[Guest Post] Menulis Review Produk Kesehatan: Kalau Mau Sesat, Jangan Ajak Pembaca!

[Guest Post] Menulis Review Produk Kesehatan: Kalau Mau Sesat, Jangan Ajak Pembaca!


Guest post Menulis Review Produk Kesehatan: Kalau Mau Sesat, Jangan Ajak Pembaca ini ditulis oleh Widyanti Yuliandari untuk blog CarolinaRatri.com


Menulis produk review bagi saya bukan sekadar berhenti di tujuan berbagi pengalaman, lalu selesai. Ada tanggung jawab besar yang saya rasakan, terutama ketika mereview produk kesehatan. Yang saya maksud produk kesehatan dalam tulisan ini bukan hanya obat, suplemen dan semacamnya. Namun bisa juga produk lain yang penggunaannya terkait atau memengaruhi kesehatan--makanan dan minuman diet misalnya.

Saya pribadi merasa harus lebih berhati-hati dalam mereview, karena produk dalam kategori ini termasuk memiliki pengaruh secara langsung pada kesehatan, bahkan keselamatan.

Saya belajar menulis review produk semacam ini sejak 2014. Berkali-kali melakukan trial, dan akhirnya saat ini saya punya berapa ketentuan dalam menulis review produk seperti ini. Ini bukan keputusan akhir. Setiap saat saya merasa oke-oke saja dan bahkan wajib selalu meninjau ulang keputusan terkait apa yang saya tulis, dan bagaimana menuliskannya di blog.

Jadi, bisa saja ke depan formula ini bakal berubah lagi.



Selektif Memilih Produk yang Direview

Mbak, jangan samakan dengan Mbak Wid yang ngeblog cuma buat sekadar beli lipen. Saya ini lo, ngeblog buat beli beras, buat makan keluarga! Macam mana harus pilih-pilih segala? 

Meski hanya percakapan imajiner, tapi inti dari alasan di atas itu sangat sering dikemukakan dalam perbincangan di beberapa grup blogger, ketika kami membahas soal selektivitas terkait apa pun dalam ngeblog.

Saya tidak akan menyarankan teman-teman mengikuti standar saya dalam memilih produk untuk direview. Saya tidak boleh begitu. Saya tahu, bagi kebanyakan blogger persyaratan saya memang terlalu banyak. Tapi sekadar berbagi sudut pandang tentu sah-sah aja.

Misalnya saja.
Susu formula, saya enggak mau review. Produk bergluten, juga saya enggak mau review. Obat- obatan dan suplemen yang tidak saya butuhkan, juga enggak akan saya review. Produk atau kosmetik dengan label “whitening” pun enggak mau (kecuali yang natural). Makanan instan beraditif, juga saya hindari.

Dan masih paaaanjang daftar produk yang sebisa mungkin tidak saya review.

Kenapa? Demi kenyamanan saya sendiri aja. Ini terkait juga dengan pola konsumsi saya sehari-hari. Saya tidak ingin menjadi reviewer yang harus berpura-pura.

Nah, khusus produk terkait kesehatan, paling aman memang seenggaknya cek dahulu, apakah produk memiliki memiliki nomor registrasi BPOM? Saya biasanya mengecek di web resmi BPOM.

Dulu saya punya pengalaman terlanjur menyanggupi review produk yang setelah saya cari ternyata tidak terdaftar di BPOM. Klien berargumen, karena produknya berasal dari luar, maka tidak perlu registrasi BPOM. Sementara yang saya ketahui, meski produk impor, kalau memang akan diedarkan di Indonesia, tetap harus registrasi, dong.

Tapi, saya juga enggak saklek banget.

Suatu saat saya pernah membaca keluhan seorang teman pelaku bisnis bahwa ribet banget ya, ternyata ngurus registrasi BPOM. Menurutnya, semua persyaratan itu sangat susah dipenuhi oleh mereka yang usahanya masih sekelas home industry.

Nah, karenanya saya kemudian mengambil jalan tengah. Ada juga produk tidak teregistrasi BPOM yang saya review. Tapi dengan syarat, saya sudah menggunakannya dalam jangka waktu cukup lama sebelum saya menulis review produk itu.

Bagi saya, selektif memilih produk untuk direview sangat penting. Produk-produk yang terkait dengan kesehatan--terutama suplemen, obat, dan semacamnya itu--terkait banget dengan kesehatan dan keselamatan jiwa pembaca blog teman-teman nantinya.

Menurut saya, kita enggak bisa berdalih, “Ya pembaca dong yang kudu smart!”
Bukankah kita memosting di blog kita. yang berarti kendali penuhnya ada pada tangan kita sendiri? Jadi, wajar dong kalau kita seyogyanya turut bertanggung jawab.


Sekali Lagi Tentang Kejujuran

Jujur, ini sebenarnya kunci utama dari menulis review produk.
Produk apa pun yang direview, ya tetap saja aspek kejujuran kudu dipegang. Tetapi sekali lagi, karena produk dalam kategori ini sangat terkait dengan kesehatan dan keselamatan, maka aspek kejujuran benar-benar super penting!

Contoh.
Sehabis minum suplemen X, lalu terasa lambungnya perih. Ya jangan diam-diam bae. Yang harus dicari tahu adalah apakah penyebabnya? Apakah produk ini memang tidak dianjurkan untuk yang punya masalah lambung?

Maka sebaiknya kita berikan penjelasan dalam review produk yang kita tulis, agar pembaca yang memiliki masalah lambung berpikir kembali sebelum mencoba produk ini.


Kalau Mau Sesat, Sesat Sendiri Aja!

Saya prihatin banget kalau nemuin review produk yang seolah-olah mengajak pembaca untuk abai terhadap suatu upaya sehat, karena udah ada suplemen Nganu yang bisa meng-counter jika terjadi risiko akibat perbuatan kurang sehat tadi.

Gilaks! Sungguh saya pengin misuh rasanya. Makanya saya selalu mengingatkan diri untuk tidak melakukan hal yang sama.

Contohnya gimana sih Mbak?
Oke contoh jelasnya begini misalnya.

Doh... namanya kuliner enak itu susah banget ya ditolaknya. Sedihnya ini umur udah mulai merambat naik ke usia cantik, cin! Makan kolesterol kebanyakan, hasilnya bodi ngambeg. Eh tapi, eyke punya produk andalan nih. Abis kuliner enak-enak full kolesterol, langsung ajah nenggak ini. Enggak pakai acara bodi ngadat deh, cin. Jadi bisa tetap puas-puasin makan itu kuliner yang bergajih full kolesterol yang emang rasanya endyang bambang gulindang. Bikin nagih dan ndak pengin berhenti mengganyang.

Kenapa saya bilang sesat? Enggak usah dipikir njlimet ajah, praktik di atas udah kelihatan ngawurnya.

Menurut saya, begini lo, kalau mau ngawur ya ngawur untuk diri sendiri saja. Jangan mengajak pembaca untuk melakukan kesesatan yang sama.

Kalau mau baik, baru boleh deh mengajak orang lain. Bukankah tujuan awal untuk ngeblog adalah untuk share yang baik-baik? Bukankah kita enggak kepengin besok ada pembaca yang nggeblag gara-gara ngikutin provokasi ngawur kita?

Lagi pula, tujuan dari menulis review produk ini kan “hanya” memperkenalkan produk. Paling pol, kalau ini berbayar, adalah membagi pada publik pengalaman positif menggunakan produk.

Jadi tidak pakai poin menyesatkan tetap bisa kok ya. Kalau ngaku creator konten ya kudu bisa kreatif mengolah, dong.


Mengingatkan Pembaca 

Alangkah baiknya dalam menulis review produk juga ada bagian yang mengingatkan, bahwa kesan atau reaksi yang diceritakan itu adalah murni berdasarkan pengalaman pribadi menggunakan produk yang direview.

Mengingat kondisi orang berbeda-beda, sangat mungkin reaksi di orang lain juga berbeda dengan yang kita rasakan. Jadi, saya merasa perlu mengingatkan pembaca untuk membaca dengan saksama aturan penggunaan, indikasi, kontra indikasi dan segala informasi yang tertera pada kemasan produk.

Jadi seperti itu, teman-teman kiat sederhana saja yang berusaha saya ingat selalu untuk diterapkan. Mungkin ada teman-teman yang punya kiat atau tips untuk hal yang serupa?

Mari cerita di sini.




Catatan Carra


Reaksinya Carra habis baca tulisan Mbak Wid

Job review memang rempong ya, cyuint? =))

Kadang maunya kita, sebagai so-called-influencer, adalah memenuhi KPI dari klien. Klien happy, harapannya besok lagi kita pun dipakai lagi. Begitu profesionalnya kita, hingga kemudian kita malah melupakan bagian terpenting dalam job kita itu, yaitu pembaca.

Kalau sama klien kita ada tanggung jawab profesional, nah kalau ke pembaca, kita ada tanggung jawab moral.

Nggak usahlah soal menulis review produk kesehatan--yang berkaitan langsung dengan keselamatan hidup kita ya. Ikut ngereview produk kecantikan aja, saya mikir dua kali. Kenapa?

Alasan terbesar adalah (selain saya gengges liat muka sendiri) saya merasa enggak punya banyak pengetahuan di bidang tersebut. Sebagai seorang yang ditunjuk menjadi influencer, saya kan harus punya bekal product knowledge dong ya, secara logika? Kalau ada yang nanya-nanya, seharusnya saya bisa menjawab dengan bener, bukan sekadar, "Oh, coba cek aja ke websitenya, yang lebih lengkap." Atau, "Oh, tanya aja langsung ke call center-nya."

Yailah, gitu doang mah, nggak usah hire saya jadi influencer juga bisa. Itu namanya lepas tanggung jawab.

Begitu kita di-hire sebagai influencer--baik dengan cara buzzing di medsos atau menulis review produk di blog--berarti kita sudah menjadi kepanjangan tangan marketing dari brand tersebut.
Ada beban moral di situ, yaitu menyebarkan informasi yang bener kepada orang lain. Efek dari informasi yang kita sebarkan, ya menjadi tanggung jawab kita. Whether itu efek positif ataupun negatif.

Jadi gimana dong?

  1. Pintar-pintarlah memilih produk yang direview. Sesuaikan dengan keseharian. Nggak perlu semua job review diambil. Ntar makin kemaruk, jadinya makin serakah. Trust me, I've been there before, dan jadinya blunder.
  2. Pilih kalimat senetral mungkin saat menulis review produk. Jangan menganggap semua produk itu sempurna, nggak ada cacatnya. Pasti ada sisi negatif dari berbagai hal kan?
  3. Saat menulis review produk, tempatkan pembaca sebagai prioritas utama. Bukan kita. Jadi, put ourself in reader's shoes. Rasakan, kalau dibaca sama pembaca ini tulisan gimana ya?
  4. Jangan lepas tanggung jawab, kalau ada yang nanya ya dijawab. Makanya penting untuk punya product knowledge mengenai produknya juga. Meski kemudian mau lempar ke call center, ya main yang cantik. Jangan terlalu keliatan kalau cuma karena malas ngejelasin.
  5. Put your heart in your writing. Jangan nulis cuma karena dikejar deadline or pesanan. Keliatan banget.
Terima kasih, Mbak Wid, tulisannya yang menyentil.
Semoga semakin bisa bikin teman-teman blogger semakin bijak dan pintar dalam menulis ya.
Sehingga rezeki yang diterima juga semakin berkah.
Amin.

Yang pengin kirimkan guest post juga kayak Mbak Wid, silakan lo! Kirim aja ke email mommycarra@yahoo.com, lalu colek saya di medsos (Twitter, Facebook, Instagram, di mana pun). Biar sayanya ngeh :)) Kadang suka bebersih email asal hapus aja nih soalnya.

Tapi maaf ya, saya nggak bisa menyediakan kompensasi selain ucapan terima kasih, dan kapan-kapan kalau pada ke Jogja saya traktir. Gitu aja =))

2 komentar:

  1. Wah.. keren nih. Satu hal yang saya catat karena saya setuju. Bahwa penulis (dan harusnya semua orang) harus jujur. Review kan memang untuk menginformasikan baik dan buruknya satu produk. Bukan hanya karena dibayar kita katakan baiknya saja sementara buruk yang kita tahu dihapus..

    Lebih ngeri kalau kita merujuk pada bahwa apa yang kita tulis akan diminta pertanggung jawaban di akhirat. Ini saja mungkin yang perlu jadi pijakan penulis. Penulis apapun, termasuk review.

    Terimakasih 😍😍😍

    BalasHapus