Creative Common. Ada yang belum pernah dengar?

Saya sempat melemparkan pertanyaan dan polling ini di Facebook dan Twitter. Berikut hasilnya.





Jawaban yang tak terlalu jauh berbeda ada di Twitter, hanya saja ini yang merasa tahu nggak mau bilang apa itu Creative Common :))

Bagaimana dengan kamu, yang lagi baca artikel ini? Tahu nggak sih apa itu Creative Common?

Apa itu Creative Common?

Jangan bingung dengan creative license ya.
Creative Common dan Creative License adalah dua hal yang berbeda, meski berhubungan erat.

Creative Common adalah sebuah organisasi atau lembaga nonprofit yang memungkinkan para kreator memberi label ataupun keterangan pada karya mereka masing-masing, apakah boleh digunakan kembali atau dimodifikasi kembali oleh orang lain.

Creative Common ini dibentuk sebagai bentuk alternatif dari hukum hak cipta yang lebih ketat dan rumit. Kalau yang namanya hukum itu kan sangat restricted dilengkapi dengan berbagai ancaman, tanpa ada informasi yang seperti apa yang disebut melanggar hak cipta itu. Atau, seperti apa yang namanya melanggar hak cipta itu.

Nah, lebih detail mengenai organisasi Creative Common ini bisa dilihat langsung di webnya ya.

Nah, Creative Common meng-cover lack yang ada ini, dengan menerbitkan beberapa macem label Creative License, dengan kriteria masing-masing.

Jadi, bisa diibaratkan, kalau Creative Common ini adalah MUI, sedangkan sertifikat halalnya adalah Creative License.


Beberapa jenis Creative License


Nah, beberapa jenis Creative License ini bisa dilihat di sebelah sini sebenarnya. Tapi saya mau coba sarikan dalam bahasa Indonesia. Biar saya selalu ingat, dan siapa tahu ada juga yang butuh yes?

Jika kita pengin menggunakan Creative License untuk segala karya digital yang sudah kamu hasilkan, maka pastikan dulu kita mengerti betul jenis-jenis license yang ada, kriteria dan restriction apa saja yang menyertainya. Soalnya macam-macam banget memang, dan masing-masing tuh ada kegunaannya sendiri-sendiri.

Ya sudahlah, ayo kita lihat ya. Mohon koreksinya kalau ada yang salah, Kakak!

1. Attribution

Jenis license pertama ini adalah license yang paling longgar sepertinya. Dengan lisensi ini, kita memperbolehkan orang lain untuk mendistribusikan ulang, memodifikasi, dan membuat karya baru berdasarkan karya kita tersebut, dengan menyebutkan kita sebagai sumbernya. Bahkan untuk kepentingan komersial.


2. ShareAlike

Ini hampir sama dengan Attribution di atas. Bedanya kita mengizinkan orang lain untuk juga mendaftarkan karya barunya (yang dibuat berdasarkan karya kita) dengan license yang sama. Harus sama-sama ShareAlike, gitu maksudnya.

Seluruh karya turunan dari karya berlisensi ShareAlike ini bisa digunakan untuk kepentingan komersial.

Jenis lisensi kedua ini dipakai oleh Wikipedia, dan juga seluruh karya turunan yang diambil dari karya asli dari Wikipedia.


3. NoDerivs

Lisensi ini merupakan singkatan dari "No Derivative Works", artinya kita memperbolehkan karya kita disebarluaskan untuk kepentingan komersial dan nonkomersial, selama karya tersebut nggak diubah sama sekali. Plus pemberian kredit pada kita, sebagai penciptanya.


4. NonCommercial

Lisensi NonCommercial kita gunakan kalau kita ingin mengizinkan orang lain untuk mempergunakan dan memodifikasi karya kita untuk kepentingan nonkomersial.

Nah, perlu diperhatikan nih. Kepentingan nonkomersial ini batasannya sampai apa? Situs Hubspot menjelaskan, bahwa kita harus berhati-hati dengan lisensi ini.

Meski kita adalah seorang personal blogger, tapi kalau kita menggunakan karya berlisensi NonCommercial dalam proyek konten kita yang kemudian mendatangkan keuntungan berupa uang bagi kita, maka hal itu disebut sebagai komersial.

Jadi, sebaiknya sih, untuk blog yang dimonetasi jangan gunakan karya-karya digital berlisensi NonCommercial ini.


5. NonCommercial-ShareAlike

Nah, ini gabungan antara lisensi NonCommercial dan ShareAlike. Jadi kita memperbolehkan orang lain untuk menggunakan karya kita, selama untuk tujuan komersial, dan mematenkan karya baru (yang dibuat berdasarkan karya kita) tersebut dengan lisensi yang sama.


6. NonCommercial-NoDerivs

Sama nih, gabungan antara NonCommercial dan NoDerivs. Kita memperbolehkan orang untuk menyebarluaskan karya kita, selama untuk kepentingan nonkomersial. Tapi karya kita nggak boleh dimodifikasi.

Saat orang lain pengin mempergunakan karya kita--taruhlah di blog mereka gitu--maka mereka harus memberikan kredit pada kita, sebagai pemegang hak cipta, dan juga di mana ia menemukan karya kita tersebut.


7. CC0

CC0 merupakan lisensi yang memungkinkan bagi para pemegang hak cipta untuk melepaskan hak terhadap karya mereka dan memberikan karyanya sebagai public domain.

Bisa dibilang, lisensi ini berfungsi untuk memberikan nilai bebas dari hak cipta pada suatu karya, yang berarti orang-orang boleh mempergunakannya semau mereka--mau dimodifikasi, dibuat ulang, diubah bentuknya, diolah apa pun elemennya--dengan bebas.

Nah, tentang public domain sendiri, bisa dilihat dan dipelajari secara detail di Wikipedia.


So, itu dia artinya Creative Common ya, yaitu satu organisasi yang bisa melindungi karya digitalmu. Jadi, kalau mau pakai karya digital orang, jangan sembarangan comot lagi ya. Lihat dulu lisensi yang mungkin menyertainya.

Nah, kalau kamu mau melabeli karya-karya digitalmu dengan lisensi dari Creative Common, kamu bisa lihat detailnya di web CC ya.

Kalau diminta untuk menyebutkan sumber, pastinya jangan ditulis "Sumber: Google", karena bukan Google yang bikin karya digital tersebut. Juga Pinterest. Bukan Pinterest yang bikin karya digital tersebut. Ada orang lain yang bikin, dan orang inilah pemegang hak ciptanya. Google dan Pinterest hanya memberikan data yang kita minta.

Saya sendiri kadang ya masih kepleset dalam penggunaan karya digital orang lain. Maafkan, percayalah, saya sangat concern mengenai hal ini. Jadi, jika memang saya menemukan fakta bahwa saya melanggar hak cipta orang, maka saya akan berusaha memperbaiki kesalahan saya.

Yuk, jadi kreator karya digital yang pintar!


Saya suka geregetan kalau sudah soal pemanfaatan media sosial sebagai salah satu alat PR, alias public relation, dan juga marketing yang kurang dimaksimalkan.

Ya, mungkin karena tiap hari saya ngulik kek ginian sih ya. Hahaha. Bawaan penasaran mulu sama media sosial tuh--apa pun! Soalnya saya lihat crowd-nya memang potensial banget buat "disisipin iklan", hanya saja memang tricky lantaran kita mesti smooth masuknya. Biar ga genggeus. Rangorang nggak kerasa kalau disodorin iklan, gitu.

Hahaha. Rumit emang, pikiran orang marketing nih.

Sering lihat juga, beberapa teman mencoba bisnis, tapi masih belum bisa memanfaatkan media sosial ini dengan baik sebagai ujung tombak bisnisnya.

Apa indikasinya? Misalnya, Instagram. Feed Instagramnya cuma berisi foto jualan doang, yang enggak ada indah-indahnya sama sekali. 100% isi jualan doang, dan bukan foto-foto yang enak dipandang. Captionnya juga cuma spesifikasi barang dagangan, meliputi ukuran, warna, dan hal-hal teknis lain yang cukup menjemukan, dan nggak triggering orang untuk pengin beli. Yang beli ya yang butuh aja. Padahal kita butuh memengaruhi orang yang sebenarnya nggak butuh tapi terus mau beli. Bener nggak?

Tapi, Mak, "enak dipandang" itu kan selera banget. Mungkin si pemilik akun merasa itu sudah indah.

Hmmm, kalau ada yang berpendapat seperti itu, ya yahhh ... bisa jadi sih. Memang selera, tapi coba deh. Cobain trik berikut, siapa tahu bisa lebih mendongkrak penjualan.

Kan, enggak ada salahnya ada sedikit trik dicobain kan ya? Kalau memang oke, ya lanjut. Kalau enggak, ya udah nggak usah dipakai lagi. Cari yang lain yang lebih cocok. Karena treatment marketing itu memang sangat tergantung dengan sifat bisnis dan barang-barang yang dijualbelikan kok. Nggak ada yang harga mati. Kitanya aja yang mesti pinter menyesuaikan.

Tapi, yaqin deh, trik-trik berikut ini sudah saya terapkan dan terbukti bawa hasil. Mungkin bisa nggak dalam waktu cepat, tapi bisa ada efek yang cukup signifikan.



Cara Memanfaatkan Media Sosial dengan Lebih Efektif untuk Mempromosikan Bisnis



1. Kumpulkan Aset dan Keunggulan Produk

Ini harus dilakukan pertama kali.
Kenapa? Kan kita jualan produk, maka kita akan sangat tergantung pada keunggulannya. Coba cari (kalau memang sebelumnya nggak tahu keunggulan produk sendiri--meski rada aneh juga sih kalau jualan tapi nggak tahu keunggulan produk sendiri. Ehe~), kumpulkan dan catat, apa yang ingin ditonjolkan dari produk kita untuk diinformasikan pada (calon) pelanggan.

Bahannyakah? Proses pembuatannyakah? Detailnya yang unikkah? Atau service after selling yang oke?

Buatlah daftar selengkap mungkin. Daftar ini nanti akan menjadi amunisi saat kita bergerak untuk mendapatkan atau memrospek pelanggan.

Setelah daftarnya lengkap, sekarang buat daftar target customer dan audience. Ini nanti akan menentukan bagaimana ‘suara’ dalam setiap konten media sosial kita.

Kalau perlu petakan juga demografinya, mulai dari rentang umur, variasi pekerjaan, tinggal di mana (kota besar, kota kecil, rural). Kalau perlu, petakan juga income mereka.

Di sini, kita sudah menentukan persona calon customer dan audience. Dengan persona ini, kita nanti akan lebih mudah memasarkan produk.


2. Klaim Nama Bisnis di Semua Media Sosial

Nah, ini yang namanya awal nge-branding.
Kita mesti klaim semua nama bisnis kita di media-media sosial. Just name it, Twitter, Facebook, Facebook Page, Google+, LinkedIn, Instagram, Pinterest, Line@, Snapchat, Foursquare, dan seterusnya.

Mengapa mesti begini?
Ya, supaya nama bisnis kita itu benar-benar hanya menjadi punya kita sendiri. Lengkapi semua dengan foto profil yang memperlihatkan profil bisnis kita, misalnya logonya, atau foto apalah yang bisa mendefinisikan bisnis kita. Tapi hati-hati jika menampilkan foto produk sebagai foto profil ya, ada kemungkinan akan tampak kurang kuat saja image-nya. Akan lebih baik, kalau yang dipasang adalah logo bisnis.

Kalau kita sampai bisa mendapatkan semua media sosial atas nama bisnis kita yang sama, well, we’re lucky. Tapi, kalau ternyata sudah ada yang ambil, maka segera cari alternatifnya. Pastikan saja nggak terlalu jauh dengan nama bisnis aslinya.


3. Manage with Tools

Iya, saya tahu, bahwa kita semua cukup sibuk untuk mengurusi semua akun media sosial yang sudah ada ini.

Kabar baiknya, tak perlu semua dipakai kok. Ada beberapa yang asal sudah diklaim saja namanya, dan biarkan saja nonaktif. Lebih baik kita fokus pada 2-3 media sosial saja, dan boost sampai pol.

Misalnya, rencanakan untuk memanfaatkan Facebook dan Instagram lebih dulu.

Bagaimana dengan Twitter? Well, kalau untuk saya, Twitter itu rada susah untuk jualan produk riil ya :)) Soalnya isinya sobat misqueen semua. Hahahaha. Tapi kalau semisal kamu punya bisnis yang cocok disuarakan via Twitter, kamu bisa menambahkannya dalam daftar media sosial yang harus digarap. Semua memang harus disesuaikan dengan bisnis masing-masing.

Kalau saya sih, biasanya mengelola akun-akun media sosial ini dengan memanfaatkan fitur dan tools yang sudah ada.

Misalnya, saya manfaatkan IFTTT untuk membuat postingan otomatis dari Instagram langsung share ke Facebook Page dan Twitter. Jadi begitu post di Instagram, kita nggak perlu lagi Share to Other Apps. Habis posting di IG, ya udah tinggalin saja, ntar IFTTT yang akan posting langsung ke Facebook Page dan Twitter.

Soalnya saya sendiri kadang lupa atau nggak sempat, bok, buat sekadar mencet tombol Share to Other Apps juga X)) Habis posting di satu akun, langsung tinggal dulu untuk posting juga di akun lain. Terus nanti setelah 1 - 2 jam balik lagi untuk liat feedback. Udah, lupa mau share.
Dengan IFTTT ini saya cukup terbantu.


4. Posting untuk Promosi

Untuk skedul harian, jam berapanya enggak ada yang pasti karena semua tergantung audience masing-masing. Jadi, luangkan waktu untuk mengamati timeline media sosial kamu ya. Waktu ramainya kapan, yang paling sering ditanggapi konten apa, dan seterusnya.

Ada yang bilang, untuk Twitter jumlah konten ideal adalah 10 tweet sehari, Facebook 2 status per hari, Google+ satu kali sehari, Instagram dua kali sehari, dan kalau kita punya blog pribadi, setidaknya bahasan mengenai bisnis atau produk kamu harus muncul di blog setidaknya 2 kali sebulan.

Kalau bisnis kita punya blog sendiri, usahakan untuk selalu update minimal dua kali dalam satu minggu. Jangan lupa ditaut-tautkan ke laman-laman produk ya untuk keyword yang sudah ditentukan.



5. Konten, Konten, Konten!

Nah, sekarang mulai mencari konten yang cocok untuk disebarkan pada para calon customer / follower.

Perlu banget untuk diingat, mindset bahwa media sosial kita hanya boleh/bisa diisi oleh konten promosi dari bisnis online kita saja, itu adalah salah. Justru kita mesti juga menambah dengan konten-konten yang lain.

Ada aturan sharing konten di Facebook yang tersebar di antara para digital marketers, yaitu 70-20-10.

70% konten kamu harus merupakan konten yang bisa memberikan nilai tambah bagi audience kamu, misalnya tips, quotes, surveys, tapi pastikan harus benar-benar relevan ya. 20% konten kamu seharusnya merupakan konten dari source lain yang kira-kira bisa menarik audience. Nah, baru deh 10%-nya adalah konten promosional dari bisnis kamu, misalnya update saat ada barang baru, informasi kalau ada sale atau giveaway, dan seterusnya.

Kayaknya ini bagus juga untuk diterapkan di Instagram.

Jadi, pastikan kita punya konten dulu sebelum mulai berburu followers ya. Mulailah sharing sebelum kita punya followers. Biarin aja nggak ada yang nonton sekarang, tapi kita harus memberi calon follower alasan untuk mau follow atau like.


Nah, itu dia 5 trik awal memanfaatkan media sosial untuk bisnis. Untuk selanjutnya, kita juga harus mulai networking dengan pebisnis lainnya, juga rajin untuk upgrade dan update skill dan pengetahuan setiap waktu.

Karena pertumbuhan teknologi memang sangat pesat. Meleng sedikit saja, maka pasti kita akan ketinggalan banyak. Nyesel kemudian deh.
Semoga sukses ya!



Oke, artikel kali ini memang bukan soal nulis konten ataupun ngulik media sosial, tapi saya mau cerita soal magang kerja.

Beberapa waktu yang lalu, perusahaan penerbitan tempat saya kerja membuka lowongan magang kerja untuk para dedek mahasiswa. Syaratnya gampang, nggak pake aneh-aneh. Cukup semester 5, terus suka membaca dan menulis. Seterusnya, bisa diatur.

Magang kerja di kantor penerbitan itu cukup ringan kok. Boleh masuk jam berapa pun, asal memenuhi 4 jam setiap harinya. Boleh dikoordinasi dulu sama Bubos. Soal uang saku, ya lumayanlah ya. Cukup banget buat makan siang di warung. Kalau bisa menghemat, ya bisa untuk jajan-jajan ini itu. Kalau sudah selesai masa magangnya, bakalan dikasih merchandise dan buku seabrek-abrek.

Suasana kerja? Yah, sama kayak karyawan yang lainlah. Serius tapi santai.

Kalau kantor penerbitan ini sih sudah beberapa kali menerima mahasiswa magang. Mostly kerjanya bagus, sebenarnya. Bahkan kemarin pas ada acara outing bareng sekantor, 2 mantan pemagang ikut diajak rafting di Kali Progo lo.

Tapi yang terakhir kemarin ini lucu.
Kita buka lowongan, kriteria kurang lebih sama.
Oleh Bubos, terpilihlah satu orang. Bukan yang ideal, tapi ya yang paling lumayan di antara semua.

Tapi, apa yang terjadi?

Saat ditelepon untuk mengonfirmasi bahwa dia diterima, dia menjawab, "Maaf, Mbak. Saya berubah pikiran. Saya mau fokus kuliah aja."

WTF ...
(((berubah pikiran)))

Yang kemudian berbuah saya ngomel di Twitter



Dan, kemudian, si Annpoet ngereply begindang.




Yha!
Ini sih parahbet.

Dan terus, ChiEru nimbrung:




Memang sejak zaman saya dulu, yang namanya magang kerja atau Kerja Praktik itu kadang cuma dianggap formalitas saja. Kadang sebagai mahasiswa kita nih istilahnya masih belum "butuh uang" banget-banget. Asal masih bisa makan di warmindo saja, itu sudah cukup. Selebihnya, ya uwislah, buat senang-senang. Mumpung masih muda, katanya.

Padahal, kalau kesempatan magang kerja ini dimanfaatkan sebaik-baiknya, bukan nggak mungkin jadi jalanmu untuk berkarier mulus lo.

Editor buku indie-nya kantor aja mantan anak magang yang karena kerjanya bagus banget lantas dilamar sama Bubos untuk jadi karyawan tetap. Sekarang, beneran jadi karyawan tetap dan sudah menjadi manager penerbitan!

Think about that, wahai para dedeq mahasiswa!

Memang sih nggak semua menyebalkan, tapi cerita internship atau para magangers yang menyebalkan ini bukannya jarang saya dengar.

Saat saya masih kerja di kantor lama yang bergerak di industri kreatif desain interior dan furniture expor itu, saya juga pernah ngurusin sepasang magangers.
Dan, saya baru nemu tweet tentang salah satunya lagi barusan.




Huahahaha. Sampai sebel kek gitu ya?

So, artikel kali ini saya dedikasikan buat kamu, para dedeq mahasiswa, yang pengin magang kerja, atau istilah kerennya intership, dan pengin memanfaatkannya semaksimal mungkin demi masa depanmu sendiri.

Kuncinya adalah pada hari pertama kamu mulai masuk.
Seperti halnya saat seorang karyawan baru di hari pertamanya bekerja, hari pertamamu magang kerja akan menjadi penentu hari-harimu selanjutnya di kantor itu.


So, beberapa hal ini bisa kamu lakukan di hari pertama magang kerja kamu

Klarifikasi ekspektasi perusahaan tempat kamu magang kerja terhadapmu

Apa yang mereka harapkan untuk didapatkan darimu, hasil seperti apa yang mereka inginkan?

Tanyakan hal ini pada supervisormu, lalu negokan jika ada satu dua hal yang mungkin tak sanggup kamu lakukan.

Tapi jangan semua dinegokan juga. Kamu harus terlihat mau berusaha untuk belajar. Bagaimanapun, dunia kerja itu lebih kompleks ketimbang teori-teori yang kamu pelajari di kampus. Bahkan bisa jadi berbeda 180 derajat.


Jangan bawa semua idealismemu ke kantor

Tinggalkan saja di kampus.

Karena ya itu tadi, dunia kerja itu bisa jadi jauh berbeda dengan teori-teori yang kamu dapatkan di kampus. Pelajaran yang sesungguhnya akan kamu terima seiring hari-hari kerjamu berjalan.

Siap-siap saja.


Fokuslah pada keterampilan komunikasi

Inilah soft skill yang tak akan pernah kamu pelajari di kampus. Kamu akan menghadapi banyak sekali tipe orang di kantor, dan kamu harus bisa mengatasinya semua.

Rasanya pasti seperti barusan keluar dari tempurung kura-kura. Kamu barangkali biasa menghadapi teman-teman mahasiswamu yang asyik dan gampang dibawa santai. Tapi di tempat kerja mungkin kamu akan menghadapi orang yang keras kepalanya kebangetan, atau orang yang cara kerjanya konservatif kuno dengan senioritas yang tinggi dan susah diajak maju, atau mereka yang sok tahu segalanya.

Cara untuk mengatasi mereka semua adalah dengan menemukan cara dan timing yang tepat untuk berkomunikasi.

Tapi ya enggak semua kayak gitu juga. Kalau kamu mendapatkan lingkungan kerja yang memang komunikatif sih ... you can consider yourself as lucky.


Jadilah pengamat yang baik

Keterampilan komunikasi yang baik akan bisa kamu capai kalau kamu bisa menjadi pengamat yang baik.

Amati lingkungan kerjamu, terutama bagaimana orang-orangnya saling terhubung satu sama lain, bagaimana mereka berkomunikasi. Kalau kamu cukup peka, maka kamu akan bisa menangkap, oh, si bapak ini orangnya begini-begini. Dia paling suka dibeginiin, dia ga suka begitu. Oh, si mbak yang itu orangnya nganuan, jadi mesti dianuin.

(((dianuin)))

Betul, kerja di sebuah perusahaan itu merely adalah tentang "ngemong" orang lain. Bukan sekadar momong, ini adalah momong demi kelancaran pekerjaan kita sendiri juga. Jadi, beda ya, dengan "menjilat" or "kissing asses".

Dengan mengamati orang-orangnya, kamu akan tahu bahwa setiap orang itu unik dan memang butuh treatment sendiri-sendiri.

Hal ini nggak bakalan kamu terima pelajarannya di kampus. Dan, kalau kamu bisa mengembangkan soft skill satu ini sejak kamu magang kerja, yaqin deh, kamu bakalan jadi orang sukses.
Amin!


Belajarlah untuk bekerja sama

Semua orang di kantor tempat kamu magang kerja itu adalah partner. Meski kamu "hanya" magang, tapi kamu pastinya nggak boleh cuma magabut--alias makan gaji buta.

Jadi, belajarlah untuk bekerja sama. Ingat-ingat, bahwa kamu nggak ada di tempat itu buat ngerecokin orang, tapi untuk memberikan kontribusi yang sama besarnya dengan yang lain.

Kamu akan mendapatkan banyak ilmu tentang surviving di kantor yang sebenarnya. Yang di kampus itu, enggak ada apa-apanya.


Seriuslah!

Ya, magang kerja bukan sekadar coba-coba lucu, seperti kata Annpoet.

Magang kerja ya kerja. Kamu latihan kerja yang bener, supaya nanti nggak kaget saat benar-benar mesti cari duit. Dikira gampang apa? Cuma nongkrong di kantor terus digaji? Enggak bisa gitu.

Jadi PNS aja sekarang sudah nggak bisa keluyuran sembarangan kok.

Meski "cuma" magang kerja, tapi anggaplah pekerjaanmu sebagai hal yang serius.
Jangan asal kabur.
Kebiasaan yang buruk itu, Dek. Beneran deh.


Disiplin

Memang kalau kamu statusnya masih belajar, para senior juga akan maklum kalau kamu masih salah-salah, atau masih belum bisa memenuhi target.

Iya, kamu pasti masih akan dimaklumi.

Tapi, seenggaknya disiplinlah saat harus masuk ke kantor. Kalau harus izin atau mungkin kamu agak telat masuk, segera kirim kabar.

Kedisiplinanmu menjadi ukuran keseriusanmu.


Di akhir "masa tugas" nanti, jangan lupa untuk meminta surat rekomendasi pada supervisor atau staf HR atau bos kamu di kantor. Surat magang kerja ini laku banget untuk digadaikan saat kamu benar-benar melamar kerja nanti.

Jadi, jangan sampai lupa minta ya.

Nah, Dek, semoga tip magang kerja dari Qaqa ini bermanfaat ya. Jangan anggap magang kerja itu sebagai hal yang cuma buang-buang waktu, hingga kamu malas-malasan menjalaninya. Magang kerja itu investasi untuk karier kamu mendatang.

Jadi, jangan sekadar coba-coba lucu. Ntar jadi beneran nggak lucu.


Masalah fokus atau konsentrasi biasa memang menjadi permasalahan umum bagi para penulis--baik itu penulis buku, konten, dan blog.

Distraksi memang menjadi musuh besar saat kita menulis. Bentuk distraksinya sih bisa macam-macam. Saya sendiri bentuk distraksinya bisa keinginan untuk sekrol timeline Twitter atau Instagram, suara televisi, suara anak-anak yang lagi main, diajak ngomong (anak-anak yang bertanya ini itu saat mereka belajar atau mengerjakan PR, diajak ngobrol sama keluarga yang lain, tukang sayur yang lewat, chat dari coworker yang tiba-tiba masuk, dll), mikirin film apa yang bagus untuk ditonton hari ini, buku sketsa, dan masih banyak lagi.

Banyak ya? Tapi taruhan, pasti pada sama banyaknya. Atau, bahkan lebih banyak lagi?

Saya sendiri memang paling gampang keganggu konsentrasinya kalau sudah diajak ngomong. Udah deh, kalau lagi khusyuk, terus tiba-tiba ada yang manggil, nyolek, atau nanya, mood langsung bubar. Meski saya nulis di mal, misalnya, saya tetap bisa konsen, karena keramaian yang ada tuh bukan karena saya diajak ngomong. Tapi begitu mulai ada yang ngajak ngomong, udah deh, bubar.

Makanya nggak cocok kerja di kantor dengan ruang kerja open plan alias terbuka, meski dibatasi dengan kubikel. Dulu di kantor eksportir itu, saya pernah dikasih ruangan di satu rumah sendirian. Yes, sendirian. :))

Karena itu, kita mesti bisa mengatasinya. Nggak mungkin kan kita hanya menyerah? Jadinya nggak nulis-nulis juga dong.



Sebenarnya ada beberapa hal yang bisa kita lakukan agar selalu bisa fokus menulis. Mari kita lihat satu per satu per poinnya.



Beberapa tip agar kita bisa menjaga fokus menulis


1. Menyingkir

Kalau memungkinkan, menyingkirlah dari keramaian, dan temukan tempat yang paling nyaman untuk menulis.

Kadang kalau kita sudah benar-benar susah untuk fokus, kemungkinan disebabkan oleh kejenuhan terhadap tempat yang biasa kita pakai untuk menulis. Misalnya, setiap hari kita punya ruang kerja sendiri untuk ngeblog di rumah.

Suatu kali kita susah bener untuk mulai nulis, maka cobalah untuk pindah tempat menulis. Barangkali ada coffee shop nyaman yang bisa dipakai untuk menulis? Atau mau ke coworking space? Anywhere new, yang bisa membuat mood dan fokus menulismu balik lagi.

Atau kayak saya, kadang malah ngungsinya ke mal. Suara bising di mal kadang bisa menjadi satu bentuk 'white noise' yang justru membuat saya semakin konsen menulis lo.
Hahaha iya, aneh ya? Tapi ya begitulah.

Pasti juga banyak yang berbeda dari saya. Jadi adalah penting untuk bisa mengenali diri sendiri.


2. Get rid of the noise

Nah, untuk seseorang yang bertipe audio--kayak saya--biasanya memang sangat susah untuk fokus.

Padahal yang namanya 'noise' di rumah itu seperti terjadi setiap waktu; anak-anak yang ramai main, bertengkar, atau nyanyi keras-keras, suara televisi yang menampilkan drama India yang ditonton sama ibu saya (plus komen-komennya yang kadang bikin saya ketawa dan malah jadi penasaran ikutan nonton) jelas selalu mewarnai rumah saya setiap hari.

Kadang ya bisa saya abaikan, kadang ya enggak. Kadang sampai sakit kepala :))
Kadang ya sudah, kerjaan saya tinggal, dan saya fokus ke anak-anak. Tapi kalau deadline sudah ketat, dan saya harus segera menyelesaikan tulisan, ya berarti bagaimana caranya ngeblock suara-suara ini.

Makanya saya menganggap membeli headphone yang bagus itu sebagai investasi :)) Sekadar earplug tak bisa menolong saya. Saya harus punya headphone, yang gede, yang bisa menutup sampai seluruh daun telinga.


Noh, headphone kesayangan saya.

Nah, untuk playlistnya sih tergantung selera sih.

Tapi ada yang bilang ke saya, mereka susah fokus kalau pakai musik. Katanya mereka malah jadi pengin ikut nyanyi. Hahaha.

Ya berarti musiknya dong yang disesuaikan. Ada banyak playlist yang ditujukan untuk membantu kita fokus di Spotify (bukan, ini bukan postingan berbayar ya). 

Ini salah satu yang saya rekomendasikan. Musik-musiknya agak upbeat, nggak bikin ngantuk. Tapi iramanya yang stagnan bikin kita bisa konsentrasi.




Ada banyak playlist sejenis di Spotify, yang memang disediakan untuk diplay saat kita butuh bantuan untuk fokus. Cari saja di genre & moods Focus. Cari yang paling disuka dan sesuai, lalu save. Putar kapan pun dibutuhkan.

Works for me.


3. Rencanakan sebelum menulis

Khusus untuk yang ingin fokus menulis buku, punya rencana untuk membereskan tulisan sampai halaman berapa atau jumlah kata berapa akan bisa membantu.

Untuk para penulis blog dan konten, ya pastinya rencananya adalah bisa menyelesaikan satu artikel.

Saat kita menulis tanpa adanya rencana ataupun target, maka sudah pasti akan lebih sulit untuk fokus. Jika kita sejak awal sudah menentukan target ini, maka kalaupun terdistraksi, maka kita akan segera ingat lagi pada rencana awal, dan kemudian berusaha untuk balik lagi menulis.


4. Terapkan teknik Pomodoro

Nah, ini sih pengin saya bahas khusus sih kapan-kapan.
Teknik Pomodoro ini adalah teknik yang biasa dilakukan oleh para penulis novel atau buku untuk membantu mereka fokus menulis. Tapi tak hanya penulis buku, teknik ini juga bisa dilakukan oleh penulis blog ataupun konten.

Tekniknya gampang kok.

  • Pakai timer di handphone. 
  • Set 25 menit, alarm berbunyi. 
  • Selama 25 menit itu kita fokus hanya menulis
  • Setelah 25 menit berlalu, alarm menyala, lalu set lagi untuk 5 menit. 5 Menit ini kita bisa pakai untuk istirahat sebentar; luruskan kaki, ambil air minum, makan camilan, whatever. 
  • 5 menit berakhir, set lagi 25 menit untuk kembali menulis.

Ulang sampai 4 kali. Setelah 25 menit keempat, berikan waktu istirahat pada diri sendiri lebih lama, misalnya 15 menit. Lalu kalau mau dilanjut, ulangi langkah pertama di atas.

Nah, teknik ini bisa dipakai pastinya kalau semua distraksi sudah diatasi ya. Misalnya, pas anak-anak sekolah, kita sudah sendirian di rumah dan rumah sudah beres. Atau kalau sudah malam, saat anak-anak sudah tidur. Atau dini hari, saat semua orang belum bangun.

Jadi, memang kita harus temukan dulu nih waktu-waktu kita bebas distraksi, baru deh teknik ini bisa dipakai.



5. Sediakan notes distraksi

Lagi tengah-tengah nulis artikel, tiba-tiba kepikiran untuk ide menulis artikel yang lain. Lagi asyik ngupdate blog, tiba-tiba inget film bagus untuk ditonton. Lagi asyik kejar deadline, tiba-tiba ingat kalau harus melakukan ini itu.

Lagi asyik nulis postingan ini, tiba-tiba ingat kalau mau masukkan URL blog teman-teman ke Feedly.  Masih nulis poin no. 5 ini, tiba-tiba inget mau bikin list bullet journal untuk topik web. Eh, iya ini saya. Hahaha. Hedeh.

Memang bentuk distraksi yang berupa "tiba-tiba ingat" ini paling mengganggu buat saya. Adakah yang mengalami hal yang sama?

Nah, kalau si "tiba-tiba ingat" ini diturutin, wah, nulis bisa bubar jalan beneran dah. Akhirnya puyeng sendiri, nggak ada satu pun yang beres.

Untuk mengatasinya, saya selalu menyediakan notes distraksi di samping laptop. Kalau ada yang tiba-tiba lewat seperti ini, saya langsung tulis saja di notes tersebut. Embuh bentuknya apa, pokoknya tulis saja.

Lalu setelah kerjaan selesai, saya pun lihat-lihat lagi notes distraksinya. Yang perlu dimasukkan ke dalam todo list, masukkan. Yang harus saya lakukan, ya lakukan.

Notes distraksi ini cukup membantu lo. Cobain aja.


Nah, itu dia 5 cara membuat diri kita sendiri tetap fokus menulis.
Kamu punya cara lain?
Sok, dishare via komen yah!

I'll be glad to hear your opinion.


Dari dulu saya suka banget membaca berbagai tip blogging dari siapa pun. Buat apa? Ya, supaya aktivitas blogging saya makin ngehits-lah. Saya kan pengin femes. #eakkkk. Ya, nggak cuma segitu aja sik. Femes-nya itu biar dikenal orang sebagai penulis, nanti efeknya buku-buku saya banyak dibeli, saya banyak dimintain tolong buat nulis ini itu, gitu.

Memang sedari awal saya come-back *halah* ke dunia blogging tahun 2010-an, niat saya memang akan menjadikan blog sebagai portofolio. Jadi, gimana caranya kan untuk membuat portofolio saya ini moncer.

Maka, saya rajin memburu tip dan ilmu perbloggingan. Setiap orang yang punya tulisan untuk melejitkan blog, pasti saya baca. Nggak berenti dibaca doang, saya pun praktikkan.

Semakin ke sini, perkembangan dunia blogging pun semakin luar biasa. 8 tahun saya menjadikan blog sebagai portofolio, banyak banget tip blogging yang ternyata sudah nggak berlaku lagi. Sudah so old fashioned, sudah ketinggalan zaman.

Inilah kenapa kita--kalau mau sukses ngeblog--mesti selalu update dengan perubahan. Saya akui, perubahan kadang SUCKS!

Lihat saja Google, berkali-kali mengubah algoritmenya. Iya sih, mereka membuat perubahan supaya service-nya lebih oke dan berkualitas. Tapi tak urung, perubahan itu membuat saya--yang di sini sebagai publisher, orang yang memproduksi konten--jadi cukup kelimpungan.

Lalu, Instagram, yang secara tak langsung juga berpengaruh ke kegiatan blogging kita. Instagram benar-benar banyak berubah sejak pertama kalinya diluncurkan.
Beberapa hal memang membuat lebih nyaman, tapi banyak hal lain bikin para pemroduksi konten juga kewalahan.

Belum lagi pergerakan aktivitas blogging sendiri yang semakin ke sini juga semakin banyak perubahan.


Anyway, balik lagi ke soal tip blogging.
Zaman sudah berubah. Tapi, beberapa tip blogging yang sudah ketinggalan zaman ini masih sering saya lihat wira-wiri di sana-sini. Dan, somehow, saya sendiri sudah tak "menganut" beberapa tip blogging yang sudah ketinggalan zaman ini. Selain, sudah tak relevan lagi, saya sendiri juga sudah nggak merasakan efek apa pun dari beberapa tip blogging berikut. Malah justru ada beberapa yang sekarang sudah membahayakan.

Saya sih bukannya menyarankan teman-teman untuk tak lagi melakukan beberapa tip blogging berikut. Mungkin masih ada yang menyahihkannya. Saya nggak punya hak untuk melarang kan ya? Siapalah saya. Hanya saja, bolehlah dipikirkan kembali efeknya. Jangan-jangan malah membahayakan aktivitas blogging kita, atau buang-buang tenaga saja.

Karena buat saya, ada beberapa di antaranya sudah tak efektif lagi sekarang.


Beberapa tip blogging yang sudah ketinggalan zaman



1. Setiap tulisan akan menemukan pembacanya sendiri

Dulu saya sangat mengamini dalil ini. "Setiap tulisan akan menemukan pembacanya sendiri."

Rasanya, dengan kalimat ini tertanam di pikiran, saya lantas bisa merasa ayem, nyaman. Dan selanjutnya, kita tinggal menulis saja terus sesuai dengan apa yang kita yakini.

Tapi semakin ke sini, saya semakin tak bisa meyakini lagi kalimat ini 100%.
Okelah, semisal memang naskah buku yang dikirimkan ke penerbit atau media, mungkin, punya takdir sendiri nanti cocoknya di mana. (Itu saja saya sendiri masih nggak sreg. Pasrah amat sik? Hahaha.)

Tapi tidak dengan blog.

Setiap tulisan blog akan menemukan pembacanya sendiri?
Kapan? Seberapa?

Padahal setiap hari ada tawaran job yang mensyaratkan pageview sekian, DA sekian, PA seanu, dan seterusnya. Saat job sudah diterima pun, ada laporan statistik yang harus kita serahkan, bukan?
Kalau nggak mencapai target, kita akan "terancam" nggak akan dipakai lagi dalam campaign berikutnya.

Kalau seumpama benar "setiap tulisan akan menemukan pembacanya sendiri", kita pastinya nggak perlu sampai memasukkan artikel kita di setiap BW list yang ada di komunitas-komunitas kan?

Itu baru soal tulisan di personal blog.

Lebih kejam lagi di portal. Coba portal mana yang menganut "kepercayaan" ini?

Ibaratnya, kita jualan es krim di kampung orang Eskimo. Boleh kan? Boleh dong! Ntar juga pasti akan ada yang butuh kan? Setiap "dagangan" kan akan menemukan pembelinya sendiri?

Really? Es krim? Dijual di antara orang Eskimo?
Yeah right.

So, kalimat "setiap tulisan akan menemukan pembacanya sendiri" ini, buat saya pribadi, sebenarnya cuma bentuk ngayem-ayemi diri sendiri sih. Hahaha. Supaya lebih semangat nulis terus.
Ya oke deh. Kita memang harus semangat nulis terus.
Tapi, kalau mau ada hasil yang riil--artinya, nulisnya bukan lagi sekadar hanya untuk pengisi waktu luang--kayaknya jangan kebiasaan pukpuk diri sendiri terus kayak gini. Kita nggak akan ke mana-mana. Stay di tempat.

Kita mesti cari cara, gimana meningkatkan kualitas tulisan, dan kitalah yang harus mencari pembaca. Mengajak mereka untuk datang dan baca tulisan kita.

Dengan apa? Yah, sudah banyak sih yang saya catat so far. Boleh percaya boleh enggak juga kok. Saya mah bebas~



2. Blogwalking untuk traffic

Blogwalking untuk menjalin hubungan dan networking, saya masih percaya cukup efektif. Sampai sekarang, ini masih berlaku.

Tapi blogwalking untuk ngeboost traffic?
Kecuali dilakukan dalam sebuah blog pod, rasanya mengharap traffic datang dari blogwalking itu kok ya nggak seberapa ngefek sekarang ini.

Blog pod itu sebutan untuk sekumpulan orang yang "bekerja sama" untuk ngeboost traffic bersama-sama. Itu loh, yang biasa dilakukan kalau ada job atau lomba, saling balas blogwalking dan komen. Bahkan ada komunitas yang mewajibkan anggotanya untuk saling BW kan ya?

Kalau dalam sebuah blog pod, maka kemungkinan sih bisa boost traffic, tapi masalahnya, bisa sampai seberapa? Ya sebanyak yang tergabung dalam blog pod itu saja sepertinya kan? Yang komen juga orang-orangnya yang dalam kelompok tersebut.

Nggak ada yang salah dengan hal ini sih. Namanya juga usaha.
Yang saya pertanyakan hanyalah, seberapa efek marketing bisa didapatkan dari blog pod ini?
Kalau orang-orangnya hanya mbulet saja di situ, apakah so-called-brand-awareness dari pihak klien ini bisa tercapai KPI-nya?

Ini logika saya saja sih. Bisa jadi salah. Jadi, silakan lo, kalau ada yang bisa jawab pertanyaan saya. I will be glad to discuss, karena ini hal yang sangat menarik :D

FYI, Instagram pernah juga membahas mengenai Instagram pod. Metodenya sama. Berkelompok untuk saling like, follow dan komen. Facebook--sebagai bapak perusahaan Instagram--bahkan nge-ban beberapa grup Facebook karena terkait Instagram pod ini.

Update:
Saya bukannya antiblogwalking. Saya juga masih blogwalking kok. Tapi saya melakukannya dengan ikhlas. Supaya apa? Supaya nggak ada niatan diblogwalkingin balik, hanya karena kita sudah BW ke blog orang lain. Saya melakukannya karena saya memang pengin baca blog orang--terlepas saya ninggal komen ataupun tidak. Dengan begini, kalau ada yang nggak BW balik ke blog saya, saya pun nggak baper.


3. Share masif di  media sosial untuk traffic

Nyatanya, share apa pun secara masif di media sosial sekarang ini justru berbuah suspend atau ban.

Masih ingat banget beberapa waktu yang lalu, banyak bloger yang mengeluh kena semprit di Facebook. Rerata dari mereka bilang, kalau mereka susah untuk komen. Bahkan komen biasa pun di-mark as spam sama Facebook.

Setelah ditelusuri, ya pantas sajalah kena sempritan. Mereka spamming di Facebook, alih-alih sharing.

Dan kemudian belakangan, banyak pula pengguna Twitter tiba-tiba raib. Ternyata akunnya kena suspend sama Twitter. Meski banyak juga yang kena suspend tapi mengaku tak melakukan kesalahan apa pun, tapi sepertinya sih, alasan suspend terbanyak adalah karena spamming dan hashtag abusing.

Lalu, perkara Instagram kemarin juga sempat membuah heboh dunia perbloggingan dan dunia per-so-called-influencer-an.

Saya sendiri beberapa kali mengamati. Saat saya sharing link di komunitas baik di Facebook maupun Twitter, kok ya naiknya tak terlalu signifikan. Lebih signifikan saat saya share saja di beranda sendiri ataupun timeline sendiri, tetapi secara berulang, periodik, dan simultan.
Mungkin berbeda sih dengan orang lain ya. Saya nggak tahu dengan pasti.


4. Hanya mengandalkan lapak orang

Memang salah satu hal yang harus kita lakukan dalam ngeblog adalah mempromosikan blog di media sosial.

Hanya saja, semakin ke sini, media sosial saja tidak cukup.
Ingat apa yang terjadi di Facebook, Twitter, dan Instagram?
Perubahan sedikit saja pada algoritma mereka bikin kita kewalahan.

Lalu, Google.
Saat sedikit saja Google mengubah kebijakannya, kita pun heboh sendiri mencari tahu apa yang bisa dilakukan lagi untuk "menyiasati" Google.

Oh, sungguh melelahkan, cyint. Hahaha.

Berkali-kali saya lalu ingat kalimat yang ditulis oleh seorang bloger luar (siapa namanya, saya lupa. Maafkan. Waktu itu saya sedang riset untuk perubahan algo Instagram, dan lupa mencatat siapa yang mengatakannya).

Don't build your palace in someone else's sandbox.

Karena begitu sandbox-nya kena tsunami, ya udah deh, "istana" yang kita bangun di situ ya pasti kena efeknya.

Lalu gimana seharusnya?
Untuk saya sendiri, penginnya ya kita bisa build readership kita sendiri. Melalui email list misalnya. Tentu saja, kita nggak bisa hanya semata-mata minta email pembaca blog begitu saja.
Kita harus punya sesuatu in return. Kita harus memberikan sesuatu pada mereka.
Sesuatu seperti apa?

Nah, itu sih silakan dipikirkan sendiri-sendiri :)))

Dengan punya massa sendiri begini, mau media sosial berubah algo kayak gimana pun, paling tidak kita masih bisa punya backup sendiri.

Ya, saya sendiri sampai sekarang masih belum bisa me-manage email list dengan baik, meski saya sudah punya lumayan subscribers. Huhuhu. Maafkan saya.
Semoga saya bisa segera membuat waktu untuk mengurusi Anda yang sudah berbaik hati memberikan email ya.

I promise!


5. Outdated SEO: link ke artikel itu sendiri dan bold/italic

Dalam praktik SEO sendiri ada beberapa hal yang sudah tak lagi saya lakukan sekarang.

  • Menyematkan tautan ke artikel itu sendiri. Ya, dulu tip ini memang disarankan oleh banyak mastah. Misalnya, ada artikel "tip blogging untuk pemula", maka harus ada 1 kata kunci "tip blogging" yang ditautkan ke URL artikel "tip blogging untuk pemula" itu sendiri. Entahlah, saya lupa kenapa harus begitu. Tapi, sekarang langkah ini tak pernah saya lakukan lagi, karena saya juga tak tahu apa efeknya kok harus ngelink ke artikel itu sendiri. Yang ada, kalau saya menjumpai tautan jenis ini malah jadi sebal, karena saya kira bakalan ada info lain di artikel lain, eh ternyata balik situ maning balik situ maning. Hedeh. Ternyata hal ini juga diamini oleh beberapa mastah SEO lain. Jadi ya, sudah, saya nggak pernah lagi pakai tip ini.
  • Bold/italic. Saya juga sudah tak lagi melakukan penebalan atau pemakaian huruf miring untuk keperluan search engine. Saya menggunakannya sekarang demi user experience. Saya akan menebalkan/memiringkan huruf pada kata atau kalimat yang harus diberi penekanan, agar menarik perhatian pembaca, tapi bukan untuk crawl bot search engine. Untuk penjelasan mengenai hal ini ada beberapa artikel sih yang bisa dibaca. Coba ke sini atau ke sini ya. Sebagian sih masih percaya, ini cukup efektif untuk SEO sih. Cuma ya, saya pribadi sudah nggak terlalu yakin langkah ini efektif. Apalagi kalau separagraf pertama di-bold semua, itu tuh alasan logisnya kayak gimana, monmaap, saya kurang nangkep. :( Apalah saya ah. Ada yang bisa menjelaskan? Kalau memang reasonable, saya juga mau ikut lakukan sih.



Nah, demikian beberapa tip blogging yang sudah ketinggalan zaman so far.

Ada yang mau menambahkan? Atau, mungkin ada yang berpendapat, salah satu, dua, tiga, empat atau kelima hal di atas masih cukup efektif dilakukan?

Sok, ditulis di komen yah.
I'll be glad to know about your opinion ;)