Bagaimana Menerima Kritik dan Masukan Like A Champ Tanpa Baper untuk Penulis (Termasuk Blogger)

Kamu suka dikritik? Enggak? Sama! Iya, saya juga nggak suka dikritik. Siapa sih yang mau ditunjuk-tunjukin kesalahannya? Apalagi d...



Kamu suka dikritik?
Enggak?

Sama!

Iya, saya juga nggak suka dikritik.
Siapa sih yang mau ditunjuk-tunjukin kesalahannya? Apalagi di depan umum. Wuih, harga diri jatuh banget dah! Apalagi untuk sesuatu yang seharusnya kita expert.

Jangankan kalau kita sudah expert.
Lha wong lagi belajar, lagi mempelajari lho ya, dikasih masukan aja bawaannya esmosi kok.

Diem dulu napa? Lagi belajar nih!

Well, saya pernah baca, bahwa orang yang baru belajar sedikit itu biasanya sudah merasa "besar". Semakin banyak ia menyerap ilmu, maka semakin "kecil" ia merasa.
Ah, saya lupa baca itu di mana. Nanti kalau ketemu lagi, saya update yak.

Kita memang masih belajar, dan terus belajar mengenai segala sesuatu. Apa pun itu. Especially soal menulis, dan ngeblog (karena saya membahas creative writing dan blogging di sini, bukan bahas cara melahirkan anak, yes?)

Nggak ada yang bisa mengukur, seberapa tinggi ilmu menulis itu. Apalagi dunia blogging. Setiap hari bisa saja muncul ilmu baru. Ada pengetahuan baru.

Saat kamu puas dengan pengetahuan yang kamu miliki, dan nggak mau update, ya saat itu pula kamu baru saja memproklamirkan diri sebagai orang yang nggak mau maju.

Dari mana kita belajar?
Banyak cara.
Salah satunya dari kritik yang dikasih oleh orang lain.

Wih, serem. Dikritik. Ditunjukin salahnya di mana. Nggak mau ih.
Fine. Nggak apa-apa juga kok antikritik, asal nggak lantas ngeblok orang berjamaah yes. Nanti kayak mbaknya penulis sepen elepen. Kamu yang rugi sendiri.

Saya bisa sejauh ini dalam menulis karena kritik.(Emang udah sejauh apa sih saya? Yah, sudah sejauh Jakarta - Depoklah ya. Belum sampai Jakarta - Raja Ampat.)

So far, saya hanya 2 kali ikut kelas menulis. Yang pertama, menulis fiksi karena bujukan sekelompok orang, dan saya lihat pematerinya lumayan oke. Tapi kemudian saya kecewa. Jauh dari pengharapan deh. Saya nggak dapet apa-apa.
Kelas kedua, masih kelas menulis fiksi. Kali ini gratis, saya berhasil masuk melalui semacam audisi. Tapi ternyata bubar juga. Pematerinya tiba-tiba ngambek gara-gara putus cinta. Wakakakak. Ya Allah.

Habis itu, udahlah. Saya memutuskan untuk belajar sendiri. Dari baca buku, baca artikel, baca karya orang yang kemudian saya remake, dan terutama, saya belajar dari kritik.

Yes, kritik. Komentar pedas dari teman-teman saya yang baik hati.

Di masa-masa awal saya menulis, saya cukup kenyang dengan kritik. Apalagi nulis flashfiction. Wah, rasanya deg-degan banget kalau blog fiksi saya itu habis dikunjungi sama Mbak Latree Manohara :))) Mbak Latree itu kalau kasih kritikan levelnya 20, bo.

Flashfiction saya juga pernah dijadikan contoh salah oleh Mas Aulia Muhammad, seorang pemred (kalau nggak salah ya) koran di Jawa Tengah. Catet ya, dijadikan contoh salah, dan lalu difloorkan untuk dibaca oleh member Monday Flashfiction yang lain. Hahahaha. Ya ampun. Iya, malu saya mah.

Saya punya komunitas menulis di Monday Flashfiction, dan dari awal, saya memang membiasakan saling mengritik di Monday Flashfiction. Sesama member, boleh saling kasih masukan. Kalau pas lagi ada event MFF Idol, wahhh ... jangan ditanya deh. Bisa tanya Uda Sulung, Edmalia, Pakdok Aulia atau siapa pun yang pernah ikutan MFF Idol, gimana tuh rasanya dibantai karyanya?

Sakit iya. Tapi belajar, itu yang penting. Lalu, jangan mengulangi kesalahan yang sama, itu prinsipnya.

Tahu kan peribahasa, semut di seberang lautan nampak, gajah di depan mata tak nampak?
Ya begitulah juga dengan para penulis. Kita yang nulis, bisa jadi nggak menemukan "gajah" pada karya kita. Tapi orang lain barangkali bisa melihat "semut" itu. Mereka datang, dan menunjukkan "semut" itu untuk kita. Untuk kita perbaiki.

So, begitulah cara saya meng-handle kritik. Saya manfaatkan mata orang lain untuk melihat "gajah" yang tak nampak oleh saya. Di situ saya bisa belajar, dan menjadi lebih baik lagi.

Nah, terus gimana ya caranya menghandle kritik terhadap tulisan kita tanpa baper dan lalu mutung, hingga kita bisa mengambil manfaat dari kritik tersebut, dan memacu diri kita menjadi lebih baik lagi?

Begini caranya.

Get your critics to success



6 Langkah Meng-handle Kritik Like A Champ Tanpa Baper


1. Stop your first reaction


Apa yang pertama kali kamu rasakan saat kamu mendapatkan kritik dan masukan dari orang lain?

Emosi.
Emosi yang seperti apa?
Sebel? Marah? Malu? Sedih? Wajar. 

But stop right there!

Jangan pernah lantas diikuti dengan usaha defensif, berusaha mengeluarkan argumen ini itu untuk membenarkan diri sendiri? Terus bilang, "Lo ngritik gue, emangnya lo sendiri udah pinter?", atau, "Tukang kritik itu biasanya sendirinya juga bego."

Kalau lantas diikuti dengan kalimat defensif seperti itu, that means you're not mature enough to socialize, sweety. Mending sembunyi dan tinggal aja di gua. Tulis-tulis sendiri, baca-baca sendiri.

Perasaan yang muncul pertama kali di atas sebelumnya itu wajar. Tapi berhentilah sampai di situ. Jangan lantas bereaksi. Try not to react at all!

Dengan berhenti sejenak itu, kamu akan bisa menginstruksikan otak untuk menganalisis situasi. Napasmu akan kembali teratur, dan kamu pun bisa berpikir dengan jernih lagi.

Kalau ini terjadi di dunia maya, maka tutup sebentar blogmu, atau tulisanmu yang dikritik itu. Biarkan ia juga bernapas dulu. Bikin kopi atau teh, lalu nikmati hidupmu barang semenit dua menit.


2. Remember the benefits of getting feedback


Saat sedang minum kopi atau teh itu, pikirkanlah dan ingat-ingat, apa saja keuntunganmu saat mendapatkan feedback (termasuk kritik).

People pay you attention? Yes. Ada orang yang memperhatikanmu.
To improve your skills? Definitely!
Untuk memperbaiki karyamu? Jelas!
Agar karyamu bisa dinikmati oleh lebih banyak orang? Hu um.

Dengan semua benefits itu, pastinya (kalau saya pribadi sih) mau banget dong dapet ya. Saya mau orang memperhatikan saya, saya mau lebih pinter lagi nulis, saya juga pengin tulisan saya bagus, bisa dinikmati banyak orang.

Supaya begitu gimana?
Ya, terus diimprove.
Salah satunya dengan kritik. Karena kritik itu datang langsung dari orang yang menjadi "customer" kita, pembaca kita. Bener nggak logikanya?

So, alih-alih saya menganggap pemberi kritik sebagai orang sok pintar, saya lebih baik menganggap mereka sebagai "pelanggan" yang memberi perhatian.



3. Cerna lebih dalam


Tapi, memang tak semua kritik bisa kita adopsi. Memang, saya akui, ada beberapa kritik yang kurang cocok untuk kita dengarkan dan adopsi. If you know what I mean. Karena memang hanya ada batasan yang sangat tipis antara kritik dan cela.

So, karena pikiran kita sudah bekerja "normal" lagi, maka seharusnya kita bisa menganalisis, mana kritik yang bisa didengarkan atau diadopsi, dan mana yang tidak.

Baca atau dengarkan dengan saksama, apa maksud si pemberi kritik. Ingat, "semut di seberang lautan nampak, gajah di depan mata tak nampak". Pergunakanlah "mata" si pemberi kritik untuk menunjukkan di mana letak "gajah" yang tak terlihat oleh kita.


How to handle critics


4. Ucapkan terima kasih


Yes, apa pun yang sudah diberikan pada kita, kita tetap harus mengucapkan terima kasih bukan? (Meski nggak ikhlas. Huahahaha)

Tapi, somehow, ucapan terima kasih ini cukup manjur untuk menekan emosi negatif yang bisa memicu reaksi defensif di atas tadi lho.

Apalagi kalau kamu bisa mengucapkannya sambil tersenyum, atau menyertakan emoticon senyum.

Jadi, sebelum bereaksi, ucapkanlah terima kasih dulu. Jangan lupa senyum manisnya ya.


5. Bertanya untuk bisa mendapatkan lebih banyak


Kalau perlu, ulangilah kalimat kritik tersebut.
Misalnya nih, kamu diberi masukan mengenai cara menganalisis satu masalah di mana kamu harus melakukan riset tentang satu hal. Maka ulangilah, "Oh, jadi saya harus melakukan riset lagi tentang anu ini ya?"

Nah, kemudian kalau memang kamu belum tahu, tanyakan lagi, misalnya nih, ke mana riset bisa dilakukan?

Bangun dialog dengan pemberi kritik. Si pemberi kritik pun pasti akan dengan senang hati berbagi ilmunya dengan kamu. Dan kamu pun sukses "mencuri" ilmu.

Misal pun kamu dikasihnya celaan, dan bukannya kritik, kamu juga tetap bisa kok menanyakannya dengan sopan.

"Ini ceritanya apa sih? Nggak jelas!"
"Oh, kurang jelas ya? Jadi, sebaiknya gimana ya?"

Nah, kalau sudah ditanya baik-baik gitu, yang ngasih kritik nggak jawab lagi, ya berarti itu PR kamu untuk memperjelas cerita. Barangkali memang pesanmu belum tersampaikan dengan baik. Belajar lagi.

Tapi so far sih, biasanya kalau memang si pemberi kritik itu ikhlas ngasih masukan, ia pun akan terbuka pada dialog. Kalau ia terus "lari", biasanya sih saya anggap beliaunya nggak serius ngasih kritik (cenderung pengin kasih celaan aja). Jadi, saya juga nggak anggap serius juga. Hahaha. Gampang kan?

After all, it's hard to please everyone, right? Tapi, kalau memang ada kesempatan untuk memperbaiki diri, ya kalau saya pribadi sih, saya akan ambil kesempatan itu.


6. Perbaiki lain waktu


Yang sudah salah ya sudahlah. Kalau saya sih gitu. Tulisan saya yang kurang oke biasanya ya tetap saya biarkan apa adanya. Plus dengan kritik yang menyertainya.

Percaya deh, suatu saat nanti akan berguna banget saat kita buka lagi.

Kalau sudah berhasil mendapatkan masukan dari si pemberi kritik, maka hal tersebut akan saya catat baik-baik, ingat betul, dan kemudian akan saya perbaiki di lain tulisan.

Dengan demikian, improve tulisan saya pun terlihat.



Kritik kadang memang menjadi satu-satunya jalan bagi kita untuk mengetahui kelemahan kita, sehingga kita bisa memperbaikinya. Semoga dengan handling yang tepat, kritik pun bisa kita manfaatkan untuk meng-improve diri kita.

Dengan cara meng-handle kritik di atas, semoga kita nggak cuma berhenti menjadi penulis medioker. *lirik Mas Dani Rachmat* Hahaha.

Keep writing, everyone! Jangan cuma sembunyi di gua. Terima kritik dengan lapang dada!


You Might Also Like

5 comments

  1. Awal2 pas nulis cerpen aku defensif banget kalo ada yang kritik. Skrg aku malah nunggu kritikan dari banyak orang. Trus bikin list gitu rangkuman kritik mereka. Dan berusaha memperbaiki tulisanku. Sudah gak ada lagi perasaan sakit hati atau defensif seperti dulu karena aku merasa kritik mereka justru bikin tulisanku tambah bagus

    ReplyDelete
  2. Awal pun aku juga gitu Mbak. Kadang sampe sekarang pun masih insecure. Tapi kalau emang membangun, langsung aku catet dan aku coba perbaiki. Alhamdulillah kualitasnya jadi ngangkat dan ikutan bagus. Belajar terus pokoknya :D

    ReplyDelete
  3. Haha batal ikut kelas karena pengajarnya putus cinta? Betulan mba? Waduh harus hati2 pilih kelas...
    Dari awal menulis sebetulnya memang ngarep dikritik...karena kritik = perhatian. Ceile :)) Dan ada kritik itu kesempatan bagus banget untuk latihan bersikap menghadapi pendapat yg berbeda2. Jadi kalau mendadak kejadian di tempat yg tidak terduga, nggak norak-norak amat...Artikel menarik dan bikin senyum-senyum.. Terima kasih sharingnya mba

    ReplyDelete
  4. Stiap kritikan yg dikirim k aku, pribadi ato lewat komen, pasti aku perhatiin, dan kalo memang isinya bener, aku ikutin kok.. Tp ada jg wkt itu yg kritik, cm pake bhs kasar dan makian mba :D. Ohhh yg begini ini lgs aku tenggelemin ke spam :p. Kritik boleh, tp yg santun dan benerlah.. Ga masalah mau ksh kritikan keras, tp ga perlu memaki jg kan :D.

    ReplyDelete
  5. semua ini membutuhkan kelapangan. kadang yg terjadi adalah reaksi spontan defensif, terutama kalau yg kritik adalah entah siapa yg kita ngga tahu kredibilitasnya

    ReplyDelete

Silakan masukkan link blog Anda dalam kotak ID yang sudah disediakan.
Semua komen yang berisi link hidup, will go straight to spam.

Search This Blog