Suka bingung tiba-tiba engagement di Instagram menurun drastis--nggak ada yang ngelike, nggak ada yang ngefollow, apalagi ngomen. Padahal kayaknya semua normal saja.

Yah, kalau memang semua normal, tapi kamu tetap tak juga mendapatkan engagement apa pun hingga keesokan harinya, well, kemungkinannya sih kamu kena shadowban Instagram.

Saya sih sebenarnya sempat ngebahas soal shadowban Instagram ini secara sekilas di postingan soal algoritma Instagram yang berubah kapan hari.
Tapi, yah, mari kita bahas lebih detail lagi.

Mumpung template blognya baru juga nih. Gimana menurutmu? Bagusan ini apa yang kemarin? *lha, malah nanya template*

Balik lagi ke Instagram yuk.

Saya akan bahas secara ringkas aja deh, apa itu shadowban Instagram, gimana tanda-tanda kena shadowban, bagaimana cara menghindarinya, apa yang perlu kamu lakukan kalau kena shadowban, dan beberapa hashtag terlarang untuk digunakan di Instagram, yang bisa bikin kamu kena shadowban.

Beugh. Emang, kebanyakan aturan banget. Tapi ya sudahlah, sebagai warga Instagram yang baik--plus sebagai orang yang cuma nitip lapak di sana--kita mau nggak mau mesti nurut. Yekaaan?


Apa itu shadowban Instagram?


Shadowban Instagram. Image via PetaPixel


Shadowban adalah kondisi saat konten kamu diblock oleh suatu website, aplikasi atau layanan tertentu sehingga tak bisa dilihat secara umum. Parahnya, kondisi ini diberikan secara ujug-ujug aja gitu, tanpa peringatan, tanpa pemberitahuan.

Saya sendiri baru mengenal si block bayangan ini di Instagram. Saya belum pernah menjumpainya di media lain. Kayaknya kalau di Twitter, kalau mau di-suspend ya suspend, gitu. Ada pemberitahuan, bahwa mungkin kita melanggar aturan ini itu, lalu disuruh ngecek. Kalau ada kesalahan, kita bisa protes.

Di Facebook juga sama. Ada pemberitahuan, bahwa konten kita melanggar, misalnya karena nudity atau apalah, alasannya. Kalau ada kesalahan, kita boleh protes.

Di Instagram ini tau-tau aja gitu, nggak dimunculin di explore. Biarpun dikasih hashtag segambreng, ya enggak akan kelihatan di mana-mana. Cuma bisa dilihat oleh follower, itu pun ya cuma sebentar.



Apa saja tanda-tanda kita kena shadowban Instagram?


Ada beberapa hal yang kelihatan banget sih, di antaranya:

1. Engagement ngedrop drastis. 


Yang biasanya dapat 100 lebih likes, tahu-tahu cuma belasan. Yang biasanya dapat komen banyak juga kok enggak ada yang komen sampai seharian.

Saya pernah nih, dengan sengaja "menguji". Biasanya saya dapat like itu memang enggak terlalu banyak, karena postingan saya di Instagram bukan jenis yang populer. 40-an saja sudah bagus. Kali itu saya sengaja pakai hashtag yang terlarang.

Terus ... terus ya, saya cuma dapat 3 like dari follower doang. Hahaha.
Yep, itu langsung ya. Nggak ada jeda-jeda.


2. Nggak dapat follower baru


Normalnya, setiap kali kita posting satu saja, maka adaaa aja follower nambah meski cuma sebiji doang juga.

Nah, konon nih, kalau kita beli follower, taruhlah beli 2000 follower nanti akan ada follower drop. Bisa jadi hanya akhirnya cuma setengah, dan itu tuh terus berkurang. Nggak pernah nambah.

Ya, beli follower memang dilarang di Instagram. Ini saya belum pernah coba sih. Hehehe. Baru konon. Silakan lo, kalau mau ada yang "menguji". Wkwkwkw.


Nah, memang dua hal itu sih yang paling bisa kita pakai sebagai penanda kalau kita kena shadowban. Kalau mau lihat lebih pasti, kamu kena shadowban atau enggak, coba cara ini:

  • Posting di Instagram, pakai hashtag yang spesifik dan enggak populer. Yang kira-kira cuma kamu doang yang pakai.
  • Lalu, ganti akun. Kan biasanya pada banyak tuh akunnya :P coba search hashtag yang tadi dipakai.
  • Kalau enggak muncul, ya berarti kamu kena shadowban.



Kalau sudah kena shadowban Instagram, so ... ?


Nah, kita akan bahas apa tindakan yang bisa kita lakukan kalau sudah terkena shadowban ya. Tindakan pencegahannya sehabis ini deh nanti.

Kalau sudah telanjur kena shadowban gimana? Apa yang harus kita lakukan supaya shadowban-nya cepat ditarik?

Ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan:
  • Jangan pakai hashtag yang terlarang. Ya ya, nanti di bawah saya akan kasih bocorannya.
  • Postinglah secara normal, menggunakan handphone. Jangan menggunakan aplikasi pihak ketiga, seperti Latergramm, atau Hootsuite, atau apa pun yang bukan langsung dari Instagram-nya.
  • Kalau masih belum ditarik juga, berhentilah posting, like dan kasih komen dulu di Instagram. Cutilah dulu dari Instagram.
  • Kalau akunmu adalah akun Instagram Business, maka ganti dulu ke Personal.
Biasanya sih dengan beberapa langkah di atas, shadowban kamu akan ditarik juga.



Apa yang harus dilakukan supaya enggak kena shadowban Instagram?


Kalau kata Instagram team sih begini. Image via Meltwater.


Ya, mencegah tentu lebih baik daripada "mengobati". Mendingan kamu behaving aja deh di Instagram, ketimbang nyoba trik ini itu yang malah bikin kamu kena shadowban.

Garing tauk kalau enggak ada yang ngelike tuh. Iya nggak sih?

Jadi apa yang harus kamu lakukan supaya enggak kena shadowban?

1. Post natively


Artinya, jangan pakai bot atau aplikasi auto-posting.

Ini adalah jalan yang paling aman. Post langsung di Instagram, nggak usah pakai scheduler. Posting kek manusia biasa.

(((kek manusia biasa)))


2. Jangan nyepam


Memang enggak ada batas kita boleh posting berapa banyak di Instagram, tapi ya jangan berlebihanlah. Tiap menit posting selfie keliatan bibir doang, gitu kan ya genggeus. Kalau bikin genggeus rangorang, ya kamu bisa dilaporin juga. Hahahaha.

Jadi ya biasa ajalah.

Jangan pula nyepam di akun orang. Jangan follow atau like langsung banyak, pun tiba-tiba dapat follower 5000--yang bisa terindikasi beli follower.


Situs radianelephant.com sih menyarankan, jangan sampai melebihi 150 likes, 60 komen, dan 60 follow/unfollows per jam.



3. Hati-hati dengan penggunaan hashtag


Maksimal memang Instagram bisa "menerima" penggunaan hashtag sampai 30 biji. Tapi ya, keknya nggak perlulah sampai full 30 hashtag. Ini namanya hashtag abusing. Big no no buat Instagram.

5 - 10 saja sudah cukup. Ini menurut beberapa orang influencer luar ya.



Lalu, apa saja hashtag yang terlarang digunakan di Instagram?


Here are some of them.


Sumber: Radiant elephant


 
Sumber: Plannthat.com


Oke, hashtag terlarang lainnya, bisa kamu simak di Chirpstory, tempat saya ngumpulin materi tweetnya #MakminSpesialisMalam Kumpulan Emak Blogger ini ya. Hehehe.

Ya, banyak soalnya, cyin!

Nah, ada baiknya, kalau kamu mau pakai hashtag itu kamu cek dulu deh, termasuk ke hashtag terlarang apa bukan. Cara ngeceknya juga ada di tautan Chirpstory di atas. Soalnya hashtag ini kadang ya safe, terus tahu-tahu di-ban tanpa pemberitahuan gitu aja.

Jadi, emang rempong ya.


Nah, semoga hal ini bisa jadi bekal kamu kalau pengin jadi influencer di Instagram. Kalau cuma mau kek saya, buat nyimpen foto doang mah, nggak usah pedulilah. Yang penting bahagia.


Guest post ini ditulis oleh Hani Widiatmoko untuk blog www.CarolinaRatri.com


Hani Widiatmoko

Awal mulanya blog saya pindah ke blog TDL sedikit banyak ada pengaruhnya setelah baca buku dan mereview buku “Blogging: Have Fun and Get The Money” tulisan Carolina Ratri.

Kalau tidak salah, waktu itu kalau mereview dapat hadiah.

Bukan, bukan melulu cari hadiah sih. Kebetulan memang saya punya rencana membuat blog pribadi untuk promosi diri sebagai penulis buku. Walaupun sudah punya blog sejak tahun 2007-an, blognya masih gratisan, dan isi blognya lebih ke arah catatan harian bergambar saja.

Di buku tersebut saya baru tahu yang namanya niche, kemudian monetize blog. Duh, ingin kan, blog pribadi bisa menghasilkan? Apalagi jadi penghasilan.

Sampai sekarang masih suka saya baca-baca bukunya, soalnya untuk mengerti benar harus dibaca lagi, dan lagi. Apalagi tentang SEO-SEO-an itu.

(Terima kasih banyak sudah membeli dan membaca buku saya ya, Mbak Hani :) --Carra)


Article Placement, Diedit atau Tidak?


Hasil survei Moz terhadap tanggapan pembaca yang sudah membaca sponsored content. Menarik :)

Pertama kali saya diemail oleh sebuah agensi untuk article placement, kira-kira 6 bulan setelah blog baru saya tayang.

Jujur, waktu itu belum paham tentang article placement. Setelah membaca email dari klien dengan saksama barulah saya mengerti. Bahwa saya hanya perlu mempublish artikel berikut foto-foto yang sudah disiapkan, kemudian menyematkan backlink di blog saya.

Dipikir-pikir enak juga ya? Saya kan tidak perlu memikirkan sekira 500-an kata untuk mengisi blog. Wah, kalau sepuluh saja article placement dalam satu bulan, saya bisa kipas-kipas.

Ternyata setelah membaca artikel yang harus saya publish tersebut, ada beberapa hal yang harus saya edit juga. Untungnya saya diperbolehkan menyesuaikan dengan gaya bahasa blog saya.

Waktu itu contentnya tentang tujuan wisata. Setelah artikel publish pun, ada sedikit komplen dari agensi. Karena mereka menginginkan backlinknya disamarkan. Saya lumayan bingung, karena template yang saya pilih justru memunculkan underscore (garis tebal) di bawah tulisan berbacklink.

Sebetulnya sebulan sebelumnya, ada agensi berbeda yang juga menawarkan kerja sama juga. Bentuk tawarannya adalah saya harus menuliskan tentang produk layanan sebuah bank, dengan beberapa ketentuan. Tulisannya bebas, kemudian ada satu kata yang dibacklinkkan ke alamat URL tertentu.

Belakangan saya baru tahu, bahwa bentuk kerja sama seperti itu namanya sponsored post.
Kalau diingat-ingat, sebetulnya lebih enak menulis artikel bersponsor atau review produk, karena bisa menulis sesuai kata hati sejak awal.

Baru-baru ini saya juga mendapatkan ajakan kerja sama dari sebuah e-commerce untuk article placement. Umumnya sekarang disebut sebagai content placement (CP).

Ajakan kerja samanya, ya blogger tinggal publish artikel. Ada sedikit perbedaan, blogger diminta membuat internal backlink dan dibebaskan boleh menyertakan external backlink, tidak juga tak apa-apa.

Ternyata di obrolan WhatsApp Grup Blogger yang saya ikuti, teman-teman juga mendapatkan ajakan kerja sama yang sama. Dan setelah saling blogwalking, artikelnya mirip semua.

Setahu saya, di dalam email dijelaskan, kami harus membuat kata pembuka dan kata penutup untuk mendukung artikel tersebut. Dan artikel tersebut pun boleh diedit sesuai dengan gaya bahasa masing-masing blogger.

Nah, di sini hebohnya.

Ternyata teman-teman saya berpendapat lain. Menurut mereka, CP itu nggak perlu diedit. Kalau diedit, jadinya arahnya jadi content writer, sehingga feenya berbeda.

Kata teman-teman lagi, CP kali ini ibaratnya jebakan batman.

Tahu kan film Batman? Tokohnya kan mempunyai tempat persembunyian berliku-liku, bisa membuat tersasar dan tak bisa keluar. Kecuali mungkin ya sang Batmannya sendirilah.

Saya pun mencari tahu, kenapa teman-teman tersebut khawatir dengan CP yang mungkin dipublish oleh belasan mungkin puluhan blogger.

Rupanya ada kekhawatiran duplikasi dengan adanya artikel yang mirip dalam satu waktu yang mengarah ke e-commerce tertentu. Sependek pengetahuan saya, tidak baik untuk blog kita bila diduga ada duplikasi.

Lah, loh...ya atuhlah, kalau takut duplikasi, kenapa tidak direwrite atau dieditlah artikel dari klien, agar sesuai dengan gaya bahasa kita?

Tapi, ya itu tadi, kan teman-teman tidak mau mengedit, karena jadinya ada kerjaan tambahan.

Dalam hal memonetize blog, memang saya nubie banget. Kadang ya ada katroknya, sudah sueneng banget ada agensi yang melirik blog saya. Tapi di satu sisi, artikelnya tidak cocok banget nih dengan gaya tulisan saya, jadilah saya berpikir keras dan mengeditnya.

Pernah juga saya baca di blog seseorang, sebaiknya sebagai blogger kita juga mempunyai posisi tawar. Atuhlah, kalau tulisannya diedit besar-besaran, ditawarkan sebagai tulisan sponsored post saja, nanti feenya lebih tinggi.

Maafkan, saya sepertinya masih perlu banyak belajar untuk bersikap. Misalnya, menolak mentah-mentah ajak kerja sama, karena takut terjebak. Atau menolak halus CP dengan menawarkan artikel berbentuk artikel review.

Kalau dipikir lagi, beginilah kalau sudah “tercemar” bahwa blog bisa menghasilkan, entah transferan atau voucher. Mata kita jadi merah hijau biru. Pikiran kita jadi, kalau dapat voucher, menawarkan traktiran apa ya ke anak-anak.

Coba bandingkan dulu banget waktu masih belum kepikiran menambah angka di rekening, ngeblog happy-happy saja, lebih bebas malah.

Ayuk atuh, tentukan sikap. Mau buka puasa, kolak waluh atau buah potong? #eh...


---

Catatan Carra

Berapa persen perbandingan artikel sponsored dan original di blogmu?


Apa yang menjadi "kegelisahan" Mbak Hani, saya tahu betul rasanya. Dan, saya pernah mengulasnya di artikel Blogger Versus di blog ini juga.

Saya pernah sangat menyayangkan hilangnya personalisasi pada blog teman-teman. Nggak ada lagi rasa unik personal dari teman-teman, karena semua tiba-tiba saja menayangkan artikel yang hampir seragam di satu waktu. Paling keliatan kalau sudah dilihat melalui Feedly. Dari 10 update artikel, hanya 1 yang merupakan original article. Yang lain titipan.

Saya tidak menyalahkan jika teman-teman menerima sponsored article, tapi sebisa mungkin, please, perhatikan keunikan blog sendiri. Masa lebih memilih mengorbankan keunikan diri sendiri ketimbang mengedit tulisan yang enggak gue banget seperti itu?

Sudahlah blognya berniche so-called-lifestyle, yang notabene campur-campur, which means nggak ada spesifikasi khusus, eh ... pas nerima job juga seragam sama yang lain.

Terus, ke mana identitasnya?

Sayangi dong blognya. Itu kan blog teman-teman sendiri.
Percuma juga punya branding ina inu, template cantik-cantik, kalau kontennya sami mawon dengan yang lain? Enggak akan bisa menonjol, dan nggak akan ke mana-mana.

Bahkan saya sempat ada di titik yang membuat saya berpikir, jangan-jangan content placement ini hanya akal-akalannya brand demi mendapatkan "sokongan" murah dari kita. Enggak tahu, apakah pemikiran saya itu benar atau enggak, tapi kita nggak bisa menutup mata akan prinsip "keluarkan uang sesedikit mungkin, tapi efek yang didapatkan sebesar mungkin". Itu prinsip ekonomi bangetlah, sudah jadi rahasia umum.

Bisa saja saya salah. Saya berharap saya salah. Tapi tak pelak, pikiran negatif seperti itu mau nggak mau hinggap di benak saya.

Sehingga ya ... akhirnya balik lagi ke blogernya juga kan? Mau sampai kapan hanya jadi troopers, tanpa jadi influencer yang sebenarnya?



Yep, enaknya bekerja sebagai freelancer itu adalah kita dapat merencanakan liburan kapan pun, sewaktu-waktu. Cuma kadang ya kalau kerjaan belum beres betul-betul ya, kadang kita liburannya sambil membawa rasa bersalah dan beban karena tanggung jawab. Makanya, di bagian lain dari blog ini, saya pun sudah menulis bagaimana seorang freelancer bisa berlibur tanpa rasa bersalah itu.

Nah, kalau memang sudah beres semua—baik yang harus diselesaikan maupun yang belum selesai tapi masih bisa ditangguhkan—maka kalau sempat liburan, maka liburlah. Buat seorang freelancer, liburan itu paling cocok buat nge-recharge daya kreativitas. Lagian ya, siapa sih yang nggak suka liburan?

Kek sekarang, saya sudah mulai ancang-ancang juga untuk liburan akhir tahun mendatang. Masih jauh bok! Ya, justru itu! Saya malah bisa membuat banyak rencana karena waktunya masih panjang. Acara liburan wajib saya memang akhir tahun. Kalau pas Lebaran saya malas. Wkwkw. Akhir tahun ya penuh juga sih tapi enggak sepenuh Lebaran.

Dan, begitu waktu dan tujuan sudah jelas, kita bisa langsung deh atur akomodasi, transportasi sekaligus itinerary. Masalah waktu dan tujuan memang bisa dengan cepat diputuskan, tapi soal bujet ... nah, itu dia! Tergantung saat itu kerjaan lagi rame enggak sih. Hahaha. Tapi justru dengan perencanaan jauh hari, saya pun bisa sedikit ngakalin soal bujet ini. Bisa dapat murah bok, kalau kita pesan apa-apa dari jauh hari. Plus saya barusan nemu cara supaya lebih hemat lagi, yang cocok banget buat para freelancer.

Mau tahu caranya?

Yaitu dengan memesan 1 paket yang include pesawat dan hotel sekaligus!

Nah, kan. Banyak yang enggak tahu nih pasti. Makanya saya mau tulis di sini. Toh masih ada hubungannya dengan kehidupan freelancer, dan kebetulan kemarin saya sempat menguruskan dan hunting tiket untuk suami yang ada perjalanan dinas ke Medan untuk tanggal keberangkatan satu bulan lagi. Ndilalah, sekarang jatahnya nulis seputar freelancer’s life jadi ya mari kita lihat.

Jadi ceritanya, si suami akan ke Medan untuk satu urusan. Karena blionya sibuk, dan sekarang saya sangat selow, maka saya coba bantu untuk mencarikan tiket pesawat plus hotel untuknya di Medan. Seperti biasa saya pun hunting ke beberapa web sekaligus, buat perbandingan harga, pastinya. Karena bujet dari kantornya terbatas, maka ya saya carikan saja yang murah.

Hampir saja saya klik tombol “Pesan Sekarang” di salah satu web jasa penyedia tiket pesawat terbang (untuk kemudian saya juga langsung mencari booking hotel di web lain yang terlihat murah), ketika saya menemukan bahwa ada yang menyediakan paket pesawat dan hotel dalam 1 kali klik doang di sini.

Wah, praktis nih! Gitu pikir saya. Ya, soalnya saya mah males ribet orangnya. Hahaha. Ya udah deh, ketimbang repot saya pesankan yang paket pesawat + hotel saja. Tiket pesawatnya memang enggak PP sih, berangkat doang. Saya pikir enggak apa-apa deh, nanti kan saya tinggal cariin tiket pulang. Lebih mudah. Yang penting berangkat sama hotel udah dapat duluan. Palingan kalau lebih mahal ya berapalah ya. Sambil berharap, semoga masih tercover.

Setelah saya pilih tiket pesawat, dan juga mencarikan hotel yang lokasinya dekat dengan tujuan suami, saya pun mencoba pesan. Eh! Ternyata, untuk tiket pesawat berangkat dan akomodasi hotel selama 2 malam itu, saya cuma harus mengeluarkan uang segini saja.




Padahal saya enggak pakai paket promo, enggak pakai kode diskon apa pun. Pikir saya, ini beneran buat pemesanan tiket udah sama hotel nih? Saya cek ulang, iya bener. Hotel sama pesawat.
Saya pun ngecek hotelnya. Seenggaknya, di sekitarnya mesti mudah menemukan makanan, biar nggak ribet dan jauh-jauh amat kalau melapar.


Airy Medan Sunggal. Image via Airy Rooms.


Ternyata lokasi hotel sepertinya cukup ramai tuh, kalau saya cek di Google Map. Ya, maklum, baik saya maupun suami belum ada yang pernah menginjakkan kaki di Medan. Hahaha. Jadi sama aja nih, sama-sama buta, cuma mengandalkan Google Map.

Ada beberapa resto yang sepertinya cukup menjanjikan di sekitar hotel. Salah satunya ini.

Roland's German Restaurant. Image via ceritamedan.

Juga ada Mie Aceh Titi Bobrok, yang ratingnya cukup menjanjikan di Google Map. Hahaha. Lumayanlah ya.


Mie Aceh Titi  Bobrok. Image via Travel Ruang Media.


Well, not bad-lah ya. Juga ada minimal 2 resto fast food di dekat hotel. Seenggaknya, kalaupun mesti nggojek, itu enggak mahal. Hahaha.

Terus, saya balik lagi untuk mengecek harga. Lo, kok bedanya jauh amat yak, sama tiket pesawat berangkat doang di tempat lain?

Ini tuh pesawat yang sama, berangkatnya sama, sama-sama nggak pakai transit, kok bedanya segitu yah?

Entah, apa saya ada yang salah klik di web pemesanan tiket yang bawah itu. Entahlah. Saya nggak tahu. Masih dengan rasa enggak percaya saya coba saya ikuti prosedur pemesanan untuk web yang di atas sana.

Lah iya bener, saya cuma ditagih segini.

Cukup murce ya, Cyint?


Hahaha. Ya ampun! Yang ini sudah konfirm, saya pun balik lagi ke web yang sama untuk pesan tiket pesawat pulang.

Selesai deh tugas saya. Tinggal bayar. Hehehe.

Penasaran, saya pun membandingkan lagi, jika saya pesan round ticket pesawat lalu pesan hotel terpisah, dengan paket tiket + hotel lalu pesan tiket pesawat pulang sendiri.

Kalau pesan round ticket pesawat, maka saya harus mengeluarkan Rp3.664.350 (belum termasuk hotel). Sedangkan, kalau saya pesan paket tiket + hotel lalu pesan tiket pulang pesawat sendiri, saya hanya keluarkan dana sebesar Rp2.923.386. Yang terakhir ini sudah termasuk hotel ya.

Itu pesawatnya sama, dan tanpa transit juga dua-duanya.

Well ... no need to question berarti, bakalan milih yang mana iya kan?

So, apa kesimpulannya?
  1. Memesan tiket pesawat dan hotel dalam paket begini JAUH lebih murah ketimbang memesan tiket pesawat dan hotel secara terpisah. Lumayan bok, selisihnya bisa dipakai buat wisata kulineran kan ya?
  2. Lebih praktis, karena enggak mesti bolak-balik sana sini, nyari tiket dan hotel. Ya, sebenarnya balik lagi sih buat pesen tiket pulang. Tapi coba lihat selisihnya deh.
  3. Bisa pilih yang sesuai dengan mau kita. Tiketnya bisa pilih pesawat, hotel pun bisa diganti sesuai dengan yang kita mau. Juga room-nya bisa kita pilih juga.
  4. Sistem pembayaran juga mudah banget, bisa pilih dengan kartu kredit atau mau transfer. Pakai ATM bisa, pakai Mbanking bisa, Netbanking juga oke.


Nah, dari pengalaman saya tadi, saya pun langsung merencanakan liburan akhir tahun nanti mau pakai sistem ini lagi aja ah. Murah soalnya ya. Siapa sih yang enggak mau liburan murah? Apalagi freelancer! Yang gajiannya enggak tentu, pun kadang nggak dapat kerjaan. 

Lah, kok curcol. 




Artikel storytelling itu nggak akan pernah ada matinya.

Mungkin memang nggak selalu berpotensial viral atau booming (kecuali topiknya memang “sensitif”), tapi artikel tipe storytelling begini biasanya lebih long lasting dan evergreen. Hanya saja, berbeda dengan listicle yang lebih praktis dan enak dibaca, kalau membaca storytelling itu lebih riskan membosankan.

Kenapa?
Karena strukturnya yang monoton.

Storytelling ini mau menarik atau enggak, memang tergantung banget dengan keterampilan kita dalam menyuguhkan cerita dan pesan. Dan, saya akui, ini nggak semua orang bisa melakukannya.

Nah, supaya artikel storytelling kita lebih menarik untuk dibaca dan juga enggak membosankan, ada beberapa hal yang memang harus diperhatikan. So far, problema yang sering saya temui dalam tulisan-tulisan yang bermodel storytelling adalah kronologis cerita. Nggak urut, gitu. Dari A ke K lalu balik lagi ke B, terus ke M. Tahu-tahu Z, dan habis.

Kalau di tulisan fiksi--cerpen, misalnya--memang ada yang disebut alur maju, alur flashback, dan alur campuran. Alur campuran ini ya campuran antara alur maju dan alur flashback. Nah, butuh keterampilan untuk meramunya agar nggak membingungkan pembaca, memang.

Dalam artikel nonfiksi pun, alur itu penting. Jangan sampai kacau, karena bisa bikin pembaca pusing. Mesti runtut, meski secara kronologis maju mundur.

Ada baiknya kita kenali dulu beberapa bagian dalam tulisan itu nantinya, agar kita nggak kebolak-balik dalam penceritaannya. Karena alur cerita yang meloncat-loncat akan cenderung membuat pembaca bingung dan akhirnya nggak betah baca.


Bagian-bagian dalam sebuah artikel storytelling


Storytelling. Image via eLearning Industry.

1. Perkenalan

Ceritakan mengenai awal kejadian, atau kenapa pengin menceritakan topik yang akan ditulis.

Perkenalan ini akan membantu pembaca untuk ikut mengenali penyebab awal dari cerita yang akan ditulis kemudian. Supaya nggak ujug-ujug aja gitu.

Ya, kalau saya sih biasanya nulis dulu kenapa saya ingin membahas satu topik tersebut, apakah ada pemicunya? Atau ada hal yang bikin saya kepikiran?


2. Konflik

Tanpa konflik, cerita kita tak akan menjadi cerita yang seru.

Biasanya konflik berupa:
  • Man against man (kita melawan kita, artinya masalah antara manusia)
  • Man against society/institution (hal-hal umum yang berlaku di masyarakat membuat kita kesulitan)
  • Man against nature (hal-hal alamiah yang membuat kita kesulitan)
  • Man against machine (kesulitan yang ditimbulkan oleh alat)
  • Man against self (melawan diri kita sendiri)

Konflik itu bukan melulu ada argumen bersilangan, atau kekerasan apa gitu lo. 

Konflik di sini lebih pada pengungkapan masalah yang sebenarnya. Konflik ini adalah “kesulitan” yang harus kita hadapi dalam situasi tertentu yang ingin diceritakan.

Conflict, in stories, is the engine that keeps them going forward. 

Konflik adalah masalah yang membuat tulisan tersebut ada. Ya, kalau di cerita fiksi, konflik akan bikin ceritanya jadi seru. Kalau enggak ada konflik, ya enggak akan ada cerita.

Jadi, meski jika “hanya” bercerita mengenai perjalanan jalan-jalan di car free day, pastikan ada konflik yang terselip. Misalnya, sudah kehausan tapi nggak juga nemu penjual minuman. Atau sudah mau berangkat, eh si kecil malah sakit perut. Dan sebagainya.


3. Closing

Kalau dalam artikel storytelling tersebut ada konflik, maka tentunya kemudian diikuti dengan solusi.

Mengapa harus ada solusi? Agar pembaca bisa mengambil manfaatnya, bisa mengambil hikmahnya. Karena, sudah pasti kita harus menomorsatukan pembaca kan ya?

Setiap kali menulis sesuatu, pastinya kita harus selalu memberikan nilai tambah pada pembaca di setiap selesai membaca artikel kita. Jangan biarkan pembaca blog kita kentang, sudah dikasih cerita dikasih konflik eh ... tanpa solusi dan tanpa kesimpulan.

Kasihan digantungin. Pacar aja digantungin, merasa nelangsa lo. #eh

Ya, sebenarnya closing ini nggak mesti berbentuk solusi sih. Kalaupun misalnya, enggak ada atau enggak bisa kasih solusi, kita bisa kok membuat bentuk engagement lain. Dengan pertanyaan, misalnya.



Setelah mengenali bagian-bagian di atas, baru kita kembangkan sedemikian rupa hingga menghasilkan artikel yang utuh.

Jadi bagian perkenalan, konflik, solusi, dan kesimpulan tersebut memang merupakan outline cerita supaya lebih urut secara kronologis, sehingga cerita lebih mengalir dan enak dibaca.



Beberapa hal lain yang harus diperhatikan saat menulis storytelling articles adalah sebagai berikut:


Storytelling. Image via Freehauler Alcione

1. Simplicity is the best

Berceritalah dengan simple. Kita kan nggak akan bercerita mengenai dunia fantasi macam Hogwarts kan? Atau tentang The Middle Earth? Semua kan merupakan self experience, meski ditambah dengan referensi sana sini kan?

Maka berceritalah secara sederhana, dengan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami. Meski pengalaman sehari-hari, pasti akan seru dibaca kalau kita bisa bercerita dengan simpel dan benar.


2. No clichés and be unique!

Perbanyak membaca! Supaya punya perbendaharaan kata yang lebih kaya, juga perhatikan idiom-idiom yang kekinian.

Semua itu adalah bumbu, yang akan membuat cerita menjadi lebih hidup dan menarik. Hindari ungkapan-ungkapan klise yang sudah so yesterday. Misalnya kayak apa ya?
"Tak semudah membalik telapak tangan." Atau, "jodoh di tangan Tuhan."

Temukan ungkapan lain yang belum pernah dikatakan atau ditulis oleh orang lain.

Yang paling penting sih mendingan menulislah sesuai dengan kepribadian kita sendiri. Biasanya sih karakter kita sendiri bisa banget membuat suatu tulisan menjadi unik.

Be creative!


3. Pertahankan kronologis cerita

Jika kita bercerita tidak dalam kronologis yang urut, pembaca akan lebih mudah lelah. Mereka serasa diajak melompat-lompat, belum lagi juga ada risiko #gagalpaham yang bisa saja membuat pesan yang kita sampaikan tidak terbaca dengan baik.

Jadi, kalaupun mau mengajak pembaca untuk melompat ke adegan lain atau timeline yang lain, berikan "bridge" atau jembatan yang menghubungkan lompatannya.

Hal ini akan membuat tulisan kita jadi lebih mengalir.


4. Pisahkan dalam beberapa bagian


Agar tulisan storytelling kamu tidak membosankan dibaca sampai akhir, ada bagusnya juga kamu pisahkan per bagian dalam subheading-subheading.

Subheading ini akan membantu kamu menstrukturkan cerita sehingga orang-orang tipe fast reading lebih mudah scanning artikel kamu. Karena behaviornya memang begitulah para pembaca Indonesia inih. Scanning dulu, baru kemudian kalau mereka tertarik lebih, mereka akan kembali ke awal dan membaca dengan lebih saksama.


5. Garnish!

Garnishing ini penting ya, demi menjaga kelelahan pada mata.

Kalau artikel kamu adalah artikel perjalanan ya semestinya sih pasti banyak foto-foto yang bisa ditampilkan. Tapi juga jangan dijejerin doang sih fotonya tanpa ada story-nya.

Tentunya akan lebih baik kalau kamu mengolah foto dan cerita secara sistematis dan yah ... yang bercerita gitu. Kalau foto hanya dijejerin doang, tanpa ada cerita, ya ... pembaca bisa saja lost.

Jadi, mau foto atau video atau infografis atau jenis konten visual lain memang penting untuk selalu ada, dan usahakan bisa menyatu dengan cerita kamu.



Hmmmm. Memang susah ya, menjelaskan sesuatu tuh. Hahaha. Terus terang, tip menulis storytelling saya ini--saya sadar--juga kok masih kurang.

Ya, intinya sih banyak-banyak saja membaca dan melihat referensi menulis storytelling.

Buat saya, the best storyteller masih dipegang oleh Cerita Eka. Udah deh, Eka the best kalau cerita mah. Jempolan.
Silakan berkunjung ke blog Eka kalau mau lihat-lihat tulisannya. Ubek-ubek aja semuanya. Ntar kan ketahuan, gimana cara dia meramu cerita hingga kita rasanya diajak Eka jalan-jalan.

Well, akhir kata, selamat nulis! Semoga artikelnya bermanfaat.




Hai! Ada yang pengin atau baru mulai "jabatan" sebagai freelancer? Pastinya pengin dong ya menghasilkan pendapatan tinggi.

Iyalah, pengin.
Saya juga.

Tapi, emang segampang itu, terus bisa dapat bayaran tinggi.

Nah, pastinya enggak juga.

Bayaran seorang freelancer itu kalau saya bilang, benar-benar abstrak deh. Selain tergantung pada kualifikasi diri kita sendiri, juga ada beberapa faktor yang ikut memengaruhi. Misalnya, tingkat kesulitan proyek, jenis pekerjaan, kebaikan hati klien (somehow, ini agak nganu memang, tapi iya banget. Kita mesti mengakui nih), hingga sampai ke soal "keberuntungan" dan "sudah rezeki".

Lo, kok gitu?
Coba aja deh. Katakanlah kerjaan menjadi penulis konten. Di "pasar" freelancer, seperti Sribulancer atau Projects.co.id, bertebaran tuh proyek menulis konten dengan harga paling rendah Rp3.500/artikel 600 kata (jadi inget yang dishare Mas Ryan di WAG hari ini). Sedangkan, ada website brand ternama yang mau kasih Rp400.000 untuk satu artikel dengan panjang yang sama.

Keduanya sama-sama bersyarat: harus lolos Copyscape, SEO friendly, dengan niche yang hampir sama pula.

Kalau ada yang nanya, emang ada ya mau nerima kerjaan artikel Rp3.500/artikel itu? Ada, saya bilang. Ada. Bahkan, jujur nih, kalau saya sekarang lagi nggak ada kerjaan, saya mau ambil.

Kenapa? Ya, banyak hal yang bisa menjadi alasan saya. Ketimbang nganggur, misalnya. Toh, kalau kita sudah biasa menulis itu, 600 kata itu enggak panjang. Coba cari 3 artikel sejenis lain di internet, mix and match, self editing, bisa kok dapat skor 90% Plagiarism Checker dalam waktu 1 jam aja. Mau dibilang plagiat? Enggak bisa. Hawong artikel barunya sama sekali berbeda dengan yang sudah ada kok.

Itu kenyataan pahit ya. Tapi ya memang begitu, kondisi para freelancer penulis konten ini.

Tapi, tetep. Ada beberapa bidang pekerjaan yang bisa banget memberikan penghasilan yang lumayan bagi para freelancer.


Situs pasar freelancer terbesar dunia, UpWork, pernah mengadakan survei terhadap 7 pekerjaan untuk freelancer dengan bayaran tertinggi. Here they are.


7 Jenis kerjaan freelance dengan bayaran tertinggi. Image via Bread and Butter Marketing


1. Programming and Software Developer


Adalah James Knight, seorang programmer yang meninggalkan pekerjaannya yang bergaji luar biasa di Google demi mengejar karier sebagai seorang freelancer. Sekarang, ia bisa menghasilkan lebih dari $ 1.000 per jam dengan bekerja sebagai seorang freelance software developer.

Pekerjaan yang melibatkan programming, terutama programming software dan mobile app developer menjadi pekerjaan dengan pembayaran tertinggi bagi freelancer saat ini.

Kok bisa? Karena dibutuhkan keterampilan tingkat tinggi, sedangkan enggak banyak coders yang bagus di luar sana. Jadi, demand untuk para coders yang berkualifikasi bagus memang cukup tinggi.

So, pengin menjadi freelancer dengan bayaran tertinggi ini?
Belajarlah coding, terutama untuk mobile app.

Dan, bukan, bukan belajar coding dari CodeAcademy atau Udemy doang. Di sana sih cuma ada basic-basicnya aja. Benar-benar harus investasi uang dan waktu yang lebih, agar kualifikasi diri kita juga lebih.

Of course, kita enggak akan langsung bisa dibayar $1.000 per jam ya. Yang namanya fee biasanya akan meningkat seiring jam terbang kita. Tapi kalau sekarang kamu sudah menguasai bahasa pemrograman iOS dan WebGL, ada tuh job yang menawarkan $150 per jamnya. Atau bahkan lebih.



2. Desain dan Pengembangan Web


Menurut laporan statistik UpWork di tahun 2015, development PHP adalah skill paling dicari di website pasar freelancer dunia tersebut. Sedangkan, skill desain web sendiri berada di urutan ke-7.

Sampai sekarang, selalu ada banyak job penawaran/demand untuk desainer web. Tapi, tidak seperti para coder di atas, desainer web ini ternyata jumlahnya buanyak buanget, sehingga persaingan pun menjadi ketat.

Jumlah persaingan ini juga ikut memengaruhi harga jasa para freelancer, tentunya. Kok bisa banyak ya, desainer webnya? Ya, soalnya--ternyata nih--keterampilan mendesain web itu termasuk keterampilan yang mudah dipelajari. Apalagi sekarang ada CMS-CMS yang memang mudah, enggak perlu lagi HTML yang rumit.

Setiap orang bisa dengan mudah membuat atau mendirikan biro jasa pembuatan web sekarang ini, hanya dengan menggunakan platform Wordpress ataupun Blogspot.

Dan, karena permintaan yang suangat buanyaklah yang akhirnya tetap menjadikan ladang pekerjaan freelancer satu ini tetap menjadi yang tertinggi.

Kamu tertarik juga untuk menjadi seorang desainer web lepas?
Bisa. Masih menurut UpWork, desainer web freelance tetap bisa mendapatkan bayaran tinggi, jika ia punya keahlian yang sangat spesial, dan kamu juga bisa menemukan klien yang tepat.


3. Content Marketing and Writing


Berkat booming tren pemasaran online dan pengembangan metodologi baru, seperti Inbound Marketing, maka penulisan konten sekarang pun dianggap sebagai salah satu bidang paling keren untuk freelancer.

Untuk menjadi seorang penulis konten, kamu hanya perlu suka membaca, punya kekepoan lebih, peka, dan kreatif.

Meski demikian, ternyata enggak semua orang juga bisa menulis dengan baik. Pengalaman saya sebagai editor portal bisa jadi bukti.

Ada banyak penulis yang mengirimkan tulisan. Semakin ke sini, saya semakin "tega" untuk menolak tulisan diterbitkan. Kenapa? Ya, karena kualitasnya jauh di bawah rata-rata, sedangkan saya sudah nggak punya waktu dan tenaga lagi buat hard edit.
Daripada hard edit, mendingan saya ambil topiknya lalu saya tulis sendiri, hawong sama-sama menulis dari awal. Hard edit itu rasanya sama kayak kita jahit dari awal.

Malah, mendingan bikin sendiri. Nggak perlu pusing menebak-nebak apa maksud si penulis.

Dan ternyata, pengalaman juga membuktikan, tingkat pendidikan tinggi seseorang juga enggak bisa menjamin dia bisa menulis juga dengan benar.

Makanya, penulis konten yang berkualitas bagus memang langka. Banyak sebenarnya job menulis yang ditawarkan di berbagai pasar freelancer. Seharusnya para penulis konten yang punya kualitas bagus memang bisa punya bayaran tinggi.

Tapi, penulis kualitas menengah itu lebih banyak, dan mereka mau menerima job seberapa pun besarnya. Saya enggak berusaha menghakimi mereka ya. Enggak sama sekali. Orang saya juga berada di zona ini.

Dan, para penulis menengah ini akan ambil job berapa pun besarnya, apalagi kalau mereka lagi kepepet.
Ya itu tadi, seperti yang saya ceritakan di awal artikel ini.

Untuk menjadi seorang penulis freelance--terutama penulis konten--kamu mesti punya beberapa proyek sekaligus, zaman sekarang, dengan asumsi masing-masing bayarannya ada di middle.

Kalau seumpama kamu bisa menemukan job menulis dengan bayaran tinggi, nah, itu berarti memang keberuntungan sedang berada di pihakmu.


4. Desain Grafis


Desain grafis menempati urutan ke-2 pada daftar keterampilan yang paling banyak dicari di UpWork. Di situs pasar freelancer dunia terbesar ini, beberapa freelancer di desain grafis bisa menghasilkan hingga $85 per jam untuk satu jenis proyek desain.

Lebih spesifik lagi, akhir-akhir ini desain infografis menjadi demand tertinggi. Setelah itu, baru deh desain logo, desain ikon, dan ilustrasi.


5. Copywriter

Copywriter ini beda ya sama content writer, apalagi sama content marketing. Para freelance copywriter ini mengkhususkan diri menulis konten untuk halaman situs web, deskripsi untuk produk, layanan, dan lain-lain.

Tarif biaya untuk copywriter bergantung pada tingkat pengalaman dan keterampilan masing-masing freelancer. Linda Formichelli, seorang copywriter freelance berpengalaman, bisa menghasilkan $ 250 per jam. Ini masih menurut survei UpWork ya.

Kalau kamu lihat, para copywriter di UpWork akan nge-charge klien mereka antara $ 15 per jam hingga $ 100 per jam untuk satu proyek copywriting.


6. Editor Video


Masih menurut survei UpWork, seorang freelancer video editor di Amerika Serikat mampu menghasilkan sekitar $ 72.000 per tahun, sementara editor video yang lebih berpengalaman bisa menghasilkan sekitar $ 122.000 per tahun.

Permintaan untuk editor video di industri freelance mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, berkat peluang yang disajikan oleh platform seperti YouTube, Facebook, dan Instagram.

So, kalau kamu pinter dan punya kemampuan dalam editing klip video dan membuat konten video yang luar biasa, barangkali ini bisa menjadi karier impian kamu nih.


7. Social Media Manager


Social media marketing merupakan bagian penting dari strategi pemasaran merek dan bisnis. Hampir setiap bisnis, bahkan kedai kopi lokal kecil pun, sekarang juga butuh dan menggunakan jejaring sosial untuk mempromosikan produk dan merek mereka.

Hal ini tentu saja akhirnya membuka peluang besar bagi para freelancer ya, ketika sebagian besar merek dan bisnis ini mulai mencari orang-orang yang mau mengelola saluran media sosial mereka. Justru sekarang, social media marketing ini menjadi industri tersendiri.

Penghasilan untuk manajer media sosial di Amerika Serikat berkisar dari $ 6.000 hingga $ 72.000 per tahun, menurut PayScale.


Kesimpulan


Image via Freelancer News


So, gimana nih? Masih mau bekerja sebagai freelancer?

Well, welcome to the jungle then!
Siap-siap saja untuk menghadapi kenyataan, bahwa pekerjaan freelancer itu nggak segemerlap penampakannya. Pun, nggak sebebas asumsi awal.

Akan ada kalanya, kamu enggak dapat job sama sekali dan harus hidup dengan tabunganmu. Akan ada kalanya juga, kamu dihubungi klien di hari libur, atau bahkan di pagi buta, cuma buat ngrevisi hal kecil di kerjaan kamu.
Akan ada kalanya juga, kamu kalah bidding sama mereka yang mau dan berani dibayar murah. Atau, ada kalanya juga kamu harus menghadapi klien yang kabur tanpa membayar.

Ya, yang terakhir itu yang paling nyesek sih. Hahaha.
And, yes, it happened to me!
Masalah komitmen itu benar-benar isu besar di bidang freelancing. Ini sebagian juga karena kesalahan kita sendiri sebagai freelancer sih. Hmmm, pankapan saya bahas deh beberapa kesalahan freelancer di sini yah (meski saya sudah pernah bahas di lain tempat).

Iming-iming kerja freelancer itu bebas, menjadi bos untuk diri sendiri, dan bisa cepat kaya itu bullsh*t.

Jadi freelancer harus siap kerja keras, kalau mau dapat penghasilan setiap bulan.

So, jangan memutuskan dulu kalau kamu pengin jadi freelancer hanya karena mengharapkan bayaran tinggi.

Tapi, kalau kamu menginginkan pekerjaan yang akan menantangmu dengan hal baru setiap hari, bikin kamu kayak naik roller coaster--adrenalin bisa mengalir deras--terutama saat invoice nggak cair juga :))--then go for it.

Kerjaan freelancer itu nggak pernah stuck. Nggak pernah mentok. Selalu ada celah buatmu untuk mempelajari hal baru setiap harinya. Tergantung kamu juga sih, sebenarnya.

Mesti belajar sabar juga. Karena itu akan memakan waktu lama sebelum kamu mulai mendapatkan penghasilan tetap.

Yah begitulah.
Semoga nggak menyurutkan semangatmu untuk kerja freelance. Semoga justru membuatmu tertantang untuk menjadi lebih baik.