• Home
  • About
  • Daftar Isi
  • Konten Kreatif
    • Penulisan Konten
    • Penulisan Buku
    • Kebahasaan
    • Visual
  • Internet
    • Blogging
    • Marketing
    • User
    • WordPress
  • Media Sosial
    • Facebook
    • Twitter
    • Instagram
  • Stories
    • My Stories
    • Featured
    • Freelancer
  • Guest Posts
Diberdayakan oleh Blogger.
facebook twitter instagram pinterest Email

Carolina Ratri



Guest post 5 Kiat Sukses Menjadi Freelancer ini ditulis oleh Indri Ariadna untuk CarolinaRatri.com


Mengutip dari wikipedia, freelancer atau pekerja freelance adalah istilah yang sering digunakan untuk seseorang yang bekerja secara mandiri dan tidak mempunyai kewajiban untuk bekerja dalam waktu yang lama (jangka panjang) untuk satu klien.

Saya sudah menjadi freelancer di Upwork mulai dari tahun 2016. Gak terasa, sudah hampir 3 tahun ^^

Meski belum terlalu banyak pengalaman, tapi sampai dengan tulisan ini terbit, saya sudah bekerja selama 792 jam dan ada juga beberapa fixed rate kontrak. Total sampai sekarang ada 43 job. Total pendapatan $9K+

Jadi, bolehlah ya kalau saya memberi sedikit saran buat kamu yang punya cita-cita atau keinginan untuk bekerja dari rumah.

Nah, berdasarkan pengalaman pribadi, menjadi seorang freelancer itu tidak mudah. Sangat tidak mudah. Apalagi freelancer di Upwork yang notabene saingannya dari seluruh dunia. Serius …

Tapi layak untuk ditekuni karena pendapatan yang dihasilkan juga lebih sip karena berbasis dolar.
Apalagi kalau nilai tukar dolar sedang tinggi … wuihh dari selisih nilai tukarnya aja mayan banget ^^

Memang benar bahwa bekerja dari rumah itu menyenangkan, bebas gak ada yang mengatur plus gak ada yang mengawasi. Karena pekerjaan sebagai freelancer tidak terikat tempat dan waktu, hal ini bisa menjadi keuntungan tersendiri buat kalian yang menginginkan kebebasan dalam bekerja.

Semakin padat dan macetnya lalu lintas yang bisa membuat stres, juga bisa menjadi alasan lebih memilih bekerja dari rumah dibandingkan harus ngantor setiap hari. Daripada setiap hari stres ya kan?

Buat ibu-ibu rumah tangga, tidak harus merasa bersalah karena meninggalkan anak dan keluarga untuk ngantor setiap hari nine to five.

Tapi ternyata, bekerja dari rumah juga penuh distraksi dan tantangan. Kapan-kapan deh saya curhat lagi hahaha.

Nah, khusus buat kalian, saya mau berbagi kiat sukses sebagai freelancer pemula.
Apa saja?

Ini nih 5 kiat sukses menjadi freelancer pemula


1. Buat portfolio

Portfolio ini ibarat etalase jualan untuk memajang produk apa saja yang kamu jual. Dalam hal ini, portfolio berfungsi untuk pamer memajang skill-skill atau kemampuan atau keahlian apa saja yang bisa kamu jual sebagai freelancer.

Kamu ahli desain grafis? Atau ahli menerjemahkan bahasa? Ahli me-manage media sosial? Ahli dalam hal data entry? Appointment setter? Content writing? SEO? Upload semua file-file hasil pekerjaanmu untuk di jadikan portfolio. Kamu bisa menggunakan aplikasi Canva atau Picmonkey untuk membuat portfolio yang menarik.

Selain portfolio, jangan lupa untuk membuat deskripsi profile. Jadi, selain menampilkan portfolio yang lengkap, beri perhatian juga untuk profile. Buat deskripsi profile yang menarik, berisi keahlian apa saja yang kamu tawarkan, harga servis, berapa lama biasanya kamu bisa menyelesaikan satu job, software atau aplikasi apa saja yang kamu kuasai.

Banyak yang bertanya ke saya via email dan komen di blog, kalau belum punya portfolio bagaimana? Kan, belum pernah dapat job?

Ehmmmm… kreatif dikit dong, Adek.
Kalau misalnya kamu seorang desain grafis, bisa kan ya membuat contoh logo, mock up, brosur tanpa harus dapat job lebih dulu? Ya kan?

So, portfolio itu bisa dibuat sendiri, jangan menunggu dan mengandalkan dapat job dulu baru buat portfolio. Itu pemikiran yang salah.


2. Bisa di hubungi dengan mudah

Salah satu hal yang paling penting dan krusial adalah, sebagai freelancer kamu harus mudah di hubungi oleh calon klien.

Pastikan kamu mempunyai email, Skype atau WA (WhatsApp). Jangan sampai job melayang karena kamu sulit bahkan gak bisa di hubungi oleh klien.


3. Bergabung dengan marketplace freelance

Salah satu cara “menjaring” klien adalah memiliki network yang tepat. Kalau kamu ahli desain grafis, akan lebih oke kalau kamu bergabung dengan 99designs.

Ada banyak marketplace freelance yang bisa kamu ikuti seperti Fiverr, Guru.com, Upwork, dan lain-lain. Kalau kamu lebih memilih bekerja sebagai freelancer lokal, bisa bergabung dengan Sribulancer atau Projects.co.id.

Pilih marketplace yang sesuai dengan skill yang kamu tawarkan ya!


4. Menjadi spesialis

Bukan hanya dokter saja, freelancer ternyata juga harus mempunyai spesialisasi tersendiri. Baru-baru ini Upwork meluncurkan semacam peraturan baru terkait dengan spesialisasi job.

Kalau dulu kita bisa pasang semua skill (general) di Upwork, sekarang ada tab-tab tersendiri untuk masing-masing skill.

Misalnya, saya mempunyai skill sebagai virtual assistant, juga punya skill sebagai content writer. Nah, skill virtual assistant ada semacam page atau laman tersendiri dan skill content writer juga ada tab tersendiri.

Jadi kita harus mengisi servis dan portfolio sesuai dengan skill-skill tersebut.

Menurut Upwork, supaya klien lebih mudah memilah data dari para freelancer yang submit proposal. Kalau dulu general aja cukup, sekarang mulai di spesialisasi.

Saya sih setuju dengan pengerucutan atau spesialisasi jasa/skill ini. Karena semakin kita belajar dan bekerja di bidang yang sama terus menerus, lama-lama kita akan menjadi ahli. Semakin mudah mendapat job dan klien juga semakin mudah menemukan freelancer yang sesuai dengan spesifikasi yang di harapkan.


5. Don’t give up



Grafik di atas adalah data dari Statistika menggambarkan, bahwa pendapatan yang dihasilkan Upwork dari para freelancer-nya dalam 9 bulan pertama 2017 dan 2018, berdasarkan wilayah (negara)asal freelancer.

Bisa di lihat, pendapatan tertinggi yang di dapat Upwork berasal dari freelancer USA, kemudian freelancer dari India dan Filipina. Sisanya berasal dari freelancer selain dari negara tersebut, Indonesia salah satunya.

Seperti yang saya bilang di atas, menjadi freelancer itu tidak mudah. Apalagi kalau saingannya worldwide, dari semua negara. Di tambah lagi, bahasa yang dipakai adalah bahasa Inggris, bukan bahasa sehari-hari yang kita pakai. Beda hal dengan orang-orang India dan Filipina.

Tapi jangan patah semangat, memang di awal memulai akan terasa berat tapi seiring waktu, skill dan pengalaman bertambah dan itu bisa menjadi nilai tambah kita sebagai freelancer.

So, don’t give up!


Catatan Carra

Menjadi Freelancer - A Dream Job?



Saya pernah baca, di tahun 2020 *CMIIW* jumlah freelancer di Amerika saja akan ada 43% dari total jumlah pekerja (usia produktif) di sana. Itu berarti separuh kurang sedikit angkatan kerja zaman now memilih untuk kerja freelance, atau minimal lebih memilih remote working.

Mengapa hal ini terjadi?
Saya mengamati 2 hal: batasan ruang dan waktu ternyata bisa membuat produktivitas dan kreativitas manusia itu jadi nggak berkembang (saya ngalamin sendiri), dan bagi pihak perusahaan sendiri, mereka juga lebih leluasa memilih SDM-SDM yang memang berkualitas, yang sesuai dengan kriteria kebutuhan mereka.

Akibatnya, ada 2 hal juga sih, sependek pengamatan saya. Yang pertama, mau nggak mau kita jadi terpacu untuk mengembangkan diri lebih baik, karena (2) persaingan kerja menjadi semakin kompleks dan luas.

Tentu nggak cuma itu aja sih. Tapi, kebayang kan, hubungan sebab akibat ini? Yes.

Saya sering dapat curhatan. Banyak yang pengin jadi freelancer, karena sebabnya fleksibilitas dan kedengarannya lebih mudah dapat uang. Tapi ya gitu, disuruh nyiapin portfolio, malah bingung. Kan belum dapat job, katanya.

Saya dulu pernah nyiapin nggak kurang dari 100 model desain kartu nama, kartu undangan, dan brosur, buat jual diri, FYI. Masih ada tuh di blog portofolio desain saya.

Siapkan dirimu juga untuk beberapa fakta buruk menjadi freelancer. :))
Kalau sudah tahu faktanya, terus coba lakukan kiat dari Mbak Indri di atas.

And then ... good luck.

Terima kasih, Mbak Indri untuk guest post-nya.

Yang pengin kirimkan guest post juga kayak Mbak Indri, silakan lo! Kirim aja ke email mommycarra@yahoo.com, lalu colek saya di medsos (Twitter, Facebook, Instagram, di mana pun) kapan saja.
Share
Tweet
Pin
Share
3 comments
[Guest Post] Menulis Review Produk Kesehatan: Kalau Mau Sesat, Jangan Ajak Pembaca!


Guest post Menulis Review Produk Kesehatan: Kalau Mau Sesat, Jangan Ajak Pembaca ini ditulis oleh Widyanti Yuliandari untuk blog CarolinaRatri.com


Menulis produk review bagi saya bukan sekadar berhenti di tujuan berbagi pengalaman, lalu selesai. Ada tanggung jawab besar yang saya rasakan, terutama ketika mereview produk kesehatan. Yang saya maksud produk kesehatan dalam tulisan ini bukan hanya obat, suplemen dan semacamnya. Namun bisa juga produk lain yang penggunaannya terkait atau memengaruhi kesehatan--makanan dan minuman diet misalnya.

Saya pribadi merasa harus lebih berhati-hati dalam mereview, karena produk dalam kategori ini termasuk memiliki pengaruh secara langsung pada kesehatan, bahkan keselamatan.

Saya belajar menulis review produk semacam ini sejak 2014. Berkali-kali melakukan trial, dan akhirnya saat ini saya punya berapa ketentuan dalam menulis review produk seperti ini. Ini bukan keputusan akhir. Setiap saat saya merasa oke-oke saja dan bahkan wajib selalu meninjau ulang keputusan terkait apa yang saya tulis, dan bagaimana menuliskannya di blog.

Jadi, bisa saja ke depan formula ini bakal berubah lagi.



Selektif Memilih Produk yang Direview

Mbak, jangan samakan dengan Mbak Wid yang ngeblog cuma buat sekadar beli lipen. Saya ini lo, ngeblog buat beli beras, buat makan keluarga! Macam mana harus pilih-pilih segala? 

Meski hanya percakapan imajiner, tapi inti dari alasan di atas itu sangat sering dikemukakan dalam perbincangan di beberapa grup blogger, ketika kami membahas soal selektivitas terkait apa pun dalam ngeblog.

Saya tidak akan menyarankan teman-teman mengikuti standar saya dalam memilih produk untuk direview. Saya tidak boleh begitu. Saya tahu, bagi kebanyakan blogger persyaratan saya memang terlalu banyak. Tapi sekadar berbagi sudut pandang tentu sah-sah aja.

Misalnya saja.
Susu formula, saya enggak mau review. Produk bergluten, juga saya enggak mau review. Obat- obatan dan suplemen yang tidak saya butuhkan, juga enggak akan saya review. Produk atau kosmetik dengan label “whitening” pun enggak mau (kecuali yang natural). Makanan instan beraditif, juga saya hindari.

Dan masih paaaanjang daftar produk yang sebisa mungkin tidak saya review.

Kenapa? Demi kenyamanan saya sendiri aja. Ini terkait juga dengan pola konsumsi saya sehari-hari. Saya tidak ingin menjadi reviewer yang harus berpura-pura.

Nah, khusus produk terkait kesehatan, paling aman memang seenggaknya cek dahulu, apakah produk memiliki memiliki nomor registrasi BPOM? Saya biasanya mengecek di web resmi BPOM.

Dulu saya punya pengalaman terlanjur menyanggupi review produk yang setelah saya cari ternyata tidak terdaftar di BPOM. Klien berargumen, karena produknya berasal dari luar, maka tidak perlu registrasi BPOM. Sementara yang saya ketahui, meski produk impor, kalau memang akan diedarkan di Indonesia, tetap harus registrasi, dong.

Tapi, saya juga enggak saklek banget.

Suatu saat saya pernah membaca keluhan seorang teman pelaku bisnis bahwa ribet banget ya, ternyata ngurus registrasi BPOM. Menurutnya, semua persyaratan itu sangat susah dipenuhi oleh mereka yang usahanya masih sekelas home industry.

Nah, karenanya saya kemudian mengambil jalan tengah. Ada juga produk tidak teregistrasi BPOM yang saya review. Tapi dengan syarat, saya sudah menggunakannya dalam jangka waktu cukup lama sebelum saya menulis review produk itu.

Bagi saya, selektif memilih produk untuk direview sangat penting. Produk-produk yang terkait dengan kesehatan--terutama suplemen, obat, dan semacamnya itu--terkait banget dengan kesehatan dan keselamatan jiwa pembaca blog teman-teman nantinya.

Menurut saya, kita enggak bisa berdalih, “Ya pembaca dong yang kudu smart!”
Bukankah kita memosting di blog kita. yang berarti kendali penuhnya ada pada tangan kita sendiri? Jadi, wajar dong kalau kita seyogyanya turut bertanggung jawab.


Sekali Lagi Tentang Kejujuran

Jujur, ini sebenarnya kunci utama dari menulis review produk.
Produk apa pun yang direview, ya tetap saja aspek kejujuran kudu dipegang. Tetapi sekali lagi, karena produk dalam kategori ini sangat terkait dengan kesehatan dan keselamatan, maka aspek kejujuran benar-benar super penting!

Contoh.
Sehabis minum suplemen X, lalu terasa lambungnya perih. Ya jangan diam-diam bae. Yang harus dicari tahu adalah apakah penyebabnya? Apakah produk ini memang tidak dianjurkan untuk yang punya masalah lambung?

Maka sebaiknya kita berikan penjelasan dalam review produk yang kita tulis, agar pembaca yang memiliki masalah lambung berpikir kembali sebelum mencoba produk ini.


Kalau Mau Sesat, Sesat Sendiri Aja!

Saya prihatin banget kalau nemuin review produk yang seolah-olah mengajak pembaca untuk abai terhadap suatu upaya sehat, karena udah ada suplemen Nganu yang bisa meng-counter jika terjadi risiko akibat perbuatan kurang sehat tadi.

Gilaks! Sungguh saya pengin misuh rasanya. Makanya saya selalu mengingatkan diri untuk tidak melakukan hal yang sama.

Contohnya gimana sih Mbak?
Oke contoh jelasnya begini misalnya.

Doh... namanya kuliner enak itu susah banget ya ditolaknya. Sedihnya ini umur udah mulai merambat naik ke usia cantik, cin! Makan kolesterol kebanyakan, hasilnya bodi ngambeg. Eh tapi, eyke punya produk andalan nih. Abis kuliner enak-enak full kolesterol, langsung ajah nenggak ini. Enggak pakai acara bodi ngadat deh, cin. Jadi bisa tetap puas-puasin makan itu kuliner yang bergajih full kolesterol yang emang rasanya endyang bambang gulindang. Bikin nagih dan ndak pengin berhenti mengganyang.

Kenapa saya bilang sesat? Enggak usah dipikir njlimet ajah, praktik di atas udah kelihatan ngawurnya.

Menurut saya, begini lo, kalau mau ngawur ya ngawur untuk diri sendiri saja. Jangan mengajak pembaca untuk melakukan kesesatan yang sama.

Kalau mau baik, baru boleh deh mengajak orang lain. Bukankah tujuan awal untuk ngeblog adalah untuk share yang baik-baik? Bukankah kita enggak kepengin besok ada pembaca yang nggeblag gara-gara ngikutin provokasi ngawur kita?

Lagi pula, tujuan dari menulis review produk ini kan “hanya” memperkenalkan produk. Paling pol, kalau ini berbayar, adalah membagi pada publik pengalaman positif menggunakan produk.

Jadi tidak pakai poin menyesatkan tetap bisa kok ya. Kalau ngaku creator konten ya kudu bisa kreatif mengolah, dong.


Mengingatkan Pembaca 

Alangkah baiknya dalam menulis review produk juga ada bagian yang mengingatkan, bahwa kesan atau reaksi yang diceritakan itu adalah murni berdasarkan pengalaman pribadi menggunakan produk yang direview.

Mengingat kondisi orang berbeda-beda, sangat mungkin reaksi di orang lain juga berbeda dengan yang kita rasakan. Jadi, saya merasa perlu mengingatkan pembaca untuk membaca dengan saksama aturan penggunaan, indikasi, kontra indikasi dan segala informasi yang tertera pada kemasan produk.

Jadi seperti itu, teman-teman kiat sederhana saja yang berusaha saya ingat selalu untuk diterapkan. Mungkin ada teman-teman yang punya kiat atau tips untuk hal yang serupa?

Mari cerita di sini.




Catatan Carra


Reaksinya Carra habis baca tulisan Mbak Wid

Job review memang rempong ya, cyuint? =))

Kadang maunya kita, sebagai so-called-influencer, adalah memenuhi KPI dari klien. Klien happy, harapannya besok lagi kita pun dipakai lagi. Begitu profesionalnya kita, hingga kemudian kita malah melupakan bagian terpenting dalam job kita itu, yaitu pembaca.

Kalau sama klien kita ada tanggung jawab profesional, nah kalau ke pembaca, kita ada tanggung jawab moral.

Nggak usahlah soal menulis review produk kesehatan--yang berkaitan langsung dengan keselamatan hidup kita ya. Ikut ngereview produk kecantikan aja, saya mikir dua kali. Kenapa?

Alasan terbesar adalah (selain saya gengges liat muka sendiri) saya merasa enggak punya banyak pengetahuan di bidang tersebut. Sebagai seorang yang ditunjuk menjadi influencer, saya kan harus punya bekal product knowledge dong ya, secara logika? Kalau ada yang nanya-nanya, seharusnya saya bisa menjawab dengan bener, bukan sekadar, "Oh, coba cek aja ke websitenya, yang lebih lengkap." Atau, "Oh, tanya aja langsung ke call center-nya."

Yailah, gitu doang mah, nggak usah hire saya jadi influencer juga bisa. Itu namanya lepas tanggung jawab.

Begitu kita di-hire sebagai influencer--baik dengan cara buzzing di medsos atau menulis review produk di blog--berarti kita sudah menjadi kepanjangan tangan marketing dari brand tersebut.
Ada beban moral di situ, yaitu menyebarkan informasi yang bener kepada orang lain. Efek dari informasi yang kita sebarkan, ya menjadi tanggung jawab kita. Whether itu efek positif ataupun negatif.

Jadi gimana dong?

  1. Pintar-pintarlah memilih produk yang direview. Sesuaikan dengan keseharian. Nggak perlu semua job review diambil. Ntar makin kemaruk, jadinya makin serakah. Trust me, I've been there before, dan jadinya blunder.
  2. Pilih kalimat senetral mungkin saat menulis review produk. Jangan menganggap semua produk itu sempurna, nggak ada cacatnya. Pasti ada sisi negatif dari berbagai hal kan?
  3. Saat menulis review produk, tempatkan pembaca sebagai prioritas utama. Bukan kita. Jadi, put ourself in reader's shoes. Rasakan, kalau dibaca sama pembaca ini tulisan gimana ya?
  4. Jangan lepas tanggung jawab, kalau ada yang nanya ya dijawab. Makanya penting untuk punya product knowledge mengenai produknya juga. Meski kemudian mau lempar ke call center, ya main yang cantik. Jangan terlalu keliatan kalau cuma karena malas ngejelasin.
  5. Put your heart in your writing. Jangan nulis cuma karena dikejar deadline or pesanan. Keliatan banget.
Terima kasih, Mbak Wid, tulisannya yang menyentil.
Semoga semakin bisa bikin teman-teman blogger semakin bijak dan pintar dalam menulis ya.
Sehingga rezeki yang diterima juga semakin berkah.
Amin.

Yang pengin kirimkan guest post juga kayak Mbak Wid, silakan lo! Kirim aja ke email mommycarra@yahoo.com, lalu colek saya di medsos (Twitter, Facebook, Instagram, di mana pun). Biar sayanya ngeh :)) Kadang suka bebersih email asal hapus aja nih soalnya.

Tapi maaf ya, saya nggak bisa menyediakan kompensasi selain ucapan terima kasih, dan kapan-kapan kalau pada ke Jogja saya traktir. Gitu aja =))
Share
Tweet
Pin
Share
6 comments


Guest post Tip Sukses Monetasi Blog dengan Kursus Online ini ditulis oleh Purwanto untuk blog CarolinaRatri.com


Saya mengamati selama ini ada dua monetasi yang menjadi andalan blogger Indonesia, yaitu Adsense dan job dari brand. Masih lumayan jarang yang menerapkan metode monetasi lain seperti affiliate marketing, menjual jasa, dan menjual produk.

Di sini saya akan berbagi sedikit pengalaman saya membuat dan (hampir) menjual kursus online. Semoga bisa menjadi inspirasi bagi kamu untuk memonetasi blog.

Kursus online awalnya sudah saya buat dan saya persiapkan pemasarannya. Sudah dapat calon peserta yang mau ikut kursus berbayar saya. Namun suatu saat hosting website saya bermasalah dan data hilang semua.

Setelah itu saya pun membuat lagi kursus online dari nol, namun sekaranag saya gratiskan, bisa kalian akses di blog saya Pambarep.



Mengapa Kursus Online?

Saya pernah membaca bahwa jenis-jenis monetasi blog yang banyak jumlah itu bisa dikelompokkan menjadi 5 kelompok besar, yaitu iklan, jual jasa, jual produk, affiliate marketing, dan flipping site (jual beli website).

Sejauh ini sudah mempraktikkan monetasi blog dari iklan (Adsense, content placement), jual produk (ebook), affiliate marketing (amazon), dan jual jasa (SEO, web design). Suatu saat saya bertanya-tanya, apa sih metode monetasi yang bisa dibangun dengan cepat dan menghasilkan dengan cepat pula? Dan itu sesuatu yang belum pernah saya coba sebelumnya?

Setelah riset sana-sini jawaban yang saya temukan adalah kursus online. Tapi memang kursus online bisa dibuat dengan cepat? Ya, dan bisa juga dijual dengan cepat pula. Nanti saya tunjukkan caranya.


Persiapan

Mulai dari sini kita akan belajar membuat kursus online. Saya mengambil contoh dari pengalaman saya dulu membuat kursus online SEO.

1. Menentukan Tema

Apa sih bidang yang kamu kuasai yang bisa kamu ajarkan ke orang lain? Kalau saya SEO.

Kamu bisa memilih tema kursus online sesuai bidang yang kamu kuasai misalnya: blogging, memasak, parenting, desain grafis, public speaking, menulis, kesehatan, olahraga, dan banyak lagi.

Setelah menentukan tema, tanyakan:

  • Masalah apa sih yang bisa diselesaikan oleh kursus online-mu?
  • Apa manfaat yang bisa kamu berikan kepada orang lain lewat produkmu?

Kursus online SEO saya akan:

  • Memandu pada orang yang awam agar menguasai dasar SEO secara lengkap dan mudah dipraktikkan.
  • Memperkenalkan metode SEO yang Google friendly dan telah teruji di lapangan.
  • Menghindarkan orang awam dari teknik-teknik SEO tidak berguna (atau bahkan berbahaya).
  • Membantu mereka yang ingin mencari penghasilan sebagai pekerja SEO.
  • Menyediakan sebuah sistem yang nyaman dan sederhana untuk mereka yang ingin mempraktekkan SEO sendiri.


2. Customer Avatar

Setelah itu tentukan target pasarmu, siapa saja yang membutuhkan produkmu?

Ini calon customer saya:

  • Blogger yang awam SEO.
  • Mereka yang ingin mengoptimasi sendiri website mereka dengan SEO.


3. Tentukan Nama Produk

Nama kursus online-mu harus memberi gambaran jelas isi produkmu dan apa hasil yang akan didapatkan oleh peserta kursusmu dalam jangka waktu tertentu.

Misalnya:

  • Belajar & Praktek SEO Dasar Dalam 120 Hari
  • Page One dan Trafik Naik dalam 4 Bulan
  • 100 Hari Menuju Top 10 Google SERP


4. Sub Judul Produk

Sub judul produk ini opsional, fungsinya untuk lebih menjelaskan, menekankan nama, atau judul kursus online-mu. Juga untuk menambah nilai jual produkmu. (semacam tagline, mungkin ya? -Carra)

Contohnya, yang masih nyambung dengan nama produk di atas:

  • Bagaimana Menguasai SEO dan Mendatangkan Trafik Organik Meski Kamu Awam Sekalipun
  • Website Anda Tak Lagi Sepi Pengunjung, Penjualan Naik, Anda Bahagia
  • Panduan SEO dan Penerapannya Langkah Demi Langkah


5. Berikan Bonus

Ini banyak dilakukan oleh para kreator kursus online yang sukses. Fungsinya juga untuk menambah nilai jual.

Contoh bonus:

  • Panduan Menjual Jasa SEO Parsial (Micro Service) pada SEO Agency.
  • Diskon 40% Keywords Research Tools.
  • Panduan Penerapan SEO Untuk Blog, Website Perusahaan, dan Online Shop.
  • Bagaimana Saya Meningkatkan Trafik Organik dan Penjualan Toko Sepatu Hingga 360%.


6. Product Support (After Sales)

Peserta kursus online-mu bisa jadi benar-benar awam akan bidang yang kamu ajarkan. Kenyataannya setelah belajar ada saja yang masih bingung dan butuh bantuan untuk hal-hal tertentu. Jadi, berilah mereka after sales service berupa support sehingga mereka benar-benar bisa memetik manfaat dari apa yang kamu ajarkan.

Support bisa berupa sebuah Facebook Group tertutup, sehingga kamu dan peserta kursusmu bisa berinteraksi dan saling berbagi pengalaman.

Ini juga berguna sekali jika ke depan kamu ingin menjual produk baru lagi. Mereka sudah membeli produkmu, percaya padamu, menganggapmu sebagai “pakar”, merasakan manfaat ajaranmu. Mereka telah menjadi pasarmu, sehingga lebih mudah bagimu untuk menjual lagi sesuatu pada mereka.



eCourse Outline

Sekarang kita akan membuat kerangka kursus online. Ini penting ya, agar kita mempunyai pegangan yang jelas saat mulai membuat materi kursusnya. Kita juga bisa mengecek sejauh mana progress kerja kita.

Ini dulu (sebagian) outline kursus SEO saya:




Worksheet/handout adalah dokumen yang saya lampirkan untuk memudahkan peserta menerapkan apa yang sudah mereka pelajari. Bisa juga berupa tugas yang harus mereka kerjakan.



Membuat Kursus Online (Metode Biasa)

Nah, dalam tutorial ini, kita akan belajar membuat kursus online di website berbasis WordPress. Plugins yang kita gunakan adalah LearnPress.

Metode ini bakalan membutuhkan banyak waktu untuk membuat materinya. Pun, materi harus lengkap dulu sebelum kursus online bisa dijual. (Harus siap kerja keras ya, cyint! -Carra)

Kalau kamu tekun, akan butuh waktu sekitar 1 - 8 minggu untuk menyelesaikan kursus online-mu hingga siap dijual.

Untuk caranya, supaya tulisannya nggak terlalu panjang dan juga lebih jelas, kamu bisa melihatnya langsung di video berikut--mohon maaf audionya banyak gangguan. Silakan saja langsung diklik ya.

1. Membuat Kursus Online di Website Berbasis WordPress Bagian 1

2. Membuat Kursus Online di Website Berbasis WordPress Bagian 2


Menjual Kursus Online

Kursus online-mu sudah jadi, kini saatnya untuk menjualnya. Kamu bisa mulai berpromosi di Facebook, di blog lain dengan cara guest post, juga mulai membangun email list.

Khusus untuk membangun email list, tutorial membuat email list untuk website berbasis WordPress ini bisa kamu cari di Google. Sudah cukup banyak yang membuat tutorial semacam itu. Langkah selanjutnya adalah menarik orang agar mau mendaftar di email list kita. Untuk awalnya pakailah metode “meminta”.

Berikut sedikit tip menarik orang agar mau mendaftar di email list kita

1. Kontak teman-temanmu di WA, Facebook, Forum, dll. Tanya mereka apakah mau dimasukkan ke email list kamu.

Misalnya, “Bro, aku bikin email list nih, nanti aku promo produkku sendiri di situ sama sesekali sharing sesuatu/tulisan. Boleh nggak nama sama emailmu aku masukin?”

Percaya atau tidak, cara ini akan membuatmu mendapatkan cukup banyak email subscriber dengan usaha minimal.

2. Membuat opt-in.

Kaidahnya, kamu membuat sebuah artikel yang di dalamnya ada opt-in yang menawarkan bonus dengan imbalan orang mau subscribe ke email list.

Aturan utamanya adalah tema artikel dan tema bonus haruslah sama, harus. Misalnya:

  • Artikel tentang optimasi on-page, maka bonusnya On-Page SEO Checklist
  • Artikel tentang pembuatan konten, maka bonusnya Kriteria Artikel yang SEO Friendly

Bonus yang diberikan biasanya berupa file PDF yang segera bisa di-download setelah orang subscribe. Tutorial membuat opt-in ini juga sudah banyak yang membuat, silakan cari. Setelah mempunyai subscriber, kamu bisa mulai mempromosikan produkmu.

Nah, kamu pasti bisa mencari cara lain lagi untuk bisa membuat orang mau mendaftarkan emailnya dalam email list. (So, start working on it now! -Carra)




Membuat Kursus Online (Metode Cepat)

Metode ini memungkinkanmu mendapatkan penghasilan bahkan sebelum kursus online-mu jadi.

Saya akan memberi contoh bagaimana menjual dan membuat kurus SEO dalam sebulan.


Langkah Pertama

Persiapkan kerangka materi kursus dan bagi menjadi 4 bagian: Riset Keywords, On-Page SEO, Konten, Link Building.


Langkah Kedua

Promosikan kursusmu, contoh sederhana (nyetatus di Facebook):

“Saya 15 hari lagi akan membuka kursus SEO (live) yang akan saya bagi menjadi 4 tahap. Jadi selama 4 minggu setiap Sabtu jam 8 malam saya berbagi secara langsung materi:
Sabtu I: Riset Keywords
Sabtu II: On-Page SEO
Sabtu III: Konten
Sabtu IV: Link Building
Setiap materi akan memakan waktu 1-1,5 jam. Jadi jangan lupa siapkan camilan dan minuman kesukaanmu.
Ada biayanya nggak? Ya, ada, murah banget cuma Rp 250.000,-!
Setelah kursus selesai saya akan mengundangmu ke secret Facebook Group agar kita bisa saling berbagi lebih lanjut.
Buruan daftar ya, soalnya pesertanya cuma saya batasi maksimal 20 orang saja. Silakan komentar atau inbox untuk pendaftaran.”

Peserta wajib membayar dulu baru nanti bisa “mengakses” kursusmu. Jadi, kamu sudah mendapat penghasilan bahkan sebelum kursusmu dimulai.


Langkah Ketiga

Buatlah kelas online (Google Hangout, webinar, dan sebagainya), lalu undang para peserta kursusmu. Jadi kamu langsung mengajarkan materi secara live. Jangan lupa pula untuk merekam live class-mu agar nanti bisa kamu gunakan kembali.



Alternatif Lain untuk Menjual Kursus Online

Selain cara di atas ada alternatif lain yang bisa juga kamu coba. Yaitu menjadikan workshop offline menjadi kursus online.

Misalnya saya menjadi pemateri sebuah workshop: SEO untuk Lifestyle Blog. Di workshop saya mempresentasikan materi menggunakan PowerPoint. Materi saya terstruktur tahap demi tahap.

Workshop itu saya rekam dengan 1 atau lebih angle. Selanjutnya saya potong-potong sehingga menjadi beberapa materi yang berurutan.

Lalu saya edit dengan menambahkan judul di setiap video. Tak lupa saya persiapkan worksheet ataupun handout yang diperlukan. Kemudian materinya saya masukkan ke LearnPress dan siap dijual.





Catatan Carra:

Nah, gimana nih, teman-teman? Ada yang kepikiran untuk menjual kursus online? Barangkali yang punya niche blog yang spesifik bisa banget nih mulai dipertimbangkan. Misalnya, mereka yang punya craft blog, mau bikin kelas DIY online? Atau food blog--mau bikin kelas masak online, barangkali?

Saya mengamati, kita--para so-called-professional-blogger--ini memang terlalu tergantung pada produk orang untuk mendapatkan penghasilan dari blog. Kalau nggak ada orang yang nitip, bingunglah kita. Selama ini, kita cuma buka lapak titipan, tanpa mau berusaha menciptakan produk sendiri untuk dijual.

Mengapa? Padahal kalau kita punya produk sendiri untuk dijual itu bakalan lebih everlasting lo, dan kita pun bisa menentukan seberapa besar penghasilan kita sendiri--ya, pastinya tetap dengan memperhatikan berbagai hal lain terkait bisnis itu sendiri ya.

Tapi dengan punya produk sendiri, kita kan nggak bakalan disetir orang. Adanya job bayaran sekian ya sudah, take it or leave it.

Itulah, maunya membisniskan blog, tapi cuma setengah-setengah. You would never go anywhere kalau hanya tergantung pada orang lain sih.

Itu menurut saya.
Nggak tahu kalau menurut Mas Anang.

Makasih, Mas Pur, sudah mau menulis guest post untuk blog yang sedang vakum ini. Lumayan juga nih, saya jadi rada entengan bebannya. Bahaha *ditabok*

Ada yang mau mengirim tulisan guest post juga untuk dimuat di blog ini? Sok, tulis dalam format .docx (margin, font, bla bla bla bebas, nggak usah dipikirin), lalu kirimkan sebagai lampiran email ke mommycarra@yahoo.com.
Saya tunggu ya.
Share
Tweet
Pin
Share
5 comments
Foto by Beyourselfwoman.com


Guest post ini ditulis oleh Lusi untuk blog CarolinaRatri.com


Lusi Tris


Tadinya keputusan blog Beyourselfwoman fokus di niche DIY (Do It Yourself) dan craft itu boleh dibilang sebagai suatu kesalahan besar.

Dahulu blog Beyourselfwoman membahas bermacam-macam topik. Paling banyak tentang hubungan sosial dan dunia blogging dengan pilihan kata yang “jleb-jleb”. Pilihan kata-kata yang tajam sangat disukai pembaca dari kalangan perempuan dewasa.

Setelah memutuskan fokus di DIY dan craft, dari blog yang selalu ramai pengunjung, mendadak sepi kayak kuburan. Kalau bukan karena niche ini “gue” banget, pasti sudah males ngeblog dalam suasana sunyi senyap seperti itu.

Sehobi-hobinya ngeblog dan sehobi-hobinya ngecraft, tetap harus ada pertimbangan rasional mengapa bertahan di niche ini meski pageview terjun bebas, yaitu:

  • Punya bahan yang tidak ada habisnya.
    Bahan menulis adalah makanan bagi blog agar tetap hidup. Bahan itu bukan berarti benda seperti kain atau kardus, melainkan tema yang akan dibahas. Blogger crafter itu tidak harus selalu mencipta demi konten tapi juga tidak mungkin hanya obral kata-kata semata. Jika keduanya dikombinasikan, akan menjadi bahan menulis yang tak ada habisnya.
  • Belum banyak yang menggarap niche ini sehingga lebih punya peluang untuk menjadi blog referensi.
    Tidak seperti di luar negeri, crafter Indonesia masih sedikit yang mau ngeblog. Crafter luar negeri tak hanya rajin ngeblog, tapi juga melengkapi diri dengan channel Youtube. Mereka tidak hidup dari pesanan jahit, melainkan dari endorsement, sama seperti beauty blogger atau food blogger. Food blogger tidak harus selalu hidup dari pesanan kue, kan?

Beberapa waktu lalu blog Beyourselfwoman yang sepi ini mendapat kepercayaan sebagai salah satu pengisi acara di sebuah Paint Expo. Coverage-nya luas dan mereka sangat menghargai keberadaan blog Beyourselfwoman di acara tersebut.

Sudah tentu ada imbalannya juga. Tapi, yang paling penting adalah menjalin network baru dengan brand. Harapannya sih untuk jangka panjang.

Kok bisa begitu ya?

Ternyata pihak penyelenggara tidak melihat page view sama sekali, melainkan karena mereka hanya menemukan blog beyourselfwoman sebagai craft blog di Jogja melalui mesin pencarian google.

Nah kan? Tidak ada saingan! Apakah itu saja sudah cukup? Enggak dong! Setelah menemukan blog Beyourselfwoman, mereka melihat ke dalam lagi yaitu interaksi dengan pengunjung. Meski pengunjung sedikit, tapi karena pengunjung tersebut bertanya dengan serius, blog Beyourselfwoman dianggap bisa memberikan pengaruh kepada penghobi craft.

Waktu Carolina Ratri minta saya menulis tentang tips membuat blog DIY dan craft, sejujurnya saya tidak punya tip yang sudah teruji di banyak blog. Tip-tip saya ini baru teruji di blog Beyourselfwoman.

Karena itu, silakan diambil yang paling sesuai saja.

Saya berharap, cerita di atas tadi dan tip di bawah nanti bisa memberikan gambaran kepada  teman-teman yang tertarik dengan niche ini.

5 Tip Memulai Blog DIY dan Craft


Craft Blog: A Superniche. Image via Etsy.

1. Motivasi


Motivasi itu wajib dimiliki jika hendak menetapkan niche, karena ini akan menjadi kegiatan jangka panjang.

Niche tersebut akan mewarnai hidup dan media sosial kita. Kalau tidak ada motivasi, cuma bakal hot di awal saja, lalu melempem. Tiap kita memilih satu niche berarti akan mengorbankan banyak hal. Jadi, sayang kalau cepat menyerah.

Motivasi itu terpulang kepada kebutuhan kita masing-masing sehingga tak perlu mengacu pada tip mana pun.

Kalau motivasi saya sendiri adalah usia. Usia saya sudah tidak muda lagi dengan anak-anak yang beranjak dewasa. Saya harus memiliki sesuatu yang bisa saya kerjakan dengan tenang sampai kapan pun.

Kalau teman-teman lihat channel craft youtube luar negeri, banyak crafter yang sudah nenek-nenek dengan view luar biasa. Enaknya crafter itu karena tidak wajib modal tampang sehingga cocok dengan keseharian saya yang tidak terlalu suka selfie.

Makanya, meski penyajinya sudah nenek-nenek tapi channel-channel tersebut tetap banyak view karena pengunjung tidak butuh tampang kita. Saya bahkan mengidolakan channel menjahit Nancy’s Notion yang sudah stroke sampai beliau meninggal.

Selain itu, sebagai blogger yang sering datang ke event, mungkin 5 tahun lagi saya sudah kewalahan kalau harus mendaftar bareng blogger-blogger muda demi berebut seat untuk  hore-hore di acara pejabat.

Ah, 5 tahun kelamaan! Mungkin 3 tahun lagi sudah terjadi karena dunia blogging itu berkembang cepat. Tiap tahun banyak blogger baru yang pandai menulis, pintar SEO dan tampil percaya diri. Sementara saya semakin lamban dan sulit mencerna perkembangan blogging, utamanya secara teknis.


2. Detoks


Detoks ini adalah bagian terberat.

Yang termasuk di dalam detoks ini adalah event, job dan lomba. Betul! Detoks itu harus dilakukan terhadap semua hal yang menghidupi seorang blogger, makanya saya katakan yang paling berat.

Rasanya sombong banget melewatkan beberapa job karena tidak nyambung dengan niche. Hari gini, cari duit kan susah banget? Kalau fee dari job-job tersebut dikumpulkan, bisa untuk membantu menyediakan menu bergizi tanpa kenal tanggal tua.

Makanya, supaya tidak terlalu sedih, motivasi di atas harus diperkuat.

Ketika sudah memilih sebuah niche, kita harus berani bilang “tidak” terhadap semua yang tidak nyambung dengan niche tersebut. Sama dengan detoks untuk diet berat badan, detoks ini pada mulanya juga sangat menyiksa. Aneh nggak sih kalau tiba-tiba saya menulis tentang susu balita meski saya bisa meminjam anak tetangga untuk keperluan foto produk?

Tapi, untuk menjaga networking, kita tidak bisa juga terlalu saklek terhadap teman, koordinator atau agensi yang sudah kita kenal. Biasanya saya minta waktu untuk memikirkan hubungan produk atau event tersebut dengan blog Beyourselfwoman.

Kalau sudah mentok, tidak ada ide, dengan berat hati saya akan menolaknya baik-baik. Misalnya tentang event produk susu balita tadi masih bisa saya terima, karena yang saya tulis adalah program CSR (Corporate Social Responsibility) di bidang pemanfaatan limbah sehingga berhubungan langsung dengan kategori DIY.


3. Goal


Meski niche itu sendiri sudah fokus, tapi perlu lebih mengerucut lagi dengan menetapkan goal. Superblogger mungkin bisa mencapai semuanya tapi biasanya tidak secara bersamaan. Jadi harus ditetapkan mana yang ingin dicapai lebih dulu.

Untuk craft blog, godaan utamanya adalah jualan hasil karya sendiri, workshop, dan endorsement.

Ya, sebenarnya semua bisa dicapai kok, tapi sulit kalau barengan. Kesulitannya adalah dalam menjaga kestabilan konten. Menulis, memotret, mengedit, dan share konten itu saja sudah kewalahan. Merespon buah dari konten tersebut akan menimbulkan kerepotan baru.

Contohnya saya yang belum terlalu pandai menjahit, memilih mengutamakan membagikan tutorial daripada menjual hasil karya saya. Tahu diri sajalah, enggak perlu melebih-lebihkan kemampuan kita. Sebagai gantinya, pengunjung saya ajak untuk mengikuti perjalanan saya belajar dari tutorial ke tutorial.

Bagusnya, kita memang tidak perlu menjadi pakar lebih dulu untuk menjadi blogger crafter. Yang penting kita punya passion, mau berkarya dan jujur pada pembaca. Memang sih, pada akhirnya saya mendapat pesanan dan endorsement sebagai  bonus terhadap kemajuan yang sudah saya dapatkan.


4. Open


Menjadi pribadi yang terbuka itu penting untuk menghadapi kejenuhan menggarap satu niche. Antara lain dengan siap belajar pada siapa pun, tak takut berbagi ilmu, senang dengan pencapaian crafter lain, dan mau mencoba mewujudkan ide serta saran pengunjung blog.

Beda craft blog dan website kerajinan adalah interaksi.

Sebenarnya blog Beyourselfwoman bukan satu-satunya yang membahas kerajinan Jogja di dunia maya. Banyak website kerajinan di sini yang dibuat dan dikelola secara profesional sehingga secara tampilan dan konten jauh lebih bagus dari blog Beyourselfwoman. Tapi mereka memposisikan diri sebagai pemberi informasi dan etalase.

Craft blog seperti blog Beyourselfwoman ini mengisi kekosongan interaksi tersebut dengan berusaha membangun komunikasi dengan pembacanya.


5. Detail


Detail adalah faktor yang paling menentukan dari konten craft. Jika tidak suka detail, berarti tidak cocok menjadi blogger crafter.

Saya baru menyadari itu ketika memberikan workshop di Paint Expo lalu. Banyak sekali peralatan dan petunjuk yang harus saya persiapkan. Padahal itu hanya untuk workshop satu jam dan sebagian peralatannya sudah disediakan oleh klien. Selama ini, saya hanya merasa kalau untuk mengerjakan satu konten saja  perlu waktu berjam-jam.

Detail tersebut tidak hanya di peralatan, tapi juga di keterangan tutorial.

Statistik pengunjung yang bisa kita dapatkan dari Google Analytics adalah usia dan gender, tapi tidak ada keterangan apakah mereka masih pemula, sudah pakar, atau malah cuma suka melihat karya craft saja.

Supaya aman, sebaiknya semua detail dilengkapi. Pernah seorang pembaca berkomentar putus asa di blog Beyourselfwoman, karena tidak ada foto dan ukuran gap untuk membalik jahitan. Padahal itu perkara sepele bagi di blogger yang suka menjahit tapi penting banget untuk pemula.

Analoginya sama dengan resep masakan yang mencantumkan bahan garam secukupnya, tapi pembaca tetap bertanya berapa sendok. (Iya, ini gue banget setiap kali mau belajar masak dan ngadep resep =)))  --Carra)

The ultimate tip dari semua tip di atas adalah tabah.

Soal platform, template dan SEO, silakan mengaduk-aduk blog ini. Tip blogging terbaik ada semua di blog Carolina Ratri. (Uhuk!!!  --Carra)

Masalahnya, yang mengetikkan keyword seputar craft dalam bahasa Indonesia itu tidak banyak, alias tidak banyak yang mencari.

Meski demikian, ada optimisme di depan sana. Semakin banyaknya pecinta home decor  belakangan ini membuat peluang craft blog semakin baik. Para pecinta home decor membutuhkan banyak inspirasi untuk membenahi dan menghias rumah. Craft blog tinggal menyodorkan ide-idenya atau bahkan menjual karyanya.

Demikian tip membuat blog dengan niche DIY and craft ala blog Beyourselfwoman.
Semoga bermanfaat.

---

Catatan Carra

Masih banyak yang nggak punya nyali untuk fokus niche. Image via Kotausaha.


Memutuskan untuk fokus di satu niche memang sepertinya merupakan ketakutan terbesar bloger Indonesia, setelah ngasih eksternal link ke artikel referensi ya. LOL.

Setiap kali, saya selalu mendengar, bahwa teman-teman belum mau fokus ke satu niche (saya belum menyebutkan superniche), dan biasanya dengan alasan:

  • Takut kehabisan bahasan 
  • Takut rezeki terhambat, karena enggak semua job bisa diterima
  • Takut pageview turun drastis
Mengikuti perjalanan Mbak Lusi yang mulai fokus di niche crafting di tulisan di atas, saya mau enggak mau terkekeh sendiri, lantaran saya sepertinya juga ikut andil menyemangati Mbak Lusi untuk rebranding blognya.

Kayaknya saya juga pernah bilang ke Mbak Lusi, pageview kemungkinan akan turun drastis. Tapi jangan salah, craft blog nggak ada lawannya di sini. 

Itu persis dengan pengalaman saya, dari redcarra.com yang menulis apa saja, lalu rebranding ke blog ini yang fokus ke tip-tip menulis konten. Pageview tinggal seperempat, bahkan sampai sekarang pun belum sebanyak redcarra.com yang 2000-an view setiap hari.

Tapi ya memang ada yang namanya superniche. Saya pernah bahas soal ini di artikel alasan saya memisahkan blog per niche-nya.

So, saya cuma mau lagi-lagi mengutipkan yang satu ini.

Relevancy to the readers, not quantity of visitors, has become the new measurement of a successful blog.

Being relevant cuts through the noise, makes connecting easier and builds authority quicker. Once you have authority you can achieve just about anything.

Sudah terbukti pula pada Mbak Lusi. Pageview memang sedikit, tapi beliau menjadi satu-satunya craft blogger di Jogja dan kemudian digandeng oleh brand untuk menjadi pemateri dalam sebuah workshop.

Brand tersebut tak mungkinlah mencari pemateri dari kalangan blogger medioker. Sehingga ya ... enough said-lah ya. Who has the authority of craft blogger?

Nggak perlu koar-koar dan self-proclaimed, cukup fakta yang berbicara ;)


Mau nulis guest post untuk blog ini juga?
Kirim aja artikelmu dalam format .doc terlampir melalui email ke mommycarra@yahoo.com ;)
Share
Tweet
Pin
Share
6 comments

Guest post ini ditulis oleh Hani Widiatmoko untuk blog www.CarolinaRatri.com


Hani Widiatmoko

Awal mulanya blog saya pindah ke blog TDL sedikit banyak ada pengaruhnya setelah baca buku dan mereview buku “Blogging: Have Fun and Get The Money” tulisan Carolina Ratri.

Kalau tidak salah, waktu itu kalau mereview dapat hadiah.

Bukan, bukan melulu cari hadiah sih. Kebetulan memang saya punya rencana membuat blog pribadi untuk promosi diri sebagai penulis buku. Walaupun sudah punya blog sejak tahun 2007-an, blognya masih gratisan, dan isi blognya lebih ke arah catatan harian bergambar saja.

Di buku tersebut saya baru tahu yang namanya niche, kemudian monetize blog. Duh, ingin kan, blog pribadi bisa menghasilkan? Apalagi jadi penghasilan.

Sampai sekarang masih suka saya baca-baca bukunya, soalnya untuk mengerti benar harus dibaca lagi, dan lagi. Apalagi tentang SEO-SEO-an itu.

(Terima kasih banyak sudah membeli dan membaca buku saya ya, Mbak Hani :) --Carra)


Article Placement, Diedit atau Tidak?


Hasil survei Moz terhadap tanggapan pembaca yang sudah membaca sponsored content. Menarik :)

Pertama kali saya diemail oleh sebuah agensi untuk article placement, kira-kira 6 bulan setelah blog baru saya tayang.

Jujur, waktu itu belum paham tentang article placement. Setelah membaca email dari klien dengan saksama barulah saya mengerti. Bahwa saya hanya perlu mempublish artikel berikut foto-foto yang sudah disiapkan, kemudian menyematkan backlink di blog saya.

Dipikir-pikir enak juga ya? Saya kan tidak perlu memikirkan sekira 500-an kata untuk mengisi blog. Wah, kalau sepuluh saja article placement dalam satu bulan, saya bisa kipas-kipas.

Ternyata setelah membaca artikel yang harus saya publish tersebut, ada beberapa hal yang harus saya edit juga. Untungnya saya diperbolehkan menyesuaikan dengan gaya bahasa blog saya.

Waktu itu contentnya tentang tujuan wisata. Setelah artikel publish pun, ada sedikit komplen dari agensi. Karena mereka menginginkan backlinknya disamarkan. Saya lumayan bingung, karena template yang saya pilih justru memunculkan underscore (garis tebal) di bawah tulisan berbacklink.

Sebetulnya sebulan sebelumnya, ada agensi berbeda yang juga menawarkan kerja sama juga. Bentuk tawarannya adalah saya harus menuliskan tentang produk layanan sebuah bank, dengan beberapa ketentuan. Tulisannya bebas, kemudian ada satu kata yang dibacklinkkan ke alamat URL tertentu.

Belakangan saya baru tahu, bahwa bentuk kerja sama seperti itu namanya sponsored post.
Kalau diingat-ingat, sebetulnya lebih enak menulis artikel bersponsor atau review produk, karena bisa menulis sesuai kata hati sejak awal.

Baru-baru ini saya juga mendapatkan ajakan kerja sama dari sebuah e-commerce untuk article placement. Umumnya sekarang disebut sebagai content placement (CP).

Ajakan kerja samanya, ya blogger tinggal publish artikel. Ada sedikit perbedaan, blogger diminta membuat internal backlink dan dibebaskan boleh menyertakan external backlink, tidak juga tak apa-apa.

Ternyata di obrolan WhatsApp Grup Blogger yang saya ikuti, teman-teman juga mendapatkan ajakan kerja sama yang sama. Dan setelah saling blogwalking, artikelnya mirip semua.

Setahu saya, di dalam email dijelaskan, kami harus membuat kata pembuka dan kata penutup untuk mendukung artikel tersebut. Dan artikel tersebut pun boleh diedit sesuai dengan gaya bahasa masing-masing blogger.

Nah, di sini hebohnya.

Ternyata teman-teman saya berpendapat lain. Menurut mereka, CP itu nggak perlu diedit. Kalau diedit, jadinya arahnya jadi content writer, sehingga feenya berbeda.

Kata teman-teman lagi, CP kali ini ibaratnya jebakan batman.

Tahu kan film Batman? Tokohnya kan mempunyai tempat persembunyian berliku-liku, bisa membuat tersasar dan tak bisa keluar. Kecuali mungkin ya sang Batmannya sendirilah.

Saya pun mencari tahu, kenapa teman-teman tersebut khawatir dengan CP yang mungkin dipublish oleh belasan mungkin puluhan blogger.

Rupanya ada kekhawatiran duplikasi dengan adanya artikel yang mirip dalam satu waktu yang mengarah ke e-commerce tertentu. Sependek pengetahuan saya, tidak baik untuk blog kita bila diduga ada duplikasi.

Lah, loh...ya atuhlah, kalau takut duplikasi, kenapa tidak direwrite atau dieditlah artikel dari klien, agar sesuai dengan gaya bahasa kita?

Tapi, ya itu tadi, kan teman-teman tidak mau mengedit, karena jadinya ada kerjaan tambahan.

Dalam hal memonetize blog, memang saya nubie banget. Kadang ya ada katroknya, sudah sueneng banget ada agensi yang melirik blog saya. Tapi di satu sisi, artikelnya tidak cocok banget nih dengan gaya tulisan saya, jadilah saya berpikir keras dan mengeditnya.

Pernah juga saya baca di blog seseorang, sebaiknya sebagai blogger kita juga mempunyai posisi tawar. Atuhlah, kalau tulisannya diedit besar-besaran, ditawarkan sebagai tulisan sponsored post saja, nanti feenya lebih tinggi.

Maafkan, saya sepertinya masih perlu banyak belajar untuk bersikap. Misalnya, menolak mentah-mentah ajak kerja sama, karena takut terjebak. Atau menolak halus CP dengan menawarkan artikel berbentuk artikel review.

Kalau dipikir lagi, beginilah kalau sudah “tercemar” bahwa blog bisa menghasilkan, entah transferan atau voucher. Mata kita jadi merah hijau biru. Pikiran kita jadi, kalau dapat voucher, menawarkan traktiran apa ya ke anak-anak.

Coba bandingkan dulu banget waktu masih belum kepikiran menambah angka di rekening, ngeblog happy-happy saja, lebih bebas malah.

Ayuk atuh, tentukan sikap. Mau buka puasa, kolak waluh atau buah potong? #eh...


---

Catatan Carra

Berapa persen perbandingan artikel sponsored dan original di blogmu?


Apa yang menjadi "kegelisahan" Mbak Hani, saya tahu betul rasanya. Dan, saya pernah mengulasnya di artikel Blogger Versus di blog ini juga.

Saya pernah sangat menyayangkan hilangnya personalisasi pada blog teman-teman. Nggak ada lagi rasa unik personal dari teman-teman, karena semua tiba-tiba saja menayangkan artikel yang hampir seragam di satu waktu. Paling keliatan kalau sudah dilihat melalui Feedly. Dari 10 update artikel, hanya 1 yang merupakan original article. Yang lain titipan.

Saya tidak menyalahkan jika teman-teman menerima sponsored article, tapi sebisa mungkin, please, perhatikan keunikan blog sendiri. Masa lebih memilih mengorbankan keunikan diri sendiri ketimbang mengedit tulisan yang enggak gue banget seperti itu?

Sudahlah blognya berniche so-called-lifestyle, yang notabene campur-campur, which means nggak ada spesifikasi khusus, eh ... pas nerima job juga seragam sama yang lain.

Terus, ke mana identitasnya?

Sayangi dong blognya. Itu kan blog teman-teman sendiri.
Percuma juga punya branding ina inu, template cantik-cantik, kalau kontennya sami mawon dengan yang lain? Enggak akan bisa menonjol, dan nggak akan ke mana-mana.

Bahkan saya sempat ada di titik yang membuat saya berpikir, jangan-jangan content placement ini hanya akal-akalannya brand demi mendapatkan "sokongan" murah dari kita. Enggak tahu, apakah pemikiran saya itu benar atau enggak, tapi kita nggak bisa menutup mata akan prinsip "keluarkan uang sesedikit mungkin, tapi efek yang didapatkan sebesar mungkin". Itu prinsip ekonomi bangetlah, sudah jadi rahasia umum.

Bisa saja saya salah. Saya berharap saya salah. Tapi tak pelak, pikiran negatif seperti itu mau nggak mau hinggap di benak saya.

Sehingga ya ... akhirnya balik lagi ke blogernya juga kan? Mau sampai kapan hanya jadi troopers, tanpa jadi influencer yang sebenarnya?


Mau nulis guest post untuk blog ini juga?
Kirim aja artikelmu dalam format .doc terlampir melalui email ke mommycarra@yahoo.com ;)
Share
Tweet
Pin
Share
48 comments

Guest post ini ditulis oleh Aldy 'Terren' Putra untuk blog www.CarolinaRatri.com


Maksimalkan Facebook Page untuk promosi blog.

Siapa sih yang sekarang nggak kenal sama yang namanya fan pages atau Facebook pages?

Setiap orang sepertinya sudah mengenal istilah yang satu ini. Banyak dari selebriti terkenal di Indonesia atau luar negeri bahkan teman-teman blogger, atau vlogger, sudah memiliki salah satu alat pendukung berkomunikasi secara massal ini.

Yaps, betul. Kebanyakan orang yang memiliki fan pages atau facebook pages ini akan menggunakannya sebagai media komunikasi di luar akun facebook personal mereka masing-masing.

Mengapa harus fan pages atau Facebook pages? Mengapa tak cukup hanya punya akun Facebook biasa aja?
Jawabannya hanya 1, karena teman di akun Facebook kita terbatas sebanyak 5.000 orang saja.

Tetapi, apa sih yang bisa kalian maksimalkan dengan menggunakan Facebook pages ini selain media komunikasi?
Cukup banyak kok kegunaannya, mulai dari memasarkan produk yang kita miliki sampai menyebarkan informasi kepada target yang kita incar. Karena demikian luas, maka mari kita persempit ruang lingkup yang akan kita bahas. Mari kita anggap Facebook pages ini akan digunakan oleh seorang blogger.

Akhir-akhir ini memang sedang marak teman-teman blogger yang membuat fan pages untuk melengkapi beberapa akun media sosial medianya, selain Facebook, Twitter, Google plus dan lain-lain. Namun, apakah sebuah fan pages itu treatment-nya sama dengan akun Facebook personal kita?

Mari kita bahas!

Bagaimana mengelola sebuah Facebook pages?

Banyak yang sudah memiliki Facebook pages tetapi tetap kebingungan, bagaimana sih untuk mengelolanya? Sebelum membahas bagaimana pengelolaannya, apakah kalian sudah mengetahui bahwa di setiap Facebook pages yang kita kelola memiliki alat yang dinamakan Facebook Insight?

Belum? Begini tampilannya!


Gambar 1. Tampilan Facebook Insights


Yaps, seperti itulah gambaran kasarnya.

Dari sana kita bisa mengetahui beberapa hal. Mulai dari seberapa banyak yang melihat postingan kita di dalam Facebook pages, sampai dengan postingan kesukaan dari para likers kita. Bermodalkan alat itulah kita memulai pengelolaan sebuah fan pages.

Lantas, setelah mengetahui beberapa hal seperti interest, umur, jenis kelamin, dan lain-lain dari fan pages yang kita kelola, terus bagaimana maintenance-nya?
Tidak semudah yang kita bayangkan, lho.

Kita harus tahu, gaya bahasa seperti apa yang paling banyak disenangi oleh pengikut kita di fan pages. Gambar yang seperti apa yang paling banyak di klik. Call to action yang modelnya seperti apa yang paling banyak di klik.

Semua hal di atas, ada pada bagian posts di bagian sebelah kiri tampilan Facebook insight kalian. Contohnya, seperti gambar berikut ini.


Gambar 2. Facebook Insights. Abaikan blok warna item.


Dari sanalah kita bisa mengetahui, berapa orang yang melihat postingan kita, yang bagaimana yang paling banyak terjadi interaksi sampai postingan mana yang paling banyak mendatangkan pengunjung dari link yang kita masukan kedalam postingan tersebut.

Setelah tahu bagaimana karakteristik likers kita, barulah memulai proses maintenance sebuah fan pages.

Hal paling penting adalah kapan waktu terbaik untuk kita melakukan posting di sebuah fan pages yang kita kelola. Apakah pukul 8 pagi? 10 malam? Atau bahkan siang hari.
Perlu diingat, waktu posting terbaik dari masing-masing fan pages yang kalian kelola berbeda-beda. Tidak bisa disamakan satu sama lain, karena kembali lagi, perilaku likers masing-masing fan pages itu berbeda.

Tenang, semua bisa dilihat dari Facebook insight yang ada di dalam akun fan pages. Ada pada bagian post, dan akan terlihat semuanya. Hari Senin, waktu terbaiknya jam berapa, Selasa, Rabu dan seterusnya.

Selain berdasarkan insight tersebut, yang tidak bisa dilewatkan adalah algoritma news feed dari Facebook itu sendiri. Apakah kita melakukan posting 1 hari 2x, 3x atau 4x. Secara pribadi, saya melakukan posting 1 hari sebanyak 2x posting saja.

Apakah berlaku juga untuk sebuah fan pages yang baru dibuat?
Berdasarkan pengalaman, ketika pertama kali dibuat biasanya saya melakukan posting yang sangat rutin untuk melihat perilaku dari likers fan pages tersebut.

Adakah pengaruhnya terhadap pengunjung sebuah website atau blog?


Pertanyaan ini yang cukup banyak ditanyakan oleh beberapa pihak, termasuk ketika saya memegang beberapa akun fan pages orang lain ya. Sebenarnya, semua tergantung dari berapa banyak jumlah likers dari fan pages tersebut.

Begini, biasanya saya memberikan sebuah estimasi jumlah orang yang akan melakukan klik pada link yang ada di postingan itu sebesar 0,01% dari jumlah likers saja. Misalkan, fan pages yang memiliki 1.000 likers, seharusnya bisa menghasilkan 10 pengunjung setiap kita melakukan posting di waktu yang tepat (sesuai target kita).

Tetapi, hal ini tidak terjadi jika:
  • Teks yang kita posting tidak memiliki call to action (klik di sini, cek di sini dan sebagainya),
  • Gambar yang dimasukan dalam postingan tidak menarik orang untuk melakukan klik,
  • Postingan tidak terbaca dengan jelas maksudnya, dalam artian informasi yang diberikan kurang jelas.
  • Boleh ditambakan yang lainnya, bagi yang lebih berpengalaman :)
Tetapi, perhitungan di atas akan melebihi estimasi yang saya sebutkan di atas jika memang informasi yang kita berikan bermanfaat, banyak di-share orang lain dan memancing rasa penasaran seseorang untuk melihat informasi tersebut.

Bagaimana jika kita memasarkan informasi / produk menggunakan iklan facebook?


Nah, ini dia. Salah satu kelebihan seorang blogger apabila memiliki sebuah fan pages tentu akan lebih mudah memasarkan informasi yang kita tulis di blog dan diposting di fan pages dengan menggunakan facebook ads.

Menarik?
Sebentar, saya menghela napas dulu sebelum menulisnya, ya. (Perlu dibantu napas, Terren? -Carra)

Jujur, siapa yang udah menggunakan fitur ini seperti saya? Pasti kalian akan sangat berteman dengan tampilan seperti di bawah ini.

Gambar 3. Facebook Adverts Manager


Maaf, gambarnya saya sensor soalnya rahasia dapur ya.

Nah, kalau sudah berbicara mengenai Facebook ads sendiri ada beberapa objective yang bisa kita gunakan. Mulai dari mempromosikan postingan yang ada di fan pages, mendatangkan pengunjung langsung ke blog atau website kita sampai memromosikan video yang kita punya.

Secara total, ada 9 objective yang bisa kita gunakan. Tetapi, hanya 3 hal yang sering digunakan oleh kebanyakan orang yaitu mempromosikan postingan di fan pages (boost post), mendatangkan pengunjung ke website atau blog kita (click to website), dan memperbanyak Facebook likes.

Dari beberapa hal yang saya sebutkan di atas, kita bisa benar-benar menargetkan siapa yang akan melihat iklan kita dari sisi lokasi tinggal, umur, jenis kelamin, sampai dengan kesukaan atau minat seseorang terhadap sesuatu (interest).

Lantas, bagaimana harga dan hasil yang kita dapatkan?
Semua tergantung dari bagaimana kita membuat sebuah strategi iklan tersebut. Siapa yang kita targetkan, berapa umurnya, sampai call to action yang kita berikan apakah efektif atau tidak? Semua tergantung strategi yang kalian terapkan.

Sebagai sedikit bocoran untuk kalian yang menggunakan fitur ini, semakin spesifik orang yang kalian targetkan akan semakin murah harga iklan kalian, begitu pun sebaliknya.

Alasannya apa?

Begini.
Ketika kalian mengatur iklan kalian hanya kepada orang yang sangat spesifik, kalau orang tersebut berinteraksi dengan iklan kalian (like, comment, share) tentu hal tersebut akan muncul di news feed-nya. Kemudian temannya akan melihat aktivitas yang dilakukannya terhadap halaman fan pages atau iklan yang kalian jalankan.

Dengan begitu, orang yang tertarik dengan aktivitas pada iklan kalian, akan penasaran dengan fan pages atau iklan yang kalian tayangkan tersebut. Hal ini bermanfaat untuk mendapatkan interaksi secara organic dari teman orang yang berinteraksi tersebut. Semakin besar CTR, akan semakin murah iklan kita.

So, kesimpulannya apa?
Kesimpulannya, targetkan audience kita sedetail mungkin, untuk bisa mencapai hasil yang paling efektif.

Nah, panjang ya artikel ini? (Nggak kok, Terren. Panjangan juga artikelku biasanya :)) -Carra)

Memang. Kalau sudah membahas mengenai fan pages, Facebook ads dan teman-temannya, akan sangat panjang, karena semua akan berurusan dengan strategi dalam pemasaran produk atau informasi itu sendiri. (Plus banyak rahasia dapurnya yang harus tetap jadi rahasia :)) -Carra)

Tetapi, hal terpenting dari ini semua adalah jangan pernah takut untuk gagal dan mencoba. Percuma membaca teori di atas semua tanpa praktik pada akun fan pages atau Facebook ads kalian sendiri.

Ada pertanyaan? Semoga saja tidak. Selamat membangun Facebook pages kalian ya!


---

Catatan Carra:
Apa yang dijelaskan oleh Terren di atas, sangat-sangatlah sebagian kecil dari anatomi Facebook page dan ads. Akan lebih baik memang kalau kita menelusuri sendiri, nyobain semua fiturnya sendiri, dan melakukan trial dan error, untuk kemudian bisa menyimpulkan cara seperti apa yang paling efektif bisa membantu kegiatan blogging kita.
Lagian, ya seperti yang sudah Terren sebutkan, setiap fan pages nggak bisa diperlakukan sama satu dengan yang lainnya. Branding produk (atau artikel kalau untuk blogger) sendiri aja beda-beda kan?

Terima kasih, Terren, sudah bersedia menulis untuk blog newbie ini.
Jangan males jawab, kalau aku tanya-tanya lagi ya. Hehehe.

Mau nulis guest post untuk blog ini juga?
Kirim aja artikelmu dalam format .doc terlampir melalui email ke mommycarra@yahoo.com ;)
Share
Tweet
Pin
Share
26 comments
Artikel Guest Post ini pernah tayang di www.Redcarra.com dan ditulis oleh Rio Quiserto, pengelola Duwitmu.

Untuk membangun SEO, pebisnis perlu memahami strategi yang aman dan efektif.


SEO adalah cara dan teknis menarik pengunjung melalui mesin pencari. Karena mesin pencari paling banyak digunakan ketika orang mengunjungi internet, maka penting buat pebisnis online memahami cara kerja SEO dan menggunakannya untuk meningkatkan trafik.

Menurut riset, hampir 70 sd 80% orang mencari informasi melalui mesin pencari atau search engine. Oleh sebab itu, para pebisnis online harus mengetahui cara supaya situs mereka muncul di mesin pencari.

Hasil mesin pencari yang paling penting adalah muncul di halaman pertama (page one). Karena mayoritas berhenti di halaman pertama dan tidak melanjutkan ke halaman kedua.

Dengan mengerti strategi membangun Search Engine Optimization (SEO), internet marketer bisa menarik banyak pengunjung.

Bagaimana cara membangun SEO yang efektif dan aman? Berikut ini 3 strategi SEO yang penting dipahami pebisnis online.

1. Menyajikan Konten Terbaik


Kita perlu pahami bagaimana mesin pencari bekerja. Pada dasarnya, search engine ingin menampilkan konten terbaik sesuai dengan yang dicari oleh pengguna.

Search engine tidak ingin menampilkan konten yang tidak relevan atau tidak berguna. Karena jika konten yang dihasilkan tidak sesuai, itu akan mengecewakan pengguna dan ujung-ujungnya search engine tidak akan digunakan lagi.

Oleh karena itu, mesin pencari sangat berkepentingan dengan konten yang bagus. Sebisa mungkin search engine akan berupaya menampilkan konten yang berkualitas.

Apa kriteria konten yang bagus?

  • Membuat informasi yang sesuai dengan kebutuhan pengunjung. Jika informasinya cocok dengan yang dicari, sudah pasti pengunjung akan senang dan betah di situs. Tulis dengan gaya bahasa yang sesuai dengan pengunjung. Ini untuk memastikan bahwa informasi disampaikan dengan baik.
  • Tulis untuk manusia. Pembaca adalah manusia. Maka tulis untuk manusia. Meskipun banyak aturan mengenai cara penulisan SEO, tetapi menulis sesuatu yang enak dibaca itu jauh lebih penting. Selain itu, mesin pencari sudah semakin canggih. Mereka bisa memahami artikel dengan baik.

2. Memahami Keyword (Kata Kunci)


Proses pencarian di mesin pencari menggunakan kata kunci. Berdasarkan kata kunci yang dimasukkan oleh pencari tersebut, situs yang sesuai dan relevan akan muncul.

Misalnya, pengguna menggunakan kata kunci ‘bisnis online’ ketika mencari informasi mengenai jenis usaha. Maka situs – situs dengan kata kunci ‘bisnis online’ yang akan dimunculkan oleh mesin pencari.

Oleh sebab itu, pebisnis online yang menggunakan SEO harus memahami ‘kata kunci’ yang digunakan oleh pengunjung atau target market mereka.

Apa yang menjadi kata kunci di usaha atau bisnis mereka? Bagaimana mereka berkomunikasi dengan kata atau istilah yang relevan, yang kemungkinan besar bisa menjadi kata kunci yang digunakan oleh mereka.

Kemudian, perlu mengkaji kata kunci apa yang penting dalam usaha ini namun belum banyak persaingannya. Artinya, belum banyak situs sejenis yang menarget kata kunci.

Ini penting karena kata kunci yang relevan tapi belum banyak digunakan oleh situs–situs pesaing bisa efektif digunakan karena belum banyak kompetisi.

Untuk memahami kata kunci dengan baik, pebisnis perlu paham target pasarnya. Apa yang mereka cari, istilah yang mereka pakai.

Intinya, dalam SEO, pemahaman nasabah tetap penting.

3. Membangun Backlink


Dalam SEO, salah satu faktor penting adalah membangun backlink.

Apa itu backlink? Simpelnya, ini adalah link yang diberikan oleh pihak lain ke situs kita. Jika link tersebut diklik maka pengunjung akan diantarkan ke situs yang diberikan link tersebut.

Backlink adalah bukti bahwa pihak lain menganggap bahwa situs kita penting sehingga layak diberikan sebagai referensi. Mesin pencari menangkap sinyal backlink tersebut dan menggunakan sebagai salah satu faktor penting dalam meranking hasil pencarian.

Ada banyak cara membangun backlink. Bahkan banyak pihak yang dengan berani mengklaim bisa membangun backlink dengan cepat dengan hasil yang luar biasa.

Namun, yang perlu dipahami sejak awal bahwa yang penting bukan kuantitas tapi kualitas backlink. Cara mencari backlinks secara massal dengan menggunakan software otomatis sangat berbahaya.

Walaupun bisa menaikkan ranking situs yang dibacklink secara cepat di halaman pencarian, cara ini juga sangat rentan terdeteksi algoritma Google yang bisa berakibat fatal, yaitu penurunan ranking di search engine (biasanya hampir untuk semua keyword) sampai dengan penalti hingga deindex (jika spamming massal yang dilakukan cukup brutal).

Google fokus menghajar cara backlink yang berlebihan dan tidak berkualitas. Ini dikenal sebagai Google Penguin. Beberapa tahun belakangan, Google Penguin sudah mengakibatkan banyak situs jadi korban.


Lalu, apa kriteria backlink yang berkualitas?


Pertama, relevan. Backlink diberikan oleh situs dalam niche atau topik yang sama. Misalnya, situs tentang computer sebaiknya mendapatkan link dari situs teknologi.

Kedua, contextual links. Ini adalah link yang berada di dalam konten (artikel). Alasan backlink jenis ini berkualitas adalah karena links yang berada di dalam artikel biasanya related atau relevan dengan isi artikel (topik yang ditulis).

Ketiga, situs dengan authority tinggi. Link yang berasal dari situs–situs yang bisa dipercaya, nilainya jauh lebih baik dari yang tidak jelas.


Kesimpulan


Buat yang ingin berkecimpung dalam bisnis online, pemahaman mengenai SEO adalah wajib. SEO merupakan cara untuk menarik pengunjung ke situs karena mayoritas menggunakan mesin pencari ketika mencari informasi di internet.

Untuk membangun SEO, pebisnis perlu memahami strategi yang aman dan efektif. Semoga 3 tips di atas bisa membantu.

---


Mau nulis guest post untuk blog ini juga?
Kirim aja artikelmu dalam format .doc terlampir melalui email ke mommycarra@yahoo.com ;)
Share
Tweet
Pin
Share
14 comments

Guest post ini pernah tayang di www.RedCarra.com, dan ditulis oleh Dani Rachmat.

 
 
Ini Dia 4 Jenis Postingan Berbayar dalam Blog Pribadi

Tujuan ngeblog memang beda-beda antara satu orang dengan orang lainnya. Ada yang awalnya memang hanya buat curhat-curhatan, ada juga yang dari awal emang sudah niat menjadikan blog sebagai tempat untuk mengais rezeki. Dengan semakin berkembangnya internet marketing saat ini, bahkan blog-blog yang awalnya ditulis untuk tujuan pribadi, akhirnya bisa juga jadi dapet tawaran untuk menulis sponsored articles.

Gue inget postingan blog berbayar pertama dulu, “hanya” ditawarkan kompensasi Rp. 100.000 berupa voucher untuk beli kembali barang di sebuah online shopping. Tapi jangan tanya perasaan gue dulu waktu dapet tawaran ini. Girangnya BUKAN MAIN! Ya namanya juga blog curhatan pribadi, eh ada toko yang menawarkan kerja sama untuk memasang link ke tokonya dia.

Jadi barangkali nanti ada yang menawarkan kerja sama dengan blognya, berikut beberapa jenis tawaran kerja sama yang mungkin kita terima sesuai pengalaman gue.

4 Jenis Postingan Berbayar di Blog Pribadi


Titip link postingan


Tawaran kerja sama ini mungkin yang paling banyak datang dari toko-toko online. Kenapa para toko online ini menawarkan kerja sama untuk menitipkan link di blog kita? Karena semakin banyak link yang mengarah ke toko online tersebut, semakin tinggilah peringkat toko online tersebut di mesin pencari dan hasil pencarian.

Mungkin terkesan sederhana untuk bentuk kerja sama ini, tapi ternyata untuk memasang link ke toko online kita harus pertimbangkan beberapa hal. Pertimbangan-pertimbangan yang gue ajukan ke pemasang link antara lain:

  •  Jenis linknya apakah bersifat do follow/no follow
  •  Berapa lama periode pemasangan link tersebut
  •  Seberapa ramai blog kita

Gue pribadi menawarkan untuk tarif standar yang berkisar antara Rp. 300.000 – Rp. 600.000 per artikel akan menulis postingan dengan 400 - 500 kata dan satu link do-follow yang hanya akan dipasang selama 3 bulan atau maksimal 6 bulan tergantung brand yang meminta pemasangan. Setelah usia pemasangan tercapai, link akan diganti menjadi link no-follow.

Bentuk kerja sama menitipkan link postingan ini bisa jadi isinya berhubungan dengan brand yang mengajak kerja sama seperti di postingan tentang kacamata di blog gue atau tidak sama sekali, yang penting di dalamnya mengandung link ke website atau alamat tertentu milik brand yang menawarkan kerja sama.


Review Produk


Kalau untuk review produk ini, tergantung dari produk yang akan direview dan tentu saja postingan akan tayang setelah gue sendiri selesai nyobain produknya.

Biasanya kerja sama-kerja sama review ini untuk produk-produk yang baru diluncurkan. Blogger jadi sasaran publikasi untuk peluncuran produk-produk baru ini.

Besarnya bayaran yang diterima juga tergantung dari brand yang menawarkan kerja sama dan seberapa popular blog kita. Ada yang memberikan produknya untuk direview dan kemudian memberikan bayaran, tapi ada pula yang memberikan produknya saja.

Selain itu, restoran-restoran juga sering mengundang blogger untuk mencicipi menu-menu terbarunya ataupun konsep restorannya yang terbaru setelah adanya peremajaan konsep untuk bias tetap bersaing.

Beberapa contoh review produk yang pernah gue tulis di blog antara lain peluncuran produk pembersih wajah pria dan juga undangan makan-makan di sebuah restoran.

Reportase


Kalau untuk reportase, ajakan kerja sama ini lebih menantang karena mestinya postingan harus terbit secepat mungkin. Gue pernah beberapa kali terima undangan untuk reportase peluncuran produk dan layanan.

Biasanya untuk jenis kerja sama seperti ini, kita akan diajak untuk melihat inside view dari sebuah perusahaan, bisa jadi keliling pabrik atau melihat produk yang belum diluncurkan sama sekali ke pasar. Kalau misalkan produknya harganya mahal, kita akan menerima bayaran tertentu, sementara apabila harga produknya masih mungkin dijual bebas dan tidak terlalu mahal kita bisa diberi produknya.

Contohnya reportase yang pernah gue dapat undangannya adalah ketika peluncuran dua brand otomotif dan juga peluncuran layanan internet 4G LTE.

Titip konten promosi


Kalau yang satu ini jenis tawaran yang lebih baru buat gue. Baru ada satu-dua brand yang menawarkan bentuk kerja sama dalam bentuk menitipkan konten advertorial. Sayangnya dari harga yang gue tawarkan, mereka belum cocok dengan harganya karena kedua brand sudah tidak membalas lagi email penjelasan mengenai penitipan konten ini.

Gue menyaratkan untuk menjadikan postingan titip konten promosi itu sebagai guest post di blog gue karena bagaimanapun gaya bahasa pasti berbeda dan konten yang ditulis pasti 100% berisi promosi. Syarat dan ketentuan lain sih mengikuti syarat dan ketentuan postingan berbayar yang gue post di blog.


Nah, itu tadi beberapa jenis postingan berbayar yang biasanya tayang di blog-blog di Indonesia. Semoga membantu apabila teman-teman menerima tawaran kerja sama.

---

Ditulis oleh Dani Rachmat / @danirachmat untuk blog www.CarolinaRatri.com


Mau nulis guest post untuk blog ini juga?
Kirim aja artikelmu dalam format .doc terlampir melalui email ke mommycarra@yahoo.com ;)
Share
Tweet
Pin
Share
49 comments
Older Posts

Cari Blog Ini

About me





Content & Marketing Strategist. Copy & Ghost Writer. Editor. Illustrator. Visual Communicator. Graphic Designer. | Email for business: mommycarra@yahoo.com

Terbaru!

Kapan Waktu buat Nulis? Begini Cara Saya Membagi Waktu dengan Urusan Warung dan Rumah

Kalau ditanya kapan saya punya waktu untuk menulis, jawabannya enggak pernah pasti. Jadi, memang bukan di jam segini atau jam segini. Dalam ...

Postingan Populer

  • Beberapa Tip Jitu untuk Membantu Kamu Menjaga Konsentrasi dan Fokus Menulis
    Masalah fokus atau konsentrasi biasa memang menjadi permasalahan umum bagi para penulis--baik itu penulis buku, konten, dan blog. Dist...
  • Yang Harus Blogger Ketahui Mengenai Link Eksternal - The Bloggers' Biggest Fear
    Warning: artikel ini akan panjang. Tapi I guaranteed, akan membahas hingga ke detail mengenai outbound links atau link eksternal. Karena...
  • 15 Ide Style Feed Instagram yang Bisa Kamu Sontek Supaya Akunmu Lebih Stylish
    Hae! Kemarin saya sudah bahas mengenai do's and donts dalam mengelola akun Instagram , terus ada pertanyaan yang mampir, "Ka...
  • Beberapa Etika Meninggalkan Komentar yang Baik di Artikel Lain Agar Menambah Nilai untuk Blog Kamu
    Yuk, tinggalkan komen yang memberi nilai tambah bagi blog kita sendiri! Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menulis tentang beberapa...
  • Ukuran Feed Instagram 6 Kotak dan Cara Membuatnya Tanpa Ribet
    Eits. Bukan, ini bukan fitur baru. Ada yang nanya soal feed Instagram 6 kotak dari Google, masuk deh ke Console. Hehehe. Iya, ini bukan fitu...

Blog Archive

Portofolio

  • Buku Mayor
  • Portfolio Konten
  • Portfolio Grafis
  • Konten Web
  • Copywriting
  • E-book
  • Buku Fiksi
  • Ilustrasi

Follow Me

  • instagram
  • Threads

Created with by ThemeXpose