Kapan Waktu buat Nulis? Begini Cara Saya Membagi Waktu dengan Urusan Warung dan Rumah
Kalau ditanya kapan saya punya waktu untuk menulis, jawabannya enggak pernah pasti. Jadi, memang bukan di jam segini atau jam segini. Dalam sehari, saya harus membagi waktu untuk urusan rumah, anak, warung, dan pekerjaan menulis. Semua sudah punya slot masing-masing karena kalau dibiarkan mengalir begitu saja, salah satu pekerjaan bisa ikut terbengkalai.
Rutinitas saya memang mulai pagi banget, berhubung saya memang tipe morning person. Saat sebagian orang masih tidur, saya sudah masuk dapur dan berkutat di kerjaan domestik. Dalam satu hari, waktu untuk menulis saya pecah menjadi beberapa sesi supaya tetap bisa mengurus semuanya.
Pola Membagi Waktu yang Saya Jalani Setiap Hari
Dalam membagi waktu, saya juga sengaja memberi jeda untuk makan, minum kopi, dan beristirahat supaya bisa lebih fokus nulisnya.
1. Pagi Buta: Domestik
Pukul 03.00 adalah awal hari saya. Yang saya kerjakan lebih dulu adalah menyiapkan bekal dan mencuci baju. Setelah itu, yang lain-lain, mulai dari beberes kamar dan seterusnya. Setelah semua siap, sekitar pukul 06.00 saya mengantar anak ke sekolah.
Rutinitas ini memang cukup pagi, karena bekal kan harus sudah siap pukul 06.00 itu untuk dibawa sekolah. Setelah mengantar anak, saya pulang dan sarapan. Baru setelah itu saya bersiap membuka warung.
Baca juga: Cara Mengatur Keuangan sebagai Freelancer Saat Penghasilan Nggak Pernah Pasti
2. Beberes Warung
Pukul 07.00 adalah waktunya membuka warung sekaligus membereskan area yang perlu dibersihkan.
Saya memang berjualan sambil bekerja sebagai penulis. Artinya, laptop bukan satu-satunya benda yang harus saya perhatikan pada satu hari itu. Ketika ada pembeli, pekerjaan menulis akan harus berhenti sebentar. Setelah pembeli selesai dilayani dan keadaan kembali sepi, saya bisa kembali ke laptop. Juggling jadinya.
Karena kondisi warung tidak selalu bisa ditebak, saya membuat sesi menulis yang terpisah. Cara membagi waktu seperti ini membuat saya enggak menggantungkan pekerjaan menulis pada satu sesi panjang.
Kalau pagi itu warung sedang ramai, sesi menulis bisa mundur beberapa menit. Saya enggak menganggap jadwalnya gagal hanya karena bergeser. Saya tinggal melanjutkan ketika ada kesempatan.
3. Membagi Waktu Menulis Jadi Lima Sesi
Nah, ini bagian yang paling penting. Saya enggak menargetkan duduk di depan laptop selama berjam-jam tanpa berhenti. Waktu menulis saya pecah menjadi lima sesi. Karena attention span saya memang terbatas.
Sesi pertama dimulai pukul 08.00. Setelah sekitar satu jam, pukul 09.00 saya berhenti untuk istirahat. Jam sembilan ini saya memang harus berhenti menulis, karena ada tukang sayur, tukang jajanan, tukang jamu dan lain sebagainya biasanya mampir. Warung saya jadi hub pedagang mendadak. Wkwkwkwk. Nulis pasti gagal, karena enggak akan fokus. Pasar dadakan di warung saya biasanya selesai satu jam. Jadi, saya bisa kembali menulis pada pukul 10.00.
Pukul 12.00 saya berhenti untuk makan siang. Setelah makan, sesi ketiga dimulai pukul 13.00 dan berjalan sampai sekitar pukul 15.00. Ada coffee break, kalau sudah ya lanjut lagi menulis untuk sesi keempat. Sesi kelima berlangsung pukul 18.00, setelah saya menyelesaikan urusan sore.
Pola ini membantu saya melihat pekerjaan menulis sebagai beberapa bagian kecil dalam satu hari. Kalau ada gangguan pada satu sesi, saya masih punya sesi berikutnya untuk mengejar pekerjaan yang belum selesai.
4. Jeda Makan dan Minum Kopi Masuk ke Jadwal
Saya sengaja tidak mengisi seluruh waktu dengan pekerjaan. Pukul 09.00 ada break. Pukul 12.00 waktunya makan siang. Lalu pukul 15.00 saya punya coffee break lagi sebelum kembali menulis pada pukul 15.30.
Jeda seperti ini kelihatannya sepele, tetapi buat saya cukup penting. Saya bisa meninggalkan laptop sebentar, makan, minum, atau sekadar mengalihkan perhatian dari tulisan.
Saya juga enggak mau waktu makan berubah menjadi kesempatan untuk terus membuka laptop. Kalau sudah waktunya makan, ya saya makan. Setelah selesai, baru kembali ke pekerjaan.
Dalam membagi waktu, saya perlu tahu kapan harus bekerja dan kapan harus berhenti sebentar. Kalau semua waktu dianggap sebagai waktu kerja, satu hari bisa terasa penuh sekali meskipun hasil pekerjaannya belum tentu sebanding.
5. Sore Hari Kembali ke Urusan Rumah
Sekitar pukul 17.00, saya berhenti dari pekerjaan menulis untuk mengurus kegiatan sore. Saya memasak, mandi, lalu makan.
Bagian ini saya pertahankan sebagai waktu untuk mengurus kebutuhan rumah. Saya enggak mencoba menyelipkan pekerjaan menulis di antara kegiatan tersebut karena setelah seharian menulis dan jaga warung, saya memang perlu beralih sebentar dari laptop.
Setelah urusan sore selesai, saya kembali ke sesi menulis kelima pada pukul 18.00. Jadi, waktu menulis saya memang tersebar sepanjang hari, bukan dikumpulkan dalam satu blok panjang.
Kalau kamu melihat jadwalnya, mungkin kelihatannya saya sering berpindah kegiatan. Memang begitu keseharian saya. Pagi mengurus anak dan rumah, lalu warung, kemudian menulis, berhenti makan, menulis lagi, mengurus rumah, lalu kembali ke tulisan.
6. Malam untuk Kerjaan Kreatif yang Lebih Ringan
Pukul 20.00 adalah waktu untuk mengerjakan hal lain yang masih berhubungan dengan pekerjaan dan kegiatan kreatif saya. Ada ebook, UT, atau sketching yang bisa saya kerjakan pada jam tersebut.
Saya sengaja menempatkan pekerjaan seperti ini pada malam hari karena jenis kegiatannya berbeda dengan sesi menulis utama. Setelah seharian membuat tulisan, saya bisa mengerjakan hal yang sifatnya lebih santai.
Jadwal malam juga masih berjalan bersamaan dengan urusan warung. Pukul 21.00 saya menutup warung, lalu beberes lagi.
Dalam membagi waktu, saya harus memperhitungkan kegiatan-kegiatan kecil seperti mencuci peralatan warung atau mengisi daya perangkat. Kalau semua itu dianggap enggak masuk jadwal, pekerjaan kecil bisa menumpuk dan akhirnya menghabiskan waktu ketika saya sudah ingin tidur.
7. Pukul 21.30, Hari Saya Selesai
Setelah semua urusan selesai, saya tidur sekitar pukul 21.30. Ini juga bagian dari jadwal yang saya jaga karena besok pukul 03.00 saya sudah harus mulai lagi.
Kalau melihat keseluruhan rutinitas, waktu menulis saya memang enggak berada dalam satu blok besar. Saya punya sesi pukul 08.00, 10.00, 13.00, 15.30, dan 18.00. Di sela-selanya ada warung, pekerjaan rumah, makan, istirahat, dan kebutuhan keluarga.
Baca juga: Begini Cara Meningkatkan Produktivitas dalam Menulis
Cara membagi waktu seperti ini saya pilih karena sesuai dengan kehidupan saya sekarang. Saya enggak bisa mengosongkan satu hari penuh hanya untuk menulis. Ada warung yang harus dibuka, ada rumah yang harus diurus, ada anak yang perlu disiapkan sekolah, dan ada pekerjaan lain yang tetap berjalan.
Jadwal tersebut juga bukan sesuatu yang saklek. Kalau warung sedang ramai, waktu menulis bisa bergeser. Kalau ada urusan rumah yang lebih banyak dari perkiraan, saya menyesuaikan sesi berikutnya. Yang saya pertahankan adalah pembagian waktunya, bukan setiap menitnya harus persis sama.
Buat saya, membagi waktu adalah cara supaya semua pekerjaan punya tempat dalam satu hari. Saya enggak selalu bisa menyelesaikan semuanya dengan sempurna, tetapi setidaknya saya tahu kapan harus menulis, kapan menjaga warung, kapan mengurus rumah, dan kapan berhenti untuk tidur.
Kalau kamu, gimana cara membagi waktumu antara kerja, keluarga, dan dirimu sendiri?



0 comments