Hashjacking: Cara Baru Mempromosikan Blog?



Beberapa waktu yang lalu, saya memang balik lagi ke Twitter, setelah beberapa lama saya bosan. Ternyata, makin rame ya?

Ckckckck.

Semua orang sudah jadi buzzer kayaknya (kecuali saya). Wkwkwkwk.

Tambah rame gitu, seharusnya sih kita makin berbahagia karena kita bisa kebanjiran info. Tapi kok, kadang terasa too much ya? Hehehe. Tanya kenapa.

Anyway, sudah tahu hashjacking belum?

Kalau menurut Urban Dictionary, hashjacking itu punya pengertian:
when somebody else “jacks” yours or someone else’s hashtag to promote their own social media page or product.

Hashjacking adalah kalau kita nebeng hashtag orang atau hashtag yang sedang trending topic, dengan tujuan agar kita bisa sedikit mencuri perhatian orang dalam arus hashtag yang sedang trending tersebut.

Nah, beberapa hari yang lalu memang saya menyadari adanya hashjacking ini di Twitter. Beberapa tweeps menggunakan hashtag yang sedang trending untuk mencoba mendapatkan traffic ke web/blog mereka.

Permasalahannya, yang membuat saya tertarik adalah kenapa orang tertarik untuk melakukan hashjacking?
Lebih spesifik lagi, seberapa efektifkah hashjacking ini untuk mendatangkan traffic ke blog kita (karena saya melihatnya sebagai kapasitas saya sebagai pengulik konten)?

Yawlaaa, kalau memang efektif, saya mau ganti strategi, ketimbang SEO yang rumit mending hashjacking aja. Wkwkwkwkwk.

Karena itu, saya mencoba menelusur berbagai sumber yang membahas soal hashjacking ini, dan saya pengin mencatatnya di sini.


Beberapa fakta yang saya jumpai soal hashjacking dalam penelusuran sumber-sumber di dunia  maya



1. Hashjacking nggak bisa asal comot



Salah satu praktik hashjacking hari ini.


Situs Export Tweet menjelaskan seperti ini.

Popular trending hashtags are the easiest way of gaining attention on Twitter without having to do much other than glancing to the left of Twitter feed where they are listed. Tailoring tweets so you can use them is an easy way of getting exposure. However, before selecting a Twitter, proper research needs to be done on why those hashtags are trending and how relevant are they to your brand. Though if done properly, hashjacking could boost your brand promotion exponentially.

Hashjacking bisa saja menjadi alat untuk mendapatkan exposure terhadap tweet kita. Namun, sebelum melakukan hashjacking, kita tetap mesti menelusur dulu asal mula hashtag yang akan kita pakai tersebut.

Untuk apa?

Saya pikir ya, untuk mencari relevansinya dengan campaign kita. Kalau nggak ada relevansinya gimana? Ya, kayak si penjual follower itu!

Menurutmu, gimana efek hashjacking terhadap si penjual follower itu? Akankah ia mendapatkan konversi yang ia inginkan?

Karena logikanya, ia melakukan sesuatu kan pasti ada tujuannya. Si penjual follower melakukan hashjacking kan buat jualan follower? Apakah ia akan mendapatkan pembeli?


2. Hashjacking efektif untuk suatu campaign (?)


Nah, ini lanjutan poin 1 memang. Saat kita melakukan hashjacking, pastinya karena kita pengin ikut dalam keramaian.

Saya nggak tahu sih, soalnya saya sendiri jarang merhatiin Trending Topic hashtag, kecuali emang saya lagi selow banget.

Tapi, konon katanya, kalau satu hashtag bisa sampai trending, itu berarti memang lagi anget banget dibicarakan oleh rangorang.

Dengan logika sederhana saja, kita lalu akan paham kenapa seseorang (atau banyak orang) melakukan hashjacking. Yep, dia berharap untuk bisa ikutan dalam arus, hingga bisa mencuri sedikit saja spotlight untuk dirinya sendiri.

Saya belum menemukan ada artikel yang mengulas mengenai efek hashjacking terhadap campaign tertentu.

Coba kalau kamu menemui ada akun yang melakukan hashjacking seperti akun penjual follower di atas. Akankah ia mendapatkan perhatian? Akankah ia ikutan ngetop? Akankah mencuri perhatian?

Yah, pertanyaan ini hanya bisa dijawab oleh si pemilik akun. Sedangkan saya sendiri, kalau lihat ada hashjacker kayak gini, melirik aja enggak tuh.

Kenapa? Karena ia menggunakan hashtag populer yang nggak ada relevansinya. Berapa banyak orang yang menelusuri hashtag #HariSantri2017 yang juga mencari follower?

I'm not sure.

Barangkali kalau ia menggunakan hashtag yang sesuai, #JualanFollower misalnya, ia mungkin malah lebih besar kemungkinannya untuk mendapatkan konversi atau feedback dari mereka yang memang mencari follower untuk dijual.



3. Hashjacking belum pernah terbukti bisa memberikan traffic ke blog/web



Karena kemarin ada blogger yang melakukan hashjacking, maka logikanya bener dong kalau saya kemudian penasaran.

Apakah dengan dia melakukan hashjacking, ngetweet dengan link plus hashjacking trending hashtag yang nggak ada hubungannya (atau yang dihubung-hubungin) dengan link yang disebar, apakah ia memang akan mendapatkan klik?

Well, Mbak Vicky Laurentina jumped in the conversation dan dengan jelas bilang begini.




Sebelumnya Mbak Vicky juga menjelaskan, bahwa beliau pernah melakukan hashjacking, dan memang bisa meningkatkan impression tweet-nya sih.Tapi, untuk mendatangkan traffic, enggak.

Saya pun juga tidak menemukan data, efektifnya hashjacking ini untuk mendatangkan traffic.

Neil Patel ataupun situs Hubspot, saya ubek-ubek, juga nggak pernah menyebutkan hashjacking sebagai salah satu jalan untuk menaikkan traffic di blog. Ya, dua itu aja sih yang saya ubek-ubek, karena so far berdua itu memang yang paling sering menyajikan data-data dalam analisis mereka soal traffic blog maupun website.

Kalau menggunakan trending hashtag sebagai jalan untuk menemukan ide menulis artikel di blog, iya, memang disebutkan di situs Get Focused on Marketing.

But not the way around; menggunakan hashjacking untuk mendatangkan traffic.

Nah, kamu sendiri gimana. Kalau lagi menelusuri trending topic, lalu ada yang melakukan hashjacking, apakah kamu akan klik linknya? #nanyaseriusan



4. Hashjacking merupakan salah satu sebab akun-akun Twitter di-suspend


Di banyak sumber, disebutkan bahwa salah satu penyebab akun Twitter seseorang di-suspend adalah karena akun tersebut terdeteksi spammy, alias sering spamming.

Dan hashjacking termasuk aktivitas spamming.

Salah satunya disebutkan oleh situs Kenya Buzz begini.

Spamming: The definition of spam evolves as Twitter responds to new tricks and tactics by spammers but Twitter behaviour currently considered as spam includes:
  • Tweeting more links than personal updates; made worse by sending the same links to several different users.
  • Following or unfollowing many users in a short period of time.
  • Repeatedly following and unfollowing people.
  • Sending large numbers of duplicate or unsolicited @replies or mentions.
  • Spam complaints filed against you.
  • Aggressively following, favouriting or retweeting tweets.
  • Being blocked by a large number of users.
  • Using or promoting third-parties that claim to get you more followers
  • Buying and selling account names, followers, retweets, favourites etc.
  • Hashjacking: This is posting updates using the hashtag for a trending topic to promote content completely unrelated to the topic.

Nah, jadi hati-hati ya, buat yang suka melakukan hashjacking. Itu termasuk aktivitas spamming. Sekali dua kali, ya masih okelah. Tapi kalau melakukannya secara agresif, bisa dideteksi sebagai spammer, dan itu akan berbahaya untuk akunmu sendiri.


5. Gunakanlah hashtag Twitter dengan baik dan benar


Banyak sumber menuliskan, bahwa menggunakan hashtag saat kita mempromosikan artikel blog itu memang recommended. Mengapa?


  • Bagus untuk branding kita, apalagi kalau hashtag yang dipilih itu sesuai dengan niche ataupun keywords blog/web kita.
  • Bagus untuk menelusuri tweet kita sendiri around the social media, apalagi kalau kita sudah jadi big influencer.
  • Bagus untuk menelusuri topik tertentu, apalagi kalau lagi kultwit. Bikin gampang ditemukan lagi, asal hashtag-nya juga unik. Jadi gampang kalau mau di-chirpstory juga.
Nah, lalu bagaimana penggunaan hashtag yang baik dan benar? Menurut situs CMS Social sih seperti ini:
  • Jangan menggunakan kata yang terlalu banyak dalam satu hashtag, misalnya #carrayangselalulemahlembutdansopantapiseenaknyasendiri. Ya ya ya. Memang sih unik, tapi kan genggeus. Ya, kalau buat lucu-lucuan sih serah deh. Tapi kalau untuk kerjaan dan terlihat profesional, big no no ya.
  • Saat akan menggunakan hashtag, terutama kalau kultwit, note para follower bahwa kamu akan menggunakan hashtag tertentu. Misalnya, kayak #MakminSpesialisMalam-nya Kumpulan Emak Blogger, dia bilang dulu kalau mau pakai hashtag #KEBounceRate pas lagi sharing soal Bounce Rate. Uhuk.
  • Don't over use hashtag. Masih menurut CMS Social, penggunaan hashtag di Facebook itu cukup satu aja. Kalau Twitter bisa lebih banyak, 3 - 5 masih okelah. Lebih dari itu, genggeus, cyin!
  • Only use hashtags that are relevant to your topic! Penting ya, ini!

Kemarin ada yang menunggangi hashtag #IbuSudahBisa untuk sebar link blog yang nggak ada hubungannya sama film Pengabdi Setan. Dan, aduh, maaf yah, Gaes! Itu sangat mengganggu saya yang lagi asyik ketawa-ketiwi liat meme-meme yang bertebaran. Wkwkwkwkwk.



However, meski hashjacking tidak direkomendasikan untuk dipakai saat kita campaign, namun ada beberapa jenis hashtag yang bisa banget di-hashjacking untuk keperluan promo. Dan, hashtag-hashtag ini memang jamaklah dipakai orang.

Ini beberapa jenis hashtag Twitter yang bisa kamu hashjacked:

  • Daily hashtag, seperti #MotivationMonday, #TransformationTuesday, #WomanCrushWednesday, #ThrowbackThursday, #FollowFriday (ini dulu ngehits banget nih, sekarang udah nggak ada lagi), #Caturday, #SelfieSunday. Kamu bisa menemukan banyak daily hashtag yang bisa kamu pakai di sini nih. Bisa dipakai di Instagram juga tuh.
    Catatan aja, please telusuri dulu juga hashtag-hashtag tersebut tentang apa, untuk mencari relevansinya dengan tweet kamu nantinya. Jangan asal comot juga, teteup.
  • Geographical atau hashtag lokasi, misalnya #Jakarta #Yogyakarta #Medan dan seterusnya. Konon sih, ini bagus buat promosi produk.
  • Our own name, alias nama kita sendiri. Katanya ini juga bagus buat branding diri kita.
  • Holiday hashtags, seperti #NewYear #IdulFitri #Natal2017 dan seterusnya
Nah, hashtag-hashtag tersebut begitu populernya hingga bisa dan jamak saja dipakai oleh siapa pun.

As a bonus, ada beberapa bahan bacaan bagus tentang bagaimana menggunakan hashtag untuk mempromosikan produk ataupun diri kita nih. Boleh dibaca-baca yah:

So what's the conclusion?
  1. No hashjacking, kecuali kamu merasa tweet/link blog kamu memang relevan dengan hashtag yang ada, dan kamu yakin artikel kamu memang bisa membantu orang-orang yang terlibat dalam trending hashtag tersebut.
  2. Gunakan hashtag dengan benar, karena risikonya besar kalau kamu terdeteksi sebagai spammer.
  3. Telusuri dulu bacaan-bacaan yang ada saat kamu mau mulai melakukan strategi baru atau cara tertentu untuk mempromosikan blog. Ada banyak cara memang, tapi nggak semua efektif dan baik dilakukan. Please, be smart.
Apa lagi ya?
Kayaknya itu aja sih.

Semoga catatan ini bermanfaat.
Jika ada sumber lain yang bisa menambah catatan saya, atau mungkin berpendapat lain, boleh lo ditulis di kolom komen. Jangan pelit berbagi ilmu yah. Dengan berbagi ilmu, kita masing-masing akan tambah pengetahuan loh!

Cheers!


18 comments:

Febriyan Lukito said...

Kalau saya sih gak mau pakai hashjacking mbak... Apalagi kl gak relate sm yg aku share.
Entah apa yang bikin banyak blogger hashjacking kmrn. Penjelasan mban Vicky itu pas banget sama pertanyaan saya waktu lihat hashjacking.

Kl di luar negeri, sm spt yg mbak tulis, hashjacking dilakukan stlh research. N emang ada hasilnya. Tp di sini... Banyak dipakai sm yg suka spam atau yg share link pornography gitu deh kayaknya... Makanya males.

Mending cari tahu trending topic buat nulis. Pernah kok saya pakai pas trending topic yg Raditya Dika bikin. N traffic ke blog post naik.

Mechta said...

Trims mba...jd ngerti ttg hashjacking alias nebeng hestek ini..hehe..

Lusi T said...

Apa sih asiknya twiteran sekarang? Dibuka langsung hashtag thok isine. Kadang ada nama artis kesayangan TT, begitu dicheck sdh scroll sampai ribuan kilometer nggak nemu what it's all about. Karena hashtag yg makin nyebahi itu membuat orang mute pertama kali buka dan itu sudah disadari oleh bbrp brand, antara lain brand provider yg sempat menjadi musuh bersama akibat buzzernya yg terlalu intens. Brand yg sudah sadar itu tidak lagi menggunakan hashtag yg berpotensi di mute orang, tapi menggunakan percakapan biasa aja. Ya buat apa ya TT tapi banyak dimute orang, nggak ada impact-nya buat mereka & mungkin mereka termasuk yg kuat datanya jadi tahu bagaimana nasib TT tsb. Kalau blogger sudah banyak banget yg numpang hashtag tapi namanya juga blogger ya, mereka nyari2 postingan yg nyerempet TT itu meski sethithik, tapi yg penting ikut dalam keramaian.

Carolina Ratri said...

Yah, sebenarnya bukan Twitter aja, kalau soal jadi tempat buzzer mah. Facebook, dan juga Instagram pun sekarang juga gitu.
Tadinya aku bisa bikin list yang selalu aku monitor di Twitter, jadi nggak pernah main ke linimasa sendiri. Tapi dipikir-pikir, ini twitter twitterku sendiri kan? Kenapa aku jadi nggak betah deh di Twitter sendiri? Wkwkwk. Jadi ya sudahlah, tahu kan terus diapain? Unfol, mute, whatever. Yang penting nyaman buat diri sendiri.

Ikut keramaian ya monggo aja. Tapi jangan sampai membahayakan diri sendiri, gitu aja sik. Aku kasian soalnya. Karena nggak tahu or nggak paham, asal ngikut saran orang, jadi malah fatal nanti akibatnya.

Fiberti said...

Mgkn faktor kualitas tweet informasi dan hashtag harus sejalan.Diluar itu hanya membuat ramai.

Bunda Erysha said...

Wah makasih mba ilmunya. Baru tau ttg info ini. Untung ga ikutan

dani said...

Makasih Mbak Carraaaa. Jadi dapet deh link buat di link. Bahahaha..

Ini emang sih ya, nyoba-ya nyoba tapi mbok ya dilogika dulu. HashJacker ini kalo yang melakukan menurutku kok ya gak pake riset amat. Ato paling parahnya downright oon. Sori-sori kate. Mau apa sih yang dicari kan?

Kalo cuman buat juwalan stats twitter sih strategi yang oke kali ya, tapi kalo cari trefik. Plis deh ah...

Febriyan Lukito said...

Kalau masih ada nyerempet walau setitik sih gpp mbak. Ini gak ada hub sama sekali, as long as trending.

I feel you mbak Lus... Memang TT udah gak jaminan lagi skrg.

Tanti Amelia said...

Oke noted.

mungkin karena saya blogger biasa aja jadi ngga terlalu peduli dengan hashjack whatsoever

Tfs Carra, selalu menarik baca tulisan mu

Armita Fibriyanti said...

Pernah lihat beberapa kali yang begini.

Siti Fauzia said...

Wah artikelnya bagus banget ini. Saya pernah ngebuzzer tapi bukan hashjacking. Hehehehe

Masalah hashjacking trus numpang ngiklan url kita untuk mencuri perhatian kayaknya kurang efektif. Betul kata Mba Carol lebih enak pake hashtag umum aja daripada numpang tenar ke topic yg lg TT.

Thanks for sharing ya, Mba.

inayah said...

aku ngikutin tuh tread nya mas Ryan soal hashtag kemarin.

semoga pada makin sadar bahwa trending tropic udah ngga begitu penting2 banget, apalagi kalau yang bikin trending ya orang2 itu mulu

dani said...

(((((orang2 itu mulu)))))

Ika Maya Susanti said...

Jadi pengen usil: hashjacking pake taggar temen-temen yang lagi nge-buzzer produk karena ngerasa too much padahal kitanya nggak ikutan ngebuzz itu
*langsung dikepruk orang banyak kali ya
Hahaha...

Resty Amalia said...

Ini juga terjadi di Instagram. Biasanya online shop melakukannya. Mengganggu jadinya ya.

NiaNastiti said...

Merasa relate dengan intro blog post ini :D

Anggi Swastika Wijaya said...

Walau masih bingung mengenai bajak hestek tapi post ini bikin ada pencerahan.

Biasanya pakai hestek sendiri/mmg yg sdh ditentukan sebelumnya 😂

lianny hendrawati said...

Ooh aku baru tau sekarang ini tentang hashjacking, selama ini belum pernah ngelakuin sih.
Kecuali job yang udah ditentuin hastagnya.
Btw kangen nih dengan hastag #MakminSpesialisMalam :D

Instagram