Ada yang tertarik menerjuni profesi sebagai penulis konten?

Kalau ada, well, artikel ini bukan saya tulis untuk menakut-nakuti ya. Hanya saja saya mau share apa saja yang pernah saya alami sejak kira-kira 8 tahun yang lalu mulai merintis profesi penulis lepas.

Menulis menjadi "pekerjaan" saya tahun 2010, saat saya sedang butuh duit banget. Ya, saya kerja kantoran sih. Tapi kala itu saya benar-benar berada di situasi yang sangat sulit. Dan, all I can do is writing. Saya sudah mencoba jualan, dagang ini itu, nggak ada yang berhasil.

Maka, menulis menjadi alternatif terakhir saya. Padahal saya tahu, dan sering dengar, bahwa profesi penulis itu nggak bisa buat hidup.

Tapi ternyata perjalanan membawa saya ke arah yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Dibuka dengan tawaran untuk menjadi salah satu buzzer untuk platform mamah-mamah muda, yang websitenya dikelola oleh satu merek susu formula anak. Saya bertugas menulis konten berupa artikel dan menjadi buzzer dengan KPI memasukkan traffic ke website tersebut sebanyak-banyaknya.

Saya masih cupu, hingga saya melakukan satu kesalahan. Maka, kontrak saya diputus. Memang saya yang salah. Tapi dari job tersebut, terbuka beberapa kesempatan lain. Saya merasakan dibayar dengan fee yang macem-macem banget, mulai dari Rp5.000/artikel sampai jutaan per artikel.

Hah? Menerima job nulis seharga 5rebu?

Iya. Percayalah, seberapa pun harga tulisan saya, semua saya syukuri. Selalu ada yang bisa saya dapatkan dari menulis. Karena itu pula, saya mencoba tak pernah menghujat para penulis yang main ambil aja job-job yang berharga murah. Karena, ya siapa tahu kondisinya?

Saat sulit, duit 5rebu itu berharga banget, cyint. Percaya deh. Apalagi saat yang bisa kita lakukan itu cuma nulis.

Anyway.
Semua job menulis yang saya dapatkan akhirnya sambung menyambung, hingga sekarang. Rasanya rezeki itu tak pernah putus, dan kesemuanya dari hasil saya menulis konten.

Mulai dari mengisi blog pariwisata yang dibayar dolar, ngisi artikel di web beberapa penerbit buku--sampai dikirimi beberapa buku untuk saya baca dan saya ulas--sampai kemudian saya dipercaya untuk mengelola portal untuk pembaca mamah-mamah muda. Hingga sekarang dipercaya mengelola konten web kesehatan milik salah satu universitas tertua di Indonesia, dan yang akan datang: mengisi konten untuk website dan media sosial sebuah perusahaan perencanaan keuangan.

Ternyata tahun ini sudah tahun ke-8 saya mengklaim diri saya sendiri sebagai penulis konten.

Menjadi penulis konten jangan dibayangkan yang enak-enak saja. Yang saya sebutkan di atas, memang adalah hasil yang didapat. Tapi saat menjalaninya, nggak ada yang tahu betapa saya jumpalitan untuk memenuhi target.

Memangnya, apa saja yang sih yang dikerjakan? Well, ya banyak sih. Karena rata-rata, target harian saya adalah menulis dan mengolah sedikitnya 5 artikel, masih belum termasuk konten media sosial.


Dan inilah beberapa hal yang harus saya lakukan setiap hari, sejak saya menekuni profesi saya sebagai penulis konten.


1. Rajin baca

Nggak ada orang yang benar-benar menguasai semua topik. Begitu juga saya. Tapi, sebagai penulis konten--apalagi kalau saya harus "mewakili" citra web klien--maka saya harus bisa seolah-olah saya menguasai topik yang dibahas dalam web tersebut.

Contoh. Saya sedang menangani konten web kesehatan--yang harapannya bisa menyusul kesuksesan Alodokter dan HelloSehat. Tapi tahu apa saya soal kesehatan? Palingan ya bisanya cuma ngasih artikel tentang jenis-jenis olahraga yang bisa dilakukan di rumah.

Tapi untuk web ini, saya nggak bisa cuma ngasih artikel jenis portal kayak gitu kan? Makanya mesti banyak baca.

Saat kita sudah memutuskan untuk menjadi seorang pekerja penulis konten komersial dan profesional, kita mau nggak mau mesti bisa belajar segala hal dengan cepat. Para penyewa jasa penulis konten itu kan nggak akan pilih-pilih topik yang sesuai dengan keahlian kita kan? Mereka akan pesan konten yang mereka butuhkan.

So, mau menjadi seorang penulis yang sukses? Maka harus rajin membaca. Harus rajin memperluas wawasan. Harus serba tahu. Mungkin harus tahu dari mulai gosip artis sampai soal politik.

Percaya deh, jika kita memilih-milih topik yang ingin kita tulis, maka kita akan kalah bersaing dengan yang lain.


2. Belajar berbagai gaya dan teknik penulisan

Ada beberapa gaya penulisan yang minimal harus kita pahami, jika ingin menjadi seorang penulis konten profesional dan komersial:

  • News writing: gaya menulis untuk berita aktual
  • Copywriting: gaya menulis untuk iklan atau advertorial
  • Personal writing: yang ini kayak di blog kurang lebih. Jadi ada rasa personal si penulis. Mungkin ada pengalaman atau opini pribadi penulis yang juga diungkapkan. Nah, ini dipelajari saat kita harus menjadi ghost writer bagi orang lain.
  • In-depth writing: biasanya ini untuk menganalisis suatu masalah atau topik secara mendalam, ada data, ada penjabaran masalah, penyebab, sampai solusi.

Bagaimana caranya mempelajari semua gaya menulis itu? Praktik dan latihan terus.

Saat sedang membaca sesuatu, amati gaya penulisannya. Catat hal-hal yang berkaitan dengan teknik menulisnya. Lalu, praktikkan di blog.

Makanya saya ternak blog :)) Buat latihan.


3. Nggak boleh males riset

Untuk menulis satu topik, hanya bereferensikan satu artikel saja nggak cukup. Kita harus banget mencari banyak referensi lain untuk bisa mendukung tulisan kita.

Saya sendiri biasanya akan mencari 3 - 5 artikel lain sebagai bahan riset. Kadang kejadian juga sih, sudah baca 3 artikel, tiba-tiba saja angle penulisan jadi berubah gara-gara ada hal yang ditemukan saat riset tersebut.

Selain baca, kalau memang ada yang bisa ditanyai, ya mesti berani nanya.

Sering juga sih, udah niat nulis, riset sana sini, bingung, pusing. Terus mandeg. Writer’s block.

Biasa banget mah itu. Jangan tanya deh gimana cara saya mengatasinya. Karena tergantung penyebab writer’s block-nya juga.


4. Harus bisa menyesuaikan diri dengan cepat

Saat kita menulis di blog, bisa saja kita suka-suka. Mau nulis alay juga terserah saja.

Tapi, ketika kita menjadi seorang penulis konten, kita harus bisa menulis sesuai dengan pesanan. Mau pakai bahasa gaulkah? Atau bahasa formal? Harus sesuai EBI-kah? Bahasa SEO friendly pun beda lagi. Karena kadang kita sudah pakai istilah yang sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia, eh ternyata, nggak ada yang nyari kata tersebut di search engine.

Jadi, kita memang harus bisa fleksibel, menyesuaikan diri dengan pesanan klien. Harus mau berubah-ubah “kepribadian” dalam menulis.


5. Belajar setiap hari

Zaman sekarang, seorang penulis konten nggak cuma nulis doang.

Kita mesti pinter-pinter menyisipkan kata kunci seperti yang diminta oleh klien. Atau harus bisa mewakili “suara” si brand-nya, jika kita diminta untuk copywriting produk brand tersebut. Atau harus tahu ke mana mencari data, jika kita diminta menulis in-depth article mengenai satu masalah.

Syukur-syukur bisa bikin infografis juga.

Nah, kalau mau ke arah konten media sosial lebih banyak lagi yang mesti diulik. Mulai dari foto, bikin banner, video, endebre endebre ... Hvft. Mesti update terus deh, apa yang lagi rame. Terus coba bikin juga. FOMO banget dah kalau jadi pembuat konten di medsos mah. Hahaha. Hedeeehhh ....
*curcol yang kebablasan*


6. Siap bekerja rata-rata 15 jam setiap hari

Jadi, berapa rata-rata jam kerja orang kantoran? 7 jam atau 8 jam. Terakhir saya dengar, standarnya 40 jam/minggu. Ini standar dari pemerintah,

Tapi pekerjaan seorang freelancer--utamanya seorang penulis konten--itu beda. Nggak seperti kebanyakan pekerja kantoran, target seorang freelancer itu lebih ketat. Sama-sama mendapatkan target, kalau perusahaan biasanya targetnya bisa dibagi dalam tim. Kalau freelancer, target ditanggung sendiri. Risiko juga ditanggung sendiri.

Begitu pun seorang penulis konten.

Ingat cerita saya yang menerima job nulis 5000/artikel di atas ya? Tapi itu kan hanya 1 artikel sehari. Rerata penulis konten profesional bisa menulis 7 - 10 artikel setiap hari. Jadi, bisa dihitung kan ya? Kalau dalam sebulan pengeluarannya 2 juta, misal. Berapa banyak ia harus menerima job?

Ya lepas dari kualitas tulisannya sih. Namanya kepepet, kita nggak bisa begitu saja menyalahkan orang. Tapi, biasanya sih yang terjadi, begitu jam terbangnya tinggi, seorang penulis konten juga bisa sedikit-sedikit menaikkan fee-nya.

Jadi, ketimbang menghujat para penulis yang rela menulis dengan harga murah, mbokyao, ditolongin, gimana caranya biar dapat jam terbang yang semakin tinggi ;)
Lagian, yang kita anggap recehan, bisa jadi rezeki nomplok buat orang lain lo ;)

So, memang. Harus rela bekerja keras. Nerima job juga nggak bisa cuma 1 jenis job doang. Mesti nerima kerja paketan :))


Nah, itu dia beberapa hal yang harus selalu saya lakukan setiap hari sebagai penulis konten.

Masih berminat menjadi seorang penulis konten? Good luck then. Harus siap untuk selalu kerja keras ya, karena kalau cuma setengah-setengah, ya sama saja dengan pekerjaan lain. Nggak bisa buat hidup. Hehehe.


Sore itu, kami ber-30++ diajak ke Tebing Breksi. Katanya sih di situlah lokasi kami akan belajar membuat film.

Hmmm. Menarique. Tebing Breksi ini tadinya merupakan lokasi tambang batu alam. Sekarang Tebing Breksi merupakan salah satu objek wisata paling hits dan instagrammable. Lokasinya ada di wilayah Kabupaten Sleman, lebih tepatnya di desa Sambirejo, Prambanan. Iya, memang Tebing Breksi ini berada di dekat Candi Prambanan dan Candi Boko.


Mari Kita ke Tebing Breksi


Sesampainya di sana, tanpa banyak basa-basi, kami diminta untuk segera membuat film ala kami sendiri--dengan berbekal pengetahuan yang nggak ada. Hahaha. Lahiya, sebagian besar kan memang bloger, dan sepertinya sih pada umumnya bloger itu biasanya mereka belajar membuat sesuatu secara otodidak. Cuma dari hasil liat, amati, terus ulik sendiri.

Iya nggak sih? Atau, saya aja yang gitu? :))

Anyway, singkat cerita, saya punya kelompok untuk membuat film ala-ala ini. Sama Mbak Indah Juli, Mbak Siti Hairul, dan Mbak Arry Wastuti.

Singkat cerita lagi, inilah film kami. :))




Jadi, postingan kali ini OOT 😂 Nggak bisa deh nggak diposting ini mah. Kemarin kita sempat ke Tebing Breksi, di hari kedua event Sapa Sahabat Keluarga @sahabatkeluargakemdikbud Oleh mentor kami, @ibalibam, kami pun diminta utk bikin video dengan tema BEBAS. So, tanpa ada ilmu apa pun, Mamak yg bisanya cuma bikin video sketsa ini pun menawarkan konsep ke timnya. Ndilalah kok ya diterima. Embuh karena memang pada suka, ataukah Mbak @indahjuli Mbak @arrywastuti sama Mbak @siti_hairul ini cuma manut aja biar si Mamak diem ga ngomel gitu. Bahaha. Dan, jadilah video ini. Semua dibikin di tempat, saat itu juga. Termasuk editing. Makanya noise and goncangan tangan juga warbiyasak. Tapi Mamak ga bisa berenti nontonnya. Selalu ngekek 😂😂😂 On blog soon: how to write essay and how to make a movie! #sapasahabatkeluargayogya #sapasahabatkeluarga #sahabatkeluarga #kemendikbud #keluargahebat #keluargaterlibat
A post shared by Carolina Ratri's (@carra.artworks) on

Ngeliat hasilnya, saya langsung bisa melihat banyak beud permasalahan:
  • Tangan saya yang tremor langsung aja keliatan :)) Kameranya berguncang-guncang bak kena tsunami. Apalagi di scene terakhir. Harusnya itu saya pake foto aja kek opening.
  • Angin yang menderu-deru ganas menutup suara para talents cantik yang sudah berusaha keras tampil keren di video.
Sampai di sini, saya sudah ngedrop. Jiwa perfeksionis saya menggeliat, terluka. Halah.

Tapi lantaran sudah kecapekan (dan lapar), saya teruskan saja eksekusi videonya. Ternyata, teman-teman setim saya nggak masalah. Iya, mereka tau audionya geblek, pengambilan gambarnya bapuk.

Tapi ya sudahlah. Malah bisa dijadikan bahasan kali besok kalau pas dievaluasi. Kita mungkin bisa mendapatkan trik-trik baru malahan kan? *minta dipukpuk*


Bagaimana sih Cara Membuat Film?

Keesokan harinya, barulah kami mendapatkan teori membuat film yang beneran oleh Muhamad Iqbal, sang manajer produksi di Film Maker Muslim. Nah, kalau kamu pernah nonton film pendek Cinta Subuh, ya inilah mereka yang bikin :))

So, buat kamu yang pengin juga membuat film atau video sebagai pendukung blog, atau sebagai konten di media sosial, saya akan kasih oleh-oleh sedikit nih. Lanjutan oleh-oleh dari Workshop Content Creator Sapa Sahabat Keluarga soal menulis esai yang lalu.

Catatan berikut ini hanya secara garis besar saja, karena proses pembuatan film itu *jelas* rumit. Tapi, ya kek kita belajar SEO-lah. Mulailah dari tahapan yang paling gampang dulu. Seiring waktu, kita tambah pengetahuan dan mulai meningkatkan skill, coba untuk membuat film kita lebih baik lagi. Betul nggak?

So, berikut adalah tahapan yang harus kamu lalui untuk membuat film (yang bagus)


Muhamad Iqbal - Manajer Produksi sekaligus Marketing Film Maker Muslim.

1. Persiapan - Brainstorming ide

Semua memang berawal dari ide. Mau bikin apa pun, akarnya selalu dari ide. Jadi, pastikan kamu punya ide yang layak dieksekusi dulu. Nggak harus selalu bagus dan cetar sih. Misal pun idenya biasa aja, kalau kamu eksekusinya bagus,  hasilnya nggak akan bohong.

Tapi, sembari mengolah idemu, coba tanyakan dulu beberapa pertanyaan berikut. Karena ini ternyata penting banget, dan bisa memengaruhi pengambilan keputusan ide seperti apa yang akan dieksekusi. Pertanyaannya adalah:
  • Untuk apa sih film kamu ini mau dibikin?
  • Pesan apa yang ingin disampaikan pada penonton?
  • Siapa yang akan menonton?
  • Bagaimana cara menyampaikan agar pesannya sampai ke penonton?
Well, pertanyaannya kurang lebih sama sih dengan kalau kita mau menulis artikel kan ya? Ini bakalan menentukan banget bagaimana presentasi kita nantinya.

Kalau ide sudah ada, dan sudah bisa menjawab semua pertanyaan di atas, langsung ke langkah kedua.


2. Budgeting

Well, ya yang ini beda sih dengan menulis artikel mah. Sepertinya ini juga bakalan beda bagi bloger juga sih. Budgeting yang dikasih sama Iqbal ini keknya lebih ke para pembuat film profesional.

Tapi ya enggak masalahlah. Siapa tahu kamu-kamu juga pengin menjadi pembuat film pro kan, kek Film Maker Muslim?

So, dari mana bujet untuk membuat film ini bisa didapatkan?

  • Patungan antara para kru. Nah, ini bisa banget emang buat memulai. Patungan, punyanya berapa, dikumpulin. Hahaha. Anak kos banget kalau mau makan gofood yah? :P
  • Donatur, barangkali orang tua mau kasih donasi?
  • Investor
  • Sponsor, yang ini nggak melulu berupa uang. Bisa juga peralatan, wardrobe, atau mungkin katering?
  • Tiket pre-sale. Tapi kalau yang ini keknya kita mesti udah gede dulu sih ya, terus bikin acara nobar gitu. Mesti istimewa sih.
Nah, kenapa mesti ada budgeting di awal produksi? Karena biasanya akan ada biaya-biaya untuk membuat film, di antaranya untuk:
  • Makan. Kalau nggak mau ada biaya makan, ya syutingnya jangan pas makan siang. Yakali.
  • Operasional
  • Fee kru dan talents. Kalau mau ngirit di bagian ini ya, krunya sendiri aja terus talentsnya anak-anak sendiri juga. *dasar mamak pengeksploitasi anak di bawah umur!*
  • Sewa alat, kalau kita nggak punya alat syuting yang memenuhi syarat. Eh tapi Cinta Subuh itu aja syutingnya pake kamera Canon EOS (serinya lupa, kemarin dikasih tahu juga). Ya mungkin kalau mesti ada tambahan lighting ya. Kalau mau ngirit ya, syutingnya siang aja sih. Hahaha.
  • Lokasi. Nah, ini misal kalau kita mau syuting di Tebing Breksi kan ada tiket masuk tuh. Nah, itu dimasukkan juga ke budgeting. Ssst, kadang di lokasi kita juga ada jatah preman lo, jangan salah. Yah, Indonesia gitu. Selalu ada yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
  • Art, makeup, dan wardrobe. Ini jelas harus dibikin bujetnya ya. Apalagi kalau butuh yang khusus.

3. Pra Produksi

Nah, tadi sih kita sudah melalui tahapan persiapan memang. Tapi saat akan produksi kita juga butuh proses lagi nih. Prosesnya meliputi:
  • Pembuatan skenario. Well, penulisan skenario memang berbeda dengan menulis artikel biasa yah. Jadi, kalau mau dikerjain sendiri, ya mesti belajar dulu teorinya nih.
  • Casting, untuk memilih talents yang akan berperan dalam film kita.
  • Reading, pembacaan skenario oleh para talents, kandidat tokoh film.
  • Cek lokasi, agar kita bisa merencanakan shot list atau storyboard dengan baik.
  • Persiapan art, wardrobe, alat, kru, dan lain sebagainya.
  • Bikin shot list atau story board. Kadang syuting juga nggak dilakukan sesuai urutan yang ada di skenario. Misalnya nih, ada beberapa adegan yang mesti disyut malam, tapi nggak berurutan. Kita bisa ambil gambar sekalian dalam satu malam, baru nanti diedit. Nah, merencanakan syuting ini nih yang rada rumit sih. Kita mesti menguasai bener itu skenario.

4. Syuting

Dan, tibalah kita pada tahapan yang paling exciting :)) Syuting!

Nah, sebagai pemula, kita memang mesti banyak belajar dulu soal shot type, camera angle, dan juga the rule of third. Kenapa? Karena ketiganya inilah yang akan menentukan komposisi sinematografi film kita.

Misalnya soal shot type nih. Ada beberapa shot type yang dikenal di dunia film, misalnya extreme long shot, full shot, close up, sampai extreme close up. Kita harus bisa mengenali kapan masing-masing shot type ini dipakai.

Kenapa begitu?
Well, pictures talk. Masing-masing shot type ini punya fungsi dan makna masing-masing. Contohnya, extreme long shot biasanya untuk menampilkan suasana dan setting lokasi yang memang ingin ditonjolkan. Sedangkan, close up biasanya untuk menonjolkan emosi tokoh film.

Nah, ini nggak boleh kebalik-balik. Fatal bangeudlah kalau sampai kebalik. Emosi nggak akan sampai ke penonton, dan bisa jadi pesannya juga nggak bakalan tersampaikan.


Gayanya udah meyakinkan belom? Foto by Fuji Rahman Nugroho


Jadi, memang nih, kalau mau bikin sesuatu itu ya kita mesti banyak-banyak ngumpulin referensi dulu. Kalau mau membuat film, ya banyakin nonton film, biar tahu seluk beluknya. Nggak cuma nonton doang, tapi amati setiap detailnya hingga ke teknisnya. 

Btw, selama presentasi, Iqbal ini banyak menampilkan contoh dari film-film MCU :)) Sepertinya dese penggemar neh. Tapi ya nggak salah sih. Kalau untuk referensi pembuatan film, film-film MCU ya megang banget. Kalau soal plot cerita sih yahhh ... ya gitu deh. Hahaha *dirajam para penggemar MCU*

Balik lagi ke laptop.
Setelah proses pengambilan gambar selesai, seterusnya yang harus dilakukan adalah editing. Nggak cuma "menata" video-video hasil syuting, tapi di sini juga termasuk dubbing (misalnya untuk mengatasi deru angin menggebu yang masuk ke dalam video hasil syuting kek punya saya itu), penambahan musik scoring, sound mixing, dan lain sebagainya.

Oh kemarin sih Iqbal kasih rekomendasi aplikasi video editing yang gampang, tapi saya lupa nyatet apa aja. Tapi saya ada nih daftar aplikasi editing video yang sudah pernah saya cobain. Boleh diliat-liat, kalau belum pernah nyimak yah. Mayan bisa jadi referensi. Selanjutnya, boleh dicoba-coba sendiri.


5. Publish!

Ada banyak pilihan media publishing untuk video atau film kamu:
  • Media sosial, seperti Instagram atau Youtube
  • Ikutkan ke festival film
  • Direct to DVD
Sepertinya yang paling oke untuk saat ini adalah media sosial ya, baik itu Instagram ataupun Youtube. Kalau Instagram, ya palingan cuma bisa semenit doang.

Youtube sih terutama yang paling oke.


Kesimpulan

Jadi apa kesimpulan kita?
Bikin film itu susah.
Hahaha.

Tapi saya lantas berpikir--soalnya saya sering diomelin sama Daeng Min-nya Seenema.id lantaran suka kasih rating busuk ke film nggak mutu--apakah ini berarti sebagai penonton kita mesti "berbaik hati" kalau ngasih rating?

Saya jawab, tentu saja enggak.
Susah membuat film, bukan berarti lantas menjadi excuse untuk membuat film yang enggak layak ditonton.

If you know what I mean.

Jiaaah. Sudah 1600 kata lagi :)) Saya emang suka bablas kalau nulis yah.
Tapi, dengan demikian, utang oleh-oleh saya lunas ya, dari lokasi Workshop Content Creaton Sapa Sahabat Keluarga di Hotel Jayakarta kemarin.

Terima kasih buat semuanya yang sudah mengundang saya, yang sudah berinteraksi dengan saya selama workshop, terutama para pemateri yang warbiyasak! *standing ovation*

Sampai ketemu di konten-konten yang lain! :))



Hae! Well, seharusnya saya posting artikel How to Make a Movie--oleh-oleh lain dari Workshop Content Creator--beberapa waktu yang lalu. Tapi, ya ampun. Ini udah tanggal 31 Desember yak. Hari terakhir di tahun 2018, cyint!

Resolusi kemarin, apa kabar?




Jadi, oleh-olehnya ntar dulu. Kita ke year in review dulu yak. Hedeh. Udah telat pun, mestinya Sabtu kemarin nih saya bikin.

Tapi yasudlah.
Year in review ini sebenarnya (niatnya) mau saya bikin secara tahunan sih. Tapi yah, 2017 udah nggak bikin karena ... biasalah. Malesnya kumat.

Sekarang juga males sih.

So, mari kita lihat beberapa artikel dengan view terbaik di tahun 2018.
Kriteria "terbaik"-nya masih sama sih. Berdasarkan statistik Google Analytics untuk artikel-artikel yang diposting sepanjang tahun 2018 saja.

Okei, so here we go.



7 Artikel terbaik CarolinaRatri.com menurut statistik Google Analytics


1. Perubahan Algoritma Instagram Yang Cukup Ngeselin Tapi Mesti Dipahami


Tahun kemarin, banyak media sosial yang heboh. Facebook terkena kasus Cambridge Analytica, dan Instagram mengubah algoritmanya sampai entah berapa puluh kali. Twitter juga berbenah sih, tapi nggak sedrastis Instagram.

Perubahan algo Instagram di awal tahun 2018 memang yang paling bikin bingung. Mulai dari timeline yang sudah nggak kronologis lagi, sampai hestek-hestek yang dibanned, pun juga kita harus kenalan dengan shadowban.

Tulisan ini sampai dengan hari ini masih banyak mendatangkan pengunjung, terutama yang datang dari search engine. Tulisan ini juga yang paling banyak dijadikan rujukan, bahkan diangkut tanpa kredit.

Sebel iya, bangga pun juga. Hahaha.


2. Resign Dari Kantor Dan Jadi Freelancer, Pastikan Punya Beberapa Hal Ini Dulu!



Ini soal modal untuk jadi freelancer. Artikel ini jarang sih saya lihat dishare, pun saya sendiri juga nggak terlalu banyak ngeshare.

Tapi artikel ini menjadi penyumbang traffic kedua terbesar setelah perubahan algoritma Instagram di atas.

Sepertinya "jadi freelancer" memang menjadi dream job banyak orang ya? Ehe~


3. Shadowban Instagram: Apa Yang Perlu Kamu Tahu


Mostly artikel di blog ini saya tulis lantaran pertanyaan yang teman-teman lontarkan pada saya, ataupun terpicu oleh apa yang saya amati terjadi di sekitar saya.

Begitu juga soal shadowban Instagram ini. Saya tahu soal shadowban ini saat saya sedang melakukan riset untuk artikel perubahan algoritme Instagram di atas, dan kemudian beberapa lama kemudian, ada yang nanya, "Katanya, nggak ada yang namanya shadowban itu. Itu cuma dugaan-dugaan netizen aja."

Benarkah begitu? *zoom in zoom out*
Well, one thing I know. Ada banyak pengguna Instagram yang mengalami postingan mereka "disembunyikan" oleh Instagram selama beberapa hari. Foto mereka nggak muncul di explore, pun nggak muncul saat hesteknya ditap.

Ini artinya apa, saudara-saudara, kalau bukan shadowban?

Shadowban does exist! And so does karma #eh *nggak nyambung*


4. Ini Dia 7 Pekerjaan Freelancer Dengan Bayaran Tertinggi Menurut Situs UpWork


Masih soal freelancer, keknya banyak yang ngintip lantaran mau mengadu nasib di Upwork ya? Boleh, boleh. Silakan lo :D

Barangkali kamu juga bisa menjadi salah satu yang berpenghasilan $1000/jam di Upwork ;) Good luck ya!


5. 3 Jenis Konten Penyelamat Saat Kamu Nggak Mood Nulis Tapi Mesti Update Blog



Apa "musuh utama" saya sebagai penulis? Mentok ide? Alhamdulillah, enggak pernah :)) Nggak bisa bagi waktu? Well, sampai dengan saat ini masih bisa diatur.

Malas. Nggak mood.

Itu dia tuh. Malas, tapi merasa sudah komit dan janji sama diri sendiri. Jadi, kalau nggak ditepati itu berasa utang. Ya, utang sama diri sendiri.

Utang sama diri sendiri aja susah dilunasi, apalagi utang sama temen. Yekan?

Nah, saat itulah, salah satu dari 3 jenis konten ini selalu bisa jadi penyelamat. Dan, hmmmm, sepertinya banyak yang senasib sama saya ya. Wqwqwq.


6. Mengapa Kita Hanya Berakhir Menjadi Blogger Medioker?


Sungguh, saya nggak bermaksud kasar di artikel ini. Tapi kok ya, banyak yang baper, bahkan ada yang ngatain saya kasar :))

Ya maaf. Seperti yang saya bilang.
Saya nulis di blog ini selalu berdasarkan pengamatan. Saya cuma mau jujur aja kok. Nggak salah kan?
Ehe~


7. Menulis Storytelling Agar Menarik Dan Tidak Membosankan



Buat saya, menulis storytelling itu paling susah.
Susah karena strukturnya bias, susah juga karena kita akan lebih berat dalam mengikat pembaca. Jaminan pembaca nggak bosen dan mau baca sampai akhir itu tipis.

Tapi, bisa sebenarnya diusahakan.
Nah, di sini ada catatan saya.




Nah, itu dia 7 artikel terbaik di blog ini tahun 2018 menurut data statistik Google Analytics.
Menurut kamu, mana di antara 7 artikel di atas yang paling useful?
Atau kamu ada ide topik lain untuk dibahas di blog ini? Tulis saja di kolom komentar ya.

Selamat menyambut tahun baru, semua!


Gol A Gong. Saya mengenalnya melalui tulisan serialnya yang muncul di majalah Hai di kisaran tahun 80-an, Balada Si Roy. Seiring waktu, saya pun tahu bahwa beliau juga menulis esai.

Iya, usia nggak bisa bohong. Ya terus kenapa? Saya malah bersyukur, saya pernah menjadi saksi masa-masa jayanya Gol A Gong, Hilman Hariwijaya, dan BuBin lantang di majalah Hai. Benar-benar dimanjakan deh dengan tulisan mereka. Saya masih usia sekitar 8-10 tahunan sih, tapi yah, waktu itu baca Lima Sekawan aja udah enggak cukup. Hahaha.

Memendam rasa kagum, dan saya baru bisa kesampaian bertatapan langsung dengan Gol A Gong sekarang. 30 tahun kemudian. Oh. My. God. Hahahaha.

Asli bengong dan ngeblank saat saya menyadari beliau hadir di Ruang Wibisono Hotel Jayakarta, 19 Desember 2018 lalu, dalam event Workshop Content Creator Sahabat Keluarga Kemendikbud.



"Ini ya Gol A Gong? Iya."

Tapi saya nggak sampai jejeritan layaknya ciwi-ciwi yang fangirling sih. Hahaha. Inget umurlah ya. Lagian saya tipe yang suka mengagumi orang tuh dari jauh. Diem, tapi mengawasi gitu. Tsah.

Tapi bukan karena itu juga saya kurang hebohnya sih. Soalnya pada menit berikutnya, saya bagai diterjang gelombang pasang begitu kelas Menulis Esai ini dimulai. Saya kek nggak dikasih kesempatan untuk sekadar kagum, karena begitu banyaknya hal baru digelontorkan dan dijejalkan ke dalam otak saya.

So, kali ini, saya pengin menuliskan ulang apa-apa saja yang saya pelajari dari kelas Menulis Esai bareng Gol A Gong. Siapa tahu ada teman-teman yang juga pengin tahu cara menulis esai yang bener.

Ready? Kita mulai dulu dari awal.

Apa itu Esai?

Dok. Fuji Rahman Nugroho

Sebelumnya, nanya dulu. Siapa yang berpikir bahwa tulisan esai itu ya pokoknya tulisan dengan format serupa prosa hanya saja bukan fiksi, tapi faktual?

Nah, sama kita.
Ternyata dalam workshop inilah saya benar-benar baru ngeh apa itu definisi esai yang sebenarnya. Ternyata ada beberapa hal yang menjadi unsur utama tulisan esai dan menjadi ciri khasnya--dalam artian tidak ada pada jenis tulisan lainnya.

Tulisan esai itu:

  • Termasuk dalam jenis tulisan jurnalistik. Jadi ada banyak etika jurnalistik yang harus terpenuhi. Salah satunya, unsur 5W 1H harus lengkap tercakup.
  • Mengandung opini atau pendapat penulis, sehingga sifat subjektivitasnya akan sangat dominan. Nah, tapi mesti hati-hati. Karena, meskipun subjektif, tapi penulis harus tetap menulis secara objektif dengan didukung oleh data-data yang akurat. Jadi, ya nggak boleh asal njeplak, apalagi menebar hoaks. Big no no ya.
  • Memberikan solusi. Tulisan esai biasanya memang bermuatan kritik, karena biasanya ditulis lantaran penulisnya merasakan keresahan tertentu akan lingkungannya. Namun, nggak berhenti di situ, penulis harus bisa menyertakan penawaran solusi dalam tulisan esainya juga. Jadi ya, itu deh bedanya dengan sekadar tulisan status Facebook, yang nyinyir doang tanpa memberikan solusi. (Ini beneran disebutkan oleh Kang Gol A Gong lo :)) Bukan cuma saya yang tulis di sini.)
  • Gaya sastra. Nah, ini nih yang menjadi sifat tulisan esai yang paling khas--seenggaknya menurut saya sih. Jadi meski yang ditulis adalah faktual--berdasarkan fakta-fakta yang ada--tapi gaya nulisnya seperti gaya fiksi, lebih khusus lagi; gaya sastra.
Nah, sampai di sini jelas kan, ya, apa yang membedakan tulisan esai itu dengan tulisan biasa? Apalagi dengan tulisan berita. Beda banget deh.


Siapa Saja Penulis Esai yang Mesti Kamu Pelajari Gaya Tulisnya?

Dok. Fuji Rahman Nugroho

Well, Kang Gol A Gong sendiri adalah seorang penulis esai yang yahhh ... nggak perlu kita pertanyakan lagilah ya. Beberapa judul esainya yang pernah dimuat di koran lokal dan nasional antara lain Kematian Literasi, Pesta, Goltiblos, Konveksi Versus Konvensi, Gempa Literasi, Tubagus dan Sir, dan lain sebagainya.

Tokoh penulis esai lain yang wajib dipelajari juga gaya tulisnya adalah:

1. Emha Ainun Najib

Beberapa esainya antara lain Burung Pilkada, Tanah Halal Air Halal, Austranesia, Nabi Membakar Masjid, Harga Diri Ayam (kelimanya ada di buku kumpulan esainya yang berjudul Jejak Tinju Pak Kiai. *aight, sepertinya masuk ke daftar must have nih, karena penasaran juga dengan jenis tulisan esai ini*), dan lain-lain.

2. Goenawan Muhammad

GM sih mempunyai jatah sendiri di rubrik Catatan Pinggir Majalah Tempo.
Beberapa esainya antara lain Origami, Batman, Kakawin, dan lain sebagainya.



Wew, mendengarkan Kang Gol A Gong menjelaskan sampai di sini, saya sih sempat garuk-garuk kepala. Kalau role model yang ditawarkan adalah Emha Ainun Najib atau Goenawan Muhammad apa ya nggak kejauhan ya? :-|
Kejauhanlah, Kang! T__T huhuhu ...
Tapi, baiklah. Kita pikirkan nanti, yang penting kalau kamu mau mulai menulis esai, perbanyaklah mempelajari tulisan mereka bertiga: Gol A Gong, Emha Ainun Najib, dan Goenawan Muhammad.

Eh, tapi kalau tulisan Kalis Mardiasih bisa digolongkan esai juga enggak sih? Apa nyinyir aja? Hahaha. *dikeplak Kalis* Kalau bisa, well, sepertinya Kalis bisa menjadi role model yang paling dekat sih.



Mencari Ide untuk Tulisan Esai

Dilepas di Transmart Jogja, untuk melatih kepekaan kami menangkap masalah yang terjadi di lingkungan. Dok. pribadi.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, tulisan esai biasanya ditulis karena penulisnya merasakan keresahan dan kerisauan terhadap lingkungannya. Dengan demikian, sumber ide yang paling banyak bisa digali tentu saja dari lingkungan sekitar kita.

Nah, sampai di sini, saya menemukan (semacam) penguatan teori bahwa menulis memang soal mengolah rasa.

Kita nih mau menulis apa pun, kalau soal rasa dan kepekaan kita belum terasah, yang nggak bakalan jadi tulisan yang bagus. Mau itu novel, cerpen, puisi, tulisan-tulisan features, bahkan berita, semua dihasilkan dari proses kita dalam mengolah rasa.

So, untuk menghasilkan tulisan esai yang baik, berangkatlah dari ide menulis yang dibangkitkan oleh kepekaan rasa kita terhadap apa yang ada di sekeliling kita.

Cobalah untuk setiap kali kita jalan, rasakan apa yang terjadi di sekitar kita. Beberapa hal seperti trotoar yang dijadikan tempat berjualan, jalanan rusak, pejabat korup, pelajar bolos, itu bisa menjadi sumber ide yang bagus untuk tulisan esai.


Langkah-Langkah Menulis Esai


Lagi pada bisik-bisik bukan karena lagi ghibah ya. Dok. pribadi.

1. Riset

Ingat, hal mendasar yang paling membedakan tulisan esai dengan tulisan biasa--apalagi yang cuma nyinyir aja--adalah bahwa tulisan esai ini dibuat berdasarkan fakta.

Jadi, saat kita sedang resah akan kondisi tertentu dan pengin menuliskannya dalam bentuk esai, maka hal pertama yang harus kita lakukan adalah riset.

Riset ini meliputi:

  • Riset lapangan. Misalnya kita mau menulis mengenai fungsi trotoar, maka kita bisa langsung survei ke lokasi. Amati trotoar, beri diri sendiri pengalaman berada di trotoar, lalu lakukan wawancara dengan pejalan kaki, pedagang kakilima, dan pengguna lainnya.
  • Riset pustaka, yang bisa kita lakukan melalui membaca literatur-literatur misalnya buku, majalah, atau gugling juga bisa. Misalnya kita beri pembanding dengan kondisi trotoar di luar negeri. Atau berikan data-data statistik. Pokoknya apa pun yang bisa menguatkan argumentasi kita.


2. Menentukan topik

Temukan angle penulisan yang pas. Mau menulis dari kacamata siapa? Masih dengan contoh ide trotoar tadi, apakah kita hendak menulis dari kacamata pejalan kaki, atau mungkin pedagang kakilima?

Setelah kita menentukan topik, dan juga sudah mewawancarai narasumber (yang boleh saja kita lengkapi lagi), maka selanjutnya kita harus mengolah data-data tersebut dalam kerangka 5W 1H.


3. Menulis

Setelah semua data lengkap, juga sudah ada kerangka dan tesis yang tercakup dalam 5W 1H, maka selanjutnya kita bisa langsung menuliskan esai kita.

Catatan sedikit nih. Untuk tulisan esai, kita bisa menuliskannya dalam point of view orang pertama--yang berarti tokohnya adalah "saya" atau "aku"--atau bisa juga dalam point of view orang ketiga, dengan menyebut nama orang yang fiktif.

Kalau Emha Ainun Najib itu punya tokoh rekaan yang disebutnya Markesot, atau Pak Kiai. Kita bisa juga punya persona yang lain. Nggak selalu harus "saya".


4. Revisi

Kalau kata Kang Gol A Gong sih, "Tidak ada karya yang sukses tanpa melewati revisi."

Jadi ya, setelah tulisan selesai, mintalah beberapa orang untuk membacanya. Siapa tahu mereka menemukan hal-hal yang kurang dan bisa ditambahkan lagi. Atau malahan mereka bisa menemukan antitesis yang bisa "meruntuhkan" opini kita. Dengan demikian, kita bisa merevisinya agar lebih kuat dan lebih baik.

Kalau di media sih biasanya ada editor yang bertugas untuk memoles tulisan kita agar lebih baik. Tapi, sebelum sampai di editor, kita sendiri memang mesti melakukan swasunting terlebih dahulu.


5. Judul = imajinasi

Nah, ini juga hal-lama-yang-ternyata-jadi-baru juga buat saya.

Zaman sekolah dulu memang diajarkan bahwa kalau membuat judul karangan itu haruslah singkat, padat, dan jelas. Tapi semakin ke belakang, saya itu kalau bikin judul selalu panjang bet :)) Kebiasaan nulis buat portal kali ya. Jadi formula judul saya itu selalu ada triggering words, emotional words, dan promise.

Tapi untuk tulisan esai, formula ini tak bisa berlaku.
Kang Gol A Gong sendiri memberikan batasan bahwa judul nggak boleh lebih dari 4 kata. Bahkan Goenawan Muhammad sendiri seringnya menggunakan judul satu kata aja.

Lebih dari itu, judul nggak boleh spoiler dan harus imajinatif--bikin penasaran, singkatnya sih gitu.
Ya coba saja tengok judul-judul esai Cak Nun. Misalnya seperti Nabi Membakar Masjid. Wah, kan ya bikin penasaran banget. Kenapa Nabi sampai membakar masjid?

PR banget nih untuk bikin judul begini mah :))
Siapa hayo yang kalau nulis, tulisannya selesai 1 jam, mikir judulnya seharian?
Ayo, sini, duduk sama saya. Hahaha.


Dalam workshop itu, kita--para peserta--juga diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk langsung mempraktikkan setiap tahapan dalam menulis esai ini. Misalnya, kita diminta untuk mengunjungi Transmart Jogja untuk melakukan survei dan merasakan pengalaman berada di sana.

Tak hanya itu, banyak juga games yang kita lakukan dipandu oleh Kang Gol A Gong, yang kesemuanya tuh bisa banget melatih kepekaan olah rasa kita, yang berguna untuk melatih skill menulis kita.


Kesimpulan

Mamak hepi! ^_^ Dok. Ardian Kusuma

Proses menulis esai sebenarnya tak jauh berbeda dengan proses menulis artikel, yang saya lakukan sehari-hari. Sama-sama harus melalui langkah riset, merumuskan masalah, membuat kerangka, swasunting, dan garnishing.

Tapi, menulis esai memang sesuatu. Beda deh. Saya banyak memperoleh hal baru dalam proses belajar menulis esai ini. Terutama soal kepekaan terhadap lingkungan. Ternyata, saya belum sepeka itu.

Saya mesti belajar lagi, untuk lebih peka terhadap lingkungan saya. The world is not only spinning around me.

Nah, itu sedikit catatan saya saat belajar menulis esai bersama Gol A Gong.

Selesai?
Belum.
Di tulisan selanjutnya saya akan share catatan saya saat mengikuti sesi How to Make a Movie bareng Iqbal Film Maker Muslim.

Iya, karena udah 1600 kata lebih ini. Hahaha. Stay tuned yak. Semoga energi saya masih tersisa untuk menulis.


Disclaimer: Postingan kali ini adalah postingan curcol, panjang, dan kebanyakan kata 'saya'. Please skip, kalau tidak tertarik.


Kemarin di sebuah kelas online, saya agak sedikit kesel. Yah, saya tahu sih, seharusnya saya nggak boleh merasa kek gitu. Apalah saya?

Harusnya ya saat semua peserta sudah melaksanakan kewajibannya--which is membayar uang pendaftaran--maka dalam bentuk dan kondisi apa pun, mereka harus mendapatkan haknya, yaitu materi yang sudah saya siapkan. Memberikan materi seutuhnya dan memfasilitasi mereka belajar adalah kewajiban saya.

Betul enggak sampai di sini?

Sedangkan, apa hak saya? Menerima kompensasi. Tapi, ini urusan saya dengan pihak inisiator. Biarlah tetap menjadi urusan saya, nggak akan saya bahas di sini.

Tapi bukan itu permasalahannya.

Sejak awal, saya sudah semacam "diperingatkan" oleh partner moderator saya yang baik hati itu--yang bisa banget ngademin suasana--bahwa kemungkinan nanti yang aktif ya 4L--loe lagi loe lagi. Saya bilang, baik, saya siap. Berapa pun yang mau serius dengan kelas, saya akan tetap profesional memberikan materi.

Tapi kenyataannya ....



Belajar itu memang hal yang berat ya, cyint.
Saya ngerasain sendiri dulu pas sekolah. Meski 'katanya' saya anak pinter, tapi saya ini bukan tipe anak yang pinter dari lahir. Saya mendapatkan nilai-nilai yang bagus (tapi nggak pernah menjadi yang terbaik)--saya pikir--adalah karena usaha kerja keras belajar setiap malem. Saya banyak bikin rangkuman, saya bikin mindmap (waktu itu sih saya nggak kenal istilah mindmap, tapi saya sudah bikin demi bisa mengingat dan melogika pelajaran yang saya terima), dan saya rajin ngerjain PR.

Pokoknya kalau nilai ulangan, rapor, dan IP saya bagus, itu karena saya kerja keras. Kalau orang lain sih bilangnya saya rajin. Rajin banget. Itu katanya. Kalau saya, saya kerja keras. Saya rasa, rajin dan kerja keras itu beda banget deh. Entahlah. Yang pasti, saya tahu, kalau saya nggak pernah mau punya nilai jelek yang bakalan bikin saya lebih susah lagi.

Ada tuh temen saya, yang kalau ada PR nyalin punya teman, kalau ada ulangan nggak pernah belajar. Tapi dia tuh ulangan nilainya selalu bagus, dan selalu masuk 10 besar. Ada tuh. Dan bikin KZL sumpah! Saya udah ta belain belajar mati-matian, nilai nggak pernah bisa ngalahin dia. KZL ZBLnya masih kerasa sampai sekarang, Ferguso. =))

Hingga hari ini, pemahaman bahwa 'belajar itu berat' juga saya tanamkan ke anak-anak. Bawelin mereka setiap hari, bahwa belajar itu memang susah. Jangan cuma mau belajar hal-hal yang gampang doang, sedangkan yang susah dimalesin. Bagaimanapun, di sekolah kan kita nggak bisa menghindarinya.

Pun nanti, ya masa saat mereka selesai sekolah, mereka akan lari dari kesulitan yang datang sih? Misal ada A dan B yang harus dituntaskan. Masalah A ngeselin, yang B gampang. Terus yang diselesaikan B doang, yang A dihindari? Saya pikir, kalau anak sampai kek gitu ya jadilah dia anak tempe.

Belajar memang berat.
Itu pula yang saya alami beberapa tahun belakangan. Profesi saya sebagai freelancer, mengharuskan saya belajar banyak hal secara mandiri. Mulai dari belajar nulis yang baik, belajar bikin desain grafis yang kekinian, sampai belajar teknis SEO (yang dulu amit-amit jabang bayi, saya nggak mau sentuh saking malesinnya). Saya belajar menaklukkan Instagram, belajar jualan dengan kata-kata tapi secara soft selling. Belajar copywrite biar bisa bikin konten yang enggak bisa ditolak orang.


Kenapa semua harus saya pelajari?
Karena saya yakin dan tahu betul, bahwa di luar sana tuh yang lebih dari saya tuh buanyak! Akhirnya balik lagi ke pemikiran saat saya masih sekolah. Kalau saya nggak belajar dengan keras, saya bisa nggak naik kelas. Maka, kalau saya nggak mau kalah dari semua orang yang udah pinter dari sononya--apalagi mereka diberkahi juga dengan materi yang lebih banyak--ya udah maka saya harus kerja keras.

Dan, karena saya ini nggak punya modal, maka saya hanya bisa belajar secara mandiri. Baca artikel-artikel mereka yang lebih pinter. Nanya-nanya sana-sini.

Dan, sadar betul. Karena saya nggak punya uang buat bayar seseorang untuk menjadi mentor saya, maka saya nanya ke orang lain tuh nggak pernah lengkap. Mengapa? Karena ilmu itu buat saya nggak ada yang gratis. Semua ada "harga"-nya. Apalagi ilmu. Mahal lo, ilmu itu. Pikir saya, kalau saya nanyanya dikit tapi pas, ntar ada clue. Maka clue itu yang kemudian saya telusuri sendiri. Dapet deh yang saya cari :))

Makanya kemarin juga ada yang nanya tip untuk menaikkan PV. Saya jawab, yuk, ikutan kelas online. Lalu dia nanya lagi, gratiskah? Yha! Hahahaha. Kalau mau gratis, kamu mesti siap untuk belajar otodidak, Luis Fernando.



Nah, balik lagi ke saya yang nanya orang. Karena nanya nggak lengkap maka dijawabnya juga nggak lengkap dong. Padahal saya kepoan. Akhirnya telusuri sendiri. Terus ngeh. Oh ini begini jadinya begitu. Oh yang itu tuh karena sebab ini, jadi penyebab ini harus dibikin begono supaya begitu. Dikembangin sendiri. Melalui ribuan trial and error.

Sampai kemudian sampai sekarang ini. Semua hal yang saya dapatkan tuh gratis. Karena ya, saya cuma bisa mencuri ilmu. Saya curi ilmunya Mbak Indah Juli, Mas Febriyan Lukito, Langit Amaravati, Jon Morrow, Gretchen Rubin, Darren Rowse, Neil Patel, ... semuanya. Mereka nggak sadar juga kali, ilmunya saya serap sedemikian rupa :)) Saya ambil ilmu mereka, lalu dipraktikkan. Diutak-atik sendiri, hingga ketemu formulasi yang paling sesuai untuk saya terapkan sendiri.

Hukumnya tuh berlaku. Kamu mau gratis, maka usaha lebih ekstra. Kalau kamu nggak mau usaha ekstra, berarti kamu mesti punya sesuatu untuk "ditukarkan" dengan kemudahan itu.

So, karena pengetahuan yang saya dapatkan itu gratis semua, maka semua juga saya catat di sini. Teman-teman bisa mendapatkannya dengan cara yang sama dengan saya; dibaca, dipraktikkan sendiri, diutak-atik sendiri, disesuaikan, lalu akan ketemu formulasi yang pas. Trial and error itu sudah pasti.

Gratis? Gratis. Catatan saya selama belajar, semua ada di blog ini. Saya catat juga bukan buat apa-apa, tapi saya pelupa! Saya nggak mau nanti terjebak dulu saya nggak bisa-belajar-lalu bisa-sekarang lupa. Ini mah malesin amat :)) Maka, semuanya saya catet di sini. Ada yang mau memanfaatkan, silakan. Tapi ya itu tadi, mandiri.

Makanya, saya selalu angot-angotan sebenarnya saat diminta untuk bikin kelas atau jadi mentor. Coba tanya Mas Ryan, Mas Dani, atau Mbak Indah Juli deh. :)) Maaf, saya nggak sombong, songong etc. Tapi karena semua yang saya tahu itu sudah saya catat di blog ini. Gratis ini. Ya, paling butuh kuota sih buat ngakses ya? Hahaha.

Emang ada orang yang mau bayar saya buat ngasih materi yang sebenarnya sudah saya berikan gratis? Sungguh, saya nih bukan tipe orang yang suka memanfaatkan ketidaktahuan orang lain untuk kemudian diubah menjadi sesuatu yang akuntabel seperti duit. Makanya, mentoring tak pernah ada dalam rencana saya untuk monetasi blog. Karena saya sadar penuh, bahwa yang saya ketahui sekarang itu belum banyak.

Eh lhah, ternyata ada yang mau ya? :))))))


Saya yang tadinya males-malesan mentoring akhirnya ya "termakan" rayuan pihak inisiator kelas online itu. Hahaha. (tapi aku hormat lo, sama sang inisiator ini. Warbiyasak banget!) Akhirnya bikin kelas berbayar. Bikin berbayarnya juga dengan alasan, supaya orang lebih serius mengikuti materi dan praktik langsung.

Saya heran banget. Sampai sekarang.
Ada ya, yang mau bayar saya buat jadi mentor? Ahahaha. Sungguh nggak layak deh. Rasanya masih gamang aja gitu sampai sekarang. Padahal 1 kelas pemula sudah selesai, dan sekarang kelas kedua sedang berlangsung.

Sampai sekarang tuh, saya masih takjub, ini pada beneran mau bayar saya? O_O

Makanya, saat saya menemukan kalau ada yang menyia-nyiakan kesempatan untuk belajar itu saya jadi KZL sendiri. Mungkin juga karena saya baperan sih. Inget, saya dulu susah lo dapetin formulanya. Ini tinggal saya deliver aja, terus pada cobain. Misal nanti ada ketidaksesuaian ya kan logikanya jalannya enggak terlalu panjang.

Hingga kemudian pagi ini, saya menemukan tulisan Mbak Ainun Chomsun di blog Akademi Berbagi ini.




Saya menghela napas. Ternyata ada yang lebih parah.

Ini sih istilahnya sudah disuapin aja nggak mau makan. Padahal ya, udah nggak perlu nyari "makan" sendiri, disediain, disuapin pula. Masih saja ada yang susah untuk belajar. Maunya, disuapin, makanannya enak dan yang kekinian, disuapin sama Raisa, terus pulang dari disuapin masih minta oleh-oleh.

Hvft.
Sungguh, saya miris. Ini sebenarnya yang butuh ilmu siapa sik?

Heran.

Beginikah mindset kita mengenai proses belajar? :( Pantas saja ya cuma begini-begini aja ya? Sedih akutu.

Tapi kemudian saya sendiri tertampar di alinea kedua. Akhirnya saya bertanya pada diri sendiri. ngapain ya, saya kesel sama peserta kelas online-nya? Ya, mungkin saya kesel karena saya merasa mereka menyia-nyiakan kesempatan belajar yang saya rasa lebih mudah ini--yang enggak bisa saya dapatkan.

Tapi, hal tersebut seharusnya enggak boleh menyurutkan semangat saya.




Lihat, yang gratisan aja punya semangat kek gini. Saya? Aduh, saya malu sekali. Seharusnya berapa pun yang terlibat aktif itu nggak mengendurkan semangat saya, bukan? Tapi ya gimana ya, saya hanya merasa, duh sia-sia banget sih, udah bayar.

Saya pribadi mah, mau pada aktif atau enggak, saya menerima jumlah yang sama :)) Ini kalau kita mau itung-itungan materi ya--which is rada malu-maluin sih. Tapi kan, kita harus realistis. Udah investasi lo ini, masa nggak dapat deviden apa-apa? Iya nggak, Mas Dani? Saya mikirinnya dengan berdiri di sepatu para peserta inih.

Tapi saya masih ada harapan sih. Bahwa meski tak semua aktif, tapi semoga pada nyimak. Mereka mau mengunduh materinya, dan kemudian nanti jika memang mereka sudah longgar, mereka bisa memraktikannya sendiri.

Semoga.