Membuat Outline Tulisan dengan Bantuan Rumus 5W 1H

Kemarin ada yang nanya ke saya tentang tips membuat outline untuk menulis blogpost. Sebelum ba...



Kemarin ada yang nanya ke saya tentang tips membuat outline untuk menulis blogpost.

Sebelum bahas lebih lanjut, saya mau tanya dulu saja. 
Buat kamu, perlu nggak sih membuat outline untuk blogpost?
Kalau jawaban kamu perlu, kamu bisa melanjutkannya ke bawah. Tapi, kalau jawaban kamu nggak perlu, maka ... *ilang sinyal*

Saya sendiri jawaban saya adalah tergantung topik dan tujuan menulisnya. Untuk topik yang cukup serius, butuh dirinci, harus detail, dan bahasannya harus tuntas, maka saya akan butuh outline.
Saya akan mencicil pemikiran dan opini saya dalam outline itu, sebelum dikembangkan dan ditulis beneran di blog. Outline juga membantu saya untuk fokus, untuk bisa menulis detail, informatif namun tetap ringkas.

Sedangkan untuk postingan-postingan semi curcol bebas (karena dalam blog ini pun sebenarnya kan saya curhat. Curhatin apa-apa yang sedang saya pelajari dan mencatat yang sedang saya lakukan kan?), saya nggak butuh outline. Kayak artikel saya soal cyber bullying yang pernah saya tulis di sini itu, saya langsung tulis saja. Cukup tahu saja apa yang akan saya tulis, dan biasanya langsung bisa mengalir keluar begitu saja.

Nah, mari kembali ke soal outline.

Saya nulis di sini berdasar pengalaman saya mengedit tulisan beberapa orang teman penulis (yang rata-rata adalah penulis blog) ya. Sekitar setahunan ngedit ini, saya menemukan beberapa kesalahan yang common banget dilakukan oleh teman penulis.

Salah satu kelemahan mereka adalah kekurangannya dalam menyajikan informasi secara lengkap. Banyak kali saya membaca artikel yang malah justru menimbulkan banyak pertanyaan di benak alih-alih bisa menjawab keingintahuan saya.
Semacam, lho, kok gini? Mengapa kalau kita melakukan itu jadinya bisa begitu ya? Gimana caranya biar begini? Terus kok yang onoh begono? Kaitannya sama yang ini apa?

Kentang. Ya, istilahnya kentang.

Nah, di sinilah kita butuh outline, supaya nggak kentang.

Kalau bingung bagaimana membuat outline untuk tulisan kamu (apa pun itu; blogpost, artikel untuk media, resume, esai dan seterusnya) maka cobalah dengan membuat outline mind mapping.

Saya coba kasih contoh dengan satu mind mapping yang saya coret-coret dari artikel seorang teman, dengan teori 5W 1H ini.
Begini hasilnya.




Mari kita lihat.

Cara memanfaatkan rumus 5W 1H untuk membuat outline tulisan


1. WHAT


What adalah topik yang akan kita bahas. Biasanya WHAT merupakan topik yang akan kita tulis, yang kemudian dikelilingi dengan who, when, where, dan why lalu how.

Dalam contoh di atas, topik yang akan dibahas adalah mengenai Post Natal Depression yang terjadi pada para papa baru.


2. WHO


WHO adalah pelaku atau "tokoh" yang ada dalam tulisanmu. Meski nonfiksi sekalipun, tulisan kamu akan butuh tokoh. Tokohnya bisa siapa saja, bisa "saya", bisa "Anda", bisa seseorang yang lain.

Dalam contoh artikel di atas, pelaku utamanya adalah "para papa", kemudian saya tuliskan juga para tokoh pendamping, yaitu "mama" dan "bayi", sebagai pihak yang berhubungan dengan si papa.

Di sini kita bisa mengembangkannya ke pertanyaan: apa imbasnya ke mama dan bayi, kalau Papa terkena post natal depression ini? Karena pasti ini akan menjadi pertanyaan berikutnya saat kita menyebutkan "mama" dan "bayi" sebagai pihak yang berhubungan langsung dengan papa.



3. WHEN


Kapan tepatnya papa terserang oleh depresi ini?
Berapa minggu setelah si bayi lahir?
Nah, di sini bisa kelihatan lagi bakalan ada pertanyaan lain yang kemudian timbul; apa gejalanya? Ini juga bisa diletakkan di HOW, yaitu bagaimana bentuk manifestasi papa saat terserang post natal depression ini?


4. WHERE


Di mana terjadi post natal depression ini? 

Di rumah, mungkin ya. Lalu, pertimbangkan apakah mungkin terbawa sampai ke kantor? 
Kalau iya, apa yang bisa terjadi? Di sini, kemudian bisa berkembang lagi ke HOW. Bagaimana cara mengatasinya supaya nggak menganggu kinerja Papa di kantor? Gitu, misalnya.

5. WHY



Apa yang menyebabkan papa terserang oleh depresi ini? Sebutkan semua alasan yang mungkin. Pada setiap alasan, pertimbangkan pula pertanyaan WHY yang bisa muncul kembali. Sehingga kamu bisa tahu, apakah perlu diberi penjelasan lagi.




6. HOW


Lalu bagaimana cara mengatasi post natal depression yang terjadi pada papa ini? Pertimbangkan pula apakah rumus 5W 1H tersebut bisa muncul kembali pada setiap pointernya.

Misalnya, salah satu caranya adalah meminta bantuan profesional. Profesional seperti yang bagaimana? Di mana bisa ditemui? Dan seterusnya. 
Jadilah setiap pointer akan full dengan informasi yang benar-benar perlu. 


Nah, kalau mind mappingnya sudah lengkap, maka kamu kemudian bisa menuliskannya kembali dalam bentuk tulisan yang kamu mau, apakah bentuk how to, tips, atau storytelling. 
Kalau terlalu panjang, kamu pun bisa mempertimbangkan untuk membuat artikel berseri. Nah, jadi lebih menarik pastinya ya.

Konon, kata Hubspot, artikel berseri lebih berpeluang untuk nge-drive pageview lho.

Dengan outline begini, harapannya, artikel nggak kentang, informatif dan bahkan mungkin bisa memberikan solusi. Saya sering menggunakan mind mapping begini dari mulai bikin artikel buat blog, buat media online, sampai outline untuk buku.

Mind mapping seperti di atas sangat membantu kalau kita mau melakukan brainstorming untuk apa pun sebenarnya. Kalau kamu malas corat coret di kertas seperti saya di atas, ada beberapa mind mapping free tools yang bisa kamu gunakan. Thanks to Mas Wisnu Widiarta yang sudah kasih referensi ya. Tapi saya belum pernah coba sih. Sok, silakan dicoba. Nanti kabarin saya ya, kalau sudah. Hehehe. 

Semoga penjelasannya jelas.
Keep writing!

You Might Also Like

9 comments

  1. Mba, aku udah subscribe tapi cuma masuk notifnya satu kali di email :'(
    Noted, moga bisa praktek iniiiii, suwun mbaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya emang yang subscribe itu cuma 2 bulan sekali :D Aku nggak bisa sering-sering bikin newsletter.

      Delete
  2. Aku kalo nulis gak kepikiran ini lho, Mak. Langsung jebred. Tahu-tahu pas ngedit pusing aja semua numplek. Hihihi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwkwkwk. Kadang aku juga gitu, Mak. Nah, pas ngeditnya itu aku ngeceknya pakai rumus ini. Terutama ngecek runtutnya, sama apakah ada "why" yang masih tercecer.

      Delete
  3. Waini nih.. Kalau nggak pake outline malah kadang nggak nyambung antara paragraf satu sama yang lain dan isinya curhat tak berkepentingan (aku banget). SAVED!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang. Yang banyak aku temui biasanya memang nggak nyambung antara paragraf satu dengan yang berikutnya. Terus paragraf berikutnya lagi malah ngulang lagi.

      Delete
  4. Tentang ini aku sudah tau dari dulu, tapi bandel nggak pernah dipraktekkan :D

    ReplyDelete
  5. Untuk postingan lomba outline ini perlu banger sepertinya ya mba, supaya arah tulisan nggak ke mana2. Tfs Mba, informatif :)

    ReplyDelete

Silakan masukkan link blog Anda dalam kotak ID yang sudah disediakan.
Semua komen yang berisi link hidup, will go straight to spam.

Search This Blog