Beberapa Tip Blogging yang Sudah Ketinggalan Zaman



Dari dulu saya suka banget membaca berbagai tip blogging dari siapa pun. Buat apa? Ya, supaya aktivitas blogging saya makin ngehits-lah. Saya kan pengin femes. #eakkkk. Ya, nggak cuma segitu aja sik. Femes-nya itu biar dikenal orang sebagai penulis, nanti efeknya buku-buku saya banyak dibeli, saya banyak dimintain tolong buat nulis ini itu, gitu.

Memang sedari awal saya come-back *halah* ke dunia blogging tahun 2010-an, niat saya memang akan menjadikan blog sebagai portofolio. Jadi, gimana caranya kan untuk membuat portofolio saya ini moncer.

Maka, saya rajin memburu tip dan ilmu perbloggingan. Setiap orang yang punya tulisan untuk melejitkan blog, pasti saya baca. Nggak berenti dibaca doang, saya pun praktikkan.

Semakin ke sini, perkembangan dunia blogging pun semakin luar biasa. 8 tahun saya menjadikan blog sebagai portofolio, banyak banget tip blogging yang ternyata sudah nggak berlaku lagi. Sudah so old fashioned, sudah ketinggalan zaman.

Inilah kenapa kita--kalau mau sukses ngeblog--mesti selalu update dengan perubahan. Saya akui, perubahan kadang SUCKS!

Lihat saja Google, berkali-kali mengubah algoritmenya. Iya sih, mereka membuat perubahan supaya service-nya lebih oke dan berkualitas. Tapi tak urung, perubahan itu membuat saya--yang di sini sebagai publisher, orang yang memproduksi konten--jadi cukup kelimpungan.

Lalu, Instagram, yang secara tak langsung juga berpengaruh ke kegiatan blogging kita. Instagram benar-benar banyak berubah sejak pertama kalinya diluncurkan.
Beberapa hal memang membuat lebih nyaman, tapi banyak hal lain bikin para pemroduksi konten juga kewalahan.

Belum lagi pergerakan aktivitas blogging sendiri yang semakin ke sini juga semakin banyak perubahan.


Anyway, balik lagi ke soal tip blogging.
Zaman sudah berubah. Tapi, beberapa tip blogging yang sudah ketinggalan zaman ini masih sering saya lihat wira-wiri di sana-sini. Dan, somehow, saya sendiri sudah tak "menganut" beberapa tip blogging yang sudah ketinggalan zaman ini. Selain, sudah tak relevan lagi, saya sendiri juga sudah nggak merasakan efek apa pun dari beberapa tip blogging berikut. Malah justru ada beberapa yang sekarang sudah membahayakan.

Saya sih bukannya menyarankan teman-teman untuk tak lagi melakukan beberapa tip blogging berikut. Mungkin masih ada yang menyahihkannya. Saya nggak punya hak untuk melarang kan ya? Siapalah saya. Hanya saja, bolehlah dipikirkan kembali efeknya. Jangan-jangan malah membahayakan aktivitas blogging kita, atau buang-buang tenaga saja.

Karena buat saya, ada beberapa di antaranya sudah tak efektif lagi sekarang.


Beberapa tip blogging yang sudah ketinggalan zaman



1. Setiap tulisan akan menemukan pembacanya sendiri

Dulu saya sangat mengamini dalil ini. "Setiap tulisan akan menemukan pembacanya sendiri."

Rasanya, dengan kalimat ini tertanam di pikiran, saya lantas bisa merasa ayem, nyaman. Dan selanjutnya, kita tinggal menulis saja terus sesuai dengan apa yang kita yakini.

Tapi semakin ke sini, saya semakin tak bisa meyakini lagi kalimat ini 100%.
Okelah, semisal memang naskah buku yang dikirimkan ke penerbit atau media, mungkin, punya takdir sendiri nanti cocoknya di mana. (Itu saja saya sendiri masih nggak sreg. Pasrah amat sik? Hahaha.)

Tapi tidak dengan blog.

Setiap tulisan blog akan menemukan pembacanya sendiri?
Kapan? Seberapa?

Padahal setiap hari ada tawaran job yang mensyaratkan pageview sekian, DA sekian, PA seanu, dan seterusnya. Saat job sudah diterima pun, ada laporan statistik yang harus kita serahkan, bukan?
Kalau nggak mencapai target, kita akan "terancam" nggak akan dipakai lagi dalam campaign berikutnya.

Kalau seumpama benar "setiap tulisan akan menemukan pembacanya sendiri", kita pastinya nggak perlu sampai memasukkan artikel kita di setiap BW list yang ada di komunitas-komunitas kan?

Itu baru soal tulisan di personal blog.

Lebih kejam lagi di portal. Coba portal mana yang menganut "kepercayaan" ini?

Ibaratnya, kita jualan es krim di kampung orang Eskimo. Boleh kan? Boleh dong! Ntar juga pasti akan ada yang butuh kan? Setiap "dagangan" kan akan menemukan pembelinya sendiri?

Really? Es krim? Dijual di antara orang Eskimo?
Yeah right.

So, kalimat "setiap tulisan akan menemukan pembacanya sendiri" ini, buat saya pribadi, sebenarnya cuma bentuk ngayem-ayemi diri sendiri sih. Hahaha. Supaya lebih semangat nulis terus.
Ya oke deh. Kita memang harus semangat nulis terus.
Tapi, kalau mau ada hasil yang riil--artinya, nulisnya bukan lagi sekadar hanya untuk pengisi waktu luang--kayaknya jangan kebiasaan pukpuk diri sendiri terus kayak gini. Kita nggak akan ke mana-mana. Stay di tempat.

Kita mesti cari cara, gimana meningkatkan kualitas tulisan, dan kitalah yang harus mencari pembaca. Mengajak mereka untuk datang dan baca tulisan kita.

Dengan apa? Yah, sudah banyak sih yang saya catat so far. Boleh percaya boleh enggak juga kok. Saya mah bebas~



2. Blogwalking untuk traffic

Blogwalking untuk menjalin hubungan dan networking, saya masih percaya cukup efektif. Sampai sekarang, ini masih berlaku.

Tapi blogwalking untuk ngeboost traffic?
Kecuali dilakukan dalam sebuah blog pod, rasanya mengharap traffic datang dari blogwalking itu kok ya nggak seberapa ngefek sekarang ini.

Blog pod itu sebutan untuk sekumpulan orang yang "bekerja sama" untuk ngeboost traffic bersama-sama. Itu loh, yang biasa dilakukan kalau ada job atau lomba, saling balas blogwalking dan komen. Bahkan ada komunitas yang mewajibkan anggotanya untuk saling BW kan ya?

Kalau dalam sebuah blog pod, maka kemungkinan sih bisa boost traffic, tapi masalahnya, bisa sampai seberapa? Ya sebanyak yang tergabung dalam blog pod itu saja sepertinya kan? Yang komen juga orang-orangnya yang dalam kelompok tersebut.

Nggak ada yang salah dengan hal ini sih. Namanya juga usaha.
Yang saya pertanyakan hanyalah, seberapa efek marketing bisa didapatkan dari blog pod ini?
Kalau orang-orangnya hanya mbulet saja di situ, apakah so-called-brand-awareness dari pihak klien ini bisa tercapai KPI-nya?

Ini logika saya saja sih. Bisa jadi salah. Jadi, silakan lo, kalau ada yang bisa jawab pertanyaan saya. I will be glad to discuss, karena ini hal yang sangat menarik :D

FYI, Instagram pernah juga membahas mengenai Instagram pod. Metodenya sama. Berkelompok untuk saling like, follow dan komen. Facebook--sebagai bapak perusahaan Instagram--bahkan nge-ban beberapa grup Facebook karena terkait Instagram pod ini.

Update:
Saya bukannya antiblogwalking. Saya juga masih blogwalking kok. Tapi saya melakukannya dengan ikhlas. Supaya apa? Supaya nggak ada niatan diblogwalkingin balik, hanya karena kita sudah BW ke blog orang lain. Saya melakukannya karena saya memang pengin baca blog orang--terlepas saya ninggal komen ataupun tidak. Dengan begini, kalau ada yang nggak BW balik ke blog saya, saya pun nggak baper.


3. Share masif di  media sosial untuk traffic

Nyatanya, share apa pun secara masif di media sosial sekarang ini justru berbuah suspend atau ban.

Masih ingat banget beberapa waktu yang lalu, banyak bloger yang mengeluh kena semprit di Facebook. Rerata dari mereka bilang, kalau mereka susah untuk komen. Bahkan komen biasa pun di-mark as spam sama Facebook.

Setelah ditelusuri, ya pantas sajalah kena sempritan. Mereka spamming di Facebook, alih-alih sharing.

Dan kemudian belakangan, banyak pula pengguna Twitter tiba-tiba raib. Ternyata akunnya kena suspend sama Twitter. Meski banyak juga yang kena suspend tapi mengaku tak melakukan kesalahan apa pun, tapi sepertinya sih, alasan suspend terbanyak adalah karena spamming dan hashtag abusing.

Lalu, perkara Instagram kemarin juga sempat membuah heboh dunia perbloggingan dan dunia per-so-called-influencer-an.

Saya sendiri beberapa kali mengamati. Saat saya sharing link di komunitas baik di Facebook maupun Twitter, kok ya naiknya tak terlalu signifikan. Lebih signifikan saat saya share saja di beranda sendiri ataupun timeline sendiri, tetapi secara berulang, periodik, dan simultan.
Mungkin berbeda sih dengan orang lain ya. Saya nggak tahu dengan pasti.


4. Hanya mengandalkan lapak orang

Memang salah satu hal yang harus kita lakukan dalam ngeblog adalah mempromosikan blog di media sosial.

Hanya saja, semakin ke sini, media sosial saja tidak cukup.
Ingat apa yang terjadi di Facebook, Twitter, dan Instagram?
Perubahan sedikit saja pada algoritma mereka bikin kita kewalahan.

Lalu, Google.
Saat sedikit saja Google mengubah kebijakannya, kita pun heboh sendiri mencari tahu apa yang bisa dilakukan lagi untuk "menyiasati" Google.

Oh, sungguh melelahkan, cyint. Hahaha.

Berkali-kali saya lalu ingat kalimat yang ditulis oleh seorang bloger luar (siapa namanya, saya lupa. Maafkan. Waktu itu saya sedang riset untuk perubahan algo Instagram, dan lupa mencatat siapa yang mengatakannya).

Don't build your palace in someone else's sandbox.

Karena begitu sandbox-nya kena tsunami, ya udah deh, "istana" yang kita bangun di situ ya pasti kena efeknya.

Lalu gimana seharusnya?
Untuk saya sendiri, penginnya ya kita bisa build readership kita sendiri. Melalui email list misalnya. Tentu saja, kita nggak bisa hanya semata-mata minta email pembaca blog begitu saja.
Kita harus punya sesuatu in return. Kita harus memberikan sesuatu pada mereka.
Sesuatu seperti apa?

Nah, itu sih silakan dipikirkan sendiri-sendiri :)))

Dengan punya massa sendiri begini, mau media sosial berubah algo kayak gimana pun, paling tidak kita masih bisa punya backup sendiri.

Ya, saya sendiri sampai sekarang masih belum bisa me-manage email list dengan baik, meski saya sudah punya lumayan subscribers. Huhuhu. Maafkan saya.
Semoga saya bisa segera membuat waktu untuk mengurusi Anda yang sudah berbaik hati memberikan email ya.

I promise!


5. Outdated SEO: link ke artikel itu sendiri dan bold/italic

Dalam praktik SEO sendiri ada beberapa hal yang sudah tak lagi saya lakukan sekarang.

  • Menyematkan tautan ke artikel itu sendiri. Ya, dulu tip ini memang disarankan oleh banyak mastah. Misalnya, ada artikel "tip blogging untuk pemula", maka harus ada 1 kata kunci "tip blogging" yang ditautkan ke URL artikel "tip blogging untuk pemula" itu sendiri. Entahlah, saya lupa kenapa harus begitu. Tapi, sekarang langkah ini tak pernah saya lakukan lagi, karena saya juga tak tahu apa efeknya kok harus ngelink ke artikel itu sendiri. Yang ada, kalau saya menjumpai tautan jenis ini malah jadi sebal, karena saya kira bakalan ada info lain di artikel lain, eh ternyata balik situ maning balik situ maning. Hedeh. Ternyata hal ini juga diamini oleh beberapa mastah SEO lain. Jadi ya, sudah, saya nggak pernah lagi pakai tip ini.
  • Bold/italic. Saya juga sudah tak lagi melakukan penebalan atau pemakaian huruf miring untuk keperluan search engine. Saya menggunakannya sekarang demi user experience. Saya akan menebalkan/memiringkan huruf pada kata atau kalimat yang harus diberi penekanan, agar menarik perhatian pembaca, tapi bukan untuk crawl bot search engine. Untuk penjelasan mengenai hal ini ada beberapa artikel sih yang bisa dibaca. Coba ke sini atau ke sini ya. Sebagian sih masih percaya, ini cukup efektif untuk SEO sih. Cuma ya, saya pribadi sudah nggak terlalu yakin langkah ini efektif. Apalagi kalau separagraf pertama di-bold semua, itu tuh alasan logisnya kayak gimana, monmaap, saya kurang nangkep. :( Apalah saya ah. Ada yang bisa menjelaskan? Kalau memang reasonable, saya juga mau ikut lakukan sih.



Nah, demikian beberapa tip blogging yang sudah ketinggalan zaman so far.

Ada yang mau menambahkan? Atau, mungkin ada yang berpendapat, salah satu, dua, tiga, empat atau kelima hal di atas masih cukup efektif dilakukan?

Sok, ditulis di komen yah.
I'll be glad to know about your opinion ;)

43 komentar:

  1. Nice post...

    Ternyata aku masih menggunakan cara yang ketinggalan jaman huhu :"(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya juga gpp kok masih dipakai juga. Cuma kalau saya pribadi ya, kalau ga ada efek apa-apa sih yaudah ... gitu aja :))

      Hapus
  2. Setuju banget soal sharing ke sosmed gak seberapa ngefek, udah ngalamin sendiri soalnya. Kalo untuk blogwalking sih aku sendiri niatnya emang bukan buat traffic aja, tapi lebih ke eksposure blog sendiri. Kalo eksis komen dimana2 bisa aja orang2 pada penasaran trus klik blog kita deh. Hihi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu betul. Tinggal bagaimana komen kita aja. Kalau hanya "nice, gan" juga sepertinya eksposure pun enggak ngefek juga =))

      Hapus
    2. Setuju, exposure efeknya kecil. Sy malah kepikirannya, "lha baca artikelnya aja kadang orang males apalagi baca komen-komennya juga," hihihi

      Hapus
  3. ahahaa, makasih loh udah berbagi.., sebagai nubi dalam dunia perbloggingan.. ternyata metode yang saya pake..udah ketinggalan jaman semua.., ya walaupun menurut saya blog walking masih cukup efektif sih..setidaknya buat yang baru mulai, jadi bisa membangun jaringan dan belajar, sama yang sudah ahli.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sudah disebutkan kok di atas. Blogwalking masih efektif untuk membangun jaringan :) Tapi tidak terlalu lagi untuk menambah traffic.
      Makasih sudah baca ya :)

      Hapus
  4. Hmm, menarik mba artikelnya, khususnya poin nomor 2 ttg blogwalking. Kebetulan saya punya blog baru yang saya khusukan buat ikutan lomba ngeblog. Dan sejauh ini memang trafik yang saya punya asalnya cuma dari sosmed & blogwalking pas ada lomba yang sama. Dan klo ditanya hasilnya, memang jauh dan gak bisa dipakai untuk ngeboost trafik kecuali masif bgt BW-nya, tapi sehari kuat berapa?

    Setuju juga sama tips BW-nya, memang klo lg blogwalking nggak perlu ngarepin BW balik. Lagian keliatan klo blogwalkingnya nggak ikhlas, biasanya komennya generik bgt & kebaca bgt cuma ninggalin jejak. Padahal saya malah seneng klo ada yang kasih kritik, artinya tulisannya dibaca, hihihii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe. Iya, begitulah yang kurasakan. Soalnya saya juga ngerasain, ga terlalu banyak bisa boost traffic kalau ngandelin BW.
      Makasih ya, sudah baca~
      :D

      Hapus
  5. Bagaimanapun juga cara SEO gak pernah bakalan outdated. Algoritma boleh sih berubah-ubah. Tapi kalau sebagai pemilik blogger kita serius bikin artikel yg berkualitas dan disukai pembaca, SEO-nya psti bkalan adem2 juga.

    Intinya ya bikin blog yg kontennya disukai sama pengunjung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebentar.
      Apakah kita membicarakan SEO yang sama?
      SEO atau search engine optimization--sependek yg aku tahu--adalah cara-cara yg dipergunakan sebagai bentuk reaksi dan respons terhadap algoritme.

      Algoritme boleh berubah, tapi SEO ga berubah ini jadi agak kontradiktif.

      Bener, kita mesti bikin artikel berkualitas dan disukai pembaca. Tapi ini ke konten ya, dan SEO ini ada untuk mendukung konten. Jadi saya sih pemahamannya, konten dan SEO ini dua hal yang berbeda.
      CMIIW.

      Hapus
  6. mantep banget ilmunya, mba. Emang dunia bloggingpun kudu update yak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus :)
      Kalau nggak mau ketinggalan di belakang.

      Hapus
  7. TUH KAAN BENER UDAH GAK BERLAKU LAGIII.
    Suka bangt sama ulasannya, Mak! Dulu pernah bahas persis kayak gini ke suatu forum tapi mereka bilang saya nggak tahu tren massa kini dan mereka tetap percaya dengan mastah yang ngajarin soal SEO harus blablabla blogwalking blablabla, padahal Ui sudah bilang itu ketinggalan zaman. Anehnya, ketika kita ngassih tahu ilmu yang menurut banyak orang gak benar jadinya malah dijauhin eh kok curhat di sini~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huahahahaha. Hae, Uneeeeeh. Boleh kok curhat di sini mah~
      Kalau mau curhat lagi, Mamak ada di sebelah yah. Hehehehehe.

      Hapus
  8. Semuanya udah nggak saya lakuin kecuali soal bold/italic/underscore karena ngerasa itu masih lumayan ngefek dan sedikit ngebantu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, iyakah, masih ngefek? Apakah ada artikel dengan based on data mengenai hal ini? Atau mungkin Anda sendiri ada data-datanya?
      Boleh dong, ngintip yah ^^ Kalau enggan ngasih di sini, boleh email saya di mommycarra@yahoo.com.

      Saya akan berterima kasih sekali kalau memang dikasih sharingnya, apalagi boleh diskusi. Pengin belajar, gitu :)
      Terima kasih ya.

      Hapus
  9. Wah, memang benar sih Kak.
    Kita mesti terus mengikuti perkembangan. Artikelnya mengingatkan saya untuk peka terhadap perkembangan khususnya dalam menulis diblog.
    Terimakasih ya.

    BalasHapus
  10. Terima kasih mbak Carra, dulu sempet ngalamin sering share blogpost di sosmed sampai masif, tapi hasilnya ya gak memuaskan, hehe.. Akhirnya udah lama aku gak pernah share masif lagi, tapi sekarang aku coba mau konsisten share berkala aja sesuai tips mbak Carra 😘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, MBak. Kalau aku sih sudah ngebuktiin, share pelan2 tapi simultan di akun sendiri malah lumayan signifikan hasilnya. Apalagi kalau bisa menemukan audience yg pas.
      Keep blogging, Mbak :)

      Hapus
  11. udah hampir setahun aku ga rajin bW mba, dan ngga share masif di lapak2 komunitas. palingan di akun sendiri. karena ya begitu, ngga ngefek ternyata.

    trus yang terakhir yang masukin link artikel sendiri dan italic bold itu juga dari awal rame aku ngga begitu paham hubunganya apa. yaudah g pake ahah.

    makasiiii sharingnya

    BalasHapus
  12. Sesungguhnya aku pun sudah banyak meninggalkan tip blogging itu, Mbak Ra. Apalagi SEO mah dari dulu emang ga pernah hatam hehe. Buat BW Pod itu sebetulnya menurutku kegunaannya lebih ke menyenangkan klien kalau di artikelnya ada interaksi. Selebihnya sih nggak ngaruh besar ke traffic ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Teh. Betul. BW memang masih efektif untuk networking dan engagement. Tapi untuk traffic, enggak bisa.

      Hapus
  13. Sesungguhnya saya nulis buat search engine. Yang butuh aja monggo mampir. Karena emang ga begitu bisa menyediakan artikel yang waw seperti blogger lain. Jadi, saya nyediain yang bakalan dicari di mesin pencari dan berguna bagi pembaca karena emang berdasarkan pengalaman sendiri. Dan daku baru tau kalo bold/italic pernah masuk ke urutan seo step. Baiklah kukudet.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Justru untuk menyediakan artikel untuk para pencari via search engine, maka kita harus bikin artikel yang waw, supaya search enginenya nggak penuh dengan artikel ga mutu.
      :))))

      Hapus
  14. Menyematkan tautan ke artikel itu sendiri. Hihi. Dulu sering menerapkan ini, tapi sekarang udah gak pernah. Gara-garanya dapet sponsored post, trus mas agency-nya ngajak diskusi. Ngapain saya ngasih link ke artikel itu sendiri, manfaatnya apa ya? Dan saya yang hanya "taklid buta" pada para mastah jadi enggak bisa jawab. Hahaha.
    Malah cerita.
    TFS ya, Mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha. Iya, Mbak. Saya juga dulu pernah nerapin. Tanpa riset lebih jauh juga, efeknya apa. Terus dengar komen orang2 yang bilang sebel kalau ada tautan balik ke artikel itu juga.
      Sejak itu, saya ga pake lagi.

      Hapus
  15. Owh ternyata BW termasuk udah mulai ketinggalan ya. Selama ini berburu komen buat ningkatin trafic, hehe.. Makasih tipsnya ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau dirasa masih cukup efektif, ya boleh saja kok terus dilakukan. Cuma kalau untuk saya pribadi, BW sudah ga efektif, karena kita nggak bisa mengharapkan untuk diBW balik. :) Keep blogging.

      Hapus
  16. Saya masih ikut grup BW di FB. Cuma sebagai penyemangat. Mempromosikan blog juga di beranda sendiri namun tak terlalu konsisten apalagoi sampai bikin spamming di mana-mana. Fokus pada kirim tulisan agar bisa dimuat media massa berhonor, he he.
    Namun bagi saya jadi narablog itu semacam CV agar tuliosan kita bisa dikenal banyak orang dan bisa dipercaya.
    Membaca tulisan di atas bikin wawasan saya bertambah. Makasih, Mbak Carra.

    BalasHapus
  17. sya juga masih ikuta bw.. buat melatih konsisten menulis,
    dan lain-lain berarti cara saya ketinggalan zaman ya maak

    trus dari tulisannya sy tarik kesimpulan, yg penting kualitas kontennya ya mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Intinya adalah kita harus siap update terus dengan perubahan. Konten, SEO, media sosial harus sinkron.

      Hapus
  18. SEO-SEOan saya lom faham amat. Kalau di WP ada lampu ijo...yawda ngandelin itu. SEO good. Dah aja. Hehe...
    Berusaha menulis konten yg baik sih teuteup...
    Makasih sharingnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yoast ya?
      Kalau Yoastnya tiba-tiba mati ga update lagi, gimana, Mbak? :)

      Hapus
  19. Baca postingan ini, jadi ngebatin; apakah blogging juga mengalami disruption?
    Oh my!

    BalasHapus
  20. saya juga udah mulai meninggalkan italic, bold, underline, dkknya. memang sudah ga relevan, apalagi google rajin update algo...

    BalasHapus
  21. masih ngelakuin semua dan masih enjoy. BW, karena aku suka baca blog orang lain, entah blog curhata tau apapaun dan saya meninggalkan komentar. Nggak komen balik? no problem. dengan BW paling tidak ada 2 hal yang saya dapatkan bacaan dalam hal ini informasi, semangat, ilmu, etc dan juga membuat pemilikblog hepi ada yang ninggalin komen jadi nggak terlihat sepi, hehehe. Dah, Ikhlas jalanin semua.

    BalasHapus
  22. saya baru akan bikin blog ..telatt yahh ..tp dengan baca blog dan tip dari mbak ratri jad nambah ilmu ..semoga blog saya nanti sebeken mbak ..hehehehe

    BalasHapus
  23. Saya suka baca-baca artikel blogger-blogger lain karena kadang ada artikel yang menarik dan dapet inspirasi dari sana. Kalau mengharapkan bw balik sih enggak ya, tapi biasanya memang ada yang ngeklik trus add di akun sosmed. Kalau tips blogging yang saya dapet sih kita harus ngeblog hal-hal yang bermanfaat buat target market atau target pembaca dan yang lebih penting lagi sih kita harus tau goal kita apa dari blog itu sendiri.

    BalasHapus