[Guest Post] 5 Kiat Sukses Menjadi Freelancer



Guest post 5 Kiat Sukses Menjadi Freelancer ini ditulis oleh Indri Ariadna untuk CarolinaRatri.com


Mengutip dari wikipedia, freelancer atau pekerja freelance adalah istilah yang sering digunakan untuk seseorang yang bekerja secara mandiri dan tidak mempunyai kewajiban untuk bekerja dalam waktu yang lama (jangka panjang) untuk satu klien.

Saya sudah menjadi freelancer di Upwork mulai dari tahun 2016. Gak terasa, sudah hampir 3 tahun ^^

Meski belum terlalu banyak pengalaman, tapi sampai dengan tulisan ini terbit, saya sudah bekerja selama 792 jam dan ada juga beberapa fixed rate kontrak. Total sampai sekarang ada 43 job. Total pendapatan $9K+

Jadi, bolehlah ya kalau saya memberi sedikit saran buat kamu yang punya cita-cita atau keinginan untuk bekerja dari rumah.

Nah, berdasarkan pengalaman pribadi, menjadi seorang freelancer itu tidak mudah. Sangat tidak mudah. Apalagi freelancer di Upwork yang notabene saingannya dari seluruh dunia. Serius …

Tapi layak untuk ditekuni karena pendapatan yang dihasilkan juga lebih sip karena berbasis dolar.
Apalagi kalau nilai tukar dolar sedang tinggi … wuihh dari selisih nilai tukarnya aja mayan banget ^^

Memang benar bahwa bekerja dari rumah itu menyenangkan, bebas gak ada yang mengatur plus gak ada yang mengawasi. Karena pekerjaan sebagai freelancer tidak terikat tempat dan waktu, hal ini bisa menjadi keuntungan tersendiri buat kalian yang menginginkan kebebasan dalam bekerja.

Semakin padat dan macetnya lalu lintas yang bisa membuat stres, juga bisa menjadi alasan lebih memilih bekerja dari rumah dibandingkan harus ngantor setiap hari. Daripada setiap hari stres ya kan?

Buat ibu-ibu rumah tangga, tidak harus merasa bersalah karena meninggalkan anak dan keluarga untuk ngantor setiap hari nine to five.

Tapi ternyata, bekerja dari rumah juga penuh distraksi dan tantangan. Kapan-kapan deh saya curhat lagi hahaha.

Nah, khusus buat kalian, saya mau berbagi kiat sukses sebagai freelancer pemula.
Apa saja?

Ini nih 5 kiat sukses menjadi freelancer pemula


1. Buat portfolio

Portfolio ini ibarat etalase jualan untuk memajang produk apa saja yang kamu jual. Dalam hal ini, portfolio berfungsi untuk pamer memajang skill-skill atau kemampuan atau keahlian apa saja yang bisa kamu jual sebagai freelancer.

Kamu ahli desain grafis? Atau ahli menerjemahkan bahasa? Ahli me-manage media sosial? Ahli dalam hal data entry? Appointment setter? Content writing? SEO? Upload semua file-file hasil pekerjaanmu untuk di jadikan portfolio. Kamu bisa menggunakan aplikasi Canva atau Picmonkey untuk membuat portfolio yang menarik.

Selain portfolio, jangan lupa untuk membuat deskripsi profile. Jadi, selain menampilkan portfolio yang lengkap, beri perhatian juga untuk profile. Buat deskripsi profile yang menarik, berisi keahlian apa saja yang kamu tawarkan, harga servis, berapa lama biasanya kamu bisa menyelesaikan satu job, software atau aplikasi apa saja yang kamu kuasai.

Banyak yang bertanya ke saya via email dan komen di blog, kalau belum punya portfolio bagaimana? Kan, belum pernah dapat job?

Ehmmmm… kreatif dikit dong, Adek.
Kalau misalnya kamu seorang desain grafis, bisa kan ya membuat contoh logo, mock up, brosur tanpa harus dapat job lebih dulu? Ya kan?

So, portfolio itu bisa dibuat sendiri, jangan menunggu dan mengandalkan dapat job dulu baru buat portfolio. Itu pemikiran yang salah.


2. Bisa di hubungi dengan mudah

Salah satu hal yang paling penting dan krusial adalah, sebagai freelancer kamu harus mudah di hubungi oleh calon klien.

Pastikan kamu mempunyai email, Skype atau WA (WhatsApp). Jangan sampai job melayang karena kamu sulit bahkan gak bisa di hubungi oleh klien.


3. Bergabung dengan marketplace freelance

Salah satu cara “menjaring” klien adalah memiliki network yang tepat. Kalau kamu ahli desain grafis, akan lebih oke kalau kamu bergabung dengan 99designs.

Ada banyak marketplace freelance yang bisa kamu ikuti seperti Fiverr, Guru.com, Upwork, dan lain-lain. Kalau kamu lebih memilih bekerja sebagai freelancer lokal, bisa bergabung dengan Sribulancer atau Projects.co.id.

Pilih marketplace yang sesuai dengan skill yang kamu tawarkan ya!


4. Menjadi spesialis

Bukan hanya dokter saja, freelancer ternyata juga harus mempunyai spesialisasi tersendiri. Baru-baru ini Upwork meluncurkan semacam peraturan baru terkait dengan spesialisasi job.

Kalau dulu kita bisa pasang semua skill (general) di Upwork, sekarang ada tab-tab tersendiri untuk masing-masing skill.

Misalnya, saya mempunyai skill sebagai virtual assistant, juga punya skill sebagai content writer. Nah, skill virtual assistant ada semacam page atau laman tersendiri dan skill content writer juga ada tab tersendiri.

Jadi kita harus mengisi servis dan portfolio sesuai dengan skill-skill tersebut.

Menurut Upwork, supaya klien lebih mudah memilah data dari para freelancer yang submit proposal. Kalau dulu general aja cukup, sekarang mulai di spesialisasi.

Saya sih setuju dengan pengerucutan atau spesialisasi jasa/skill ini. Karena semakin kita belajar dan bekerja di bidang yang sama terus menerus, lama-lama kita akan menjadi ahli. Semakin mudah mendapat job dan klien juga semakin mudah menemukan freelancer yang sesuai dengan spesifikasi yang di harapkan.


5. Don’t give up



Grafik di atas adalah data dari Statistika menggambarkan, bahwa pendapatan yang dihasilkan Upwork dari para freelancer-nya dalam 9 bulan pertama 2017 dan 2018, berdasarkan wilayah (negara)asal freelancer.

Bisa di lihat, pendapatan tertinggi yang di dapat Upwork berasal dari freelancer USA, kemudian freelancer dari India dan Filipina. Sisanya berasal dari freelancer selain dari negara tersebut, Indonesia salah satunya.

Seperti yang saya bilang di atas, menjadi freelancer itu tidak mudah. Apalagi kalau saingannya worldwide, dari semua negara. Di tambah lagi, bahasa yang dipakai adalah bahasa Inggris, bukan bahasa sehari-hari yang kita pakai. Beda hal dengan orang-orang India dan Filipina.

Tapi jangan patah semangat, memang di awal memulai akan terasa berat tapi seiring waktu, skill dan pengalaman bertambah dan itu bisa menjadi nilai tambah kita sebagai freelancer.

So, don’t give up!


Catatan Carra

Menjadi Freelancer - A Dream Job?



Saya pernah baca, di tahun 2020 *CMIIW* jumlah freelancer di Amerika saja akan ada 43% dari total jumlah pekerja (usia produktif) di sana. Itu berarti separuh kurang sedikit angkatan kerja zaman now memilih untuk kerja freelance, atau minimal lebih memilih remote working.

Mengapa hal ini terjadi?
Saya mengamati 2 hal: batasan ruang dan waktu ternyata bisa membuat produktivitas dan kreativitas manusia itu jadi nggak berkembang (saya ngalamin sendiri), dan bagi pihak perusahaan sendiri, mereka juga lebih leluasa memilih SDM-SDM yang memang berkualitas, yang sesuai dengan kriteria kebutuhan mereka.

Akibatnya, ada 2 hal juga sih, sependek pengamatan saya. Yang pertama, mau nggak mau kita jadi terpacu untuk mengembangkan diri lebih baik, karena (2) persaingan kerja menjadi semakin kompleks dan luas.

Tentu nggak cuma itu aja sih. Tapi, kebayang kan, hubungan sebab akibat ini? Yes.

Saya sering dapat curhatan. Banyak yang pengin jadi freelancer, karena sebabnya fleksibilitas dan kedengarannya lebih mudah dapat uang. Tapi ya gitu, disuruh nyiapin portfolio, malah bingung. Kan belum dapat job, katanya.

Saya dulu pernah nyiapin nggak kurang dari 100 model desain kartu nama, kartu undangan, dan brosur, buat jual diri, FYI. Masih ada tuh di blog portofolio desain saya.

Siapkan dirimu juga untuk beberapa fakta buruk menjadi freelancer. :))
Kalau sudah tahu faktanya, terus coba lakukan kiat dari Mbak Indri di atas.

And then ... good luck.

Terima kasih, Mbak Indri untuk guest post-nya.

Yang pengin kirimkan guest post juga kayak Mbak Indri, silakan lo! Kirim aja ke email mommycarra@yahoo.com, lalu colek saya di medsos (Twitter, Facebook, Instagram, di mana pun) kapan saja.

1 komentar:

  1. Ngiler bener kalau baca pendapatan dari freelance. Saya bangga dengan mereka yang memilih bekerja dari rumah. Acung jempol. Semoga saya bisa memulainya

    BalasHapus