Cara Mengatur Keuangan sebagai Freelancer Saat Penghasilan Nggak Pernah Pasti
Jadi freelancer itu memang kelihatannya menyenangkan dari luar. Nggak perlu berangkat ke kantor setiap pagi, bisa menentukan sendiri jam kerja, dan katanya penghasilan bisa lebih besar daripada karyawan.
Narasi seperti ini tuh sebenarnya memang ada relate-nya, tetapi cuma separuh cerita. Separuh lainnya, keuangan freelancer itu nggak pernah benar-benar aman.
Hari ini bisa dapat beberapa proyek sekaligus. Bulan depan bisa saja klien tiba-tiba berhenti. Pagi masih ngerjain proyek, sorenya diinvite Gmeet. Ternyata mau di-cut. It happened!
Ada juga klien yang tiba-tiba menghilang setelah beberapa kali mengobrol soal pekerjaan. Sudah follow-up, sudah menunggu, ternyata ghosting. Ya, enggak bisa apa-apa. Perusahaan dan bisnis sama-sama lebih berhati-hati mengeluarkan uang, apalagi in this economy kan?
Kalau masih di usia yang relatif muda, mungkin kita masih cukup sigap untuk mencari klien baru, pindah niche, belajar skill baru, atau mengambil pekerjaan tambahan. Tetapi seiring bertambahnya usia, situasinya bisa berbeda. Kompetisi makin banyak, energi enggak selalu sama.
Cari pekerjaan baru juga nggak semudah narasi orang-orang yang sedang jualan kelas freelance.
Karena itu, menurut saya, mengatur keuangan sebagai freelancer itu ya beda mainnya. Instead of berusaha membuat penghasilan terlihat stabil, kita tuh harusnya bikin pengeluaran dan sistem keuangan kita tetap terkendali meskipun penghasilan naik-turun.
Mengatur Keuangan sebagai Freelancer
Berikut beberapa hal yang saya lakukan dan menurut saya penting dipikirkan kalau kamu bekerja sebagai freelancer.
1. Sadari Dulu bahwa Profesi Freelancer Itu Memang Berisiko
Jangan kemakan narasi kayak freelancer itu enak, kerjaan fleksibel, bisa di mana saja, bayarannya besar. Nope. Enggak ada profesi yang too good to be true kayak gitu. Pasti ada trade-off-nya. Pasti!
Hal pertama yang perlu diterima adalah freelance bukan pekerjaan dengan penghasilan yang aman.
Bahkan ketika kamu sudah punya klien tetap selama bertahun-tahun, tetap ada kemungkinan kontrak berhenti tiba-tiba. Perusahaan bisa melakukan efisiensi. Anggaran marketing bisa dipotong. Editor bisa berganti. Bisnis klien bisa berganti manajemen, bisa tutup, bisa bangkrut juga. Atau mereka sekadar memutuskan menggunakan jasa orang lain. Bukan jasa kita lagi.
Saya sudah pernah mengalami itu semua yang disebutin.
Terus, ada juga risiko yang lebih menyebalkan. Apa itu? Klien ghosting.
Awalnya mengajak kerja sama, meminta rate card, membicarakan brief, bahkan mungkin sudah menjanjikan pekerjaan. Setelah itu enggak ada kabar. Kita sudah telanjur menganggap proyek tersebut masuk ke perhitungan pemasukan bulan depan.
Eits ada lagi yang lebih parah. Ada loh yang kerjaannya sudah kelar. Giliran disetorin, orangnya nggak nyaut. Udah kelar dikerjain loh!
Karena itu, jangan menganggap pemasukan yang "katanya akan masuk" sebagai uang yang sudah kita punya. Kalau belum ada pembayaran atau setidaknya pekerjaan yang sudah jelas dan disepakati, anggap saja uang tersebut belum ada. Ini penting supaya kita nggak membuat keputusan keuangan berdasarkan pemasukan yang masih berupa harapan.
Baca juga: Freelance VS Kantoran: Karena untuk Jadi Sugarbaby Sudah Ketuaan
2. Kalau Penghasilan Nggak Tetap, Pengeluaran yang Harus Ditetapkan
Ini menurut saya salah satu prinsip paling penting dalam mengatur keuangan freelancer.
Penghasilan boleh naik-turun. Pengeluaran jangan ikut naik-turun. Jadi bikin rata-rata per bulan kamu secara standar mengeluarkan berapa banyak untuk kebutuhan hidup? Angka ini yang kamu jadikan sebagai garis anggaran. Nah, untuk bisa tahu standar ini gimana? Ya, catat!
Ya memang kadang males banget buat mencatat pengeluaran tuh. Riwil banget. Tapi ini penting, apalagi kalau kamu pengin bisa andalkan freelancing sebagai mata pencaharian utama. Kamu kudu tahu, berapa banyak yang kamu butuhkan setiap bulan.
Misalnya, bulan kemarin kamu sudah mencatat kalau pengeluaran mencapai Rp5 juta. Bulan ini Rp6 juta. Bulan depan Rp3 juta. Nah, kamu bisa tuh ambil rata-ratanya, Rp5 juta misalnya, sebagai batas pengeluaran.
Pisahkan uang operasional ini dari uang lainnya. Ya, kalau perlu bikin rekening tersendiri. Begitu pisahkan, uang ini boleh kamu “habiskan” untuk kebutuhan hidup. Sementara, uang di rekening lain masih aman. Selanjutnya kalau polanya enggak terlalu berubah, kamu bisa pakai terus pola ini tanpa perlu repot mencatat. Tapi, nanti kalau ada perubahan, ya perlu dicatat lagi,.
3. Jangan Lifestyle Inflation
Nah, ini jebakan memang. Ketika misalnya kita dapat penghasilan yang lebih tinggi, kita jadi sering tergoda untuk belanja lebih banyak. Ini nih yang dinamakan lifestyle inflation.
Misalnya, sekalinya dapat Rp10 juta, padahal sebelumnya cuma Rp5 juta. Terus, tau-tau aja acara makan di AYCE jadi tiap dua hari sekali. Jangan ya. Kamu itu cuma dapatnya 10 juta itu sebulan woy. Bulan depan belum tentu.
Jadi, misalnya kamu memutuskan kebutuhan hidup maksimal Rp8 juta per bulan. Ketika pemasukan sedang Rp15 juta, tetap hidup dengan anggaran tersebut. Ketika mendapatkan Rp25 juta, jangan tiba-tiba merasa punya alasan untuk meningkatkan pengeluaran menjadi Rp12 juta.
Kelebihan pemasukan bisa dialihkan ke dana darurat, investasi, modal usaha, atau aset lain.
Dengan cara ini, ketika pemasukan turun, kamu enggak langsung panik karena gaya hidup yang telanjur mahal.
4. Punya Dana Darurat yang Lebih Tebal
Dana darurat penting untuk siapa pun. Tetapi bagi freelancer, kebutuhan ini jauh lebih serius.
Karyawan bisa kehilangan pekerjaan juga, tetapi freelancer menghadapi ketidakpastian pemasukan sebagai bagian dari sistem kerjanya sehari-hari.
Jadi jangan hanya berpikir, "Saya punya tabungan kok." Lihat berapa lama tabungan tersebut bisa membiayai hidup kalau besok tidak ada satu pun klien yang membayar.
Misalnya pengeluaran wajib kamu Rp7 juta per bulan. Dana Rp14 juta berarti baru cukup untuk dua bulan. Kalau seluruh pemasukan berhenti, dua bulan bisa terasa sangat singkat.
Karena itu, ketika kondisi keuangan memungkinkan, bangun dana darurat secara bertahap sampai punya napas yang cukup panjang.
Dan dana darurat sebaiknya jangan dicampur dengan uang investasi atau uang untuk belanja. Fungsinya memang khusus untuk keadaan ketika pemasukan terganggu atau ada kebutuhan mendesak.
5. Jangan Cuma Andalkan Satu Sumber Pemasukan
Saya pribadi merasa ini penting sekali sebagai freelancer.
Kalau seluruh pemasukan berasal dari satu klien, sebenarnya kita belum benar-benar punya pekerjaan yang aman. Kita hanya punya satu sumber risiko.
Idealnya, sumber pemasukan dibuat lebih beragam.
Bukan berarti kamu harus punya sepuluh pekerjaan sekaligus sampai hidup nggak punya waktu istirahat. Bentuknya bisa macam-macam.
Misalnya punya bisnis makanan kecil, punya toko online, atau sambil ngojol juga bisa. Saya sendiri memilih punya warung sebagai salah satu sumber pemasukan di luar pekerjaan freelance.
Ya, bentuknya enggak harus sama. Yang penting, ketika satu sumber pemasukan sedang seret, masih ada sumber lain yang bisa membantu menopang pengeluaran.
6. Minimal Punya Perlindungan Kesehatan
Freelancer enggak dapat fasilitas kesehatan dari kantor seperti sebagian karyawan. Karena itu, jangan sampai urusan perlindungan kesehatan ikut diabaikan. Minimal, saya rasa freelancer perlu memastikan BPJS Kesehatan tetap aktif.
Kelihatannya seperti pengeluaran kecil yang gampang ditunda. Tetapi ketika tiba-tiba harus berobat, biaya kesehatan bisa mengacaukan seluruh rencana keuangan yang sudah dibuat.
7. Kalau Sudah Bisa Nabung, Jangan Berhenti di Tabungan
Ada fase ketika freelancer akhirnya berhasil punya surplus. Misalnya kebutuhan bulanan Rp7 juta, sementara rata-rata pemasukan sudah bisa mencapai Rp10 - 12 juta. Setelah dana darurat mulai terbentuk, uang yang tersisa jangan semuanya dibiarkan mengendap tanpa tujuan.
Mulailah belajar membangun aset.
Kamu bisa mulai dari instrumen yang sederhana dan nominal yang kecil sambil belajar. Misalnya reksa dana. Ada produk yang memungkinkan investasi mulai dari Rp100 ribu.
Uang semungil itu memang enggak akan langsung mengubah kondisi finansial. Karena tujuannya di tahap awal memang bukan itu. Tujuannya adalah membangun kebiasaan mengalokasikan uang untuk masa depan.
Sambil belajar, kamu bisa mulai memahami bagaimana investasi bekerja, mengenali profil risiko, dan perlahan meningkatkan jumlah uang yang dialokasikan. Kalau penghasilan meningkat, saving rate juga bisa dinaikkan. Dengan begitu, ada bagian pemasukan yang secara otomatis berubah menjadi aset.
8. Mulai Bangun Passive Income dari Kekayaan Intelektual
Freelancer sering menjual waktu, pikiran, dan energi. Kita menulis artikel, dibayar. Membuat desain, dibayar. Mengedit video, dibayar. Konsultasi, dibayar.
Masalahnya, ada batas jumlah pekerjaan yang bisa kita kerjakan dalam sehari. Karena itu, saya pikir freelancer juga perlu mulai memikirkan sesuatu yang bisa menghasilkan uang berulang tanpa selalu menukar waktu dengan uang. Salah satunya adalah kekayaan intelektual.
Misalnya kamu seorang penulis. Selain menerima proyek tulisan dari klien, kamu bisa membuat buku yang dijual berulang kali. Bisa juga membuat e-book, template, kursus, newsletter berbayar, atau membangun blog yang menghasilkan pendapatan dari iklan.
Desainer bisa membuat template atau aset digital. Fotografer bisa menjual stock photo. Musisi bisa menghasilkan royalti dari karya.
Nah, jangan dianggap passive income ini benar-benar pasif dan bisa menghasilkan uang sambil tidur. Itu mah cuma bahasa marketing.
Tetap ada pekerjaan di belakangnya. Tetapi bedanya, satu karya bisa menghasilkan uang berkali-kali tanpa kamu harus mengerjakan ulang dari nol untuk setiap transaksi.
Baca juga: Dilema Freelancer: Memutus Klien yang Telat Bayar atau Bertahan?
Anggap Masa Depan Freelance sebagai Sesuatu yang Perlu Direncanakan
Saya enggak pengin bilang bahwa menjadi freelancer itu buruk. Saya bahkan masih menjalaninya karena ada banyak hal yang saya sukai dari pekerjaan ini.
Tetapi saya juga tidak mau berpura-pura bahwa semuanya indah.
Ada bulan ketika pekerjaan banyak. Ada bulan ketika pekerjaan sepi. Ada klien baik. Ada klien yang pembayarannya lancar. Ada juga klien yang tiba-tiba menghilang. Ada masa ketika kita merasa masih sanggup mengejar semuanya, lalu ada masa ketika mulai bertanya apakah kita masih mau bekerja dengan ritme yang sama lima atau sepuluh tahun lagi.
Karena itu, menurut saya, mengatur keuangan sebagai freelancer itu penting banget untuk dipahami, terutama kalau kamu baru mau mulai merintis di sini. Kita perlu membangun sistem supaya hidup enggak sepenuhnya harus bergantung pada pemasukan bulan ini.
Karena risiko kehilangan klien mungkin enggak pernah bisa kita hilangkan. Yang bisa kita lakukan adalah memastikan bahwa ketika satu klien pergi, hidup kita enggak ikut berantakan.



0 comments