Beberapa Tip Jitu untuk Membantu Kamu Menjaga Konsentrasi dan Fokus Menulis



Masalah fokus atau konsentrasi biasa memang menjadi permasalahan umum bagi para penulis--baik itu penulis buku, konten, dan blog.

Distraksi memang menjadi musuh besar saat kita menulis. Bentuk distraksinya sih bisa macam-macam. Saya sendiri bentuk distraksinya bisa keinginan untuk sekrol timeline Twitter atau Instagram, suara televisi, suara anak-anak yang lagi main, diajak ngomong (anak-anak yang bertanya ini itu saat mereka belajar atau mengerjakan PR, diajak ngobrol sama keluarga yang lain, tukang sayur yang lewat, chat dari coworker yang tiba-tiba masuk, dll), mikirin film apa yang bagus untuk ditonton hari ini, buku sketsa, dan masih banyak lagi.

Banyak ya? Tapi taruhan, pasti pada sama banyaknya. Atau, bahkan lebih banyak lagi?

Saya sendiri memang paling gampang keganggu konsentrasinya kalau sudah diajak ngomong. Udah deh, kalau lagi khusyuk, terus tiba-tiba ada yang manggil, nyolek, atau nanya, mood langsung bubar. Meski saya nulis di mal, misalnya, saya tetap bisa konsen, karena keramaian yang ada tuh bukan karena saya diajak ngomong. Tapi begitu mulai ada yang ngajak ngomong, udah deh, bubar.

Makanya nggak cocok kerja di kantor dengan ruang kerja open plan alias terbuka, meski dibatasi dengan kubikel. Dulu di kantor eksportir itu, saya pernah dikasih ruangan di satu rumah sendirian. Yes, sendirian. :))

Karena itu, kita mesti bisa mengatasinya. Nggak mungkin kan kita hanya menyerah? Jadinya nggak nulis-nulis juga dong.



Sebenarnya ada beberapa hal yang bisa kita lakukan agar selalu bisa fokus menulis. Mari kita lihat satu per satu per poinnya.



Beberapa tip agar kita bisa menjaga fokus menulis


1. Menyingkir

Kalau memungkinkan, menyingkirlah dari keramaian, dan temukan tempat yang paling nyaman untuk menulis.

Kadang kalau kita sudah benar-benar susah untuk fokus, kemungkinan disebabkan oleh kejenuhan terhadap tempat yang biasa kita pakai untuk menulis. Misalnya, setiap hari kita punya ruang kerja sendiri untuk ngeblog di rumah.

Suatu kali kita susah bener untuk mulai nulis, maka cobalah untuk pindah tempat menulis. Barangkali ada coffee shop nyaman yang bisa dipakai untuk menulis? Atau mau ke coworking space? Anywhere new, yang bisa membuat mood dan fokus menulismu balik lagi.

Atau kayak saya, kadang malah ngungsinya ke mal. Suara bising di mal kadang bisa menjadi satu bentuk 'white noise' yang justru membuat saya semakin konsen menulis lo.
Hahaha iya, aneh ya? Tapi ya begitulah.

Pasti juga banyak yang berbeda dari saya. Jadi adalah penting untuk bisa mengenali diri sendiri.


2. Get rid of the noise

Nah, untuk seseorang yang bertipe audio--kayak saya--biasanya memang sangat susah untuk fokus.

Padahal yang namanya 'noise' di rumah itu seperti terjadi setiap waktu; anak-anak yang ramai main, bertengkar, atau nyanyi keras-keras, suara televisi yang menampilkan drama India yang ditonton sama ibu saya (plus komen-komennya yang kadang bikin saya ketawa dan malah jadi penasaran ikutan nonton) jelas selalu mewarnai rumah saya setiap hari.

Kadang ya bisa saya abaikan, kadang ya enggak. Kadang sampai sakit kepala :))
Kadang ya sudah, kerjaan saya tinggal, dan saya fokus ke anak-anak. Tapi kalau deadline sudah ketat, dan saya harus segera menyelesaikan tulisan, ya berarti bagaimana caranya ngeblock suara-suara ini.

Makanya saya menganggap membeli headphone yang bagus itu sebagai investasi :)) Sekadar earplug tak bisa menolong saya. Saya harus punya headphone, yang gede, yang bisa menutup sampai seluruh daun telinga.


Noh, headphone kesayangan saya.

Nah, untuk playlistnya sih tergantung selera sih.

Tapi ada yang bilang ke saya, mereka susah fokus kalau pakai musik. Katanya mereka malah jadi pengin ikut nyanyi. Hahaha.

Ya berarti musiknya dong yang disesuaikan. Ada banyak playlist yang ditujukan untuk membantu kita fokus di Spotify (bukan, ini bukan postingan berbayar ya). 

Ini salah satu yang saya rekomendasikan. Musik-musiknya agak upbeat, nggak bikin ngantuk. Tapi iramanya yang stagnan bikin kita bisa konsentrasi.




Ada banyak playlist sejenis di Spotify, yang memang disediakan untuk diplay saat kita butuh bantuan untuk fokus. Cari saja di genre & moods Focus. Cari yang paling disuka dan sesuai, lalu save. Putar kapan pun dibutuhkan.

Works for me.


3. Rencanakan sebelum menulis

Khusus untuk yang ingin fokus menulis buku, punya rencana untuk membereskan tulisan sampai halaman berapa atau jumlah kata berapa akan bisa membantu.

Untuk para penulis blog dan konten, ya pastinya rencananya adalah bisa menyelesaikan satu artikel.

Saat kita menulis tanpa adanya rencana ataupun target, maka sudah pasti akan lebih sulit untuk fokus. Jika kita sejak awal sudah menentukan target ini, maka kalaupun terdistraksi, maka kita akan segera ingat lagi pada rencana awal, dan kemudian berusaha untuk balik lagi menulis.


4. Terapkan teknik Pomodoro

Nah, ini sih pengin saya bahas khusus sih kapan-kapan.
Teknik Pomodoro ini adalah teknik yang biasa dilakukan oleh para penulis novel atau buku untuk membantu mereka fokus menulis. Tapi tak hanya penulis buku, teknik ini juga bisa dilakukan oleh penulis blog ataupun konten.

Tekniknya gampang kok.

  • Pakai timer di handphone. 
  • Set 25 menit, alarm berbunyi. 
  • Selama 25 menit itu kita fokus hanya menulis
  • Setelah 25 menit berlalu, alarm menyala, lalu set lagi untuk 5 menit. 5 Menit ini kita bisa pakai untuk istirahat sebentar; luruskan kaki, ambil air minum, makan camilan, whatever. 
  • 5 menit berakhir, set lagi 25 menit untuk kembali menulis.

Ulang sampai 4 kali. Setelah 25 menit keempat, berikan waktu istirahat pada diri sendiri lebih lama, misalnya 15 menit. Lalu kalau mau dilanjut, ulangi langkah pertama di atas.

Nah, teknik ini bisa dipakai pastinya kalau semua distraksi sudah diatasi ya. Misalnya, pas anak-anak sekolah, kita sudah sendirian di rumah dan rumah sudah beres. Atau kalau sudah malam, saat anak-anak sudah tidur. Atau dini hari, saat semua orang belum bangun.

Jadi, memang kita harus temukan dulu nih waktu-waktu kita bebas distraksi, baru deh teknik ini bisa dipakai.



5. Sediakan notes distraksi

Lagi tengah-tengah nulis artikel, tiba-tiba kepikiran untuk ide menulis artikel yang lain. Lagi asyik ngupdate blog, tiba-tiba inget film bagus untuk ditonton. Lagi asyik kejar deadline, tiba-tiba ingat kalau harus melakukan ini itu.

Lagi asyik nulis postingan ini, tiba-tiba ingat kalau mau masukkan URL blog teman-teman ke Feedly.  Masih nulis poin no. 5 ini, tiba-tiba inget mau bikin list bullet journal untuk topik web. Eh, iya ini saya. Hahaha. Hedeh.

Memang bentuk distraksi yang berupa "tiba-tiba ingat" ini paling mengganggu buat saya. Adakah yang mengalami hal yang sama?

Nah, kalau si "tiba-tiba ingat" ini diturutin, wah, nulis bisa bubar jalan beneran dah. Akhirnya puyeng sendiri, nggak ada satu pun yang beres.

Untuk mengatasinya, saya selalu menyediakan notes distraksi di samping laptop. Kalau ada yang tiba-tiba lewat seperti ini, saya langsung tulis saja di notes tersebut. Embuh bentuknya apa, pokoknya tulis saja.

Lalu setelah kerjaan selesai, saya pun lihat-lihat lagi notes distraksinya. Yang perlu dimasukkan ke dalam todo list, masukkan. Yang harus saya lakukan, ya lakukan.

Notes distraksi ini cukup membantu lo. Cobain aja.


Nah, itu dia 5 cara membuat diri kita sendiri tetap fokus menulis.
Kamu punya cara lain?
Sok, dishare via komen yah!

I'll be glad to hear your opinion.

18 komentar:

  1. Wah sama banget mbak, saya juga paling ga bisa nulis kalau sambil diajak ngobrol. Tapi nulis dengan coding beda rasanya buat saya, saya di kantor kerja di ruangan yang open, satu meja gede dipake rame-rame tanpa pembatas, tapi bisa-bisa aja coding dengan tenang walau sesekali diajak ngobrol, hehe.

    Ide notes distraksinya bener juga nih, coba juga ah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lucu ya, kalau coding ga masalah diajak ngobrol ^^

      Hapus
  2. Nah, ini! Apalagi #5. Catatannya bisa panjang beeudd haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya ga masalah kan, panjang. Yang penting bisa tetep anteng fokus nulis dulu.

      Hapus
  3. Bermanfaat sekalo untuk saya yang amat sangat gampang terdistraksi nih mbak. Makasiiih :*

    BalasHapus
  4. kalau saya suka enggak fokus nulis kalau anak-anak berisik, lebih suka nulis malam di saat anak-anak tidur. atau mencuri waktu pagi di kantor yang masih sepi... it's work for me.

    BalasHapus
  5. kalau aku, nulis paling asik itu di tengah kesibukan kantor. ya, jam orang2 pada sibuk. saat grup wa sepi dan sejenisnya. jadi akun nulis sambil kerja. kalau nunggu pas balik kerja atau weekend malah buanyaaak distraksi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, emang distraksinya orang beda-beda sih ya ^^

      Hapus
  6. Aku kalau nulis emang harus nyempetin di kafe sih. Lebih dapet suasana dan ketenangannya

    BalasHapus
  7. ada benarnya juga sih, terkadang mencari Fokus dan juga ketelatenan memang sulit. Kalau saya pribadi, mesti dapet mood yang bagus dulu sih hehe

    BalasHapus
  8. Distraksi yg paling mengganggu itu keinginan diri buat sekrol sosmed, payah banget itu. Sama balesin chat yg lagi seru. Kalau emang lagi dikejar deadline, biasanya paket data saya matikan, biar nggak keganggu chat, sejam kemudian aktifin lagi buat ngecek ada pesan penting apa enggak.

    BalasHapus
  9. Saya juga kalau nulis enaknya tunggu orang rumah pada tidur, matikan data handphone, lancar jaya. Tapi boleh juga tuh teknik pomodoronya, saya baru tahu.Makasih tipsnya mba :D

    BalasHapus
  10. Poin terakhir aku banget, makanya kerjaan jarang ada yg beres dalam sehari hahaha. Tipsnya boleh jiga untuk dicoba, supaya bener-bener fokus sama deadline. Thank youu mba tips2nya (:

    BalasHapus
  11. Menarik sekali, soal tiba tiba inget harus masukkin website atau blog ke feedly...haha sama

    BalasHapus
  12. Aku termasuk orang yang lebih bisa fokus nulis kalo suasana sepiii, no musik juga. Suamiku malah heran, denger musik malah mendatangakan banyak imajinasi katanya hahaha

    BalasHapus