Self-publishing, atau menerbitkan buku secara mandiri a.k.a menerbitkan indie biasanya ditempuh oleh mereka, either yang pengin punya karya buku idealis (yang gue banget) atau mereka yang sudah nggak sabar nunggu keputusan penerbit mayor yang suka PHP.

Ya, akhir-akhir ini memang semakin banyak orang yang  adalah menerbitkan buku secara mandiri, langsung oleh penulisnya--tanpa melalui penerbit--dari proses pengelolaan penerbitan buku hingga proses pemasarannya.

Seperti acara Stiletto's Freetalk Jumat kemarin yang saya lakukan secara live di Instagram Stiletto Book, penerbitan indie ini merupakan pilihan yang bebas bagi setiap orang, demi mewujudkan mimpi punya buku sendiri. Ya, semacam proyek idealis gitu deh.

Tak kurang dari Krishna Pabichara, Bernard Batubara, Agus Noor, dan beberapa penulis "kelas berat" lainnya pernah suatu kali menerbitkan buku lewat jalur indie, demi terpenuhinya "hasrat pribadi".

(((hasrat pribadi)))

Ya, memang itulah keunggulan buku indie. Kita bisa bikin buku seperti apa pun yang kita mau. Kalaupun ada penerbit yang memfasilitasi dan membantu kita dalam soal editing, nambahin ISBN, proofreading, bikinin cover dan layout, kayak Stiletto Indie Book--tetep iklan ya, cyint!--tapi keputusan terakhir mengenai seperti apa buku yang akan kita buat tetap ada pada penulis.

However, karena semua proses dilakukan oleh diri sendiri maka biasanya kamu akan terbentur dengan masalah-masalah yang mesti kau hadapi dan akhirnya membuat banyak kesalahan. Kesalahan-kesalahan ini kadang bikin penjualan buku kita failed. Atau, kadang bikin kita stuck di tempat. Dan, akhirnya jadi penulis (yang benar-benar) idealis tapi minim reputasi, dalam arti nggak peduli kebutuhan pembaca.

Nah, ini nih. Yang mau saya bahas sekarang.

Sebagai seorang penulis dan "produser" kurang lebih 10 buku indie *HASYAH!*, saya juga melakukan kesalahan berikut. So, kamu barangkali bisa belajar dari semua kesalahan saya itu, untuk kemudian menjadi catatan agar nggak mengulangi kesalahan yang sama.



Beberapa kesalahan yang pernah saya lakukan ketika menerbitkan buku indie

1. Pengin segera punya buku

Ini adalah kesalahan pertama yang saya lakukan saat mulai menerbitkan buku indie. Saya pengin cepet-cepet punya buku sendiri.

Padahal kemampuan masih minus.

Penerbitan indie ini sebenarnya prosesnya begitu sederhana. Ketika kamu menyelesaikan buku pertamamu dalam format Word, kamu pun bisa segera mengirimkannya ke penerbit indie untuk kemudian dicetak langsung menjadi buku.

Begitu bukumu published, dan covernya nongol di website penerbit indie, maka saat itu pula, kamu bisa membaptis dirimu sendiri sebagai seorang penulis.

Dan, kemudian yang terjadi adalah para pembaca buku--yang telah "merelakan" uang mereka untuk membeli bukumu itu--akhirnya harus mengonsumsi buku yang terburu-buru kamu terbitkan.

Sadar nggak, dengan demikian kamu sudah mengecewakan mereka? Mungkin mereka masih akan memberikan feedback yang bagus, karena mereka temanmu. Mereka sayang sama kamu. Mereka hanya berbaik hati dan berusaha mendukung ke-halu-anmu untuk menjadi penulis.

Kalau dipaksa jujur, we never know what they would say. Right?

Ingat.
Penulis indie adalah sekaligus "produser". Produk yang diciptakan dengan buruk akan selalu menarik kritik, publisitas yang buruk, dan membuat orang malas pakai. Demikian juga dengan buku.

Jadi jangan pernah terburu-buru menerbitkan sebuah karya yang dapat membuat reputasimu menjadi jelek.


2. Menganggap diri sendiri pinter banget




Dulu, pertama kalinya saya menerbitkan buku indie, penerbit indie enggak ada yang menyediakan fasilitas editing. Saya sendiri juga enggak ngerti, pentingnya seorang editor dalam proses penerbitan buku.

Saya pikir, "Eikeh kan gape nulis. Eikeh tahu kok kata yang bener dan yang enggak."

SALAH.

Ternyata saya nggak sepinter itu.

So, let's learn.

Sekali lagi, teman-teman dan orang terdekat kamu pastinya akan mengatakan bukumu adalah buku terbaik, fantastis, dan luar biasa. Itu karena mereka tidak ingin melukai perasaanmu.

Bisa saja buku kamu sebenarnya mengerikan karena penuh dengan kesalahan tata bahasa, ejaan dan tanda baca di atas ratusan kesalahan ketik konyol lainnya.

Hal yang perlu dipelajari: peran editor itu penting! Atau seenggaknya first reader. Mereka akan bisa membantu kita, untuk "mencari letak kesalahan". Yes, ada kalanya kita memang mesti "nyari-nyari kesalahan". Supaya apa? Ya, supaya bisa diperbaiki.

Jangan hanya puas dengan satu orang editor atau first reader. Bahkan kalau perlu, cari beberapa orang sekaligus yang kalau kasih kritik pedesnya minta ampun. Siap-siap baper dan pundunglah kamu ya. Karena fase itu akan selalu ada.

Dapatkan semua umpan balik yang penting, bantuan, dan bimbingan yang kamu bisa.


3. Tanpa Konsep

Karena kesalahan poin pertama, maka terjadilah kesalahan poin ketiga ini.

Berpikir untuk segera bisa punya buku, bikin saya menerbitkan buku tanpa konsep sama sekali. Asal ngumpulin (atau bikin tulisan) tanpa konsep. Atas nama kebebasan berekspresi.

Well, ada baiknya sih, ketika kamu mulai berpikir untuk membuat buku, bayangin dulu, bukunya nanti akan seperti apa. Cari deh referensi yang banyak. Main ke toko-toko buku. Zaman sekarang buku-buku itu semua berkonsep lo. Kamu bisa mengadopsi salah satu ide konsep buku, lalu modifikasi dengan caramu sendiri.

Misalnya, sudah beberapa kali saya bikin buku dengan berkonsep kumpulan kisah dengan ilustrasi surreal di masing-masingnya. Konsep ini akhirnya "gue" banget, meski saya mendapatkan ide ini dari buku lain. Nope, ini bukan ide original saya. Tapi somehow, bukunya tetap gue banget kan?


4. Tanpa rencana

Nah, bagusnya, konsep buku ini juga kemudian diikuti dengan rencana pemasaran.

Berpikir untuk jualan buku secepatnya begitu sudah selesai hanya dengan menyodor-nyodorkannya di depan hidung orang supaya dibeli, itu adalah kesalahan yang umum.

Ini juga menjadi kesalahan saya dulu. Setelah beberapa lama belajar marketing, baru deh saya tahu kesalahan saya ini menyebalkan banget :))

So, mau menerbitkan buku indie? Kamu mesti punya strategi pemasaran, cyint. Kenapa? Nah, penyebab kesalahan ini ada di poin kelima di atas. Hahahah.

Jadi, kita akan langsung ke strategi pemasaran yang sudah pernah saya lakukan aja deh. Siapa tahu, kamu bisa adopsi dan sesuaikan dengan kebutuhanmu sendiri. Misalnya begini.

Coba bikin step by step rencana penjualan bukumu. Contohnya:

  • Bukti terbit dapat 8 buku (misalnya nih), 2 buku untuk giveaway di akun Instagram pribadi. 2 buku lain untuk dikirim ke teman yang followernya banyak, untuk direview dan diendorse. 2 buku untuk giveaway di komunitas (pilih yang anggotanya banyak).
  • Seminggu 4 kali akan upload foto buku di Instagram dengan berbagai gaya dan angle.
  • Coba cari celah di mana bisa bikin acara bedah atau diskusi buku, baik itu online maupun offline. Kalau punya komunitas yang diikuti, coba deh sepik-sepik adminnya siapa tahu dibolehin bikin bedah buku atau kulwap gitu.
  • Coba cari informasi beberapa toko buku online perorangan yang mau ngebantu jualin. Misalnya nih, saya pernah menghubungi toko buku indie agar bisa nitip buku-buku saya. Ternyata cukup mudah kok syaratnya. Mereka minta bagi hasil sekian persen (tergantung kebijakan toko bukunya) dan kita harus menyediakan stok buku barang 5 biji. Dengan royalti buku indie yang rata-rata 50% lebih itu, marginnya masih masuk kok. Let's say kita enggak dapat royalti 50% lagi, tapi 30% misalkan. Kan masih lumayan?  Orang royalti mayor aja "cuma" 10% :))
Nah, jadi rencanakanlah "kelahiran" bukumu from A to Z ya. Ini bukumu loh! Buku yang kamu banget! 


5. Berpikir penerbit akan membantu penjualan bukumu

So, memang kamu yang harus terlibat from A to Z. Kenapa? Ya karena ini buku indie! Buku yang bukan berada di dalam area penerbit.

Banyak lo ini, penulis pemula yang salah paham. Dikiranya, tanpa perlu dia bekerja keras, buku akan laris sendiri.

Terus, ketika penerbit nggak transfer royalti, jadi baper. Terus ngomel, nggak cuma dengan meneror penerbit, tapi misuh-misuh di media sosial. Bilangnya, penerbit ini penipu!

YHA!



Ini buku indie, Zheyenk. Buku indie adalah buku yang berada di dalam tanggung jawabmu sendiri. Penerbit mah ... emang nggak akan ngapa-ngapain. Salah besar kalau kamu hanya mengandalkan penerbit buat memasarkan bukumu.

Kalaupun penerbit lantas mempromosikan bukumu juga, itu adalah PRIVILEGE. Nggak semua penerbit indie mau dan bisa mempromosikan buku dengan baik lo.

Untunglah saya enggak pernah melakukan kesalahan yang ini sih.
Tapi, biasanya justru kena omel sama penulis yang melakukan kesalahan ini. Hahaha.

Dikomplen, "Kok buku saya enggak pernah dipromosiin? Jadinya nggak laku kan?"

Duh, cyint. Kamu dong yang gencar promosinya. Penerbit mah punya jadwal promosi, dan semua buku indie punya jatah dipromosikan. Lu emang siapa, minta buku dipromosiin terus-terusan?

Wqwqwq.
Meh. Coba ya, dibaca MoU-nya. Biasanya sih soal promosi ini juga sudah ada di MoU.





Penerbitan buku indie memang masih sangat baru trennya ya, dan belum matang sehingga semua yang terlibat di dalamnya masih bereksperimen. Bukan hanya penulis, tetapi juga para penerbit dan toko buku indie.

Semua orang bisa membuat kesalahan. Kita semua belajar.

Jika kamu baru dalam hal penerbitan buku indie, maka mungkin dengan membaca 5 kesalahan perihal menerbitkan buku indie di atas dapat membantumu untuk mengurangi kesalahan yang sama.

Memang saya adalah markom Stiletto Book. Tapi saya juga penulis buku indie. So far, saya lihat sistem penerbitan indie di Stiletto Indie Book masih "agak" lebih baik dari yang lain. Saya sendiri terlibat di dalamnya untuk bisa meningkatkan mutu pelayanannya.

So silakan, kepoin Stiletto Indie Book, jika kamu pengin menerbitkan buku indie. Ke depannya, saya juga akan banyak bikin diskusi seputar menerbitkan buku indie melalui Instagram Live di akun Instagram Stiletto Book. 

Setiap Jumat pukul 11.00--insyaallah--akan selalu ada Stiletto's Freetalk. You're invited to get involved. Bolehlah difollow dulu, lalu tandain hari Jumatmu ya. Karena di Stiletto's Freetalk itu kita akan ngobrol tentang banyak hal--terutama soal menerbitkan buku indie.

Cya there!

Jangan Mentang-Mentang Influencer


Oke, disclaimer dulu. Artikel ini akan terlalu nyinyir. So, you've been warned ya. Kalau enggak tahan dengan "nada" nyinyir seorang haters, kamu boleh kembali menutup artikel ini, dan pindah ke artikel lain yang lebih berfaedah. Di blog ini tentunya :P

Beberapa waktu belakangan, saya sungguh begah dengan berbagai kondisi yang dishare oleh orang-orang di jagat media sosial terkait perilaku influencer. Maap, saya males nyari atau skrol timeline untuk memperlihatkan beberapa berita mengenai perilaku influencer yang minus. (Iya, saya akhir-akhir ini makin malesan, apalagi kalau soal hal-hal yang nggak ada faedahnya buat saya or kerjaan.)

Tapi yah, sebersih-bersihnya saya setting timeline Twitter, beranda Facebook, dan timeline Instagram, teteup ya, pada keliatan. Wqwqwq. Mutual saya memang luar biasa sik.

Dan, jujur, saya malu sendiri liatnya.

Ada influencer yang katanya minta gratisan 500 risoles untuk ditukar dengan so-called exposure berupa foto di feednya yang berfollower katanya ratusan ribu. Ada influencer lain di luar negeri berfollower 50K something, yang minta gratisan paket wedding ke sebuah wedding organizer senilai ribuan dolar, untuk ditukar dengan foto di feednya.

... daaan berbagai cerita yang lain.

Kalau nemu tweetnya, bakalan ada tuh reply-reply dari orang-orang yang pernah ngalamin hal yang sama: influencer minta gratisan untuk ditukar dengan foto.

So, mau tau "dosa-dosa" influencer yang lainnya?

Wuidih, Carra is playing God.

Nope, I don't. Saya bukan siapa-siapa, hanya seseorang yang mempergunakan media sosial untuk belajar, mencari informasi, mendapatkan data untuk kemudian dibuat artikel, dan untuk nyinyir.

Yes! Saya hanya bagian dari netijen mahabenar, penonton yang berhak menilai tontonan yang ditontonnya, karena yang menyajikan tontonan mempertontonkan tontonan yang sungguh tak enak untuk ditonton.

Right? Kek kalau lagi nonton tivi atau nonton film, kita boleh dong ngomenin acaranya kan? Boleh ngereview filmnya sejujur-jujurnya kita kan? Menghargai yang bikin tontonan? Of course! Kalau yang dihasilkannya memang layak untuk dihargai. Kalau enggak?

Hei, bukankah mereka bikin sesuatu itu untuk kita tonton?

Hahaha. Mbulet tur nyinyir. Biarin.

Anyway, balik ke laptop.

Yes, "dosa-dosa" berikut sering dilakukan oleh influencer, yang sebenarnya kemudian menjadikan mereka pun "setara" dengan netijen mahabenar. Saya menuliskan ini bukan untuk menghakimi mereka, sebenarnya juga. Tujuannya jelas, supaya kita bersama bisa belajar dari kesalahan orang lain.

See? Nggak selamanya nyinyir itu unfaedah. Bisa juga kan nyinyir berfaedah.

Lagi pula, mungkin kesalahan-kesalahan ini juga MASIH saya lakukan. So, I think it's also good for myself.

Disclaimer lagi: sebagian cerita di bawah ini, saya alamin/lihat/dengar sendiri ceritany dari pihak yang benar-benar mengalaminya.



3 Dosa So-Called Influencer yang Sering Kejadian Belakangan Ini



1. Menilai diri sendiri terlalu tinggi

"Eh, kirimin aku produk dong. Ntar aku posting bareng karya seniku deh. Jadi background gitu," sapa seorang so-called-influencer-yang-juga-self-proclaimed-artist berfollower 5K (sedangkan follower brand-nya 80K) ke pemilik brand yang akun Instagramnya saya kelola.

Hal pertama yang nongol di benak adalah: dengan 5K, kamu bisa apa untuk bisnis brand yang followernya sudah 80K? Tapi ya sudah, sama pihak pemilik bisnis--yang katanya masih teman--dikiriminlah itu produk. Free.

... dan ternyata, enggak pernah diposting juga sampai sekarang.

Pantes nggak kalau lantas dipertanyakan, "Are you serious? Like, seriously?"

"Kirim produk ke aku dong. Nanti aku promoin."

Oh yeah? Kalau dikirim beneran, kamu emang bisa bawa berapa orang yang mau beli produknya bener-bener? Kan katanya mau promoin? :P

Pertanyaan itu seharusnya dijawab dulu, sebelum kamu berani mengajukan diri untuk menjadi kepanjangan tangan para brand marketing. Meski memang, kan ini soal brand awareness. Tapi ini bukan berarti tidak bisa diukur. Beberapa hal yang seharusnya tercapai setelah menyewa jasa influencer yang bisa menjadi tolok ukur kesuksesan strategi marketing influencer ini adalah:
  • Follower brand nambah, engagement naik.
  • Peringkat untuk kata kunci tertentu di SERP naik
dan beberapa hal lain. Silakan ditambahkan buat para digital marketers :P

Beda pastinya, kalau si brand yang datang padamu dan menawarkan kerja sama. Tentunya, mereka sudah melakukan riset lebih dulu. Dan, mereka juga sudah bisa membayangkan, KPI seperti apa yang bisa kamu capai.

However, mungkin kemudian ada pertanyaan lain yang kemudian muncul, "Berarti, kita nggak boleh dong, mengajukan diri ke brand?"

Boleh lah dong deh ah! Apalagi kalau kamu adalah bloger/influencer yang memang kenal betul dengan value dirimu sendiri. Saya pernah nulis tip melamar brand secara sopan dan etis. Tip tersebut saya kumpulkan dari bloger-bloger luar, dan juga ada sedikit insight dari seseorang yang bekerja di digital marketing. Silakan dibuka dan dibaca-baca kalau butuh yah.


2. Ga tau diri

Oh, mungkin terdengar kasar sih. Tapi saya enggak bisa menemukan frasa lain yang lebih tepat selain itu.

"Oh, mau aku promosiin? Feenya dua juta yah, satu foto di feed," kata seseorang yang lain lagi--yang lupa akan utangnya yang sudah pernah diputihkan--pada seorang pemilik brand yang lagi-lagi akun Instagramnya saya kelolain.

Oh yes, cerita ini nyata. Real. Benar-benar terjadi.

Lucu. Barangkali dia memang amnesia ya? Entahlah.

Apa perasaanmu, kalau kamu yang ngalamin jadi orang yang dimintain gitu sama influencer? Saya sih terus terang sakit hati. Oh, cukup tahu aja sih. Dan akan langsung black listed.

Sama aja kek influencer yang pesan 500 risoles buat ditukar sama foto di feed dan story.
Yawlah! 500 risoles!
Ngelipetnya itu pegel banget, Mbaque. Eikeh bikin sosis lilit mie 12 bijik aja langsung encok!
500 risoles, dituker foto.
YHA!



3. Black marketing

Inget kasus Mandiri error kapan hari? Yang bikin para netijen panik? Ada yang kehilangan saldo 25 juta, tapi juga ada yang ketambahan saldonya sampai 9 juta?

Salah satu so-called influencer ngetweet kurang lebih begini, "Mandiri error, orang panik, baru diinformasikan kalau ada maintenance. ****** mau ada maintenance, sudah sejak kapan hari diinformasikan, blablabla..."

Siapa dia? Hahaha, jangan disebutin. Silakan dijawab di dalam hati sadjah.

Ok. Saya sih tahu, dese sedang menyoroti dan mengomplain sebuah layanan (mungkin dengan maksud) agar kualitasnya bisa diperbaiki.
TAPI, seharusnya dia bisa lebih bijak.

Apakah dia sudah mengecek, kalau maintenance bank itu sudah pasti dilakukan secara teratur? Dan, di situlah error selalu ada. Si ****** memang menginformasikan maintenance, tapi memangnya dalam maintenance itu nggak akan ada risiko error yang tidak bisa diprediksi? So...?

Mendingan, kalau memang dia mau mengritik layanan Mandiri, ya udah sih, fokus di Mandirinya aja. Gosah pake membandingkan dengan yang lain.

Bahkan nih ya, akan lebih bijak pula, kalau dia bikin followernya educated dengan menyarankan--misalnya--makanya penting bagi kita untuk tidak menyimpan duit di satu tempat saja.

Bukankah kalau kek gitu akan lebih berfaedah?

Ada yang lebih lucu lagi.

Ada influencer, komplaiiiin mulu akan satu layanan provider. Tiap kali ada buzzer lain yang lagi campaign, dia akan nyaut dengan nada nyinyir.
Turns out, one day, saya menemukan dia ngebuzz layanan provider yang sebelumnya dia komplain mulu.

HAHA!
Can you imagine, how does that look? Ridiculous!

Salahkah saya, kalau kemudian saya berpikir, "Kemarin komplain-komplain mulu, jenjangan karena iri ga dapet job." :P

Yes, people. Your social media account is your rule, of course. But if you have tons of followers, you better learn how to be wiser.

Hanya sekadar mengingatkan. *icon sembah*




So, just because you're influencer, it doesn't mean that you're always right.
Meski kita punya follower banyak dan bejibun, nggak selalu kita bener. Pun, follower dan nyinyir-ers--kek saya--juga nggak selalu bener.

Ugh. Saya sendiri juga masih sering sih melakukan dosa-dosa di atas. Hanya saja, follower saya enggak banyak, jadi ya belum terlalu kelihatan. Wqwqwq. Tapi saya juga yakin sih, saya juga dinyinyirin di luar sana. Wakakak. Biarinlah, kalau memang kamu punya nyinyiran buat saya, dan seharusnya saya tahu, please ... do not hesitate to write it on comment ya :P

Ada bagusnya juga untuk saling wawas diri aja. Ngeliat kesalahan orang lain, itu kadang ada perlunya juga. Asal kita nggak ngejudge, dan jadikan sebagai pelajaran buat diri sendiri. Jangan sampai melakukan kesalahan yang sama.



Disclaimer: Artikel ini aslinya saya tulis untuk indoblognet.com, yang kemudian saya tayangkan ulang di sini dengan suntingan seperlunya.

Subheading dalam artikel blog ini kadang terlupakan. Bahkan mungkin banyak yang belum tau apa subheading, dan apa pentingnya pake subheading.

Apa sih subheading?

Subheading, atau penajukan (sebutannya di WordPress berbahasa Indonesia) adalah semacam judul kecil yang membagi artikel kita menjadi beberapa bagian. Meski disebut sebagai “judul kecil”, tapi subheadings punya peran besar untuk membuat para pembaca blog tetap menaruh perhatian pada artikel kita.

Font subheading ini biasanya memang lebih menonjol ketimbang font artikel umumnya, karena memang tujuannya untuk menjadi pembatas, penarik perhatian, dan penanda bagian penting.




Lalu, apa pentingnya subheading?


Tau enggak, bahwa hanya 10% dari pembaca online yang mau benar-benar membaca artikel blog kita. Nah, dengan subheading atau subjudul atau penajukan inilah, para pembaca bisa scanning dan skimming dengan baik dan gampang.

Lah, mereka suka baca cepat kok malah dibantuin supaya gampang skimming?

Coba lihat, gambar berikut.

pentingnya subheading

Enakeun mana untuk dibaca?

Ya, jadi gini, Marimar.
Saat mereka bisa scanning dan skimming dengan mudah dan baik, dan kemudian mereka menemukan bahwa konten artikel kita sungguh berfaedah dan banyak manfaatnya bagi mereka, maka saat itulah mereka akan mengulang lagi membaca artikel kita dengan lebih saksama.

So, ini sama halnya kek kita bikin kesempatan kedua agar tulisan kita kebaca, sampai selesai.

So, sampai di sini, setuju kan kalau subheading ini penting? Makanya kita harus tahu beberapa trik agar membuat subheadings ini tetap menarik. Kalau enggak ya, bhay juga nih mereka para fast reader ini.

So, bisa disimpulkan, bahwa subheading berfungsi untuk:
  • Menonjolkan bagian per bagian dalam artikel, sehingga tetap menarik untuk dibaca.
  • Membuat para fast reader yang selalu terburu-buru membaca itu bisa skimming dengan lebih baik, dengan harapan mereka akan tertarik membaca dengan lebih saksama.
  • Meringkas atau menyimpulkan dari beberapa bagian yang dipisahkannya.
  • Membuat pembaca lebih mudah memahami topik yang sedang kita bahas.
  • Membuat pembaca lebih penasaran, dan akhirnya mau scroll ke subheading berikutnya.
  • Memudahkan kita untuk merumuskan pikiran, dan tulisan pun menjadi lebih runtut dan fokus. Saat kita sudah punya poin-poin subjudul dalam kerangka tulisan, maka selanjutnya akan jauh lebih mudah bagi kita untuk mengembangkan kerangka menjadi tulisan utuh.
Nah, yang terakhir itu saya banget. Kalau saya bikin artikel tanpa subheading dulu itu bagai kehilangan arah tujuan. Tapi, kalau sudah ada poin-poin dulu--yang berupa subheading--nulis artikel bisa lebih cepet.


Di mana kita setting subheading?

Kalau di Wordpress dengan classic editor, ada di sebelah sini.

subheading di wordpress classic editor

Untuk Wordpress dengan Gutenberg, ada di sebelah sini.
Atau, bisa juga klik di bagian block, nanti akan ada tanda plus (+) nongol, untuk menyisipkan block baru. Klik, ntar ada pilihan tipe block. Pilih yang heading.

subheading di gutenberg



Kalau di Blogspot, setting subheading juga ada di sebelah kiri atas kotak editor, hanya saja berbeda istilah.

subheading di blogspot

Kalau di WordPress sudah langsung kelihatan heading 1, 2, 3, dan seterusnya. Nah, kalau di Blogspot, Heading = H2, Subheading = H3, Minor heading = H4.

Untuk WordPress, biasakan judul artikel sudah mendapatkan tag H1. Jadi untuk subheading pertama, kita bisa pakai mulai H2. Untuk Blogspot, subheading pertama, kita pakai yang Heading, berikutnya baru Subheading.

Bingung nggak? Hehehe. Semoga enggak ya.
Sambil dibuka blognya kalau bingung yah, sambil sebut nama saya 3 kali.
*lah*

Terus, gimana ya bikin subheading yang menarik, yang bisa bikin para skimmer dan fast reader jadi tertarik untuk baca ulang artikelnya dari awal?

Well, kuncinya--jujur aja nih--tetep dari konten kamu. Kalau konten kamu enggak worth to read atau topiknya enggak mereka butuhin, ya mau bikin subheading kek gimana ya, enggak bakalan dibaca ulang sik. *Mamak sang pengempas harapan*
Yagemana dong? Emang itu dulu yang mesti dipahami sik.
Kalau enggak, entar kalau misal udah coba praktikin tip-tip di bawah ini dan ternyata enggak manjur, terus bilang, "Meh, Carra mah omong doang!"

Kan ga gitu maennya. Yekan? YEKAN?!


Membuat Subheading yang Menarik

1. Inti persoalan

Para skimmer alias fast reader biasanya males baca apalah apalah pengantar artikel, mereka maunya langsung ke pokok persoalan.

So, tempatkanlah poin-poin pokok pikiran di subheading.

Jadinya tuh, saat para skimmer lagi skimming dan scanning subheading, mereka tuh kek udah disodorin inti dari artikel kita langsung, gitu loh.

Salah satu yang terpenting dalam subheadings adalah perletakan keywords utama. Pastikan setidaknya ada satu keywords utama yang menempati posisi subheadings, boleh di H2, H3, dan seterusnya. Ya, paling bagus sih di H2 sih–subjudul yang paling gede. Ini salah satu langkah SEO yang penting loh, bisa banget memengaruhi posisi artikel kita di Google.

Jadi, be smart merangkai kata-katanya ya.


2. Short and simple

Namanya juga sub-JUDUL. Judul. Jadi, bikinlah yang pendek dan simpel. Langsung ke masalah. Nggak usah endebre-endebre ke mana-mana.

Elah. Tapi, kan itu ada juga yang suka bikin judul panjang?
Ya iya, tapi kan juga enggak satu paragraf dibikin subheading semua. 
It's over optimized, dan Google tuh gak suka.

So, ingat, bahwa subheading ini berlaku layaknya judul. Jadi ya perlakukan seperti judul.

Berapa kata idealnya?

Enggak ada angka pasti. Hehehe. Silakan disesuaikan dengan kebutuhan, tapi jangan berlebihan.


3. Kreatif

Yep, kreativitas kita dalam mengulik kata jadi kuncinya.

Anggaplah sebagai judul--seperti yang sudah dijelaskan di atas--yang akan menentukan pembaca mau ngeklik dan kemudian baca artikel kita, jadi subheadings harus juga memberikan rasa penasaran.

Untuk apa? Supaya pembaca artikel kita semakin penasaran ingin tahu apa saja yang kita bahas, sehingga mereka nggak kerasa udah scroll dan baca sampai artikel selesai.

Jadi semua syarat-syarat judul yang baik itu berlaku; either mengandung kata-kata yang powerful, emosional, mengungkapkan keunggulan atau positiveness, dan lain-lain.



Nah, demikianlah sedikit perkenalan mengenai subheading. 

Jadi, sudah benar-benar setuju kan, kalau subheading itu penting? 
Nggak cuma akan memudahkan kita dalam merumuskan kerangka pikiran yang kemudian dikembangkan menjadi artikel utuh, tetapi juga dapat memberikan user experience yang baik bagi pembaca. Utamanya mereka yang males baca, penginnya cepet, dan langsung dapat solusi.

Ada tambahan?
Boleh tulis di kolom komen ya.


Banyak orang yang ngeliat, bahwa menjadi bloger itu salah satu jalan untuk bisa menghasilkan uang yang banyak tanpa harus bekerja keras seperti pegawai kantoran. 

Apalagi nih ya, sering terlihat beberapa bloger memang terlihat pamer, mengenai achievement apa saja yang sudah mereka dapatkan dengan jalan ngeblog.

YES! Saya menyalahkan klean-klean--para bloger komersial dan profesional--yang-dengan-atas-nama-bersyukur memamerkan handphone, acara jalan-jalan, acara makan gratis, gudibek, dan segala macam hal yang klean dapatkan dari ngeblog.

HAHAHA.
Dih. Jangan baper.

Saya menyalahkan juga cuma menyalahkan doang. Just keep going. Bikin orang lain kepanasan itu memang menyenangkan! :))

Namun, tahukah kamu? Bahwa di balik itu semua, ada beberapa realita menjadi bloger yang harus kamu tahu, terutama kalau kamu juga pengin jadi bloger karena kepanasan kek yang saya sebutkan di atas itu. 

Pengin juga euy, dapat hengpon gratis!
Mau juga dong, dapat duit buat jajan!
Wah, mupeng juga atuh, dapat produk-produk gratis buat direview!

Yha!

Sok eta. Jadilah bloger.

Hanya saja, kamu harus tahu. Menjadi bloger yang baik dan terkenal bukanlah hal yang mudah dilakukan. Apalagi kalau kamu mau mengandalkan jalan ngeblog sebagai sumber penghasilan.

No no no. Tidak pernah ada jalan yang mudah dan mulus, Pulgoso. Semua harus dibayar dengan keringat, air mata, dan darah.

Wuidih. Serem amat, Mak!
Tapi, itulah kenyataannya.


Yakalo dari awal niat cuma jadi bloger medioker sih ya ... yaudahlah ya. Berhenti saja. Ngapain? Bikin sesak blogosphere aja. Mendingan cari usaha lain aja yes?

Nah, tapi ... balik lagi. Nggak pernah ada jalan  mudah. Para bloger terkenal itu pasti juga pernah mengalami kesulitan. Setiap dari mereka--saya yaqin--pasti pernah menapak di stage menjadi bloger medioker. Tapi mereka punya sesuatu.

Mereka bisa membuat konten yang bagus.

Itu yang membedakan mereka. Tapi, mereka juga tidak begitu saja bisa membuat konten yang baik. Konten-konten blog yang ada dibuat lewat berbagai perjuangan panjang. 


Belum lagi, ada beberapa realita menjadi bloger yang harus dihadapi setiap hari. Realita seperti apa? Seperti ini.

1. Sulit membuat konten yang kreatif setiap hari


Berbagai bloger terkenal telah berhasil membuat ratusan, bahkan mungkin ribuan postingan yang menarik. Bagi orang lain, konten yang dibuat oleh mereka ini, apa saja bisa menjadi selalu menarik. 

Kadang saya sendiri juga heran. Yawlah. Kek gitu aja bisa jadi konten. Tapi kok ya bagus ya?

Hahaha. Ampun!

Nah, kalau kamu mau jadi bloger yang standout, kamu memang akan dituntut untuk membuat konten yang irresistible setiap waktu. 

Tapi, realitanya.
Itu nggak semudah seperti kalau Makcar lagi ngasih tip bikinlah konten yang berkualitas, Mak!

Adalah sulit untuk membuat konten yang kreatif, yang unik, yang berbeda dari bloger lain, apalagi kalau harus dituntut setiap hari

Menemukan ide yang bagus dan kreatif bukanlah hal yang mudah. Ide yang unik tidak selalu datang setiap hari.

Sampai di sini, berapa orang nih yang ngacung?

Untuk blogger profesional pun, bahkan ada suatu hari ketika mereka bingung dan tidak tahu harus membuat konten seperti apa. 

So, kamu mau jadi bloger? Percayalah, kamu akan mengalaminya juga. Hanya saja, please, jangan jadikan kebiasaan. 

Ide memang kadang mentok. Saya pun gitu.
Tapi dengan sedikit latihan brainstorming, ide bisa dipanggil datang.

Ini memang realita yang harus dihadapi oleh bloger kebanyakan, tapi jangan jadikan kebiasaan.

Paksa diri kamu juga setiap waktu untuk mulai menulis. Kalau kamu sudah mulai menulis, kamu akan tahu bahwa langkah selanjutnya akan lebih mudah. Kamu bisa mulai menulis dari mana saja kok, asalkan bisa memantik idemu untuk keluar secara liar. Kamu akan punya banyak waktu nanti untuk memolesnya, hingga menjadi tulisan yang bagus.

So, buat jadwal agar kamu bisa menulis dengan rutin. 


2. The first draft of anything is sh*t


Itu kata Ernest Hemingway.
Seorang empu penulis cerpen. Kamu sudah pernah baca cerpennya?

Itu juga berlaku di dunia blog.
Kalau kamu membaca hasil tulisan para selebloger, mungkin kamu merasakan bahwa tulisan yang mereka buat selalu bagus dan mengalir dengan indah. Mereka seperti bisa menulis dengan lancar tanpa perlu berusaha lebih.

Namun, tahukah kamu, bahwa kemungkinan besar tulisan yang mengalir indah tersebut merupakan hasil dari berbagai coretan, draf, dan revisi berkali-kali?

Draf tulisan yang pertama dibuat memang selalu jelek. Bloger profesional sudah terbiasa untuk mengedit dan merevisi kembali tulisan yang mereka buat.

Kamu--yang mau mulai menjadi bloger--nggak perlu takut untuk kalah dalam menulis dibandingkan dengan orang lain. Kamu tidak perlu banyak membandingkan hasil tulisanmu dengan milik orang lain. Untuk belajar lebih baik, kamu memang harus membaca banyak tulisan orang yang lebih bagus, ini wajib. Tapi itu berbeda dengan "membandingkan tulisan" kamu dengan yang lain ya.

Belajar dari tulisan orang berarti kamu akan mengambil hal-hal bagus yang dilakukan orang untuk kamu pelajari, modifikasi, dan lakukan untuk tulisanmu. Membandingkan berarti kamu hanya akan menghakimi tulisanmu dan tulisan orang lain, tanpa mengambil pelajaran.

Kalau kamu merasa tulisan kamu masih jelek, maka take your time for self editing. Kamu selalu punya waktu dan kesempatan banyak untuk merevisi artikelmu berkali-kali. 

So, luangkan waktu setiap kali untuk mengedit kembali tulisanmu. Dengan cara ini, kamu juga bisa membuat tulisan yang mengalir dengan indah. 

3. Bloger itu susah puas





Saya pernah nih lagi mentoring satu kelas blog, dan memberikan tugas pada peserta untuk membuat artikel sesuai tahapan-tahapan yang pernah dipelajari.
Dan, ternyata, soal kepuasan bloger terhadap artikelnya ini sungguh menarik :))
Ada lo, yang ngaku, ngedit sampai 6 kali, dan sesaat setelah disetorkan masih pengin edit lagi. Hahaha.

Pada dasarnya ini bagus. Sebagian besar bloger yang sukses cenderung selalu merasa bahwa mereka tidak pernah sepenuhnya puas dengan konten yang telah dibuat dan dipublikasikan. Mereka akan merasa bahwa selalu ada hal yang bisa diperbaiki dari konten mereka. 

Hal ini memang baik, apalagi jika kamu baru pertama menulis. Namun, jika tidak dikendalikan, perasaan ini akan menghalangi kamu untuk benar-benar membuat artikel. 
Manfaatkan perasaan ini untuk membuatmu selalu ingin berkembang, namun jangan jadikan alasan bagi kamu untuk tidak membuat konten. 

Perfectionism is self-abuse of the highest order.
- Anne Wilson Schaef.

Ada baiknya quote itu kamu renungkan.


4. Everybody is a procrastinator



Termasuk bloger, bahkan bloger yang sudah senior dan populer sekalipun!

Kalau enggak, mana ada kasus telat setor tulisan liputan event (sampe ditagih-tagih mulu sama ahensi)? Mana ada kasus telat posting, dan diingetin mulu sama PIC komunitas?

Everybody is a procrastinator! Especially bloggers.

So, kamu mau jadi bloger profesional? Jangan jadikan ini sebagai kebiasaan.

Kamu pasti pernah merasa tidak ingin melakukan suatu pekerjaan. Kamu hanya merasa ingin menundanya sehingga kamu bisa melakukannya di lain waktu. Kalau mood. 

Hal ini memang wajar, dan setiap orang pasti pernah merasakannya, termasuk para bloger. Menunda pekerjaan memang bisa menjadi hal yang menyenangkan untuk sesaat.

Tapi tahukah kamu? Menunda pekerjaan bisa jadi terkait dengan rasa takut. Kamu merasa takut membuat postingan yang jelek, sehingga kamu menundanya. But, stop. Kamu nggak bisa seterusnya begini. Kalau kamu pengin profesional sebagai bloger, kamu harus pegang komitmen kamu.

Untuk membantumu termotivasi segera menyelesaikan apa yang tertunda, maka tetapkan deadline. Kalau perlu, hukum diri sendiri jika tak bisa memegang komitmen. Yes, you deserve a punishment, karena sudah mengecewakan orang lain.

Dan sebaliknya, berikan diri sendiri rewards jika sudah menyelesaikan tugas dengan baik.



Menjadi blogger memang tidak mudah dan banyak tantangannya. Namun, kalau kamu konsisten dan berusaha dengan keras, kamu akan bisa mencapai apa yang kamu inginkan. 

Sudah siap menghadapi realita-realita di atas sebagai bloger?
Welcome on board!





Hae! Akhirnya blog ini update lagi yah? Hehe. Maaf, Juni itu sesuatu banget. Apalagi pake liburan yah, jadwal kacau bet. And believe or not, butuh waktu 2 minggu untuk menatanya lagi. Utamanya sih karena ada pengurangan job, tapi juga ada penambahan juga sih.

So, pa kabar liburannya, gaes? Sudah beberapa minggu berlalu dan belum bisa moveon? Wqwqwq. Makanya banyakin liburannya, biar nggak susah moveon. #hlah

Para bloger--terutama yang non travel bloger--apa kabar traffic kemarin pas liburan? Pada ditinggal kan ya? Kebanyakan sih gitu. Saatnya liburan, ya ngeblognya juga libur dulu. BW list juga libur yah?

Terus, sudah dilihat lagi belum statistiknya nih sekarang? Berkurang berapa? Stabil? Alhamdulillah ya. Stabil di angka < 30.000 per bulan kan? Ehe ehe.

Namanya traffic, biasalah berfluktuasi yah. Naik turun sampai batasan sekian ribu mah biasa. Blog ini juga begitu. Sekian persen naik turun, biasa aja.

Tapi tempo hari, blog saya yang di sebelah, Bicara Perempuan, sempat turun anjlok drastis. Dari 500-an pageview, tiba-tiba jadi 45 aja dalam sehari. Beugh. Berarti kan itu turun sampai 90% lebih kan ya?

Kalau sudah anomali seperti itu, kita patut waspada sih. Seenggaknya, pasti ada yang salah deh. Dengan segera, saya minta bantuan pada pakarnya buat nyari apa masalahnya. Syukurlah, suhu saya itu lagi selow seharian, jadilah dia bisa bantuin.

Turns out ternyata ... SSL certificate-nya bermasalah, sehingga blog saya itu di-mark sebagai situs tak aman oleh browser. Kalau masuk, langsung ada warning gitu. Untunglah, bisa segera diperbaiki.

Makasih ya, suhu!

Pernah nggak sih kamu mengalami hal yang sama dengan saya? Traffic blog menurun. Tapi bukan yang fluktuatif ya. Ya yang menurunnya drastis kek blog saya itu, signifikan gitu deh. Besar dan penyebabnya sih bisa berbeda-beda.

Kalau pernah, mungkin saja penyebabnya adalah salah satu atau beberapa hal sekaligus berikut ini. Coba kita lihat yuk.


Beberapa Penyebab Traffic Blog Menurun Drastis



1. Perubahan pola browsing dengan ponsel

Zaman sekarang, kita lagi berada dalam masa perubahan penting pola perambanan netijen. Kalau sebelumnya, orang-orang sangat biasa untuk mengakses interner melalui PC (di warnet), sekarang beralih ke perangkat perangkat seluler (dengan mengandalkan Wifi gratisan di ruang publik) yang kian canggih dan memudahkan orang untuk mengakses informasi.

Mau nggak mau, sadar nggak sadar, kepraktisan ponsel pun turut memengaruhi waktu kita untuk browsing.

Perubahan kecenderungan ini akhirnya memengaruhi situs-situs dan blog-blog yang belum mobile friendly.

Blog ini aja deh, pengunjung yang mengakses melalui perangkat mobile saja sebanyak 84%-nya. Jadi, seandainya blog ini enggak mobile friendly, berapa banyak blog ini akan kehilangan viewersnya? Seandainya PV adalah 25.000 per bulan, so blog ini akan kehilangan setidaknya 21.000 PV.  Ouch!

So, ini jadi catatan penting ya.
Buat yang blognya belum mobile friendly (bagus lagi kalau mobile first), silakan diulik ulang. Ada kemarin kasus juga, katanya kok pageview anjlok tiba-tiba kenapa? Tanya jawab sana-sini, katanya belio barusan ganti template. Hmmm, langsung dicek deh, apakah template barunya responsive. Ternyata, enggak. Nah, mungkin karena itu deh. Terus dicek lagi di Google Analytics. Ternyata bener, pengunjung mobile-nya yang anjlok.

So, kalau ada yang pernah dibilangin, "Ganti template bisa bikin PV turun." ... atau mungkin dibilangin, ganti template bisa memengaruhi SEO ... nah, mungkin karena ini ya. Bukan karena yang apalah-apalah. Simpel emang kadang penjelasannya sih.


2. Perubahan preferensi atau perilaku

Sebenarnya ini juga bukan perubahan preferensi atau perilaku juga sih, saya cuma bingung aja nyebutnya gimana. Mungkin malah disebut dengan perubahan generasi, itu lebih tepat.

Netizen zaman sekarang sudah dipenuhi oleh anak-anak millenial, gen X, hingga gen A (yang bakalan semakin banyak menyerbu di tahun-tahun mendatang). Dan, kecenderungannya, makin sedikit yang suka membaca.

Kecenderungan preferensinya teramati bergerak ke "membaca kalau butuh saja", itu pun skimming. Artinya mereka membaca cepat, langsung menuju ke pokok masalah atau solusi. Bahkan, kalau perlu tanpa membaca, mereka langsung bisa menemukan solusi.

Nah, masalah ini terjawab oleh konten yang juga makin bervariasi sekarang, mulai dari video hingga podcast.

Yes, dahulu rangorang lebih suka mengunjungi website atau blog untuk melihat-lihat suatu produk, membaca-baca artikel untuk menambah pengetahuan dan wawasan, pun membaca-baca cerita ngalor ngidul si bloger. Namun saat ini, rangorang lebih suka melihat review orang lain di Youtube atau platform podcast yang lain.

Jadi, nggak heran, pengunjung blog yang hanya menyediakan tulisan saja--tanpa variasi konten yang lain--jadi berkurang.

Lalu, apakah ini berarti kamu-kamu yang lebih cenderung textrovert--yang jijik liat muka sendiri, sebel denger suara sendiri--jadi nggak punya kesempatan untuk sukses?

Nggak juga sih. Hanya saja, kamu perlu strategi jitu untuk bisa standout dibanding yang lain. Salah satu triknya adalah pilih audience dan niche yang pas. Misalnya gini, kalau niche kamu adalah beauty, traveling, craft--misalnya--maka kamu harus banyak main di video, karena kecenderungan audiencenya punya preferensi visual lebih gede.

Tapi untuk niche--misalnya--keuangan, akan ada "harapan" bahwa audience masih ada yang suka baca text (meski tetep juga harus diolah bersama dengan visual secara seimbang). Karena audience topik keuangan ini tingkat intelektualnya lebih tinggi.

Bukan berarti lantas yang di keuangan bisa berpikir, "Oh, kalau gitu, aman deh. Gosah bikin video." Enggak juga. Kalau kamu mau jangkau lebih luas, maka ya kamu harus menyesuaikan, meski konten text tetap diperlukan.

Strategi lain yang bisa diterapkan adalah membuat konten yang irresistible.



No need more explanation-lah ya, yang ini mah. Sampe bosen bahasnya.


3. Penurunan user experience

Misalnya saja nih. Ini satu contoh saja.

Semakin banyaknya layar 404 Page Not Found ditemukan di blog kita, akan memengaruhi nilai user experience di situs yang kita kelola ini. Akibatnya, semakin banyak error page, semakin berkurang pula pengunjung kita.

Begitu pun kalau loading blog kita melambat. Ilustrasinya mungkin begini. Tadinya sih oke aja, terus diulik, misalnya ditambah slider dengan ukuran file gambar yang gede-gede. Taunya PV ada sinyal menurun nih, drastis. Wah, bisa jadi tuh karena loading blog melambat karena file-file yang gede itu tadi.

Nah, terkait user experience ini bisa jadi banyak penyebab sih. Jadi, memang harus diteliti satu per satu.


4. Keamanannya bermasalah

Nah, ini kek cerita saya di awal tadi. Tahu-tahu, SSL certificate-nya bermasalah.

Seriusan, tadinya saya menganggap remeh hal ini. Heleh, blog isi gado-gado begini, kan nggak butuh data pengunjung yang kek gimana-gimana, beda sama misalnya situs jual beli yang pengunjungnya diminta nama, email, alamat, hape dan sebagainya. Kan ini tinggal dateng terus baca aja. Securitynya nggak prioritaslah.

Elah. Ternyata ngaruh!

Dari 400-an terjun langsung ke 40-an. Bok! Nangis, bok!

Karena itu, coba yang blognya belum https ada baiknya kali dipertimbangkan untuk di-https-kan.


5. Google Mengubah Algoritma

Nah, ini nih. Yang terjadi baru-baru ini.

Berubahnya algoritma Google belakangan, yang telah memasukkan E.A.T--Expertise, Authority, dan Trustworthy--ke dalam rank factor sedikit banyak memengaruhi peringkat situs-situs dalam database-nya, yang akhirnya memengaruhi pula jumlah pengunjung yang masuk ke dalam situs atau blog.

Situs atau blog yang kurang fokus pada E.A.T ya akhirnya harus gigit jari, trafficnya menurun drastis.

SEO memang merupakan usaha demi bisa "ngakalin" algoritma Google. Prinsipnya sih gitu. Selama Google terus berubah, maka SEO pun akan juga terus berubah. Sedangkan, tujuan Google adalah meningkatkan kenyamanan bagi para penggunanya, sehingga pastinya akan selalu berubah mengikuti perkembangan yang ada. So, kalau mau terus exist dengan bantuan Google, ya harus siap untuk update terus.

Yang penting, lakukan saja yang terbaik and blog naturally. Enggak akan banyak perubahan yang harus dilakukan kok, kalau kita ngeblog sewajarnya. Nggak usah pakai ngakalin dengan cara curang, untuk hasil instan.



Yep, ada banyak alasan mengapa lalu lintas situs ataupun blog kita berubah. Mungkin saja belum tercakup di atas. Kamu bisa menambahkan yang kurang di kolom komen yah.

Cara ngatasin hal ini sebenarnya simpel saja. Yang penting memang adalah bisa mengidentifikasi akar masalah. Apabila kamu--sebagai bloger--bisa mengidentifikasi permasalahan apa yang muncul terkait menurunnya traffic, maka kamu pasti bisa segera mengatasinya.

Tanpa ini, ya bakalan susah dah.

Semoga bermanfaat. Cheers!