Hasil Penelitian Terbaru: Instagram adalah Aplikasi Paling Berbahaya untuk Kesehatan Mental!

Hasil Penelitian Terbaru: Instagram adalah Aplikasi Paling Berbahaya untuk Kesehatan Mental!



Instagram sudah digunakan oleh lebih dari 700 juta orang lebih. Namun, ternyata Instagram menjadi aplikasi yang paling berbahaya untuk kesehatan mental! Ouch!

Kamu suka main Instagram? Ya, siapa yang enggak?
Mengunggah segala macam foto kegiatan sehari-hari, baik kegiatan kamu sendiri atau mungkin foto keluarga dan teman-teman kamu?

Well, kalau iya, mungkin sekaranglah saatnya bagi kamu untuk mempertimbangkan kembali, apakah mau lanjut main Instagram, atau mulai membatasinya.



Media Sosial Membawa Pengaruh Buruk


Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Royal Society for Public Health di Inggris membuktikan, bahwa Instagram merupakan aplikasi media sosial yang memberikan dampak terburuk bagi kesehatan mental penggunanya, terutama bagi kaum muda. Ya, mungkin, kita (kita? saya, maksudnya) merasa sudah nggak muda lagi sih, for some reasons. Tapi, bisa saja hal ini juga mengancam anak-anak yang menjelang remaja.

Penelitian ini sebenarnya dilakukan oleh para developer media sosial untuk memperbaiki platformnya, sehingga pengguna dapat menggunakan aplikasi-aplikasi mereka secara lebih sehat.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti melibatkan responden sebanyak 1.479 orang yang berusia 14 sampai 24 tahun di seluruh Inggris raya, tentang bagaimana Facebook, Instagram, YouTube, Twitter dan Snapchat memengaruhi hidup mereka.

Apakah media sosial ini membuat mereka merasa lebih baik, atau malah justru menjadi merasa lebih buruk?

Responden menjawab 14 pertanyaan secara total tentang setiap platform media sosial, termasuk apakah mereka mengalami perasaan cemas, depresi dan kesepian saat menggunakan aplikasi tersebut.

Penelitian ini juga membahas bagaimana platform media sosial yang ada tersebut bekerja dalam memengaruhi soal 'body image', juga apakah memengaruhi kualitas tidur, serta apakah mereka sering merasa terintimidasi saat menggunakannya dan berinteraksi dengan pengguna lain.

Selain itu, ada beberapa pertanyaan yang juga diberikan untuk menentukan tingkat FOMO (Fears of Missing Out) yang dialami oleh pengguna setelah mereka melihat setiap feed dalam media sosial yang mereka gunakan. Semua ini untuk mengukur setiap dampak situs media sosial terhadap keseluruhan kesehatan dan kepuasan pengguna.

Dan apa hasilnya?


Hasil Penelitian Membuktikan ...


Ternyata, para responden mengaku bahwa Instagram adalah platform media sosial yang paling memberikan pengaruh terburuk dalam kehidupan mereka, terkait soal kesehatan mental, siklus tidur dan kelelahan.

Tempat kedua oleh Snapchat, dan diikuti oleh Facebook, kemudian Twitter. Hanya Youtube yang diakui oleh para responden telah memberikan pengaruh baik dalam hidup mereka.

Instagram telah dinilai memberikan pengaruh buruk, terutama karena efek aplikasi media sosial tersebut pada body image.

"Instagram dengan mudah membuat anak perempuan dan perempuan merasa seolah-olah tubuh mereka tidak cukup baik karena orang menambahkan filter dan mengedit gambar mereka agar mereka terlihat 'sempurna'."

Demikian penjelasan dari salah satu responden yang berasal dari Irlandia Utara dalam penelitian Royal Society for Public Health ini.

Olahan dan editing foto dinilai berkontribusi pada terciptanya "generasi muda yang membenci dirinya sendiri karena kepercayaan diri yang rendah akan body image-nya mereka".

Hmmm. Menarique ya?


Rekomendasi Para Peneliti

Untuk meringankan efek ini, para peneliti merekomendasikan agar para developer platform media sosial menambahkan penjelasan atau memberikan penanda jika ada foto yang telah dimanipulasi secara digital, misalnya dengan memberikan watermark pada foto yang telah diedit atau diberi filter.

Tapi, kok kayaknya ya kurang asyik, kalau tiba-tiba muncul watermark di foto kita gitu ya, Gaes? Hihihi. Iya nggak sih? Atau saya aja ya?

Para ilmuwan juga menyarankan agar platform media sosial mengingatkan pengguna kapan saatnya untuk sign off, atau log out untuk kemudian beralih ke kehidupan nyata masing-masing.

Salah satu sarannya adalah agar developer aplikasi melacak, berapa banyak waktu yang telah dihabiskan oleh pengguna di media sosial, dan memunculkan semacam reminder atau popup saat sudah melewati batas waktu.

Nah, ini sih sepertinya sudah mulai dilakukan oleh Instagram ya? Kayak ada semacam penanda, kalau ternyata kita sudah skrol foto-foto terbaru sampai habis. Iya kan?

Lanjut ~

Penelitian Royal Society for Public Health ini mendukung bukti yang pernah dirilis pada penelitian sebelumnya, bahwa penggunaan media sosial dapat berdampak negatif terhadap kesehatan mental.

FYI, ada studi yang diadakan pada tahun 2015 yang menemukan bahwa, penggunaan media sosial lebih dari 2 jam bisa dikaitkan dengan masalah kesehatan mental, tekanan psikologis dan kecenderungan untuk bunuh diri pada remaja.

Idih~


Lalu, Apa yang Harus Kita Lakukan?

Tapi, saya rasa sih, semua ini pastinya bukan ditulis untuk membuat kamu-kamu jadi menghapus semua aplikasi media sosial yang kamu gunakan. Toh, sebenarnya media sosial juga banyak manfaatnya kan, jika kita bisa bijak dalam menggunakannya.

Misalnya, dalam penelitian tersebut juga ditemukan fakta, bahwa Facebook dapat memberi kesempatan kepada kaum muda untuk belajar tentang hal-hal lain yang mungkin akan dibagikan oleh teman mereka di newsfeed masing-masing.

Media sosial juga bisa menjadi platform positif untuk media pengekspresian diri. Facebook pages dan facebook groups nyatanya juga ada banyak yang bisa membantu pengguna dan individu yang terpinggirkan, untuk menemukan dukungan emosional dan membangun komunitas. Meskipun yaaa dampak yang negatif juga banyak sekali.

Dan, seperti yang sudah saya sebutkan di atas, Instagram tampaknya juga sudah langsung tanggap akan hasil penelitian ini.

Aplikasi smartphone yang memiliki hampir 700 juta pengguna ini telah meluncurkan kampanye untuk memulai awareness mengenai kesehatan mental ini di platformnya.

Sekali lagi, semua memang tergantung pada kita, sebagai penggunanya. Apakah kita cukup smart untuk mengelola diri sendiri saat menggunakan media sosial tersebut?


Mari Detox Media Sosial!

Karena itu, yuk, kita batasi waktu mengakses media sosial jika memang tak benar-benar perlu. Gunakan media sosial hanya untuk memberikan nilai tambah pada diri kita sendiri, karena semua hal yang terlalu banyak atau berlebihan itu tak pernah baik dampaknya.

Saya sendiri sudah memulainya. Kalau setiap hari sih jelas nggak bisa, karena saya kerjaannya di medsos semua :)) Kalau detox tiap hari, saya nggak gajian dong. Bahaha.
Tapi, saya tetap bisa kok detox, yaitu selama weekend.

Yep, selama 2 hari--Sabtu dan Minggu--saya akan logout dari media sosial. Jadi kalaupun ada update, mungkin di Twitter yah, itu adalah autoschedule ya :)) Ya paling kalau update blog, terus ada autoposting aja. Tapi saya nggak buka sama sekali.

Untuk WA gimana? Off juga sih, ya paling saya onlinekan dari jam 11.00 siang sampe pukul 18.00 sore. Selain itu, maap, I will be enjoying my life. Hahaha.

Kamu juga bisa melakukannya. Jangan terlalu mantengin tiap waktu, biar tetep waras.

Hmmm ... mungkin, kamu bisa memulainya dengan meng-unfollow akun-akun Instagram yang isinya hanya ghibah dan gosip, gitu ya? Hehehe.

6 komentar:

  1. Setuju banget nih. Saya merasa hubungan saya dengan instagram kayak love hate relationship gitu. Saya suka tapi saya juga benci karena bikin iri hati melihat keindahan visual yang diupload para instagramers, haha.

    BalasHapus
  2. Aku salah satu yg udah pernah mengalami dampak buruk dr instagram mbak. Selalu merasa hidupku tidak lebih baik dr orang-orang di IG, tidak lebih pintar, selalu cemas, dll. Akhirnya sempet detox IG seminggu. Sekarang Alhamdulillah udah gak kayak dulu. Gak pernah lagi scroll2 newsfeed dalam jangka waktu lama kayak dulu.

    BalasHapus
  3. tahun lalu pas lagi course di negara sebelah aku detox mba. ga cuma socmed sejenis IG, bahkan whatsap pun dipake kalau sangat mendesak. dan anehnya, bisa-bisa aja. hari2 fokus. tapi pas balik ke Indonesia kembali memburuk, mungkin hidupku di sini terlalu selo.
    untungnya sekarang terbantu karena dikantor nggak ada sinyal ahaha. wifi sih ada tapi ngga bisa buka socmed. iG an bisanya pulang kerja doang...

    BalasHapus
  4. Mamaku sejak suka buka instagram jadi seneng menata rumah. Sekarang rumah si mama jadi instagramable gitu. Itu bagus juga buat kesehatan mental orang tua loh.

    BalasHapus
  5. Aku malah kadang suka berhari2 gak buka IG. Bahkan DM di IG pun juga bAlesnya setelah 3 hari kemudian. krn menurut aku ya gak hrs sih sosmed dibuka setiap waktu. Dan bener sih, hrs ada wkt istirahatnya juga, gak 24 jam mantengin sosmed IG terus. Memang gak bgs buat kesehatan, bisa mengurangi produktivitas kita juga.

    BalasHapus
  6. setuju, IG itu paling bikin merusak sbnrnya :p. blm lagi orang2 yg lgs stress kalo like nya ga sebanyak yg diharapkan :p. sampe rela beli followers hihihihi... kdg g abis pikir ama org2 yg sampe segitu obsesi nya ama feed IG, followers dan like.

    dulu aku termasuk banyak ikutin ig artis, gosip.. tp makin kesini aku delete mba. capek baca begitu. faedah ga ada, dosa makin banyak. artus yg aku follow skr ini cm yg mnrutku pinter dan isi postingannya bisa menghibur yg positif. biar kebawa pinter ngarepnya :p. ikutin lambe turah mulu takut kebawa nyinyir hihihihi

    BalasHapus