FlashFiction - Salah Satu Cara Latihan Menulis Efektif dan Kreatif

Disclaimer: Postingan berikut pernah saya share di Twitter, lalu ada tambahan sedikit :) FlashFi...

Disclaimer: Postingan berikut pernah saya share di Twitter, lalu ada tambahan sedikit :)

FlashFiction - Salah Satu Cara Latihan Menulis Efektif dan Kreatif

FlashFiction - Apaan sih itu?

Image via Write ... Edit ... Publish Blog

Jadi, kemarin ada yang nanya. Apa sih flashfiction yang sering saya tulis itu. Hmm, jadi ya, sekalian aja ah, share di sini.

Flashfiction, adalah prosa super pendek dengan panjang kurang dari 1000 kata. Tapi saya sendiri 500 kata itu udah pol. Karena kalau lebih dari itu, kemungkinan untuk lospokus semakin besar. Sedangkan sebuah flashfiction itu harus hanya punya 1 fokus: 1 adegan 1 konflik 1 setting waktu.

Flashfiction, atau yang sering disingkat FF, seperti juga prosa lain, punya unsur yang sama, yaitu tema, setting, alur, dan karakter. Jadi, jangan karena begitu singkat lalu ada unsur yang bisa dihilangkan sama sekali. Tapi gimana kita menjelaskan karakter tokoh kalau cuma dibatasi sekian ratus kata begitu? Ya, di situlah letak tantangannya.

Apa yang harus diperhatikan saat menulis flashfiction?

Image via Slideshare

Pasti sudah sering dengar yang namanya prinsip "Show don't Tell" kan? Itu berlaku banget saat menulis Flashfiction. Kita bisa menjelaskan karakter tokoh melalui obrolan, narasi, bahkan sikap si tokoh yang tergambarkan.

Ciri khas lain lagi dari flashfiction, adalah adanya twist, atau pelintiran cerita. Cerpen, nggak terlalu mutlak ada twisted ending.

Image via Slideshare


Twisted ending biasanya memberikan efek kaget pada pembaca, yang keliru menebak ending dari cerita tersebut. Kalau saya sendiri, mungkin karena sudah terbiasa membaca flashfiction, setiap kali mulai membaca berusaha mengosongkan pikiran siap-siap menerima kejutan :D Jadi malah hampir nggak pernah terkejut lagi :))

Sebagian penulis flashfiction terjebak pada mindset bahwa ending sebuah flashfiction harus mengerikan, sadisme, gore etc. Nah, kadang di situlah letak kesalahan beberapa penulis flashfiction.

Twist nggak harus sadis, nggak harus mutilasi, pembunuhan, mistis dan sebagainya.


Twisted ending, nggak harus selalu tajam. Bisa juga landai. Artinya pembelokannya nggak musti selalu tajam.Twisted ending bisa dibangun dengan sedikit "mengobok-obok" sisi psikologis pembaca.

Maksudnya gini.

Ada beberapa perasaan yang timbul pada pembaca hingga bisa terkejut dengan pembelokan cerita yang nggak disangka-sangka. Misalnya, menimbulkan perasaan iba, ngeri, atau lucu. Kalau bisa salah satu dari perasaan itu timbul di benak pembaca, bisa dibilang twist cerita cukup sukses. Paling susah itu malah bikin twist komedi. Itu eikeh sih :D

Kadang saya sih menemui komen, ih, ini flashfiction kok nggak ada twistnya. Tapi saya berpendapat lain. Ada kok twistnya, hanya nggak tajam. Landai. Salahkah itu? Enggak dong. Bener, sudah memenuhi syarat flashfiction. Apakah endingnya juga harus meledak-ledak? Bikin pembaca terguling dari kursi? Enggak juga. Asalkan memberi efek kejut tersendiri, itu sudah cukup.

Misalnya cerita ini.
---

~ Cantikkah Aku, Bu? ~

"Bu, cantikkah aku?"
"Cantik dong!"
"Ibu nggak bohong?"
"Ibu tak pernah bohong padamu."

Dina menatap cermin di hadapannya. Pesek. Legam. Tonggos. Berlipat-lipat lemak di dagunya. Tingginya pun hanya setinggi meja.

Dina lebih percaya ibunya, ketimbang percaya Ami, teman sekelasnya, yang suka mengolok-oloknya dan memanggilnya dengan sebutan troll.

---

Di situ kemudian timbul rasa kasihan pada pembaca karena membayangkan fisik Dina. Padahal di awal Ibu sudah bilang dia cantik.

Di situlah pelintirannya berada. Bikin pembaca terguling dari kursi? Enggaklah. Tapi ada pembelokan cerita.

Atau cerita yang ini.
---

~ Takbir Pagi ~

Berdiri ia di balkon kamarnya.

“Saya ingin tobat. Masihkah diperbolehkan?”

Hening.

Dia berbalik, masuk. Lantas ia keluar lagi. Kaftan sudah berganti baju koko. Rambutnya diikat, ditutup dengan kopiah. Ada bening di mata yang tak lagi bermaskara. Bibirnya yang tak lagi bergincu menyala mengatup rapat.

“Terima kasih,” gumamnya.

---
Keliatan nggak, di mana pelintirannya?

Kalau sering nulis dan baca, bakalan keliatan kok cerita itu ada pelintiran atau enggak.

Image via Lydia Netzer


Kesalahan lain yang sering dilakukan oleh para penulis flashfiction adalah kebanyakan terlalu fokus pada twist, terlalu sibuk mikirin, ini twistnya oke nggak ya? Padahal, dalam flashfiction justru letak kuncinya adalah pada opening. Opening-lah yang menentukan twist itu cukup tajam atau enggak.

Yep, opening-lah justru hal terpenting dalam flashfiction.

Flashfiction bisa dibuat dengan dua cara:

  • Cari dulu twistnya, lalu tarik ke opening. Bikin opening yang berbeda dengan twist, lalu dihubungkan di tengah.
  • Mulai dari opening lalu membuat beberapa alternatif ending, pilih ending yang out of the box.

Saya sih dua-duanya sering pake. Tergantung ide cerita dan juga prompt. :D

Yang perlu diperhatikan lagi, saat menulis flashfiction jangan pernah melakukan dua hal konyol ini:
  • Membuat keterbatasan jumlah kata sebagai hambatan untuk bercerita dan bertutur sesuai logika. Misalnya, saat ditanya kenapa ini kenapa itu, lalu jawabannya, "Sebenarnya itu begini lho. Tapi cuma dibatasi 200 kata sih, saya jadi nggak bisa memasukkannya ke dalam cerita." Sorry, dengan demikian, ceritamu failed :)
  • Ending bermimpi. Udah seru-seru, ternyata twistnya mimpi. Please. It's ridiculous. Think about something else. Be creative!

Lalu kalau fiksimini yang suka dimainkan di Twitter itu, apa bedanya sama flashfiction?
Sepertinya sih prinsipnya sama, hanya saja fiksimini terbatasi lebih sempit lagi. Tapi imajinasinya lebih luas. Ah, kalau ini mah, saya nggak berani menganalisis-lah. Ada yang lebih expert ketimbang saya :lol: Silakan follow aja @fiksimini di Twitter, kalau mau kenal lebih dekat sama fiksimini. Di sana banyak 'dedengkot'-nya yang pasti akan lebih bisa menjawab pertanyaan di atas.

Kenapa menulis flashfiction?

Image via Short Stops

Ada banyak manfaat yang bisa kamu peroleh dengan berlatih menulis flashfiction, di antaranya:
  • Kita berlatih menulis kalimat secara efektif dan efisien. Karena di flashfiction tak boleh ada yang bertele-tele, tak boleh ada yang tak penting, tak boleh ada sampiran. Semua to the point.
  • Kita berlatih kreatif memilih diksi. Kadang satu pilihan kata bisa menggambarkan satu kalimat utuh. Nah, semakin banyak menulis flashfiction, kita jadi semakin terlatih memilih kata apa saja yang tepat untuk menggambarkan satu kondisi tertentu.
  • Kita jadi makin kreatif karena selalu berlatih menemukan ending yang unpredictable, atau menemukan opening yang biting.

Kalau kamu mau kenalan lebih lanjut sama flashfiction, bisa kepoin blog [klik] Monday Flashfiction, sebuah komunitas pecinta flashfiction yang sekarang berkembang ke komunitas blogger fiksi. Ada banyak hal keren yang dibahas di sana :)
Ubek-ubek aja blognya. Kalau mau gabung juga boleh. Syarat dan caranya juga sudah ada di blog semua :)

Atau mau baca-baca cerita flashfiction saya, ada di blog [klik] Fiksi Carra. Meski akhir-akhir ini jarang banget diupdate. Hiks. Niat untuk nulis lagi ada, tapi entahlah, mood nulis fiksinya masih rendah banget nih. Hopefully, segera bisa nulis lagi. Saya udah kangen juga sebenarnya, bermain diksi dan imajinasi di sana.

Kamu ada tambahan tentang flashfiction ini? Yuk, tulis di kolom komen :)

You Might Also Like

8 comments

  1. Sudah lama nggak nulis flashfiction, kangeeeeenn hikss *nulis resep masakan melulu sekarang.
    Aku masih inget tuh yang Takbir Pagi, ditulis menjelang Lebaran ya, waktu itu ada tantangan nulis 50 kata di FB kalo nggak salah, kalo nggak salah lho *sok tau hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mak. Bener, itu buat event yg 50 kata itu :))
      Iya, aku juga kangen menulis liar kayak gitu lagi.

      Delete
  2. Jadi kangen nulis fiksi lagi huhuhu...

    ReplyDelete
  3. Baru tahu tentang flashfic...menarik....
    Ingin mencoba.

    ReplyDelete

Silakan masukkan link blog Anda dalam kotak ID yang sudah disediakan.
Semua komen yang berisi link hidup, will go straight to spam.

Search This Blog