Teknik Bridging dalam Menulis Artikel

by - Oktober 31, 2022

Teknik Bridging dalam Menulis Artikel

Teknik bridging barangkali adalah teknik menulis yang cukup jarang dibahas. Padahal, ini cukup penting lo!

Teknik bridging sering sekali saya pakai terutama ketika saya harus menghubungkan topik dengan promosi, atau keyword dengan topik utama, dan lain sebagainya. Lewat skill bridging-lah, level skill dan kreativitas seorang penulis bisa terlihat. Bisa dinilai seberapa lincah ia mengemas suatu pesan hingga menjadi tulisan yang mengalir, informatif, dan efisien.

Yuk, kita lihat lebih dalam mengenai teknik bridging ini.

Apa Itu Teknik Bridging

Bridging—dari istilah bridge, yang dalam bahasa Inggris artinya jembatan—adalah sebuah teknik untuk menyambungkan dua topik yang berbeda—bahkan tidak ada kaitannya sama sekali, tetapi pada akhirnya nyambung juga, dan bahkan menjadi cerita tersendiri yang apik.

Ya, gampangannya sih begitu.

Saat menulis, sering kali penulis akan “terpaksa” harus menghubungkan 2 hal yang berbeda dan sekilas nggak berhubungan sama sekali dalam satu artikel atau tulisan utuh.

Ada beberapa sebab. Pertama, bisa jadi ada permintaan sponsor. So, bagaimana caranya, agar topik yang dibahas bisa dihubungkan dengan produk sponsor sehingga meyakinkan pembaca bahwa penting untuk punya produk tersebut. Kadang, topiknya bisa memang sudah dikaitkan sejak awal. Namun, tak jarang, kita bahas topik A yang enggak ada kaitannya sama sekali sama produk tersebut. Nah, terus ya bisa-bisaannya kita saja bagaimana menghubungkannya sehingga kalau dibaca jadi masuk akal, smooth, dan meyakinkan.

Kedua, bisa jadi karena tuntutan atau permintaan tertentu dari klien. Misalnya, seperti proyek yang pernah saya kerjakan, si klien minta untuk selalu memasukkan kutipan valid dari buku atau sumber tepercaya. Kelihatannya gampang dan simpel sih, tapi faktanya ini cukup sulit lo. Apalagi kata kunci dan topik sudah ditentukan, kadang kita nggak bisa menemukan kutipan valid yang pas. Jadi, ya kudu dihubung-hubungkan biar masuk akal.

Ketiga, tuntutan keyword, ini biasanya kejadian pada penulis SEO nih. Kadang kudu masukin keyword tertentu padahal topiknya bisa jadi beda. Atau pengin ngikut arus trending topic, padahal nichenya beda.

Nah, di sinilah teknik bridging diperlukan.

Contoh Penerapan Teknik Bridging

Coba yuk, kita lihat contohnya saja langsung biar lebih gampang jelasinnya dan dipahami. Coba simak 3 contoh artikel berikut ini.

Contoh 1

 
Contoh Penerapan Teknik Bridging 1

Pada artikel di atas ada 2 topik yang harus dijadikan satu dalam artikel, yaitu Jogja yang mirip Bali dan Jogja seribu nama. Sama-sama Jogja sih, tapi yang satu seribu nama dan yang satu soal Bali. Jadi gimana nyambunginnya?

FYI, kutipan dari sumber tepercaya itu adalah syarat dari klien, jadi wajib kudu harus dicantumkan. Sementara pantai di Jogja mirip Bali adalah keyword yang ditarget. Jadi ya, kudu wajib ada juga. Nggak boleh diganti, dan harus ada di paragraf pertama.

Yang sudah ditulis di atas, itu sebenarnya sudah cukup diulik, tapi menurut saya masih kurang smooth sih. Dibaca masih enggak enak.

So, I might write this instead.

Jogja adalah kota yang sering dibilang mirip dengan Bali. Soal budayanya, dan terutama keindahan alamnya. Bahkan banyak lo, pantai di Jogja yang mirip Bali, dengan ciri khas pura juga.

Memang, Jogja disebut sebagai kota seribu nama, seperti yang disebutkan dalam buku Happy Shopping Jogja karya Kian Goenawan (2008: 11). Salah satunya adalah kota wisata, karena memang ada banyak objek wisata ada di Jogja, mulai dari wisata budaya, wisata sejarah, hingga wisata alam.

Salah satu wisata alam yang terkenal di Jogja adalah pantai. Tak sekadar indah, beberapa pantai di Jogja mirip sekali dengan Bali: berpasir putih, dan ada yang memiliki pura. Yuk, intip pantai di Jogja yang mirip Bali, siapa tahu bisa jadi pilihan destinasi wisata liburan mendatang.

Better? Semoga.

Dalam penggalan artikel di atas, saya membuat bridge alias jembatan antara ‘kota seribu nama’ dan ‘pantai mirip Bali’ melalui sebutan kota wisata dan keindahan alamnya.

Mau contoh lain? Ada nih. 

Contoh 2

Tulisan asli:

Contoh Penerapan Teknik Bridging 2

So, keywordnya di sini adalah “rekomendasi hotel di tengah Kota Bandung” dan “Bandung merupakan pusat dua pemerintahan yang berbeda tingkat”. Dua hal yang enggak nyambung, meski sama-sama bahas Bandung. Terus, gimana nyambunginnya?

Setelah diulik, jadilah seperti ini:

Mengutip dari buku Desain, Bandung, dan Budaya Sunda karya Jamaludin (2022: 77), Bandung merupakan pusat dua pemerintahan yang berbeda tingkat, yaitu Kota Bandung dan Provinsi Jawa Barat. Tak heran kan, jika Kota Bandung menjadi kota yang sering dikunjungi masyarakat yang punya kepentingan. Karena itu pula, hotel di tengah Kota Bandung dibutuhkan sebagai tempat akomodasi.

Memang beralasan, karena dengan menginap di tengah Kota Bandung, kita akan lebih mudah bepergian ke mana saja. Transportasi umum banyak, memakai kendaraan pribadi juga lebih mudah. Apalagi kalau kita memang belum terlalu mengenal Kota Bandung.

Gimana? “Jembatan”-nya kelihatan kan? Mulus kan?

Contoh 3

Contoh 3 nih, biar semakin jelas.

Tulisan asli:

 

Contoh Penerapan Teknik Bridging 3

Nah, ini makin parah sih. “Pusat dua pemerintahan” terus tahu-tahu ngomongin glamping. Lha, apa hubungannya? Seakan pembaca diseret-seret ke sana kemari. Enak nggak dibacanya? Pastinya nggak enak kan?

Mari kita ulik. Dan ini hasilnya.

Kota Bandung merupakan kota terpadat setelah Jakarta dan Surabaya. Maka tak heran, siapa saja jadi berpeluang untuk jenuh dan pengin merasakan petualangan sesekali. Glamping di tengah hutan Bandung bisa jadi alternatif.

Memanglah Bandung kota sibuk. Dalam buku Desain, Bandung, dan Budaya Sunda karya Jamaludin (2022: 77) disebutkan bahwa Bandung merupakan pusat dua pemerintahan yang berbeda tingkat, yaitu pemerintah Kota Bandung dan Provinsi Jawa Barat. Karena itu, Bandung jadi padat, segala aktivitas kota dan provinsi terpusat di Kota Kembang ini.

Buat yang pengin refreshing sejenak, dan bosan hanya berada di dalam kota saja, yuk, melipir sejenak ke beberapa lokasi glamping di tengah hutan di Bandung weekend ini.

How does that sound? Smoother?

Tip Membuat Bridge yang Smooth

Enak banget kalau misalnya kita bisa menguasai teknik bridging ini. Teknik ini bahkan wajib dipahami oleh bloger yang sering menerima job sponsored post, atau bisa juga instagrammer yang juga sering ada endorsement dan kudu promosi dengan soft selling. Dengan teknik ini, soft selling akan bisa bener-bener smooth, enggak kerasa.

Buat penulis pemula, mungkin memang agak sedikit sulit sih. Saya dulu juga enggak langsung bisa smooth membuat bridge seperti ini, tapi seiring waktu—seiring jam terbang—dan sering latihan, pasti bisa kok.

Untuk membuat bridging yang smooth, coba beberapa trik berikut.

1. Temukan kesamaan dari 2 topik yang berbeda

Saya juga mengakui bahwa teknik bridging ini sedikit rumit. Nyambung-nyambungin dua hal yang berbeda, hingga jadi nyambung secara masuk akal tanpa dipaksakan itu memang tricky. Kadang, ada yang memang nggak bisa disambungin sama sekali. Kalau kayak gitu, ya terpaksa mencari hal lain yang bisa disambungin.

Prinsipnya, temukan dulu kesamaan dari 2 hal yang berbeda ini. Misalnya seperti Jogja dan Bali, yang sama dari keduanya adalah wisatanya. Karena akan ngomongin soal pantai, maka ya akan lebih cocok dihubungkan dari sisi “keindahan alam”. Baru dari situ, diulik supaya nyambung satu sama lain.

Soal Bandung, pemerintahan 2 daerah dan glamping. Berarti yang bisa menyambungkan adalah jenuh dan refreshing. Glamping sifatnya rekreasi. Sementara kota identiknya sibuk, berpeluang bikin jenuh—yang obatnya rekreasi. Nah, ketemu deh “persamaan”-nya.

Memang butuh waktu, dan bisa jadi butuh narasi yang cukup panjang. Tapi seiring waktu, semakin meningkat skill-nya, begitu melihat dua topik tertentu kamu bisa langsung kok nyambung. Soal narasi, itu juga bisa diatasi dengan efisiensi kalimat. Jadi, ya memang harus diedit beberapa kali hingga menemukan yang paling pas dan efisien.

2. Posisikan diri sebagai pembaca

Setiap kali selesai menulis, baca lagi tulisanmu dengan memosisikan dirimu sendiri sebagai pembaca. 

Cek:

  • Apakah ada typo?
  • Apakah flow-nya sudah mulus, alias dari topik satu ke topik lain sudah mengalir enak?
  • Apakah masih bisa diefisienkan lagi kalimatnya?
  • Apakah kira-kira kalau dibaca, pembaca akan mengerutkan dahi?

3. Sering latihan

Menulis memang soal olah rasa sih. Sebagai penulis, kita memang kudu peka, kalau ada kalimat yang “aneh”, kalimat yang kurang pas, dan sebagainya. 

Salah satu cara untuk melatih peka adalah sering-seringlah berlatih menulis. Semakin banyak menulis, semakin terasah “rasa” kita. 

Tak hanya itu, kamu juga bisa menajamkan rasa ini dengan banyak-banyak membaca. Saat membaca, tak sekadar menyerap informasi yang ada dalam bacaannya, tetapi juga amati bagaimana cara penulisannya, cara mengolah katanya. Coba temukan bagian-bagian yang ada bridgingnya.

Membacalah dengan sepenuh hati. Kalau perlu, carilah kesalahan penulisannya dan juga catat hal-hal baru yang bisa kamu dapatkan dari cara penulisan artikel atau apa pun yang kamu baca itu.

Nah, itu dia acara perkenalan kita dengan teknik bridging. Gimana? Tak serumit yang dikira kan? Ingat, semakin sering latihan, maka akan semakin piawai kita mengolah kata dan rasa.

Selamat nulis!


You May Also Like

5 comments

  1. Artikel yang menarik. Salam kenal ya....

    BalasHapus
  2. Teknik bridging ini memang tricky ya Mbak Carra. Kalau gak pinter2, jadi malah gak enak dibaca sama audiens dan ketara bgt kalau maksa disambung2in. Nice tips mbak :D

    BalasHapus
  3. kreren kak, trimakasih udah menginspirasi...

    BalasHapus
  4. Mak Caarr thank you banget, artikel ini berasa jadi reminder-ku juga karena jujur masih sering lompat2 antara paragraf satu ke yang lain. Semoga makin konsisten latihan biar sejago dirimu Mak :3

    BalasHapus