Introvert Susah Sukses dalam Karier? Ah, yang Bener!



Banyak yang menganggap bahwa kunci sukses dalam berkarier adalah dengan menjadi seseorang yang ekstrovert. Emang bener ya gitu?

Terus, gimana dong dengan kita yang introvert?

Well, iya sih, di dunia kerja kita memang harus selalu memperluas networking kita demi karier yang lebih baik. Dan tuntutan seperti itu, bagi para introvert, semacam merupakan tekanan khusus karena kita pun jadi diminta untuk bisa bersikap sebagai ekstrovert.

Akhirnya, yang ada, kita harus bekerja keras untuk menjadi lebih banyak bicara karena sesungguhnya kepribadian kita nggak seperti itu.

Sebenarnya, sosok introvert itu ada di mana-mana, bahkan termasuk para orang sukses dunia. Sebut saja Bill Gates, Marissa Mayer, dan Waren Buffett. Susan Cain, dalam bukunya yang berjudul Quiet: The Power of Introvert in a World That Can’t Stop Talking, mengungkapkan bahwa untuk bisa sukses, para introvert nggak harus menjadi seperti ekstrovert.

Karena, siapa sih yang mau selalu pura-pura jadi orang lain? Capeklah ya! Daripada memaksa menjadi pribadi yang sebenarnya bukan diri kita, sebenarnya kita yang introvert ini dapat mencoba mengembangkan kekuatan alami kita yang tenang, fokus dan penuh konsentrasi.

Gimana caranya?

Berikut ini beberapa cara bagi kita, para introvert, untuk bersinar dalam karier kita

 

1.    Embrace your thoughtful side


Kita, para introvert ini, memang cenderung tenang dan selalu memikirkan berbagai sudut pandang sebelum mengemukakan pendapat. Ketika berbicara, kita akan mengungkapkan pendapat yang tidak memihak.

So, kenapa nggak kita manfaatkan? Zaman sekarang makin susah lho untuk nggak memihak, dan berpikiran terbuka terhadap pendapat orang lain yang berbeda.

Betul?


2.    Persiapkan diri


Introvert selalu mempersiapkan diri dengan matang saat hendak rapat atau presentasi.

Hal ini menunjukkan keseriusan kita dalam pekerjaan, sehingga membuat kita menjadi lebih mudah mengidentifikasi masalah dan mencari solusinya.


3.    Manfaaatkan kekuatan


Introvert biasanya suka menulis dibanding bicara. Gunakan kekuatan ini lewat media sosial atau menulis di blog untuk mempromosikan kemampuan kita.

Yesss, blognya dijadikan media portfolio ya, Gaes. Begitu pula dengan media sosialnya. Jangan dijadikan ajang ghibah #eh


4.    Stay calm and carry on


Introvert cenderung kalem, tenang, dan memiliki emosi yang stabil. Di zaman di mana semua serba cepat, kemampuan untuk tetap tenang dalam menghadapi tekanan adalah sebuah nilai positif karena kita jadi tidak mudah terpancing.

Atasan atau klien dan rekan kerja kita (jika ada) akan percaya bahwa kita memang sanggup menghadapi berbagai tantangan.


5.    Hormatilah kebutuhan untuk sendiri


Introvert kerap tersiksa dengan situasi di mana ia harus berhadapan dengan banyak orang sehingga kadang butuh waktu untuk sendirian. Alih-alih menyalahkan diri sendiri karena sulit bersosialisasi, nikmatilah saja dulu kesendirian ini.

Kita bisa berjalan-jalan keluar sebentar keluar kantor saat istirahat, atau pergi ke coffee shop, jika memang memungkinkan. Atau biarkan anak-anak asyik sebentar menonton film, sementara kita bisa mojok sebentar bareng buku novel. Atau mojok sajalah di salah satu sudut rumah favorit sambil nyeruput kopi, cokelat panas atau teh.

Setelah itu, pasti kita akan siap kembali berhadapan dengan orang-orang di luar sana.


6.    Jalin hubungan yang bermakna


Introvert cenderung menghindari acara-acara networking dan lebih memilih diam di rumah menikmati kesendirian. *gue banget*

Namun, bagaimanapun juga, sesekali mesti juga melakukan ini untuk menjalin relasi.

Untuk mengurangi tekanan tersebut, berhentilah membandingkan diri dengan orang lain yang ekstrovert nan penuh dengan karisma itu. Fokus saja pada diri sendiri dengan membangun pembicaraan yang berkesan dengan orang baru, daripada berkeliling sekadar hanya untuk membagikan kartu nama.

Remember. Quality over quantity.


7.    Katrol kepercayaan diri sendiri


Ini nih. Tunjukkan kekuatan kita pada orang-orang! Terutama lewat karya dan hasil!
So, di situlah intinya. Kita tidak boleh berorientasi pada hasil saat sedang bekerja, tetapi pada proses. Sedangkan kalau untuk diperlihatkan pada orang lain (aka sebagai portfolio), maka tunjukkanlah hasil. Proses? Biar kita sendiri yang tahu. Hehehe.

Jadi, nggak perlulah gembar gembor ini itu kalau belum ada hasil. Hasil pun juga biar orang yang menilailah. Akan kelihatan juga kok, meski kita nggak pamer.

Jika kita percaya pada kemampuan diri sendiri, maka hanya butuh sedikit waktu untuk orang lain memercayai kita.


So, gimana?
Masih males aja ketemu orang?
Lah ya, sama kita!

#hloh

8 comments:

Nafarin Muhammad said...

ketemu laptop aja tiap hari :)

eh, kalo setengah ekstovert setengah introvert bisa gak ?

khairul Leon said...

Aku orangnya pengen banget sih jadi extrovert.
bukanya mau membanding-bandingkan diri ini dengan orang lain loh ya.
tapi kayaknya asik aja bisa liat kaum extrovert yang bertingkah blak-blakan.
aku juga mau kayak gitu :)

Carolina Ratri said...

Bisa. Namanya ambivert :)

Carolina Ratri said...

Bisa kok. Sedikit demi sedikit aja. Terus, kalau sudah berhasil menjadi ekstrovert di satu saat, terus pulihkan energi lagi dengan menyendiri. Lama-lama kamu akan menjadi seorang ambivert :)

Celoteh Kakak said...

Kalau aku se tergantung kondisi, biasanya org introvert bakalan mendadak jadi ekstrovert jika keadaan membutuhkannya, well jadi bunglon la tepatnya, satu sisi sebagai individu di satu sisi sbg makhluk sosial.

Armita said...

Aku ambi kayaknya. Kadang nyaman jadi ekstro kadang nyaman jadi intro hehehe

Rosinante said...

Jadi Introvert memang sulit ya berada dilingkungan para Ekstrovert, disangka aneh aja gitu :D

sabila rahmawati said...

Terimakasih kak. akhir-akhir ini aku juga lagi sering post di personal blog biar bisa stand out kayak introvert lainnya hehe Salam kenal dari INFP :)

Instagram