Dari dulu saya suka banget membaca berbagai tip blogging dari siapa pun. Buat apa? Ya, supaya aktivitas blogging saya makin ngehits-lah. Saya kan pengin femes. #eakkkk. Ya, nggak cuma segitu aja sik. Femes-nya itu biar dikenal orang sebagai penulis, nanti efeknya buku-buku saya banyak dibeli, saya banyak dimintain tolong buat nulis ini itu, gitu.

Memang sedari awal saya come-back *halah* ke dunia blogging tahun 2010-an, niat saya memang akan menjadikan blog sebagai portofolio. Jadi, gimana caranya kan untuk membuat portofolio saya ini moncer.

Maka, saya rajin memburu tip dan ilmu perbloggingan. Setiap orang yang punya tulisan untuk melejitkan blog, pasti saya baca. Nggak berenti di baca doang, saya pun praktikkan.

Semakin ke sini, perkembangan dunia blogging pun semakin luar biasa. 8 tahun saya menjadikan blog sebagai portofolio, banyak banget tip blogging yang ternyata sudah nggak berlaku lagi. Sudah so old fashioned, sudah ketinggalan zaman.

Inilah kenapa kita--kalau mau sukses ngeblog--mesti selalu update dengan perubahan. Saya akui, perubahan kadang SUCKS!

Lihat saja Google, berkali-kali mengubah algoritmenya. Iya sih, mereka membuat perubahan supaya service-nya lebih oke dan berkualitas. Tapi tak urung, perubahan itu membuat saya--yang di sini sebagai publisher, orang yang memproduksi konten--jadi cukup kelimpungan.

Lalu, Instagram, yang secara tak langsung juga berpengaruh ke kegiatan blogging kita. Instagram benar-benar banyak berubah sejak pertama kalinya diluncurkan.
Beberapa hal memang membuat lebih nyaman, tapi banyak hal lain bikin para pemroduksi konten juga kewalahan.

Belum lagi pergerakan aktivitas blogging sendiri yang semakin ke sini juga semakin banyak perubahan.


Anyway, balik lagi ke soal tip blogging.
Zaman sudah berubah. Tapi, beberapa tip blogging yang sudah ketinggalan zaman ini masih sering saya lihat wira-wiri di sana-sini. Dan, somehow, saya sendiri sudah tak "menganut" beberapa tip blogging yang sudah ketinggalan zaman ini. Selain, sudah tak relevan lagi, saya sendiri juga sudah nggak merasakan efek apa pun dari beberapa tip blogging berikut. Malah justru ada beberapa yang sekarang sudah membahayakan.

Saya sih bukannya menyarankan teman-teman untuk tak lagi melakukan beberapa tip blogging berikut. Mungkin masih ada yang menyahihkannya. Saya nggak punya hak untuk melarang kan ya? Siapalah saya. Hanya saja, bolehlah dipikirkan kembali efeknya. Jangan-jangan malah membahayakan aktivitas blogging kita, atau buang-buang tenaga saja.

Karena buat saya, ada beberapa di antaranya sudah tak efektif lagi sekarang.


Beberapa tip blogging yang sudah ketinggalan zaman



1. Setiap tulisan akan menemukan pembacanya sendiri

Dulu saya sangat mengamini dalil ini. "Setiap tulisan akan menemukan pembacanya sendiri."

Rasanya, dengan kalimat ini tertanam di pikiran, saya lantas bisa merasa ayem, nyaman. Dan selanjutnya, kita tinggal menulis saja terus sesuai dengan apa yang kita yakini.

Tapi semakin ke sini, saya semakin tak bisa meyakini lagi kalimat ini 100%.
Okelah, semisal memang naskah buku yang dikirimkan ke penerbit atau media, mungkin, punya takdir sendiri nanti cocoknya di mana. (Itu saja saya sendiri masih nggak sreg. Pasrah amat sik? Hahaha.)

Tapi tidak dengan blog.

Setiap tulisan blog akan menemukan pembacanya sendiri?
Kapan? Seberapa?

Padahal setiap hari ada tawaran job yang mensyaratkan pageview sekian, DA sekian, PA seanu, dan seterusnya. Saat job sudah diterima pun, ada laporan statistik yang harus kita serahkan, bukan?
Kalau nggak mencapai target, kita akan "terancam" nggak akan dipakai lagi dalam campaign berikutnya.

Kalau seumpama benar "setiap tulisan akan menemukan pembacanya sendiri", kita pastinya nggak perlu sampai memasukkan artikel kita di setiap BW list yang ada di komunitas-komunitas kan?

Itu baru soal tulisan di personal blog.

Lebih kejam lagi di portal. Coba portal mana yang menganut "kepercayaan" ini?

Ibaratnya, kita jualan es krim di kampung orang Eskimo. Boleh kan? Boleh dong! Ntar juga pasti akan ada yang butuh kan? Setiap "dagangan" kan akan menemukan pembelinya sendiri?

Really? Es krim? Dijual di antara orang Eskimo?
Yeah right.

So, kalimat "setiap tulisan akan menemukan pembacanya sendiri" ini, buat saya pribadi, sebenarnya cuma bentuk ngayem-ayemi diri sendiri sih. Hahaha. Supaya lebih semangat nulis terus.
Ya oke deh. Kita memang harus semangat nulis terus.
Tapi, kalau mau ada hasil yang riil--artinya, nulisnya bukan lagi sekadar hanya untuk pengisi waktu luang--kayaknya jangan kebiasaan pukpuk diri sendiri terus kayak gini. Kita nggak akan ke mana-mana. Stay di tempat.

Kita mesti cari cara, gimana meningkatkan kualitas tulisan, dan kitalah yang harus mencari pembaca. Mengajak mereka untuk datang dan baca tulisan kita.

Dengan apa? Yah, sudah banyak sih yang saya catat so far. Boleh percaya boleh enggak juga kok. Saya mah bebas~



2. Blogwalking untuk traffic

Blogwalking untuk menjalin hubungan dan networking, saya masih percaya cukup efektif. Sampai sekarang, ini masih berlaku.

Tapi blogwalking untuk ngeboost traffic?
Kecuali dilakukan dalam sebuah blog pod, rasanya mengharap traffic datang dari blogwalking itu kok ya nggak seberapa ngefek sekarang ini.

Blog pod itu sebutan untuk sekumpulan orang yang "bekerja sama" untuk ngeboost traffic bersama-sama. Itu loh, yang biasa dilakukan kalau ada job atau lomba, saling balas blogwalking dan komen. Bahkan ada komunitas yang mewajibkan anggotanya untuk saling BW kan ya?

Kalau dalam sebuah blog pod, maka kemungkinan sih bisa boost traffic, tapi masalahnya, bisa sampai seberapa? Ya sebanyak yang tergabung dalam blog pod itu saja sepertinya kan? Yang komen juga orang-orangnya yang dalam kelompok tersebut.

Nggak ada yang salah dengan hal ini sih. Namanya juga usaha.
Yang saya pertanyakan hanyalah, seberapa efek marketing bisa didapatkan dari blog pod ini?
Kalau orang-orangnya hanya mbulet saja di situ, apakah so-called-brand-awareness dari pihak klien ini bisa tercapai KPI-nya?

Ini logika saya saja sih. Bisa jadi salah. Jadi, silakan lo, kalau ada yang bisa jawab pertanyaan saya. I will be glad to discuss, karena ini hal yang sangat menarik :D

FYI, Instagram pernah juga membahas mengenai Instagram pod. Metodenya sama. Berkelompok untuk saling like, follow dan komen. Facebook--sebagai bapak perusahaan Instagram--bahkan nge-ban beberapa grup Facebook karena terkait Instagram pod ini.

Update:
Saya bukannya antiblogwalking. Saya juga masih blogwalking kok. Tapi saya melakukannya dengan ikhlas. Supaya apa? Supaya nggak ada niatan diblogwalkingin balik, hanya karena kita sudah BW ke blog orang lain. Saya melakukannya karena saya memang pengin baca blog orang--terlepas saya ninggal komen ataupun tidak. Dengan begini, kalau ada yang nggak BW balik ke blog saya, saya pun nggak baper.


3. Share masif di  media sosial untuk traffic

Nyatanya, share apa pun secara masif di media sosial sekarang ini justru berbuah suspend atau ban.

Masih ingat banget beberapa waktu yang lalu, banyak bloger yang mengeluh kena semprit di Facebook. Rerata dari mereka bilang, kalau mereka susah untuk komen. Bahkan komen biasa pun di-mark as spam sama Facebook.

Setelah ditelusuri, ya pantas sajalah kena sempritan. Mereka spamming di Facebook, alih-alih sharing.

Dan kemudian belakangan, banyak pula pengguna Twitter tiba-tiba raib. Ternyata akunnya kena suspend sama Twitter. Meski banyak juga yang kena suspend tapi mengaku tak melakukan kesalahan apa pun, tapi sepertinya sih, alasan suspend terbanyak adalah karena spamming dan hashtag abusing.

Lalu, perkara Instagram kemarin juga sempat membuah heboh dunia perbloggingan dan dunia per-so-called-influencer-an.

Saya sendiri beberapa kali mengamati. Saat saya sharing link di komunitas baik di Facebook maupun Twitter, kok ya naiknya tak terlalu signifikan. Lebih signifikan saat saya share saja di beranda sendiri ataupun timeline sendiri, tetapi secara berulang, periodik, dan simultan.
Mungkin berbeda sih dengan orang lain ya. Saya nggak tahu dengan pasti.


4. Hanya mengandalkan lapak orang

Memang salah satu hal yang harus kita lakukan dalam ngeblog adalah mempromosikan blog di media sosial.

Hanya saja, semakin ke sini, media sosial saja tidak cukup.
Ingat apa yang terjadi di Facebook, Twitter, dan Instagram?
Perubahan sedikit saja pada algoritma mereka bikin kita kewalahan.

Lalu, Google.
Saat sedikit saja Google mengubah kebijakannya, kita pun heboh sendiri mencari tahu apa yang bisa dilakukan lagi untuk "menyiasati" Google.

Oh, sungguh melelahkan, cyint. Hahaha.

Berkali-kali saya lalu ingat kalimat yang ditulis oleh seorang bloger luar (siapa namanya, saya lupa. Maafkan. Waktu itu saya sedang riset untuk perubahan algo Instagram, dan lupa mencatat siapa yang mengatakannya).

Don't build your palace in someone else's sandbox.

Karena begitu sandbox-nya kena tsunami, ya udah deh, "istana" yang kita bangun di situ ya pasti kena efeknya.

Lalu gimana seharusnya?
Untuk saya sendiri, penginnya ya kita bisa build readership kita sendiri. Melalui email list misalnya. Tentu saja, kita nggak bisa hanya semata-mata minta email pembaca blog begitu saja.
Kita harus punya sesuatu in return. Kita harus memberikan sesuatu pada mereka.
Sesuatu seperti apa?

Nah, itu sih silakan dipikirkan sendiri-sendiri :)))

Dengan punya massa sendiri begini, mau media sosial berubah algo kayak gimana pun, paling tidak kita masih bisa punya backup sendiri.

Ya, saya sendiri sampai sekarang masih belum bisa me-manage email list dengan baik, meski saya sudah punya lumayan subscribers. Huhuhu. Maafkan saya.
Semoga saya bisa segera membuat waktu untuk mengurusi Anda yang sudah berbaik hati memberikan email ya.

I promise!


5. Outdated SEO: link ke artikel itu sendiri dan bold/italic

Dalam praktik SEO sendiri ada beberapa hal yang sudah tak lagi saya lakukan sekarang.

  • Menyematkan tautan ke artikel itu sendiri. Ya, dulu tip ini memang disarankan oleh banyak mastah. Misalnya, ada artikel "tip blogging untuk pemula", maka harus ada 1 kata kunci "tip blogging" yang ditautkan ke URL artikel "tip blogging untuk pemula" itu sendiri. Entahlah, saya lupa kenapa harus begitu. Tapi, sekarang langkah ini tak pernah saya lakukan lagi, karena saya juga tak tahu apa efeknya kok harus ngelink ke artikel itu sendiri. Yang ada, kalau saya menjumpai tautan jenis ini malah jadi sebal, karena saya kira bakalan ada info lain di artikel lain, eh ternyata balik situ maning balik situ maning. Hedeh. Ternyata hal ini juga diamini oleh beberapa mastah SEO lain. Jadi ya, sudah, saya nggak pernah lagi pakai tip ini.
  • Bold/italic. Saya juga sudah tak lagi melakukan penebalan atau pemakaian huruf miring untuk keperluan search engine. Saya menggunakannya sekarang demi user experience. Saya akan menebalkan/memiringkan huruf pada kata atau kalimat yang harus diberi penekanan, agar menarik perhatian pembaca, tapi bukan untuk crawl bot search engine. Untuk penjelasan mengenai hal ini ada beberapa artikel sih yang bisa dibaca. Coba ke sini atau ke sini ya. Sebagian sih masih percaya, ini cukup efektif untuk SEO sih. Cuma ya, saya pribadi sudah nggak terlalu yakin langkah ini efektif. Apalagi kalau separagraf pertama di-bold semua, itu tuh alasan logisnya kayak gimana, monmaap, saya kurang nangkep. :( Apalah saya ah. Ada yang bisa menjelaskan? Kalau memang reasonable, saya juga mau ikut lakukan sih.



Nah, demikian beberapa tip blogging yang sudah ketinggalan zaman so far.

Ada yang mau menambahkan? Atau, mungkin ada yang berpendapat, salah satu, dua, tiga, empat atau kelima hal di atas masih cukup efektif dilakukan?

Sok, ditulis di komen yah.
I'll be glad to know about your opinion ;)


Ada yang suka merhatiin lukisan-lukisan gitu enggak? Kalau saya sih--pribadi nih ya--paling suka dan betah melototin lukisan Salvador Dali--ya karena dia alirannya surrealisme ya, jadi bikin mikir aja gitu lukisannya--sama lukisannya Van Gogh.

Para pelukis, seperti halnya Salvador Dali, Van Gogh, Picasso, Michaelangelo, bahkan yang ekspresionis semacam Affandi--walaupun sepertinya sekilas hanya ngasal nggambarnya, bahkan kalau Salvador Dali juga malah absurd--tapi mereka punya teori-teori khusus yang membuat lukisan mereka menjadi sebuah mahakarya.

Maksudnya gimana sih?
Pada dasarnya mereka semua sama; mempunyai prinsip-prinsip tertentu yang mereka temukan dari pengalaman dan pengamatan yang kemudian membentuk lukisan mereka sedemikian rupa sehingga enak banget dinikmati dan akhirnya berharga mahal. Mulai dari pemilihan dan perpaduan warna yang nggak bisa sembarangan, perspektif yang mesti bener, komposisi, dan sebagainya, ini menjadi faktor penentu hasil lukisan mereka akan cetar atau enggak.

Nah, sebenarnya hal ini sama juga dengan perkontenan.
(((perkontenan)))

Dalam membuat konten--terutama konten untuk blog--sebenarnya ada beberapa prinsip yang bisa kita pegang sehingga kita tuh akan selalu bisa membuat konten yang irresistible dan kuat setiap kali kita menulis.

Iya, setiap kali. Jadi bisa disimpulkan, kalau prinsip-prinsip ini selalu dipatuhi, konten kita tuh bakalan kuat dan berkualitas semua.

Jadi, prinsip apa sajakah itu? *zoom in zoom out*



5 Prinsip dasar untuk membuat konten yang berkualitas, irresistible, dan kuat


1. Ditulis dalam personality kamu

Maksudnya gimana?
Ya, layaknya suara sebenarnya. Suara kita kan masing-masing punya tone sendiri-sendiri kan? Nggak ada tuh, suara dua manusia yang bisa sama persis plek tiplek. Mungkin bisa saja terdengar mirip, tapi tetap berbedalah.

Begitu juga soal tulisan.
Kita kan menulis di blog? Pastinya lantas blog kita juga mencerminkan personality kita kan ya?
Iya dong.

Kalau nggak kerasa personality-nya gimana?
Ya, jadi media online.

Media online, atau E-Zine deh, itu juga ada personality sih kalau menurut saya. Coba lihat Mojok. Khas banget kan? Lalu Tirto, Kumparan, Hipwee, ... semua punya gaya bahasa sendiri-sendiri.

Setiap konten yang ditulis dengan personality yang kuat akan menjadi konten yang kuat juga.

Jadi gimana?
Temukan ciri khasmu, find your writing voice.
Caranya gimana menemukan ciri khas? Ada pernah saya tulis juga di blog ini. Silakan ya dibaca. Hehe.


2. Mengedepankan benefit

Tentunya benefit untuk pembaca.

Karena kalau enggak, ya ngapain orang harus datang sih? Siapa kita hingga blog kita tuh didatangi orang? Kita kan bukan Raditya Dika. Kita bukan Amrazing. Kita bukan Alodita.
Kalau mereka-mereka ini mah, cuma nulis curhatan aja ya tetap banyak yang baca. Nggak usah mikirin SEO ya traffic blog tetap tinggi. Meski update-nya setahun sekali juga nggak masalah, ratecard tetap 'bunyi'.

Lha, kita?

Kita bukan siapa-siapa.
Orang yang datang ke blog palingan ya karena mereka mencari informasi tertentu atau diminta sedekah view dan tinggal sejenak beberapa menit di blog, menemukan artikel kita yang terselip di antara rimba raya artikel online. Dan karena mereka mengharapkan bisa menemukan informasi yang mereka cari, maka mereka pun datang.

Kalau nggak ada benefit buat mereka, ya ngapain coba mereka baca? Apa pentingnya?

Maka benefit untuk pembaca ini harus ada di setiap konten. Meskipun ini blog adalah jurnal pribadi kita. Kan bisa juga itu benefit diberikan dalam bentuk curhatan.


3. Konten yang bercerita

Saya mengamati juga, konten dengan cerita yang runtut dan rapi selalu punya kesempatan lebih besar untuk viral. Apalagi kalau ditambah dengan emosi, tapi bukan yang meledak-ledak.

Ya, semua orang suka baca cerita. Jadi, selalulah sematkan cerita dalam setiap artikel di blog. Kalaupun bikin tip, pasti akan bagus juga sembari kita cerita pengalaman pribadi kita di sana-sini saat menuliskan tipnya. Cerita yang seperti ini tuh malah justru membuat konten tip kamu lebih kuat lagi lo, karena berarti tipnya nggak omdo alias omong doang. Terbukti, gitu deh.

Saya sendiri juga selalu tertarik membaca tip yang terlihat sudah dilakukan oleh si pemberi tip kok. Jadi kelihatan aja gitu ada jaminannya. Iya nggak sih?
Atau jangan-jangan cuma saya aja yang gitu ya? Hahaha.


4. Talk to your reader

... instead of talking at them.

Beda ya. Iya.
Yang satunya dua arah, yang satunya satu arah.

Ini juga hasil pengamatan. Tulisan yang seakan mengajak ngobrol pembacanya biasanya lebih laris dan lebih mudah melejitnya.

Tapi, "tulisan yang ngajak ngobrol" ini juga berarti ambigu juga sih.
Kadang, karena kita maunya begitu santai, begitu kasual tulisannya, begitu "gue banget" maunya, akhirnya malah blunder juga. Misalnya, tulisan jadi pakai huruf 4l4y, lantaran biasanya juga ngalay. Atau pakai singkatan-singkatan absurd-yang-cuma-kita-sendiri-yang-tahu-artinya.

Jadi, mestinya yang kek gimana sik?
Saya juga nggak bisa ngasih dalilnya sih, karena preferensi mungkin berbeda. Tapi--lagi-lagi hasil dari pengamatan--tulisan yang seakan ngajak ngobrol pembaca tapi juga memperhatikan kaidah-kaidah penulisan yang benar biasanya akan disuka.

So, mesti gimana tuh biar bisa "ngajak ngobrol tapi juga memperhatikan kaidah penulisan yang benar"?
Ya, pelajari tata tulis yang baku, dan kemudian dipadukan dengan gaya menulis kita sendiri. Makanya, belajar tata bahasa Indonesia itu penting dan nggak bisa disepelekan ya.

Jangan merasa terintimidasi dengan tata bahasa Indonesia yang baku ini. Bahasa Indonesia nggak sekaku itu kok, tapi kita memang mesti tahu dulu aturan benarnya. Baru kemudian disesuaikan dengan gaya kita.

Sama kayak para pelukis yang nama-namanya saya sebutkan di atas. Mungkin mereka sekarang banyak yang "breaking the rules" dan menciptakan gaya sendiri-sendiri. Tapi, mereka tuh sebelumnya juga belajar aturan-aturan yang benernya dulu, baru kemudian mereka kan tahu, sebelah mananya nih yang bisa "dilanggar" hingga menciptakan gaya baru mereka yang khas.

Bahasa Indonesia juga gitu.
Lhah, elu nulis "di-" sebagai kata depan aja masih disambung, nulis "dirubah" alih-alih "diubah", udah sok-sokan aja.
#ehgimana

*ngumpet*


5. Persuasive enough

Tulisan yang bisa "memengaruhi" pembaca--in a good way ya--biasanya juga akan laku keras. Dengan kata lain, tulisan yang bagus itu biasanya punya call to action yang powerful.

Misalnya nih, kita ngeblog soal handlettering ya.
Kita bisa nih menuliskan mengenai handlettering sampai sebegitu rupa, sampai orang tuh akhirnya pengin nyobain handlettering juga.

Nah, jenis konten seperti ini bakalan irresistible banget deh. Kuat sepanjang masa, karena bisa sampai memengaruhi orang lain.

Kemampuan untuk "membujuk" melalui tulisan ini, menurut saya, mutlak dipunyai oleh seorang bloger profesional. Apalagi buat mereka yang memonetasi blognya dengan job review dan sponsored post.

Tapi memang, keterampilan seperti ini tak bisa dipunyai oleh semua orang. Saya mengamati, tak banyak bloger Indonesia bisa melakukan hal ini dengan baik dan smooth.

Tapi juga jangan salah. Meski keterampilan ini adalah level advanced, tapi bukan berarti nggak bisa dipelajari lo. Keterampilan ini bisa banget kita pelajari. Dengan cara apa? Dengan banyak membaca, terutama membaca konten dari bloger lain yang lebih tinggi jam terbangnya dan biasa profesional menerima sponsored post. Coba perhatikan, bagaimana mereka mengolah kontennya untuk menghasilkan artikel yang irresistible ini.



Nah, penuhilah 5 prinsip dasar konten irresistible dan kuat di atas setiap kali kamu membuat konten. Dijamin deh, laris manis!

Susah?
Ya udah nggak apa-apa.



Mungkin kamu memang belum siap melejitkan blogmu sendiri.





Urusan keamanan di ranah maya ini memang mengerikan. Kita dituntut untuk bikin password yang susah, tapi kita sendiri sangat takut lupa password.

Hayo, siapa suka begini? Nggak saya doang kan? Hahaha.

Saya mengamati di portal yang saya kerjakan sekarang, memang ada artikel yang menjelaskan mengenai "mengambil kembali Facebook yang dibajak orang"--bukan saya yang nulis tapi, content writer lain. Dan, respons yang masuk ke artikel tersebut, rata-rata pada minta tolong untuk diambilkan kembali akun Facebook mereka yang dicolong oleh orang tak bertanggung jawab.

Saya sedih sih liatnya.

So, ini ada beberapa langkah pengamanan standar yang mesti kamu lakukan untuk mengamankan password dan akun kamu. Siapa tahu ada yang belum ngerti ya.


5 Langkah pengamanan password dan akun



1. Hati-hati dengan autofill

Ya, ya. Saya tahu, autofill memang seharusnya ada untuk memudahkan hidup kita bukan? Menghemat waktu dan tenaga, dan juga membantu sekali buat orang-orang pelupa. Ya, kek saya gini.

Tapi coba baca artikel panjang nan ilmiah Princeton ini. Di situ ada dijelaskan bagaimana seorang hacker bisa mencuri email kita.

Nah, kalau sudah baca, kamu akan tahu deh, itu juga bisa dipakai untuk ngambil password juga.

Fyuh. *garuk-garuk kepala* Kalau dipikir-pikir ya, nggak ada tempat yang aman di dunia ini ya, termasuk di dunia maya.

Kebayang kan jadinya, betapa bahayanya kalau sampai kita punya password yang sama untuk semua akun? Ya, maunya buat memudahkan, tapi sekali udah diambil, si hacker bisa masuk ke semua akun juga. Wew!


2. Be creative




Ternyata persoalan kreatif ini ga cuma soal desain, tapi password juga. Wqwqwq.
Coba perhatikan gif di atas dari Intel Security.

Itu bisa banget jadi trik untuk membuat password yang bagus.

Atau, bisa juga coba cara ini.
Cari satu kalimat atau frasa. Misalnya, "saya mau buka", lalu tambahkan nama medsosnya. Ganti huruf dengan angka atau simbol di bagian-bagian tertentu. SMBTw1tt3r, SMBFaceb00k, SMBP1nterest, dan seterusnya.

Biasanya dengan begini lebih mudah diingat.

Pokoknya ingat, jangan pernah pakai password yang sama untuk akun yang berbeda.


3. Pengamanan lanjutan: Two-factor authentication




Di beberapa layanan media sosial, ada fitur yang bernama Two-factor authetication.

Di Gmail sih jelas adaDi Wordpress juga ada. Di Facebook juga ada. Di Instagram pun ada. Untuk Twitter, ada di bagian yang mengoneksikan ponsel kita dengan akun.
Tuh udah saya link semua ya. Silakan diikuti tautannya, dan segera bereskan.

Memang agak repot sih pertamanya, habis masukin password terus mesti verifikasi. Tapi ya demi amannya, nggak apa-apalah ya.


4. Waspada saat berada di public dengan Wifi umum

Penginnya nyari Wifi gratis, kita pun login di area publik, di kafe, di mal, di resto, di warung kopi. Nggak nyadar, ini juga bisa berbahaya untuk security privacy kita.

Salah satu cara untuk bisa aman di tempat umum adalah dengan pasang VPN--alias Virtual Private Network. Dengan VPN ini, kita bisa browsing dan juga kirim-terima data dalam private network. Nggak bisa "diintip" orang.



Untuk penyedia layanan VPN, bisa gugling aja ya. Saya sendiri pakai Opera untuk browsing atau akses-kirim-terima data penting, yang punya built-in VPN. Tinggal aktifkan saja.

Sepertinya di Firefox dan Chrome juga ada settingannya, tapi saya belum sempat ngulik. Kapan-kapan saya update deh ya.


5. Jangan pernah tulis password di kertas

Kadang ya karena pelupa betul, ya sudahlah kita tulis di post-it, atau memo.
Ya, kalau di rumah, dan yakin betul dengan keamanannya, ya enggak apa-apa.

Tapi jangan pernah lakukan ini kalau kamu di kantor.
Haram banget dah ini ya.

Kalau semisal kesulitan dengan password yang beraneka macam (lihat poin 2 di atas), kamu bisa coba LastPass, password manager yang katanya terbaik saat ini. Saya sendiri belum pernah coba sih, karena so far saya masih bisa mengelola password dengan baik. Namun, kalau kamu sudah kewalahan, kamu bisa coba ngutak-atik.


Nah, begitulah beberapa tip pengamanan privacy dan data diri kita di dunia maya. Meski begitu, ya tetap waspada ya. Mentang-mentang merasa sudah diamankan semua, bukan berarti kita terus sembarangan saja. Tetap waspadai usaha-usaha phising dan hacking lainnya. Curigalah terhadap segala sesuatu yang aneh, nggak masuk akal, atau tidak biasanya.

Keep safe ya!




Oke, saya lagi males menganalisis, pun malas ngulik draf, jadi mari kita bagi-bagi aplikasi dan tools online saja. :)) Demi terpenuhinya postingan baru di setiap Senin, yes? Wqwqwq, *dikeplak*

Jadi, buat kamu-kamu yang biasanya pake Canva atau Snapseed buat ulik-ulik konten buat diposting di Instagram Stories ... nggak bosen, cyint?

Ya kali-kali kamu adalah tipe kek saya, yang nggak suka pakai yang sudah dipakai oleh sejuta umat, ini ada beberapa aplikasi yang bisa kamu cobain untuk membuat konten Instagram Stories yang beda dengan para Instagrammer lain.

Kenapa mesti beda?
Karena menjadi unik adalah koentji. Yes? Yes!


5 Aplikasi untuk membuat Instagram Stories yang syantiiik!


1. InShot



Suka sebal nggak dengan ratio image buat diposting di Instagram Stories? Meski sekarang ya kita bisa saja posting foto format landscape, tapi kadang ya pengin juga bisa penuh full selayar gitu fotonya, ye kan? Kepotongnya ya sesuai sama mau kita.

Apalagi kalau mau unggah video.
Cemana bisa ngecrop video?

Ternyata ini bisa dilakukan dengan aplikasi handphone satu ini.
InShot bisa ngecrop video kamu ke ratio 9:16 yang pas buat diposting di Instagram Stories. Caranya kamu tinggal impor aja video kamu ke aplikasi ini, terus pilih deh formatnya. Kalau seumpama ada sisa space, kamu bisa pilih fillernya mau diapain, mau pakai warna solid atau gradient.

Dengan aplikasi ini kamu bisa menambahkan GIF, emoji, juga banyak filter yang bisa kamu cobain semua.

Aplikasi ini tersedia di Android dan iOS.


2. Microsoft HyperLapse



Nah, kalau kamu mau coba bikin Instagram Stories dengan video timelapse, aplikasi ini bisa dicobain nih.

Dengan aplikasi ini, kamu bisa ngeshoot video timelapse secara lebih stabil dan smooth. Videonya bisa sampai sepanjang 20 menit pun.

Selain bisa merekam video, kamu juga bisa mengimpor video biasa ke sini untuk diubah jadi video timelapse. Keren kan? Kamu bisa pilih kecepatan 1x sampai 32x. Tapi pastikan kamu ngerekamnya dalam posisi tegak atau handphone kamu dalam posisi berdiri ya.


3. CutStory



Nah, kalau kamu merasa 15 detik video Instagram Stories itu terlalu cepat, kamu bisa minta bantuan ke aplikasi ini nih.

Meski ya memang sekarang Instagram Stories bisa sih ngerekam lebih dari 15 detik, yang kemudian otomatis nyambung ke Stories kedua, ketiga dan seterusnya. Iya kan? Tapi mungkin nih, kamu pengin ada bagian yang dihilangkan, atau diedit ulang.

Aplikasi ini akan memotong-motong video utuh kamu menjadi 15 detikan yang sesuai dengan mau kamu.

Nggak cuma buat motong 15 detikan, aplikasi ini juga bisa motong video 60 detikan, yang pas buat Instagram post.

Sayangnya, aplikasi ini cuma buat iOS ya. Di Android belum ada. Semoga segera ada.


4. PicPlayPost




Mau pengin bikin collage yang cakep untuk dipost di Instagram Stories? Bisa nih, dengan aplikasi ini, kamu bisa bikin collage foto atau video dengan format vertikal nih.

Mau foto yang dibikin clip, atau kumpulan clip jadi video Instagram Stories. Kamu bisa menambahkan GIF dan musik juga dengan aplikasi ini.

Aplikasi ini bisa kamu download gratis di PlayStore dan AppStore, meski untuk bisa memakai beberapa fitur lainnya, kamu mesti purchase in-app. Dan, kalau kamu mau menghilangkan watermark, kamu bisa membeli aplikasinya. Nggak mahal kok ;)


5. Easil



Nah, yang satu ini bukan aplikasi handphone sih, tapi web based. Ya, hampir seperti Canva, Easil  menyediakan berbagai template Instagram Stories yang bisa kamu pilih sesuai keinginan.

Kamu bisa menggunakan Easil secara gratis. Tapi seperti halnya Canva, kamu hanya diperbolehkan memakai template-template yang memang disediakan untuk free account. Kalau kamu pengin mengakses template-template lebih banyak, ada 2 jenis akun berbayar yang ditawarkan, yaitu Edge dan Plus.

Kalau kamu terbiasa dengan Canva, pasti kamu juga bisa mengoperasikan Easil dengan mudah.
Lumayan beda sih template-nya dibanding Canva. So, kamu bisa yakin kalau hasil ulikanmu akan berbeda dengan sejuta umat lain yang pakai Canva. Hahaha.


Nah, itu dia 5 aplikasi yang bisa kamu gunakan untuk membuat Instagram Stories yang syantik. Selamat berkreasi ya!




Suatu hari, ada pesan WhatsApp mampir ke handphone saya.

Her: "Hai, Mbak Carra! Mbak, saya lagi di Jogja lo! Ketemuan yuk!"
Me: "Wah, iyakah? Sampai kapan?"
Her: "Iya, Mbak, saya lagi ada acara di hotel X (menyebutkan salah satu nama hotel ternama di Jogja). Sampai besok sih, Mbak."
Me: "Ya udah, mau ketemuan di mana?"
Her: "Di mal Y (menyebutkan nama mal yang berdampingan dengan hotelnya) saja ya."
Me: "Oke."
Her: "Mbak, aku pengin banget deh buku Blogging-nya. Dibawain dong, Mbak!"
Me: "Siap!"

So, agak sorean itu, saya pun ketemu dengan Her. Tentu saja saya bawakan buku Blogging: Have Fun and Get the Money (kamu sudah punya belum? Coba deh, beli kalau belum punya #selaluadacelahuntukpromosi) itu. Ada yang mau beli, ya masa enggak saya bawain kan?

Singkat cerita, saya ketemuan dengan Her. Obrol sana obrol sini, basa sana basi sini. Sungguh pertemuan yang berfaedah.

Bukunya?
Tentu saja saya sodorkan.

Tapi ...
Sampai akhir ketemuan, tidak ada ganti ongkos cetak dan nulis buku yang seharusnya saya terima.
Hahahaha.
HAHAHAHAHA.

Yep, nggak ada.
Apa iya, saya mesti nagih menadahkan tangan, sembari bilang, "Eh, mana uang bukunya?"

YHA KHALI.

Saya pun pulang.
Berusaha ikhlas.

Yah, begitulah. Saya kira, orang umumnya sudah tahu, bahwa butuh banyak usaha untuk menulis sebuah buku--buku apa pun itu. Sudah sering saya baca status-status ataupun mendengarkan keluh kesah para penulis buku yang sedih karena teman-temannya--yang katanya dekat, akrab, dan mendukung profesinya sebagai penulis buku--yang meminta buku secara gratis.

Tapi saya yakin. Penulis sebesar Dee Lestari dan Tere Liye pun sekali dua kali barangkali juga masih mengalami hal seperti ini. Apalagi penulis anonoh macam saya.

Ya, akhirnya saya cuma bisa tersenyum kecut.
Seandainya, si Her tadi dengan terang-terangan minta gratis, tentu saja saya bisa ngeles. Tapi saya merasa kek dikibulin sih. *sigh* Di situ sedihnya saya.
Bahkan sebenarnya peristiwa itu sudah luama sekali. Tapi, ya sampai sekarang saya nggak bisa melupakannya. Dendam? Nggak juga. Saya sudah mengikhlaskan buku itu. Toh, kalau dari segi materi, sudah ketutup semua kok dari royalti.
Tapi, bukan di situ masalahnya.

Saya merasa tidak dihargai.

Saya pribadi nggak pernah memaksa teman-teman saya untuk membeli buku saya. Kalau ada yang butuh, ya pasti kok mau beli. Kalau enggak, ya, saya juga nyadar. Buku itu ada di tingkat prioritas keberapa sih dari orang-orang? Kalau ada sisa uang jajan, ya mungkin bisa beli buku. Tapi kalau ada yang lain yang lebih diminati atau diperlukan, ya prioritas buku akan turun lagi.

Cuma ya, nggak gitu juga mainnya.



Puji Tuhan, yang kayak Her di atas itu ya cuma segelintir. Untuk kasus buku Blogging, ya cuma satu orang ini aja sih. Tapi entah kenapa, nusuk amat ya, bok. :)))

Saya juga suka memberikan buku saya secara gratis pada orang-orang tertentu. Tapi itu pastinya beda kasus dengan yang di atas. Saya memberi karena saya memang mau memberi. Bukan dipaksa untuk memberi.

So, saya cuma mau kasih beberapa tip nih.

Jika kamu punya teman seorang penulis, dan kamu nggak bisa ikutan beli bukunya--entah karena apa pun penyebabnya--kamu tetap bisa kok men-support teman penulis kamu itu TANPA HARUS MEMBELI bukunya, tapi juga nggak minta gratis.

Begini caranya.

5 Cara untuk men-support teman penulis buku


1. Bersedia diajak diskusi


Misalnya temanmu itu masih dalam proses menulis, maka coba tanyakan kabarnya. Kabar bukunya, terutama.

Biasanya sih penulis memang butuh masukan yang nggak menggurui. Hanya sekadar pandangan dari kita yang suka baca buku.


2. Tawarkan diri untuk menjadi first reader


Tawarkan dirimu sendiri untuk menjadi first reader.
Kalau drafnya masih mentah ya cobalah untuk memberi beberapa komentar atau catatan. Akan lebih bagus lagi kalau bisa kasih saran.

Tapi kalaupun enggak, yang berupa komen pun akan sangat berharga. Misalnya, untuk novel nih, "Karakter tokoh A menurutku tuh begini begini ya, orangnya?"

Kalau kita bisa tepat mendeskripsikannya seperti bayangan penulis, maka itu berarti dia sudah oke dalam penggambarannya. Kalau meleset, berarti dia jadi punya catatan apa yang perlu diperbaiki.

Untuk nonfiksi, kita bisa bantuin untuk melihat bagian mana yang perlu penjelasan lebih lanjut.


3. Ikut promosi


Nah, meski nggak bisa beli bukunya, kamu bisa men-support si penulis buku--teman kamu itu--dengan cara ikut mempromosikan bukunya.

Gimana caranya?

Ya, bisa saja. Misal, share saja covernya--biasanya di website penerbit ada tuh dipajang covernya. Bisa kamu save as kan, terus posting deh di media sosial kamu. Kalau kebetulan kamu ikutan baca drafnya sebelum diterbitkan, kamu bisa juga cerita bagaimana kesanmu saat baca pertama dulu.

Kamu punya akun Goodreads? Nah, berikan rating deh bukunya di sana. Nggak harus beli ini kan? Hahaha. Kasih aja rating bagus. Wqwqwq.

Atau kamu kasih saja cerita tentang temanmu itu.

Kalau ada teman sirkelmu yang tertarik dan pas dengan kebutuhannya, kan bisa jadi dapat info. Kamu nggak beli, tapi kamu ikut ngejualin juga kan?

Kamu nggak rugi, dan juga nggak ngeluarin ongkos kan?
Teman penulismu pasti juga seneng kamu promosikan.

Seandainya kamu ada waktu, kamu bisa kunjungi toko buku di kotamu. Coba cek deh, apakah buku teman kamu itu sudah ada di rak buku. Kalau sudah ada, foto, lalu kirimkan pada temanmu. Atau, langsung saja posting di media sosialmu, dan tag deh penulisnya.

Biasanya seorang penulis akan seneng banget kalau ada yang nginfoin bahwa bukunya ada di toko buku tertentu.


4. Ikut hadir di event bukunya


Mungkin teman kamu itu punya acara untuk mempromosikan bukunya? Kamu juga bisa ikut meramaikan.

Kalau kamu nggak bisa bantu-bantu di persiapan, kamu bisa, misalnya, ikut nyebarin banner promo acaranya. Colek teman-teman lain yang mungkin tertarik ikut.

Dan, kamu sendiri usahakan juga datang ke acaranya, entah itu acara bedah buku atau talkshow atau book signing.



5. Semangati penulis


Kalau penulis amatir--kayak saya gini--apalagi yang nulis bukunya baru buku pertama, ya pokoknya belum setenar atau seproduktif Tere Liye, Indah Hanaco dkk, maka biasanya si penulis akan secara perlahan tenggelam dalam euforia buku pertamanya tersebut.

Selanjutnya entah deh, bisa menulis lagi apa enggak.

Karena itu, coba deh, semangati si penulis, supaya segera bikin buku lagi setelah buku yang terdahulu sudah terbit. Coba tanyakan, apakah ia punya niat untuk menulis buku apa lagi, ada ide seru apa, dan seterusnya.




See?
Banyak kok yang bisa kita lakukan untuk kasih support ke teman penulis buku, tanpa harus membeli bukunya--meskipun kalau kamu mau membeli sih akan sangat baik adanya.

Saya sendiri selalu berusaha membeli buku-buku yang ditulis oleh teman-teman saya meski banyak dari mereka nggak balik beli buku saya. Ikhlas saya mah :)) Sesuatu, gitu. Kita belajar apa pun dari hidup kan ya? Hahaha.

Dengan cara demikian, saya mencoba untuk ikut andil menghidupkan dunia buku, yang saya cintai ini.

So, btw, sudah pada beli buku Blogging: Have Fun and Get The Money belum? Tinggal dikit stoknya di gudang penerbit ini.

#teteup