Hae!

Apakah kamu termasuk orang yang suka share sesuatu di media sosial? Entah itu di Facebook, Twitter, WhatsApp, Path dan sebagainya?

Tentunya, ada alasan ya, mengapa kamu sampai mau share informasi tersebut? Biasanya apa nih alasannya? Infonya penting? Infonya update? Supaya orang lain ter-warning? Supaya orang juga dapat pencerahan, seperti halnya kamu sudah tercerahkan oleh artikel tersebut?

Well, memang banyak alasan ya, mengapa kamu sampai mau share informasi atau artikel atau berita tersebut (terlepas artikel itu beneran bermanfaat atau hoax belaka. Toh, kalaupun hoax, mungkin tadinya juga kamu mengira kalau artikel itu bermanfaat atau informatif kan?)

Nah, dengan menelusuri alasanmu sendiri saat nge-share suatu artikel atau informasi itu, kita bisa lho meraba, apa sih yang seharusnya ada dalam artikel kita supaya juga di-share oleh orang lain (meski tidak kita minta). Supaya orang intrigued, hingga mau baca dan ngeshare.

Terus, impact-nya apa?

Dengan mempelajari behavior kita sendiri saat nge-share artikel, kita lantas mengerti, apa sebenarnya yang orang cari, apa yang mereka butuhkan.

Lalu dengan mencoba menulis artikel yang bisa memenuhi alasan-alasan tersebut, tentu saja, artikel kita akan menjadi artikel yang dibutuhkan orang, sehingga orang dengan senang hati membagikannya pada orang lain, lalu orang lain membagikannya lagi pada teman yang lain lagi, dan seterusnya.

So, it will goes viral.

Dan nggak usah dibahas-lah ya, mengapa kita mau artikel kita goes viral kan? :)

Jadi, ayo, coba kita lihat alasan apa saja yang membuat orang kebanyakan men-share artikel atau informasi tertentu.



1. Kontennya related


Artinya, artikel tersebut, yang kamu share itu, memaparkan hal-hal yang sedang kamu alami.

Karena pas banget dengan yang dialami, maka kamu pun dengan sukarela membagikannya di akun media sosial kamu. Mungkin saja dengan tambahan komentar sebelum diposting di beranda Facebook-mu. Cerita ini itu, mengapa artikel ini pas banget dengan yang kamu rasakan atau alami.

Apalagi kalau kemudian konten yang ada tersebut punya potensi untuk bisa mengubah opini yang selama ini ternyata salah.

Wah, pasti semangat 45 ya, share-nya? :D


2. Kontennya mendefinisikan dirimu


Jadi, siapa hayo yang suka share kuis-kuisan di Facebook?

Itu loh kuis yang semacam-macam ngetes diri sendiri, tipe ini atau tipe itu, kamu orangnya begini begitu. Pokoknya yang narsis-narsis gitu deh. Hehehe.

Sering banget kan ya, ada kuis-kuis gitu di internet. Terus kalau cocok, dishare deh di Facebook. Sekadar penegasan, nih, gue nih orangnya gini nih.

Kalau nggak cocok? Ya, kadang dishare juga sih dengan segala denial. Wakakakak.

Saya pernah juga demam kuis gitu. Yang terakhir tuh, waktu itu tentang lebih dominan mana, otak kanan apa otak kiri. Hahaha.

Lucu aja gitu ya, kalau kita baca tentang diri kita sendiri melalui kuis-kuisan ini. Kok bener ya? Kok cocok ya? Mungkin itu yang terlintas di pikiran kita.

Nggak cuma kuis-kuisan, kita juga sering share artikel semacam tipe-tipe karakter, tipe-tipe orang, dan lain sebagainya. Apalagi kalau kita menemukan karakter kita jelas banget terpapar di dalamnya.

"Gue mah gitu orangnya!"
Gitu kan ya?
Eh, apa saya aja yang suka gitu ya? Hmmm.


3. Karena kontennya membuat kita menjadi (merasa) lebih baik


Ini nih, kayak yang tadi saya sebutkan di poin pertama di atas, dan ini ada hubungannya dengan emosi. Perasaan.

Misalnya nih, kamu mengalami kondisi tertentu yang nggak biasa, lalu merasa dan bertanya-tanya, ini bener nggak sih yang saya lakukan nih? Bener nggak sih, yang saya rasakan nih? Orang lain merasa sama seperti yang saya rasakan nggak ya?

Dan saat hati sedang bertanya-tanya *tsah* tiba-tiba saja ada artikel yang menulis dan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanmu itu.

Wah, pasti semangat ya, share ke media sosial?

Saat merasa diri kita sudah atau lebih baik, maka pastinya kita akan merasa lega.

"Untung ada artikel itu, jadi aku sudah bener nih begini! Share ah!"

Gitu kan ya? :D

4. Karena kita ingin mengedukasi dan teredukasi

Ya memang kok, nggak harus menjadi seorang narasumber untuk bisa mengedukasi teman-teman kita.

Contohnya kalau yang sering saya lihat adalah banyak teman-teman yang share resep masakan dengan pengantar “Simpen dulu, praktik nanti.” (entah bakalan dipraktikkan beneran atau enggak, itu mah urusan masing-masing ya. Eh, ada yang ngerasa :P). Atau cara untuk melakukan ini, atau cara agar begitu.

Biasanya jenis-jenis konten yang dishare untuk mengedukasi ini memang jenis artikel how-to sih. Atau, bisa juga tipe lain. Misalnya mengenai fakta ini, seluk beluk produk tertentu, dan lain sebagainya.

Ya, saya sih sering gitu.
Saya baca artikel, terus saya inget seseorang atau teman yang kemarin nanya atau butuh. Makanya, langsung deh saya share.

Atau kalau untuk diri sendiri, ya disimpan. As bookmarking di media sosial kan ya.


5. Karena ingin menyampaikan satu pesan


Sering sekali saya menemukan teman-teman men-share artikel yang berhubungan dengan gerakan kepedulian. Misalnya, stop sirkus lumba-lumba, atau stop topeng monyet, gerakan Earth Hour, dan lain- lain.

Ini merupakan salah satu wujud dari keinginan kita sebagai makhluk sosial untuk lebih peduli pada sesama. Kita pastinya juga pengin ajak teman-teman untuk ikutan peduli kan?

Misalnya, saya share artikel Jupe meninggal karena kanker serviks. Terusnya ya, saya pengin kita semua lebih aware, gitu, tentang penyakit ini.

Bahkan kalau mungkin, kemudian bisa menjadi gerakan nyata membawa kondisi yang lebih baik.


Kesimpulan


Jadi kesimpulannya gimana, gaes?

Tipe konten apa saja sih yang disukai sehingga harus di-share di media sosial?

Yes, yang relatable, defining, makes you better, educating, dan ada pesan yang tersampaikan.

5 saja. Tapi kamu juga boleh nambahin lagi kalau misal kamu menemukan alasan lain orang nge-share artikel di akun media sosial mereka. Tulis saja di kolom komen yes?

Nah, jadinya kita bisa dong merumuskan artikel yang bakalan di-share oleh orang lain (tanpa kita minta).

Apa saja coba? Kalau kamu punya versi sendiri silakan ditulis di kolom komen juga ya.
Kalau saya sih, begini:



1. Berikan nilai tambah pada pembaca


Nilai tambah tentu menjadi hal yang dicari oleh para pembaca informasi. Betul nggak?

Entah itu bahan perenungan baru tentang hidup *ciyeh*, tips ini itu, pengetahuan baru dan lain sebagainya.

Jadi, agar tulisan kita share-able, maka tulislah hal-hal yang bermanfaat buat mereka. Menulis curhatan sih boleh, tapi usahakan untuk kemudian disertai dengan insight, atau tips kalau-kalau ada orang lain yang juga merasakan atau mengalami hal dan kondisi yang sama.

Kalau nggak ada solusi gimana?
Ya, kalau isinya "drama" dan "penderitaan" doang, kira-kira orang akan ngeshare dengan alasan apa ya?

Hmmm. *mikir*
Kamu bisa jawab nggak?

Berikan sesuatu pada pembaca blog sebagai ‘oleh-oleh’ saat mereka meninggalkan blog kita.


2. Help to define

Contohnya begini.

Saya pernah menulis tentang kesalahan umum yang bisa dilakukan saat kita membuat laman About Me, kira-kira saya membantu pembaca artikel tersebut bahwa mereka akhirnya yang mereka lakukan di blog itu sudah benar atau belum.

Ya, itulah yang dimaksud dengan “help to define”.

Membantu pembaca untuk bisa mengerti diri mereka sendiri, dan ini nggak cuma seperti yang ada dalam kuis-kuis di Facebook itu. Yang saya lakukan itu juga salah satu bentuk kalau saya ingin “help to define”.



3. Share your emotion


Emosi itu bisa berupa emosi negatif maupun positif.

Yang termasuk emosi negatif adalah kemarahan, kesedihan, kekecewaan dan sebangsanya.
Sedangkan yang termasuk emosi positif adalah kebahagiaan, rasa syukur, rasa terima kasih dan seterusnya.

Saat kita happy akan kondisi tertentu, sudah dari sononya, kita akan terpanggil untuk share juga. Bener nggak? Invoice paid article cair, misalnya :P Banyak yang share di Facebook kan? Ehe.

Dan, begitu pula dengan emosi negatif.
Misalnya, kita sedih karena terkena dampak bencana gempa bumi, misalnya. Kita share kisahnya, tak lupa titipan emosi yang besar dalam artikel tersebut.

Hingga akhirnya, kita bersyukur bahwa kita masih hidup.

Atau kisah kita menghadapi dan mengatasi postpartum depression, misalnya. Ingat Pungky Prayitno kan ya, pas dia bercerita soal perjuangannya menghadapi PPD? Gimana rasanya saat membaca tulisan Pungky?

Dan, pasti, dishare dong sama jutaan orang.

Emotion is moving.
Emosi itu menggerakkan.

So, jangan lupa untuk selalu menitipkan emosi setiap saat ya.


4. Pastikan pesan tersampaikan


Salah satu misi penulis biasanya adalah ‘menyampaikan pesan’, termasuk saat kita menulis di blog. Saat mulai menulis artikel blog, kita pasti sudah punya pesan untuk kita sampaikan.

Nah, pastikan bahwa pesan ini bisa ditangkap oleh pembaca. Indikasinya apa? Coba lihat di bagian komen. Jika di komen, ada yang terpanggil untuk bertindak lebih lanjut maka pesanmu telah tersampaikan.

Misalnya, saya menulis mengenai desain layout yang baik. Kemudian banyak yang bilang, jadi pengin benahin blog nih.

Nah, inilah yang kita sebut sebagai ‘call to action’. Indikasinya akan semakin bagus, saat suatu hari kemudian, ada yang nyolek saya sambil nanya, “Saya barusan benerin layout nih. Bagus nggak?”

Di situ saya merasa bahagia. Karena berhasil ‘meracuni’ orang lain dengan pesan yang saya berikan. Ha!


Nah, gitu deh sharing saya soal konten-konten yang share-able di media sosial.

Itu adalah salah satu cara yang saya gunakan saat meramu artikel yang (saya harapkan) akan disukai oleh pembaca, yaitu dengan menggunakan diri saya sendiri sebagai referensinya.

Kalau kita suka, tentu orang lain akan suka dengan cara yang sama.
Sampai ketemu di artikel selanjutnya ya.





Ngerasa nggak, kalau akhir-akhir medsos makin berasa kurang nyaman? Twitter, WhatsApp, terutama Facebook. Enggak ya? Ya, mungkin saya aja sih.

Makin gerah. Makin nggak nyaman.
Terusnya, gimana? Males buka Facebook?

Jangan!
Kenapa nggak dibikin Facebook-nya lebih bermanfaat? Bisa kasih motivasi menulis, kasih kamu berita yang cakep-cakep, tulisan yang oke-oke, yang memang layak untuk kamu simak.

Gimana cara? Nge-unfriend? Enggak, sampai detik ini, saya nggak pernah meng-unfriend siapa pun. Kalau di-unfriend sih iya. Wakakakak. Eh, tapi itu jujur. Beneran. Kalau di-unfriend saya udah beberapa kali. Nggak tahu sih kenapa. Ada yang saya tanya, kenapa, tapi nggak dijawab. Yahhh, ya sudahlah ya. Dalam hati saya meminta maaf kalau salah. Sungguh, saya nggak pernah sengaja.

Yasud. Nggak mau bahas itu.
Tapi, bagaimana cara 'menyulap' Facebook menjadi feed yang bisa mendukung hobimu, pekerjaanmu, atau apa pun yang kamu minati. Bahkan, kalau kamu memang suka hujatan ya, itu juga bisa kok kamu tampilin semua di beranda Facebookmu. Hahaha. Nggak, ya kasarannya sih gitu :P

Kamu cuma perlu tahu beberapa Facebook hacks yang penting.
Eh, sebentar. Sebelumnya kamu mesti paham dulu soal algoritma Facebook ya.


Mengenal algoritma dasar Facebook



Jadi begini, Facebook memang punya algoritmanya sendiri. Seperti apa, ya itu dirahasiakan sih. Tapi kurang lebih bisa kita amati sebenarnya.

Pada prinsipnya, sepemahaman saya nih ya, kalau meleset mohon dikoreksi, algoritma Facebook hanya akan menyediakan informasi dari teman, Facebook Page ataupun lainnya yang memang sudah berinteraksi dengan kita, yaitu jenis post/status/thread yang pernah kita komen, share, ataupun like.

So, kalau kamu sering nge-like quote-quote motivasi, ya yang kayak gitulah yang disuguhkan oleh Facebook ke news feed kita pertama kali. Kalau kamu sering ngeshare tips-tips DIY, ya yang kayak gitulah yang disiapkan Facebook untuk kita.

Lha, kalau kamu sering ikutan 'war' atau melakukan persekusi pada orang lain? Ya, yang kayak gitulah yang muncul.

Kita ngeklik jenis berita tertentu, maka berita sejenis lain pun akan dimunculkan oleh Facebook untuk kita.

Bahkan, jika kamu menatap foto selfie orang yang sedang senyum lebar lebih lama pun, algoritma juga akan bisa menangkapnya lho.

Lebih lengkap soal algoritma Facebook, Social Media Examiner membahasnya lebih detail loh. Sila baca yah!

Dan iya, itulah alasan saya mengapa saya nggak sembarangan ngeshare, ngomen, bahkan nge-like sekalipun semua thread dan postingan yang bernada negatif. Apa pun itu. Meskipun atas nama membela soal prinsip. Meski saya sepihak pun. Nggak pernah saya like, komen or share.
Tapi ya, namanya manusia. Saya masih suka kepo. Jadilah stalking ke status orang yang lagi perang. Dan, itu juga mengganggu stabilitas feed Facebook saya juga, terus terang. Wkwkwkwk.
Yah, nggak papa. Setidaknya nggak banyak-banyak amat kalau saya ngelike, ngomen or ngeshare.

So, buat kamu, yang mengaku buzzer, hati-hati kalau ngomen, ngelike or ngeshare ya. Kalau kamu terbiasa baca or mengikuti berita negatif, bisa terlacak loh oleh ahensi.

Anyway, balik lagi ke Facebooknya deh.

Dan, sejak update Facebook soal algoritma ini, Facebook memang makin banyak men-deliver status dari teman, keluarga dan kenalan ketimbang Facebook Page.

Nah, masalahnya, nggak semua update dari teman, keluarga dan kenalan itu penting.
Huahahaha. Iya nggak sih? Kalau saya mah iya, soalnya. Kalau teman, keluarga dan orang-orang terdekat mah saya biasanya kalau memang butuh update, langsung tanya aja via japri. Toh, sekarang juga banyak WhatsApp grup sama temen-temen deket.

Otomatis, saya nggak terlalu update status memang.

Tapi, saya nggak bisa membiarkan Facebook sia-sia. Karena, sebenarnya, sejak dulu Facebook selalu menjadi sumber ide buat saya. Tapi sungguh, perkara-perkara akhir-akhir ini bikin GERAH. Malesin.

So, gimana caranya mengembalikan Facebook menjadi sumber inspirasi?
Begini caranya.



Beberapa Facebook hacks yang perlu kamu tahu, agar Facebook kamu bisa kembali menjadi sumber inspirasi


1. Berinteraksilah dengan penuh pertimbangan


Misalnya begini.
Kalau kamu pengin post-post dari Rocking Mama untuk lebih banyak muncul di Newsfeed atau beranda Facebook, maka make sure kamu selalu ngelike, ngomen or ngeshare apa yang ditampilkan oleh Facebook Page-nya.
Ingat ya, yang diposting oleh Facebook Page-nya. Bukan dari webnya langsung.

Kadang soalnya pada salah mengerti.

Ganti "rocking mama" dengan nama facebook page lain yang sesuai dengan minatmu. Itu sekadar contoh saja.

Misalnya nih, saya pengin supaya postingannya Neil Patel selalu nongol di newsfeed saya. Maka, saya pun, entah itu ngomen, ngelike or ngeshare, postingan Facebook Page-nya. Bukan dari webnya langsung.

Dengan begini, kita pun "memberi informasi" pada Facebook, jenis status, postingan, artikel, atau thread apa yang kita minati atau inginkan.

Lambat laun, tanpa perlu kamu apa-apain lagi, Facebook akan memberikan informasi yang lebih masuk ke selera kamu.

Makanya, jangan sampai kamu berinteraksi dengan konten yang "tidak menarik" atau "not worthwhile". Jika kamu menemukan berita yang enggak banget, kamu bisa klik Hide Post, supaya Facebook nggak memunculkan berita sejenis lagi di Newsfeed-mu.

Misalnya kayak gini. Klik tanda panah ke bawah dari post yang ingin kamu sembunyikan, klik. Lalu pilih Hide Post.

2. Ubah Newsfeed hanya menampilkan posts yang kamu minati


Tanpa perlu susah-susah, kamu bisa memfilter feed yang akan masuk ke beranda Facebook-mu.

Dari bagian atas, dekat icon tanda tanya kan ada tanda segitiga menurun kan? Nah, itu diklik. Maka akan muncul menu untuk setting, privacy dan lain-lain.

Klik "Newsfeed Preferences".



Lalu akan muncul popup. Ada pilihan "Prioritise who see first" kan?

Kalau itu diklik, maka akan muncul daftar nama teman-temanmu.
Kamu bisa langsung klik ke foto profil masing-masing, untuk kasih mereka bintang. Kalau bintangnya muncul di profil teman-temanmu itu, maka next kamu update newsfeed, maka postingan merekalah yang akan muncul duluan.

Atau kamu hanya mau lihat postingan dari Facebook Pages saja?
Bisa.

Masih di popup yang sama, di bagian kanan atasnya ada option "All". Iya kan? Nah, itu diklik, lalu pilih "Pages Only".

Bintangin yang mau kamu prioritaskan kemunculannya di Newsfeed


3. Unfollow feed yang kamu rasa kurang menarik


Trik yang satu ini barangkali sudah pada tahu sih ya.
Fitur unfollow cukup helpful untuk meng-hide feed tertentu yang tidak ingin kita lihat.

Tinggal klik saja panah ke bawah itu, lalu klik Unfollow.


Saya sendiri sangat jarang menggunakannya. Iya, serius sih. Kalau nggak kebangetan saya nggak unfollow. Saya mending menggunakan filter seperti poin 1 dan 2 untuk mengatur feed dalam beranda.


4. Jalan-jalan ke feed khusus Facebook Page


Untuk beberapa Facebook Pages saya memang nggak kasih bintang.
Tapi kalau saya mau lihat updates dari mereka, saya pun berjalan-jalan ke newsfeed "Pages Feed".



Kamu akan bisa browsing hanya di Facebook Pages yang memang sesuai dengan minatmu di sini.


Kalau saya pribadi sih saya penuhi dengan feed dari Facebook Pages seputar blogging tips dan parenting terutama. Ya, apalagi kalau bukan buat kerjaan.


5. Atur iklan yang muncul di Newsfeed kamu


Ya, iklan Facebook sekarang memang semakin banyak saja.
Dan, kamu juga bisa "membantu" Facebook untuk memilih iklan mana yang bagus dan mana yang nggak relevan.

Kamu bisa mengaturnya di Facebook Advert Preferences ini.

Atau kamu juga bisa mem-filter iklan atau sponsored post dari Newsfeed kamu.


Caranya adalah dengan ikut memberikan feedback saat ada Sponsored Posts muncul di beranda. Either klik "Hide advert" untuk iklan yang kamu nggak suka, atau klik "This advert is useful" agar Facebook bisa menampilkan iklan sejenis lebih banyak dalam newsfeed.

Saya sih sudah beberapa kali klik "This advert is useful", dan memang iya kok. Iklan di beranda Facebook saya selalu iklan yang saya butuhkan.


6. Create your list of friends


Yah, kalau sudah "memenuhi" newsfeed dengan update-an Facebook Pages yang sesuai dengan minat, kadang memang ada beberapa orang teman yang saya butuhkan juga update postnya di Facebook.

Maka kita pun bisa membuat list of friends versi kita sendiri.
Tahu list yang ada di Twitter kan? Mengumpulkan akun-akun tertentu dalam satu list, yang kemudian bisa kita lihat update-nya dalam sekali klik aja?

Ya, Facebook list juga begitu. Sama.
Cara bikin list-nya gampang kok.


Di bagian "Explore", cari "Friend lists" seperti gambar di atas. Klik, kemudian muncul beberapa list kan yah. Biasanya berdasarkan groups yang kita ikuti.

Di bagian atas ada "Create list" kan ya.

Tinggal masukin aja nama-nama teman yang memang kamu ingin masukkan ke list

Nah, mungkin memang sebagian Facebook hacks di atas memang sudah kamu ketahui sih. Tapi barangkali kamu baru nyadar, kalau ternyata semua fitur itu bisa kamu manfaatkan untuk membangun newsfeed Facebook yang lebih baik dan lebih nyaman untukmu.
Buat penulis seperti saya gini, kan butuh banget "makanan otak" yang baik. Yang bisa bikin saya menulis lebih baik, pun menambah wawasan lain yang juga lebih baik.

Dengan Facebook hacks di atas, newsfeed Facebook saya jadi nyamaaan banget :D




Jangan sia-siakan kehadiran media sosial hanya sebagai penebar kebencian, kata-kata negatif, dan semua-mua yang nggak enak dan nggak sedap dipandang.

Ingat, jejak digital itu akan ada selamanya.
Jangan kotori dirimu sendiri.
Rugi banget.

Apalagi buat ibu-ibu yah. Pastikan jejak digitalnya bagus, karena suatu hari nanti anakmu akan menelusurinya.

Oh iya. Artikel ini juga termasuk dalam "How to Build Your Idea Bank".
Sampai ketemu di artikel dalam seri yang sama berikutnya yak.