Zaman sekarang, jadi ibu rumah tangga juga enggak bisa cuma nganggur aja di rumah. Tapi, kalau mau bisnis, bisnis apa? Modal dari mana? So, artikel ini adalah sponsored post yang akan berisi informasi mengenai Pinjaman Online untuk Ibu Rumah Tangga dari KTA DBS.

Yes, seorang ibu rumah tangga juga bisa mendapatkan pinjaman untuk memulai ataupun mengembangkan bisnis, jika memang memenuhi syarat. Meskipun dia mungkin nggak memiliki sumber penghasilan tetap, tapi tetap bisa kok.

Gimana caranya?

---

Kondisi Ibu Rumah Tangga Zaman Now: Nggak Mau Nganggur Doang

Para ibu rumah tangga zaman now ini jauh berbeda dari yang dulu-dulu. Para mamah millenial ini berpendidikan, cerdas, dan ambisius. Seiring dengan kegiatan mereka merawat rumah dan keluarga, mereka juga ingin menjelajahi dunia di luar empat dinding rumah. Pengin eksis, dan pengin sukses.

Banyak dari mereka akhirnya memutuskan untuk keluar rumah untuk bekerja di perusahaan-perusahaan, sementara yang lain bermimpi memiliki bisnis sendiri.

Kalau kamu diberi kesempatan, kamu lebih memilih yang mana? Kerja, atau punya bisnis sendiri?

Sayangnya, dua-duanya bukan hal yang mudah. Yaeyalah. Dikasih susah dapat kerja aja kita suka gampang bilang resign. Wqwqwq.

Soal bisnis apalagi. Nggak ada bisnis yang mudah. Terlebih lagi ya, banyak lo sebenarnya ibu rumah tangga yang punya ide bisnis yang cukup unik, tapi sayangnya mereka enggak punya "bensin" buat mewujudkannya.

Lah, kok bensin? Iya, dana, maksudnya. Nggak ada modal gitu. Inget kata Mas Dani Rachmat--guru finansial saya itu lo--jadinya.

Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang.

Tsah.


Mau Bisnis, Tapi Nggak Ada Bensin? Susah!

Sebenarnya ya, kita bisa kok mulai bisnis dengan modal minim. Cuma ya, kalau mau ngembangin kadang ya perlu juga nambah modal.

Pinjaman bisa jadi merupakan salah satu opsi untuk mencari dana tambahan untuk pengembangan modal. Tapi, sayangnya, pinjam modal itu nggak gampang. Ada daftar panjang kriteria yang harus dipenuhi oleh pemohon supaya pengajuan pinjamannya dikabulkan.

Apalagi untuk bisnis yang baru dirintis. Wah, susah pastinya. 

Tapi susah, bukan berarti nggak mungkin lo. Karena opsi atau pilihan itu tetap selalu ada. Tinggal gimana kita aja yang memanfaatkannya.


Bagaimana Cara Mendapatkan Pinjaman untuk Modal Bisnis Ibu Rumah Tangga?

Sebenarnya, pinjaman itu ada beberapa macam, terutama yang terkait untuk keperluan modal bisnis.

1. Gadai emas

Nah, cara pertama ini sering dilakukan oleh para pebisnis kecil. Mereka "meminjam" sejumlah uang, dengan menjaminkan perhiasan ataupun logam mulia mereka.

Gadai emas ini tampaknya merupakan salah satu solusi untuk mereka yang butuh modal tetapi kalau mengajukan pinjaman resmi ke bank terhambat karena syarat-syaratnya. Maka, kalau punya emas ini, lumayan deh bisa dimanfaatkan. Gadai emas bisa ke mana saja, tetapi yang paling aman sih ya ke Pegadaian.

Cukup banyak mentor bisnis yang menyarankan untuk menambah modal dengan cara gadai emas ini demi mendapatkan tambahan modal bisnis.

Setelah kita ada uang kembali, emas yang kita "titipkan" di Pegadaian bisa kita ambil kembali.


2. Pinjaman dengan agunan atau jaminan

Kalau di bank, biasanya disebut dengan Kredit Multiguna. Namanya juga multiguna, jadi boleh dipake buat apa aja. Plafonnya yang tinggi--sampai miliaran--jadi cukup menarik, juga tenor yang panjang. Hanya saja, kita sebagai peminjam harus menyediakan jaminan yang setara dengan jumlah pinjaman kita.

Kalau kita gagal bayar? Ya, pemberi pinjaman berhak atas jaminan yang sudah kita agunkan, dan nantinya akan dijual demi melunasi pinjaman.

Jaminannya sih bisa bermacam-macam, dari perhiasan, kendaraan, rumah, hingga jika kita punya investasi surat berharga.


3. Pinjaman bersama

Cara berikutnya untuk mendapatkan pinjaman sebagai tambahan modal bisnis adalah dengan menambahkan pemohon kedua yang memiliki pekerjaan.

Maksudnya gimana? Misalnya, suami yang bekerja di sebuah perusahaan, atau kalau yang belum berkeluarga juga bisa menambahkan ayah yang berpenghasilan tetap setiap bulan.

Nah, jumlah pinjaman akan diberikan tergantung pada penghasilan kedua pemohon. Bahkan jumlah maksimum pinjaman juga merupakan kelipatan dari pendapatan keduanya.


4. Kredit Tanpa Agunan

Nah, yang keempat ini adalah salah satu cara mendapatkan tambahan modal bisnis yang memang lebih cepat. Kemudahan dan kepraktisan kredit tanpa agunan ini memang cukup menggiurkan.

Jika memang butuh dana cepat, maka kredit ini bisa juga dipertimbangkan.

Tak hanya di bank, kredit tanpa agunan sekarang juga bisa diajukan pada fintech-fintech yang semakin menjamur. Namun, sebelum mulai meminjam dengan sistem kredit tanpa agunan ini, ada baiknya memperhatikan beberapa hal berikut:

  • Pastikan fintech atau lembaga keuangan yang memberikan fasilitas kredit tanpa agunan terdaftar dan berada di bawah pengawasan OJK.
  • Cari info sebanyak-banyaknya mengenai fintech atau lembaga keuangan terkait dari berbagai sumber, sebelum benar-benar melakukan pinjaman untuk tambahan modal bisnis.
  • Cermati syarat, ketentuan, dan berbagai kondisi yang biasanya dijabarkan sebelum kita mulai mengajukan pinjaman.

Pengajuan kredit tanpa agunan ini memang relatif mudah didapat dibandingkan dengan pinjaman bank biasa, ataupun yang multiguna.

Pemohon hanya perlu menunjukkan beberapa dokumen sederhana--misalnya slip gaji--dan pinjaman akan diproses dalam waktu 24 jam, sehingga nggak perlu menunggu terlalu lama untuk mendapatkan pinjaman modal.


Nah, dengan beberapa cara di atas, seorang ibu rumah tangga pun bisa mendapatkan tambahan modal untuk pengembangan bisnisnya.

Selanjutnya, ada banyak PR yang harus dilakukan ya--buat laporan keuangan yang rapi dan tertib, kelola bisnis sebaik-baiknya, agar kemudian bisa mengembalikan modal yang sudah dipinjam, berikut bunganya.

Semoga sukses bisnisnya ya!

---

Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai Pinjaman Online untuk Ibu Rumah Tangga dari KTA DBS, Anda bisa mengunjungi situs https://www.cekaja.com/banks/dbs/pinjaman/kta-dbs.


Kadang kala para bloger--terutama yang pemula--lebih suka menulis yang memang mereka sukai. Tentunya hal ini ya bagus, terutama supaya mereka bisa menyukai dulu kegiatan blogging, enjoy dulu aktivitas menulis, mengedit foto, dan segala hal yang berhubungan dengan ngeblog.

Tapi, pada akhirnya, kalau kita mau maju, berkembang, dan lebih sukses ngeblognya, mau enggak mau ya kita mesti "menuruti" apa mau pembaca.

Setuju enggak sampai sini? Setuju ajalah ya? Jadi, biar saya bisa lanjut bahas :))

Ya, kecuali kalau kita ngeblog buat dibaca sendiri sih. Kalau kek gitu mah terserah aja. Mau diisi tulisan yang cuma bisa dipahami sendiri sih juga enggak masalah. Asal, jangan terus sambat aja, kok blogku sepi amat. Yang baca enggak ada 100 orang per bulan?

Karena jawabannya sudah jelas. Penyebab sepinya blog kamu itu, kalau enggak karena kontennya enggak dimaui/dicari sama netijen, bisa juga karena banyak yang enggak paham kamu nulis apaan.

Ouch, yes. Reality sucks.

But, anyway, mari kita ke penyebab pertama: konten kamu enggak ada yang nyari.

Untuk penyebab ini, solusinya cuma satu: kamu sebaiknya menulis konten yang dicari oleh orang. Karena, hard truth is enggak ada orang yang peduli dengan hal yang kita (sebagai bloger/penyedia konten/penulis) sukai.

Nope. No one even cares, Ferguso!

Nggak ada orang yang peduli, kalau kita suka traveling. Enggak ada orang yang peduli, kita suka crafting. Nggak ada juga yang peduli, kita suka apa untuk dibahas di blog.

Yang mereka peduli adalah--misalnya--gimana caranya ngetrip ke Jepang dengan biaya murah, yang kemudian nyangkut di konten kita yang lagi berbagi tip cara murah traveling ke Jepang. Mereka enggak peduli kita hobi traveling, yang mereka mau adalah informasi gimana cara halan-halan dengan biaya murah.

Mereka enggak peduli kita suka crafting. Yang mereka pedulikan adalah gimana caranya ini bikin aksesori rambut supaya bisa dijual di online shop supaya nambah-nambah duit.

Egois? Ya emang gitu cara mainnya.

So, mau blognya ramai? Let's start with people's favorite things--yang baru kemudian disesuaikan dengan topik yang kita kuasai or sukai. Baru kita sajikan ke hadapan mereka dalam bentuk informasi, atas nama sharing is caring.

Gimana caranya bisa tahu apa yang pembaca butuhkan?

Berikut ini ada beberapa cara mengenali kebutuhan pembaca, kamu bisa cobain semua atau beberapa yang kamu rasa sesuai, agar blogmu ramai dikunjungi orang


5 Cara untuk Mengenali Pembaca

1. Lakukan keywords research

Keywords? Kata kunci? Kenapa kata kunci sepenting ini?

Well, ini sudah saya jelaskan panjang lebar dalam satu artikel utuh: Mengapa keywords itu penting. Bolehlaaa dibaca, kalau memang belum pernah baca yes?

Kata kunci adalah memang merupakan kunci pintu blog kita dari "jalan raya" yang disebut Google, dan mesin-mesin pencari lainnya. Kata kunci adalah plang nama, yang akan membawa orang masuk ke halaman dan kemudian masuk ke rumah.

Kata kunci juga merupakan satu cara pertama dan utama dalam usaha kita mengenali kebutuhan pembaca akan satu informasi.

Jadi, kata kunci adalah KOENTJI.

Saya pernah dapat curhat begini.

"Mbak, kok saya bikin artikel udah pakai struktur yang bener, sudah pakai kata kunci juga, panjang artikel juga pas. Kok tetap sepi aja blog saya?"
"Kata kuncinya udah riset kan? Ambil yang volume berapaan?"
"Enggak sih, Mbak. Nebak."
"..."
Lu kate, SEO itu ilmu nujum apa? ZBL.

Memilih kata kunci itu enggak bisa kalau pakai ngitungin kancing baju. Atau lempar koin. Kata kunci itu mesti diriset. Kita mesti lihat data, lalu membandingkan satu sama lain.

Sama sekali bukan sulap bukan sihir.

Silakan baca artikel tentang bagaimana melakukan keywords research ini ya.


2. Cek statistik blog

Statistik blog yang ada di Google Analytics dan Google Search Console juga bisa kita gunakan untuk mengenali kebutuhan pembaca akan suatu informasi.

Ada 2 cara sih:


Pertama.
Lihat di statistik artikel yang paling banyak dibaca secara organik (jadi jangan pakai artikel yang sempat diiklankan ya). Di situlah ada minat pembaca yang banyak. So, coba definisikan. Apa topiknya? Apakah kamu bisa mengembangkan bahasan lain atau sudut pandang lain dari topik yang banyak dibaca itu?

Kedua.
Lihat statistik keywords dari channel organic. Coba masuk ke Google Analytics-mu, lalu ke Acquisition > Channels > Organic Search.



Saya kasih contoh deh. Ini adalah statistik blog saya di Organic Search itu.

Artikel "cara membuat cover highlight Instagram" itu saya buat setelah saya melakukan eksplorasi terhadap artikel tentang update algoritme Instagram yang sebelum saya posting dan cukup ramai dikunjungi.

Akhirnya artikel cara bikin cover highlight itu sekarang malah statistiknya jauh melebihi artikel tentang update algoritme Instagram.

Boleh, silakan cek dengan keyword "cara membuat highlight Instagram", artikel saya di urutan berapa :))

Ingat, cek statistik pakai Google Analytics atau Google Search Console ya. Jangan pakai statistik bawaan blog.


3. Cek komen

Bagian kolom komen juga bisa jadi sumber untuk riset mengenali kebutuhan pembaca terhadap suatu informasi.

Memang sih, banyak banget yang baca artikel tanpa ninggalin komen apalagi kalau kita mendapatkan pembaca dari search engine. Wah, nasib pasti minim komen deh.

(Yes, jangan terburu-buru underestimate artikel minim komen ya. Bisa jadi pageviewnya malah jutaan, udah. Wqwqwq.)

Anyway ...

Sebaiknya sih jangan pernah mengabaikan kolom komen. Kadang, di kolom komen itu ada banyak harta karun ide tersembunyi.

Makanya, penting di setiap artikel untuk menyelipkan semacam pertanyaan atau call to action, mengajak pembaca untuk berdiskusi atau bertanya. Siapa tahu pertanyaan atau komen mereka bisa dijadikan artikel yang pas dengan kebutuhan pembaca kan?


4. Adakan survei atau polling

Cara lainnya lagi untuk bisa mengenali kebutuhan pembaca adalah dengan melakukan survei atau polling.

Saya sih sering juga melakukan ini, di Facebook, Twitter, ataupun Instagram. Cuma karena follower saya enggak seberapa atau karena saya memang kurang banyak gaul juga sih ya, kurang sering komen atau berinteraksi, jadi kadang hasil survei atau pollingnya enggak sesuai dengan ekspektasi.

Tapi, kalau kamu punya massa yang lumayan di media-media sosial, teman-teman kamu banyak, follower banyak dan kamu rajin berinteraksi, survei dan polling ini bisa bantu banget untuk bisa mengenali kebutuhan mereka akan satu informasi.

Paling enak sih ini, karena berarti kan kita bisa tahu from the first hands ya. Langsung tahu dari sumbernya, apa yang mereka butuhkan. Tinggal dilist lalu dieksekusi deh.


5. Cek trending topic

Yang terakhir adalah dengan mengecek trending topic. Yang sering-sering dibahas atau ditanyain orang akhir-akhir ini apa sih?

Kek gitu kira-kira.

Nah, untuk ngecek trending topic ini bisa dengan banyak cara. Beberapa di antaranya adalah:

  • Dengan skrol media sosial; di Twitter ada Trending Topic, di Instagram ada Explore. Kamu bisa skrol-skrol sampai begah di sana, untuk mencari tahu apa yang lagi rame dan bisa kamu ulik untuk dibahas di blog.
  • Dengan Google Trends. Saya sudah pernah jelasin panjang x lebar x tinggi dalam satu artikel khusus. Silakan dibaca yah, kalau belum sempat baca kemarin.
  • Dengan Buzzsumo, yang meski terbatas banget dengan akun gratisan tapi ya lumayanlah ya. Daripada enggak sama sekali. Silakan baca artikel Buzzsumo selengkapnya. 



So ... the bottom line is ...

Okelah kalau kamu menuliskan segala hal yang kamu suka aja di blog. Tapi ingat, yang kamu suka belum tentu orang lain butuh atau suka juga.

Jadi, adalah wajar jika tak banyak juga orang yang datang ke blogmu. Karena ya ... mau ngapain? Kan mereka nggak butuh.

So, supaya mereka mau datang, kita sebagai pemilik blog haruslah menyediakan apa yang mereka butuhkan.

Ini enggak berarti lantas kamu enggak boleh sama sekali menulis atau membahas yang kamu suka lo. Boleh, tapi ada baiknya diatur juga dengan topik yang biasa dicari orang, supaya seimbang.

Google baru saja mengeluarkan woro-woro lagi, bahwa sekarang link attribution atau atribut tautan enggak cuma dofollow dan nofollow aja, tetapi juga ada 'sponsored' dan 'ugc'.

Nah, siapa nih yang baru tahu tentang keberadaan atribut baru ini?
Sejujurnya, saya juga baru tahu sih. So far saya tahunya cuma nofollow dan dofollow doang juga. Tapi ternyata ada yang baru.

Sebelumnya, tentang atribut 'nofollow' dan 'dofollow' ini mesti kamu pahami dulu prinsipnya. Saya pernah bahas sih di artikel soal external link. Silakeun dibaca yah, tentang apa itu dofollow dan nofollow, dan apa fungsinya masing-masing.


Perubahan Atribut Nofollow


Dan, sekarang, ada perubahan yang cukup signifikan nih dari Google mengenai penggunaan nofollow. Yang dofollow enggak disebutkan sama sekali, so mari kita asumsikan bahwa aturan dofollow enggak berubah.

Lalu, apa yang berubah dari atribut tautan ini?

1. Ditambah 2 jenis atribut

Yes, seperti sudah disebutkan di atas, sekarang ada atribut tambahan yaitu "sponsored" dan "ugc". Berarti selain "dofollow", sekarang juga ada "nofollow", "sponsored", dan "ugc". Ada lagi, yang tanpa atribusi.

Ketiganya menjadi semacam petunjuk untuk Google crawler bot, mengenai bagaimana si bot akan melakukan treatment terhadap tautan-tautan tersebut.


2. Treatment berbeda

Gampangnya, atribusi tautan tersebut akan menjadi "kode" khusus bagi Google. Pada dasarnya, Google tetap mengabaikan nofollow links, tetapi sekarang hal ini enggak mutlak lagi. Dengan syarat tertentu, Google bisa saja menjadikan tautan nofollow ini sebagai salah satu penentu indexing dan crawling botnya.

Behavior ini akan berlaku secara penuh di 1 Maret 2020 nanti.

Lha, sementara ini bagaimana? Masih tetep. Nofollow link akan diabaikan oleh Google.


3. Bisa digabungkan

Untuk kondisi tertentu, kita bisa menggunakan gabungan ketiga atribusi tersebut. Jadi kita bisa saja menulis script rel="nofollow sponsored ugc", yang kemudian akan menjadi kode untuk Google crawling bot.

Dia mau ngapain dengan script seperti itu? Ya, biarkan saja dia memutuskan, apakah tautannya layak untuk diindex dan dicrawl. Tugas kita cuma ngasih "peringatan" aja, bahwa tautan ini adalah tautan bersponsor (yang berarti kita dibayar untuk ngelink) terletak di platform UGC (forum, komen dll), dan bukan rujukan.

Sudah itu aja.

Selanjutnya, biarkan si bot yang memutuskan.


4. Tautan berbayar

Untuk paid link--yang artinya kita dibayar untuk memberi tautan--Google menyarankan untuk menaruh atribusi "nofollow" dan/atau "sponsored". Bisa salah satu atau bisa juga gabungan dari keduanya.

Menggunakan "ugc" saja (atau "dofollow") pada link berbayar akan berbuah penalti. Ingat ya. Jangan pakai "ugc" saja atau "dofollow".


5. Lalu bagaimana dengan tautan yang sudah telanjur published?

Google bilang sih, nggak perlu khawatir tentang yang sudah-sudah. Biarkan berlalu, dan segera moveon #eh
Maksudnya sih, untuk tautan yang next, pakailah aturan yang baru. Terutama untuk tautan-tautan setelah tanggal 1 Maret 2020 itu.

Nah, untuk lebih jelasnya, silakan mencermati infografis yang dibuat sama Moz ini. Menurut saya sih, ini cukup jelas ya. Bagaimana treatment masing-masing atribusi, dan bagaimana menuliskannya.

Sumber: Moz


Kenapa sekarang makin ribet aja sih Google?



Well, tak lain tak bukan karena ulah kita sendiri juga. Dan, Google hanya melakukan hal-hal yang sekiranya perlu untuk melindungi diri kita (user) dari kita-kita juga (spammer).

So, dengan semakin maraknya praktik-praktik spamming, dan makin bernyalinya para pemilik dan pengembang situs membayar netijen untuk ikut dalam marketing strategies-nya, maka Google sudah pasti harus melakukan sesuatu agar user tetap nyaman dalam menggunakan tool pencarinya.

Agar hasil pencariannya semakin valid.
Agar kita semakin tertolong dengan informasi-informasi yang bermanfaat dan berkualitas di Google.
Dan agar kita enggak mendapatkan informasi sesat dari para praktisi black hat SEO.


So, summary ...

Jadi, mesti gimana ini makenya atribusi-atribusi ini?

Pakailah rel="sponsored" untuk paid/sponsored links. Di sini berarti termasuk tautan afiliasi, job review, dan sebangsanya. Pokoknya kalau kita menerima duit sebagai ganti naruh link, pakailah atribusi ini.

Pakailah rel="ugc" untuk tautan-tautan di dalam user-generated content. Ini misalnya kalau ada yang mau bikin forum, gitu ya. Bisa dikasih atribusi ini secara otomatis. Buat yang bisa ngulik kolom komen, juga boleh ditaruh atribusi yang ini.

Pakailah rel="nofollow" untuk semua tautan yang bukan rujukan. Atau, mungkin kita rada meragukan kualitas laman yang mau ditautkan gitu, tapi mesti nge-link. Ya udah, pakaikan saja atribusi "nofollow" ini.

Lebih jelasnya, bisa lihat di guideline yang sudah dibuat oleh Google. Saya rasa cukup jelas kok, dan mudah dimengerti.

Well, sekarang sih belum ada yang bisa kita lakukan, selain siap-siap menambah kerjaan dengan menaruh atribusi sesuai fungsinya. Semoga sih platform blogging masing-masing menambahkan juga dalam menu editnya, biar kita nggak perlu susah-susah nulis secara manual :))

Kalau mau, silakan baca sumber artikel ini di blog milik Moz ya. Belajar langsung dari sumbernya pasti akan lebih oke. Saya hanya berusaha menerjemahkannya secara bebas ke dalam bahasa Indonesia, biar mudah dipahami. Bisa jadi catatan dan reminder juga buat saya sendiri.


Tahu (atau nyadar) enggak sih, kalau Google itu menyimpan hampir semua informasi tentang kita?

Yes, dia akan tahu semua informasi begitu kamu login dan masuk ke akun Google, atau akun mana pun yang dihubungkan dengan Google. Mulai dari penelusuran dan perintah dengan voice search sampai dengan history Google Maps, bahkan sampai riwayat video yang kamu tonton di YouTube.

Oh yeah, semuanya.
Dan, tahu enggak berapa orang mau bayar untuk data-data informasi seperti ini? History akses kita ke mana saja, bahkan pergi ke mana saja?

Jutaan dollar!

Karena data kek gini tuh, data berharga banget terutama buat pemasaran alias marketing!



Pernah buka Google My Activity?

Belum? Coba cek ke My Activity.

Oh yeah! Untung lagi pas nggak nyari porn. Ehgimana?


Laman “My Activity” ini dapat kamu gunakan untuk memeriksa aktivitas online apa saja yang sudah kamu lakukan bersama Google. Maka, di situlah tempat kamu bisa memeriksa data-data personal kamu.

Misalnya, kamu pengin menemukan penelusuran apa saja yang kamu lakukan satu bulan sebelumnya. Laman ini juga berguna kalau kamu bermaksud untuk menghapus semua data yang berasosiasi dengan Google.
  1. Buka “My Activity” di browser, linknya sudah saya tulis di atas ya. Kemudian masuklah ke akunmu.
  2. Cek ke “Bundle View” di sebelah kiri untuk melihat riwayat pencarian kamu in bundle, atau gunakan pilihan “Item View” untuk melihat riwayat satu per satu.

So, kamu mau apa sekarang dengan aktivitas googling kamu yang tersimpan ini? Mari kita lihat.


Nge-download Semua Data dari Google

So, in case kamu mau mendownload semua datamu. Maka, ikuti langkah-langkah di bawah ini:



  1. Buka “Download your data” di browser.
  2. Pilih services yang pengin didownload datanya, lalu klik Next.
  3. Setting “File Type” dan “Archive size (max)” sesuai keinginan, dan pilih “Send download link via email” sebagai “Delivery method”, kemudian klik tombol “Create Archive”. Kamu juga bisa memilih delivery method yang lain, kalau mau.

Buka email, lalu cek apakah ada email dari Google yang masuk. Dalam email tersebut, akan ada tautan untuk mengunduh. Buka, datamu akan siap untuk diunduh.


Nonaktifkan Personalisasi Iklan

Google punya jaringan iklan terbesar yang bakalan melacak aktivitas online kamu demi satu tujuan; mempergunakannya agar mereka bisa menembak iklan yang pas dengan selera kita.

Jadi, sering enggak kejadian? Misal kita lagi liat-liat panci presto di salah satu marketplace. Karena belum ada duit, ya udah kita belum milih juga kan. Belum masukin ke keranjang. Baru window shopping doang!

Tapi, begitu kita ke situs lain (marketplace kita close) dan kebetulan di situs itu ada iklan, maka iklan yang tampil adalah panci presto incaran kita?

ITU DIA!

Tapi, untungnya, hal ini bisa kita atur sebenernya. Mau tahu nggak?






  1. Buka Ads Settings di browser.
  2. Matikan tombol toggle yang ada di tengah-tengah laman. Klik TURN OFF saat ada popup muncul.

Dan, kamu pun selamat dari iming-iming panci presto.



Nonaktifkan Riwayat Pencarian Google

Kalau kamu nggak pengin menghapus riwayat (history) penelusuran, tetapi masih ingin kehidupan ‘digital’ kamu enggak terlacak oleh Google, maka kamu non-aktifkan saja riwayat Google.



  1. Silakan menuju ke “My Activity” yang tadi tautannya sudah saya kasih di atas.
  2. Klik “Activity Controls” dari sisi sebelah kiri.
  3. Pilihlah tipe aktivitas atau produk yang ingin kamu jeda pelacakannya atau perekaman jejaknya, lalu klik tombol toogle di sampingnya. Ada beberapa service yang bisa kamu lihat bisa disetting di situ: Web & App Activity, Location History, Device Information, Voice & Audio Activity, YouTube Search History, YouTube Watch History. Tinggal kamu pilih mana yang mau di-pause.


Misalnya, saya ingin menjeda “Location History”. Saya klik togglenya, nanti akan tampil pop-up yang menanyakan apakah kamu memang pengin pause aktivitas tersebut. Kalau iya, klik tombol “Pause”, dan konfirmasi aktivitas jika diminta.


Tapi pausing Location History ini enggak akan menghapus data Google Maps ya. Seperti keterangan di atas. Makanya, coba baca dulu sebelum benar-benar menonaktifkan satu service.

Kalau mau hapus history dan nyetting privasi di Google Map, kamu bisa langsung menuju lamannya. Diatur di sana.


Hapus Riwayat Google

Kalau kamu enggak pengin meninggalkan rekam jejak apa pun dalam aktivitas online kamu, dan pengin menghapus semua datayang tersimpan di Google, maka kamu pun harus menghapus riwayat secara keseluruhan.

Kayaknya rumit pasti dibayangin ya? Secara, data kita di Google itu emang banyak bet! Sudah tiap hari selalu akses Google, selalu memanfaatkan service Google, bahkan juga aplikasi smartphone semua juga pakai data Google ... beugh! Ngeri dah.

Tapi, tenang. Meski ini terdengar ribet, sebenarnya ini hanya perlu beberapa menit saja lo!



  1. Buka “My Activity” di browser.
  2. Klik pilihan ikon di sebelah kanan atas dan pilih “Delete activity by”.
  3. Sekarang, pilih periode dan produk mana yang ingin kamu hapus riwayatnya. Pilih aja “All time” kalau emang pengin hapus semua, dan juga “All products”.
  4. Klik tombol DELETE, dan konfirmasi penghapusan.


Menghapus Akun Google dan Akun Lain yang Terhubung

Barangkali, kamu pengin menghilang sepenuhnya dari jagat maya, dengan menghapus semua akun kamu? Bisa lo, ada trik untuk mempercepatnya, terutama untuk menghapus akun-akun yang terhubung dengan akun Google kamu.

Pakai apa? Deseat.me.

Deseat.me adalah tool yang bisa mengakses akun-akun yang bertautan dengan akun Google kamu, dan kemudian menghapusnya.



  1. Buka “Deseat.me”. Tekan tombol “Get started” di tengah, kemudian tekan “Sign in with Gmail” untuk masuk menggunakan Google.
  2. Google akan meminta persetujuan kamua sebelum memberikan akses untuk Deseat.me. Klik tombol ALLOW untuk lanjut.
  3. Deseat.me kemudian akan menunjukkan semua akun yang terhubung dengan Google dalam bentuk tumpukan kartu. Klik tombol Delete pada setiap kartu untuk menghapus akun-akun yang bertautan dengan akun Google kamu.


Gampang kan? Sekali jentik doang.



Jadi gimana? Rekam jejak digital bisa sedikit dirapikan kan, dengan beberapa langkah di atas? Hehehe. Yahhh ... kalau mau benar-benar ngilang sih ya, susah. Tapi bukannya enggak mungkin juga, kok. Ehe ehe ehe.

Semoga bermanfaat.


Disclaimer: Bukan Sponsored Post.

Perlu banget disebutkan ya, Gaes! :))

So! Hae, gaes! Pernah nggak sih, kamu iseng melihat blog sendiri, lalu merasa ada sesuatu yang kurang? Coba deh dilihat-lihat lagi, apa ya kira-kira? Hmmm, bisa jadi visual laman kurang oke. You knowlah, manusia itu tipenya visual (mostly). Nggak semua orang tuh bisa betah membaca, kalau enggak ada visual yang menarik.

Bahkan ada lo, penelitian yang membuktikan bahwa "human process visual better". Di artikel itu disebutkan, bahwa manusia itu lebih mampu memahami konten visual 60.000 kali lebih cepat ketimbang teks!

Bayangpun! 60.000 kali lebih cepat!

So, berarti sudah tahu betapa pentingnya konten visual untuk bisa dimasukkan dalam artikel kita. Well, makanya, saya mau ajak kamu untuk membuat banner dan header agar lebih keren lewat artikel ini, step by step.

Mau? Cus!



Tentang Banner dan Header Blog

Nah, sebenarnya banner dan header pada dasarnya adalah dua hal yang berbeda. 

Banner atau blog banner adalah kreasi visual yang biasanya digunakan untuk tujuan informatif bersifat promosi, contohnya iklan. Keperluan memajang banner penting bagi beberapa bloger untuk meraup pundi-pundi.

Beda halnya dengan header. Sesuai namanya, header adalah gambar yang ditempatkan di atas tampilan situs yang akan muncul pertama kali saat seseorang mengakses blog. Ukuran header dipastikan hadir secara horizontal dengan warna dan model yang mewakili blog keseluruhan.

Kedua karya visual ini mesti digarap secara serius dan mampu merepresentasikan blog dan isi yang kamu tuangkan di dalamnya. Semakin apik, tentu para pengunjung bahkan dirimu sendiri bakal betah berlama-lama. Jika tidak, bisa jadi pengaruh buat traffic lo!

So, barangkali ada nih di antara kamu yang masih struggling karena enggak tahu cara membuat banner serta header yang yang baik dan benar. 

(((baik dan benar)))

Makanya, saya mau ajak untuk bareng-bareng mempelajari langkah demi langkah menggunakan platform desain Canva yang simpel, mudah dan punya fitur lengkap. Pastikan untuk mencatat hal-hal penting di bawah, ya! 

Iya, pake Canva aja. Gosah sotosop apa korel. Itu biar buat para desainer pro aja! Kita bloger mah, pokoknya bisa bikin yang gampang tapi bagus! Yes? Yes.


Cara Membuat Banner Sederhana, Simpel dan Keren

Nah, banner ada berbagai ukuran dan orientasi. Ukuran banner populer yang sering dipakai untuk keperluan situs adalah 300 × 250, 728 × 90 dan 160 × 600 pixel. Iya, ukurannya piksel ya, bukan sentimeter. 

Berdasarkan tarif periklanan, setiap ukuran memiliki harga tersendiri yang perlu disesuaikan. Sampai sini sudah paham belom, nakanak?

Bikin banner itu nggak susah, cyint. Kamu cuma butuh telaten aja buat utak-atik. Jadi, sediakan waktu yang cukup, itu aja. Biar ga buru-buru, sehingga hasil maksimal.

Ikuti langkahnya berikut ini yak.

1. Buka Canva dan Cari Template yang Pas dengan Kebutuhanmu




Kalau sudah kebuka, ntar kamu akan melihat sejumlah fitur berdasarkan keperluan pribadi. Untuk kali ini, kebutuhanmu adalah membuat banner. Di Canva ada banyak banget template siap pakai. Sudah dengan gambarnya, sudah pula dengan font pairing yang pas. Yang kamu butuhkan nanti hanya menyesuaikannya saja, sehingga bisa sesuai dengan yang kamu mau.

So, kalau kamu mau yang pake foto atau image, pilih template dengan image. Nanti kalau kamu mau ngeganti image-nya, kamu tinggal klik aja di image yang di template, lalu ganti dengan punyamu.

Buat milih template teks.


Begitu juga dengan font. Kamu langsung cari aja font pairing yang paling sesuai dengan keinginanmu, lalu tinggal ganti kata-katanya dengan yang pengin kamu mau.

Kalau belum berpengalaman font pairing, mendingan seminimal mungkin untuk mengganti-gantinya, karena ... you know ... udah disediain kok sama Canvanya. Sudah pasti cocok dan sesuai dengan prinsip desain. Gosah mikir-mikir lagi kan?

So, carilah template yang sesuai dengan ukuran visual yang kamu butuhkan untuk dipasang di blog. Kalau sudah menemukan template yang pas, maka kamu selanjutkan akan siap untuk menata banner. 


2. Sesuaikan Desain dengan Ragam Fitur di Canva 





Nah, sesuaikan desain banner dengan memilih warna, font, gambar, dan ilustrasi yang paling cocok dengan identitas. 

Nah, soal warna, komposisi, dan font nih. Mau nggak mau, kamu mesti ngerti dan paham beberapa prinsip dasar desain, utamanya desain grafis. Saya sih pernah menjelaskan mengenai 3 prinsip utama desain grafis (yang semoga mudah dipahami oleh kamu-kamu yang nondesainer) dengan cukup detail di Tips dan Trik. Silakan dibuka dan dibaca ya, supaya kamu bisa mengolah desain kamu dengan baik.

3 Prinsip yang harus diingat untuk membuat banner, header, dan berbagai artwork desain grafis adalah:
  • Simple is better
  • Perhatikan porsi font antara yang readable dan stylized, terutama kalau kamu belum mahir typografi.
  • Pakai kombinasi warna seaman mungkin, jika kamu merasa belum peka terhadap color pairing.
Untuk warna, kamu bisa pakai acuan color scheme punya brightside ini.


Ingat ya, jangan eksperimen kalau memang merasa belum gape. Atau, your design will be the next disaster.
Halah.

Iya disaster. Orang yang liat malah sakit mata.
Mau pada tanggung jawab, kalau yang liat jadi pada belekan emang? :P


3. Unduh Banner dan Unggah ke Blog 




Nah, kalau sudah siap dengan desainmu, next kamu bisa ngedonlotnya. Kalau di Canva sih kita bisa dapetin image beresolusi tinggi dalam setiap format (JPEG, PNG, PDF). 

Karena itu, tetap perlu dioptimasi lagi ya, kalau mau diunggah ke blog. Image dengan resolusi tinggi sih bagus, tapi kalau terlalu tinggi resolusinya, ntar juga akan bikin loading blog jadi melambat.

Untuk optimasinya, kamu bisa mengikuti langkah-langkah optimasi image di blog ini juga.

Di Canva, ada ribuan template siap pakai,  buanyak bet gambar tanpa royalti, dan kamu tinggal drag and drop aja untuk bikin banner. Nyaris ga butuh skill desain sama sekali, selain harus paham 3 prinsip desain di atas aja.

Sekali dua kali kamu mungkin tergagap-gagap, selanjutnya pasti gampang. Eksplor aja terus. Tapi awas, ntar lupa waktu. Hahaha.



Cara Membuat Header Blog


Nah, untuk membuat header blog, sebenarnya kamu tinggal ulangi aja langkah di atas. Hanya saja mungkin ukurannya agak berbeda.

Kalau saya sih, mendingan langsung sesuaikan dengan frame blog kamu. Ukur dulu keperluan image headernya berapa, baru kemudian kamu bikin sesuai ukurannya.

Supaya apa? Supaya optimal ukurannya, enggak terlalu besar, ataupun terlalu kecil.

Ngukurnya gimana? Bisa pakai addon di browser kamu. Saya juga sudah jelasin di bagian optimasi image untuk keperluan SEO. Tautannya sudah ada di atas. Silakan disimak lagi, kalau misal belum sempat simak ya.

Kalau sudah ketemu ukurannya, baru deh kamu bikin di Canva, pakailah Custom Dimension, supaya bisa disesuaikan dengan kebutuhanmu.
Tinggal diisi aja, kamu butuh space lebar berapa kali panjang berapa pixel.


Berapa pun ukuranmu, nanti Canva secara otomatis akan menawarkan berbagai template dengan dimensi yang kurang lebih sama. Jadi, kamu tetap bisa memilih dari yang sudah ada.



Bottom Line Is ...

Jangan pernah takut untuk membuat header blog sendiri. Nggak pernah ada desain yang salah, ataupun desain yang benar. Hanya saja memang ada pengaruh "preferensi" dan "selera" yang memengaruhi.

Bagaimanapun, kamu pasti mau kan supaya banyak orang betah tinggal di blogmu dan baca-baca artikelmu? Makanya, semakin banyak selera orang yang bisa kamu jangkau, maka semakin okelah desainmu itu.

Gitu aja sih.

 Tidak ada karya yang buruk jika kamu menyiapkan secara matang. 

Pokoknya, perhatikan betul font pairing dan color pairing. Asal kamu menerapkan 3 prinsip desain di atas, jamin deh, desainmu akan "aman".

Selebihnya, kamu dapat mengeksplor sendiri dengan melihat header blog milik orang lain. Boleh dijadikan referensi, namun jangan sampai terpatok untuk mengejar hasil tersebut. Kumpulkan ide tersebut, lalu satukan. Lebih bagus jika kamu punya konsep segar dan berbeda. 

Have fun!