Menentukan Niche Blog, Ini 3 Pertanyaan yang Harus Dijawab

by - Maret 09, 2020



Sedang kebingungan dalam menentukan niche untuk blog kamu? 

Ya, emang gampang-gampang susah. Boong banget kalau saya bilang gampang, sih. Kenapa? Karena, manusia itu sifat dasarnya rakus. Serakah. Mau milih niche buat blog jadinya galau. Maunya semua ya bisa dibahas di blog. Akhirnya semua topik masuk lagi. Nggak jadi bikin niche deh.

Buahahahh. Enggak, bercanda (walau mungkin ada benernya. Wqwqwq.) Yah, walaupun kamu sudah sangat mengenal diri sendiri, tapi terkadang menentukan apa yang diinginkan itu tidak mudah. Ada banyak ide berseliweran di kepala, dan rasanya semua bagus dan diperlukan.

Jadi gimana? Etapi, sebentar… 

Memangnya apa itu niche blog?

Dalam dunia penulisan online, niche dikenal sebagai tema atau topik utama dalam pembahasan di blog. Ceruk, koridor. Kira-kira gitu deh.

Nah, kalau di bidang marketing atau bisnis online, niche market adalah “a specialized but profitable corner of the market” (Oxford Dictionary). Kalau diterjemahin bebas mah artinya sepenggal wilayah pasar tertentu namun menguntungkan. 

CMIIW ya. Apalah eikeh yang baru 19 tahun jadi marketing.

Pengertiannya sama-sama merujuk pada kekhususan, agar apa yang dimaksudkan dapat lebih spesifik, tidak melebar.

Nah, sudah sedikit lebih jelas mengenai niche blog, kan? Memang agak tricky untuk memilih niche blog ini, apalagi kalau kamu termasuk tipe manusia yang banyak mau.

So, sebelum kamu benar-benar menentukan tema khusus atau topik utama dalam blog, 3 pertanyaan berikut barangkali bisa bantu kamu untuk memutuskan.


3 Pertanyaan untuk Memilih Niche Blog


1. Apa minatmu?

Ini yang paling penting, mengingat orang cenderung melakukan sesuatu dengan lebih baik jika menyukainya. Percayalah, kamu akan setengah hati meng-update blog tentang kelebihan dan kekurangan gawai terkini, kalau kesukaanmu adalah memasak.

Jadi, pahami benar-benar apa yang menjadi kekhususanmu. Spesialisasimu. Keahlianmu.

Dan ini harus dilakukan dengan santai. Jangan “terburu nafsu” menentukan sebuah blog niche hanya gegara topiknya sedang tren. Ingat, blog itu merepresentasi pemiliknya, jadi jangan salah menentukan jati diri jika tidak ingin blognya “hidup segan mati tak mau”.

Kalau kesukaanmu betul-betul di bidang masak-memasak, maka berbahagialah karena kamu sudah tahu apa niche blogmu. Selanjutnya, kamu akan dengan gembira menuliskan hal yang sesuai minat. Hari-harimu akan terisi dengan ekplorasi dan berbagi cerita tentang masakan. Menyenangkan, bukan?


2. Mau nggak update blog tanpa dibayar?

Harusnya sih jawabannya, “Iya.” 

Membuat tulisan mengenai hal yang disukai tentu akan tanpa pamrih. Tujuan utamamu enggak k materi, tapi lebih pada "berbagi". 

Jika kamu memilih sulaman sebagai niche, misalnya, maka kamu akan cukup senang hanya dengan berbagi cerita apa pun tentang sulaman. Tentang teknik baru yang tidak sengaja ditemukan tapi jadinya indah. Tentang pekerjaan semalam suntuk tapi hasilnya luar biasa. Tentang toko yang menjual benang murah meriah. Dan sebagainya.

Duit jadi yang kedua, di bawah kepuasanmu. Kamu akan cukup senang dengan apresiasi orang, dengan komentar-komentar yang masuk. Bakalan ada banyak orang yang memuji karyamu, bertanya-tanya, bahkan berminat belajar darimu.
Nah, kalau sudah bisa menjawab, “Iya.” maka kamu sudah berhasil menentukan sebuah niche untuk blogmu.


3. Bersediakah “terisolasi”?

Ha? Maksudnya pegimana dah?

Maksudnya begini…. 

Kalau kamu sudah fokus pada sebuah niche blog, maka sebagian besar waktu akan dihabiskan di wilayah itu. Kamu mungkin akan lebih banyak berteman dengan yang punya minat yang sama, hingga tidak sempat bersosialisasi dengan mereka yang tidak sejalan. Mungkin circle pertemananmu juga akan mengecil.

Bayangkan jika kamu harus kopi darat dengan orang yang hobinya otomotif, padahal tema utama blogmu adalah kecantikan. Nyambung nggak? Enggak sih kayaknya.

Terisolasi juga berarti kemungkinan dengan niche yang terbatas, tawaran sponsorship mungkin juga berkurang. 

But tell you what. Kamu seharusnya enggak perlu mengkhawatirkan hal ini. 

Sponsorship mungkin jumlahnya berkurang, tapi sponsor yang akan datang padamu justru akan lebih berkualitas. Kamu akan punya bargain power, untuk meminta nominal lebih, karena kamu pun akan "memberikan" lebih pada mereka, yaitu keahlianmu. Bisa jadi, nominalnya akan lebih besar ketimbang blog tak berniche, karena kamu dianggap punya authority. Bahkan, segala macam DA, PA, apalah apalah itu enggak akan diperhitungkan lagi sama brand atau pihak yang pengin nitip artikel di blogmu.

Memang sudah hukum alamnya begitu, jadi mau nggak mau harus dijalani. Tapi jika kamu bersedia, ini akan menjadi satu pertanda lagi bahwa kamu sudah menemukan niche blog. Yay!

Meski demikian, nggak benar-benar harus terisolasi juga sih. Kamu tetap bisa bergabung dengan blogger ber-niche lain di berbagai acara. Setidaknya bersilaturahmi sebagai sama-sama penulis. Tapi yakinlah, kamu akan lebih sreg berbagi cerita dengan mereka yang minatnya sama.

Nah, dalam perjalanan blogging, kamu nantinya akan menemukan orang-orang yang membiarkan blognya diisi tanpa niche, atau dengan tema yang luas. Dengan alasan tertentu, mereka tidak ingin membuat spesialisasi tulisan. Ya, biarkan saja. Semua pilihan kan kembali ke masing-masing pribadi. Yang penting, jalani dengan bahagia.

Yang jelas, blog dengan niche tertentu akan lebih cepat menarik pasar. Mereka yang memiliki minat yang sama akan mendatangi blogmu dan setia pada penulis-penulis yang senada. Mesin pencari juga akan lebih mudah mengidentifikasi blogmu, karena kamu pasti menggunakan kata kunci yang sama.


Nah, demikian sedikit tentang menentukan niche untuk blog.

Selamat menentukan niche blogmu, ya!

You May Also Like

2 comments

  1. Perkara menentukan niche aja belum kelar dr jaman kapan Kak. Ya Tuhan, berilah hamba Hidayah agar bisa melangkah dengan mantap 😅

    BalasHapus
  2. sama... sepertinya punya niche blog bagi saya belum dapat hilal nya... semoga bisa punya nich yang jelas segera.

    BalasHapus