Google baru saja mengeluarkan woro-woro lagi, bahwa sekarang link attribution atau atribut tautan enggak cuma dofollow dan nofollow aja, tetapi juga ada 'sponsored' dan 'ugc'.

Nah, siapa nih yang baru tahu tentang keberadaan atribut baru ini?
Sejujurnya, saya juga baru tahu sih. So far saya tahunya cuma nofollow dan dofollow doang juga. Tapi ternyata ada yang baru.

Sebelumnya, tentang atribut 'nofollow' dan 'dofollow' ini mesti kamu pahami dulu prinsipnya. Saya pernah bahas sih di artikel soal external link. Silakeun dibaca yah, tentang apa itu dofollow dan nofollow, dan apa fungsinya masing-masing.


Perubahan Atribut Nofollow


Dan, sekarang, ada perubahan yang cukup signifikan nih dari Google mengenai penggunaan nofollow. Yang dofollow enggak disebutkan sama sekali, so mari kita asumsikan bahwa aturan dofollow enggak berubah.

Lalu, apa yang berubah dari atribut tautan ini?

1. Ditambah 2 jenis atribut

Yes, seperti sudah disebutkan di atas, sekarang ada atribut tambahan yaitu "sponsored" dan "ugc". Berarti selain "dofollow", sekarang juga ada "nofollow", "sponsored", dan "ugc". Ada lagi, yang tanpa atribusi.

Ketiganya menjadi semacam petunjuk untuk Google crawler bot, mengenai bagaimana si bot akan melakukan treatment terhadap tautan-tautan tersebut.


2. Treatment berbeda

Gampangnya, atribusi tautan tersebut akan menjadi "kode" khusus bagi Google. Pada dasarnya, Google tetap mengabaikan nofollow links, tetapi sekarang hal ini enggak mutlak lagi. Dengan syarat tertentu, Google bisa saja menjadikan tautan nofollow ini sebagai salah satu penentu indexing dan crawling botnya.

Behavior ini akan berlaku secara penuh di 1 Maret 2020 nanti.

Lha, sementara ini bagaimana? Masih tetep. Nofollow link akan diabaikan oleh Google.


3. Bisa digabungkan

Untuk kondisi tertentu, kita bisa menggunakan gabungan ketiga atribusi tersebut. Jadi kita bisa saja menulis script rel="nofollow sponsored ugc", yang kemudian akan menjadi kode untuk Google crawling bot.

Dia mau ngapain dengan script seperti itu? Ya, biarkan saja dia memutuskan, apakah tautannya layak untuk diindex dan dicrawl. Tugas kita cuma ngasih "peringatan" aja, bahwa tautan ini adalah tautan bersponsor (yang berarti kita dibayar untuk ngelink) terletak di platform UGC (forum, komen dll), dan bukan rujukan.

Sudah itu aja.

Selanjutnya, biarkan si bot yang memutuskan.


4. Tautan berbayar

Untuk paid link--yang artinya kita dibayar untuk memberi tautan--Google menyarankan untuk menaruh atribusi "nofollow" dan/atau "sponsored". Bisa salah satu atau bisa juga gabungan dari keduanya.

Menggunakan "ugc" saja (atau "dofollow") pada link berbayar akan berbuah penalti. Ingat ya. Jangan pakai "ugc" saja atau "dofollow".


5. Lalu bagaimana dengan tautan yang sudah telanjur published?

Google bilang sih, nggak perlu khawatir tentang yang sudah-sudah. Biarkan berlalu, dan segera moveon #eh
Maksudnya sih, untuk tautan yang next, pakailah aturan yang baru. Terutama untuk tautan-tautan setelah tanggal 1 Maret 2020 itu.

Nah, untuk lebih jelasnya, silakan mencermati infografis yang dibuat sama Moz ini. Menurut saya sih, ini cukup jelas ya. Bagaimana treatment masing-masing atribusi, dan bagaimana menuliskannya.

Sumber: Moz


Kenapa sekarang makin ribet aja sih Google?



Well, tak lain tak bukan karena ulah kita sendiri juga. Dan, Google hanya melakukan hal-hal yang sekiranya perlu untuk melindungi diri kita (user) dari kita-kita juga (spammer).

So, dengan semakin maraknya praktik-praktik spamming, dan makin bernyalinya para pemilik dan pengembang situs membayar netijen untuk ikut dalam marketing strategies-nya, maka Google sudah pasti harus melakukan sesuatu agar user tetap nyaman dalam menggunakan tool pencarinya.

Agar hasil pencariannya semakin valid.
Agar kita semakin tertolong dengan informasi-informasi yang bermanfaat dan berkualitas di Google.
Dan agar kita enggak mendapatkan informasi sesat dari para praktisi black hat SEO.


So, summary ...

Jadi, mesti gimana ini makenya atribusi-atribusi ini?

Pakailah rel="sponsored" untuk paid/sponsored links. Di sini berarti termasuk tautan afiliasi, job review, dan sebangsanya. Pokoknya kalau kita menerima duit sebagai ganti naruh link, pakailah atribusi ini.

Pakailah rel="ugc" untuk tautan-tautan di dalam user-generated content. Ini misalnya kalau ada yang mau bikin forum, gitu ya. Bisa dikasih atribusi ini secara otomatis. Buat yang bisa ngulik kolom komen, juga boleh ditaruh atribusi yang ini.

Pakailah rel="nofollow" untuk semua tautan yang bukan rujukan. Atau, mungkin kita rada meragukan kualitas laman yang mau ditautkan gitu, tapi mesti nge-link. Ya udah, pakaikan saja atribusi "nofollow" ini.

Lebih jelasnya, bisa lihat di guideline yang sudah dibuat oleh Google. Saya rasa cukup jelas kok, dan mudah dimengerti.

Well, sekarang sih belum ada yang bisa kita lakukan, selain siap-siap menambah kerjaan dengan menaruh atribusi sesuai fungsinya. Semoga sih platform blogging masing-masing menambahkan juga dalam menu editnya, biar kita nggak perlu susah-susah nulis secara manual :))

Kalau mau, silakan baca sumber artikel ini di blog milik Moz ya. Belajar langsung dari sumbernya pasti akan lebih oke. Saya hanya berusaha menerjemahkannya secara bebas ke dalam bahasa Indonesia, biar mudah dipahami. Bisa jadi catatan dan reminder juga buat saya sendiri.


Tahu (atau nyadar) enggak sih, kalau Google itu menyimpan hampir semua informasi tentang kita?

Yes, dia akan tahu semua informasi begitu kamu login dan masuk ke akun Google, atau akun mana pun yang dihubungkan dengan Google. Mulai dari penelusuran dan perintah dengan voice search sampai dengan history Google Maps, bahkan sampai riwayat video yang kamu tonton di YouTube.

Oh yeah, semuanya.
Dan, tahu enggak berapa orang mau bayar untuk data-data informasi seperti ini? History akses kita ke mana saja, bahkan pergi ke mana saja?

Jutaan dollar!

Karena data kek gini tuh, data berharga banget terutama buat pemasaran alias marketing!



Pernah buka Google My Activity?

Belum? Coba cek ke My Activity.

Oh yeah! Untung lagi pas nggak nyari porn. Ehgimana?


Laman “My Activity” ini dapat kamu gunakan untuk memeriksa aktivitas online apa saja yang sudah kamu lakukan bersama Google. Maka, di situlah tempat kamu bisa memeriksa data-data personal kamu.

Misalnya, kamu pengin menemukan penelusuran apa saja yang kamu lakukan satu bulan sebelumnya. Laman ini juga berguna kalau kamu bermaksud untuk menghapus semua data yang berasosiasi dengan Google.
  1. Buka “My Activity” di browser, linknya sudah saya tulis di atas ya. Kemudian masuklah ke akunmu.
  2. Cek ke “Bundle View” di sebelah kiri untuk melihat riwayat pencarian kamu in bundle, atau gunakan pilihan “Item View” untuk melihat riwayat satu per satu.

So, kamu mau apa sekarang dengan aktivitas googling kamu yang tersimpan ini? Mari kita lihat.


Nge-download Semua Data dari Google

So, in case kamu mau mendownload semua datamu. Maka, ikuti langkah-langkah di bawah ini:



  1. Buka “Download your data” di browser.
  2. Pilih services yang pengin didownload datanya, lalu klik Next.
  3. Setting “File Type” dan “Archive size (max)” sesuai keinginan, dan pilih “Send download link via email” sebagai “Delivery method”, kemudian klik tombol “Create Archive”. Kamu juga bisa memilih delivery method yang lain, kalau mau.

Buka email, lalu cek apakah ada email dari Google yang masuk. Dalam email tersebut, akan ada tautan untuk mengunduh. Buka, datamu akan siap untuk diunduh.


Nonaktifkan Personalisasi Iklan

Google punya jaringan iklan terbesar yang bakalan melacak aktivitas online kamu demi satu tujuan; mempergunakannya agar mereka bisa menembak iklan yang pas dengan selera kita.

Jadi, sering enggak kejadian? Misal kita lagi liat-liat panci presto di salah satu marketplace. Karena belum ada duit, ya udah kita belum milih juga kan. Belum masukin ke keranjang. Baru window shopping doang!

Tapi, begitu kita ke situs lain (marketplace kita close) dan kebetulan di situs itu ada iklan, maka iklan yang tampil adalah panci presto incaran kita?

ITU DIA!

Tapi, untungnya, hal ini bisa kita atur sebenernya. Mau tahu nggak?






  1. Buka Ads Settings di browser.
  2. Matikan tombol toggle yang ada di tengah-tengah laman. Klik TURN OFF saat ada popup muncul.

Dan, kamu pun selamat dari iming-iming panci presto.



Nonaktifkan Riwayat Pencarian Google

Kalau kamu nggak pengin menghapus riwayat (history) penelusuran, tetapi masih ingin kehidupan ‘digital’ kamu enggak terlacak oleh Google, maka kamu non-aktifkan saja riwayat Google.



  1. Silakan menuju ke “My Activity” yang tadi tautannya sudah saya kasih di atas.
  2. Klik “Activity Controls” dari sisi sebelah kiri.
  3. Pilihlah tipe aktivitas atau produk yang ingin kamu jeda pelacakannya atau perekaman jejaknya, lalu klik tombol toogle di sampingnya. Ada beberapa service yang bisa kamu lihat bisa disetting di situ: Web & App Activity, Location History, Device Information, Voice & Audio Activity, YouTube Search History, YouTube Watch History. Tinggal kamu pilih mana yang mau di-pause.


Misalnya, saya ingin menjeda “Location History”. Saya klik togglenya, nanti akan tampil pop-up yang menanyakan apakah kamu memang pengin pause aktivitas tersebut. Kalau iya, klik tombol “Pause”, dan konfirmasi aktivitas jika diminta.


Tapi pausing Location History ini enggak akan menghapus data Google Maps ya. Seperti keterangan di atas. Makanya, coba baca dulu sebelum benar-benar menonaktifkan satu service.

Kalau mau hapus history dan nyetting privasi di Google Map, kamu bisa langsung menuju lamannya. Diatur di sana.


Hapus Riwayat Google

Kalau kamu enggak pengin meninggalkan rekam jejak apa pun dalam aktivitas online kamu, dan pengin menghapus semua datayang tersimpan di Google, maka kamu pun harus menghapus riwayat secara keseluruhan.

Kayaknya rumit pasti dibayangin ya? Secara, data kita di Google itu emang banyak bet! Sudah tiap hari selalu akses Google, selalu memanfaatkan service Google, bahkan juga aplikasi smartphone semua juga pakai data Google ... beugh! Ngeri dah.

Tapi, tenang. Meski ini terdengar ribet, sebenarnya ini hanya perlu beberapa menit saja lo!



  1. Buka “My Activity” di browser.
  2. Klik pilihan ikon di sebelah kanan atas dan pilih “Delete activity by”.
  3. Sekarang, pilih periode dan produk mana yang ingin kamu hapus riwayatnya. Pilih aja “All time” kalau emang pengin hapus semua, dan juga “All products”.
  4. Klik tombol DELETE, dan konfirmasi penghapusan.


Menghapus Akun Google dan Akun Lain yang Terhubung

Barangkali, kamu pengin menghilang sepenuhnya dari jagat maya, dengan menghapus semua akun kamu? Bisa lo, ada trik untuk mempercepatnya, terutama untuk menghapus akun-akun yang terhubung dengan akun Google kamu.

Pakai apa? Deseat.me.

Deseat.me adalah tool yang bisa mengakses akun-akun yang bertautan dengan akun Google kamu, dan kemudian menghapusnya.



  1. Buka “Deseat.me”. Tekan tombol “Get started” di tengah, kemudian tekan “Sign in with Gmail” untuk masuk menggunakan Google.
  2. Google akan meminta persetujuan kamua sebelum memberikan akses untuk Deseat.me. Klik tombol ALLOW untuk lanjut.
  3. Deseat.me kemudian akan menunjukkan semua akun yang terhubung dengan Google dalam bentuk tumpukan kartu. Klik tombol Delete pada setiap kartu untuk menghapus akun-akun yang bertautan dengan akun Google kamu.


Gampang kan? Sekali jentik doang.



Jadi gimana? Rekam jejak digital bisa sedikit dirapikan kan, dengan beberapa langkah di atas? Hehehe. Yahhh ... kalau mau benar-benar ngilang sih ya, susah. Tapi bukannya enggak mungkin juga, kok. Ehe ehe ehe.

Semoga bermanfaat.


Disclaimer: Bukan Sponsored Post.

Perlu banget disebutkan ya, Gaes! :))

So! Hae, gaes! Pernah nggak sih, kamu iseng melihat blog sendiri, lalu merasa ada sesuatu yang kurang? Coba deh dilihat-lihat lagi, apa ya kira-kira? Hmmm, bisa jadi visual laman kurang oke. You knowlah, manusia itu tipenya visual (mostly). Nggak semua orang tuh bisa betah membaca, kalau enggak ada visual yang menarik.

Bahkan ada lo, penelitian yang membuktikan bahwa "human process visual better". Di artikel itu disebutkan, bahwa manusia itu lebih mampu memahami konten visual 60.000 kali lebih cepat ketimbang teks!

Bayangpun! 60.000 kali lebih cepat!

So, berarti sudah tahu betapa pentingnya konten visual untuk bisa dimasukkan dalam artikel kita. Well, makanya, saya mau ajak kamu untuk membuat banner dan header agar lebih keren lewat artikel ini, step by step.

Mau? Cus!



Tentang Banner dan Header Blog

Nah, sebenarnya banner dan header pada dasarnya adalah dua hal yang berbeda. 

Banner atau blog banner adalah kreasi visual yang biasanya digunakan untuk tujuan informatif bersifat promosi, contohnya iklan. Keperluan memajang banner penting bagi beberapa bloger untuk meraup pundi-pundi.

Beda halnya dengan header. Sesuai namanya, header adalah gambar yang ditempatkan di atas tampilan situs yang akan muncul pertama kali saat seseorang mengakses blog. Ukuran header dipastikan hadir secara horizontal dengan warna dan model yang mewakili blog keseluruhan.

Kedua karya visual ini mesti digarap secara serius dan mampu merepresentasikan blog dan isi yang kamu tuangkan di dalamnya. Semakin apik, tentu para pengunjung bahkan dirimu sendiri bakal betah berlama-lama. Jika tidak, bisa jadi pengaruh buat traffic lo!

So, barangkali ada nih di antara kamu yang masih struggling karena enggak tahu cara membuat banner serta header yang yang baik dan benar. 

(((baik dan benar)))

Makanya, saya mau ajak untuk bareng-bareng mempelajari langkah demi langkah menggunakan platform desain Canva yang simpel, mudah dan punya fitur lengkap. Pastikan untuk mencatat hal-hal penting di bawah, ya! 

Iya, pake Canva aja. Gosah sotosop apa korel. Itu biar buat para desainer pro aja! Kita bloger mah, pokoknya bisa bikin yang gampang tapi bagus! Yes? Yes.


Cara Membuat Banner Sederhana, Simpel dan Keren

Nah, banner ada berbagai ukuran dan orientasi. Ukuran banner populer yang sering dipakai untuk keperluan situs adalah 300 × 250, 728 × 90 dan 160 × 600 pixel. Iya, ukurannya piksel ya, bukan sentimeter. 

Berdasarkan tarif periklanan, setiap ukuran memiliki harga tersendiri yang perlu disesuaikan. Sampai sini sudah paham belom, nakanak?

Bikin banner itu nggak susah, cyint. Kamu cuma butuh telaten aja buat utak-atik. Jadi, sediakan waktu yang cukup, itu aja. Biar ga buru-buru, sehingga hasil maksimal.

Ikuti langkahnya berikut ini yak.

1. Buka Canva dan Cari Template yang Pas dengan Kebutuhanmu




Kalau sudah kebuka, ntar kamu akan melihat sejumlah fitur berdasarkan keperluan pribadi. Untuk kali ini, kebutuhanmu adalah membuat banner. Di Canva ada banyak banget template siap pakai. Sudah dengan gambarnya, sudah pula dengan font pairing yang pas. Yang kamu butuhkan nanti hanya menyesuaikannya saja, sehingga bisa sesuai dengan yang kamu mau.

So, kalau kamu mau yang pake foto atau image, pilih template dengan image. Nanti kalau kamu mau ngeganti image-nya, kamu tinggal klik aja di image yang di template, lalu ganti dengan punyamu.

Buat milih template teks.


Begitu juga dengan font. Kamu langsung cari aja font pairing yang paling sesuai dengan keinginanmu, lalu tinggal ganti kata-katanya dengan yang pengin kamu mau.

Kalau belum berpengalaman font pairing, mendingan seminimal mungkin untuk mengganti-gantinya, karena ... you know ... udah disediain kok sama Canvanya. Sudah pasti cocok dan sesuai dengan prinsip desain. Gosah mikir-mikir lagi kan?

So, carilah template yang sesuai dengan ukuran visual yang kamu butuhkan untuk dipasang di blog. Kalau sudah menemukan template yang pas, maka kamu selanjutkan akan siap untuk menata banner. 


2. Sesuaikan Desain dengan Ragam Fitur di Canva 





Nah, sesuaikan desain banner dengan memilih warna, font, gambar, dan ilustrasi yang paling cocok dengan identitas. 

Nah, soal warna, komposisi, dan font nih. Mau nggak mau, kamu mesti ngerti dan paham beberapa prinsip dasar desain, utamanya desain grafis. Saya sih pernah menjelaskan mengenai 3 prinsip utama desain grafis (yang semoga mudah dipahami oleh kamu-kamu yang nondesainer) dengan cukup detail di Tips dan Trik. Silakan dibuka dan dibaca ya, supaya kamu bisa mengolah desain kamu dengan baik.

3 Prinsip yang harus diingat untuk membuat banner, header, dan berbagai artwork desain grafis adalah:
  • Simple is better
  • Perhatikan porsi font antara yang readable dan stylized, terutama kalau kamu belum mahir typografi.
  • Pakai kombinasi warna seaman mungkin, jika kamu merasa belum peka terhadap color pairing.
Untuk warna, kamu bisa pakai acuan color scheme punya brightside ini.


Ingat ya, jangan eksperimen kalau memang merasa belum gape. Atau, your design will be the next disaster.
Halah.

Iya disaster. Orang yang liat malah sakit mata.
Mau pada tanggung jawab, kalau yang liat jadi pada belekan emang? :P


3. Unduh Banner dan Unggah ke Blog 




Nah, kalau sudah siap dengan desainmu, next kamu bisa ngedonlotnya. Kalau di Canva sih kita bisa dapetin image beresolusi tinggi dalam setiap format (JPEG, PNG, PDF). 

Karena itu, tetap perlu dioptimasi lagi ya, kalau mau diunggah ke blog. Image dengan resolusi tinggi sih bagus, tapi kalau terlalu tinggi resolusinya, ntar juga akan bikin loading blog jadi melambat.

Untuk optimasinya, kamu bisa mengikuti langkah-langkah optimasi image di blog ini juga.

Di Canva, ada ribuan template siap pakai,  buanyak bet gambar tanpa royalti, dan kamu tinggal drag and drop aja untuk bikin banner. Nyaris ga butuh skill desain sama sekali, selain harus paham 3 prinsip desain di atas aja.

Sekali dua kali kamu mungkin tergagap-gagap, selanjutnya pasti gampang. Eksplor aja terus. Tapi awas, ntar lupa waktu. Hahaha.



Cara Membuat Header Blog


Nah, untuk membuat header blog, sebenarnya kamu tinggal ulangi aja langkah di atas. Hanya saja mungkin ukurannya agak berbeda.

Kalau saya sih, mendingan langsung sesuaikan dengan frame blog kamu. Ukur dulu keperluan image headernya berapa, baru kemudian kamu bikin sesuai ukurannya.

Supaya apa? Supaya optimal ukurannya, enggak terlalu besar, ataupun terlalu kecil.

Ngukurnya gimana? Bisa pakai addon di browser kamu. Saya juga sudah jelasin di bagian optimasi image untuk keperluan SEO. Tautannya sudah ada di atas. Silakan disimak lagi, kalau misal belum sempat simak ya.

Kalau sudah ketemu ukurannya, baru deh kamu bikin di Canva, pakailah Custom Dimension, supaya bisa disesuaikan dengan kebutuhanmu.
Tinggal diisi aja, kamu butuh space lebar berapa kali panjang berapa pixel.


Berapa pun ukuranmu, nanti Canva secara otomatis akan menawarkan berbagai template dengan dimensi yang kurang lebih sama. Jadi, kamu tetap bisa memilih dari yang sudah ada.



Bottom Line Is ...

Jangan pernah takut untuk membuat header blog sendiri. Nggak pernah ada desain yang salah, ataupun desain yang benar. Hanya saja memang ada pengaruh "preferensi" dan "selera" yang memengaruhi.

Bagaimanapun, kamu pasti mau kan supaya banyak orang betah tinggal di blogmu dan baca-baca artikelmu? Makanya, semakin banyak selera orang yang bisa kamu jangkau, maka semakin okelah desainmu itu.

Gitu aja sih.

 Tidak ada karya yang buruk jika kamu menyiapkan secara matang. 

Pokoknya, perhatikan betul font pairing dan color pairing. Asal kamu menerapkan 3 prinsip desain di atas, jamin deh, desainmu akan "aman".

Selebihnya, kamu dapat mengeksplor sendiri dengan melihat header blog milik orang lain. Boleh dijadikan referensi, namun jangan sampai terpatok untuk mengejar hasil tersebut. Kumpulkan ide tersebut, lalu satukan. Lebih bagus jika kamu punya konsep segar dan berbeda. 

Have fun!



Self-publishing, atau menerbitkan buku secara mandiri a.k.a menerbitkan indie biasanya ditempuh oleh mereka, either yang pengin punya karya buku idealis (yang gue banget) atau mereka yang sudah nggak sabar nunggu keputusan penerbit mayor yang suka PHP.

Ya, akhir-akhir ini memang semakin banyak orang yang  adalah menerbitkan buku secara mandiri, langsung oleh penulisnya--tanpa melalui penerbit--dari proses pengelolaan penerbitan buku hingga proses pemasarannya.

Seperti acara Stiletto's Freetalk Jumat kemarin yang saya lakukan secara live di Instagram Stiletto Book, penerbitan indie ini merupakan pilihan yang bebas bagi setiap orang, demi mewujudkan mimpi punya buku sendiri. Ya, semacam proyek idealis gitu deh.

Tak kurang dari Krishna Pabichara, Bernard Batubara, Agus Noor, dan beberapa penulis "kelas berat" lainnya pernah suatu kali menerbitkan buku lewat jalur indie, demi terpenuhinya "hasrat pribadi".

(((hasrat pribadi)))

Ya, memang itulah keunggulan buku indie. Kita bisa bikin buku seperti apa pun yang kita mau. Kalaupun ada penerbit yang memfasilitasi dan membantu kita dalam soal editing, nambahin ISBN, proofreading, bikinin cover dan layout, kayak Stiletto Indie Book--tetep iklan ya, cyint!--tapi keputusan terakhir mengenai seperti apa buku yang akan kita buat tetap ada pada penulis.

However, karena semua proses dilakukan oleh diri sendiri maka biasanya kamu akan terbentur dengan masalah-masalah yang mesti kau hadapi dan akhirnya membuat banyak kesalahan. Kesalahan-kesalahan ini kadang bikin penjualan buku kita failed. Atau, kadang bikin kita stuck di tempat. Dan, akhirnya jadi penulis (yang benar-benar) idealis tapi minim reputasi, dalam arti nggak peduli kebutuhan pembaca.

Nah, ini nih. Yang mau saya bahas sekarang.

Sebagai seorang penulis dan "produser" kurang lebih 10 buku indie *HASYAH!*, saya juga melakukan kesalahan berikut. So, kamu barangkali bisa belajar dari semua kesalahan saya itu, untuk kemudian menjadi catatan agar nggak mengulangi kesalahan yang sama.



Beberapa kesalahan yang pernah saya lakukan ketika menerbitkan buku indie

1. Pengin segera punya buku

Ini adalah kesalahan pertama yang saya lakukan saat mulai menerbitkan buku indie. Saya pengin cepet-cepet punya buku sendiri.

Padahal kemampuan masih minus.

Penerbitan indie ini sebenarnya prosesnya begitu sederhana. Ketika kamu menyelesaikan buku pertamamu dalam format Word, kamu pun bisa segera mengirimkannya ke penerbit indie untuk kemudian dicetak langsung menjadi buku.

Begitu bukumu published, dan covernya nongol di website penerbit indie, maka saat itu pula, kamu bisa membaptis dirimu sendiri sebagai seorang penulis.

Dan, kemudian yang terjadi adalah para pembaca buku--yang telah "merelakan" uang mereka untuk membeli bukumu itu--akhirnya harus mengonsumsi buku yang terburu-buru kamu terbitkan.

Sadar nggak, dengan demikian kamu sudah mengecewakan mereka? Mungkin mereka masih akan memberikan feedback yang bagus, karena mereka temanmu. Mereka sayang sama kamu. Mereka hanya berbaik hati dan berusaha mendukung ke-halu-anmu untuk menjadi penulis.

Kalau dipaksa jujur, we never know what they would say. Right?

Ingat.
Penulis indie adalah sekaligus "produser". Produk yang diciptakan dengan buruk akan selalu menarik kritik, publisitas yang buruk, dan membuat orang malas pakai. Demikian juga dengan buku.

Jadi jangan pernah terburu-buru menerbitkan sebuah karya yang dapat membuat reputasimu menjadi jelek.


2. Menganggap diri sendiri pinter banget




Dulu, pertama kalinya saya menerbitkan buku indie, penerbit indie enggak ada yang menyediakan fasilitas editing. Saya sendiri juga enggak ngerti, pentingnya seorang editor dalam proses penerbitan buku.

Saya pikir, "Eikeh kan gape nulis. Eikeh tahu kok kata yang bener dan yang enggak."

SALAH.

Ternyata saya nggak sepinter itu.

So, let's learn.

Sekali lagi, teman-teman dan orang terdekat kamu pastinya akan mengatakan bukumu adalah buku terbaik, fantastis, dan luar biasa. Itu karena mereka tidak ingin melukai perasaanmu.

Bisa saja buku kamu sebenarnya mengerikan karena penuh dengan kesalahan tata bahasa, ejaan dan tanda baca di atas ratusan kesalahan ketik konyol lainnya.

Hal yang perlu dipelajari: peran editor itu penting! Atau seenggaknya first reader. Mereka akan bisa membantu kita, untuk "mencari letak kesalahan". Yes, ada kalanya kita memang mesti "nyari-nyari kesalahan". Supaya apa? Ya, supaya bisa diperbaiki.

Jangan hanya puas dengan satu orang editor atau first reader. Bahkan kalau perlu, cari beberapa orang sekaligus yang kalau kasih kritik pedesnya minta ampun. Siap-siap baper dan pundunglah kamu ya. Karena fase itu akan selalu ada.

Dapatkan semua umpan balik yang penting, bantuan, dan bimbingan yang kamu bisa.


3. Tanpa Konsep

Karena kesalahan poin pertama, maka terjadilah kesalahan poin ketiga ini.

Berpikir untuk segera bisa punya buku, bikin saya menerbitkan buku tanpa konsep sama sekali. Asal ngumpulin (atau bikin tulisan) tanpa konsep. Atas nama kebebasan berekspresi.

Well, ada baiknya sih, ketika kamu mulai berpikir untuk membuat buku, bayangin dulu, bukunya nanti akan seperti apa. Cari deh referensi yang banyak. Main ke toko-toko buku. Zaman sekarang buku-buku itu semua berkonsep lo. Kamu bisa mengadopsi salah satu ide konsep buku, lalu modifikasi dengan caramu sendiri.

Misalnya, sudah beberapa kali saya bikin buku dengan berkonsep kumpulan kisah dengan ilustrasi surreal di masing-masingnya. Konsep ini akhirnya "gue" banget, meski saya mendapatkan ide ini dari buku lain. Nope, ini bukan ide original saya. Tapi somehow, bukunya tetap gue banget kan?


4. Tanpa rencana

Nah, bagusnya, konsep buku ini juga kemudian diikuti dengan rencana pemasaran.

Berpikir untuk jualan buku secepatnya begitu sudah selesai hanya dengan menyodor-nyodorkannya di depan hidung orang supaya dibeli, itu adalah kesalahan yang umum.

Ini juga menjadi kesalahan saya dulu. Setelah beberapa lama belajar marketing, baru deh saya tahu kesalahan saya ini menyebalkan banget :))

So, mau menerbitkan buku indie? Kamu mesti punya strategi pemasaran, cyint. Kenapa? Nah, penyebab kesalahan ini ada di poin kelima di atas. Hahahah.

Jadi, kita akan langsung ke strategi pemasaran yang sudah pernah saya lakukan aja deh. Siapa tahu, kamu bisa adopsi dan sesuaikan dengan kebutuhanmu sendiri. Misalnya begini.

Coba bikin step by step rencana penjualan bukumu. Contohnya:

  • Bukti terbit dapat 8 buku (misalnya nih), 2 buku untuk giveaway di akun Instagram pribadi. 2 buku lain untuk dikirim ke teman yang followernya banyak, untuk direview dan diendorse. 2 buku untuk giveaway di komunitas (pilih yang anggotanya banyak).
  • Seminggu 4 kali akan upload foto buku di Instagram dengan berbagai gaya dan angle.
  • Coba cari celah di mana bisa bikin acara bedah atau diskusi buku, baik itu online maupun offline. Kalau punya komunitas yang diikuti, coba deh sepik-sepik adminnya siapa tahu dibolehin bikin bedah buku atau kulwap gitu.
  • Coba cari informasi beberapa toko buku online perorangan yang mau ngebantu jualin. Misalnya nih, saya pernah menghubungi toko buku indie agar bisa nitip buku-buku saya. Ternyata cukup mudah kok syaratnya. Mereka minta bagi hasil sekian persen (tergantung kebijakan toko bukunya) dan kita harus menyediakan stok buku barang 5 biji. Dengan royalti buku indie yang rata-rata 50% lebih itu, marginnya masih masuk kok. Let's say kita enggak dapat royalti 50% lagi, tapi 30% misalkan. Kan masih lumayan?  Orang royalti mayor aja "cuma" 10% :))
Nah, jadi rencanakanlah "kelahiran" bukumu from A to Z ya. Ini bukumu loh! Buku yang kamu banget! 


5. Berpikir penerbit akan membantu penjualan bukumu

So, memang kamu yang harus terlibat from A to Z. Kenapa? Ya karena ini buku indie! Buku yang bukan berada di dalam area penerbit.

Banyak lo ini, penulis pemula yang salah paham. Dikiranya, tanpa perlu dia bekerja keras, buku akan laris sendiri.

Terus, ketika penerbit nggak transfer royalti, jadi baper. Terus ngomel, nggak cuma dengan meneror penerbit, tapi misuh-misuh di media sosial. Bilangnya, penerbit ini penipu!

YHA!



Ini buku indie, Zheyenk. Buku indie adalah buku yang berada di dalam tanggung jawabmu sendiri. Penerbit mah ... emang nggak akan ngapa-ngapain. Salah besar kalau kamu hanya mengandalkan penerbit buat memasarkan bukumu.

Kalaupun penerbit lantas mempromosikan bukumu juga, itu adalah PRIVILEGE. Nggak semua penerbit indie mau dan bisa mempromosikan buku dengan baik lo.

Untunglah saya enggak pernah melakukan kesalahan yang ini sih.
Tapi, biasanya justru kena omel sama penulis yang melakukan kesalahan ini. Hahaha.

Dikomplen, "Kok buku saya enggak pernah dipromosiin? Jadinya nggak laku kan?"

Duh, cyint. Kamu dong yang gencar promosinya. Penerbit mah punya jadwal promosi, dan semua buku indie punya jatah dipromosikan. Lu emang siapa, minta buku dipromosiin terus-terusan?

Wqwqwq.
Meh. Coba ya, dibaca MoU-nya. Biasanya sih soal promosi ini juga sudah ada di MoU.





Penerbitan buku indie memang masih sangat baru trennya ya, dan belum matang sehingga semua yang terlibat di dalamnya masih bereksperimen. Bukan hanya penulis, tetapi juga para penerbit dan toko buku indie.

Semua orang bisa membuat kesalahan. Kita semua belajar.

Jika kamu baru dalam hal penerbitan buku indie, maka mungkin dengan membaca 5 kesalahan perihal menerbitkan buku indie di atas dapat membantumu untuk mengurangi kesalahan yang sama.

Memang saya adalah markom Stiletto Book. Tapi saya juga penulis buku indie. So far, saya lihat sistem penerbitan indie di Stiletto Indie Book masih "agak" lebih baik dari yang lain. Saya sendiri terlibat di dalamnya untuk bisa meningkatkan mutu pelayanannya.

So silakan, kepoin Stiletto Indie Book, jika kamu pengin menerbitkan buku indie. Ke depannya, saya juga akan banyak bikin diskusi seputar menerbitkan buku indie melalui Instagram Live di akun Instagram Stiletto Book. 

Setiap Jumat pukul 11.00--insyaallah--akan selalu ada Stiletto's Freetalk. You're invited to get involved. Bolehlah difollow dulu, lalu tandain hari Jumatmu ya. Karena di Stiletto's Freetalk itu kita akan ngobrol tentang banyak hal--terutama soal menerbitkan buku indie.

Cya there!

Jangan Mentang-Mentang Influencer


Oke, disclaimer dulu. Artikel ini akan terlalu nyinyir. So, you've been warned ya. Kalau enggak tahan dengan "nada" nyinyir seorang haters, kamu boleh kembali menutup artikel ini, dan pindah ke artikel lain yang lebih berfaedah. Di blog ini tentunya :P

Beberapa waktu belakangan, saya sungguh begah dengan berbagai kondisi yang dishare oleh orang-orang di jagat media sosial terkait perilaku influencer. Maap, saya males nyari atau skrol timeline untuk memperlihatkan beberapa berita mengenai perilaku influencer yang minus. (Iya, saya akhir-akhir ini makin malesan, apalagi kalau soal hal-hal yang nggak ada faedahnya buat saya or kerjaan.)

Tapi yah, sebersih-bersihnya saya setting timeline Twitter, beranda Facebook, dan timeline Instagram, teteup ya, pada keliatan. Wqwqwq. Mutual saya memang luar biasa sik.

Dan, jujur, saya malu sendiri liatnya.

Ada influencer yang katanya minta gratisan 500 risoles untuk ditukar dengan so-called exposure berupa foto di feednya yang berfollower katanya ratusan ribu. Ada influencer lain di luar negeri berfollower 50K something, yang minta gratisan paket wedding ke sebuah wedding organizer senilai ribuan dolar, untuk ditukar dengan foto di feednya.

... daaan berbagai cerita yang lain.

Kalau nemu tweetnya, bakalan ada tuh reply-reply dari orang-orang yang pernah ngalamin hal yang sama: influencer minta gratisan untuk ditukar dengan foto.

So, mau tau "dosa-dosa" influencer yang lainnya?

Wuidih, Carra is playing God.

Nope, I don't. Saya bukan siapa-siapa, hanya seseorang yang mempergunakan media sosial untuk belajar, mencari informasi, mendapatkan data untuk kemudian dibuat artikel, dan untuk nyinyir.

Yes! Saya hanya bagian dari netijen mahabenar, penonton yang berhak menilai tontonan yang ditontonnya, karena yang menyajikan tontonan mempertontonkan tontonan yang sungguh tak enak untuk ditonton.

Right? Kek kalau lagi nonton tivi atau nonton film, kita boleh dong ngomenin acaranya kan? Boleh ngereview filmnya sejujur-jujurnya kita kan? Menghargai yang bikin tontonan? Of course! Kalau yang dihasilkannya memang layak untuk dihargai. Kalau enggak?

Hei, bukankah mereka bikin sesuatu itu untuk kita tonton?

Hahaha. Mbulet tur nyinyir. Biarin.

Anyway, balik ke laptop.

Yes, "dosa-dosa" berikut sering dilakukan oleh influencer, yang sebenarnya kemudian menjadikan mereka pun "setara" dengan netijen mahabenar. Saya menuliskan ini bukan untuk menghakimi mereka, sebenarnya juga. Tujuannya jelas, supaya kita bersama bisa belajar dari kesalahan orang lain.

See? Nggak selamanya nyinyir itu unfaedah. Bisa juga kan nyinyir berfaedah.

Lagi pula, mungkin kesalahan-kesalahan ini juga MASIH saya lakukan. So, I think it's also good for myself.

Disclaimer lagi: sebagian cerita di bawah ini, saya alamin/lihat/dengar sendiri ceritany dari pihak yang benar-benar mengalaminya.



3 Dosa So-Called Influencer yang Sering Kejadian Belakangan Ini



1. Menilai diri sendiri terlalu tinggi

"Eh, kirimin aku produk dong. Ntar aku posting bareng karya seniku deh. Jadi background gitu," sapa seorang so-called-influencer-yang-juga-self-proclaimed-artist berfollower 5K (sedangkan follower brand-nya 80K) ke pemilik brand yang akun Instagramnya saya kelola.

Hal pertama yang nongol di benak adalah: dengan 5K, kamu bisa apa untuk bisnis brand yang followernya sudah 80K? Tapi ya sudah, sama pihak pemilik bisnis--yang katanya masih teman--dikiriminlah itu produk. Free.

... dan ternyata, enggak pernah diposting juga sampai sekarang.

Pantes nggak kalau lantas dipertanyakan, "Are you serious? Like, seriously?"

"Kirim produk ke aku dong. Nanti aku promoin."

Oh yeah? Kalau dikirim beneran, kamu emang bisa bawa berapa orang yang mau beli produknya bener-bener? Kan katanya mau promoin? :P

Pertanyaan itu seharusnya dijawab dulu, sebelum kamu berani mengajukan diri untuk menjadi kepanjangan tangan para brand marketing. Meski memang, kan ini soal brand awareness. Tapi ini bukan berarti tidak bisa diukur. Beberapa hal yang seharusnya tercapai setelah menyewa jasa influencer yang bisa menjadi tolok ukur kesuksesan strategi marketing influencer ini adalah:
  • Follower brand nambah, engagement naik.
  • Peringkat untuk kata kunci tertentu di SERP naik
dan beberapa hal lain. Silakan ditambahkan buat para digital marketers :P

Beda pastinya, kalau si brand yang datang padamu dan menawarkan kerja sama. Tentunya, mereka sudah melakukan riset lebih dulu. Dan, mereka juga sudah bisa membayangkan, KPI seperti apa yang bisa kamu capai.

However, mungkin kemudian ada pertanyaan lain yang kemudian muncul, "Berarti, kita nggak boleh dong, mengajukan diri ke brand?"

Boleh lah dong deh ah! Apalagi kalau kamu adalah bloger/influencer yang memang kenal betul dengan value dirimu sendiri. Saya pernah nulis tip melamar brand secara sopan dan etis. Tip tersebut saya kumpulkan dari bloger-bloger luar, dan juga ada sedikit insight dari seseorang yang bekerja di digital marketing. Silakan dibuka dan dibaca-baca kalau butuh yah.


2. Ga tau diri

Oh, mungkin terdengar kasar sih. Tapi saya enggak bisa menemukan frasa lain yang lebih tepat selain itu.

"Oh, mau aku promosiin? Feenya dua juta yah, satu foto di feed," kata seseorang yang lain lagi--yang lupa akan utangnya yang sudah pernah diputihkan--pada seorang pemilik brand yang lagi-lagi akun Instagramnya saya kelolain.

Oh yes, cerita ini nyata. Real. Benar-benar terjadi.

Lucu. Barangkali dia memang amnesia ya? Entahlah.

Apa perasaanmu, kalau kamu yang ngalamin jadi orang yang dimintain gitu sama influencer? Saya sih terus terang sakit hati. Oh, cukup tahu aja sih. Dan akan langsung black listed.

Sama aja kek influencer yang pesan 500 risoles buat ditukar sama foto di feed dan story.
Yawlah! 500 risoles!
Ngelipetnya itu pegel banget, Mbaque. Eikeh bikin sosis lilit mie 12 bijik aja langsung encok!
500 risoles, dituker foto.
YHA!



3. Black marketing

Inget kasus Mandiri error kapan hari? Yang bikin para netijen panik? Ada yang kehilangan saldo 25 juta, tapi juga ada yang ketambahan saldonya sampai 9 juta?

Salah satu so-called influencer ngetweet kurang lebih begini, "Mandiri error, orang panik, baru diinformasikan kalau ada maintenance. ****** mau ada maintenance, sudah sejak kapan hari diinformasikan, blablabla..."

Siapa dia? Hahaha, jangan disebutin. Silakan dijawab di dalam hati sadjah.

Ok. Saya sih tahu, dese sedang menyoroti dan mengomplain sebuah layanan (mungkin dengan maksud) agar kualitasnya bisa diperbaiki.
TAPI, seharusnya dia bisa lebih bijak.

Apakah dia sudah mengecek, kalau maintenance bank itu sudah pasti dilakukan secara teratur? Dan, di situlah error selalu ada. Si ****** memang menginformasikan maintenance, tapi memangnya dalam maintenance itu nggak akan ada risiko error yang tidak bisa diprediksi? So...?

Mendingan, kalau memang dia mau mengritik layanan Mandiri, ya udah sih, fokus di Mandirinya aja. Gosah pake membandingkan dengan yang lain.

Bahkan nih ya, akan lebih bijak pula, kalau dia bikin followernya educated dengan menyarankan--misalnya--makanya penting bagi kita untuk tidak menyimpan duit di satu tempat saja.

Bukankah kalau kek gitu akan lebih berfaedah?

Ada yang lebih lucu lagi.

Ada influencer, komplaiiiin mulu akan satu layanan provider. Tiap kali ada buzzer lain yang lagi campaign, dia akan nyaut dengan nada nyinyir.
Turns out, one day, saya menemukan dia ngebuzz layanan provider yang sebelumnya dia komplain mulu.

HAHA!
Can you imagine, how does that look? Ridiculous!

Salahkah saya, kalau kemudian saya berpikir, "Kemarin komplain-komplain mulu, jenjangan karena iri ga dapet job." :P

Yes, people. Your social media account is your rule, of course. But if you have tons of followers, you better learn how to be wiser.

Hanya sekadar mengingatkan. *icon sembah*




So, just because you're influencer, it doesn't mean that you're always right.
Meski kita punya follower banyak dan bejibun, nggak selalu kita bener. Pun, follower dan nyinyir-ers--kek saya--juga nggak selalu bener.

Ugh. Saya sendiri juga masih sering sih melakukan dosa-dosa di atas. Hanya saja, follower saya enggak banyak, jadi ya belum terlalu kelihatan. Wqwqwq. Tapi saya juga yakin sih, saya juga dinyinyirin di luar sana. Wakakak. Biarinlah, kalau memang kamu punya nyinyiran buat saya, dan seharusnya saya tahu, please ... do not hesitate to write it on comment ya :P

Ada bagusnya juga untuk saling wawas diri aja. Ngeliat kesalahan orang lain, itu kadang ada perlunya juga. Asal kita nggak ngejudge, dan jadikan sebagai pelajaran buat diri sendiri. Jangan sampai melakukan kesalahan yang sama.