Do's and Dont's dalam Mengelola Akun Instagram Jika Kamu Pengin Memonetisasinya


Ada yang belum pernah punya akun di Instagram?

Keknya hampir semua orang zaman now pasti sudah punya akun Instagram ya. Walaupun nanti dalam perjalanannya, akhirnya males, menyerah, atau nggak keurus, yah ... itu sih hak masing-masing. Tapi minimal, pasti punyalah akun.

Buat yang akhirnya menyerah, yasudahlah. Mungkin kebahagiaannya tidak terletak di Instagram :D Tapi buat para bloger, biasanya Instagram menjadi salah satu media sosial yang oke untuk membangun citra--alias pencitraan, alias branding--dirinya sendiri. Banyak yang menjadikan Instagram sebagai portfolio, ajang pamer karya masing-masing, selain juga menerima kerja sama dengan pihak lain.

Dan ya, memang, di zaman marketing 4.0 ini semua yang tradisional sekarang menjadi digital, begitu pun untuk karier dan job. Prinsipnya sebenarnya sama aja sih, antara marketing bisnis dan marketing diri kamu sendiri sebagai bloger. Pan blog juga bisa dianggap sebagai bisnis. Uhuk.

Nah, buat kamu yang pengin mengelola Instagram kamu secara profesional, berikut adalah do's dan dont's-nya yang saya kumpulkan dari berbagai sumber, dan juga atas pengalaman pribadi mengelola beberapa akun bisnis. Barangkali beberapa di antaranya sudah sering kamu baca atau dengar tipnya dari mereka yang lebih ahli. Tapi nggak ada salahnya saya ulang juga, just for a reminder.

Btw, barangkali ada yang bertanya-tanya pula. Ngapain Carra sok-sokan kasih tip mengelola akun Instagram? Follower baru 3000+ pun.

Yah, saya kira, pengalaman saya mengelola--let's see--ummm ... kurang lebih 9 akun bisnis milik orang bisalah dicatat pelajarannya yah. Tapi, saya juga open kok kalau ada yang mau nambahin tip mah. Nanti boleh ditulis di kolom komen.


Mau Mengelola Akun Instagram secara Profesional? Berikut do's and dont's-nya!

Do's!

1. Konsisten

Menggunakan media sosial, terutama Instagram secara profesional memang akan sangat membutuhkan konsistensi.

Konsistensi ini meliputi konsistensi kualitas, style, dan konsistensi waktu juga.

Kalau kamu sering baca-baca tip mengelola Instagram yang ada, barangkali kamu akan sering menemukan banyak yang menyarankan untuk membuat gaya feed yang konsisten. Ada yang pakai pola-pola, ada juga yang pakai tone warna, dan sebagainya.

Saran ini memang bener sih. Tadinya saya sendiri nggak terlalu percaya. Saya pikir, ah ribet amat sik. Tapi ya, kalau dilogika ya emang bener. Sesuatu yang dengan serius kamu lakukan, buahnya pasti tak akan mengkhianati. Ahzek.

Instagram tone monochromatic neutrals. Via Pinterest.


Style dan tone warna yang konsisten bisa menjadi kesempatan kita untuk membuat suatu ciri khas. Let's see. Pernah liat akun Instagramnya Janine Intansari kan? Dia punya feed Instagram yang pinkish--tone-nya merah muda. Dan itu jadi ciri khasnya.

Tone-nya Kelsey Simone beda lagi. Jeff Mindell punya tone Instagram yang colorful, dengan warna-warna vibrant. Ah, jadi ide nih. Pankapan kita kumpulin deh berbagai tone Instagram ya.

Buat ciri khas unik yang menarik secara visual. Nggak harus "seragam" secara visual juga kok. Yang penting, harus menarik. Nah, yang namanya menarik ini memang abstrak. Dan subjektif banget. Memang ini butuh waktu dan usaha observasi terus menerus dari kamu, sebagai content creator. Terus coba, cari yang terbaik. Jangan menyerah.

So, coba yang belum konsisten, dibikin konsisten (dan persisten). Buat jadwal, pakai aplikasi semacam UN UM, atau Planoly, buat bikin content plan. Postinglah seminggu 3 kali, jika kamu sulit memenuhi posting tiap hari. Asal waktunya teratur, pasti akan dapat efek yang bagus juga kok.


2. Olah bio

Di Instagram, ada fitur untuk pasang link di bagian bio. Manfaatkan fitur ini sebaik-baiknya, terutama kalau kamu punya blog, website, atau halaman di marketplace.

Saat ada produk atau postingan baru kamu bisa taruh link di bagian bio untuk memudahkan follower untuk mengakses blog, situs, ataupun lapakmu.

Selain link, profil di bio itu juga sangat menentukan. Saya pernah lo, dapat job karena si klien mencari "penulis konten" di Instagram, dan akhirnya nongollah akun saya. Hehehe.

Jadi, isi bio jangan asal ya. Saya pernah nulis sedikit tip tentang mengoptimasi profil Instagram di web Kumpulan Emak Blogger. Bolehlah disimak yah :) Siapa tahu ada yang belum dilakukan.


3. Jaga engagement

So, pasti saran yang ini juga sudah klise banget. Ada di mana-mana, tapi memang nih saya sendiri aja sering lupa kok :)) Kebiasaan, abis posting langsung tinggal ngerjain yang lain. Terus lupa. Tengok lagi kalau mau posting lagi. Udah telat, Mak! Madingnya udah terbit. #eh

Maksudnya, seharusnya sih dipantengin dulu setelah posting. Kalau ada komen, ya dibalas. Kalau enggak ada? Ya udah, enggak apa-apa, nggak usah baperlah. Hahaha.

Kalau mau sih, seharusnya kita memang yang harus memancing follower untuk bisa komen. Misalnya, kasih pertanyaan, atau minta mereka gantian sharing.

Ini juga reminder buat diri saya sendiri. Ya maklum, kadang ya ga sempet monitor. Bisa posting tiap hari aja udah syukur yah. Hahaha. Soalnya juga, pekerja kek saya ini mau nggak mau mesti menjaga eksistensi. Kenapa? Ya kalau enggak, job-nya menjauh, cyint!

Itu dia yang susah. Kadang merasa susah membagi waktu, tapi harus. Karena pundi-pundinya dari situ. Dilema banget emang. Huhuhu. Lebih seneng di belakang layar, tapi harus jaga eksistensi.
Beurad, bok!
*kemudian curhat*

Sekarang saya juga selalu ingetin diri sendiri, untuk sesekali skrol linimasa. Terus bagi-bagi jempol dan komen. Sesekali follow (dan unfollow #eh) akun lain, biar keliatan aktif.

Ya intinya, jangan cuma posting doang deh.


4. Bikin list hashtag

Nah, ini nih. Yang keempat ini, baru saya lakukan sekarang--baik untuk akun bisnis maupun akun pribadi.

Sudah tahu kan, bahwa ada hashtag terlarang? Yaitu beberapa hashtag atau tagar yang di-ban oleh Instagram. Saya juga udah nulis mengenai hal ini di web KEB.

Hal ini tuh bikin saya jadi observe lebih dalam mengenai hashtag. Akhirnya (tanpa sengaja) saya jadi punya list yang berisi beberapa hashtag yang safe, sekaligus yang potensial memberi ekspos. Saya cenderung untuk nggak memilih tagar yang terlalu populer, yang jumlah public postsnya sampe jutaan. Ya ada sih, tapi paling saya taruh satu dua aja. Tagar lainnya, saya lebih memilih tagar yang public postsnya hanya puluhan sampai ratusan ribu aja. Bahkan beberapa saja pakai yang ribuan doang.

Konon, ini span time-nya jadi lebih lama. Terbukti sih, postingan-postingan lama masih sering aja dapat like, padahal sudah berapa minggu yang lalu gitu.

Kebetulan saya juga pakai aplikasi Preview untuk bikin content plan, jadi bisa saya kumpulin sekalian tagarnya di situ. Jadi tinggal apply aja kalau lagi bikin caption.

Lumayan menyingkat waktu. Hehehe. Ini saya terapkan terutama di akun bisnis yang saya pegang sih. Akun pribadi barusan mulai pakai cara ini juga. So yeah, masih harus diobservasi sih.


5. Berbagi cerita

Saya tuh kadang penasaran, orang-orang Instagram nih asal nyekrol dan like aja, ataukah mereka juga baca caption?

Saya pernah polling ini di salah satu akun Instagram yang saya kelola. Ternyata #TimBacaCaption itu banyak juga ya. Atau mungkin yang #TimSkrolFoto pada malu mengakui? Hahaha. Entahlah.

Tapi hasil polling waktu itu tuh, #TimBacaCaption ada lebih banyak deh.

Dan memang sih, yang captionnya pake cerita itu so far kok ya yang ngelike dan ngomen juga cenderung banyak. Apalagi kalau ceritanya menyentuh atau yang bisa "menggerakkan". You know what I mean kan?

So, saya sendiri sih nggak selalu menargetkan untuk selalu punya cerita kalau di akun pribadi, pun di akun bisnis. Mau cerita apa, wong saya nggak pernah ada drama yang bisa dibagikan kok.

Hidupku lurus-lurus wae soale, gaes. Wqwqwq. Nggak ada yang antimainstream, nggak pernah dekat dengan orang toxic untuk bisa dighibahin; orangtua baik banget (dan biar Tuhan saja yang tahu betapa baiknya mereka), keluarga saya semua baik-baik saja. Mantan enggak punya selain yang sekarang jadi suami. Selingkuhan? Heleh. Malah nambahi repot.
Hahahaha.

Membosankan! Yenggak? *sarcasm detected*

Tapi adalah sekali waktu ya diusahakan ada cerita. Meski ya jadinya cerita tentang diri sendiri (meski begah juga sih rasanya). Ha tapi nggak ada yang lain jeh!
Kalau di akun bisnis, saya harus lebih banyak ngulik konten yang nonjualan. Jadilah saya punya list jenis konten yang saya gilir kemunculannya.

Ah, pekerja konten ini memang mesti nggak boleh berhenti mikir ya. Hahaha. Siapa yang bilang, pekerja konten itu "cuma gitu aja" kerjanya? Sini, boleh ikuti my daily routine deh.

Eh, jadi ide. Menarik nggak ya, kalau saya bikin cerita daily routine pekerja konten? Hahaha. Ada yang mau liat enggak sih?

So, sebenarnya ada banyak yang bisa diceritain. Kapan hari saya cerita soal ruang kerja, saya cerita soal statistik blog, dan beberapa behind the scene. Ternyata tanggapannya juga lumayan. Apalagi yang saya share di IG Story. Banyak banget yang lantas komen dan nanggapi via japri.

Seneng saya. Hehehe.

So, ke depan, semoga lebih banyak cerita bisa saya share lagi deh.


6. Analisis

Instagram Insights. Via Buffer.

Nah, sekali waktu, buat kamu yang sudah memindahkan akun Instagram pribadi ke akun bisnis, bisa deh melakukan evaluasi dan analisis terhadap akunmu sendiri.

Ada bagian Insight yang bisa kamu liat yah. Coba lihat, postingan mana saja yang mendapatkan banyak likes atau komen. Lalu analisislah, kira-kira apa yang membuatnya dapat likes atau komen banyak.

Temuanmu bisa menjadi formulamu untuk melakukan hal yang sama lagi ke depannya. Ujilah "teori"-mu ini beberapa kali, sampai kamu menemukan formula melejitkan postingan ala kamu sendiri.

Kalau kamu bisa menemukannya, wah ... udah deh. Siap-siap jadi selebgram yah :D hehehe.



Dont's

1. Terlalu banyak posting

Oke, meskipun kamu perlu membuat postingan secara konsisten, tapi sebaiknya hindari terlalu banyak juga sih.

Apalagi kalau sama semua sampai berapa akun. Ini biasanya terjadi kalau kita dapat job ya. Kadang dikasih brief dengan foto ataupun caption yang sudah jadi, tinggal posting. Nah, ini mesti hati-hati nih. Yang kayak gini, bisa banget disemprit sama Instagram.

Soal hashtag aja kadang saya ubah-ubah susunannya, meski hashtag yang dipakai itu sama. Hal ini untuk menghindari caption yang sama persis.

Ada beberapa kali kemarin saya dengar kasus, para Instagrammer mengeluh nggak bisa posting ataupun nggak bisa nulis caption. Saya sih menduga, hal ini berkaitan dengan perilaku kita juga. Saya amati, yang pernah mengalami error-error ini adalah mereka yang sering menerima job di Instagram. Ya, saya nggak mau menghakimi atau gimana sih ya? Mungkin juga observasi saya kurang jauh dan mendalam.

Tapi, ada baiknya berhati-hati jika menerima job. Pastikan tidak ada term & condition Instagram yang dilanggar.


2. Menggunakan bot

Beberapa akun Instagram memanfaatkan bantuan bot untuk membuat komentar otomatis dan mendapatkan pengikut.

Kalau kamu memang mau main Instagram secara profesional and long term, sebaiknya hindari praktik ini. Akan lebih baik jika kamu main Instagram dengan cara senatural mungkin.

Kalau kamu main safe, percaya deh. Mau Instagram mengubah peraturan ataupun algoritme kek apa pun, kamu nggak akan kena efek yang terlalu gimana-gimana.


3. Beli follower

Fake Instagram followers. Via Quora.

Yah, namanya juga usaha. Beli follower juga usaha pan?
Iyalah. Nunggu follower banyak secara natural mah lama. Keburu pengin dapat penghasilan inih.

Wqwqwq.
Well, it's your choice.
Tapi, saya sarankan sih, jangan.

Karena apa yang didapatkan secara instan, biasanya juga enggak bertahan lama. Begitu juga follower. Lagian, keliatan atuh kalau follower fake semua. Hahaha.
Kalau saya sih--terus terang--ya malu, kalau ketahuan. Semacam mempertaruhkan harga diri :)) Pun, dikira kali ahensi bodoh banget kali, sampai nggak bisa tahu kalau followernya fake semua? Hahaha.

Ya, tapi kembali lagi. Ini pilihan.

"Aku beli follower, dan jobku banyak tuh!"

Ya, silakan. Pilihan.



Nah, itu dia 9 (6 dos dan 3 dont's) hal dalam mengelola akun Instagram secara profesional. Semua balik lagi ke pemilik akun--yaitu kamu--sebagai content creator.

Menurut saya, it's all about creativity.
Kamu-kamu yang kreatif pastilah bertahan lebih lama--meski jalannya juga barangkali lebih panjang--ketimbang mereka yang hanya mengandalkan sensasi dan semua yang instan-instan.
You will get the value.

Jangan pernah meragukan dirimu sendiri deh pokoknya.

Well, sekian artikel yang sangat panjang ini :)) semoga bermanfaat.


Hae, Gaes! Lagi di tengah-tengah saya me-rewrite buku Sukses Membangun Toko Online, yang dulu pernah diterbitkan Stiletto Book tahun 2014. Terus, lagi ngabsen, produk-produk apa saja sih yang sekarang bisa di-bisnisonline-kan?

Letsee. Mulai dari makanan, baju, pernak-pernik, aksesori, alat-alat hobi, sampai komoditi besar seperti tempat tinggal alias hunian pun sekarang bisa dijual secara online.

Nggak heran sih. Menurut data rilisan wearesocial, tahun 2019 ini, diproyeksikan jumlah pengguna internet di negara kita bakalan menembus 175 juta orang atau sekitar 65,3% dari total jumlah keseluruhan. Penetrasi internet pun meningkat sekitar 13% dari waktu sebelumnya.

Hal ini menjadi bukti internet tak lagi sekadar kebutuhan tersier, tetapi sudah bergeser ke posisi kebutuhan utama. Coba sekarang siapa yang lebih panik kalau kehabisan kuota ketimbang kehabisan uang di dompet? Hahaha. Saya! Cashless sih masih bisa pakai kartu debit, atau Gopay, atau OVO. Kalau kehabisan kuota? Beugh. Mati gaya bok! :)))

Internet memang dapat membantu kita untuk memenuhi segala kebutuhan sehari-hari. Misalnya dalam hal pencarian informasi hingga berbelanja semua kebutuhan.

Makanya sekarang tuh kayak udah lifestyle aja gitu buat rangorang untuk punya "hidup kedua" di internet. Yenggak? Kayaknya setiap orang tuh sekarang selalu punya virtual life, selain real life. Bukan nggak mungkin juga, nanti lama kelamaan, setiap orang bakalan punya bisnis online-nya masing-masing.

Dan di virtual life ini juga termasuk kegiatan jual beli. Karena itu, muncullah berbagai macam situs jual beli untuk berbagai barang, misalnya situs buat beli baju bahkan sampai laman jual beli rumah. Dan nggak cuma dijual di situs aja, banyak juga yang memanfaatkan media sosial sebagai lapak bisnis jual beli rumah ini lo.

Karena perkembangan yang luar biasa inilah, makanya saya diuber-uber lagi untuk naskah bukunya. Hahaha. Doain aja lancar lagi yah.

Nah, kembali lagi ke bisnis online.
Kalau bisnis online yang lain--yang kecil-kecil semacam crafting atau aksesori--gitu sih sebenarnya sudah cukup common prosesnya ya. Pembeli pesan, transfer, penjual kirim. Tapi khusus untuk kegiatan jual beli rumah online ini memang butuh proses yang spesial, kalau menurut saya. Setidaknya, pada proses transaksinya memang lebih ribet, yekan?

Tapi perkembangan sekarang ini menarik. Biasanya kan setelah melakukan pencarian secara online, calon pembeli akan melakukan survei langsung. Menariknya, beberapa tahun lalu hanya sekitar 20 sampai 30% orang saja yang mencari rumah dijual dengan memanfaatkan internet. Tapi kini, sekitar 95% orang sudah beralih ke cara online. 

Yes, gaes, you read it right! 90% transaksi jual beli rumah sekarang dilakukan secara online! So, jelas kan ya, bagaimana peluangnya sektor ini di beberapa tahun mendatang? Pastinya kondisi tersebut sebenarnya memberi banyak keuntungan juga bagi para sales serta agent properti online. 

Memang, apa saja sih keuntungan yang bisa diraih dengan jual rumah online?

Inilah 3 keuntungan yang bisa kamu dapatkan dengan jual rumah lewat online

1. Lebih hemat biaya

Jika dulu memasarkan rumah dijual secara konvensional butuh cetak brosur yang banyak agar bisa menjangkau lebih banyak calon pembeli, kini dengan cara jual rumah online kamu hanya perlu mengupload iklan di satu situs, lalu iklannya sudah bisa dilihat oleh jutaan pasang mata. Belum lagi kalau didukung dengan promosi media sosial yang bisa edan-edanan itu.

Ditambah, memasang iklan di situs jual beli rumah biasanya tidak berbayar alias gratis! Jauh lebih hemat biaya bukan daripada harus cetak brosur yang pada akhirnya juga akan dibuang oleh orang, yekan?


2. Teknologi virtual reality

Tak hanya biaya 0 Rupiah, seiring dengan kemajuan zaman maka pertumbuhan teknologi juga kian masif.

Salah satunya produk dari pertumbuhan teknologi yang bisa diterapkan buat jual beli rumah ialah teknologi virtual reality, yang memungkinkan orang untuk secara virtual merasakan bagaimana atmosfer serta keadaan lingkungan sekitar rumah dijual yang bakal dibeli.

Jadi calon pembeli bisa menilai apakah iklan jual beli rumah itu memang sesuai serta cocok dengan pencarian serta kebutuhan plus bujet calon buyer.


3. Bisa dipantau secara real time

Dulu, saat menggunakan brosur kamu tidak tahu seberapa banyak orang yang membaca atau malah langsung membuang sesaat setelah mereka menerima lembaran tersebut. Berbeda dengan jual rumah online, kamu bisa terus memantau berapa banyak orang yang sudah melihat, sudah klik serta tertarik dengan penawaran.

Buyer pun dapat langsung meminta kamu buat mengirimi info lebih banyak apabila mereka memang merasa butuh.



Nah. Jadi, gimana? Tertarik nggak untuk mencoba jual rumah lewat online? 

Saya sendiri sekarang juga lagi merintis bisnis di bidang ini lo, joinan sama keluarga. Doain lancar yah. Amin!


Sudah bikin konten tertulis yang cetar? Sudah juga bikin konten visual yang apik; image-image yang bercerita juga video yang keren? Sudah cukup? Hmmm. Mungkin belum. Mau cobain bikin konten interaktif?

Yang kek apa tuh, konten interaktif?
Konten interaktif itu adalah konten yang membuat pembaca langsung terlibat gitu. Misalnya polling, kuis, dan sebagainya itu loh.

Bisa emang?
Bisa banget.

Yes, konten interaktif termasuk salah satu konten yang bisa banget menarik perhatian target audience, dan bisa "memaksa" mereka untuk tinggal lebih lama di blog kita. Nah, ini nih yang bisa menurunkan angka Bounce Rate.

Sudah tahu kan, kecenderungan perilaku para pembaca online? Mereka itu kalau mau baca, nggak mau lama-lama, maunya cepet, tapi fully informed, langsung tersolusikan tanpa perlu baca lama-lama.

Ya, kek gitulah, karakter pembaca online.

Nah, konten interaktif ini bisa jadi salah satu cara untuk "memaksa" mereka untuk tinggal lebih lama.

Meski konten interaktif ini menjadi salah satu jenis konten "primadona" lantaran bisa menarik pembaca, tapi teteup ya, sifatnya suplemen alias tambahan saja. Konten utama kita tetap pada tulisan. Jadi, jangan sampai, posting cuma berupa embed polling tanpa ba bi bu. Kita mesti berpikir secara keseluruhan. Beri konten irresistible berupa tulisan, tambahkan konten visualnya, terus tambahin lagi konten interaktif. 

Sejujurnya saya juga belum pernah coba sendiri nih, konten-konten interaktif ini. Tapi kemarin sempat saya kumpulkan pas saya masih mengasuh portal mamah-mamah muda itu, demi untuk menambah kekayaan jenis konten yang disajikan. Tapi ya gitu deh, nggak sempat dipakai.

Hokeh, sebelum saya sedih lagi :)) mari balik ke topik yah.

Jadi, ketimbang sourcenya terbuang percuma karena hanya ngendon di Trello saya, maka mendingan kan saya share aja di sini. Siapa tahu ada yang mau cobain di blog. Nanti kalau benar ada yang cobain, boleh colek saya dan kasih pendapatnya ya. Saya kan kepo. Hehehe. Nanti entah saya tambahin di sini, atau bikin artikel baru lagi, kita lihat saja. Ok?

Ok. Dan, ini dia.

3 Jenis Konten Interaktif yang Bisa Ditambahkan di Blog

1. Polling



Mau bikin polling di dalem blog kamu? Bisa nih, pakai ini. Easypolls

Cara menambahkan Easypolls juga gampang banget.
Buat akun, masukkan pertanyaan-pertanyaanmu, beri beberapa opsi, dan pilih desain serta warna. Udah, itu aja!

Kalau sudah lengkap semua, kamu akan bisa lihat kode yang bisa disematkan. Jajak pendapat yang kamu buat dapat disematkan di salah satu halaman artikel di blog kamu, atau kamu dapat menautkan ke homepage.

Easypolls gratis untuk digunakan, tetapi halaman utama polling akan menampilkan iklan banner di bagian bawah. Nggak apa-apalah. Nggak terlalu mengganggu juga.


2. Online quiz


Ada yang suka ikut online quiz lucu-lucuan itu enggak sih? Kek yang sering ada di Buzzfeed, atau situs-situs sebangsanya. Yang kek, "Which Spice Girl Are You?", atau "How Minnesotan Are You?", "How Much Do You Know about Tacos?" gitu loh.

Ngerti kan?

Kamu juga bisa bikin loh.

Ada beberapa tools sih yang direkomendasikan. Salah satunya, Qzzr. Gampang banget nih, bikin pertanyaan-pertanyaannya, desainnya juga oke. Bahkan kamu dapat menambahkan gambar bekgron sendiri, ataupun nambahin gambar untuk setiap opsi multiple choice.

Nah, dulu saat saya masih ngurusin portal mamah muda itu, Qzzr ini memang ada opsi free account. Sehingga saya pernah coba, meski belum diaplikasikan ke situsnya.

Tapi sekarang sudah enggak ada produk gratisan lagi. Jadi berbayar. Tapi kita bisa free trial 14 hari. Ya, kalau sekali doang bisa sih. Hahaha. Cukup itu mah 14 hari buat kuis. Wqwqwq. Habis itu, ga usah dipakai lagi. *dikeplak, ngajarin nggak bener*

Tapi ada kok tool quiz maker lain yang free. Salah satunya Flexiquiz. Hanya saja, keknya Flexiquiz ini enggak bisa embed di blog. Paling-paling kita bisa bikin kuisnya di TKP, lalu sematkan tautan di artikel. Jadi, kurang okelah kalau buat Bounce Rate yak.

Well, coba deh nanti saya riset lagi (dan mungkin juga nyobain) tools quiz maker yang lain.
Will be updated upon nanti yah.


3. Kalkulator Online



Mungkin kamu pernah nyobain kayak kalkulator simulasi KPR, atau kalkulator kalender cina yang online gitu?

Nah, ini nih tools-nya.

Kamu bisa pakai Calculoid.

Dengan Calculoid, kamu dapat membuat halaman kalkulator khusus yang dapat memproses banyak titik input untuk menghasilkan hasil. Kamu dapat, misalnya, menunjukkan kepada pelanggan berapa banyak uang yang mereka hemat untuk beralih ke pencahayaan LED berdasarkan jumlah perlengkapan, tagihan daya bulanan, dan jam mereka menyalakan lampu.

Ya pokoknya kek Excell deh, asal kita sudah punya rumusnya, maka akan mudah untuk dibikin deh kalkulatornya.

Nah, untuk pakai Calculoid ini memang ada akun gratisannya, tapi ya gitu deh terbatas banget. Kalau yang berbayar, bisa langsung disetting untuk menerima online payment, yang gratisan enggak. Bisa dieksplor lebih jauh di bagian Pricing yah.

Oh iya, dan soal currency. Sepertinya saya baru liat euro sama dollar aja. Nggak liat rupiah dalam opsinya. Boleh dicek aja deh, kalau ada yang mau coba yah.

Next, kalau ada alternative to Calculoid, dan saya sudah coba, saya akan update lagi.



Yep, internet adalah tempat yang pada dasarnya interaktif. Mengapa menjadikan kontenmu hanya satu arah? Sepertinya, di era berikutnya, konten interaktif bakalan lebih berkembang. Tools-nya saya kira juga akan bertambah. Kita lihat saja.

Konten interaktif dapat membawa lebih banyak nilai tambah kepada audiens dan strategi konten. Kamu dapat menggunakannya untuk memulai dialog, mengenal pembaca blogmu secara lebih dekat, sambil menghibur mereka dan memberi informasi. Keren kan?

So, apakah kamu sudah siap bereksperimen dengan konten interaktif dalam blog kamu?



Masihkah Optimasi SEO Layak Dilakukan di Tahun 2019?



Guest post Masihkah Optimasi SEO Layak Dilakukan di Tahun 2019? ini ditulis oleh Zai Z untuk CarolinaRatri.com


Mendekati akhir Desember 2018 atau sekitar 3-4 bulan sejak blog saya pertama kali meluncur di pertengahan bulan Juli, trafik yang berhasil saya peroleh di blog ternyata baru bisa menyentuh angka 20 sampai 55 pengunjung per hari. Trafik ini tentu sangat kecil untuk ukuran blog yang sudah berusia paling tidak satu kuartal.

Namun mengingat selama itu saya jarang sekali melakukan riset keyword dan optimasi SEO pada hampir seluruh artikel yang saya publikasikan, ditambah juga saya termasuk jarang sekali blogwalking, otomatis size trafik tersebut bagi saya masih merupakan sesuatu yang wajar.

Memangnya berapa juga sih jumlah trafik yang bisa saya harapkan di blog saya sementara saya tidak benar-benar melakukan riset keyword dan optimasi SEO?


Lalu, Saya Mencoba Melakukan Optimasi Artikel SEO 


Ketika masuk di bulan ke-5 saya mulai deh fokus hanya membuat artikel yang benar-benar dapat langsung menarik trafik ke blog. Dan untuk mewujudkan hal tersebut, saya pun menentukan empat syarat penting yang harus dipenuhi oleh setiap artikel yang akan saya buat, yaitu:
  1. Bebas menggunakan kata kunci apa saja selama bisa menarik trafik
  2. Harus menyasar kata kunci dengan persaingan yang rendah: 10 – 100, atau 100 – 1K pencarian per bulan. 
  3. Menghindari membuat artikel dengan kata kunci yang banyak ditarget oleh situs-situs besar, seperti situs media online, website perusahaan, blog dengan DA yang tinggi (maxmanroe, panduanim, sugeng), dan lain-lain. 
  4. Terakhir, kualitas artikel yang saya buat harus lebih baik dari artikel yang sudah masuk di halaman pertama. Termasuk juga harus teroptimasi SEO dengan baik. 

Nah, setelah melakukan riset sana sini, saya akhirnya menyimpulkan untuk membuat artikel dengan 5 kata kunci berikut, yakni:
  • Lomba debat bahasa Indonesia
  • Faktor penyebab kemiskinan
  • Cara mengatasi kemiskinan
  • Dampak kemiskinan, dan
  • Contoh debat bahasa Indonesia
Kemudian, saya buat artikelnya. Saya share ke media sosial. Dan saya blogwalking hingga seluruh artikel tersebut berhasil menempati halaman pertama Google dalam waktu yang cukup singkat. Alhasil, trafik blog saya pun meningkat menjadi 500 – 3000 pengunjung per hari.

Dan trafik tersebut paling banyak di-generate oleh artikel dengan kata kunci “contoh debat bahasa Indonesia” yang per harinya rata-rata mampu memberikan trafik 1000 - 2000 pengunjung per hari.

Namun ironisnya, kondisi tersebut ternyata hanya bisa saya nikmati beberapa minggu saja. Setelah Google mengupdate algoritma mesin pencarinya pada tanggal 12 Maret yang lalu (March 2019 Core Update), 4 dari 5 artikel tersebut peringkatnya tiba-tiba menurun secara drastis. Tenggelam.

Entah ke halaman berapa-nya Google saya kurang tahu. Namun yang pasti my blog traffic is also plummeted. Naas. 


Algoritma Google akan Senantiasa Berubah




Sejak dulu sebetulnya saya sudah tahu kalau Google akan selalu mengupdate dan menyempurnakan algoritma mereka setiap saat. Dan hal ini dilakukan agar mesin pencari tersebut bisa sesempurna mungkin memberikan jawaban yang paling sesuai dari setiap searching yang dilakukan oleh para penggunanya.

Misal, jika ada yang mencari tentang “bagaimana cara menjadi youtuber sukses”, maka yang muncul di halaman pertama haruslah hanya daftar situs dengan artikel yang memberikan kiat-kiat mengenai cara menjadi seorang youtuber yang sukses. Bukan artikel yang membahas tentang “pengertian youtuber”, “cara menjadi youtuber”, “tips menghasilkan uang dari youtube”, atau artikel-artikel lainnya yang tidak relevan.

Maka dari itu, Google pun selalu menyesuaikan algoritma mereka berdasarkan beberapa kriteria tertentu. Seperti nilai Domain Authority (DA) & Page Authority (PA) dari sebuah situs, jumlah backlink berkualitas yang mengarah ke sebuah situs, kualitas konten yang dimiliki, kecepatan load dari sebuah website/blog, dan lain-lain.

Nah, dari semua kriteria penentu peringkat situs yang digunakan oleh Google pada algoritmanya, menurut saya cuman ada 3 (tiga) yang paling menentukan. Mari kita lihat.


3 Penentu Utama Peringkat Google

1. Backlink

Backlink adalah faktor utama yang menjadi tolak ukur apakah blog/website kamu layak memperoleh space (ruang) di halaman pertama google. Semakin banyak backlink yang situs kamu dapatkan, semakin besar pula peluang situs kamu masuk ke halaman pertama Google.

Namun ingat, backlink di sini maksudnya adalah backlink yang dofollow dan berkualitas. Artinya backlink yang diperhitungkan oleh algoritma Google dan berasal dari situs-situs yang terpercaya (memiliki DA & PA yang tinggi).

Lantas bagaimana cara supaya kita bisa memperoleh backlink yang berkualitas? Jawabannya adalah berikut ini:
  • Buatlah konten yang berkualitas. Karena hanya konten yang seperti inilah yang mampu menarik pemilik situs lain untuk memberikan link dofollow yang mengarah ke situs kita.
  • Lakukan guest post. Tapi jangan lupa untuk menitipkan link. 
  • Jika kamu punya bujet, cobalah pertimbangkan untuk melakukan kerja sama sponsored post di situs/blog orang lain. Strategi yang satu ini sangat cocok dilakukan bila situs kamu merupakan situs perusahaan. 


2. Domain Authority (DA)

Sejatinya nilai Domain Authority yang dimiliki oleh sebuah website itu merupakan gambaran dari backlink berkualitas yang didapatkan oleh website tersebut. Jadi, semakin banyak backlink berkualitas yang diperoleh oleh situs tersebut, maka bisa dipastikan akan semakin tinggi pula nilai Domain Authoritynya.

Selain karena backlink, saya percaya Domain Authority juga dipengaruhi oleh usia dari situs tersebut. Artinya, semakin lama situs tersebut aktif, maka semakin tinggi pula nilai DA yang dimilikinya. Jadi, sama seperti artis yang membangun popularitas mereka, blog juga membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk membangun otoritasnya di jagad perbloggeran.

Lagi pula, everything takes time, fellas!

3. Page Speed

Setiap orang pasti benci dengan situs yang lalod alias lambat loading. Google pun demikian.

Google also hates slow websites. Like literally.

Makanya, jangan heran jika kita menemukan ada blog di luar sana yang peringkatnya masih di bawah dari blog lain pada kata kunci tertentu, padahal blog tersebut memiliki konten yang jauh lebih bagus daripada blog yang di atasnya. Kemungkinan besar itu terjadi karena pengaruh dari page speed blog tersebut yang cenderung lambat.

Okelah. Saya mengerti.

Anggaplah hal tersebut memang benar. Page speed benar-benar memiliki pengaruh pada peringkat situs kita di SERP (Search Engine Result Pages).

Lalu, apa sih yang bisa kita lakukan? Jawabannya sederhana: Tingkatkanlah kecepatan website kita.

Caranya?

  • Lakukan analisis. Sebelum buru-buru meng-uninstall plugin atau tema di blog Wordpress (jika kamu menggunakan Wordpress), atau meresize/menghapus gambar yang ada di situs kamu, dan lain-lain, sebaiknya analisislah terlebih dahulu di mana letak masalah yang memperberat loading website kamu. Dan hal ini bisa kamu lakukan dengan mengunjungi halaman berikut ini: Google Page Speed.
  • Lakukan perbaikan. Tentunya sesuai dengan data dan saran yang kamu peroleh sebelumnya di langkah pertama. It’s so obvious, isn’t it? 
  • Upgrade paket hosting. Jika kamu sudah melakukan sejumlah perbaikan tetapi website kamu tampaknya masih loading juga, maka silakan upgrade paket hosting kamu ke paket yang lebih baik. Bahkan kalau perlu pilihlah paket dengan layanan dedicated server. Sekali lagi kalau perlu. 

Lantas bagaimana dengan SEO On-Page?

Menurut saya strategi On-Page SEO ini tetap akan memiliki pengaruh, tetapi kayaknya tidak begitu signifkan seperti pada waktu sebelum-sebelumnya. (Wah, begitukah? Adakah tautan yang bisa mendukung kesimpulan ini? - Carra)

Dan hal ini sudah beberapa kali saya buktikan lewat sejumlah artikel yang sangat teroptimasi di blog saya. Bayangkan, artikel saya yang berjumlah lebih dari 2000 kata dengan optimasi keyphrase yang normal dan tersebar merata di seluruh bagian artikel, ada gambarnya, ada videonya, ada link outbond dan inboundnya, hingga custom meta descriptionnya saja, peringkatnya masih juga kalah dengan artikel dari situs lain yang jumlah katanya masih di bawah 1000 kata.

Dan semua itu terjadi gara-gara Domain Authority (DA) blog saya yang memang masih di bawah dari DA-nya situs tersebut. (Sekali lagi, adakah referensi yang mendukung tentang fakta ini? Kalau ada, nanti disusulkan yah, dan akan aku tambahkan. - Carra)
 

Jadi, apakah strategi optimasi SEO masih layak dijalankan di Tahun 2019?


Jawabannya adalah Iya untuk Off-Page SEO, tetapi tidak terlalu untuk On-Page SEO.

Strategi Off-Page SEO seperti memperbanyak jumlah backlink berkualitas (link building), melakukan promosi di media sosial, guest posting, membangun popularitas, hingga sabar menunggu Domain Authority meningkat dengan sendirinya seiring dengan umur blog kita adalah cara yang paling efektif dalam meningkatkan peringkat halaman situs kita di SERP.

Sementara untuk strategi On-Page SEO, menurut saya hanya bisa memberikan sedikit pengaruh terhadap peringkat halaman situs kita di SERP. Dia tetap berpengaruh, tetapi sedikit.

Adapun strategi On-Page SEO yang penting untuk diperhatikan adalah:

  1. Judul – Apakah mengandung kata kunci yang ditarget? (tidak harus berurutan), Apakah judulnya menarik perhatian orang untuk mengklik?
  2. Permalink – Apakah mengandung kata kunci yang ditarget? (tidak harus berurutan) 
  3. Konten – Apakah mengandung kata kunci yang ditarget? (tidak harus berurutan dan juga tidak harus banyak). Sebisa mungkin cukup di tiga bagian saja, yaitu awal paragraf, isi, dan penutup. Atau tambah satu lagi di salah satu heading (H2) 
  4. Heading – Apakah kontennya mengandung heading? 
  5. Gambar – Apakah kontennya mengandung gambar? Apakah alt text gambarnya mengandung kata kunci? Apakah size gambarnya tidak terlalu besar? 


Voice Search: Trend SEO Terbaru yang Perlu Kamu Perhatikan

Selain podcast, voice search alias metode pencarian melalui suara di Internet nampaknya juga mulai populer dilakukan seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia. Bahkan menurut prediksi dari sejumlah pihak, 50% dari total pencarian di internet pada tahun 2020 semuanya bakal dilakukan via suara. Artinya, suka tidak suka strategi SEO yang sekarang ini masih sering kita lakukan haruslah perlahan-lahan diubah menyesuaikan dengan tren voice search yang sedang terjadi.

Nah, kenyataan inilah yang kemudian membuat saya semakin pusing. Cepatnya perubahan yang terjadi di industri SEO adalah fakta yang harus saya (dan teman-teman blogger yang lain barangkali [kecuali blogger artis/publik figur]) harus hadapi demi bisa tetap bersaing mendapatkan trafik organik.

Cukup rempong kan? lumayan deh ... Hehehe .

Oke.

Sekarang lanjut.

Apabila voice search benar-benar akan menjadi tren SEO di masa depan, lalu apa yang harus kita lakukan sebagai blogger agar tetap bisa beradaptasi?

Saya tidak tahu jawabannya. Tetapi teman saya, Brian Dean dari backlinko, tahu jawabannya. Dan ini dia:
  1. Kecepatan halaman situs atau page speed harus ditingkatkan
  2. Website sebaiknya menggunakan https (SSL) 
  3. Buatlah konten yang didalamnya mengandung jawaban dari suatu pertanyaan yang jelas dan singkat, serta dalam bentuk cuplikan. (Umumnya berjumlah 29 kata) 
  4. Tingkatkan Domain Authority dan Page Authority situs kamu 
  5. Buatlah konten yang memicu orang lain untuk melakukan share alias membagikannya 
  6. Buatlah konten yang panjang. (Saran: tulislah konten dengan panjang minimal 2.312 kata) 
  7. Optimasilah SEO konten kamu sehingga bisa berada di posisi tiga besar SERP. (sumber: “Halaman (situs) yang berada di peringkat 3 hasil teratas di desktop cenderung mendominasi hasil pencarian suara” – backlinko) 
  8. Optimasilah SEO konten kamu sehingga bisa muncul dalam bentuk featured snippet di halaman pertama google. (sumber: “40,7% hasil pencarian suara diambil dari featured snippet” – backlinko) Apa itu featured snippet? silahkan googling. 
  9. Buatlah konten yang mudah dibaca dan dipahami. (sumber: “Hasil pencarian suara rata-rata ditulis pada level (pemahaman) membaca (anak-anak) kelas 9. Menerbitkan konten yang sederhana dan mudah dipahami dapat membantu SEO voice search (situs kamu).” – backlinko)

Kesimpulan

SEO adalah industri dengan perubahan yang sangat cepat. Artinya, strategi-strategi optimasi yang biasanya berhasil kita lakukan pada 3 atau 5 tahun yang lalu, hari ini bisa saja sudah tidak lagi efektif. Tidak lagi berlaku. Dan tergantikan dengan strategi-strategi yang baru.

Zai Z, Gorontalo.


Catatan Carra


Wow, sungguh artikel yang panjang ya, pemirsa. Hahaha. Ini kalau di saya, saya bikin 3 artikel tuh. Hihihi.

So, anyway, bagaimana menurut kamu, bloggers? Setujukah kamu dengan apa yang diuraikan di atas? Saya pribadi, ada yang yes, tapi ada beberapa hal yang masih saya pertanyakan juga.

Salah satunya soal hubungan Domain Authority dan peringkat Google, dan optimasi SEO On Page yang hanya berpengaruh sedikit pada algoritma Google.

Tapi yasudahlah. Saya enggak akan mendebat sih. This stage belongs to Zai, at the moment :) Lagi pula, bagus juga untuk bisa mengetengahkan sudut pandang yang lain, meski agak berbeda ;)

Saya cuma mau menambahkan satu hal aja, yang mungkin kelupaan.

Sekarang Google sudah memperhitungkan faktor E.A.T--yaitu Expertise, Authority, dan Trustworthiness. Kebanyakan blog dan situs yang kemarin menurun drastis trafficnya setelah ada update--sependek pengamatan--adalah situs-situs yang kurang menonjol dari sisi E.A.T.


Via Impression.


Ada baiknya menyimak sedikit tentang update algoritma Google Florida 2 ini di beberapa trusted websites, salah satunya di sini, yang ada juga penjelasan mengenai hubungan DA dengan ranking Google :)

Blog ini adalah salah satu yang mendulang keuntungan dari update algoritma yang baru, karena trafficnya nggak turun meski ada update Google maupun Moz kemarin. Optimasi SEO yang saya lakukan utamanya ada pada SEO On Page, yang saya lakukan seiring sejalan dengan Off Page (yang justru lebih santai). And of course, I always work on irresistible contents.

Demikian, catatan dari saya.
Thanks alot, Zai, atas guest postnya yang memberikan sudut pandang lain terhadap SEO.

Yang pengin kirimkan guest post juga kayak Zai Z, silakan lo! Kirim aja ke email mommycarra@yahoo.com, lalu colek saya di medsos (Twitter, Facebook, Instagram, di mana pun) kapan saja.


Konten adalah 'jiwa' pada sebuah situs--termasuk di dalamnya adalah blog. Dan, konten berupa tulisan sampai saat ini masih mendominasi dunia maya, meski konten berupa video dan foto semakin banyak dan lebih digemari.

Kata salah satu mentor saya, mau sampai kapan pun, konten berupa tulisan masih tetap dibutuhkan, meski video sudah mengambil alih. Seenggaknya sebagai caption, kita masih tetap akan butuh skill copywriting yang mumpuni.

Makanya profesi seorang content writer masih jalan, meski sekarang sudah mulai sedikit terdesak oleh keberadaan para content creator. Ya gimana enggak terdesak, content writer bayarannya receh banget, sist. Beda sama para pembuat video--apalagi yang hasil karyanya memang profesional banget--yang bisa mengantongi uang sebanyak 7 digit sekali bikin.

Cuma ya, tetap ada kok yang memilih untuk menjadi content writer, dan berada di balik banyak tulisan atau artikel ini. Saya, contohnya. :)))

Cuma (lagi) kalau mau bisa menghasilkan banyak, ya kerjanya mesti militan. :)) Hard truth it is. Tapi, emang ada kerjaan yang gampang: sesuai passion, santai, dibayar mahal, bisa wifian gratis, bisa sambil streaming film?
Yhakali ada, bisa info saya. Saya mau.

So, kadang seorang content writer memang butuh untuk bisa cepat menghasilkan tulisan. Saya sudah pernah menulis tentang menghasilkan 20 artikel seminggu. Tapi coba kita bahas lagi.


5 Langkah menulis artikel secara cepat

1. Tentukan Tujuan

Yang pertama kali mesti ditentukan adalah tujuan artikel yang hendak ditulis.
Ada beberapa elemen yang mesti segera ditetapkan:

  • Pembacanya siapa, dan seperti apa?
  • Pesan apa yang dibawa oleh artikelnya?
  • Setelah pembaca selesai membaca artikel nanti, harapannya mereka akan seperti apa? Atau, merasa bagaimana?
Ketiga elemen tujuan artikel di atas nantinya akan menentukan gaya bahasa yang kita pakai, poin-poin apa saja yang jangan sampai lupa tertulis dalam artikel, dan emosi seperti apa yang harus dimasukkan ke dalam artikel.



2. Bank Ide yang Kuat

Untuk bisa nulis artikel secara cepat--katakanlah 1000 kata sejam beres--maka kamu harus didukung oleh bank ide yang kuat.

Saat kamu duduk, buka laptop, baru mikirin mau nulis apa, itu berarti kamu sudah membuang waktu sekian menit untuk menulis.

Jadi, agar proses menulismu lebih efektif dan efisien, kamu harus tahu dulu apa yang ingin kamu tulis sebelum mulai menulis artikel.

So, manfaatkan segala hal yang bisa digunakan: Evernote, Feedly, Trello, notes, voice notes, apa pun untuk mengumpulkan ide sembari beraktivitas sehari-hari. Atau kalau enggak, buat waktu untuk sekadar brainstorming di jam-jam atau hari-hari tertentu. 

Kamu juga bisa melihat data-data statistik dalam blog, untuk mencari ide. Lihat ke Google Analytics, Buzzsumo, atau skrol media sosial untuk lihat trending topic.



3. Langsung Buat Kerangka Berupa Poin-Poin

Ada yang suka bikin draf tulisan di MS Word, terus baru dikopi ke notepad, terus baru kopi lagi ke blog? (Please jangan tanya, kenapa mesti kopi dulu ke notepad, please T__T)

Saya juga begitu.
Tapi kalau waktunya nggak mepet. Itu memang langkah paling ideal.

Namun, saya lebih sering begini:

  • Langsung bikin kerangka di dasbor blog. Kerangka ya, bukan menulis dari pembuka terus lanjutin ke bawah. Kerangka berupa poin-poin. Kayak tulisan ini saya buat langsung ke poin dulu: 1. Tujuan 2. Bank ide 3. Kerangka 4. Singkirkan gangguan 5. Aturan dan seterusnya. Tanpa opening dan closing.
  • Kembangkan masing-masing poin, beri penjelasan. Jaga supaya nyambung antar poinnya.
  • Poin selesai, tulis opening. Bikin yang hooking.
  • Lalu tahap berikutnya closing, bikin kesimpulan.
  • Baru kemudian garnishing, masukkan pendukung-pendukung visualnya.
Dengan cara begini, proses menulis saya lebih cepat ketimbang kalau saya menulis urut dari opening, lalu poin-poin, baru closing--yang kadang malah bikin mandek di tengah-tengah karena ilang mood :))

Kalaupun bentuknya bukan listicle yang berupa poin-poin, maka saya tuliskan dulu subheading-subheadingnya. Itu sebagai kerangka awal. Terus langsung kembangkan saat itu juga. Selanjutnya sama, opening dan closing belakangan.


Baru kemudian kalau tulisan sudah jadi, baru saya kopas ke MS Word as a backup.

Oh, satu lagi.
Jangan menulis sambil ngedit. Sudah pasti nih, prosesmu akan terganggu dan lebih lambat. Jadi, bablas dulu aja. Saat sudah selesai proses menulis, baru kamu bisa balik lagi ke atas untuk baca ulang secara cepat. Lalu perbaiki hal-hal yang perlu diperbaiki.


4. Singkirkan Semua Gangguan

So, mau nulis fokus dan cepat? Jangan sampai terdistraksi.

Itu adalah hal pertama yang memang menjadi penghambat proses menulis adalah adanya pengganggu-pengganggu ini. Apa saja sih yang bisa jadi pengganggu proses menulis? Nih, ada nih artikel di Stiletto Book nih. Silakan disimak deh ya.

Nah, coba singkirkan ketujuh-tujuhnya ya, kalau mau beneran fokus menulis.

Ciptakan lingkungan yang tenang dan jauh dari hal yang dapat mengalihkan perhatianmu. Jika tidak membutuhkan internet, matikan saja WiFi dan data internetmua. Matikan pula notifikasi gadget kamu supaya tidak terganggu.

Jika kamu harus menambahkan gambar ke blog, maka tandai dulu dengan tulisan seperti [TAMBAHKAN GAMBAR DI SINI] sehingga kamu dapat terus menulis tanpa gangguan. Baru mencari gambar yang pas nanti kalau sudah selesai menulis.


5. Punyai 'Aturan' Baku Sendiri

Saya punya semacam guideline sendiri untuk menulis di blog ini. Misalnya seperti:

  • Untuk subheading, formatnya bagaimana
  • Untuk foto, formatnya bagaimana, ukuran standar berapa, alignnya bagaimana.
  • Jeda antar paragraf atau subheading, berapa kali enter.
  • Kalau di Wordpress yang sudah pakai Gutenberg, ada spacer, besarnya berapa.
Semua sudah ada ketentuan sendiri, dan selalu saya pakai standar yang sama. Karena berulang saya pakai, hingga saya hafal sendiri dengan standar-standar itu. Sehingga sekarang kalau nulis, jarinya udah bergerak sendiri aja mengatur semuanya sembari nulis.

Proses menulis artikel yang sistematis akan memandu kamu dalam menyajikan konten blog secara cepat. Kamu nggak perlu mikir lagi setiap kali bikin konten baru. Satu-satunya hal yang mesti kamu lakukan hanyalah menulis konten.

Bagaimana cara mencari 'aturan' baku untuk blog sendiri ini?

Well, untuk menulis konten yang bagus, kamu harus menyajikannya agar mudah bagi pengunjung untuk membaca dan memahami. Betul?

Jadi, mulailah dari sini: Formula seperti apa yang harus dipenuhi agar menghasilkan konten yang enak dibaca? Mungkin artikel saya di Indoblognet ini bisa membantu.

Lalu, lihatlah setiap postingan blog kamu dan cari polanya. Semakin banyak pola yang terdeteksi, semakin mudah untuk mendeteksi gaya penulisanmu.



Nah, itu dia beberapa langkah menulis artikel secara cepat. Tentu saja, lepas dari kualitas topik artikelnya sendiri ya. Tapi kalau di saya sih, dengan langkah-langkah tersebut, saya bisa bikin listicle populer sepanjang kurang lebih 1000 kata, dalam waktu satu jam saja.

Oh iya, ada lagi nih.

Sudah pernah nyobain Speech to Text belum?
Ada fiturnya sih di Google, jadi biasanya juga sudah terinstal di hape masing-masing. Tapi yang berbasis web pun ada.

Seperti Speechnotes.co.

Saya baru mau coba sih. Nanti saya update kapan-kapan kalau sudah dapat hasilnya yah.

Membuat konten baru dengan cepat adalah kebiasaan yang berkembang seiring waktu. Jika kamu berkomitmen untuk mengeluarkan konten baru setiap hari, meskipun itu hanya selama 15 menit pada beberapa hari, pada akhirnya kamu akan menjadi seorang yang profesional.