• Home
  • About
  • Daftar Isi
  • Konten Kreatif
    • Penulisan Konten
    • Penulisan Buku
    • Kebahasaan
    • Visual
  • Internet
    • Blogging
    • Marketing
    • User
    • WordPress
  • Media Sosial
    • Facebook
    • Twitter
    • Instagram
  • Stories
    • My Stories
    • Featured
    • Freelancer
  • Guest Posts
Diberdayakan oleh Blogger.
facebook twitter instagram pinterest Email

Carolina Ratri



Disclaimer: tulisan ini pernah dimuat sebagai guest post di blog Ranny Afandi.

Apa sih yang bisa membuat sebuah konten itu menjadi begitu menarik dan unik, sehingga worth to read and worth to share?

Konten yang menarik dan unik--menurut saya nih--adalah konten blog yang dibuat secara akurat berdasarkan fakta dan data, original, dan ditulis sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan pembaca (termasuk syukur-syukur bisa memberikan solusi atas masalah pembaca).

Yes, ini adalah jenis konten yang mampu memancing pembacanya untuk memberikan komentar, mau ikutan sharing, dan kemudian mau untuk ikut ngeshare juga agar orang lain juga dapat ikut merasakan manfaatnya.

Konten yang kek gini tuh, tanpa kita terlalu gembar-gembor, tanpa perlu kita minta-minta, akan banyak orang datang untuk baca. Dan, tanpa kita minta pula, mereka dengan senang hati akan ikut ngeshare konten kita sehingga orang lain (yang mungkin berada di luar sirkel kita) bisa ikut baca juga.

Sesuatu banget deh, kalau bisa menulis sampai kek gini. Iya nggak?

Well, berikut ini ada 5 langkah yang bisa kamu lakukan agar bisa menghasilkan konten yang worth to read and worth to share ini


1. Be yourself: Controversial, why not?

Kadang kita terlalu terbius dengan hal-hal yang sedang ngetrend dan dibicarakan oleh banyak orang. Yah, memang nggak ada salahnya sih nulis soal yang lagi ngehits-ngehits kayak gitu.

Yang salah adalah saat kamu menuliskan hal yang sama, dari angle yang biasa aja, yang sama dengan yang juga dibahas oleh orang lain.

Come on, sebenarnya setiap dari kita itu unik kan? Mengapa kamu tak menulis mengenai apa pendapatmu sendiri? Mengenai pikiranmu sendiri? Kemaslah opini kamu, perkuat dengan data dan fakta.

Unpopular opinion? Why not? We need a lot of different insights jika memang pengin belajar dan menambah wawasan.

Kontroversial? Nggak masalah. Selama kamu punya dasar pemikiran yang kuat dan jelas.

Mengenai kontroversi ini, kamu juga harus memahami, bahwa kontroversial itu tidak sama dengan ‘being offensive’. Menulis hal yang kontroversial bukan berarti harus menyerang pihak lain. Selain itu, jangan menulis hal yang kamu nggak pahami. Pastikan kamu paham betul titik persoalannya, baru deh nulis.

Itu yang namanya menulis konten kontroversial. Dan itu nggak masalah.


2. SEO is a must, but quality is the most important thing!

SEO, jelas, itu harus! Bagaimanapun meski kamu menulis konten yang sebagus apa pun, gimana bisa dibaca orang kalau nggak terindeks di Google? Media sosial saja, mungkin nggak cukup.

Namun, nangkring di pejwan tanpa memberikan informasi berharga apa pun pada pembaca, itu juga sama saja bohong. Mungkin kontenmu memang berada di peringkat paling tinggi. Tapi kalau pembacamu merasa tidak menemukan jawaban dalam konten kamu, ya mereka akan pergi.

Boro-boro mau lihat artikel yang lain, mungkin dia juga cuma tinggal beberapa detik saja di blog kamu. Bounce rate jadi tinggi deh.

So, kualitas konten dan optimasi harus seiring sejalan.

Apalagi dengan update Google baru-baru ini. Ada EAT, dan sekarang BERT.

Sudah tahu BERT belum?

Saya sudah berniat pengin bahas BERT sih, tapi sementara masih mengamati situasi, gimana naik turunnya traffic seenggaknya sebulanan, dan gimana reaksi para webmaster. Semoga segera bisa saya tulis. Sementara, baca artikel Moz dulu.

Kek saya paling iyes aja sih. Wqwqwq.


3. Kualitas, kualitas dan kualitas

Setiap kali kamu akan publish konten blog kamu, pastikan beberapa hal berikut sudah benar.

Akurasi

Yang pertama, konten kamu tersebut harus berdasarkan data yang akurat. Kamu menuliskannya berdasarkan pengalaman pribadi? Jujurkah kamu saat menuliskannya? Jika kamu mendapatkan data konten kamu dari sumber yang lain, apakah sumber tersebut bisa dipercaya? Sudah dicek bukan hoax kan? Sudah cantumkan sumber?

Enak dibaca?

Yang kedua, cek typo, ejaan, dan juga tata bahasanya. Membaca konten tulisan yang kebanyakan typo, itu ibaratnya mata kita kelilipan melulu. Apalagi kalau sampai harus menebak-nebak maksud si penulis.

Jangan sampai pembaca bertanya-tanya, ini nulis apa sih?

Atau sampai mereka berpikiran, "So what?" lantaran saking enggak jelasnya maksud kita apa.

Duh, please deh. Baca sekali lagi sebelum kamu publish. Pastikan semua rapi dan bersih dari typo.

It's ok kok kalau gaya nulis kamu enggak sesuai dengan KBBI, enggak baku, dan sebagainya. Bukankah itu yang jadi salah satu keunggulan blog? Gayanya personal? Kalau terlalu baku ya jadi kaku juga. Tetep enggak enak dibaca.

Tapi, sebaiknya bedakan sama typo. Atau kalimat yang enggak nyambung.

Coba deh dirasain. Beneran, enggak enak dibaca. Belum lagi ada risiko gagal paham. Gimana mau ngeshare orang sendirinya aja gak paham yang ditulis itu maksudnya apaan?


4. Kenali pembacamu

Karakter pembaca memang berbeda-beda. Ada yang suka membaca artikel singkat namun padat, ada juga yang suka artikel yang membahas satu topik secara mendalam dan detail. Beberapa yang lain suka kalau membaca konten dengan konten visual yang banyak, sedangkan yang lain lagi suka membaca teks saja (soalnya mungkin konten visual bikin boros kuota #eh)

Nah, pastikan kamu tahu karakter pembacamu ya. Juga sesuaikan bahwa mereka adalah orang-orang yang mempunyai tingkat pemahaman yang berbeda-beda. Gaya bahasa, cara kamu bercerita, juga topik yang kamu tulis sangat berpengaruh pada karakter pembaca yang akan datang ke blog kamu.


5. Pastikan konten kamu bermanfaat

Mau nulis curhatan? Siapa bilang nggak boleh? Boleh bangetlah! Banyak juga kan, blogger yang menulis curhatan dan kemudian jadi viral?

Ya itulah. Karena--meski curhatan--tapi tulisannya bermanfaat. Apa manfaatnya? Ya biasanya sih tulisan curhatan itu relatable ke banyak orang lain. Banyak orang merasakan atau mengalami hal yang sama. Jadi berasa ada temen gitu. Akhirnya karena merasa "ada temen" lalu dishare deh.

Kadang ya ada rasa "pembenaran diri" sih emang. Hahaha.

Salahkah? Ya, enggak dong.

Lepas dari topik bahasannya, kan pokoknya share-able. Iya nggak?

Makanya, pastikan saat pembaca kamu datang dan membacanya, ada manfaat yang akan dia dapatkan. 

Ya kayak di atas itu. Mungkin dia kemudian bisa ikutan curhat? Mungkin kemudian dia bisa mengambil pelajaran dari curhatan kamu? Mungkin dia kemudian bisa sharing karena dia punya pengalaman dan insight berbeda?

Pembaca blog kamu adalah mereka yang peduli akan apa yang kamu tulis, mencari informasi yang mereka butuhkan, atau sekadar mencari hiburan dari tulisan kamu.

Jadi, berikan apa yang mereka butuhkan. Jika mereka merasa kebutuhannya terpenuhi, maka tak perlu kamu undang pun, mereka akan balik lagi ke blog kamu.


Nah, gimana nih? Tentunya hal-hal tersebut di atas sudah kamu lakukan kan di blog kamu? Belum? Maka, sekarang saatnya kamu harus mulai melakukannya. Supaya blog kamu makin ngehits dan melejit.

Mau menambahkan tips lain? Yuk, cus tulis di kolom komen ya.
Happy blogging!

Share
Tweet
Pin
Share
6 comments


Disclaimer: Ini postingan curhatan dan mungkin akan sedikit nyinyir. Tapi, semoga pesan saya tersampaikan dengan baik.

Sepertinya semua orang kepengin jadi penulis buku. Tapi, tidak semua orang punya kemampuan yang cukup untuk itu.

Bukan, maksudnya sih bukan humblebrag atau mau toxic positivity. Wqwqwq.

Tapi itulah yang saya rasakan belakangan ini. Apalagi ngintipin hasil audisi menulis nonfiksi tempo hari.

Aslinya sih saya gemes banget.
Kondisinya tuh, sebagai bagian dari penerbit buku, saya tahu betapa susahnya berburu naskah yang layak ditaruhin investasi, diedarkan ke toko buku, dan dibaca oleh banyak orang.

Yes, people. Menerbitkan buku adalah investasi bagi penerbit, dan pastinya, penulis juga. So, tanamkan ini dalam pikiranmu, ketika kamu berniat untuk mengirimkan naskah ke penerbit untuk diterbitkan secara mayor.

Ada banyak hal yang dipertaruhkan: ongkos jasa ngedit, ongkos jasa layout, ongkos cetak, ongkos marketing, dan pastinya ongkos buat nulis.

Jadi, come on! Kirimkan hanya naskah-naskah yang layak terbit dong!

Eikeh udah nahan banget untuk tetap sopan, enggak menyebut sebagai naskah sampah. Tapi ya begitu kondisinya, gimandong? Sedih akutu! Padahal kamu tahu, berapa banyak naskah yang masuk ke meja redaksi setiap bulannya? Puluhan hingga ratusan.

Dan kadang, enggak ada satu pun yang layak!

Kenapa kebanyakan naskah buku enggak lolos untuk diterbitkan?

  • Genrenya enggak masuk niche penerbit. Come on, kamu harus cari tahu naskah seperti apa yang dicari oleh penerbit, kalau kamu pengin memperbesar peluang naskahmu diterima. Jangan ngirim naskah puisi ke penerbit yang enggak pernah nerbitin buku puisi. BUAT APA? Please deh, do your homework! Kepoinlah itu penerbit yang kamu incar! Termasuk kepoin gimana caranya kirim naskah, alamat email redaksi dan printilan lainnya. Masa kek gini aja nanya sih? (eh tapi kalau enggak nanya, ntar mimin medsos penerbitnya juga nganggur sik!)
  • Topiknya sudah banyak ditulis. Oke, mungkin ini bisa jadi adalah topik populer, yang orang banyak nyari atau suka baca. Tapi, kamu harus menambahkan sesuatu yang lain yang bisa bikin bukumu bakalan stand out di rak buku dong! Kalau kamu nulis sama dengan yang orang lain tulis, ya buat apa diterbitin lagi? Ingat, persaingan. Kamu sebagai penulis mesti banget memikirkan strategi untuk bersaing dengan penulis lain.
  • Tata tulisnya berantakan. Ini loh, yang kadang bikin gemes. Pada halu apa gimana, entahlah. Belajar nulis yang bener dululah. Masa penulis buku enggak bisa bedain penggunaan tanda koma dan tanda titik? Jangan bilang, kan ada editor ya! Keplak nih.
  • Penulis narsis. Bikin buku tentang kisah hidupnya sendiri. Lah, sekarang coba dilihat lagi ya, dirimu itu apakah seseorang yang pernah dipanggil oleh Andy F Noya, sehingga setiap orang harus membaca kisah hidupmu? Tapi sebenarnya, yang kek gini bisa diatasin sih. Caranya, dengan menambahkan tip atau trik, jadi enggak asal curhat doang. Nulis biografi, tapi sendirinya baru terkenal setingkat RT, ya gimana penerbit buku mau naruh investasi?

Hanya punya keinginan saja itu nggak cukup.

Kalau benar-benar berniat menjadi penulis, maka kamu harus punya setidaknya beberapa kebiasaan ini:

  • Mau menulis setiap hari. Penulis ya menulis setiap hari, seperti halnya penjual tahu ya jualan tahu setiap hari. Ketekunanmu menulis akan berbuah kamu semakin peka terhadap tulisan sendiri. Kamu akan bisa merasakan ketika tulisanmu jelek, dan mana yang perlu diperbaiki.
  • Rajin juga membaca. Membaca menutrisi otak penulis, seperti halnya gizi untuk tubuh. Makin bagus nutrisinya, keluarannya juga makin bagus.
  • Bergaul dengan orang-orang yang punya passion yang sama. Karena creativity itu contagious. Kreativitas itu menular. Jadi, pastikan ada di dekat orang-orang yang punya good vibes.
  • Kritis terhadap diri sendiri, jangan jatuh cinta sama tulisan sendiri.

Lalu, apa yang harus diperhatikan saat menulis:

  • Keep your mind open, bahwa nggak setiap orang sepemikiran dengan kita sebagai penulis. Dengan demikian, kita akan terbuka pada diskusi dan kritik. Jangan antikritik dan selalu self-defense kalau ada orang yang memberi kritik, bahkan cela sekalipun. Jangan kek sesembak Sepen Elepen. Please deh.
  • Jangan merasa yang paling tahu, karena sejatinya kita tidak pernah serbatahu. Begitu pun sebagai penulis. Sehingga tulisannya nggak “keminter”. Selalu cek dan ricek fakta, kroscek sana sini dalam menyusun tulisan. Check every side of the story.
  • 5W 1H: who, what, where, when, why, and how harus dijaga porsinya dengan baik. Supaya tulisannya enggak kentang alias nanggung.
  • Tidak semua pembaca “berbicara” dengan bahasa yang sama. Sehingga lihat-lihat target pembaca juga. Jangan sampai malah salah paham, karena tulisan kita kurang bisa dimengerti dengan baik.
  • Write drunk, edit sober. Jangan lupa swasunting. Tulisan berantakan, bikin pusing yang baca. Please, belajar PUEBI. Meski kemudian kamu tetap mempergunakan bahasa santuy, tapi seenggaknya jika kamu punya pengetahuan yang paling basic ini, kamu akan bisa mempergunakannya dengan benar.
 Oke, semoga omelan pendek saya ini enggak terlalu kasar sih. Tapi bener deh. Saya gemes banget.

Ini loh, ada penerbit yang berburu naskah buku, dan open terhadap penulis pemula. Enggak melulu ngejar so-called-penulis viral atau mereka yang berfollower banyak. Seharusnya ini bisa jadi kesempatan buat teman-teman (calon) penulis yang bercita-cita jadi penulis buku.

Tapi ya mbok yao, bekali diri dengan cukup. Jangan halu, dan tetaplah belajar.

Sekian.
Share
Tweet
Pin
Share
4 comments


Tanggal 20 bulan September lalu, dua website yang saya kelola tiba-tiba enggak bisa diakses, gara-gara kehabisan kuota bandwidth. Kalau diakses, ada tulisan "509 Bandwidth Limit Exceeded" gitu.

Yha! Hari gini, masa kehabisan bandwidth. Paniklah saya.

Tapi kehabisan bandwidth ini ternyata nyata. Padahal baru tanggal 20. Berarti kurang lebih 10 hari dong, websitenya enggak bisa diakses. Aduh! Padahal website bisnis, buat jualan. Macem mana enggak bisa diakses.

Pemakaian bandwidth bulan September. Itu padahal baru tanggal 20, udah habis aja.


Meski saya pengin rasanya nangis kejer, tapi sebagai seorang profesional (yang dianggep) pinter, saya harus tetap tenang. Langsung deh saya berburu cara menghemat bandwidth ke sini sana sono. Cuma saat itu ya cuma bisa diem bae, lantaran buka laman admin aja kagak bisa, Esmeralda.

Jadi semua tip yang ada saya kumpulin dulu--sambil berusaha merayu si Bubos siapa tahu mau ngupgrade layanan hosting, biar enggak pusing-pusing lagi.

Jadi ada beberapa hal sih terkait kondisi website-nya waktu itu (yang sebagian saya tahu, menjadi penyebab kenapa bandwidth cepat habis):

  • Satu hosting, dipakai untuk dua domain. Salah satu domain (kita sebut saja domain A) bakalan punya kategori dan produk yang bejibun, dan beraktivitas tinggi. Domain yang satunya (domain B) masih so-so-lah. Saya sebenarnya punya strategi konten yang berbeda untuk keduanya, lantaran memang pasarnya berbeda, agar dua-duanya bisa tampil bareng di halaman muda Google. 
  • Saya sempat salah (atau lupa) instruksi terhadap admin domain A--yang bakalan punya produk bejibun untuk ditampilkan--untuk meresize dan mengoptimasi foto-foto agar besarnya di bawah 100kb. Belio ngupload gambar-gambar dengan ukuran mega, pemirsa. 1 MB, ada yang sampai 2 MB. *Ya kan, eikeh pikir beginian sudah pada taulah ya. Masa masih dijelasin lagi sih? Tapi ternyata beneran, ada yang belum tahu* Hiks.
  • Masing-masing website pakai plugins yang boros bandwidth, yaitu WooCommerce, dan beberapa printilan tambahannya. Ya, secara memang merupakan situs katalog, bukan blog biasa aja.
  • Paket hosting websitenya "cuma" punya spek kapasitas bandwidth 100 gb dan memory 1 gb sahaja. Seharusnya, sih menurut hemat saya, itu cukup. Apalagi ini baru di awal. Bisa dibilang domain A aja belum saya apa-apain selain diisi gambar-gambar gede sama sang admin -__-"
Pas saya menghubungi perusahaan penyedia hostingnya, enggak ada jawaban laen yang bisa mereka kasih selain harus mengupgrade layanan.

Meh. Saya merasa, kok gini aja sarannya terus. Jualan aja terus. Enggak kasih alternatif solusi apa kek. ZBL.

Ya, kalau ditanya, mampu kok ngupgrade layanan mah. Gampang. Perusahaan sedang berkembang baik gini. Tapi, yaelah. Gitu doang mah ... cemen amat. Ga cerdas. Awokawokawokawokawok. --emang susah ya mau ngekek ala gen Z.

Maka, seperti yang udah disebutin di atas, saya coba cari sendiri cara buat menghemat bandwidth. Tapi beberapa yang saya temukan di awal adalah cara dan tip yang saya enggak mudeng, pemirsa. Apalah cek javascript, encoding gzip ... Yawlah. Embuh. Saya nggak ngerti.

Emak-emak ini cuma sok-sokan (pura-pura) pinter aja soalnya. Disuruh baca artikel pemrograman, mana ngerti dah.

So, saya hanya bisa melakukan beberapa hal yang saya paham doang, kayak gini.


7 Langkah Menekan Pemakaian Bandwidth Website


1. Blokir spam bots

Nah, kita nih bisa cek aktivitas nananini segala macem di website kita di AWStats ini. Jujur ya, saya baru tahu. LOL.

AWStats ini bisa diakses melalui CPanel, biasanya di bagian Metrics. Bareng metrics lainnya, bisa cek bandwidth juga di bagian Metrics ini.




Itu, kalau dilihat di bulan Oktober, saya berhasil menaikkan visit (menurut versi hosting, bisa jadi beda sama punya Google Analytics), tetapi bisa menekan pemakaian bandwidth cukup signifikan.

Nah, di AWStats ini, kalau diskrol ke bawah, kita bisa lihat aktivitas spiders--atau para robot perayap dari mesin pencari.


Nah, coba dilihat daftar paling atas itu. Ada yang ngabisin 2 GB sendiri kan?

Memang, menurut beberapa sumber yang saya baca, spider atau robot perayap ini bisa ngabisin bandwidth. Parahnya lagi, si robot perayap yang ngabisin bandwidth ini justru bukan dari Google. Tapi embuh, dari mana enggak jelas. Kadang malah robot spamming.

Nah, ini yang harus diatasi.

Saya sih menemukan di beberapa tip, bahwa ini sebenarnya bisa diatasi dengan memblokir spam bots itu dengan .htaccess.

NAH, INI YANG SAYA KAGAK PAHAM. Huhuhu. Sedih.

Jadi, monmaap, langkah ini memang saya masukin di pertama, karena seharusnya ini saya lakukan di awal. Tapi saya enggak mudeng. Udah cari dan baca caranya, saya juga enggak berani ngulik.

So, silakan yang tau dan bisa melakukannya, lakuin ini yang pertama kali dulu deh untuk menekan pemakaian bandwidth.

Tapi, ada juga sumber lain yang bilang, bad bots ini bisa juga diblokir dengan bantuan plugins Blackhole Bad Bots. Saya belum coba juga, karena saya masih merasa perlu untuk mencari referensi lain lagi.

Kalau ada yang mau coba, silakan. Pastikan aja jangan sampe ngeblokir Google bots ya.

Saya udah memasukkan ini ke list PR saya. Semoga segera ada waktu buat mempelajarinya pelan-pelan.


2. Cek plugins

Nah, buat yang pake WP self hosted ini pasti familierlah dengan plugins ya. Well, plugins ini juga menambah beban server hosting lo. Terutama beberapa plugins, yang memang bikin boros bandwidth menurut beberapa sumber.

Ada beberapa sih, terutama plugins yang fungsinya untuk chatting, commerce, statistik, sitemap, related posts, random posts, dan popular posts.

Yaitu:

  • Jetpack
  • Sumo
  • WooCommerce
  • Wordfence
  • Broken Link Checker
  • Contact Form 7
  • Disqus Comment System
  • NextGEN Gallery
  • SEO Auto Links & Related Posts
  • Yet Another Related Post Plugin
... dan beberapa plugins lain, yang pokoknya fungsinya di atas.

Nah, kebetulan banget di dua website saya itu ada plugins WooCommerce (meski fungsi commerce-nya didisable, tapi katalognya harus pakai Woo), Sumo, dan Wordfence. Plus satu lagi plugins untuk fungsi chat WhatsApp. Ini enggak masuk ke dalam daftar di atas, tapi karena fungsinya chat jadi saya simpulkan, plugins ini pasti juga berat.

Dan keempatnya enggak mungkin saya lepas, karena bisa memengaruhi sistem websitenya. Yang lain-lain, yang kira-kira berat dan enggak butuh banget langsung deh saya lepas.

Nah, untuk mengetahui bagian mana dari website kita yang berat, kita bisa minta bantuan GT Metrix--ya meskipun sebenarnya sebagai page load test dia kurang akurat lantaran dia ngeceknya dari Kanada sana. Tapi bisalah kita pakai data sebagai ancer-ancer aja.

Buka GTMetrix.com. Terus coba test website kita kek biasanya. Nah, saat report-nya sudah ada, coba skrol ke bawah, nanti akan ketemu panel seperti ini, pilih Waterfall.




Nah, itu bisa diliat deh, apa aja yang timeline-nya gede. Misalnya, bisa diliat itu woocommerce butuh waktu 5 ms untuk loading. Makin ke bawah makin kelihatan deh, mana aja yang lambat loadingnya. Itulah yang bermasalah.

Sebenarnya di website yang saya kelola ini masih oke, karena pluginsnya sepertinya enggak ada yang sampai disebut 2 kali. Tapi semisal ada, nah berarti kita harus mencari plugins lain yang lebih ringan.

So kesimpulannya gimana nih, di bagian plugins ini?

  • Hindarkan penggunaan plugins yang enggak efektif dan efisien.
  • Kalau ada 2-3 plugins yang bisa digantikan oleh 1 plugins, maka ganti saja ke yang 1 plugins.
  • Kalau ada plugins yang tidak terlalu urgent, mending dilepas saja. Lalu dihapus. Jangan nyimpen plugins yang enggak dipakai di dalam web.
  • Sebisa mungkin hindari plugins yang mesti external request, misalnya seperti Google Fonts, Gravatar, bahkan Adsense. Di website yang saya kelola itu kebetulan enggak ada Adsense. Gravatar langsung saya matikan. Tapi Google Fonts enggak bisa, karena built-in sama template. Jadi, ya sudahlah.



3. Pakai plugins cache systems

Nah, yang ini juga rekomendasi beberapa orang sih.
Plugin cache bekerja dengan cara menghasilkan halaman static html dari wordpress , sehingga website dapat diakses dengan cepat tanpa perlu lagi melakukan processing php dan lain-lain yang memerlukan akses langsung ke database.
Sumber: wpjava

Ada beberapa plugins cache yang bisa ditemukan di WP,  tapi mana yang paling baik digunakan? Well, relatif sih.

Sebenarnya banyak yang merekomendasikan WP Rocket, karena fiturnya paling lengkap. Tapi saya cek kok enggak ada WP Rocket. Ada sih Lazy Load doang, enggak yang lengkap WP Rocket.

So, saya memutuskan untuk tetap menggunakan WP Fastest Cache.
Sementara fungsi WP Rocket lain, saya penuhi dengan WP Optimize.


4. Pakai WP Optimize

Mungkin ya, cukup pakai WP Optimize sih tanpa WP Fastest Cache, karena di WP Optimize ada juga fungsi cache-nya. Tetapi fungsi cache di WP Optimize ini bisa di-disable kok, kalau misal dobel sama WP Fastest Cache. Jadi, saya pakai dua-duanya di sini.

Jadi, diapain aja nih WP Optimize?

Optimasi database


Tinggal centang aja semua deh. Kek post revisions gitu, enggak usah disimpen. Buat apa? Trashed posts juga langsung buang aja semua. Begitu juga dengan komen spam dan yang dibuang.

Buanglah mantan pada tempatnya.

Jadi, as dummies, enggak usah ribet, langsung centang lalu klik "Run optimization".


Optimasi image


Nah, settingan untuk optimasi image-nya saya atur begini.
Pas baru pasang kemarin, itu yang uncompressed images itu ada ratusan. Lalu saya select all, dan klik Compressed the selected images aja.

Sekarang semua image sudah terkompres dengan baik.

Nah, untuk bahas image, mari kita ke langkah selanjutnya.

WP Optimize ini harus dicek secara berkala ya, lalu hapus-hapus secara rutin file-file yang sudah nggak kepakai. Kalau di rumah nyata aja kita mesti bebersih dan disarankan untuk jangan suka nyimpen sampah, maka demikian juga di rumah maya kita.

5. Optimasi gambar dengan TinyPNG

Jadi, image memang merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan saat kita mau bikin konten di website ya. Jangan pernah lebih dari 100 KB. Kalau terpaksaaaa banget, ya maksimal 200 KB. Tapi, usahakanlah selalu untuk di bawah 100.

Jangan pernah ngunggah image yang bersatuan mega. Karena kita mau kasih image itu di laman web ya, Esmeralda. BUKAN BALIHO. Jadi, cukup pakai file yang kecil aja.

Udah harus diresize sesuai frame website/blog kita, pun harus dikompres lagi.

Sebenarnya dengan WP Optimize di atas, dengan settingan "automatically compress newly-added images" itu aja, sudah cukup. Tapi, website yang saya kelola ini ke depannya akan buanyak sekali menampilkan gambar produk.

So, saya enggak berani ambil risiko lagi. Sehingga, sebelum diunggah ke website, setiap foto/image harus diresize sesuai kebutuhan, dikompres dengan TinyPNG, baru kemudian diunggah ke web.

Rempong ya, cyint. Ya biarin. Tapi terbukti kok, bandwidthnya ngirit banget sekarang.


6. Setting ulang Wordfence

Nah, Wordfence memang lumayan "makan" bandwidth, tapi bisa kok disetting ulang. Misalkan kamu pake plugins ini juga ya.

Langsung aja ke bagian All Option-nya. Lalu coba ulik hal-hal yang sekiranya enggak perlu, misalnya opsi-opsi untuk kirim-kirim email bisa dikurangi.

Terutama di bagian Rate Limiting.


Nah, ikurin aja sesuai dengan gambar di atas, di bagian Rate Limiting.

Lalu, ke bagian-bagian berikut juga:
  • Do not “enable live traffic view”
  • Do not “enable automatic scheduled scans”
  • Do not “enable email summary”
  • Enable “use low resource scanning”
  • Decrease “limit the number of issues sent in the scan results email” to 500
  • Do not enable “updates needed (plugin, theme, or core)”
  • Increase “update interval in seconds (2 is default)” to 10-15 seconds
  • Decrease “how much memory should Wordfence request when scanning” to 100MB
  • Enable “delete Wordfence tables and data on deactivation”

7. Disable hotlink

Yang terakhir, pastikan kamu disable hotlink.

Kadang ada orang yang mau pakai foto kita, terus males download dan upload ulang. Enakeun langsung semat gambar via URL, yang URLnya ada di website kita (karena gambarnya ada di website kita).

Nah, kalau yang ambil gambar ini trafficnya gede, mau enggak mau bandwidth kita juga tersedot.
Makanya penting untuk menonaktifkan hotlink.




Caranya bisa ke CPanel, lalu cek ke bagian Security, klik Hotlink Protection. Lalu enable Hotlink Protection-nya.


Nah, itu dia beberapa langkah yang kemarin saya lakukan untuk menekan dan menghemat bandwidth hosting website.

Sebenarnya masih ada yang bisa diulik lagi sih, menurut artikel dari Online Media Masters ini. Tapi saya sudah lakukan 7 hal di atas, dan Puji Tuhan, bandwidth sudah terkendali.


See? Yang Oktober itu sampai dengan tanggal 27, baru 53 GB sahaja. Bandingkan dengan September yang baru sampai tanggal 20 udah 98 GB.

Wqwqwq.

Lumayan banget kan?

Demikian tip ini ditulis, biar kalau kejadian lagi sama saya, saya enggak lupa langkah-langkahnya :))
Semoga juga bisa membantu teman-teman yang punya masalah yang sama.
Share
Tweet
Pin
Share
4 comments


Zaman sekarang, jadi ibu rumah tangga juga enggak bisa cuma nganggur aja di rumah. Tapi, kalau mau bisnis, bisnis apa? Modal dari mana? So, artikel ini adalah sponsored post yang akan berisi informasi mengenai Pinjaman Online untuk Ibu Rumah Tangga dari KTA DBS.

Yes, seorang ibu rumah tangga juga bisa mendapatkan pinjaman untuk memulai ataupun mengembangkan bisnis, jika memang memenuhi syarat. Meskipun dia mungkin nggak memiliki sumber penghasilan tetap, tapi tetap bisa kok.

Gimana caranya?

---

Kondisi Ibu Rumah Tangga Zaman Now: Nggak Mau Nganggur Doang

Para ibu rumah tangga zaman now ini jauh berbeda dari yang dulu-dulu. Para mamah millenial ini berpendidikan, cerdas, dan ambisius. Seiring dengan kegiatan mereka merawat rumah dan keluarga, mereka juga ingin menjelajahi dunia di luar empat dinding rumah. Pengin eksis, dan pengin sukses.

Banyak dari mereka akhirnya memutuskan untuk keluar rumah untuk bekerja di perusahaan-perusahaan, sementara yang lain bermimpi memiliki bisnis sendiri.

Kalau kamu diberi kesempatan, kamu lebih memilih yang mana? Kerja, atau punya bisnis sendiri?

Sayangnya, dua-duanya bukan hal yang mudah. Yaeyalah. Dikasih susah dapat kerja aja kita suka gampang bilang resign. Wqwqwq.

Soal bisnis apalagi. Nggak ada bisnis yang mudah. Terlebih lagi ya, banyak lo sebenarnya ibu rumah tangga yang punya ide bisnis yang cukup unik, tapi sayangnya mereka enggak punya "bensin" buat mewujudkannya.

Lah, kok bensin? Iya, dana, maksudnya. Nggak ada modal gitu. Inget kata Mas Dani Rachmat--guru finansial saya itu lo--jadinya.

Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang.

Tsah.


Mau Bisnis, Tapi Nggak Ada Bensin? Susah!

Sebenarnya ya, kita bisa kok mulai bisnis dengan modal minim. Cuma ya, kalau mau ngembangin kadang ya perlu juga nambah modal.

Pinjaman bisa jadi merupakan salah satu opsi untuk mencari dana tambahan untuk pengembangan modal. Tapi, sayangnya, pinjam modal itu nggak gampang. Ada daftar panjang kriteria yang harus dipenuhi oleh pemohon supaya pengajuan pinjamannya dikabulkan.

Apalagi untuk bisnis yang baru dirintis. Wah, susah pastinya. 

Tapi susah, bukan berarti nggak mungkin lo. Karena opsi atau pilihan itu tetap selalu ada. Tinggal gimana kita aja yang memanfaatkannya.


Bagaimana Cara Mendapatkan Pinjaman untuk Modal Bisnis Ibu Rumah Tangga?

Sebenarnya, pinjaman itu ada beberapa macam, terutama yang terkait untuk keperluan modal bisnis.

1. Gadai emas

Nah, cara pertama ini sering dilakukan oleh para pebisnis kecil. Mereka "meminjam" sejumlah uang, dengan menjaminkan perhiasan ataupun logam mulia mereka.

Gadai emas ini tampaknya merupakan salah satu solusi untuk mereka yang butuh modal tetapi kalau mengajukan pinjaman resmi ke bank terhambat karena syarat-syaratnya. Maka, kalau punya emas ini, lumayan deh bisa dimanfaatkan. Gadai emas bisa ke mana saja, tetapi yang paling aman sih ya ke Pegadaian.

Cukup banyak mentor bisnis yang menyarankan untuk menambah modal dengan cara gadai emas ini demi mendapatkan tambahan modal bisnis.

Setelah kita ada uang kembali, emas yang kita "titipkan" di Pegadaian bisa kita ambil kembali.


2. Pinjaman dengan agunan atau jaminan

Kalau di bank, biasanya disebut dengan Kredit Multiguna. Namanya juga multiguna, jadi boleh dipake buat apa aja. Plafonnya yang tinggi--sampai miliaran--jadi cukup menarik, juga tenor yang panjang. Hanya saja, kita sebagai peminjam harus menyediakan jaminan yang setara dengan jumlah pinjaman kita.

Kalau kita gagal bayar? Ya, pemberi pinjaman berhak atas jaminan yang sudah kita agunkan, dan nantinya akan dijual demi melunasi pinjaman.

Jaminannya sih bisa bermacam-macam, dari perhiasan, kendaraan, rumah, hingga jika kita punya investasi surat berharga.


3. Pinjaman bersama

Cara berikutnya untuk mendapatkan pinjaman sebagai tambahan modal bisnis adalah dengan menambahkan pemohon kedua yang memiliki pekerjaan.

Maksudnya gimana? Misalnya, suami yang bekerja di sebuah perusahaan, atau kalau yang belum berkeluarga juga bisa menambahkan ayah yang berpenghasilan tetap setiap bulan.

Nah, jumlah pinjaman akan diberikan tergantung pada penghasilan kedua pemohon. Bahkan jumlah maksimum pinjaman juga merupakan kelipatan dari pendapatan keduanya.


4. Kredit Tanpa Agunan

Nah, yang keempat ini adalah salah satu cara mendapatkan tambahan modal bisnis yang memang lebih cepat. Kemudahan dan kepraktisan kredit tanpa agunan ini memang cukup menggiurkan.

Jika memang butuh dana cepat, maka kredit ini bisa juga dipertimbangkan.

Tak hanya di bank, kredit tanpa agunan sekarang juga bisa diajukan pada fintech-fintech yang semakin menjamur. Namun, sebelum mulai meminjam dengan sistem kredit tanpa agunan ini, ada baiknya memperhatikan beberapa hal berikut:

  • Pastikan fintech atau lembaga keuangan yang memberikan fasilitas kredit tanpa agunan terdaftar dan berada di bawah pengawasan OJK.
  • Cari info sebanyak-banyaknya mengenai fintech atau lembaga keuangan terkait dari berbagai sumber, sebelum benar-benar melakukan pinjaman untuk tambahan modal bisnis.
  • Cermati syarat, ketentuan, dan berbagai kondisi yang biasanya dijabarkan sebelum kita mulai mengajukan pinjaman.

Pengajuan kredit tanpa agunan ini memang relatif mudah didapat dibandingkan dengan pinjaman bank biasa, ataupun yang multiguna.

Pemohon hanya perlu menunjukkan beberapa dokumen sederhana--misalnya slip gaji--dan pinjaman akan diproses dalam waktu 24 jam, sehingga nggak perlu menunggu terlalu lama untuk mendapatkan pinjaman modal.


Nah, dengan beberapa cara di atas, seorang ibu rumah tangga pun bisa mendapatkan tambahan modal untuk pengembangan bisnisnya.

Selanjutnya, ada banyak PR yang harus dilakukan ya--buat laporan keuangan yang rapi dan tertib, kelola bisnis sebaik-baiknya, agar kemudian bisa mengembalikan modal yang sudah dipinjam, berikut bunganya.

Semoga sukses bisnisnya ya!

---

Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai Pinjaman Online untuk Ibu Rumah Tangga dari KTA DBS, Anda bisa mengunjungi situs https://www.cekaja.com/banks/dbs/pinjaman/kta-dbs.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Kadang kala para bloger--terutama yang pemula--lebih suka menulis yang memang mereka sukai. Tentunya hal ini ya bagus, terutama supaya mereka bisa menyukai dulu kegiatan blogging, enjoy dulu aktivitas menulis, mengedit foto, dan segala hal yang berhubungan dengan ngeblog.

Tapi, pada akhirnya, kalau kita mau maju, berkembang, dan lebih sukses ngeblognya, mau enggak mau ya kita mesti "menuruti" apa mau pembaca.

Setuju enggak sampai sini? Setuju ajalah ya? Jadi, biar saya bisa lanjut bahas :))

Ya, kecuali kalau kita ngeblog buat dibaca sendiri sih. Kalau kek gitu mah terserah aja. Mau diisi tulisan yang cuma bisa dipahami sendiri sih juga enggak masalah. Asal, jangan terus sambat aja, kok blogku sepi amat. Yang baca enggak ada 100 orang per bulan?

Karena jawabannya sudah jelas. Penyebab sepinya blog kamu itu, kalau enggak karena kontennya enggak dimaui/dicari sama netijen, bisa juga karena banyak yang enggak paham kamu nulis apaan.

Ouch, yes. Reality sucks.

But, anyway, mari kita ke penyebab pertama: konten kamu enggak ada yang nyari.

Untuk penyebab ini, solusinya cuma satu: kamu sebaiknya menulis konten yang dicari oleh orang. Karena, hard truth is enggak ada orang yang peduli dengan hal yang kita (sebagai bloger/penyedia konten/penulis) sukai.

Nope. No one even cares, Ferguso!

Nggak ada orang yang peduli, kalau kita suka traveling. Enggak ada orang yang peduli, kita suka crafting. Nggak ada juga yang peduli, kita suka apa untuk dibahas di blog.

Yang mereka peduli adalah--misalnya--gimana caranya ngetrip ke Jepang dengan biaya murah, yang kemudian nyangkut di konten kita yang lagi berbagi tip cara murah traveling ke Jepang. Mereka enggak peduli kita hobi traveling, yang mereka mau adalah informasi gimana cara halan-halan dengan biaya murah.

Mereka enggak peduli kita suka crafting. Yang mereka pedulikan adalah gimana caranya ini bikin aksesori rambut supaya bisa dijual di online shop supaya nambah-nambah duit.

Egois? Ya emang gitu cara mainnya.

So, mau blognya ramai? Let's start with people's favorite things--yang baru kemudian disesuaikan dengan topik yang kita kuasai or sukai. Baru kita sajikan ke hadapan mereka dalam bentuk informasi, atas nama sharing is caring.

Gimana caranya bisa tahu apa yang pembaca butuhkan?

Berikut ini ada beberapa cara mengenali kebutuhan pembaca, kamu bisa cobain semua atau beberapa yang kamu rasa sesuai, agar blogmu ramai dikunjungi orang


5 Cara untuk Mengenali Pembaca

1. Lakukan keywords research

Keywords? Kata kunci? Kenapa kata kunci sepenting ini?

Well, ini sudah saya jelaskan panjang lebar dalam satu artikel utuh: Mengapa keywords itu penting. Bolehlaaa dibaca, kalau memang belum pernah baca yes?

Kata kunci adalah memang merupakan kunci pintu blog kita dari "jalan raya" yang disebut Google, dan mesin-mesin pencari lainnya. Kata kunci adalah plang nama, yang akan membawa orang masuk ke halaman dan kemudian masuk ke rumah.

Kata kunci juga merupakan satu cara pertama dan utama dalam usaha kita mengenali kebutuhan pembaca akan satu informasi.

Jadi, kata kunci adalah KOENTJI.

Saya pernah dapat curhat begini.

"Mbak, kok saya bikin artikel udah pakai struktur yang bener, sudah pakai kata kunci juga, panjang artikel juga pas. Kok tetap sepi aja blog saya?"
"Kata kuncinya udah riset kan? Ambil yang volume berapaan?"
"Enggak sih, Mbak. Nebak."
"..."
Lu kate, SEO itu ilmu nujum apa? ZBL.

Memilih kata kunci itu enggak bisa kalau pakai ngitungin kancing baju. Atau lempar koin. Kata kunci itu mesti diriset. Kita mesti lihat data, lalu membandingkan satu sama lain.

Sama sekali bukan sulap bukan sihir.

Silakan baca artikel tentang bagaimana melakukan keywords research ini ya.


2. Cek statistik blog

Statistik blog yang ada di Google Analytics dan Google Search Console juga bisa kita gunakan untuk mengenali kebutuhan pembaca akan suatu informasi.

Ada 2 cara sih:


Pertama.
Lihat di statistik artikel yang paling banyak dibaca secara organik (jadi jangan pakai artikel yang sempat diiklankan ya). Di situlah ada minat pembaca yang banyak. So, coba definisikan. Apa topiknya? Apakah kamu bisa mengembangkan bahasan lain atau sudut pandang lain dari topik yang banyak dibaca itu?

Kedua.
Lihat statistik keywords dari channel organic. Coba masuk ke Google Analytics-mu, lalu ke Acquisition > Channels > Organic Search.



Saya kasih contoh deh. Ini adalah statistik blog saya di Organic Search itu.

Artikel "cara membuat cover highlight Instagram" itu saya buat setelah saya melakukan eksplorasi terhadap artikel tentang update algoritme Instagram yang sebelum saya posting dan cukup ramai dikunjungi.

Akhirnya artikel cara bikin cover highlight itu sekarang malah statistiknya jauh melebihi artikel tentang update algoritme Instagram.

Boleh, silakan cek dengan keyword "cara membuat highlight Instagram", artikel saya di urutan berapa :))

Ingat, cek statistik pakai Google Analytics atau Google Search Console ya. Jangan pakai statistik bawaan blog.


3. Cek komen

Bagian kolom komen juga bisa jadi sumber untuk riset mengenali kebutuhan pembaca terhadap suatu informasi.

Memang sih, banyak banget yang baca artikel tanpa ninggalin komen apalagi kalau kita mendapatkan pembaca dari search engine. Wah, nasib pasti minim komen deh.

(Yes, jangan terburu-buru underestimate artikel minim komen ya. Bisa jadi pageviewnya malah jutaan, udah. Wqwqwq.)

Anyway ...

Sebaiknya sih jangan pernah mengabaikan kolom komen. Kadang, di kolom komen itu ada banyak harta karun ide tersembunyi.

Makanya, penting di setiap artikel untuk menyelipkan semacam pertanyaan atau call to action, mengajak pembaca untuk berdiskusi atau bertanya. Siapa tahu pertanyaan atau komen mereka bisa dijadikan artikel yang pas dengan kebutuhan pembaca kan?


4. Adakan survei atau polling

Cara lainnya lagi untuk bisa mengenali kebutuhan pembaca adalah dengan melakukan survei atau polling.

Saya sih sering juga melakukan ini, di Facebook, Twitter, ataupun Instagram. Cuma karena follower saya enggak seberapa atau karena saya memang kurang banyak gaul juga sih ya, kurang sering komen atau berinteraksi, jadi kadang hasil survei atau pollingnya enggak sesuai dengan ekspektasi.

Tapi, kalau kamu punya massa yang lumayan di media-media sosial, teman-teman kamu banyak, follower banyak dan kamu rajin berinteraksi, survei dan polling ini bisa bantu banget untuk bisa mengenali kebutuhan mereka akan satu informasi.

Paling enak sih ini, karena berarti kan kita bisa tahu from the first hands ya. Langsung tahu dari sumbernya, apa yang mereka butuhkan. Tinggal dilist lalu dieksekusi deh.


5. Cek trending topic

Yang terakhir adalah dengan mengecek trending topic. Yang sering-sering dibahas atau ditanyain orang akhir-akhir ini apa sih?

Kek gitu kira-kira.

Nah, untuk ngecek trending topic ini bisa dengan banyak cara. Beberapa di antaranya adalah:

  • Dengan skrol media sosial; di Twitter ada Trending Topic, di Instagram ada Explore. Kamu bisa skrol-skrol sampai begah di sana, untuk mencari tahu apa yang lagi rame dan bisa kamu ulik untuk dibahas di blog.
  • Dengan Google Trends. Saya sudah pernah jelasin panjang x lebar x tinggi dalam satu artikel khusus. Silakan dibaca yah, kalau belum sempat baca kemarin.
  • Dengan Buzzsumo, yang meski terbatas banget dengan akun gratisan tapi ya lumayanlah ya. Daripada enggak sama sekali. Silakan baca artikel Buzzsumo selengkapnya. 



So ... the bottom line is ...

Okelah kalau kamu menuliskan segala hal yang kamu suka aja di blog. Tapi ingat, yang kamu suka belum tentu orang lain butuh atau suka juga.

Jadi, adalah wajar jika tak banyak juga orang yang datang ke blogmu. Karena ya ... mau ngapain? Kan mereka nggak butuh.

So, supaya mereka mau datang, kita sebagai pemilik blog haruslah menyediakan apa yang mereka butuhkan.

Ini enggak berarti lantas kamu enggak boleh sama sekali menulis atau membahas yang kamu suka lo. Boleh, tapi ada baiknya diatur juga dengan topik yang biasa dicari orang, supaya seimbang.
Share
Tweet
Pin
Share
4 comments
Newer Posts
Older Posts

Cari Blog Ini

About me





Content & Marketing Strategist. Copy & Ghost Writer. Editor. Illustrator. Visual Communicator. Graphic Designer. | Email for business: mommycarra@yahoo.com

Terbaru!

Tolong! Otak Saya Butuh Tombol Off

Ada hari ketika ide bisa muncul di mana saja. Lagi kerja, kepikiran satu hal. Lagi mandi, muncul ide lain. Saat jalan, tiba-tiba terpikir ju...

Postingan Populer

  • Yang Harus Blogger Ketahui Mengenai Link Eksternal - The Bloggers' Biggest Fear
    Warning: artikel ini akan panjang. Tapi I guaranteed, akan membahas hingga ke detail mengenai outbound links atau link eksternal. Karena...
  • 15 Ide Style Feed Instagram yang Bisa Kamu Sontek Supaya Akunmu Lebih Stylish
    Hae! Kemarin saya sudah bahas mengenai do's and donts dalam mengelola akun Instagram , terus ada pertanyaan yang mampir, "Ka...
  • Beberapa Tip Jitu untuk Membantu Kamu Menjaga Konsentrasi dan Fokus Menulis
    Masalah fokus atau konsentrasi biasa memang menjadi permasalahan umum bagi para penulis--baik itu penulis buku, konten, dan blog. Dist...
  • Beberapa Etika Meninggalkan Komentar yang Baik di Artikel Lain Agar Menambah Nilai untuk Blog Kamu
    Yuk, tinggalkan komen yang memberi nilai tambah bagi blog kita sendiri! Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menulis tentang beberapa...
  • Bagaimana Cara Menulis 100 Kata Pertama yang Ajaib Agar Orang Mau Terus Membaca Artikel Kita
    5 Cara Menulis 100 Kata Pertama yang Ajaib Agar Orang Mau Terus Membaca Artikel Kita Dalam artikel guest post mengenai Cara Mudah Tuli...

Blog Archive

Portofolio

  • Buku Mayor
  • Portfolio Konten
  • Portfolio Grafis
  • Konten Web
  • Copywriting
  • E-book
  • Buku Fiksi
  • Ilustrasi

Follow Me

  • instagram
  • Threads

Created with by ThemeXpose