Ada satu klien yang akhir-akhir ini cukup sering bikin saya menghela napas kalau buka catatan pemasukan.
Bukan rewel sih. Mereka justru sangat membebaskan saya mau ngerjain artikelnya seperti yang saya mau. Minim sekali revisi, kalau pengajuan content plan ya hampir 99% diapprove.
Saya sudah cukup lama bekerja sama dengan klien satu ini, pekerjaannya sudah saya pahami, komunikasinya juga sejauh ini baik-baik saja, dan yang paling penting, fee-nya termasuk yang paling besar. Bisa dibilang 60% dari total pemasukan saya berasal dari satu klien ini.
Masalahnya cuma satu.
Pembayarannya nggak punya jadwal yang jelas.
Kadang ada pembayaran di bulan ini. Kadang baru masuk bulan berikutnya. Pernah juga satu bulan nggak ada pembayaran sama sekali. Lalu saya menunggu sambil berpikir, ini invoice yang kemarin sebenarnya statusnya bagaimana, ya?
Sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Saya sudah tahu polanya. Jadi setiap kali invoice belum cair, saya juga nggak langsung panik. Keuangan sudah saya atur sedemikian rupa sehingga kalau ada pemasukan yang mundur sebulan, masih aman. Saya nggak mau hidup dengan mengandalkan satu tanggal pembayaran dari satu klien.
Tapi tetap saja rasanya mengganjal.
Karena ya ... itu kan uang saya. Ya kan?
Pekerjaannya sudah dikerjakan. Deadline sudah dipenuhi. Invoice sudah dikirim. Lalu bagian saya menerima pembayaran kok rasanya seperti harus menunggu keberuntungan.
Dan mungkin justru karena saya masih bisa menunggu, rasa kesalnya jadi agak aneh.
Kalau sampai nggak punya uang untuk makan atau bayar tagihan, mungkin persoalannya jadi jelas. Saya harus menuntut pembayaran atau berhenti bekerja sama. Tapi ini kan enggak sampai begitu. Saya masih bisa bertahan kalau pembayarannya mundur sebulan.
Cuma, bisa bertahan bukan berarti saya nggak keberatan.
Saya Sebenarnya Mau Memutus, tapi ...
Toh, salah satu hal yang paling sering saya dengar soal menjadi freelancer adalah jangan terlalu bergantung pada satu klien. Kalau sistem kerjanya bikin nggak nyaman, ya cari yang lain. Kalau pembayarannya nggak jelas, ya tinggalkan.
Secara teori memang gampang.
Tinggal bilang, “Maaf, saya enggak bisa lanjut.”
Praktiknya?
Ya, nggak segampang itu.
Klien ini bayarnya paling mahal. Sementara itu, kita semua tahu kondisi mencari pekerjaan sekarang kayak gimana.
Mendapatkan klien baru sudah enggak gampang sekarang. Kalaupun dapat, belum tentu bayarannya segitu juga. Belum tentu pekerjaannya cocok. Belum tentu orangnya enak diajak kerja. Belum tentu juga kerja samanya bisa bertahan lama.
Sementara yang satu ini sudah jelas. Semua hal yang diidamkan seorang freelancer tuh dia dapet. Cuma ya gitu, enggak jelas soal jadwal pembayaran.
Saya sudah tahu pekerjaannya seperti apa. Sudah tahu ritmenya. Sudah tahu standar yang diminta. Sudah lama juga bekerja sama, kurang lebih 5 tahun loh. Selama ini sih selalu dibayar, cuma enggak jelas kapan.
Jadi setiap kali kepikiran mau memutus, ujung-ujungnya saya menghitung lagi.
Kalau klien ini hilang, pemasukan saya berkurang berapa?
Kalau saya mencari penggantinya, kira-kira butuh waktu berapa lama?
Kalau ternyata dapat klien baru tapi bayarannya lebih kecil, apakah sepadan?
Lalu kalau ternyata belum dapat apa-apa ... ?
Nah. Kan? Ada yang bisa jawab?
Karena jadi freelance itu memang lucu sih. Kita sering dibilang punya kebebasan memilih klien, padahal pada kenyataannya pilihan itu juga sangat dipengaruhi oleh kondisi rekening.
Saya bisa saja bilang, "Saya nggak mau lagi bekerja dengan klien yang pembayarannya nggak teratur." Tapi setelah itu saya juga harus siap kehilangan pemasukan yang lumayan besar.
Jadi bukan cuma soal berani atau nggak berani. Tapi, mampu apa enggak saya kehilangan pemasukan tersebut.
Dan saya rasa itu yang sering nggak kelihatan kalau orang membicarakan freelance. Enggak banyak orang tahu tentang hal ini.
Yang Bikin Kesal Itu Ternyata Bukan Cuma Uangnya
Yang bikin sebel adalah perasaan bahwa sesuatu yang sudah menjadi hak saya kok masih harus dipersulit.
Saya sudah melakukan bagian saya. Kalau pekerjaan saya terlambat, saya yang harus bertanggung jawab. Saya kejarin kalau keteteran. Kadang weekend juga saya pakai buat nulis kalau memang kudu dikejar. Lagi pula saya tipe orang yang dengan senang hati enggak tidur demi ngejar deadline.
Kalau tulisan nggak sesuai brief, saya juga revisi. Kalau ada kesalahan, saya juga akan perbaiki.
Karena saya tahunya ya memang begitu cara kerja profesional.
Jadi, buat saya sebenarnya aneh kalau bagian pembayaran bisa begitu longgar. Bukannya itu bagian dari profesionalitas dari pihak klien ya? Common sense kan ya?
Iya, saya juga tahu, kalau mungkin saja klien ada keperluan lain yang lebih mendesak dari pemenuhan hak saya. Tapi ya, gimana ya? Saya juga enggak akan kasih alasan, maaf, saya kemarin gak bisa nulis karena warung ramai. Gitu kan? Ya buat saya, klien kan enggak perlu tahu dan mereka pasti enggak mau tahu. Yang penting, saya melakukan kewajiban saya kan?
Saya juga tidak menuntut dibayar sebelum waktunya. Saya juga tidak meminta perlakuan istimewa. Saya cuma ingin tahu kapan pekerjaan yang sudah selesai itu akan dibayar.
Sesederhana itu.
Dan mungkin karena saya sudah cukup lama bekerja sebagai freelancer, saya jadi makin sadar bahwa urusan pembayaran memang bisa sangat memengaruhi perasaan terhadap sebuah pekerjaan.
Pekerjaan yang sebenarnya biasa saja bisa terasa menyebalkan kalau setiap bulan harus menebak-nebak kapan invoice cair. Sebaliknya, pekerjaan yang mungkin cukup banyak pun bisa terasa ringan kalau semuanya jelas. Saya kerja sekian, invoice sekian, dibayar tanggal sekian.
Saya jadi kepikiran juga, mungkin selama ini saya terlalu permisif.
Karena pembayaran tetap masuk, meskipun telat, saya tetap lanjut kerja. Ketika satu bulan nggak ada pembayaran, saya tunggu. Ketika bulan berikutnya masuk, ya sudah, lega, lalu lanjut lagi.
Begitu terus.
Akhirnya pola itu terbentuk. Saya juga ikut terbiasa dengan ketidakpastian tersebut. Padahal sebenarnya saya nggak suka.
Ini yang sekarang sedang saya pikirkan. Enggak cuma masalah dipertahanin atau enggak, tapi juga tentang batas toleransi saya sendiri. Sampai kapan keterlambatan pembayaran masih bisa dianggap sebagai sesuatu yang bisa ditoleransi? Terus, kapan saya harus bilang, "Oke, cukup."?
Saya belum tahu.
Mungkin untuk sekarang saya masih akan bertahan. Bukan karena saya menganggap sistem pembayarannya baik-baik saja, tetapi karena saya juga harus realistis dengan kondisi pemasukan saya sendiri.
Sambil jalan, saya tetap mengatur keuangan supaya enggak bergantung pada invoice yang belum jelas kapan cairnya. Saya tetap menagih kalau memang sudah waktunya. Dan mungkin saya juga perlu mulai lebih tegas soal pembayaran.
Karena bagaimanapun, saya enggak sedang meminta uang secara cuma-cuma.
Saya sudah bekerja keras untuk mendapatkannya.
Dan mungkin itu yang paling bikin saya kesal dari semuanya. Kadang kita sudah melakukan pekerjaan dengan baik, tepat waktu, dan sesuai kesepakatan. Tetapi tetap saja harus mengeluarkan tenaga ekstra hanya untuk mendapatkan sesuatu yang memang sudah menjadi hak kita.
Freelance ternyata enggak cuma soal mencari pekerjaan. Kadang kita juga harus belajar memperjuangkan supaya hasil pekerjaan itu benar-benar sampai ke rekening.













