5 Kesalahan Penulis Sehingga Artikel yang Dihasilkannya Kurang Bisa Dipahami



Beberapa kali saya harus merombak tulisan penulis, karena tulisannya begitu "egois".
Egois di sini artinya, cuma si penulis yang tahu apa yang dia maksud. Hahaha. Egois kan ya, namanya?

Jadi begini.
Sebuah artikel akan layak baca dan disukai kalau artikel itu bermanfaat, menghibur ataupun inspiratif. Bisa tiga-tiganya, atau salah satu aja, biasanya sudah cukup membuat pembaca feel something. Misalkan kamu mau curhat securhat-curhatnya, nggak  menawarkan solusi pun, tapi kalau cara kamu menulis itu inspiratif, ya bakalan disuka. As simple as that.
Apalagi kalau ada solusi yang ditawarkan. Betul?
Logikanya masuk kan ya?

Namun, bagaimana bisa bermanfaat, menghibur dan inspiratif, kalau yang baca nggak paham dengan yang kita tulis?

Jujur saja, sekarang masih banyak tulisan di internet yang nggak jelas, kurang bisa dipahami. Apalagi kalau yang berhubungan dengan tutorial-tutorial. Padahal yang namanya tutorial kan ya harus simpel, gampang dipahami, gampang diaplikasikan kan? Cemana mau diaplikasikan, kalau kita aja nggak ngerti dengan apa yang dibahas?

Dalam workshop #Lifegoals Zetta Media kemarin saya sempat share beberapa hal mengenai kalimat yang kurang bisa dipahami ini.

Kita lihat saja yuk :)


Beberapa kesalahan penulisan yang sering dilakukan oleh para penulis

1. Pola atau struktur kalimat berantakan


Pernah dapat pelajaran bahasa Indonesia saat SD nggak, yang satu kalimat lengkap punya setidaknya 4 elemen, Subjek, Predikat, Objek dan Keterangan. Disingkat SPOK.
Meski nggak lengkap banget SPOK, atau juga bisa dibolak-balik, pakem ini tetaplah harus ada.
Mau S dan P doang, atau SPO, tapi prinsipnya sama.

Ah, siapa yang guru bahasa Indonesia? Coba, tolong dijelasin yah. :))) Saya mah apah atuh. Teorinya lewat.
Tapi somehow, saya bisa merasakan, kalau ada kalimat berantakan biasanya sih struktur SPOK-nya juga mawut.

Saya akan kasih contoh yah, dari some article yang pernah saya utak atik.


Can you tell me, bagaimana struktur kalimat di atas?
No?
Sama.

Contoh kalimat lain yang lebih sederhana.

Untuk meningkatkan mood, bisa dengan mengubah warna lho.

Pertanyaannya:
1. Siapa yang bisa mengubah warna?
2. Warna apa?

2. Kalimat ambigu


Jenis kalimat lain yang susah dipahami adalah kalimat ambigu, kalimat yang multi interpretasi.
Contoh 1.
Saya beli telur yang dimakan Budi.

Dari kalimat di atas, muncul 2 persepsi:
1. Saya membeli telur, kemudian telur tersebut dimakan oleh Budi.
2. Saya membeli telur yang sudah dimakan Budi.

Yang benar yang mana?

Contoh 2.
Adi tidak mendapatkan uang karena tidak memberi tahu.

Karena ini adalah bahasa tulisan, maka kita nggak bisa memastikan bahwa tahu di atas adalah sinonim dari mengerti atau paham, ataukah tahu yang pasangannya tempe.
Meski kamu bisa saja ngeles, lihat dong kalimat berikutnya!
Tetep ya, satu kalimat seharusnya bisa berdiri sebagai satu kalimat utuh. Kecuali kalau dia menjadi anak kalimat. CMIIW.


3. Kalimat yang terlalu panjang


Coba perhatikan lagi contoh berikut.


Bisakah kamu mengenali dengan mudah, mana kalimat inti, mana kalimat yang merupakan monolog kita?
Enggak?
Saya juga enggak.

Butuh beberapa saat bagi saya untuk paham, bahwa ... ohhh, yang bagian ini maksudnya lagi ngomong sama diri sendiri.
Coba bandingkan dengan yang berikut ini.

Lebih mudah dipahami yang mana?


4. Terlalu banyak istilah asing


Kadang kalau kita menulis sesuatu yang ilmiah, kita harus menyebutkan beberapa istilah asing. Ya, wajar sih ya. Tapi risikonya ya, jadi kurang bisa dipahami dengan mudah.

Kalau di buku cetak, maka kita bisa menyisipkan catatan kaki di setiap istilah asing yang kita gunakan. Kalau di Wordpress, kayaknya ada sih fasilitas untuk menambahkan footnote ya. Kalau di blogspot, kayaknya manual aja bisanya.

Sebaiknya sih, istilah yang kita gunakan juga disesuaikan dengan jenis dan tujuan tulisan kita. Kalau memang untuk menulis artikel populer, nggak perlulah ya menggunakan istilah yang terlalu susah atau puitis, misalnya. Kata-kata puitis yang jarang digunakan biar saja dipakai oleh para penulis prosa, puisi, fiksi dan sebagainya.
Istilah asing biarlah dipakai oleh para ilmuwan yang sedang menulis karya ilmiah.

Mau menulis untuk orang banyak, yang menjangkau pembaca lebih luas? Ya, pergunakanlah bahasa yang simpel dan sederhana.


5. Tulisan dengan banyak typo





Sekali dua kali typo, masih okelah.
Tapi kalau kebanyakan, duh capek.

Makanya, self editing penting banget ya dilakukan oleh penulis. Nggak usah susah-susah deh goals-nya, untuk memulai kebiasaan self editing ini. Kamu bisa memulai dari membebaskan tulisan kamu sendiri dari typo.


Hubspot juga pernah menampilkan data mengenai karakteristik artikel yang viral (saya pernah bahas ini di Arisan Ilmu KEB di Semarang dan Solo).




Salah satu syarat agar tulisan bisa viral adalah tulisannya mudah dimengerti. Patokannya sih, seharusnya sebuah tulisan akan mudah dipahami oleh anak berusia 13 - 15 tahun dan mereka paham.
Jadi, silakan yang punya anak usia SMP, coba diminta untuk menjadi first reader yah. Hahaha.
Bagaimana cara membuat tulisan lebih mudah dipahami, akan kita bahas kapan-kapan :)
Yang penting sekarang, sadari dulu kesalahannya.

Mungkin setelah membaca artikel ini kamu juga berpikiran, ah, kayak gini aja. Kan gampang. Saya nulis seadanya juga banyak yang baca loh. Viral juga loh.

Percayalah, banyak hal yang diremehkan namun ternyata memberikan efek yang luar biasa jika kamu bisa mengubahnya menjadi hal yang lebih baik. It's not useless if you want to learn to be better, right?
Semua tergantung pada diri kita sendiri juga, akhirnya.

So, let's learn :)

Ahhh, entahlah kenapa. Tapi tulisan saya ini kok rasanya juga amburadul. Nanti kapan-kapan saya rapikan deh. Semoga bisa cukup dimengerti.

24 comments:

Adittya Regas said...

Yang bagian typo itu saya banget wkwkwk~
Tapi justru dari typo di blog saya pribadi malah punya branding lain selain blogger galau, yaitu blogger typo :'v *sedih*

Tapi ada juga loh yg tulisannya viral yang pakai bahasa menurut saya nggak mudah dipahami anak umuran SMP :D

Red Carra said...

Nah. Banyak orang memang merasa bangga dengan kekurangannya. Hehehe.
Tulisan viral dengan bahasa kurang bisa dipahami, terus apakah kita juga pengin niru jugakah?

Sally Fauzi said...

Haaha contoh yang pertama, kaya aku banget mba. Mesti banyak belajar lagi. Tfs mba..

agi pranoto said...

kalo saya yang masih pe-er banget itu istilah asing. susah banget mbaaak kadang ada kata-kata yang padanan bahasa indonesianya kaya ga cucok gituuuuuu... huhuhu serba salah ya

Red Carra said...

Aku juga masih ada beberapa istilah asing, pakai bahasa Inggris di beberapa tempat, maksudnya. That's ok sih, kalau untuk artikel populer. Asal bukan istilah yang harus buka kamus.
Maksud istilah asing di sini, kan kadang ada istilah bahasa latin atau apalah yang ilmiah. Kalau istilah asing gaul, saya kira masih banyak yang paham.

Red Carra said...

Hahaha. Aku pun kadang juga gitu kok. Makanya harus self editing ;)
Yuk, belajar bareng.

Fanny f nila said...

Aku lgs pgn cek postingan2ku di blog deh.. kuatir ama poin nomor 1 :). Nulis 1 kalimat aja biasanya aku mikir lamaaa gitu mba. Takut polanya salah, kalimat jd ga dimengerti pembaca, trs malah jd ga dapet poin yg mau ditulis apa -_- .

Aku sendiri pernah beberapa kali nemuin blog orang lain yg seperti itu.. ujung2nya hrs dibaca beberapa kali supaya ngeh apa yg penulis mau sampaikan. Tapi kalo di blog sendiri sepertinya lebih susah nemuin kesalahannya :(

dwi murniati said...

saya sendiri sering merasa bahwa tulisan saya belum enak dibaca, kadang setelah nulis ga pede mau di pos kan. coba-coba baca tulisan orang lain kayaknya bagus banget, sudah ada unsur bermanfaat, menghibur dan inspiratif.malah ada yang tulisan yang yang rasanya saat saya baca, saya terhipnotis dan terus membacanya. kadang suka pgn nanya bagaiman ya mereka bisa menulis seperti itu? bagaimana ya cara agar kita tahu tulisan kita bagus atau tidak ya mba? karena klo kita yang nilai ya bagus-bagus saja. terima kasih mba caroline infonya, salam kenal.

Ruffie Lucretia said...

ahhh... aku kadang suka bingung sama kata penghubung. Baru kepikiran belajar bahasa indonesia di sekolah dasar, menengah, atas bahkan kuliah baru bisa terpakai sekarang.
stuck banget. mungkin pandanan kata dan kalimat saya masih terbatas. hiks.

Dani said...

Simpen tulisannya. Makasiiiih Mbak Carraaa. Dibaca same habis. Hehehehe.

Ahmad said...

Saya sangat setuju dengan penggalan kalimat "pergunakanlah bahasa yang simpel dan sederhana". Terlebih penting sekali memahami kategori pembaca. Terima kasih sudah berbagi ...

baselo said...

Kesetrum dengan kalimat pembuka "Tulisan yang egois". Saya mesti banyak belajar. Huhuhu

Oyong Ilham said...

kalau saya ... jgn menulis artikel terlalu pannjang yang penting simple dan mudah dipahami ....:)

Red Carra said...

Kalau di blog sendiri bisa dilihat dari komentar pembaca, Mbak.
Coba diperhatikan, apakah ada yang gagal paham atau kurang paham? Dari situ bisa kelihatan sih, kira-kira bisa dimengerti enggak.

Red Carra said...

Hai, Mbak Dwi Murniati.
Nyoba nulis di www.rockingmama.id yuk! Karena di sana ada editor yang akan bantu memperbaiki tulisan lho. Kita jadi bisa tahu kesalahannya di mana :D

Red Carra said...

Banyak-banyak membaca lagi, Mbak :)
Supaya perbendaharaan katanya semakin kaya.

Red Carra said...

Ish.

Red Carra said...

Terima kasih sudah membaca.

Red Carra said...

Semangat :)
Keep writing!

Red Carra said...

Bukan masalah panjangnya sih.
Panjang pun nggak masalah, asal tetap padat dan bahasanya mudah dipahami.

lianny hendrawati said...

Sepertinya tulisanku tuh yang amburadul hahaha. Kalo typo sih, sebisa mungkin nggak ada di tulisan, tapi kalo struktur berantakan nggak jelas, nah ini masalahnyaaa. Kebiasaan nulis suka-suka.
Anakku yang sulung kadang suka baca-baca postingan blogku, dan malah dia yang suka nemu tulisan typoku atau tulisan yang menurutnya rada aneh. Dan emang bener sih yang dikatakannya :D

Red Carra said...

Nah, anaknya berarti bisa jadi proofreader pribadi tuh, Mak :D Minta aja dia baca setiap kali habis nulis sebelum diposting :)))

wildainish said...

Ikut nyimak setelah scroll dari grup brainstorming ODOP. Teringatkan sebagai guru Bahasa Indonesia tahun awal mengajar. Kereeen bingit blognya. Jadi pengen domain sendiri nih. :-)
Hehe, salam kenal Mbak Carra.

Carolina Ratri said...

DOmain sendiri nggak wajib kok :D
Perbagus dulu kontennya.

Instagram