• Home
  • About
  • Daftar Isi
  • Konten Kreatif
    • Penulisan Konten
    • Penulisan Buku
    • Kebahasaan
    • Visual
  • Internet
    • Blogging
    • Marketing
    • User
    • WordPress
  • Media Sosial
    • Facebook
    • Twitter
    • Instagram
  • Stories
    • My Stories
    • Featured
    • Freelancer
  • Guest Posts
Diberdayakan oleh Blogger.
facebook twitter instagram pinterest Email

Carolina Ratri

Instagram Threads: Apa yang Perlu Kamu Ketahui?

Setelah Elon Musk mengumumkan pembatasan pada jumlah tweet yang bisa dibaca oleh pengguna Twitter, banyak aplikasi pesaing seperti Spill, Bluesku, dan Post berusaha untuk menarik pengguna baru. Tak ketinggalan juga Meta, perusahaan raksasa di balik platform media sosial Instagram. Maka muncullah aplikasi berbasis teks Instagram Threads, sudah tersedia di Google Play Store.

Menurut penelusuran ke berbagai sumber, aplikasi ini awalnya dikenal sebagai Barcelona dan pengembangannya dimulai di bulan Maret 2023. Namun, The Verge disebutkan bahwa proyek Threads ini sebenarnya sudah dikembangkan sejak Januari, dengan nama 'Project 92'. 

Buat yang penasaran dengan aplikasi media sosial yang baru ini, coba yuk, kita telusuri bareng-bareng lebih jauh.

Apa Itu Instagram Threads?

Instagram Threads adalah platform yang memungkinkan orang-orang dapat membahas segala hal, mulai dari topik yang sedang tren saat ini hingga apa yang akan populer di masa depan. 

Threads akan terintegrasi dengan Instagram, memungkinkan pengguna Threads untuk menggunakan username Instagram mereka dan mengikuti akun yang sama seperti yang mereka lakukan di Instagram.

TechCrunch mencatat bahwa meski Threads sangat terintegrasi dengan Instagram, aplikasi ini adalah entitas tersendiri. Kontennya berfokus pada teks, mirip dengan Twitter, namun masih mempertahankan estetika Instagram. Aplikasi ini menawarkan fitur seperti tombol like, komentar, retweet seperti di Twitter, dan share. Pengguna juga dapat mengatur siapa saja yang dapat membalas postingan mereka, sama seperti fitur pengaturan privasi di Twitter.

Apa Saja Fitur Threads?

Threads memberikan fitur yang memungkinkan pengguna mengubah profil, memberikan balasan, melihat aktivitas akun, mengunggah konten baru, dan mencari konten tertentu. Berikut ini adalah penjelasan rinci mengenai fitur-fitur tersebut.

Profil

Pengguna bisa merujuk ke menu profil yang terletak di sudut kanan bawah dengan ikon orang. Di sini, pengguna memiliki opsi untuk memperbarui "Bio", menautkan situs web atau sumber lainnya, serta mengatur profil mereka sebagai privasi atau publik.

Reply

Fitur ini berfungsi sama seperti menu yang sudah kita kenal di Twitter, yaitu memungkinkan pengguna untuk melihat semua tanggapan yang mereka buat pada postingan.

Activities

Untuk saat ini, letaknya berdampingan dengan menu profil di sudut kanan bawah dan memiliki ikon berbentuk hati. Pengguna bisa mendapatkan pembaruan tentang aktivitas akun mereka seperti informasi mengenai pengikut baru, balasan, dan mention.

Mengunggah Threads

Pengguna dapat membuat postingan baru dengan menekan tombol yang berada di bagian bawah tengah dengan ikon notes. Fitur ini memungkinkan pengguna untuk memposting teks tanpa batas, menambahkan gambar, lokasi, atau menandai pengguna lain.

Pencarian

Terletak di sudut kiri bawah dengan ikon kaca pembesar, fitur ini memungkinkan pengguna untuk mencari konten tertentu dengan memasukkan kata kunci.

Beranda

Berada di pojok kiri bawah dengan ikon rumah, halaman ini akan menampilkan postingan dari akun-akun yang diikuti pengguna. Di sini, pengguna dapat menyukai, membalas, mengulang postingan, membuat kutipan, dan membagikan postingan yang ada di Thread.

Bagaimana Cara Mendownload dan Mendaftar Threads?

So, buat kamu yang udah begah di Twitter, dan ingin memulai “hidup baru” *hasyah* enggak ada salahnya buat ikut gabung banyak orang di Instagram Threads ini.

Berikut adalah langkah-langkah sederhana yang bisa kamu ikuti untuk mulai menggunakan aplikasi Threads.

Download Aplikasi Threads

Pertama-tama, kamu perlu mengunduh aplikasi Threads dari toko aplikasi resmi, yaitu Google Play Store untuk kamu pengguna Android, atau App Store bagi pengguna iOS. Cukup cari "Threads, an Instagram App" dan tekan tombol "Unduh" atau "Dapatkan" untuk memulai pengunduhan.

Masuk dengan Akun Instagrammu

Setelah mengunduh, buka aplikasi Threads dan masuklah dengan akun Instagrammu. Pastikan kamu menggunakan akun yang sama dengan yang biasa kamu gunakan di Instagram.

Atur Pengaturan Privasi

Di tahap ini, kamu akan diminta untuk mengatur privasimu. Threads memberikan beberapa pilihan tentang siapa saja yang bisa melihat kontenmu dan siapa saja yang bisa mengirimimu pesan. Pilihlah pengaturan yang paling sesuai dengan preferensimu.

Tambahkan Kontak

Langkah selanjutnya adalah menambahkan teman pentingmu ke dalam daftar teman di Threads. Kamu bisa memilih dari daftar teman Instagrammu atau menambahkannya secara manual dengan memasukkan nama pengguna Instagram mereka. Threads membuatnya lebih mudah bagi kamu untuk berbagi konten hanya dengan orang-orang tertentu.

Mulailah Berbagi Konten

Sekarang kamu siap untuk mulai berbagi konten dengan teman-temanmu melalui Threads. Pilih foto atau video dari galerimu, tambahkan teks atau stiker, dan pilih teman yang ingin kamu bagikan. Kamu juga bisa berbagi cerita dengan cepat dan mudah menggunakan fitur "Status".

Gunakan Fitur Kreatif Threads

Threads dilengkapi dengan berbagai fitur kreatif yang bisa kamu gunakan untuk mengedit kontenmu sebelum membagikannya. Kamu bisa menambahkan filter, efek, teks, stiker, dan lainnya untuk membuat foto atau videomu menjadi lebih menarik.

Coba Fitur Lainnya

Selain berbagi konten, Threads juga memiliki berbagai fitur lain yang bisa kamu coba. Kamu bisa melihat status teman-temanmu untuk tahu apa yang mereka lakukan sekarang, atau melihat cerita mereka dalam bentuk slideshow yang diurutkan berdasarkan waktu.

Cara Menggunakan Instagram Threads

Nah, untuk mulai menggunakan, kamu bisa ikuti langkah-langkah berikut:

  • Tekan tombol di tengah bagian bawah dengan ikon catatan atau notes. 
  • Di sini, kamu bisa menulis teks tanpa batas, menambahkan foto, memberikan info lokasi, atau menandai teman dengan mention. 
  • Setelah itu, cukup klik kirim.

Sudah, gitu aja. Persis seperti Twitter.

Selain itu, kamu juga bisa membagikan unggahanmu di Threads ke pengguna lain, berikut caranya: 

  • Pilih unggahan di Threads yang ingin kamu bagikan. 
  • Tekan ikon pesawat untuk memulai proses pembagian. 
  • Kamu bisa memilih "Add to story" jika ingin membagikannya ke cerita Instagrammu, atau "Post to feed" untuk membagikannya ke umpan Instagrammu. 
  • Jika ingin membagikannya ke Twitter, pilih "Tweet". 
  • Kamu juga bisa membagikan ke platform media sosial lainnya dengan memilih "copy link" atau "Share via..".

Mudah kan ya?

Untuk printilan yang lain, kamu bisa eksplorasi sendiri, karena pada dasarnya Threads dibuat untuk memudahkan, dan semirip mungkin dengan Twitter. Namanya juga saingan.

Apa yang Perlu Diwaspadai/Diketahui Lebih Jauh tentang Threads?

However, seperti halnya aplikasi baru, akan selalu ada bugs, glitches, dan isu-isu yang masih harus dibereskan. Begitu juga dengan Instagram Threads ini. Beberapa hal berikut seharusnya bikin kamu aware kalau pengin punya akun di aplikasi ini.

Apa yang terjadi jika kita pengin menonaktifkan aplikasi Instagram Threads?

Ketika kamu memilih untuk menonaktifkan profilmu di Threads, satu hal yang jelas akan terjadi adalah unggahan dan interaksi kamu dengan pengguna lain akan menjadi tidak terlihat sementara hingga kamu mengaktifkan kembali akunmu. 

Namun, penting untuk dijelaskan bahwa menonaktifkan profil Threads tidak mengakibatkan penghapusan data Threads atau memengaruhi akun Instagram kamu. Data kamu tetap utuh, dan keberadaanmu di Instagram tetap tidak terpengaruh oleh tindakan ini.

Bagaimana data dari akun Instagram kamu digunakan di Threads?

Meta menjelaskan, bahwa ketika kamu membuat profil di platform Threads, secara inheren profil tersebut terhubung dengan akun Instagram yang kamu gunakan untuk login. 

Sesuai dengan Kebijakan Privasi Meta, data yang terkait dengan akun Instagrammu digunakan untuk berbagai tujuan, mencakup mengimpor informasi profil kamu ke Threads, menyesuaikan feed kamu sesuai dengan preferensi kamu, dan sebagainya. Ya, persis kayak cara kerja algoritme Instagram.

Selain itu, data yang dikumpulkan dari Threads juga dapat dimanfaatkan untuk mempersonalisasi dan meningkatkan pengalamanmu secara keseluruhan di Instagram.

Risiko data bocor dan dimanfaatkan? Ho ya jelas. But, that how it works right? Kamu kan sudah punya Instagram, datamu juga dimanfaatkan loh. Kamu yang suka main TikTok, juga sama. Kamu yang suka belanja di syopi, tokped, juga sama. Kamu yang punya mobile banking, juga sama. So … ?

Menghapus Threads

Untuk saat ini, kalau kamu hendak menghapus akunmu di Threads, maka akun Instagram kamu juga akan ikut terhapus. Masih menurut Meta, ini merupakan salah satu isu terbesar yang sedang mereka cari solusinya sih. So, mari kita tunggu saja.

Akhirnya, semoga penjelasan ini membantu kamu dalam memahami aplikasi Threads by Instagram. Perlu diingat bahwa selama kamu menggunakan platform ini atau platform sosial media lainnya, selalu berikan perhatian khusus pada privasi dan keamanan data pribadi kamu. Jika ada pertanyaan lebih lanjut atau jika kamu mengalami kesulitan, jangan ragu untuk mencari bantuan atau meminta klarifikasi. 

Ingatlah, penggunaan media sosial yang aman dan bertanggung jawab berarti kamu dapat menikmati semua fitur dan manfaat yang ditawarkan tanpa harus khawatir. Selamat mencoba dan semoga menikmati pengalaman baru dengan Threads!


Share
Tweet
Pin
Share
1 comments


Cara Mengatur Waktu Agar Tidak Terjebak Terlalu Lama di Media Sosial


Penggunaan media sosial nggak mengenal usia, dari anak-anak hingga orang tua. Media sosial hampir sepenuhnya mengubah cara masyarakat modern berkomunikasi. Media sosial juga dirancang untuk semua orang agar bisa menyebarkan informasi secara cepat.

Kalau menurut Bu Tejo, "Duwe handphone kuwi ora mung nggo nggaya, tapi nggo golek informasi."

Namun, media sosial juga telah membuat banyak orang kecanduan, yang menimbulkan beberapa dampak negatif. *lirik Bu Tejo lagi* 

Banyak orang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menatap layar gadget. Oleh karena itu, kamu mesti pintar mengatur waktu dan mengendalikan penggunaan media sosial.

Manajemen waktu adalah sebuah perjuangan bagi banyak orang. Yang tadinya cuma pengin memeriksa posting Facebook atau Twitter, tapi lalu kamu bisa tenggelam dalam posting-posting yang lain.

Sementara media sosial bisa menghibur, mendidik, dan memberi inspirasi, media sosial juga bisa dengan mudah membuat ketagihan. Jika kamu mencari cara untuk tidak terjebak ke media sosial dan membuang-buang waktu, nah, coba lakukan beberapa hal berikut.

Tip Atur Waktu Supaya Nggak Tenggelam di Media Sosial dan Lebih Produktif

1. Mau ngapain?

Satu hal yang dapat membantu menghindari membuang-buang waktu di media sosial adalah menetapkan tujuan harian. Dengan menetapkan tujuan akan membantu kamu untuk tetap fokus.

Tanyakan pada diri sendiri, "Mau ngapain hari ini?"

Lalu kalau mau ke media sosial, tanyakan juga, "Mau ngapain buka Instagram?"

Kalau sudah tahu mau ngapain, maka lakukan, dan ketika sudah selesai, segera tutup Instagramnya.

Kalau kamu punya to do list harian, gunakanlah untuk menjauhkanmu dari tenggelam di media sosial terlalu lama. Ketika sebuah tugas mengharuskan kamu memeriksa media sosial, perrhatikanlah waktu mulai dan berhentinya.

2. Rutinitas

Ada tip bermanfaat lainnya untuk menghindari tersedot ke media sosial yaitu menjalankan rutinitas sehari-hari.

Tentu saja tidak semua rutinitas akan diikuti dengan cara yang sama dari hari ke hari. Beberapa hal yang kamu lakukan pada hari Senin diulang pada hari Rabu tetapi tidak pada hari Jumat. Lainnya hanya dilakukan seminggu sekali.

Dengan memiliki rutinitas umum yang kamu kerjakan dapat membuat seluruh harimu menjadi lebih lancar. Selain itu dapat mencegah dirimu dalam membuang-buang waktu di media sosial.

Gunakan filosofi yang sama di rumah. Turunkan dan lupakan ponsel kamu untuk memaksimalkan waktumu di rumah.

3. Jadwalkan untuk ngecek email, pesan instan, dan akun media sosialmu

Jadwalkan waktu khusus untuk memeriksa semuanya itu di antara aktivitas kerja lainnya. 

Dengan ada jadwal, seharusnya sih enggak setiap kali ada notif, kamu lantas ngecek hape. Hal ini dapat memastikan kamu dapat tetap produktif. 

Ada juga cara lain.

Apa? Pakai kalender online, kayak Google Calendar atau semacamnya. Nggak hanya dapat digunakan untuk menjadwalkan pekerjaan atau perjanjian pribadi, aplikasi seperti ini juga dapat digunakan untuk mengatur "janji temu" untuk media sosial, juga untuk ngecek segala macam notifikasi dan juga email. Pastikan kamu menjadwalkannya untuk waktu yang singkat, misalnya sekitar 15 menit.

Kemudian, atur reminder untuk berbunyi ketika waktu tersisa lima menit lagi. Hal ini akan membantu kamu bersiap untuk kembali beralih ke pekerjaan penting lainnya.

Kamu dapat menjadwalkan waktu khusus untuk media sosial ini beberapa kali sepanjang dalam sehari. Penjadwalan ini akan menjaga kamu dari tersedot ke media sosial untuk jangka waktu yang terlalu lama.

4. Pasang timer

Pernah enggak kamu menggunakan timer ketika memasak, misalnya, atau saat membuat kue di rumah? Jika demikian, mengapa nggak menggunakan metode yang sama agar tetap di jalur saat bekerja.

Baik bekerja di rumah atau di kantor, cukup mengatur timer dapat membantumu tetap sadar akan waktu. Mengetahui bahwa jam terus berdetak akan menuntunmu untuk menghindari aktivitas yang menghabiskan waktu. Termasuk terlalu lama scrolling media sosial.

5. Hilangkan gangguan

Metode lain yang mudah untuk mencegah terbuangnya waktu di media sosial adalah menghilangkan gangguan. Kamu dapat meletakkan ponsel di seberang ruangan saat bekerja. Atau, menyimpannya di laci, dompet, atau ruangan yang sama sekali berbeda.

Dengan meletakkan ponsel di luar jangkauan atau penglihatan, dapat mengurangi godaan untuk coba ngintip timeline atau feed Instagram. Males kan mesti berdiri dan jalan?

6. Matikan notifikasi atau logout

Nah, ini sih works for me banget.

Jika kamu adalah orang yang tidak dapat menghiraukan notifikasi media sosial--kayak eikeh--dan selalu gatel pengin ilangin angka kecil merah yang suka nongol di aplikasinya tanda ada sesuatu yang belum kebaca, maka mendingan matikan aja notifikasinya sekalian. 

Kalau nggak berhasil, maka logout-lah sepenuhnya. Taktik sederhana ini dapat menghemat waktu produktif satu jam atau lebih setiap hari. 

7. Minta bantuan

Nah, hal ini akan agak susah untuk dilakukan jika kamu menjalankan bisnis atau usaha, misalnya, di ranah maya yang butuh interaksi di media sosial.

Bukan rahasia lagi kan, bahwa eksistensi di media sosial itu menentukan kelangsungan bisnis. Karenanya, ya enggak mungkinlah kita mengabaikan notifikasi media sosial ini. Nanti kalau ternyata komplain dari customer gimana dong? Kan harus segera diatasi!

Tenang, buat hal ini, ada kok solusi terbaiknya. Kamu dapat menyewa asisten virtual untuk memantau media sosial kamu.

Eciyeee. Ujung-ujungnya iklan. Wqwqwq.

Well, namanya usaha yenggak? Tapi terbukti langkah yang solutip gitu loh, masih menurut Bu Tejo. Yekan?

Yes, tip-tip di atas patut kamu coba untuk menghindarkan dari kecanduan bermain media sosial. 

Sebenarnya media sosial itu memiliki dampak positif bagi semua orang tetapi akan berubah negatif apabila seseorang tidak bisa mengatur waktunya dengan baik karena terlalu banyak menghabiskan waktu untuk memantau medsos. 

Semoga tip di atas persis seperti apa yang kamu butuhkan untuk tetap produktif.

Share
Tweet
Pin
Share
7 comments
Jangan Mentang-Mentang Influencer


Oke, disclaimer dulu. Artikel ini akan terlalu nyinyir. So, you've been warned ya. Kalau enggak tahan dengan "nada" nyinyir seorang haters, kamu boleh kembali menutup artikel ini, dan pindah ke artikel lain yang lebih berfaedah. Di blog ini tentunya :P

Beberapa waktu belakangan, saya sungguh begah dengan berbagai kondisi yang dishare oleh orang-orang di jagat media sosial terkait perilaku influencer. Maap, saya males nyari atau skrol timeline untuk memperlihatkan beberapa berita mengenai perilaku influencer yang minus. (Iya, saya akhir-akhir ini makin malesan, apalagi kalau soal hal-hal yang nggak ada faedahnya buat saya or kerjaan.)

Tapi yah, sebersih-bersihnya saya setting timeline Twitter, beranda Facebook, dan timeline Instagram, teteup ya, pada keliatan. Wqwqwq. Mutual saya memang luar biasa sik.

Dan, jujur, saya malu sendiri liatnya.

Ada influencer yang katanya minta gratisan 500 risoles untuk ditukar dengan so-called exposure berupa foto di feednya yang berfollower katanya ratusan ribu. Ada influencer lain di luar negeri berfollower 50K something, yang minta gratisan paket wedding ke sebuah wedding organizer senilai ribuan dolar, untuk ditukar dengan foto di feednya.

... daaan berbagai cerita yang lain.

Kalau nemu tweetnya, bakalan ada tuh reply-reply dari orang-orang yang pernah ngalamin hal yang sama: influencer minta gratisan untuk ditukar dengan foto.

So, mau tau "dosa-dosa" influencer yang lainnya?

Wuidih, Carra is playing God.

Nope, I don't. Saya bukan siapa-siapa, hanya seseorang yang mempergunakan media sosial untuk belajar, mencari informasi, mendapatkan data untuk kemudian dibuat artikel, dan untuk nyinyir.

Yes! Saya hanya bagian dari netijen mahabenar, penonton yang berhak menilai tontonan yang ditontonnya, karena yang menyajikan tontonan mempertontonkan tontonan yang sungguh tak enak untuk ditonton.

Right? Kek kalau lagi nonton tivi atau nonton film, kita boleh dong ngomenin acaranya kan? Boleh ngereview filmnya sejujur-jujurnya kita kan? Menghargai yang bikin tontonan? Of course! Kalau yang dihasilkannya memang layak untuk dihargai. Kalau enggak?

Hei, bukankah mereka bikin sesuatu itu untuk kita tonton?

Hahaha. Mbulet tur nyinyir. Biarin.

Anyway, balik ke laptop.

Yes, "dosa-dosa" berikut sering dilakukan oleh influencer, yang sebenarnya kemudian menjadikan mereka pun "setara" dengan netijen mahabenar. Saya menuliskan ini bukan untuk menghakimi mereka, sebenarnya juga. Tujuannya jelas, supaya kita bersama bisa belajar dari kesalahan orang lain.

See? Nggak selamanya nyinyir itu unfaedah. Bisa juga kan nyinyir berfaedah.

Lagi pula, mungkin kesalahan-kesalahan ini juga MASIH saya lakukan. So, I think it's also good for myself.

Disclaimer lagi: sebagian cerita di bawah ini, saya alamin/lihat/dengar sendiri ceritany dari pihak yang benar-benar mengalaminya.



3 Dosa So-Called Influencer yang Sering Kejadian Belakangan Ini



1. Menilai diri sendiri terlalu tinggi

"Eh, kirimin aku produk dong. Ntar aku posting bareng karya seniku deh. Jadi background gitu," sapa seorang so-called-influencer-yang-juga-self-proclaimed-artist berfollower 5K (sedangkan follower brand-nya 80K) ke pemilik brand yang akun Instagramnya saya kelola.

Hal pertama yang nongol di benak adalah: dengan 5K, kamu bisa apa untuk bisnis brand yang followernya sudah 80K? Tapi ya sudah, sama pihak pemilik bisnis--yang katanya masih teman--dikiriminlah itu produk. Free.

... dan ternyata, enggak pernah diposting juga sampai sekarang.

Pantes nggak kalau lantas dipertanyakan, "Are you serious? Like, seriously?"

"Kirim produk ke aku dong. Nanti aku promoin."

Oh yeah? Kalau dikirim beneran, kamu emang bisa bawa berapa orang yang mau beli produknya bener-bener? Kan katanya mau promoin? :P

Pertanyaan itu seharusnya dijawab dulu, sebelum kamu berani mengajukan diri untuk menjadi kepanjangan tangan para brand marketing. Meski memang, kan ini soal brand awareness. Tapi ini bukan berarti tidak bisa diukur. Beberapa hal yang seharusnya tercapai setelah menyewa jasa influencer yang bisa menjadi tolok ukur kesuksesan strategi marketing influencer ini adalah:
  • Follower brand nambah, engagement naik.
  • Peringkat untuk kata kunci tertentu di SERP naik
dan beberapa hal lain. Silakan ditambahkan buat para digital marketers :P

Beda pastinya, kalau si brand yang datang padamu dan menawarkan kerja sama. Tentunya, mereka sudah melakukan riset lebih dulu. Dan, mereka juga sudah bisa membayangkan, KPI seperti apa yang bisa kamu capai.

However, mungkin kemudian ada pertanyaan lain yang kemudian muncul, "Berarti, kita nggak boleh dong, mengajukan diri ke brand?"

Boleh lah dong deh ah! Apalagi kalau kamu adalah bloger/influencer yang memang kenal betul dengan value dirimu sendiri. Saya pernah nulis tip melamar brand secara sopan dan etis. Tip tersebut saya kumpulkan dari bloger-bloger luar, dan juga ada sedikit insight dari seseorang yang bekerja di digital marketing. Silakan dibuka dan dibaca-baca kalau butuh yah.


2. Ga tau diri

Oh, mungkin terdengar kasar sih. Tapi saya enggak bisa menemukan frasa lain yang lebih tepat selain itu.

"Oh, mau aku promosiin? Feenya dua juta yah, satu foto di feed," kata seseorang yang lain lagi--yang lupa akan utangnya yang sudah pernah diputihkan--pada seorang pemilik brand yang lagi-lagi akun Instagramnya saya kelolain.

Oh yes, cerita ini nyata. Real. Benar-benar terjadi.

Lucu. Barangkali dia memang amnesia ya? Entahlah.

Apa perasaanmu, kalau kamu yang ngalamin jadi orang yang dimintain gitu sama influencer? Saya sih terus terang sakit hati. Oh, cukup tahu aja sih. Dan akan langsung black listed.

Sama aja kek influencer yang pesan 500 risoles buat ditukar sama foto di feed dan story.
Yawlah! 500 risoles!
Ngelipetnya itu pegel banget, Mbaque. Eikeh bikin sosis lilit mie 12 bijik aja langsung encok!
500 risoles, dituker foto.
YHA!



3. Black marketing

Inget kasus Mandiri error kapan hari? Yang bikin para netijen panik? Ada yang kehilangan saldo 25 juta, tapi juga ada yang ketambahan saldonya sampai 9 juta?

Salah satu so-called influencer ngetweet kurang lebih begini, "Mandiri error, orang panik, baru diinformasikan kalau ada maintenance. ****** mau ada maintenance, sudah sejak kapan hari diinformasikan, blablabla..."

Siapa dia? Hahaha, jangan disebutin. Silakan dijawab di dalam hati sadjah.

Ok. Saya sih tahu, dese sedang menyoroti dan mengomplain sebuah layanan (mungkin dengan maksud) agar kualitasnya bisa diperbaiki.
TAPI, seharusnya dia bisa lebih bijak.

Apakah dia sudah mengecek, kalau maintenance bank itu sudah pasti dilakukan secara teratur? Dan, di situlah error selalu ada. Si ****** memang menginformasikan maintenance, tapi memangnya dalam maintenance itu nggak akan ada risiko error yang tidak bisa diprediksi? So...?

Mendingan, kalau memang dia mau mengritik layanan Mandiri, ya udah sih, fokus di Mandirinya aja. Gosah pake membandingkan dengan yang lain.

Bahkan nih ya, akan lebih bijak pula, kalau dia bikin followernya educated dengan menyarankan--misalnya--makanya penting bagi kita untuk tidak menyimpan duit di satu tempat saja.

Bukankah kalau kek gitu akan lebih berfaedah?

Ada yang lebih lucu lagi.

Ada influencer, komplaiiiin mulu akan satu layanan provider. Tiap kali ada buzzer lain yang lagi campaign, dia akan nyaut dengan nada nyinyir.
Turns out, one day, saya menemukan dia ngebuzz layanan provider yang sebelumnya dia komplain mulu.

HAHA!
Can you imagine, how does that look? Ridiculous!

Salahkah saya, kalau kemudian saya berpikir, "Kemarin komplain-komplain mulu, jenjangan karena iri ga dapet job." :P

Yes, people. Your social media account is your rule, of course. But if you have tons of followers, you better learn how to be wiser.

Hanya sekadar mengingatkan. *icon sembah*




So, just because you're influencer, it doesn't mean that you're always right.
Meski kita punya follower banyak dan bejibun, nggak selalu kita bener. Pun, follower dan nyinyir-ers--kek saya--juga nggak selalu bener.

Ugh. Saya sendiri juga masih sering sih melakukan dosa-dosa di atas. Hanya saja, follower saya enggak banyak, jadi ya belum terlalu kelihatan. Wqwqwq. Tapi saya juga yakin sih, saya juga dinyinyirin di luar sana. Wakakak. Biarinlah, kalau memang kamu punya nyinyiran buat saya, dan seharusnya saya tahu, please ... do not hesitate to write it on comment ya :P

Ada bagusnya juga untuk saling wawas diri aja. Ngeliat kesalahan orang lain, itu kadang ada perlunya juga. Asal kita nggak ngejudge, dan jadikan sebagai pelajaran buat diri sendiri. Jangan sampai melakukan kesalahan yang sama.

Share
Tweet
Pin
Share
16 comments


Hae!
Kemarin saya sudah bahas mengenai do's and donts dalam mengelola akun Instagram, terus ada pertanyaan yang mampir, "Kalau bikin warna setipe itu pakai apa ya, biar konsisten?"

Jadi bikin saya teride untuk ngumpulin beberapa style feed Instagram deh jadinya. Hehehe.
Mungkin ini juga bukan bahasan baru juga sih, banyak artikel yang juga sudah membahas hal yang sama. Tapi enggak apa-apa juga. Saya mau bikin versi saya sendiri.

So, beberapa lama mengamati, ada beberapa style feed Instagram yang sering saya temui. Semoga dengan dikumpulin begini, bisa kasih kamu ide pengin nata feed Instagram kamu dengan cara yang mana. Yang pasti, temukan style kamu sendiri, yang ada di sini sekadar jadi inspirasi. 

Aturannya apa sih, biar feed Instagram bagus, hingga mengundang banyak followers atau like?

Jawaban saya: nggak ada aturan.

Ada yang bilang mesti terang, clean.
Nggak juga, banyak juga yang pakai dark mood dan followersnya banyak.

Ada yang bilang, ini lagi ngehitsnya flatlay.
Nggak mesti juga. Banyak kok yang nggak pake flatlay dan melejit.

Ada yang bilang, pakai deh warna-warna selebgram. You know, yang cokelat-cokelat rada vintage gitu. Banyak yang ngelike nanti.
No, there's no guarantee at all.

Semua adalah masalah selera. Dan sense of art itu nggak ada yang salah atau yang benar kek gimana. Setiap orang bisa dan boleh punya preferensi sendiri-sendiri.

Bagaimanapun, kalau saya amati ya--jika ada yang ngefollow baru (kalau bukan temen sendiri), biasanya mereka akan melihat dulu SATU postinganmu di Explore. Tertarik dengan fotomu--mungkin karena kontennya yang kuat, atau style-nya yang sesuai seleranya--baru mereka lihat ke profil Instagram. Nah, baru di feed Instagram, kalau kamu memang menjanjikan kualitas yang sama dengan yang muncul di Explore, baru deh mereka follow.

Saya sendiri punya kriteria follow sendiri, dan justru bukan karena style feed Instagram. Tapi konten secara keseluruhan, saya butuhin atau enggak. Saya pribadi nggak pernah mewajibkan untuk saling follow dengan teman, malahan. Nggak mutualan nggak berarti nggak teman, kan?

So, saya emang woles sih. Hahaha.

Anyway, mari kita lihat inspirasi feed Instagram berikut ini, siapa tahu bisa bikin kamu keidean pengin ngestyle yang mana.



15 Style Feed Instagram yang Bisa Jadi Inspirasi Ide


1. Garis di tengah



Feed Instagram ini biasanya bisa kamu buat dengan menaruh quote berfont warna hitam di atas background putih.

Bagus ya, rapi. Kekurangannya adalah kamu mesti posting 3 foto sekaligus, biar posisinya tetap ada garis putih di tengah itu. Kalau mau hapus 1 foto, maka kamu mesti juga hapus ketiganya.



2. Style per baris




Nah, style yang ini hampir sama sih dengan yang garis di tengah di atas. Kita akan tergantung banget dengan modul 3x3-nya Instagram.

Istilahnya, hanya untuk mereka yang niat bener-bener konsisten sih malahan :))

Saya pakai style feed Instagram ini untuk Stiletto Book dan Stiletto Indie Book. 


3. Tiles theme



Kalau saya bilang sih, ini style papan catur :))

Saya juga pake style ini untuk IG @info.rumah.dijual. Followernya belum banyak sih. Silakan lo, yang lagi butuh rumah di Surabaya, Sidoarjo, dan sekitarnya, difollow.

*selalu ada celah*

Menurut saya, ini ya masih mending ketimbang yang pake modul grid 3x3 di atas. Kalau ada foto yang mau dihapus, tinggal hapus juga foto sesudah atau sebelumnya. Feed pun sudah kembali rapi seperti semula.


4. Rainbow theme



Well, can you beat them?
Sudah pakai grid 3x3, masih pakai "aturan" warna juga. GILINGANlah ya.

Paling niat, tapi kalau discroll feed-nya juga emang beneran bagus sik. Tinggal kamu aja nih yang mesti pinter milih foto, lalu diplanning dulu pake feed planner. 

Oh ya. Kapan-kapan bahas berbagai Instagram feed planner deh. Di sini nanti saya mau bahas satu yang saya pakai. Tapi masih banyak juga tool lainnya. Next ya.


5. Puzzle theme



Yhaaa ... yang ini mah nyembah emang, sayanya.
Saya ada pakai sedikit efek puzzle ini di Instagram Stiletto Book. Tapi cuma sebaris doang juga sih. Ini mah nyebrang ke mana-mana. Hahaha. Perlu planning yang luar biasa.

Satu hal yang sering jadi kesalahan para Instagrammer kalau pake style feed Instagram ini.
Mereka sering nggak memikirkan, gimana kenampakan 1 buah foto saat melintas di timeline followernya. Karena apa? Karena puzzle-nya nggak bisa berdiri sendiri-sendiri sebagai foto mandiri.

Maksudnya gimana sih?


Kek gini misal. Nah, itu kalau nggak dilihat secara utuh di Feed kita, kan nggak keliatan barangnya apaan. Misal lewat di timeline, cuma sepotong-sepotong.

Kadang ya memang bikin penasaran. Ha tapi kalau sudahlah ga jelas--atau malah putih kosongan aja--lewat, dan terlalu banyak, ya aduh ... saya pribadi sih mending unfol aja. Atau maksimal saya mute deh. Apalagi ga ada faedahnya buat follower. Hahaha.

Style feed puzzle ini memang tricky. Silakan saja pakai, tapi sebisa mungkin pastikan setiap foto yang diposting itu bisa dilihat sebagai foto yang mandiri. Jadi lewat di timeline itu, jelas gitu. Terus setelah dilihat di feed, ohhh ... ini maksudnya.


5. Border theme







Nah, kalau yang ini, saya pribadi suka. Karena biasanya memang jadi benar-benar rapi dan clean deh, looks-nya.

Style ini lebih mudah sih, nggak perlu nurutin pola. Mau posting berapa aja, kapan aja, ga masalah. Mau dihapus juga nggak ngerepotin.

Ada yang putih seperti di atas. Ada pula yang dark borders seperti di bawahnya. Yang mana pun oke sih. Rapi.

Tapi, ada juga yang mixed border nih. Seperti ini.


Jadi mixed antara landscape dan portrait. Keren jug akan? Lucuk.


6. Rectangles



Yang ini juga mudah bikinnya.
Pastikan aja ratio aspectnya sama semua, lalu taruh di background putih. Ini feed yang tidak terlalu merepotkan :))


7. Same filter theme



Pakai Preview App Filter A8 dan C3.



Pakai Preview App Filter J3 dan F1

Nah, ini yang kemarin ditanyain yah? Biar bisa konsisten warna senada senuansa itu pakai apa?

Saya sekarang pakai Preview App. Ada beberapa filter yang disediakan di apps ini. (Cuma memang saya enggak pakai filter-filteran sih, cuma memanfaatkan untuk content planning). Nah, pilih saja salah satu filter yang kamu suka, lalu pakai filter itu terus untuk semua foto kamu.

Ini sebenarnya di setiap aplikasi editing foto tuh selalu ada. Biasanya ya namanya filter ini. Kita tinggal pilih aja. Di Snapseed juga ada. Ada juga yang pakai VSCO atau Lightroom, bukan Preview App. Bahkan di Instagramnya sendiri juga ada kan? Kita bisa pilih banyak lo! Semua filternya udah kamu keluarin belum?

Well, pankapan kita bahas khusus soal filtering ini deh ya. Walah. Jadi keidean banyak deh.

Di Lightroom namanya Preset, kadang malah ada yang jual preset-preset hasil kreasi mereka, lalu kita bisa beli, dan nanti ditambahin aja ke apps-nya. Itu kalau di Lightroom. Dan keknya preset lepasan ini cuma bisa di Lightroom ya. Di apps lain kok saya belum pernah liat. Ga tahu deh, silakan inform saya kalau ada update yah.


8. Bright Theme




Nah, style feed Instagram white background ini saya pakai di akun pribadi @carra.artworks. Nggak selalu putih sih memang. Tapi saya usahakan dominasi warna putih.

Style ini juga cenderung selalu rapi dan clean. Mau penataan komposisi berantakan juga nggak terlalu kentara, asal warna putihnya dominan.

Ini juga nggak harus selalu putih, tapi asal warnanya secara keseluruhan terang. Kalaupun ada abu-abu, hitam, ungu tua, asal nggak mendominasi, ya oke aja.



9. Dark theme



Yang ini kebalikan dari bright. Yep, banyak yang bilang, kalau cerah akan lebih mengundang untuk difollow.

Menurut saya sih enggak juga ya?
Dark theme juga menarik kok.

Kalau punya feed Instagram punya temen yang juga ber-style dark yang saya suka itu punya Ranny Afandi.

Cakep kan? Jangan keterusan scrolling ya. Ntar laper. #eh


10. Black and white theme




Yang ini juga menurut saya tingkat kesulitannya tinggi. Karena nggak semua orang bisa bikin foto black and white secara estetis. Godaannya jelas, kalau nggak kreatif bakalan monoton, dan akhirnya bikin bosan.

Sebaiknya pertimbangkan bener-bener kalau mau pakai style ini sih. Saran aja.


11. Colorful




Nah, kalau menurutmu, dengan pakai tone warna yang seragam itu membosankan, maka jangan merasa berdosa untuk membuat feed Instagram kamu lebih berwarna. Make it vibrant! Bikin yang colorful sekalian!

Cantik juga kan?


12. Monotheme




Yang jenggot itu sesuatu sekali yekan? :)) Ngekek pas pertama kali liatnya. Tapi kreatif banget!
Yang teh juga ya? Keren bats.

Saya sih sering juga menemukan ini di akun-akun bookstagrammer. Objek yang difoto dominasinya sama: buku.


13. Flatlay



Foto-foto flatlay tahu kan ya?
Yes, begitulah dominasi dalam style feed Instagram ini.

Saya juga menerapkan style ini di akun @carra.artworks. Kebanyakan flatlay karena memang pamer bullet journal dan sketchbook. Hahaha. Style ini memang cocok buat foto-foto objek benda mati sih. Dari beauty stuff sampai masakan. Gampang banget styling-nya juga. Makanya banyak yang pakai.


14. Doodles




Yang ini juga lucu yah? Ditambahin doodle-doodle gitu di fotonya. Tapi saya nggak tahu nih, bikinnya pakai apa :)) Ada yang tahu?

Lucu banget tapi. Saya juga pengin ngulik jadi beginian.


15. Color splash




Style feed Instagram yang ini juga bagus banget. Jadi ini antara grayscale dan colors gitu. Untuk objek-objek tertentu, warnanya dinaikin, sedangkan objek lain diturunin.

Kapan-kapan saya posting tutorialnya deh.


Laaaah ... Jadinya kok banyak lagi ini PRnya, hanya dari tulisan ini aja? Hahaha.
Lama-lama blog ini jadi khusus bahas pernak-pernik Instagram juga nih. Wakakak.

Hokeh. Itu dia 15 style feed Instagram yang sering saya lihat. Kamu pakai style yang mana? Males pakai style ya? Ya enggak apa-apa juga. Nggak ada yang mewajibkan juga sih.

Your Instagram, your rules.
Nggak ada yang bisa dan boleh mengaturmu sebagai pemilik akunmu sendiri yes?

Tapi, siapa tahu jadi terinspirasi setelah lihat 15 style di atas, yekan?
Yang penting lakukanlah dengan bahagia!

Share
Tweet
Pin
Share
13 comments
Do's and Dont's dalam Mengelola Akun Instagram Jika Kamu Pengin Memonetisasinya


Ada yang belum pernah punya akun di Instagram?

Keknya hampir semua orang zaman now pasti sudah punya akun Instagram ya. Walaupun nanti dalam perjalanannya, akhirnya males, menyerah, atau nggak keurus, yah ... itu sih hak masing-masing. Tapi minimal, pasti punyalah akun.

Buat yang akhirnya menyerah, yasudahlah. Mungkin kebahagiaannya tidak terletak di Instagram :D Tapi buat para bloger, biasanya Instagram menjadi salah satu media sosial yang oke untuk membangun citra--alias pencitraan, alias branding--dirinya sendiri. Banyak yang menjadikan Instagram sebagai portfolio, ajang pamer karya masing-masing, selain juga menerima kerja sama dengan pihak lain.

Dan ya, memang, di zaman marketing 4.0 ini semua yang tradisional sekarang menjadi digital, begitu pun untuk karier dan job. Prinsipnya sebenarnya sama aja sih, antara marketing bisnis dan marketing diri kamu sendiri sebagai bloger. Pan blog juga bisa dianggap sebagai bisnis. Uhuk.

Nah, buat kamu yang pengin mengelola Instagram kamu secara profesional, berikut adalah do's dan dont's-nya yang saya kumpulkan dari berbagai sumber, dan juga atas pengalaman pribadi mengelola beberapa akun bisnis. Barangkali beberapa di antaranya sudah sering kamu baca atau dengar tipnya dari mereka yang lebih ahli. Tapi nggak ada salahnya saya ulang juga, just for a reminder.

Btw, barangkali ada yang bertanya-tanya pula. Ngapain Carra sok-sokan kasih tip mengelola akun Instagram? Follower baru 3000+ pun.

Yah, saya kira, pengalaman saya mengelola--let's see--ummm ... kurang lebih 9 akun bisnis milik orang bisalah dicatat pelajarannya yah. Tapi, saya juga open kok kalau ada yang mau nambahin tip mah. Nanti boleh ditulis di kolom komen.


Mau Mengelola Akun Instagram secara Profesional? Berikut do's and dont's-nya!

Do's!

1. Konsisten

Menggunakan media sosial, terutama Instagram secara profesional memang akan sangat membutuhkan konsistensi.

Konsistensi ini meliputi konsistensi kualitas, style, dan konsistensi waktu juga.

Kalau kamu sering baca-baca tip mengelola Instagram yang ada, barangkali kamu akan sering menemukan banyak yang menyarankan untuk membuat gaya feed yang konsisten. Ada yang pakai pola-pola, ada juga yang pakai tone warna, dan sebagainya.

Saran ini memang bener sih. Tadinya saya sendiri nggak terlalu percaya. Saya pikir, ah ribet amat sik. Tapi ya, kalau dilogika ya emang bener. Sesuatu yang dengan serius kamu lakukan, buahnya pasti tak akan mengkhianati. Ahzek.

Instagram tone monochromatic neutrals. Via Pinterest.


Style dan tone warna yang konsisten bisa menjadi kesempatan kita untuk membuat suatu ciri khas. Let's see. Pernah liat akun Instagramnya Janine Intansari kan? Dia punya feed Instagram yang pinkish--tone-nya merah muda. Dan itu jadi ciri khasnya.

Tone-nya Kelsey Simone beda lagi. Jeff Mindell punya tone Instagram yang colorful, dengan warna-warna vibrant. Ah, jadi ide nih. Pankapan kita kumpulin deh berbagai tone Instagram ya.

Buat ciri khas unik yang menarik secara visual. Nggak harus "seragam" secara visual juga kok. Yang penting, harus menarik. Nah, yang namanya menarik ini memang abstrak. Dan subjektif banget. Memang ini butuh waktu dan usaha observasi terus menerus dari kamu, sebagai content creator. Terus coba, cari yang terbaik. Jangan menyerah.

So, coba yang belum konsisten, dibikin konsisten (dan persisten). Buat jadwal, pakai aplikasi semacam UN UM, atau Planoly, buat bikin content plan. Postinglah seminggu 3 kali, jika kamu sulit memenuhi posting tiap hari. Asal waktunya teratur, pasti akan dapat efek yang bagus juga kok.


2. Olah bio

Di Instagram, ada fitur untuk pasang link di bagian bio. Manfaatkan fitur ini sebaik-baiknya, terutama kalau kamu punya blog, website, atau halaman di marketplace.

Saat ada produk atau postingan baru kamu bisa taruh link di bagian bio untuk memudahkan follower untuk mengakses blog, situs, ataupun lapakmu.

Selain link, profil di bio itu juga sangat menentukan. Saya pernah lo, dapat job karena si klien mencari "penulis konten" di Instagram, dan akhirnya nongollah akun saya. Hehehe.

Jadi, isi bio jangan asal ya. Saya pernah nulis sedikit tip tentang mengoptimasi profil Instagram di web Kumpulan Emak Blogger. Bolehlah disimak yah :) Siapa tahu ada yang belum dilakukan.


3. Jaga engagement

So, pasti saran yang ini juga sudah klise banget. Ada di mana-mana, tapi memang nih saya sendiri aja sering lupa kok :)) Kebiasaan, abis posting langsung tinggal ngerjain yang lain. Terus lupa. Tengok lagi kalau mau posting lagi. Udah telat, Mak! Madingnya udah terbit. #eh

Maksudnya, seharusnya sih dipantengin dulu setelah posting. Kalau ada komen, ya dibalas. Kalau enggak ada? Ya udah, enggak apa-apa, nggak usah baperlah. Hahaha.

Kalau mau sih, seharusnya kita memang yang harus memancing follower untuk bisa komen. Misalnya, kasih pertanyaan, atau minta mereka gantian sharing.

Ini juga reminder buat diri saya sendiri. Ya maklum, kadang ya ga sempet monitor. Bisa posting tiap hari aja udah syukur yah. Hahaha. Soalnya juga, pekerja kek saya ini mau nggak mau mesti menjaga eksistensi. Kenapa? Ya kalau enggak, job-nya menjauh, cyint!

Itu dia yang susah. Kadang merasa susah membagi waktu, tapi harus. Karena pundi-pundinya dari situ. Dilema banget emang. Huhuhu. Lebih seneng di belakang layar, tapi harus jaga eksistensi.
Beurad, bok!
*kemudian curhat*

Sekarang saya juga selalu ingetin diri sendiri, untuk sesekali skrol linimasa. Terus bagi-bagi jempol dan komen. Sesekali follow (dan unfollow #eh) akun lain, biar keliatan aktif.

Ya intinya, jangan cuma posting doang deh.


4. Bikin list hashtag

Nah, ini nih. Yang keempat ini, baru saya lakukan sekarang--baik untuk akun bisnis maupun akun pribadi.

Sudah tahu kan, bahwa ada hashtag terlarang? Yaitu beberapa hashtag atau tagar yang di-ban oleh Instagram. Saya juga udah nulis mengenai hal ini di web KEB.

Hal ini tuh bikin saya jadi observe lebih dalam mengenai hashtag. Akhirnya (tanpa sengaja) saya jadi punya list yang berisi beberapa hashtag yang safe, sekaligus yang potensial memberi ekspos. Saya cenderung untuk nggak memilih tagar yang terlalu populer, yang jumlah public postsnya sampe jutaan. Ya ada sih, tapi paling saya taruh satu dua aja. Tagar lainnya, saya lebih memilih tagar yang public postsnya hanya puluhan sampai ratusan ribu aja. Bahkan beberapa saja pakai yang ribuan doang.

Konon, ini span time-nya jadi lebih lama. Terbukti sih, postingan-postingan lama masih sering aja dapat like, padahal sudah berapa minggu yang lalu gitu.

Kebetulan saya juga pakai aplikasi Preview untuk bikin content plan, jadi bisa saya kumpulin sekalian tagarnya di situ. Jadi tinggal apply aja kalau lagi bikin caption.

Lumayan menyingkat waktu. Hehehe. Ini saya terapkan terutama di akun bisnis yang saya pegang sih. Akun pribadi barusan mulai pakai cara ini juga. So yeah, masih harus diobservasi sih.


5. Berbagi cerita

Saya tuh kadang penasaran, orang-orang Instagram nih asal nyekrol dan like aja, ataukah mereka juga baca caption?

Saya pernah polling ini di salah satu akun Instagram yang saya kelola. Ternyata #TimBacaCaption itu banyak juga ya. Atau mungkin yang #TimSkrolFoto pada malu mengakui? Hahaha. Entahlah.

Tapi hasil polling waktu itu tuh, #TimBacaCaption ada lebih banyak deh.

Dan memang sih, yang captionnya pake cerita itu so far kok ya yang ngelike dan ngomen juga cenderung banyak. Apalagi kalau ceritanya menyentuh atau yang bisa "menggerakkan". You know what I mean kan?

So, saya sendiri sih nggak selalu menargetkan untuk selalu punya cerita kalau di akun pribadi, pun di akun bisnis. Mau cerita apa, wong saya nggak pernah ada drama yang bisa dibagikan kok.

Hidupku lurus-lurus wae soale, gaes. Wqwqwq. Nggak ada yang antimainstream, nggak pernah dekat dengan orang toxic untuk bisa dighibahin; orangtua baik banget (dan biar Tuhan saja yang tahu betapa baiknya mereka), keluarga saya semua baik-baik saja. Mantan enggak punya selain yang sekarang jadi suami. Selingkuhan? Heleh. Malah nambahi repot.
Hahahaha.

Membosankan! Yenggak? *sarcasm detected*

Tapi adalah sekali waktu ya diusahakan ada cerita. Meski ya jadinya cerita tentang diri sendiri (meski begah juga sih rasanya). Ha tapi nggak ada yang lain jeh!
Kalau di akun bisnis, saya harus lebih banyak ngulik konten yang nonjualan. Jadilah saya punya list jenis konten yang saya gilir kemunculannya.

Ah, pekerja konten ini memang mesti nggak boleh berhenti mikir ya. Hahaha. Siapa yang bilang, pekerja konten itu "cuma gitu aja" kerjanya? Sini, boleh ikuti my daily routine deh.

Eh, jadi ide. Menarik nggak ya, kalau saya bikin cerita daily routine pekerja konten? Hahaha. Ada yang mau liat enggak sih?

So, sebenarnya ada banyak yang bisa diceritain. Kapan hari saya cerita soal ruang kerja, saya cerita soal statistik blog, dan beberapa behind the scene. Ternyata tanggapannya juga lumayan. Apalagi yang saya share di IG Story. Banyak banget yang lantas komen dan nanggapi via japri.

Seneng saya. Hehehe.

So, ke depan, semoga lebih banyak cerita bisa saya share lagi deh.


6. Analisis

Instagram Insights. Via Buffer.

Nah, sekali waktu, buat kamu yang sudah memindahkan akun Instagram pribadi ke akun bisnis, bisa deh melakukan evaluasi dan analisis terhadap akunmu sendiri.

Ada bagian Insight yang bisa kamu liat yah. Coba lihat, postingan mana saja yang mendapatkan banyak likes atau komen. Lalu analisislah, kira-kira apa yang membuatnya dapat likes atau komen banyak.

Temuanmu bisa menjadi formulamu untuk melakukan hal yang sama lagi ke depannya. Ujilah "teori"-mu ini beberapa kali, sampai kamu menemukan formula melejitkan postingan ala kamu sendiri.

Kalau kamu bisa menemukannya, wah ... udah deh. Siap-siap jadi selebgram yah :D hehehe.



Dont's

1. Terlalu banyak posting

Oke, meskipun kamu perlu membuat postingan secara konsisten, tapi sebaiknya hindari terlalu banyak juga sih.

Apalagi kalau sama semua sampai berapa akun. Ini biasanya terjadi kalau kita dapat job ya. Kadang dikasih brief dengan foto ataupun caption yang sudah jadi, tinggal posting. Nah, ini mesti hati-hati nih. Yang kayak gini, bisa banget disemprit sama Instagram.

Soal hashtag aja kadang saya ubah-ubah susunannya, meski hashtag yang dipakai itu sama. Hal ini untuk menghindari caption yang sama persis.

Ada beberapa kali kemarin saya dengar kasus, para Instagrammer mengeluh nggak bisa posting ataupun nggak bisa nulis caption. Saya sih menduga, hal ini berkaitan dengan perilaku kita juga. Saya amati, yang pernah mengalami error-error ini adalah mereka yang sering menerima job di Instagram. Ya, saya nggak mau menghakimi atau gimana sih ya? Mungkin juga observasi saya kurang jauh dan mendalam.

Tapi, ada baiknya berhati-hati jika menerima job. Pastikan tidak ada term & condition Instagram yang dilanggar.


2. Menggunakan bot

Beberapa akun Instagram memanfaatkan bantuan bot untuk membuat komentar otomatis dan mendapatkan pengikut.

Kalau kamu memang mau main Instagram secara profesional and long term, sebaiknya hindari praktik ini. Akan lebih baik jika kamu main Instagram dengan cara senatural mungkin.

Kalau kamu main safe, percaya deh. Mau Instagram mengubah peraturan ataupun algoritme kek apa pun, kamu nggak akan kena efek yang terlalu gimana-gimana.


3. Beli follower

Fake Instagram followers. Via Quora.

Yah, namanya juga usaha. Beli follower juga usaha pan?
Iyalah. Nunggu follower banyak secara natural mah lama. Keburu pengin dapat penghasilan inih.

Wqwqwq.
Well, it's your choice.
Tapi, saya sarankan sih, jangan.

Karena apa yang didapatkan secara instan, biasanya juga enggak bertahan lama. Begitu juga follower. Lagian, keliatan atuh kalau follower fake semua. Hahaha.
Kalau saya sih--terus terang--ya malu, kalau ketahuan. Semacam mempertaruhkan harga diri :)) Pun, dikira kali ahensi bodoh banget kali, sampai nggak bisa tahu kalau followernya fake semua? Hahaha.

Ya, tapi kembali lagi. Ini pilihan.

"Aku beli follower, dan jobku banyak tuh!"

Ya, silakan. Pilihan.



Nah, itu dia 9 (6 dos dan 3 dont's) hal dalam mengelola akun Instagram secara profesional. Semua balik lagi ke pemilik akun--yaitu kamu--sebagai content creator.

Menurut saya, it's all about creativity.
Kamu-kamu yang kreatif pastilah bertahan lebih lama--meski jalannya juga barangkali lebih panjang--ketimbang mereka yang hanya mengandalkan sensasi dan semua yang instan-instan.
You will get the value.

Jangan pernah meragukan dirimu sendiri deh pokoknya.

Well, sekian artikel yang sangat panjang ini :)) semoga bermanfaat.
Share
Tweet
Pin
Share
6 comments
Hasil Penelitian Terbaru: Instagram adalah Aplikasi Paling Berbahaya untuk Kesehatan Mental!



Instagram sudah digunakan oleh lebih dari 700 juta orang lebih. Namun, ternyata Instagram menjadi aplikasi yang paling berbahaya untuk kesehatan mental! Ouch!

Kamu suka main Instagram? Ya, siapa yang enggak?
Mengunggah segala macam foto kegiatan sehari-hari, baik kegiatan kamu sendiri atau mungkin foto keluarga dan teman-teman kamu?

Well, kalau iya, mungkin sekaranglah saatnya bagi kamu untuk mempertimbangkan kembali, apakah mau lanjut main Instagram, atau mulai membatasinya.



Media Sosial Membawa Pengaruh Buruk


Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Royal Society for Public Health di Inggris membuktikan, bahwa Instagram merupakan aplikasi media sosial yang memberikan dampak terburuk bagi kesehatan mental penggunanya, terutama bagi kaum muda. Ya, mungkin, kita (kita? saya, maksudnya) merasa sudah nggak muda lagi sih, for some reasons. Tapi, bisa saja hal ini juga mengancam anak-anak yang menjelang remaja.

Penelitian ini sebenarnya dilakukan oleh para developer media sosial untuk memperbaiki platformnya, sehingga pengguna dapat menggunakan aplikasi-aplikasi mereka secara lebih sehat.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti melibatkan responden sebanyak 1.479 orang yang berusia 14 sampai 24 tahun di seluruh Inggris raya, tentang bagaimana Facebook, Instagram, YouTube, Twitter dan Snapchat memengaruhi hidup mereka.

Apakah media sosial ini membuat mereka merasa lebih baik, atau malah justru menjadi merasa lebih buruk?

Responden menjawab 14 pertanyaan secara total tentang setiap platform media sosial, termasuk apakah mereka mengalami perasaan cemas, depresi dan kesepian saat menggunakan aplikasi tersebut.

Penelitian ini juga membahas bagaimana platform media sosial yang ada tersebut bekerja dalam memengaruhi soal 'body image', juga apakah memengaruhi kualitas tidur, serta apakah mereka sering merasa terintimidasi saat menggunakannya dan berinteraksi dengan pengguna lain.

Selain itu, ada beberapa pertanyaan yang juga diberikan untuk menentukan tingkat FOMO (Fears of Missing Out) yang dialami oleh pengguna setelah mereka melihat setiap feed dalam media sosial yang mereka gunakan. Semua ini untuk mengukur setiap dampak situs media sosial terhadap keseluruhan kesehatan dan kepuasan pengguna.

Dan apa hasilnya?


Hasil Penelitian Membuktikan ...


Ternyata, para responden mengaku bahwa Instagram adalah platform media sosial yang paling memberikan pengaruh terburuk dalam kehidupan mereka, terkait soal kesehatan mental, siklus tidur dan kelelahan.

Tempat kedua oleh Snapchat, dan diikuti oleh Facebook, kemudian Twitter. Hanya Youtube yang diakui oleh para responden telah memberikan pengaruh baik dalam hidup mereka.

Instagram telah dinilai memberikan pengaruh buruk, terutama karena efek aplikasi media sosial tersebut pada body image.

"Instagram dengan mudah membuat anak perempuan dan perempuan merasa seolah-olah tubuh mereka tidak cukup baik karena orang menambahkan filter dan mengedit gambar mereka agar mereka terlihat 'sempurna'."

Demikian penjelasan dari salah satu responden yang berasal dari Irlandia Utara dalam penelitian Royal Society for Public Health ini.

Olahan dan editing foto dinilai berkontribusi pada terciptanya "generasi muda yang membenci dirinya sendiri karena kepercayaan diri yang rendah akan body image-nya mereka".

Hmmm. Menarique ya?


Rekomendasi Para Peneliti

Untuk meringankan efek ini, para peneliti merekomendasikan agar para developer platform media sosial menambahkan penjelasan atau memberikan penanda jika ada foto yang telah dimanipulasi secara digital, misalnya dengan memberikan watermark pada foto yang telah diedit atau diberi filter.

Tapi, kok kayaknya ya kurang asyik, kalau tiba-tiba muncul watermark di foto kita gitu ya, Gaes? Hihihi. Iya nggak sih? Atau saya aja ya?

Para ilmuwan juga menyarankan agar platform media sosial mengingatkan pengguna kapan saatnya untuk sign off, atau log out untuk kemudian beralih ke kehidupan nyata masing-masing.

Salah satu sarannya adalah agar developer aplikasi melacak, berapa banyak waktu yang telah dihabiskan oleh pengguna di media sosial, dan memunculkan semacam reminder atau popup saat sudah melewati batas waktu.

Nah, ini sih sepertinya sudah mulai dilakukan oleh Instagram ya? Kayak ada semacam penanda, kalau ternyata kita sudah skrol foto-foto terbaru sampai habis. Iya kan?

Lanjut ~

Penelitian Royal Society for Public Health ini mendukung bukti yang pernah dirilis pada penelitian sebelumnya, bahwa penggunaan media sosial dapat berdampak negatif terhadap kesehatan mental.

FYI, ada studi yang diadakan pada tahun 2015 yang menemukan bahwa, penggunaan media sosial lebih dari 2 jam bisa dikaitkan dengan masalah kesehatan mental, tekanan psikologis dan kecenderungan untuk bunuh diri pada remaja.

Idih~


Lalu, Apa yang Harus Kita Lakukan?

Tapi, saya rasa sih, semua ini pastinya bukan ditulis untuk membuat kamu-kamu jadi menghapus semua aplikasi media sosial yang kamu gunakan. Toh, sebenarnya media sosial juga banyak manfaatnya kan, jika kita bisa bijak dalam menggunakannya.

Misalnya, dalam penelitian tersebut juga ditemukan fakta, bahwa Facebook dapat memberi kesempatan kepada kaum muda untuk belajar tentang hal-hal lain yang mungkin akan dibagikan oleh teman mereka di newsfeed masing-masing.

Media sosial juga bisa menjadi platform positif untuk media pengekspresian diri. Facebook pages dan facebook groups nyatanya juga ada banyak yang bisa membantu pengguna dan individu yang terpinggirkan, untuk menemukan dukungan emosional dan membangun komunitas. Meskipun yaaa dampak yang negatif juga banyak sekali.

Dan, seperti yang sudah saya sebutkan di atas, Instagram tampaknya juga sudah langsung tanggap akan hasil penelitian ini.

Aplikasi smartphone yang memiliki hampir 700 juta pengguna ini telah meluncurkan kampanye untuk memulai awareness mengenai kesehatan mental ini di platformnya.

Sekali lagi, semua memang tergantung pada kita, sebagai penggunanya. Apakah kita cukup smart untuk mengelola diri sendiri saat menggunakan media sosial tersebut?


Mari Detox Media Sosial!

Karena itu, yuk, kita batasi waktu mengakses media sosial jika memang tak benar-benar perlu. Gunakan media sosial hanya untuk memberikan nilai tambah pada diri kita sendiri, karena semua hal yang terlalu banyak atau berlebihan itu tak pernah baik dampaknya.

Saya sendiri sudah memulainya. Kalau setiap hari sih jelas nggak bisa, karena saya kerjaannya di medsos semua :)) Kalau detox tiap hari, saya nggak gajian dong. Bahaha.
Tapi, saya tetap bisa kok detox, yaitu selama weekend.

Yep, selama 2 hari--Sabtu dan Minggu--saya akan logout dari media sosial. Jadi kalaupun ada update, mungkin di Twitter yah, itu adalah autoschedule ya :)) Ya paling kalau update blog, terus ada autoposting aja. Tapi saya nggak buka sama sekali.

Untuk WA gimana? Off juga sih, ya paling saya onlinekan dari jam 11.00 siang sampe pukul 18.00 sore. Selain itu, maap, I will be enjoying my life. Hahaha.

Kamu juga bisa melakukannya. Jangan terlalu mantengin tiap waktu, biar tetep waras.

Hmmm ... mungkin, kamu bisa memulainya dengan meng-unfollow akun-akun Instagram yang isinya hanya ghibah dan gosip, gitu ya? Hehehe.

Share
Tweet
Pin
Share
6 comments
Older Posts

Cari Blog Ini

About me





Content & Marketing Strategist. Copy & Ghost Writer. Editor. Illustrator. Visual Communicator. Graphic Designer. | Email for business: mommycarra@yahoo.com

Terbaru!

Cara Menggunakan AI untuk Membuat Outline Tulisan Secara Instan

Menggunakan AI bisa jadi cara paling cepat untuk membantu kamu menyusun kerangka tulisan tanpa harus bingung mulai dari mana. Banyak orang ...

Postingan Populer

  • 15 Ide Style Feed Instagram yang Bisa Kamu Sontek Supaya Akunmu Lebih Stylish
    Hae! Kemarin saya sudah bahas mengenai do's and donts dalam mengelola akun Instagram , terus ada pertanyaan yang mampir, "Ka...
  • Teknik Bridging dalam Menulis Artikel
    Teknik bridging barangkali adalah teknik menulis yang cukup jarang dibahas. Padahal, ini cukup penting lo! Teknik bridging sering sekali say...
  • Menulis Storytelling Agar Menarik dan Tidak Membosankan
    Artikel storytelling itu nggak akan pernah ada matinya. Mungkin memang nggak selalu berpotensial viral atau booming (kecuali topikny...
  • Seberapa Panjang Sih Idealnya Artikel Blog Itu?
    Nulis panjang tapi nggak fokus, ya buat apa? "Seberapa panjang sih, artikel kita yang paling optimal itu?" Pertanyaan ini ...
  • Bagaimana Cara Menulis 100 Kata Pertama yang Ajaib Agar Orang Mau Terus Membaca Artikel Kita
    5 Cara Menulis 100 Kata Pertama yang Ajaib Agar Orang Mau Terus Membaca Artikel Kita Dalam artikel guest post mengenai Cara Mudah Tuli...

Blog Archive

Portofolio

  • Buku Mayor
  • Portfolio Konten
  • Portfolio Grafis
  • Konten Web
  • Copywriting
  • E-book
  • Buku Fiksi
  • Ilustrasi

Follow Me

  • instagram
  • Threads

Created with by ThemeXpose