Suatu hari, ada pesan WhatsApp mampir ke handphone saya.

Her: "Hai, Mbak Carra! Mbak, saya lagi di Jogja lo! Ketemuan yuk!"
Me: "Wah, iyakah? Sampai kapan?"
Her: "Iya, Mbak, saya lagi ada acara di hotel X (menyebutkan salah satu nama hotel ternama di Jogja). Sampai besok sih, Mbak."
Me: "Ya udah, mau ketemuan di mana?"
Her: "Di mal Y (menyebutkan nama mal yang berdampingan dengan hotelnya) saja ya."
Me: "Oke."
Her: "Mbak, aku pengin banget deh buku Blogging-nya. Dibawain dong, Mbak!"
Me: "Siap!"

So, agak sorean itu, saya pun ketemu dengan Her. Tentu saja saya bawakan buku Blogging: Have Fun and Get the Money (kamu sudah punya belum? Coba deh, beli kalau belum punya #selaluadacelahuntukpromosi) itu. Ada yang mau beli, ya masa enggak saya bawain kan?

Singkat cerita, saya ketemuan dengan Her. Obrol sana obrol sini, basa sana basi sini. Sungguh pertemuan yang berfaedah.

Bukunya?
Tentu saja saya sodorkan.

Tapi ...
Sampai akhir ketemuan, tidak ada ganti ongkos cetak dan nulis buku yang seharusnya saya terima.
Hahahaha.
HAHAHAHAHA.

Yep, nggak ada.
Apa iya, saya mesti nagih menadahkan tangan, sembari bilang, "Eh, mana uang bukunya?"

YHA KHALI.

Saya pun pulang.
Berusaha ikhlas.

Yah, begitulah. Saya kira, orang umumnya sudah tahu, bahwa butuh banyak usaha untuk menulis sebuah buku--buku apa pun itu. Sudah sering saya baca status-status ataupun mendengarkan keluh kesah para penulis buku yang sedih karena teman-temannya--yang katanya dekat, akrab, dan mendukung profesinya sebagai penulis buku--yang meminta buku secara gratis.

Tapi saya yakin. Penulis sebesar Dee Lestari dan Tere Liye pun sekali dua kali barangkali juga masih mengalami hal seperti ini. Apalagi penulis anonoh macam saya.

Ya, akhirnya saya cuma bisa tersenyum kecut.
Seandainya, si Her tadi dengan terang-terangan minta gratis, tentu saja saya bisa ngeles. Tapi saya merasa kek dikibulin sih. *sigh* Di situ sedihnya saya.
Bahkan sebenarnya peristiwa itu sudah luama sekali. Tapi, ya sampai sekarang saya nggak bisa melupakannya. Dendam? Nggak juga. Saya sudah mengikhlaskan buku itu. Toh, kalau dari segi materi, sudah ketutup semua kok dari royalti.
Tapi, bukan di situ masalahnya.

Saya merasa tidak dihargai.

Saya pribadi nggak pernah memaksa teman-teman saya untuk membeli buku saya. Kalau ada yang butuh, ya pasti kok mau beli. Kalau enggak, ya, saya juga nyadar. Buku itu ada di tingkat prioritas keberapa sih dari orang-orang? Kalau ada sisa uang jajan, ya mungkin bisa beli buku. Tapi kalau ada yang lain yang lebih diminati atau diperlukan, ya prioritas buku akan turun lagi.

Cuma ya, nggak gitu juga mainnya.



Puji Tuhan, yang kayak Her di atas itu ya cuma segelintir. Untuk kasus buku Blogging, ya cuma satu orang ini aja sih. Tapi entah kenapa, nusuk amat ya, bok. :)))

Saya juga suka memberikan buku saya secara gratis pada orang-orang tertentu. Tapi itu pastinya beda kasus dengan yang di atas. Saya memberi karena saya memang mau memberi. Bukan dipaksa untuk memberi.

So, saya cuma mau kasih beberapa tip nih.

Jika kamu punya teman seorang penulis, dan kamu nggak bisa ikutan beli bukunya--entah karena apa pun penyebabnya--kamu tetap bisa kok men-support teman penulis kamu itu TANPA HARUS MEMBELI bukunya, tapi juga nggak minta gratis.

Begini caranya.

5 Cara untuk men-support teman penulis buku


1. Bersedia diajak diskusi


Misalnya temanmu itu masih dalam proses menulis, maka coba tanyakan kabarnya. Kabar bukunya, terutama.

Biasanya sih penulis memang butuh masukan yang nggak menggurui. Hanya sekadar pandangan dari kita yang suka baca buku.


2. Tawarkan diri untuk menjadi first reader


Tawarkan dirimu sendiri untuk menjadi first reader.
Kalau drafnya masih mentah ya cobalah untuk memberi beberapa komentar atau catatan. Akan lebih bagus lagi kalau bisa kasih saran.

Tapi kalaupun enggak, yang berupa komen pun akan sangat berharga. Misalnya, untuk novel nih, "Karakter tokoh A menurutku tuh begini begini ya, orangnya?"

Kalau kita bisa tepat mendeskripsikannya seperti bayangan penulis, maka itu berarti dia sudah oke dalam penggambarannya. Kalau meleset, berarti dia jadi punya catatan apa yang perlu diperbaiki.

Untuk nonfiksi, kita bisa bantuin untuk melihat bagian mana yang perlu penjelasan lebih lanjut.


3. Ikut promosi


Nah, meski nggak bisa beli bukunya, kamu bisa men-support si penulis buku--teman kamu itu--dengan cara ikut mempromosikan bukunya.

Gimana caranya?

Ya, bisa saja. Misal, share saja covernya--biasanya di website penerbit ada tuh dipajang covernya. Bisa kamu save as kan, terus posting deh di media sosial kamu. Kalau kebetulan kamu ikutan baca drafnya sebelum diterbitkan, kamu bisa juga cerita bagaimana kesanmu saat baca pertama dulu.

Kamu punya akun Goodreads? Nah, berikan rating deh bukunya di sana. Nggak harus beli ini kan? Hahaha. Kasih aja rating bagus. Wqwqwq.

Atau kamu kasih saja cerita tentang temanmu itu.

Kalau ada teman sirkelmu yang tertarik dan pas dengan kebutuhannya, kan bisa jadi dapat info. Kamu nggak beli, tapi kamu ikut ngejualin juga kan?

Kamu nggak rugi, dan juga nggak ngeluarin ongkos kan?
Teman penulismu pasti juga seneng kamu promosikan.

Seandainya kamu ada waktu, kamu bisa kunjungi toko buku di kotamu. Coba cek deh, apakah buku teman kamu itu sudah ada di rak buku. Kalau sudah ada, foto, lalu kirimkan pada temanmu. Atau, langsung saja posting di media sosialmu, dan tag deh penulisnya.

Biasanya seorang penulis akan seneng banget kalau ada yang nginfoin bahwa bukunya ada di toko buku tertentu.


4. Ikut hadir di event bukunya


Mungkin teman kamu itu punya acara untuk mempromosikan bukunya? Kamu juga bisa ikut meramaikan.

Kalau kamu nggak bisa bantu-bantu di persiapan, kamu bisa, misalnya, ikut nyebarin banner promo acaranya. Colek teman-teman lain yang mungkin tertarik ikut.

Dan, kamu sendiri usahakan juga datang ke acaranya, entah itu acara bedah buku atau talkshow atau book signing.



5. Semangati penulis


Kalau penulis amatir--kayak saya gini--apalagi yang nulis bukunya baru buku pertama, ya pokoknya belum setenar atau seproduktif Tere Liye, Indah Hanaco dkk, maka biasanya si penulis akan secara perlahan tenggelam dalam euforia buku pertamanya tersebut.

Selanjutnya entah deh, bisa menulis lagi apa enggak.

Karena itu, coba deh, semangati si penulis, supaya segera bikin buku lagi setelah buku yang terdahulu sudah terbit. Coba tanyakan, apakah ia punya niat untuk menulis buku apa lagi, ada ide seru apa, dan seterusnya.




See?
Banyak kok yang bisa kita lakukan untuk kasih support ke teman penulis buku, tanpa harus membeli bukunya--meskipun kalau kamu mau membeli sih akan sangat baik adanya.

Saya sendiri selalu berusaha membeli buku-buku yang ditulis oleh teman-teman saya meski banyak dari mereka nggak balik beli buku saya. Ikhlas saya mah :)) Sesuatu, gitu. Kita belajar apa pun dari hidup kan ya? Hahaha.

Dengan cara demikian, saya mencoba untuk ikut andil menghidupkan dunia buku, yang saya cintai ini.

So, btw, sudah pada beli buku Blogging: Have Fun and Get The Money belum? Tinggal dikit stoknya di gudang penerbit ini.

#teteup


Untuk sukses, biasanya kita hanya butuh satu hal saja. Yaitu, konsistensi.

Setuju nggak sampai sini? Harus setuju! Kalau ga setuju, silakan cabut dari blog saya! #hloh Wqwqwq. Becanda. Jan terlalu serius, nanti cepat matik.

Termasuk soal ngeblog. Konsisten menjadi kata kunci kalau kita mau meraih sukses sebagai seorang bloger propesyenel.

Tapi, ternyata, susah juga ya untuk konsisten itu. Kenapa coba?

Mungkin--mungkin lo ya!--karena ngeblog selalu menjadi kegiatan sampingan. Bukan menjadi yang utama.

Coba saja lihat. Misal, para ibu rumah tangga.
Ibu rumah tangga yang ngeblog pasti akan menulis di blog setelah pekerjaan utamanya selesai. Bener nggak? Lalu, yang kerja sebagai karyawan?  Mereka juga akan update blog saat pekerjaan utamanya juga sudah beres.

Yang freelancer--kayak Mamak Carra yang baik hati dan nggak sombong ini? Ya, sama juga. Ngeblognya kalau kerjaan lain sudah beres. Atau seenggaknya, di antara deadline. Jadi ada 3-4 deadline, ngerjainnya setelah deadline 1-2 selesai, ngeblog dulu. Terus lanjut ke deadline selanjutnya. Akibatnya? Ya, gini. Seminggu sekali doang kan, ngeblognya?

Iya, teratur kepublish. Tapi setengah mati juga manage-nya. Wakakakak.

Nah, bener kan jadinya? Kalau jadi kegiatan sampingan pasti deh akan banyak peluang untuk disingkirkan sejenak.

Padahal ya, konsistensi ngeblog ini nggak cuma soal konsisten waktu lo. Tapi juga soal konsisten topik yang dibahas.

Ya, nggak salah. Kebanyakan, ngeblog ini memang jadi aktivitas hobi. Kalau hobi ya pastinya jangan sampai mengganggu aktivitas utama. Aktivitas utama itu berkaitan erat dengan kelangsungan hidup, apa jadinya kalau terbengkalai? Bisa-bisa dipecat kita sebagai ibu, atau sebagai karyawan kan?

Berarti ya udah, ngeblog sesempatnya aja dong gitu?
Yaaa, terserah juga. Sesempatnya ya boleh. Ngeblog itu bebas kok. Cuma ya ingat, hasil itu nggak mengingkari usaha.
Kapan kita sesempatnya melakukan, ya hasilnya juga sesempatnya aja ada.
Kita sesempatnya ngeblog, ya traffic blog juga sesempatnya saja.

As simple as that.
Hahaha.

Nggak mau?
Penginnya ya traffic kenceng yah?
Kalau gitu ya, mesti konsisten.

Tapi, gimana caranya supaya ngeblog tetap fun, jalan terus, tapi nggak pake ganggu aktivitas utama?

Ada kok caranya.

Cara konsisten ngeblog tanpa mengganggu kewajiban




1. Enjoy the ride


Yap, yang pertama kali harus kita lakukan adalah menikmati prosesnya.

Ngeblog itu bisa dianalogikan sebagai lari marathon, alih-alih lari sprint 100 meter.
Untuk bisa menghasilkan blog yang mumpuni, kita harus mengerjakan konten-kontennya dengan serius, lalu mem-backup-nya dengan aktivitas di media sosial juga. Lalu kita pun harus menata layout sedemikian rupa supaya nyaman di mata, dan seterusnya.

Semua itu bukanlah kerjaan semalam.
So, kalau dari awal kita nggak enjoy the process, kita hanya pengin blog kita langsung banyak pengunjung, langsung dikomen banyak pun langsung femes, ya nggak akan mungkin bisa. Di tengah-tengahnya kita pasti lebih banyak putus asanya ketimbang semangatnya.

Karena membangun blog yang mumpuni, yang dikunjungi orang banyak, yang dibaca orang banyak, itu bukan kerjaan semenit dua menit. Tapi butuh effort berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Let’s enjoy it then. Nikmati setiap proses kita menulis. Kita bertumbuh bersama blog kita.


2. Temukan irama terbaik


Saya adalah morning person. Sebelumnya, saya adalah night owl. Suka ngalong.

Tapi, demi irama hidup yang lebih baik--dan juga demi kesehatan--saya mengubah kebiasaan melek malam menjadi melek pagi. Saya tidur lebih cepat, tapi bangun juga lebih awal.
Saya pun lebih produktif dan lebih konsisten melakukan aktivitas saya dengan irama yang baru ini.

Setiap orang punya irama hidup masing-masing. Setiap orang punya waktu produktifnya sendiri-sendiri. Jadi, temukanlah dan buatlah waktu terbaik untuk ngeblog, demi konsistensi ngeblog yang lebih baik.
Hanya kita sendiri yang bisa menentukan ini ya. Dan, akan berbeda dengan orang lain.

Jadi, nggak perlu banding-bandingkan kondisi kita dengan yang lain.


3. Mulailah dari kecil


Segala hal itu selalu mulai dari yang kecil, yang kemudian semakin meningkat seiring waktu. Begitu juga dengan ngeblog.

Karena ngeblog sama saja dengan lari marathon, then we have to start small.

Pertama, mulai dari ngeblog seminggu sekali dengan panjang artikel 300 kata saja. Lalu coba dilihat dan dievaluasi setelah beberapa lama.

Do you enjoy it? Apakah sudah nyaman dengan irama “kecil” seperti itu?

Kalau sudah, maka cobalah untuk sedikit step out of the comfort zone.

Mungkin mencoba untuk menambah jumlah kata dan meningkatkan intensitas menulis. Targetnya ditambah, menulis 500 kata dengan 2 kali update seminggu.

Sekali dua kali tiga kali gagal, tak masalah. Asal niat kuat, pasti kita selalu bisa memotivasi diri untuk bisa mencapai target kecil kita itu.

Kalau target tercapai, jangan lupa kasih reward diri sendiri. Penting buanget tuh!


4. Pilih sirkel yang bisa mendukungmu


Biasanya orang akan lebih semangat kalau punya sparing partner.
Jadi, coba temukan beberapa orang sahabat sesama blogger yang passion-nya sama, mindset-nya sama, dan punya visi yang sama juga.

Mengapa harus sama semua?

Penting nih, karena mereka akan menjadi "bahan bakar" semangat ngeblog kamu. Kalau kamu berbeda pandangan saja, atau dalam kata lain nggak cocok, ya nggak bakalan jalan deh. Yaqinlah sumpah. Kita pengin lancar ngeblog, bukan cuma buat war ini itu kan?

Jadi, pilihlah partner yang benar-benar bisa membuat kegiatan ngeblog kamu semakin semangat. Boleh satu, dua, atau beberapa orang sekaligus.

Jadikanlah mereka sebagai objektif kegiatan ngeblog kita.


5. Keep your mind (and ears, and eyes) open


Dengan semakin seringnya kita menulis, maka kita pun makin peka dalam “menangkap momen”. Apa saja bisa kita jadikan tulisan.

Karena itu, agar tetap dan selalu konsisten dalam ngeblog, selalu buka pikiran, mata dan telinga. Jadilah pengamat yang baik, karena bahan tulisan sejatinya nggak pernah jauh-jauh dari kita kok.
Saat kita sudah peka, maka kita pun nggak akan kehabisan ide dan inspirasi untuk terus maju dalam ngeblog.



Itu dia sedikit tip untuk bisa konsisten ngeblog.

Memang ngomong doang mah gampang. Praktiknya susah. Iya, saya tahu kok. Tapi beberapa trik di atas sudah saya coba terapkan, dan cukup ampuh bikin saya konsisten ngeblog.

Selamat nulis ya. Semangat!


Masih ya, persoalan penulis (penulis apa pun, termasuk bloger) paling nyebelin adalah saat kita merasa buntu ide.

Beberapa waktu yang lalu, saya juga "memaksa" beberapa orang di Redaksi Stiletto Book untuk ikut menulis artikel untuk web Stiletto. Dan tahu enggak, meski mereka adalah editor, mereka juga mengeluhkan hal yang sama. Merasa susah mendapatkan ide. Mereka takut nggak punya ide!
Hahahah.

So, bloggers! You are not alone. Bahkan seorang editor buku juga kebingungan kok soal ide tulisan :P

Saya bilang 'merasa' karena memang sebenarnya itu cuma anggapan kita saja. Sebenarnya kita tuh nggak akan pernah kehabisan ide kok, apalagi kalau sering diasah dan diajak latihan. Semakin sering, semakin peka. Itu sudah pasti.


Cuma kadang otak ini semacam 'hang' gitu, nggak mau diajak mikir. Penyebabnya banyak sih, misal kita sedang ada persoalan lain di dunia nyata yang sudah menyedot pikiran kita, atau mungkin kita kecapekan. Yah, namanya orang kan ya? Banyak yang mesti diurus.

Tapi, yang namanya ide tulisan itu tak pernah pergi jauh sebenarnya. Bahkan bisa kita temukan di mana saja. Makanya, saya juga sampai sekarang semakin yakin, bahwa "nggak ada ide" itu tak pernah ada dalam sejarah penulisan. Tsah.

Anyway, kamu bisa coba 3 Jenis Konten Penyelamat Saat Kamu Nggak Mood Nulis tapi Mesti Update Blog ini, atau juga Susah Mencari Ide Tulisan? Cobain 5 Blog Topic Generator Berikut Ini Deh! ini.

Kalau masih juga belum bisa memantik ide tulisan, kamu bisa mencoba beberapa cara berikut.




1. Berpikir sebagai pemula


Think like a beginner.
Maksudnya begini, apa pun yang kamu lakukan sekarang dengan fasih dan sukai, sebelumnya pasti kamu lalui dulu dengan pembelajaran. Bener nggak tuh?

Misalnya, buat mamak-mamak nih, yang suka nulis parenting, sekarang mungkin sudah bisa ajarin anak mengenal huruf, dan bahkan membaca ya? Nah, coba ingat-ingat, dulu pasti pernah ada di tahapan pertama kalinya mengajak anak mengenal huruf. Apa saja sih yang dilakukan? Apa yang perlu dipersiapkan?

Nah, ini bisa nih menjadi tulisan ya.

Tak perlu jauh-jauh, lihat saja yang kita lakukan sehari-hari.
Misalnya buat karyawan administrasi ya. Gimana caranya membuat filing yang rapi?
Buat pencinta bunga mawar, bagaimana cara merawat bunga mawar untuk pemula? Di tanah seperti apa, tanaman mawar tumbuh dengan baik? Bagaimana dengan sinar mataharinya?

Catat semua pertanyaan yang pernah muncul di kepala saat kamu melakukannya pertama kali dulu. If you came up with a few questions once, I'm sure people are struggling with the same questions too.

Hal inilah yang bisa kamu tuliskan. Lengkapi dengan cerita saat kamu melakukannya pertama kali dulu. Curhat juga boleh.

Ini namanya curhat berfaedah.

Here's what you need to think:

  • Apa sih yang dulu membuatmu bingung saat pertama kali melakukan hal tersebut? - Ini bisa jadi tulisan "How to ...".
  • Dari mana kamu belajar melakukannya? - Ini bisa menjadi tulisan, misalnya 7 website tempat belajar menulis rekomendasi, atau 5 akun Instagram flatlay-ers yang bisa dijadikan tempat belajar flatlay.
  • Kesalahan apa saja yang pernah kamu lakukan saat itu? - Ini bisa jadi tulisan do and dont's ataupun misalnya kayak "kesalahan yang harus dihindari". Tahu kan ya, yang kayak apa? Mistakes gitu deh.
Nah, kalau sudah ketemu topik lalu jangan lupa dilist.


2. Berinteraksi dengan pembaca


Kadang, kita mendapatkan banyak umpan ide itu dari pembaca-pembaca yang mampir ke blog, dan meninggalkan komen lo.

Ada banyak tulisan di blog ini, misalnya, yang ditulis untuk menjawab feedback dari pembaca. Kadang mereka juga ngasih feedback-nya nggak langsung di komen juga sih. Tapi ada yang via Twitter, ada juga yang via WhatsApp.

Misalnya seperti tulisan menentukan ciri khas lifestyle bloggers ini saya tulis karena ada yang nanya via Twitter. Atau, tulisan tentang alasan saya memisahkan niche blog ini juga saya dapat dari seorang teman yang bertanya via WhatsApp.

Banyak juga yang bertanya via Quora Indonesia kemarin, yang kemudian jawabannya saya angkut ke sini. Sayangnya, saya sudah deaktif akun Quora saya =)) Yah, kapan-kapan lagi deh main ke sananya.

Intinya, dengarkanlah orang-orang di sekitar kita.
Hal ini juga melatih kepekaan untuk menangkap ide. Banyak hal terjadi di sekitar kita. Banyak orang berinteraksi dengan kita. Mereka bisa jadi sumber inspirasi yang nggak habis-habis.

Dulu sih pas masih selow, saya selalu menyempatkan diri untuk skroling bagian Comments di blog. Buat "menjaring" ide yang barangkali belum tertangkap, sembari jawabin satu per satu. Sekarang sudah nggak sempet, cyin! Hahaha. Yah, maafkan saya. Semoga bisa mengelola waktu lebih baik lagi, sehingga saya bisa kembali balesin komen satu per satu. Seneng lo, bisa dapetin ide dari komen teman-teman tuh.

Kita juga bisa bertanya melalui survei atau polling di Twitter atau di Facebook lo. Ada fasilitasnya kan? Bisa juga bertanya via Instagram. Nggak usah peduliin, kalau pemakaian sticker Questions kita salah dsb. Pokoknya pergunakanlah untuk mendapatkan manfaat sebanyak-banyaknya dari semua fitur yang sudah disediakan.


3. Dapatkan ide dari artikel orang lain


Memang, kita tidak seharusnya menyalin tulisan orang begitu saja. Ini haram hukumnya.
Tapi, bukan berarti kita tak bisa "mengadopsinya", tentu saja kamu mesti memelintir idenya hingga jangan sampai sama persis.

Misalnya.
Artikel Resolusi Tahun Baru untuk Blogger? Nih, Ada 5, Tapi Juga Jangan Lupakan yang Paling Penting! ini adalah tulisan karena melihat banyak artikel mengenai resolusi di awal tahun. Lalu saya pelintir menjadi resolusi untuk para bloger.

Artikel saya di blog Mas Febriyan Lukito, Bagaimana Memanfaatkan Media Sosial untuk Mempromosikan Bisnis Kamu ini, juga merupakan "artikel sontekan" dari blog post seorang teman bloger lain yang membahas promosi bisnis melalui media sosial. Saya merasa artikel si teman ini kurang representatif dan aplikatif, maka saya tulis ulang dengan gaya saya sendiri.

Kadang, saat kita membaca satu artikel dan kemudian ada yang kurang dari artikel yang kita baca itu, nah, itu dia berarti ada satu ide tulisan yang muncul. Tapi ingat, jangan hanya dikopas ya. Coba ikuti beberapa langkah menjadikan inspirasi tulisan dari orang lain menjadi ide original yang pernah saya tulis di blog ini juga.

Makanya, kadang ya meski nggak ada waktu, saya tetap sempatkan membaca-baca Feedly. Rencananya sih, saya pengin menyatukan saja 2 akun Feedly saya menjadi satu. Tadinya saya memisahkan Feedly antara feed blog teman-teman, dengan feed website-website rujukan. Pengin saya jadikan satu aja deh. Supaya lebih enak saya browsing-nya.




4. Ambil judul artikel orang dan twist


Ini juga sering saya lakukan sih. Hahaha. Maaf yah, yang ngerasa kali ada yang familier dengan judulnya tapi kok rasanya beda.

Barangkali, judul post kamu tuh yang saya pakai :P

Misalnya nih.
Hari ini di Feedly saya terlihat ada yang menulis tentang "Punya Anak Kinestetis itu Seru." Hehehe. Maaf ya, yang punya artikel. Saya jadikan contoh :D 
Nah, ini bisa ditwist, misalnya untuk anak visual dan auditori.

Contoh lain.
Ada artikel "Tip Menata Ruang Kerja di Rumah"
Nah, bisa jadi "Tip Menata Meja Kantor supaya Mood Tetap Terjaga"
Atau, "Barang Apa Saja yang Harus Ada di Sebuah Ruang Kerja di Rumah" itu juga bisa.

Namun, harap diingat ya. Nggak semua orang terima kalau idenya ini diadopsi dan ditwist. Teman-teman mesti bisa mengenali, mana orang yang selow dan mana yang nggak suka idenya di-"pinjam".

Kalau saya sih, kalau umpamanya memang kenal dengan baik dan bisa saya hubungi personal, maka saya akan tanya, "Eh, artikel yang ini boleh aku 'pinjem' gak?"
Biasanya sih boleh.
Perlu dikasih kredit nggak?
Ya, kalau masih mirip-mirip, kasih kredit akan sangat baik sekali. Kalau sama sekali berbeda, ya nggak usah.


5. Update dan republish artikel lama


Nah, soal  mengedit tulisan lama di blog, Mas Ryan pernah menuliskannya di Tulisan Blogger Indonesia; tentang alasan dan bagaimana caranya. Lengkap. Silakan dikunjungi yah.

Ini cocok banget dilakukan kalau kita memang lagi mentok ide. Perbarui saja artikel lama, yang kurang oke, supaya lebih oke.


6. Jadwalkan per topik


Ini saya lakukan kalau saya mau mengupdate blog yang rada nyampur bahasannya, seperti Bicara Perempuan, Si Momot, dan Mama Rempong.

Saya menjadwalkan, misalnya Senin saya akan update topik Karier di BiPer, Kecantikan di Si Momot, dan Opini di Mama Rempong. Selasa untuk update topik lain lagi.

Nah, saya biasanya menggunakan Editorial Calendar untuk membantu saya mengelola konten-konten ini.

Kebetulan saya memang lagi fokus ternak blog sih. Hahaha. Untuk apa? Ada deh. Doain saja yah.

Kamu juga bisa menggunakan penjadwalan ini terutama kalau blog kamu adalah lifestyle blog alias blog gado-gado alias campur-campur, agar semua topik terisi dengan baik. Dengan penjadwalan ini, percaya deh, you will come up with more ideas. Dengan catatan, kamu juga rutin melakukan brainstorming ide. Cukup 30 menit doang, misalnya setiap minggu kok. Menyempatkan diri 30 menit brainstorming, kamu sudah bisa 'menghemat' waktu di weekdays, karena topik-topik kamu sudah siap tulis semua. Apalagi kalau dalam brainstorming itu, kamu juga sudah sekalian dengan menulis outline.


7. Cari writing prompt


Nah, ini kalau di sini sepertinya belum banyak.

Prompt adalah "pancingan", trigger ide untuk menulis. Saya biasa menggunakan writing prompt ini saat sedang belajar menulis Flashfiction bareng teman-teman di Monday Flashfiction dulu. Lumayan efektif lo. Kadang writing prompt ini berupa satu kata aja, atau bahkan gambar. Dan kita dibebaskan mengembangkannya seliarnya.

Writing prompt ini misalnya seperti Masih Kekurangan Ide? 30 Ide Blogpost Buat Sebulan Ini Bisa Kamu Pakai! ini, yang saya tulis untuk bantu teman-teman yang kekurangan ide menulis.

Di Twitter Kumpulan Emak Blogger (@emak2blogger), itu juga pernah ngasih banyak prompt. Ada Ide Artikel Parenting ini, ataupun 31 #IdeBlogpost buat sebulan ini. Sementara masih di Chirpstory ya. Nanti kalau sudah keangkut ke webnya, saya akan update lagi.

Nah, tuh sudah ada sekitar 90-an writing prompts tuh. Banyak kan? Bookmark, dan tengok kapanpun kamu butuh. Pilih saja yang mana yang paling masuk ke mood kamu.

Kapan-kapan, pengin juga sih bikin writing prompt untuk masing-masing niche di sini. Duh, nggak berani janji tapi. Utang saya juga masih banyak hahahaha ... List guest post aja belum saya jabanin satu per satu euy!


Kesimpulan


Masih saja beranggapan, bahwa penulis itu bisa kekurangan ide?

Semoga sekarang sudah berubah ya. Hehehe. Jangan menyerah sama ide. Percayalah, semakin lama ditunggu, semakin lama pula ide itu akan datang. Jemput aja. Nanti dia akan berbaris di depan pintu, sampai kita malah bingung kapan eksekusinya.

Eh, itu mah saya ding.


Beberapa waktu yang lalu, saya melihat tweet ini oleh Papin, junjunganku.



Dan kemudian saya tanggapi begini.




Bagaimana menurutmu, wahai kamu yang sedang membaca artikel ini?

Tentunya, kalau kamu suka main ke Twitter, kamu barangkali lumayan akrab dengan "pencarian panggung" model begini.

Yes, twitwor.

Jadi, siapa yang follow InfoTwitwor & Drama?
Buat apa hayo, follow akun tersebut?

Iya, saya ngaku. Saya juga follow.
Buat apa?
Buat liat dramak lah! Buat apa lagi?

Sekarang apa-apa memang bisa dilakukan di Twitter. Twitter--menurut saya--adalah media sosial yang paling bisa membuat saya berekspresi secara bebas.

Kenapa saya lebih suka di Twitter ketimbang media sosial lain?

  • Pergerakan linimasa yang cepat membuat saya bisa lebih banyak mendapatkan update dari akun-akun yang saya ikuti. Juga oke buat saya meracau, karena dengan cepat racauan saya juga berlalu dari linimasa. Hehehe.
  • Saya nggak perlu memikirkan "keindahan" visual di Twitter. Asal tercetus pikiran, saya bisa langsung ekspresikan. Beda sama Instagram, yang lebih ribet menurut saya.
  • Mau sharing info apa pun juga lebih enak. Saya bisa bikin thread viral lebih banyak di Twitter sih. Hehehe, apalagi dengan fitur threadnya sekarang.
  • Jokes recehan para sobat misqueen di Twitter juga lebih bisa bikin saya ketawa ngekek-ngekek, ketimbang Instagram ataupun Facebook.
  • Apa-apa yang ngehits di Instagram dan media sosial lain pasti kebawa ke Twitter. Tapi yang trending di Twitter belum tentu ada di media sosial lain. Wkwkwkw.
  • Dan masih banyak alasan lain yang bikin saya memang lebih betah berada di Twitter.
Namun di balik semua hal yang bikin saya lebih suka menghabiskan waktu di Twitter, ada juga yang nyebelin darinya. Salah satunya adalah dramak, yang kemudian berkembang menjadi perang.

Satu sisi drama perang Twitter ini memang menghibur, tapi kalau kebanyakan ya exhausting juga. Apalagi kalau orangnya toxic, nyebelin, merasa paling bener. Kalau saya pribadi sih--terus terang--begah sama para sjw alias social justice warrior, yang merasa dirinya paling bener.

Okelah mereka membela so-called prinsip, tapi nggak perlulah sampai mencela orang lain yang nggak sepaham sama mereka.


Twitter Bukan Tempat Memaki


Melihat banyaknya pengguna Twitter yang malah menggunakan akunnya untuk mencela, nyari panggung dan akhirnya perang, maka nggak heran kalau kita menganggap Twitter bukan cuma media untuk berbagi informasi dan menyampaikan pesan. Tapi, juga untuk menyampaikan ketidaksukaan kita pada suatu hal, lebih khusus lagi pada seseorang atau tipe orang tertentu.

Memang, seperti halnya media sosial yang lain, Twitter memang bisa menjadi sumber berbagai informasi, dan kemudian berkembang sesuai dengan kebutuhan kita sebagai penggunanya.
Bahkan yang ada sekarang, Twitter juga menjadi tempat untuk membangun so-called brand awareness. Melalui Twitter, suatu brand bisa berkomunikasi dengan user-nya dan calon konsumen, sehingga membentuk persepsi terhadap brand tersebut.

Makanya, Twitter berkembang fungsinya, jadi tempat komplen, tempat nanya, tempat nyari informasi, tempat menyapa teman-teman, tempat curhat, tempat berbagi artikel, sampai tempat sampah.

Apalagi hampir nggak ada aturan tertulis di Twitter. Benar-benar zona bebas sebebas-bebasnya.

Tapi kan, nggak berarti kita lantas bisa seenaknya mencela dan memaki orang lain di situ?

Saya pikir, tetap ada aturan kan seharusnya? Jika dalam kehidupan nyata kita bisa "terikat" oleh etika sopan santun dan norma, mengapa hal ini tak bisa kita bawa juga ke ranah dunia maya?

Jika kita tak mungkin menghina orang lain dengan kata kasar secara langsung, mengapa kita jadi bebas melakukannya di Twitter (dan juga media sosial lain)?

Mengapa justru karena kita tidak bisa mengatakannya langsung pada orangnya, tapi dengan enak banget berkata kasar di Twitter dengan nomention?





Kita lupa. Kita memang bebas ngetweet apa pun, tapi sebebas itu pula orang lain menilai kita, menghakimi kita. Jangan bilang, don't judge me because you don't know me. I only show you what I want you to see.
Karena sesungguhnya, kita sendirilah yang mengontrol tweet kita.
Kalau nggak mau orang salah ngejudge, ya jangan tunjukkan apa yang bisa mereka judge.

Sekali lagi, ingat. Kita sendiri yang mengontrol apa yang kita bagikan di media sosial.

Twitter untuk Para Pengecut (?)


Fakta bahwa di Twitter kita bisa nggak langsung berhadapan dengan orang yang dituju, jadinya kita cenderung lebih berani menyampaikan apa yang ada di pikiran kita. Seburuk apa pun itu.

Tanpa berpikir panjang, kita melancarkan protes pendapat orang lain, cara berpikirnya, cara pandangnya, bahkan cara hidupnya. Lalu dilanjutkan pula dengan mengumbar keburukan karakternya.


Warbiyasak memang ya *slow clap*

Saat di Twitter, kita merasa tanpa nama dan invisible, karena kita "tersembunyi" di balik nama akun dan bio yang bisa saja bukan yang sebenarnya. Kita juga nggak perlu memperlihatkan dan melihat ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan nada suara.

Hal inilah yang membuat kita menjadi lebih ekspresif saat ngetweet.

Hal lain yang membuat seseorang lebih berani di Twitter adalah karena yang bersangkutan kurang pede. Yaeyalah, kalau face to face kan jiper, neyk!

Dengan "bersembunyi" di balik akun Twitter, kita tak perlu mengkhawatirkan reaksi orang. Bodo amat, kan kita nggak harus menatap mata orang yang kita sakiti? Nggak perlu juga lihat betapa dia terpojokkan oleh kata-kata kita?

Dengan demikian, no mercy kan? Hajar bleh!



Twitwor untuk Panggung


Percaya atau tidak, hal ini juga diakui sendiri oleh beberapa orang yang memang suka menempuh jalan ini demi mendapatkan lampu sorot, alias perhatian. Hasil dari perhatian yang didapat adalah jumlah follower yang naik, yang terutama. Hasil lainnya pasti ada lagi juga.

Coba lihat beberapa orang yang kayaknya seneng banget kalau menemukan kesalahan atau keburukan orang lain.

Misalnya kemarin ini deh. Ada yang salah kasih thread penjelasan mengenai kesalahan penggunaan sticker "Ask Me a Question" di InstaStories, dan ternyata deseu yang salah mengerti.
Terus, aduh, itu ya yang ngetawain kesalahannya, kayaknya puas bener ya?

Padahal lho ya, menurut saya nih, yang bersangkutan ini nggak salah total. Kita itu bisa kok menggunakan fitur tersebut untuk menanyai follower, ataupun untuk memberi pertanyaan pada kita. Either way, sama-sama untuk menjalin interaksi kan?
Salahnya di mana?

Meski sudah dijelaskan oleh Instagram mengenai penggunaannya, tapi nggak salah kan?

Duh, seneng banget liat orang salah ya? Ckckck.
Yah, siapa tahu bisa masuk Twitwor. Kan lebih terkenal kan ya?

Bahkan sekarang ini ya, kalau bisa masuk ke akun @infotwitwor itu seakan jadi prestasi.

Ya, kalau memang permasalahannya adalah permasalahan umum ya okelah, saya masih agak maklum dan paham. Lha tapi ada juga yang membeberkan masalah pribadi, lalu akhirnya yang bersangkutan dibully akibat masalah pribadi yang dibeberkannya sendiri. Terus, apakah orang-orang kayak saya gini harus merasa kasihan?

Nggak bisa.
Saya nggak bisa kasihan pada korban bully seperti ini.




Yang ada, orang-orang yang nonton--seperti saya ini--malah makin bersorak senang. Tepuk tangan. Ketawa. Kalau bisa, ghibahin lagi di tempat lain.

Salah siapa?

Apakah yang bersangkutan itu buta media sosial? Paham nggak sih kalau Twitter itu bukan ranah pribadi?

Mengapa hal-hal setabu itu dibeberkan dengan bangga, atas nama inspirasi?
Inspirasi my a*s! =))

Kalau sudah mulai dibully, atau dapat teror, lantas play victim.


Doh, mamam tuh aib sendiri.


Ya maaf. Kalau seperti ini, memangnya saya harus kasihan? Harus simpati?
Bukankah Twitter itu Twitter-Twitter kita sendiri? Kalau ditegur, bukannya ngomong, "Eh ini akun akun eug sendiri. Napa lo repot?'

Abis kena bully, baru deh. Paling terus digembok.

Hello?
Mendingan sebelum bikin thread membuka aib sendiri, ya dipikirin dulu deh.


Think Before You Tweet

Meski tanpa etika tertulis, bukan berarti Twitter bebas hukum. Sudah banyak kasus yang akhirnya berlanjut ke pengadilan hanya karena tweet.

Tak hanya itu, sudah banyak sekali pula kasus seorang karyawan mendapatkan masalah karena tweet. Nggak cuma karyawan, saya sendiri kalau lagi mencari bloger buku atau bookstagrammer pun ngecek ke media sosialnya dulu kok, sebelum memilih.

Buat apa? Ya, supaya saya nggak memilih orang yang salah.
Saya nggak akan memilih orang yang suka ngebully orang lain, atau suka berkata-kata kasar di akun media sosialnya.
Kenapa? Ya, karena saya sedang "menyerahkan" citra buku yang sedang saya promosikan, jadi saya harus memastikan citranya akan tetap baik terus.

Itu cuma buku lo.
Bayangkan yang lain.

Kalau kamu melamar ke sebuah perusahaan, HRD zaman sekarang juga akan jalan-jalan dulu ke media sosialmu.
Kalau kamu pengin mengejar endorsement, sang ahensi juga akan jalan-jalan dulu.
Mereka akan scroll timeline kamu sampai jauh.

Percayalah.

Ngetweet hal buruk tentang orang lain bisa dituntut. Kalau ngomong langsung, kadang masih susah dibuktikan. Tapi kalau sudah berupa tweet, hal itu bisa jadi bukti tertulis. Dan sah untuk dibawa ke proses lanjutan. Orang yang merasa dirugikan bisa melaporkannya ke pihak berwajib.


The bottom line is ...

Begitu bebas dan demokratisnya media sosial, sehingga bikin kita egois karena merasa bebas berpendapat. Bahkan cuek meng-upload tulisan dan foto yang berisi keburukan orang lain. Padahal kita punya followers--yang notabene juga tak kita kenal dengan baik. Siapa yang tahu mereka sesungguhnya seperti apa?

Apalagi netyjen zaman sekarang yang selalu mahabenar dan gampang terpengaruh.

Orang yang benar-benar memiliki 'kehidupan' yang sehat nggak akan mau terjebak untuk ngetweet negatif. Ingat, apa yang kita keluarkan di media sosial mana pun adalah tanggung jawab kita pribadi.

Jadi, segala sesuatu yang terjadi kemudian tetap menjadi tanggung jawab kita sendiri.

Yuk, bijak bermedia sosial.



Hae! Coba yang kerja sebagai freelancer, mana suaranya? *acungin mikrofon*

Enak nggak sih, kerja freelancer itu?

Iyah, konon katanya, kerja freelance itu yang paling enak. Memerdekakan, begitu katanya. Jadi bos untuk diri sendiri, istilah kerennya. Ya gimana enggak kan, skedul kerja bisa fleksibel, dan kita juga bisa memilih project yang menurut kita paling oke untuk dikerjakan.

Bener nggak sih?

Puji Tuhan, tahun ini adalah tahun keempat saya secara penuh bekerja sebagai freelancer, setelah sebelumnya saya juga bekerja sebagai full timer, dan juga pernah mencicipi part timer. Catatan, saya sebelumnya sudah mulai punya side job sejak tahun 2010.

Jadi, bisa dibilang, totalnya sih sudah 8 tahun saya mencoba bekerja freelance, dengan 4 tahun di awal masih menjadi karyawan tetap sebuah perusahaan.

Saya kira perjalanan karier saya sebagai freelancer bisa dibilang sedikit banyak karena keberuntungan. Saya tak pernah merencanakannya, hanya saja, saat memutuskan saya memang yakin, kalau pola kerja freelancer akan lebih cocok untuk saya yang suka begah dengan aturan. Hahaha.

Iya, saya memang ga suka diatur--kalau ga bisa dibilang susah diatur. Aturan membuat saya terkungkung. Apalagi kemudian ditambah dengan komitmen saya pada keluarga.

Sebenarnya sih, kerepotan dan rasa pakewuh akibat terlalu sering izin karena mengurus sekolah anak-anaklah yang terutama menjadi alasan saya akhirnya memutuskan untuk menjadi freelancer. Karena untuk resign dan benar-benar hanya menjadi ibu rumah tangga, jelas itu bukan hal yang menjadi cita-cita saya. Saya tetap pengin mengerjakan sesuatu, dan punya penghasilan sendiri. Saya ingin mandiri secara finansial, meski saya sudah jadi istri orang.

Itulah beberapa hal yang menjadi alasan saya, mengapa saya bertahan untuk bekerja meski sudah punya anak. Dan, baik keluarga dan karier, dua-duanya sebisa mungkin bisa saya jalankan bareng. Kalau bisa pun, satu sama lain saling mendukung.

So yeah, akhirnya saya freelancing.

Setelah menjalaninya secara penuh selama 4 tahun, the truth is freelancing is a bit overwhelming at times. At least, untuk saya.

Setidaknya ada 7 ugly truths about freelancing ini sudah saya alami dan membuat saya kecemplung dalam situasi love and hate relationship dengan pekerjaan sebagai freelancer.

7 Fakta buruk kerja sebagai freelancer

Wkwkwkw. Hadeeeeh. Image via Pinterest.

1. Kita bertanggung jawab pada diri sendiri

Salah satu beda yang paling besar antara pekerjaan tetap dan pekerjaan lepas adalah soal tanggung jawab.

Kalau dulu kita harus bertanggung jawab pada atasan, maka saat kita bekerja sebagai freelancer, kita akan bertanggung jawab pada diri sendiri, selain pada klien.

Agar akuntabilitas kita tetap terjaga, kita harus bisa menetapkan target atau goals kita sendiri. Mau bikin penghasilan berapa nih, sebulan? Harus bisa menyelesaikan seberapa banyak project dalam setahun? Bisa ketemu dengan berapa klien? Dan seterusnya.

Setelah itu, ya, dievaluasi sendiri juga.

Hal yang menyenangkannya adalah si target itu, karena kita sendiri yang membuatnya, maka semudah itu pula kit akan menganggap ringan.

“Ah, nggak apa-apa deh, hari ini nggak kepegang. Besoklah dikejar. Sekarang leyeh-leyeh dulu aja deh.”

Besok? Only God knows.

So, mau memulai kariermu sebagai freelancer, coba tanyakan pada diri sendiri dulu, apakah kamu sudah cukup punya disiplin pada diri sendiri?

Karena kalau kerja kantoran, ada HRD yang siap tegur kalau kita menurun performanya. Di freelance? Nggak ada. Yang jadi HRD, ya diri kita sendiri. Kalau nggak siap dengan disiplin diri yang kuat, ya bhay saja deh~
Karena akibatnya sudah pasti, klien nggak akan percaya lagi sama kita. Kalau nggak bisa disiplin, nggak bakalan bisa sukses kerja sebagai freelancer.


2. Freelancing itu berarti kerja sendirian

Masak, masak sendiri. Makan, makan sendiri. Cuci baju sendiri. Tidurku sendiri ~~~

Iya, itu mah lagu dangdutnya Caca Handika.
Tapi ya kurang lebih samalah dengan para freelancer.

Cari klien sendiri, kerjain sendiri, presentasi sendiri, evaluasi kinerja sendiri, bebersih meja kerja sendiri.

Tapi ya teteup. Semua selalu ada sisi enaknya.
Kerja sendiri means kita hanya memikirkan diri sendiri saja, gimana caranya biar performa dan kinerja lebih baik. Tak tergantung pada rekan kerja alias coworker.

Saya pernah nih, kerja dan kerjaan saya tuh tergantung pada hasil yang diberikan oleh rekan kerja yang lain. Kalau hasil kerja si coworker busuk, ya saya juga bakalan menghasilkan sampah.

Saya juga bebas dari basa-basi sesama rekan kerja, saya juga bebas dari "kewajiban" untuk momong orang lain. Baik-baikin, biar enak kerjanya, padahal si coworker itu kampret abis, misalnya. Wkwkw.
Iyaa ~ Saya bebas dari semuanya itu!

Bhay, basa-basi nggak penting!


3. Klien kita akan sangat demanding

Klien adalah bos, bagi seorang freelancer.
Dan, sebagai bos, mereka harus dibikin senang. Dibikin puas!

Paling sebel adalah saat ketemu klien yang sangat demanding dan suka mendikte, tapi sebenarnya kurang ngerti apa yang sedang kita kerjakan. Hahaha. Sumpahlah, stres banget ini!

Misalnya nih, desain brosur.
Sudah mintanya cepat, desain pun berubah-ubah sesuai mood klien.
“Ini kotaknya dibikin miring sedikit, bisa?”
“Font-nya kurang oke ah! Ganti dong!”
“Eh, warna backgroundnya ganti saja deh. Cepet kan nggantinya?”
"Meja di bagian depan ini diilangin aja. Bisa kan?"
"Ini tulisannya biru aja. Backgroundnya kan item tuh. Bagus tuh. Biru sama item."
*nangis*
Ya, begitulah. Cuma bisa sabar ya, cyin! Wkwkw.


4. Posisi kita kadang begitu lemah

Nah, ini yang sudah dan sedang saya alami.

Kadang, kita sebagai freelancer, harus kerja dulu. Urusan nanti.
Iya, ini saya sih. Menggampangkan hal-hal yang terlihat kecil dan remeh-temeh, padahal penting.

Terutama saat saya sedang mengerjakan konten tulisan.
You see, kalau desain grafis, kita bisa mengakalinya. Misalnya, artwork final yang kita kirimkan adalah yang resolusi kecil. Semacam sebagai bukti approval, dan bukti kalau sudah kita kerjakan. Iya kan? Saat si klien sudah membayar lunas, kita pun menyerahkan artwork resolusi besar.

Tapi saya masih belum bisa mencari solusi kalau untuk konten tulisan.
Saat saya selesai mengerjakan konten tulisan, pastinya saya akan mengirimkan tulisan itu pada klien. Klien akan memeriksa, dan kalau lolos, akan ditayangkan di web mereka. Setelah itu, baru mereka membayar.

Jika mereka bisa komit, tentunya ini nggak masalah.
Nah, yang sedang saya alami sekarang adalah ada sedikit perubahan sistem pada instansi yang menjadi klien saya, yang menyebabkan pembayaran fee konten saya tertunda sampai hampir 4 bulan.

Nah, di sini saya tidak bisa berbuat apa pun. Birokrasi dan prosedur instansi klien saya itu memang ribet, saya bisa apa? Saya juga tidak ada kontrak. Selama ini hubungannya benar-benar seperti jual dagangan saja. Saya dapat pesanan, kerjakan, setor. Lalu, setelah selesai sekian konten sesuai yang diminta, saya seharusnya dibayar.

Tapi ini enggak.

Bahkan saat menanyakan pun, bagian keuangan dengan teganya bilang begini, "Ya, gimana. Ini pekerja kontrak bukan, tenaga lepas pun bukan. Jadi belum diverifikasi juga sampai sekarang."

Lha terus, Pak? Sampai kapan saya mesti nunggu fee saya? *nangis*
Hanya Tuhan yang tahu.


Yha!


Iya, saya salah. Saya mau saja mengerjakan order tanpa kontrak. Tanpa MoU. Jadi pelajaran banget deh ini. Semoga dengan berbagi "kesalahan" ini, teman-teman jadi lebih aware ya. Lebih baik kalau semua pekerjaan ada MoU.

Saya juga pernah nih, mengerjakan satu artikel kecil, bayaran tak seberapa. Hanya Rp50.000. Kerjaan sudah saya setorkan. Saya juga nggak mau ribet kan, karena pikir saya, ah, cuma lima puluh rebu ini. Tapi sampai sekarang, saya masih belum menerima fee saya. :))) Iya, perih banget emang. Tadinya saya juga merasa, ya ampun. Cuma 50ribu saja kok ya pakai ditagih? Tapi ya, nyatanya sampai sekarang nggak pernah ada. Hvft.

Duh, maaf, malah jadi curcol kepanjangan. Tapi, ini saya sih sebenarnya lagi minta saran. Siapa tahu ada yang bisa kasih saran or solusi buat saya. Hehehe.

Apa yang harus saya lakukan ya? Seandainya saya bisa ngakalin kayak kalau saya lagi ngerjain artwork desain grafis itu, tentu akan lebih aman buat saya kan?

Kalau ada yang punya ide or saran, silakan ditulis di kolom komen ya. Makasih banget lo.

Sebenarnya kalau kita kerja sebagai freelancer di freelance marketplace, semacam Sribulancer, Projects.co.id, itu lebih safe, karena kan sistemnya klien akan membayar dulu ke pihak marketplace-nya. Saat kerjaan selesai, kita pun pasti dibayar.
Tapi kok ya kerjaan di sana itu kok murah beneur ya. LOL. Kadang ya kurang ikhlas saja sayanya, meski kalau terpaksa ya ga papalah.


5. Kita harus punya peralatan tempur kita sendiri

Ya, kalau kita kerja di kantor, tentunya hal ini akan jadi kewajiban perusahaan untuk melengkapi infrastruktur yang kita butuhkan untuk dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik.

Berbeda kalau kita sudah freelancing. Ya, pastinya kita harus usaha untuk punya peralatan kerja dulu.

Bagusnya, kita bisa menyesuaikan spesifikasi yang dibutuhkan. Nggak bagusnya, kadang nggak punya modal buat punya yang sesuai. Wkwkwkw.

Setop, Mak! Sebelum curcol lagi.


6. Harus selalu siap update dan sigap upgrade

Persaingan freelancer itu bisa dibilang "sunyi" tapi lebih mengerikan. LOL. Karena itu, kita mesti siap dengan berbagai perubahan yang terjadi.

Misalnya, sekarang zaman-zamannya tulisan listicle ala-ala Buzzfeed. Saya sudah sekitar 2 tahunan nguplek-uplek di zona ini.
Dan, sekarang saya mulai bersiap, akankah model konten baru yang bakalan  ngeheits berikutnya?

Kecepatan saya untuk meng-update pekerjaan dan kemudian meng-upgrade diri saya sendiri menjadi penentu apakah saya masih bisa survive di tren berikutnya.

Begitu juga dengan desain.
Misalnya sekarang lagi musim desain-desain grafis dengan white-space yang dominan, dengan font tipis panjang.
Saya harus terus memantau tren, karena saat tren berganti, maka saya juga harus sigap mengubah dan menyesuaikan diri.

Memang sih, hal ini akan membuat kita jadi kurang khas. Seharusnya kita memang punya signature sendiri. Tapi, ya kadang kita harus realistis. Kita ini siapa? Kita masih pekerja medioker, yang bisanya cuma manut sama klien. Kita yang menawarkan diri pada klien, kan? Belum pada tahap dicari oleh klien?

Ya, kecuali kalau kita sudah sebesar Rob Janoff atau Michael Bierut (yang ga tahu mereka, silakan googling aja ya?). Atau kalau blogger ya, siapa sih kita? Bukan Darren Rowse ini.


7. Makna liburan jadi bergeser


Haha. #MenurutNgana?

Pekerja lepas atau freelancer kebanyakan akan bekerja sesuai dengan passion atau bidang yang benar-benar dikuasai dan dicintainya. Biasanya sih mereka akan sudah cinta duluan dengan apa yang mereka lakukan.

Inilah yang kemudian memberi makna baru pada kata ‘liburan’.

Liburan, apalagi yang tanpa mikirin kerjaan? Sepertinya sulit! Yang banyak kejadian adalah pas sudah mau liburan, ternyata dapat tawaran project yang menarik.

Mau nggak dikerjain, kok sayang. Mau dikerjain, hadeh, masa liburan sambil bawa laptop?

Ya, akhirnya liburan sambil bawa-bawa laptop kerjaan deh.

Konon katanya, kenapa enggak sih liburan sambil kerja. Kan asyik? Hmmm … saya kok bilang, enggak juga ya. Bagusnya ya, kalau liburan ya liburan! Demi keseimbangan jiwa, jangan mikirin kerjaan.

* * *

Demikianlah, beberapa fakta buruk atau ugly truth mengenai kerja sebagai freelancer.

Tapi memang sih ya, segala sesuatu itu kan ada seneng susahnya, plus minusnya. Tapi, saya sih percaya. Saat yang seneng-seneng kita rasakan itu bisa mengalahkan yang susah-susahnya, berarti kita sudah mencintai pekerjaan tersebut.

So, sudah siap beneran kerja sebagai freelancer?
Bon voyage!