![]() |
| Kategorisasi yang rapi akan membentuk navigasi blog yang rapi juga |
Salah satu faktor yang sedari dulu selalu disebutkan dalam berbagai tutorial blogging ataupun SEO di mana pun, supaya lebih disukai oleh Mbah Google dan juga lebih readable, blog atau website kita harus mempunyai navigasi yang baik.
Ya, kalau dilogika, ya ibarat rumah, penataan masing-masing ruangnya harus menyamankan penghuni dan juga harus memenuhi beberapa syarat juga kan? Begitu juga web dan blog.
Nah, salah satu cara untuk bisa memperoleh navigasi yang baik adalah pengkategorian tulisan. Yah, banyak pembaca blog juga menggunakan kategori untuk menemukan tulisan-tulisan yang jenisnya sama.
Barangkali memang sayanya sih yang OCD, jadi memang lebih suka kategorisasi tulisan yang rapi dan jelas. Ada yang punya banyak kategori di blognya? Atau malah nggak tahu beda kategori dan tag atau label?
Sebenarnya prinsipnya sama saja sih, yaitu memberikan pemisahan dan pengelompokan terhadap tulisan. Kalau di blogspot, kategori dan tag sama saja dalam label. Sedangkan kalau di wordpress ada pemisahan antara kategori dan tag. Lalu apa beda keduanya?
| Photo via Web Strategies |
Saya kira lebih singkatnya begini. Kategori adalah pengelompokan lebih umum, sedangkan tag itu lebih detail. Misalnya, kamu menulis tentang resep kue. Barangkali kategorinya bisa dimasukkan ke dalam Baking atau Cake. Sedangkan tag-nya adalah cokelat, hidangan penutup, resep kue mudah dan seterusnya. Jadi tag ini kadang memang dipakai untuk menyiasati keyword. Hanya saja kalau kategori, menjadi short tail keyword. Tag merupakan long tail keyword.
Terus, mana yang lebih baik dicantumkan di sidebar atau halaman muka blog atau website? Tentu saja kategori. Tag bisa panjang dan setiap postingan bisa beda-beda. Kebayang kan kalau di sidebar ada tag? Bakalan numpuk panjaaang ... dan itu nggak bakalan nyaman dilihat. So, biasanya banyak yang lebih memilih kategori saja untuk dipajang di menubar atas ataupun di sidebar.
Nah, biasanya, yang punya banyak kategori di blognya itu karena nggak mikirin hirarki dan struktur blog sejak awal bikin blog. Barangkali juga dari awal nggak tahu mau ngeblog apa, atau mau bahas apaan di blog. Jadi, kategorisasi pun berkembang seiring tulisan yang juga bertambah. Dan, saking gado-gadonya semua punya kategori sendiri-sendiri. Terus, tahu-tahu, kategorinya panjang banget dan sambung menyambung menjadi satu. Terus, akhirnya bingung, misahinnya.
Ya udah, nggak usah pakai kategori aja. Hahaha. Ya nggak apa-apa, semua kan pilihan. Tapi, kalau mau kategorinya rapi, barangkali kamu bisa memakai cara berikut ini.
Bagaimana Memilih dan Memberi Nama Kategori dalam Blog
Sebenarnya, ada berapa banyak kategori sih maksimal dalam blog kita?
Relatif. Jumlah kategori bisa bervariasi, tapi untuk saya pribadi, makin ringkas dan makin sedikit menandakan bahwa blog kita makin fokus dalam topiknya. Sehingga niche-nya makin menyempit dan lebih fokus juga, meski aslinya ya gado-gado. Saya sendiri punya 4 kategori utama di blog ini, yang kemudian masing-masing punya subkategori. Di blog saya yang lama dan sudah almarhum itu ada belasan kalau nggak salah ingat. Namun beberapa blogger luar menyarankan kategori blog nggak lebih dari 10 saja. Silakan disesuaikan saja dengan kebutuhan kamu, tapi ya itu tadi, less is more.
Terus, gimana cara menentukan kategori-kategori ini?
![]() |
| Cara Menentukan Kategori |
1. Ajukan Pertanyaan
Cara terbaik untuk memahami blog kamu sendiri adalah dengan bertanya pada diri sendiri. Apa tema besar blog kamu? Gado-gado? That’s ok. Dalam topik gado-gado itu, kamu bahas apa saja? Resep? Parenting? Resensi buku? Jangan lupa sediakan juga satu kategori di mana kamu bisa menaruh tulisan-tulisan yang random, karena jenis tulisan ini selalu ada di blog mana pun. Hahaha.Itu untuk blog lifestyle atau gado-gado. Nah, kalau yang topik blognya lebih spesifik tentu lebih gampang kan? Kayak di blog ini, topiknya adalah creative writing, marketing dan freelance, sesuai dengan dunia yang saya geluti sekarang. Maka, creative writing, marketing dan freelance menjadi kategori besar yang harus terlihat lebih dulu.
Baru kemudian saya pecah masing-masing menjadi subkategori. Creative writing saya pecah menjadi blogging, fiksi dan content writing. Marketing saya pisah ke marketing online dan sosial media. Sedangkan dunia freelance akan diisi seputar produktivitas dan seluk beluk freelance writer, nggak saya pecah lagi. Saya akan menulis random saja secara umum di situ.
Kalau topik besar blog kamu hanya satu bidang, langsung pecah saja menjadi subkategori-subkategori. Misalnya, topik besarnya adalah blogging. Ya, langsung aja pecah, misalnya SEO, tutorial, freebies, dan seterusnya. Jadi jangan jadikan satu-satunya topik besar menjadi kategori utama. Langsung pecah saja.
Kategori akan memudahkan pembaca blog untuk mendapatkan gambaran yang lengkap mengenai blog kamu. Kalau saya datang ke web atau blog yang baru pertama kali saya datangi, yang selalu saya perhatikan pertama kali adalah kategorinya. Dari situ saya bisa melihat blog tersebut secara keseluruhan. Bahkan, kadang saya bisa langsung juga ‘menghakimi’ sebuah blog, apakah blog tersebut mempunyai semua info yang saya butuhkan atau enggak, layak masuk ke feedreader saya atau enggak, hanya dari kategorinya saja.
So, masih anggap kategori nggak penting? Ya udah, nggak papa. =))
2. Biarkan Pembaca Blog yang Menentukan
Cara lain untuk menentukan kategori adalah dengan meminta bantuan pengunjung blog. Coba buka statistik blog kamu. Lalu perhatikan, artikel mana yang lebih sering dikunjungi? Lebih sering dikomenin orang? Banyak di-trackback?Barangkali dengan begini, bahkan selain kamu bisa menentukan kategori, kamu juga sekalian bisa me-niche ulang blog kamu lho. Jika ada artikel yang banyak dikunjungi, banyak dikomenin, banyak menjadi rujukan, barangkali kamu harus mulai memikirkan untuk menulis dalam kategori yang sama dengan topik tulisan tersebut. Mungkin bisa menjadikannya artikel seri?
Kalau sudah begini, sudah dicari oleh banyak orang begini, barangkali ini sudah waktunya untuk menjadikan topik tersebut sebagai kategori baru.
Saya juga melalui tahap ini lho. Setiap tulisan dalam blog ini adalah catatan saya saat sedang dalam proses mempelajari sesuatu. Supaya nggak lupa, ya saya tulis. Kali ada yang lain yang butuh juga. Ternyata eh ternyata, ada yang butuh juga dan merasa tulisan saya bisa menjawab pertanyaannya, lalu share. Akhirnya banyak yang mampir dan ngomen. Jadilah saya bikin kategori baru: creative writing. =)) Tadinya sih saya jadikan satu dalam kategori blogging, tapi sekarang creative writing malah jadi kategori utama, sedangkan blogging jadi subkategorinya :D Yang kayak gitu ya sah-sah saja. Yang penting, pembaca mudah menemukan tulisan-tulisan dengan topik yang sama, pun saya lebih gampang menulis karena tahu topik apa saja yang bisa saya tulis di blog ini.
3. Rapikan dan Sempitkan
Sebenarnya juga bukan sempitkan sih, tapi fokuskan.Sepertinya *sejauh pengamatan* selalu ada jenis-jenis tulisan berikut ini dalam sebuah blog:
- Jenis tulisan OOT – Out of Topic - yang bahasan artikelnya nggak nyambung sama sekali dengan artikel lain yang sudah kamu tulis. Yang harus kamu tulis dan published, karena ‘terpaksa’. Hmmm, bisa jadi ‘terpaksa’ karena sudah dibayar. Ha! Ada? Ada yang punya tulisan kayak gini?
- Jenis tulisan yang cuma sedikit jumlahnya dibandingkan jenis tulisan lain. Misalnya, well karena blog ini memang baru umur beberapa bulan, maka ada kategori yang masih kosong, yaitu internet. Baru keisi yang sosial media, itu pun baru 3 artikel. Yang internet marketing masih kosong. Sedianya kategori tersebut akan saya isi dengan berbagai strategi marketing web sih. Tapi saya belum nemu topik yang pas untuk dibahas.
- Kategori yang diisi 90% dari jumlah postingan yang ada.
| Photo via AvaxHome |
Untuk jenis tulisan kedua, dilihat dan diamati saja seiring berjalan waktu. Tapi tetep deh kasih deadline. Kalau memang sudah sekian lama, jenis tulisan tersebut tetap aja sedikit banget dibandingkan yang lain, mendingan disatukan saja dengan kategori lain, atau taruh saja di kategori OOT. Supaya kategorisasinya lebih fokus dan lebih ramping.
Untuk kategori yang berisi 90% tulisan, ada baiknya dilihat lagi. Mungkin saja bisa kamu pecah lagi menjadi beberapa subkategori.
Banyak blogger luar yang menyarankan bahwa jumlah artikel kita harus seimbang dalam kategori-kategori tersebut. Nah, di sinilah editorial calendar bisa memainkan perannya secara optimal. Iya kan? :) Sudah baca kan artikel saya tentang editorial calendar?
Memilih Nama Kategori
![]() |
| Cara memilih nama kategori |
Nama kategori jelas, ini untuk kebaikan si pemilik blog dan juga pengunjungnya. Untuk si penulis, agar dia punya koridor untuk menulis dan nggak mbleber ke mana-mana bahasannya. Sedangkan untuk pengunjung, untuk memberi gambaran blog secara umum.
Dan, berikut ini sedikit panduan untuk memilih nama kategori blog.
1. Nama yang umum dan gampang dimengerti
Barangkali kita sebagai pemilik blog pengin menamai kategori-kategori dalam blog dengan nama-nama yang unik dan lucu.Tapi, nama-nama kategori yang lucu barangkali akan membuat pengunjung blog nggak ngerti dan nggak bisa mendapatkan gambaran topik-topik tulisan yang ada dalam kategori tersebut. Pun ini juga nggak akan baik untuk indexing oleh Google. Misalnya, kamu memilih nama kategori “Sihir Web” ketimbang “Desain Web”. Yaaa, iya sih unik dan lucu. Kan katanya kita harus original ya? Tapi ya, nggak banyak yang mencari kategori tersebut di Google, pun kalau ada yang berkunjung juga nggak ngerti maksudnya apa. Iya sih, bisa bikin penasaran. Tapi jumlah yang penasaran dan pengin tahu lebih banyak barangkali tak sebanding dengan yang nggak ngerti dan kemudian mengabaikan.
2. Nama yang sekaligus bisa menjadi keywords
Yep, ini tentu saja akan baik untuk hasil SERP, mendukung SEO banget. Nama kategori erat kaitannya dengan keywords blog, juga navigasi. So, choose it carefully.3. Konsisten
Dan, ini yang paling penting. Konsistenlah menulis dalam koridor yang sudah ditentukan dalam bentuk kategori ini. Semakin konsisten, maka semakin rigid dan stabil konten yang akan kamu tulis. Maka, branding kamu pun semakin kuat.![]() |
| Blogging have fun! |
Blog yang rapi tentu ibarat rumah yang juga rapi. Bikin betah dan nyaman. Kalau pembaca blog nyaman, pasti akan tertarik untuk membaca-baca artikel yang lain. Dan, ini tentu akan baik buat performa blog bukan? Blog yang rapi, pasti juga akan membuat pemilik blog jadi tambah semangat nulis karena nggak lost dan gagal fokus lagi mau nulis apaan. Harapannya, tentu saja, jadi rajin update. Iya nggak sih?
Dan postingan ini merupakan uraian dalam poin ke-3 dalam Checklist 17 Hal yang Harus Kamu Lakukan dan Pahami Kalau Mau Menjadi Blogger Serius ini.
Nah, selamat merapikan kategori blog ya!











