Mau Rapiin Kategorisasi Blog yang Berantakan? Cobain Cara Berikut!

by - April 06, 2016

Kategorisasi yang rapi akan membentuk navigasi blog yang rapi juga


Salah satu faktor yang sedari dulu selalu disebutkan dalam berbagai tutorial blogging ataupun SEO di mana pun, supaya lebih disukai oleh Mbah Google dan juga lebih readable, blog atau website kita harus mempunyai navigasi yang baik.

Ya, kalau dilogika, ya ibarat rumah, penataan masing-masing ruangnya harus menyamankan penghuni dan juga harus memenuhi beberapa syarat juga kan? Begitu juga web dan blog.
Nah, salah satu cara untuk bisa memperoleh navigasi yang baik adalah pengkategorian tulisan. Yah, banyak pembaca blog juga menggunakan kategori untuk menemukan tulisan-tulisan yang jenisnya sama.
Barangkali memang sayanya sih yang OCD, jadi memang lebih suka kategorisasi tulisan yang rapi dan jelas. Ada yang punya banyak kategori di blognya? Atau malah nggak tahu beda kategori dan tag atau label?

Sebenarnya prinsipnya sama saja sih, yaitu memberikan pemisahan dan pengelompokan terhadap tulisan. Kalau di blogspot, kategori dan tag sama saja dalam label. Sedangkan kalau di wordpress ada pemisahan antara kategori dan tag.  Lalu apa beda keduanya?

Photo via Web Strategies


Saya kira lebih singkatnya begini. Kategori adalah pengelompokan lebih umum, sedangkan tag itu lebih detail. Misalnya, kamu menulis tentang resep kue. Barangkali kategorinya bisa dimasukkan ke dalam Baking atau Cake. Sedangkan tag-nya adalah cokelat, hidangan penutup, resep kue mudah dan seterusnya. Jadi tag ini kadang memang dipakai untuk menyiasati keyword. Hanya saja kalau kategori, menjadi short tail keyword. Tag merupakan long tail keyword.

Terus, mana yang lebih baik dicantumkan di sidebar atau halaman muka blog atau website? Tentu saja kategori. Tag bisa panjang dan setiap postingan bisa beda-beda. Kebayang kan kalau di sidebar ada tag? Bakalan numpuk panjaaang ... dan itu nggak bakalan nyaman dilihat. So, biasanya banyak yang lebih memilih kategori saja untuk dipajang di menubar atas ataupun di sidebar.

Nah, biasanya, yang punya banyak kategori di blognya itu karena nggak mikirin hirarki dan struktur blog sejak awal bikin blog. Barangkali juga dari awal nggak tahu mau ngeblog apa, atau mau bahas apaan di blog. Jadi, kategorisasi pun berkembang seiring tulisan yang juga bertambah. Dan, saking gado-gadonya semua punya kategori sendiri-sendiri. Terus, tahu-tahu, kategorinya panjang banget dan sambung menyambung menjadi satu. Terus, akhirnya bingung, misahinnya.

Ya udah, nggak usah pakai kategori aja. Hahaha. Ya nggak apa-apa, semua kan pilihan. Tapi, kalau mau kategorinya rapi, barangkali kamu bisa memakai cara berikut ini.

Bagaimana Memilih dan Memberi Nama Kategori dalam Blog


Sebenarnya, ada berapa banyak kategori sih maksimal dalam blog kita?
Relatif. Jumlah kategori bisa bervariasi, tapi untuk saya pribadi, makin ringkas dan makin sedikit menandakan bahwa blog kita makin fokus dalam topiknya. Sehingga niche-nya makin menyempit dan lebih fokus juga, meski aslinya ya gado-gado. Saya sendiri punya 4 kategori utama di blog ini, yang kemudian masing-masing punya subkategori. Di blog saya yang lama dan sudah almarhum itu ada belasan kalau nggak salah ingat. Namun beberapa blogger luar menyarankan kategori blog nggak lebih dari 10 saja. Silakan disesuaikan saja dengan kebutuhan kamu, tapi ya itu tadi, less is more.

Terus, gimana cara menentukan kategori-kategori ini?



Cara Menentukan Kategori

1. Ajukan Pertanyaan

Cara terbaik untuk memahami blog kamu sendiri adalah dengan bertanya pada diri sendiri. Apa tema besar blog kamu? Gado-gado? That’s ok. Dalam topik gado-gado itu, kamu bahas apa saja? Resep? Parenting? Resensi buku? Jangan lupa sediakan juga satu kategori di mana kamu bisa menaruh tulisan-tulisan yang random, karena jenis tulisan ini selalu ada di blog mana pun. Hahaha.
Itu untuk blog lifestyle atau gado-gado. Nah, kalau yang topik blognya lebih spesifik tentu lebih gampang kan? Kayak di blog ini, topiknya adalah creative writing, marketing dan freelance, sesuai dengan dunia yang saya geluti sekarang. Maka, creative writing, marketing dan freelance menjadi kategori besar yang harus terlihat lebih dulu.

Baru kemudian saya pecah masing-masing menjadi subkategori. Creative writing saya pecah menjadi blogging, fiksi dan content writing. Marketing saya pisah ke marketing online dan sosial media. Sedangkan dunia freelance akan diisi seputar produktivitas dan seluk beluk freelance writer, nggak saya pecah lagi. Saya akan menulis random saja secara umum di situ.

Kalau topik besar blog kamu hanya satu bidang, langsung pecah saja menjadi subkategori-subkategori. Misalnya, topik besarnya adalah blogging. Ya, langsung aja pecah, misalnya SEO, tutorial, freebies, dan seterusnya. Jadi jangan jadikan satu-satunya topik besar menjadi kategori utama. Langsung pecah saja.

Kategori akan memudahkan pembaca blog untuk mendapatkan gambaran yang lengkap mengenai blog kamu. Kalau saya datang ke web atau blog yang baru pertama kali saya datangi, yang selalu saya perhatikan pertama kali adalah kategorinya. Dari situ saya bisa melihat blog tersebut secara keseluruhan. Bahkan, kadang saya bisa langsung juga ‘menghakimi’ sebuah blog, apakah blog tersebut mempunyai semua info yang saya butuhkan atau enggak, layak masuk ke feedreader saya atau enggak, hanya dari kategorinya saja.

So, masih anggap kategori nggak penting? Ya udah, nggak papa. =))

2. Biarkan Pembaca Blog yang Menentukan

Cara lain untuk menentukan kategori adalah dengan meminta bantuan pengunjung blog. Coba buka statistik blog kamu. Lalu perhatikan, artikel mana yang lebih sering dikunjungi? Lebih sering dikomenin orang? Banyak di-trackback?

Barangkali dengan begini, bahkan selain kamu bisa menentukan kategori, kamu juga sekalian bisa me-niche ulang blog kamu lho. Jika ada artikel yang banyak dikunjungi, banyak dikomenin, banyak menjadi rujukan, barangkali kamu harus mulai memikirkan untuk menulis dalam kategori yang sama dengan topik tulisan tersebut. Mungkin bisa menjadikannya artikel seri?

Kalau sudah begini, sudah dicari oleh banyak orang begini, barangkali ini sudah waktunya untuk menjadikan topik tersebut sebagai kategori baru.

Saya juga melalui tahap ini lho. Setiap tulisan dalam blog ini adalah catatan saya saat sedang dalam proses mempelajari sesuatu. Supaya nggak lupa, ya saya tulis. Kali ada yang lain yang butuh juga. Ternyata eh ternyata, ada yang butuh juga dan merasa tulisan saya bisa menjawab pertanyaannya, lalu share. Akhirnya banyak yang mampir dan ngomen. Jadilah saya bikin kategori baru: creative writing. =)) Tadinya sih saya jadikan satu dalam kategori blogging, tapi sekarang creative writing malah jadi kategori utama, sedangkan blogging jadi subkategorinya :D Yang kayak gitu ya sah-sah saja. Yang penting, pembaca mudah menemukan tulisan-tulisan dengan topik yang sama, pun saya lebih gampang menulis karena tahu topik apa saja yang bisa saya tulis di blog ini.

3. Rapikan dan Sempitkan

Sebenarnya juga bukan sempitkan sih, tapi fokuskan.

Sepertinya *sejauh pengamatan* selalu ada jenis-jenis tulisan berikut ini dalam sebuah blog:
  • Jenis tulisan OOT – Out of Topic - yang bahasan artikelnya nggak nyambung sama sekali dengan artikel lain yang sudah kamu tulis. Yang harus kamu tulis dan published, karena ‘terpaksa’. Hmmm, bisa jadi ‘terpaksa’ karena sudah dibayar. Ha! Ada? Ada yang punya tulisan kayak gini?
  • Jenis tulisan yang cuma sedikit jumlahnya dibandingkan jenis tulisan lain. Misalnya, well karena blog ini memang baru umur beberapa bulan, maka ada kategori yang masih kosong, yaitu internet. Baru keisi yang sosial media, itu pun baru 3 artikel. Yang internet marketing masih kosong. Sedianya kategori tersebut akan saya isi dengan berbagai strategi marketing web sih. Tapi saya belum nemu topik yang pas untuk dibahas.
  • Kategori yang diisi 90% dari jumlah postingan yang ada.
Nah, kalau ada yang begini, ini berarti saatnya kita merapikan nih. Tulisan OOT, seharusnya memang harus punya kategori sendiri. Kategori OOT, atau Random, atau Stories (kalau di blog ini). Selalu sediakan kategori semacam ini di blog kamu ya. Buat nampung randomness kita. Bagaimanapun nulis random itu kadang bisa jadi selingan yang menyenangkan kan? Jangan terlalu kenceng juga megang niche blog (buat yang berniche), bisa jadi kapan-kapan kita pengin menulis yang sedikit di luar zona nyaman. Bahkan itu harus lho, biar nggak bosen dan jenuh kan?

Photo via AvaxHome


Untuk jenis tulisan kedua, dilihat dan diamati saja seiring berjalan waktu. Tapi tetep deh kasih deadline. Kalau memang sudah sekian lama, jenis tulisan tersebut tetap aja sedikit banget dibandingkan yang lain, mendingan disatukan saja dengan kategori lain, atau taruh saja di kategori OOT. Supaya kategorisasinya lebih fokus dan lebih ramping.

Untuk kategori yang berisi 90% tulisan, ada baiknya dilihat lagi. Mungkin saja bisa kamu pecah lagi menjadi beberapa subkategori.

Banyak blogger luar yang menyarankan bahwa jumlah artikel kita harus seimbang dalam kategori-kategori tersebut. Nah, di sinilah editorial calendar bisa memainkan perannya secara optimal. Iya kan? :) Sudah baca kan artikel saya tentang editorial calendar?

Memilih Nama Kategori

Cara memilih nama kategori

Nama kategori jelas, ini untuk kebaikan si pemilik blog dan juga pengunjungnya. Untuk si penulis, agar dia punya koridor untuk menulis dan nggak mbleber ke mana-mana bahasannya. Sedangkan untuk pengunjung, untuk memberi gambaran blog secara umum.

Dan, berikut ini sedikit panduan untuk memilih nama kategori blog.

1. Nama yang umum dan gampang dimengerti

Barangkali kita sebagai pemilik blog pengin menamai kategori-kategori dalam blog dengan nama-nama yang unik dan lucu.

Tapi, nama-nama kategori yang lucu barangkali akan membuat pengunjung blog nggak ngerti dan nggak bisa mendapatkan gambaran topik-topik tulisan yang ada dalam kategori tersebut. Pun ini juga nggak akan baik untuk indexing oleh Google. Misalnya, kamu memilih nama kategori “Sihir Web” ketimbang “Desain Web”. Yaaa, iya sih unik dan lucu. Kan katanya kita harus original ya? Tapi ya, nggak banyak yang mencari kategori tersebut di Google, pun kalau ada yang berkunjung juga nggak ngerti maksudnya apa. Iya sih, bisa bikin penasaran. Tapi jumlah yang penasaran dan pengin tahu lebih banyak barangkali tak sebanding dengan yang nggak ngerti dan kemudian mengabaikan.

2. Nama yang sekaligus bisa menjadi keywords

Yep, ini tentu saja akan baik untuk hasil SERP, mendukung SEO banget. Nama kategori erat kaitannya dengan keywords blog, juga navigasi. So, choose it carefully.

3. Konsisten

Dan, ini yang paling penting. Konsistenlah menulis dalam koridor yang sudah ditentukan dalam bentuk kategori ini. Semakin konsisten, maka semakin rigid dan stabil konten yang akan kamu tulis. Maka, branding kamu pun semakin kuat.


Blogging have fun!


Blog yang rapi tentu ibarat rumah yang juga rapi. Bikin betah dan nyaman. Kalau pembaca blog nyaman, pasti akan tertarik untuk membaca-baca artikel yang lain. Dan, ini tentu akan baik buat performa blog bukan? Blog yang rapi, pasti juga akan membuat pemilik blog jadi tambah semangat nulis karena nggak lost dan gagal fokus lagi mau nulis apaan. Harapannya, tentu saja, jadi rajin update. Iya nggak sih?

Dan postingan ini merupakan uraian dalam poin ke-3 dalam Checklist 17 Hal yang Harus Kamu Lakukan dan Pahami Kalau Mau Menjadi Blogger Serius ini.

Nah, selamat merapikan kategori blog ya!

You May Also Like

84 comments

  1. Mba, kalau blogku tentang motherhood, ada kategori marriage dan parenting, itu baiknya dipecah atau disatukan dalam kategori family ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Topik blog motherhood. Kalau dalam motherhood, marriage dan parenting dua bahasan yang berbeda kayaknya ya. Mendingan dipisah aja. Emang selain dua kategori itu ada kategori apa lagi?

      Hapus
  2. naaaah itu mba..merapihkan rumah sendiri kok yaaa berat hehehehe :). But thanks for the tips yooo

    BalasHapus
  3. Wah, terima kasih sarannya. Nanti dicoba - coba ngulik deh kategori di blog. Kadang ya bingung menempatkan yang umum sih hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa dijadikan satu kategori aja sendiri kalau topiknya random atau umum :)

      Hapus
  4. Ayo ngerapiiin rumah maya kita.....

    BalasHapus
  5. Ada cara cepet ga ya mbak untuk ngerapiin kategori di blogspot. Secara udh ratusan tulisan, kalo dibenerin satu" ya duh >_<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya tetep harus satu per satu ya. Kecuali kalau di wordpress, bisa quick edit. Itu agak lumayan sih.

      Hapus
  6. Ini sebenarnya yang paling saya pertimbangkan dari dulu, tapi agak susah buat nge-list perkategori.. Tapi berhubung sekarang sudah ada gambaran, jadi... yok kita list kategorinya, yoookkk.. Makasih sharingnya, Mbak.. :D

    BalasHapus
  7. oh, iya, mbak.. kalau blogspot kan adanya cuma label, ya. tanpa kategori, tanpa tag, itu gimana cara nyiasatinya? thanks before ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa kok dipilih label mana saja yang ditampilkan sebagai kategori, jadi nggak semuanya.
      Coba ke layout > add gadget > label
      Keluar popup label > di bagian "Show" tick yang "Selected Label".
      Nah, nanti bisa dipilih deh label mana saja yang mau ditampilin. Kalau mau kategori lain dengan label yang lain, ya tinggal add gadget lagi.

      Selamat mencoba :)

      Hapus
    2. Wah..pertanyaan saya hampir sama. thanks a lot ilmunya mbak..

      Hapus
  8. Yuk, mari rapihin blog..*pingsan liat blog sendiri* :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha. Jangan pingsan, Mbak. Nggak beres-beres ntar :D

      Hapus
  9. Barusan kuitung, kategoriku ada 16 duh harus dirampingkan yah. Pelan-pelan aja wis beresinnya *blogger pemalas :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha. Yaa, pelan-pelan, Mak. Dan nggak usah sekaligus semua. Dinikmati aja, ntar tahu-tahu selesai :D
      Selamat bebenah!

      Hapus
  10. Harus segera dirapiin nih blog saya. Gado-gadonya udah keterlaluan, banyak kategorinya.

    BalasHapus
  11. udah mulai merapikan sih kategori ini, tapi belum dilanjutin lagi :))
    udah kebanyakan tulisan :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, ntar yang berikutnya saja mulai dirapiin ;)

      Hapus
  12. blogku masih gado-gado banget Mbak Carra, apapun yang ada di pikiran saya biasanya saya tulis dan publish, sampai saat ini belum nemu niche yang cocok untuk blog saya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enggak apa-apa, Mbak. Yang penting enjoy ;)

      Hapus
  13. YES! Untung saat pertama kali pindahan blog dulu udah langsung rapihin kategorinya. Jadi skrg tiap tulisan masing-masing masuk ke kategorinya sendiri. Gak ada yang dobel. *seneng*

    Tapi Mak, kalo jumlah artikel belum sama setiap kategorinya, gimana dong? Masa kategori spesifik digabung dengan yang umum aja? Kalo dibiarin aja gimana? Berharap di masa mendatang bisa menyusul ketinggalannya :D

    Oiya, satu lagi. Apakah kategori itu sebaiknya dimunculkan menjadi button tersendiri, atau dipilih beberapa saja yang ingin ditonjolkan, dan selebihnya bentuk dropdown gt? :)

    Thank you for sharing, btw ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau nantinya kira-kira akan berkembang, ya udah, nggak apa-apa. Biarin aja. :)
      Ayo, nulis lagi. Biar nambah tulisannya.
      Kalau aku, sih yang jadi kategori utama aja yang dijadikan menubar. Terus ya, itu, dibikin subkategori-subkategorinya.

      Selamat bebenah :)

      Hapus
  14. Wahhh lengkap banget makk infonya , aku harus merapikan kembali nih blog ku, soalnya ada ketegoribArtikel/opini yang kutulis..seharusnya lebih spesifik ya mba..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kalau kategori artikel/opini agak terlalu umum ya. COba dilihat lagi, barangkali bisa dispesifikkan lagi.
      Selamat bebenah ya :)

      Hapus
  15. Rumah msh acak2an nih. Thanks for the tips, mbak. Useful bgt.

    BalasHapus
  16. saya mba, berantakan banget ><

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi. Nggak apa :) Yang penting enjoy ngeblog ya.

      Hapus
  17. coba otak atik sendiri ahhh .. makasih infonya :)

    BalasHapus
  18. aku kadang malah bingung, kategori udah tersusun rapi tapi artikel kadang di luar kategori :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, nggak apa-apa. Makanya harus ada kategori random ;)

      Hapus
  19. Aq pernah mau merapikan kategori blog, tp kalau semua posting kayaknya butuh waktu deh mba apalagi blogspot ga ada kategorisasi otomatis. Duuuh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kategorisasi otomatis?
      Hmmm, seperti apa itu ya?

      Hapus
  20. Syukur deh, kayaknya aku udah tepat dengan katagori di blog aku :)

    BalasHapus
  21. Makasih buat tipsnya, Mbak.
    Bagian konsisten ini masih PR banget buatku mbak hihhii...

    BalasHapus
  22. Helpfull banget tipsnyaaa. Kebetulan emang suka bingung nentuin kategori sama tag postingan. Makasi sharingnya ya Maaaak

    BalasHapus
  23. Nice info dan sangat bgs diterapkan bagi blogger pemula seperti saya dgn rumah yg campur aduk hehe

    BalasHapus
  24. Aha...membuka pikiran yang lupa n kurang nyadar ni mbak. Saya biasanya agak2 gak terlalu peduli dgn banyaknya kategori. Ternyata ada pengaruhnya ya. Thanks mbak. Mulai ngerapiin deh kalau gitu

    BalasHapus
  25. Lama banget ngga maen ke blognya Carolina :D Makin keren tampilanya, sukkaaaaa

    BalasHapus
  26. Kalau satu artikel masuk lebih dari stu kategori, baiknya pilih salah satu atau masukin ke semua ya Mbak? Ketauan rumahku gak rapi hihihi :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh juga ke beberapa kategori, tapi kayaknya biar rapi jangan sampai lebih ke 2 kategori ya. Kalau aku di sini, kuusahakan cuma ke 1 kategori aja :)

      Hapus
  27. Nggak usah nggak apa-apa sih. Cuma ke depannya lebih dibanyakin yang kategori topik baru :)

    BalasHapus
  28. Apakah harus edit semua postingan dulu mbak untuk dapat memberikan label/kategori tersebut?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mmmm. Sepertinya iya harus satu-satu. Tapi kalau enggak, postingan-postingan berikutnya aja yang kemudian dirapikan. :)
      Semangat ya.

      Hapus
  29. PR ngedit blog nambah lagi bahahahaha. Abis liat sidebar eh iya yg dipajang tag -nya...pantes bejibun :p

    Makasih mba Cara...segera masukin jadwal buat ngedit :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kadang pada nggak ngeh beda kategori dan tag, dan yang mana yang perlu ditampilkan dan mana yang enggak.
      Selamat bebenah :)

      Hapus
  30. Merapikan kategori itu pekerjaan paling melelahkan mbak Carra. Dua bulan baru selesai. Mulai dari semedi dulu nyari kategori yg pas, baru deh dirapihin. Dan bener, tulisan memang lebih fokus. Pokoke buku having fun itu asik banget deh. Bikin saya lebih enak nge-blognya (------ Komen ini bisa diikutan lomba nggak wkwkwkkwkk)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha. Jangan lupa ikutan ya. Dijadiin status facebook aja udah bisa diikutkan kok :)

      Hapus
  31. Salam kenal mba Carolina :)
    Thanks infoya, harus edit satu persatu nih, untung blognya baru seumur jagung .....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal kembali :)
      Selamat menikmati proses ngeblog ya.

      Hapus
  32. Nah, ini termasuk PR buat blog punya saya, heheh. :D
    Terimakasih sudah mau sharing :D

    BalasHapus
  33. Masih bingung memasukkan artikel ke dalam submenu, supaya bisa drop down efeknya. Takutnya terjadi sesuatu jika salah letakkan coding.
    Makasih sharingnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di google banyak script yang bisa kita copy dan langsung paste. Kalau takut salah, template yang sekarang di-download dulu untuk backup, baru utak atik. Kalau error, tinggal upload ulang template yang sebelumnya. Nanti akan kembali seperti semula.

      Hapus
  34. Ahaaa, rapihkan katehori. Kayaknya "rumahku" berantakan banget ;)

    BalasHapus
  35. Hi mbak.. tq infonya. Btw.. di wordpress, bisa ga ya kita edit nama kategori? Jd misal, kyk sihir web yg mbak tulis diatas, trus pengen ganti jd desain web, dan isi tulisan di kategori tsb dah banyak. Makasih sebelumnya. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa. Masuk ke WP Admin > Posts > Categories. Nanti ada pilihan quick edit, edit etc di bawah masing-masing tulisan kategori.

      Hapus
  36. Buat kategori yang bisa jadi keyword itu tuh...yang PR banget rasanya.

    BalasHapus
  37. Kalau strategiku dalam mengategori blog sih dengan menulis artikelnya dulu. Baru ntar kalau udah cukup banyak bisa di buat kategorinya. Ya emang sih rada aneh, tapi menurutku begitu lebih baik sih. Soalnya kalau dari pengalaman kalau kategori di buat dari awal, kita seakan-akan dipaksa untuk membuat artikel dengan kategori tersebut.

    BalasHapus
  38. Noted, mbak Carra. Kategori blog ku masih amburadul...
    harus dirapiin nih

    BalasHapus
  39. ya ampun, mba. Peer banget ini. Hiks... belum apa2 dah ngebayangin repotnga bebenah

    BalasHapus
  40. Udah mulai mikir membenahi kategori, dicicil dikit dikit.

    BalasHapus
  41. Kategori sama labels beda ya, Mba. Humm...peer nih buat merapikan blog ku. Thanks for sharing yaa Mbaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau aku sih memang kubedakan. Supaya navigasi lebih oke :)

      Hapus
  42. Wik gilingan, tulisan ini dah dari beberapa tahun lalu ya. Heibat Mbak! *tepuk tangan

    BalasHapus
  43. Wah pas nih mbak share lagi tulisan ini. Saya juga lagi bikin blog baru. Jadi bisa sambil praktek supaya rapi 😁

    BalasHapus
  44. Mantap banget, pas lagi oprek soal kategori. Mau rebranding blog sekalian aja ah mumpung wfh.

    BalasHapus
  45. Mulai memperbaiki label blog dengan panduan yang lengkap disini.
    Makasih sudah berbagi.
    Salam.

    BalasHapus