• Home
  • About
  • Daftar Isi
  • Konten Kreatif
    • Penulisan Konten
    • Penulisan Buku
    • Kebahasaan
    • Visual
  • Internet
    • Blogging
    • Marketing
    • User
    • WordPress
  • Media Sosial
    • Facebook
    • Twitter
    • Instagram
  • Stories
    • My Stories
    • Featured
    • Freelancer
  • Guest Posts
Diberdayakan oleh Blogger.
facebook twitter instagram pinterest Email

Carolina Ratri

Kategorisasi yang rapi akan membentuk navigasi blog yang rapi juga


Salah satu faktor yang sedari dulu selalu disebutkan dalam berbagai tutorial blogging ataupun SEO di mana pun, supaya lebih disukai oleh Mbah Google dan juga lebih readable, blog atau website kita harus mempunyai navigasi yang baik.

Ya, kalau dilogika, ya ibarat rumah, penataan masing-masing ruangnya harus menyamankan penghuni dan juga harus memenuhi beberapa syarat juga kan? Begitu juga web dan blog.
Nah, salah satu cara untuk bisa memperoleh navigasi yang baik adalah pengkategorian tulisan. Yah, banyak pembaca blog juga menggunakan kategori untuk menemukan tulisan-tulisan yang jenisnya sama.
Barangkali memang sayanya sih yang OCD, jadi memang lebih suka kategorisasi tulisan yang rapi dan jelas. Ada yang punya banyak kategori di blognya? Atau malah nggak tahu beda kategori dan tag atau label?

Sebenarnya prinsipnya sama saja sih, yaitu memberikan pemisahan dan pengelompokan terhadap tulisan. Kalau di blogspot, kategori dan tag sama saja dalam label. Sedangkan kalau di wordpress ada pemisahan antara kategori dan tag.  Lalu apa beda keduanya?

Photo via Web Strategies


Saya kira lebih singkatnya begini. Kategori adalah pengelompokan lebih umum, sedangkan tag itu lebih detail. Misalnya, kamu menulis tentang resep kue. Barangkali kategorinya bisa dimasukkan ke dalam Baking atau Cake. Sedangkan tag-nya adalah cokelat, hidangan penutup, resep kue mudah dan seterusnya. Jadi tag ini kadang memang dipakai untuk menyiasati keyword. Hanya saja kalau kategori, menjadi short tail keyword. Tag merupakan long tail keyword.

Terus, mana yang lebih baik dicantumkan di sidebar atau halaman muka blog atau website? Tentu saja kategori. Tag bisa panjang dan setiap postingan bisa beda-beda. Kebayang kan kalau di sidebar ada tag? Bakalan numpuk panjaaang ... dan itu nggak bakalan nyaman dilihat. So, biasanya banyak yang lebih memilih kategori saja untuk dipajang di menubar atas ataupun di sidebar.

Nah, biasanya, yang punya banyak kategori di blognya itu karena nggak mikirin hirarki dan struktur blog sejak awal bikin blog. Barangkali juga dari awal nggak tahu mau ngeblog apa, atau mau bahas apaan di blog. Jadi, kategorisasi pun berkembang seiring tulisan yang juga bertambah. Dan, saking gado-gadonya semua punya kategori sendiri-sendiri. Terus, tahu-tahu, kategorinya panjang banget dan sambung menyambung menjadi satu. Terus, akhirnya bingung, misahinnya.

Ya udah, nggak usah pakai kategori aja. Hahaha. Ya nggak apa-apa, semua kan pilihan. Tapi, kalau mau kategorinya rapi, barangkali kamu bisa memakai cara berikut ini.

Bagaimana Memilih dan Memberi Nama Kategori dalam Blog


Sebenarnya, ada berapa banyak kategori sih maksimal dalam blog kita?
Relatif. Jumlah kategori bisa bervariasi, tapi untuk saya pribadi, makin ringkas dan makin sedikit menandakan bahwa blog kita makin fokus dalam topiknya. Sehingga niche-nya makin menyempit dan lebih fokus juga, meski aslinya ya gado-gado. Saya sendiri punya 4 kategori utama di blog ini, yang kemudian masing-masing punya subkategori. Di blog saya yang lama dan sudah almarhum itu ada belasan kalau nggak salah ingat. Namun beberapa blogger luar menyarankan kategori blog nggak lebih dari 10 saja. Silakan disesuaikan saja dengan kebutuhan kamu, tapi ya itu tadi, less is more.

Terus, gimana cara menentukan kategori-kategori ini?



Cara Menentukan Kategori

1. Ajukan Pertanyaan

Cara terbaik untuk memahami blog kamu sendiri adalah dengan bertanya pada diri sendiri. Apa tema besar blog kamu? Gado-gado? That’s ok. Dalam topik gado-gado itu, kamu bahas apa saja? Resep? Parenting? Resensi buku? Jangan lupa sediakan juga satu kategori di mana kamu bisa menaruh tulisan-tulisan yang random, karena jenis tulisan ini selalu ada di blog mana pun. Hahaha.
Itu untuk blog lifestyle atau gado-gado. Nah, kalau yang topik blognya lebih spesifik tentu lebih gampang kan? Kayak di blog ini, topiknya adalah creative writing, marketing dan freelance, sesuai dengan dunia yang saya geluti sekarang. Maka, creative writing, marketing dan freelance menjadi kategori besar yang harus terlihat lebih dulu.

Baru kemudian saya pecah masing-masing menjadi subkategori. Creative writing saya pecah menjadi blogging, fiksi dan content writing. Marketing saya pisah ke marketing online dan sosial media. Sedangkan dunia freelance akan diisi seputar produktivitas dan seluk beluk freelance writer, nggak saya pecah lagi. Saya akan menulis random saja secara umum di situ.

Kalau topik besar blog kamu hanya satu bidang, langsung pecah saja menjadi subkategori-subkategori. Misalnya, topik besarnya adalah blogging. Ya, langsung aja pecah, misalnya SEO, tutorial, freebies, dan seterusnya. Jadi jangan jadikan satu-satunya topik besar menjadi kategori utama. Langsung pecah saja.

Kategori akan memudahkan pembaca blog untuk mendapatkan gambaran yang lengkap mengenai blog kamu. Kalau saya datang ke web atau blog yang baru pertama kali saya datangi, yang selalu saya perhatikan pertama kali adalah kategorinya. Dari situ saya bisa melihat blog tersebut secara keseluruhan. Bahkan, kadang saya bisa langsung juga ‘menghakimi’ sebuah blog, apakah blog tersebut mempunyai semua info yang saya butuhkan atau enggak, layak masuk ke feedreader saya atau enggak, hanya dari kategorinya saja.

So, masih anggap kategori nggak penting? Ya udah, nggak papa. =))

2. Biarkan Pembaca Blog yang Menentukan

Cara lain untuk menentukan kategori adalah dengan meminta bantuan pengunjung blog. Coba buka statistik blog kamu. Lalu perhatikan, artikel mana yang lebih sering dikunjungi? Lebih sering dikomenin orang? Banyak di-trackback?

Barangkali dengan begini, bahkan selain kamu bisa menentukan kategori, kamu juga sekalian bisa me-niche ulang blog kamu lho. Jika ada artikel yang banyak dikunjungi, banyak dikomenin, banyak menjadi rujukan, barangkali kamu harus mulai memikirkan untuk menulis dalam kategori yang sama dengan topik tulisan tersebut. Mungkin bisa menjadikannya artikel seri?

Kalau sudah begini, sudah dicari oleh banyak orang begini, barangkali ini sudah waktunya untuk menjadikan topik tersebut sebagai kategori baru.

Saya juga melalui tahap ini lho. Setiap tulisan dalam blog ini adalah catatan saya saat sedang dalam proses mempelajari sesuatu. Supaya nggak lupa, ya saya tulis. Kali ada yang lain yang butuh juga. Ternyata eh ternyata, ada yang butuh juga dan merasa tulisan saya bisa menjawab pertanyaannya, lalu share. Akhirnya banyak yang mampir dan ngomen. Jadilah saya bikin kategori baru: creative writing. =)) Tadinya sih saya jadikan satu dalam kategori blogging, tapi sekarang creative writing malah jadi kategori utama, sedangkan blogging jadi subkategorinya :D Yang kayak gitu ya sah-sah saja. Yang penting, pembaca mudah menemukan tulisan-tulisan dengan topik yang sama, pun saya lebih gampang menulis karena tahu topik apa saja yang bisa saya tulis di blog ini.

3. Rapikan dan Sempitkan

Sebenarnya juga bukan sempitkan sih, tapi fokuskan.

Sepertinya *sejauh pengamatan* selalu ada jenis-jenis tulisan berikut ini dalam sebuah blog:
  • Jenis tulisan OOT – Out of Topic - yang bahasan artikelnya nggak nyambung sama sekali dengan artikel lain yang sudah kamu tulis. Yang harus kamu tulis dan published, karena ‘terpaksa’. Hmmm, bisa jadi ‘terpaksa’ karena sudah dibayar. Ha! Ada? Ada yang punya tulisan kayak gini?
  • Jenis tulisan yang cuma sedikit jumlahnya dibandingkan jenis tulisan lain. Misalnya, well karena blog ini memang baru umur beberapa bulan, maka ada kategori yang masih kosong, yaitu internet. Baru keisi yang sosial media, itu pun baru 3 artikel. Yang internet marketing masih kosong. Sedianya kategori tersebut akan saya isi dengan berbagai strategi marketing web sih. Tapi saya belum nemu topik yang pas untuk dibahas.
  • Kategori yang diisi 90% dari jumlah postingan yang ada.
Nah, kalau ada yang begini, ini berarti saatnya kita merapikan nih. Tulisan OOT, seharusnya memang harus punya kategori sendiri. Kategori OOT, atau Random, atau Stories (kalau di blog ini). Selalu sediakan kategori semacam ini di blog kamu ya. Buat nampung randomness kita. Bagaimanapun nulis random itu kadang bisa jadi selingan yang menyenangkan kan? Jangan terlalu kenceng juga megang niche blog (buat yang berniche), bisa jadi kapan-kapan kita pengin menulis yang sedikit di luar zona nyaman. Bahkan itu harus lho, biar nggak bosen dan jenuh kan?

Photo via AvaxHome


Untuk jenis tulisan kedua, dilihat dan diamati saja seiring berjalan waktu. Tapi tetep deh kasih deadline. Kalau memang sudah sekian lama, jenis tulisan tersebut tetap aja sedikit banget dibandingkan yang lain, mendingan disatukan saja dengan kategori lain, atau taruh saja di kategori OOT. Supaya kategorisasinya lebih fokus dan lebih ramping.

Untuk kategori yang berisi 90% tulisan, ada baiknya dilihat lagi. Mungkin saja bisa kamu pecah lagi menjadi beberapa subkategori.

Banyak blogger luar yang menyarankan bahwa jumlah artikel kita harus seimbang dalam kategori-kategori tersebut. Nah, di sinilah editorial calendar bisa memainkan perannya secara optimal. Iya kan? :) Sudah baca kan artikel saya tentang editorial calendar?

Memilih Nama Kategori

Cara memilih nama kategori

Nama kategori jelas, ini untuk kebaikan si pemilik blog dan juga pengunjungnya. Untuk si penulis, agar dia punya koridor untuk menulis dan nggak mbleber ke mana-mana bahasannya. Sedangkan untuk pengunjung, untuk memberi gambaran blog secara umum.

Dan, berikut ini sedikit panduan untuk memilih nama kategori blog.

1. Nama yang umum dan gampang dimengerti

Barangkali kita sebagai pemilik blog pengin menamai kategori-kategori dalam blog dengan nama-nama yang unik dan lucu.

Tapi, nama-nama kategori yang lucu barangkali akan membuat pengunjung blog nggak ngerti dan nggak bisa mendapatkan gambaran topik-topik tulisan yang ada dalam kategori tersebut. Pun ini juga nggak akan baik untuk indexing oleh Google. Misalnya, kamu memilih nama kategori “Sihir Web” ketimbang “Desain Web”. Yaaa, iya sih unik dan lucu. Kan katanya kita harus original ya? Tapi ya, nggak banyak yang mencari kategori tersebut di Google, pun kalau ada yang berkunjung juga nggak ngerti maksudnya apa. Iya sih, bisa bikin penasaran. Tapi jumlah yang penasaran dan pengin tahu lebih banyak barangkali tak sebanding dengan yang nggak ngerti dan kemudian mengabaikan.

2. Nama yang sekaligus bisa menjadi keywords

Yep, ini tentu saja akan baik untuk hasil SERP, mendukung SEO banget. Nama kategori erat kaitannya dengan keywords blog, juga navigasi. So, choose it carefully.

3. Konsisten

Dan, ini yang paling penting. Konsistenlah menulis dalam koridor yang sudah ditentukan dalam bentuk kategori ini. Semakin konsisten, maka semakin rigid dan stabil konten yang akan kamu tulis. Maka, branding kamu pun semakin kuat.


Blogging have fun!


Blog yang rapi tentu ibarat rumah yang juga rapi. Bikin betah dan nyaman. Kalau pembaca blog nyaman, pasti akan tertarik untuk membaca-baca artikel yang lain. Dan, ini tentu akan baik buat performa blog bukan? Blog yang rapi, pasti juga akan membuat pemilik blog jadi tambah semangat nulis karena nggak lost dan gagal fokus lagi mau nulis apaan. Harapannya, tentu saja, jadi rajin update. Iya nggak sih?

Dan postingan ini merupakan uraian dalam poin ke-3 dalam Checklist 17 Hal yang Harus Kamu Lakukan dan Pahami Kalau Mau Menjadi Blogger Serius ini.

Nah, selamat merapikan kategori blog ya!
Share
Tweet
Pin
Share
84 comments
Untuk yang Mau Follow Blog Ini


Haeee ...

Kemarin ada beberapa orang yang mengeluhkan, kok di blog ini nggak ada tombol follow atau subscribe-nya.
Iya, template-nya memang nggak oke kalau ditambahin dua gadget tersebut, jadi saya hilangkan. Saya memang mau layout yang clean dan clear, sehingga orang-orang bisa fokus ke tulisannya aja. Yang super simpel.

Kalau mau follow blog ini *aduh, rasanya kepedean ya?* *tutup muka*, bisa ikuti langkah-langkah berikut ini.

Buka  https://www.blogger.com/home setelah kamu login blog kamu.

Laman 'Home' Blogger

Nanti kamu akan berada di halaman dasbor blogger. Scroll ke bawah, kamu akan menemukan Reading List. Di laman tersebut akan kamu lihat tombol 'Add' atau 'Tambahkan'.
Diklik aja.

Akan muncul window popup baru seperti di bawah ini. Tuliskan URL blog ini. Lalu klik 'Follow' atau 'Ikuti'.

Klik 'Follow'

Selesai deh. :)

Gampang ya?

Terima kasih ya, yang sudah menambahkan blog jurnal ini ke Reading List. Semoga saya terus semangat berbagi :D hehehe.

Peace and out.

Share
Tweet
Pin
Share
11 comments
Let's guest blogging!

 

The amazing thing about guest posting really is the amount of people you will meet through it. This means either the comments of your posts or simply the relationship with the people owning the blog. ~ Leo Wildrich


Sudah baca beberapa guest posting yang ada di blog ini kan? Ada beberapa yang sudah tayang, bisa kamu baca di sebelah sini.

Kenapa sih kita harus guest blogging? Ya, nggak harus juga sih. Hanya saja ada beberapa manfaat yang bisa kita dapatkan dari guest blogging ini. Di antaranya adalah kita bisa mendapatkan backlink berkualitas (karena seharusnya dalam artikel guest blogging itu kita diperkenankan menambahkan link ke blog kita meski nggak banyak), dan juga bisa menambah network dan pembaca blog baru. Apalagi kalau kita lagi dalam rangka ngebranding diri sendiri. Guest blogging bisa sangat membantu.

Saya sendiri sudah beberapa kali menulis guest posting untuk blog teman-teman yang lain, seperti di blog Mas Febriyan Lukito, ataupun di blog Mas Dani Rachmat. Guest posting lain yang sampai sekarang saya lakukan adalah di web milik Kumpulan Emak Blogger. Saya juga masih terus mencari di mana saya bisa menulis guest blogging.

Dibayarkah kita untuk menulis guest blogging ini?
Tidak. Ini lebih kepada semangat berbagi, itung-itung 'jual diri', memperkuat personal branding, memperluas networking, dan dapat teman baru. Bonusnya yang terbesar adalah mendapatkan backlink, seperti yang saya sebutkan di atas. You know-lah ya, backlink berkualitas zaman sekarang makin susah didapatkan. Selain dengan blogwalking, menulis guest blogging juga merupakan salah satu cara terbaik untuk bisa mendapatkannya.

Nah, lalu apa saja yang harus diperhatikan kalau mau menulis guest post untuk bisa ditayangkan di blog atau website lain?

Nggak terlalu ribet. Seperti juga menulis untuk media pada umumnya, selalu ada etika nggak tertulis yang harus kita patuhi. Lebih cenderung ke "what to do when and what to do after". Halah apalah apalah. Ya gitu deh pokoknya. Bahasanya gaya bener.

Yuk, coba kita lihat langsung aja "aturan umum" nulis guest posting. Untuk blog penerima guest posting akan saya sebut host ya, sedangkan untuk penulis guest post akan saya sebut ... ya guest-lah.

Quotes and Image via JH Webworks


Etika Umum Menulis Guest Posting di Blog atau Web Lain


1. Perhatikan topik yang diminta oleh host


Sebelum mulai menulis, ada baiknya lihat dulu topik apa saja yang ada dalam blog host.

Cara tahunya gimana?
Coba cari kategorisasi dalam blognya. Ada kan, misal parenting, resep masakan, tutorial dan seterusnya. Nah, dari situ kita bisa lihat topik apa saja yang ditulis oleh host.

Jadi kita harus menulis dalam topik yang ada dalam blog host ya?
Diusahakan begitu. Kalaupun ternyata topik blog host tak sesuai dengan topik yang biasa kita tulis, kita bisa kok menyiasatinya. Misal nih, kita biasa nulis kulineran, sedangkan host punya kategori bahasan film. Nah, kita bisa tuh nulis film-film yang topiknya kuliner. Banyak kan? Jadi memang tergantung kreativitas kita tuh, untuk nge-mix adonan topik.

2. Tanyakan berapa link yang diperbolehkan dalam satu artikel guest blogging


Tanyakan pada host, berapa link minimal dan maksimal yang diperbolehkan dalam satu artikel guest posting. Kalau blogger luar sana sih kebanyakan memperbolehkan ada 4 link dalam body artikel yang menuju ke blog kamu. Nah, supaya lebih clear, ada baiknya ditanyakan dulu. Masing-masing host punya toleransi sendiri-sendiri soalnya.

3. Hormati boundaries dan perhatikan disclaimer host


Meski kita pinter nge-mix topik, tapi juga harus menghargai policy host. Misalnya nih, host tidak menginginkan postingan yang berhubungan sama minuman keras. Maka jangan menulis mengenai topik tersebut, meski sudah dimix dengan topik lain. Jadi, tanyakan apakah ada batasan topik? Apakah ada bahasan tertentu yang 'terlarang' untuk dibahas di blog host?




Quote and Image via Writes and Authors

4. Bring your personality. 


Jangan karena kita menulis di website lain atau di blog orang, lantas kita meninggalkan 'identitas' kita. Jangan ya. Tetaplah menulis sebagai dirimu sendiri. Yang biasa ngocol ya ngocol, yang biasa serius ya serius. Tetap pertahankan apa yang menjadi ciri khas tulisan, mau kayak apa pun akan membawa 'angin segar' untuk blog host.

5. No plagiarism!


Ini jelas banget!

Tulisan kamu harus original, dan belum ditayangkan di blog kamu. Ini, selain menghindari kena hukuman Google karena double content, juga penting untuk memperlihatkan bahwa kamu menghargai blog milik host. Siapa sih yang mau menerima 'tulisan bekas'? Nggak ada.

Begitu juga dengan ilustrasi atau image yang kita pakai dalam artikel guest blogging. Kalau dalam tulisan kita ada image-image yang kita ambil atau comot dari website lain, jangan lupa untuk menyertakan link sumber image tersebut ya. Saya sendiri nggak mentolerir image comotan tanpa sumber :) Nggak bagus buat citra blog.

6. Promote!


Nah, setelah tulisan guest posting kita dipublish oleh host, promosiin dong :D Kan biar banyak yang baca. Biar host juga ngerasain 'angin segar' yang kita bawa :D Ini kan simbiosis mutualisme. Jadi ayo ayo, promosikan ke semua medsos yang kamu punya :D


Quotes and Images via JH Webworks


7. Balas komen 


Dan, setelah dipublish, ada baiknya dalam beberapa hari sekali kita sempatkan waktu untuk mengecek apakah ada komen yang masuk menanggapi artikel kita tersebut. Kalau ada, segera balas komen itu. Yaaa, kurang lebih perlakukanlah seperti kalau ada komen yang mampir ke blog kita sendiri. Kan akan di-reply kan? Atau enggak? Ehehehe.

Nah, nggak berbeda jauhlah sama yang sering kita lakukan biasanya di blog sendiri kan?

Dan ada beberapa web atau blog besar yang menerima guest posting, lho! Tapi entar aja deh, saya post dalam artikel tersendiri aja ya.

Meanwhile ... ada yang tertarik untuk menulis guest post di blog ini? Iya, saya juga menerima guest posting. Syaratnya tentu saja ada, di antaranya topiknya adalah seputar blogging, creative writing, marketing, freelancer's life seperti yang sudah ada di kategori-kategori di atas. Selain itu, saya mengizinkan ada 1 link keluar menuju ke blog kamu (dan link-nya dofollow), namun tidak menuju blog atau web yang dikomersialkan. Yep, hanya boleh menuju ke blog pribadi kamu aja. Hal-hal lain bisa deh nanti dibicarakan via japri, karena akan berbeda-beda untuk jenis tulisan. Saya juga berhak untuk tidak menayangkan artikel guest berdasarkan pertimbangan yang mungkin bersifat subjektif. Jadi, silakan hubungi saja kalau mau nanya-nanya :)

Nah, kalau mau menulis guest posting untuk blog ini, sila kirimkan artikel kamu via email ke mommycarra@yahoo.com, dalam format .doc atau .docx. Sertakan ilustrasinya kalau ada, jangan lupa sumbernya.

Happy writing!
Share
Tweet
Pin
Share
33 comments
Alasan Utama Seorang Content Writer Membutuhkan Editorial Calendar

Beberapa waktu yang lalu, saya mengajukan pertanyaan serius nggak serius di Facebook.

Mau nulis di blog CarolinaRatri.com.
Pada pengin ditulisin soal atau topik apa?

Yailah. Gegayaan banget, bukan, saya nanya begituan? :)) Biasanya juga langsung tulis aja, apa yang pengin ditulis. Tapi ya, saat itu emang pengin tahu sih, orang-orang sebenarnya kepo soal apa. Kan salah satu cara buat menghasilkan tulisan yang viral adalah riding the trend. Iya nggak? Eheum.
Dan kemudian, muncullah beberapa jawaban atas pertanyaan saya itu. Salah satunya, tentang manajemen posting di blog, juga ada yang nanyain "manajemen Carolina Ratri buat nulis dan mengelola blog-blognya".

Ealahhhh ... Saya jadi tersandung. :)))

Sebenarnya jawaban dari dua topik tersebut sama, dan cuma satu. Yaitu, saya menggunakan editorial calendar, atau bisa juga disebut blog planner.

Wih, gaya beneur yah pakai editorial calendar! Macam majalah aja.
Well, bro and sis, satu hal yang saya tekankan. Kalau mau blog kamu dianggap serius, maka kamu juga harus serius dan total dalam mengerjakannya.

Ah, saya kan blogger. Bukan content writer.
Hmmm, bukannya blogger itu juga seorang penulis konten? Kan, bikin konten juga kan?

Tapi ... tapi ... saya kan penulis. Bukan pengelola web, ataupun bukan editor.
Hmmm, masa iya sih penulis zaman sekarang kok cuma mau nurut aja sama mood? :) Editorial calendar bisa bantu kamu mengalahkan mood lho!

Nggak percaya?


Saya sendiri selalu serius dalam mengerjakan banyak hal, kalau memang saya sudah niat dan bilang saya mau kerjakan, termasuk blog (termasuk portal web). Salah satunya dengan memakai editorial calendar ini. Sebenarnya saya menggunakannya ini buat mengelola portal web yang super sibuk itu sih :P Tapi lama kelamaan saya pakai juga buat mengelola blog saya. Ya, gimana lagi, kalau memang mau ternak blognya berjalan baik ya semua harus direncanakan dengan serius kan?

Ada beberapa alasan saya punya, mengapa akhirnya saya merasa harus menggunakan blog planner atau editorial calendar ini.



1. Lebih konsisten dan fokus

Sudah ngerasain sendiri kan, paling susah dalam ngeblog itu adalah yang berkaitan dengan konsistensi. Well, mungkin seenggaknya buat saya sih. 

Editorial calendar membantu banget untuk konsisten nulis, dan juga fokus pada topik yang pengin saya nulis. Dulu saya sih nunggu datangnya ide tulisan. Sekarang nggak bisa lagi. Saya harus bisa menemukan ide-ide secepat mungkin.

Nah, editorial calendar ini memang membantu banget. Bahkan dengan mudahnya, saya bisa menemukan ide-ide bertebaran di mana-mana. Nggak perlu jauh-jauh, ide itu sering saya temukan di blog sendiri, di Twitter sendiri, di Facebook sendiri. Ide-ide tulisan itu saya kumpulkan dalam satu agenda, dan kemudian pas waktunya saya bikin editorial calendar tinggal saya plot ke masing-masing porsi.

So, mau one day one post? Ayo aja sih, kalau dari sisi ide :))) Kalau soal waktu, itu lain lagi. *alesyan*

Dulu saya sering galau karena terlalu banyak loncatan ide random nggak jelas. Percaya atau enggak, it hurts. Ah, dramatis sekali kayaknya ya. Tapi beneran, kepala yang riuh itu bikin capek, dan harus segera dikeluarkan. Dengan editorial calendar, sekarang saya lebih tenang kalau nulis. Kalau ada ide tiba-tiba loncat, tinggal tangkap dan langsung masukkan ke planner.


2. Tahu peta trend terbaru

Salah satu predictable trend biasanya adalah yang berdasarkan tanggal. Dan, dengan editorial calendar kita tahu banget kapan itu International Women's Day, kapan itu International Children's Book Day, bahkan kapan bakalan ada New York Fashion Week atau kapan Academy Award akan dilangsungkan, bahkan beberapa bulan sebelumnya. 

Yang sudah sering nulis konten pasti tahu banget, bahwa salah satu jurus membuat konten viral adalah riding the trend. Menunggangi trend. Lagi musim trailer AADC? Coba deh, nulis tentang AADC. Dan lain sebagainya.

Dari mana bisa dapat tanggal-tanggal ini? Kalau yang internasional sih bisa didapatkan dengan mudah kok. Search aja dengan keyword 'editorial calendar'. Akan banyak result yang muncul. Yang lokal Indonesia? Rada susah sih, paling yang ada yang daftar hari-hari peringatan nasional. Tapi itu juga lumayan sih. Semoga segera ada yang memetakan hari-hari penting di luar itu ya.


3. Manajemen multiblog lebih mudah

Ada yang hobi ternak blog? Sama dong kita! Hehehe.

Banyak yang nanya ke saya, gimana caranya saya bisa nulis di begitu banyak blog dengan niche sendiri-sendiri? Masih sempat juga nulis buat portal web atau website brand? Ah, #berkahngeblog. #eaaa :)))) #sekalisekalipamer #kebanyakanhashtaglumak

Jawabannya, ya karena saya punya skedul sendiri di editorial calendar saya. Senin saya urus blog apa, Selasa yang mana, Rabu di mana ... ada semua sampai Jumat. Sabtu dan Minggu? Saya pakai buat bikin planning dan sedikit evaluasi. Buat brainstorming, nemu ide-ide baru.

Ah, the art of being melancholic. Semuanya serba teratur dan terjadwal ya :)) Pasti juga banyak yang mikir, duh, nggak woles amat ya hidupnya. Apa-apa diatur jadwal. Padahal ini justru woles banget, karena jadwal. Kalau enggak, ....


4. Nggak pernah ada writer's block

Nggak nulis karena nggak punya ide? 
Dengan editorial calendar, kamu nggak akan pernah lagi mengalaminya. Selalu saja ada yang bisa ditulis. Percaya kan, practice makes perfect? Percaya kan, dengan semakin banyak dan semakin sering kita nulis, maka kita pun semakin peka dan mudah mendapatkan ide?

Itu semua bisa kita lakukan dengan editorial calendar ini. Karena itu, jangan lupa sisakan waktu satu hari hanya untuk brainstorming. Untuk liat, bakalan ada event apa setidaknya seminggu ke depan. Jangan lupa untuk taruh segera di planner ya.


5. No more procrastinating

Ini penyakit saya banget, dan mungkin penyakit untuk beberapa orang (baca: blogger).

Ikut lomba. Ah, ntar ah nulisnya. Mepet deadline aja.
Dapat tulisan pesanan. Ah, ntar ah nulisnya. Belum ditagih.

Hoho. Siapa deh yang suka gitu? Well, saya juga kok :P Kayaknya procrastinating ini memang hobi setiap orang ya? Tapi dengan planner, kita biasanya akan dipaksa untuk mematuhi apa yang sudah kita rencanakan.

Yah, seenggaknya kita bisa mengurangi kebiasaan inilah ya. Karena saya pun masih juga suka cari-cari alasan buat menunda hahahaha.


6. Manajemen waktu dengan tugas lain juga lebih mudah

Editorial calendar, selain memudahkan "tugas" ngonten juga memudahkan kita untuk membagi waktu dengan tugas harian yang lain. Menjadi penulis konten, bisa jadi kita harus menulis atau harus mengedit 2 - 3 artikel setiap hari. Rada ajaib kalau nggak dibantu dengan tool semacam editorial calendar ini.

Hanya saja, memang kita harus bisa disiplin melaksanakannya.
Maksudnya, ya saat nulis ya harus nulis beneran. Saatnya masak, ya masak. Saatnya jemput sekolah ya jemput sekolah.

Emangnya tugas-tugas itu juga harus ditulis di editorial calendar?
Ya enggak. Tapi dengan melihatnya, kita jadi tahu, kapan waktu nulis, dan kapan kita melakukan aktivitas yang lain. 


7. Karena ngonten juga butuh strategi

Content topics are strategies.
Topik konten adalah strategi untuk sebuah blog atau web. Apalagi buat blog yang pengin dikomersialkan dengan fokus pada kontennya. 

Selain itu, ada berbagai usaha yang harus kita lakukan selain menulis, kalau mau konten kita 'laku'. Salah satunya kita harus melakukan promosi konten. Share di media sosial, ngiklan mungkin? Banyak cara distribusinya (dan saya lagi berusaha mempelajari cara distribusi konten yang lebih efektif).

Strategi ngonten dan juga promosinya, hanya bisa kita lihat secara keseluruhan saat kita sedang menatap editorial calendar. Semacam lagi menghadapi papan catur, dan sedang memutuskan pion mana yang maju duluan.
Ealah. Analogi yang aneh.
Tapi ya, kurang lebih begitulah ya.


Nah, harusnya sih terus diikuti dengan cara plotting editorial calendar ya. Tapi kayaknya bakalan kepanjangan deh. Hehehe. Karena itu, saya akan menuliskannya di artikel berikutnya. Semoga sih, nggak terlalu lama ;)

Semoga semua alasan di atas bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan pada saya sebelumnya ya :)
Dan, semoga bisa membantu para blogger moody yang pengin serius menulis di blog, atau para content writer yang kesulitan menemukan ide atau waktu untuk menulis.

Selamat menulis!
Share
Tweet
Pin
Share
48 comments
Ini Dia Beberapa Prediksi Perkembangan SEO di Tahun 2016 yang Harus Dicatat

Tulisan ini pernah ditayangkan di www.RedCarra.com

Tahun 2016 pasti akan banyak perkembangan terjadi, apalagi di dunia teknologi ya. Dan yang paling cepat perkembangannya apalagi kalau bukan di internet. Hmmm, terutama SEO.

Sebenarnya kalau kayak saya nulis di blog ini, nggak terlalu mikirin SEO sih. Saya lebih mikirin, gimana caranya supaya blog ini enak dibaca. Tapi justru malah di proyek yang lain, saya mau nggak mau harus mikirin SEO. Meski juga nggak terlalu yang berat-berat. Karena tugas saya hanya menyediakan tulisan yang bagus dan viral aja di sana. Tapi ya, mau nggak mau, ya saya harus merhatiin juga SEO-nya.

Nah, kalau kamu yang memang mempunyai fokus mengenai hal ini di blog kamu, barangkali informasi ini bisa sedikit bermanfaat. Yaitu, mengenai perkembangan SEO di tahun 2016. Karena you know-lah, Google itu rajin banget mengubah algoritma pencariannya. Yang dulu masih oke, ternyata sekarang nggak lagi. Google juga mengeluarkan banyak update yang menyarankan jangan lakukan ini itu dalam website, atau sebaiknya begini beginu di website. Ada mobile-geddon, ada Google Penguin, Google Panda, dan sekarang ada juga Google Pigeon.

Terus, mau tahu nggak prediksi perkembangan SEO nanti di tahun 2016?

Wehhh, sebentar. Ini bukan saya yang meramal loh :)) Apalah saya. Prediksi ini saya ambil dari artikel di Lifehack. Di sini tepatnya. Saya coba bantu terjemahin secara bebas ya, semoga nggak ada yang keliru. CMIIW.

1. Situs-situs yang mobile-friendly akan terus menjadi yang utama


Yep, ini sudah dimulai awal tahun 2015 ini ya. Mobilegeddon merupakan algoritma Google yang diluncurkan di awal tahun 2015 yang bertugas untuk menyesuaikan hasil pencarian situs-situs dengan fokus ke situs yang mobile friendly lebih dulu. Artinya lagi, kalau situs kamu nggak mobile friendly ya nggak usah kaget kalau nggak muncul duluan di hasil pencarian Google.

Jadi, tetap pastikan situs atau blog kamu mobile friendly ya. Kamu bisa coba tes di sini nih. Apakah cukup mobile friendly sekarang?

2. Voice search


Nah, ini berhubungan dengan requirement untuk mobile friendly di atas.

Orang-orang yang berselancar dengan handphone, smartphone, tablet, akan melakukan pencarian dengan voice search. Ya, logikanya mereka nggak suka mencari dengan menulis/mengetik, karena bisa saja saat itu tangan mereka yang lain lagi sibuk melakukan hal lain. Misalnya lagi masak, terus nyari resep. Tangan kiri nguleni adonan, tangan kanan nyari resep. Eh, mungkin nggak sih itu? :lol: Saya sih belum pernah kayak gitu.

Yah pokoknya gitu deh. Dengan demikian, people tend to use Siri, Google Now atau Cortana untuk mencari informasi dalam kondisi mobile. Nah, saya juga belum tahu nih, gimana implikasinya di website atau blog. Struktur data mana yang harus diulik. Barangkali yang lebih expert ada yang bisa menjelaskan? :)

3. Local search


Ini inti dari Google Pigeon. Sependek yang saya tahu, algoritma Google Pigeon adalah algoritma yang masih terus dikembangkan oleh Google dengan fokus pada hasil pencarian lokal. Ini, kalau saya nggak salah menarik kesimpulan dari beberapa bacaan sumber yang saya dapatkan, Google memfokuskan hasil pencarian ke web-web berdomain lokal semacam web.id atau co.id. Nah, makanya blogspot.com juga sekarang jadi blogspot.co.id. Kalau kita ketik xxx.blogspot.com dengan menggunakan IP Indonesia, kan langsung ke-direct ke blogspot.co.id kan?

Jadi, akan lebih baik, sekarang kalau kamu mau bikin website pakailah domain lokal, ada .co.id, web.id, ada yang cukup .id aja. Apalagi kalau target market kamu adalah lokal, atau hanya mencakup Indonesia aja. Ini sangat menguntungkan nanti posisinya di hasil pencarian gara-gara Google Pigeon ini.

4. SEO semakin bergantung pada bentuk digital marketing lainnya


Intinya, semoga saya nggak saya menginterpretasikan, mau optimasi SEO kayak apa pun kalau nggak diintegrasikan dengan social media marketing juga nggak akan menolong. Jadi, yang malas share di media sosial, coba sekarang mulai ditambah rajin share. Terutama sih di Google+. Padahal ya, dari semua media sosial yang sudah saya coba, Google+ ini paling susah euy menurut saya. Nyetting-nya susah, nge-automatisasi-nya juga susah. Saya sudah berusaha ngutak atik, tapi kok ya belum berhasil sampai sekarang. Hmpf. Padahal konon sih, dari luar Google+ ini kayaknya sepi-sepi aja yah. Tapi kalau kita liat 'dalemannya', ternyata bisa menyumbang trafik yang cukup besar. Ini konon lho. Saya sendiri belum bisa membuktikan. Ya itu tadi, masih belum bisa betah ngulik di sana. Havft.

5. Bing akan menjadi kompetitor utama Google


Ada berapa banyak di sini yang pakai Bing untuk tempat nanya info?

Hmmm, kok kayaknya agak jarang yah? Tapi nggak tahu deh, Lifehack memasukkan Bing menjadi kompetitor utama Google sebagai search engine. Ada sih alasannya di artikel yang sudah saya tautkan di atas. Saya hanya mikir, kalau di Indonesia ada berapa banyak sih yang pakai Bing? Saya pribadi malah nggak pernah tuh pakai Bing. Barangkali kapan-kapan mau pakai Bing sebagai alternatif lah.


Nah, itu dia 5 prediksi perkembangan SEO di tahun 2016 menurut Lifehack.

Kamu, yang menganggap prediksi ini sangat penting untuk kemudian di-follow up, silakan mulai bersiap-siap dari sekarang. Sedangkan kamu, yang nggak anggap ini sebagai hal terpenting dalam aktivitas kamu berselancar virtual, ya anggap saja sebagai tambahan pengetahuan ;)

Semangat!
Share
Tweet
Pin
Share
11 comments
Newer Posts
Older Posts

Cari Blog Ini

About me





Content & Marketing Strategist. Copy & Ghost Writer. Editor. Illustrator. Visual Communicator. Graphic Designer. | Email for business: mommycarra@yahoo.com

Terbaru!

Tolong! Otak Saya Butuh Tombol Off

Ada hari ketika ide bisa muncul di mana saja. Lagi kerja, kepikiran satu hal. Lagi mandi, muncul ide lain. Saat jalan, tiba-tiba terpikir ju...

Postingan Populer

  • Yang Harus Blogger Ketahui Mengenai Link Eksternal - The Bloggers' Biggest Fear
    Warning: artikel ini akan panjang. Tapi I guaranteed, akan membahas hingga ke detail mengenai outbound links atau link eksternal. Karena...
  • 7 Kesalahan Umum yang Sering Dilakukan oleh Kita Saat Membuat Laman About Me
    7 Kesalahan Umum yang Sering Dilakukan oleh Kita Saat Membuat Laman About Me Baiklah. Ini bahasan kesekian dalam topik apa saja yang h...
  • 15 Ide Style Feed Instagram yang Bisa Kamu Sontek Supaya Akunmu Lebih Stylish
    Hae! Kemarin saya sudah bahas mengenai do's and donts dalam mengelola akun Instagram , terus ada pertanyaan yang mampir, "Ka...
  • Beberapa Etika Meninggalkan Komentar yang Baik di Artikel Lain Agar Menambah Nilai untuk Blog Kamu
    Yuk, tinggalkan komen yang memberi nilai tambah bagi blog kita sendiri! Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menulis tentang beberapa...
  • Ukuran Feed Instagram 6 Kotak dan Cara Membuatnya Tanpa Ribet
    Eits. Bukan, ini bukan fitur baru. Ada yang nanya soal feed Instagram 6 kotak dari Google, masuk deh ke Console. Hehehe. Iya, ini bukan fitu...

Blog Archive

Portofolio

  • Buku Mayor
  • Portfolio Konten
  • Portfolio Grafis
  • Konten Web
  • Copywriting
  • E-book
  • Buku Fiksi
  • Ilustrasi

Follow Me

  • instagram
  • Threads

Created with by ThemeXpose