciri khas juga beda "kasta" dengan mereka para pelukis wajah yang di tempat-tempat wisata itu, meski mungkin malah bagi sebagian orang gambarnya para pelukis wajah itu lebih bagus, karena lebih mirip dengan aslinya.

Affandi misalnya. Kalau bikin lukisan orang ya nggak bakalan pernah mirip. Karena style dia ya begitu, ekspresionisme. Lakunya? Ratusan juta.
Pelukis wajah bisa nggambar mirip sama aslinya. Ya, kalau memang dia punya ciri khas tertentu, dia juga bisa menjual lukisannya ratusan juta juga. Kalau enggak? Ya, gitu-gitu aja.

Misalnya lagi, sutradara video clip. Gaya khas sinematografinya Rizal Mantovani beda sama gayanya Dimas Djay. Kelihatan banget tuh.

Gaya dan ciri khas itu selayaknya identitas.
Kalau kamu punya gaya dan ciri khas, artinya kamu punya identitas.

Lalu, bagaimana dengan blog?
Memangnya blogger sama dengan seniman?

Ndilalah, kemarin ada yang nanya sama saya, gimana cara mencari ciri khas untuk personal blogger. Jadi, marilah kita bahas.

Saya pribadi menilai ada beberapa hal yang sama, dengan semua analogi di atas.
Saat seorang blogger sudah punya gaya khas dalam menulis, merepresentasikan apa pun pesan yang dibawanya, ya akan membawa identitasnya ke mana pun.


Mari kita lihat lihat dulu beberapa profil blogger berikut, yang menurut saya sudah punya style yang sangat khas.


1. Tikabanget


Saya tahu dan menjadi pembaca blog Tikabanget sejak sebelum saya sendiri mulai ngeblog. Bahkan, saat saya baru mulai kenalan dengan E-Marketing.

Tika nggak tahu saya. Wkwkwk. Tapi saya tahu dia. Dulu, Tika kalau nulis judul selalu pakai "ituh..."

Arsip blog Tikabanget di tahun 2009

Semua pakai "ituh...", dan ini tuh khas buanget! Nggak ada blogger lain yang (berani) nulis kayak gini. Karena bakalan dibully dah, kalau zaman sekarang. Niru Tika ya?

Itu kan cuma judul. Gimana dengan blog postnya? Emang punya ciri juga?
Coba baca yang soal Fertitest. Sumpah, kalau artikel ini di zaman sekarang barangkali bisa dicurigai sebagai artikel pesan sponsor. Tapi waktu itu belum ada kayaknya postingan berbayar kek gini. Wkwkwk.

Coba kalau artikel itu jadi blog post berbayar salah satu dari campaign-campaign yang ada sekarang. Boom dan viral kali. Hahaha. Ngakak lo saya pas baca. Komennya ada ratusan juga. Gilingan kan?

Sayangnya sekarang Tika udah nggak pakai gayanya itu lagi. Dia sudah berubah! Halah.


2. Annisa Steviani


Saya memang jarang blogwalking dan jalan-jalan. Tapi, kalau saya mau datang dan baca artikel di blog orang, biasanya memang karena saya tertarik sama bahasannya.

Kayak di blog Icha juga neh. Nggak semua saya baca emang. Tapi saya selalu baca artikel Icha yang menarik--yang entah kenapa--selalu isinya bikin saya nyengir.

Salah satunya adalah saat Annisa merepet soal artis 'Si Neng A'--begitu dia bilang--yang tampak berusaha banget memang untuk selalu tampil sempurna di media sosial.

Screenshot dari blog Annisa Steviani

Saat membacanya, saya kebayang Icha-nya di depan saya dan dia lagi merepet. Saya mendengarkan, sambil cengar cengir, DAN serasa dipaksa untuk setuju sama dia.

Tapi, memang seperti itulah gaya Icha. Merepet, rada nyinyir, but related to people (baca: buibuk). Silakan coba baca artikel Icha yang lain. Nadanya sama, kek-kek gitu juga.


3. Dani Rachmat


Kalau Mas Febriyan Lukito bilangnya begini.

Kata Mas Ryan lo ini. Huahahahaha.


Tapi ya bener juga sih.
Buat saya postingannya Mas Dani yang paling epic adalah yang soal Kerja di Bank. Artikel itu yang paling  Mas Dani banget deh.

Iya, baca itu saya rasanya pengin beneran nyambit mesin ATM. Wkwkwkwk.


Di antara semua artikelnya--yang ngomongin topik berat tapi diomongin santai--artikel inilah yang paling menampakkan ciri khasnya.

Dan tahu nggak berapa komen yang ada di postingan tersebut? 244 komen! Iya sih, termasuk komen Mas Dani sendiri. Tapi coba lihat seberapa engagement yang dia dapatkan.

Ruar biasa.



So, apa nih kesimpulannya?
Tiga blogger di atas sudah pasti punya pembaca fanatik sendiri-sendiri.

Tikabanget pembacanya pasti sudah banyak, secara dia senior banget. Meski sekarang sudah agak berubah gaya menulisnya, tapi saya yakin deh. Masih banyak.

Annisa Steviani? Ada yang ragu dengan trafficnya?

Dani Rachmat? Bahkan dia nggak update blog, pembaca yang mampir masih tetap ribuan tiap harinya.

Tikabanget mewakili blog generasi pendahulu, yang membahas topik apa saja --> means mewakili blog gado-gado.
Annisa mewakili berniche yang masih luas, parenting dan beauty. Meski dia juga masih bahas ini itu juga.
Mas Dani nichenya lebih spesifik lagi, soal keuangan. Meski dia juga bahas film dan lain-lain. Tapi artikel keuangannya mendominasi.

Ketiganya mewakili blog dengan audience yang berbeda-beda. Sama-sama distinctive dengan gayanya masing-masing.

Lalu, bagaimana denganmu?

Apakah kamu sudah punya ciri khas sendiri untuk blog kamu?

Belum? Pantesan saja blogmu tenggelam di antara jutaan blog lain.
Pantesan aja, traffic juga segitu aja.
Pantesan juga, kamu nggak pernah menang lomba.

Untuk bisa stand out, kamu harus punya sesuatu. Sainganmu banyak lo.
Ibarat deretan kaki lima, blog kamu tuh nyempil di antara kios kaki lima yang lain. Kalau jualanmu sama aja dengan yang lain, misal ada pelanggan datang dan nawar, kamu nggak bolehin, dengan mudah pula ia akan berpindah ke lapak lain dalam hitungan detik.

Apalagi kamu memilih topik so-called-lifestyle blog yang meski kedengeran mentereng tapi ya tetep aja isinya nyampur. Kamu nggak memilih niche, yang tidak menonjolkan keunggulanmu, kelebihanmu, atau apa pun yang bisa memaksa orang untuk ngefans denganmu, menunggu tulisanmu, atau menjadikanmu sebagai tempat bertanya.

Orang akan dengan mudah lupa juga pada eksistensimu sebagai blogger.

Kalau sudah begitu, satu-satunya cara untuk bisa membuat orang ingat akan kamu adalah kamu harus punya ciri khas.

Bener nggak?

Tapi, gimana caranya menemukan ciri khasmu sebagai blogger, kalau kamu masih belum memilih niche atau fokus tertentu?

Saya sebenarnya berani taruhan. Ketiga blogger di atas NGGAK PERNAH secara sengaja mencari ciri khas mereka masing-masing. Nggak yakin saya, Tika, Icha sama Mas Dani tuh merenung, pengin jadi kayak gimana saya kalau ngeblog nanti.

Nggak. Ciri khas itu mereka keluarkan secara alami. Otomatis aja gitu. Ndilalah, mereka sendiri adalah orang-orang antimainstream. Sudah dari sononya begitu.

Tapi NGGAK SEMUA orang tuh begitu. Ada beberapa orang yang mainstream. Gayanya B aja. Nggak bisa menemukan satu hal yang bisa ditonjolkan dari dirinya.

Padahal, kamu pasti setuju kan sama saya, kalau setiap orang itu unik? Iya, everybody is unique. Tapi gimana caranya mengangkat keunikan itu agar menjadi ciri khas yang menonjol?

Kalau kamu merasa kesulitan menemukan ciri khasmu sendiri dalam ngeblog, coba deh, berikut ada beberapa tip dari saya. Boleh dicoba.


1. Jujur


Ketiga blogger di atas menulis dengan jujur. Mereka jujur dengan kondisi mereka sendiri, jujur menuliskan apa yang ada dalam pikiran mereka.

Sehingga inner voice mereka--segala macam pikiran pun--bisa mereka keluarkan apa adanya. Kalau mereka setuju ya akan menulis setuju. Kalau enggak setuju, mereka akan menjelaskan alasan mereka mengapa tidak setuju.

Mereka berani berpendapat, dan mereka nggak takut kalau pendapatnya beda.

Apa yang keluar dari diri kita secara jujur, maka sudah pasti akan "memancarkan" personality kita. Karena apa? Setiap orang tuh sebenarnya punya pemikiran sendiri-sendiri. Meski mungkin sama-sama setuju akan satu hal, tapi dasar pemikirannya bisa berbeda.

Keluarkanlah yang berbeda itu.

Jika kamu selalu memberikan hal yang berbeda, maka hal yang berbeda itu lama kelamaan akan menjadi ciri khas.


2. Ekspresikan pikiranmu


Ekspresi biasanya memang akan menjadikan suatu tulisan bernyawa. Coba lihat tulisan Icha dan Mas Dani. So expressive!

Cara mengekspresikan diri mereka ya berbeda-beda.
Orang itu paling keliatan aslinya kalau sudah berekspresi, dan saat melibatkan emosi.

Jadi kalau senang ya ekspresikanlah rasa senangmu itu. Biasanya kalau kamu senang tingkahnya seperti apa sih? Salto? Nari gangnam? Apa langsung cium-ciumin anak?

Kalau marah? Kalau saya sih kalau marah ya misuh, kalau nggak 'kampret', ya 'bangke'. Hahaha. Saya nggak segan-segan memasukkan itu dalam tulisan saya di blog.

Ada seorang penulis yang membuat karakter tokoh utama dalam novelnya, kalau marah otomatis mengumpat, "Saus kacang!"
Nah, itu juga bisa jadi ciri khas. Hahaha.

Masukkanlah emosi dalam tulisanmu, supaya lebih bernyawa dan berkepribadian.


3. Bayangkan mengobrol


Saat saya membaca artikel Icha, Tika dan Mas Dani, saya serasa diajak ngobrol langsung sama orangnya. Ini juga akhirnya yang bisa membawa karakter ketiganya terasa untuk saya, sebagai pembaca.

Kamu juga bisa melakukannya.
Caranya, setiap kali kamu mau menulis sesuatu, tutup matamu dulu. Bayangkan satu orang yang mewakili sosok pembacamu--kamu akan bisa lebih mudah membayangkannya kalau kamu sudah punya reader persona sih. Nanti kapan-kapan kita bahas ini ya, dalam artikel terpisah.

Bayangkan, satu orang pembacamu itu duduk di depanmu. Dia menunggu untuk kamu ajak ngobrol. Begitu dia sudah siap mendengarkan, so vomit the words. Tulislah artikelmu seakan-akan kamu sedang ngobrol sama dia.

Bakalan belibet, karena kamu memang aslinya belibet? Biarin. Pokoknya tumpahkan semua kata-kata, seakan kamu lagi ngomong sama pembacamu itu.
Sampai selesai, tanpa diedit.


4. Aturan bukan untuk mengikat


Mungkin akan ada yang bertanya, "Kalau saya nulis kek orang ngobrol, ntar tulisannya akan banyak yang ngaco."

Mungkin secara tata bahasa, atau secara aturan blog, atau SEO, atau apalah.

Well, ingat ini. Selama nggak terlalu aneh, kita boleh kok melanggar aturan. Aturan-aturan itu sebenarnya kan bisa dikondisikan, selama tidak merugikan orang lain.

Aturan ada bukan buat membikin kita jadi kaku dan jadi sama semuanya. Pilihlah aturanmu sendiri, yang mana yang akan kamu pegang, yang mana mending kamu cuekin dan memakai aturanmu sendiri.

Contoh, saya tahu ada kata baku dan kata yang nggak baku. Saya suka menggunakan kata baku dalam tulisan. Tapi saya tidak akan membiarkannya hingga bikin tulisan saya jadi kaku.
Jadi gimana?

Ya, saya bikin selingkung sendiri untuk di blog ini.
Apa itu selingkung? Coba klik aja di tautannya ya. Saya males jelasin, kepanjangan soalnya. Wkwkwk.

Saya nggak akan menulis 'dimana' untuk 'di mana'. Saya juga nggak akan menulis 'sekedar', 'nafas', 'cabe', 'hempas', dan lain-lain. Saya akan menggunakan kata yang lebih baku untuk kata-kata yang tetap terdengar luwes saat digunakan. Saya tetap akan menggunakan 'sekadar', 'napas', 'cabai', dan seterusnya.

Tapi, saya nggak akan juga menulis 'bagaimana' kalau 'gimana' akan membuat tulisan saya lebih mengalir. Saya tetap akan menggunakan kata 'kek' ketimbang 'kayak' atau 'seperti', yang terlalu kaku.
Saya tau aturan, untuk kemudian saya langgar aturan itu.

Kek seniman. Mereka mungkin sekolah untuk tahu teori-teori. Tapi, begitu mereka sudah berkarya, mereka boleh banget breaking the rules.

Mereka mematahkan aturan karena paham cara kerja aturan itu, dan tahu banget di bagian mana harus dilanggar untuk menciptakan ciri khas masing-masing.

Pilihan diksi seperti itu lambat laun akan membentuk ciri khas pada tulisan kita di blog. Jadi, coba diamati, banyak kok macam diksi yang bisa kamu pakai untuk mendefinisikan ciri khas kamu.
Yang penting, balik ke poin satu di atas. Jujur.

Karena dengan jujur, kamu akan menjadi dirimu sendiri. Dengan jujur, kamu akan bisa merefleksikan personality kamu ke dalam tulisan.


5. Pertajam ciri khas


Kalau kamu sudah menemukan 'suara' dan gaya bahasamu sendiri, maka sekarang pertajam.
Caranya gimana?
Ya nulis terus, dengan menggunakan suara dan gaya yang sudah kamu pilih tadi.

Semakin sering kamu menulis dengan gaya itu, maka akan semakin terasa deh ciri khasnya. Ciri khas itu memang nggak bisa dalam semalam dibikin, harus secara terus menerus.

Kalau kamu sudah capek duluan dalam berproses ya, mungkin kamu harus menengok lagi motivasimu ngeblog.


Nah, itu dia beberapa langkah untuk bisa menemukan ciri khas meski kamu adalah blogger lifestyle yang belum punya niche.
Kalau yang sudah punya niche, tetap juga kok akan lebih baik kalau punya ciri khas lagi. Kenapa? Ya biar semakin khaslah. Semakin khas (in a good way) pasti akan lebih bagus kan?

Udah panjang ya, artikelnya? 2000 kata ya bok. Wkwkwk.
Tapi semoga nggak ngebosenin deh. Udah lama saya nggak pernah nulis sepanjang ini pun. Hahaha.

Sampai ketemu lagi di artikel berikutnya ya.


Ngikutin berita soal Mark Zuckerberg yang disidang sama Congres di Amrik nggak, soal data pengguna yang bocor dalam skandal Cambridge Analytica?

Perkembangannya agak menggelisahkan--setidaknya buat saya sih, sebagai kuli konten. Ternyata data yang disalahgunakan nggak hanya milik 50 juta pengguna saja, tetapi berkembang menjadi 87 juta pengguna.
Disusul lagi dengan fakta ternyata juga ada 1 juta pengguna Indonesia yang juga bocor dalam kasus yang sama.

Saya sebetulnya juga nggak habis pikir sih.
Soal data yang terunggah ke internet, bukankah seharusnya menjadi tanggung jawab masing-masing user? Jika mereka nggak mau datanya terpakai, ya nggak usah pakai internetlah. :)))

Balik lagi ke soal Babang Mark, saya ... lumayan ngikutin. Dan so far, saya ikutan harap-harap cemas dengan keputusan Kongres Senat tersebut.

Lah, kenapa?
Emang penting banget ya Facebook buatmu, Ra?

Well, kalau buat pribadi sih nggak masalah, saya bisa berekspresi lewat apa pun kok. Tapi soal kerjaan ... nah itu.

Oke, saya mau curhat dikit ah, kenapa saya mau nggak mau ikut gelisah akan nasib Mark Zuckerberg.

Mungkin bagi para pengguna "biasa", artinya mereka yang menggunakan media sosial hanya sebagai media hore-hore, ketimbang cuma nganggur, atau sekadar dijadiin teman nunggu antrean di bank, barangkali nggak akan terpengaruh banyak.

Bahkan Menkominfo, Rudiantara, pun sempat ngetwit, bahwa sekali waktu nggak usah ngakses media sosial itu akan baik buat kita.

Betulkah demikian?
Betul. Itu pendapat hampir sebagian besar orang.

Tapi, mari kita lihat dari sisi lain.
Sebenarnya media sosial itu kan interaksi antara 3 pihak: pihak komoditi (pengguna), pihak "penjual" yaitu para publisher--si penyedia konten, dan pihak "penyedia lapak" yaitu orang-orang yang bekerja di balik platform media sosial tersebut.

Satu sama lain sebenarnya saling membutuhkan.

Sebentar. Pengguna media sosial = komoditi?
Iya.
Baru nyadar ya, kalau kamu-kamu semua itu memang "barang dagangan" di media sosial? *smirk*

Saya pernah bahas ini di salah satu artikel yang saya kirimkan ke Mojok.co, saat saya membahas soal Skandal Cambridge Analytica lalu.

Bahwa nggak pernah ada yang gratis di dunia maya ini, gaes.
Media sosial gratis? Enggaklah!
Kamu harus menukarnya dengan data diri kamu.

Kok bisa? Ya, itu sudah saya tulis di artikel di Mojok itu. Hehehe.
Jikapun ada yang menjanjikan ad-free, tapi pasti ada sesuatu yang lain yang akan mereka gunakan juga sebagai komoditi. Karena apa? Internet is a business, mylov~ #terMojok

Mari kita kembali ke Facebook. Setelah penjelasan saya berikut kamu pasti akan mengerti mengapa kasus Facebook ini bisa mengancam banyak pihak, nggak cuma bala-bala Mark doang.

Coba saya perlihatkan sedikit statistik Google Analytics dari Rocking Mama, sebuah portal bagi ibu-ibu muda, yang kebetulan banget merupakan generasi Facebook.

User Rocking Mama untuk bulan Maret
Dari data di atas, terlihat bahwa traffic dari media sosial memang hanya menempati urutan ke-5 dari pageview yang datang ke web Rocking Mama.

Nah, mari kita lihat ke bagian Social ya.

User yang datang ke Rocking Mama melalui media sosial

Bisa dilihat ya, yang datang dari Facebook ada 90% keseluruhan statistik traffic dari media sosial.

Sedangkan untuk jumlah pageview, dari rerata 50K/hari, 4000-nya berasal dari Facebook. Jadi, kalau Facebook mati, maka kami harus siap-siap untuk kehilangan seenggaknya 4K view setiap harinya.

Hedeh.

So, masuk akal kan sekarang kalau saya bilang, bahwa penutupan Facebook ini sangat menggelisahkan para publisher?

Itu baru Rocking Mama lo. Saya enggak tahu, ada berapa banyak publisher (termasuk blogger) di luar sana yang juga terancam penurunan pageview jika Facebook ditutup.

Means, kami harus memutar otak lagi, menemukan sumber traffic lainnya.

Karena itu, kemarin secara iseng saya ngadain survei ala-ala di Facebook.



Dari hasil sementara pagi ini--saat artikel ini ditulis--sudah ada 47 teman yang sudah baik hati mau ngejawab (abaikan yang jawab Meikarta atau yang nggak serius lainnya). Terima kasih ya.
Persentasenya adalah sebagai berikut:

  • Yang mau pindah ke Twitter ada 25%
  • Mau pindah ke Instagram 40%
  • Lain-lain 31%
  • Sedangkan yang pengin Facebook tetap ada sejumlah 23%


Kok lebih dari 100%? Iya, soalnya ada yang pilih 2 opsi. Lagi pula, ya saya cuma bisa mengumpulkan pendapat 47 orang (itu pun yang mau serius jawab. Wkwkwk.). Kayaknya belum bisa juga sih mewakili banyak pendapat. Tapi ya gitu deh, setidaknya ada sedikit gambaran.

Tapi, kalau saya pribadi sih rada nggak yakin, kalau Facebook bisa tergantikan beberapa fiturnya oleh media sosial yang ada itu.

Twitter?
Selain status di Facebook bisa lebih panjang daripada Twitter, lifespan tweet--atau usia tweet agar bisa terekspos--itu rerata hanya 18 menit, menurut data MOZ. Sedangkan, lifespan sebuah status yang diposting di Facebook itu rerata adalah 2 jam 30 menit, menurut data Wisemetrics.

Instagram?
Kalau kamu adalah selebgram, lifespan post kamu di Instagram bisa mencapai 48 jam. Tapi kalau kamu hanya penggembira ya, paling hanya beberapa menit. Apalagi kalau foto kamu tuh nggak bagus :)))
Untuk di Instagram, kita butuh kekuatan khusus di visual (yang nggak semua orang punya). Untuk blogger, saya lihat hanya sedikit saja yang memang mumpuni di visual. Lagipula, kekurangan paling besar dari Instagram adalah kita tidak bisa memasukkan link hidup ke caption. Link hidup hanya bisa ditaruh di bio.
API Instagram juga nggak memungkinkan kita untuk menjadwal postingan secara otomatis. Bisa sih dibikin draft dulu, tapi nggak terposting secara otomatis juga. Nggak kayak Facebook yang ada fasilitas scheduled post.

Blog?
Hmmm. Saya belum punya gambaran sih gimana mensinergikan portal dengan blog. Repost? Kena ancaman double content, beda sama nyetatus di Facebook. Kalau memfungsikan blog sebagai aggregator juga kualitas si blog nggak akan dinilai bagus sama Google, which means link yang datang dari blog justru bisa "mengancam" keberadaan si portal.
Lagian, blog beda bangetlah sama Facebook, fungsinya beda. Blog lebih ke situs sih, bukan media sosial.

WhatsApp?
Telegram?
Path?
Saya melihat ketiga platform tersebut lebih private ya. Kurang bisa dipakai untuk broadcast sesuatu seperti promosi artikel, kecuali kita mau dianggap annoying.

Lagipula, dengan jumlah pengguna 2.13 miliar setiap bulannya, Facebook masih merupakan raksasa media sosial terbesar saat ini.

Jadi, duh, buat saya Facebook belum bisa tergantikan dengan yang lain, terutama terkait dengan penyebaran dan promosi artikel/konten (meski saya sempat nyumpah-nyumpahin Facebook juga karena jahat banget sama publisher dengan mengubah algoritma Page-nya. Wkwkwk.)

However, sebenarnya Facebook sekarang sih sudah membuat beberapa perbaikan, yang mereka jelaskan melalui Facebook Newsroom, di antaranya:

  • Facebook Events: sekarang pihak ketiga tidak dapat melihat guest list ataupun post di wall events, kecuali admin events.
  • Facebook Groups: pihak ketiga tidak akan bisa melihat foto dan nama-nama para member grup.
  • Facebook Pages: memperketat API untuk apps
  • Facebook Login: jika kita menggunakan Facebook untuk login ke situs ataupun apps lain, maka apps tersebut akan lebih dibatasi aksesnya. Mereka tidak akan bisa melihat data-data seperti religious or political views, relationship status and details, custom friends lists, education and work history, fitness activity, book reading activity, music listening activity, news reading, video watch activity, and games activity.
Hmmm ... kayaknya bisa jadi satu postingan sendiri sih ini. Ntar aja deh, yang lain dalam artikel terpisah yah. Wkwkwk. Ya, intinya 4 itu sih yang paling krusial dan paling penting sekarang.

Yakin banget sih, Facebook pasti berusaha supaya nggak ditutup oleh pemerintah US. Pekerjanya udah banyak, dan bakalan banyak imbas deh ntar bagi para pihak ketiga yang memanfaatkan Facebook ini.

Facebook colaps, ya colaps semua.

Yah. Jadi, sekarang ya berharap sajalah semua akan terselesaikan dengan baik.
Makanya, Bang Mark. Kemarin jahat banget sih sama publisher, ngubah algoritma hingga impression dan reachingnya menurun gila gitu. 
Jangan jahat-jahat sama publisher ya. Karma lo! #hlah


Kadang iri, iya nggak sih? Blogger lain pada bisa dapetin job keren-keren karena DA/PA-nya tinggi. Yang sebelah sana lagi tuh, bisa jadi influencer karena punya follower banyak.

Terus, coba lihat. Barusan ada yang unggah screenshoot Google Analytics-nya. Ckckck. Pageviewnya 20.000 per hari bok!

Kok bisa ya?

Dia kok bisa? Saya kok ga bisa? Kenapa?Saya rajin blogwalking. Saya hadir di tiap event dan acara, bikin liputan juga (meski 2 bulan setelahnya). Saya juga selalu ikutan absen, kalau lagi ada job di-floor di grup/komunitas pasar bajer. Saya juga rajin update blog.
Tapi kok, segini aja ya?Pageview di bawah 100 setiap hari. DA malah anjlok. Belum lagi spam scorenya ... hedeh! Nggak usah nanya Alexa juga deh! Ndut bener.
Ada apa dengan blog saya?

Well, sebenarnya saya bisa jawab.
Bukan blognya yang bermasalah.
Mungkin kamulah sebagai blogger, yang bermasalah.

Mari kita lihat.
Saya bukannya menghakimi ya, tapi sejauh sependek pengamatan, kebiasaan buruk ini masih saja saya temui di antara teman-teman blogger saya.

Sedi akutu kalau liat!


Mengapa kita berakhir hanya menjadi blogger medioker?


1. Mudah salah paham


Inget banget pas masalah outbound link beberapa waktu yang lalu. Banyak sekali yang dm atau japri saya, dan menanyakan hal-hal seperti:

"Mbak, ada yang nawarin job nih. Aku mesti pasang 3 link keluar. Kira-kira berbahaya nggak ya?"
"Mbak, aku mau posting artikel nih di blog. Tapi mesti kasih link ke blog lain, jumlahnya 11 link. Kira-kira gimana ya?"
Atau sering juga saya menjumpai kalimat seperti:

"Ih, kasih link keluar? Wani piro? Kalau bayar ya, aku mau. Kalau enggak, nggak mau ah! Rugi di kita dong." 

Sejujurnya, saya sedih liatnya. Berarti banyak teman yang belum paham cara kerja sebuah outbound link, atau external link, ataupun link keluar dari blog kita.

Karena kalau memang paham betul mengenai external link, nggak akan ada pertanyaan seperti di atas, pun nggak akan ada pernyataan "wani piro?" itu.

Hingga kemudian berbuah ke ketakutan untuk memberi link dofollow pada rujukan, tapi justru dengan senang hati memberikan link pada mereka yang mau membayar.

Inilah "hasil" dari kesalahpahaman. Kenapa bisa sampai salah paham? Bisa banyak sebab. Mungkin karena kurang mau menggali lebih dalam mengenai satu dua hal yang belum dipahami. Mungkin juga nggak menemukan sumber yang bisa dipercaya.

Atau ... mungkin karena poin kedua berikut.



2. Suka menelan mentah


Kadang kita memang sudah berusaha untuk mencari tahu. Lalu, menemukan sumber.
Tapi sayangnya, kita terbiasa menelan mentah saja apa yang diberikan oleh orang lain.

Terlalu terbiasa "disuapi". If you know what I mean.

Artikel dari Mas Febriyan Lukito ini menjelaskan maksud saya.
Saat kita disodori informasi, atau tip dan trik blogging--karena kita berbicara soal ngeblog--oleh orang yang kita "anggap" lebih pinter dan lebih tahu, kita pun jadi terlalu penurut. Nggak mau nanya, kenapa begini kenapa begitu pada mereka.
Padahal orang pinter itu bisa saja salah lo.

Akhirnya, informasi salahlah yang kita terima.
Sudahlah infonya salah, dilakuin, terus difanatikin lagi.

Ya ampun. Sedi akutu liatnya. :(

Salah satu hal yang mesti diupdate soal SEO--misalnya ya--adalah soal tulisan harus dibold sana sini. Juga ngasih link ke artikel itu sendiri.

You know what, sekarang bold font tulisan itu sudah nggak masuk ke trik SEO lagi. Tahu nggak sih? Nggak ada tuh, yang nangkring-nangkring di posisi pertama Google search ada yang di-bold-bold tulisannya. 

Juga yang dikasih link ke tulisan itu sendiri itu, buat apa ya?
Orang sekarang malah pada jengkel kalau ngeklik akhirnya balik ke artikel itu lagi.

SEO zaman now itu fokusnya user experience.
Bukan lagi search engine experience. Dilogika aja deh. Dengan di-bold, bisa kasih pengalaman baik apa untuk user? Mana yang di-bold bukan bagian yang penting lagi.

Logikanya gimana?

Dulu memang, trik ini bisa jadi cukup efektif boost peringkat di Google. Tapi algoritma Google itu selalu berubah. Update dong!



3. Nggak pernah praktik


Ini juga lucu.
Saya sering liat, ada banyak orang berebutan ikut kelas menulis, kelas ini itu, kelas SEO, kelas viral content ... apalah apalah.

Pokoknya rajin banget deh ngumpulin teori.
Tapi teori tinggal teori.

Dipraktikkan enggak tuh?
Enggak.

"Iya, kemarin aku ikutan kelas X, Mbak.""Oh ya? Keren dong. Berarti udah tahu dong, cara nulis artikel yang menarik.""Hehe. Iya begitulah, Mbak."

Setelah dibaca tulisannya yang terbaru, ya ampun. Masih gini aja. Banyak kalimat nggak nyambung. Nggak fokus pula, ini ngomongin apa.
Terus tahu-tahu, habis. Lah, bahas apa sih ini?

Yahhh. Saya nggak tahu juga sih permasalahannya ada di mana.

"Wih, kemarin si Y ikutan kelas fotografi lo!""Oh ya? Keren dong! Gurunya kan si anu yang fotonya emang cakep-cakep.""Iya!"

Setelah dilihat update Instagramnya, lah ... masih muka doang se-frame tanpa ada indah-indahnya sama sekali.
Ya ampun :(

Terus buat apa ikut kelas ini onoh, padahal sudah bayar pun?
Nggak tahu saya juga :(



4. Kebanyakan alasan


"Aduh, pusing ah, SEO."

Iya, SEO memang rumit. Tapi bukan berarti nggak bisa dipelajari pelan-pelan kok.

"Aduh, nggak bisalah kalau ngerjain tulisan sehari harus jadi. Saya orangnya perfeksionis soalnya."

Yah, memang. Ada karakter yang dibanggakan, tapi sebenarnya nggak banget. Kayak menjadi seorang perfeksionis ini, misalnya.
Bagus sih jadi perfeksionis. Artinya, ia pasti akan memastikan bahwa hasil kerjanya bagus dan perfect. Tapi sayangnya, perfeksionis kerap juga menjadi "kambing hitam", padahal sebenarnya yang dilakukan adalah "procrastinating". Menunda..

Menjadi seorang perfeksionis itu akan bagus jika memang lantas bisa menghasilkan karya yang bagus. Tapi jangan lupa, bahwa unsur "kecepatan" itu juga ada dalam syarat "karya yang bagus".
Kalau dengan menjadi perfeksionis itu membuat kita jadi lambat, kayaknya sih jangan dipiara perfeksionisnya yang kayak gitu.

Hanya jadi alasan aja tuh.

Dan, masih banyak lagi alasan lain yang saya dengar, setiap kali saya lagi mentoring blogger.

"Ya, soalnya saya memang masih sesukanya sih, Mbak, ngeblognya. Kan katanya ngeblog jangan dijadikan beban."

Please catat ya. 
"Jangan dijadikan beban" dengan "mengerjakannya dengan serius" itu beda. 

Lagian, ngeblog masih sesukanya, kok minta DA/PA tinggi sih? Ya, kalau ngerjainnya sesukanya ya DA/PA juga sesuka-suka merekalah :))))
Duh, maaf ya, saya selalu ketawa kalau ada yang ngasih alasan beginian, setiap kali saya kasih tip dan trik menaikkan DA/PA ataupun menaikkan pageview.

Sungguh, jawaban seperti ini tuh bukan jawaban seorang blogger serius.
Kalau nggak serius ya, udah deh. Nggak usah berharap blognya melejit juga.

Ingat.
No pain no gain.



5. Nggak fokus


Biasanya kalau sudah ada keseriusan, lantas ada fokus yang mengikuti. Dan kemudian ada konsistensi juga yang akan datang kemudian. 

Ini sudah dalil.

Coba lihat diri kita sendiri di tengah keriuhan blogsphere ini. Mau apa kita dengan topik yang nyampur aduk seperti ini?

Mau dikenal sebagai blogger apa?
Mau dikenal sebagai lifestyle blogger yang sukses?
Sukses di apanya?

Bahkan seorang blogger yang sudah memutuskan niche untuk blognya pun masih harus mencari keunikannya sendiri untuk difokusin kok agar bisa stand out.

Lalu, apa yang mau kita "jual" dari blog kita yang nggak ada fokusnya itu?

Silakan ditanyakan pada diri sendiri, lalu dijawab sendiri ya?
Karena "pengin dikenal sebagai blogger apa" ini adalah kunci melejitnya kita sebagai blogger, dan blog kita juga. Ini adalah objektif jangka panjang, untuk memecahkan kotak medioker ini.


* * *

Ya, begitulah.
Kadang kitalah yang membatasi diri kita sendiri untuk berkembang, hingga akhirnya, saat melihat ada orang lain yang lebih sukses dan berhasil, bikin kita bertanya-tanya.

Kok dia bisa gitu ya? Kok saya nggak bisa?

Bisa kok. Bisa. Semua orang bisa sesukses apa pun yang mereka mau, asalkan jangan membatasi diri sendiri. Batasan itu jangan dirancukan dengan FOKUS ya.

"Yah, Mbak. Nggak apa-apa deh, saya jadi blogger medioker juga. Bisanya cuma segini soalnya."

Listen to yourself! Baru saja kamu membuat batasan untuk dirimu sendiri kan?
Dan, kamu lebih memilih menjadi blogger medioker? Fine, itu pilihan masing-masing kok.
Tapi juga jangan nanya, kenapa blog saya segini-segini aja?

Atau, mungkin blog isn't really your thing.
Berhenti aja ngeblog, cari kegiatan lain yang lebih menyenangkan. Banyak kok! Bahkan lebih menjanjikan!

Buka usaha laundry, misalnya.