9 Langkah Menulis Artikel Panjang, Mendalam dan Informatif Tanpa Membosankan




Beberapa hari yang lalu, Mas Febriyan Lukito ngepost status ini.




Nah, kamu termasuk #TimArtikelPanjang atau #TimArtikelPendek?

Saya sih termasuk #TimArtikelSedapetnya. Maksudnya, kalau memang perlunya pendek, ya saya akan nulis pendek. Tapi, kalau saya lihat perlu untuk menulis panjang, ya saya akan nulis panjang.

Tulisan pendek itu biasanya untuk memancing engagement, sedangkan tulisan panjang biasanya saya buat kalau memang sedang menganalisis atau menelaah sesuatu.

Tentang panjang pendek tulisan, sebenarnya saya sudah pernah bahas juga di blog ini. Silakan dibaca, buat yang belum baca. Seenggaknya biar paham, kapan artikel pendek itu diperlukan, dan kapan kita harus menulis secara mendalam (yang akibatnya tulisan jadi panjang).

Buat yang sudah baca, mau baca lagi, juga boleh kok. Ehe~

The point is, seperti yang ditulis oleh Mas Ryan. Jangan maksain, yang pendek jadi memanjang dengan menulis ablah-ablah yang nggak penting dan jadi bikin fokusnya ke mana-mana. Kalau memang nggak penting, ya sudahlah nggak usah ditulis.

Tapi, kalau memang kamu mesti nulis secara 5W 1H yang panjang, ya tulislah secara lengkap. Jangan mengentangi (dari kata dasar: kentang) pembaca *meminjam istilah Mas Dani Rachmat*.

But, then again ...


Yeah, it's hard, man!



Satu, dari kitanya sendiri yang nulis. Kamu betah nggak duduk sejam dua jam untuk cuma nulis doang? Itu pun nggak sekali jadi. Nggak bisa sekali duduk soalnya kalau tulisan panjang, biasanya mah. Mesti beberapa hari. Belum lagi ngelengkapin tetek bengek, pepotoan, vivideoan, dan lain sebagainya.

Dua, dari sisi pembaca. Bosan nggak kira-kira dibacanya itu tulisan panjang kamu?

Tulisan panjang memang melelahkan. Nggak semua bisa nulis panjang.
Saya pun nggak setiap kali bisa nulis panjang.

But, saat harus melakukannya, karena pengin menyajikan informasi lengkap, ya mau nggak mau kita mesti nulis artikel panjang.

Artikel yang panjang itu--katanya--lebih mudah keindex Google. Artikel panjang itu biasanya (kalau nggak mengada-ada) detail. Dan, saya percaya, segala sesuatu yang dikerjakan secara detail, itu biasanya hasilnya memuaskan.

Mau itu tulisan, atau gambar, atau apa pun deh. Kalau dikerjakan dan dipikirkan sampai ke detailnya, pasti hasilnya akan semakin mendekati sempurna.

Ini sudah dalil.

Tapi, jangan salah persepsi. Saya tidak sedang mengharuskan siapa pun untuk selalu menulis panjang.  Ingat, panjang tulisan tergantung pada tujuan tulisan itu dibuat.

Nah, untuk mereka yang kesulitan menulis panjang, ini ada beberapa panduan yang bisa dilakukan untuk menulis artikel panjang, means artikel 1.000 kata atau lebih.


Beberapa langkah membuat artikel panjang, detail dan informatif, tanpa membosankan.


1. Outline adalah koentji

Kunci pertama dalam menulis artikel panjang adalah adanya outline.

Tahu sendiri, outline itu berfungsi sebagai:

  • Alat brainstorming, dan bisa saja timbul ide baru saat menulis
  • Organize our thoughts yang akan dituangkan dalam artikel supaya lebih runtut
  • Memeriksa kesinambungan, antara pokok pikiran satu dengan yang berikutnya.
  • Memenuhi sebab akibat


Ah, nulis blog saja kok pakai outline!

Ya, kalau buat saya, outline itu merupakan tool. Alat. Kalau alat tersebut bisa menolong kita untuk menulis artikel yang terstruktur, rapi, dan bisa tuntas dalam membahas satu masalah, ya kenapa nggak dimanfaatkan?

Kalau memang bikin outline malah bikin ribet, ya nggak usah pakai. Pokoknya hasilnya gimana, gitu aja sih.

Ngeyel pakai outline, terus malah ribet sendiri dan akhirnya nggak jadi nulis. Itu berarti maksain. Atau, nggak pakai outline tapi terus tulisannya nggak fokus, ya berarti nggak bener juga.

So, di mana perlu aja. Dan, hanya penulis yang ngerti di mana perlunya. Peka ya.

So, kalau saya sih, tulisan panjang BIASANYA butuh outline, supaya tetap fokus dan bernas. Nggak perlu bagus-bagus juga, tapi yang penting semua poin yang mau ditulis itu ada. Kadang saya juga pakainya mindmap. Jadi, terserah juga mau gimana.

Kadang dari outline, langsung saya kembangkan jadi tulisan. Jadi langsung aja gitu. Terutama kalau bentuknya listicle. Biasanya dari outline per poin, saya kembangin, tambahin penjelasan per poin. Tambahkan penutup, lalu pembuka. Udah jadi.


2. Jangan terburu-buru

Artikel yang kentang biasanya adalah karena terburu-buru.

"Lah, udah nulis dari 2 jam yang lalu kok belum selesai ya. Ya udah deh, segini aja kali."

Terus udahan. Nggak pakai closing, nggak pakai conclusion. Nggak pakai pamit. Pembacanya langsung ditinggal pergi.

Nggak sopan!
Hahahaha.

Itu saya sih, kalau nemu tulisan. Udah panjang, eh ternyata kentang. Terus langsung ditinggal pula, nggak pakai dipamitin. :))

Makanya kalau saya pribadi, ngeblog seminggu sekali saja. Tapi saya usahakan pembahasan sampai in-depth.

Toh, saya punya waktu seminggu penuh buat mikirin ide tulisan kan? Walaupun eksekusinya ya kenyataannya cuma dikerjain 2 hari, misalnya. Wkwkwk.

Tapi itu salah satu jalan, supaya saya bisa benar-benar menggali lebih dalam.

Saya dulu sering terburu-buru. Rasanya, takut aja gitu. Kalau nggak selesai sekarang juga, takutnya besok udah nggak mood lagi.
Akhirnya cuma numpuk di draft.

Pasti banyak deh yang samaan gitu. Iya kan? Ngaku aja. Wkwkwk. Tapi, saya sendiri mikir. Kalau terburu-buru, jadinya artikelnya bakalan kerasa juga buru-burunya.

Maka kemudian, saya mencoba mengubah kebiasaan. Saya berusaha nggak buru-buru, dan menyelesaikan tulisan ini bisa sampai 2 - 3 hari.

Ya, kadang ya moodnya berubah. Ya enggak apa-apa sih. Selama ini di blog sendiri, kan bebas.
Kecuali kalau kamu ngerjain tulisan panjang pesanan orang, bukan di blog sendiri. Itu memang mesti dicari solusinya.

Kalau nulisnya makan waktu karena artikelnya memang in-depth, ya jadinya perlu banget yang namanya outline. Kalau sewaktu-waktu capek nulis, bisa kita lanjutkan kapan lagi, tanpa hilang fokus. Kita nggak akan lupa, kemarin sampai di mana. Mood akan tetap ada, sampai artikel selesai.

Pokoknya dinikmati prosesnya deh.


3. Pastikan openingnya cukup mengikat pembaca

Opening akan menentukan ‘keselamatan’ artikel kita. Ini sudah berkali-kali saya tulis dan omongkan kayaknya sih.

Coba cek dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut ini saat menulis opening:
  • Apakah permasalahan sudah langsung disebutkan di 100 kata pertama?
  • Apakah ada janji yang akan didapatkan oleh pembaca kalau mereka mau membaca artikel sampai selesai? 
  • Apakah kata-katanya cukup provokatif dan persuasif, yang mengajak atau membuat pembaca merasa harus menyelesaikan membaca?
  • Apakah opening kamu cukup lucu? Karena biasanya orang lebih tertarik pada hal-hal yang disampaikan dengan jenaka.
  • Atau, apakah opening cukup related to people? Menyebutkan hal-hal yang juga dialami oleh orang lain?

Gimana, sepertinya memenuhi 2 syarat di atas saja sudah cukup menarik. Mau ditambah supaya lebih engaging lagi? Boleh. Lebih bagus.


4. Apakah artikel sudah dalam format yang tepat?

Ada beberapa jenis format yang bisa kamu gunakan:

  • Artikel storytelling, yaitu artikel yang formatnya bercerita gitu. Nah, format ini lebih rentan untuk membosankan. Jadi, saran sih, kalau memang mau bikin artikel storytelling panjang, pecahlah dalam beberapa subjudul atau 'episode'. Dengan memecahnya, maka pembaca seperti diberi jeda di antar bagian. Apalagi kalau ada visual yang  menarik per subbab-nya. 
  • Artikel listicle, yaitu artikel yang berbentuk list atau daftar atau step-by-step. Kayak artikel ini, termasuknya listicle. Round up juga listicle. Itu lebih mudah ditulis sih buat saya, sepertinya buat dibaca juga nggak terlalu melelahkan. Karena terbagi ke dalam beberapa poin, maka nggak kerasa panjangnya karena ada semacam jeda di masing-masing perpindahan poin.


5. Berikan penjeda setiap 200 – 300 kata

Nah, karena dipecah dalam subbab atau per poin, maka harus ada penjeda di setiap bagiannya. Penjeda ini bisa berupa foto, image, gif, atau video. Atau bisa juga infografis.

Silakan berkreasi. Gimana supaya pembaca nggak bosan.

Namun, kadang, saya sendiri dengan pedenya juga nggak ngasih penjeda :))))


6. "Talk" to your reader


Yeah, talk to your readers.

Yes, talk to your readers. Bukan sekadar nulis doang. Apalagi hanya "pokoknya memenuhi utang nulis".

Kadang kita memang nggak kerasa ya. Nulis terus, mengeluarkan apa yang ada di pikiran kita sampai puas dan tuntas. Atau, pokoknya tugas sudah selesai. Pembaca mau ngerti apa enggak, bodo amat.

Pokoknya selesai. Abis ini bisa kirim invoice #eh

Lupa, kalau ada pembaca yang mesti diajak berinteraksi.

Iya apa iya? Hehehe. Hasilnya ya, kayak monolog. Apa ciri tulisan yang "melupakan" pembaca ini? Ada satu ciri paling kelihatan dari tulisan yang "melupakan" pembaca ini, yaitu tulisan yang menggurui, atau yang sok.

Biasanya sih, habis baca tulisan tersebut, kita bukan tercerahkan. Tapi malah makin mumet. Wkwkwk.

Coba deh. Setiap kali menulis, bayangkan ada pembaca blogmu sedang duduk di depan tempat kamu menulis, siap untuk diajak ngobrol. Tutup matamu sebentar, rasakan kehadirannya. Lalu mulailah menulis, seakan-akan kamu sedang berdialog dengannya.

Setelah jadi, coba dibaca ulang. Rasakan, ada bedanya nggak dengan kamu yang biasanya sekadar nulis apa yang kamu pikirkan, atau yang sekadar nulis apa yang di-brief-kan oleh klien.

Kasih tahu saya ya, nanti, kalau kamu rasa ada bedanya.


7. Pastikan kamu menggunakan kalimat dan paragraf yang pendek


Jika satu paragraf terdiri atas 10 baris atau lebih, saya lebih suka memecahnya dalam 2 paragraf. Kadang saya juga suka ada paragraf yang hanya terdiri dari satu kalimat atau satu kata. Biasanya sih karena ada maksud yang ingin ditekankan dalam paragraf satu kalimat tersebut.

Dengan menggunakan paragraf-paragraf pendek, rasanya kita akan lagi ngobrol (refers to step #6 above), alih-alih diceramahin.

Coba deh dirasain.

Lalu, yang penting lagi, kalimatmu juga harus pendek-pendek, sekitar 8 – 10 kata maksimal dalam satu kalimat. Setiap kalimat, akhiri tanda baca “titik” ya. Kalau koma, itu berarti kalimatnya belum selesai.

Apalagi kalau sampai ada lebih dari 2 koma dalam satu kalimat. Itu biasanya kalimatnya udah mbulet.

Fine, kalau kamu masih nggak bisa membedakan "di" yang sebagai kata depan, dan "di" yang merupakan awalan. Nulis "diluar" sama "di keluarkan" kebalik ... well ...


Serah lo deh!


Tapi, kalau penggunaan tanda titik dan koma saja kebolak-balik, well ... kayaknya kamu mesti belajar bahasa Indonesia aja dulu deh.

Seriusan ini.
Karena ini berhubungan dengan ketahanan pembaca untuk mau membaca sampai akhir.
Sepele, namun penting banget.


8. Cek ulang, variasi!


Yang sudah dibahas di satu bagian, jangan lagi diulang di bagian yang lain. Ini nih gunanya outline. Supaya kita nggak terlalu banyak mengulang apa yang sudah dibahas.

Nggak cuma bahasan yang diulang.
Saya sendiri memantangkan diri untuk mengulang kata yang sama dalam satu paragraf. Apalagi dalam satu kalimat.

Jangan sampai deh.

Ini hubungannya sama variasi.
Man, eue aja perlu variasi. Ini tulisan in-depth, udahlah panjang, masa nggak pakai variasi? Bosanlah!
*dikeplakin dari segala penjuru*

So, kamu bisa mengatasi variasi kata ini dengan:

  • Mencari sinonim katanya
  • Mengubah susunan kalimatnya
  • Mengubah struktur kalimatnya, dari pasif jadi aktif, misalnya.
Lalu baca kembali dengan bersuara, agar bisa merasakan apakah ada bagian yang berulang. Tempatkan dirimu sendiri sebagai pembaca.



9. Cek 5W 1H

What, who, when, where, why dan how, merupakan prinsip penulisan jurnalisme yang baik. 

Nggak ada salahnya juga prinsip tersebut kamu pakai dalam menulis artikel blog, terutama yang panjang. Cukup membantu juga sih kalau di saya.

  • What: topik apa yang akan dibahas?
  • Who: siapa subjeknya? Siapa objeknya?
  • When: kapan permasalahan topik akan timbul, misalnya. Atau kapan kejadian berlangsung?
  • Where: di mana sering terjadi atau kejadiannya di mana? Deskripsikan.
  • Why: alasan-alasan yang dapat menimbulkan satu peristiwa yang terjadi.
  • How: bagaimana cara mengatasinya permasalahan?

Dengan memenuhi prinsip tersebut, diharapkan sih artikel kita bisa tuntas dalam membahas suatu topik. Meski dalam storytelling pun, prinsip ini akan baik juga kalau dipakai. Tinggal nanti luwesnya saja.



Nah, satu catatan penting ya.
Kita nggak bisa dengan mudah mengubah kebiasaan. Kalau biasanya hanya bisa menulis 300 kata, ya nggak perlu maksain langsung bisa nulis 2000 kata.

Mulai saja secara bertahap, dari 500 ke 600 kata, lalu jadi 800 kata. Nanti lama-lama pasti bisa deh ke 1.000 kata lebih.

Saya juga gitu kok. Pertama saya juga nulis ngos-ngosan banget ke 700 kata. Lama-lama bisa nulis 30.000 kata, alias nulis buku. *dikeplakin lagi*

Well, menyajikan informasi yang lengkap dan detail, serta bermanfaat bagi pembaca, sepertinya itu adalah yang menjadi tujuan dari setiap tulisan yang ada kan?

Adalah hak pembaca untuk mendapatkan semua informasi tersebut secara lengkap. Maka, kita harus memenuhinya, dan mereka pun akan datang lagi dengan ikhlas dan senang hati.

Semoga langkah-langkah menulis artikel panjang informatif tapi nggak membosankan di atas bermanfaat ya. Kalau ada tambahan, boleh ditulis aja di kolom komen.

Nanti akan saya tambahkan.

Happy writing and blogging, everyone!

17 comments:

  1. saya memang menulis panjang sih, nulis ga bisa sekali duduk kadang berhari2 ngumpuling bahan, baru dituangkan ke tulisan. kemudian saya juga ga pernah maksain untuk harus siap dalam berapa lama, karena publish cuma 1 artikel per 2 minggu artinya saya punya banyak waktu luang.

    tapi tetap saja saya udah nulis panjang, tapi kadang2 lupa dengan pamit, brainstroming, segala sesuatu yg memancing pembaca.

    saya nulis untuk pembaca dari google, tipe pengunjung google tipikal yg memang cari info dslam dan jelas

    ReplyDelete
  2. Sangat bermanfaat. Terima kasih :)

    ReplyDelete
  3. Saya juga #timsedapetnya..tapi minimal-paling nggak- dapet 600 kata... biar gak kaya nulis puisi

    nulis panjang kalau untuk ikutan lomba aja :D

    ReplyDelete
  4. saya #timnulispanjangkecualifotonyacumadikit hahahaha gimana dong habis kadang kalo udah ngga ada visual lainnya (gambar, video) males mau bikin tulisan juga

    ReplyDelete
  5. Aku juga tipe nulis sedapetnya aja deh. Hihi...
    Inspiratif banget deh postingan mbak Carra. Always ^^

    ReplyDelete
  6. Nah ini tulisan yang puanjang tapi wenak banget dibaca. Poin-poinnya juga wajib banget dicatat. Pokoknya mah, belajar nulis gratis di blognya Mbak Carra ini

    ReplyDelete
  7. Aku masih harus belajar membuat paragraf-paragraf yang pendek mih, Mba. Masih suka bablaaas aja, ternyata pas dibaca kok capek amat. Hahaha.

    ReplyDelete
  8. Ambil posisi sebagai #timsedapetnya aja ah :)
    Tapi akhir-akhir ini, diusahakan minimal 300 kata, sering dicoba sampai 500 kata, bukan nya outline, malah out of topic hahaha

    ReplyDelete
  9. Terima kasih untuk tulisannya, Mbak. Memperkaya referensi penulis yang baru belajar seperti saya.

    Saya tipe penulis yang apa-apa ditata di kepala dan langsung eksekusi. Lebih ke spontan, dan sejauh ini masih nyaman dengan cara ini. Hanya saja, pernah pula menulis beberapa poin permasalahan secara ringkas. Jadi, fleksibel sesuai kondisi..

    ReplyDelete
  10. Ini yg sedang aku latih sekarang. Mencoba pelan2 menulis panjang, dan sebisa mungkin storytelling. Kayaknya dari semua gaya tulisan, aku jg paling seneng kalo baca artikel dengan style begitu. Bacanya berasa ga bosan.. Makanya pengen tulisanku seperti itu, walopun aku tau, ga gampang :D. Apalagi yg bisa bikin pembaca mau membacanya sampai habis :) .

    Yang pasti, kalo aku stuck ide, stuck nulis, baca artikel2mu udah paling bener mba. Langsung tercerahkan :D

    ReplyDelete
  11. Lha nulis komentar aja saya masih sedapetnya, hahaha... gimanaaa ini. Noted di bagian variasi. Ubah struktur kalimat dan cari sinonimnya. Sip. Matur tengkyu mbak.

    ReplyDelete
  12. aku yang penting update dulu sih, panjang atau pendek seperlunya hehe

    ReplyDelete
  13. Sebenernya saya berusaha untuk selalu in depth dan berusaha ga panjang-panjang, mengingat tema yang dibawa cukup "berat". Namun uda nyoba sependek mungkin, dapetnya juga panjang. Biasanya sih lebih dari sehari kalau dicampur dengan foto dan infografisnya. Thanks mba carra

    ReplyDelete
  14. akhirnya alhamdulillah bertemu dengan Mba Carra, sesekali cek di google dan kepoin sipa itu Carolina Ratri, dan akhirnya sedikit tahu. Blognya manteb bener, yes makin sering ini mampir ke sini biar nulis nya tambah pinter. Terimakasih :)

    ReplyDelete
  15. Biasanya nulis 600 kata.., itu pendek sih dibanding artikel teman2 yg aku baca..

    Ya itu ..pengennya..nulis langsung publish...


    #noted..

    ReplyDelete
  16. Baca ini sambil introspeksi, syukurlah banyak poin yang sudah aku terapkan dan setuju banget seperti:
    - Jangan panjang-panjang dalam 1 paragraf.
    - Beri jeda seperti gambar, foto, infografis, gif.
    - Bikin Sub bab itu memudahkan kita yang nulis, juga ngenakin yang baca. Kadang mereka baca yang bagian butuh aja.
    - OUTLINE ADALAH KOENJTI

    Ngeblog udah belasan tahun, tapi aku baru-baru ini menerapkan bikin outline. Dan baru terasa bedanya. Isi bisa panjang tapi padat alias nggak bertele-tele. Karena kita tau apa yang kita tulis. Terarah.

    Thankkss ya Mbaakk ;)

    ReplyDelete
  17. Nah nah, ini nih aku bisa bikin panjang kalo udah kebelet nulis lama ,,,outline is a must

    ReplyDelete