Berbagai Cara Menerbitkan Buku yang Perlu Kamu Tahu



"Mbak, gimana cara menerbitkan buku?"

Pertanyaannya cukup simpel ya, kedengarannya? Gimana cara menerbitkan buku? Seharusnya saya bisa langsung menjawabnya dengan, "Ya, langsung kirim saja ke penerbit."
Dan selesai.

Tapi kok rasa-rasanya, itu bukan jawaban yang tepat ya?
Jiwa marketing saya mau nggak mau tergugah. Seharusnya saya bisa memberikan informasi lengkap pada si penanya, from A to Z. Sampai si penanya puas dan nggak ada lagi yang ditanyakan.

Tapi kok ya penyakit saya itu juga menyebalkan; saya suka malas menjelaskan. Huahahaha. Marketing macam apah sayah inih?!

Makanya, mendingan saya tulis sajalah. Kebetulan juga ada kategori baru di blog ini, yaitu tentang Penulisan Buku. Eciyeee. Baru nyadar kan, ada kategori ini? Dan baru satu juga isinya. Jadi, mari kita tambah deh isinya hari ini.

Baiklah, mari kita ulas sedikit mengenai cara menerbitkan buku.

Cara menerbitkan buku ini sebenarnya ada beberapa cara, tergantung tujuan kamu menerbitkan buku. Setelah beberapa lama saya bekerja di penerbitan, juga bolak-balik menerbitkan buku secara indie, masing-masing cara menerbitkan buku ini punya keunggulan dan kekurangan, yang seharusnya bisa kita manfaatkan dan pergunakan semaksimal mungkin sesuai dengan tujuan kita menerbitkan buku.

Nah, jadi, sebelum menanyakan bagaimana cara menerbitkan buku, ada baiknya kamu definisikan dulu apa tujuanmu menerbitkan buku, buku itu topiknya apa, dan siapa saja target marketnya nanti.

Kalau semua sudah terdefinisikan dengan jelas, maka kemudian kamu bisa memilih cara menerbitkan buku berikut ini.


4 Cara Menerbitkan Buku


1. Self Publishing


Self publishing berarti kita sebagai penulis juga bertindak sebagai produser.

Kita harus mengurusi buku kita sendiri mulai dari A - Z. Mulai dari menulis bukunya, lalu editing (kalau merasa kurang kompeten, kita bisa menyewa jasa seorang editor lepas). Setelah itu, kita harus mencari layouter untuk desain isi buku, atau kalau mau dilayout sendiri juga boleh.

Setelahnya, kita punya desain kaver yang juga harus dibuat atau setidaknya kita harus mencari sendiri desainer kaver buku yang cocok, hingga mencari percetakan yang bisa mencetak buku kamu tersebut.

Nah, kalau pengin bukunya ada di toko buku, kita juga bisa mencari distributor buku untuk membantu pendistribusiannya. Hasil penjualan biasanya bagi keuntungan dengan distributor.

Hmmm, kapan-kapan kayaknya oke juga nih kalau saya interview salah satu distributor buku supaya kasih gambaran lengkap mengenai hal ini ya. Let's see deh.

Self publishing ini cocok untuk kamu yang pengin menerbitkan buku yang "kamu banget", dan pengin memegang kendali semua aspek penerbitan sendirian.


2. Indie publishing


Indie publishing, atau penerbitan mandiri--saya pribadi menganggapnya sebagai--“setengah” self publishing.

Jadi, kita bisa meminta bantuan sebuah penerbit indie untuk membantu kita menerbitkan buku, dengan biaya kita. Biasanya sih, si penerbit indie ini akan juga menyediakan jasa editing, desain kaver, cetak, hingga juga bisa bantuin kita untuk mendistribusikan buku ke toko buku.

Semua biaya tentu saja ditanggung oleh penulis. Hasil penjualan akan dibagi dengan penerbit.

Nah, indie publishing ini cocok buat kamu, yang pengin bikin buku yang "kamu banget", tapi nggak mau repot urusin ini itu. Biasanya sih penerbit indie ini menyediakan berbagai macam paket penerbitan yang fasilitasnya beda-beda, dengan harga yang disesuaikan pula. Jadi, kamu bisa pilih yang sesuai dengan kantong kamu.

Untuk seluk beluk penerbitan indie, saya pernah membahasnya juga di blog ini. Silakan dibaca kalau memang tertarik lebih jauh.


3. Mayor publishing


Nah, kalau cara menerbitkan buku secara mayor sih A to Z-nya dipegang sepenuhnya oleh penerbit, sebagai pihak produser, pemasaran, hingga tetek bengeknya.

Kita sebagai penulis buku harus mengirimkan naskah ke penerbit buku mayor, sesuai dengan syarat dan ketentuan yang sudah mereka tentukan.

Penerbit mayor biasanya akan melakukan seleksi, apakah naskah kita layak diterbitkan dan cocok untuk pasar mereka. Kalau di Stiletto Book, lamanya review naskah itu 30 hari kerja, kurang lebih. Kalau lebih dari 30 hari kerja nggak ada tanggapan, maka anggaplah naskahmu nggak lolos. Penerbit mayor lain punya kebijakan sendiri-sendiri juga.

Maka, penting banget buat kamu untuk ngepoin dulu si penerbit mayor ini sebelum kamu mulai mengirimkan naskahnya. Coba cari tahu: buku-buku apa saja yang biasanya diterbitkan oleh si penerbit, pasarnya kurang lebih seperti apa, apa saja syarat dan ketentuan kirim naskah, dan berapa lama kamu bisa menunggu naskahmu di-review.

Please note: Jangan sekali-sekali mengirimkan satu naskah ke banyak penerbit sekaligus via email, apalagi dengan CC, BCC, atau rombongan. Please personalize it. Mostly penerbit mayor nggak suka diperlakukan pasaran begini. Perlakukanlah mereka dengan istimewa. Anggaplah mereka calon bos yang sedang meng-interview kamu sebagai karyawan baru.

Setelah dinyatakan lolos dan layak terbit, baru deh proses penerbitan dimulai. emua keputusan ada di tangan penerbit, mulai dari isi buku yang bisa saja minta direvisi sesuai dengan mau mereka, hingga keputusan pemilihan kaver, semua diatur oleh penerbit.

Kabar baiknya, kita nggak perlu membayar sepeser pun kalau naskah kita diterima untuk diterbitkan. Kita akan mendapatkan royalti yang besarnya menurut kesepakatan. Biasanya sih antara 8 - 10%, tergantung besar kecilnya penerbit dan juga jam terbang si penulis. Semakin best seller buku-bukumu sebelumnya, royalti bisa semakin besar.

Pankapan kita bahas mayor publishing ini lebih dalam ya. Karena so far, masih banyak yang nggak mudeng soal mayor publishing ini. Mau jadi penulis kok nggak tahu etika kirim naskah ke penerbit mayor tu ya gimana ya? Ke laut aja sono.

Sebagai seorang penulis juga, saya sering sedih kalau sempat ngintip kiriman-kiriman naskah ke email Redaksi tu. Entah orang-orang ini saking nggak mudengnya, atau ignorant? Entahlah.


4. Melalui agen


Di Indonesia juga masih jarang nih, agen naskah. Saya sendiri baru tahu 2 agen naskah yang cukup besar. Pengin juga sih main di sini. Hahaha, tapi belum bisa meraba sistemnya bagaimana.

Kalau di luar negeri, agen naskah ini banyak banget, dan masing-masing punya reputasi yang bisa dipertanggungjawabkan.

Penulis yang tergabung dalam agen naskah ini boleh mengirimkan draf naskah buku ke agen, lalu agenlah yang ngider ke penerbit. Atau agen naskah menerima pesanan dari penerbit, lalu ditawarkan ke penulis yang ada dalam database-nya.

Huhuhu. Beneran, saya pengin jadi agen naskah. Hahaha. Doain ya. Atau, ada yang sudah tertarik untuk saya agenin? #eakkk


Nah, itu dia beberapa cara menerbitkan buku yang perlu kamu tahu. Tentunya kamu bisa sesuaikan dengan kebutuhan, dan juga tujuan kamu menerbitkan buku.

Perlu kamu ingat, bahwa tidak ada cara menerbitkan buku yang lebih baik daripada yang lain. Masing-masing punya keuntungan sendiri-sendiri, yang bisa maksimal banget kamu manfaatkan kalau bisa kamu sesuaikan dengan tujuan dan target kamu menerbitkan buku.

Semoga bukumu laris ya!

6 komentar:

  1. Baru tahu juga tentang agen naskah, mba. Semacam pihak ketiga ya. Kalau bikin agen, kasih tahu ya mba :D

    BalasHapus
  2. Beberapa tahun lalu, semasa awal jadi penulis, saya diagenin temen. Eh, temen itu sekarang sudah punya penerbitan sendiri, jadi saya lebih sering nerbitin buku-buku di sana, hehe ... Minusnya dari agen2 yg saya tahu adalah mereka pakai sistem jual putus, tapi kalau tulisan kita worth it, posisi bargainnya naik juga sih. Gimana pun juga sukses bergantung pada effort kita sbg penulis. Beberapa bulan lalu sudah pernah coba self-publishing (agak cape ya ngurusnya :D ) dan sekarang pingin coba penerbitan indie tapi masih gamang. Bisa kapan2 nulis tentang penerbitan indie? Thanks :)

    BalasHapus
  3. Pengen bisa tulisanku diterbitkan, tapi belum berani ngirim ke penerbit. Jadi cuma nulis di blog saja. Thanks infonya, very inspiring

    BalasHapus
  4. Aku baru ngeh bahwa self dan indie publishing itu memang sedikit berbeda, ya. Situs seperti NB awalnya kupikir indie publishing, tapi jatuhnya malah self. Hmm..

    BalasHapus
  5. Ooh aku baru tau loh tentang agen naskah ini. Klo di dunia property tuh diibaratkan seperti broker gitu ya, perantaranya.
    Smoga kesampaian deh mak, jadi agen naskah nya :)

    BalasHapus