Begini Cara Meningkatkan Produktivitas dalam Menulis



Hae!
Saya beberapa kali sering ditanya berapa jam dalam sehari saya habiskan untuk menulis.
Hmmm ... berapa ya? Kalau untuk menulis artikel baru, saya malah nggak pernah bisa menghasilkan satu artikel pun sehari. Lho? Iya, itu kalau pas weekdays. Waktu saya sudah habis buat editing, buat ngadmin medsos, juga habis buat antar jemput sekolah dan ngingetin anak-anak makan, mandi dan ngerjain PR :)))

Saya benar-benar sudah tersedot energinya saat weekdays. Kalaupun semua kerjaan sudah selesai, kadang saya mendingan nonton tivi aja sama anak-anak, atau baca-baca Feedly, baca-baca update blog teman-teman. Palingan cuma bisa nulis ide, berusaha menangkap yang berseliweran di kepala.

Lalu nulisnya kapan?
Weekend. Hari Sabtu saat anak-anak sekolah (kebetulan malah pada siang pulangnya, karena ada les melukis), maka itulah hari terproduktif saya dalam menulis artikel. Mulai dari pukul 07.00 pagi sampai pukul 12.00, saya optimalkan untuk menulis artikel baru (yang idenya sudah saya tabung di hari-hari lain). Kadang selama full weekend, saya bisa menulis antara 6 - 8 artikel baru.

Dalam rentang waktu 5 jam itu, dengan ide yang memang sudah matang, saya bisa menyelesaikan 2 - 3 artikel. Meski belum benar-benar matang untuk dipublish, tapi yahhh, sudah cukup lengkap deh. Weekend adalah waktu saya untuk menulis, baik itu artikel baru untuk portal sebelah maupun waktunya saya ngedraft dan ngupdate blog-blog saya.

Setiap Sabtu pula saya membuat weekly plan untuk seminggu ke depan, terkait kerjaan saya di portal maupun kerjaan saya di penerbit. Jadi, Sabtu memang jadi hari sibuk sih buat saya. Hahaha.
Saya malah lebih agak santai di weekdays, makanya kalau ketemuan saya selalu suka minta di weekdays :D

Banyaknya tulisan yang dihasilkan biasanya tergantung pada produktivitas kita. Bener nggak?

Being more productive is about working smarter, not harder, and making the most of each day. 
Begitu kata Rachel Gillett, dalam artikelnya mengenai produktivitas kerja di situs Business Insider.

Well, meski level kesibukan orang berbeda-beda, dan ini sangat memengaruhi produktivitas kita dalam menulis, namun sebenarnya ada beberapa prinsip yang bisa kita kenali soal meningkatkan produktivitas menulis.

Jadi, hal apa sajakah yang bisa kita manfaatkan dan perhatikan demi meningkatkan produktivitas menulis ini?



1. Mengenali jadwal sibuk


Sebagian dari kita menulis sebagai pekerjaan sampingan. Bener nggak?
Baik itu sampingan dari kerjaan kantor, maupun sampingan dari kerjaan rumah tangga. Iya, ini ngomongin dari kacamata ibu-ibu sih. Kalau embak-embak mah beda lagi kayaknya yah. Tapi sebagian besar sih kayaknya sama, sebagai sampingan. Dalam artian, banyak dari kita masih melakukan pekerjaan lain selain menjadi penulis.
Yah, kecuali kalau kamu Tere Liye, yang sepertinya menjadi satu-satunya penulis full time ya. Soalnya Ika Natassa saja juga masih kerja di bank kan?

Produktivitas adalah soal waktu. Bagaimana kita mengatur waktu, bagaimana kita mengelola waktu sebaik mungkin. Jadi, satu yang harus kamu temukan dulu bukan kapan waktu yang selow di antara waktu sibukmu, tapi tentukan dulu kapan kamu sibuk.

Jadwal, bisa menjadi satu alat pengatur waktu kita. Dengan jadwal, kita bisa menentukan alokasi waktu yang tepat untuk menulis, dan kapan kita harus berhenti menulis untuk mengerjakan tugas yang lain.

Tujuannya hanya satu, kita bisa fokus saat harus menulis, nggak terganggu oleh kegiatan yang lain. Dan, sebaliknya, kita juga nggak keganggu pengin menulis saat sedang mengerjakan yang lain.

Yes, karena kunci produktivitas juga cuma satu; fokus.

Jadi gimana cara menjadwalkannya? Ya, itu sebenarnya tergantung masing-masing sih, karena kegiatan orang kan beda-beda. Tapi saya akan coba kasih beberapa gambaran menjadwalkan waktu menulis ala saya.
  • Temukan waktu di mana kita paling nggak memungkinkan kita untuk menulis. Saya, paling susah menulis justru di weekdays, karena berbagai tanggung jawab yang harus saya selesaikan. Maka, saya tidak akan menulis di saat-saat tersebut.
  • Temukan waktu di mana kita bisa menggeser prioritas pekerjaan dan tugas yang lain, demi bisa menulis. Nah, kan, soalnya memang harus ada yang "dikalahkan" kan ya? Kadang kita memang nggak bisa melakukan semuanya sekaligus. Saya sendiri, agak selow di weekend, karena saya memutuskan untuk tidak editing dan tidak publish di portal sebelah pada hari Sabtu, hanya agar saya bisa brainstorming untuk minggu berikutnya. Hari Sabtu juga hari bebas saya dari ngadmin medsos. So, weekend adalah waktu yang tepat buat saya untuk menulis. Jika kamu tidak bisa menentukan hari produktif dan tidak, kamu bisa menggunakan waktu per jam. Pada jam berapa kamu nggak mungkin menulis, dan jam berapa kamu bisa menggeser prioritas yang lain demi untuk bisa menulis.
  • Pada waktu-waktu yang sudah ditentukan tersebut, menulislah! Bukan buka-buka Facebook, bukan ngepoin Lambe Turah, bukan blogwalking, bukan buat webwalking. Nulis!
  • Kalau tulisan belum rampung pada waktu yang sudah ditentukan, sedangkan deadline ketat, saya pribadi akan kembali melihat jadwal. Kapan saya benar-benar bisa terbebas dari gangguan. Biasanya sih sekitar pukul 07.00 – 09.00 pagi weekdays, saya masih bisa fokus nulis tanpa gangguan.
  • Tapi kalau masih terus bisa saya lakukan hanya dalam waktu produktif tersebut, ya saya lakukan dalam waktu produktif itu. Di luar jam itu, sebisa mungkin saya mengerjakan yang lain. Dan nggak nulis sama sekali.
Jadi intinya, kenali aktivitasmu sendiri. Kapan bisa bebas gangguan, kapan waktu penuh gangguan.


2. Hilangkan pengganggu!


Saat sudah waktunya menulis, maka segeralah singkirkan semua pengganggu. Apa saja pengganggu aktivitas menulis?

  • Smartphone. Yes, ini bisa jadi pengganggu banget ya :P Saya sendiri, saat menulis, saya letakkan ponsel agak jauh dari jangkauan, kalau nggak di-silent. Usahakan untuk tak tergoda untuk mengangkat kalau semisal tiba-tiba bunyi. Yah, kamu bisa melakukan yang sama, atau atur aja deh gimana. Yang pasti, ponsel kamu itu bisa berpotensi jadi pengganggu banget deh.
  • Media sosial, ini jelas banget! Saat menulis, tutup semua tab media sosial. Logout kalau perlu.


3. Definisikan prioritasmu


Untuk menjadi produktif dalam hal apa pun, kuncinya cuma satu; fokus.

So, saat mau menulis, pastinya kamu sudah menentukan prioritasmu ya, yaitu menulis. Bukan ngepoin akun gosip, bukan juga liat-liat online shop.

Sering banget kita gagal dalam usaha, karena kita nggak fokus. Begitupun soal ngeblog, dan menulis. Terlalu banyak terdistraksi oleh hal-hal lain, yang nggak ada hubungannya, dan nggak ada manfaatnya pula!

Tentukan skala prioritas apa saja yang akan kita lakukan hari itu setiap pagi. Prioritas biasanya ampuh untuk bisa mengingatkan kita kembali ke "jalan yang benar" kalau kita udah gagal fokus.


4. No multitasking!


Perempuan konon dianugerahi kemampuan untuk multitasking.

Ya, mau gimana lagi? Orang dikasih, ya harus dimanfaatin kan? Yaaa, nggak salah sih, multitasking. Kadang juga bisa membantu banget kalau kita sedang beres-beres dan ngerjain kerjaan rumah tangga.

Tapi nggak dengan menulis. Menulis itu aktivitas yang butuh konsentrasi tinggi. Nggak bisa disambi ngepel. Juga nggak bisa disambi setrika. Bisa sih, tapi ya gitu deh, selesainya lebih lama.

Nggak tahu sih kalau teman lain barangkali ada yang memang istimewa hingga bisa menulis sambil ini itu. Tapi saya, enggak. Saya pribadi mendingan selesaikan dulu semua tugas, baru nulis. Itu lebih membantu saya untuk fokus dan konsentrasi.

Nah, soal multitasking itu juga nggak cuma soal nulis nyambi ini itu sih. Tapi soal dalam proses menulis itu sendiri kan ada editing, nyari foto, sambil riset, lalu sambil bikin infografis dan seterusnya.

Itu multitasking yang saya maksud sebenarnya.

Bahwa sebenarnya menulis, mau ngeblog atau menulis untuk media mana pun dan apa pun, itu prosesnya tetap harus diawali dengan outlining, atau membuat kerangka berpikir. Ini tentunya hanya berlaku untuk tulisan misalnya yang mau diikutkan lomba, atau yang serius-serius aja. Tergantung tujuan nulisnya sih. (Tergantung penulisnya juga. Itu kalau saya yah.)

Saat masih dalam proses outlining itu, saya mewajibkan diri saya sendiri untuk sudah memutuskan mau pakai foto yang seperti apa, infografis yang gimana, dan seterusnya.

Jadi kalau mau diruntutkan, poin-poin prosesnya adalah sebagai berikut:
  • Outlining, sampai selesai (sudah termasuk riset)
  • Nulis, sampai selesai
  • Editing, sampai selesai
  • Garnishing, sampai selesai (termasuk membuat infografis, me-retouch foto dan lain-lain)
Dengan melakukannya secara berurutan dan one by one, percaya deh, malah akan lebih cepat selesai.


5.  Menulis saat ide sudah siap


Seringkali yang terjadi seperti ini.

Laptop dinyalakan, duduk, dan baru mikir, “Mau nulis apa ya?”
Doh! Udah gitu, karena idenya nggak ada juga, lalu buka Facebook. Ngomong sama diri sendiri, buka Facebook ini kan buat nyari ide mau nulis apa.

Yayaya. As if.

Atau, kondisi begini.
“Nggak ada ide hari ini. Besok aja deh. Nunggu ide datang.”

Lalu, kapan ya datang ide? Kapan-kapan, udah.

Saya pernah menulis di salah satu artikel di blog ini, bahwa memikirkan ide saat mau nulis itu buang waktu. Kita harus sudah tahu apa yang ingin ditulis, begitu kita membuka laptop. Nah, berarti yang perlu kita latih di sini adalah kepekaan kita menangkap ide. Atau mungkin alokasikan waktu juga untuk brainstorming. Nggak banyak kok, 15 menit cukup.

Karena, ide itu memang datang dalam 2 cara; datang dengan sendirinya, atau kita cari.
Kalau nggak datang juga, ya harus dicari.

Ada 2 cara untuk mencari dan menangkap ide:
  • Brainstorming sambil jalan, sediakan catatan kecil untuk mencatat ide. Asah kepekaan untuk menulis dengan menangkap situasi dan suasana di sekitar. Coba temukan sesuatu yang bisa ditulis, setiap kali kita lagi jalan-jalan keluar atau saat melakukan sesuatu. Apa saja.
  • Bantu proses pengumpulan ide dengan editorial calendar. Silakan dibaca lagi artikel saya yang lalu mengenai editorial calendar ini. Ada 2 seri, alasan pentingnya editorial calendar dan bagaimana pengaplikasiannya.

Nah, semoga dengan beberapa tips produktivitas menulis di atas, nggak ada yang nanya lagi, kok saya bisa menulis begitu banyak artikel #eh Maksudnya, semoga bisa dipraktikkan juga oleh kamu-kamu yang merasa kurang bisa produktif dalam menulis.

Mau karena niat. Niat karena butuh. Jadi, mau nggak mau, saya harus bisa mengatur waktu supaya produktif, karena saya punya kebutuhan. Gitu aja sih, prinsipnya.

Semoga kamu juga segera bisa lebih maksimal nulisnya ya, bisa lebih cepat, atau bisa menghasilkan lebih banyak artikel, tentu dengan kualitas yang juga bagus.

Selamat menulis!

9 comments:

Tetty Hermawati said...

maacih bgt mbak carraaaa tipsnyaa...

M. Iqbal said...

Tipsnya cukup banyak membantu mbak, terutama dalam efisiensi waktu menulis.

Lia Harahap said...

Baru kemarin saya fokus nulis di weekend. Dan jadi 3 tulisan (tanpa image). Rasanya enak sih, selama gak ada postingan deadline (yang terpaksa saya tulis di weekday).

Di weekday biasanya saya kumpulin ide sama kerangka tulisan.

Tulisan ini sangat dekat banget sama saya, Mbak. Dari mulai kesibukan sampai ingin istirahat di weekday. Terima kasih udah ditulis :)

monda said...

weekday pulang kerja bawaannya ngantuk he.. he..
jadi pengen ngebut nulis blog di weekend, eh pengen jalan2 atau tergoda liat judul tulisan teman2 di feed malah pengen bw,
nyoba deh ngikut cara mbak Carra

Ucig said...

Mbaaa, aku kadang sepedahan ke pasar yg lokasinya agak jauh buat refresh aja. Ngasih makan isi kepala :))
Manage waktuuu penting bgt ya mba, tfs.
Aku Kira mba carra nulisnya tengah malem..Ternyata weekend ya lbih bnyk

bella said...

yupss.. bener banget. emak2 ga pernah bisa fokus total 100% .. jadi pintar2 atur jadwal jam sibuk hehe

innnayah said...

aku kebalikanmu Mba. ide, draft, tulisan, mengalir deras saat weekdays. weekend bener-bener buat mager-mageran atau keluar kota.

Ocha Rhoshandha said...

saya justru weekdays yang bisa buat blogging (kalo lagi niat siiih >.<). Soalnya kalo di kosan, wifi lancar, hahaha
weekend, spesial buat keluargaaaa, hehehe

Ai Titin.geo said...

Sipppp thanks tips nya

Instagram