Menjadi Penulis Konten: Apa dan Bagaimana Saya Menjalaninya



Ada yang tertarik menerjuni profesi sebagai penulis konten?

Kalau ada, well, artikel ini bukan saya tulis untuk menakut-nakuti ya. Hanya saja saya mau share apa saja yang pernah saya alami sejak kira-kira 8 tahun yang lalu mulai merintis profesi penulis lepas.

Menulis menjadi "pekerjaan" saya tahun 2010, saat saya sedang butuh duit banget. Ya, saya kerja kantoran sih. Tapi kala itu saya benar-benar berada di situasi yang sangat sulit. Dan, all I can do is writing. Saya sudah mencoba jualan, dagang ini itu, nggak ada yang berhasil.

Maka, menulis menjadi alternatif terakhir saya. Padahal saya tahu, dan sering dengar, bahwa profesi penulis itu nggak bisa buat hidup.

Tapi ternyata perjalanan membawa saya ke arah yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Dibuka dengan tawaran untuk menjadi salah satu buzzer untuk platform mamah-mamah muda, yang websitenya dikelola oleh satu merek susu formula anak. Saya bertugas menulis konten berupa artikel dan menjadi buzzer dengan KPI memasukkan traffic ke website tersebut sebanyak-banyaknya.

Saya masih cupu, hingga saya melakukan satu kesalahan. Maka, kontrak saya diputus. Memang saya yang salah. Tapi dari job tersebut, terbuka beberapa kesempatan lain. Saya merasakan dibayar dengan fee yang macem-macem banget, mulai dari Rp5.000/artikel sampai jutaan per artikel.

Hah? Menerima job nulis seharga 5rebu?

Iya. Percayalah, seberapa pun harga tulisan saya, semua saya syukuri. Selalu ada yang bisa saya dapatkan dari menulis. Karena itu pula, saya mencoba tak pernah menghujat para penulis yang main ambil aja job-job yang berharga murah. Karena, ya siapa tahu kondisinya?

Saat sulit, duit 5rebu itu berharga banget, cyint. Percaya deh. Apalagi saat yang bisa kita lakukan itu cuma nulis.

Anyway.
Semua job menulis yang saya dapatkan akhirnya sambung menyambung, hingga sekarang. Rasanya rezeki itu tak pernah putus, dan kesemuanya dari hasil saya menulis konten.

Mulai dari mengisi blog pariwisata yang dibayar dolar, ngisi artikel di web beberapa penerbit buku--sampai dikirimi beberapa buku untuk saya baca dan saya ulas--sampai kemudian saya dipercaya untuk mengelola portal untuk pembaca mamah-mamah muda. Hingga sekarang dipercaya mengelola konten web kesehatan milik salah satu universitas tertua di Indonesia, dan yang akan datang: mengisi konten untuk website dan media sosial sebuah perusahaan perencanaan keuangan.

Ternyata tahun ini sudah tahun ke-8 saya mengklaim diri saya sendiri sebagai penulis konten.

Menjadi penulis konten jangan dibayangkan yang enak-enak saja. Yang saya sebutkan di atas, memang adalah hasil yang didapat. Tapi saat menjalaninya, nggak ada yang tahu betapa saya jumpalitan untuk memenuhi target.

Memangnya, apa saja yang sih yang dikerjakan? Well, ya banyak sih. Karena rata-rata, target harian saya adalah menulis dan mengolah sedikitnya 5 artikel, masih belum termasuk konten media sosial.


Dan inilah beberapa hal yang harus saya lakukan setiap hari, sejak saya menekuni profesi saya sebagai penulis konten.


1. Rajin baca

Nggak ada orang yang benar-benar menguasai semua topik. Begitu juga saya. Tapi, sebagai penulis konten--apalagi kalau saya harus "mewakili" citra web klien--maka saya harus bisa seolah-olah saya menguasai topik yang dibahas dalam web tersebut.

Contoh. Saya sedang menangani konten web kesehatan--yang harapannya bisa menyusul kesuksesan Alodokter dan HelloSehat. Tapi tahu apa saya soal kesehatan? Palingan ya bisanya cuma ngasih artikel tentang jenis-jenis olahraga yang bisa dilakukan di rumah.

Tapi untuk web ini, saya nggak bisa cuma ngasih artikel jenis portal kayak gitu kan? Makanya mesti banyak baca.

Saat kita sudah memutuskan untuk menjadi seorang pekerja penulis konten komersial dan profesional, kita mau nggak mau mesti bisa belajar segala hal dengan cepat. Para penyewa jasa penulis konten itu kan nggak akan pilih-pilih topik yang sesuai dengan keahlian kita kan? Mereka akan pesan konten yang mereka butuhkan.

So, mau menjadi seorang penulis yang sukses? Maka harus rajin membaca. Harus rajin memperluas wawasan. Harus serba tahu. Mungkin harus tahu dari mulai gosip artis sampai soal politik.

Percaya deh, jika kita memilih-milih topik yang ingin kita tulis, maka kita akan kalah bersaing dengan yang lain.


2. Belajar berbagai gaya dan teknik penulisan

Ada beberapa gaya penulisan yang minimal harus kita pahami, jika ingin menjadi seorang penulis konten profesional dan komersial:

  • News writing: gaya menulis untuk berita aktual
  • Copywriting: gaya menulis untuk iklan atau advertorial
  • Personal writing: yang ini kayak di blog kurang lebih. Jadi ada rasa personal si penulis. Mungkin ada pengalaman atau opini pribadi penulis yang juga diungkapkan. Nah, ini dipelajari saat kita harus menjadi ghost writer bagi orang lain.
  • In-depth writing: biasanya ini untuk menganalisis suatu masalah atau topik secara mendalam, ada data, ada penjabaran masalah, penyebab, sampai solusi.

Bagaimana caranya mempelajari semua gaya menulis itu? Praktik dan latihan terus.

Saat sedang membaca sesuatu, amati gaya penulisannya. Catat hal-hal yang berkaitan dengan teknik menulisnya. Lalu, praktikkan di blog.

Makanya saya ternak blog :)) Buat latihan.


3. Nggak boleh males riset

Untuk menulis satu topik, hanya bereferensikan satu artikel saja nggak cukup. Kita harus banget mencari banyak referensi lain untuk bisa mendukung tulisan kita.

Saya sendiri biasanya akan mencari 3 - 5 artikel lain sebagai bahan riset. Kadang kejadian juga sih, sudah baca 3 artikel, tiba-tiba saja angle penulisan jadi berubah gara-gara ada hal yang ditemukan saat riset tersebut.

Selain baca, kalau memang ada yang bisa ditanyai, ya mesti berani nanya.

Sering juga sih, udah niat nulis, riset sana sini, bingung, pusing. Terus mandeg. Writer’s block.

Biasa banget mah itu. Jangan tanya deh gimana cara saya mengatasinya. Karena tergantung penyebab writer’s block-nya juga.


4. Harus bisa menyesuaikan diri dengan cepat

Saat kita menulis di blog, bisa saja kita suka-suka. Mau nulis alay juga terserah saja.

Tapi, ketika kita menjadi seorang penulis konten, kita harus bisa menulis sesuai dengan pesanan. Mau pakai bahasa gaulkah? Atau bahasa formal? Harus sesuai EBI-kah? Bahasa SEO friendly pun beda lagi. Karena kadang kita sudah pakai istilah yang sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia, eh ternyata, nggak ada yang nyari kata tersebut di search engine.

Jadi, kita memang harus bisa fleksibel, menyesuaikan diri dengan pesanan klien. Harus mau berubah-ubah “kepribadian” dalam menulis.


5. Belajar setiap hari

Zaman sekarang, seorang penulis konten nggak cuma nulis doang.

Kita mesti pinter-pinter menyisipkan kata kunci seperti yang diminta oleh klien. Atau harus bisa mewakili “suara” si brand-nya, jika kita diminta untuk copywriting produk brand tersebut. Atau harus tahu ke mana mencari data, jika kita diminta menulis in-depth article mengenai satu masalah.

Syukur-syukur bisa bikin infografis juga.

Nah, kalau mau ke arah konten media sosial lebih banyak lagi yang mesti diulik. Mulai dari foto, bikin banner, video, endebre endebre ... Hvft. Mesti update terus deh, apa yang lagi rame. Terus coba bikin juga. FOMO banget dah kalau jadi pembuat konten di medsos mah. Hahaha. Hedeeehhh ....
*curcol yang kebablasan*


6. Siap bekerja rata-rata 15 jam setiap hari

Jadi, berapa rata-rata jam kerja orang kantoran? 7 jam atau 8 jam. Terakhir saya dengar, standarnya 40 jam/minggu. Ini standar dari pemerintah,

Tapi pekerjaan seorang freelancer--utamanya seorang penulis konten--itu beda. Nggak seperti kebanyakan pekerja kantoran, target seorang freelancer itu lebih ketat. Sama-sama mendapatkan target, kalau perusahaan biasanya targetnya bisa dibagi dalam tim. Kalau freelancer, target ditanggung sendiri. Risiko juga ditanggung sendiri.

Begitu pun seorang penulis konten.

Ingat cerita saya yang menerima job nulis 5000/artikel di atas ya? Tapi itu kan hanya 1 artikel sehari. Rerata penulis konten profesional bisa menulis 7 - 10 artikel setiap hari. Jadi, bisa dihitung kan ya? Kalau dalam sebulan pengeluarannya 2 juta, misal. Berapa banyak ia harus menerima job?

Ya lepas dari kualitas tulisannya sih. Namanya kepepet, kita nggak bisa begitu saja menyalahkan orang. Tapi, biasanya sih yang terjadi, begitu jam terbangnya tinggi, seorang penulis konten juga bisa sedikit-sedikit menaikkan fee-nya.

Jadi, ketimbang menghujat para penulis yang rela menulis dengan harga murah, mbokyao, ditolongin, gimana caranya biar dapat jam terbang yang semakin tinggi ;)
Lagian, yang kita anggap recehan, bisa jadi rezeki nomplok buat orang lain lo ;)

So, memang. Harus rela bekerja keras. Nerima job juga nggak bisa cuma 1 jenis job doang. Mesti nerima kerja paketan :))


Nah, itu dia beberapa hal yang harus selalu saya lakukan setiap hari sebagai penulis konten.

Masih berminat menjadi seorang penulis konten? Good luck then. Harus siap untuk selalu kerja keras ya, karena kalau cuma setengah-setengah, ya sama saja dengan pekerjaan lain. Nggak bisa buat hidup. Hehehe.

10 komentar:

  1. "Karena kadang kita sudah pakai istilah yang sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia, eh ternyata, nggak ada yang nyari kata tersebut di search engine."

    Baca bagian itu seketika inget kata "antrian". Ga ada mungkin ya yang search pakai kata "antrean" hihi.

    BalasHapus
  2. aku selalu kagum dengan para content creator, bisa produktif nulis banyak artikel/tulisan dalam 1 hari.

    Semua pekerjaan memang harus dilakoni dengan sepenuh hati, bahkan kerja freelance effortnya lebih besar lagi. makasih atas sharingnya teteh :D

    BalasHapus
  3. Prinsip aku selama nulis konten tua, berhenti belajar = menghentikan masuknya dollar 😁

    Btw, mbak Ratri sehari kerja bisa 15 jam? Padahal aku sebisa mungkin cuma 4 jam sehari 😁. Tapi ya, gitu, hasilnya juga ga maksimal. Ah, memang harus fokus ya.

    BalasHapus
  4. Woah saya masih jauh euyy... Msih di tahap personal writing

    BalasHapus
  5. Berat juga nih menghimpun skill jadi content writer, ternyata sekedar hobi aja nggak cukup ya. Keren banget, mbak. Semoga lancar terus rejekinya.

    BalasHapus
  6. Artikelnya memotivasi. Jadi pengen banyak belajar menulis.

    BalasHapus
  7. Terimakasih banget mbak, sangat memotivasi. Jadi sadar kalau masih kurang membaca dan belajar nulis haduuhh.

    BalasHapus
  8. Setuju bangett mba :( saya menulis konten seminggu 3 aja udh keblinger.Tapi yaa harus belajar sih kalo mau dapet yg terbaik. Makasih bangeeet mba infonya :)

    BalasHapus
  9. nggak mabayangin 5.000/artikel .....ahhhhh kita memang harus menghargai berapapaun itu patut disyukuri. kalau ad yang nggak setuju. cukup nolak dan nggak n usah koar koar. emphati dengan kondisi orang lain

    BalasHapus
  10. Kalo ikut frilen berdasarkan jumlah kata hooh mbak ada yg fee nya 5000 rp. Saya lebih parah lagi 1000 rp per 100 kata. Tp saya coba lakonin ajah. Toh pihak sana jg ga cerewet komplain ini itu.

    Saya mau nanya mbak: misal kita dpt keyword, terus bisakah riset dan menulis dalam tempo cepat? 1000 kata bisa ditulis dalam waktu berapa lama? Pengalaman mbak. Saya muter otak belum nemu cara cepat nulis 1000 kata dlm 1 jam. Bisa ga ya?

    BalasHapus