Tanggal 20 bulan September lalu, dua website yang saya kelola tiba-tiba enggak bisa diakses, gara-gara kehabisan kuota bandwidth. Kalau diakses, ada tulisan "509 Bandwidth Limit Exceeded" gitu.

Yha! Hari gini, masa kehabisan bandwidth. Paniklah saya.

Tapi kehabisan bandwidth ini ternyata nyata. Padahal baru tanggal 20. Berarti kurang lebih 10 hari dong, websitenya enggak bisa diakses. Aduh! Padahal website bisnis, buat jualan. Macem mana enggak bisa diakses.

Pemakaian bandwidth bulan September. Itu padahal baru tanggal 20, udah habis aja.


Meski saya pengin rasanya nangis kejer, tapi sebagai seorang profesional (yang dianggep) pinter, saya harus tetap tenang. Langsung deh saya berburu cara menghemat bandwidth ke sini sana sono. Cuma saat itu ya cuma bisa diem bae, lantaran buka laman admin aja kagak bisa, Esmeralda.

Jadi semua tip yang ada saya kumpulin dulu--sambil berusaha merayu si Bubos siapa tahu mau ngupgrade layanan hosting, biar enggak pusing-pusing lagi.

Jadi ada beberapa hal sih terkait kondisi website-nya waktu itu (yang sebagian saya tahu, menjadi penyebab kenapa bandwidth cepat habis):

  • Satu hosting, dipakai untuk dua domain. Salah satu domain (kita sebut saja domain A) bakalan punya kategori dan produk yang bejibun, dan beraktivitas tinggi. Domain yang satunya (domain B) masih so-so-lah. Saya sebenarnya punya strategi konten yang berbeda untuk keduanya, lantaran memang pasarnya berbeda, agar dua-duanya bisa tampil bareng di halaman muda Google. 
  • Saya sempat salah (atau lupa) instruksi terhadap admin domain A--yang bakalan punya produk bejibun untuk ditampilkan--untuk meresize dan mengoptimasi foto-foto agar besarnya di bawah 100kb. Belio ngupload gambar-gambar dengan ukuran mega, pemirsa. 1 MB, ada yang sampai 2 MB. *Ya kan, eikeh pikir beginian sudah pada taulah ya. Masa masih dijelasin lagi sih? Tapi ternyata beneran, ada yang belum tahu* Hiks.
  • Masing-masing website pakai plugins yang boros bandwidth, yaitu WooCommerce, dan beberapa printilan tambahannya. Ya, secara memang merupakan situs katalog, bukan blog biasa aja.
  • Paket hosting websitenya "cuma" punya spek kapasitas bandwidth 100 gb dan memory 1 gb sahaja. Seharusnya, sih menurut hemat saya, itu cukup. Apalagi ini baru di awal. Bisa dibilang domain A aja belum saya apa-apain selain diisi gambar-gambar gede sama sang admin -__-"
Pas saya menghubungi perusahaan penyedia hostingnya, enggak ada jawaban laen yang bisa mereka kasih selain harus mengupgrade layanan.

Meh. Saya merasa, kok gini aja sarannya terus. Jualan aja terus. Enggak kasih alternatif solusi apa kek. ZBL.

Ya, kalau ditanya, mampu kok ngupgrade layanan mah. Gampang. Perusahaan sedang berkembang baik gini. Tapi, yaelah. Gitu doang mah ... cemen amat. Ga cerdas. Awokawokawokawokawok. --emang susah ya mau ngekek ala gen Z.

Maka, seperti yang udah disebutin di atas, saya coba cari sendiri cara buat menghemat bandwidth. Tapi beberapa yang saya temukan di awal adalah cara dan tip yang saya enggak mudeng, pemirsa. Apalah cek javascript, encoding gzip ... Yawlah. Embuh. Saya nggak ngerti.

Emak-emak ini cuma sok-sokan (pura-pura) pinter aja soalnya. Disuruh baca artikel pemrograman, mana ngerti dah.

So, saya hanya bisa melakukan beberapa hal yang saya paham doang, kayak gini.


7 Langkah Menekan Pemakaian Bandwidth Website


1. Blokir spam bots

Nah, kita nih bisa cek aktivitas nananini segala macem di website kita di AWStats ini. Jujur ya, saya baru tahu. LOL.

AWStats ini bisa diakses melalui CPanel, biasanya di bagian Metrics. Bareng metrics lainnya, bisa cek bandwidth juga di bagian Metrics ini.




Itu, kalau dilihat di bulan Oktober, saya berhasil menaikkan visit (menurut versi hosting, bisa jadi beda sama punya Google Analytics), tetapi bisa menekan pemakaian bandwidth cukup signifikan.

Nah, di AWStats ini, kalau diskrol ke bawah, kita bisa lihat aktivitas spiders--atau para robot perayap dari mesin pencari.


Nah, coba dilihat daftar paling atas itu. Ada yang ngabisin 2 GB sendiri kan?

Memang, menurut beberapa sumber yang saya baca, spider atau robot perayap ini bisa ngabisin bandwidth. Parahnya lagi, si robot perayap yang ngabisin bandwidth ini justru bukan dari Google. Tapi embuh, dari mana enggak jelas. Kadang malah robot spamming.

Nah, ini yang harus diatasi.

Saya sih menemukan di beberapa tip, bahwa ini sebenarnya bisa diatasi dengan memblokir spam bots itu dengan .htaccess.

NAH, INI YANG SAYA KAGAK PAHAM. Huhuhu. Sedih.

Jadi, monmaap, langkah ini memang saya masukin di pertama, karena seharusnya ini saya lakukan di awal. Tapi saya enggak mudeng. Udah cari dan baca caranya, saya juga enggak berani ngulik.

So, silakan yang tau dan bisa melakukannya, lakuin ini yang pertama kali dulu deh untuk menekan pemakaian bandwidth.

Tapi, ada juga sumber lain yang bilang, bad bots ini bisa juga diblokir dengan bantuan plugins Blackhole Bad Bots. Saya belum coba juga, karena saya masih merasa perlu untuk mencari referensi lain lagi.

Kalau ada yang mau coba, silakan. Pastikan aja jangan sampe ngeblokir Google bots ya.

Saya udah memasukkan ini ke list PR saya. Semoga segera ada waktu buat mempelajarinya pelan-pelan.


2. Cek plugins

Nah, buat yang pake WP self hosted ini pasti familierlah dengan plugins ya. Well, plugins ini juga menambah beban server hosting lo. Terutama beberapa plugins, yang memang bikin boros bandwidth menurut beberapa sumber.

Ada beberapa sih, terutama plugins yang fungsinya untuk chatting, commerce, statistik, sitemap, related posts, random posts, dan popular posts.

Yaitu:

  • Jetpack
  • Sumo
  • WooCommerce
  • Wordfence
  • Broken Link Checker
  • Contact Form 7
  • Disqus Comment System
  • NextGEN Gallery
  • SEO Auto Links & Related Posts
  • Yet Another Related Post Plugin
... dan beberapa plugins lain, yang pokoknya fungsinya di atas.

Nah, kebetulan banget di dua website saya itu ada plugins WooCommerce (meski fungsi commerce-nya didisable, tapi katalognya harus pakai Woo), Sumo, dan Wordfence. Plus satu lagi plugins untuk fungsi chat WhatsApp. Ini enggak masuk ke dalam daftar di atas, tapi karena fungsinya chat jadi saya simpulkan, plugins ini pasti juga berat.

Dan keempatnya enggak mungkin saya lepas, karena bisa memengaruhi sistem websitenya. Yang lain-lain, yang kira-kira berat dan enggak butuh banget langsung deh saya lepas.

Nah, untuk mengetahui bagian mana dari website kita yang berat, kita bisa minta bantuan GT Metrix--ya meskipun sebenarnya sebagai page load test dia kurang akurat lantaran dia ngeceknya dari Kanada sana. Tapi bisalah kita pakai data sebagai ancer-ancer aja.

Buka GTMetrix.com. Terus coba test website kita kek biasanya. Nah, saat report-nya sudah ada, coba skrol ke bawah, nanti akan ketemu panel seperti ini, pilih Waterfall.




Nah, itu bisa diliat deh, apa aja yang timeline-nya gede. Misalnya, bisa diliat itu woocommerce butuh waktu 5 ms untuk loading. Makin ke bawah makin kelihatan deh, mana aja yang lambat loadingnya. Itulah yang bermasalah.

Sebenarnya di website yang saya kelola ini masih oke, karena pluginsnya sepertinya enggak ada yang sampai disebut 2 kali. Tapi semisal ada, nah berarti kita harus mencari plugins lain yang lebih ringan.

So kesimpulannya gimana nih, di bagian plugins ini?

  • Hindarkan penggunaan plugins yang enggak efektif dan efisien.
  • Kalau ada 2-3 plugins yang bisa digantikan oleh 1 plugins, maka ganti saja ke yang 1 plugins.
  • Kalau ada plugins yang tidak terlalu urgent, mending dilepas saja. Lalu dihapus. Jangan nyimpen plugins yang enggak dipakai di dalam web.
  • Sebisa mungkin hindari plugins yang mesti external request, misalnya seperti Google Fonts, Gravatar, bahkan Adsense. Di website yang saya kelola itu kebetulan enggak ada Adsense. Gravatar langsung saya matikan. Tapi Google Fonts enggak bisa, karena built-in sama template. Jadi, ya sudahlah.



3. Pakai plugins cache systems

Nah, yang ini juga rekomendasi beberapa orang sih.
Plugin cache bekerja dengan cara menghasilkan halaman static html dari wordpress , sehingga website dapat diakses dengan cepat tanpa perlu lagi melakukan processing php dan lain-lain yang memerlukan akses langsung ke database.
Sumber: wpjava

Ada beberapa plugins cache yang bisa ditemukan di WP,  tapi mana yang paling baik digunakan? Well, relatif sih.

Sebenarnya banyak yang merekomendasikan WP Rocket, karena fiturnya paling lengkap. Tapi saya cek kok enggak ada WP Rocket. Ada sih Lazy Load doang, enggak yang lengkap WP Rocket.

So, saya memutuskan untuk tetap menggunakan WP Fastest Cache.
Sementara fungsi WP Rocket lain, saya penuhi dengan WP Optimize.


4. Pakai WP Optimize

Mungkin ya, cukup pakai WP Optimize sih tanpa WP Fastest Cache, karena di WP Optimize ada juga fungsi cache-nya. Tetapi fungsi cache di WP Optimize ini bisa di-disable kok, kalau misal dobel sama WP Fastest Cache. Jadi, saya pakai dua-duanya di sini.

Jadi, diapain aja nih WP Optimize?

Optimasi database


Tinggal centang aja semua deh. Kek post revisions gitu, enggak usah disimpen. Buat apa? Trashed posts juga langsung buang aja semua. Begitu juga dengan komen spam dan yang dibuang.

Buanglah mantan pada tempatnya.

Jadi, as dummies, enggak usah ribet, langsung centang lalu klik "Run optimization".


Optimasi image


Nah, settingan untuk optimasi image-nya saya atur begini.
Pas baru pasang kemarin, itu yang uncompressed images itu ada ratusan. Lalu saya select all, dan klik Compressed the selected images aja.

Sekarang semua image sudah terkompres dengan baik.

Nah, untuk bahas image, mari kita ke langkah selanjutnya.

WP Optimize ini harus dicek secara berkala ya, lalu hapus-hapus secara rutin file-file yang sudah nggak kepakai. Kalau di rumah nyata aja kita mesti bebersih dan disarankan untuk jangan suka nyimpen sampah, maka demikian juga di rumah maya kita.

5. Optimasi gambar dengan TinyPNG

Jadi, image memang merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan saat kita mau bikin konten di website ya. Jangan pernah lebih dari 100 KB. Kalau terpaksaaaa banget, ya maksimal 200 KB. Tapi, usahakanlah selalu untuk di bawah 100.

Jangan pernah ngunggah image yang bersatuan mega. Karena kita mau kasih image itu di laman web ya, Esmeralda. BUKAN BALIHO. Jadi, cukup pakai file yang kecil aja.

Udah harus diresize sesuai frame website/blog kita, pun harus dikompres lagi.

Sebenarnya dengan WP Optimize di atas, dengan settingan "automatically compress newly-added images" itu aja, sudah cukup. Tapi, website yang saya kelola ini ke depannya akan buanyak sekali menampilkan gambar produk.

So, saya enggak berani ambil risiko lagi. Sehingga, sebelum diunggah ke website, setiap foto/image harus diresize sesuai kebutuhan, dikompres dengan TinyPNG, baru kemudian diunggah ke web.

Rempong ya, cyint. Ya biarin. Tapi terbukti kok, bandwidthnya ngirit banget sekarang.


6. Setting ulang Wordfence

Nah, Wordfence memang lumayan "makan" bandwidth, tapi bisa kok disetting ulang. Misalkan kamu pake plugins ini juga ya.

Langsung aja ke bagian All Option-nya. Lalu coba ulik hal-hal yang sekiranya enggak perlu, misalnya opsi-opsi untuk kirim-kirim email bisa dikurangi.

Terutama di bagian Rate Limiting.


Nah, ikurin aja sesuai dengan gambar di atas, di bagian Rate Limiting.

Lalu, ke bagian-bagian berikut juga:
  • Do not “enable live traffic view”
  • Do not “enable automatic scheduled scans”
  • Do not “enable email summary”
  • Enable “use low resource scanning”
  • Decrease “limit the number of issues sent in the scan results email” to 500
  • Do not enable “updates needed (plugin, theme, or core)”
  • Increase “update interval in seconds (2 is default)” to 10-15 seconds
  • Decrease “how much memory should Wordfence request when scanning” to 100MB
  • Enable “delete Wordfence tables and data on deactivation”

7. Disable hotlink

Yang terakhir, pastikan kamu disable hotlink.

Kadang ada orang yang mau pakai foto kita, terus males download dan upload ulang. Enakeun langsung semat gambar via URL, yang URLnya ada di website kita (karena gambarnya ada di website kita).

Nah, kalau yang ambil gambar ini trafficnya gede, mau enggak mau bandwidth kita juga tersedot.
Makanya penting untuk menonaktifkan hotlink.




Caranya bisa ke CPanel, lalu cek ke bagian Security, klik Hotlink Protection. Lalu enable Hotlink Protection-nya.


Nah, itu dia beberapa langkah yang kemarin saya lakukan untuk menekan dan menghemat bandwidth hosting website.

Sebenarnya masih ada yang bisa diulik lagi sih, menurut artikel dari Online Media Masters ini. Tapi saya sudah lakukan 7 hal di atas, dan Puji Tuhan, bandwidth sudah terkendali.


See? Yang Oktober itu sampai dengan tanggal 27, baru 53 GB sahaja. Bandingkan dengan September yang baru sampai tanggal 20 udah 98 GB.

Wqwqwq.

Lumayan banget kan?

Demikian tip ini ditulis, biar kalau kejadian lagi sama saya, saya enggak lupa langkah-langkahnya :))
Semoga juga bisa membantu teman-teman yang punya masalah yang sama.


Zaman sekarang, jadi ibu rumah tangga juga enggak bisa cuma nganggur aja di rumah. Tapi, kalau mau bisnis, bisnis apa? Modal dari mana? So, artikel ini adalah sponsored post yang akan berisi informasi mengenai Pinjaman Online untuk Ibu Rumah Tangga dari KTA DBS.

Yes, seorang ibu rumah tangga juga bisa mendapatkan pinjaman untuk memulai ataupun mengembangkan bisnis, jika memang memenuhi syarat. Meskipun dia mungkin nggak memiliki sumber penghasilan tetap, tapi tetap bisa kok.

Gimana caranya?

---

Kondisi Ibu Rumah Tangga Zaman Now: Nggak Mau Nganggur Doang

Para ibu rumah tangga zaman now ini jauh berbeda dari yang dulu-dulu. Para mamah millenial ini berpendidikan, cerdas, dan ambisius. Seiring dengan kegiatan mereka merawat rumah dan keluarga, mereka juga ingin menjelajahi dunia di luar empat dinding rumah. Pengin eksis, dan pengin sukses.

Banyak dari mereka akhirnya memutuskan untuk keluar rumah untuk bekerja di perusahaan-perusahaan, sementara yang lain bermimpi memiliki bisnis sendiri.

Kalau kamu diberi kesempatan, kamu lebih memilih yang mana? Kerja, atau punya bisnis sendiri?

Sayangnya, dua-duanya bukan hal yang mudah. Yaeyalah. Dikasih susah dapat kerja aja kita suka gampang bilang resign. Wqwqwq.

Soal bisnis apalagi. Nggak ada bisnis yang mudah. Terlebih lagi ya, banyak lo sebenarnya ibu rumah tangga yang punya ide bisnis yang cukup unik, tapi sayangnya mereka enggak punya "bensin" buat mewujudkannya.

Lah, kok bensin? Iya, dana, maksudnya. Nggak ada modal gitu. Inget kata Mas Dani Rachmat--guru finansial saya itu lo--jadinya.

Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang.

Tsah.


Mau Bisnis, Tapi Nggak Ada Bensin? Susah!

Sebenarnya ya, kita bisa kok mulai bisnis dengan modal minim. Cuma ya, kalau mau ngembangin kadang ya perlu juga nambah modal.

Pinjaman bisa jadi merupakan salah satu opsi untuk mencari dana tambahan untuk pengembangan modal. Tapi, sayangnya, pinjam modal itu nggak gampang. Ada daftar panjang kriteria yang harus dipenuhi oleh pemohon supaya pengajuan pinjamannya dikabulkan.

Apalagi untuk bisnis yang baru dirintis. Wah, susah pastinya. 

Tapi susah, bukan berarti nggak mungkin lo. Karena opsi atau pilihan itu tetap selalu ada. Tinggal gimana kita aja yang memanfaatkannya.


Bagaimana Cara Mendapatkan Pinjaman untuk Modal Bisnis Ibu Rumah Tangga?

Sebenarnya, pinjaman itu ada beberapa macam, terutama yang terkait untuk keperluan modal bisnis.

1. Gadai emas

Nah, cara pertama ini sering dilakukan oleh para pebisnis kecil. Mereka "meminjam" sejumlah uang, dengan menjaminkan perhiasan ataupun logam mulia mereka.

Gadai emas ini tampaknya merupakan salah satu solusi untuk mereka yang butuh modal tetapi kalau mengajukan pinjaman resmi ke bank terhambat karena syarat-syaratnya. Maka, kalau punya emas ini, lumayan deh bisa dimanfaatkan. Gadai emas bisa ke mana saja, tetapi yang paling aman sih ya ke Pegadaian.

Cukup banyak mentor bisnis yang menyarankan untuk menambah modal dengan cara gadai emas ini demi mendapatkan tambahan modal bisnis.

Setelah kita ada uang kembali, emas yang kita "titipkan" di Pegadaian bisa kita ambil kembali.


2. Pinjaman dengan agunan atau jaminan

Kalau di bank, biasanya disebut dengan Kredit Multiguna. Namanya juga multiguna, jadi boleh dipake buat apa aja. Plafonnya yang tinggi--sampai miliaran--jadi cukup menarik, juga tenor yang panjang. Hanya saja, kita sebagai peminjam harus menyediakan jaminan yang setara dengan jumlah pinjaman kita.

Kalau kita gagal bayar? Ya, pemberi pinjaman berhak atas jaminan yang sudah kita agunkan, dan nantinya akan dijual demi melunasi pinjaman.

Jaminannya sih bisa bermacam-macam, dari perhiasan, kendaraan, rumah, hingga jika kita punya investasi surat berharga.


3. Pinjaman bersama

Cara berikutnya untuk mendapatkan pinjaman sebagai tambahan modal bisnis adalah dengan menambahkan pemohon kedua yang memiliki pekerjaan.

Maksudnya gimana? Misalnya, suami yang bekerja di sebuah perusahaan, atau kalau yang belum berkeluarga juga bisa menambahkan ayah yang berpenghasilan tetap setiap bulan.

Nah, jumlah pinjaman akan diberikan tergantung pada penghasilan kedua pemohon. Bahkan jumlah maksimum pinjaman juga merupakan kelipatan dari pendapatan keduanya.


4. Kredit Tanpa Agunan

Nah, yang keempat ini adalah salah satu cara mendapatkan tambahan modal bisnis yang memang lebih cepat. Kemudahan dan kepraktisan kredit tanpa agunan ini memang cukup menggiurkan.

Jika memang butuh dana cepat, maka kredit ini bisa juga dipertimbangkan.

Tak hanya di bank, kredit tanpa agunan sekarang juga bisa diajukan pada fintech-fintech yang semakin menjamur. Namun, sebelum mulai meminjam dengan sistem kredit tanpa agunan ini, ada baiknya memperhatikan beberapa hal berikut:

  • Pastikan fintech atau lembaga keuangan yang memberikan fasilitas kredit tanpa agunan terdaftar dan berada di bawah pengawasan OJK.
  • Cari info sebanyak-banyaknya mengenai fintech atau lembaga keuangan terkait dari berbagai sumber, sebelum benar-benar melakukan pinjaman untuk tambahan modal bisnis.
  • Cermati syarat, ketentuan, dan berbagai kondisi yang biasanya dijabarkan sebelum kita mulai mengajukan pinjaman.

Pengajuan kredit tanpa agunan ini memang relatif mudah didapat dibandingkan dengan pinjaman bank biasa, ataupun yang multiguna.

Pemohon hanya perlu menunjukkan beberapa dokumen sederhana--misalnya slip gaji--dan pinjaman akan diproses dalam waktu 24 jam, sehingga nggak perlu menunggu terlalu lama untuk mendapatkan pinjaman modal.


Nah, dengan beberapa cara di atas, seorang ibu rumah tangga pun bisa mendapatkan tambahan modal untuk pengembangan bisnisnya.

Selanjutnya, ada banyak PR yang harus dilakukan ya--buat laporan keuangan yang rapi dan tertib, kelola bisnis sebaik-baiknya, agar kemudian bisa mengembalikan modal yang sudah dipinjam, berikut bunganya.

Semoga sukses bisnisnya ya!

---

Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai Pinjaman Online untuk Ibu Rumah Tangga dari KTA DBS, Anda bisa mengunjungi situs https://www.cekaja.com/banks/dbs/pinjaman/kta-dbs.


Kadang kala para bloger--terutama yang pemula--lebih suka menulis yang memang mereka sukai. Tentunya hal ini ya bagus, terutama supaya mereka bisa menyukai dulu kegiatan blogging, enjoy dulu aktivitas menulis, mengedit foto, dan segala hal yang berhubungan dengan ngeblog.

Tapi, pada akhirnya, kalau kita mau maju, berkembang, dan lebih sukses ngeblognya, mau enggak mau ya kita mesti "menuruti" apa mau pembaca.

Setuju enggak sampai sini? Setuju ajalah ya? Jadi, biar saya bisa lanjut bahas :))

Ya, kecuali kalau kita ngeblog buat dibaca sendiri sih. Kalau kek gitu mah terserah aja. Mau diisi tulisan yang cuma bisa dipahami sendiri sih juga enggak masalah. Asal, jangan terus sambat aja, kok blogku sepi amat. Yang baca enggak ada 100 orang per bulan?

Karena jawabannya sudah jelas. Penyebab sepinya blog kamu itu, kalau enggak karena kontennya enggak dimaui/dicari sama netijen, bisa juga karena banyak yang enggak paham kamu nulis apaan.

Ouch, yes. Reality sucks.

But, anyway, mari kita ke penyebab pertama: konten kamu enggak ada yang nyari.

Untuk penyebab ini, solusinya cuma satu: kamu sebaiknya menulis konten yang dicari oleh orang. Karena, hard truth is enggak ada orang yang peduli dengan hal yang kita (sebagai bloger/penyedia konten/penulis) sukai.

Nope. No one even cares, Ferguso!

Nggak ada orang yang peduli, kalau kita suka traveling. Enggak ada orang yang peduli, kita suka crafting. Nggak ada juga yang peduli, kita suka apa untuk dibahas di blog.

Yang mereka peduli adalah--misalnya--gimana caranya ngetrip ke Jepang dengan biaya murah, yang kemudian nyangkut di konten kita yang lagi berbagi tip cara murah traveling ke Jepang. Mereka enggak peduli kita hobi traveling, yang mereka mau adalah informasi gimana cara halan-halan dengan biaya murah.

Mereka enggak peduli kita suka crafting. Yang mereka pedulikan adalah gimana caranya ini bikin aksesori rambut supaya bisa dijual di online shop supaya nambah-nambah duit.

Egois? Ya emang gitu cara mainnya.

So, mau blognya ramai? Let's start with people's favorite things--yang baru kemudian disesuaikan dengan topik yang kita kuasai or sukai. Baru kita sajikan ke hadapan mereka dalam bentuk informasi, atas nama sharing is caring.

Gimana caranya bisa tahu apa yang pembaca butuhkan?

Berikut ini ada beberapa cara mengenali kebutuhan pembaca, kamu bisa cobain semua atau beberapa yang kamu rasa sesuai, agar blogmu ramai dikunjungi orang


5 Cara untuk Mengenali Pembaca

1. Lakukan keywords research

Keywords? Kata kunci? Kenapa kata kunci sepenting ini?

Well, ini sudah saya jelaskan panjang lebar dalam satu artikel utuh: Mengapa keywords itu penting. Bolehlaaa dibaca, kalau memang belum pernah baca yes?

Kata kunci adalah memang merupakan kunci pintu blog kita dari "jalan raya" yang disebut Google, dan mesin-mesin pencari lainnya. Kata kunci adalah plang nama, yang akan membawa orang masuk ke halaman dan kemudian masuk ke rumah.

Kata kunci juga merupakan satu cara pertama dan utama dalam usaha kita mengenali kebutuhan pembaca akan satu informasi.

Jadi, kata kunci adalah KOENTJI.

Saya pernah dapat curhat begini.

"Mbak, kok saya bikin artikel udah pakai struktur yang bener, sudah pakai kata kunci juga, panjang artikel juga pas. Kok tetap sepi aja blog saya?"
"Kata kuncinya udah riset kan? Ambil yang volume berapaan?"
"Enggak sih, Mbak. Nebak."
"..."
Lu kate, SEO itu ilmu nujum apa? ZBL.

Memilih kata kunci itu enggak bisa kalau pakai ngitungin kancing baju. Atau lempar koin. Kata kunci itu mesti diriset. Kita mesti lihat data, lalu membandingkan satu sama lain.

Sama sekali bukan sulap bukan sihir.

Silakan baca artikel tentang bagaimana melakukan keywords research ini ya.


2. Cek statistik blog

Statistik blog yang ada di Google Analytics dan Google Search Console juga bisa kita gunakan untuk mengenali kebutuhan pembaca akan suatu informasi.

Ada 2 cara sih:


Pertama.
Lihat di statistik artikel yang paling banyak dibaca secara organik (jadi jangan pakai artikel yang sempat diiklankan ya). Di situlah ada minat pembaca yang banyak. So, coba definisikan. Apa topiknya? Apakah kamu bisa mengembangkan bahasan lain atau sudut pandang lain dari topik yang banyak dibaca itu?

Kedua.
Lihat statistik keywords dari channel organic. Coba masuk ke Google Analytics-mu, lalu ke Acquisition > Channels > Organic Search.



Saya kasih contoh deh. Ini adalah statistik blog saya di Organic Search itu.

Artikel "cara membuat cover highlight Instagram" itu saya buat setelah saya melakukan eksplorasi terhadap artikel tentang update algoritme Instagram yang sebelum saya posting dan cukup ramai dikunjungi.

Akhirnya artikel cara bikin cover highlight itu sekarang malah statistiknya jauh melebihi artikel tentang update algoritme Instagram.

Boleh, silakan cek dengan keyword "cara membuat highlight Instagram", artikel saya di urutan berapa :))

Ingat, cek statistik pakai Google Analytics atau Google Search Console ya. Jangan pakai statistik bawaan blog.


3. Cek komen

Bagian kolom komen juga bisa jadi sumber untuk riset mengenali kebutuhan pembaca terhadap suatu informasi.

Memang sih, banyak banget yang baca artikel tanpa ninggalin komen apalagi kalau kita mendapatkan pembaca dari search engine. Wah, nasib pasti minim komen deh.

(Yes, jangan terburu-buru underestimate artikel minim komen ya. Bisa jadi pageviewnya malah jutaan, udah. Wqwqwq.)

Anyway ...

Sebaiknya sih jangan pernah mengabaikan kolom komen. Kadang, di kolom komen itu ada banyak harta karun ide tersembunyi.

Makanya, penting di setiap artikel untuk menyelipkan semacam pertanyaan atau call to action, mengajak pembaca untuk berdiskusi atau bertanya. Siapa tahu pertanyaan atau komen mereka bisa dijadikan artikel yang pas dengan kebutuhan pembaca kan?


4. Adakan survei atau polling

Cara lainnya lagi untuk bisa mengenali kebutuhan pembaca adalah dengan melakukan survei atau polling.

Saya sih sering juga melakukan ini, di Facebook, Twitter, ataupun Instagram. Cuma karena follower saya enggak seberapa atau karena saya memang kurang banyak gaul juga sih ya, kurang sering komen atau berinteraksi, jadi kadang hasil survei atau pollingnya enggak sesuai dengan ekspektasi.

Tapi, kalau kamu punya massa yang lumayan di media-media sosial, teman-teman kamu banyak, follower banyak dan kamu rajin berinteraksi, survei dan polling ini bisa bantu banget untuk bisa mengenali kebutuhan mereka akan satu informasi.

Paling enak sih ini, karena berarti kan kita bisa tahu from the first hands ya. Langsung tahu dari sumbernya, apa yang mereka butuhkan. Tinggal dilist lalu dieksekusi deh.


5. Cek trending topic

Yang terakhir adalah dengan mengecek trending topic. Yang sering-sering dibahas atau ditanyain orang akhir-akhir ini apa sih?

Kek gitu kira-kira.

Nah, untuk ngecek trending topic ini bisa dengan banyak cara. Beberapa di antaranya adalah:

  • Dengan skrol media sosial; di Twitter ada Trending Topic, di Instagram ada Explore. Kamu bisa skrol-skrol sampai begah di sana, untuk mencari tahu apa yang lagi rame dan bisa kamu ulik untuk dibahas di blog.
  • Dengan Google Trends. Saya sudah pernah jelasin panjang x lebar x tinggi dalam satu artikel khusus. Silakan dibaca yah, kalau belum sempat baca kemarin.
  • Dengan Buzzsumo, yang meski terbatas banget dengan akun gratisan tapi ya lumayanlah ya. Daripada enggak sama sekali. Silakan baca artikel Buzzsumo selengkapnya. 



So ... the bottom line is ...

Okelah kalau kamu menuliskan segala hal yang kamu suka aja di blog. Tapi ingat, yang kamu suka belum tentu orang lain butuh atau suka juga.

Jadi, adalah wajar jika tak banyak juga orang yang datang ke blogmu. Karena ya ... mau ngapain? Kan mereka nggak butuh.

So, supaya mereka mau datang, kita sebagai pemilik blog haruslah menyediakan apa yang mereka butuhkan.

Ini enggak berarti lantas kamu enggak boleh sama sekali menulis atau membahas yang kamu suka lo. Boleh, tapi ada baiknya diatur juga dengan topik yang biasa dicari orang, supaya seimbang.

Google baru saja mengeluarkan woro-woro lagi, bahwa sekarang link attribution atau atribut tautan enggak cuma dofollow dan nofollow aja, tetapi juga ada 'sponsored' dan 'ugc'.

Nah, siapa nih yang baru tahu tentang keberadaan atribut baru ini?
Sejujurnya, saya juga baru tahu sih. So far saya tahunya cuma nofollow dan dofollow doang juga. Tapi ternyata ada yang baru.

Sebelumnya, tentang atribut 'nofollow' dan 'dofollow' ini mesti kamu pahami dulu prinsipnya. Saya pernah bahas sih di artikel soal external link. Silakeun dibaca yah, tentang apa itu dofollow dan nofollow, dan apa fungsinya masing-masing.


Perubahan Atribut Nofollow


Dan, sekarang, ada perubahan yang cukup signifikan nih dari Google mengenai penggunaan nofollow. Yang dofollow enggak disebutkan sama sekali, so mari kita asumsikan bahwa aturan dofollow enggak berubah.

Lalu, apa yang berubah dari atribut tautan ini?

1. Ditambah 2 jenis atribut

Yes, seperti sudah disebutkan di atas, sekarang ada atribut tambahan yaitu "sponsored" dan "ugc". Berarti selain "dofollow", sekarang juga ada "nofollow", "sponsored", dan "ugc". Ada lagi, yang tanpa atribusi.

Ketiganya menjadi semacam petunjuk untuk Google crawler bot, mengenai bagaimana si bot akan melakukan treatment terhadap tautan-tautan tersebut.


2. Treatment berbeda

Gampangnya, atribusi tautan tersebut akan menjadi "kode" khusus bagi Google. Pada dasarnya, Google tetap mengabaikan nofollow links, tetapi sekarang hal ini enggak mutlak lagi. Dengan syarat tertentu, Google bisa saja menjadikan tautan nofollow ini sebagai salah satu penentu indexing dan crawling botnya.

Behavior ini akan berlaku secara penuh di 1 Maret 2020 nanti.

Lha, sementara ini bagaimana? Masih tetep. Nofollow link akan diabaikan oleh Google.


3. Bisa digabungkan

Untuk kondisi tertentu, kita bisa menggunakan gabungan ketiga atribusi tersebut. Jadi kita bisa saja menulis script rel="nofollow sponsored ugc", yang kemudian akan menjadi kode untuk Google crawling bot.

Dia mau ngapain dengan script seperti itu? Ya, biarkan saja dia memutuskan, apakah tautannya layak untuk diindex dan dicrawl. Tugas kita cuma ngasih "peringatan" aja, bahwa tautan ini adalah tautan bersponsor (yang berarti kita dibayar untuk ngelink) terletak di platform UGC (forum, komen dll), dan bukan rujukan.

Sudah itu aja.

Selanjutnya, biarkan si bot yang memutuskan.


4. Tautan berbayar

Untuk paid link--yang artinya kita dibayar untuk memberi tautan--Google menyarankan untuk menaruh atribusi "nofollow" dan/atau "sponsored". Bisa salah satu atau bisa juga gabungan dari keduanya.

Menggunakan "ugc" saja (atau "dofollow") pada link berbayar akan berbuah penalti. Ingat ya. Jangan pakai "ugc" saja atau "dofollow".


5. Lalu bagaimana dengan tautan yang sudah telanjur published?

Google bilang sih, nggak perlu khawatir tentang yang sudah-sudah. Biarkan berlalu, dan segera moveon #eh
Maksudnya sih, untuk tautan yang next, pakailah aturan yang baru. Terutama untuk tautan-tautan setelah tanggal 1 Maret 2020 itu.

Nah, untuk lebih jelasnya, silakan mencermati infografis yang dibuat sama Moz ini. Menurut saya sih, ini cukup jelas ya. Bagaimana treatment masing-masing atribusi, dan bagaimana menuliskannya.

Sumber: Moz


Kenapa sekarang makin ribet aja sih Google?



Well, tak lain tak bukan karena ulah kita sendiri juga. Dan, Google hanya melakukan hal-hal yang sekiranya perlu untuk melindungi diri kita (user) dari kita-kita juga (spammer).

So, dengan semakin maraknya praktik-praktik spamming, dan makin bernyalinya para pemilik dan pengembang situs membayar netijen untuk ikut dalam marketing strategies-nya, maka Google sudah pasti harus melakukan sesuatu agar user tetap nyaman dalam menggunakan tool pencarinya.

Agar hasil pencariannya semakin valid.
Agar kita semakin tertolong dengan informasi-informasi yang bermanfaat dan berkualitas di Google.
Dan agar kita enggak mendapatkan informasi sesat dari para praktisi black hat SEO.


So, summary ...

Jadi, mesti gimana ini makenya atribusi-atribusi ini?

Pakailah rel="sponsored" untuk paid/sponsored links. Di sini berarti termasuk tautan afiliasi, job review, dan sebangsanya. Pokoknya kalau kita menerima duit sebagai ganti naruh link, pakailah atribusi ini.

Pakailah rel="ugc" untuk tautan-tautan di dalam user-generated content. Ini misalnya kalau ada yang mau bikin forum, gitu ya. Bisa dikasih atribusi ini secara otomatis. Buat yang bisa ngulik kolom komen, juga boleh ditaruh atribusi yang ini.

Pakailah rel="nofollow" untuk semua tautan yang bukan rujukan. Atau, mungkin kita rada meragukan kualitas laman yang mau ditautkan gitu, tapi mesti nge-link. Ya udah, pakaikan saja atribusi "nofollow" ini.

Lebih jelasnya, bisa lihat di guideline yang sudah dibuat oleh Google. Saya rasa cukup jelas kok, dan mudah dimengerti.

Well, sekarang sih belum ada yang bisa kita lakukan, selain siap-siap menambah kerjaan dengan menaruh atribusi sesuai fungsinya. Semoga sih platform blogging masing-masing menambahkan juga dalam menu editnya, biar kita nggak perlu susah-susah nulis secara manual :))

Kalau mau, silakan baca sumber artikel ini di blog milik Moz ya. Belajar langsung dari sumbernya pasti akan lebih oke. Saya hanya berusaha menerjemahkannya secara bebas ke dalam bahasa Indonesia, biar mudah dipahami. Bisa jadi catatan dan reminder juga buat saya sendiri.


Tahu (atau nyadar) enggak sih, kalau Google itu menyimpan hampir semua informasi tentang kita?

Yes, dia akan tahu semua informasi begitu kamu login dan masuk ke akun Google, atau akun mana pun yang dihubungkan dengan Google. Mulai dari penelusuran dan perintah dengan voice search sampai dengan history Google Maps, bahkan sampai riwayat video yang kamu tonton di YouTube.

Oh yeah, semuanya.
Dan, tahu enggak berapa orang mau bayar untuk data-data informasi seperti ini? History akses kita ke mana saja, bahkan pergi ke mana saja?

Jutaan dollar!

Karena data kek gini tuh, data berharga banget terutama buat pemasaran alias marketing!



Pernah buka Google My Activity?

Belum? Coba cek ke My Activity.

Oh yeah! Untung lagi pas nggak nyari porn. Ehgimana?


Laman “My Activity” ini dapat kamu gunakan untuk memeriksa aktivitas online apa saja yang sudah kamu lakukan bersama Google. Maka, di situlah tempat kamu bisa memeriksa data-data personal kamu.

Misalnya, kamu pengin menemukan penelusuran apa saja yang kamu lakukan satu bulan sebelumnya. Laman ini juga berguna kalau kamu bermaksud untuk menghapus semua data yang berasosiasi dengan Google.
  1. Buka “My Activity” di browser, linknya sudah saya tulis di atas ya. Kemudian masuklah ke akunmu.
  2. Cek ke “Bundle View” di sebelah kiri untuk melihat riwayat pencarian kamu in bundle, atau gunakan pilihan “Item View” untuk melihat riwayat satu per satu.

So, kamu mau apa sekarang dengan aktivitas googling kamu yang tersimpan ini? Mari kita lihat.


Nge-download Semua Data dari Google

So, in case kamu mau mendownload semua datamu. Maka, ikuti langkah-langkah di bawah ini:



  1. Buka “Download your data” di browser.
  2. Pilih services yang pengin didownload datanya, lalu klik Next.
  3. Setting “File Type” dan “Archive size (max)” sesuai keinginan, dan pilih “Send download link via email” sebagai “Delivery method”, kemudian klik tombol “Create Archive”. Kamu juga bisa memilih delivery method yang lain, kalau mau.

Buka email, lalu cek apakah ada email dari Google yang masuk. Dalam email tersebut, akan ada tautan untuk mengunduh. Buka, datamu akan siap untuk diunduh.


Nonaktifkan Personalisasi Iklan

Google punya jaringan iklan terbesar yang bakalan melacak aktivitas online kamu demi satu tujuan; mempergunakannya agar mereka bisa menembak iklan yang pas dengan selera kita.

Jadi, sering enggak kejadian? Misal kita lagi liat-liat panci presto di salah satu marketplace. Karena belum ada duit, ya udah kita belum milih juga kan. Belum masukin ke keranjang. Baru window shopping doang!

Tapi, begitu kita ke situs lain (marketplace kita close) dan kebetulan di situs itu ada iklan, maka iklan yang tampil adalah panci presto incaran kita?

ITU DIA!

Tapi, untungnya, hal ini bisa kita atur sebenernya. Mau tahu nggak?






  1. Buka Ads Settings di browser.
  2. Matikan tombol toggle yang ada di tengah-tengah laman. Klik TURN OFF saat ada popup muncul.

Dan, kamu pun selamat dari iming-iming panci presto.



Nonaktifkan Riwayat Pencarian Google

Kalau kamu nggak pengin menghapus riwayat (history) penelusuran, tetapi masih ingin kehidupan ‘digital’ kamu enggak terlacak oleh Google, maka kamu non-aktifkan saja riwayat Google.



  1. Silakan menuju ke “My Activity” yang tadi tautannya sudah saya kasih di atas.
  2. Klik “Activity Controls” dari sisi sebelah kiri.
  3. Pilihlah tipe aktivitas atau produk yang ingin kamu jeda pelacakannya atau perekaman jejaknya, lalu klik tombol toogle di sampingnya. Ada beberapa service yang bisa kamu lihat bisa disetting di situ: Web & App Activity, Location History, Device Information, Voice & Audio Activity, YouTube Search History, YouTube Watch History. Tinggal kamu pilih mana yang mau di-pause.


Misalnya, saya ingin menjeda “Location History”. Saya klik togglenya, nanti akan tampil pop-up yang menanyakan apakah kamu memang pengin pause aktivitas tersebut. Kalau iya, klik tombol “Pause”, dan konfirmasi aktivitas jika diminta.


Tapi pausing Location History ini enggak akan menghapus data Google Maps ya. Seperti keterangan di atas. Makanya, coba baca dulu sebelum benar-benar menonaktifkan satu service.

Kalau mau hapus history dan nyetting privasi di Google Map, kamu bisa langsung menuju lamannya. Diatur di sana.


Hapus Riwayat Google

Kalau kamu enggak pengin meninggalkan rekam jejak apa pun dalam aktivitas online kamu, dan pengin menghapus semua datayang tersimpan di Google, maka kamu pun harus menghapus riwayat secara keseluruhan.

Kayaknya rumit pasti dibayangin ya? Secara, data kita di Google itu emang banyak bet! Sudah tiap hari selalu akses Google, selalu memanfaatkan service Google, bahkan juga aplikasi smartphone semua juga pakai data Google ... beugh! Ngeri dah.

Tapi, tenang. Meski ini terdengar ribet, sebenarnya ini hanya perlu beberapa menit saja lo!



  1. Buka “My Activity” di browser.
  2. Klik pilihan ikon di sebelah kanan atas dan pilih “Delete activity by”.
  3. Sekarang, pilih periode dan produk mana yang ingin kamu hapus riwayatnya. Pilih aja “All time” kalau emang pengin hapus semua, dan juga “All products”.
  4. Klik tombol DELETE, dan konfirmasi penghapusan.


Menghapus Akun Google dan Akun Lain yang Terhubung

Barangkali, kamu pengin menghilang sepenuhnya dari jagat maya, dengan menghapus semua akun kamu? Bisa lo, ada trik untuk mempercepatnya, terutama untuk menghapus akun-akun yang terhubung dengan akun Google kamu.

Pakai apa? Deseat.me.

Deseat.me adalah tool yang bisa mengakses akun-akun yang bertautan dengan akun Google kamu, dan kemudian menghapusnya.



  1. Buka “Deseat.me”. Tekan tombol “Get started” di tengah, kemudian tekan “Sign in with Gmail” untuk masuk menggunakan Google.
  2. Google akan meminta persetujuan kamua sebelum memberikan akses untuk Deseat.me. Klik tombol ALLOW untuk lanjut.
  3. Deseat.me kemudian akan menunjukkan semua akun yang terhubung dengan Google dalam bentuk tumpukan kartu. Klik tombol Delete pada setiap kartu untuk menghapus akun-akun yang bertautan dengan akun Google kamu.


Gampang kan? Sekali jentik doang.



Jadi gimana? Rekam jejak digital bisa sedikit dirapikan kan, dengan beberapa langkah di atas? Hehehe. Yahhh ... kalau mau benar-benar ngilang sih ya, susah. Tapi bukannya enggak mungkin juga, kok. Ehe ehe ehe.

Semoga bermanfaat.