Konten adalah 'jiwa' pada sebuah situs--termasuk di dalamnya adalah blog. Dan, konten berupa tulisan sampai saat ini masih mendominasi dunia maya, meski konten berupa video dan foto semakin banyak dan lebih digemari.

Kata salah satu mentor saya, mau sampai kapan pun, konten berupa tulisan masih tetap dibutuhkan, meski video sudah mengambil alih. Seenggaknya sebagai caption, kita masih tetap akan butuh skill copywriting yang mumpuni.

Makanya profesi seorang content writer masih jalan, meski sekarang sudah mulai sedikit terdesak oleh keberadaan para content creator. Ya gimana enggak terdesak, content writer bayarannya receh banget, sist. Beda sama para pembuat video--apalagi yang hasil karyanya memang profesional banget--yang bisa mengantongi uang sebanyak 7 digit sekali bikin.

Cuma ya, tetap ada kok yang memilih untuk menjadi content writer, dan berada di balik banyak tulisan atau artikel ini. Saya, contohnya. :)))

Cuma (lagi) kalau mau bisa menghasilkan banyak, ya kerjanya mesti militan. :)) Hard truth it is. Tapi, emang ada kerjaan yang gampang: sesuai passion, santai, dibayar mahal, bisa wifian gratis, bisa sambil streaming film?
Yhakali ada, bisa info saya. Saya mau.

So, kadang seorang content writer memang butuh untuk bisa cepat menghasilkan tulisan. Saya sudah pernah menulis tentang menghasilkan 20 artikel seminggu. Tapi coba kita bahas lagi.


5 Langkah menulis artikel secara cepat

1. Tentukan Tujuan

Yang pertama kali mesti ditentukan adalah tujuan artikel yang hendak ditulis.
Ada beberapa elemen yang mesti segera ditetapkan:

  • Pembacanya siapa, dan seperti apa?
  • Pesan apa yang dibawa oleh artikelnya?
  • Setelah pembaca selesai membaca artikel nanti, harapannya mereka akan seperti apa? Atau, merasa bagaimana?
Ketiga elemen tujuan artikel di atas nantinya akan menentukan gaya bahasa yang kita pakai, poin-poin apa saja yang jangan sampai lupa tertulis dalam artikel, dan emosi seperti apa yang harus dimasukkan ke dalam artikel.



2. Bank Ide yang Kuat

Untuk bisa nulis artikel secara cepat--katakanlah 1000 kata sejam beres--maka kamu harus didukung oleh bank ide yang kuat.

Saat kamu duduk, buka laptop, baru mikirin mau nulis apa, itu berarti kamu sudah membuang waktu sekian menit untuk menulis.

Jadi, agar proses menulismu lebih efektif dan efisien, kamu harus tahu dulu apa yang ingin kamu tulis sebelum mulai menulis artikel.

So, manfaatkan segala hal yang bisa digunakan: Evernote, Feedly, Trello, notes, voice notes, apa pun untuk mengumpulkan ide sembari beraktivitas sehari-hari. Atau kalau enggak, buat waktu untuk sekadar brainstorming di jam-jam atau hari-hari tertentu. 

Kamu juga bisa melihat data-data statistik dalam blog, untuk mencari ide. Lihat ke Google Analytics, Buzzsumo, atau skrol media sosial untuk lihat trending topic.



3. Langsung Buat Kerangka Berupa Poin-Poin

Ada yang suka bikin draf tulisan di MS Word, terus baru dikopi ke notepad, terus baru kopi lagi ke blog? (Please jangan tanya, kenapa mesti kopi dulu ke notepad, please T__T)

Saya juga begitu.
Tapi kalau waktunya nggak mepet. Itu memang langkah paling ideal.

Namun, saya lebih sering begini:

  • Langsung bikin kerangka di dasbor blog. Kerangka ya, bukan menulis dari pembuka terus lanjutin ke bawah. Kerangka berupa poin-poin. Kayak tulisan ini saya buat langsung ke poin dulu: 1. Tujuan 2. Bank ide 3. Kerangka 4. Singkirkan gangguan 5. Aturan dan seterusnya. Tanpa opening dan closing.
  • Kembangkan masing-masing poin, beri penjelasan. Jaga supaya nyambung antar poinnya.
  • Poin selesai, tulis opening. Bikin yang hooking.
  • Lalu tahap berikutnya closing, bikin kesimpulan.
  • Baru kemudian garnishing, masukkan pendukung-pendukung visualnya.
Dengan cara begini, proses menulis saya lebih cepat ketimbang kalau saya menulis urut dari opening, lalu poin-poin, baru closing--yang kadang malah bikin mandek di tengah-tengah karena ilang mood :))

Kalaupun bentuknya bukan listicle yang berupa poin-poin, maka saya tuliskan dulu subheading-subheadingnya. Itu sebagai kerangka awal. Terus langsung kembangkan saat itu juga. Selanjutnya sama, opening dan closing belakangan.


Baru kemudian kalau tulisan sudah jadi, baru saya kopas ke MS Word as a backup.

Oh, satu lagi.
Jangan menulis sambil ngedit. Sudah pasti nih, prosesmu akan terganggu dan lebih lambat. Jadi, bablas dulu aja. Saat sudah selesai proses menulis, baru kamu bisa balik lagi ke atas untuk baca ulang secara cepat. Lalu perbaiki hal-hal yang perlu diperbaiki.


4. Singkirkan Semua Gangguan

So, mau nulis fokus dan cepat? Jangan sampai terdistraksi.

Itu adalah hal pertama yang memang menjadi penghambat proses menulis adalah adanya pengganggu-pengganggu ini. Apa saja sih yang bisa jadi pengganggu proses menulis? Nih, ada nih artikel di Stiletto Book nih. Silakan disimak deh ya.

Nah, coba singkirkan ketujuh-tujuhnya ya, kalau mau beneran fokus menulis.

Ciptakan lingkungan yang tenang dan jauh dari hal yang dapat mengalihkan perhatianmu. Jika tidak membutuhkan internet, matikan saja WiFi dan data internetmua. Matikan pula notifikasi gadget kamu supaya tidak terganggu.

Jika kamu harus menambahkan gambar ke blog, maka tandai dulu dengan tulisan seperti [TAMBAHKAN GAMBAR DI SINI] sehingga kamu dapat terus menulis tanpa gangguan. Baru mencari gambar yang pas nanti kalau sudah selesai menulis.


5. Punyai 'Aturan' Baku Sendiri

Saya punya semacam guideline sendiri untuk menulis di blog ini. Misalnya seperti:

  • Untuk subheading, formatnya bagaimana
  • Untuk foto, formatnya bagaimana, ukuran standar berapa, alignnya bagaimana.
  • Jeda antar paragraf atau subheading, berapa kali enter.
  • Kalau di Wordpress yang sudah pakai Gutenberg, ada spacer, besarnya berapa.
Semua sudah ada ketentuan sendiri, dan selalu saya pakai standar yang sama. Karena berulang saya pakai, hingga saya hafal sendiri dengan standar-standar itu. Sehingga sekarang kalau nulis, jarinya udah bergerak sendiri aja mengatur semuanya sembari nulis.

Proses menulis artikel yang sistematis akan memandu kamu dalam menyajikan konten blog secara cepat. Kamu nggak perlu mikir lagi setiap kali bikin konten baru. Satu-satunya hal yang mesti kamu lakukan hanyalah menulis konten.

Bagaimana cara mencari 'aturan' baku untuk blog sendiri ini?

Well, untuk menulis konten yang bagus, kamu harus menyajikannya agar mudah bagi pengunjung untuk membaca dan memahami. Betul?

Jadi, mulailah dari sini: Formula seperti apa yang harus dipenuhi agar menghasilkan konten yang enak dibaca? Mungkin artikel saya di Indoblognet ini bisa membantu.

Lalu, lihatlah setiap postingan blog kamu dan cari polanya. Semakin banyak pola yang terdeteksi, semakin mudah untuk mendeteksi gaya penulisanmu.



Nah, itu dia beberapa langkah menulis artikel secara cepat. Tentu saja, lepas dari kualitas topik artikelnya sendiri ya. Tapi kalau di saya sih, dengan langkah-langkah tersebut, saya bisa bikin listicle populer sepanjang kurang lebih 1000 kata, dalam waktu satu jam saja.

Oh iya, ada lagi nih.

Sudah pernah nyobain Speech to Text belum?
Ada fiturnya sih di Google, jadi biasanya juga sudah terinstal di hape masing-masing. Tapi yang berbasis web pun ada.

Seperti Speechnotes.co.

Saya baru mau coba sih. Nanti saya update kapan-kapan kalau sudah dapat hasilnya yah.

Membuat konten baru dengan cepat adalah kebiasaan yang berkembang seiring waktu. Jika kamu berkomitmen untuk mengeluarkan konten baru setiap hari, meskipun itu hanya selama 15 menit pada beberapa hari, pada akhirnya kamu akan menjadi seorang yang profesional.


Guest post 5 Kiat Sukses Menjadi Freelancer ini ditulis oleh Indri Ariadna untuk CarolinaRatri.com


Mengutip dari wikipedia, freelancer atau pekerja freelance adalah istilah yang sering digunakan untuk seseorang yang bekerja secara mandiri dan tidak mempunyai kewajiban untuk bekerja dalam waktu yang lama (jangka panjang) untuk satu klien.

Saya sudah menjadi freelancer di Upwork mulai dari tahun 2016. Gak terasa, sudah hampir 3 tahun ^^

Meski belum terlalu banyak pengalaman, tapi sampai dengan tulisan ini terbit, saya sudah bekerja selama 792 jam dan ada juga beberapa fixed rate kontrak. Total sampai sekarang ada 43 job. Total pendapatan $9K+

Jadi, bolehlah ya kalau saya memberi sedikit saran buat kamu yang punya cita-cita atau keinginan untuk bekerja dari rumah.

Nah, berdasarkan pengalaman pribadi, menjadi seorang freelancer itu tidak mudah. Sangat tidak mudah. Apalagi freelancer di Upwork yang notabene saingannya dari seluruh dunia. Serius …

Tapi layak untuk ditekuni karena pendapatan yang dihasilkan juga lebih sip karena berbasis dolar.
Apalagi kalau nilai tukar dolar sedang tinggi … wuihh dari selisih nilai tukarnya aja mayan banget ^^

Memang benar bahwa bekerja dari rumah itu menyenangkan, bebas gak ada yang mengatur plus gak ada yang mengawasi. Karena pekerjaan sebagai freelancer tidak terikat tempat dan waktu, hal ini bisa menjadi keuntungan tersendiri buat kalian yang menginginkan kebebasan dalam bekerja.

Semakin padat dan macetnya lalu lintas yang bisa membuat stres, juga bisa menjadi alasan lebih memilih bekerja dari rumah dibandingkan harus ngantor setiap hari. Daripada setiap hari stres ya kan?

Buat ibu-ibu rumah tangga, tidak harus merasa bersalah karena meninggalkan anak dan keluarga untuk ngantor setiap hari nine to five.

Tapi ternyata, bekerja dari rumah juga penuh distraksi dan tantangan. Kapan-kapan deh saya curhat lagi hahaha.

Nah, khusus buat kalian, saya mau berbagi kiat sukses sebagai freelancer pemula.
Apa saja?

Ini nih 5 kiat sukses menjadi freelancer pemula


1. Buat portfolio

Portfolio ini ibarat etalase jualan untuk memajang produk apa saja yang kamu jual. Dalam hal ini, portfolio berfungsi untuk pamer memajang skill-skill atau kemampuan atau keahlian apa saja yang bisa kamu jual sebagai freelancer.

Kamu ahli desain grafis? Atau ahli menerjemahkan bahasa? Ahli me-manage media sosial? Ahli dalam hal data entry? Appointment setter? Content writing? SEO? Upload semua file-file hasil pekerjaanmu untuk di jadikan portfolio. Kamu bisa menggunakan aplikasi Canva atau Picmonkey untuk membuat portfolio yang menarik.

Selain portfolio, jangan lupa untuk membuat deskripsi profile. Jadi, selain menampilkan portfolio yang lengkap, beri perhatian juga untuk profile. Buat deskripsi profile yang menarik, berisi keahlian apa saja yang kamu tawarkan, harga servis, berapa lama biasanya kamu bisa menyelesaikan satu job, software atau aplikasi apa saja yang kamu kuasai.

Banyak yang bertanya ke saya via email dan komen di blog, kalau belum punya portfolio bagaimana? Kan, belum pernah dapat job?

Ehmmmm… kreatif dikit dong, Adek.
Kalau misalnya kamu seorang desain grafis, bisa kan ya membuat contoh logo, mock up, brosur tanpa harus dapat job lebih dulu? Ya kan?

So, portfolio itu bisa dibuat sendiri, jangan menunggu dan mengandalkan dapat job dulu baru buat portfolio. Itu pemikiran yang salah.


2. Bisa di hubungi dengan mudah

Salah satu hal yang paling penting dan krusial adalah, sebagai freelancer kamu harus mudah di hubungi oleh calon klien.

Pastikan kamu mempunyai email, Skype atau WA (WhatsApp). Jangan sampai job melayang karena kamu sulit bahkan gak bisa di hubungi oleh klien.


3. Bergabung dengan marketplace freelance

Salah satu cara “menjaring” klien adalah memiliki network yang tepat. Kalau kamu ahli desain grafis, akan lebih oke kalau kamu bergabung dengan 99designs.

Ada banyak marketplace freelance yang bisa kamu ikuti seperti Fiverr, Guru.com, Upwork, dan lain-lain. Kalau kamu lebih memilih bekerja sebagai freelancer lokal, bisa bergabung dengan Sribulancer atau Projects.co.id.

Pilih marketplace yang sesuai dengan skill yang kamu tawarkan ya!


4. Menjadi spesialis

Bukan hanya dokter saja, freelancer ternyata juga harus mempunyai spesialisasi tersendiri. Baru-baru ini Upwork meluncurkan semacam peraturan baru terkait dengan spesialisasi job.

Kalau dulu kita bisa pasang semua skill (general) di Upwork, sekarang ada tab-tab tersendiri untuk masing-masing skill.

Misalnya, saya mempunyai skill sebagai virtual assistant, juga punya skill sebagai content writer. Nah, skill virtual assistant ada semacam page atau laman tersendiri dan skill content writer juga ada tab tersendiri.

Jadi kita harus mengisi servis dan portfolio sesuai dengan skill-skill tersebut.

Menurut Upwork, supaya klien lebih mudah memilah data dari para freelancer yang submit proposal. Kalau dulu general aja cukup, sekarang mulai di spesialisasi.

Saya sih setuju dengan pengerucutan atau spesialisasi jasa/skill ini. Karena semakin kita belajar dan bekerja di bidang yang sama terus menerus, lama-lama kita akan menjadi ahli. Semakin mudah mendapat job dan klien juga semakin mudah menemukan freelancer yang sesuai dengan spesifikasi yang di harapkan.


5. Don’t give up



Grafik di atas adalah data dari Statistika menggambarkan, bahwa pendapatan yang dihasilkan Upwork dari para freelancer-nya dalam 9 bulan pertama 2017 dan 2018, berdasarkan wilayah (negara)asal freelancer.

Bisa di lihat, pendapatan tertinggi yang di dapat Upwork berasal dari freelancer USA, kemudian freelancer dari India dan Filipina. Sisanya berasal dari freelancer selain dari negara tersebut, Indonesia salah satunya.

Seperti yang saya bilang di atas, menjadi freelancer itu tidak mudah. Apalagi kalau saingannya worldwide, dari semua negara. Di tambah lagi, bahasa yang dipakai adalah bahasa Inggris, bukan bahasa sehari-hari yang kita pakai. Beda hal dengan orang-orang India dan Filipina.

Tapi jangan patah semangat, memang di awal memulai akan terasa berat tapi seiring waktu, skill dan pengalaman bertambah dan itu bisa menjadi nilai tambah kita sebagai freelancer.

So, don’t give up!


Catatan Carra

Menjadi Freelancer - A Dream Job?



Saya pernah baca, di tahun 2020 *CMIIW* jumlah freelancer di Amerika saja akan ada 43% dari total jumlah pekerja (usia produktif) di sana. Itu berarti separuh kurang sedikit angkatan kerja zaman now memilih untuk kerja freelance, atau minimal lebih memilih remote working.

Mengapa hal ini terjadi?
Saya mengamati 2 hal: batasan ruang dan waktu ternyata bisa membuat produktivitas dan kreativitas manusia itu jadi nggak berkembang (saya ngalamin sendiri), dan bagi pihak perusahaan sendiri, mereka juga lebih leluasa memilih SDM-SDM yang memang berkualitas, yang sesuai dengan kriteria kebutuhan mereka.

Akibatnya, ada 2 hal juga sih, sependek pengamatan saya. Yang pertama, mau nggak mau kita jadi terpacu untuk mengembangkan diri lebih baik, karena (2) persaingan kerja menjadi semakin kompleks dan luas.

Tentu nggak cuma itu aja sih. Tapi, kebayang kan, hubungan sebab akibat ini? Yes.

Saya sering dapat curhatan. Banyak yang pengin jadi freelancer, karena sebabnya fleksibilitas dan kedengarannya lebih mudah dapat uang. Tapi ya gitu, disuruh nyiapin portfolio, malah bingung. Kan belum dapat job, katanya.

Saya dulu pernah nyiapin nggak kurang dari 100 model desain kartu nama, kartu undangan, dan brosur, buat jual diri, FYI. Masih ada tuh di blog portofolio desain saya.

Siapkan dirimu juga untuk beberapa fakta buruk menjadi freelancer. :))
Kalau sudah tahu faktanya, terus coba lakukan kiat dari Mbak Indri di atas.

And then ... good luck.

Terima kasih, Mbak Indri untuk guest post-nya.

Yang pengin kirimkan guest post juga kayak Mbak Indri, silakan lo! Kirim aja ke email mommycarra@yahoo.com, lalu colek saya di medsos (Twitter, Facebook, Instagram, di mana pun) kapan saja.
Hasil Penelitian Terbaru: Instagram adalah Aplikasi Paling Berbahaya untuk Kesehatan Mental!



Instagram sudah digunakan oleh lebih dari 700 juta orang lebih. Namun, ternyata Instagram menjadi aplikasi yang paling berbahaya untuk kesehatan mental! Ouch!

Kamu suka main Instagram? Ya, siapa yang enggak?
Mengunggah segala macam foto kegiatan sehari-hari, baik kegiatan kamu sendiri atau mungkin foto keluarga dan teman-teman kamu?

Well, kalau iya, mungkin sekaranglah saatnya bagi kamu untuk mempertimbangkan kembali, apakah mau lanjut main Instagram, atau mulai membatasinya.



Media Sosial Membawa Pengaruh Buruk


Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Royal Society for Public Health di Inggris membuktikan, bahwa Instagram merupakan aplikasi media sosial yang memberikan dampak terburuk bagi kesehatan mental penggunanya, terutama bagi kaum muda. Ya, mungkin, kita (kita? saya, maksudnya) merasa sudah nggak muda lagi sih, for some reasons. Tapi, bisa saja hal ini juga mengancam anak-anak yang menjelang remaja.

Penelitian ini sebenarnya dilakukan oleh para developer media sosial untuk memperbaiki platformnya, sehingga pengguna dapat menggunakan aplikasi-aplikasi mereka secara lebih sehat.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti melibatkan responden sebanyak 1.479 orang yang berusia 14 sampai 24 tahun di seluruh Inggris raya, tentang bagaimana Facebook, Instagram, YouTube, Twitter dan Snapchat memengaruhi hidup mereka.

Apakah media sosial ini membuat mereka merasa lebih baik, atau malah justru menjadi merasa lebih buruk?

Responden menjawab 14 pertanyaan secara total tentang setiap platform media sosial, termasuk apakah mereka mengalami perasaan cemas, depresi dan kesepian saat menggunakan aplikasi tersebut.

Penelitian ini juga membahas bagaimana platform media sosial yang ada tersebut bekerja dalam memengaruhi soal 'body image', juga apakah memengaruhi kualitas tidur, serta apakah mereka sering merasa terintimidasi saat menggunakannya dan berinteraksi dengan pengguna lain.

Selain itu, ada beberapa pertanyaan yang juga diberikan untuk menentukan tingkat FOMO (Fears of Missing Out) yang dialami oleh pengguna setelah mereka melihat setiap feed dalam media sosial yang mereka gunakan. Semua ini untuk mengukur setiap dampak situs media sosial terhadap keseluruhan kesehatan dan kepuasan pengguna.

Dan apa hasilnya?


Hasil Penelitian Membuktikan ...


Ternyata, para responden mengaku bahwa Instagram adalah platform media sosial yang paling memberikan pengaruh terburuk dalam kehidupan mereka, terkait soal kesehatan mental, siklus tidur dan kelelahan.

Tempat kedua oleh Snapchat, dan diikuti oleh Facebook, kemudian Twitter. Hanya Youtube yang diakui oleh para responden telah memberikan pengaruh baik dalam hidup mereka.

Instagram telah dinilai memberikan pengaruh buruk, terutama karena efek aplikasi media sosial tersebut pada body image.

"Instagram dengan mudah membuat anak perempuan dan perempuan merasa seolah-olah tubuh mereka tidak cukup baik karena orang menambahkan filter dan mengedit gambar mereka agar mereka terlihat 'sempurna'."

Demikian penjelasan dari salah satu responden yang berasal dari Irlandia Utara dalam penelitian Royal Society for Public Health ini.

Olahan dan editing foto dinilai berkontribusi pada terciptanya "generasi muda yang membenci dirinya sendiri karena kepercayaan diri yang rendah akan body image-nya mereka".

Hmmm. Menarique ya?


Rekomendasi Para Peneliti

Untuk meringankan efek ini, para peneliti merekomendasikan agar para developer platform media sosial menambahkan penjelasan atau memberikan penanda jika ada foto yang telah dimanipulasi secara digital, misalnya dengan memberikan watermark pada foto yang telah diedit atau diberi filter.

Tapi, kok kayaknya ya kurang asyik, kalau tiba-tiba muncul watermark di foto kita gitu ya, Gaes? Hihihi. Iya nggak sih? Atau saya aja ya?

Para ilmuwan juga menyarankan agar platform media sosial mengingatkan pengguna kapan saatnya untuk sign off, atau log out untuk kemudian beralih ke kehidupan nyata masing-masing.

Salah satu sarannya adalah agar developer aplikasi melacak, berapa banyak waktu yang telah dihabiskan oleh pengguna di media sosial, dan memunculkan semacam reminder atau popup saat sudah melewati batas waktu.

Nah, ini sih sepertinya sudah mulai dilakukan oleh Instagram ya? Kayak ada semacam penanda, kalau ternyata kita sudah skrol foto-foto terbaru sampai habis. Iya kan?

Lanjut ~

Penelitian Royal Society for Public Health ini mendukung bukti yang pernah dirilis pada penelitian sebelumnya, bahwa penggunaan media sosial dapat berdampak negatif terhadap kesehatan mental.

FYI, ada studi yang diadakan pada tahun 2015 yang menemukan bahwa, penggunaan media sosial lebih dari 2 jam bisa dikaitkan dengan masalah kesehatan mental, tekanan psikologis dan kecenderungan untuk bunuh diri pada remaja.

Idih~


Lalu, Apa yang Harus Kita Lakukan?

Tapi, saya rasa sih, semua ini pastinya bukan ditulis untuk membuat kamu-kamu jadi menghapus semua aplikasi media sosial yang kamu gunakan. Toh, sebenarnya media sosial juga banyak manfaatnya kan, jika kita bisa bijak dalam menggunakannya.

Misalnya, dalam penelitian tersebut juga ditemukan fakta, bahwa Facebook dapat memberi kesempatan kepada kaum muda untuk belajar tentang hal-hal lain yang mungkin akan dibagikan oleh teman mereka di newsfeed masing-masing.

Media sosial juga bisa menjadi platform positif untuk media pengekspresian diri. Facebook pages dan facebook groups nyatanya juga ada banyak yang bisa membantu pengguna dan individu yang terpinggirkan, untuk menemukan dukungan emosional dan membangun komunitas. Meskipun yaaa dampak yang negatif juga banyak sekali.

Dan, seperti yang sudah saya sebutkan di atas, Instagram tampaknya juga sudah langsung tanggap akan hasil penelitian ini.

Aplikasi smartphone yang memiliki hampir 700 juta pengguna ini telah meluncurkan kampanye untuk memulai awareness mengenai kesehatan mental ini di platformnya.

Sekali lagi, semua memang tergantung pada kita, sebagai penggunanya. Apakah kita cukup smart untuk mengelola diri sendiri saat menggunakan media sosial tersebut?


Mari Detox Media Sosial!

Karena itu, yuk, kita batasi waktu mengakses media sosial jika memang tak benar-benar perlu. Gunakan media sosial hanya untuk memberikan nilai tambah pada diri kita sendiri, karena semua hal yang terlalu banyak atau berlebihan itu tak pernah baik dampaknya.

Saya sendiri sudah memulainya. Kalau setiap hari sih jelas nggak bisa, karena saya kerjaannya di medsos semua :)) Kalau detox tiap hari, saya nggak gajian dong. Bahaha.
Tapi, saya tetap bisa kok detox, yaitu selama weekend.

Yep, selama 2 hari--Sabtu dan Minggu--saya akan logout dari media sosial. Jadi kalaupun ada update, mungkin di Twitter yah, itu adalah autoschedule ya :)) Ya paling kalau update blog, terus ada autoposting aja. Tapi saya nggak buka sama sekali.

Untuk WA gimana? Off juga sih, ya paling saya onlinekan dari jam 11.00 siang sampe pukul 18.00 sore. Selain itu, maap, I will be enjoying my life. Hahaha.

Kamu juga bisa melakukannya. Jangan terlalu mantengin tiap waktu, biar tetep waras.

Hmmm ... mungkin, kamu bisa memulainya dengan meng-unfollow akun-akun Instagram yang isinya hanya ghibah dan gosip, gitu ya? Hehehe.

[Guest Post] Menulis Review Produk Kesehatan: Kalau Mau Sesat, Jangan Ajak Pembaca!


Guest post Menulis Review Produk Kesehatan: Kalau Mau Sesat, Jangan Ajak Pembaca ini ditulis oleh Widyanti Yuliandari untuk blog CarolinaRatri.com


Menulis produk review bagi saya bukan sekadar berhenti di tujuan berbagi pengalaman, lalu selesai. Ada tanggung jawab besar yang saya rasakan, terutama ketika mereview produk kesehatan. Yang saya maksud produk kesehatan dalam tulisan ini bukan hanya obat, suplemen dan semacamnya. Namun bisa juga produk lain yang penggunaannya terkait atau memengaruhi kesehatan--makanan dan minuman diet misalnya.

Saya pribadi merasa harus lebih berhati-hati dalam mereview, karena produk dalam kategori ini termasuk memiliki pengaruh secara langsung pada kesehatan, bahkan keselamatan.

Saya belajar menulis review produk semacam ini sejak 2014. Berkali-kali melakukan trial, dan akhirnya saat ini saya punya berapa ketentuan dalam menulis review produk seperti ini. Ini bukan keputusan akhir. Setiap saat saya merasa oke-oke saja dan bahkan wajib selalu meninjau ulang keputusan terkait apa yang saya tulis, dan bagaimana menuliskannya di blog.

Jadi, bisa saja ke depan formula ini bakal berubah lagi.



Selektif Memilih Produk yang Direview

Mbak, jangan samakan dengan Mbak Wid yang ngeblog cuma buat sekadar beli lipen. Saya ini lo, ngeblog buat beli beras, buat makan keluarga! Macam mana harus pilih-pilih segala? 

Meski hanya percakapan imajiner, tapi inti dari alasan di atas itu sangat sering dikemukakan dalam perbincangan di beberapa grup blogger, ketika kami membahas soal selektivitas terkait apa pun dalam ngeblog.

Saya tidak akan menyarankan teman-teman mengikuti standar saya dalam memilih produk untuk direview. Saya tidak boleh begitu. Saya tahu, bagi kebanyakan blogger persyaratan saya memang terlalu banyak. Tapi sekadar berbagi sudut pandang tentu sah-sah aja.

Misalnya saja.
Susu formula, saya enggak mau review. Produk bergluten, juga saya enggak mau review. Obat- obatan dan suplemen yang tidak saya butuhkan, juga enggak akan saya review. Produk atau kosmetik dengan label “whitening” pun enggak mau (kecuali yang natural). Makanan instan beraditif, juga saya hindari.

Dan masih paaaanjang daftar produk yang sebisa mungkin tidak saya review.

Kenapa? Demi kenyamanan saya sendiri aja. Ini terkait juga dengan pola konsumsi saya sehari-hari. Saya tidak ingin menjadi reviewer yang harus berpura-pura.

Nah, khusus produk terkait kesehatan, paling aman memang seenggaknya cek dahulu, apakah produk memiliki memiliki nomor registrasi BPOM? Saya biasanya mengecek di web resmi BPOM.

Dulu saya punya pengalaman terlanjur menyanggupi review produk yang setelah saya cari ternyata tidak terdaftar di BPOM. Klien berargumen, karena produknya berasal dari luar, maka tidak perlu registrasi BPOM. Sementara yang saya ketahui, meski produk impor, kalau memang akan diedarkan di Indonesia, tetap harus registrasi, dong.

Tapi, saya juga enggak saklek banget.

Suatu saat saya pernah membaca keluhan seorang teman pelaku bisnis bahwa ribet banget ya, ternyata ngurus registrasi BPOM. Menurutnya, semua persyaratan itu sangat susah dipenuhi oleh mereka yang usahanya masih sekelas home industry.

Nah, karenanya saya kemudian mengambil jalan tengah. Ada juga produk tidak teregistrasi BPOM yang saya review. Tapi dengan syarat, saya sudah menggunakannya dalam jangka waktu cukup lama sebelum saya menulis review produk itu.

Bagi saya, selektif memilih produk untuk direview sangat penting. Produk-produk yang terkait dengan kesehatan--terutama suplemen, obat, dan semacamnya itu--terkait banget dengan kesehatan dan keselamatan jiwa pembaca blog teman-teman nantinya.

Menurut saya, kita enggak bisa berdalih, “Ya pembaca dong yang kudu smart!”
Bukankah kita memosting di blog kita. yang berarti kendali penuhnya ada pada tangan kita sendiri? Jadi, wajar dong kalau kita seyogyanya turut bertanggung jawab.


Sekali Lagi Tentang Kejujuran

Jujur, ini sebenarnya kunci utama dari menulis review produk.
Produk apa pun yang direview, ya tetap saja aspek kejujuran kudu dipegang. Tetapi sekali lagi, karena produk dalam kategori ini sangat terkait dengan kesehatan dan keselamatan, maka aspek kejujuran benar-benar super penting!

Contoh.
Sehabis minum suplemen X, lalu terasa lambungnya perih. Ya jangan diam-diam bae. Yang harus dicari tahu adalah apakah penyebabnya? Apakah produk ini memang tidak dianjurkan untuk yang punya masalah lambung?

Maka sebaiknya kita berikan penjelasan dalam review produk yang kita tulis, agar pembaca yang memiliki masalah lambung berpikir kembali sebelum mencoba produk ini.


Kalau Mau Sesat, Sesat Sendiri Aja!

Saya prihatin banget kalau nemuin review produk yang seolah-olah mengajak pembaca untuk abai terhadap suatu upaya sehat, karena udah ada suplemen Nganu yang bisa meng-counter jika terjadi risiko akibat perbuatan kurang sehat tadi.

Gilaks! Sungguh saya pengin misuh rasanya. Makanya saya selalu mengingatkan diri untuk tidak melakukan hal yang sama.

Contohnya gimana sih Mbak?
Oke contoh jelasnya begini misalnya.

Doh... namanya kuliner enak itu susah banget ya ditolaknya. Sedihnya ini umur udah mulai merambat naik ke usia cantik, cin! Makan kolesterol kebanyakan, hasilnya bodi ngambeg. Eh tapi, eyke punya produk andalan nih. Abis kuliner enak-enak full kolesterol, langsung ajah nenggak ini. Enggak pakai acara bodi ngadat deh, cin. Jadi bisa tetap puas-puasin makan itu kuliner yang bergajih full kolesterol yang emang rasanya endyang bambang gulindang. Bikin nagih dan ndak pengin berhenti mengganyang.

Kenapa saya bilang sesat? Enggak usah dipikir njlimet ajah, praktik di atas udah kelihatan ngawurnya.

Menurut saya, begini lo, kalau mau ngawur ya ngawur untuk diri sendiri saja. Jangan mengajak pembaca untuk melakukan kesesatan yang sama.

Kalau mau baik, baru boleh deh mengajak orang lain. Bukankah tujuan awal untuk ngeblog adalah untuk share yang baik-baik? Bukankah kita enggak kepengin besok ada pembaca yang nggeblag gara-gara ngikutin provokasi ngawur kita?

Lagi pula, tujuan dari menulis review produk ini kan “hanya” memperkenalkan produk. Paling pol, kalau ini berbayar, adalah membagi pada publik pengalaman positif menggunakan produk.

Jadi tidak pakai poin menyesatkan tetap bisa kok ya. Kalau ngaku creator konten ya kudu bisa kreatif mengolah, dong.


Mengingatkan Pembaca 

Alangkah baiknya dalam menulis review produk juga ada bagian yang mengingatkan, bahwa kesan atau reaksi yang diceritakan itu adalah murni berdasarkan pengalaman pribadi menggunakan produk yang direview.

Mengingat kondisi orang berbeda-beda, sangat mungkin reaksi di orang lain juga berbeda dengan yang kita rasakan. Jadi, saya merasa perlu mengingatkan pembaca untuk membaca dengan saksama aturan penggunaan, indikasi, kontra indikasi dan segala informasi yang tertera pada kemasan produk.

Jadi seperti itu, teman-teman kiat sederhana saja yang berusaha saya ingat selalu untuk diterapkan. Mungkin ada teman-teman yang punya kiat atau tips untuk hal yang serupa?

Mari cerita di sini.




Catatan Carra


Reaksinya Carra habis baca tulisan Mbak Wid

Job review memang rempong ya, cyuint? =))

Kadang maunya kita, sebagai so-called-influencer, adalah memenuhi KPI dari klien. Klien happy, harapannya besok lagi kita pun dipakai lagi. Begitu profesionalnya kita, hingga kemudian kita malah melupakan bagian terpenting dalam job kita itu, yaitu pembaca.

Kalau sama klien kita ada tanggung jawab profesional, nah kalau ke pembaca, kita ada tanggung jawab moral.

Nggak usahlah soal menulis review produk kesehatan--yang berkaitan langsung dengan keselamatan hidup kita ya. Ikut ngereview produk kecantikan aja, saya mikir dua kali. Kenapa?

Alasan terbesar adalah (selain saya gengges liat muka sendiri) saya merasa enggak punya banyak pengetahuan di bidang tersebut. Sebagai seorang yang ditunjuk menjadi influencer, saya kan harus punya bekal product knowledge dong ya, secara logika? Kalau ada yang nanya-nanya, seharusnya saya bisa menjawab dengan bener, bukan sekadar, "Oh, coba cek aja ke websitenya, yang lebih lengkap." Atau, "Oh, tanya aja langsung ke call center-nya."

Yailah, gitu doang mah, nggak usah hire saya jadi influencer juga bisa. Itu namanya lepas tanggung jawab.

Begitu kita di-hire sebagai influencer--baik dengan cara buzzing di medsos atau menulis review produk di blog--berarti kita sudah menjadi kepanjangan tangan marketing dari brand tersebut.
Ada beban moral di situ, yaitu menyebarkan informasi yang bener kepada orang lain. Efek dari informasi yang kita sebarkan, ya menjadi tanggung jawab kita. Whether itu efek positif ataupun negatif.

Jadi gimana dong?

  1. Pintar-pintarlah memilih produk yang direview. Sesuaikan dengan keseharian. Nggak perlu semua job review diambil. Ntar makin kemaruk, jadinya makin serakah. Trust me, I've been there before, dan jadinya blunder.
  2. Pilih kalimat senetral mungkin saat menulis review produk. Jangan menganggap semua produk itu sempurna, nggak ada cacatnya. Pasti ada sisi negatif dari berbagai hal kan?
  3. Saat menulis review produk, tempatkan pembaca sebagai prioritas utama. Bukan kita. Jadi, put ourself in reader's shoes. Rasakan, kalau dibaca sama pembaca ini tulisan gimana ya?
  4. Jangan lepas tanggung jawab, kalau ada yang nanya ya dijawab. Makanya penting untuk punya product knowledge mengenai produknya juga. Meski kemudian mau lempar ke call center, ya main yang cantik. Jangan terlalu keliatan kalau cuma karena malas ngejelasin.
  5. Put your heart in your writing. Jangan nulis cuma karena dikejar deadline or pesanan. Keliatan banget.
Terima kasih, Mbak Wid, tulisannya yang menyentil.
Semoga semakin bisa bikin teman-teman blogger semakin bijak dan pintar dalam menulis ya.
Sehingga rezeki yang diterima juga semakin berkah.
Amin.

Yang pengin kirimkan guest post juga kayak Mbak Wid, silakan lo! Kirim aja ke email mommycarra@yahoo.com, lalu colek saya di medsos (Twitter, Facebook, Instagram, di mana pun). Biar sayanya ngeh :)) Kadang suka bebersih email asal hapus aja nih soalnya.

Tapi maaf ya, saya nggak bisa menyediakan kompensasi selain ucapan terima kasih, dan kapan-kapan kalau pada ke Jogja saya traktir. Gitu aja =))


Beberapa waktu yang lalu si Domain Authority ini lagi-lagi bikin heboh. Katanya MOZ ngupdate lagi, dan banyak yang terjun bebas.

Sebegitu hebohnya para blogger, antara pada penasaran salahnya di mana hingga DA pada terjun bebas, dan gimana cara buat naikinnya lagi.

Iya apa iya? Wqwqwq.

Saya sampai bikin status lo.



Hahaha.
Yaoloh, kadang jemari saya emang kurang kontrol kalau nulis. Jadi nyinyir amat.
But sorry, I'm not sorry.

Saya tahu betul bahwa banyak blogger yang (bahkan sampai sekarang masih) galau soal Domain Authority. Jadi mari kita mendingan bahas, TAPI saya enggak mau bahas bagaimana cara menaikkan DA. Saya lebih suka mengajak untuk memahami si DA ini sedari prinsipnya dulu yang paling paling paling dasar.

Enggak, itu saya nggak typo, nulis "paling" sampai 3 kali.

Sesuatu yang amat dasar kadang disepelekan. Iya, blogger juga termasuk yang suka menyepelekan hal-hal dasar. Maunya cepet, nggak pakai proses, nggak usah pakai paham, pokoknya pengin tahu aja apa yang bisa dilakukan hingga meraih hasil yang diharapkan.

Iya apa iya?

Padahal dengan kita memahami sesuatu dari prinsip yang paling dasar, selanjutnya kita bisa paham mengapa ini berubah, mengakibatkan apa, dan apa yang harus dilakukan untuk memperbaikinya.

So, mari kita lihat beberapa prinsip dasar DA ini. Buat yang sudah pinter dan lebih tahu--ketimbang nyinyir doang atau memberikan tip-tip yang cuma di permukaan yang berakibat misslead--coba cek apa yang saya paparkan di bawah ini ya. Koreksi kalau ada yang salah, tambahin kalau perlu.
Jangan bikin orang lain tambah nyasar ke mana-mana pemahamannya, please!

Yang penasaran sama DA, silakan dibaca sampai selesai. Siapa tahu kamu menemukan fakta mengejutkan di bawah sana! Halah.



Jadi, apakah kamu tahu apa itu Domain Authority?

Berani taruhan, pasti banyak yang sebenarnya nggak mudeng, ini DA apaan sik?

Otoritas Domain atau DA (Domain Authority) merupakan metrics atau satuan standar yang dikembangkan oleh MOZ, sebuah perusahaan SEO consulting, dengan berpijak dari PageRank yang dimiliki Google. Hanya saja, sekarang PageRank sudah tak pernah update lagi.

Domain Authority memang merupakan faktor penting bagi sebuah website atau blog. Blog yang mempunyai otoritas domain yang tinggi, maka bisa dipastikan bahwa seluruh komponen di dalamnya juga berkualitas.

Domain Authority ini membentuk salah satu faktor peringkat yang menentukan pada posisi mana situs web/blog tersebut akan mempunyai nilai di mata Search Engine. Semakin besar nilainya, semakin trusted, semakin baik dan semakin direkomendasikan oleh Search Engine.


Skor Domain Authority

Skor Domain Authority ini punya rentang antara 1 hingga 100. Skor lebih tinggi akan memberikan peluang pada blog untuk mendapatkan ranking lebih baik.

So, kalau kamu baru mulai dengan situs web atau blog baru, maka biasanya skor DA kamu adalah 1. Kalau dari pengamatan, ada beberapa level dalam pembagian skor DA ini. 1 - 11, lalu 11 - 20, 21 - 40, 41 - 60, hingga 60 ke atas. Semakin tinggi levelnya, semakin lama pula kamu harus berusaha.

Ya, kek kalau main games itu deh. Level 1, 2, 3 barangkali kamu bisa menyelesaikannya dalam beberapa menit. Setelah level 10, mungkin kamu akan butuh waktu seharian untuk ngalahin. Level paling tinggi kamu akan butuh waktu lebih lama lagi.

Analoginya gitu.

Blog saya ini sekarang DAnya 24, stabil. Nggak terlalu turun naik kalau ada update MOZ. Paling-paling naik turun 0,3 - 0,5, nggak sampai 1 poinan gitu kalau dilihat. Saya biarin aja. Bodo amat.
Usia blog 3 tahunan. Update setiap minggu 1 kali saja (meski sedang saya usahakan intensitasnya sekarang). Saya jarang blogwalking, karena nggak sempat. Dan, setiap kali posting saya selalu usahakan memenuhi segala macam rupa aturan SEO yang standar aja.

Blog lawas saya yang sekarang berganti jadi situs judi, redcarra.com (jangan diklik ya, nanti historymu terkontaminasi :)) ) dulu pernah mencapai DA 45. Usianya sekitar 5 tahunan gitu, dengan kondisi update hampir setiap hari, dan saya masih rajin ngulik-ulik. Cuma mungkin dulu, algoritmenya memang berbeda dengan sekarang.

Nah, silakan disimpulkan sendiri, hubungan antara DA dan aktivitas ngeblog.


Hubungan Domain Authority dan link

Hubungan yang justru perlu diperhatikan adalah antara DA dan link. Sangat penting membangun link yang berkualitas baik ke tempat-tempat yang relevan dengan konten blog kita.

Apa sih artinya link berkualitas baik?

Nah, saya pernah bahas mengenai eksternal link di blog ini, dan sedikit menyinggung tentang kualitas. Di webnya Indoblognet, saya juga pernah bahas mengenai tempat-tempat di mana kita bisa mendapatkan backlink berkualitas. Silakan ditengokin ya. Sepertinya sih sudah lengkap, dari 2 artikel tersebut.

Link berkualitas adalah link yang berasal dari situs web dengan nilai otoritas tinggi dan selalu memperbaharui kontennya.

Mari kita lihat dari sisi Mbah Google.

Jika kamu berhasil mendapatkan link dari website tersebut, hal ini akan menjadi sinyal kepada Google bahwa blog kamu mampu memberikan nilai yang baik bagi pembaca. Google akan menempatkan blog kamu di peringkat atas mesin pencari, karena mendapatkan link kepercayaan dari sebuah website besar dan berkualitas.

Hindarilah situs web berkualitas rendah, terlalu banyak iklan, dan looks spammy jika kamu tidak ingin diberi penalti oleh Google.

Ini berlaku timbal balik. Maksudnya, hal ini berlaku baik ketika kamu mendapatkan backlink maupun ketika kamu memberikan tautan dofollow pada web besar dan berkualitas tersebut. Coba baca artikel saya tentang eksternal link yang sudah ditautkan di atas ya, untuk lebih jelasnya secara logika.

Nah, hal ini juga menjadi acuan MOZ untuk menyusun algoritme Domain Authority. Prinsipnya sama, hanya saja MOZ lantas mewujudkannya dalam bentuk skor DA.

Tapi jangan salah, skor DA ini bukanlah satu-satunya metrics yang bisa dipakai untuk menentukan baik buruknya suatu blog atau situs. Ada banyak metrics lain yang juga sering digunakan, misalnya Ahrefs atau SEM rush. Jadi, kalau ada ahensi yang nanya DA, maka percayalah, bahwa sebenarnya mereka juga ngecek blog kamu via Ahrefs atau SEM rush. Wqwqwq. *ditabok yang kerja di ahensi karena bocorin rahasia*

Jadi, buat apa ahensi nanya DA?
Ya, formalitas aja kali. Kamu pikir mereka nanya karena nggak tahu? :))) Siapa saja kan bisa ngecek DA situs mana pun. :P Makanya saya bikin status di atas.

Yang paling lucu itu ...
Ada orang pengin kasih content replacement, dan minta link hidup dari blog kamu, dengan menanyakan DA. Lalu bilang, skor DA kamu ternyata nggak mencukupi untuk rate yang kamu berikan. Lalu dia nawar dong. Taruhlah tadinya kamu menawarkan Rp500.000, terus dia nawar Rp100.000, dan kamu terima.
Turns out web orang itu ternyata web baru, spammy, penuh iklan, dan konten-konten kurang berkualitas.

Lalu, kamu mau terima?
You put your blog on risk, by 100K rupiahs?

Terus, saat DA kamu terjun bebas seperti kemarin, kamu bingung apa sebabnya?
Oh, come on. :))))



Kalau misalnya, kamu punya link building yang bagus, DA kamu tinggi, kamu bisa lo punya bargain power. Bisa jadi kamu akan mendapat lebih dari Rp500.000.

Pilih mana?

Hard truth, it is.



Cara Memengaruhi DA

Lah, katanya nggak mau nulis soal cara menaikkan DA?

Lo, siapa yang bilang saya mau kasih tahu cara menaikkan DA? Saya cuma mau kasih lihat bagaimana cara memengaruhi DA, baik naik ataupun menurunkannya. Ehe ehe ehe.

Yes, jadi apa saja yang bisa dilakukan untuk memengaruhi Domain Authority ini?

1. SEO on Page

Praktikkan saja apa yang sering disebut SEO On Page standar. Saya pernah bahas di web Kumpulan Emak Blogger. Silakan ditengok lagi.

Nggak usah saya jabarkan lagilah ya.

2. Fokus pada link building

Hal ini seharusnya mudah untuk dilakukan karena yang prinsipnya hanyalah menyingkirkan link yang buruk dan dapatkan link yang bagus.

Lalu, apa yang perlu diperhatikan dalam link building ini?

Backlinks / Inbound Links

Salah satu hal wajib dalam manajemen blog atau situs adalah backlink. Backlink yang baik akan membentuk struktur web ataupun blog yang SEO friendly. Backlink juga penting untuk meningkatkan traffic blog kamu.

Backlink merupakan tautan ke blog kamu dari situs web lainnya. Perlu diingat banyak tautan berkualitas rendah yang akan membahayakan otoritas domain kamu, misalnya sumber yang berasal dari situs porno, spamming, atau web yang tidak relevan dengan konten kamu.

So, lebih baik hindari ya.

Salah satu cara terbaik untuk mendapatkan link yang berkualitas adalah dengan membuat konten yang irresistible, yang memiliki nilai plus dan segar untuk dibaca.

Konten berkualitas juga bisa membentuk pembaca loyal. Apabila mereka membaca dan tertarik dengan konten kamu, maka kemungkinan besar mereka akan share atau menautkan ke konten kamu itu. Tautan seperti ini akan dapat memberi nilai lebih bagi otoritas domain kamu.

Ini adalah salah satu metode yang telah terbukti untuk bisa mendapatkan link yang relevan dan otoritas domain yang baik.


Internal Links

Menautkan dari satu halaman ke halaman lain di dalam blog kamu juga bisa memengaruhi domain authority. Pastikan anchor text-nya tepat, dan tautannya relevan. Ini wajib hukumnya ya.

Hal ini berkaitan dengan user experience.

Jika kamu memastikan bahwa halaman yang kamu tautkan secara internal sesuai dengan topik atau tema, pengguna akan lebih mudah menavigasi blog kamu. Hal itu juga meningkatkan otoritas domain.




Nah, itulah beberapa hal yang menentukan kinerja blog kamu.

Domain Authority ini memang penting, tapi nggak perlu seheboh ITU.
Asal kamu main aman, fokus ke konten, play natural, semua akan aman. Mau diupdate kek apa pun, nggak akan banyak pengaruh.

So yeah.
Kamu sendiri yang memutuskan, akan seperti apa blog kamu kan?