• Home
  • About
  • Daftar Isi
  • Konten Kreatif
    • Penulisan Konten
    • Penulisan Buku
    • Kebahasaan
    • Visual
  • Internet
    • Blogging
    • Marketing
    • User
    • WordPress
  • Media Sosial
    • Facebook
    • Twitter
    • Instagram
  • Stories
    • My Stories
    • Featured
    • Freelancer
  • Guest Posts
Diberdayakan oleh Blogger.
facebook twitter instagram pinterest Email

Carolina Ratri

Tanda bahwa Kamu Butuh Dibantu Menulis Buku Nonfiksi

Menulis buku nonfiksi sering terasa lebih rumit dari yang dibayangkan. Kamu mungkin sudah punya ide, sudah tahu apa yang ingin dibahas, tapi tetap saja prosesnya berjalan pelan.

Ada hari ketika kamu semangat, lalu besoknya kamu bingung harus mulai dari mana. Kadang alurnya terasa berantakan, dan kamu gak yakin apakah isinya sudah cukup jelas untuk pembaca.

Situasi seperti ini tuh sebenarnya wajar. Tapi kalau muncul terus, biasanya ada tanda bahwa kamu butuh bantuan tambahan agar tulisanmu lebih terarah.

Tanda bahwa Kamu Butuh Dibantu Menulis Buku Nonfiksi

Tanda bahwa Kamu Butuh Dibantu Menulis Buku Nonfiksi

Banyak penulis yang lagi menulis buku nonfiksi mengalami fase ketika mereka merasa jalan sendiri itu melelahkan. Ada bagian yang tersendat, ada keputusan yang ragu-ragu, dan ada momen ketika semuanya terasa terlalu besar untuk ditangani sendirian.

Mungkin kamu juga gitu. Kamu ingin bukunya selesai, tapi gak mau asal cepat dan mengorbankan kualitas. Di titik tertentu, kamu mulai sadar bahwa proses menulis bukan hanya soal menuangkan pikiran, tapi juga soal memahami apa yang menghambat langkahmu.

Dari sinilah biasanya muncul kebutuhan untuk mencari panduan yang lebih jelas.

Nah, berikut beberapa tanda bahwa kamu butuh dibantu menulis buku nonfiksi kamu.

1. Ide sudah ada, tapi bingung menyusunnya jadi alur yang runtut

Kadang kamu sudah tahu topik yang ingin diangkat, tapi ketika mulai menulis, semuanya terasa berantakan. Kamu tahu apa saja poin pentingnya, tapi gak tahu mana yang harus muncul duluan. 

Akhirnya bab seolah meloncat-loncat tanpa arah. Pembaca nanti bisa jadi kebingungan karena alurnya tidak jelas.

Kondisi ini biasanya muncul ketika kamu belum punya kerangka yang solid. Kalau kamu mulai merasa kehilangan arah di tengah, itu tanda kamu butuh bantuan dalam menyusun alur buku yang lebih rapi.

Baca juga: Pengin Menerbitkan Buku Indie? Jangan Sampai Melakukan 5 Kesalahan yang Pernah Saya Lakuin Ini!

2. Menulis terasa lambat padahal waktu sudah mepet

Ada hari-hari ketika kamu sudah duduk di depan laptop, tapi tulisan gak bergerak ke mana-mana. Satu paragraf bisa makan waktu lama karena kamu terlalu sering menghapus dan memperbaiki. 

Proses ini melelahkan dan menguras energi. Kalau tenggat sudah dekat, keadaan seperti ini makin bikin stres.

Padahal sebenarnya, saat tulisan bergerak pelan terus, itu biasanya bukan soal kamu yang males sih. Tapi lebih ke kamu belum punya strategi kerja yang tepat. Di titik ini, bantuan dari luar bisa membuat proses menulis buku nonfiksi kamu lebih ringan.

3. Kelebihan informasi sampai bingung memilih fokus

Untuk menulis buku nonfiksi, riset sering membuat kamu punya terlalu banyak bahan. Semua terasa penting dan semua ingin kamu masukkan. Istilahnya, too much information!

Akhirnya, ketika semuanya disatukan, bukunya malah jadi melebar ke mana-mana. Pembaca jadi sulit menangkap pesan utama yang ingin kamu sampaikan.

Kondisi seperti ini menandakan kamu butuh bantuan untuk memilah mana informasi inti dan mana yang cukup dijadikan catatan tambahan. Fokus yang jelas akan bikin buku jauh lebih kuat.

4. Sulit mempertahankan konsistensi tone dan gaya

Setiap kali kembali menulis buku nonfiksi di hari yang berbeda, gaya tulisanmu bisa berubah. Ada hari ketika kamu menulis panjang dan serius. Ada hari lain ketika kamu terdengar lebih ringan.

Nah, kalau perbedaan ini terlalu jauh, pembaca akan merasakan ketidakselarasan di dalam buku. Padahal, konsistensi itu penting agar keseluruhan karya terasa menyatu.

Kalau kamu merasa buku mulai terdengar seperti ditulis orang yang berbeda-beda, itu petunjuk kamu butuh bantuan untuk merapikan tone-nya.

5. Overthinking soal kualitas tulisan

Kadang kamu merasa tulisannya kurang bagus. Kamu membandingkan diri dengan penulis lain. Kamu membayangkan pembaca gak akan suka.

Pikiran seperti ini bisa bikin kamu berhenti berkali-kali. Bahkan tulisan yang sebenarnya sudah cukup baik terasa salah semua di mata sendiri.

Ketika keraguan mulai mendominasi, proses menulis buku nonfiksi pun jadi berat. Bantuan dari luar bisa memberikan sudut pandang baru yang lebih objektif supaya kamu bisa jalan lagi.

6. Gak yakin siapa target pembaca sebenarnya

Buku nonfiksi jadi sulit ditulis kalau kamu gak tahu dengan jelas siapa yang akan membaca. Akhirnya kamu sering ragu apakah penjelasannya perlu dalam atau cukup dasar saja. Kamu juga bingung memilih contoh, gaya bahasa, atau tingkat kedalaman materi.

Perubahan arah seperti ini membuat buku kehilangan fokus. Kalau kamu mulai bolak-balik mengubah sudut pandang pembaca, itu tanda kamu butuh bantuan untuk menentukan siapa audiens yang tepat. Dengan itu, keputusan menulis jadi lebih mudah.

7. Mentok di bagian tertentu selama berminggu-minggu

Ada satu bab yang terasa sangat sulit untuk diselesaikan. Kamu sudah coba berkali-kali, tapi hasilnya tetap gak memuaskan. Bab tersebut membuat seluruh proyek tertahan. Kamu tahu harusnya bisa lanjut ke bagian lain, tapi tetap terasa mengganggu di pikiran.

Stuck seperti ini jarang selesai dengan sendirinya. Biasanya kamu perlu dorongan atau panduan tambahan untuk melewati bagian yang macet itu.

8. Khawatir soal struktur buku yang baik

Struktur buku nonfiksi itu gak sesederhana kedengarannya lho. Kamu mungkin bingung apakah perlu prolog, apakah babnya terlalu panjang, atau apakah contoh yang kamu pakai sudah tepat. 

Kebingungan ini juga bisa menahan gerakmu. Kamu terus menerus memperbaiki susunan sebelum isi selesai. Padahal struktur bisa dirapikan setelah konsep dasarnya kuat. Jika kamu terus terjebak di tahap ini, itu tanda kamu butuh bantuan untuk memastikan strukturnya masuk akal dan nyaman dibaca.

Baca juga: Berbagai Cara Menerbitkan Buku yang Perlu Kamu Tahu

Menulis buku nonfiksi adalah proses yang panjang dan penuh keputusan kecil yang sering terasa berat. Wajar kalau di beberapa titik kamu merasa perlu bantuan agar tulisanmu tetap jelas dan terarah. Setiap tanda yang muncul bukan berarti kamu gak mampu, tetapi justru menunjukkan bahwa kamu sedang membangun sesuatu yang penting.

Kalau kamu merasa butuh teman diskusi atau ingin melihat tulisanmu dengan perspektif yang lebih jernih, kamu bisa mempertimbangkan sesi konsultasi penulisan. Sesi ini membantu kamu merapikan alur dan fokus, terutama saat sedang menekuni menulis buku nonfiksi. Jika tertarik, bisa klik di sini.

 

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Buku Nonfiksi Gak Harus Rumit: Ini Cara Menyusunnya dengan Lebih Terarah

Buku nonfiksi sering kali terdengar serius dan berat, sampai banyak orang merasa minder duluan sebelum mencoba menulisnya. 

Padahal, kalau tahu cara memulainya, proses menulis buku nonfiksi bisa jauh lebih sederhana dan menyenangkan. Kamu nggak perlu jadi pakar besar atau punya bahasa yang rumit untuk bisa menyampaikan gagasan dengan jelas. Yang penting adalah punya arah yang jelas sejak awal, supaya isi bukunya nggak berantakan.

Cara Menyusun Buku Nonfiksi

Buku Nonfiksi Gak Harus Rumit: Ini Cara Menyusunnya dengan Lebih Terarah

Banyak penulis pemula terjebak karena terlalu fokus pada hasil akhir, sampai lupa menikmati prosesnya. Padahal, kalau langkah-langkahnya diatur dengan baik, menulis buku nonfiksi itu sebenarnya ringan dan lebih mudah diarahkan. 

Nggak perlu juga terburu-buru atau menuntut semuanya sempurna sejak awal. Yang penting, kamu tahu apa yang ingin kamu sampaikan dan siapa yang akan membaca bukumu. Dari situ, pelan-pelan semuanya bisa kamu susun dengan rapi.

1. Tentukan Tujuan dan Pembaca

Langkah pertama ini sering dianggap sepele, padahal penting banget. Coba pikirkan dulu, buku yang mau kamu tulis ini sebenarnya untuk siapa. Apakah pembacanya pemula yang belum tahu apa-apa? Atau mereka sudah cukup paham tapi butuh wawasan yang lebih dalam? Semakin jelas target pembacanya, semakin mudah menentukan cara menjelaskan. 

Lalu tentukan juga tujuannya. Apakah kamu ingin mengajari sesuatu secara praktis? Atau ingin berbagi pengalaman hidup yang menginspirasi? Atau mungkin ingin meyakinkan pembaca tentang sebuah gagasan? 

Tujuan yang jelas akan memengaruhi nada tulisan, contoh-contoh yang dipakai, bahkan panjang pembahasan. Jangan lupa, sesuaikan gaya bahasa dengan siapa yang membaca. Kalau untuk orang awam, pakai bahasa sederhana. Kalau untuk profesional, boleh pakai istilah-istilah teknis tapi tetap dijelaskan.

Baca juga: Kenapa Banyak Orang Gagal Menulis Buku Pertamanya sampai Selesai?

2. Pilih Tema Utama dan Batasi Topik

Setelah tahu siapa pembacanya dan untuk apa bukunya, sekarang tentukan temanya. Tema ini adalah benang merah dari awal sampai akhir. Pastikan satu buku hanya punya satu tema besar. Jangan serakah ingin membahas semuanya sekaligus. 

Misalnya, kalau temanya tentang cara memulai bisnis online, tentukan bisnis online yang seperti apa, karena bisnis online kan luas banget. Hal ini penting supaya pembahasan tetap fokus dan tidak melebar ke mana-mana. 

Misalnya, kalau temanya “bisnis online untuk pemula,” berarti kamu nggak perlu menjelaskan strategi lanjutan yang rumit. Dengan begitu, pembaca juga tidak akan bingung karena materi yang terlalu banyak atau terlalu berat. Catat juga poin-poin apa yang tidak akan kamu bahas. Ini membantu kamu tetap berada di jalur saat menulis.

3. Buat Kerangka atau Outline

Kerangka itu ibarat peta perjalanan. Kalau nggak ada peta, kamu bisa nyasar. Makanya, bikin dulu kerangka sebelum mulai nulis. Tulis bab per bab secara garis besar. 

Biasanya diawali dengan pembuka yang menjelaskan kenapa topik ini penting. Lalu di bagian tengah diisi dengan inti pembahasan, bisa berupa cara-cara, tips, atau cerita. Terakhir, tutup dengan bab penutup yang merangkum semuanya. Di bagian kerangka ini, nggak perlu detail dulu. Cukup tuliskan poin-poin penting yang ingin disampaikan di setiap bab. Kalau sudah jelas, baru nanti dikembangkan saat nulis draft. 

Dengan punya kerangka, kamu jadi lebih tenang karena tahu apa yang harus ditulis duluan dan apa yang menyusul.

4. Kumpulkan Bahan dan Data

Menulis buku nonfiksi itu harus punya dasar yang kuat, jadi nggak cuma mengandalkan ingatan saja. Setelah kerangka selesai, waktunya mengumpulkan bahan. Bisa dari buku lain, artikel, jurnal, atau wawancara. Kalau ada pengalaman pribadi yang relevan, itu juga bagus banget buat dimasukkan. 

Catat semua informasi yang kamu temukan, lengkap dengan sumbernya. Ini penting kalau nanti mau dicek lagi atau dimasukkan ke daftar pustaka. Jangan malas bikin catatan, karena kalau sudah lupa, cari lagi itu lebih ribet. 

Kalau bisa, kumpulkan juga contoh-contoh nyata atau cerita kasus yang bisa bikin buku lebih hidup. Data dan fakta akan bikin buku kamu lebih kredibel di mata pembaca.

5. Tulis Draf Pertama Tanpa Mikir Sempurna

Nah, sekarang bagian yang kadang bikin orang berhenti: nulis draf pertama. 

Ingat, tujuan dari draf pertama itu bukan untuk sempurna. Yang penting tulis dulu semuanya sampai selesai. Jangan berhenti hanya karena merasa kalimatnya kurang bagus. Nggak apa-apa kalau masih berantakan atau banyak typo. Yang penting idenya keluar semua dulu. 

Banyak orang gagal selesai karena terlalu sibuk ngedit di tengah jalan. Padahal, memperbaiki itu nanti saja setelah semua selesai. Saat menulis draf pertama, usahakan jangan terlalu sering berhenti buat mikir. Biar alurnya tetap lancar dan idenya nggak hilang.

6. Edit dan Rapikan

Kalau draf pertama sudah selesai, sekarang waktunya diulik lagi. Baca dari awal sampai akhir. Periksa apakah susunannya sudah logis. Lihat juga apakah setiap bab mengalir dengan enak atau masih lompat-lompat. Perbaiki kalimat yang terlalu panjang atau bikin bingung. Potong bagian yang nggak perlu supaya lebih padat. Kalau menemukan ide baru, boleh ditambahkan, asal nggak bikin topiknya jadi melebar. Cek juga apakah ada istilah yang terlalu teknis dan perlu dijelaskan. 

Kalau bisa, minta teman atau orang lain untuk membaca dan memberi masukan. Kadang kita nggak sadar ada bagian yang kurang jelas, tapi orang lain bisa melihatnya.

7. Tambahkan Nilai Tambah

Buku nonfiksi yang bagus biasanya punya “bonus” buat pembacanya. Setelah isi utama beres, coba pikirkan apa yang bisa bikin buku lebih menarik. Misalnya, kamu bisa menambahkan ilustrasi, tabel, atau infografis supaya pembaca lebih mudah memahami. Bisa juga kasih studi kasus nyata biar lebih membumi. Atau tambahkan checklist, panduan langkah-langkah, bahkan ruang catatan di akhir bab. 

Hal-hal seperti ini bikin pembaca merasa dapat lebih banyak manfaat dari bukumu. Mereka juga jadi lebih mudah mengingat apa yang sudah dipelajari. Jangan lupa, pastikan nilai tambah ini tetap relevan dengan tema besar buku.

Baca juga: Mengenal Jenis-Jenis Tulisan dan Tip Menulis Kreatif buat yang Pengin Mulai

Buku nonfiksi nggak harus jadi beban yang bikin kamu pusing setiap kali mau mulai. Dengan langkah yang tepat dan arah yang jelas, proses menulisnya bisa terasa lebih ringan dan menyenangkan. Kamu cuma butuh keberanian untuk menuangkan ide dan kesabaran buat menyusunnya pelan-pelan. Nggak ada aturan kaku yang harus kamu ikuti, selama pesannya sampai ke pembaca dengan baik. Jadi, jangan terlalu keras sama diri sendiri, nikmati saja prosesnya dari awal sampai akhir.

Kalau kamu ingin bukumu lebih terarah dan butuh teman diskusi untuk menyusun ide-idenya, kamu juga bisa booking sesi konsultasi penulisan. Kita bisa ngobrol santai tentang cara memulai, menyusun kerangka, sampai menyiapkan draf yang siap jalan. Kalau tertarik, bisa klik di sini.


Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Kenapa Banyak Orang Gagal Menulis Buku Pertamanya sampai Selesai?

Menulis buku sering kali jadi impian banyak orang. Ada yang sudah punya ide sejak lama, ada juga yang semangatnya muncul setelah ikut kelas menulis atau baca buku inspiratif. 

Tapi kenyataannya, tak sedikit yang akhirnya berhenti di tengah jalan. Naskahnya cuma berisi satu dua bab, lalu dibiarkan terbengkalai begitu saja.

Kenapa Menulis Buku tapi Sulit Menyelesaikannya?

Kenapa Banyak Orang Gagal Menulis Buku Pertamanya sampai Selesai?

Padahal, banyak orang punya ide yang kuat. Niatnya juga sungguh-sungguh. 

Tapi tetap saja, proses menulis buku itu tak semudah yang dibayangkan. Ada hal-hal yang bikin langkah macet tanpa sadar. Bukan karena tidak mampu, tapi ada sesuatu yang pelan-pelan mematahkan usaha itu.

1. Perfeksionisme Berlebihan

Banyak yang ingin menulis buku pertama yang langsung sempurna. Padahal draf awal memang wajar kalau masih berantakan. 

Terlalu sering mengoreksi setiap kalimat bikin proses nulis jadi lambat. Akhirnya, semangat hilang duluan sebelum naskah selesai. 

Perfeksionisme juga bikin penulis jadi ragu terus. Merasa tulisannya nggak layak dibaca siapa pun. Padahal tulisan bagus itu hasil dari proses revisi, bukan sekali duduk langsung jadi. Yang penting tulis dulu sampai tamat, bagusnya bisa belakangan.

Baca juga: Pengin Menerbitkan Buku Indie? Jangan Sampai Melakukan 5 Kesalahan yang Pernah Saya Lakuin Ini!

2. Kehabisan Motivasi di Tengah Jalan

Di awal biasanya semangat menulis buku memang meledak-ledak. Tapi makin lama, ide terasa makin berat digarap. 

Kadang muncul keraguan, “Ngapain sih nulis ini?” atau “Siapa juga yang mau baca?” 

Pertanyaan kayak gitu bikin semangat luntur. Apalagi kalau prosesnya nggak sesuai ekspektasi. Waktu jadi terasa mepet, energi makin habis, tulisan makin jarang disentuh. 

Kalau nggak punya alasan kuat buat menyelesaikan, buku itu akan berhenti di tengah jalan. Makanya, penting punya alasan yang lebih besar dari sekadar “ingin nulis”.

3. Enggak Punya Jadwal Menulis yang Konsisten

Menunggu mood datang baru menulis buku itu jebakan paling umum. Hari ini nulis, besok nggak, lusa lupa, minggu depan udah males. 

Tanpa jadwal yang rutin, naskah gampang terbengkalai. Ide yang semula jelas bisa jadi kabur karena jarang disentuh. 

Konsistensi itu kunci. Nggak harus lama-lama, yang penting rutin dan ada progres. Dengan waktu khusus buat nulis, otak lebih terbiasa masuk ke mode kerja. Pelan-pelan, tulisan akan jalan terus sampai selesai.

4. Terlalu Banyak Edit di Tengah Menulis

Banyak penulis pemula tergoda untuk bolak-balik ke halaman awal. Baca ulang, lalu ubah lagi, ubah lagi. Padahal belum tentu bab berikutnya akan nyambung kalau terus dirombak. 

Waktu habis di bagian awal, sementara akhir naskah belum tersentuh. Akhirnya merasa stuck dan kehilangan arah. 

Padahal, nulis dan ngedit itu dua kerjaan yang beda. Fokus selesaikan dulu tulisannya dari awal sampai akhir. Nanti kalau sudah selesai, baru balik lagi buat edit.

5. Kurang Riset atau Outline yang Jelas

Kalau dari awal enggak tahu mau dibawa ke mana, nulisnya pasti bablas ke mana-mana. Cerita atau ide jadi kehilangan arah. Setiap duduk menulis buku malah bingung mau mulai dari mana. Akhirnya cuma buka dokumen lalu ditutup lagi. 

Padahal, outline bisa bantu otak tetap fokus. Riset juga penting biar naskah enggak asal jadi. Dengan persiapan yang cukup, proses menulis buku bisa lebih lancar. Gak harus detail banget, yang penting tahu garis besar dan tujuannya.

6. Takut Dihakimi atau Dinilai Buruk

Rasa takut ini sering muncul diam-diam. Takut kalau nanti orang bilang tulisannya jelek. Takut kalau ide dianggap gak penting. 

Karena itu, banyak yang milih berhenti sebelum naskahnya selesai. Nggak nulis lebih aman daripada malu. 

Tapi kalau terus-terusan mikir kayak gitu, ya gak akan pernah jadi penulis. Semua penulis pasti pernah bikin tulisan buruk. Dan semua tulisan bisa diperbaiki. Lebih baik diselesaikan dulu, urusan nilai belakangan.

7. Terlalu Sibuk dan Tidak Prioritaskan Menulis

Kesibukan memang gak bisa dihindari. Tapi sering kali, alasan sibuk cuma jadi kedok dari rasa malas atau takut. 

Padahal, kalau benar-benar ingin menulis buku, waktu pasti bisa dicari. Gak perlu nunggu waktu luang banyak, cukup curi waktu 30 menit sehari. 

Kalau nunggu ideal terus, buku gak akan kelar-kelar. Prioritaskan menulis sama seperti pekerjaan penting lainnya. Anggap aja ini janji sama diri sendiri yang harus ditepati. Kalau dijalani rutin, perlahan akan jadi kebiasaan.

8. Overthinking terhadap Pasar dan Penerbit

Banyak yang belum nulis tapi udah mikirin diterbitkan di mana. Takut gak laku, takut ditolak penerbit, takut gak ada yang baca. Semua itu bikin nulis jadi beban. 

Padahal fokus awal seharusnya cuma satu: selesaikan dulu. Pikirin pasar atau penerbit nanti setelah naskahnya jadi. Kalau belum ada isi, ya gak ada yang bisa ditawarkan. 

Overthinking ini bikin langkah pertama jadi terasa berat. Satu-satunya cara keluar dari itu ya mulai nulis dan tetap nulis.

9. Menulis Sendiri Itu Bisa Bikin Kelelahan Mental

Proses menulis buku sering terasa seperti perjalanan sendiri yang panjang. Gak ada teman diskusi, gak ada yang ngasih feedback, akhirnya jadi bingung sendiri. Lama-lama capek secara mental, terus mulai mikir, "Apa ini semua worth it?" 

Padahal mungkin cuma butuh seseorang buat mendengarkan ide dan bantu meluruskan arah. Punya tempat buat bertanya bisa bikin nulis jadi lebih ringan. 

Ada support itu penting, apalagi kalau ini buku pertama. Bimbingan dari orang yang paham proses menulis bisa bantu kamu lebih fokus dan percaya diri. Kadang, satu sesi konsultasi aja udah cukup buat bikin naskah jalan lagi.

Baca juga: Berbagai Cara Menerbitkan Buku yang Perlu Kamu Tahu

Menulis buku memang bukan perkara mudah, apalagi kalau harus dijalani sendirian. Tantangannya bukan cuma soal waktu atau ide, tapi juga soal konsistensi dan arah yang jelas. 

Kadang, kita cuma butuh ruang untuk ngobrol, bertanya, atau sekadar memastikan bahwa yang sedang ditulis masih ada di jalur yang tepat. Kalau sedang merasa mandek atau bingung mau melanjutkan dari mana, itu hal yang wajar.

Konsultasi Menulis Buku

Kalau butuh teman diskusi untuk menulis buku atau ingin tahu apa yang bisa diperbaiki dari blog yang dimiliki, sesi konsultasi bisa jadi titik mula yang membantu. Jika tertarik, bisa booking sesi di sini.


Share
Tweet
Pin
Share
1 comments


Disclaimer: Ini postingan curhatan dan mungkin akan sedikit nyinyir. Tapi, semoga pesan saya tersampaikan dengan baik.

Sepertinya semua orang kepengin jadi penulis buku. Tapi, tidak semua orang punya kemampuan yang cukup untuk itu.

Bukan, maksudnya sih bukan humblebrag atau mau toxic positivity. Wqwqwq.

Tapi itulah yang saya rasakan belakangan ini. Apalagi ngintipin hasil audisi menulis nonfiksi tempo hari.

Aslinya sih saya gemes banget.
Kondisinya tuh, sebagai bagian dari penerbit buku, saya tahu betapa susahnya berburu naskah yang layak ditaruhin investasi, diedarkan ke toko buku, dan dibaca oleh banyak orang.

Yes, people. Menerbitkan buku adalah investasi bagi penerbit, dan pastinya, penulis juga. So, tanamkan ini dalam pikiranmu, ketika kamu berniat untuk mengirimkan naskah ke penerbit untuk diterbitkan secara mayor.

Ada banyak hal yang dipertaruhkan: ongkos jasa ngedit, ongkos jasa layout, ongkos cetak, ongkos marketing, dan pastinya ongkos buat nulis.

Jadi, come on! Kirimkan hanya naskah-naskah yang layak terbit dong!

Eikeh udah nahan banget untuk tetap sopan, enggak menyebut sebagai naskah sampah. Tapi ya begitu kondisinya, gimandong? Sedih akutu! Padahal kamu tahu, berapa banyak naskah yang masuk ke meja redaksi setiap bulannya? Puluhan hingga ratusan.

Dan kadang, enggak ada satu pun yang layak!

Kenapa kebanyakan naskah buku enggak lolos untuk diterbitkan?

  • Genrenya enggak masuk niche penerbit. Come on, kamu harus cari tahu naskah seperti apa yang dicari oleh penerbit, kalau kamu pengin memperbesar peluang naskahmu diterima. Jangan ngirim naskah puisi ke penerbit yang enggak pernah nerbitin buku puisi. BUAT APA? Please deh, do your homework! Kepoinlah itu penerbit yang kamu incar! Termasuk kepoin gimana caranya kirim naskah, alamat email redaksi dan printilan lainnya. Masa kek gini aja nanya sih? (eh tapi kalau enggak nanya, ntar mimin medsos penerbitnya juga nganggur sik!)
  • Topiknya sudah banyak ditulis. Oke, mungkin ini bisa jadi adalah topik populer, yang orang banyak nyari atau suka baca. Tapi, kamu harus menambahkan sesuatu yang lain yang bisa bikin bukumu bakalan stand out di rak buku dong! Kalau kamu nulis sama dengan yang orang lain tulis, ya buat apa diterbitin lagi? Ingat, persaingan. Kamu sebagai penulis mesti banget memikirkan strategi untuk bersaing dengan penulis lain.
  • Tata tulisnya berantakan. Ini loh, yang kadang bikin gemes. Pada halu apa gimana, entahlah. Belajar nulis yang bener dululah. Masa penulis buku enggak bisa bedain penggunaan tanda koma dan tanda titik? Jangan bilang, kan ada editor ya! Keplak nih.
  • Penulis narsis. Bikin buku tentang kisah hidupnya sendiri. Lah, sekarang coba dilihat lagi ya, dirimu itu apakah seseorang yang pernah dipanggil oleh Andy F Noya, sehingga setiap orang harus membaca kisah hidupmu? Tapi sebenarnya, yang kek gini bisa diatasin sih. Caranya, dengan menambahkan tip atau trik, jadi enggak asal curhat doang. Nulis biografi, tapi sendirinya baru terkenal setingkat RT, ya gimana penerbit buku mau naruh investasi?

Hanya punya keinginan saja itu nggak cukup.

Kalau benar-benar berniat menjadi penulis, maka kamu harus punya setidaknya beberapa kebiasaan ini:

  • Mau menulis setiap hari. Penulis ya menulis setiap hari, seperti halnya penjual tahu ya jualan tahu setiap hari. Ketekunanmu menulis akan berbuah kamu semakin peka terhadap tulisan sendiri. Kamu akan bisa merasakan ketika tulisanmu jelek, dan mana yang perlu diperbaiki.
  • Rajin juga membaca. Membaca menutrisi otak penulis, seperti halnya gizi untuk tubuh. Makin bagus nutrisinya, keluarannya juga makin bagus.
  • Bergaul dengan orang-orang yang punya passion yang sama. Karena creativity itu contagious. Kreativitas itu menular. Jadi, pastikan ada di dekat orang-orang yang punya good vibes.
  • Kritis terhadap diri sendiri, jangan jatuh cinta sama tulisan sendiri.

Lalu, apa yang harus diperhatikan saat menulis:

  • Keep your mind open, bahwa nggak setiap orang sepemikiran dengan kita sebagai penulis. Dengan demikian, kita akan terbuka pada diskusi dan kritik. Jangan antikritik dan selalu self-defense kalau ada orang yang memberi kritik, bahkan cela sekalipun. Jangan kek sesembak Sepen Elepen. Please deh.
  • Jangan merasa yang paling tahu, karena sejatinya kita tidak pernah serbatahu. Begitu pun sebagai penulis. Sehingga tulisannya nggak “keminter”. Selalu cek dan ricek fakta, kroscek sana sini dalam menyusun tulisan. Check every side of the story.
  • 5W 1H: who, what, where, when, why, and how harus dijaga porsinya dengan baik. Supaya tulisannya enggak kentang alias nanggung.
  • Tidak semua pembaca “berbicara” dengan bahasa yang sama. Sehingga lihat-lihat target pembaca juga. Jangan sampai malah salah paham, karena tulisan kita kurang bisa dimengerti dengan baik.
  • Write drunk, edit sober. Jangan lupa swasunting. Tulisan berantakan, bikin pusing yang baca. Please, belajar PUEBI. Meski kemudian kamu tetap mempergunakan bahasa santuy, tapi seenggaknya jika kamu punya pengetahuan yang paling basic ini, kamu akan bisa mempergunakannya dengan benar.
 Oke, semoga omelan pendek saya ini enggak terlalu kasar sih. Tapi bener deh. Saya gemes banget.

Ini loh, ada penerbit yang berburu naskah buku, dan open terhadap penulis pemula. Enggak melulu ngejar so-called-penulis viral atau mereka yang berfollower banyak. Seharusnya ini bisa jadi kesempatan buat teman-teman (calon) penulis yang bercita-cita jadi penulis buku.

Tapi ya mbok yao, bekali diri dengan cukup. Jangan halu, dan tetaplah belajar.

Sekian.
Share
Tweet
Pin
Share
4 comments


Self-publishing, atau menerbitkan buku secara mandiri a.k.a menerbitkan indie biasanya ditempuh oleh mereka, either yang pengin punya karya buku idealis (yang gue banget) atau mereka yang sudah nggak sabar nunggu keputusan penerbit mayor yang suka PHP.

Ya, akhir-akhir ini memang semakin banyak orang yang  adalah menerbitkan buku secara mandiri, langsung oleh penulisnya--tanpa melalui penerbit--dari proses pengelolaan penerbitan buku hingga proses pemasarannya.

Seperti acara Stiletto's Freetalk Jumat kemarin yang saya lakukan secara live di Instagram Stiletto Book, penerbitan indie ini merupakan pilihan yang bebas bagi setiap orang, demi mewujudkan mimpi punya buku sendiri. Ya, semacam proyek idealis gitu deh.

Tak kurang dari Krishna Pabichara, Bernard Batubara, Agus Noor, dan beberapa penulis "kelas berat" lainnya pernah suatu kali menerbitkan buku lewat jalur indie, demi terpenuhinya "hasrat pribadi".

(((hasrat pribadi)))

Ya, memang itulah keunggulan buku indie. Kita bisa bikin buku seperti apa pun yang kita mau. Kalaupun ada penerbit yang memfasilitasi dan membantu kita dalam soal editing, nambahin ISBN, proofreading, bikinin cover dan layout, kayak Stiletto Indie Book--tetep iklan ya, cyint!--tapi keputusan terakhir mengenai seperti apa buku yang akan kita buat tetap ada pada penulis.

However, karena semua proses dilakukan oleh diri sendiri maka biasanya kamu akan terbentur dengan masalah-masalah yang mesti kau hadapi dan akhirnya membuat banyak kesalahan. Kesalahan-kesalahan ini kadang bikin penjualan buku kita failed. Atau, kadang bikin kita stuck di tempat. Dan, akhirnya jadi penulis (yang benar-benar) idealis tapi minim reputasi, dalam arti nggak peduli kebutuhan pembaca.

Nah, ini nih. Yang mau saya bahas sekarang.

Sebagai seorang penulis dan "produser" kurang lebih 10 buku indie *HASYAH!*, saya juga melakukan kesalahan berikut. So, kamu barangkali bisa belajar dari semua kesalahan saya itu, untuk kemudian menjadi catatan agar nggak mengulangi kesalahan yang sama.



Beberapa kesalahan yang pernah saya lakukan ketika menerbitkan buku indie

1. Pengin segera punya buku

Ini adalah kesalahan pertama yang saya lakukan saat mulai menerbitkan buku indie. Saya pengin cepet-cepet punya buku sendiri.

Padahal kemampuan masih minus.

Penerbitan indie ini sebenarnya prosesnya begitu sederhana. Ketika kamu menyelesaikan buku pertamamu dalam format Word, kamu pun bisa segera mengirimkannya ke penerbit indie untuk kemudian dicetak langsung menjadi buku.

Begitu bukumu published, dan covernya nongol di website penerbit indie, maka saat itu pula, kamu bisa membaptis dirimu sendiri sebagai seorang penulis.

Dan, kemudian yang terjadi adalah para pembaca buku--yang telah "merelakan" uang mereka untuk membeli bukumu itu--akhirnya harus mengonsumsi buku yang terburu-buru kamu terbitkan.

Sadar nggak, dengan demikian kamu sudah mengecewakan mereka? Mungkin mereka masih akan memberikan feedback yang bagus, karena mereka temanmu. Mereka sayang sama kamu. Mereka hanya berbaik hati dan berusaha mendukung ke-halu-anmu untuk menjadi penulis.

Kalau dipaksa jujur, we never know what they would say. Right?

Ingat.
Penulis indie adalah sekaligus "produser". Produk yang diciptakan dengan buruk akan selalu menarik kritik, publisitas yang buruk, dan membuat orang malas pakai. Demikian juga dengan buku.

Jadi jangan pernah terburu-buru menerbitkan sebuah karya yang dapat membuat reputasimu menjadi jelek.


2. Menganggap diri sendiri pinter banget




Dulu, pertama kalinya saya menerbitkan buku indie, penerbit indie enggak ada yang menyediakan fasilitas editing. Saya sendiri juga enggak ngerti, pentingnya seorang editor dalam proses penerbitan buku.

Saya pikir, "Eikeh kan gape nulis. Eikeh tahu kok kata yang bener dan yang enggak."

SALAH.

Ternyata saya nggak sepinter itu.

So, let's learn.

Sekali lagi, teman-teman dan orang terdekat kamu pastinya akan mengatakan bukumu adalah buku terbaik, fantastis, dan luar biasa. Itu karena mereka tidak ingin melukai perasaanmu.

Bisa saja buku kamu sebenarnya mengerikan karena penuh dengan kesalahan tata bahasa, ejaan dan tanda baca di atas ratusan kesalahan ketik konyol lainnya.

Hal yang perlu dipelajari: peran editor itu penting! Atau seenggaknya first reader. Mereka akan bisa membantu kita, untuk "mencari letak kesalahan". Yes, ada kalanya kita memang mesti "nyari-nyari kesalahan". Supaya apa? Ya, supaya bisa diperbaiki.

Jangan hanya puas dengan satu orang editor atau first reader. Bahkan kalau perlu, cari beberapa orang sekaligus yang kalau kasih kritik pedesnya minta ampun. Siap-siap baper dan pundunglah kamu ya. Karena fase itu akan selalu ada.

Dapatkan semua umpan balik yang penting, bantuan, dan bimbingan yang kamu bisa.


3. Tanpa Konsep

Karena kesalahan poin pertama, maka terjadilah kesalahan poin ketiga ini.

Berpikir untuk segera bisa punya buku, bikin saya menerbitkan buku tanpa konsep sama sekali. Asal ngumpulin (atau bikin tulisan) tanpa konsep. Atas nama kebebasan berekspresi.

Well, ada baiknya sih, ketika kamu mulai berpikir untuk membuat buku, bayangin dulu, bukunya nanti akan seperti apa. Cari deh referensi yang banyak. Main ke toko-toko buku. Zaman sekarang buku-buku itu semua berkonsep lo. Kamu bisa mengadopsi salah satu ide konsep buku, lalu modifikasi dengan caramu sendiri.

Misalnya, sudah beberapa kali saya bikin buku dengan berkonsep kumpulan kisah dengan ilustrasi surreal di masing-masingnya. Konsep ini akhirnya "gue" banget, meski saya mendapatkan ide ini dari buku lain. Nope, ini bukan ide original saya. Tapi somehow, bukunya tetap gue banget kan?


4. Tanpa rencana

Nah, bagusnya, konsep buku ini juga kemudian diikuti dengan rencana pemasaran.

Berpikir untuk jualan buku secepatnya begitu sudah selesai hanya dengan menyodor-nyodorkannya di depan hidung orang supaya dibeli, itu adalah kesalahan yang umum.

Ini juga menjadi kesalahan saya dulu. Setelah beberapa lama belajar marketing, baru deh saya tahu kesalahan saya ini menyebalkan banget :))

So, mau menerbitkan buku indie? Kamu mesti punya strategi pemasaran, cyint. Kenapa? Nah, penyebab kesalahan ini ada di poin kelima di atas. Hahahah.

Jadi, kita akan langsung ke strategi pemasaran yang sudah pernah saya lakukan aja deh. Siapa tahu, kamu bisa adopsi dan sesuaikan dengan kebutuhanmu sendiri. Misalnya begini.

Coba bikin step by step rencana penjualan bukumu. Contohnya:

  • Bukti terbit dapat 8 buku (misalnya nih), 2 buku untuk giveaway di akun Instagram pribadi. 2 buku lain untuk dikirim ke teman yang followernya banyak, untuk direview dan diendorse. 2 buku untuk giveaway di komunitas (pilih yang anggotanya banyak).
  • Seminggu 4 kali akan upload foto buku di Instagram dengan berbagai gaya dan angle.
  • Coba cari celah di mana bisa bikin acara bedah atau diskusi buku, baik itu online maupun offline. Kalau punya komunitas yang diikuti, coba deh sepik-sepik adminnya siapa tahu dibolehin bikin bedah buku atau kulwap gitu.
  • Coba cari informasi beberapa toko buku online perorangan yang mau ngebantu jualin. Misalnya nih, saya pernah menghubungi toko buku indie agar bisa nitip buku-buku saya. Ternyata cukup mudah kok syaratnya. Mereka minta bagi hasil sekian persen (tergantung kebijakan toko bukunya) dan kita harus menyediakan stok buku barang 5 biji. Dengan royalti buku indie yang rata-rata 50% lebih itu, marginnya masih masuk kok. Let's say kita enggak dapat royalti 50% lagi, tapi 30% misalkan. Kan masih lumayan?  Orang royalti mayor aja "cuma" 10% :))
Nah, jadi rencanakanlah "kelahiran" bukumu from A to Z ya. Ini bukumu loh! Buku yang kamu banget! 


5. Berpikir penerbit akan membantu penjualan bukumu

So, memang kamu yang harus terlibat from A to Z. Kenapa? Ya karena ini buku indie! Buku yang bukan berada di dalam area penerbit.

Banyak lo ini, penulis pemula yang salah paham. Dikiranya, tanpa perlu dia bekerja keras, buku akan laris sendiri.

Terus, ketika penerbit nggak transfer royalti, jadi baper. Terus ngomel, nggak cuma dengan meneror penerbit, tapi misuh-misuh di media sosial. Bilangnya, penerbit ini penipu!

YHA!



Ini buku indie, Zheyenk. Buku indie adalah buku yang berada di dalam tanggung jawabmu sendiri. Penerbit mah ... emang nggak akan ngapa-ngapain. Salah besar kalau kamu hanya mengandalkan penerbit buat memasarkan bukumu.

Kalaupun penerbit lantas mempromosikan bukumu juga, itu adalah PRIVILEGE. Nggak semua penerbit indie mau dan bisa mempromosikan buku dengan baik lo.

Untunglah saya enggak pernah melakukan kesalahan yang ini sih.
Tapi, biasanya justru kena omel sama penulis yang melakukan kesalahan ini. Hahaha.

Dikomplen, "Kok buku saya enggak pernah dipromosiin? Jadinya nggak laku kan?"

Duh, cyint. Kamu dong yang gencar promosinya. Penerbit mah punya jadwal promosi, dan semua buku indie punya jatah dipromosikan. Lu emang siapa, minta buku dipromosiin terus-terusan?

Wqwqwq.
Meh. Coba ya, dibaca MoU-nya. Biasanya sih soal promosi ini juga sudah ada di MoU.





Penerbitan buku indie memang masih sangat baru trennya ya, dan belum matang sehingga semua yang terlibat di dalamnya masih bereksperimen. Bukan hanya penulis, tetapi juga para penerbit dan toko buku indie.

Semua orang bisa membuat kesalahan. Kita semua belajar.

Jika kamu baru dalam hal penerbitan buku indie, maka mungkin dengan membaca 5 kesalahan perihal menerbitkan buku indie di atas dapat membantumu untuk mengurangi kesalahan yang sama.

Memang saya adalah markom Stiletto Book. Tapi saya juga penulis buku indie. So far, saya lihat sistem penerbitan indie di Stiletto Indie Book masih "agak" lebih baik dari yang lain. Saya sendiri terlibat di dalamnya untuk bisa meningkatkan mutu pelayanannya.

So silakan, kepoin Stiletto Indie Book, jika kamu pengin menerbitkan buku indie. Ke depannya, saya juga akan banyak bikin diskusi seputar menerbitkan buku indie melalui Instagram Live di akun Instagram Stiletto Book. 

Setiap Jumat pukul 11.00--insyaallah--akan selalu ada Stiletto's Freetalk. You're invited to get involved. Bolehlah difollow dulu, lalu tandain hari Jumatmu ya. Karena di Stiletto's Freetalk itu kita akan ngobrol tentang banyak hal--terutama soal menerbitkan buku indie.

Cya there!

Share
Tweet
Pin
Share
6 comments



Suatu hari, ada pesan WhatsApp mampir ke handphone saya.

Her: "Hai, Mbak Carra! Mbak, saya lagi di Jogja lo! Ketemuan yuk!"
Me: "Wah, iyakah? Sampai kapan?"
Her: "Iya, Mbak, saya lagi ada acara di hotel X (menyebutkan salah satu nama hotel ternama di Jogja). Sampai besok sih, Mbak."
Me: "Ya udah, mau ketemuan di mana?"
Her: "Di mal Y (menyebutkan nama mal yang berdampingan dengan hotelnya) saja ya."
Me: "Oke."
Her: "Mbak, aku pengin banget deh buku Blogging-nya. Dibawain dong, Mbak!"
Me: "Siap!"

So, agak sorean itu, saya pun ketemu dengan Her. Tentu saja saya bawakan buku Blogging: Have Fun and Get the Money (kamu sudah punya belum? Coba deh, beli kalau belum punya #selaluadacelahuntukpromosi) itu. Ada yang mau beli, ya masa enggak saya bawain kan?

Singkat cerita, saya ketemuan dengan Her. Obrol sana obrol sini, basa sana basi sini. Sungguh pertemuan yang berfaedah.

Bukunya?
Tentu saja saya sodorkan.

Tapi ...
Sampai akhir ketemuan, tidak ada ganti ongkos cetak dan nulis buku yang seharusnya saya terima.
Hahahaha.
HAHAHAHAHA.

Yep, nggak ada.
Apa iya, saya mesti nagih menadahkan tangan, sembari bilang, "Eh, mana uang bukunya?"

YHA KHALI.

Saya pun pulang.
Berusaha ikhlas.

Yah, begitulah. Saya kira, orang umumnya sudah tahu, bahwa butuh banyak usaha untuk menulis sebuah buku--buku apa pun itu. Sudah sering saya baca status-status ataupun mendengarkan keluh kesah para penulis buku yang sedih karena teman-temannya--yang katanya dekat, akrab, dan mendukung profesinya sebagai penulis buku--yang meminta buku secara gratis.

Tapi saya yakin. Penulis sebesar Dee Lestari dan Tere Liye pun sekali dua kali barangkali juga masih mengalami hal seperti ini. Apalagi penulis anonoh macam saya.

Ya, akhirnya saya cuma bisa tersenyum kecut.
Seandainya, si Her tadi dengan terang-terangan minta gratis, tentu saja saya bisa ngeles. Tapi saya merasa kek dikibulin sih. *sigh* Di situ sedihnya saya.
Bahkan sebenarnya peristiwa itu sudah luama sekali. Tapi, ya sampai sekarang saya nggak bisa melupakannya. Dendam? Nggak juga. Saya sudah mengikhlaskan buku itu. Toh, kalau dari segi materi, sudah ketutup semua kok dari royalti.
Tapi, bukan di situ masalahnya.

Saya merasa tidak dihargai.

Saya pribadi nggak pernah memaksa teman-teman saya untuk membeli buku saya. Kalau ada yang butuh, ya pasti kok mau beli. Kalau enggak, ya, saya juga nyadar. Buku itu ada di tingkat prioritas keberapa sih dari orang-orang? Kalau ada sisa uang jajan, ya mungkin bisa beli buku. Tapi kalau ada yang lain yang lebih diminati atau diperlukan, ya prioritas buku akan turun lagi.

Cuma ya, nggak gitu juga mainnya.



Puji Tuhan, yang kayak Her di atas itu ya cuma segelintir. Untuk kasus buku Blogging, ya cuma satu orang ini aja sih. Tapi entah kenapa, nusuk amat ya, bok. :)))

Saya juga suka memberikan buku saya secara gratis pada orang-orang tertentu. Tapi itu pastinya beda kasus dengan yang di atas. Saya memberi karena saya memang mau memberi. Bukan dipaksa untuk memberi.

So, saya cuma mau kasih beberapa tip nih.

Jika kamu punya teman seorang penulis, dan kamu nggak bisa ikutan beli bukunya--entah karena apa pun penyebabnya--kamu tetap bisa kok men-support teman penulis kamu itu TANPA HARUS MEMBELI bukunya, tapi juga nggak minta gratis.

Begini caranya.

5 Cara untuk men-support teman penulis buku


1. Bersedia diajak diskusi


Misalnya temanmu itu masih dalam proses menulis, maka coba tanyakan kabarnya. Kabar bukunya, terutama.

Biasanya sih penulis memang butuh masukan yang nggak menggurui. Hanya sekadar pandangan dari kita yang suka baca buku.


2. Tawarkan diri untuk menjadi first reader


Tawarkan dirimu sendiri untuk menjadi first reader.
Kalau drafnya masih mentah ya cobalah untuk memberi beberapa komentar atau catatan. Akan lebih bagus lagi kalau bisa kasih saran.

Tapi kalaupun enggak, yang berupa komen pun akan sangat berharga. Misalnya, untuk novel nih, "Karakter tokoh A menurutku tuh begini begini ya, orangnya?"

Kalau kita bisa tepat mendeskripsikannya seperti bayangan penulis, maka itu berarti dia sudah oke dalam penggambarannya. Kalau meleset, berarti dia jadi punya catatan apa yang perlu diperbaiki.

Untuk nonfiksi, kita bisa bantuin untuk melihat bagian mana yang perlu penjelasan lebih lanjut.


3. Ikut promosi


Nah, meski nggak bisa beli bukunya, kamu bisa men-support si penulis buku--teman kamu itu--dengan cara ikut mempromosikan bukunya.

Gimana caranya?

Ya, bisa saja. Misal, share saja covernya--biasanya di website penerbit ada tuh dipajang covernya. Bisa kamu save as kan, terus posting deh di media sosial kamu. Kalau kebetulan kamu ikutan baca drafnya sebelum diterbitkan, kamu bisa juga cerita bagaimana kesanmu saat baca pertama dulu.

Kamu punya akun Goodreads? Nah, berikan rating deh bukunya di sana. Nggak harus beli ini kan? Hahaha. Kasih aja rating bagus. Wqwqwq.

Atau kamu kasih saja cerita tentang temanmu itu.

Kalau ada teman sirkelmu yang tertarik dan pas dengan kebutuhannya, kan bisa jadi dapat info. Kamu nggak beli, tapi kamu ikut ngejualin juga kan?

Kamu nggak rugi, dan juga nggak ngeluarin ongkos kan?
Teman penulismu pasti juga seneng kamu promosikan.

Seandainya kamu ada waktu, kamu bisa kunjungi toko buku di kotamu. Coba cek deh, apakah buku teman kamu itu sudah ada di rak buku. Kalau sudah ada, foto, lalu kirimkan pada temanmu. Atau, langsung saja posting di media sosialmu, dan tag deh penulisnya.

Biasanya seorang penulis akan seneng banget kalau ada yang nginfoin bahwa bukunya ada di toko buku tertentu.


4. Ikut hadir di event bukunya


Mungkin teman kamu itu punya acara untuk mempromosikan bukunya? Kamu juga bisa ikut meramaikan.

Kalau kamu nggak bisa bantu-bantu di persiapan, kamu bisa, misalnya, ikut nyebarin banner promo acaranya. Colek teman-teman lain yang mungkin tertarik ikut.

Dan, kamu sendiri usahakan juga datang ke acaranya, entah itu acara bedah buku atau talkshow atau book signing.



5. Semangati penulis


Kalau penulis amatir--kayak saya gini--apalagi yang nulis bukunya baru buku pertama, ya pokoknya belum setenar atau seproduktif Tere Liye, Indah Hanaco dkk, maka biasanya si penulis akan secara perlahan tenggelam dalam euforia buku pertamanya tersebut.

Selanjutnya entah deh, bisa menulis lagi apa enggak.

Karena itu, coba deh, semangati si penulis, supaya segera bikin buku lagi setelah buku yang terdahulu sudah terbit. Coba tanyakan, apakah ia punya niat untuk menulis buku apa lagi, ada ide seru apa, dan seterusnya.




See?
Banyak kok yang bisa kita lakukan untuk kasih support ke teman penulis buku, tanpa harus membeli bukunya--meskipun kalau kamu mau membeli sih akan sangat baik adanya.

Saya sendiri selalu berusaha membeli buku-buku yang ditulis oleh teman-teman saya meski banyak dari mereka nggak balik beli buku saya. Ikhlas saya mah :)) Sesuatu, gitu. Kita belajar apa pun dari hidup kan ya? Hahaha.

Dengan cara demikian, saya mencoba untuk ikut andil menghidupkan dunia buku, yang saya cintai ini.

So, btw, sudah pada beli buku Blogging: Have Fun and Get The Money belum? Tinggal dikit stoknya di gudang penerbit ini.

#teteup
Share
Tweet
Pin
Share
11 comments
Older Posts

Cari Blog Ini

About me





Content & Marketing Strategist. Copy & Ghost Writer. Editor. Illustrator. Visual Communicator. Graphic Designer. | Email for business: mommycarra@yahoo.com

Terbaru!

Tolong! Otak Saya Butuh Tombol Off

Ada hari ketika ide bisa muncul di mana saja. Lagi kerja, kepikiran satu hal. Lagi mandi, muncul ide lain. Saat jalan, tiba-tiba terpikir ju...

Postingan Populer

  • Yang Harus Blogger Ketahui Mengenai Link Eksternal - The Bloggers' Biggest Fear
    Warning: artikel ini akan panjang. Tapi I guaranteed, akan membahas hingga ke detail mengenai outbound links atau link eksternal. Karena...
  • Beberapa Etika Meninggalkan Komentar yang Baik di Artikel Lain Agar Menambah Nilai untuk Blog Kamu
    Yuk, tinggalkan komen yang memberi nilai tambah bagi blog kita sendiri! Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menulis tentang beberapa...
  • 15 Ide Style Feed Instagram yang Bisa Kamu Sontek Supaya Akunmu Lebih Stylish
    Hae! Kemarin saya sudah bahas mengenai do's and donts dalam mengelola akun Instagram , terus ada pertanyaan yang mampir, "Ka...
  • Ukuran Feed Instagram 6 Kotak dan Cara Membuatnya Tanpa Ribet
    Eits. Bukan, ini bukan fitur baru. Ada yang nanya soal feed Instagram 6 kotak dari Google, masuk deh ke Console. Hehehe. Iya, ini bukan fitu...
  • 7 Kesalahan Umum yang Sering Dilakukan oleh Kita Saat Membuat Laman About Me
    7 Kesalahan Umum yang Sering Dilakukan oleh Kita Saat Membuat Laman About Me Baiklah. Ini bahasan kesekian dalam topik apa saja yang h...

Blog Archive

Portofolio

  • Buku Mayor
  • Portfolio Konten
  • Portfolio Grafis
  • Konten Web
  • Copywriting
  • E-book
  • Buku Fiksi
  • Ilustrasi

Follow Me

  • instagram
  • Threads

Created with by ThemeXpose