• Home
  • About
  • Daftar Isi
  • Konten Kreatif
    • Penulisan Konten
    • Penulisan Buku
    • Kebahasaan
    • Visual
  • Internet
    • Blogging
    • Marketing
    • User
    • WordPress
  • Media Sosial
    • Facebook
    • Twitter
    • Instagram
  • Stories
    • My Stories
    • Featured
    • Freelancer
  • Guest Posts
Diberdayakan oleh Blogger.
facebook twitter instagram pinterest Email

Carolina Ratri

Search Engine Optimization (SEO) dan Search Engine Marketing (SEM): Apa Bedanya?


Kalau berhubungan dengan dunia marketing online, pasti nantinya akan sampai juga pada istilah SEO--alias Search Engine Optimization--dan SEM, atau Search Engine Marketing. 

Yeah, well, kiprah perdagangan sekarang ini memang sudah sangat jauh berubah. Segala bentuk fisik yang mendukung terjadinya transaksi jual dan beli bergeser drastis ke ranah maya. Saat ini, jika ingin transaksi menjadi lebih sukses, harus membuat strategi marketing online yang mumpuni. Dan karena itulah istilah SEO dan SEM ada.  

Tapi, apakah bedanya antara SEO dan SEM? Yuk, kita bahas agar sampai pada 3 hal yang membedakan keduanya. Ya basic saja sih. Kalau mau detail, bisa sampai 1000 purnama nggak selesai, sedangkan saya lagi sibuk banget. 

*dikeplak*

Beda SEO dan SEM secara Basic

1. Apa artinya?

SEO merupakan singkatan dari Search Engine Optimization, atau dalam bahasa Indonesia, Optimasi Mesin Pencari. 

SEO dilakukan sebagai pakem menulis konten agar bisa terpampang di halaman depan mesin pencari. Saking pentingnya untuk berada di halaman depan, teknik-teknik SEO sampai dijadikan materi khusus dalam berbagai pelatihan, baik untuk berdagang maupun menulis. 

SEM merupakan singkatan dari Search Engine Marketing. Berbeda dengan SEO, SEM dimaksudkan sebagai sarana para penjual untuk memajang tulisan mereka di halaman depan mesin pencari dengan cara membayar slot iklan. Terutama bagi dunia usaha masa kini, teknik SEM sudah menjadi kebutuhan tingkat tinggi.


2. Apa Tujuannya?

SEO bertujuan agar sebuah situs memiliki posisi SERP (Seach Engine Result Page) yang strategis. Jika demikian, maka situsmu punya kemungkinan besar untuk berada di halaman depan mesin pencari. 

Artikel yang kamu buat akan dijadikan referensi jawaban atas pertanyaan para pengguna internet, melebihi ribuan tulisan yang berkonten sama. Semua penulis profesional paham akan hal ini, sehingga mempraktikkannya dalam setiap tulisan. Dari miliaran penyelam dunia maya, bisa dibayangkan berapa banyaknya pengunjung yang mampir ke situsmu jika benar artikelmu “mejeng” di depan. Dan setelahnya, tidak hanya banjir pembaca, pengiklan pun mengerubung untuk minta dibuatkan review dan memasang iklan. 

SEM bertujuan kurang lebih sama dengan SEO, bedanya yang dipajang bukanlah artikel-artikel tulisan, melainkan produk-produk dagangan. 

Yup, tujuan SEM adalah untuk memfasilitasi penjual agar barang yang ditawarkan muncul di halaman depan mesin pencari. Kalau kamu menggunakan SEM, maka setiap ada pengguna internet yang mengetik kata kunci sebuah produk, toko online-mu lah yang direferensikan. Ibarat sebuah mal, outlet-mu ada di jajaran paling depan yang terlihat semua orang. 

Lagi-lagi, bisa terbayangkah berapa pembeli yang mampir ke sana? Berapa omzetmu per hari?


3. Bagaimana Caranya?

Cara ber-SEO bisa dipelajari melalui kursus-kursus offline maupun online. Tidak ikut kursus pun, kamu sebenarnya bisa berlatih sendiri secara autodidak karena ada banyak yang menuliskan teknik-teknik SEO di internet. 

Di blog ini juga banyak. Ehe ehe ehe.

Aplikasikan ilmunya dalam keseharianmu menulis, latih diri dengan disiplin dan tetap semangat. Lama-lama tentu semakin paham cara mainnya, dan bisa secara organik menempatkan situsmu di posisi strategis. 

Yang perlu diingat adalah, perhatikan pakemnya agar artikelmu mencuat alamiah (dinamakan dengan white hat SEO) dan bukannya dengan cara-cara yang melanggar aturan (dinamakan dengan black hat SEO). Teknik white hat memang perlu ketelitian dan waktu, sebaliknya, teknik black hat prosesnya cukup instan. Namun demikian, black hat SEO dapat membuatmu kena hukuman dan situsmu diblokir.

Jika merasa benar-benar tidak bisa menjalankan semua itu sendiri dan kamu punya dana, ada banyak juga yang menawarkan jasa SEO. Di tangan mereka yang ahlinya, biasanya artikelmu memang bakal muncul di halaman depan secara organik.  

Bedanya dengan SEM adalah bahwa cara “nampang” di halaman depan yang satu ini adalah dengan beriklan. Ya, kamu harus membayar kepada pihak mesin pencari agar toko online-nya bisa menempati posisi depan. Inilah mengapa yang banyak memakai SEM adalah mereka yang benar-benar berdagang, bukan menulis artikel. 

Mesin-mesin pencari memfasilitasi hal ini dengan menawarkan program kerja sama berpromosi, misalnya Google Adsense. Dengan SEM, layaknya beriklan, kamu memang harus mengeluarkan biaya sehingga bujetnya perlu dianggarkan khusus setiap bulannya. Kalau belum memiliki anggaran cukup, kamu tetap bisa memajang daganganmu dengan menggunakan teknik SEO, kok.

Jadi, mana yang lebih baik dalam menjalankan marketing online, SEO atau SEM? 

Rasanya, setelah mengetahui perbedaan di antara keduanya, kamu tentu bisa memilih sendiri mana yang lebih cocok. Yang penting sesuai dengan kebutuhan dan dananya, juga tetap mengaplikasikan penjualan yang sesuai pakem yang berlaku. 

Happy marketing!

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Website Penyedia Royalti Free Backsound Musik dan Sound Effect untuk Video



Duh, kayak udah 1000 purnama nggak pernah update ini blog ya. Hehehe. Padahal draf banyak, tapi ya gitu deh. Mesti turun prioritas karena beberapa hal kemarin. Tapi, kali ini mau bagi beberapa website penyedia royalti free backsound musik buat kamu yang suka bikin-bikin video, setelah kemarin saya sempat kasih beberapa resource untuk unduh free filler video dan footage.

Salah satu elemen penting dalam video adalah audionya. Ya iyalah, video itu kan memang terdiri atas gambar bergerak dan suara. Nah, si suara ini bisa jadi adalah dialog, bisa jadi adalah backsound music.

Inget banget dulu pas zamannya anak MTV. Di satu program, ada Nadya Hutagalung sama Jamie Aditya gitu *yampun, anak lawas banget* Mereka tuh ngadain semacam simulasi efek musik terhadap ambience sebuah adegan.

Nah, pertama, mereka bikin simulasi adegan horor tanpa musik. Hasilnya, ya biasa aja. Nggak kerasa horornya. Ya cuma gelap-gelapan, terus tau-tau ada yg nongol. Simulasi kedua, masih simulasi adegan horor, tapi musik score-nya pake musik dance elektronik cenderung koplo gitu. Yang ada eikeh ngakak liatnya. Ga horor sama sekali! Malah komedi. Hahaha. Simulasi terakhir, dengan score music horor beneran. Wha, ya kerasa bener dah. Wqwqwq.

Jadi, score musik atau backsound itu emang bisa banget bawa emosi penonton ya. Makanya penting banget, dan mengolahnya juga butuh keterampilan tinggi.

But, anyway, buat kamu yang suka bikin-bikin video amatir ala-ala kamu sendiri untuk kemudian kamu unggah sendiri ke Instagram, Youtube, or media lain, kamu pasti juga butuh kan ya? Dan, sebaiknya kamu juga pakenya yang copyright free alias CC0 juga--seperti halnya image CC0.


7 Website Penyedia Free Music Bebas Pakai


1. FreePD.com

Semua backsound music di sini free, boleh kamu download dan pergunakan dengan bebas, untuk free account. Sedangkan untuk paid account, hanya berbeda pada keistimewaan fasilitas download aja.

Kalau di free account, kamu mesti download satu per satu. Sedangkan kalau berbayar kamu bisa download secara massal, untuk menghemat waktu.


2. CC Mixter

Di website ini ada sampel-sampel orisinil dari para pemusik di seluruh dunia--juga ada acapella vocal tracks lo--yang bebas kamu pakai, bahkan untuk commercial use tanpa attribution.


3. Free Music Archive

Di sini ada musik-musik bebas pakai yang dikurasi oleh WMFU, sebuah stasiun radio indie di New York. Genrenya juga cukup lengkap lo.


4. Incompetech

Di website ini, ada ribuan musik dan sound effect yang sudah dibuat oleh Kevin MacLeod. Bisa kamu cari dengan filter tempo, genre, durasi, genre, dan mood. Mayan lengkap lo, bahkan si pemilik web juga menyediakan katalog yang berisi list musik dan sound effect yang ada, supaya kita gampang memilihnya.


5. Free Sound

Free Sound punya koleksi musik yang banyak bet. Di sini kamu mesti login ya, kalau mau download. Kamu juga bisa rekues sound effect atau musik jika nggak menemukan yang kamu cari di forumnya.


6. Musopen

Di sini juga ada ribuan backsound music for video dan juga sound effect yang bisa kamu download dengan bebas. Ada 3 jenis subscription plan; lite--kamu bebas download, tapi terbatas 5 file/hari, dengan kualitas standar; dan ada Member dan Benefactor yang mendapatkan fasilitas lebih. Kamu bisa lihat sendiri di websitenya ya.


7. Partners in Rhyme

Di sini juga ada buanyak bet free music buat kamu pakai. Tapi sebaiknya kamu baca dulu rulesnya yang ada di website ini dengan saksama.

Salah satunya menyebutkan bahwa kamu nggak boleh menyebarkan ulang tracks yang ada di sini dalam website kamu sendiri. Jadi, kamu hanya boleh langsung pakai aja buat video, nggak boleh menyebarkan ulang apalagi kemudian mengambil keuntungan.

Rules yang lain, silakan dibaca ya. Ada kok di homepage-nya.


Nah, udah 7 website untuk download free backsound music yang bisa kamu jadikan resource buat bikin video. Saya sih belum bisa kasih opini, musiknya bagus-bagus apa enggak, atau jangan-jangan banyak yang sama. Karena banyak bet, dan saya juga jarang bikin video sih. Hehehe.

Yang penting, semoga bisa bermanfaat buatmu.
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Cara efektif membuat narasi video marketing


Perkembangan teknologi dan mencuatnya media sosial memang sangat mendukung strategi marketing. Apalagi untuk video marketing, sesuai kebutuhan kekinian, di mana reading span atau waktu “betah membaca” orang semakin rendah.

Begitulah, orang zaman now itu memang cenderung mudah bosan membaca, lebih suka mengakses informasi dengan gambar-gambar visual–mungkin bawaan DNA-nya memang berbeda dengan generasi sebelumnya. Tapi jangan salah, bahkan dalam rangkaian gambar itu juga perlu ada bacaannya juga, lo. 

Yes, video marketing pun butuh narasi! 

Untuk itu, para pembuat video untuk tujuan apa pun harus menyelipkan kalimat-kalimat tekstual di dalamnya. Tidak harus banyak, yang penting dapat membantu penyampaian. 

Kalau begitu, coba simak 5 cara efektif untuk membuat narasi video marketing berikut ini deh ya.


5 Tip Membuat Narasi Video Marketing

1. Siapkan tagline yang catchy 

Tagline adalah peneman logo perusahaan yang mengidentifikasi merek. Keduanya butuh dikenalkan kepada publik untuk memperkuat keberadaan produknya. 

Tagline sangat berkaitan dengan psikologis orang. Orang boleh lupa nama produknya (terlebih jika iklannya tidak menarik), tapi sebuah tagline yang catchy itu akan dikenang. 

So, tempatkan narasi tagline perusahaan bersamaan dengan saat frase itu diucapkan. Visual dan auditori yang muncul berbarengan akan lebih memberi efek brand recall atau ingatan akan merek yang ampuh. 

2. Brainstorming

Setelah memiliki identitas yang jelas, langkah selanjutnya adalah penggodokkan ide. Ajak segenap yang terlibat dalam pembuatan video marketing kamu untuk berdiskusi. Semua saran sangat berharga karena memiliki sudut pandang yang berbeda. Kumpulkan ide-idenya, saring, kemudian kolaborasikan.

Pada bagian ini, kamu dan tim akan harus membicarakan banyak hal seperti keperluan pengambilan gambar, konsep video, menggunakan animasi atau menggunakan model, hingga target pasar. 

Temukan lebih dulu target pasarnya untuk kemudian menentukan konsep videonya. Target pasar ini pastinya juga sejalan dengan produk yang akan ditawarkan. Misalnya, jika produknya adalah biskuit bayi, maka target pasarmu adalah keluarga baru, terutama para ibu. Dari sana, konsep video marketingmu bisa tergambar lebih jelas.

3. Buat storyboard

Sebelum masuk pada pengambilan/pembuatan gambar-gambar bergeraknya, baik yang dilakukan secara animasi ataupun shooting, buatlah story board atau papan ceritanya terlebih dulu. 

Storyboard ini berfungsi selayaknya outline atau kerangka tulisan kalau wujud konten kita adalah tulisan.

Kerangka tulisan ini akan mengarahkan proses-proses shooting ataupun animasinya, karena teks itu akan membantu video marketing kamu bercerita secara tekstual tahap demi tahap. 

Misalnya saja, produk yang akan dibuatkan video adalah biskuit bayi, maka kamu mungkin akan memulainya dengan sebuah teks “Suatu pagi yang indah dimulai dengan sarapan…” Atau sejenisnya.

Dari sana, kamu tentu akan membuat video sebuah keluarga kecil dengan satu anak bayi berumur 6 bulan yang sedang belajar mengonsumsi makanan pendamping ASI. Bayangkan ini: pagi hari di ruang makan dengan dua piring roti dan dua gelas jus jeruk di atas meja, seorang bayi yang duduk di pangkuan ibunya dan sang ayah yang memberinya sepotong biskuit.

Untuk membuat alur video marketing yang nyaman, keahlianmu dalam menyusun storyboard sangat diperlukan. Jadi, luangkan waktu yang cukup dalam kegiatan ini agar seluruh proses ke belakangnya jadi lebih mulus. Yang perlu diingat adalah bahwa narasi hanya membantu penyampaian, jadi tidak perlu panjang. Sekadar mengantar gambar demi gambar.

4. Penempatan narasi di halaman kosong

“Suatu pagi yang indah dimulai dengan sarapan…” adalah satu contoh teks yang darinya kisah video marketing bisa dimulai. 

Narasi seperti ini lebih mudah terlihat jika diletakkan pada selembar halaman kosong, lalu disusul dengan rentetan gambar. Memang banyak yang menempatkan narasi cerita bersamaan dengan gambar-gambar di videonya, namun hal itu akan mengganggu konsentrasi pemirsa. 

Membaca teks dan menonton dalam satu waktu bukan pekerjaan mudah. Dua hal itu bisa membuat konsentrasi pecah dan penyampaiannya jadi kurang maksimal.

Nah, taruh narasi video marketingmu dalam lembaran-lembaran kosong yang mengantarkan gambar-gambar.

5. Jangan lupa SEO

Tetap, SEO adalah sebuah keniscayaan dalam setiap konten yang diunggah di dunia maya. Jadi, bahkan untuk menulis narasi video marketing pun harus berdasar pakem-pakem tersebut. Cari kata-kata kunci yang tepat juga hestek yang trending, jika perlu, agar hasilnya lebih jitu dan kekinian. 

Taruh caption yang berisikan kata-kata kunci ini, kalau kamu mengunggahnya di Youtube. It works.


So, ternyata, tidak terlalu sulit, bukan, untuk membuat video marketing? Hanya beberapa langkah saja kok, dan 5 cara efektif untuk membuat narasi video marketing ini akan membuat pemirsa lebih mudah menangkap pesannya.

Have fun!


Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Belajar Dari Kesalahan 5 Produk Gagal Google


Biarpun luar biasa berjaya di udara, Google tetaplah karya manusia yang tak lepas dari kesalahan. Ada beberapa produk Google yang ternyata gagal di pasaran, dan dengan terpaksa harus dihentikan. 
Well, kamu dan saya mungkin pernah menjadi salah satu penggunanya yang setia, sampai terkaget-kaget dan sedih karena layanan itu harus hilang dari peredaran. Tapi ada beberapa mungkin malah belum pernah dengar sama sekali. 

Apa sajakah produk-produk gagal Google ini? Ada banyak sih. Tapi, dari beberapa di antaranya, ada yang bisa dipelajari dari produk-produk gagal ini. 

Yuk, belajar dari kesalahan 5 produk gagal dari Google!

1. Google+

Sampai dengan kurang lebih setahun lalu, kamu mungkin masih pakai ya? 

Nyatanya, sejak April 2019, Google+ mengundurkan diri dari jagat maya. Padahal awalnya aplikasi ini merasa mampu bersaing dengan Facebook, tapi ternyata amat sangat kalah tenar dari platform media sosial buatan Mas Mark tersebut. 

Pasar terbukti tidak mampu mencuatkan Google+, hingga hanya sedikit saja yang menggunakannya. Padahal, jaringan raksasa itu sudah berinvestasi besar untuk kelengkapannya, loh. Segala fitur video conference, kolom komentar, buku alamat dan sebagainya sudah “nangkring” dengan manis di dalamnya. Apa daya, netizen itu loyalitasnya luar biasa terhadap Facebook dan platform-platform lain yang sudah duluan ada.

Satu hal yang bisa dipelajari dari Google+: Kalau kamu memiliki bisnis jasa, maka kamu harus bisa lebih melindungi privasi pengguna. Kabarnya, ada sekitar 500.000 pengguna Google+ yang datanya bocor ke tangan pihak lain, yang akhirnya menjadi latar belakang ditutupnya layanan ini.dap media sosial yang sudah ada.

Hmmm, padahal sekarang ada banyak aplikasi yang konon juga bocor data penggunanya. Bahkan CEO startup unicorn ecommerce Indonesia pun mengaku, data penggunanya bocor!

Apakah startup ini akan berakhir sama seperti Google+?
Just wait and see, then.


2. Google Allo

Satu lagi dari Google yang beristirahat dalam damai di tahun 2019, yaitu Allo. 

Seperti Google+ yang berniat menyaingi Facebook, Allo mengincar tahta Whatsapp sebagai media pesan instan. Lagi-lagi, cita-cita itu kandas.

Kecurigaan utama adalah karena kegagalan fitur enkripsi end-to-end untuk diaktifkan secara default, sehingga tidak ada privasi dalam percakapan antarpengguna. 

Well, kebanyakan dari penggunanya nggak menyadari hal ini sih, karena kita harus sengaja mencari fiturnya di menu untuk kemudian diaktivasi enkripsinya. Berbeda dengan WhatsApp, yang enkripsi langsung jalan begitu kita memakai aplikasinya.

Hal inilah kemudian yang membuat produk Google Allo gagal di pasaran.

Ini memang berhubungan dengan keberadaan Google Assistant, karena tujuannya agar aplikasi Google yang berbasis Artificial Intelegence itu dapat menangkap semua percakapan demi mempersembahkan jawaban terbaik bagi pelanggannya. Jika enkripsi itu dinyalakan secara default, maka Google Assistant tidak bisa merekam pembicaraan pengguna. 

Pelajarannya adalah, bahwa jika kamu mencoba sebuah bisnis, maka berfokuslah pada bisnis tersebut dengan tidak menggabungkannya dengan yang lain. Kalaupun digabung, jangan sampai merugikan pelanggan karena kegunaan yang tumpang tindih. 


3. Google Buzz

Satu lagi yang begitu ingin disaingi oleh Google, yaitu Twitter. Maka, lahirlah Google Buzz.

Aplikasi ini terhubung dengan Google Mail, yang akibatnya para pengguna Google Buzz secara otomatis akan berteman dengan kontak-kontaknya di email. Kemudahan ini justru menjadi masalah dan dikomplain oleh banyak pihak, bahkan kabarnya ada satu tuntutan resmi karena "kepintaran"-nya ini. 

Well, yeah, katakanlah, enggak semua orang yang kamu kirimi email ingin berteman denganmu di media sosial, kan? 

Begitulah. So, Desember 2011 Google Buzz raib dari dunia maya.

Moral of the story: betapa pun banyaknya bisnis yang ingin kamu miliki, berikan pilihan pada pelanggan untuk meng-customize-nya. Biarkan mereka memilih, mana yang pengin diintegrasikan, dan mana yang enggak. 


4. Google Answer

Seorang pendiri Google sendiri yang memunculkan ide ini, dengan timnya yang berjumlah empat orang. Namun tidak semua jenius berhasil mengembangkan aplikasi jenius yang sukses, bukan?

Mungkin ini gegara Google Answer menarik bayaran atas pertanyaan yang diajukan, sedangkan pada saat yang sama, Yahoo! Answer menawarkan jawaban gratis. Begitu juga dengan Quora. Bahkan, di Quora, kamu bisa mendapatkan uang kalau bisa mengajukan pertanyaan yang viral lo. 
Nah, kalau sebagai user, terus coba deh, kamu sendiri akan memilih yang mana, kalau kayak gini? 

Akhirnya tahun 2006, Google Answer mengundurkan diri dan nggak menerima pertanyaan lagi. Tapi, thinking machine Google Answer ini, konon, menjadi bibit asal mula Google Search yang kita semua pakai hingga sekarang. 

So, moral of the story is, jangan menarik bayaran layanan yang orang lain mampu menyediakannya secara gratis. Kamu mesti menambahkan sesuatu agar lebih worth, jika memang hendak membuatnya berbayar. 


5. Google Video

Sebelum akhirnya mengakuisisi Youtube, Google pernah punya produk gagal juga yang mirip-mirip, namanya Google Video. 

Aplikasi ini melayani penggunanya dengan pencarian video yang lebih luas dari berbagai sumber. Dengan ini, para blogger yang memakai Blogspot bahkan tidak harus login lagi karena terintegrasi, sehingga kegiatan upload atau sharing video bisa dilakukan dengan sangat mudah dan cepat. 

Meski demikian, layanan ini terpaksa ditutup gegara (lagi-lagi) ada isu kebocoran data pengguna. Kebocoran ini terutama dialami oleh pengguna Google Video yang juga memiliki akun Google Takeout Service, katanya diakibatkan oleh “kesalahan teknis kecil”. 
Kecil ya? 

Hmmm, padahal yang terjadi adalah beberapa video pribadi milik pengguna tersebar tanpa sengaja ke mana-mana, tanpa persetujuan si pemiliknya. 

Wadaw! Kecil, hmmm?

Begitulah. Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti ada kejeblosnya juga. Raksasa sebesar Google pun bisa melakukan kesalahan bisnis. So, kita yang baru mulai ya wajarlah kalau melakukan kesalahan-kesalahan juga.

Yang penting, belajarlah dari kesalahan tersebut.

Sadar kan, bahwa dari kesalahan-kesalahan tersebutlah Google akhirnya semakin berjaya mempersembahkan yang terbaik bagi penggunanya? 

Nah, maju terus pantang mundur, ya! Jadikan kesalahan dari 5 produk gagal Google ini sebagai acuan pelajaran!


Share
Tweet
Pin
Share
No comments




Sudah lazimlah ya, kalau ada pemilik atau pengelola bisnis online juga menggunakan konten visual untuk mempromosikan bisnis mereka. Di dunia yang sudah "dirasuki" oleh teknologi canggih semacam sekarang, kayaknya enggak ada bisnis yang enggak menggunakan internet. Dan, konten yang menarik secara visual akan lebih menggaet orang yang melihatnya.

Hal ini karena manusia memang lebih mudah mencerna informasi secara visual. Coba simak infografis dari The Next Scoop ini deh.

Sumber: The Next Scoop

Makanya kan, materi iklan itu kebanyakan terdiri atas visual. Iya, banyak orang memang yang membuat konten visual untuk membantu pemasaran bisnis onlinenya.

Bagaimana dengan bisnis online-mu?

Tapi bikin konten visual enggak sekadar kasih gambar-gambar doang. Di dalamnya, harus ada konsep. Konsep yang bisa membuat orang menengok, dan kemudian "terpaksa" memperhatikan isi pesan dalam kontenmu, dan kemudian mereka akan melakukan aksi. Aksi apa? Ya, membeli produk atau apa pun yang kamu sedang tawarkan.

Prinsipnya kan memang satu doang.
Bikin orang mau beli.


So, supaya konten visualmu lebih menarik dan efektif, simak 10 tip penting yang harus diperhatikan

1. Kreatif

Yah, tip pertama ini memang begitu mudah diucapkan, tapi sulit untuk dilakukan.
Kek janjinya mantan. #ehgimana

Well, enggak bisa banyak yang bisa saya sarankan sih, di tip pertama ini. Di sini memang butuh ketajaman rasa dan juga waktu yang selow untuk eksplorasi lebih.

Tsah.
Udah kedengeran sok iyes belum?

Untuk bisa membuat konten visual yang kreatif, kamu hanya harus gunakan imajinasimu. Konten yang kreatif dan beda akan bisa menarik audiens dengan mudah. Di sini akan perlu kepekaanmu untuk menangkap apa-apa yang sekarang sedang disukai oleh orang-orang.

Jangan meniru konten-konten lain yang pernah dibuat. Kalau kamu membuat sesuatu yang baru dan beda, maka orang lain akan lebih mudah mengingatnya.

Ide kreatif bisa didaptkan dari mana saja. Yang penting, kamu bisa menarik audiens dengan memberikan inspirasi baru.


2. Sesuaikan isi konten dengan kebutuhan calon pelanggan

Konten visual yang kamu buat harus sesuai dengan kebutuhan calon pelangganmu.

Ini hubungannya dengan rencana bisnis online-nya juga sih. Semoga kamu sudah punya rencana bisnis yang matang sebelumnya ya. Semoga bisnismu dibangun berdasarkan kebutuhan calon pelanggan, bukan sekadar "karena saya pengin bisnis ini".

Maksudnya gimana ya? Coba baca artikel di QM Financial ini saja ya. Saya mah enggak terlalu berkompeten di sini, mending baca dari mereka yang lebih ahli.

Jadi, mari kita anggap bisnis online kamu sudah punya rencana bisnis yang matang, dengan menjawab kebutuhan calon pelangganmu.

Maka, agar bisa menyampaikan misi bisnismu, kamu juga harus punya konsep konten visual yang selaras dengan rencana bisnismu itu.

Misalnya, kamu berjualan baju plus size, untuk menjawab kebutuhan para wanita yang punya bodi plus size. Maka, konsep konten visualmu juga harus bertolak dari kebutuhan tersebut.


3. Buat kepo

Kalau kamu langsung menyebarkan poster utama via media sosial, besar kemungkinannya orang akan hanya melihat sekilas. Orang tidak akan terlalu tertarik untuk melihatnya. Efeknya tentu kurang bagus.

Kamu bisa menggunakan teknik khusus untuk menarik perhatian orang. Caranya bisa dengan memberikan petunjuk tersembunyi sebelum poster utama keluar. Misalnya, kamu membuat postingan berisi satu atau dua kalimat yang menunjukkan bahwa akan ada sesuatu yang menarik. Orang yang melihatnya pasti akan jadi penasaran dan menunggu munculnya poster utama.

Contoh aja deh.

Misalnya, untuk konten Instagram nih ya. Buatlah satu seri konten yang nantinya bisa kamu posting secara multiple.

Algoritme Instagram kan sekarang aturannya, kalau ada multiple post lewat di beranda dengan foto pertama belum kita like, nanti beberapa jam kemudian akan lewat lagi dengan slide foto kedua yang kelihatan.

Jadi, ini harus dimanfaatkan.

Buatlah posting dalam bentuk multiple post. Taruhlah, foto pertama dan kedua baru teaser, semacam ngasih pertanyaan-pertanyaan yang bikin orang kepo. Barulah di foto ketiga, nongol penampakan produk kita.

Dengan demikian, orang jadi beberapa kali "terganggu" kan? Jika foto pertama dan kedua cukup menggelitik, pasti deh foto ketiga akan mendapatkan perhatian.

Tinggal gimana kita meramu kontennya aja kan?


4. Berinteraksi dengan follower

Nggak cuma berpromosi melalui konten visual yang kamu sebar doang, kamu juga harus memberi kesempatan audiens untuk bisa berinteraksi langsung denganmu.

Kalau perlu, buatlah agar konten yang kamu pasang bisa disebar oleh follower lewat media sosialnya masing-masing.

Di sinilah perlunya kita juga memposting konten lain selain jualan. Bahkan porsi konten non jualan (atau jualan tapi tipis-tipis banget) ini diusahakan harus lebih besar ketimbang konten jualannya.

Aktiflah membalas komentar-komentar yang ada. Hal ini akan membuat orang lain juga tertarik, sehingga mereka semakin intens berinteraksi denganmu sebagai pemilik atau pengelola bisnis online tersebut.


5. Perfect timing

Di marketing, timing ini pegang peranan penting. Salah timing atau salah momen bisa menyebabkan materi kontenmu akan tertimbun oleh konten yang lain. Atau yang lebih parah, menimbulkan backlash--semacam bullying yang malah balik menyerang kita.

Contoh ya. Pernah saya menyiapkan konten yang mengulas tentang Papua. Namun, ternyata saat itu, Papua sedang dilanda kerusuhan. Maka, dengan terpaksa, konten tentang Papua itu harus dipending, demi menghindari hal-hal yang mungkin tak diinginkan terjadi.

Ini memang erat kaitannya dengan citra. Jadi, sesuaikan dengan citra bisnis online kamu ya.

So, pastikan kamu menayangkan kontenmu di waktu yang tepat.

Nah, soal publishnya, kamu bisa post kontenmu di waktu saat orang-orang banyak membuat media sosial. Misalnya di jam istirahat siang atau sore hari. Kalau dipost di tengah malam, ya pastinya akan lebih sedikit orang yang lihat.


6. Temukan ciri khas

Supaya orang lebih mengenal tentang bisnismu, ada baiknya kamu menentukan ciri khas atau image yang ingin kamu bangun. Misalnya, kalau warna khas brandmu adalah hijau, kamu bisa membuat konten visual yang bernuansa hijau.

Semua video, foto, dan poster yang kamu buat sebaiknya memiliki tema tertentu yang unik. Di sini kamu harus dapat mengembangkan image yang kamu punya.

Untuk apa? Ya supaya pelanggan dan calon pelanggan bisa lebih mengenal merek bisnis dan produkmu.

Yes, ini ada kaitannya dengan branding.
Well, in fact, sedari tadi kita ngomongin branding mulu sih.


7. Konsisten

Konsistensi juga merupakan hal yang penting. Seperti yang sudah disebutkan, kontenmu sebaiknya memiliki ciri khas sendiri. Ciri khas ini harus konsisten kamu masukkan di setiap konten yang kamu buat.

Ya kalau enggak konsisten, ya bakalan susah diingat sih. Gitu aja prinsipnya.

Jadi, begitu kamu menemukan "bahasa" yang pas, gaya yang pas, maka pertahankan, dan jadikan sebagai ciri khas. Tampilkan ciri khas ini di setiap konten visual yang kamu buat.


8. Libatkan follower yang sudah ada untuk menjaring follower baru

Maksudnya gimana dah?

Terkadang, promosi yang dilakukan antarteman lebih efektif daripada promosi yang dilakukan pemilik brand. Di sini, kamu harus bisa membuat agar follower yang sudah ada sekarang itu mau membantumu untuk ikutan menyebarkan konten visual yang sudah kamu buat.

Metode ini terbukti cukup efektif.

Ini banyak dilakukan oleh brand besar. Coca Cola pernah menerapkan trik ini. Mereka meminta follower untuk membuat konten kreatif sendiri menggunakan tagar #ShareaCoke. Dari situ, mereka bisa mendapatkan tambahan exposure, hingga follower pun bertambah 25 juta orang.

Hebat, ya. Tanpa mengeluarkan banyak biaya dan tenaga, mereka bisa mendapatkan hasil yang luar biasa.

Kamu juga bisa. Misalnya, buatlah giveaway atau kontes, yang meminta follower untuk ikut menyebarkan poster mengenai bisnismu. Uliklah sesuatu yang unik dan menarik, agar banyak yang tertarik ikutan. Lalu, pastinya, sediakan hadiah kecil yang juga menarik.


9. Menjaga kualitas

Kualitas konten visual yang berupa gambar dan video menunjukkan bahwa brand bisnis onlinemu profesional dan memiliki standar kualitas yang bagus.

Jangan gunakan foto beresolusi rendah untuk dipajang di media sosial. Yes, you would get judged for whatever you publish on social media nowadays.

Zaman sekarang, kamera handphone juga sudah sangat bagus. Jadi, tak ada alasan lagi nggak punya foto bagus karena nggak punya kamera khusus.


10. Manfaatkan sebanyak mungkin media

Zaman sekarang, banyak sekali media sosial yang digemari orang. Setiap orang memiliki media sosial kesukaannya masing-masing. Kadang mereka bisa punya akun dua atau lebih, bahkan.

So, ada baiknya juga jika kamu mempublish konten visual di berbagai media sosial. Hal ini bertujuan untuk menarik lebih banyak orang.

Kamu juga bisa share kembali kontenmu setelah beberapa waktu. Tambahkan emoji atau teks supaya interaksi kamu dengan follower lebih terasa.


Nah, itu dia 10 tip untuk membuat konten visual yang menarik, sekaligus bikin strategi tipis-tipis untuk marketing bisnis online-mu.

Yang pasti, selalulah berpikir, bahwa bisnis online-mu ada lantaran ingin membantu orang-orang tertentu dengan masalah mereka. Jadikanlah ini sebagai titik tolak untuk mengambil langkah apa pun terkait bisnismu.

Semoga bermanfaat ya.
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments


Hae, Gaes! Lagi di tengah-tengah saya me-rewrite buku Sukses Membangun Toko Online, yang dulu pernah diterbitkan Stiletto Book tahun 2014. Terus, lagi ngabsen, produk-produk apa saja sih yang sekarang bisa di-bisnisonline-kan?

Letsee. Mulai dari makanan, baju, pernak-pernik, aksesori, alat-alat hobi, sampai komoditi besar seperti tempat tinggal alias hunian pun sekarang bisa dijual secara online.

Nggak heran sih. Menurut data rilisan wearesocial, tahun 2019 ini, diproyeksikan jumlah pengguna internet di negara kita bakalan menembus 175 juta orang atau sekitar 65,3% dari total jumlah keseluruhan. Penetrasi internet pun meningkat sekitar 13% dari waktu sebelumnya.

Hal ini menjadi bukti internet tak lagi sekadar kebutuhan tersier, tetapi sudah bergeser ke posisi kebutuhan utama. Coba sekarang siapa yang lebih panik kalau kehabisan kuota ketimbang kehabisan uang di dompet? Hahaha. Saya! Cashless sih masih bisa pakai kartu debit, atau Gopay, atau OVO. Kalau kehabisan kuota? Beugh. Mati gaya bok! :)))

Internet memang dapat membantu kita untuk memenuhi segala kebutuhan sehari-hari. Misalnya dalam hal pencarian informasi hingga berbelanja semua kebutuhan.

Makanya sekarang tuh kayak udah lifestyle aja gitu buat rangorang untuk punya "hidup kedua" di internet. Yenggak? Kayaknya setiap orang tuh sekarang selalu punya virtual life, selain real life. Bukan nggak mungkin juga, nanti lama kelamaan, setiap orang bakalan punya bisnis online-nya masing-masing.

Dan di virtual life ini juga termasuk kegiatan jual beli. Karena itu, muncullah berbagai macam situs jual beli untuk berbagai barang, misalnya situs buat beli baju bahkan sampai laman jual beli rumah. Dan nggak cuma dijual di situs aja, banyak juga yang memanfaatkan media sosial sebagai lapak bisnis jual beli rumah ini lo.

Karena perkembangan yang luar biasa inilah, makanya saya diuber-uber lagi untuk naskah bukunya. Hahaha. Doain aja lancar lagi yah.

Nah, kembali lagi ke bisnis online.
Kalau bisnis online yang lain--yang kecil-kecil semacam crafting atau aksesori--gitu sih sebenarnya sudah cukup common prosesnya ya. Pembeli pesan, transfer, penjual kirim. Tapi khusus untuk kegiatan jual beli rumah online ini memang butuh proses yang spesial, kalau menurut saya. Setidaknya, pada proses transaksinya memang lebih ribet, yekan?

Tapi perkembangan sekarang ini menarik. Biasanya kan setelah melakukan pencarian secara online, calon pembeli akan melakukan survei langsung. Menariknya, beberapa tahun lalu hanya sekitar 20 sampai 30% orang saja yang mencari rumah dijual dengan memanfaatkan internet. Tapi kini, sekitar 95% orang sudah beralih ke cara online. 

Yes, gaes, you read it right! 90% transaksi jual beli rumah sekarang dilakukan secara online! So, jelas kan ya, bagaimana peluangnya sektor ini di beberapa tahun mendatang? Pastinya kondisi tersebut sebenarnya memberi banyak keuntungan juga bagi para sales serta agent properti online. 

Memang, apa saja sih keuntungan yang bisa diraih dengan jual rumah online?

Inilah 3 keuntungan yang bisa kamu dapatkan dengan jual rumah lewat online

1. Lebih hemat biaya

Jika dulu memasarkan rumah dijual secara konvensional butuh cetak brosur yang banyak agar bisa menjangkau lebih banyak calon pembeli, kini dengan cara jual rumah online kamu hanya perlu mengupload iklan di satu situs, lalu iklannya sudah bisa dilihat oleh jutaan pasang mata. Belum lagi kalau didukung dengan promosi media sosial yang bisa edan-edanan itu.

Ditambah, memasang iklan di situs jual beli rumah biasanya tidak berbayar alias gratis! Jauh lebih hemat biaya bukan daripada harus cetak brosur yang pada akhirnya juga akan dibuang oleh orang, yekan?


2. Teknologi virtual reality

Tak hanya biaya 0 Rupiah, seiring dengan kemajuan zaman maka pertumbuhan teknologi juga kian masif.

Salah satunya produk dari pertumbuhan teknologi yang bisa diterapkan buat jual beli rumah ialah teknologi virtual reality, yang memungkinkan orang untuk secara virtual merasakan bagaimana atmosfer serta keadaan lingkungan sekitar rumah dijual yang bakal dibeli.

Jadi calon pembeli bisa menilai apakah iklan jual beli rumah itu memang sesuai serta cocok dengan pencarian serta kebutuhan plus bujet calon buyer.


3. Bisa dipantau secara real time

Dulu, saat menggunakan brosur kamu tidak tahu seberapa banyak orang yang membaca atau malah langsung membuang sesaat setelah mereka menerima lembaran tersebut. Berbeda dengan jual rumah online, kamu bisa terus memantau berapa banyak orang yang sudah melihat, sudah klik serta tertarik dengan penawaran.

Buyer pun dapat langsung meminta kamu buat mengirimi info lebih banyak apabila mereka memang merasa butuh.



Nah. Jadi, gimana? Tertarik nggak untuk mencoba jual rumah lewat online? 

Saya sendiri sekarang juga lagi merintis bisnis di bidang ini lo, joinan sama keluarga. Doain lancar yah. Amin!
Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Saya suka geregetan kalau sudah soal pemanfaatan media sosial sebagai salah satu alat PR, alias public relation, dan juga marketing yang kurang dimaksimalkan.

Ya, mungkin karena tiap hari saya ngulik kek ginian sih ya. Hahaha. Bawaan penasaran mulu sama media sosial tuh--apa pun! Soalnya saya lihat crowd-nya memang potensial banget buat "disisipin iklan", hanya saja memang tricky lantaran kita mesti smooth masuknya. Biar ga genggeus. Rangorang nggak kerasa kalau disodorin iklan, gitu.

Hahaha. Rumit emang, pikiran orang marketing nih.

Sering lihat juga, beberapa teman mencoba bisnis, tapi masih belum bisa memanfaatkan media sosial ini dengan baik sebagai ujung tombak bisnisnya.

Apa indikasinya? Misalnya, Instagram. Feed Instagramnya cuma berisi foto jualan doang, yang enggak ada indah-indahnya sama sekali. 100% isi jualan doang, dan bukan foto-foto yang enak dipandang. Captionnya juga cuma spesifikasi barang dagangan, meliputi ukuran, warna, dan hal-hal teknis lain yang cukup menjemukan, dan nggak triggering orang untuk pengin beli. Yang beli ya yang butuh aja. Padahal kita butuh memengaruhi orang yang sebenarnya nggak butuh tapi terus mau beli. Bener nggak?

Tapi, Mak, "enak dipandang" itu kan selera banget. Mungkin si pemilik akun merasa itu sudah indah.

Hmmm, kalau ada yang berpendapat seperti itu, ya yahhh ... bisa jadi sih. Memang selera, tapi coba deh. Cobain trik berikut, siapa tahu bisa lebih mendongkrak penjualan.

Kan, enggak ada salahnya ada sedikit trik dicobain kan ya? Kalau memang oke, ya lanjut. Kalau enggak, ya udah nggak usah dipakai lagi. Cari yang lain yang lebih cocok. Karena treatment marketing itu memang sangat tergantung dengan sifat bisnis dan barang-barang yang dijualbelikan kok. Nggak ada yang harga mati. Kitanya aja yang mesti pinter menyesuaikan.

Tapi, yaqin deh, trik-trik berikut ini sudah saya terapkan dan terbukti bawa hasil. Mungkin bisa nggak dalam waktu cepat, tapi bisa ada efek yang cukup signifikan.



Cara Memanfaatkan Media Sosial dengan Lebih Efektif untuk Mempromosikan Bisnis



1. Kumpulkan Aset dan Keunggulan Produk

Ini harus dilakukan pertama kali.
Kenapa? Kan kita jualan produk, maka kita akan sangat tergantung pada keunggulannya. Coba cari (kalau memang sebelumnya nggak tahu keunggulan produk sendiri--meski rada aneh juga sih kalau jualan tapi nggak tahu keunggulan produk sendiri. Ehe~), kumpulkan dan catat, apa yang ingin ditonjolkan dari produk kita untuk diinformasikan pada (calon) pelanggan.

Bahannyakah? Proses pembuatannyakah? Detailnya yang unikkah? Atau service after selling yang oke?

Buatlah daftar selengkap mungkin. Daftar ini nanti akan menjadi amunisi saat kita bergerak untuk mendapatkan atau memrospek pelanggan.

Setelah daftarnya lengkap, sekarang buat daftar target customer dan audience. Ini nanti akan menentukan bagaimana ‘suara’ dalam setiap konten media sosial kita.

Kalau perlu petakan juga demografinya, mulai dari rentang umur, variasi pekerjaan, tinggal di mana (kota besar, kota kecil, rural). Kalau perlu, petakan juga income mereka.

Di sini, kita sudah menentukan persona calon customer dan audience. Dengan persona ini, kita nanti akan lebih mudah memasarkan produk.


2. Klaim Nama Bisnis di Semua Media Sosial

Nah, ini yang namanya awal nge-branding.
Kita mesti klaim semua nama bisnis kita di media-media sosial. Just name it, Twitter, Facebook, Facebook Page, Google+, LinkedIn, Instagram, Pinterest, Line@, Snapchat, Foursquare, dan seterusnya.

Mengapa mesti begini?
Ya, supaya nama bisnis kita itu benar-benar hanya menjadi punya kita sendiri. Lengkapi semua dengan foto profil yang memperlihatkan profil bisnis kita, misalnya logonya, atau foto apalah yang bisa mendefinisikan bisnis kita. Tapi hati-hati jika menampilkan foto produk sebagai foto profil ya, ada kemungkinan akan tampak kurang kuat saja image-nya. Akan lebih baik, kalau yang dipasang adalah logo bisnis.

Kalau kita sampai bisa mendapatkan semua media sosial atas nama bisnis kita yang sama, well, we’re lucky. Tapi, kalau ternyata sudah ada yang ambil, maka segera cari alternatifnya. Pastikan saja nggak terlalu jauh dengan nama bisnis aslinya.


3. Manage with Tools

Iya, saya tahu, bahwa kita semua cukup sibuk untuk mengurusi semua akun media sosial yang sudah ada ini.

Kabar baiknya, tak perlu semua dipakai kok. Ada beberapa yang asal sudah diklaim saja namanya, dan biarkan saja nonaktif. Lebih baik kita fokus pada 2-3 media sosial saja, dan boost sampai pol.

Misalnya, rencanakan untuk memanfaatkan Facebook dan Instagram lebih dulu.

Bagaimana dengan Twitter? Well, kalau untuk saya, Twitter itu rada susah untuk jualan produk riil ya :)) Soalnya isinya sobat misqueen semua. Hahahaha. Tapi kalau semisal kamu punya bisnis yang cocok disuarakan via Twitter, kamu bisa menambahkannya dalam daftar media sosial yang harus digarap. Semua memang harus disesuaikan dengan bisnis masing-masing.

Kalau saya sih, biasanya mengelola akun-akun media sosial ini dengan memanfaatkan fitur dan tools yang sudah ada.

Misalnya, saya manfaatkan IFTTT untuk membuat postingan otomatis dari Instagram langsung share ke Facebook Page dan Twitter. Jadi begitu post di Instagram, kita nggak perlu lagi Share to Other Apps. Habis posting di IG, ya udah tinggalin saja, ntar IFTTT yang akan posting langsung ke Facebook Page dan Twitter.

Soalnya saya sendiri kadang lupa atau nggak sempat, bok, buat sekadar mencet tombol Share to Other Apps juga X)) Habis posting di satu akun, langsung tinggal dulu untuk posting juga di akun lain. Terus nanti setelah 1 - 2 jam balik lagi untuk liat feedback. Udah, lupa mau share.
Dengan IFTTT ini saya cukup terbantu.


4. Posting untuk Promosi

Untuk skedul harian, jam berapanya enggak ada yang pasti karena semua tergantung audience masing-masing. Jadi, luangkan waktu untuk mengamati timeline media sosial kamu ya. Waktu ramainya kapan, yang paling sering ditanggapi konten apa, dan seterusnya.

Ada yang bilang, untuk Twitter jumlah konten ideal adalah 10 tweet sehari, Facebook 2 status per hari, Google+ satu kali sehari, Instagram dua kali sehari, dan kalau kita punya blog pribadi, setidaknya bahasan mengenai bisnis atau produk kamu harus muncul di blog setidaknya 2 kali sebulan.

Kalau bisnis kita punya blog sendiri, usahakan untuk selalu update minimal dua kali dalam satu minggu. Jangan lupa ditaut-tautkan ke laman-laman produk ya untuk keyword yang sudah ditentukan.



5. Konten, Konten, Konten!

Nah, sekarang mulai mencari konten yang cocok untuk disebarkan pada para calon customer / follower.

Perlu banget untuk diingat, mindset bahwa media sosial kita hanya boleh/bisa diisi oleh konten promosi dari bisnis online kita saja, itu adalah salah. Justru kita mesti juga menambah dengan konten-konten yang lain.

Ada aturan sharing konten di Facebook yang tersebar di antara para digital marketers, yaitu 70-20-10.

70% konten kamu harus merupakan konten yang bisa memberikan nilai tambah bagi audience kamu, misalnya tips, quotes, surveys, tapi pastikan harus benar-benar relevan ya. 20% konten kamu seharusnya merupakan konten dari source lain yang kira-kira bisa menarik audience. Nah, baru deh 10%-nya adalah konten promosional dari bisnis kamu, misalnya update saat ada barang baru, informasi kalau ada sale atau giveaway, dan seterusnya.

Kayaknya ini bagus juga untuk diterapkan di Instagram.

Jadi, pastikan kita punya konten dulu sebelum mulai berburu followers ya. Mulailah sharing sebelum kita punya followers. Biarin aja nggak ada yang nonton sekarang, tapi kita harus memberi calon follower alasan untuk mau follow atau like.


Nah, itu dia 5 trik awal memanfaatkan media sosial untuk bisnis. Untuk selanjutnya, kita juga harus mulai networking dengan pebisnis lainnya, juga rajin untuk upgrade dan update skill dan pengetahuan setiap waktu.

Karena pertumbuhan teknologi memang sangat pesat. Meleng sedikit saja, maka pasti kita akan ketinggalan banyak. Nyesel kemudian deh.
Semoga sukses ya!

Share
Tweet
Pin
Share
5 comments

Artikel ini pernah tayang di www.RedCarra.com.

Jangan lakukan hal-hal berikut ini ya, wahai para Pemilik Online Shop!


Dulu, saya sempat melemparkan pertanyaan survey kecil-kecilan di wall Facebook saya. Pertanyaannya adalah sebagai berikut.

"Selain admin yang mungkin kurang sigap dan responsif dalam menjawab feedback-feedback dan suka nunda-nunda pengiriman, kira-kira apa lagi sih yang bikin kamu malas belanja di toko online tertentu?"


Dan lalu jawaban-jawaban mulai bergulir. Hmmm, sebenarnya jawaban-jawabannya beda-beda. Tapi bisa dibilang, inilah kesalahan-kesalahan umum yang dilakukan oleh para pemilik online shop.

Nih, saya rekapin jawabannya ya. Supaya bisa kita lihat secara keseluruhan, dan barangkali bisa menjadi catatan supaya para pemilik online shop mau memperbaiki sistemnya.

1. Menulis kondisi barang yang tak sesuai atau kurang detail


Kalau dagangannya baju, ya entah ukurannya yang nggak detail, misalnya. Padahal ukuran ini sangat penting ya, kalau produknya baju. Ukuran lingkar dada, lingkar perut, lingkar ujung baju paling bawah, kalo bisa juga lingkar lengan deh. Karena orang kan nggak bisa ngepas dulu kalo beli online. Udah gitu pelanggan juga nggak bisa meraba bahannya. Jadi memang harus selengkap mungkin spesifikasinya ya.

Ohiya, ini juga termasuk tidak mencantumkan harga pada lapaknya. Ada banyak calon pembeli yang merasa terganggu loh, dengan cara ini. Banyak yang memasukkan harga sebagai pertimbangan saat mengambil keputusan untuk membeli. Dan akhirnya harus menyerah, karena males nanya-nanya harga sama penjual. Ntar cuma nanya-nanya doang juga dinyinyirin D

Kondisi barang sebaiknya juga diperjelas. Misal, dagangannya adalah buku apalagi buku seken. Tulislah kondisi bukunya, apakah ada yang terlipat, apakah ada yang lembap, apakah ada yang cacat sedikit dan lain sebagainya. Kalau perlu, foto satu-satu kondisinya. Terlipatnya bagaimana, lembapnya di bagian apa.

Ini juga termasuk memasang foto yang tidak sesuai dengan kondisi asli barang ya. Misalnya, fotonya diretouch dengan photoshop, atau kebanyakan efek di Instagram. Usahakanlah fotonya tanpa filter, dan tanpa diedit. Gunakan sumber pencahayaan yang terang menerangi setiap detail produk. Jangan kebanyakan shadow. Kalau pelanggan tertipu dengan foto produk kita, bisa fatal banget akibatnya.

Prinsipnya, calon pembeli online TIDAK BISA memegang atau melihat kondisi barang secara langsung. Mereka hanya mengandalkan informasi yang diberikan oleh pemilik olshop. Jadi, berikan informasi selengkap-lengkapnya dan apa adanya.

2. Malas update web/stock


"Mas, barang X ada?"
"Wah, lagi kosong."
"Lho, di webnya kok tercantum ada stock?"
"Iya. Belum diupdate."



Convo kayak gitu itu HADEH banget deh! Nipu! Apa susahnya update stock di web? Apa susahnya sih stock opname? Kalo nggak bisa setiap kali liatin atau update web, ya jadwalkan dong seminggu sekali. Ingat, web online shop itu adalah etalase kita jualan. Web itu adalah toko kita. Kalo nggak dikunjungin oleh pemiliknya sendiri, gimana mau dikunjungi orang?

3. Term & Condition tak lengkap, alur pemesanan yang tak jelas dan kalo ditanya respon lama


Ribet, gitu komentar beberapa narsum. Jadi cantumkan sejelas-jelasnya cara pemesanan, cara pembayaran, aturan klaim dan sebagainya. Dan saat ditanya oleh pelanggan, responlah dengan ramah dan cepat. Jangan sampai nunggu sampe berjam-jam. Saat pelanggan harus menunggu lebih dari 2 jam hanya untuk sebuah info kurir yang dipakai, anggap saja pelanggan itu sudah pergi ke olshop lain ;)

Simpel.

4. Malas mencari info tambahan


"Ini kirimnya pake apa?"
"JNE."
"Bisa pake pos nggak, supaya lebih murah."
"Saya belum tahu ongkirnya."

Ha terus? Ya cari tahu dong!!

Ada cektarif.com nih, yang bisa ngecek ongkir via beberapa jasa kurir yang sering dipake sama online shop. Sepertinya juga bisa tuh pasang widgetnya di web. Jadi biar pelanggan bisa ngecek ongkir masing-masing. Saya belum pernah coba sih pasang widgetnya. Barangkali ada yang mau coba, dan kalo it works, bisa deh info saya :)

5. Respon Lama


Ditanya produk, jawabnya lama. Ditanya cara pesen, jawabnya lama. Minta refund, prosesnya sebulan. Halagh! Niat jualan nggak sih? :)) hahahahaha...

Saya juga pernah kok merespon pelanggan sampe 8 jam berikutnya. Itu gara-gara HP saya silent. Dan harinya hari Sabtu apa Minggu gitu. Di hari-hari tersebut, saya penginnya ya istirahat. Nah, respon lama saya itu berbuah pelanggan yang udah lari ke olshop lain. Ya udah, saya pasrah. Bukan rezeki saya.

Tapi saya nggak bisa cuma pasrah gitu doang. Akhirnya saya tambahin deh di term & condition, pemesanan di hari kerja pukul sekian hingga pukul sekian. Di luar itu akan direspon pada hari kerja berikutnya. Pelanggan akhirnya juga maklum kok :)

Bagaimana pun pemilik olshop juga manusia. Punya hak untuk istirahat, iya kan? Butuh piknik, butuh rileks. Masa iya musti respon juga kalo ada yang nanya-nanya pas jam 1 dini hari :D

Yang penting memang semua harus jelas di term & condition. Kalau semua sudah tertulis di term & condition, kalo ada pelanggan yang masih aja riweuh, yaaaa bukan salah pemilik olshop. Hahahaha :))

6. Hanya mengucapkan terima kasih, tapi tidak mengucapkan salam untuk pembeli


Di luar negeri, saat kita mendapatkan email dari orang lain selalu diawali dengan kalimat semacam ini, "Good afternoon. Thanks for your email.", dan kemudian ditutup dengan "Have a nice day."

Kalo di kita? Nggak ada salam pembukanya, ga ada juga salam penutupnya. Yang ada paling-paling, "Terima kasih sudah berbelanja. Besok beli lagi ya?"

Errrrrrrr... enak di elu yang dapet duit! :))

Kenapa nggak diberi salam semacam "Selamat menjalani harimu, semoga menyenangkan ya." Pelanggannya pasti seneng banget didoakan begitu. Iya nggak sih? Jangan cuma mikirin dagangan dan duit dong. Pikirin si pelanggannya, yang barangkali masih akan beraktivitas hingga ujung harinya. Doain biar semua urusannya lancar, biar dapat rezeki lagi. Kan, kalo dapat rezeki lagi juga bakalan belanja lagi toh? Jadi ya doanya jangan vulgar gitu ah. :D

7. Berpikir bahwa dengan modal sedikit-dikitnya, bisa meraih untung sebanyak-banyaknya


Ini nih, kadang jadi bumerang. Ini bagus cuma buat awal aja, itu pun nggak semua jenis usaha online bisa dibikin kayak gini.

Ada yang memang membutuhkan modal. Modal pemasaran misalnya. Mau lebih dikenal brandnya, coba deh nyeponsorin event atau acara-acara. Mau lebih dikenal lagi, coba pasang iklan berbayar. Karena iklan berbayar, bagaimanapun, posisinya pasti lebih bagus. Kalo semua-muanya gratisan, saya nggak yakin bakalan cepet turnovernya. Padahal sebenernya bukan besarnya laba-rugi yang harus kita perhitungkan, tapi cash flow. Uang yang mengalir, yang beredar. Jadi, antara modal dan pendapatan, menurut saya, berbanding lurus.

8. Sok eksklusif dan profesional, hingga malah tak berinteraksi dengan akrab


Para follower, likers, friends dalam list media sosial kamu adalah teman kamu, meski kamu sedang berada di balik meja admin. Sapalah mereka, nggak usah pake jaim lah. Jangan kayak robot, cuma ngasih liat dagangan doang. Sekali-sekali bercanda, sekali-sekali ngocol. Tapi tetep jaga branding, jangan kebablasan jadi norak.

Kalo ada yang bertanya, jawab dengan ramah. Meski pertanyaannya kadang sudah ada dalam term & condition :D Ini sering banget, ya kan? Kebiasaan kita nih, ga suka baca term & condition langsung tanya aja. Males baca. Yaaa, itu harus dipahami. Harus dimaklumi, meski grundelan. :)) Coba deh jawab pertanyaannya dengan senyum, mengetiklah dengan tersenyum. Hasilnya beda deh. Buktikan aja sendiri :D



Nah, itu tadi beberapa kesalahan yang umum dilakukan oleh para pemilik online shop. Ada sih beberapa lagi, bisa dibaca di buku "Sukses Membangun Toko Online" ini ya. Lho, kok ujungnya promosi ya? Yaaaa, nggak papalah. Ini juga salah satu strategi pemasaran kok :))
Kalau udah nggak nemu di toko buku, ya maklum. Itu buku tahun 2014. Mau? Bisa pesan ke saya, atau ke Stiletto Book ;)

Sukses Membangun Toko Online - Penerbit: Stiletto Book

Selanjutnya, rencananya sih, pengin survey untuk pemilik olshop-nya. Biar fair gitu ya, nggak cuma ada keluhan para pelanggan online shop, tapi juga ada keluhan para pemilik online shop tentang para pelanggannya :D

Stay tuned!

Atau mau tambahin kesalahan para pemilik olshop yang lain? Yang sering bikin kamu sebel?
Sok, silakan tambahkan di komen ya! Nanti saya update di artikel :)
Share
Tweet
Pin
Share
30 comments
Older Posts

Cari Blog Ini

About me





Content & Marketing Strategist. Copy & Ghost Writer. Editor. Illustrator. Visual Communicator. Graphic Designer. | Email for business: mommycarra@yahoo.com

Terbaru!

Kapan Waktu buat Nulis? Begini Cara Saya Membagi Waktu dengan Urusan Warung dan Rumah

Kalau ditanya kapan saya punya waktu untuk menulis, jawabannya enggak pernah pasti. Jadi, memang bukan di jam segini atau jam segini. Dalam ...

Postingan Populer

  • 15 Ide Style Feed Instagram yang Bisa Kamu Sontek Supaya Akunmu Lebih Stylish
    Hae! Kemarin saya sudah bahas mengenai do's and donts dalam mengelola akun Instagram , terus ada pertanyaan yang mampir, "Ka...
  • Beberapa Tip Jitu untuk Membantu Kamu Menjaga Konsentrasi dan Fokus Menulis
    Masalah fokus atau konsentrasi biasa memang menjadi permasalahan umum bagi para penulis--baik itu penulis buku, konten, dan blog. Dist...
  • Yang Harus Blogger Ketahui Mengenai Link Eksternal - The Bloggers' Biggest Fear
    Warning: artikel ini akan panjang. Tapi I guaranteed, akan membahas hingga ke detail mengenai outbound links atau link eksternal. Karena...
  • Ukuran Feed Instagram 6 Kotak dan Cara Membuatnya Tanpa Ribet
    Eits. Bukan, ini bukan fitur baru. Ada yang nanya soal feed Instagram 6 kotak dari Google, masuk deh ke Console. Hehehe. Iya, ini bukan fitu...
  • Bagaimana Cara Menulis 100 Kata Pertama yang Ajaib Agar Orang Mau Terus Membaca Artikel Kita
    5 Cara Menulis 100 Kata Pertama yang Ajaib Agar Orang Mau Terus Membaca Artikel Kita Dalam artikel guest post mengenai Cara Mudah Tuli...

Blog Archive

Portofolio

  • Buku Mayor
  • Portfolio Konten
  • Portfolio Grafis
  • Konten Web
  • Copywriting
  • E-book
  • Buku Fiksi
  • Ilustrasi

Follow Me

  • instagram
  • Threads

Created with by ThemeXpose