[Guest Post] Content Placement di Blog Pribadi: Jebakan Batman?

Guest post ini ditulis oleh Hani Widiatmoko untuk blog www.CarolinaRatri.com


Hani Widiatmoko

Awal mulanya blog saya pindah ke blog TDL sedikit banyak ada pengaruhnya setelah baca buku dan mereview buku “Blogging: Have Fun and Get The Money” tulisan Carolina Ratri.

Kalau tidak salah, waktu itu kalau mereview dapat hadiah.

Bukan, bukan melulu cari hadiah sih. Kebetulan memang saya punya rencana membuat blog pribadi untuk promosi diri sebagai penulis buku. Walaupun sudah punya blog sejak tahun 2007-an, blognya masih gratisan, dan isi blognya lebih ke arah catatan harian bergambar saja.

Di buku tersebut saya baru tahu yang namanya niche, kemudian monetize blog. Duh, ingin kan, blog pribadi bisa menghasilkan? Apalagi jadi penghasilan.

Sampai sekarang masih suka saya baca-baca bukunya, soalnya untuk mengerti benar harus dibaca lagi, dan lagi. Apalagi tentang SEO-SEO-an itu.

(Terima kasih banyak sudah membeli dan membaca buku saya ya, Mbak Hani :) --Carra)


Article Placement, Diedit atau Tidak?


Hasil survei Moz terhadap tanggapan pembaca yang sudah membaca sponsored content. Menarik :)

Pertama kali saya diemail oleh sebuah agensi untuk article placement, kira-kira 6 bulan setelah blog baru saya tayang.

Jujur, waktu itu belum paham tentang article placement. Setelah membaca email dari klien dengan saksama barulah saya mengerti. Bahwa saya hanya perlu mempublish artikel berikut foto-foto yang sudah disiapkan, kemudian menyematkan backlink di blog saya.

Dipikir-pikir enak juga ya? Saya kan tidak perlu memikirkan sekira 500-an kata untuk mengisi blog. Wah, kalau sepuluh saja article placement dalam satu bulan, saya bisa kipas-kipas.

Ternyata setelah membaca artikel yang harus saya publish tersebut, ada beberapa hal yang harus saya edit juga. Untungnya saya diperbolehkan menyesuaikan dengan gaya bahasa blog saya.

Waktu itu contentnya tentang tujuan wisata. Setelah artikel publish pun, ada sedikit komplen dari agensi. Karena mereka menginginkan backlinknya disamarkan. Saya lumayan bingung, karena template yang saya pilih justru memunculkan underscore (garis tebal) di bawah tulisan berbacklink.

Sebetulnya sebulan sebelumnya, ada agensi berbeda yang juga menawarkan kerja sama juga. Bentuk tawarannya adalah saya harus menuliskan tentang produk layanan sebuah bank, dengan beberapa ketentuan. Tulisannya bebas, kemudian ada satu kata yang dibacklinkkan ke alamat URL tertentu.

Belakangan saya baru tahu, bahwa bentuk kerja sama seperti itu namanya sponsored post.
Kalau diingat-ingat, sebetulnya lebih enak menulis artikel bersponsor atau review produk, karena bisa menulis sesuai kata hati sejak awal.

Baru-baru ini saya juga mendapatkan ajakan kerja sama dari sebuah e-commerce untuk article placement. Umumnya sekarang disebut sebagai content placement (CP).

Ajakan kerja samanya, ya blogger tinggal publish artikel. Ada sedikit perbedaan, blogger diminta membuat internal backlink dan dibebaskan boleh menyertakan external backlink, tidak juga tak apa-apa.

Ternyata di obrolan WhatsApp Grup Blogger yang saya ikuti, teman-teman juga mendapatkan ajakan kerja sama yang sama. Dan setelah saling blogwalking, artikelnya mirip semua.

Setahu saya, di dalam email dijelaskan, kami harus membuat kata pembuka dan kata penutup untuk mendukung artikel tersebut. Dan artikel tersebut pun boleh diedit sesuai dengan gaya bahasa masing-masing blogger.

Nah, di sini hebohnya.

Ternyata teman-teman saya berpendapat lain. Menurut mereka, CP itu nggak perlu diedit. Kalau diedit, jadinya arahnya jadi content writer, sehingga feenya berbeda.

Kata teman-teman lagi, CP kali ini ibaratnya jebakan batman.

Tahu kan film Batman? Tokohnya kan mempunyai tempat persembunyian berliku-liku, bisa membuat tersasar dan tak bisa keluar. Kecuali mungkin ya sang Batmannya sendirilah.

Saya pun mencari tahu, kenapa teman-teman tersebut khawatir dengan CP yang mungkin dipublish oleh belasan mungkin puluhan blogger.

Rupanya ada kekhawatiran duplikasi dengan adanya artikel yang mirip dalam satu waktu yang mengarah ke e-commerce tertentu. Sependek pengetahuan saya, tidak baik untuk blog kita bila diduga ada duplikasi.

Lah, loh...ya atuhlah, kalau takut duplikasi, kenapa tidak direwrite atau dieditlah artikel dari klien, agar sesuai dengan gaya bahasa kita?

Tapi, ya itu tadi, kan teman-teman tidak mau mengedit, karena jadinya ada kerjaan tambahan.

Dalam hal memonetize blog, memang saya nubie banget. Kadang ya ada katroknya, sudah sueneng banget ada agensi yang melirik blog saya. Tapi di satu sisi, artikelnya tidak cocok banget nih dengan gaya tulisan saya, jadilah saya berpikir keras dan mengeditnya.

Pernah juga saya baca di blog seseorang, sebaiknya sebagai blogger kita juga mempunyai posisi tawar. Atuhlah, kalau tulisannya diedit besar-besaran, ditawarkan sebagai tulisan sponsored post saja, nanti feenya lebih tinggi.

Maafkan, saya sepertinya masih perlu banyak belajar untuk bersikap. Misalnya, menolak mentah-mentah ajak kerja sama, karena takut terjebak. Atau menolak halus CP dengan menawarkan artikel berbentuk artikel review.

Kalau dipikir lagi, beginilah kalau sudah “tercemar” bahwa blog bisa menghasilkan, entah transferan atau voucher. Mata kita jadi merah hijau biru. Pikiran kita jadi, kalau dapat voucher, menawarkan traktiran apa ya ke anak-anak.

Coba bandingkan dulu banget waktu masih belum kepikiran menambah angka di rekening, ngeblog happy-happy saja, lebih bebas malah.

Ayuk atuh, tentukan sikap. Mau buka puasa, kolak waluh atau buah potong? #eh...


---

Catatan Carra

Berapa persen perbandingan artikel sponsored dan original di blogmu?


Apa yang menjadi "kegelisahan" Mbak Hani, saya tahu betul rasanya. Dan, saya pernah mengulasnya di artikel Blogger Versus di blog ini juga.

Saya pernah sangat menyayangkan hilangnya personalisasi pada blog teman-teman. Nggak ada lagi rasa unik personal dari teman-teman, karena semua tiba-tiba saja menayangkan artikel yang hampir seragam di satu waktu. Paling keliatan kalau sudah dilihat melalui Feedly. Dari 10 update artikel, hanya 1 yang merupakan original article. Yang lain titipan.

Saya tidak menyalahkan jika teman-teman menerima sponsored article, tapi sebisa mungkin, please, perhatikan keunikan blog sendiri. Masa lebih memilih mengorbankan keunikan diri sendiri ketimbang mengedit tulisan yang enggak gue banget seperti itu?

Sudahlah blognya berniche so-called-lifestyle, yang notabene campur-campur, which means nggak ada spesifikasi khusus, eh ... pas nerima job juga seragam sama yang lain.

Terus, ke mana identitasnya?

Sayangi dong blognya. Itu kan blog teman-teman sendiri.
Percuma juga punya branding ina inu, template cantik-cantik, kalau kontennya sami mawon dengan yang lain? Enggak akan bisa menonjol, dan nggak akan ke mana-mana.

Bahkan saya sempat ada di titik yang membuat saya berpikir, jangan-jangan content placement ini hanya akal-akalannya brand demi mendapatkan "sokongan" murah dari kita. Enggak tahu, apakah pemikiran saya itu benar atau enggak, tapi kita nggak bisa menutup mata akan prinsip "keluarkan uang sesedikit mungkin, tapi efek yang didapatkan sebesar mungkin". Itu prinsip ekonomi bangetlah, sudah jadi rahasia umum.

Bisa saja saya salah. Saya berharap saya salah. Tapi tak pelak, pikiran negatif seperti itu mau nggak mau hinggap di benak saya.

Sehingga ya ... akhirnya balik lagi ke blogernya juga kan? Mau sampai kapan hanya jadi troopers, tanpa jadi influencer yang sebenarnya?


Mau nulis guest post untuk blog ini juga?
Kirim aja artikelmu dalam format .doc terlampir melalui email ke mommycarra@yahoo.com ;)

33 comments:

  1. Kalimat terakhirnya bikin saya mikir...sampai kapan hanya jadi troopers, tanpa jadi influencer sebenarnya?...

    Jleb...jleb...jleb...
    Makasih yaa boleh jadi guest star eh...guest post...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih ya, Mbak, sudah disumbang tulisan.
      Sering-sering boleh lo. #eh. Hehehe.

      Delete
  2. Memang makjleb itu endingnya ...
    tapi bener sih, sy sepakat sama tulisan ending dr mbak Carra itu.

    menyikapi Content Placement sendiri, saya sejak menerima email sudah mulai filter sekarang ini. Bahwa saya cuma terima CP yang sesuai dengan topik utama blog saya. Gak mau terima semuanya. Kl ada yg travel - ya ajukan blog travel temen. Kl harga gak cocok, yo wes.

    Suka lupa utk cek plagiarism setiap CP ini.

    Terus jd inget dong. masih ada invoice outstanding utk CP ini. hahaha

    ReplyDelete
  3. Hahai, ini kegalauan yang sempat saya alami saat BW. Dalam beberapa hari update-an sebagian besar blogger yg ada dalam daftar bacaan saya sama. Duh, dan kenapa aku gak dapat tawaran itu, hiks... hiks. Hehehe, sempat merasa sedih, trus berpikir "wah brarti blogku kurang dilirik nih?" Tapi setelah baca semua postingan itu trus perasaan saya biasa aja. Karena hari itu saya tetap publish postingan ala-ala saya. Seminggu berikutnya saya dapat tawaran sejenis, hanya saja dia minta review, means suka-suka saya menulisnya. Hanya saja dia menitipkan backlink. Dalam beberapa hal, job memang suka bikin galau. Apalagi buat nak bawang yang belum bosen belajar. Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu dia tuh. Kalau enggak ditawari, jadi merasa "being left out". Hehehe. Padahal justru "selamat dari jebakan betmen" Hahahaha.
      Aku juga ga pernah ditawari kok, Mbak. Makanya bisa objektif mengamati. Hehehe.

      Delete
  4. Dulu saya juga ga ngerti content placement itu apa. Sama juga, saya pernah minta edit tulisan yang sudah dikasih karena tulisannya gak saya banget. Untungnya diperbolehkan.

    Untuk sekarang saya memilih untuk tidak menerima pekerjaan content placement. Karena apa yang disampaikan di atas benar, maka akan kehilangan touch of personalnya. Dimana kalau gak personal, rasanya kurang tepat kalau ditaruh di blog.

    Itu sih dari pandangan saya :)

    ReplyDelete
  5. Aku kalau dapat cp reques untuk ngedit. Kadang juga nolak kalau benar2 gak sesuai sama blog

    ReplyDelete
  6. Insight yang menarik dari guest post dan mbak Carra.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wih, dikunjungi bloger kenamaan.
      Makasih lo, sudah mampir :)

      Delete
  7. Pencerahan banget nih 😘 Saya juga mulai memilah2 artikel yg sesuai dg tema blog saya aja. Karena blog saya adalah rumah saya yang harus dijaga. Makasih 'nasehat cantik' nya mbak πŸ€—

    ReplyDelete
  8. Self reminder juga agar selektif nerima job (meskipun masih sedikit job g mampir hehe)

    ReplyDelete
  9. #selreminder buatku
    Meskipun belum banyak job dari ngeblog, tetap harus selektif juga ya mbak buat milih2 job ^^

    ReplyDelete
  10. Bagus jadi bahan renungan. Mau berbuka dengan apa nih ya?

    ReplyDelete
  11. Kalau aku sebisanya di edit lagi..tapi kemaren sempet heboh..dan ternyata sama semua.., karena pas aku baca udah pas..gak ada yg typo dll..makanya aku publish..eh ternyata..., Sama ..



    Yg belum kulakukan periksa plagiarisme itu.., mungkin kedepannya...harus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Periksa plagiarisme untuk CP itu HARUS, Mbak. Jangan cuma mungkin. :))

      Delete
  12. Kemarin saya dapat tawaran ini juga, begitu tau isinya sama trus saya berpikiran kaya mba gitu, apa iya akal-akalan supaya dapat harga murah? Akhirnya saya memutuskan ga jadi ambil content itu. Dan kedepannya ga mau ambil content placement, insyaallah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ambil juga enggak apa-apa, Mbak. Tapi pastikan disimak dulu isinya. Lalu, sesuaikan saja dengan gaya ngeblognya.

      Delete
  13. Iya, jebule artikelnya podo kabeh..beneran jebakan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Dedew juga dapat jobnyakah? :)

      Delete
  14. Aku juga dapat nih CP beberapa waktu lalu, edit2, sebelum publish udah cek plagiarisme 96% unique. Langsung publish. Nah, setelah itu aku belum cek lagi sih, duh rada khawatir juga ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau sudah 96% sih ya udah, Mak. Udah safe :)

      Delete
  15. Nanti, kalo aku berubah pikiran utk mulai memonetize blog, aku ga bakal mau hanya trima tulisan plek2 ,walo tahu ga sesuai ama gaya tulisan kita :D. Blog ini buatku seperti rumah. Apa yg ada di dalamnya, itu harus sesuai dengan yang aku mau. Makanya belum kepengin dulu untuk menerima tulisan sponsor ato cp, karena kebanyakan aku ga sreg dengan apa yang harus ditulis :D. Bisa sih memang disesuaikan dengan gayaku, tapi tetep aja, rasanya ga sepuas kalo menulis tulisan sendiri :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sih.
      Kepuasannya beda emang. Soalnya puas dapat uang kalau CP mah. Hahahha.

      Delete
  16. Hmm,, menarik mbak,, dilema sebetulnya, antara identitas atau uang, terutama bagi pemula. pilih uang atau identitas, identitas atau uang, nah, disana perang batin nya. Ga sedikit sampai sekarang masih bingung mau memutuskan untuk teguh di sisi yang mana. Semoga main banyak teman-teman yang makin sadar, aaaminnn

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya enggak apa-apa sih, mendapatkan penghasilan dari blog kan juga halal. Hanya saja, jangan sampai membahayakan blog sendiri. Sayang.

      Delete
  17. Alhamdulillah aku pribadi selalu mencoba nulis yang orginal sekali seminggu 😊😊

    ReplyDelete