Dih, judulnya bombastis bet. Tapi semoga nggak dianggap clickbait yah. Hehehe.

Yamonmaap, itu pertanyaan yang kemarin dimintakan jawaban pada saya di Quora Indonesia. Sudah gabung Quora Indonesia belum? Ya, masih versi beta sih, dan kalau signup mesti ada invite dulu.

Sayangnya invite saya sudah habis karena cuma dikasih 5. Mungkin, kalau kamu mau gabung, coba cari Quoran yang masih punya sisa invite.

Yep, ada yang menanyakan mengenai "Bagaimana cara menciptakan 100.000 pengunjung di website kita?" di Quora pada saya.

Yah, selama saya mengelola sebuah portal media untuk ibu-ibu muda kemarin, rekornya memang pas banget PV 100K dalam sehari. Tentunya ini nggak cuma karena usaha saya doang, tapi juga ada segerombolan tim yang jadi partner saya, yang lumayan lincah melakukan promosi off page.

Tapi, berikut ini adalah beberapa hal yang saya lakukan untuk menggelontor traffic ke web. Barangkali bisa juga dilakukan oleh teman-teman, terutama bloger.
Ya, kalau mau. Karena ini memang butuh kerja keras. Karena cara-cara yang saya lakukan ini adalah "cara yang bener". If you know what I mean. Cara yang safe. Jadi ya butuh sedikit kerja keras.


Beberapa langkah untuk menaikkan traffic secara signifikan ke situs/blog


1. Memilih keywords yang tepat


Nggak sekadar nembak, tapi lakukan riset. Karena pageview nggak akan bergerak signifikan kalau kita memilih keyword yang TIDAK dicari orang, atau cuma sedikit saja yang mencari.

Pernah saya menjumpai tip SEO yang menyarankan kita untuk mengambil keyword yang 'gue banget', yang khas dan unik, gitulah.
Misalnya seperti "review resto ala gue".

Untuk apa? Entahlah. Kalau nggak salah inget, demi mendapatkan traffic yang targeted, atau apalah. Saya lupa alasannya.

Di situ saya nggak tahu sih mesti berkomentar apa.
CMIIW. Logikanya kan orang yang sedang mencari informasi di Google akan memasukkan keyword yang mereka pikirkan kan? Kalau kita bikin keyword yang ala gue gitu, memangnya banyak orang yang kepikiran? Berapa banyak?

Banyakan mana dengan yang mencari dengan keyword "restoran di Jakarta", misalnya.

Mari kita lihat di Keyword Planner.





Jadi, kenapa memilih keyword yang "gue banget"? Ntar nggak ada yang nyari. Pilihlah keyword yang bakalan banyak dimasukkan orang ke dalam kotak pencarian.

Selain itu, saya juga sering mendengarkan curhat mengenai kegagalan menggelontor traffic, padahal sudah memasukkan keyword sesuai dengan kaidahnya. Biasanya sih saya tanya, "Keyword-nya ngecek jumlah pencarian dulu atau langsung nembak asal keyword?"

Ada yang jawab, asal ambil keyword.
Lha ya, terus, kalau nggak ada yang nyari ya gimana bisa menghasilkan traffic kalau kita cuma "ngawang" aja? Memangnya situ ahli nujum?

SEO bukan ilmu cenayang. Orang baca tarot aja ada ilmunya kok. Apalagi SEO.

Jadi, pastikan keyword-nya memang ramai dicari orang. Riset dulu!
Ya, kalau pakai Keyword Tool, biasanya saya pilih yang avg search-nya lebih dari 1K/month. Ini ngaruh banget deh. Dan, memprediksi keyword ini butuh pengalaman.


2. Monitor trending topic


Dulu, selama 2 tahun, setiap hari saya mantengin Google Trends untuk mengecek apa saja yang lagi ramai hari itu.

Kalau ada yang bisa dieksekusi menjadi tulisan, ya langsung eksekusi saat itu juga.
Hah? Saat itu juga?
Iyes, hari itu juga harus publish. Kalau bisa malah jam itu juga.

Karena trending topic ini lumayan cepat bergeraknya. Bisa dalam hitungan jam, sudah bukan hitungan hari lagi.

Kalau trending hari ini, baru mau tayang besok sih biasanya saya sudah menganggapnya agak terlambat. Tergantung topiknya juga sih. Kadang ya ada yang bisa agak di-extend. Tapi lebih banyak lagi yang enggak.

Salah satu artikel riding the wave. PVnya lumayan kan?


Lumayan sih, cara riding the wave ini cukup bisa menggelontor traffic. Meski kadang ya hanya sehari 2 hari.

Tapi, kalau trend ini bisa kita kombinasikan dengan keyword rame, ya bisa awet juga traffic-nya. Deadly banget dah, kalau pas bisa combine trending + keyword rame nih. Tapi ya kesempatannya cukup langka. Wkwkwkw.

Meski demikian, cara "menceburkan diri di keramaian" ini bisa jadi cara yang cukup efektif untuk sebar branding, bahwa ada website kita di tengah riuhnya dunia media digital.


3. Monitor media sosial


Cara ini seperti poin 2 di atas sih, yaitu untuk memonitor trend.
Saya biasanya mantengin Chirpstory. Kadang nemu harta karun juga di sana.

Salah satu artikel yang ceritanya saya temukan di Chirpstory.
Biasanya yang paling laris itu adalah yang trending di Instagram, sekarang ini. Nah, dari Instagram ini biasanya kebawa juga ke Twitter.

Facebook saya enggak terlalu sih.

Tapi ya, bisa jadi berbeda dengan kamu. Karena aktivitas orang kan beda-beda di media sosial kan yak?


4. Publish tiap hari, kalau perlu beberapa kali sehari


What?
Memangnya ada hubungannya antara kuantitas artikel yang dipublish dengan jumlah PV yang masuk?

Well, somehow, saya membuktikan sendiri, saat semakin banyak artikel saya publish, grafik PV juga meningkat. Kalau jumlah artikel menurun, ya PV juga turun meski nggak drastis sekali.

Ini juga enggak absolut sih. Lagi-lagi hanya berdasar pengalaman kemarin saja. Cuma kalau dilogika ya bener kok. Teorinya nih, katakanlah, 1 artikel mendapatkan 20.000 PV. Maka, kalau kita bisa publish 5 artikel dengan kualitas yang sama, bukan nggak mungkin kan mencapai 100.000 PV/hari?

Meski ya banyak faktor lain yang ikut menentukan juga.

Ya, kalau setiap hari dirasa berat, ya yang penting konsisten. Kadang juga akan lebih baik mem-publish lebih jarang tapi tetap konsisten dan dengan konten yang benar-benar berkualitas.

Ini kembali lagi ke topik blog yang diambil juga.


5. Bekerja sama dengan agregator aplikasi baca online


Sekarang banyak aplikasi baca di smartphone yang mencari partner untuk penyedia konten. Saya pernah bekerja sama dengan salah satu di antaranya, dan ternyata cukup signifikan kasih pageview yang bisa termonitor di Google Analytics. Istilahnya share pageview.

Beberapa waktu yang lalu sempat ramai juga di dunia perbloggingan. Ada aplikasi baca online yang "mengangkut" konten blog para bloger. Banyak yang protes kan ya?

Saya nggak tahu sih, permasalahannya di mana. Mungkin berbeda dengan jenis kerja sama yang pernah saya lakukan.

Kalau saya kemarin memang kerja samanya, si aplikasi baca ini mengambil konten di portal yang saya kelola lalu dipasang di agregator miliknya. Lalu portal saya juga mendapatkan share pageview.

Kena double content atau enggak?
Mmmm. Saya tadinya bertanya-tanya juga sih, berbahaya enggak buat portal?
Tapi di atas saya ada manajer pemasaran yang seorang jagoan SEO, dan sepertinya dia nggak mempermasalahkan. So, saya juga biarkan saja.

Kalau orang yang saya percaya dan lebih pinter aja seperti nggak ada masalah--sependek yang saya tahu--ya sudahlah. Toh, pageview juga meningkat. Hahaha. Lumayan lo. Bisa sampai 200% peningkatan pageviewnya dari agregator tersebut.


***


Nah, itu dia beberapa hal yang saya lakukan kemarin.
Meh, mentang-mentang udah lepas, jadi bocorin rahasia ya? Huahahaha.

Enggak, ini jadi catatan saya aja sih. Siapa tahu next ada proyek yang mirip atau sama. Jadi saya tinggal refresh aja di sini, terus ya diupdate dengan teknik yang baru.

Kalau ada yang mau nyontek ya monggo. Silakan. Tapi maaf, saya nggak bisa jamin, hasilnya bisa sama persis ya. Karena ada banyak faktor lain yang ikut menentukan, apakah pageview sebuah situs atau blog juga bisa sama meroketnya, jika dijalankan dengan cara yang sama. Lagian saya juga disuport oleh tim yang cukup solid.

Karena ternyata ngurusin konten kek gini itu ada seninya tersendiri. Bisa tergantung topik, tergantung target audience, dan tergantung kita juga yang mengelolanya. Saat formula antara ketiganya pas, maka ya traffic pun melejit.


Caution: Di postingan ini, kembali saya ngomenin orang lain, meskipun bukan bloger. Dan juga, saya menulis dengan bahasa sarkas. Kalau belum terbiasa dengan bahasa ini, sebaiknya skip saja.

Saya nggak pernah tahu siapa itu Gita Savitri sampai beberapa hari yang lalu.

Well, kalau kamu ketinggalan ghibah eh gosip berita, ya kamu bisa baca selengkapnya saja di sini. Saya mah cuma penonton, nggak berhak cerita. Ntar bisa saya tambah-tambahin juga, soalnya.

Sampai dengan artikel ini ditulis, sepertinya bola salju masih menggelinjang menggelinding, hingga melibatkan hampir seluruh netyjen mahatahu dan mahabenar di jagat maya, sepertinya. Bahkan, konon, sampai jajaran direksi bank tempat si lelaki bekerja juga ikut turun tangan.

Entah bener entah enggak.
Saya sebenarnya enggak terlalu peduli.

Cuma, saya merasa lucu, karena kejadian seperti ini tuh enggak sekali dua terjadi di media sosial yang bak panggung sandiwara ini.

*lalu nyanyik*
Dunia maya ... panggung sandiwaraaaa. Ceritaaaanya mudah berubah.
Kisah para selebgram atau tragedi social climberrrrr ...

*anak lama*

Selebgram, selebtwit, seleb-embuh ... itu nggak hanya bisa menginspirasi, tapi juga bisa menjadi para aktor-aktris panggung medsos, dengan mempersembahkan drama-drama sebabak dua babak banyak babak, yang asyik ditonton. Apalagi kalau sampai ada war, alias perang, alias perseteruan. Bak adegan sinetron Indosiar, makin klimaks, makin seru.

So, here is my take.

Saya lihat, banyak orang pengin jadi selebgram. Bisa dapat produk-produk gratis untuk diendorse, dapat bayaran untuk postingan yang captionnya dibikinin sama ahensi (yang lalu berakhir ditulis apa adanya, tanpa edit, tanpa menghilangkan "Captionnya di tulis begini ya, Mbak."), diundang ke event-event menarik, dan seterusnya.

Banyak orang pengin jadi influencer, meski blank mesti gimana dan mesti ber-attitude seperti apa hingga malah genggeus. Banyak orang pengin difollow, sampai ngemis-ngemis, juga pengin di-like dan di-komen.

Well, yeah, setiap orang berhak dan bisa saja menjadi selebgram. Mereka hanya perlu sangat menginspirasi, atau sebaliknya, menjadi sangat menyebalkan. Pilihan ada di kita sendiri.

So, berikut ini adalah pesan buat kamu-kamu yang pengin menjadi selebgram dan femes, dari seorang penggemar dan penonton drama media sosial.


Sebelum jadi selebgram, berikut beberapa hal yang harus diingat, menurut seorang penonton drama maya (alias eikeh!)


1. Watch your emotion


Emosi selalu bisa menjadi bumerang. Emosi bisa bikin kita hilang kendali atas diri kita, termasuk jempol.

Mari kita jadikan kasus Gita Savitri ini sebagai contoh.

Menurut penelusuran saya, ada yang bilang bahwa si mbake ini tadinya punya reputasi perempuan anggun dan smart serta penuh inspirasi. Ini katanya lo, ya. Maaf, saya nggak sempat stalking soalnya. Bukan tipe yang saya idolain, jadi saya nggak tahu mbaknya ngapain aja di Instagram atau media sosial lain.

Dalam waktu sekejap, hanya beberapa menit, reputasi itu hilang seketika hanya gara-gara mbaknya lepas kontrol saat menjawab DM si masnya.

Emosi seperti apa yang bisa bikin lost control? Emosi kan ada banyak?
Hmmm, menurut saya, baik emosi negatif (yang berupa amarah, kesedihan, kekecewaan dll) dan juga emosi positif (rasa senang, puas, bahagia dll) itu sama-sama bisa menjadi bumerang bagi diri kita kalau diungkapkan atau dilampiaskan secara berlebihan.

Terlalu senang atau terlalu puas akan sesuatu lalu dilampiaskan secara berlebihan itu juga nggak akan bagus efeknya. Begitu pun kalau kita terlalu marah atau terlalu sedih.

So, kalau saat ini kamu merasa sedang berada di puncak emosi, lagi seneng banget, lagi sedih banget atau lagi marah banget, jauhi dulu media sosial.

Beneran deh ini.

Ah, kan bisa dihapus ini!
Udah ngetweet bisa dihapus. Udah nyetatus juga bisa dihapus!

Really? Are you sure?
Coba ke poin kedua berikut.


2. Screen capture does EXIST!


Tahu kan ya, fasilitas screen capture? Yes, screen capture--atau kadang juga disebut dengan screenshot--adalah gambar tampilan layar yang diambil langsung dengan gadgetnya. Tahulah ya, apa itu screen capture atau screenshot atau biasa juga disingkat SS.

Tahu kapan, si mbak selebgram itu benar-benar apesnya?
Saat si mas lawannya menyebarkan screen capture DM mereka di media sosial. Katanya sih atas nama pembersihan diri juga sih.

Yang salah siapa, hayo?

Saya bilang dua-duanya salah.

DM--atau Direct Message--nama lainnya adalah Private Message. Pesan pribadi. Namanya pribadi ya seharusnya tetap berada di ranah pribadi. Ngapain pakai disebar ke sana sini?

Oke, kalau itu demi membersihkan namanya--apalagi katanya direksi bank tempat si masnya kerja juga menuntut penjelasan. Tapi coba lihat, ke mana saja DM itu menyebar.
Bahkan di Chirpstory saja ada.

Sungguh. Ini lebih berbahaya ketimbang data bocor Facebook tempo hari loh. :))))

Ingat kasus seorang perempuan pendatang di Jogja yang ngatain orang Jogja miskin dan pemalas, hanya karena ia disuruh ngantre BBM saat BBM langka kapan dulu itu nggak? Kasusnya, si mbak ini bikin status di Path, dan diprotect pula, soal kejengkelannya karena disuruh ikut antre BBM di salah satu pom bensin di Jogja.

I mean, Path adalah media sosial yang paling private. Ini aja discreen capture, dan menyebar ke mana-mana lo! Jangan kira kasusnya berhenti dengan perundungan terhadap si mbak ini. Ia bahkan diadili di pengadilan, dan menerima hukuman lo!

Screen capture does exist, and it's even meaner than people talking!
Tweet kamu bisa diapus, status Facebook kamu bisa diapus. Tapi siapa yang bisa jamin bahwa tweet atau status kamu enggak dicapture orang?

Orang saya aja pernah, nyinyirin Jokan tapi akhirnya saya hapus. Eh, salah seorang teman ternyata lihat dan ngecapture tweet saya itu. Untungnya cuma dibawa ke WAG, dan semuanya teman sendiri :)))) Jadi, saya aman. Nggak diserang penggemar Jokan. Hahaha.

Coba kalau saya selebtweet or selebgram. Wew. Udah, pasti ke mana-mana deh itu.
Nah, ada untungnya juga kan kita bukan seleb. Wkwkwkw.


3. People are mean!


Netyjen itu jahap, bosque. Selain tentunya mereka mahabenar dan mahatahu.

Kalau yang ini sudah pasti pada ngeh dan nyadar seharusnya ya.
Apa saja yang digelindingkan di media sosial--terutama kalau kamu adalah seorang selebgram, selebtweet, atau seleb embuhlah--pasti akan jadi semacam bola salju. Makin gede. Ditambah-tambahin soalnya.

Kemudian muncullah makhluk-makhluk yang bernama haters.
Haters biasanya muncul setelah ada fans. Haters adalah "buah" kefemesan kita. Udah pastilah itu.

And, haters gonna hate.
They never like anything on you.

Siapkan saja mentalmu menghadapi mereka.

Kalau masih belum yakin kalau people are mean, coba bertandang ke akun Instagram Syahrini atau Ayu Ting Ting. Lihat di kolom komen-komennya.


4. You DON'T know people


Kalau kamu belum pernah ketemu dengan seseorang secara langsung, atau kenal seseorang di dunia nyata, maka tanamkan pada diri sendiri, that you don't really know that person.

Kenapa?
Kita nggak pernah tahu gimana orang yang sedang bersembunyi di balik sebuah akun media sosial.

Saya pernah nih ditanya--eh bukan pernah lagi deng, sering!--begini, "Kok nggambar sketsa-sketsanya kek gitu melulu sih? Ngeri amat. Are you OK? Are you happy with your life? Atau, bisa "lihat" kek gituan ya?"

Bahkan ada yang nanya, "Kamu indigo ya?"

Haelah!
FYI. Saya cukup normal. Saya bahagia dengan hidup saya. Permasalahan hidup saya nggak pernah jauh beda dengan orang lain. Nggak, saya nggak bisa "lihat" kek gituan. PUJI TUHAN!
Dan, enggak, saya bukan indigo.

Saya tahu banget, orang-orang yang nanya gitu tuh, adalah orang-orang yang belum pernah ketemu sama saya secara langsung, yang "hanya" bisa menilai saya dari apa yang saya perlihatkan di media sosial.

Ada yang bilang, "Don't judge me, because I only show you what I want you to see."
Ya, ini ada benarnya juga. Tapi, saya pribadi sih dengan besar hati dan sadar betul menerima konsekuensi dari "apa yang saya perlihatkan". Yaitu di-judge sebagai orang aneh.

Nggak papa.
Lagi-lagi, untung saya bukan selebtweet atau selebgram. Jadi, nggak masalah.

Kita nggak bisa menghakimi orang lain hanya berdasar apa yang kita lihat di media sosial. Ya, kita boleh saja sih berasumsi atau berkesimpulan sendiri. Hal tersebut juga hak kita kok. Kadang bukan salah kita juga kalau kita berkesimpulan salah, karena memang hanya sebegitu yang diperlihatkan. Iya nggak sih?

Begitu juga dengan kasus mbak seleb dan mas bankir. Mbak seleb karena marah telah dilecehkan langsung deh pasang foto orang yang melecehkan di Instagram Story. Padahal itu foto yang dicolong dari akun lain.

Ya, memang. Gimana kita bisa tahu kalau itu adalah fake account?
Makanya saya bilang, we don't know people.

Terus kenapa?
Mari kita ke poin selanjutnya.


5. Karena nggak kenal, maka sopanlah


Dan, karena kita nggak bisa kenal betul dengan orang lain di media sosial, maka ya sebaiknya kita harus menjaga setiap kata yang kita keluarkan dan tetap sopan sama siapa pun. Termasuk pada penggemar, kalau kita nanti jadi selebgram.

Pernah kepoin komen-komen di Instagram Yuni Shara belum?
Kapan itu pernah viral, soal jawaban-jawaban Yuni Shara pada para hatersnya yang savage banget :))


Jawaban Yuni Shara pada haters. Demen deh waaaa =)) Image via Tribun Jambi

Tuh, jawaban perempuan pinter dan cerdas tuh gitu. Balikin deh ke komentatornya. Dan, tetap denga sopan.

Jangan malah nyebut "Nyet!"
*masih ngekek* Ya Allah. *shake my head*

Sekali lagi deh ya, jangan balas komen atau nyetatus saat emosi ya. Ya gitu tuh, hasil keluarannya. Nyat nyet nyat nyet.




Nah, itu cuma 5 hal yang mesti diperhatiin kalau kamu mau manjat sosial, terus pengin jadi selebgram. Tentu masih banyak hal lain juga yang mesti kamu persiapkan. Yang lebih teknis-teknis, kayak ratecard, grafik demografi, email dan nomor WhatsApp untuk dihubungi, dan lain-lainnya.

Semoga ini bisa jadi bekalmu untuk menjadi seorang selebgram yang bermartabat.

Moral of the story.
Jangan pernah ganggu cewek yang lagi PMS!

Bahaya, cyin. Cewek PMS lagi jalan ketemu batu, yang pindah batunya!

Ya sudah, saya pamit dulu.
Mau cari selebgram berpengikut 600K++ untuk diajak ribut. Biar follower IG saya nambah 3000an lagi.

Kan mayan.
Foto by Beyourselfwoman.com


Guest post ini ditulis oleh Lusi untuk blog CarolinaRatri.com


Lusi Tris


Tadinya keputusan blog Beyourselfwoman fokus di niche DIY (Do It Yourself) dan craft itu boleh dibilang sebagai suatu kesalahan besar.

Dahulu blog Beyourselfwoman membahas bermacam-macam topik. Paling banyak tentang hubungan sosial dan dunia blogging dengan pilihan kata yang “jleb-jleb”. Pilihan kata-kata yang tajam sangat disukai pembaca dari kalangan perempuan dewasa.

Setelah memutuskan fokus di DIY dan craft, dari blog yang selalu ramai pengunjung, mendadak sepi kayak kuburan. Kalau bukan karena niche ini “gue” banget, pasti sudah males ngeblog dalam suasana sunyi senyap seperti itu.

Sehobi-hobinya ngeblog dan sehobi-hobinya ngecraft, tetap harus ada pertimbangan rasional mengapa bertahan di niche ini meski pageview terjun bebas, yaitu:

  • Punya bahan yang tidak ada habisnya.
    Bahan menulis adalah makanan bagi blog agar tetap hidup. Bahan itu bukan berarti benda seperti kain atau kardus, melainkan tema yang akan dibahas. Blogger crafter itu tidak harus selalu mencipta demi konten tapi juga tidak mungkin hanya obral kata-kata semata. Jika keduanya dikombinasikan, akan menjadi bahan menulis yang tak ada habisnya.
  • Belum banyak yang menggarap niche ini sehingga lebih punya peluang untuk menjadi blog referensi.
    Tidak seperti di luar negeri, crafter Indonesia masih sedikit yang mau ngeblog. Crafter luar negeri tak hanya rajin ngeblog, tapi juga melengkapi diri dengan channel Youtube. Mereka tidak hidup dari pesanan jahit, melainkan dari endorsement, sama seperti beauty blogger atau food blogger. Food blogger tidak harus selalu hidup dari pesanan kue, kan?

Beberapa waktu lalu blog Beyourselfwoman yang sepi ini mendapat kepercayaan sebagai salah satu pengisi acara di sebuah Paint Expo. Coverage-nya luas dan mereka sangat menghargai keberadaan blog Beyourselfwoman di acara tersebut.

Sudah tentu ada imbalannya juga. Tapi, yang paling penting adalah menjalin network baru dengan brand. Harapannya sih untuk jangka panjang.

Kok bisa begitu ya?

Ternyata pihak penyelenggara tidak melihat page view sama sekali, melainkan karena mereka hanya menemukan blog beyourselfwoman sebagai craft blog di Jogja melalui mesin pencarian google.

Nah kan? Tidak ada saingan! Apakah itu saja sudah cukup? Enggak dong! Setelah menemukan blog Beyourselfwoman, mereka melihat ke dalam lagi yaitu interaksi dengan pengunjung. Meski pengunjung sedikit, tapi karena pengunjung tersebut bertanya dengan serius, blog Beyourselfwoman dianggap bisa memberikan pengaruh kepada penghobi craft.

Waktu Carolina Ratri minta saya menulis tentang tips membuat blog DIY dan craft, sejujurnya saya tidak punya tip yang sudah teruji di banyak blog. Tip-tip saya ini baru teruji di blog Beyourselfwoman.

Karena itu, silakan diambil yang paling sesuai saja.

Saya berharap, cerita di atas tadi dan tip di bawah nanti bisa memberikan gambaran kepada  teman-teman yang tertarik dengan niche ini.

5 Tip Memulai Blog DIY dan Craft


Craft Blog: A Superniche. Image via Etsy.

1. Motivasi


Motivasi itu wajib dimiliki jika hendak menetapkan niche, karena ini akan menjadi kegiatan jangka panjang.

Niche tersebut akan mewarnai hidup dan media sosial kita. Kalau tidak ada motivasi, cuma bakal hot di awal saja, lalu melempem. Tiap kita memilih satu niche berarti akan mengorbankan banyak hal. Jadi, sayang kalau cepat menyerah.

Motivasi itu terpulang kepada kebutuhan kita masing-masing sehingga tak perlu mengacu pada tip mana pun.

Kalau motivasi saya sendiri adalah usia. Usia saya sudah tidak muda lagi dengan anak-anak yang beranjak dewasa. Saya harus memiliki sesuatu yang bisa saya kerjakan dengan tenang sampai kapan pun.

Kalau teman-teman lihat channel craft youtube luar negeri, banyak crafter yang sudah nenek-nenek dengan view luar biasa. Enaknya crafter itu karena tidak wajib modal tampang sehingga cocok dengan keseharian saya yang tidak terlalu suka selfie.

Makanya, meski penyajinya sudah nenek-nenek tapi channel-channel tersebut tetap banyak view karena pengunjung tidak butuh tampang kita. Saya bahkan mengidolakan channel menjahit Nancy’s Notion yang sudah stroke sampai beliau meninggal.

Selain itu, sebagai blogger yang sering datang ke event, mungkin 5 tahun lagi saya sudah kewalahan kalau harus mendaftar bareng blogger-blogger muda demi berebut seat untuk  hore-hore di acara pejabat.

Ah, 5 tahun kelamaan! Mungkin 3 tahun lagi sudah terjadi karena dunia blogging itu berkembang cepat. Tiap tahun banyak blogger baru yang pandai menulis, pintar SEO dan tampil percaya diri. Sementara saya semakin lamban dan sulit mencerna perkembangan blogging, utamanya secara teknis.


2. Detoks


Detoks ini adalah bagian terberat.

Yang termasuk di dalam detoks ini adalah event, job dan lomba. Betul! Detoks itu harus dilakukan terhadap semua hal yang menghidupi seorang blogger, makanya saya katakan yang paling berat.

Rasanya sombong banget melewatkan beberapa job karena tidak nyambung dengan niche. Hari gini, cari duit kan susah banget? Kalau fee dari job-job tersebut dikumpulkan, bisa untuk membantu menyediakan menu bergizi tanpa kenal tanggal tua.

Makanya, supaya tidak terlalu sedih, motivasi di atas harus diperkuat.

Ketika sudah memilih sebuah niche, kita harus berani bilang “tidak” terhadap semua yang tidak nyambung dengan niche tersebut. Sama dengan detoks untuk diet berat badan, detoks ini pada mulanya juga sangat menyiksa. Aneh nggak sih kalau tiba-tiba saya menulis tentang susu balita meski saya bisa meminjam anak tetangga untuk keperluan foto produk?

Tapi, untuk menjaga networking, kita tidak bisa juga terlalu saklek terhadap teman, koordinator atau agensi yang sudah kita kenal. Biasanya saya minta waktu untuk memikirkan hubungan produk atau event tersebut dengan blog Beyourselfwoman.

Kalau sudah mentok, tidak ada ide, dengan berat hati saya akan menolaknya baik-baik. Misalnya tentang event produk susu balita tadi masih bisa saya terima, karena yang saya tulis adalah program CSR (Corporate Social Responsibility) di bidang pemanfaatan limbah sehingga berhubungan langsung dengan kategori DIY.


3. Goal


Meski niche itu sendiri sudah fokus, tapi perlu lebih mengerucut lagi dengan menetapkan goal. Superblogger mungkin bisa mencapai semuanya tapi biasanya tidak secara bersamaan. Jadi harus ditetapkan mana yang ingin dicapai lebih dulu.

Untuk craft blog, godaan utamanya adalah jualan hasil karya sendiri, workshop, dan endorsement.

Ya, sebenarnya semua bisa dicapai kok, tapi sulit kalau barengan. Kesulitannya adalah dalam menjaga kestabilan konten. Menulis, memotret, mengedit, dan share konten itu saja sudah kewalahan. Merespon buah dari konten tersebut akan menimbulkan kerepotan baru.

Contohnya saya yang belum terlalu pandai menjahit, memilih mengutamakan membagikan tutorial daripada menjual hasil karya saya. Tahu diri sajalah, enggak perlu melebih-lebihkan kemampuan kita. Sebagai gantinya, pengunjung saya ajak untuk mengikuti perjalanan saya belajar dari tutorial ke tutorial.

Bagusnya, kita memang tidak perlu menjadi pakar lebih dulu untuk menjadi blogger crafter. Yang penting kita punya passion, mau berkarya dan jujur pada pembaca. Memang sih, pada akhirnya saya mendapat pesanan dan endorsement sebagai  bonus terhadap kemajuan yang sudah saya dapatkan.


4. Open


Menjadi pribadi yang terbuka itu penting untuk menghadapi kejenuhan menggarap satu niche. Antara lain dengan siap belajar pada siapa pun, tak takut berbagi ilmu, senang dengan pencapaian crafter lain, dan mau mencoba mewujudkan ide serta saran pengunjung blog.

Beda craft blog dan website kerajinan adalah interaksi.

Sebenarnya blog Beyourselfwoman bukan satu-satunya yang membahas kerajinan Jogja di dunia maya. Banyak website kerajinan di sini yang dibuat dan dikelola secara profesional sehingga secara tampilan dan konten jauh lebih bagus dari blog Beyourselfwoman. Tapi mereka memposisikan diri sebagai pemberi informasi dan etalase.

Craft blog seperti blog Beyourselfwoman ini mengisi kekosongan interaksi tersebut dengan berusaha membangun komunikasi dengan pembacanya.


5. Detail


Detail adalah faktor yang paling menentukan dari konten craft. Jika tidak suka detail, berarti tidak cocok menjadi blogger crafter.

Saya baru menyadari itu ketika memberikan workshop di Paint Expo lalu. Banyak sekali peralatan dan petunjuk yang harus saya persiapkan. Padahal itu hanya untuk workshop satu jam dan sebagian peralatannya sudah disediakan oleh klien. Selama ini, saya hanya merasa kalau untuk mengerjakan satu konten saja  perlu waktu berjam-jam.

Detail tersebut tidak hanya di peralatan, tapi juga di keterangan tutorial.

Statistik pengunjung yang bisa kita dapatkan dari Google Analytics adalah usia dan gender, tapi tidak ada keterangan apakah mereka masih pemula, sudah pakar, atau malah cuma suka melihat karya craft saja.

Supaya aman, sebaiknya semua detail dilengkapi. Pernah seorang pembaca berkomentar putus asa di blog Beyourselfwoman, karena tidak ada foto dan ukuran gap untuk membalik jahitan. Padahal itu perkara sepele bagi di blogger yang suka menjahit tapi penting banget untuk pemula.

Analoginya sama dengan resep masakan yang mencantumkan bahan garam secukupnya, tapi pembaca tetap bertanya berapa sendok. (Iya, ini gue banget setiap kali mau belajar masak dan ngadep resep =)))  --Carra)

The ultimate tip dari semua tip di atas adalah tabah.

Soal platform, template dan SEO, silakan mengaduk-aduk blog ini. Tip blogging terbaik ada semua di blog Carolina Ratri. (Uhuk!!!  --Carra)

Masalahnya, yang mengetikkan keyword seputar craft dalam bahasa Indonesia itu tidak banyak, alias tidak banyak yang mencari.

Meski demikian, ada optimisme di depan sana. Semakin banyaknya pecinta home decor  belakangan ini membuat peluang craft blog semakin baik. Para pecinta home decor membutuhkan banyak inspirasi untuk membenahi dan menghias rumah. Craft blog tinggal menyodorkan ide-idenya atau bahkan menjual karyanya.

Demikian tip membuat blog dengan niche DIY and craft ala blog Beyourselfwoman.
Semoga bermanfaat.

---

Catatan Carra

Masih banyak yang nggak punya nyali untuk fokus niche. Image via Kotausaha.


Memutuskan untuk fokus di satu niche memang sepertinya merupakan ketakutan terbesar bloger Indonesia, setelah ngasih eksternal link ke artikel referensi ya. LOL.

Setiap kali, saya selalu mendengar, bahwa teman-teman belum mau fokus ke satu niche (saya belum menyebutkan superniche), dan biasanya dengan alasan:

  • Takut kehabisan bahasan 
  • Takut rezeki terhambat, karena enggak semua job bisa diterima
  • Takut pageview turun drastis
Mengikuti perjalanan Mbak Lusi yang mulai fokus di niche crafting di tulisan di atas, saya mau enggak mau terkekeh sendiri, lantaran saya sepertinya juga ikut andil menyemangati Mbak Lusi untuk rebranding blognya.

Kayaknya saya juga pernah bilang ke Mbak Lusi, pageview kemungkinan akan turun drastis. Tapi jangan salah, craft blog nggak ada lawannya di sini. 

Itu persis dengan pengalaman saya, dari redcarra.com yang menulis apa saja, lalu rebranding ke blog ini yang fokus ke tip-tip menulis konten. Pageview tinggal seperempat, bahkan sampai sekarang pun belum sebanyak redcarra.com yang 2000-an view setiap hari.

Tapi ya memang ada yang namanya superniche. Saya pernah bahas soal ini di artikel alasan saya memisahkan blog per niche-nya.

So, saya cuma mau lagi-lagi mengutipkan yang satu ini.

Relevancy to the readers, not quantity of visitors, has become the new measurement of a successful blog.

Being relevant cuts through the noise, makes connecting easier and builds authority quicker. Once you have authority you can achieve just about anything.

Sudah terbukti pula pada Mbak Lusi. Pageview memang sedikit, tapi beliau menjadi satu-satunya craft blogger di Jogja dan kemudian digandeng oleh brand untuk menjadi pemateri dalam sebuah workshop.

Brand tersebut tak mungkinlah mencari pemateri dari kalangan blogger medioker. Sehingga ya ... enough said-lah ya. Who has the authority of craft blogger?

Nggak perlu koar-koar dan self-proclaimed, cukup fakta yang berbicara ;)


Mau nulis guest post untuk blog ini juga?
Kirim aja artikelmu dalam format .doc terlampir melalui email ke mommycarra@yahoo.com ;)


Suka bingung tiba-tiba engagement di Instagram menurun drastis--nggak ada yang ngelike, nggak ada yang ngefollow, apalagi ngomen. Padahal kayaknya semua normal saja.

Yah, kalau memang semua normal, tapi kamu tetap tak juga mendapatkan engagement apa pun hingga keesokan harinya, well, kemungkinannya sih kamu kena shadowban Instagram.

Saya sih sebenarnya sempat ngebahas soal shadowban Instagram ini secara sekilas di postingan soal algoritma Instagram yang berubah kapan hari.
Tapi, yah, mari kita bahas lebih detail lagi.

Mumpung template blognya baru juga nih. Gimana menurutmu? Bagusan ini apa yang kemarin? *lha, malah nanya template*

Balik lagi ke Instagram yuk.

Saya akan bahas secara ringkas aja deh, apa itu shadowban Instagram, gimana tanda-tanda kena shadowban, bagaimana cara menghindarinya, apa yang perlu kamu lakukan kalau kena shadowban, dan beberapa hashtag terlarang untuk digunakan di Instagram, yang bisa bikin kamu kena shadowban.

Beugh. Emang, kebanyakan aturan banget. Tapi ya sudahlah, sebagai warga Instagram yang baik--plus sebagai orang yang cuma nitip lapak di sana--kita mau nggak mau mesti nurut. Yekaaan?


Apa itu shadowban Instagram?


Shadowban Instagram. Image via PetaPixel


Shadowban adalah kondisi saat konten kamu diblock oleh suatu website, aplikasi atau layanan tertentu sehingga tak bisa dilihat secara umum. Parahnya, kondisi ini diberikan secara ujug-ujug aja gitu, tanpa peringatan, tanpa pemberitahuan.

Saya sendiri baru mengenal si block bayangan ini di Instagram. Saya belum pernah menjumpainya di media lain. Kayaknya kalau di Twitter, kalau mau di-suspend ya suspend, gitu. Ada pemberitahuan, bahwa mungkin kita melanggar aturan ini itu, lalu disuruh ngecek. Kalau ada kesalahan, kita bisa protes.

Di Facebook juga sama. Ada pemberitahuan, bahwa konten kita melanggar, misalnya karena nudity atau apalah, alasannya. Kalau ada kesalahan, kita boleh protes.

Di Instagram ini tau-tau aja gitu, nggak dimunculin di explore. Biarpun dikasih hashtag segambreng, ya enggak akan kelihatan di mana-mana. Cuma bisa dilihat oleh follower, itu pun ya cuma sebentar.



Apa saja tanda-tanda kita kena shadowban Instagram?


Ada beberapa hal yang kelihatan banget sih, di antaranya:

1. Engagement ngedrop drastis. 


Yang biasanya dapat 100 lebih likes, tahu-tahu cuma belasan. Yang biasanya dapat komen banyak juga kok enggak ada yang komen sampai seharian.

Saya pernah nih, dengan sengaja "menguji". Biasanya saya dapat like itu memang enggak terlalu banyak, karena postingan saya di Instagram bukan jenis yang populer. 40-an saja sudah bagus. Kali itu saya sengaja pakai hashtag yang terlarang.

Terus ... terus ya, saya cuma dapat 3 like dari follower doang. Hahaha.
Yep, itu langsung ya. Nggak ada jeda-jeda.


2. Nggak dapat follower baru


Normalnya, setiap kali kita posting satu saja, maka adaaa aja follower nambah meski cuma sebiji doang juga.

Nah, konon nih, kalau kita beli follower, taruhlah beli 2000 follower nanti akan ada follower drop. Bisa jadi hanya akhirnya cuma setengah, dan itu tuh terus berkurang. Nggak pernah nambah.

Ya, beli follower memang dilarang di Instagram. Ini saya belum pernah coba sih. Hehehe. Baru konon. Silakan lo, kalau mau ada yang "menguji". Wkwkwkw.


Nah, memang dua hal itu sih yang paling bisa kita pakai sebagai penanda kalau kita kena shadowban. Kalau mau lihat lebih pasti, kamu kena shadowban atau enggak, coba cara ini:

  • Posting di Instagram, pakai hashtag yang spesifik dan enggak populer. Yang kira-kira cuma kamu doang yang pakai.
  • Lalu, ganti akun. Kan biasanya pada banyak tuh akunnya :P coba search hashtag yang tadi dipakai.
  • Kalau enggak muncul, ya berarti kamu kena shadowban.



Kalau sudah kena shadowban Instagram, so ... ?


Nah, kita akan bahas apa tindakan yang bisa kita lakukan kalau sudah terkena shadowban ya. Tindakan pencegahannya sehabis ini deh nanti.

Kalau sudah telanjur kena shadowban gimana? Apa yang harus kita lakukan supaya shadowban-nya cepat ditarik?

Ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan:
  • Jangan pakai hashtag yang terlarang. Ya ya, nanti di bawah saya akan kasih bocorannya.
  • Postinglah secara normal, menggunakan handphone. Jangan menggunakan aplikasi pihak ketiga, seperti Latergramm, atau Hootsuite, atau apa pun yang bukan langsung dari Instagram-nya.
  • Kalau masih belum ditarik juga, berhentilah posting, like dan kasih komen dulu di Instagram. Cutilah dulu dari Instagram.
  • Kalau akunmu adalah akun Instagram Business, maka ganti dulu ke Personal.
Biasanya sih dengan beberapa langkah di atas, shadowban kamu akan ditarik juga.



Apa yang harus dilakukan supaya enggak kena shadowban Instagram?


Kalau kata Instagram team sih begini. Image via Meltwater.


Ya, mencegah tentu lebih baik daripada "mengobati". Mendingan kamu behaving aja deh di Instagram, ketimbang nyoba trik ini itu yang malah bikin kamu kena shadowban.

Garing tauk kalau enggak ada yang ngelike tuh. Iya nggak sih?

Jadi apa yang harus kamu lakukan supaya enggak kena shadowban?

1. Post natively


Artinya, jangan pakai bot atau aplikasi auto-posting.

Ini adalah jalan yang paling aman. Post langsung di Instagram, nggak usah pakai scheduler. Posting kek manusia biasa.

(((kek manusia biasa)))


2. Jangan nyepam


Memang enggak ada batas kita boleh posting berapa banyak di Instagram, tapi ya jangan berlebihanlah. Tiap menit posting selfie keliatan bibir doang, gitu kan ya genggeus. Kalau bikin genggeus rangorang, ya kamu bisa dilaporin juga. Hahahaha.

Jadi ya biasa ajalah.

Jangan pula nyepam di akun orang. Jangan follow atau like langsung banyak, pun tiba-tiba dapat follower 5000--yang bisa terindikasi beli follower.


Situs radianelephant.com sih menyarankan, jangan sampai melebihi 150 likes, 60 komen, dan 60 follow/unfollows per jam.



3. Hati-hati dengan penggunaan hashtag


Maksimal memang Instagram bisa "menerima" penggunaan hashtag sampai 30 biji. Tapi ya, keknya nggak perlulah sampai full 30 hashtag. Ini namanya hashtag abusing. Big no no buat Instagram.

5 - 10 saja sudah cukup. Ini menurut beberapa orang influencer luar ya.



Lalu, apa saja hashtag yang terlarang digunakan di Instagram?


Here are some of them.


Sumber: Radiant elephant


 
Sumber: Plannthat.com


Oke, hashtag terlarang lainnya, bisa kamu simak di Chirpstory, tempat saya ngumpulin materi tweetnya #MakminSpesialisMalam Kumpulan Emak Blogger ini ya. Hehehe.

Ya, banyak soalnya, cyin!

Nah, ada baiknya, kalau kamu mau pakai hashtag itu kamu cek dulu deh, termasuk ke hashtag terlarang apa bukan. Cara ngeceknya juga ada di tautan Chirpstory di atas. Soalnya hashtag ini kadang ya safe, terus tahu-tahu di-ban tanpa pemberitahuan gitu aja.

Jadi, emang rempong ya.


Nah, semoga hal ini bisa jadi bekal kamu kalau pengin jadi influencer di Instagram. Kalau cuma mau kek saya, buat nyimpen foto doang mah, nggak usah pedulilah. Yang penting bahagia.

Guest post ini ditulis oleh Hani Widiatmoko untuk blog www.CarolinaRatri.com


Hani Widiatmoko

Awal mulanya blog saya pindah ke blog TDL sedikit banyak ada pengaruhnya setelah baca buku dan mereview buku “Blogging: Have Fun and Get The Money” tulisan Carolina Ratri.

Kalau tidak salah, waktu itu kalau mereview dapat hadiah.

Bukan, bukan melulu cari hadiah sih. Kebetulan memang saya punya rencana membuat blog pribadi untuk promosi diri sebagai penulis buku. Walaupun sudah punya blog sejak tahun 2007-an, blognya masih gratisan, dan isi blognya lebih ke arah catatan harian bergambar saja.

Di buku tersebut saya baru tahu yang namanya niche, kemudian monetize blog. Duh, ingin kan, blog pribadi bisa menghasilkan? Apalagi jadi penghasilan.

Sampai sekarang masih suka saya baca-baca bukunya, soalnya untuk mengerti benar harus dibaca lagi, dan lagi. Apalagi tentang SEO-SEO-an itu.

(Terima kasih banyak sudah membeli dan membaca buku saya ya, Mbak Hani :) --Carra)


Article Placement, Diedit atau Tidak?


Hasil survei Moz terhadap tanggapan pembaca yang sudah membaca sponsored content. Menarik :)

Pertama kali saya diemail oleh sebuah agensi untuk article placement, kira-kira 6 bulan setelah blog baru saya tayang.

Jujur, waktu itu belum paham tentang article placement. Setelah membaca email dari klien dengan saksama barulah saya mengerti. Bahwa saya hanya perlu mempublish artikel berikut foto-foto yang sudah disiapkan, kemudian menyematkan backlink di blog saya.

Dipikir-pikir enak juga ya? Saya kan tidak perlu memikirkan sekira 500-an kata untuk mengisi blog. Wah, kalau sepuluh saja article placement dalam satu bulan, saya bisa kipas-kipas.

Ternyata setelah membaca artikel yang harus saya publish tersebut, ada beberapa hal yang harus saya edit juga. Untungnya saya diperbolehkan menyesuaikan dengan gaya bahasa blog saya.

Waktu itu contentnya tentang tujuan wisata. Setelah artikel publish pun, ada sedikit komplen dari agensi. Karena mereka menginginkan backlinknya disamarkan. Saya lumayan bingung, karena template yang saya pilih justru memunculkan underscore (garis tebal) di bawah tulisan berbacklink.

Sebetulnya sebulan sebelumnya, ada agensi berbeda yang juga menawarkan kerja sama juga. Bentuk tawarannya adalah saya harus menuliskan tentang produk layanan sebuah bank, dengan beberapa ketentuan. Tulisannya bebas, kemudian ada satu kata yang dibacklinkkan ke alamat URL tertentu.

Belakangan saya baru tahu, bahwa bentuk kerja sama seperti itu namanya sponsored post.
Kalau diingat-ingat, sebetulnya lebih enak menulis artikel bersponsor atau review produk, karena bisa menulis sesuai kata hati sejak awal.

Baru-baru ini saya juga mendapatkan ajakan kerja sama dari sebuah e-commerce untuk article placement. Umumnya sekarang disebut sebagai content placement (CP).

Ajakan kerja samanya, ya blogger tinggal publish artikel. Ada sedikit perbedaan, blogger diminta membuat internal backlink dan dibebaskan boleh menyertakan external backlink, tidak juga tak apa-apa.

Ternyata di obrolan WhatsApp Grup Blogger yang saya ikuti, teman-teman juga mendapatkan ajakan kerja sama yang sama. Dan setelah saling blogwalking, artikelnya mirip semua.

Setahu saya, di dalam email dijelaskan, kami harus membuat kata pembuka dan kata penutup untuk mendukung artikel tersebut. Dan artikel tersebut pun boleh diedit sesuai dengan gaya bahasa masing-masing blogger.

Nah, di sini hebohnya.

Ternyata teman-teman saya berpendapat lain. Menurut mereka, CP itu nggak perlu diedit. Kalau diedit, jadinya arahnya jadi content writer, sehingga feenya berbeda.

Kata teman-teman lagi, CP kali ini ibaratnya jebakan batman.

Tahu kan film Batman? Tokohnya kan mempunyai tempat persembunyian berliku-liku, bisa membuat tersasar dan tak bisa keluar. Kecuali mungkin ya sang Batmannya sendirilah.

Saya pun mencari tahu, kenapa teman-teman tersebut khawatir dengan CP yang mungkin dipublish oleh belasan mungkin puluhan blogger.

Rupanya ada kekhawatiran duplikasi dengan adanya artikel yang mirip dalam satu waktu yang mengarah ke e-commerce tertentu. Sependek pengetahuan saya, tidak baik untuk blog kita bila diduga ada duplikasi.

Lah, loh...ya atuhlah, kalau takut duplikasi, kenapa tidak direwrite atau dieditlah artikel dari klien, agar sesuai dengan gaya bahasa kita?

Tapi, ya itu tadi, kan teman-teman tidak mau mengedit, karena jadinya ada kerjaan tambahan.

Dalam hal memonetize blog, memang saya nubie banget. Kadang ya ada katroknya, sudah sueneng banget ada agensi yang melirik blog saya. Tapi di satu sisi, artikelnya tidak cocok banget nih dengan gaya tulisan saya, jadilah saya berpikir keras dan mengeditnya.

Pernah juga saya baca di blog seseorang, sebaiknya sebagai blogger kita juga mempunyai posisi tawar. Atuhlah, kalau tulisannya diedit besar-besaran, ditawarkan sebagai tulisan sponsored post saja, nanti feenya lebih tinggi.

Maafkan, saya sepertinya masih perlu banyak belajar untuk bersikap. Misalnya, menolak mentah-mentah ajak kerja sama, karena takut terjebak. Atau menolak halus CP dengan menawarkan artikel berbentuk artikel review.

Kalau dipikir lagi, beginilah kalau sudah “tercemar” bahwa blog bisa menghasilkan, entah transferan atau voucher. Mata kita jadi merah hijau biru. Pikiran kita jadi, kalau dapat voucher, menawarkan traktiran apa ya ke anak-anak.

Coba bandingkan dulu banget waktu masih belum kepikiran menambah angka di rekening, ngeblog happy-happy saja, lebih bebas malah.

Ayuk atuh, tentukan sikap. Mau buka puasa, kolak waluh atau buah potong? #eh...


---

Catatan Carra

Berapa persen perbandingan artikel sponsored dan original di blogmu?


Apa yang menjadi "kegelisahan" Mbak Hani, saya tahu betul rasanya. Dan, saya pernah mengulasnya di artikel Blogger Versus di blog ini juga.

Saya pernah sangat menyayangkan hilangnya personalisasi pada blog teman-teman. Nggak ada lagi rasa unik personal dari teman-teman, karena semua tiba-tiba saja menayangkan artikel yang hampir seragam di satu waktu. Paling keliatan kalau sudah dilihat melalui Feedly. Dari 10 update artikel, hanya 1 yang merupakan original article. Yang lain titipan.

Saya tidak menyalahkan jika teman-teman menerima sponsored article, tapi sebisa mungkin, please, perhatikan keunikan blog sendiri. Masa lebih memilih mengorbankan keunikan diri sendiri ketimbang mengedit tulisan yang enggak gue banget seperti itu?

Sudahlah blognya berniche so-called-lifestyle, yang notabene campur-campur, which means nggak ada spesifikasi khusus, eh ... pas nerima job juga seragam sama yang lain.

Terus, ke mana identitasnya?

Sayangi dong blognya. Itu kan blog teman-teman sendiri.
Percuma juga punya branding ina inu, template cantik-cantik, kalau kontennya sami mawon dengan yang lain? Enggak akan bisa menonjol, dan nggak akan ke mana-mana.

Bahkan saya sempat ada di titik yang membuat saya berpikir, jangan-jangan content placement ini hanya akal-akalannya brand demi mendapatkan "sokongan" murah dari kita. Enggak tahu, apakah pemikiran saya itu benar atau enggak, tapi kita nggak bisa menutup mata akan prinsip "keluarkan uang sesedikit mungkin, tapi efek yang didapatkan sebesar mungkin". Itu prinsip ekonomi bangetlah, sudah jadi rahasia umum.

Bisa saja saya salah. Saya berharap saya salah. Tapi tak pelak, pikiran negatif seperti itu mau nggak mau hinggap di benak saya.

Sehingga ya ... akhirnya balik lagi ke blogernya juga kan? Mau sampai kapan hanya jadi troopers, tanpa jadi influencer yang sebenarnya?


Mau nulis guest post untuk blog ini juga?
Kirim aja artikelmu dalam format .doc terlampir melalui email ke mommycarra@yahoo.com ;)