• Home
  • About
  • Daftar Isi
  • Konten Kreatif
    • Penulisan Konten
    • Penulisan Buku
    • Kebahasaan
    • Visual
  • Internet
    • Blogging
    • Marketing
    • User
    • WordPress
  • Media Sosial
    • Facebook
    • Twitter
    • Instagram
  • Stories
    • My Stories
    • Featured
    • Freelancer
  • Guest Posts
Diberdayakan oleh Blogger.
facebook twitter instagram pinterest Email

Carolina Ratri

Kapan Waktu buat Nulis? Begini Cara Saya Membagi Waktu dengan Urusan Warung dan Rumah

Kalau ditanya kapan saya punya waktu untuk menulis, jawabannya enggak pernah pasti. Jadi, memang bukan di jam segini atau jam segini. Dalam sehari, saya harus membagi waktu untuk urusan rumah, anak, warung, dan pekerjaan menulis. Semua sudah punya slot masing-masing karena kalau dibiarkan mengalir begitu saja, salah satu pekerjaan bisa ikut terbengkalai.

Rutinitas saya memang mulai pagi banget, berhubung saya memang tipe morning person. Saat sebagian orang masih tidur, saya sudah masuk dapur dan berkutat di kerjaan domestik. Dalam satu hari, waktu untuk menulis saya pecah menjadi beberapa sesi supaya tetap bisa mengurus semuanya.

Pola Membagi Waktu yang Saya Jalani Setiap Hari

Kapan Waktu buat Nulis? Begini Cara Saya Membagi Waktu dengan Urusan Warung dan Rumah

Saya memang membuat jadwal yang cukup rinci. Bukan berarti semua hari selalu berjalan persis sesuai jam yang tertulis, tetapi jadwal itu membantu saya tahu apa yang perlu dikerjakan berikutnya. 

Dalam membagi waktu, saya juga sengaja memberi jeda untuk makan, minum kopi, dan beristirahat supaya bisa lebih fokus nulisnya.

1. Pagi Buta: Domestik

Pukul 03.00 adalah awal hari saya. Yang saya kerjakan lebih dulu adalah menyiapkan bekal dan mencuci baju. Setelah itu, yang lain-lain, mulai dari beberes kamar dan seterusnya. Setelah semua siap, sekitar pukul 06.00 saya mengantar anak ke sekolah.

Rutinitas ini memang cukup pagi, karena bekal kan harus sudah siap pukul 06.00 itu untuk dibawa sekolah. Setelah mengantar anak, saya pulang dan sarapan. Baru setelah itu saya bersiap membuka warung.

Baca juga: Cara Mengatur Keuangan sebagai Freelancer Saat Penghasilan Nggak Pernah Pasti

2. Beberes Warung

Pukul 07.00 adalah waktunya membuka warung sekaligus membereskan area yang perlu dibersihkan. 

Saya memang berjualan sambil bekerja sebagai penulis. Artinya, laptop bukan satu-satunya benda yang harus saya perhatikan pada satu hari itu. Ketika ada pembeli, pekerjaan menulis akan harus berhenti sebentar. Setelah pembeli selesai dilayani dan keadaan kembali sepi, saya bisa kembali ke laptop. Juggling jadinya.

Karena kondisi warung tidak selalu bisa ditebak, saya membuat sesi menulis yang terpisah. Cara membagi waktu seperti ini membuat saya enggak menggantungkan pekerjaan menulis pada satu sesi panjang.

Kalau pagi itu warung sedang ramai, sesi menulis bisa mundur beberapa menit. Saya enggak menganggap jadwalnya gagal hanya karena bergeser. Saya tinggal melanjutkan ketika ada kesempatan.

3. Membagi Waktu Menulis Jadi Lima Sesi

Nah, ini bagian yang paling penting. Saya enggak menargetkan duduk di depan laptop selama berjam-jam tanpa berhenti. Waktu menulis saya pecah menjadi lima sesi. Karena attention span saya memang terbatas.

Sesi pertama dimulai pukul 08.00. Setelah sekitar satu jam, pukul 09.00 saya berhenti untuk istirahat. Jam sembilan ini saya memang harus berhenti menulis, karena ada tukang sayur, tukang jajanan, tukang jamu dan lain sebagainya biasanya mampir. Warung saya jadi hub pedagang mendadak. Wkwkwkwk. Nulis pasti gagal, karena enggak akan fokus. Pasar dadakan di warung saya biasanya selesai satu jam. Jadi, saya bisa kembali menulis pada pukul 10.00.

Pukul 12.00 saya berhenti untuk makan siang. Setelah makan, sesi ketiga dimulai pukul 13.00 dan berjalan sampai sekitar pukul 15.00. Ada coffee break, kalau sudah ya lanjut lagi menulis untuk sesi keempat. Sesi kelima berlangsung pukul 18.00, setelah saya menyelesaikan urusan sore.

Pola ini membantu saya melihat pekerjaan menulis sebagai beberapa bagian kecil dalam satu hari. Kalau ada gangguan pada satu sesi, saya masih punya sesi berikutnya untuk mengejar pekerjaan yang belum selesai.

4. Jeda Makan dan Minum Kopi Masuk ke Jadwal

Saya sengaja tidak mengisi seluruh waktu dengan pekerjaan. Pukul 09.00 ada break. Pukul 12.00 waktunya makan siang. Lalu pukul 15.00 saya punya coffee break lagi sebelum kembali menulis pada pukul 15.30.

Jeda seperti ini kelihatannya sepele, tetapi buat saya cukup penting. Saya bisa meninggalkan laptop sebentar, makan, minum, atau sekadar mengalihkan perhatian dari tulisan.

Saya juga enggak mau waktu makan berubah menjadi kesempatan untuk terus membuka laptop. Kalau sudah waktunya makan, ya saya makan. Setelah selesai, baru kembali ke pekerjaan.

Dalam membagi waktu, saya perlu tahu kapan harus bekerja dan kapan harus berhenti sebentar. Kalau semua waktu dianggap sebagai waktu kerja, satu hari bisa terasa penuh sekali meskipun hasil pekerjaannya belum tentu sebanding.

5. Sore Hari Kembali ke Urusan Rumah

Sekitar pukul 17.00, saya berhenti dari pekerjaan menulis untuk mengurus kegiatan sore. Saya memasak, mandi, lalu makan.

Bagian ini saya pertahankan sebagai waktu untuk mengurus kebutuhan rumah. Saya enggak mencoba menyelipkan pekerjaan menulis di antara kegiatan tersebut karena setelah seharian menulis dan jaga warung, saya memang perlu beralih sebentar dari laptop.

Setelah urusan sore selesai, saya kembali ke sesi menulis kelima pada pukul 18.00. Jadi, waktu menulis saya memang tersebar sepanjang hari, bukan dikumpulkan dalam satu blok panjang.

Kalau kamu melihat jadwalnya, mungkin kelihatannya saya sering berpindah kegiatan. Memang begitu keseharian saya. Pagi mengurus anak dan rumah, lalu warung, kemudian menulis, berhenti makan, menulis lagi, mengurus rumah, lalu kembali ke tulisan.

6. Malam untuk Kerjaan Kreatif yang Lebih Ringan

Pukul 20.00 adalah waktu untuk mengerjakan hal lain yang masih berhubungan dengan pekerjaan dan kegiatan kreatif saya. Ada ebook, UT, atau sketching yang bisa saya kerjakan pada jam tersebut.

Saya sengaja menempatkan pekerjaan seperti ini pada malam hari karena jenis kegiatannya berbeda dengan sesi menulis utama. Setelah seharian membuat tulisan, saya bisa mengerjakan hal yang sifatnya lebih santai.

Jadwal malam juga masih berjalan bersamaan dengan urusan warung. Pukul 21.00 saya menutup warung, lalu beberes lagi. 

Dalam membagi waktu, saya harus memperhitungkan kegiatan-kegiatan kecil seperti mencuci peralatan warung atau mengisi daya perangkat. Kalau semua itu dianggap enggak masuk jadwal, pekerjaan kecil bisa menumpuk dan akhirnya menghabiskan waktu ketika saya sudah ingin tidur.

7. Pukul 21.30, Hari Saya Selesai

Setelah semua urusan selesai, saya tidur sekitar pukul 21.30. Ini juga bagian dari jadwal yang saya jaga karena besok pukul 03.00 saya sudah harus mulai lagi.

Kalau melihat keseluruhan rutinitas, waktu menulis saya memang enggak berada dalam satu blok besar. Saya punya sesi pukul 08.00, 10.00, 13.00, 15.30, dan 18.00. Di sela-selanya ada warung, pekerjaan rumah, makan, istirahat, dan kebutuhan keluarga.

Baca juga: Begini Cara Meningkatkan Produktivitas dalam Menulis

Cara membagi waktu seperti ini saya pilih karena sesuai dengan kehidupan saya sekarang. Saya enggak bisa mengosongkan satu hari penuh hanya untuk menulis. Ada warung yang harus dibuka, ada rumah yang harus diurus, ada anak yang perlu disiapkan sekolah, dan ada pekerjaan lain yang tetap berjalan.

Jadwal tersebut juga bukan sesuatu yang saklek. Kalau warung sedang ramai, waktu menulis bisa bergeser. Kalau ada urusan rumah yang lebih banyak dari perkiraan, saya menyesuaikan sesi berikutnya. Yang saya pertahankan adalah pembagian waktunya, bukan setiap menitnya harus persis sama.

Buat saya, membagi waktu adalah cara supaya semua pekerjaan punya tempat dalam satu hari. Saya enggak selalu bisa menyelesaikan semuanya dengan sempurna, tetapi setidaknya saya tahu kapan harus menulis, kapan menjaga warung, kapan mengurus rumah, dan kapan berhenti untuk tidur.

Kalau kamu, gimana cara membagi waktumu antara kerja, keluarga, dan dirimu sendiri?


Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Cara Mengatur Keuangan sebagai Freelancer Saat Penghasilan Nggak Pernah Pasti

Jadi freelancer itu memang kelihatannya menyenangkan dari luar. Nggak perlu berangkat ke kantor setiap pagi, bisa menentukan sendiri jam kerja, dan katanya penghasilan bisa lebih besar daripada karyawan.

Narasi seperti ini tuh sebenarnya memang ada relate-nya, tetapi cuma separuh cerita. Separuh lainnya, keuangan freelancer itu nggak pernah benar-benar aman.

Hari ini bisa dapat beberapa proyek sekaligus. Bulan depan bisa saja klien tiba-tiba berhenti. Pagi masih ngerjain proyek, sorenya diinvite Gmeet. Ternyata mau di-cut. It happened!

Ada juga klien yang tiba-tiba menghilang setelah beberapa kali mengobrol soal pekerjaan. Sudah follow-up, sudah menunggu, ternyata ghosting. Ya, enggak bisa apa-apa. Perusahaan dan bisnis sama-sama lebih berhati-hati mengeluarkan uang, apalagi in this economy kan?

Kalau masih di usia yang relatif muda, mungkin kita masih cukup sigap untuk mencari klien baru, pindah niche, belajar skill baru, atau mengambil pekerjaan tambahan. Tetapi seiring bertambahnya usia, situasinya bisa berbeda. Kompetisi makin banyak, energi enggak selalu sama.

Cari pekerjaan baru juga nggak semudah narasi orang-orang yang sedang jualan kelas freelance.

Karena itu, menurut saya, mengatur keuangan sebagai freelancer itu ya beda mainnya. Instead of berusaha membuat penghasilan terlihat stabil, kita tuh harusnya bikin pengeluaran dan sistem keuangan kita tetap terkendali meskipun penghasilan naik-turun.

Mengatur Keuangan sebagai Freelancer

Cara Mengatur Keuangan sebagai Freelancer Saat Penghasilan Nggak Pernah Pasti


Berikut beberapa hal yang saya lakukan dan menurut saya penting dipikirkan kalau kamu bekerja sebagai freelancer.

1. Sadari Dulu bahwa Profesi Freelancer Itu Memang Berisiko

Jangan kemakan narasi kayak freelancer itu enak, kerjaan fleksibel, bisa di mana saja, bayarannya besar. Nope. Enggak ada profesi yang too good to be true kayak gitu. Pasti ada trade-off-nya. Pasti!

Hal pertama yang perlu diterima adalah freelance bukan pekerjaan dengan penghasilan yang aman.

Bahkan ketika kamu sudah punya klien tetap selama bertahun-tahun, tetap ada kemungkinan kontrak berhenti tiba-tiba. Perusahaan bisa melakukan efisiensi. Anggaran marketing bisa dipotong. Editor bisa berganti. Bisnis klien bisa berganti manajemen, bisa tutup, bisa bangkrut juga. Atau mereka sekadar memutuskan menggunakan jasa orang lain. Bukan jasa kita lagi.

Saya sudah pernah mengalami itu semua yang disebutin.

Terus, ada juga risiko yang lebih menyebalkan. Apa itu? Klien ghosting.

Awalnya mengajak kerja sama, meminta rate card, membicarakan brief, bahkan mungkin sudah menjanjikan pekerjaan. Setelah itu enggak ada kabar. Kita sudah telanjur menganggap proyek tersebut masuk ke perhitungan pemasukan bulan depan.

Eits ada lagi yang lebih parah. Ada loh yang kerjaannya sudah kelar. Giliran disetorin, orangnya nggak nyaut. Udah kelar dikerjain loh!

Karena itu, jangan menganggap pemasukan yang "katanya akan masuk" sebagai uang yang sudah kita punya. Kalau belum ada pembayaran atau setidaknya pekerjaan yang sudah jelas dan disepakati, anggap saja uang tersebut belum ada. Ini penting supaya kita nggak membuat keputusan keuangan berdasarkan pemasukan yang masih berupa harapan.

Baca juga: Freelance VS Kantoran: Karena untuk Jadi Sugarbaby Sudah Ketuaan

2. Kalau Penghasilan Nggak Tetap, Pengeluaran yang Harus Ditetapkan

Ini menurut saya salah satu prinsip paling penting dalam mengatur keuangan freelancer.

Penghasilan boleh naik-turun. Pengeluaran jangan ikut naik-turun. Jadi bikin rata-rata per bulan kamu secara standar mengeluarkan berapa banyak untuk kebutuhan hidup? Angka ini yang kamu jadikan sebagai garis anggaran. Nah, untuk bisa tahu standar ini gimana? Ya, catat!

Ya memang kadang males banget buat mencatat pengeluaran tuh. Riwil banget. Tapi ini penting, apalagi kalau kamu pengin bisa andalkan freelancing sebagai mata pencaharian utama. Kamu kudu tahu, berapa banyak yang kamu butuhkan setiap bulan.

Misalnya, bulan kemarin kamu sudah mencatat kalau pengeluaran mencapai Rp5 juta. Bulan ini Rp6 juta. Bulan depan Rp3 juta. Nah, kamu bisa tuh ambil rata-ratanya, Rp5 juta misalnya, sebagai batas pengeluaran.

Pisahkan uang operasional ini dari uang lainnya. Ya, kalau perlu bikin rekening tersendiri. Begitu pisahkan, uang ini boleh kamu “habiskan” untuk kebutuhan hidup. Sementara, uang di rekening lain masih aman. Selanjutnya kalau polanya enggak terlalu berubah, kamu bisa pakai terus pola ini tanpa perlu repot mencatat. Tapi, nanti kalau ada perubahan, ya perlu dicatat lagi,.

3. Jangan Lifestyle Inflation

Nah, ini jebakan memang. Ketika misalnya kita dapat penghasilan yang lebih tinggi, kita jadi sering tergoda untuk belanja lebih banyak. Ini nih yang dinamakan lifestyle inflation.

Misalnya, sekalinya dapat Rp10 juta, padahal sebelumnya cuma Rp5 juta. Terus, tau-tau aja acara makan di AYCE jadi tiap dua hari sekali. Jangan ya. Kamu itu cuma dapatnya 10 juta itu sebulan woy. Bulan depan belum tentu.

Jadi, misalnya kamu memutuskan kebutuhan hidup maksimal Rp8 juta per bulan. Ketika pemasukan sedang Rp15 juta, tetap hidup dengan anggaran tersebut. Ketika mendapatkan Rp25 juta, jangan tiba-tiba merasa punya alasan untuk meningkatkan pengeluaran menjadi Rp12 juta.

Kelebihan pemasukan bisa dialihkan ke dana darurat, investasi, modal usaha, atau aset lain.

Dengan cara ini, ketika pemasukan turun, kamu enggak langsung panik karena gaya hidup yang telanjur mahal.

4. Punya Dana Darurat yang Lebih Tebal

Dana darurat penting untuk siapa pun. Tetapi bagi freelancer, kebutuhan ini jauh lebih serius.

Karyawan bisa kehilangan pekerjaan juga, tetapi freelancer menghadapi ketidakpastian pemasukan sebagai bagian dari sistem kerjanya sehari-hari.

Jadi jangan hanya berpikir, "Saya punya tabungan kok." Lihat berapa lama tabungan tersebut bisa membiayai hidup kalau besok tidak ada satu pun klien yang membayar.

Misalnya pengeluaran wajib kamu Rp7 juta per bulan. Dana Rp14 juta berarti baru cukup untuk dua bulan. Kalau seluruh pemasukan berhenti, dua bulan bisa terasa sangat singkat.

Karena itu, ketika kondisi keuangan memungkinkan, bangun dana darurat secara bertahap sampai punya napas yang cukup panjang.

Dan dana darurat sebaiknya jangan dicampur dengan uang investasi atau uang untuk belanja. Fungsinya memang khusus untuk keadaan ketika pemasukan terganggu atau ada kebutuhan mendesak.

5. Jangan Cuma Andalkan Satu Sumber Pemasukan

Saya pribadi merasa ini penting sekali sebagai freelancer.

Kalau seluruh pemasukan berasal dari satu klien, sebenarnya kita belum benar-benar punya pekerjaan yang aman. Kita hanya punya satu sumber risiko.

Idealnya, sumber pemasukan dibuat lebih beragam.

Bukan berarti kamu harus punya sepuluh pekerjaan sekaligus sampai hidup nggak punya waktu istirahat. Bentuknya bisa macam-macam.

Misalnya punya bisnis makanan kecil, punya toko online, atau sambil ngojol juga bisa. Saya sendiri memilih punya warung sebagai salah satu sumber pemasukan di luar pekerjaan freelance.

Ya, bentuknya enggak harus sama. Yang penting, ketika satu sumber pemasukan sedang seret, masih ada sumber lain yang bisa membantu menopang pengeluaran.

6. Minimal Punya Perlindungan Kesehatan

Freelancer enggak dapat fasilitas kesehatan dari kantor seperti sebagian karyawan. Karena itu, jangan sampai urusan perlindungan kesehatan ikut diabaikan. Minimal, saya rasa freelancer perlu memastikan BPJS Kesehatan tetap aktif.

Kelihatannya seperti pengeluaran kecil yang gampang ditunda. Tetapi ketika tiba-tiba harus berobat, biaya kesehatan bisa mengacaukan seluruh rencana keuangan yang sudah dibuat.

7. Kalau Sudah Bisa Nabung, Jangan Berhenti di Tabungan

Ada fase ketika freelancer akhirnya berhasil punya surplus. Misalnya kebutuhan bulanan Rp7 juta, sementara rata-rata pemasukan sudah bisa mencapai Rp10 - 12 juta. Setelah dana darurat mulai terbentuk, uang yang tersisa jangan semuanya dibiarkan mengendap tanpa tujuan.

Mulailah belajar membangun aset.

Kamu bisa mulai dari instrumen yang sederhana dan nominal yang kecil sambil belajar. Misalnya reksa dana. Ada produk yang memungkinkan investasi mulai dari Rp100 ribu.

Uang semungil itu memang enggak akan langsung mengubah kondisi finansial. Karena tujuannya di tahap awal memang bukan itu. Tujuannya adalah membangun kebiasaan mengalokasikan uang untuk masa depan.

Sambil belajar, kamu bisa mulai memahami bagaimana investasi bekerja, mengenali profil risiko, dan perlahan meningkatkan jumlah uang yang dialokasikan. Kalau penghasilan meningkat, saving rate juga bisa dinaikkan. Dengan begitu, ada bagian pemasukan yang secara otomatis berubah menjadi aset.

8. Mulai Bangun Passive Income dari Kekayaan Intelektual

Freelancer sering menjual waktu, pikiran, dan energi. Kita menulis artikel, dibayar. Membuat desain, dibayar. Mengedit video, dibayar. Konsultasi, dibayar.

Masalahnya, ada batas jumlah pekerjaan yang bisa kita kerjakan dalam sehari. Karena itu, saya pikir freelancer juga perlu mulai memikirkan sesuatu yang bisa menghasilkan uang berulang tanpa selalu menukar waktu dengan uang. Salah satunya adalah kekayaan intelektual.

Misalnya kamu seorang penulis. Selain menerima proyek tulisan dari klien, kamu bisa membuat buku yang dijual berulang kali. Bisa juga membuat e-book, template, kursus, newsletter berbayar, atau membangun blog yang menghasilkan pendapatan dari iklan.

Desainer bisa membuat template atau aset digital. Fotografer bisa menjual stock photo. Musisi bisa menghasilkan royalti dari karya.

Nah, jangan dianggap passive income ini benar-benar pasif dan bisa menghasilkan uang sambil tidur. Itu mah cuma bahasa marketing.

Tetap ada pekerjaan di belakangnya. Tetapi bedanya, satu karya bisa menghasilkan uang berkali-kali tanpa kamu harus mengerjakan ulang dari nol untuk setiap transaksi.

Baca juga: Dilema Freelancer: Memutus Klien yang Telat Bayar atau Bertahan?

Anggap Masa Depan Freelance sebagai Sesuatu yang Perlu Direncanakan

Saya enggak pengin bilang bahwa menjadi freelancer itu buruk. Saya bahkan masih menjalaninya karena ada banyak hal yang saya sukai dari pekerjaan ini.

Tetapi saya juga tidak mau berpura-pura bahwa semuanya indah.

Ada bulan ketika pekerjaan banyak. Ada bulan ketika pekerjaan sepi. Ada klien baik. Ada klien yang pembayarannya lancar. Ada juga klien yang tiba-tiba menghilang. Ada masa ketika kita merasa masih sanggup mengejar semuanya, lalu ada masa ketika mulai bertanya apakah kita masih mau bekerja dengan ritme yang sama lima atau sepuluh tahun lagi.

Karena itu, menurut saya, mengatur keuangan sebagai freelancer itu penting banget untuk dipahami, terutama kalau kamu baru mau mulai merintis di sini. Kita perlu membangun sistem supaya hidup enggak sepenuhnya harus bergantung pada pemasukan bulan ini.

Karena risiko kehilangan klien mungkin enggak pernah bisa kita hilangkan. Yang bisa kita lakukan adalah memastikan bahwa ketika satu klien pergi, hidup kita enggak ikut berantakan.

 

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
7 Jenis Tools AI yang Wajib Digunakan Penulis Konten untuk Kerja yang Efisien dan Hasil Maksimal

AI semakin jauh masuk ke dalam kehidupan sehari-hari. Nggak cuma buat seru-seruan bikin gambar lucu, tapi juga bantu kerja jadi lebih ringan dan hasilnya makin maksimal. Buat penulis konten, tools AI jadi andalan baru untuk mempercepat proses kreatif tanpa harus mengorbankan kualitas tulisan.

Punya tools AI yang sesuai bisa bikin alur kerja lebih lancar, mulai dari riset, nulis, sampai produksi visual atau video. Bukan berarti menggantikan kreativitas, tapi justru memperkuatnya. Yang penting tahu jenis tools mana yang paling pas dipakai biar hasilnya tetap autentik dan nggak terasa robotik.

Jenis Tools AI untuk Penulis Konten

7 Jenis Tools AI yang Wajib Digunakan Penulis Konten untuk Kerja yang Efisien dan Hasil Maksimal

Saya bukan tipe yang anti AI. Justru sebaliknya, merasa AI itu harus dimanfaatkan semaksimal mungkin biar kerjaan sehari-hari nggak cuma selesai, tapi juga lebih efisien, ringan, dan nggak bikin burnout. 

Apalagi buat penulis konten yang ritme kerjanya cepat dan targetnya nggak sedikit setiap harinya. Tools AI bisa bantu dari berbagai sisi—bukan buat gantiin kreativitas, tapi buat ngangkat beban teknis yang nyita waktu.

So, untuk bantu kinerja setiap hari, barangkali kamu juga bisa coba pakai tools AI seperti di bawah ini.

1. AI Writing Assistant

Fungsi:

  • Bantu nulis artikel dari ide mentah
  • Rewrite kalimat biar lebih jelas atau menarik
  • Buat outline, caption, judul, hingga meta description

Tools Rekomendasi:

  • ChatGPT: Untuk semua jenis ide, draf, hingga editing ringan
  • Jasper: Fokus pada konten pemasaran dan brand voice
  • Copy.ai: Cocok buat copywriting seperti email, iklan, landing page

Cara Pakai:

  1. Masukkan prompt (misalnya: “buatkan outline artikel tentang...”)
  2. Bisa ditindaklanjuti dengan revisi, rephrase, atau perluas konten
  3. Simpan hasilnya dan sesuaikan dengan gaya tulismu
Baca juga: Cara Menggunakan AI untuk Menulis Artikel secara Beretika

2. AI SEO Tool

Fungsi:

  • Riset keyword dan search intent
  • Buat artikel lebih ramah mesin pencari
  • Cek kompetitor dan rekomendasi SEO real-time

Tools Rekomendasi:

  • Surfer SEO: Bantu optimasi SEO on-page saat menulis
  • Frase.io: Gabungkan riset keyword + AI writing
  • NeuronWriter: Canggih untuk analisis semantik dan content score

Cara Pakai:

  1. Masukkan keyword utama, kamu akan dapatkan outline dan keyword pendukung
  2. Tulis atau paste artikel, lalu lihat skor SEO dan perbaiki sesuai saran

3. AI Content Planner dan Ide Generator

Fungsi:

  • Gali ide konten yang sedang relevan
  • Susun kalender editorial mingguan atau bulanan
  • Cek topik yang lagi viral di niche tertentu

Tools Rekomendasi:

  • BuzzSumo: Lihat artikel viral dan share tertinggi
  • Semrush Topic Research: Temukan ide dengan search volume tinggi
  • ChatGPT: Bisa diminta brainstorming dengan prompt tertentu

Cara Pakai:

  1. Masukkan topik umum, kamu akan dapatkan ide-ide turunan + pertanyaan populer
  2. Cocok dipakai saat stuck atau buat long-term content plan

4. AI Image Generator dan Editor

Fungsi:

  • Bikin visual blog, infografis, thumbnail, atau ilustrasi
  • Bantu cari gambar unik tanpa takut kena hak cipta
  • Efisien dan bisa disesuaikan dengan tema konten

Tools Rekomendasi:

  • Canva AI (Magic Design): Ubah teks jadi desain otomatis
  • DALL·E (by OpenAI): Gambar dari deskripsi teks
  • Midjourney: Gambar ilustratif dengan gaya artistik
  • Microsoft Designer: Alternatif praktis untuk sosial media visual

Cara Pakai:

  1. Tulis deskripsi, lalu AI akan menghasilkan gambar
  2. Edit atau kombinasikan dengan elemen lainnya

5. AI Text-to-Speech / Voice Over Generator

Fungsi:

  • Ubah artikel jadi audio untuk YouTube, podcast, atau reels
  • Suara natural, bisa dipilih bahasa dan tone-nya
  • Cocok untuk konten berbasis narasi

Tools Rekomendasi:

  • ElevenLabs: Suara realistis, cocok untuk storytelling
  • Murf.ai: Banyak pilihan voice over profesional
  • Play.ht: Bisa buat audio konten dan embed langsung ke blog

Cara Pakai:

  1. Paste teks → pilih jenis suara dan kecepatan
  2. Download hasilnya dalam format audio

6. AI Video Generator dan Editor

Fungsi:

  • Ubah artikel atau teks jadi video otomatis
  • Bikin konten video pendek untuk reels, TikTok, atau YouTube Shorts
  • Tambahkan narasi, subtitle, dan elemen visual tanpa editing manual

Tools Rekomendasi:

  • Pictory.ai: Ubah artikel jadi video dengan klip stok, teks, dan voice over otomatis
  • InVideo: Cocok untuk bikin video promosi, tutorial, atau konten sosial media
  • Lumen5: Ubah blog post jadi video dengan animasi dan musik
  • Runway: AI untuk edit video lebih kompleks (hapus background, tambah efek, dan lain-lain)
  • CapCut AI: Untuk bikin konten reels atau TikTok dengan efek otomatis dan template siap pakai

Cara Pakai:

  1. Paste teks atau artikel, lalu pilih template, edit teks, gambar, suara. Setelah selesai, bisa langsung export sebagai video
  2. Cocok banget buat repurpose artikel jadi konten video yang engaging

7. AI Analytics Assistant

Fungsi:

  • Analisis performa konten: views, CTR, bounce rate
  • Rekomendasi waktu publikasi, topik yang paling disukai pembaca
  • Bantu optimasi berdasarkan data

Tools Rekomendasi:

  • Google Analytics 4 + AI insights: Lacak performa dan perilaku user
  • Piwik PRO: Alternatif GA untuk data privasi tinggi
  • Semrush Content Audit: Evaluasi artikel lama untuk diupdate

Cara Pakai:

  1. Hubungkan blog/website ke tools
  2. Lihat laporan performa, lalu perbaiki konten atau kembangkan topik sejenis
Baca juga: Writing Preparation: 19 Jenis dan Tipe Konten untuk Blog Post Ini Bisa Jadi Ide Blog Kamu Biar Nggak Ngebosenin

Tools AI memang bisa bantu kerja jadi lebih cepat dan hasil makin maksimal, tapi tetap harus dipakai dengan bijak. 

AI itu alat bantu, bukan solusi instan buat semua hal. Kalau belum yakin diri sendiri sudah cukup cerdas dan paham cara pakainya, mending jangan dulu dipaksakan. Belajar dulu, pahami dulu, dan yang paling penting: ngerti dulu etikanya. Jangan sampai niatnya mau efisiensi malah jadi mudharat. 

Karena pada akhirnya, bukan soal siapa yang pakai AI, tapi siapa yang paling cerdas menggunakannya.

Review blog monetasi

Butuh teman diskusi buat merapikan ide buku atau mengembangkan blog supaya lebih potensial?

Saya menyediakan sesi konsultasi yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan—baik untuk penulisan naskah nonfiksi maupun review blog yang ingin dimonetisasi secara bertahap.

Kalau ingin ngobrol lebih lanjut, bisa booking sesi lewat tautan ini atau klik di poster.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Menentukan Harga Jasa Penulis

Menentukan harga penulis bisa jadi tantangan, apalagi kalau kamu baru memulainya. Banyak faktor yang perlu dipertimbangkan, mulai dari jenis tulisan, tingkat kesulitan, hingga waktu pengerjaan. Bagi pemula, memahami cara menetapkan tarif yang fair dan sesuai pasar sangat penting agar jasa yang ditawarkan punya nilai.

Harga jasa yang tepat bukan cuma soal angka, tapi juga soal menghargai kerja keras dan waktu. Kamu sedang menegosiasikan energi, pikiran, dan waktu dengan klien ketika kamu mengajukan harga. Dengan menentukan tarif yang pas, kamu pun bisa menarik klien sekaligus menjaga kualitas kerja. 

Yuk, pelajari langkah-langkah praktis untuk menetapkan harga penulis yang sesuai dengan keahlian dan kebutuhan.

Bagaimana Cara Menentukan Harga Penulis?

1. Jenis Layanan

Tentukan dulu jenis layanan yang akan ditawarkan. Apakah fokus pada artikel blog, copywriting untuk promosi, ghostwriting untuk tulisan yang akan diterbitkan atas nama orang lain, atau konten teknis yang membutuhkan keahlian khusus? 

Setiap jenis tulisan punya tingkat kesulitan yang berbeda, begitu juga nilai pasarnya. Misalnya, artikel blog biasanya lebih santai, sedangkan konten teknis butuh riset yang lebih serius dan biasanya dihargai lebih tinggi. 

Dengan memahami jenis layanan, menentukan harga jadi lebih mudah.

Baca juga: Cara Membuat Rate Card untuk Penulis Paling Mudah

2. Pengalaman dan Keahlian

Pertimbangkan pengalaman dan keahlian yang dimiliki. Kamu yang baru memulai sebaiknya menetapkan tarif yang kompetitif, untuk menarik klien pertama dan membangun portofolio. Sementara kalau kamu sudah berpengalaman dengan portofolio kuat, kamu bisa menawarkan harga lebih tinggi. 

Kalau kamu punya sertifikasi atau pelatihan tambahan yang relevan, itu juga bisa menjadi nilai tambah. Sah-sah saja kalau kamu memperhitungkannya dalam harga jasamu. Intinya, semakin banyak pengalaman dan bukti kualitas kerja, semakin tinggi nilai yang layak diberikan.

3. Riset Pasar

Lakukan riset dulu untuk mengetahui tarif rata-rata penulis lain di bidang yang sama. Cari tahu bagaimana mereka menentukan harga, apakah dihitung per kata, per jam, atau per proyek. 

Coba intip ke marketplace freelancer. Misalnya kayak Fastwork. Cek, misalnya, penulis artikel blog berapa tarifnya, apakah dia menetapkan tarif per kata atau per proyek. Begitu juga dengan copywriter, ghost writer, dan jenis-jenis scope kerjaan yang lain. 

Dengan mengetahui harga pasar, menetapkan tarif yang kompetitif dan sesuai kualitas kerja akan jadi lebih mudah.

4. Hitung!

Pilih basis perhitungan harga yang paling pas untuk layanan yang ditawarkan. Ada beberapa opsi yang bisa dipertimbangkan:

  • Per kata: Ideal untuk artikel atau konten pendek. Tarifnya bervariasi, mulai dari Rp50 hingga Rp500 per kata, tergantung tingkat kesulitan dan kualitas yang diharapkan. Sistem ini sering digunakan untuk klien yang butuh tulisan dengan panjang tertentu.
  • Per jam: Cocok untuk proyek yang melibatkan kolaborasi atau membutuhkan waktu lebih fleksibel, seperti menyusun strategi konten. Tarif biasanya mulai dari Rp50.000 hingga Rp300.000 per jam, tergantung pengalaman dan kompleksitas tugas.
  • Per proyek: Pilihan tepat untuk pekerjaan besar seperti menulis e-book, laporan, atau konten dengan cakupan luas. Harganya tetap dan disesuaikan berdasarkan kesepakatan awal, sehingga lebih nyaman bagi kedua pihak. Ini butuh nego sama klien dengan cermat.

Dengan memilih metode perhitungan yang sesuai, proses negosiasi dengan klien jadi lebih jelas dan terarah.

5. Perhitungkan Hal-Hal yang Bisa Jadi Kendala

Pertimbangkan juga waktu dan tingkat kesulitan proyek. Kalau tulisan butuh banyak riset, data akurat, atau penyusunan yang rumit, tarif yang ditetapkan tentu lebih tinggi dibandingkan tulisan yang lebih sederhana. Jangan lupa memperhitungkan waktu penyelesaian. 

Kalau klien butuh hasil cepat atau mendesak, tarif juga bisa disesuaikan untuk mengimbangi usaha ekstra yang dibutuhkan. Dengan begitu, harga yang ditetapkan mencerminkan usaha, waktu, dan nilai yang diberikan.

6. Tambahkan Nilai Ekstra

Tambahkan nilai ekstra ke jasa yang ditawarkan untuk meningkatkan tarif secara wajar. Misalnya, kamu bisa menyertakan revisi tanpa batas, riset mendalam yang memakan waktu, atau format khusus seperti infografis atau presentasi. Pastikan untuk menyebutkan nilai plus-plus ini di dalam syarat dan ketentuan, dan dihitung dalam harga akhir. 

Dengan tambahan ini, kamu menunjukkan keunggulan dibandingkan penulis yang lain. Pada waktunya, kamu pun bisa dengan mudah menyesuaikan harga jasa ke depannya. Jasa kamu terasa lebih premium dan sebanding dengan tarif yang ditetapkan.

7. Tawarkan Opsi Paket

Cobalah menawarkan opsi paket untuk membuat layanan lebih menarik dan menguntungkan. Misalnya, paket 5 artikel sekaligus dengan harga khusus, atau paket bulanan untuk kebutuhan konten rutin. Klien biasanya lebih tertarik pada penawaran seperti ini karena terasa lebih hemat dibandingkan memesan satu per satu. Selain itu, paket juga memberikan peluang untuk mendapatkan proyek yang lebih besar sekaligus membangun hubungan kerja jangka panjang dengan klien. Pastikan paket yang ditawarkan jelas dan fleksibel sesuai kebutuhan pasar.

8. Hitung Biaya Operasional

Jangan lupa menghitung biaya operasional saat menetapkan harga. Mungkin kamu berlangganan Canva Premium dan perlu menyertakan hasil kerjanya. Atau kamu berlangganan SEO tools kayak SEMrush. Yang kayak-kayak gini, jangan lupa diperhitungkan. 

Semua biaya tersebut penting untuk mendukung kualitas tulisan, jadi pastikan tarif yang ditetapkan sudah mencakup pengeluaran tersebut agar tetap untung. Dengan memperhitungkan biaya operasional, jasa yang ditawarkan tetap berkualitas tanpa merugikan diri sendiri.

9. Review dan Evaluasi

Selalu tinjau dan evaluasi tarif secara berkala untuk memastikan harga tetap relevan dengan pengalaman dan kondisi pasar. Seiring bertambahnya portofolio atau keahlian baru, harga juga sebaiknya disesuaikan. Selain itu, perhatikan perubahan di industri, seperti tren tarif atau kebutuhan klien yang berkembang. 

Revisi harga idealnya dilakukan setidaknya setahun sekali, tapi bisa lebih cepat jika ada peningkatan signifikan dalam kualitas layanan. Dengan evaluasi rutin, tarif yang ditawarkan akan selalu mencerminkan nilai kerja secara adil.

Baca juga: Cara Nego Klien biar Nggak Desperate tetapi Juga Menjaga supaya Klien Nggak Kabur

Menentukan harga penulis yang pas membutuhkan keseimbangan antara kualitas kerja dan nilai pasar. Dengan memahami kebutuhan klien dan menghargai waktu serta usaha, tarif yang ditetapkan bisa lebih adil dan kompetitif. Jangan ragu untuk terus mengevaluasi dan menyesuaikan harga seiring bertambahnya pengalaman.

 

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Cara Membuat Rate Card untuk Penulis Paling Mudah

Mau bikin rate card tapi bingung mulai dari mana? Enggak usah khawatir, kamu sudah ada di tempat yang tepat. 

So, rate card itu memang penting buat setiap penulis freelance, biar bisa gampang nginfo ke klien soal harga dan layanan yang ditawarkan dengan jelas dan menarik.

Di artikel ini, kita bakal bahas cara paling mudah buat bikin rate card yang oke punya. Enggak perlu ribet, kamu cuma perlu ikutin beberapa langkah sederhana yang akan kita ulas di bawah ini. 

Cara Bikin Rate Card

1. Tentukan Layananmu

Pertama, tentukan apa aja layanan penulisan yang mau kamu tawarkan. Bisa jadi mulai dari nulis artikel, blog, isi konten media sosial—mulai dari Instagram sampai TikTok, sampai buku atau copywriting. 

Jelaskan dengan spesifik jenis layanannya biar enggak ada salah paham. Ini penting banget biar calon klien tahu apa yang bisa mereka dapatkan dari kamu.

2. Harga Jelas

Contoh rate card

Setelah layanannya jelas, sekarang saatnya bikin harganya juga jelas. Nah, ini sebenarnya prosesnya panjang sih, dan sudah harus kamu tentukan sebelum kamu bikin rate card. Nanti kita bahas di artikel terpisah saja biar enggak kepanjangan di sini.

Yang pasti, harganya memang kudu jelas. Untuk harga sekian, layanan apa saja yang tercakup, ini harus terinfo dengan jelas dalam rate card. Jangan pernah bikin harga yang ngambang.

Kalau kemahalan gimana? Kalau kemurahan gimana?

Nah, kalau khawatir kemahalan atau kemurahan, kamu bisa siapkan beberapa versi rate card. Saya juga gitu, punya beberapa versi yang harganya tuh beda-beda dengan paket yang berbeda juga. Jadi, bisa fleksibel.

Baca juga: 5 Tipe Penulis dan Karakter Kinerjanya

3.  Paket Layanan

Nah, speaking about paket layanan, kamu memang perlu membuat beberapa pilihan agar bisa menarik lebih banyak klien. Paketnya bisa jadi kombinasi dari beberapa jenis penulisan yang kamu tawarkan. 

Misalnya, paket 'Starter' yang isinya 5 artikel web dan 10 post media sosial per bulan dengan harga yang lebih miring daripada kalau pesan satuan. Atau mungkin paket 'Pro' yang lebih komplet, seperti 10 artikel, 20 post media sosial, dan satu press release, misalnya. 

Paket-paket begini bisa jadi pilihan menarik buat klien yang butuh banyak konten sekali jalan.

4. Jangan Lupa Portofolio

Jangan lupa sertakan juga portfolio kamu. Ini penting banget buat menunjukkan gaya tulisan dan kualitas kerjaan kamu ke calon klien. Kamu bisa kasih link ke artikel atau blog yang sudah pernah kamu publikasikan. 

Misalnya, kalau kamu sering nulis tentang kesehatan, kasih link artikel tentang tip hidup sehat yang kamu tulis. Atau kalau kamu suka nulis tentang teknologi, tunjukkan tulisanmu tentang gadget terbaru. 

Dengan lihat portfolio, klien jadi bisa tebak kira-kira cocok atau enggak dengan yang mereka butuhkan.

5. Bikin Syarat dan Ketentuan

Bikin syarat dan ketentuan itu krusial banget, biar semuanya jelas dan enggak ada salah paham nantinya. Pertama, tentuin dulu timeline kerjaannya. Misal, artikel ukuran sedang butuh waktu 3 hari kerja. Terus, soal revisi, tentukan misalnya klien bisa minta revisi maksimal dua kali. 

Untuk pembayaran, kamu juga bisa minta uang muka dulu, misalnya 50% di awal, sisanya setelah kerjaan selesai. Atau mau dibikin cicilan juga bisa, tergantung kesepakatan dan kondisi klien. 

Jangan lupa juga bikin aturan kalau ada yang cancel pesanan. Misalnya, kalau proyek dibatalkan, uang muka enggak bisa dikembalikan. Jelasin semua ini biar kedua belah pihak sama-sama enak.

6. Desain yang Simpel dan Profesional

Contoh template rate card
Contoh template rate card di Canva


Waktu bikin rate card, desainnya harus yang gampang dibaca dan kelihatan profesional. Kamu bisa pakai alat desain kayak Canva. 

Pastikan info pentingnya gampang ditemukan. Misalnya, list layanan kamu, harganya, dan cara kontak kamu, harus jelas terlihat. 

Buat desainnya menarik tapi tetap sederhana, jangan terlalu banyak hiasan atau warna yang mencoloik mata. Ini bakal bantu calon klien kamu untuk memahami info yang kamu kasih tanpa bingung.

Baca juga: Cara Nego Klien biar Nggak Desperate tetapi Juga Menjaga supaya Klien Nggak Kabur

7. Cek Lagi dan Update

Sebelum rate card dikirim ke klien, ada baiknya dicek lagi. Pastikan semuanya sudah benar dan enggak ada yang kurang. Info harus lengkap dan jelas. Jangan typo juga, malu-maluin.

Selain itu, penting juga buat selalu update rate card secara berkala. Tambahkan kalau kamu punya portofolio baru, sesuaikan harganya sesuai inflasi :P Susahnya di sini soalnya, kalau klien lama, susah loh buat naikin harga. Jadi kamu hanya bisa berharap dari klien baru. Jadi, updatelah.

Nah, itu tadi cara-cara bikin rate card yang gampang dan bisa langsung kamu praktikkan. Dengan rate card yang jelas dan menarik, kamu nggak cuma bisa tarik lebih banyak klien, tapi juga memperjelas ekspektasi mereka tentang apa yang akan mereka dapatkan.




Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Cara Melatih Mood Nulis supaya Stabil

Siapa nih yang suka mood swing, padahal lagi dikejar deadline? Memang ini salah satu masalah terbesar buat para penulis—yang notabene kerjanya sangat tergantung pada mood. Terus, apa iya mau menyerah sama mood? Kalau mau sih, ada loh cara melatih mood nulis supaya lebih stabil.

Mood Nulis Stabil: Gimana Cara Melatihnya?

Yep, bukan sulap bukan sihir. Mood nulis bisa dilatih supaya stabil.

Jangan menyerah sama mood swing, terutama kalau baru di tahap-tahap awal. Biasanya kalau masih di awal sih, mood itu masih bisa dijinakkan. Nah, kalau sudah benar-benar jenuh—artinya kamu sudah beberapa kali melakukan upaya-upaya ini, atau sudah dilakuin semua dan tetep moody, ya berarti mungkin masalahmu lebih besar daripada sekadar mood swing.

Bisa jadi, kamu sudah lelah jadi penulis.

Kalau begitu, ya mungkin alih profesi akan lebih baik.

*Masih berupaya ngurangin kompetitor*

Persoalan mood nulis yang stabil ini enggak cuma sekadar supaya bisa menyelesaikan target. Menjaga stabilitas mood saat menulis paling penting itu untuk memastikan kualitas artikel yang konsisten. 

Berikut beberapa cara yang bisa membantu melatih mood penulis agar lebih stabil.

1. Rutinitas Harian yang Teratur

Menciptakan rutinitas harian bisa membantu meningkatkan konsistensi mood. Cobalah menentukan waktu tertentu untuk menulis setiap hari, sehingga otak dan tubuh bisa terbiasa.

Sudah rutin gini saja, kadang mood juga ngajak gelut sih. So, pinter-pinter kita memang melakukan mix and match dengan kegiatan yang lain.

Baca juga: Beberapa Tip Jitu Untuk Membantu Kamu Menjaga Konsentrasi Dan Fokus Menulis

2. Lingkungan yang Mendukung

Sesuaikan lingkungan menulis agar nyaman dan minim distraksi. Hal ini bisa mencakup pencahayaan yang baik, kursi yang nyaman, dan meja kerja yang rapi.

Saya sendiri sekarang prefer meja menghadap ke tembok. Dengan demikian, saya bisa fokus dan lebih bebas distraksi. Cuma, pintu ada di belakang saya. Jadi, kalau ada yang masuk, kalau lagi fokus, saya suka kejengkang karena kaget. Karena rata-rata mereka masuk tanpa suara, terus tiba-tiba ada di samping saya. Wqwqwq.

Ya, yang penting, pinter-pinternya atur meja. Ada yang suka meja menghadap jendela. Cuma, kadang meja kerja menghadap jendela juga kurang bagus, karena terus kebanyakan ngelamunnya.

3. Aktivitas Fisik

Ini yang suka lupa. Saya juga. Lebih tepatnya, “sengaja” melupakan. Apalagi buat penulis yang rata-rata kerjanya sambil duduk. Ini bahaya banget loh. Saya juga sadar.

Olahraga teratur dapat meningkatkan mood dan energi. Aktivitas fisik melepaskan endorfin, yang merupakan hormon yang membuat kita merasa bahagia. Dan, kita butuh endorfin untuk menjaga mood nulis yang stabil.

4. Nutrisi yang Baik

Jangan mi instan mulu deh.

Coba alokasikan penghasilan yang didapat ke makanan-makanan yang bergizi. Kurangi dobel karbo, kayak seblak, mi instan lauk nasi, nasi lauk bakwan, dan sejenisnya. Kebanyakan karbo bikin lemes deh. Ini sudah terbukti.

Asupan makanan yang sehat berdampak besar pada mood kita. Pastikan untuk makan makanan yang seimbang yang kaya akan buah, sayur, protein, dan lemak sehat. Terutama pilih menu yang bener untuk sarapan.

Dan, ya, sarapan. Jangan skip.

5. Pengelolaan Stres

Kadang mood ngedrop karena kita stres. Sudahlah mood ilang, deadline menjelang. Biasanya ya makin ngadi-adi. So, pengelolaan stres ini penting.

Belajar teknik manajemen stres seperti meditasi, yoga, atau teknik pernapasan dapat membantu mengendalikan stres yang memengaruhi mood saat menulis.

6. Istirahat Cukup

Yes, ini juga kadang “dilupakan”, “diskip”. Atas nama pemenuhan deadline.

Padahal, istirahat juga memengaruhi mood. Mood ngedrop bisa jadi karena kita capek. Kualitas dan kuantitas tidur yang baik sangat penting untuk menjaga mood nulis. Pastikan untuk mendapatkan tidur yang cukup setiap malam.

7. Realistis

Menetapkan tujuan menulis yang realistis dan dapat dicapai bisa membantu mengurangi kekecewaan dan tekanan. Ini perkara banget di saya.

Kadang maunya ngadi-adi. Pengin selesaikan semua dengan cepat, terus masih ditambah ini itu yang sebenarnya enggak urgent-urgent amat, cuma karena “saya harus, karena sebelumnya juga begitu.” Padahal, penyesuaian itu penting, plus kudu sadar diri sekarang energi sudah enggak kayak dulu lagi.

8. Pencatatan Mood


Pernah tau mood tracker? Buat buller journalist, “benda” ini pasti enggak asing sama sekali. Saya dulu juga sempat rajin bikin beginian.

Mencatat perasaan harian bisa membantu mengenali pola atau pemicu yang memengaruhi mood kita, sehingga kamu bisa mengambil langkah untuk mengelolanya. Plus, bikinnya sendiri sudah stress relief buat saya.

Kalau mau, di Pinterest ada banyak contoh. Kamu juga bisa bikin sendiri di Canva. Belum ada templatenya sih, saya cek barusan. Tapi kamu bisa bikin dengan memodifikasi habit tracker atau template lain yang ada.

9. Memberi Ruang untuk Kreativitas

Terkadang, memberi diri sendiri waktu untuk beristirahat dari rutinitas menulis dan melakukan aktivitas kreatif lainnya dapat menyegarkan pikiran dan memperbaiki mood. Ini terutama berlaku banget buat penulis borongan, kayak saya, yang setiap hari ngerjain artikel yang sama jenisnya.

Karena itu, saya punya akun flashfiction, artworks, sampai quotes. Hahaha. Mungkin pada heran, kok sempat ngurusin akun banyak? Ya, kan enggak semua harus update setiap hari. Masing-masing update kalau mau saja. Enggak pengin, ya nggak usah update. Cuma, saya memang “attention whore”, jadi saya kudu posting. Meskipun gak ada follower, yang penting posting saja. Saya suka.

Dengan melakukan beberapa hal yang saya suka—yang sekiranya bisa bikin saya kreatif, bikin otak kerja, enggak monoton—bikin mood nulis juga stabil.

Baca jugaa: 7 Cara untuk Tetap Kreatif

Nah, dari 9 hal di atas, mana nih yang kamu juga sudah coba? Dan, mana yang belum coba? Atau, kamu ada tambahan hal lain yang biasa kamu lakukan untuk menjaga mood nulis tetap stabil? Tambahkan di komen ya.

See ya.


Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
5 Tipe Penulis dan Karakter Kinerjanya

Tipe penulis itu ada banyak. Sangat beragam dan menarik untuk dipelajari. 

Setiap penulis memiliki alasan dan motivasi yang berbeda dalam menulis. Beberapa menulis untuk mendapatkan penghasilan, sementara yang lain menulis untuk mengekspresikan diri atau sekadar menikmati proses kreatif. 

Gak ada yang lebih baik daripada yang lain. Perbedaan-perbedaan ini membuat dunia kepenulisan menjadi dinamis dan penuh warna.

Tipe penulis tidak hanya ditentukan oleh motivasi, tetapi juga oleh karakter kinerja masing-masing. Ada yang produktif dengan tenggat waktu ketat, ada yang menulis untuk popularitas, ada juga yang menulis sebagai bentuk terapi. 

Masing-masing tipe membawa keunikan tersendiri dalam cara mereka menciptakan karya. Memahami tipe-tipe ini dapat membantu mengenali lebih dalam tentang dunia menulis dan berbagai pendekatannya.

5 Tipe Penulis dan Karakternya

Berikut adalah beberapa tipe penulis yang sering saya jumpai di sekitar saya. Masing-masing punya karakter sendiri, masing-masing punya jalan dan cara untuk sukses. Kalau kamu tipe A, ya jangan ambil jalan sukses tipe B. Gak cucok.

Saya lagi males nulis panjang. Jadi, berikut saya bikin per poin saja, biar lebih satset. Jadi, kamu termasuk yang mana?

1. Penulis Borongan

Karakter Kinerja:

  • Produktivitas Tinggi: Menulis dalam jumlah besar dengan target dan deadline ketat.
  • Orientasi Proyek: Fokus pada penyelesaian proyek dengan cepat, sering kali mengerjakan beberapa proyek sekaligus.
  • Tujuan Finansial: Menulis untuk mendapatkan penghasilan tetap atau tambahan, sering terlibat dalam penulisan artikel, buku, atau konten untuk klien.
  • Efisiensi: Mengutamakan efisiensi dan kecepatan dalam proses menulis, mungkin mengorbankan aspek kreatif demi memenuhi tenggat waktu.

Saran untuk Sukses:

  • Tetapkan jadwal menulis yang teratur untuk menghindari kelelahan.
  • Cari berbagai klien untuk mengurangi risiko ketergantungan pada satu sumber penghasilan.
  • Meskipun produktivitas tinggi penting, tetap prioritaskan kualitas tulisan untuk membangun reputasi yang baik.
  • Ikuti kursus atau pelatihan menulis untuk terus meningkatkan keterampilan.
Baca juga: Menjadi Penulis Konten: Apa Dan Bagaimana Saya Menjalaninya

2. Penulis untuk Eksis

Karakter Kinerja:

  • Keinginan Dikenal: Menulis dengan tujuan utama untuk mendapatkan pengakuan dan dikenal oleh publik.
  • Media Sosial: Aktif di media sosial untuk membangun dan memelihara citra serta jaringan.
  • Keterlibatan Publik: Sering terlibat dalam acara literasi, peluncuran buku, dan diskusi panel.
  • Publikasi: Berfokus pada penerbitan karya di media besar atau platform yang dapat memberikan eksposur luas.

Saran untuk Sukses:

  • Bangun citra diri yang konsisten dan menarik di media sosial dan platform publikasi.
  • Jalin hubungan dengan penulis lain, editor, dan penerbit untuk memperluas jaringan.
  • Tulis konten yang sesuai dengan tren dan minat pembaca saat ini untuk mendapatkan lebih banyak perhatian.
  • Bekerja sama dengan influencer atau tokoh terkenal untuk meningkatkan eksposur.

3. Penulis Terapi

Karakter Kinerja:

  • Menulis sebagai Ekspresi: Menulis untuk melepaskan emosi dan mengatasi masalah pribadi atau trauma.
  • Proses Penyembuhan: Menjadikan menulis sebagai bagian dari proses penyembuhan mental dan emosional.
  • Keterbukaan: Karya mereka mungkin sangat pribadi dan tidak selalu dimaksudkan untuk publikasi.
  • Fokus Pada Proses: Menekankan pentingnya proses menulis dibandingkan hasil akhir.

Saran untuk Sukses:

  • Pertahankan jurnal menulis harian untuk membantu mengelola emosi dan mendapatkan inspirasi.
  • Pertimbangkan untuk menerbitkan karya yang lebih in-depth dan personal, tetapi pastikan kenyamanan pribadi tetap terjaga.
  • Bergabung dengan kelompok menulis untuk mendapatkan dukungan dan feedback yang konstruktif.
  • Seimbangkan antara menulis untuk terapi dan menulis untuk publikasi agar tetap terinspirasi dan termotivasi.

4. Penulis sebagai Hobi

Karakter Kinerja:

  • Menikmati Proses: Menulis karena menyukai kegiatan tersebut, tanpa tekanan atau target tertentu.
  • Relaksasi: Menjadikan menulis sebagai sarana relaksasi dan hiburan.
  • Tidak Terikat: Tidak terikat pada tenggat waktu atau tekanan publikasi.
  • Karya Bervariasi: Karya bisa sangat bervariasi tergantung minat pribadi dan suasana hati.

Saran untuk Sukses:

  • Pilih proyek menulis yang sesuai dengan minat pribadi untuk menjaga semangat.
  • Ikuti kompetisi menulis atau tantangan literasi untuk meningkatkan keterampilan.
  • Cobalah menulis dalam berbagai genre untuk menemukan kekuatan dan preferensi baru.
  • Terbitkan karya di blog pribadi atau platform komunitas tanpa tekanan komersial.

5. Penulis Seniman

Karakter Kinerja:

  • Kreativitas Tinggi: Fokus pada kualitas artistik dan estetika dalam menulis.
  • Eksplorasi Gaya: Sering bereksperimen dengan gaya, bentuk, dan genre yang berbeda.
  • Dedikasi Seni: Memiliki dedikasi tinggi terhadap seni menulis sebagai bentuk ekspresi artistik.
  • Prestasi: Sering mencari pengakuan dari kalangan sastra, seperti penghargaan dan kritik positif dari sesama seniman.

Saran untuk Sukses:

  • Cari feedback dari sesama penulis atau kritikus untuk memperbaiki karya.
  • Terus bereksperimen dengan gaya dan bentuk baru untuk menjaga orisinalitas.
  • Banyak membaca karya sastra berkualitas untuk mendapatkan inspirasi dan meningkatkan keterampilan menulis.
  • Pertimbangkan untuk mengadakan pameran atau presentasi publik karya untuk mendapatkan pengakuan dan apresiasi.
Baca juga: 7 Cara untuk Tetap Kreatif 

Bottom Line is …

Setiap tipe penulis memiliki motivasi dan pendekatan yang berbeda dalam menjalani aktivitas menulis, serta menghadirkan karya yang unik sesuai dengan karakter masing-masing.

Gak ada yang lebih baik dari yang lain, karena memang objektifnya beda. Kamu hanya perlu mengenali diri sendiri, kamu termasuk tipe penulis yang mana. Lalu, lakukan apa pun yang bisa membuatmu level up dan sukses.

Gak perlu shaming tipe yang lain.


Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Tip Jual Diri sebagai Penulis Introver

Orang umumnya menjual diri dengan cara networking. Tebar pesona sana-sini. Sayangnya, hal kayak gini jadi semacam “momok” buat penulis introver. Apalagi tipe-tipe INTJ, introvernya introver.

Lha terus, apa itu artinya enggak ada kesempatan buat orang introver untuk bisa maju? Apalagi orang introver yang jadi penulis. Udahlah lebih suka nulis, nggak suka ngomong, terus jual dirinya gimana?

Cara Jual Diri Penulis Introver

Menjual diri bagi penulis introver memang tantangan besar tersendiri. Namun, ada beberapa trik yang dapat membantu meningkatkan kepercayaan diri dan keterampilan komunikasi, sekaligus menjaga kenyamanan kamu sebagai introver. 

Beberapa di antaranya berhasil di saya. Barangkali kamu juga bisa coba.

1. Bangun Kehadiran Online yang Kuat

Dalam era digital ini, penulis dapat memanfaatkan blog, media sosial, atau platform publikasi online untuk membagikan karya dan pemikirannya. Ini adalah cara yang bagus untuk menarik perhatian, juga bagi seorang introver.

Memang ini enggak 100% introver sih. Karena kamu tetap harus “bergaul” tapi seenggaknya kamu bisa “bersembunyi” di balik username. Jadi lebih “aman”.

So, coba aktif di berbagai platform. Kamu boleh pilih yang paling nyaman buatmu. 

Saya sendiri dulu mengawali dari Wordpress gratisan. Dulu ngeblog di Wordpress asyik banget sih, karena bisa langsung kenalan juga sama orang-orang baru. Baru setelah itu muncul Plurk, dan akhirnya Facebook.

Facebook menjadi salah satu andalan banget buat saya ngebangun eksistensi sosial. Dari Facebook, saya gabung ke beberapa komunitas, dan bikin juga beberapa komunitas meskipun sekarang sudah pada almarhum.

Satu hal yang harus banget diingat: Jangan pernah terlibat dalam campaign dengan ujaran kebencian. Please, jejak digital itu nyata. Jangan sampai ketika digoogling namamu, muncul hal-hal yang membuat orang jadi missed.

Baca juga: Introvert Susah Sukses dalam Karier? Ah, yang Bener! 

2. Bergabung dengan Komunitas Penulis Online:

Nah, ini saya lakukan sih dulu. Gabung ke beberapa grup bloger, bahkan sempat menjadi admin juga untuk beberapa di antaranya. Bukan kebetulan dan tanpa tujuan. Saya memang mendekati orang-orang “penting” di komunitas itu, agar bisa “kecipratan” networking-nya.

Ya, nyatanya sekarang beberapa di antara mereka malah jadi partner kerja.

So, coba cari forum, grup Facebook, atau platform seperti Wattpad di mana kamu bisa berbagi karya dan mendapatkan umpan balik dari penulis lain. Ini salah satu cara networking yang paling pas buat introver. Karena kalau cuma haha hihi sosialita, kebanyakan pasti kurang cocok.

3. Fokus pada Kualitas Bukan Kuantitas

Sebagai introver, kamu pasti akan lebih suka ngobrol yang intens dibandingkan basa-basi doang. So, gunakan ini dalam komunikasi kamu. Bikin konten yang berkualitas alih-alih fokus pada kuantitas.

Sebagai contoh, saya banyak mendapatkan tip Instagram growth, bahwa untuk mendapatkan grafik pertumbuhan akun yang bagus, kita kudu posting minimal 3 kali sehari. Lalu, banyakin reels, yang menampilkan wajah.

This is sooo … not  us! Hahaha.

Faktanya, kalau saya posting reels justru insightnya tiarap. Tapi kalau bikin carousel dan membahas tip nulis yang relevan dengan bahasan yang mendalam, insightnya bagus. Sering masuk explore pula. 

Saya paling posting cuma sekali aja seminggu. Simply karena memang bisanya posting sekali saja seminggu. But, I make sure, saya buat dengan sepenuh hati. Gak sembarangan.

So, sesuaikan saja. Jangan terlalu ngikutin tip yang ada. What works for them, belum tentu works for you. Fokus pada kualitas, bukan kuantitas.

4. Kolaborasi dengan Penulis atau Kreator Lain, dan Nulis di Platform Lain

Bekerja sama dengan orang lain dapat membantu memperluas jangkauan kamu. Baik itu melalui proyek bersama, guest posting di blog orang lain, atau interview.

Saya dulu termasuk bloger yang rajin kirim guest blog ke blog orang lain. Saya nulis di blog beberapa komunitas, saya nulis di blog orang, saya nulis di Kompasiana, Medium, dan banyak lagi. Lumayan juga, ada banyak yang kemudian muncul ketika digoogling.

5. “Manfaatkan” Klien Lama

Klien kadang datang dengan masalah masing-masing, yang membutuhkan solusi yang enggak seragam. Saya berusaha untuk mendengarkan mereka, dan mengakomodasinya.

Misalnya ada bloger keuangan. Minta saya untuk menulis artikel-artikel keuangan di blognya. Pada akhirnya, saya juga jadi virtual assistant-nya, karena beliau kantoran dan merasa enggak punya waktu untuk handle inquiries yang masuk ke Instagramnya. Jadi, saya yang seleksi. Berasa kayak manajemen artis deh. Hahaha.

Dari beliau, masuk banyak leads lain. Karena setiap kali ada orang yang minta rekomendasi penulis konten, beliau merekomendasikan saya.

So, inilah cara jual diri yang memang paling efisien di saya.

6. Buat Portofolio yang Meyakinkan

Karena kita bukanlah orang yang “pinter” jual diri dengan omongan, maka kita kudu menyiapkan alat penjualan yang lain. Apa itu? Betul, portofolio!

Pastikan kamu punya portofolio yang meyakinkan ya. Jangan nanya, “Kalau misalnya pemula, kan belum pernah ikut proyek. Portofolionya gimana?”


View this post on Instagram

A post shared by Tukang Nulis (@penuliskonten.id)

Coba cek postingan saya di Instagram yang ini. Lalu ikuti ya. Portofolio enggak harus datang dari klien, kamu juga bisa membuat portofoliomu sendiri.

So, buatlah meyakinkan, yang ketika ada orang nanya, kita bisa langsung sodorkan tanpa perlu banyak berkata-kata. Let the picture speaks a thousand words! Tsah.

7. Terapkan SEO

SEO adalah tool paling cocok untuk keperluan promosi diri bagi penulis introver. Tanpa perlu banyak berkoar-koar, orang bisa menemukan artikel yang tepat dengan kebutuhan mereka di blog. Tanpa perlu banyak cingcong, mereka akan langsung bisa menilai, bagaimana kualitas artikel si penulis.

Less effort, more effect!

So, buat yang pengin menjual diri sebagai penulis, dan belum tahu apa itu SEO, now it's time, ladies and gentlemen!

Baca juga: Memulai Karier Sebagai Penulis Lepas, Here's What You Can Do!

So, itu dia cara jualan diri sebagai penulis introver. Yang pasti, kita-kita ini biasanya dianugerahi kemampuan untuk mengamati yang lebih baik. Jadi, kita akan tahu, mana klien potensial yang perlu didekati, dan mana yang sekadar lewat. Gunakan intuisimu, karena memang enggak semua orang worth untuk didekati.


Share
Tweet
Pin
Share
No comments
8 Sikap yang Perlu Kamu Punyai kalau Ingin Belajar Menulis


Belajar menulis itu menyenangkan, asalkan dimulai dengan sikap yang tepat.

Pertama, untuk mulai belajar menulis, of course kamu harus menyukai aktivitas itu dulu. Akan agak sulit buat siapa saja untuk mulai belajar menulis, kalau pada dasarnya enggak suka nulis. 

Pada akhirnya—biasanya—menulis akan terasa berat. Salah satu penulis saya bahkan bilang, “Menulis itu memeras otak banget.”

Dalam hati, saya cuma jawab, “Loh, baru tahu?” Padahal yang bersangkutan sudah nulis hampir setahun sama saya.

Belajar menulis itu menyenangkan. Nantinya, kalau memang jalannya, menulis bisa menjadi mata pencaharian utama. Bahkan bisa memberimu lebih banyak daripada kerja kantoran. Udahlah pemasukan bagus, masih ditambah kitanya tambah pinter, tambah wawasan, otak makin tajam dan berwawasan, tambah teman, … apa lagi coba?

Tapi … itu semua hanya bisa kamu dapatkan, kalau kamu memulainya di garis start yang benar.


Kalau sedari awal saja kamu sudah bikin komen kayak di postingan yang ngasih cara-cara belajar nulis di atas, rasanya akan sulit sih bagi kamu buat maju. Sarkas.

Sikap yang Perlu Kamu Punya jika Ingin Belajar Menulis

Banyak orang “meremehkan” menulis. Dikiranya, asal ngetik, artikel bisa dibuat begitu saja. Novel bisa diterbitkan begitu saja.

Acap kali saya mendapat pesan WhatsApp dari orang-orang yang tadinya enggak pernah kelihatan tertarik akan kegiatan menulis. Tahu-tahu aja, mereka WA, “Ra, aku pengin nulis novel. Mau ta jual. Bisa dapat lumayan kan?” Atau, “Ra, aku pengin nulis artikel. Mau ta kirim ke media-media. Bisa kan ya? Dapat fee kan ya?”

Entah dari mana mereka tiba-tiba dapat ide seperti itu. Ya, bisa jadi saya juga ikut andil sih, karena saya sering membagikan hasil tulisan-tulisan saya di berbagai platform. Tapi, itu kan saya lakukan untuk menarik (calon) klien potensial. Bukan buat memengaruhi orang yang tadinya enggak pernah menyentuh aktivitas menulis lalu tiba-tiba—mak bedunduk—pengin nulis juga demi dapat penghasilan.

Faktanya, jalannya penulis dari mulai belajar sampai bisa menghasilkan itu enggak mudah. Saya bisa mengirimkan tulisan-tulisan ke berbagai media juga butuh waktu yang lama. Enam tahun!

Baca juga: Belajar Gratis Susah, Belajar Tidak Gratis Disia-siakan

So, coba deh. Berangkatlah dari titik yang benar kalau memang pengin belajar menulis. Dicoba dulu, jalan setahun dua tahun. Bisa enggak kamu menjalani proses belajar nulis yang kadang terasa sia-sia itu? 

Dan, miliki beberapa sikap ini.

1. Sabar

Menulis adalah keterampilan yang membutuhkan waktu untuk dikuasai. Terkadang, prosesnya bisa terasa lambat, dan hasilnya mungkin enggak langsung sesuai dengan harapan. Kesabaran sangat penting untuk terus berlatih dan belajar dari kesalahan.

2. Tekun

Teruslah menulis meskipun terkadang merasa enggak ada kemajuan. Ketekunan membantu dalam mengatasi rintangan dan memperbaiki keterampilan menulis secara bertahap.

3. Keterbukaan untuk Belajar

Dunia menulis sangat luas dan selalu ada hal baru untuk dipelajari. Sikap terbuka untuk menerima kritik dan saran serta keinginan untuk belajar dari penulis lain akan sangat bermanfaat.

4. Keberanian untuk Mencoba

Jangan takut untuk bereksperimen dengan gaya, genre, atau format penulisan yang berbeda. Keberanian untuk keluar dari zona nyaman dan mencoba hal baru adalah kunci untuk menemukan suara unik dalam menulis.

5. Disiplin

Menetapkan rutinitas menulis yang konsisten membantu dalam mengembangkan kebiasaan menulis. Disiplin untuk menulis, bahkan hanya sedikit setiap hari, akan membantu dalam memperkuat keterampilan menulis.

6. Rasa Ingin Tahu

Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Membaca secara luas tidak hanya memperkaya wawasan tetapi juga menginspirasi ide-ide baru untuk ditulis. Rasa ingin tahu tentang berbagai topik dan gaya penulisan akan membuka lebih banyak peluang untuk belajar.

7. Kemampuan untuk Menerima Kegagalan

Enggak semua tulisan akan diterima atau diapresiasi oleh pembaca. Mengakui bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar adalah penting untuk terus maju.

8. Kreativitas

Berpikir di luar kebiasaan dan mencari cara-cara baru untuk menyampaikan ide dapat membantu dalam menciptakan karya yang menarik dan berbeda.

Mengembangkan sikap-sikap ini enggak hanya akan membantumu dalam belajar menulis, tetapi juga dalam menghadapi tantangan selama proses kreatif. Setiap penulis memiliki perjalanannya masing-masing, jadi penting untuk tetap positif dan menikmati setiap langkah dalam perjalanan menulis.

Nikmati saja prosesnya. Kalau memang jadi jalanmu, you will get there.

Semangat!


Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Older Posts

Cari Blog Ini

About me





Content & Marketing Strategist. Copy & Ghost Writer. Editor. Illustrator. Visual Communicator. Graphic Designer. | Email for business: mommycarra@yahoo.com

Terbaru!

Kapan Waktu buat Nulis? Begini Cara Saya Membagi Waktu dengan Urusan Warung dan Rumah

Kalau ditanya kapan saya punya waktu untuk menulis, jawabannya enggak pernah pasti. Jadi, memang bukan di jam segini atau jam segini. Dalam ...

Postingan Populer

  • Beberapa Tip Jitu untuk Membantu Kamu Menjaga Konsentrasi dan Fokus Menulis
    Masalah fokus atau konsentrasi biasa memang menjadi permasalahan umum bagi para penulis--baik itu penulis buku, konten, dan blog. Dist...
  • 15 Ide Style Feed Instagram yang Bisa Kamu Sontek Supaya Akunmu Lebih Stylish
    Hae! Kemarin saya sudah bahas mengenai do's and donts dalam mengelola akun Instagram , terus ada pertanyaan yang mampir, "Ka...
  • Ukuran Feed Instagram 6 Kotak dan Cara Membuatnya Tanpa Ribet
    Eits. Bukan, ini bukan fitur baru. Ada yang nanya soal feed Instagram 6 kotak dari Google, masuk deh ke Console. Hehehe. Iya, ini bukan fitu...
  • Yang Harus Blogger Ketahui Mengenai Link Eksternal - The Bloggers' Biggest Fear
    Warning: artikel ini akan panjang. Tapi I guaranteed, akan membahas hingga ke detail mengenai outbound links atau link eksternal. Karena...
  • Bagaimana Cara Menulis 100 Kata Pertama yang Ajaib Agar Orang Mau Terus Membaca Artikel Kita
    5 Cara Menulis 100 Kata Pertama yang Ajaib Agar Orang Mau Terus Membaca Artikel Kita Dalam artikel guest post mengenai Cara Mudah Tuli...

Blog Archive

Portofolio

  • Buku Mayor
  • Portfolio Konten
  • Portfolio Grafis
  • Konten Web
  • Copywriting
  • E-book
  • Buku Fiksi
  • Ilustrasi

Follow Me

  • instagram
  • Threads

Created with by ThemeXpose