Duh, Dek! Magang Kerja Masa Gitu?



Oke, artikel kali ini memang bukan soal nulis konten ataupun ngulik media sosial, tapi saya mau cerita soal magang kerja.

Beberapa waktu yang lalu, perusahaan penerbitan tempat saya kerja membuka lowongan magang kerja untuk para dedek mahasiswa. Syaratnya gampang, nggak pake aneh-aneh. Cukup semester 5, terus suka membaca dan menulis. Seterusnya, bisa diatur.

Magang kerja di kantor penerbitan itu cukup ringan kok. Boleh masuk jam berapa pun, asal memenuhi 4 jam setiap harinya. Boleh dikoordinasi dulu sama Bubos. Soal uang saku, ya lumayanlah ya. Cukup banget buat makan siang di warung. Kalau bisa menghemat, ya bisa untuk jajan-jajan ini itu. Kalau sudah selesai masa magangnya, bakalan dikasih merchandise dan buku seabrek-abrek.

Suasana kerja? Yah, sama kayak karyawan yang lainlah. Serius tapi santai.

Kalau kantor penerbitan ini sih sudah beberapa kali menerima mahasiswa magang. Mostly kerjanya bagus, sebenarnya. Bahkan kemarin pas ada acara outing bareng sekantor, 2 mantan pemagang ikut diajak rafting di Kali Progo lo.

Tapi yang terakhir kemarin ini lucu.
Kita buka lowongan, kriteria kurang lebih sama.
Oleh Bubos, terpilihlah satu orang. Bukan yang ideal, tapi ya yang paling lumayan di antara semua.

Tapi, apa yang terjadi?

Saat ditelepon untuk mengonfirmasi bahwa dia diterima, dia menjawab, "Maaf, Mbak. Saya berubah pikiran. Saya mau fokus kuliah aja."

WTF ...
(((berubah pikiran)))

Yang kemudian berbuah saya ngomel di Twitter



Dan, kemudian, si Annpoet ngereply begindang.




Yha!
Ini sih parahbet.

Dan terus, ChiEru nimbrung:




Memang sejak zaman saya dulu, yang namanya magang kerja atau Kerja Praktik itu kadang cuma dianggap formalitas saja. Kadang sebagai mahasiswa kita nih istilahnya masih belum "butuh uang" banget-banget. Asal masih bisa makan di warmindo saja, itu sudah cukup. Selebihnya, ya uwislah, buat senang-senang. Mumpung masih muda, katanya.

Padahal, kalau kesempatan magang kerja ini dimanfaatkan sebaik-baiknya, bukan nggak mungkin jadi jalanmu untuk berkarier mulus lo.

Editor buku indie-nya kantor aja mantan anak magang yang karena kerjanya bagus banget lantas dilamar sama Bubos untuk jadi karyawan tetap. Sekarang, beneran jadi karyawan tetap dan sudah menjadi manager penerbitan!

Think about that, wahai para dedeq mahasiswa!

Memang sih nggak semua menyebalkan, tapi cerita internship atau para magangers yang menyebalkan ini bukannya jarang saya dengar.

Saat saya masih kerja di kantor lama yang bergerak di industri kreatif desain interior dan furniture expor itu, saya juga pernah ngurusin sepasang magangers.
Dan, saya baru nemu tweet tentang salah satunya lagi barusan.




Huahahaha. Sampai sebel kek gitu ya?

So, artikel kali ini saya dedikasikan buat kamu, para dedeq mahasiswa, yang pengin magang kerja, atau istilah kerennya intership, dan pengin memanfaatkannya semaksimal mungkin demi masa depanmu sendiri.

Kuncinya adalah pada hari pertama kamu mulai masuk.
Seperti halnya saat seorang karyawan baru di hari pertamanya bekerja, hari pertamamu magang kerja akan menjadi penentu hari-harimu selanjutnya di kantor itu.


So, beberapa hal ini bisa kamu lakukan di hari pertama magang kerja kamu

Klarifikasi ekspektasi perusahaan tempat kamu magang kerja terhadapmu

Apa yang mereka harapkan untuk didapatkan darimu, hasil seperti apa yang mereka inginkan?

Tanyakan hal ini pada supervisormu, lalu negokan jika ada satu dua hal yang mungkin tak sanggup kamu lakukan.

Tapi jangan semua dinegokan juga. Kamu harus terlihat mau berusaha untuk belajar. Bagaimanapun, dunia kerja itu lebih kompleks ketimbang teori-teori yang kamu pelajari di kampus. Bahkan bisa jadi berbeda 180 derajat.


Jangan bawa semua idealismemu ke kantor

Tinggalkan saja di kampus.

Karena ya itu tadi, dunia kerja itu bisa jadi jauh berbeda dengan teori-teori yang kamu dapatkan di kampus. Pelajaran yang sesungguhnya akan kamu terima seiring hari-hari kerjamu berjalan.

Siap-siap saja.


Fokuslah pada keterampilan komunikasi

Inilah soft skill yang tak akan pernah kamu pelajari di kampus. Kamu akan menghadapi banyak sekali tipe orang di kantor, dan kamu harus bisa mengatasinya semua.

Rasanya pasti seperti barusan keluar dari tempurung kura-kura. Kamu barangkali biasa menghadapi teman-teman mahasiswamu yang asyik dan gampang dibawa santai. Tapi di tempat kerja mungkin kamu akan menghadapi orang yang keras kepalanya kebangetan, atau orang yang cara kerjanya konservatif kuno dengan senioritas yang tinggi dan susah diajak maju, atau mereka yang sok tahu segalanya.

Cara untuk mengatasi mereka semua adalah dengan menemukan cara dan timing yang tepat untuk berkomunikasi.

Tapi ya enggak semua kayak gitu juga. Kalau kamu mendapatkan lingkungan kerja yang memang komunikatif sih ... you can consider yourself as lucky.


Jadilah pengamat yang baik

Keterampilan komunikasi yang baik akan bisa kamu capai kalau kamu bisa menjadi pengamat yang baik.

Amati lingkungan kerjamu, terutama bagaimana orang-orangnya saling terhubung satu sama lain, bagaimana mereka berkomunikasi. Kalau kamu cukup peka, maka kamu akan bisa menangkap, oh, si bapak ini orangnya begini-begini. Dia paling suka dibeginiin, dia ga suka begitu. Oh, si mbak yang itu orangnya nganuan, jadi mesti dianuin.

(((dianuin)))

Betul, kerja di sebuah perusahaan itu merely adalah tentang "ngemong" orang lain. Bukan sekadar momong, ini adalah momong demi kelancaran pekerjaan kita sendiri juga. Jadi, beda ya, dengan "menjilat" or "kissing asses".

Dengan mengamati orang-orangnya, kamu akan tahu bahwa setiap orang itu unik dan memang butuh treatment sendiri-sendiri.

Hal ini nggak bakalan kamu terima pelajarannya di kampus. Dan, kalau kamu bisa mengembangkan soft skill satu ini sejak kamu magang kerja, yaqin deh, kamu bakalan jadi orang sukses.
Amin!


Belajarlah untuk bekerja sama

Semua orang di kantor tempat kamu magang kerja itu adalah partner. Meski kamu "hanya" magang, tapi kamu pastinya nggak boleh cuma magabut--alias makan gaji buta.

Jadi, belajarlah untuk bekerja sama. Ingat-ingat, bahwa kamu nggak ada di tempat itu buat ngerecokin orang, tapi untuk memberikan kontribusi yang sama besarnya dengan yang lain.

Kamu akan mendapatkan banyak ilmu tentang surviving di kantor yang sebenarnya. Yang di kampus itu, enggak ada apa-apanya.


Seriuslah!

Ya, magang kerja bukan sekadar coba-coba lucu, seperti kata Annpoet.

Magang kerja ya kerja. Kamu latihan kerja yang bener, supaya nanti nggak kaget saat benar-benar mesti cari duit. Dikira gampang apa? Cuma nongkrong di kantor terus digaji? Enggak bisa gitu.

Jadi PNS aja sekarang sudah nggak bisa keluyuran sembarangan kok.

Meski "cuma" magang kerja, tapi anggaplah pekerjaanmu sebagai hal yang serius.
Jangan asal kabur.
Kebiasaan yang buruk itu, Dek. Beneran deh.


Disiplin

Memang kalau kamu statusnya masih belajar, para senior juga akan maklum kalau kamu masih salah-salah, atau masih belum bisa memenuhi target.

Iya, kamu pasti masih akan dimaklumi.

Tapi, seenggaknya disiplinlah saat harus masuk ke kantor. Kalau harus izin atau mungkin kamu agak telat masuk, segera kirim kabar.

Kedisiplinanmu menjadi ukuran keseriusanmu.


Di akhir "masa tugas" nanti, jangan lupa untuk meminta surat rekomendasi pada supervisor atau staf HR atau bos kamu di kantor. Surat magang kerja ini laku banget untuk digadaikan saat kamu benar-benar melamar kerja nanti.

Jadi, jangan sampai lupa minta ya.

Nah, Dek, semoga tip magang kerja dari Qaqa ini bermanfaat ya. Jangan anggap magang kerja itu sebagai hal yang cuma buang-buang waktu, hingga kamu malas-malasan menjalaninya. Magang kerja itu investasi untuk karier kamu mendatang.

Jadi, jangan sekadar coba-coba lucu. Ntar jadi beneran nggak lucu.

5 komentar:

  1. beberapa anak magang emang unik2, ada yang "ngeh" kalau "disentil" dikit, kalau nggak ya mereka masa bodoh walaupun sebenarnya ada banyak kerjaan, yah minimal membantu lah kan mereka tujuannya ga cuma duduk2 doang

    BalasHapus
  2. Memang ada beberapa tipe-tipe orang yang kayak begini. Jangankan magang, Mbak. Dulu udah diterima kerja aja ada yang gak kerja lagi besoknya. Alasannya macam-macam. Mungkin yang seperti ini tipenya coba-coba doang. Kalau cocok hayuk, kalo engga kabur aja.

    BalasHapus
  3. Kalau dulu pas saya ngehonor di sebuah instansi, ada banyak anak2 magang dari SMK (itu disebut magang juga bukan sih?). Dan mereka sregep2, asyik2 aja, apa mungkin dah diwajibkan sekolahnya ya.
    Kalau magang anak kuliahan belum pernah nemu. Paling pas proyek ada anak kuliah yang KP (Kerja Praktek) dan itu meang harus disiplin, kalau nggak ya nggak dapet data :D
    Ya, mungkin skala prioritasnya beda. Anak2 muda sekarang kudunya lebih respect pada dunia kerja dan punya visi lebih jauh ke depan.

    BalasHapus
  4. Jadi inget dulu pernah punya pegawai, si A, masuk bentar trus nggak masuk lamaaaa tiada kabar berita. Setelah diselidiki eh ternyata doi mau melanjutkan kuliah. Gitu nggak ngasih pemberitahuan lebih dulu.
    Satu lagi pegawai, si B juga sering nggak masuknya, seringnya katanya sakit gigi atau sakit perut, ya ampuuuun. Begitu terima pegawai satu lagi si C, eh kok si B jadi rajin, masuk terus tuh, nggak pernah sakit hahaha *numpang curcol
    Tips magang kerja ini ntar mau kutunjukkan ke anakku :)

    BalasHapus
  5. Aku nggak pernah magang, ehm, emang nggak pernah kerja kantoran sih wkwk. Hem, pernah ding hanya sebulan yang sebelumnya jadi freelance di situ 3 bulan. Eh, pas udah diangkat jadi pegawai, akunya nggak kuat. :D Tapi mengundurkan diri dengan baik-baik, nggak pakai kabur.

    BalasHapus