• Home
  • About
  • Daftar Isi
  • Konten Kreatif
    • Penulisan Konten
    • Penulisan Buku
    • Kebahasaan
    • Visual
  • Internet
    • Blogging
    • Marketing
    • User
    • WordPress
  • Media Sosial
    • Facebook
    • Twitter
    • Instagram
  • Stories
    • My Stories
    • Featured
    • Freelancer
  • Guest Posts
Diberdayakan oleh Blogger.
facebook twitter instagram pinterest Email

Carolina Ratri

Dilema Freelancer: Memutus Klien yang Telat Bayar atau Bertahan?

Ada satu klien yang akhir-akhir ini cukup sering bikin saya menghela napas kalau buka catatan pemasukan.

Bukan rewel sih. Mereka justru sangat membebaskan saya mau ngerjain artikelnya seperti yang saya mau. Minim sekali revisi, kalau pengajuan content plan ya hampir 99% diapprove. 

Saya sudah cukup lama bekerja sama dengan klien satu ini, pekerjaannya sudah saya pahami, komunikasinya juga sejauh ini baik-baik saja, dan yang paling penting, fee-nya termasuk yang paling besar. Bisa dibilang 60% dari total pemasukan saya berasal dari satu klien ini.

Masalahnya cuma satu.

Pembayarannya nggak punya jadwal yang jelas.

Kadang ada pembayaran di bulan ini. Kadang baru masuk bulan berikutnya. Pernah juga satu bulan nggak ada pembayaran sama sekali. Lalu saya menunggu sambil berpikir, ini invoice yang kemarin sebenarnya statusnya bagaimana, ya?

Sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Saya sudah tahu polanya. Jadi setiap kali invoice belum cair, saya juga nggak langsung panik. Keuangan sudah saya atur sedemikian rupa sehingga kalau ada pemasukan yang mundur sebulan, masih aman. Saya nggak mau hidup dengan mengandalkan satu tanggal pembayaran dari satu klien.

Tapi tetap saja rasanya mengganjal.

Karena ya ... itu kan uang saya. Ya kan?

Pekerjaannya sudah dikerjakan. Deadline sudah dipenuhi. Invoice sudah dikirim. Lalu bagian saya menerima pembayaran kok rasanya seperti harus menunggu keberuntungan.

Dan mungkin justru karena saya masih bisa menunggu, rasa kesalnya jadi agak aneh.

Kalau sampai nggak punya uang untuk makan atau bayar tagihan, mungkin persoalannya jadi jelas. Saya harus menuntut pembayaran atau berhenti bekerja sama. Tapi ini kan enggak sampai begitu. Saya masih bisa bertahan kalau pembayarannya mundur sebulan.

Cuma, bisa bertahan bukan berarti saya nggak keberatan.

Saya Sebenarnya Mau Memutus, tapi ...

Dilema Freelancer: Memutus Klien yang Telat Bayar atau Bertahan?

Sudah beberapa kali saya berpikir, mungkin sudah waktunya klien ini di-cut saja.

Toh, salah satu hal yang paling sering saya dengar soal menjadi freelancer adalah jangan terlalu bergantung pada satu klien. Kalau sistem kerjanya bikin nggak nyaman, ya cari yang lain. Kalau pembayarannya nggak jelas, ya tinggalkan.

Secara teori memang gampang.

Tinggal bilang, “Maaf, saya enggak bisa lanjut.”

Praktiknya?

Ya, nggak segampang itu.

Klien ini bayarnya paling mahal. Sementara itu, kita semua tahu kondisi mencari pekerjaan sekarang kayak gimana. 

Mendapatkan klien baru sudah enggak gampang sekarang. Kalaupun dapat, belum tentu bayarannya segitu juga. Belum tentu pekerjaannya cocok. Belum tentu orangnya enak diajak kerja. Belum tentu juga kerja samanya bisa bertahan lama.

Sementara yang satu ini sudah jelas. Semua hal yang diidamkan seorang freelancer tuh dia dapet. Cuma ya gitu, enggak jelas soal jadwal pembayaran. 

Saya sudah tahu pekerjaannya seperti apa. Sudah tahu ritmenya. Sudah tahu standar yang diminta. Sudah lama juga bekerja sama, kurang lebih 5 tahun loh. Selama ini sih selalu dibayar, cuma enggak jelas kapan.

Jadi setiap kali kepikiran mau memutus, ujung-ujungnya saya menghitung lagi.

Kalau klien ini hilang, pemasukan saya berkurang berapa?

Kalau saya mencari penggantinya, kira-kira butuh waktu berapa lama?

Kalau ternyata dapat klien baru tapi bayarannya lebih kecil, apakah sepadan?

Lalu kalau ternyata belum dapat apa-apa ... ?

Nah. Kan? Ada yang bisa jawab?

Karena jadi freelance itu memang lucu sih. Kita sering dibilang punya kebebasan memilih klien, padahal pada kenyataannya pilihan itu juga sangat dipengaruhi oleh kondisi rekening.

Saya bisa saja bilang, "Saya nggak mau lagi bekerja dengan klien yang pembayarannya nggak teratur." Tapi setelah itu saya juga harus siap kehilangan pemasukan yang lumayan besar.

Jadi bukan cuma soal berani atau nggak berani. Tapi, mampu apa enggak saya kehilangan pemasukan tersebut.

Dan saya rasa itu yang sering nggak kelihatan kalau orang membicarakan freelance. Enggak banyak orang tahu tentang hal ini.

Yang Bikin Kesal Itu Ternyata Bukan Cuma Uangnya

Dilema Freelancer: Memutus Klien yang Telat Bayar atau Bertahan?

Kalau dipikir-pikir lagi, mungkin yang paling mengganggu saya sebenarnya bukan soal uangnya telat. Kalau sekadar telat, asli zuzur, saya masih bisa menunggu.

Yang bikin sebel adalah perasaan bahwa sesuatu yang sudah menjadi hak saya kok masih harus dipersulit.

Saya sudah melakukan bagian saya. Kalau pekerjaan saya terlambat, saya yang harus bertanggung jawab. Saya kejarin kalau keteteran. Kadang weekend juga saya pakai buat nulis kalau memang kudu dikejar. Lagi pula saya tipe orang yang dengan senang hati enggak tidur demi ngejar deadline.

Kalau tulisan nggak sesuai brief, saya juga revisi. Kalau ada kesalahan, saya juga akan perbaiki.

Karena saya tahunya ya memang begitu cara kerja profesional.

Jadi, buat saya sebenarnya aneh kalau bagian pembayaran bisa begitu longgar. Bukannya itu bagian dari profesionalitas dari pihak klien ya? Common sense kan ya?

Iya, saya juga tahu, kalau mungkin saja klien ada keperluan lain yang lebih mendesak dari pemenuhan hak saya. Tapi ya, gimana ya? Saya juga enggak akan kasih alasan, maaf, saya kemarin gak bisa nulis karena warung ramai. Gitu kan? Ya buat saya, klien kan enggak perlu tahu dan mereka pasti enggak mau tahu. Yang penting, saya melakukan kewajiban saya kan?

Saya juga tidak menuntut dibayar sebelum waktunya. Saya juga tidak meminta perlakuan istimewa. Saya cuma ingin tahu kapan pekerjaan yang sudah selesai itu akan dibayar.

Sesederhana itu.

Dan mungkin karena saya sudah cukup lama bekerja sebagai freelancer, saya jadi makin sadar bahwa urusan pembayaran memang bisa sangat memengaruhi perasaan terhadap sebuah pekerjaan.

Pekerjaan yang sebenarnya biasa saja bisa terasa menyebalkan kalau setiap bulan harus menebak-nebak kapan invoice cair. Sebaliknya, pekerjaan yang mungkin cukup banyak pun bisa terasa ringan kalau semuanya jelas. Saya kerja sekian, invoice sekian, dibayar tanggal sekian.

Saya jadi kepikiran juga, mungkin selama ini saya terlalu permisif.

Karena pembayaran tetap masuk, meskipun telat, saya tetap lanjut kerja. Ketika satu bulan nggak ada pembayaran, saya tunggu. Ketika bulan berikutnya masuk, ya sudah, lega, lalu lanjut lagi.

Begitu terus.

Akhirnya pola itu terbentuk. Saya juga ikut terbiasa dengan ketidakpastian tersebut. Padahal sebenarnya saya nggak suka.

Ini yang sekarang sedang saya pikirkan. Enggak cuma masalah dipertahanin atau enggak, tapi juga tentang batas toleransi saya sendiri. Sampai kapan keterlambatan pembayaran masih bisa dianggap sebagai sesuatu yang bisa ditoleransi? Terus, kapan saya harus bilang, "Oke, cukup."?

Saya belum tahu.

Mungkin untuk sekarang saya masih akan bertahan. Bukan karena saya menganggap sistem pembayarannya baik-baik saja, tetapi karena saya juga harus realistis dengan kondisi pemasukan saya sendiri.

Sambil jalan, saya tetap mengatur keuangan supaya enggak bergantung pada invoice yang belum jelas kapan cairnya. Saya tetap menagih kalau memang sudah waktunya. Dan mungkin saya juga perlu mulai lebih tegas soal pembayaran.

Karena bagaimanapun, saya enggak sedang meminta uang secara cuma-cuma.

Saya sudah bekerja keras untuk mendapatkannya.

Dan mungkin itu yang paling bikin saya kesal dari semuanya. Kadang kita sudah melakukan pekerjaan dengan baik, tepat waktu, dan sesuai kesepakatan. Tetapi tetap saja harus mengeluarkan tenaga ekstra hanya untuk mendapatkan sesuatu yang memang sudah menjadi hak kita.

Freelance ternyata enggak cuma soal mencari pekerjaan. Kadang kita juga harus belajar memperjuangkan supaya hasil pekerjaan itu benar-benar sampai ke rekening.


Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Kuliah Lagi di Usia Jelang 50: Keputusan Paling Impulsif yang Pernah Kubuat

Ada masa ketika hidup berubah bukan karena rencana, tetapi karena keputusan yang harus diambil. Tahun ini, hidupku berubah cukup banyak. Ada hal-hal yang harus kulepaskan, ada rutinitas yang harus kubangun ulang, dan ada kondisi finansial yang ikut terguncang. Di tengah semua itu, aku justru memutuskan mendaftar kuliah lagi di Universitas Terbuka, ambil jurusan Administrasi Bisnis.

Iya, aku sudah punya satu gelar sebelumnya, karena aku sudah sempat kuliah di Arsitektur. Selesai dalam 5.5 tahun, hasilnya juga enggak mengecewakan. Bahkan, aku salah satu dari 40% lulusan terbaik dari Fakultas Teknik.

Terus, kenapa ambil kuliah lagi? Mana beda banget, jurusannya. Nyasar ya, pas masuk Arsitektur?

Hehe iya. Sepertinya memang nyasar, salah jurusan. Tapi dulu sebenarnya memang cita-citanya pengin bikin bisnis keluarga, karena abang-abangku anak-anak Sipil. Ya, kan pas, mereka Sipil aku arsitektur.

Tapi, ya gitu deh. Namanya hidup, enggak ada yang tahu.

Setelah Hidup Berubah, Aku Bertanya, "Sekarang Mau Dibawa ke Mana?"

Lalu, balik lagi ke pertanyaan, kenapa kuliah lagi? Salah satu alasannya, karena aku baru tahu bidang yang memang pengin aku dalami sekarang. Sementara itu, ada lasan lain yang juga tak kalah penting, karena di tahun ini, hidupku memang sedang buanyak sekali berubah.

Setelah melewati beberapa hal yang cukup menguras tenaga, aku menyadari satu hal. Hidup itu enggak otomatis menjadi lebih baik hanya karena kita berhasil melewati masa sulit. Setelah badai berlalu, tetap ada pekerjaan yang harus dilakukan. Tetap ada hidup yang harus dijalani. Tetap ada masa depan yang perlu dibangun.

Aku bisa saja berhenti di fase survival mode terus. Jalan aja hari demi hari, kerja, cari duit, gituuu terus, diulang-ulang. Sampai mati.

Tapi enggak.

Aku merasa, kalau memang harus memulai lagi, sekalian saja kubangun fondasinya.

Karena aku seharusnya enggak cuma harus memperbaiki keadaan hari ini. Tetapi, aku juga harus mempersiapkan diri untuk beberapa tahun ke depan. Demi apa? Demi keluargaku; anak-anakku dan ibuku.

Padahal, dari sisi finansial, aku juga masih nyusruk. Kehilangan beberapa hal sekaligus, soalnya. Tahun 2024-2026 ini memang luar biasa deh. Entah apa yang terjadi di semesta.

So, mungkin keputusanku ini kedengaran terlalu optimistis untuk seseorang yang kondisi finansialnya belum benar-benar stabil. Nyaris setiap hari, aku selalu itung-itung pengeluaran, selalu mempertimbangkan setiap keputusan belanja, dan sesekali bertanya dalam hati apakah langkah ini terlalu berani. Terutama, jangan-jangan semester depan aku gak bisa beli modul lagi.

Namun aku juga tahu, menunggu semuanya sempurna mungkin berarti enggak akan pernah memulai.

Kenapa Memilih Administrasi Bisnis?

Kuliah Lagi di Usia Jelang 50: Keputusan Paling Impulsif yang Pernah Kubuat

Beberapa tahun terakhir aku bekerja sebagai penulis freelance. Dunia menulis sudah menjadi bagian besar dalam hidupku. Dari situlah aku belajar banyak hal, bertemu banyak orang, dan mendapatkan penghasilan.

Belakangan, aku juga membuka usaha kecil.

Warungku bukan tempat yang mewah. Aku melayani print dan fotokopi, menjual sembako, makanan ringan, mi instan, minuman, sampai beberapa menu sederhana yang bisa dinikmati pelanggan. Warung itu masih jauh dari kata besar. Bahkan sampai hari ini, aku masih belajar memahami ritmenya.

Ada hari ketika pelanggan datang silih berganti.

Ada hari ketika warung sepi, tak sampai 10 transaksi.

Ada produk yang cepat habis.

Ada juga yang ternyata enggak jalan sesuai harapan.

Semakin lama menjalaninya, aku semakin sadar bahwa mengelola usaha ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar membuka pintu setiap pagi dan menunggu pembeli datang.

Dalam usaha yang seuprit ini, ada soal pemasaran. Aku juga ngulik soal pelayanan, gimana aku bisa kasih servis bagus tapi juga tegas. Lalu stok barang, kapan aku harus restock, kapan barang dibiarkan habis dulu. Belum lagi soal pencatatan keuangan, dan juga berusaha memahami kebutuhan pelanggan.

Warungku memang baru setahun. Dan selama ini aku belajar dari pengalaman, dari kesalahan, dan dari banyak percobaan. Cara itu memang mengajarkanku banyak hal, tetapi aku ingin memahami semuanya dengan lebih terstruktur.

Itulah kenapa akhirnya aku memilih Administrasi Bisnis.

Aku enggak sedang mengejar gelar. Aku enggak peduli kapan kuliah ini selesai. Setiap semester, aku pun cuma ambil satu mata kuliah. Kadang, satu modul pun enggak habis kubaca dalam satu tahun. Ujian? Ya, kalau mood. Hahahaha.

Karena, aku sedang mencari bekal. Bukan sekadar nilai IPK. Aku sudah enggak butuh IPK.

Hal-Hal yang Kusadari Saat Memutuskan Kuliah Lagi

Kuliah Lagi di Usia Jelang 50: Keputusan Paling Impulsif yang Pernah Kubuat


Semakin kupikirkan, ada beberapa pelajaran yang mulai kusadari selama proses mengambil keputusan ini.

1. Hidup enggak selalu memberi kesempatan untuk memulai dari kondisi yang ideal

Sering kali kita membayangkan akan melakukan sesuatu setelah semuanya beres. Setelah tabungan cukup. Setelah pekerjaan stabil. Setelah masalah selesai.

Sayangnya, life doesn’t work that way. 

Kadang kita memang harus mulai sambil berjalan tertatih. Enggak apa-apa kok mulai dari kondisi yang enggak sempurna.

2. Memulai lagi bukan berarti kembali menjadi orang yang sama sekali baru

Memang ada banyak hal yang berubah dalam hidupku. Banyak. Banget. Dan, enggak semuanya bawa dampak positif.

Tapi yang namanya pengalaman tetap ada.

Pengalaman menjadi penulis.

Pengalaman menghadapi klien.

Pengalaman menjalankan usaha kecil.

Semua itu aku bawa ke titik awal yang baru. Mungkin aku memang sedang memulai lagi, tetapi aku tahu, aku enggak benar-benar kembali ke nol. Hanya saja, arahnya berubah.

3. Aku ingin membangun sesuatu, bukan cuma bertahan

Ada fase dalam hidup ketika targetnya memang hanya satu, bisa melewati hari ini. Karena untuk berpikir jangka panjang, sudah enggak sanggup lagi.

Enggak salah. Bahkan itu bagus buat otak anxiety seperti otakku.

Tapi aku juga enggak pengin berhenti di situ aja. Aku pengin perlahan-lahan membangun sesuatu yang bisa berkembang. Entah itu usahaku, kemampuanku, atau cara berpikirku.

4. Belajar membuatku merasa masa depan masih terbuka

Circa 2024-2025, aku merasa masa depan tertutup rapat untukku. Tapi dengan kuliah lagi, rasanya ada sesuatu yang kembali terbuka.

Setiap kali membaca materi kuliah, aku enggak merasa hanya sedang belajar untuk ujian. Tapi, aku sedang mengumpulkan potongan-potongan pengetahuan yang suatu hari bisa kupakai untuk mengambil keputusan yang lebih baik. Nanti, besok, atau kapan pun.

Barangkali hasilnya enggak langsung terlihat. Tapi aku percaya enggak ada proses belajar yang benar-benar sia-sia.

5. Usaha kecil tetap layak dikelola dengan serius

Warung kecilku mungkin enggak menghasilkan miliaran rupiah. Sudahlah ukurannya kecil, di tengah kampung lagi.

Namun tetap ada pelanggan yang harus dilayani dengan baik. Juga tetap ada uang yang harus dikelola dengan benar. Pun, tetap ada strategi yang harus dilakukan.

Jadi, justru karena masih kecil, aku pengin belajar mengelolanya dengan lebih baik sejak sekarang.

6. Aku enggak ingin rasa takut menentukan semua keputusan dalam hidupku

Aku tetap punya banyak kekhawatiran. Otak anxiety-ku ini benar-benar enggak bisa berhenti berputar.

Aku takut enggak bisa membagi waktu, takut kewalahan, takut kondisi keuangan belum membaik, takut ternyata enggak mampu menjalani semuanya sekaligus.

Tapi aku lebih takut lagi kalau lima tahun dari sekarang aku menyesal karena terlalu lama menunggu keadaan menjadi sempurna.

Warung Kecil Ini Menjadi Tempat Belajarku

Warung Anggita

So, aku sekarang sudah di semester 3. Sudah punya 4 modul, tapi belum pernah ujian. Mungkin aku enggak akan pernah ambil ujian. Entahlah, aku belum mau memikirkannya. Yang penting, sekarang ada 30 menit 60 menit aku bisa buka modul dulu. 

Ada satu hal yang paling membuatku bersemangat. Aku merasa kuliah ini enggak akan berhenti di ruang kelas. Setiap mata kuliah yang kupelajari nanti punya kesempatan untuk langsung bertemu dunia nyata.

Kalau belajar pemasaran, aku bisa mencoba menerapkannya di warung. Kalau belajar manajemen operasional, aku bisa mulai memperbaiki cara mengatur stok. Kalau belajar keuangan, aku bisa lebih disiplin mencatat pemasukan dan pengeluaran. Kalau belajar perilaku konsumen, aku bisa mengamati kenapa pelanggan memilih satu produk dan mengabaikan produk yang lain.

Ya, warung kecilku mungkin enggak sebesar Kopdes Merah Putih. Tapi justru di sinilah tempat belajar yang paling nyata.

So, kalau ditanya, jujur, aku gak tahu akan seperti apa hidupku beberapa tahun lagi.

Aku enggak tahu apakah warung ini akan berkembang, apakah kuliahku akan berjalan mulus, atau apakah semua rencana yang kususun hari ini benar-benar akan terwujud.

Yang kutahu, aku enggak mau hidupku hanya diisi dengan usaha bertahan.

Aku ingin terus membangun, sedikit demi sedikit.

Kalau suatu hari nanti aku membaca tulisan ini lagi, semoga aku bisa tersenyum dan mengingat bahwa semuanya pernah dimulai dari masa yang enggak mudah.

Dan mungkin, keputusan terbaik yang pernah kuambil bukanlah kuliah lagi. Melainkan memilih untuk enggak berhenti membangun hidup, bahkan ketika hidup sedang mengharuskanku memulai dari awal.

Aku memilih tetap melangkah.


Share
Tweet
Pin
Share
4 comments
Hello Again!

Halo!

Gimana kabar? It's been a while sejak terakhir saya mengupdate blog ini. Sudah pasti, blog ini kehilangan banyak pembaca loyal. Ya, gimana enggak? Setahun hiatus, bok! Tapi, kadang kita memang harus punya prioritas bukan?

Enggak, bukannya saya lantas mengabaikan keberadaan blog ini. Justru sesekali, saya juga login, hanya untuk mengecek atau mencari materi. Yah, di situlah saya sadar sendiri, bahwa saya ternyata sudah punya cukup banyak catatan di sini.

Jadi gini.

Saya kemarin baru saja mengerjakan satu artikel pesanan untuk Komunitas Emak Blogger. Di salah satu poinnya, saya menulis bahwa konsistensi tidak sama dengan frekuensi. Artinya, being consistent itu tidak melulu harus ngeblog setiap hari. Bahkan asalkan kita bisa ngeblog satu minggu sekali, atau satu bulan sekali, itu sudah bisa dinamakan konsisten ngeblog.

Sambil nulis itu, sebenernya saya tertampar sendiri.

Apa kabar blog akuhhh? Huhuhu. Satu tahun dianggurin, dicuekin. Ada sih rasa-rasa pengin balik ngeblog lagi. Tapi sungguh, dunia maya itu sekarang ramai betul. Mau ngeblog yang beneran, banyak betul aturannya.

FYI, sehari-hari saya sudah menulis untuk berbagai website dan ngeblog dengan berbagai aturan. Ya nama pun akan selalu ada goals dan KPI kalau buat klien, yekan? Lalu, kepikirannya, kalau nulis di blog sendiri juga kudu gitu dong ya?

Padahal ya, di blog sendiri, ya siapa yang ngatur? Ya kita sendiri atuh, yang punya blog ya kan?

Apalagi ya kayak blog ini, yang memang enggak menerima paid/sponsored post. Apalagi kemudian saya juga ingat, bahwa saya memulai ngeblog dengan niat untuk membuat catatan-catatan dari pembelajaran yang saya dapatkann sendiri. Kalaupun ada orang lain yang bisa ikut merasakan manfaatnya, ya itu kan bonus. Ya kan?

Mengapa justru tujuan saya ngeblog jadi berubah ya?

Saya kan enggak dituntut sama siapa-siapa kalau nulis di blog sendiri? Nggak kayak kalau saya nulis buat klien, sudah pasti ada goals tertentu yang harus saya capai. Di blog sendiri kan enggak?

Makanya, beberapa hari ini kemarin saya kepikiran melulu.
Dulu tujuan ngeblog saya kan enggak begini.
Dulu kan, saya nulis karena merasa dunia nyata yang saya jalani tuh "enggak cukup" untuk menampung pemikiran saya yang suka mbleber ke mana-mana.
Dulu saya nulis di sini buat catatan pribadi, apa-apa yang jadi kesalahan saya, apa-apa yang saya pelajari, karena saya pelupa akut.

Mengapa jadi berubah ya?

Entahlah.

And then, saya memutuskan untuk kembali ngeblog. Kembali ke "jalan yang benar".
Doakan saja, saya bisa menumpahkan semua ide dan pembelajaran saya lagi di sini. Meski saya juga tetap enggak berani mematok waktu, dan mungkin akan lebih banyak tulisan bersalut curhat, tapi sungguh, saya pengin update blog lagi ke depannya.

Biar saya nggak bebas menulis selama seminggu, tapi saya pengin ngelemesin free style writing lebih sering di mari.

So, semoga jadi lebih enteng ya, lebih ringan. Jangan anggap blog sebagai beban ya, Mak. Anggaplah sebagai tempat curhat, sekaligus untuk mencatat berbagai pembelajaran dan solusi dari masalah yang dihadapi.

Semoga orang lain yang punya sttuggling yang sama juga bisa memetik manfaatnya.

Share
Tweet
Pin
Share
12 comments


Dear pemilik blog/situs Detikpedia,

Selamat pagi/siang/sore.
Semoga Anda sekeluarga senantiasa sehat sejahtera hari ini.

Seperti saya juga, merasa sehat sampai pagi ini saya menemukan situs Anda. Lucu juga bahwa notifikasi pingback dari situs Anda malah masuk ke situs Kumpulan Emak Blogger. Saya yang kebetulan punya kunci untuk login di TKP, jadi bisa menemukannya pagi ini.

Kaget saya, melihat sederet notifikasi pingback tersebut. Saya pikir mungkin Makmin lain sedang kerja dengan menaruh internal links, ternyata notifikasi pingback tersebut datang dari situs Anda. Lebih heran lagi, karena saya merasa akrab betul dengan judul-judul tulisan yang memberikan pingback tersebut.

Hmmmm. Kayak kenal gitu.

Penasaran, saya pun mengikuti pingback yang berujung ke situs Anda.
Well, tentu saja saya mengenali judul-judul tulisan ter-pingback itu, karena itu adalah tulisan saya, yang sudah saya publish di blog ini tapi kok bisa-bisanya muncul di situs Anda.

Penasaran, saya pun menelusuri lebih jauh.
Makin kaget lagi, ketika saya menemukan 2 kategori dalam situs Anda hampir semuanya berisi tulisan saya yang sudah publish di blog ini.

Kenapa artikel2 blogku tayang di Detikpedia ya? pic.twitter.com/pbck33OEyK
— Carra IG @seenema.id (@CarolinaRatri) February 28, 2019

Dan ini juga. pic.twitter.com/rst3dS6TzG
— Carra IG @seenema.id (@CarolinaRatri) February 28, 2019
Wow!
Just wow!

Saya melihat tulisan saya memenuhi 2 kategori; di kategori Content Writing dan di kategori Blogging.

Saya enggak tahu apa tujuan dan motivasi Anda melakukannya, tapi sependek pengetahuan saya, cara kopas artikel secara membabi buta seperti ini disebut dengan PLAGIARISM. Dan pelakunya disebut sebagai PLAGIAT.

Itu yang sependek saya tahu.

So, pagi ini saya mencoba tetap tenang dan tabah. Saya coba untuk mengirimkan email komplain melalui email yang saya temukan di laman situs Anda, yaitu di info@detikpedia.info.
Meski sebenarnya saya ragu banget, email itu akan beneran Anda baca, atau bahkan bisa sampai pada Anda.



Ternyata dugaan saya benar.
Alamat email tersebut fiktif, terbukti saya mendapatkan notifikasi kegagalan kirim dari MAILER DAEMON.



Langkah lain saya coba lakukan. Saya lookup whois, barangkali saya bisa menemukan informasi lain yang bisa berguna. Ternyata nihil juga. Kontak Anda tidak tercantum.
Maka, saya yang sudah mulai putus asa, mencoba kirim ke abuse@namecheap.com, dan berusaha mengajukan komplain.



Ternyata namecheap.com juga nggak bisa membantu.

So, sepertinya saya hanya bisa meminta takedown dari Google--hal terakhir yang sebenarnya pengin saya lakukan. Dan itu pun saya juga nggak tahu, bakalan berhasil atau enggak.

Lalu, buat apa saya menulis surat terbuka ini?
Hemat saya, jika Anda sampai mengkloning sebegitu banyaknya tulisan saya untuk situs Anda, maka mau tidak mau, Anda pasti memonitor blog saya ini. Jika surat terbuka ini terpublish nanti, saya sih berharapnya, semoga Anda ngeh dan aware juga.

Syukur-syukur, kalau Anda pakai alat kloningan secara otomatis, surat terbuka ini juga akan terpublish di situs Detikpedia Anda itu.

Jika memang Anda sudah membaca surat terbuka ini, maka dengan segenap kerendahan hati, saya meminta Anda untuk menurunkan semua artikel yang Anda ambil dari blog ini. Tak perlulah saya menjelaskan, mengapa saya meminta ini dari Anda. Anda pasti sudah tahu apa alasannya.
Karena saya pikir, Anda pasti orang cerdas.

Demikian surat terbuka ini.
Saya nggak akan menulis panjang lebar.
Sudah hilang nafsu saya untuk update blog minggu ini.

Saya pernah bilang ke orang-orang yang mengalami kasus serupa. Nggak perlu marah berlebihan. Pakai energi rage-nya untuk berkarya lebih baik lagi.

Barangkali Anda sekarang juga menertawai saya di balik situs Anda tersebut. Saya terima. Nggak papa. Saya akan berusaha legowo. Bagaimanapun menjadi plagiat tak pernah bagus secara kualitas. Sekali plagiat, seterusnya akan menjadi plagiat.

Saya hanya akan berusaha lebih baik lagi.
Cuma ya, ... *sigh* baru kemarin sepertinya saya bikin status karena kejengkelan saya terhadap orang-orang yang punya kelakuan miring--suka kulakan di kelas online dan kemudian materinya dipakai lagi untuk kelas online yang dia pegang sendiri. Sekarang kok ya terus ada kasus seperti ini lagi.

*deep sigh*
SMH. Orang-orang ini otaknya pada di mana ya?
Pardon me, tapi saya bingung memang.

Sementara ini, saya hanya bisa mengusahakan takedown pada Google. Sepertinya akan butuh usaha ekstra, jadi mari kita lihat sampai seberapa jauh saya bisa melakukannya.
Share
Tweet
Pin
Share
24 comments


Disclaimer: Postingan kali ini adalah postingan curcol, panjang, dan kebanyakan kata 'saya'. Please skip, kalau tidak tertarik.


Kemarin di sebuah kelas online, saya agak sedikit kesel. Yah, saya tahu sih, seharusnya saya nggak boleh merasa kek gitu. Apalah saya?

Harusnya ya saat semua peserta sudah melaksanakan kewajibannya--which is membayar uang pendaftaran--maka dalam bentuk dan kondisi apa pun, mereka harus mendapatkan haknya, yaitu materi yang sudah saya siapkan. Memberikan materi seutuhnya dan memfasilitasi mereka belajar adalah kewajiban saya.

Betul enggak sampai di sini?

Sedangkan, apa hak saya? Menerima kompensasi. Tapi, ini urusan saya dengan pihak inisiator. Biarlah tetap menjadi urusan saya, nggak akan saya bahas di sini.

Tapi bukan itu permasalahannya.

Sejak awal, saya sudah semacam "diperingatkan" oleh partner moderator saya yang baik hati itu--yang bisa banget ngademin suasana--bahwa kemungkinan nanti yang aktif ya 4L--loe lagi loe lagi. Saya bilang, baik, saya siap. Berapa pun yang mau serius dengan kelas, saya akan tetap profesional memberikan materi.

Tapi kenyataannya ....



Belajar itu memang hal yang berat ya, cyint.
Saya ngerasain sendiri dulu pas sekolah. Meski 'katanya' saya anak pinter, tapi saya ini bukan tipe anak yang pinter dari lahir. Saya mendapatkan nilai-nilai yang bagus (tapi nggak pernah menjadi yang terbaik)--saya pikir--adalah karena usaha kerja keras belajar setiap malem. Saya banyak bikin rangkuman, saya bikin mindmap (waktu itu sih saya nggak kenal istilah mindmap, tapi saya sudah bikin demi bisa mengingat dan melogika pelajaran yang saya terima), dan saya rajin ngerjain PR.

Pokoknya kalau nilai ulangan, rapor, dan IP saya bagus, itu karena saya kerja keras. Kalau orang lain sih bilangnya saya rajin. Rajin banget. Itu katanya. Kalau saya, saya kerja keras. Saya rasa, rajin dan kerja keras itu beda banget deh. Entahlah. Yang pasti, saya tahu, kalau saya nggak pernah mau punya nilai jelek yang bakalan bikin saya lebih susah lagi.

Ada tuh temen saya, yang kalau ada PR nyalin punya teman, kalau ada ulangan nggak pernah belajar. Tapi dia tuh ulangan nilainya selalu bagus, dan selalu masuk 10 besar. Ada tuh. Dan bikin KZL sumpah! Saya udah ta belain belajar mati-matian, nilai nggak pernah bisa ngalahin dia. KZL ZBLnya masih kerasa sampai sekarang, Ferguso. =))

Hingga hari ini, pemahaman bahwa 'belajar itu berat' juga saya tanamkan ke anak-anak. Bawelin mereka setiap hari, bahwa belajar itu memang susah. Jangan cuma mau belajar hal-hal yang gampang doang, sedangkan yang susah dimalesin. Bagaimanapun, di sekolah kan kita nggak bisa menghindarinya.

Pun nanti, ya masa saat mereka selesai sekolah, mereka akan lari dari kesulitan yang datang sih? Misal ada A dan B yang harus dituntaskan. Masalah A ngeselin, yang B gampang. Terus yang diselesaikan B doang, yang A dihindari? Saya pikir, kalau anak sampai kek gitu ya jadilah dia anak tempe.

Belajar memang berat.
Itu pula yang saya alami beberapa tahun belakangan. Profesi saya sebagai freelancer, mengharuskan saya belajar banyak hal secara mandiri. Mulai dari belajar nulis yang baik, belajar bikin desain grafis yang kekinian, sampai belajar teknis SEO (yang dulu amit-amit jabang bayi, saya nggak mau sentuh saking malesinnya). Saya belajar menaklukkan Instagram, belajar jualan dengan kata-kata tapi secara soft selling. Belajar copywrite biar bisa bikin konten yang enggak bisa ditolak orang.


Kenapa semua harus saya pelajari?
Karena saya yakin dan tahu betul, bahwa di luar sana tuh yang lebih dari saya tuh buanyak! Akhirnya balik lagi ke pemikiran saat saya masih sekolah. Kalau saya nggak belajar dengan keras, saya bisa nggak naik kelas. Maka, kalau saya nggak mau kalah dari semua orang yang udah pinter dari sononya--apalagi mereka diberkahi juga dengan materi yang lebih banyak--ya udah maka saya harus kerja keras.

Dan, karena saya ini nggak punya modal, maka saya hanya bisa belajar secara mandiri. Baca artikel-artikel mereka yang lebih pinter. Nanya-nanya sana-sini.

Dan, sadar betul. Karena saya nggak punya uang buat bayar seseorang untuk menjadi mentor saya, maka saya nanya ke orang lain tuh nggak pernah lengkap. Mengapa? Karena ilmu itu buat saya nggak ada yang gratis. Semua ada "harga"-nya. Apalagi ilmu. Mahal lo, ilmu itu. Pikir saya, kalau saya nanyanya dikit tapi pas, ntar ada clue. Maka clue itu yang kemudian saya telusuri sendiri. Dapet deh yang saya cari :))

Makanya kemarin juga ada yang nanya tip untuk menaikkan PV. Saya jawab, yuk, ikutan kelas online. Lalu dia nanya lagi, gratiskah? Yha! Hahahaha. Kalau mau gratis, kamu mesti siap untuk belajar otodidak, Luis Fernando.



Nah, balik lagi ke saya yang nanya orang. Karena nanya nggak lengkap maka dijawabnya juga nggak lengkap dong. Padahal saya kepoan. Akhirnya telusuri sendiri. Terus ngeh. Oh ini begini jadinya begitu. Oh yang itu tuh karena sebab ini, jadi penyebab ini harus dibikin begono supaya begitu. Dikembangin sendiri. Melalui ribuan trial and error.

Sampai kemudian sampai sekarang ini. Semua hal yang saya dapatkan tuh gratis. Karena ya, saya cuma bisa mencuri ilmu. Saya curi ilmunya Mbak Indah Juli, Mas Febriyan Lukito, Langit Amaravati, Jon Morrow, Gretchen Rubin, Darren Rowse, Neil Patel, ... semuanya. Mereka nggak sadar juga kali, ilmunya saya serap sedemikian rupa :)) Saya ambil ilmu mereka, lalu dipraktikkan. Diutak-atik sendiri, hingga ketemu formulasi yang paling sesuai untuk saya terapkan sendiri.

Hukumnya tuh berlaku. Kamu mau gratis, maka usaha lebih ekstra. Kalau kamu nggak mau usaha ekstra, berarti kamu mesti punya sesuatu untuk "ditukarkan" dengan kemudahan itu.

So, karena pengetahuan yang saya dapatkan itu gratis semua, maka semua juga saya catat di sini. Teman-teman bisa mendapatkannya dengan cara yang sama dengan saya; dibaca, dipraktikkan sendiri, diutak-atik sendiri, disesuaikan, lalu akan ketemu formulasi yang pas. Trial and error itu sudah pasti.

Gratis? Gratis. Catatan saya selama belajar, semua ada di blog ini. Saya catat juga bukan buat apa-apa, tapi saya pelupa! Saya nggak mau nanti terjebak dulu saya nggak bisa-belajar-lalu bisa-sekarang lupa. Ini mah malesin amat :)) Maka, semuanya saya catet di sini. Ada yang mau memanfaatkan, silakan. Tapi ya itu tadi, mandiri.

Makanya, saya selalu angot-angotan sebenarnya saat diminta untuk bikin kelas atau jadi mentor. Coba tanya Mas Ryan, Mas Dani, atau Mbak Indah Juli deh. :)) Maaf, saya nggak sombong, songong etc. Tapi karena semua yang saya tahu itu sudah saya catat di blog ini. Gratis ini. Ya, paling butuh kuota sih buat ngakses ya? Hahaha.

Emang ada orang yang mau bayar saya buat ngasih materi yang sebenarnya sudah saya berikan gratis? Sungguh, saya nih bukan tipe orang yang suka memanfaatkan ketidaktahuan orang lain untuk kemudian diubah menjadi sesuatu yang akuntabel seperti duit. Makanya, mentoring tak pernah ada dalam rencana saya untuk monetasi blog. Karena saya sadar penuh, bahwa yang saya ketahui sekarang itu belum banyak.

Eh lhah, ternyata ada yang mau ya? :))))))


Saya yang tadinya males-malesan mentoring akhirnya ya "termakan" rayuan pihak inisiator kelas online itu. Hahaha. (tapi aku hormat lo, sama sang inisiator ini. Warbiyasak banget!) Akhirnya bikin kelas berbayar. Bikin berbayarnya juga dengan alasan, supaya orang lebih serius mengikuti materi dan praktik langsung.

Saya heran banget. Sampai sekarang.
Ada ya, yang mau bayar saya buat jadi mentor? Ahahaha. Sungguh nggak layak deh. Rasanya masih gamang aja gitu sampai sekarang. Padahal 1 kelas pemula sudah selesai, dan sekarang kelas kedua sedang berlangsung.

Sampai sekarang tuh, saya masih takjub, ini pada beneran mau bayar saya? O_O

Makanya, saat saya menemukan kalau ada yang menyia-nyiakan kesempatan untuk belajar itu saya jadi KZL sendiri. Mungkin juga karena saya baperan sih. Inget, saya dulu susah lo dapetin formulanya. Ini tinggal saya deliver aja, terus pada cobain. Misal nanti ada ketidaksesuaian ya kan logikanya jalannya enggak terlalu panjang.

Hingga kemudian pagi ini, saya menemukan tulisan Mbak Ainun Chomsun di blog Akademi Berbagi ini.




Saya menghela napas. Ternyata ada yang lebih parah.

Ini sih istilahnya sudah disuapin aja nggak mau makan. Padahal ya, udah nggak perlu nyari "makan" sendiri, disediain, disuapin pula. Masih saja ada yang susah untuk belajar. Maunya, disuapin, makanannya enak dan yang kekinian, disuapin sama Raisa, terus pulang dari disuapin masih minta oleh-oleh.

Hvft.
Sungguh, saya miris. Ini sebenarnya yang butuh ilmu siapa sik?

Heran.

Beginikah mindset kita mengenai proses belajar? :( Pantas saja ya cuma begini-begini aja ya? Sedih akutu.

Tapi kemudian saya sendiri tertampar di alinea kedua. Akhirnya saya bertanya pada diri sendiri. ngapain ya, saya kesel sama peserta kelas online-nya? Ya, mungkin saya kesel karena saya merasa mereka menyia-nyiakan kesempatan belajar yang saya rasa lebih mudah ini--yang enggak bisa saya dapatkan.

Tapi, hal tersebut seharusnya enggak boleh menyurutkan semangat saya.




Lihat, yang gratisan aja punya semangat kek gini. Saya? Aduh, saya malu sekali. Seharusnya berapa pun yang terlibat aktif itu nggak mengendurkan semangat saya, bukan? Tapi ya gimana ya, saya hanya merasa, duh sia-sia banget sih, udah bayar.

Saya pribadi mah, mau pada aktif atau enggak, saya menerima jumlah yang sama :)) Ini kalau kita mau itung-itungan materi ya--which is rada malu-maluin sih. Tapi kan, kita harus realistis. Udah investasi lo ini, masa nggak dapat deviden apa-apa? Iya nggak, Mas Dani? Saya mikirinnya dengan berdiri di sepatu para peserta inih.

Tapi saya masih ada harapan sih. Bahwa meski tak semua aktif, tapi semoga pada nyimak. Mereka mau mengunduh materinya, dan kemudian nanti jika memang mereka sudah longgar, mereka bisa memraktikannya sendiri.

Semoga.
Share
Tweet
Pin
Share
16 comments


Oke, artikel kali ini memang bukan soal nulis konten ataupun ngulik media sosial, tapi saya mau cerita soal magang kerja.

Beberapa waktu yang lalu, perusahaan penerbitan tempat saya kerja membuka lowongan magang kerja untuk para dedek mahasiswa. Syaratnya gampang, nggak pake aneh-aneh. Cukup semester 5, terus suka membaca dan menulis. Seterusnya, bisa diatur.

Magang kerja di kantor penerbitan itu cukup ringan kok. Boleh masuk jam berapa pun, asal memenuhi 4 jam setiap harinya. Boleh dikoordinasi dulu sama Bubos. Soal uang saku, ya lumayanlah ya. Cukup banget buat makan siang di warung. Kalau bisa menghemat, ya bisa untuk jajan-jajan ini itu. Kalau sudah selesai masa magangnya, bakalan dikasih merchandise dan buku seabrek-abrek.

Suasana kerja? Yah, sama kayak karyawan yang lainlah. Serius tapi santai.

Kalau kantor penerbitan ini sih sudah beberapa kali menerima mahasiswa magang. Mostly kerjanya bagus, sebenarnya. Bahkan kemarin pas ada acara outing bareng sekantor, 2 mantan pemagang ikut diajak rafting di Kali Progo lo.

Tapi yang terakhir kemarin ini lucu.
Kita buka lowongan, kriteria kurang lebih sama.
Oleh Bubos, terpilihlah satu orang. Bukan yang ideal, tapi ya yang paling lumayan di antara semua.

Tapi, apa yang terjadi?

Saat ditelepon untuk mengonfirmasi bahwa dia diterima, dia menjawab, "Maaf, Mbak. Saya berubah pikiran. Saya mau fokus kuliah aja."

WTF ...
(((berubah pikiran)))

Yang kemudian berbuah saya ngomel di Twitter


Beberapa kali kecewa dengan internship. Baik di perusahaan yg skrg, maupun yg kemarin2.

Kenapa ya? Attitude-nya pada menyebalkan?
— Carra IG @id.reviewfilm (@CarolinaRatri) September 20, 2018

Dan, kemudian, si Annpoet ngereply begindang.


di kantor sekarang juga ada yang:
- baru masuk 1 hari sudah gak berangkat lagi besoknya
- baru dapet gaji 1 bulan pertama, kabur begitu aja
- baru setengah hari di kantor (perkenalan), istirahat di luar gak balik lagi.

dikira coba-coba lucu kali ya..
HRD sampe udah males ngejar
— Annisa Putri R. (@annpoet) September 20, 2018


Yha!
Ini sih parahbet.

Dan terus, ChiEru nimbrung:


Ada jg yg cancel gegara uniform pake sepatu formal 😒
— chi eru (@chieru_bE) September 20, 2018


Memang sejak zaman saya dulu, yang namanya magang kerja atau Kerja Praktik itu kadang cuma dianggap formalitas saja. Kadang sebagai mahasiswa kita nih istilahnya masih belum "butuh uang" banget-banget. Asal masih bisa makan di warmindo saja, itu sudah cukup. Selebihnya, ya uwislah, buat senang-senang. Mumpung masih muda, katanya.

Padahal, kalau kesempatan magang kerja ini dimanfaatkan sebaik-baiknya, bukan nggak mungkin jadi jalanmu untuk berkarier mulus lo.

Editor buku indie-nya kantor aja mantan anak magang yang karena kerjanya bagus banget lantas dilamar sama Bubos untuk jadi karyawan tetap. Sekarang, beneran jadi karyawan tetap dan sudah menjadi manager penerbitan!

Think about that, wahai para dedeq mahasiswa!

Memang sih nggak semua menyebalkan, tapi cerita internship atau para magangers yang menyebalkan ini bukannya jarang saya dengar.

Saat saya masih kerja di kantor lama yang bergerak di industri kreatif desain interior dan furniture expor itu, saya juga pernah ngurusin sepasang magangers.
Dan, saya baru nemu tweet tentang salah satunya lagi barusan.


sungguh... anak magang itu enggak banget. Beri saya kesabaran, Tuhan. Karena kalo Kauberi aku kekuatan, yg ada aku akan nonjok itu bocah...
— Carra IG @id.reviewfilm (@CarolinaRatri) August 11, 2012


Huahahaha. Sampai sebel kek gitu ya?

So, artikel kali ini saya dedikasikan buat kamu, para dedeq mahasiswa, yang pengin magang kerja, atau istilah kerennya intership, dan pengin memanfaatkannya semaksimal mungkin demi masa depanmu sendiri.

Kuncinya adalah pada hari pertama kamu mulai masuk.
Seperti halnya saat seorang karyawan baru di hari pertamanya bekerja, hari pertamamu magang kerja akan menjadi penentu hari-harimu selanjutnya di kantor itu.


So, beberapa hal ini bisa kamu lakukan di hari pertama magang kerja kamu

Klarifikasi ekspektasi perusahaan tempat kamu magang kerja terhadapmu

Apa yang mereka harapkan untuk didapatkan darimu, hasil seperti apa yang mereka inginkan?

Tanyakan hal ini pada supervisormu, lalu negokan jika ada satu dua hal yang mungkin tak sanggup kamu lakukan.

Tapi jangan semua dinegokan juga. Kamu harus terlihat mau berusaha untuk belajar. Bagaimanapun, dunia kerja itu lebih kompleks ketimbang teori-teori yang kamu pelajari di kampus. Bahkan bisa jadi berbeda 180 derajat.


Jangan bawa semua idealismemu ke kantor

Tinggalkan saja di kampus.

Karena ya itu tadi, dunia kerja itu bisa jadi jauh berbeda dengan teori-teori yang kamu dapatkan di kampus. Pelajaran yang sesungguhnya akan kamu terima seiring hari-hari kerjamu berjalan.

Siap-siap saja.


Fokuslah pada keterampilan komunikasi

Inilah soft skill yang tak akan pernah kamu pelajari di kampus. Kamu akan menghadapi banyak sekali tipe orang di kantor, dan kamu harus bisa mengatasinya semua.

Rasanya pasti seperti barusan keluar dari tempurung kura-kura. Kamu barangkali biasa menghadapi teman-teman mahasiswamu yang asyik dan gampang dibawa santai. Tapi di tempat kerja mungkin kamu akan menghadapi orang yang keras kepalanya kebangetan, atau orang yang cara kerjanya konservatif kuno dengan senioritas yang tinggi dan susah diajak maju, atau mereka yang sok tahu segalanya.

Cara untuk mengatasi mereka semua adalah dengan menemukan cara dan timing yang tepat untuk berkomunikasi.

Tapi ya enggak semua kayak gitu juga. Kalau kamu mendapatkan lingkungan kerja yang memang komunikatif sih ... you can consider yourself as lucky.


Jadilah pengamat yang baik

Keterampilan komunikasi yang baik akan bisa kamu capai kalau kamu bisa menjadi pengamat yang baik.

Amati lingkungan kerjamu, terutama bagaimana orang-orangnya saling terhubung satu sama lain, bagaimana mereka berkomunikasi. Kalau kamu cukup peka, maka kamu akan bisa menangkap, oh, si bapak ini orangnya begini-begini. Dia paling suka dibeginiin, dia ga suka begitu. Oh, si mbak yang itu orangnya nganuan, jadi mesti dianuin.

(((dianuin)))

Betul, kerja di sebuah perusahaan itu merely adalah tentang "ngemong" orang lain. Bukan sekadar momong, ini adalah momong demi kelancaran pekerjaan kita sendiri juga. Jadi, beda ya, dengan "menjilat" or "kissing asses".

Dengan mengamati orang-orangnya, kamu akan tahu bahwa setiap orang itu unik dan memang butuh treatment sendiri-sendiri.

Hal ini nggak bakalan kamu terima pelajarannya di kampus. Dan, kalau kamu bisa mengembangkan soft skill satu ini sejak kamu magang kerja, yaqin deh, kamu bakalan jadi orang sukses.
Amin!


Belajarlah untuk bekerja sama

Semua orang di kantor tempat kamu magang kerja itu adalah partner. Meski kamu "hanya" magang, tapi kamu pastinya nggak boleh cuma magabut--alias makan gaji buta.

Jadi, belajarlah untuk bekerja sama. Ingat-ingat, bahwa kamu nggak ada di tempat itu buat ngerecokin orang, tapi untuk memberikan kontribusi yang sama besarnya dengan yang lain.

Kamu akan mendapatkan banyak ilmu tentang surviving di kantor yang sebenarnya. Yang di kampus itu, enggak ada apa-apanya.


Seriuslah!

Ya, magang kerja bukan sekadar coba-coba lucu, seperti kata Annpoet.

Magang kerja ya kerja. Kamu latihan kerja yang bener, supaya nanti nggak kaget saat benar-benar mesti cari duit. Dikira gampang apa? Cuma nongkrong di kantor terus digaji? Enggak bisa gitu.

Jadi PNS aja sekarang sudah nggak bisa keluyuran sembarangan kok.

Meski "cuma" magang kerja, tapi anggaplah pekerjaanmu sebagai hal yang serius.
Jangan asal kabur.
Kebiasaan yang buruk itu, Dek. Beneran deh.


Disiplin

Memang kalau kamu statusnya masih belajar, para senior juga akan maklum kalau kamu masih salah-salah, atau masih belum bisa memenuhi target.

Iya, kamu pasti masih akan dimaklumi.

Tapi, seenggaknya disiplinlah saat harus masuk ke kantor. Kalau harus izin atau mungkin kamu agak telat masuk, segera kirim kabar.

Kedisiplinanmu menjadi ukuran keseriusanmu.


Di akhir "masa tugas" nanti, jangan lupa untuk meminta surat rekomendasi pada supervisor atau staf HR atau bos kamu di kantor. Surat magang kerja ini laku banget untuk digadaikan saat kamu benar-benar melamar kerja nanti.

Jadi, jangan sampai lupa minta ya.

Nah, Dek, semoga tip magang kerja dari Qaqa ini bermanfaat ya. Jangan anggap magang kerja itu sebagai hal yang cuma buang-buang waktu, hingga kamu malas-malasan menjalaninya. Magang kerja itu investasi untuk karier kamu mendatang.

Jadi, jangan sekadar coba-coba lucu. Ntar jadi beneran nggak lucu.
Share
Tweet
Pin
Share
9 comments
Older Posts

Cari Blog Ini

About me





Content & Marketing Strategist. Copy & Ghost Writer. Editor. Illustrator. Visual Communicator. Graphic Designer. | Email for business: mommycarra@yahoo.com

Terbaru!

Kapan Waktu buat Nulis? Begini Cara Saya Membagi Waktu dengan Urusan Warung dan Rumah

Kalau ditanya kapan saya punya waktu untuk menulis, jawabannya enggak pernah pasti. Jadi, memang bukan di jam segini atau jam segini. Dalam ...

Postingan Populer

  • 15 Ide Style Feed Instagram yang Bisa Kamu Sontek Supaya Akunmu Lebih Stylish
    Hae! Kemarin saya sudah bahas mengenai do's and donts dalam mengelola akun Instagram , terus ada pertanyaan yang mampir, "Ka...
  • Beberapa Tip Jitu untuk Membantu Kamu Menjaga Konsentrasi dan Fokus Menulis
    Masalah fokus atau konsentrasi biasa memang menjadi permasalahan umum bagi para penulis--baik itu penulis buku, konten, dan blog. Dist...
  • Yang Harus Blogger Ketahui Mengenai Link Eksternal - The Bloggers' Biggest Fear
    Warning: artikel ini akan panjang. Tapi I guaranteed, akan membahas hingga ke detail mengenai outbound links atau link eksternal. Karena...
  • Ukuran Feed Instagram 6 Kotak dan Cara Membuatnya Tanpa Ribet
    Eits. Bukan, ini bukan fitur baru. Ada yang nanya soal feed Instagram 6 kotak dari Google, masuk deh ke Console. Hehehe. Iya, ini bukan fitu...
  • Bagaimana Cara Menulis 100 Kata Pertama yang Ajaib Agar Orang Mau Terus Membaca Artikel Kita
    5 Cara Menulis 100 Kata Pertama yang Ajaib Agar Orang Mau Terus Membaca Artikel Kita Dalam artikel guest post mengenai Cara Mudah Tuli...

Blog Archive

Portofolio

  • Buku Mayor
  • Portfolio Konten
  • Portfolio Grafis
  • Konten Web
  • Copywriting
  • E-book
  • Buku Fiksi
  • Ilustrasi

Follow Me

  • instagram
  • Threads

Created with by ThemeXpose