Nggak Bisa Beli, Begini Cara Memberi Support pada Teman Penulis Buku Tanpa Meminta Buku Gratis




Suatu hari, ada pesan WhatsApp mampir ke handphone saya.

Her: "Hai, Mbak Carra! Mbak, saya lagi di Jogja lo! Ketemuan yuk!"
Me: "Wah, iyakah? Sampai kapan?"
Her: "Iya, Mbak, saya lagi ada acara di hotel X (menyebutkan salah satu nama hotel ternama di Jogja). Sampai besok sih, Mbak."
Me: "Ya udah, mau ketemuan di mana?"
Her: "Di mal Y (menyebutkan nama mal yang berdampingan dengan hotelnya) saja ya."
Me: "Oke."
Her: "Mbak, aku pengin banget deh buku Blogging-nya. Dibawain dong, Mbak!"
Me: "Siap!"

So, agak sorean itu, saya pun ketemu dengan Her. Tentu saja saya bawakan buku Blogging: Have Fun and Get the Money (kamu sudah punya belum? Coba deh, beli kalau belum punya #selaluadacelahuntukpromosi) itu. Ada yang mau beli, ya masa enggak saya bawain kan?

Singkat cerita, saya ketemuan dengan Her. Obrol sana obrol sini, basa sana basi sini. Sungguh pertemuan yang berfaedah.

Bukunya?
Tentu saja saya sodorkan.

Tapi ...
Sampai akhir ketemuan, tidak ada ganti ongkos cetak dan nulis buku yang seharusnya saya terima.
Hahahaha.
HAHAHAHAHA.

Yep, nggak ada.
Apa iya, saya mesti nagih menadahkan tangan, sembari bilang, "Eh, mana uang bukunya?"

YHA KHALI.

Saya pun pulang.
Berusaha ikhlas.

Yah, begitulah. Saya kira, orang umumnya sudah tahu, bahwa butuh banyak usaha untuk menulis sebuah buku--buku apa pun itu. Sudah sering saya baca status-status ataupun mendengarkan keluh kesah para penulis buku yang sedih karena teman-temannya--yang katanya dekat, akrab, dan mendukung profesinya sebagai penulis buku--yang meminta buku secara gratis.

Tapi saya yakin. Penulis sebesar Dee Lestari dan Tere Liye pun sekali dua kali barangkali juga masih mengalami hal seperti ini. Apalagi penulis anonoh macam saya.

Ya, akhirnya saya cuma bisa tersenyum kecut.
Seandainya, si Her tadi dengan terang-terangan minta gratis, tentu saja saya bisa ngeles. Tapi saya merasa kek dikibulin sih. *sigh* Di situ sedihnya saya.
Bahkan sebenarnya peristiwa itu sudah luama sekali. Tapi, ya sampai sekarang saya nggak bisa melupakannya. Dendam? Nggak juga. Saya sudah mengikhlaskan buku itu. Toh, kalau dari segi materi, sudah ketutup semua kok dari royalti.
Tapi, bukan di situ masalahnya.

Saya merasa tidak dihargai.

Saya pribadi nggak pernah memaksa teman-teman saya untuk membeli buku saya. Kalau ada yang butuh, ya pasti kok mau beli. Kalau enggak, ya, saya juga nyadar. Buku itu ada di tingkat prioritas keberapa sih dari orang-orang? Kalau ada sisa uang jajan, ya mungkin bisa beli buku. Tapi kalau ada yang lain yang lebih diminati atau diperlukan, ya prioritas buku akan turun lagi.

Cuma ya, nggak gitu juga mainnya.



Puji Tuhan, yang kayak Her di atas itu ya cuma segelintir. Untuk kasus buku Blogging, ya cuma satu orang ini aja sih. Tapi entah kenapa, nusuk amat ya, bok. :)))

Saya juga suka memberikan buku saya secara gratis pada orang-orang tertentu. Tapi itu pastinya beda kasus dengan yang di atas. Saya memberi karena saya memang mau memberi. Bukan dipaksa untuk memberi.

So, saya cuma mau kasih beberapa tip nih.

Jika kamu punya teman seorang penulis, dan kamu nggak bisa ikutan beli bukunya--entah karena apa pun penyebabnya--kamu tetap bisa kok men-support teman penulis kamu itu TANPA HARUS MEMBELI bukunya, tapi juga nggak minta gratis.

Begini caranya.

5 Cara untuk men-support teman penulis buku


1. Bersedia diajak diskusi


Misalnya temanmu itu masih dalam proses menulis, maka coba tanyakan kabarnya. Kabar bukunya, terutama.

Biasanya sih penulis memang butuh masukan yang nggak menggurui. Hanya sekadar pandangan dari kita yang suka baca buku.


2. Tawarkan diri untuk menjadi first reader


Tawarkan dirimu sendiri untuk menjadi first reader.
Kalau drafnya masih mentah ya cobalah untuk memberi beberapa komentar atau catatan. Akan lebih bagus lagi kalau bisa kasih saran.

Tapi kalaupun enggak, yang berupa komen pun akan sangat berharga. Misalnya, untuk novel nih, "Karakter tokoh A menurutku tuh begini begini ya, orangnya?"

Kalau kita bisa tepat mendeskripsikannya seperti bayangan penulis, maka itu berarti dia sudah oke dalam penggambarannya. Kalau meleset, berarti dia jadi punya catatan apa yang perlu diperbaiki.

Untuk nonfiksi, kita bisa bantuin untuk melihat bagian mana yang perlu penjelasan lebih lanjut.


3. Ikut promosi


Nah, meski nggak bisa beli bukunya, kamu bisa men-support si penulis buku--teman kamu itu--dengan cara ikut mempromosikan bukunya.

Gimana caranya?

Ya, bisa saja. Misal, share saja covernya--biasanya di website penerbit ada tuh dipajang covernya. Bisa kamu save as kan, terus posting deh di media sosial kamu. Kalau kebetulan kamu ikutan baca drafnya sebelum diterbitkan, kamu bisa juga cerita bagaimana kesanmu saat baca pertama dulu.

Kamu punya akun Goodreads? Nah, berikan rating deh bukunya di sana. Nggak harus beli ini kan? Hahaha. Kasih aja rating bagus. Wqwqwq.

Atau kamu kasih saja cerita tentang temanmu itu.

Kalau ada teman sirkelmu yang tertarik dan pas dengan kebutuhannya, kan bisa jadi dapat info. Kamu nggak beli, tapi kamu ikut ngejualin juga kan?

Kamu nggak rugi, dan juga nggak ngeluarin ongkos kan?
Teman penulismu pasti juga seneng kamu promosikan.

Seandainya kamu ada waktu, kamu bisa kunjungi toko buku di kotamu. Coba cek deh, apakah buku teman kamu itu sudah ada di rak buku. Kalau sudah ada, foto, lalu kirimkan pada temanmu. Atau, langsung saja posting di media sosialmu, dan tag deh penulisnya.

Biasanya seorang penulis akan seneng banget kalau ada yang nginfoin bahwa bukunya ada di toko buku tertentu.


4. Ikut hadir di event bukunya


Mungkin teman kamu itu punya acara untuk mempromosikan bukunya? Kamu juga bisa ikut meramaikan.

Kalau kamu nggak bisa bantu-bantu di persiapan, kamu bisa, misalnya, ikut nyebarin banner promo acaranya. Colek teman-teman lain yang mungkin tertarik ikut.

Dan, kamu sendiri usahakan juga datang ke acaranya, entah itu acara bedah buku atau talkshow atau book signing.



5. Semangati penulis


Kalau penulis amatir--kayak saya gini--apalagi yang nulis bukunya baru buku pertama, ya pokoknya belum setenar atau seproduktif Tere Liye, Indah Hanaco dkk, maka biasanya si penulis akan secara perlahan tenggelam dalam euforia buku pertamanya tersebut.

Selanjutnya entah deh, bisa menulis lagi apa enggak.

Karena itu, coba deh, semangati si penulis, supaya segera bikin buku lagi setelah buku yang terdahulu sudah terbit. Coba tanyakan, apakah ia punya niat untuk menulis buku apa lagi, ada ide seru apa, dan seterusnya.




See?
Banyak kok yang bisa kita lakukan untuk kasih support ke teman penulis buku, tanpa harus membeli bukunya--meskipun kalau kamu mau membeli sih akan sangat baik adanya.

Saya sendiri selalu berusaha membeli buku-buku yang ditulis oleh teman-teman saya meski banyak dari mereka nggak balik beli buku saya. Ikhlas saya mah :)) Sesuatu, gitu. Kita belajar apa pun dari hidup kan ya? Hahaha.

Dengan cara demikian, saya mencoba untuk ikut andil menghidupkan dunia buku, yang saya cintai ini.

So, btw, sudah pada beli buku Blogging: Have Fun and Get The Money belum? Tinggal dikit stoknya di gudang penerbit ini.

#teteup

10 komentar:

  1. Wah, masih ada juga ya orang kayak gitu. Saya kalau di posisinya mba carra juga pasti merasa jengkel. Dipikir menulis itu gampang apa. Saya aja yang masih dalam proses menulis buku pertama udah ngerasa lumayan kewalahan. Padahal baru ada 7600 kata. Hiks ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks, mbak Carra! Oh ya kebetulan saya angkat pengalamannya mbak Carra ini ke artikel saya yang baru soal mental gratisan. Gpp ya mba? Kalau misalnya mbak keberatan ya nanti saya ganti dengan contoh cerita yang lain.^_^ btw, link artikelnya disini: https://bit.ly/2nBibhE

      Hapus
    2. Keberatan?
      Enggak dong. Makasih banget ya, sudah disebutkan di artikel. Semoga penulisan buku kamu lancar yah! Laris juga, nanti ^^

      Hapus
  2. Senoga si dia baca ya, mba 😂. Btw apa dijual online juga bukunya mba?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak akan baca sih sepertinya. Wqwqwq.
      Bisa dibeli online kok. Hubungi langsung ke Stiletto Book ya. Ini WA Penjualannya 0822-2026-1010.

      Hapus
  3. Menyebalkan banget orang kayak gitu, ya. Bukannya support malah nembak gratis. Aku selalu beli buku karya teman terutama yang topiknya memang aku suka seperti buku perjalanan, blogging, atau kepenulisan lainnya. Dan aku udah lama beli buku blogging mu, Mba. Pas ke Yogya tempo hari malah kubawa, semisal bisa ketemu mau minta tanda tangannya langsung hehehe. Rupanya belum rezeki bertemu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yampun, pake dibawa ke Jogja T___T Padahal akunya yg ga bisa ketemu waktu itu. Huhuhuhu. Maafkan aku, Mbak. Semoga ada rezeki ketemu kita ya, dalam waktu dekat.

      Hapus
  4. Ya ampun akun Goodreads ku udah terlantar lama.
    Btw klo aku ke Jogya, kita ketemuan ya Mak. Mau apa?? Buku yg blogging itu kan aku belinya di gramed jember, jadi belum dapat cap bibir dari mak Carra *belum afdol klo nggak ada stempelnya, gituuuuu hahaha *kolektor cap bibir penulis :D

    BalasHapus