Mengapa How to Write Lebih Penting Ketimbang What to Write

Beberapa waktu yang lalu, barangkali ada yang sempat liat status update saya di Facebook. Di san...



Beberapa waktu yang lalu, barangkali ada yang sempat liat status update saya di Facebook. Di sana saya cerita tentang seorang klien yang mengatakan bahwa content writer ada banyak, tapi susah untuk mendapatkan seorang content writer yang "manusiawi".

Saya sempat bertanya-tanya, yang gimana sih content writer yang manusiawi itu? Makhluknya seperti apa? Tulisannya seperti apa?


Secara tidak langsung, si klien itu menjelaskan, bahwa dengan berbagai tuntutan keywords, SEO friendly, dan tidak menguasai materi, content writer hanya menulis tanpa jiwa. Keyword diulang-ulang, bold sana bold sini, warna pink sana warna hijau sini, taruh link di tengah artikel, dan kemudian bahasa yang mbulet-mbulet nggak bisa dimengerti.

Saat itu, saya masih menyimpan rasa penasaran saya. Akhirnya saya berkesempatan untuk berdiskusi dengan seorang teman lain mengenai hal ini. Dia bilang ke saya, "Coba aja kamu ke website-website penyedia artikel gratisan gitu. Pasti liat banyak artikel seperti yang klien kamu maksud."

Yah, saya nggak usah bawa ke sinilah ya, hasil penelusuran saya. Nggak penting. Hanya saja, saya kemudian menyimpulkan satu hal. Bahwa ternyata memang penting sekali untuk segera menemukan gaya menulis kita sendiri dan juga mengapa lebih penting "how" ketimbang "what".

Mengapa "How to Write" Lebih Penting Ketimbang "What to Write"?


Ini dia beberapa alasan.

1. There's nothing new under the sun


Fakta bahwa tak ada yang terlalu baru di muka bumi ini kadang membuat kita kehabisan kata dan ide dalam mengupas topik tertentu. Ide dasarnya sama, tetapi kadang hanya dibedakan oleh kondisi.

Taruhlah topik mengenai mom's war stay at home mom vs working mom. Topik ini barangkali sudah ada sejak zaman jahiliyah. Dan, siapa pun bisa memprediksi, topik ini akan terus hangat sepanjang waktu, karena hadirnya para ibu baru. Coba lihat, perdebatan seru selalu terjadi pada ibu baru. Ibu-ibu senior mah, udah so last year kalau masih memperdebatkan hal ini.

Tapi menulis tentang hal ini, rasa-rasanya kok ya basi banget ya. Udah dibahas di mana-mana lho. Ibaratnya di setiap forum ibu-ibu itu ada. Lalu, bagaimana kita bisa menuliskannya? Padahal ini hot banget.

Ya, tentu saja dengan cara yang berbeda. Dengan sudut pandang yang berbeda. How you write it, akan membuat konten hal yang membosankan ini menjadi terasa baru.

2. Kita harus sudah mengikat pembaca sejak kalimat pertama dimulai


Kalau di Flashfiction ada dalil, bahwa kalimat pertama harus sudah bisa memancing pembaca untuk penasaran lebih lanjut. Dan, begitu juga kalau menulis artikel. Bagaimana kita menulis, akan menentukan apakah pembaca tertarik atau enggak. Hmmmm, sepertinya bukan cuma dari kalimat pertama sih. Tapi sejak judul ya. Kan kalimat pertama dalam sebuah artikel itu berupa judul kan ya?

So, bagaimana menulis judul dan kalimat pertama itu penting banget.

Katakanlah begini.

Judul 1: Tips Dekat Dengan Anak untuk Ibu Bekerja
Judul 2: Dekat dengan Si Buah Hati Meski Mama Tetap Bekerja? Bisa Banget Dong!

Kira-kira lebih menarik yang mana? Tentu saja yang kedua. Karena lebih menekankan pada permasalahan, dan lalu pemancing. Padahal isinya sama, tips supaya dekat dengan anak.

3. Kita harus tell a story


Penulis adalah seorang story teller. Meski si penulis itu bukan penulis fiksi, dan lebih fokus ke nulis nonfiksi, tetap saja, penulis adalah story teller. Kalau tulisannya nggak bercerita, ya terus, nulisnya buat apa? Kan, menulis itu salah satu bentuk komunikasi? Penyampaian pesan?

Dan, bagaimana kita menulis itu menentukan seberapa banyak pesan yang bisa sampai kepada pembaca. Kalau kita nulisnya mbulet-mbulet, muter-muter, terlalu banyak pakai bahasa yang ketinggian, nggak komunikatif, pembaca jadi nggak mudeng, lalu ... salah siapa? Salah gue? Salah temen-temen gue? *Cinta mode on*

So, mau menulis apa? How to? Tutorial? Opini? Curhatan? Semua punya alur, dan plot. Iya, siapa bilang yang ada alurnya cuma cerpen dan novel? Bahkan kalau kita menulis tutorial atau step by step install software di laptop pun ada alurnya. Nggak bisa lompat-lompat kan? Alur yang mengalir secara runut, berurutan dan rapi, akan membuat tutorial yang kita tulis menjadi bisa diikuti dengan mudah dan pada akhirnya pesan yang dibawa sampai. Jadi berguna deh.



Kadang juga sering ditemui, banyak orang memang master dan expert dalam satu topik atau bidang tertentu. We have no doubt about it, pokoknya dia master banget deh. Kemudian dia menulis mengenai topiknya, dengan bahasa dewa, bahasa ilmiah, bahasa planet, yang nggak semua orang mengerti.
Orang kedua, nggak terlalu expert. Ya, katakanlah levelnya berada di bawah orang pertama. Tapi dia bisa mengolah kata-kata, sehingga tulisan yang dihasilkannya adalah tulisan sederhana, gampang dicerna, dan dimengerti oleh orang-orang yang paling awam. Padahal sebenarnya topik yang dibahas sama persis dengan topik si orang pertama.

Lalu, orang akan cenderung membaca tulisan siapa? Yang pertama atau kedua?
Ini adalah bukti, bahwa "How to Write" benar-benar lebih penting ketimbang "What to Write". Kita bisa saja membahas topik yang sama, yang sudah dibahas oleh semua orang. Tetapi, bagaimana kita memasak topik itu hingga penyajiannya, itulah yang membedakan.

Jadi, mau bahas topik yang sudah ada dan banyak ditulis? Ayo aja! Nggak perlu takut kehabisan ide. You can always cook the same thing everyday, hanya saja sajikan dengan caramu sendiri.

You Might Also Like

23 comments

  1. Terus belajar
    Entah tulisan saya selama ini bagus apa nggak
    Nggak tahu harus minta tolong siapa menilainya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang baca dan berkunjung ke blog Mbak Amma dan lalu kasih komen, merekalah yang menilai, Mbak :) Lihat aja, apakah masih ada yang nggak mudeng? Atau gagal paham?
      Lalu kalau Mbak Amma ikut lomba/giveaway menang enggak? Kalau menang, berarti cara nulisnya udah bener. Kalau belum, berarti harus ada yang diperbaiki.

      Semangat, Mbak Amma :)

      Delete
  2. Mau dong diajarin how to write. Ngerasa tulisan sendiri masih jauh dari enak dibaca. Nggak pinter bikin judul juga. Mungkin salah satu caranya adalah sering baca ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tulisan Mom Alfa udah bagus. Udah runtut, aku nggak terlalu banyak ngedit. Kalau soal judul, aku pun kadang masih salah milih. Jadi ya banyak-banyak trial error, dan ngamati tulisan-tulisan yang lain, yang lebih viral. Keliatan kok, polanya.

      Delete
  3. Beneran mesti kreatif banget berarti ya mbaak buat cari sudut pandang yang menarik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, betul :)
      Banyak baca saja, dan makin sering nulis kita makin peka.

      Delete
  4. Sama seperti drama Korea mal. Dasar ceritanya bisa aja sama tapi plotnya itu loh.. bisa bikin betah 16 episode.

    ReplyDelete
  5. Kuncinya latihan sama banyak baca ya mba?:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes! Semangat ya, Emaknya Najla :D

      Delete
  6. Nah, Cinta (((Cinta))), yuk kita terus belajar menulis yang baik dan manusiawi.

    Thanks for sharing, Mbak Ra. :D

    ReplyDelete
  7. Waduh smoga tulisanku nggak mbulet-mbulet hihihi.
    Masih terus belajar nih, termasuk kasih judul masih belum bisa menarik.

    ReplyDelete
  8. Tulisanku masih suka mbulet-mbulet...hehe *ngaku. Masih harus belajar banyak dari enulis dan blogger lain :)

    ReplyDelete
  9. Fix, blog Mba Carra aku jadikan acuan untuk blogging daaan menulis. Komplit banget Mba! Love loveeee...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Awww! Feel honoured! ^^
      Makasih ya!

      Delete
  10. Sepagian ini aku jalan2 di blognya mba carra, makasih bgt buat ide2 cemerlangnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Awwww. Terima kasih sudah baca, Mbak :) Semoga bermanfaat ya.

      Delete
  11. aku masih pemula dalam hal menulis nih, pas selesai menulis pas tak baca lagi kok ceritanya cuma datar, kurang.menarik gk greget. mohon pencerahannya mbk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba dibaca ulang setiap kali sebelum publish. Masukkan beberapa kata beremosi. Seperti wow, cool, aduh dan sebagainya sebagai penggambaran emosi :)
      Keep writing. Practice makes perfect.

      Delete
  12. Belajar masak di mari.. Harus diasah lagi nih kemampuan story tellingnya.

    ReplyDelete
  13. Selalu belajar banyak menulis dari mba Carra.. terlihat beda jg ya mba klo nulis dari hati atau ngga hihii. Hmm, punyaku banyak editan yaaa :)

    ReplyDelete
  14. Eh iya juga ya...

    Gak ada yg terlalu baru di muka bumi ini...

    Tinggal mau lihat dari sudut mana kita akan bercerita

    Angguk-angguk... 😊

    ReplyDelete

Silakan masukkan link blog Anda dalam kotak ID yang sudah disediakan.
Semua komen yang berisi link hidup, will go straight to spam.

Search This Blog