Bagaimana Menulis Review Produk di Blog yang Menarik dan Menjual



Hei!
Ada yang suka mereview produk?

Correct me if I'm wrong. Tapi menurut saya sih, mereview produk nggak selalu berarti job review berbayar. Saya tahu, dulu (dan mungkin sampai sekarang) masih banyak blogger yang suka mereview produk tanpa dibayar, simply hanya karena alasan dia suka banget dengan produk tersebut atau justru malah kecewa banget dengan produk yang dipakainya.

Inget dulu ada cerita. Seorang blogger menulis review produk smartphone, dan ia mengulasnya dengan jujur. Dalam pemakaiannya, ia merasa kecewa. Sebabnya apa, saya lupa sih. Yang pasti, ia merasa kecewa akan produk smartphone yang dipakainya.

Lalu, apa? Ternyata pihak produsen smartphone menghubunginya, dan kemudian memintanya untuk menjadi beta tester dari produk-produk new release mereka! Whew!

Mau juga dong! #eh

Apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan review produk itu?

Review produk adalah artikel yang kita tulis untuk membahas dan menceritakan segala hal mengenai produk tertentu, baik itu produk barang ataupun produk jasa.

Saya kira sih, review makanan dan review resto itu juga termasuk dalam kategori review produk.

Buat apa sih direview semuanya itu?
Tujuannya tentu saja adalah menyebarkan informasi, kalau nggak mau dibilang buat bujuk orang supaya beli produk yang kita review. Hehe. Bahasa halusnya, menyebarkan awareness. Halah.

Anyway, akhir-akhir ini artikel review produk makin berceceran di mana-mana. Kalau ada blogger share atau promosi artikel terbaru, mungkin bisa dibilang hampir separuhnya adalah review produk.

Ya, saya kadang juga kepo sih. Apalagi kalau produknya saya juga lagi nyari, atau saya punya sejenis hanya mereknya lain. Atau, simply karena selo aja :))) *dikeplak*

Lalu, apa kesan saya setelah membaca review-review tersebut? Ya, ada product review yang bisa bikin saya mupeng pengin ikutan beli, ada juga product review yang … yah … gitu doang.

Kadang dengan belagunya saya mikir, review produk kayak gini mah, nggak usah nyobain kita juga bisa nulis.

Wkwkwkwk. Iya, itu sih pikiran belagu saya.

Padahal, seharusnya dengan digandengnya kita sebagai reviewer produk, kita harus bisa sedikit memengaruhi pembaca blog kita untuk setuju, dan kemudian ikut membeli product yang kita review bukan? Apalagi kalau review produknya dibayar. Kita semacam merekomendasikan gitu deh ya.

Meski memang, akhirnya sih keputusan untuk ikutan beli apa enggak, itu terserah masing-masing ya.

Nah, terus gimana sih cara menulis review produk yang bisa menjual? Yang bisa memengaruhi orang untuk ikut menggunakan produk yang sedang dalam campaign, selain tentunya sebagai penyampai informasi?

Ah, seharusnya banyak blogger yang lebih jago daripada saya untuk bisa menuliskan tips membuat review produk yang menjual ini. Saya mah apah atuh. Juarang banget dapat job review ini juga sekarang mah. Udah nggak ada lagi yang mau saya review produknya kali. *drama dimulai*

Hahahaha.
Nggak sih. Simply karena saya lebih milih-milih sekarang. Milih-milih banget.

Anyway, iya, seharusnya ada yang nulis tips ini. Terutama para seleblog. Tapi, sayangnya, kok ya nggak ada yang nulis ya? Hahaha. Atau, saya yang kudet? Ya, kalau ada, boleh atuh, saya dikasih linknya di komen yah.
Biar saya tautkan di artikel ini, sebagai tambahan info gitu.

Makanya, ini akan saya tulis dengan bertolak dari kacamata saya sebagai pembaca review produk yang teman-teman tulis.

Bukankah pembaca menjadi pihak terpenting yang harus kita "puaskan" rasa ingin tahunya dengan tulisan kita di blog kan?

Maka, anggap saja saya sebagai pembaca review produk yang riwil ya.

Tips menulis review produk yang menarik


Image via LiveChat Partner Program

1. Product images and videos

Foto produk adalah yang terpenting!
Foto ini terdiri atas kenampakan menyeluruh, dan detail-detail spesifik yang ada.

Intinya, karena secara online orang nggak bisa melihat langsung, mengamati langsung dan menyentuh produk secara langsung, maka kita harus bisa mendeskripsikan produk melalui fotonya dengan baik dan detail.

Video? Kalau kamu mampu dan bisa bikin, ya akan makin bagus.
Dengan video, kamu tak cuma bisa menampakkan si produk secara detail, tapi kamu sekaligus bisa menguraikan fitur-fiturnya secara verbal langsung.


2. Deskripsi produk

Apa saja yang mesti ditulis pada deskripsi produk?


  1. Dimensi: tinggi, panjang, lebar, volume, dan sebagainya.
  2. Fitur apa saja yang ada dalam produk. Kosmetik, misalnya, sebutkan kandungannya apa saja. Smartphone dan barang elektronik, fiturnya apa saja. 
  3. Kemasan. Apakah oke, apakah kurang oke. Apakah rentan rusak, atau kuat. 
  4. Belinya di mana
  5. Keunggulan produk apa saja yang membandingkannya dengan yang lain. Oh iya ... hmmm, saya pernah lihat review produk A yang langsung dibandingkan dengan produk B dengan menyebut merek. Menurut saya, yang begini sih kurang etis. Kamu bisa dibilang melakukan black marketing terhadap produk pembanding. So, saran, nggak perlulah dibandingkan secara langsung, "face to face" gitu. Bacanya juga gengges. Pembaca itu pinter kok, nggak perlu dijelasin dengan perbandingan kayak begitu, asal kamu bisa mendeskripsikan keunggulan produk dengan baik, mereka juga akan ngerti bedanya di mana.
  6. Harapan kita akan produk tersebut sebelum kita memakainya.

Loh, yang terakhir itu, kok sebelum kita memakainya?
Ya, karena setiap pembeli itu selalu punya ekspektasi. Dengan semua yang tertera di label kemasan, atau mungkin kita pernah melihat iklannya di televisi, tentu kita punya satu harapan tentang produk tersebut. Yang kemudian kita coba.

3. Deskripsi pembeli


Deskripsi pembeli merupakan bagian yang menjelaskan siapa saja yang bisa menggunakan produk yang kita review tersebut.

Apakah dipakai oleh anak-anak, remaja, dewasa, atau lebih khusus lagi khusus ibu-ibu, usia demografi, bahkan bisa juga lebih detail misalnya ke strata sosial.

Misalnya nih, review produk obat-obatan. Pastinya ada klasifikasi usia yang boleh mengonsumsi, seperti misalnya obat tersebut bukan untuk anak-anak karena dosis anunya banyak. Kalau dikonsumsi anak nanti akan berakibat begini begitu.

Atau misalnya, kita mereview apps Android, ini buat konsumsi anak-anak karena merupakan permainan. Anak usia berapa? Apakah perlu pendampingan orangtua? Dan seterusnya.


4. Bukti


Ada 2 jenis bukti yang harus kita tampilkan dalam suatu review produk:


  1. Bukti bahwa kita menggunakannya.
    Ada foto yang menampakkan saat produk tersebut kita gunakan. Kita bisa tunjukkan cara menggunakannya. Step by step.
  2. Bukti hasil setelah kita menggunakan produk tersebut.
    Misalnya kalau smartphone, kita tunjukkan ternyata mengoperasikannya gampang banget, atau betapa banyak fiturnya yang useful. Kalau produk kecantikan, ya mungkin bisa diperlihatkan before and after-nya.

Sebuah job review produk akan terlihat abal-abal atau palsu saat tidak ada kedua bukti di atas.

Review produk yang tidak mendalam, tidak nampak adanya foto yang memperlihatkan bahwa barang tersebut bermanfaat, akan membuat pembaca akhirnya berpikir bahwa review produk tersebut hanya berdasarkan pesanan saja. 

Hanya sekadar iklan, based on payment, dan akhirnya kurang bisa dipercaya.

Makanya, setiap kali kita review produk ya kita harus coba produknya. Kalau nggak dikasih, ya beli. Kan, pada dasarnya review produk (baik dibayar atau tidak oleh si produsen) adalah berbagi pengalaman selama menggunakan produk tersebut. Makanya, yang di-share adalah pengalaman kita, bukan yang lain.


5. Call to Action

Nah, ini bisa jadi semacam kesimpulan dan closing untuk review produk yang sudah kita tulis, yaitu mengajak pembaca blog untuk ikut nyobain, atau ikutan review kalau ada yang udah nyobain juga.

Ajukan pertanyaan terbuka pada pembaca blog, agar memancing mereka untuk menulis komentar atau tanggapan. Saya pernah nulis soal ini dalam postingan tipe-tipe artikel yang mengundang banyak komen. 

Jangan lupa untuk mengapresiasi segala bentuk tanggapan. Balas komen mereka. Tapi nggak perlu baper kalau ada yang ninggal komen negatif.

Intinya, engage them!


Nah, sebenarnya masih ada satu hal lagi yang bisa kamu tulis juga dalam review produk kamu, tapi sepertinya ini masih terpengaruh sama sopan santun di negara kita yang agak mengharamkan mengulas kekurangan satu produk.

Lucu juga sih. Membandingkan dua produk secara langsung malah dilakukan, abis itu nulis kekurangan produk yang kita pakai malah dirasa haram. Wkwkwkwk.

Padahal kekurangan produk (yang bisa kita ulas secara positif) barangkali bisa jadi masukan untuk improvement si produsen. Ya, memang kita mesti bisa menulis kekurangan produk ini dengan baik. Memang ada seni tersendiri sih. Hehehe. Saya pun mengakui itu.

Tapi, coba ingat lagi cerita saya di awal tadi, tentang blogger yang kemudian menjadi beta tester produk smartphone. Iya, bisa kayak gitu kalau kita bisa menuliskannya dengan baik tuh.

Memang, nggak semua orang (baca: produsen) bisa menerima kritik dengan baik. Ada kemungkinan kita akan dianggap melakukan black marketing pada mereka, menjatuhkan branding mereka. So, kita bisa kok ambil jalan aman. Kita bisa sampaikan kekurangan produk pada brand-nya secara langsung dan private.

Yang saya tekankan lagi, akan lebih baik cantumkan informasi bahwa artikel tersebut merupakan review produk. Kamu bisa menambahkan disclaimer, misalnya seperti, "Artikel ini adalah review produk yang saya tulis dengan objektivitas yang bisa dipertanggungjawabkan.", atau sejenisnya.

Mengapa mesti begitu?
Ya, untuk menghindari pembaca mikir, "Ih, ujung-ujungnya iklan!"
Ya, rasanya nggak enak banget soalnya sih, kalau nggak dari awal tahu kalau itu adalah review atau pesan titipan. Hehehehe.

Saya concern dan kekeuh banget soal ini, terus terang.
Entah berapa kali saya menolak sponsored post, nggak cuma job review, hanya karena yang nawarin minta untuk nggak dicantumkan label "Review Produk" atau "Sponsored Post".
Yamonmaap. Semoga kita bisa bekerja sama di lain waktulah ya, dengan term & condition yang lebih ramah pembaca.

Pembaca saya yang paling utama soalnya.

Dan, please deh. Jangan pernah melakukan review produk bodong, yang kita nggak pernah nyobain produknya. Rasanya kok nggak fair ya, buat pembaca.

Iya nggak sih? Kalau ada apa-apa, kok ya rasanya ikut bertanggung jawab aja gitu. Hahaha.

9 comments:

Dhanang Sukmana Adi said...

sangat bermanfaat nih mas..ane baca..soale ane kadang tukang review.
masih banyak kekurangan deh jadi nya repiew repiew saya sebelumnya

Annisa Rizki Sakih said...

Trims mbak Carra. Bekal checklist biar review produk yg saya buat (seringnya) krn memang suka dan puas di masa datang makin 'tajam'

Saya setuju dgn perasaan turut bertanggung jawab itu, jd kalau ada yg nanya2 di postingan reviewan akan saya jelaskan semaksimal yg saya bisa.

Dari sini menurut saya ketahuan lho, mana yg ga bener2 sudah mencoba pakai produknya atau sekedar 'placement'

Agung Rangga said...

Aaah, saya selalu lupa pada bagian "Call to Action"-nya!
Terima kasih sudah menulis tips ini mbak, pasti bermanfaat banget buat blogger yang mulai belajar review produk seperti saya. :D

Diyanika said...

2 bulan ini aku sering dapat job review produk perawatan bayi, Mbak. Artikel ini bermanfaat banget untukku. Paling tidak, masih ada poin yang kelewatan di aku. Terus, begini, aku pernah dapat produk malah seringnya produk datang dengan DL tulisan itu mepet banget. Jadi, nyobainnya kurang maksimal. Ini menurutku ya, mbak.

Novarina DW said...

Aku perlu belajar lebih banyak nih nulis reviu. Terima kasih sharing ilmu yang sangat bermanfaat ini ^^

Ratna Amalia said...

Alhamdulillah udah beberapa review produk #bukanseleblog hihihi
Dan betul banget, the hardest part is mengatakan yang sebenarnya tapi tidak menyudutkan. Ini perlu ilmu ngeles tingkat dewa kayaknya. Dan saya pun masih belajar untuk melakukannya.

lianny hendrawati said...

Review produk itu bagiku susah kalo belum cobain produknya sendiri.
Biasanya yang suka kureview (secara sukarela) ya hotel atau tempat makan, karena sudah nyobain tempatnya langsung.

Dee_Arif said...

Mantap,,,


Bs di praktekkan bsk..


Mkasih mbak

Nurul Ku said...

Thanks for sharing. Bermanfaat banget nih buat newbie blogger macam saya ini. Salam kenal ya.

Instagram