Hae! Coba yang kerja sebagai freelancer, mana suaranya? *acungin mikrofon*

Enak nggak sih, kerja freelancer itu?

Iyah, konon katanya, kerja freelance itu yang paling enak. Memerdekakan, begitu katanya. Jadi bos untuk diri sendiri, istilah kerennya. Ya gimana enggak kan, skedul kerja bisa fleksibel, dan kita juga bisa memilih project yang menurut kita paling oke untuk dikerjakan.

Bener nggak sih?

Puji Tuhan, tahun ini adalah tahun keempat saya secara penuh bekerja sebagai freelancer, setelah sebelumnya saya juga bekerja sebagai full timer, dan juga pernah mencicipi part timer. Catatan, saya sebelumnya sudah mulai punya side job sejak tahun 2010.

Jadi, bisa dibilang, totalnya sih sudah 8 tahun saya mencoba bekerja freelance, dengan 4 tahun di awal masih menjadi karyawan tetap sebuah perusahaan.

Saya kira perjalanan karier saya sebagai freelancer bisa dibilang sedikit banyak karena keberuntungan. Saya tak pernah merencanakannya, hanya saja, saat memutuskan saya memang yakin, kalau pola kerja freelancer akan lebih cocok untuk saya yang suka begah dengan aturan. Hahaha.

Iya, saya memang ga suka diatur--kalau ga bisa dibilang susah diatur. Aturan membuat saya terkungkung. Apalagi kemudian ditambah dengan komitmen saya pada keluarga.

Sebenarnya sih, kerepotan dan rasa pakewuh akibat terlalu sering izin karena mengurus sekolah anak-anaklah yang terutama menjadi alasan saya akhirnya memutuskan untuk menjadi freelancer. Karena untuk resign dan benar-benar hanya menjadi ibu rumah tangga, jelas itu bukan hal yang menjadi cita-cita saya. Saya tetap pengin mengerjakan sesuatu, dan punya penghasilan sendiri. Saya ingin mandiri secara finansial, meski saya sudah jadi istri orang.

Itulah beberapa hal yang menjadi alasan saya, mengapa saya bertahan untuk bekerja meski sudah punya anak. Dan, baik keluarga dan karier, dua-duanya sebisa mungkin bisa saya jalankan bareng. Kalau bisa pun, satu sama lain saling mendukung.

So yeah, akhirnya saya freelancing.

Setelah menjalaninya secara penuh selama 4 tahun, the truth is freelancing is a bit overwhelming at times. At least, untuk saya.

Setidaknya ada 7 ugly truths about freelancing ini sudah saya alami dan membuat saya kecemplung dalam situasi love and hate relationship dengan pekerjaan sebagai freelancer.


7 Fakta buruk kerja sebagai freelancer

Wkwkwkw. Hadeeeeh. Image via Pinterest.

1. Kita bertanggung jawab pada diri sendiri

Salah satu beda yang paling besar antara pekerjaan tetap dan pekerjaan lepas adalah soal tanggung jawab.

Kalau dulu kita harus bertanggung jawab pada atasan, maka saat kita bekerja sebagai freelancer, kita akan bertanggung jawab pada diri sendiri, selain pada klien.

Agar akuntabilitas kita tetap terjaga, kita harus bisa menetapkan target atau goals kita sendiri. Mau bikin penghasilan berapa nih, sebulan? Harus bisa menyelesaikan seberapa banyak project dalam setahun? Bisa ketemu dengan berapa klien? Dan seterusnya.

Setelah itu, ya, dievaluasi sendiri juga.

Hal yang menyenangkannya adalah si target itu, karena kita sendiri yang membuatnya, maka semudah itu pula kit akan menganggap ringan.

“Ah, nggak apa-apa deh, hari ini nggak kepegang. Besoklah dikejar. Sekarang leyeh-leyeh dulu aja deh.”

Besok? Only God knows.

So, mau memulai kariermu sebagai freelancer, coba tanyakan pada diri sendiri dulu, apakah kamu sudah cukup punya disiplin pada diri sendiri?

Karena kalau kerja kantoran, ada HRD yang siap tegur kalau kita menurun performanya. Di freelance? Nggak ada. Yang jadi HRD, ya diri kita sendiri. Kalau nggak siap dengan disiplin diri yang kuat, ya bhay saja deh~
Karena akibatnya sudah pasti, klien nggak akan percaya lagi sama kita. Kalau nggak bisa disiplin, nggak bakalan bisa sukses kerja sebagai freelancer.


2. Freelancing itu berarti kerja sendirian

Masak, masak sendiri. Makan, makan sendiri. Cuci baju sendiri. Tidurku sendiri ~~~

Iya, itu mah lagu dangdutnya Caca Handika.
Tapi ya kurang lebih samalah dengan para freelancer.

Cari klien sendiri, kerjain sendiri, presentasi sendiri, evaluasi kinerja sendiri, bebersih meja kerja sendiri.

Tapi ya teteup. Semua selalu ada sisi enaknya.
Kerja sendiri means kita hanya memikirkan diri sendiri saja, gimana caranya biar performa dan kinerja lebih baik. Tak tergantung pada rekan kerja alias coworker.

Saya pernah nih, kerja dan kerjaan saya tuh tergantung pada hasil yang diberikan oleh rekan kerja yang lain. Kalau hasil kerja si coworker busuk, ya saya juga bakalan menghasilkan sampah.

Saya juga bebas dari basa-basi sesama rekan kerja, saya juga bebas dari "kewajiban" untuk momong orang lain. Baik-baikin, biar enak kerjanya, padahal si coworker itu kampret abis, misalnya. Wkwkw.
Iyaa ~ Saya bebas dari semuanya itu!

Bhay, basa-basi nggak penting!


3. Klien kita akan sangat demanding

Klien adalah bos, bagi seorang freelancer.
Dan, sebagai bos, mereka harus dibikin senang. Dibikin puas!

Paling sebel adalah saat ketemu klien yang sangat demanding dan suka mendikte, tapi sebenarnya kurang ngerti apa yang sedang kita kerjakan. Hahaha. Sumpahlah, stres banget ini!

Misalnya nih, desain brosur.
Sudah mintanya cepat, desain pun berubah-ubah sesuai mood klien.
“Ini kotaknya dibikin miring sedikit, bisa?”
“Font-nya kurang oke ah! Ganti dong!”
“Eh, warna backgroundnya ganti saja deh. Cepet kan nggantinya?”
"Meja di bagian depan ini diilangin aja. Bisa kan?"
"Ini tulisannya biru aja. Backgroundnya kan item tuh. Bagus tuh. Biru sama item."
*nangis*
Ya, begitulah. Cuma bisa sabar ya, cyin! Wkwkw.


4. Posisi kita kadang begitu lemah

Nah, ini yang sudah dan sedang saya alami.

Kadang, kita sebagai freelancer, harus kerja dulu. Urusan nanti.
Iya, ini saya sih. Menggampangkan hal-hal yang terlihat kecil dan remeh-temeh, padahal penting.

Terutama saat saya sedang mengerjakan konten tulisan.
You see, kalau desain grafis, kita bisa mengakalinya. Misalnya, artwork final yang kita kirimkan adalah yang resolusi kecil. Semacam sebagai bukti approval, dan bukti kalau sudah kita kerjakan. Iya kan? Saat si klien sudah membayar lunas, kita pun menyerahkan artwork resolusi besar.

Tapi saya masih belum bisa mencari solusi kalau untuk konten tulisan.
Saat saya selesai mengerjakan konten tulisan, pastinya saya akan mengirimkan tulisan itu pada klien. Klien akan memeriksa, dan kalau lolos, akan ditayangkan di web mereka. Setelah itu, baru mereka membayar.

Jika mereka bisa komit, tentunya ini nggak masalah.
Nah, yang sedang saya alami sekarang adalah ada sedikit perubahan sistem pada instansi yang menjadi klien saya, yang menyebabkan pembayaran fee konten saya tertunda sampai hampir 4 bulan.

Nah, di sini saya tidak bisa berbuat apa pun. Birokrasi dan prosedur instansi klien saya itu memang ribet, saya bisa apa? Saya juga tidak ada kontrak. Selama ini hubungannya benar-benar seperti jual dagangan saja. Saya dapat pesanan, kerjakan, setor. Lalu, setelah selesai sekian konten sesuai yang diminta, saya seharusnya dibayar.

Tapi ini enggak.

Bahkan saat menanyakan pun, bagian keuangan dengan teganya bilang begini, "Ya, gimana. Ini pekerja kontrak bukan, tenaga lepas pun bukan. Jadi belum diverifikasi juga sampai sekarang."

Lha terus, Pak? Sampai kapan saya mesti nunggu fee saya? *nangis*
Hanya Tuhan yang tahu.


Yha!


Iya, saya salah. Saya mau saja mengerjakan order tanpa kontrak. Tanpa MoU. Jadi pelajaran banget deh ini. Semoga dengan berbagi "kesalahan" ini, teman-teman jadi lebih aware ya. Lebih baik kalau semua pekerjaan ada MoU.

Saya juga pernah nih, mengerjakan satu artikel kecil, bayaran tak seberapa. Hanya Rp50.000. Kerjaan sudah saya setorkan. Saya juga nggak mau ribet kan, karena pikir saya, ah, cuma lima puluh rebu ini. Tapi sampai sekarang, saya masih belum menerima fee saya. :))) Iya, perih banget emang. Tadinya saya juga merasa, ya ampun. Cuma 50ribu saja kok ya pakai ditagih? Tapi ya, nyatanya sampai sekarang nggak pernah ada. Hvft.

Duh, maaf, malah jadi curcol kepanjangan. Tapi, ini saya sih sebenarnya lagi minta saran. Siapa tahu ada yang bisa kasih saran or solusi buat saya. Hehehe.

Apa yang harus saya lakukan ya? Seandainya saya bisa ngakalin kayak kalau saya lagi ngerjain artwork desain grafis itu, tentu akan lebih aman buat saya kan?

Kalau ada yang punya ide or saran, silakan ditulis di kolom komen ya. Makasih banget lo.

Sebenarnya kalau kita kerja sebagai freelancer di freelance marketplace, semacam Sribulancer, Projects.co.id, itu lebih safe, karena kan sistemnya klien akan membayar dulu ke pihak marketplace-nya. Saat kerjaan selesai, kita pun pasti dibayar.
Tapi kok ya kerjaan di sana itu kok murah beneur ya. LOL. Kadang ya kurang ikhlas saja sayanya, meski kalau terpaksa ya ga papalah.


5. Kita harus punya peralatan tempur kita sendiri

Ya, kalau kita kerja di kantor, tentunya hal ini akan jadi kewajiban perusahaan untuk melengkapi infrastruktur yang kita butuhkan untuk dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik.

Berbeda kalau kita sudah freelancing. Ya, pastinya kita harus usaha untuk punya peralatan kerja dulu.

Bagusnya, kita bisa menyesuaikan spesifikasi yang dibutuhkan. Nggak bagusnya, kadang nggak punya modal buat punya yang sesuai. Wkwkwkw.

Setop, Mak! Sebelum curcol lagi.


6. Harus selalu siap update dan sigap upgrade

Persaingan freelancer itu bisa dibilang "sunyi" tapi lebih mengerikan. LOL. Karena itu, kita mesti siap dengan berbagai perubahan yang terjadi.

Misalnya, sekarang zaman-zamannya tulisan listicle ala-ala Buzzfeed. Saya sudah sekitar 2 tahunan nguplek-uplek di zona ini.
Dan, sekarang saya mulai bersiap, akankah model konten baru yang bakalan  ngeheits berikutnya?

Kecepatan saya untuk meng-update pekerjaan dan kemudian meng-upgrade diri saya sendiri menjadi penentu apakah saya masih bisa survive di tren berikutnya.

Begitu juga dengan desain.
Misalnya sekarang lagi musim desain-desain grafis dengan white-space yang dominan, dengan font tipis panjang.
Saya harus terus memantau tren, karena saat tren berganti, maka saya juga harus sigap mengubah dan menyesuaikan diri.

Memang sih, hal ini akan membuat kita jadi kurang khas. Seharusnya kita memang punya signature sendiri. Tapi, ya kadang kita harus realistis. Kita ini siapa? Kita masih pekerja medioker, yang bisanya cuma manut sama klien. Kita yang menawarkan diri pada klien, kan? Belum pada tahap dicari oleh klien?

Ya, kecuali kalau kita sudah sebesar Rob Janoff atau Michael Bierut (yang ga tahu mereka, silakan googling aja ya?). Atau kalau blogger ya, siapa sih kita? Bukan Darren Rowse ini.


7. Makna liburan jadi bergeser


Haha. #MenurutNgana?

Pekerja lepas atau freelancer kebanyakan akan bekerja sesuai dengan passion atau bidang yang benar-benar dikuasai dan dicintainya. Biasanya sih mereka akan sudah cinta duluan dengan apa yang mereka lakukan.

Inilah yang kemudian memberi makna baru pada kata ‘liburan’.

Liburan, apalagi yang tanpa mikirin kerjaan? Sepertinya sulit! Yang banyak kejadian adalah pas sudah mau liburan, ternyata dapat tawaran project yang menarik.

Mau nggak dikerjain, kok sayang. Mau dikerjain, hadeh, masa liburan sambil bawa laptop?

Ya, akhirnya liburan sambil bawa-bawa laptop kerjaan deh.

Konon katanya, kenapa enggak sih liburan sambil kerja. Kan asyik? Hmmm … saya kok bilang, enggak juga ya. Bagusnya ya, kalau liburan ya liburan! Demi keseimbangan jiwa, jangan mikirin kerjaan.

* * *

Demikianlah, beberapa fakta buruk atau ugly truth mengenai kerja sebagai freelancer.

Tapi memang sih ya, segala sesuatu itu kan ada seneng susahnya, plus minusnya. Tapi, saya sih percaya. Saat yang seneng-seneng kita rasakan itu bisa mengalahkan yang susah-susahnya, berarti kita sudah mencintai pekerjaan tersebut.

So, sudah siap beneran kerja sebagai freelancer?
Bon voyage!


Halo. Masih mau baca blog ini ya? Ehe~ Makasih ya, sudah berkunjung lagi, meski si empunya lagi angot-angotan ngupdate. Hehehe. Iya, maaf, malah lebih rajin ngisi blog/web orang yak :P

Anyway, tempo hari (lagi-lagi) di Quora ada yang minta saya untuk menjawab bagaimana supaya bisa sukses menjadi personal blogger.

Well, saya sebenarnya juga bertanya-tanya, memangnya saya sukses? :)) Padahal nulis di sini juga seadanya kok sekarang--seadanya topik dan seadanya waktu. Kayaknya udah nggak bisa disebut sebagai blog junjungan lagi kan ya? =))

Tapi ya, saya berusaha jawab sih. Dan, supaya bisa dibaca juga oleh teman-teman lain--yang pengin sukses menjadi seorang personal blogger, maka saya angkut sekalian ke sini.

Yang akan saya tulis berikut ini adalah tip sukses personal blogger hasil pengamatan sekitar terhadap beberapa orang personal blogger yang berhasil bertahan lebih dari 10 tahun ya, baik dari tanah air maupun bloger luar negeri. Ya, mostly sih bloger luar negeri karena saya banyakan follow-nya yang luar.

Ohiya, jadi ingat, saya sebenarnya pernah menulis tip sukses ngeblog ala para mastah bloger luar negeri. Boleh dilihat lagi, dan yang akan saya bahas berikut ini sepertinya sekadar melengkapi saja.

Well, sebelum membahas tip sukses sebagai personal blogger, saya mau define dulu mengenai istilah "sukses", karena barangkali ukuran "sukses" saya berbeda dengan ukuran orang lain. Iya toh? Sukses itu sebenarnya adalah kata yang amat sangat subjektif.

Ada beberapa kriteria seorang personal blogger saya anggap sukses, di antaranya:

  • Ia punya ciri khas yang tak dipunya oleh bloger yang lain. Ia juga bertahan karena ciri khasnya itu, konsisten dengan gayanya.
  • Tulisannya berbobot, enak dibaca, dan punya sudut pandang yang unik. Mungkin topiknya sih nggak terlalu istimewa, tapi kalau dia yang nulis tuh terasa beda aja gitu pengalaman membaca kita.
  • Ia punya keahlian tertentu, yang ia pergunakan dengan sebaik-baiknya untuk menyajikan konten dalam blognya. 
  • Ia banyak diajak kerja sama oleh pihak ketiga, karena performanya. Bukan sekadar keroyokan dan menyodor-nyodorkan diri.

Punya beberapa dari kriteria di atas saja, menurut saya, bloger itu pastilah seorang personal blogger keren yang sukses. Apalagi kalau punya semua. Pasti sudah sukses buanget jadi blogger. Sudah jadi influencer deh, nggak sekadar troopers lagi.

Ada yang berpendapat berbeda? Ada yang punya kriteria blogger sukses versi sendiri? Misalnya, blogger keren itu adalah blogger yang bisa datengin event setiap hari. Atau, blogger keren itu adalah blogger yang bisa blogwalking ke 100 blog setiap hari.

Ada? Boleh ... Boleh aja~ Sok, ditulis di komen yah, bagaimana sih kriteria blogger sukses dan keren menurutmu.

Kok penghasilan nggak masuk di kriteriamu, Mak?
Jadi begini. Menurut saya nih, karena penghasilan itu termasuk kuantitas. Seperti juga Pageview, adalah sebuah angka. Begitu juga dengan DA, PA, dan sebagainya. Angka biasanya akan mengikuti kualitas. Kalau kualitas bagus, niscaya deh semua kuantitas itu akan mengikuti.

Coba deh saya tanya, bloger semacam Alodita, Amrazing, Diana Rikasari ... apa pernah mereka ditanya DA/PA kalau mau ditawari kerja sama? Enggak kayaknya. Mereka ditawari kerja sama karena mereka sudah punya "kuku". Ditanya, "Pageview berapa per bulan?"-kah? Enggak juga, pasti. Bahkan Diana Rikasari dan Evita Nuh saja masih pakai blogspot gratisan kok.

Klean pada ngapain bela-belain berdomain sendiri? Wkwkwkw.
Saya juga.

Hahaha. Yah, itu sebagai ilustrasi sih. Pada kenyataannya, sekarang kebanyakan juga prefer berdomain sendiri. Jadi nggak salah untuk bermigrasi ke TLD, tapi lihat kan, bahwa sebenarnya dengan domain gratisan pun ga masalah kalau kamu punya "kuku".
If you know what I mean.

Karena apa?
Karena kualitas mereka sudah berbicara. Nggak usah ditanya angka, pastilah pada percaya.

Itu pendapat saya. Nggak tahu kalau Mas Anang, atau kamu punya pendapat yang berbeda. Boleh kok. Bebas. Cuma ya kalau saya sih memang nggak memasukkan blogger yang pageview banyak itu berarti sukses. Enggak, karena pageview itu tergantung niche dan target audience. Bisa saja pageview kalah, tapi secara konversi lebih unggul.

So, angka itu relatif. Jadi, nggak bisa dijadikan ukuran atau pedoman.

Untuk menuju ke situ, pastinya bukan jalan yang pendek dan mudah. Mencari ciri khas diri sebagai personal blogger saja sudah membutuhkan waktu lama kok, apalagi kemudian ia juga punya konten-konten yang matang dan berbobot.
Pasti butuh bertahun-tahun.

Tapi bukan berarti nggak mungkin.

Inilah beberapa hal yang harus kamu lakukan (berdasarkan pengamatan saya) kalau kamu pengin sukses menjadi personal blogger (untuk versi saya, tentunya)




1. Jangan memulai dengan tujuan cari uang


Seperti saya sebutkan di atas, penghasilan (dalam bentuk uang) adalah hanya kuantitas. Kapan pun kamu melakukan sesuatu demi kuantitas, maka yang kamu kejar berikutnya juga berupa kuantitas.

Kalau kuantitasnya tidak tercapai, maka kamu akan cepat merasa lelah.

Berbeda dengan melakukan sesuatu dengan target kualitas. As simple as, “karena ini adalah cara saya bersenang-senang” saja biasanya sudah berbicara ke ranah kualitas.

Karena dengan demikian, kita bakalan enjoy terus ngeblognya. Meskipun semua ukuran kuantitas itu tidak tercapai, kamu akan tetap terus ngeblog karena ada tujuan kualitaslah yang ingin dicapai.


2. Belajar memasak konten dengan benar


Problematika bloger zaman sekarang adalah ide mereka biasanya sudah bagus, tapi eksekusi gelepotan. Belum matang dalam pengolahan, pengin buru-buru femes atau dapat penghasilan dari blog.

Kenapa begitu?

Ya, itulah yang terjadi kalau sedari pertama tujuannya sudah salah, hanya berorientasi pada kuantitas.
Lalu, bagaimana cara meningkatkan kualitas konten? Cobalah:

  • Baca, baca, dan baca. Jangan jatuh cinta pada tulisan sendiri, sampai-sampai malas membaca tulisan orang lain. Baca buku, majalah, koran, tabloid, artikel online, apa pun untuk memperluas wawasan, asal yang positif ya. Dengan banyak membaca, otak akan ternutrisi dengan baik. Jika nutrisinya baik, insyaallah, keluarannya juga baik.
  • Sembari baca, perhatikan bagaimana penulis lain memasak kontennya. Bagaimana cara ia menyampaikan pesan, amati istilah apa saja yang dipergunakannya. Kamu boleh kok meniru cara penulis junjunganmu dalam menyampaikan pesannya, tapi kamu juga harus rajin latihan menulis. Lambat laun, kamu akan menemukan gaya menulismu sendiri dari situ.
  • Menulis dengan gayamu berbicara. Biasanya hal ini bisa menjadi ciri khasmu. Tapi kadang gaya berbicara lisan kita memang tak semuanya baik untuk dituangkan dalam bentuk tulisan, maka ya harus dipilih-pilih.
  • Jangan malas belajar. Belajar apa? Ya editing, belajar membuat foto plus retouchingnya, belajar infografis, vlog, dan lain-lain, yang sekiranya bisa mendukung penyajian kontenmu. Dunia blog itu nggak pernah berhenti. Dia selalu bergerak maju. Begitu meleng sedikit, pasti kamu ketinggalan info. Ya, enggak apa-apa juga sih kalau kamu memutuskan untuk tidak update pada apa yang baru, tapi ya siap-siap saja ketinggalan, dan kamu harus cari jalan lain supaya bisa menyusul kalau masih pengin survive di sini.
Saya kasih contoh diri saya sendiri deh.
Saya ketinggalan banget soal video. Saya kurang tertarik dengan vlogging, padahal itu bisa membantu banget belakangan ini untuk performa kita sebagai blogger.

Maka, ya iya, saya "menyiapkan diri untuk ketinggalan" di vlog dengan memperkuat hal yang lain. Caranya? Ya saya perkuat lagi konten saya yang berupa tulisan. Saya harus datang dengan konten lain--selain video--yang irresistible. Maka, saya perbanyak source. Kalau ada yang follow saya di Twitter, barangkali sering lihat saya bagi font handlettering, font website penyedia image CC0, dan website freebies. Itulah salah satu "usaha" saya supaya tetap bisa maju, meski nggak pakai video :)))

So, misalnya nih, kamu merasa kurang mumpuni di infografis, tapi kamu suka fotografi? Ya sudah, lanjut di fotografi. Cari ilmu sebanyak-banyaknya, latihan sebanyak-banyaknya. Jangan biarkan kelemahanmu di sisi satu menghentikan kekuatanmu di sisi lain.

Gitu aja.
Masih banyak yang bisa dikembangkan kok. Dan lagian, kita nggak pernah rugi kan kalau belajar sesuatu?


3. Temukan ciri khasmu


Ini penting ya. Karena, berapa banyak blogger ada di Indonesia sekarang? Berapa banyak artikel blog di-publish setiap harinya?

BANYAK!

Kalau enggak punya ciri khas, lalu dari mana orang-orang akan mengenalimu?

"Siapa?"
"Budi."
"Budi siapa?"
"Budi yang ... yang itu tuh ..."
"Yang mana?"
"Yang ngeblog itu loh."
"Yeee, yang mana?!"
*nggak selesai sampai tahun depan*
Gaya dan ciri khas itu selayaknya identitas.
Kalau kamu punya gaya dan ciri khas, artinya kamu punya identitas.

Yah, lebih jauh bisa baca artikel saya yang lain di blog ini yang membahas mengenai ciri khas blogger. Di sana juga ada contoh blogger yang berciri khas.
Juga ada langkah-langkah untuk menemukan ciri khasmu sendiri sebagai blogger.

Silakan disimak yes?


4. Belajar dasar-dasar SEO


Mengapa harus? Karena hal ini merupakan cara paling efektif untuk mendapatkan traffic dengan gratis, relatif tanpa usaha yang terlalu ekstra.

Rumit?
Coba lakukan dengan beberapa ceklis berikut dulu deh, sebelum ke hal-hal yang tampak rumit.

  • Lakukan keyword research. Sudah pernah saya bahas ya, silakan disimak lagi.
  • Pastikan keywords ada di paragraf pembuka, maksimal ada di 100 kata pertama.
  • Masukkan keywords yang sudah dipilih ke dalam artikel, jaga supaya tersebar dengan baik ke seluruh artikel ya. Berapa banyak keywords yang harus dimasukkan? Nah, ini nggak ada yang tahu dengan pasti sih. Tapi menurut Yoast, kira-kira ya 2,5% dari jumlah kata keseluruhan. Pikirkan juga beberapa alternatif keywords lain untuk dimasukkan juga, dan juga sinonimnya.
  • Pastikan image-image kamu punya nama file yang mengandung keywords. Optimasi ukurannya supaya pas, sehingga nggak terlalu besar untuk loading pun nggak pecah karena kekecilan resolusinya.
  • Pastikan keywords masuk ke URL, dan akan lebih baik lagi kalau keywords terletak di awal kalimat judul.
Sudah. Itu saja sudah cukup kok.
Iya, saya juga biasanya cuma melakukan 5 hal itu saja sih, pada dasarnya. Hanya memang perlu latihan untuk pengambilan keywords-nya.

Ada yang masih bilang rumit?
Ya iya sih, karena sebenarnya ada banyak hal lain dalam platform blog kamu agar makin teroptimasi. Seperti ngulik template supaya loading cepat, memastikan mobile-friendly, menyiapkan Google Console Search, siapkan Google Analytics, dan lain-lain. Tapi ini bisa dipelajari sambil jalan sebenarnya. Yang penting, lakukan dulu 5 hal di atas dan jadikan "kebiasaan" setiap kali menulis artikel di blog. Sama halnya dengan "kebiasaan" self editing.

Saat satu hal menjadi kebiasaan pasti nggak akan berat dilakukan lagi.



5. Cobalah untuk fokus ke niche tertentu


Yang juga menjadi problematika para bloger zaman now adalah mereka lebih memilih so-called-niche lifestyle, yang berarti tanpa niche.

Konon katanya, supaya lebih mudah dapat ide, bahasan juga nggak habis-habis. Mereka nggak sadar, bahwa topik “lifestyle” itu malah justru membuat mereka terjebak dalam zona nyaman yang sebenarnya nggak nyaman dan nggak berkembang.

Padahal ada banyak sekali keuntungan yang bisa kita dapatkan dengan menentukan niche blog, atau setidaknya fokus pada topik-topik tertentu saja.

Masih bingung bagaimana memilih niche yang cocok? Coba baca lagi artikel saya yang lalu itu.


6. Bergabung dengan komunitas


Komunitas bukan sembarang komunitas. Memang banyak komunitas blogger nongol sekarang ini. Ada yang bisa ngitung?

Saya enggak.

Banyak sekali memang. Dan, mau ikut di semua komunitas itu? Wuih, eman-eman energi kalau saya bilang sih.

Daripada ikut semua komunitas, mendingan pilih saja yang benar-benar berkualitas dan bisa memberikan nilai tambah pada diri kita sendiri. Ya kalau kamu setuju dengan kriteria personal blogger sukses versi saya di atas, pastikan saja komunitas yang kamu ikuti itu nggak sekadar hanya mengejar duit dan mroyek.

Pilihlah komunitas yang bikin kita pintar (meski kalau memang bisa ngasih penghasilan, itu semacam bonus yang tak akan ditolak).

Males berkomunitas? Wah, kek saya dong. Tapi, bersosialisasi itu penting. Maka, meski nggak berkomunitas, ya bergaullah dengan orang yang punya positive vibe. Pilih circle yang bisa bikin kita tambah ilmu, tambah wawasan, … ya, tambah pinterlah.

Sayang energinya kalau nggak tersalurkan dengan baik, kalau kita gabung ke komunitas yang tak memberikan nilai tambah buat kita sendiri. Belum lagi soal waktu.


The bottom line is ...


Quote dari Zig Ziglar ini cocok banget diingat terus kalau kamu mau menjadi seorang personal blogger yang sukses.


Menjadi seorang personal blogger sukses itu pilihan. Sudah kriterianya sangat subjektif, jalannya pun ya nggak mudah dan penuh pilihan.

Kamu mau menempuh cara apa, ya itu menjadi pilihan kamu dan akhirnya akan menjadi tanggung jawabmu juga.

Saya sendiri nggak pernah berpikir, bagaimana ya menjadi seorang blogger sukses? Atau, blogger sukses itu seperti apa sih? Kriteria-kriteria yang saya sebutkan di atas pun juga nggak sevalid itu untuk diamini oleh semua orang kan? Bisa saja orang punya kriteria berbeda, dan itu tuh nggak salah.

Tapi saya akan menganggap diri saya sendiri sukses, saat saya enjoy melakukan apa yang saya kerjakan PLUS mendapatkan nilai tambah pada diri saya sendiri. Entah itu pengetahuan, wawasan, pengalaman, teman, ... dan juga uang, pada akhirnya.

Demikian artikel panjang saya kali ini yang sudah saya tulis selama 2 minggu.
Sampai ketemu di artikel panjang lainnya.
Semoga kamu nggak bosen.


"Mbak, gimana cara menerbitkan buku?"

Pertanyaannya cukup simpel ya, kedengarannya? Gimana cara menerbitkan buku? Seharusnya saya bisa langsung menjawabnya dengan, "Ya, langsung kirim saja ke penerbit."
Dan selesai.

Tapi kok rasa-rasanya, itu bukan jawaban yang tepat ya?
Jiwa marketing saya mau nggak mau tergugah. Seharusnya saya bisa memberikan informasi lengkap pada si penanya, from A to Z. Sampai si penanya puas dan nggak ada lagi yang ditanyakan.

Tapi kok ya penyakit saya itu juga menyebalkan; saya suka malas menjelaskan. Huahahaha. Marketing macam apah sayah inih?!

Makanya, mendingan saya tulis sajalah. Kebetulan juga ada kategori baru di blog ini, yaitu tentang Penulisan Buku. Eciyeee. Baru nyadar kan, ada kategori ini? Dan baru satu juga isinya. Jadi, mari kita tambah deh isinya hari ini.

Baiklah, mari kita ulas sedikit mengenai cara menerbitkan buku.

Cara menerbitkan buku ini sebenarnya ada beberapa cara, tergantung tujuan kamu menerbitkan buku. Setelah beberapa lama saya bekerja di penerbitan, juga bolak-balik menerbitkan buku secara indie, masing-masing cara menerbitkan buku ini punya keunggulan dan kekurangan, yang seharusnya bisa kita manfaatkan dan pergunakan semaksimal mungkin sesuai dengan tujuan kita menerbitkan buku.

Nah, jadi, sebelum menanyakan bagaimana cara menerbitkan buku, ada baiknya kamu definisikan dulu apa tujuanmu menerbitkan buku, buku itu topiknya apa, dan siapa saja target marketnya nanti.

Kalau semua sudah terdefinisikan dengan jelas, maka kemudian kamu bisa memilih cara menerbitkan buku berikut ini.


4 Cara Menerbitkan Buku


1. Self Publishing


Self publishing berarti kita sebagai penulis juga bertindak sebagai produser.

Kita harus mengurusi buku kita sendiri mulai dari A - Z. Mulai dari menulis bukunya, lalu editing (kalau merasa kurang kompeten, kita bisa menyewa jasa seorang editor lepas). Setelah itu, kita harus mencari layouter untuk desain isi buku, atau kalau mau dilayout sendiri juga boleh.

Setelahnya, kita punya desain kaver yang juga harus dibuat atau setidaknya kita harus mencari sendiri desainer kaver buku yang cocok, hingga mencari percetakan yang bisa mencetak buku kamu tersebut.

Nah, kalau pengin bukunya ada di toko buku, kita juga bisa mencari distributor buku untuk membantu pendistribusiannya. Hasil penjualan biasanya bagi keuntungan dengan distributor.

Hmmm, kapan-kapan kayaknya oke juga nih kalau saya interview salah satu distributor buku supaya kasih gambaran lengkap mengenai hal ini ya. Let's see deh.

Self publishing ini cocok untuk kamu yang pengin menerbitkan buku yang "kamu banget", dan pengin memegang kendali semua aspek penerbitan sendirian.


2. Indie publishing


Indie publishing, atau penerbitan mandiri--saya pribadi menganggapnya sebagai--“setengah” self publishing.

Jadi, kita bisa meminta bantuan sebuah penerbit indie untuk membantu kita menerbitkan buku, dengan biaya kita. Biasanya sih, si penerbit indie ini akan juga menyediakan jasa editing, desain kaver, cetak, hingga juga bisa bantuin kita untuk mendistribusikan buku ke toko buku.

Semua biaya tentu saja ditanggung oleh penulis. Hasil penjualan akan dibagi dengan penerbit.

Nah, indie publishing ini cocok buat kamu, yang pengin bikin buku yang "kamu banget", tapi nggak mau repot urusin ini itu. Biasanya sih penerbit indie ini menyediakan berbagai macam paket penerbitan yang fasilitasnya beda-beda, dengan harga yang disesuaikan pula. Jadi, kamu bisa pilih yang sesuai dengan kantong kamu.

Untuk seluk beluk penerbitan indie, saya pernah membahasnya juga di blog ini. Silakan dibaca kalau memang tertarik lebih jauh.


3. Mayor publishing


Nah, kalau cara menerbitkan buku secara mayor sih A to Z-nya dipegang sepenuhnya oleh penerbit, sebagai pihak produser, pemasaran, hingga tetek bengeknya.

Kita sebagai penulis buku harus mengirimkan naskah ke penerbit buku mayor, sesuai dengan syarat dan ketentuan yang sudah mereka tentukan.

Penerbit mayor biasanya akan melakukan seleksi, apakah naskah kita layak diterbitkan dan cocok untuk pasar mereka. Kalau di Stiletto Book, lamanya review naskah itu 30 hari kerja, kurang lebih. Kalau lebih dari 30 hari kerja nggak ada tanggapan, maka anggaplah naskahmu nggak lolos. Penerbit mayor lain punya kebijakan sendiri-sendiri juga.

Maka, penting banget buat kamu untuk ngepoin dulu si penerbit mayor ini sebelum kamu mulai mengirimkan naskahnya. Coba cari tahu: buku-buku apa saja yang biasanya diterbitkan oleh si penerbit, pasarnya kurang lebih seperti apa, apa saja syarat dan ketentuan kirim naskah, dan berapa lama kamu bisa menunggu naskahmu di-review.

Please note: Jangan sekali-sekali mengirimkan satu naskah ke banyak penerbit sekaligus via email, apalagi dengan CC, BCC, atau rombongan. Please personalize it. Mostly penerbit mayor nggak suka diperlakukan pasaran begini. Perlakukanlah mereka dengan istimewa. Anggaplah mereka calon bos yang sedang meng-interview kamu sebagai karyawan baru.

Setelah dinyatakan lolos dan layak terbit, baru deh proses penerbitan dimulai. emua keputusan ada di tangan penerbit, mulai dari isi buku yang bisa saja minta direvisi sesuai dengan mau mereka, hingga keputusan pemilihan kaver, semua diatur oleh penerbit.

Kabar baiknya, kita nggak perlu membayar sepeser pun kalau naskah kita diterima untuk diterbitkan. Kita akan mendapatkan royalti yang besarnya menurut kesepakatan. Biasanya sih antara 8 - 10%, tergantung besar kecilnya penerbit dan juga jam terbang si penulis. Semakin best seller buku-bukumu sebelumnya, royalti bisa semakin besar.

Pankapan kita bahas mayor publishing ini lebih dalam ya. Karena so far, masih banyak yang nggak mudeng soal mayor publishing ini. Mau jadi penulis kok nggak tahu etika kirim naskah ke penerbit mayor tu ya gimana ya? Ke laut aja sono.

Sebagai seorang penulis juga, saya sering sedih kalau sempat ngintip kiriman-kiriman naskah ke email Redaksi tu. Entah orang-orang ini saking nggak mudengnya, atau ignorant? Entahlah.


4. Melalui agen


Di Indonesia juga masih jarang nih, agen naskah. Saya sendiri baru tahu 2 agen naskah yang cukup besar. Pengin juga sih main di sini. Hahaha, tapi belum bisa meraba sistemnya bagaimana.

Kalau di luar negeri, agen naskah ini banyak banget, dan masing-masing punya reputasi yang bisa dipertanggungjawabkan.

Penulis yang tergabung dalam agen naskah ini boleh mengirimkan draf naskah buku ke agen, lalu agenlah yang ngider ke penerbit. Atau agen naskah menerima pesanan dari penerbit, lalu ditawarkan ke penulis yang ada dalam database-nya.

Huhuhu. Beneran, saya pengin jadi agen naskah. Hahaha. Doain ya. Atau, ada yang sudah tertarik untuk saya agenin? #eakkk


Nah, itu dia beberapa cara menerbitkan buku yang perlu kamu tahu. Tentunya kamu bisa sesuaikan dengan kebutuhan, dan juga tujuan kamu menerbitkan buku.

Perlu kamu ingat, bahwa tidak ada cara menerbitkan buku yang lebih baik daripada yang lain. Masing-masing punya keuntungan sendiri-sendiri, yang bisa maksimal banget kamu manfaatkan kalau bisa kamu sesuaikan dengan tujuan dan target kamu menerbitkan buku.

Semoga bukumu laris ya!



Dih, judulnya bombastis bet. Tapi semoga nggak dianggap clickbait yah. Hehehe.

Yamonmaap, itu pertanyaan yang kemarin dimintakan jawaban pada saya di Quora Indonesia. Sudah gabung Quora Indonesia belum? Ya, masih versi beta sih, dan kalau signup mesti ada invite dulu.

Sayangnya invite saya sudah habis karena cuma dikasih 5. Mungkin, kalau kamu mau gabung, coba cari Quoran yang masih punya sisa invite.

Yep, ada yang menanyakan mengenai "Bagaimana cara menciptakan 100.000 pengunjung di website kita?" di Quora pada saya.

Yah, selama saya mengelola sebuah portal media untuk ibu-ibu muda kemarin, rekornya memang pas banget PV 100K dalam sehari. Tentunya ini nggak cuma karena usaha saya doang, tapi juga ada segerombolan tim yang jadi partner saya, yang lumayan lincah melakukan promosi off page.

Tapi, berikut ini adalah beberapa hal yang saya lakukan untuk menggelontor traffic ke web. Barangkali bisa juga dilakukan oleh teman-teman, terutama bloger.
Ya, kalau mau. Karena ini memang butuh kerja keras. Karena cara-cara yang saya lakukan ini adalah "cara yang bener". If you know what I mean. Cara yang safe. Jadi ya butuh sedikit kerja keras.


Beberapa langkah untuk menaikkan traffic secara signifikan ke situs/blog


1. Memilih keywords yang tepat


Nggak sekadar nembak, tapi lakukan riset. Karena pageview nggak akan bergerak signifikan kalau kita memilih keyword yang TIDAK dicari orang, atau cuma sedikit saja yang mencari.

Pernah saya menjumpai tip SEO yang menyarankan kita untuk mengambil keyword yang 'gue banget', yang khas dan unik, gitulah.
Misalnya seperti "review resto ala gue".

Untuk apa? Entahlah. Kalau nggak salah inget, demi mendapatkan traffic yang targeted, atau apalah. Saya lupa alasannya.

Di situ saya nggak tahu sih mesti berkomentar apa.
CMIIW. Logikanya kan orang yang sedang mencari informasi di Google akan memasukkan keyword yang mereka pikirkan kan? Kalau kita bikin keyword yang ala gue gitu, memangnya banyak orang yang kepikiran? Berapa banyak?

Banyakan mana dengan yang mencari dengan keyword "restoran di Jakarta", misalnya.

Mari kita lihat di Keyword Planner.





Jadi, kenapa memilih keyword yang "gue banget"? Ntar nggak ada yang nyari. Pilihlah keyword yang bakalan banyak dimasukkan orang ke dalam kotak pencarian.

Selain itu, saya juga sering mendengarkan curhat mengenai kegagalan menggelontor traffic, padahal sudah memasukkan keyword sesuai dengan kaidahnya. Biasanya sih saya tanya, "Keyword-nya ngecek jumlah pencarian dulu atau langsung nembak asal keyword?"

Ada yang jawab, asal ambil keyword.
Lha ya, terus, kalau nggak ada yang nyari ya gimana bisa menghasilkan traffic kalau kita cuma "ngawang" aja? Memangnya situ ahli nujum?

SEO bukan ilmu cenayang. Orang baca tarot aja ada ilmunya kok. Apalagi SEO.

Jadi, pastikan keyword-nya memang ramai dicari orang. Riset dulu!
Ya, kalau pakai Keyword Tool, biasanya saya pilih yang avg search-nya lebih dari 1K/month. Ini ngaruh banget deh. Dan, memprediksi keyword ini butuh pengalaman.


2. Monitor trending topic


Dulu, selama 2 tahun, setiap hari saya mantengin Google Trends untuk mengecek apa saja yang lagi ramai hari itu.

Kalau ada yang bisa dieksekusi menjadi tulisan, ya langsung eksekusi saat itu juga.
Hah? Saat itu juga?
Iyes, hari itu juga harus publish. Kalau bisa malah jam itu juga.

Karena trending topic ini lumayan cepat bergeraknya. Bisa dalam hitungan jam, sudah bukan hitungan hari lagi.

Kalau trending hari ini, baru mau tayang besok sih biasanya saya sudah menganggapnya agak terlambat. Tergantung topiknya juga sih. Kadang ya ada yang bisa agak di-extend. Tapi lebih banyak lagi yang enggak.

Salah satu artikel riding the wave. PVnya lumayan kan?


Lumayan sih, cara riding the wave ini cukup bisa menggelontor traffic. Meski kadang ya hanya sehari 2 hari.

Tapi, kalau trend ini bisa kita kombinasikan dengan keyword rame, ya bisa awet juga traffic-nya. Deadly banget dah, kalau pas bisa combine trending + keyword rame nih. Tapi ya kesempatannya cukup langka. Wkwkwkw.

Meski demikian, cara "menceburkan diri di keramaian" ini bisa jadi cara yang cukup efektif untuk sebar branding, bahwa ada website kita di tengah riuhnya dunia media digital.


3. Monitor media sosial


Cara ini seperti poin 2 di atas sih, yaitu untuk memonitor trend.
Saya biasanya mantengin Chirpstory. Kadang nemu harta karun juga di sana.

Salah satu artikel yang ceritanya saya temukan di Chirpstory.
Biasanya yang paling laris itu adalah yang trending di Instagram, sekarang ini. Nah, dari Instagram ini biasanya kebawa juga ke Twitter.

Facebook saya enggak terlalu sih.

Tapi ya, bisa jadi berbeda dengan kamu. Karena aktivitas orang kan beda-beda di media sosial kan yak?


4. Publish tiap hari, kalau perlu beberapa kali sehari


What?
Memangnya ada hubungannya antara kuantitas artikel yang dipublish dengan jumlah PV yang masuk?

Well, somehow, saya membuktikan sendiri, saat semakin banyak artikel saya publish, grafik PV juga meningkat. Kalau jumlah artikel menurun, ya PV juga turun meski nggak drastis sekali.

Ini juga enggak absolut sih. Lagi-lagi hanya berdasar pengalaman kemarin saja. Cuma kalau dilogika ya bener kok. Teorinya nih, katakanlah, 1 artikel mendapatkan 20.000 PV. Maka, kalau kita bisa publish 5 artikel dengan kualitas yang sama, bukan nggak mungkin kan mencapai 100.000 PV/hari?

Meski ya banyak faktor lain yang ikut menentukan juga.

Ya, kalau setiap hari dirasa berat, ya yang penting konsisten. Kadang juga akan lebih baik mem-publish lebih jarang tapi tetap konsisten dan dengan konten yang benar-benar berkualitas.

Ini kembali lagi ke topik blog yang diambil juga.


5. Bekerja sama dengan agregator aplikasi baca online


Sekarang banyak aplikasi baca di smartphone yang mencari partner untuk penyedia konten. Saya pernah bekerja sama dengan salah satu di antaranya, dan ternyata cukup signifikan kasih pageview yang bisa termonitor di Google Analytics. Istilahnya share pageview.

Beberapa waktu yang lalu sempat ramai juga di dunia perbloggingan. Ada aplikasi baca online yang "mengangkut" konten blog para bloger. Banyak yang protes kan ya?

Saya nggak tahu sih, permasalahannya di mana. Mungkin berbeda dengan jenis kerja sama yang pernah saya lakukan.

Kalau saya kemarin memang kerja samanya, si aplikasi baca ini mengambil konten di portal yang saya kelola lalu dipasang di agregator miliknya. Lalu portal saya juga mendapatkan share pageview.

Kena double content atau enggak?
Mmmm. Saya tadinya bertanya-tanya juga sih, berbahaya enggak buat portal?
Tapi di atas saya ada manajer pemasaran yang seorang jagoan SEO, dan sepertinya dia nggak mempermasalahkan. So, saya juga biarkan saja.

Kalau orang yang saya percaya dan lebih pinter aja seperti nggak ada masalah--sependek yang saya tahu--ya sudahlah. Toh, pageview juga meningkat. Hahaha. Lumayan lo. Bisa sampai 200% peningkatan pageviewnya dari agregator tersebut.


***


Nah, itu dia beberapa hal yang saya lakukan kemarin.
Meh, mentang-mentang udah lepas, jadi bocorin rahasia ya? Huahahaha.

Enggak, ini jadi catatan saya aja sih. Siapa tahu next ada proyek yang mirip atau sama. Jadi saya tinggal refresh aja di sini, terus ya diupdate dengan teknik yang baru.

Kalau ada yang mau nyontek ya monggo. Silakan. Tapi maaf, saya nggak bisa jamin, hasilnya bisa sama persis ya. Karena ada banyak faktor lain yang ikut menentukan, apakah pageview sebuah situs atau blog juga bisa sama meroketnya, jika dijalankan dengan cara yang sama. Lagian saya juga disuport oleh tim yang cukup solid.

Karena ternyata ngurusin konten kek gini itu ada seninya tersendiri. Bisa tergantung topik, tergantung target audience, dan tergantung kita juga yang mengelolanya. Saat formula antara ketiganya pas, maka ya traffic pun melejit.


Caution: Di postingan ini, kembali saya ngomenin orang lain, meskipun bukan bloger. Dan juga, saya menulis dengan bahasa sarkas. Kalau belum terbiasa dengan bahasa ini, sebaiknya skip saja.

Saya nggak pernah tahu siapa itu Gita Savitri sampai beberapa hari yang lalu.

Well, kalau kamu ketinggalan ghibah eh gosip berita, ya kamu bisa baca selengkapnya saja di sini. Saya mah cuma penonton, nggak berhak cerita. Ntar bisa saya tambah-tambahin juga, soalnya.

Sampai dengan artikel ini ditulis, sepertinya bola salju masih menggelinjang menggelinding, hingga melibatkan hampir seluruh netyjen mahatahu dan mahabenar di jagat maya, sepertinya. Bahkan, konon, sampai jajaran direksi bank tempat si lelaki bekerja juga ikut turun tangan.

Entah bener entah enggak.
Saya sebenarnya enggak terlalu peduli.

Cuma, saya merasa lucu, karena kejadian seperti ini tuh enggak sekali dua terjadi di media sosial yang bak panggung sandiwara ini.

*lalu nyanyik*
Dunia maya ... panggung sandiwaraaaa. Ceritaaaanya mudah berubah.
Kisah para selebgram atau tragedi social climberrrrr ...

*anak lama*

Selebgram, selebtwit, seleb-embuh ... itu nggak hanya bisa menginspirasi, tapi juga bisa menjadi para aktor-aktris panggung medsos, dengan mempersembahkan drama-drama sebabak dua babak banyak babak, yang asyik ditonton. Apalagi kalau sampai ada war, alias perang, alias perseteruan. Bak adegan sinetron Indosiar, makin klimaks, makin seru.

So, here is my take.

Saya lihat, banyak orang pengin jadi selebgram. Bisa dapat produk-produk gratis untuk diendorse, dapat bayaran untuk postingan yang captionnya dibikinin sama ahensi (yang lalu berakhir ditulis apa adanya, tanpa edit, tanpa menghilangkan "Captionnya di tulis begini ya, Mbak."), diundang ke event-event menarik, dan seterusnya.

Banyak orang pengin jadi influencer, meski blank mesti gimana dan mesti ber-attitude seperti apa hingga malah genggeus. Banyak orang pengin difollow, sampai ngemis-ngemis, juga pengin di-like dan di-komen.

Well, yeah, setiap orang berhak dan bisa saja menjadi selebgram. Mereka hanya perlu sangat menginspirasi, atau sebaliknya, menjadi sangat menyebalkan. Pilihan ada di kita sendiri.

So, berikut ini adalah pesan buat kamu-kamu yang pengin menjadi selebgram dan femes, dari seorang penggemar dan penonton drama media sosial.


Sebelum jadi selebgram, berikut beberapa hal yang harus diingat, menurut seorang penonton drama maya (alias eikeh!)


1. Watch your emotion


Emosi selalu bisa menjadi bumerang. Emosi bisa bikin kita hilang kendali atas diri kita, termasuk jempol.

Mari kita jadikan kasus Gita Savitri ini sebagai contoh.

Menurut penelusuran saya, ada yang bilang bahwa si mbake ini tadinya punya reputasi perempuan anggun dan smart serta penuh inspirasi. Ini katanya lo, ya. Maaf, saya nggak sempat stalking soalnya. Bukan tipe yang saya idolain, jadi saya nggak tahu mbaknya ngapain aja di Instagram atau media sosial lain.

Dalam waktu sekejap, hanya beberapa menit, reputasi itu hilang seketika hanya gara-gara mbaknya lepas kontrol saat menjawab DM si masnya.

Emosi seperti apa yang bisa bikin lost control? Emosi kan ada banyak?
Hmmm, menurut saya, baik emosi negatif (yang berupa amarah, kesedihan, kekecewaan dll) dan juga emosi positif (rasa senang, puas, bahagia dll) itu sama-sama bisa menjadi bumerang bagi diri kita kalau diungkapkan atau dilampiaskan secara berlebihan.

Terlalu senang atau terlalu puas akan sesuatu lalu dilampiaskan secara berlebihan itu juga nggak akan bagus efeknya. Begitu pun kalau kita terlalu marah atau terlalu sedih.

So, kalau saat ini kamu merasa sedang berada di puncak emosi, lagi seneng banget, lagi sedih banget atau lagi marah banget, jauhi dulu media sosial.

Beneran deh ini.

Ah, kan bisa dihapus ini!
Udah ngetweet bisa dihapus. Udah nyetatus juga bisa dihapus!

Really? Are you sure?
Coba ke poin kedua berikut.


2. Screen capture does EXIST!


Tahu kan ya, fasilitas screen capture? Yes, screen capture--atau kadang juga disebut dengan screenshot--adalah gambar tampilan layar yang diambil langsung dengan gadgetnya. Tahulah ya, apa itu screen capture atau screenshot atau biasa juga disingkat SS.

Tahu kapan, si mbak selebgram itu benar-benar apesnya?
Saat si mas lawannya menyebarkan screen capture DM mereka di media sosial. Katanya sih atas nama pembersihan diri juga sih.

Yang salah siapa, hayo?

Saya bilang dua-duanya salah.

DM--atau Direct Message--nama lainnya adalah Private Message. Pesan pribadi. Namanya pribadi ya seharusnya tetap berada di ranah pribadi. Ngapain pakai disebar ke sana sini?

Oke, kalau itu demi membersihkan namanya--apalagi katanya direksi bank tempat si masnya kerja juga menuntut penjelasan. Tapi coba lihat, ke mana saja DM itu menyebar.
Bahkan di Chirpstory saja ada.

Sungguh. Ini lebih berbahaya ketimbang data bocor Facebook tempo hari loh. :))))

Ingat kasus seorang perempuan pendatang di Jogja yang ngatain orang Jogja miskin dan pemalas, hanya karena ia disuruh ngantre BBM saat BBM langka kapan dulu itu nggak? Kasusnya, si mbak ini bikin status di Path, dan diprotect pula, soal kejengkelannya karena disuruh ikut antre BBM di salah satu pom bensin di Jogja.

I mean, Path adalah media sosial yang paling private. Ini aja discreen capture, dan menyebar ke mana-mana lo! Jangan kira kasusnya berhenti dengan perundungan terhadap si mbak ini. Ia bahkan diadili di pengadilan, dan menerima hukuman lo!

Screen capture does exist, and it's even meaner than people talking!
Tweet kamu bisa diapus, status Facebook kamu bisa diapus. Tapi siapa yang bisa jamin bahwa tweet atau status kamu enggak dicapture orang?

Orang saya aja pernah, nyinyirin Jokan tapi akhirnya saya hapus. Eh, salah seorang teman ternyata lihat dan ngecapture tweet saya itu. Untungnya cuma dibawa ke WAG, dan semuanya teman sendiri :)))) Jadi, saya aman. Nggak diserang penggemar Jokan. Hahaha.

Coba kalau saya selebtweet or selebgram. Wew. Udah, pasti ke mana-mana deh itu.
Nah, ada untungnya juga kan kita bukan seleb. Wkwkwkw.


3. People are mean!


Netyjen itu jahap, bosque. Selain tentunya mereka mahabenar dan mahatahu.

Kalau yang ini sudah pasti pada ngeh dan nyadar seharusnya ya.
Apa saja yang digelindingkan di media sosial--terutama kalau kamu adalah seorang selebgram, selebtweet, atau seleb embuhlah--pasti akan jadi semacam bola salju. Makin gede. Ditambah-tambahin soalnya.

Kemudian muncullah makhluk-makhluk yang bernama haters.
Haters biasanya muncul setelah ada fans. Haters adalah "buah" kefemesan kita. Udah pastilah itu.

And, haters gonna hate.
They never like anything on you.

Siapkan saja mentalmu menghadapi mereka.

Kalau masih belum yakin kalau people are mean, coba bertandang ke akun Instagram Syahrini atau Ayu Ting Ting. Lihat di kolom komen-komennya.


4. You DON'T know people


Kalau kamu belum pernah ketemu dengan seseorang secara langsung, atau kenal seseorang di dunia nyata, maka tanamkan pada diri sendiri, that you don't really know that person.

Kenapa?
Kita nggak pernah tahu gimana orang yang sedang bersembunyi di balik sebuah akun media sosial.

Saya pernah nih ditanya--eh bukan pernah lagi deng, sering!--begini, "Kok nggambar sketsa-sketsanya kek gitu melulu sih? Ngeri amat. Are you OK? Are you happy with your life? Atau, bisa "lihat" kek gituan ya?"

Bahkan ada yang nanya, "Kamu indigo ya?"

Haelah!
FYI. Saya cukup normal. Saya bahagia dengan hidup saya. Permasalahan hidup saya nggak pernah jauh beda dengan orang lain. Nggak, saya nggak bisa "lihat" kek gituan. PUJI TUHAN!
Dan, enggak, saya bukan indigo.

Saya tahu banget, orang-orang yang nanya gitu tuh, adalah orang-orang yang belum pernah ketemu sama saya secara langsung, yang "hanya" bisa menilai saya dari apa yang saya perlihatkan di media sosial.

Ada yang bilang, "Don't judge me, because I only show you what I want you to see."
Ya, ini ada benarnya juga. Tapi, saya pribadi sih dengan besar hati dan sadar betul menerima konsekuensi dari "apa yang saya perlihatkan". Yaitu di-judge sebagai orang aneh.

Nggak papa.
Lagi-lagi, untung saya bukan selebtweet atau selebgram. Jadi, nggak masalah.

Kita nggak bisa menghakimi orang lain hanya berdasar apa yang kita lihat di media sosial. Ya, kita boleh saja sih berasumsi atau berkesimpulan sendiri. Hal tersebut juga hak kita kok. Kadang bukan salah kita juga kalau kita berkesimpulan salah, karena memang hanya sebegitu yang diperlihatkan. Iya nggak sih?

Begitu juga dengan kasus mbak seleb dan mas bankir. Mbak seleb karena marah telah dilecehkan langsung deh pasang foto orang yang melecehkan di Instagram Story. Padahal itu foto yang dicolong dari akun lain.

Ya, memang. Gimana kita bisa tahu kalau itu adalah fake account?
Makanya saya bilang, we don't know people.

Terus kenapa?
Mari kita ke poin selanjutnya.


5. Karena nggak kenal, maka sopanlah


Dan, karena kita nggak bisa kenal betul dengan orang lain di media sosial, maka ya sebaiknya kita harus menjaga setiap kata yang kita keluarkan dan tetap sopan sama siapa pun. Termasuk pada penggemar, kalau kita nanti jadi selebgram.

Pernah kepoin komen-komen di Instagram Yuni Shara belum?
Kapan itu pernah viral, soal jawaban-jawaban Yuni Shara pada para hatersnya yang savage banget :))


Jawaban Yuni Shara pada haters. Demen deh waaaa =)) Image via Tribun Jambi

Tuh, jawaban perempuan pinter dan cerdas tuh gitu. Balikin deh ke komentatornya. Dan, tetap denga sopan.

Jangan malah nyebut "Nyet!"
*masih ngekek* Ya Allah. *shake my head*

Sekali lagi deh ya, jangan balas komen atau nyetatus saat emosi ya. Ya gitu tuh, hasil keluarannya. Nyat nyet nyat nyet.




Nah, itu cuma 5 hal yang mesti diperhatiin kalau kamu mau manjat sosial, terus pengin jadi selebgram. Tentu masih banyak hal lain juga yang mesti kamu persiapkan. Yang lebih teknis-teknis, kayak ratecard, grafik demografi, email dan nomor WhatsApp untuk dihubungi, dan lain-lainnya.

Semoga ini bisa jadi bekalmu untuk menjadi seorang selebgram yang bermartabat.

Moral of the story.
Jangan pernah ganggu cewek yang lagi PMS!

Bahaya, cyin. Cewek PMS lagi jalan ketemu batu, yang pindah batunya!

Ya sudah, saya pamit dulu.
Mau cari selebgram berpengikut 600K++ untuk diajak ribut. Biar follower IG saya nambah 3000an lagi.

Kan mayan.