Benarkah Menulis Itu Tergantung Bakat? Enggak Juga. Yuk, Dilatih!

Menulis Tinggal duduk, and do word vomit. Bagi sebagian orang, begitulah mereka menulis. Bahk...



Menulis
Tinggal duduk, and do word vomit.

Bagi sebagian orang, begitulah mereka menulis. Bahkan mereka bisa menulis di mana pun mereka berada. Di mobil sambil nunggu macet, di bank sambil nunggu antrean, di bus Transjakarta, di kereta ... di mana pun! Kadang mereka hanya melakukan freewriting, namun ternyata jadi deh satu cerita.

Lalu bagi sebagian yang lain?
Mereka dengan susah payah mengatur kata dalam sebuah kalimat. Sudah duduk sejam dua jam, lalu saat dibaca oleh orang lain, nggak ada yang mudheng (Jw. paham). Ya, kalau kemudian penulisnya menyadari bahwa ada yang salah mengenai caranya menulis hingga orang banyak yang nggak paham dengan maksud tulisannya, ya, bagus. Lha, kalau malah nyalahin pembaca karena mereka nggak ngerti, gimana dong?

Ih, nggak level lo! Masa gini aja nggak ngerti?

*ngueng!*
Ya ya, baiklah. Terserah deh.
Paling gitu kan ya tanggapan kita. Hahaha.

Saya acapkali juga melihat beberapa penulis dengan mudah mengeluarkan pesan yang ingin mereka sampaikan, sedangkan yang lain, tampak belibet. Memang sih, saya baru beberapa lama saja terlibat dengan banyak penulis dan blogger. Tapi ya, saya bilang, saya sih cukup observant. Saya cukup nyadar dan notice, mana yang bisa dengan mudah mengeluarkan buah pikirnya, dan mana yang kesulitan.

Untuk beberapa yang kesulitan, biasanya kemudian saya guidance satu per satu menurut kesulitan apa yang mereka miliki. Ada yang kesulitan rewrite artikel trigger, saya buatkan guidance untuk menulis artikel berdasarkan trigger tapi nggak terjebak plagiarism. Untuk yang kesulitan meruntutkan struktur tulisan, saya bikinkan contoh mind mapping. Rempong dan menyita waktu.
Tapi, saat ada beberapa teman penulis yang makin meningkat skill-nya, itu bikin saya bahagia.

(Meski kadang juga rada gimana. Kadang ada yang nggak butuh guidance saya, tapi kok ya nanggapinnya aneh. Janganlah suka patahkan semangat yang mau belajar, wahai penulis berbakat! Hahaha.)

Kalau ingat bagaimana saya pertama menulis dulu, saya barangkali akan merepet pada diri saya sendiri. Hahaha. Elipsis di mana-mana, bikin kelilipan. Bahasannya nggak jelas. Inti topiknya lari ke mana-mana. Belum lagi nggak bisa ngebedain "dirumah" dengan "di pakai".

Menulis adalah kompetensi. Berbahagialah kamu, kalau kamu sudah dianugerahi kompetensi menulis dari sononya. Kalau enggak? Nggak usah khawatir. Menulis itu bisa dilatih. Menulis dengan baik, itu bisa dilakukan oleh siapa pun.

Mau berlatih menulis dengan baik?
Ayo, cara saya berlatih ini barangkali bisa kamu coba juga.

4 latihan menulis secara ringkas namun jelas



1. Menulis haiku atau flashfiction sehari satu


Saya pernah cerita juga di blog ini, bagaimana saya berlatih menulis secara efektif dengan menulis flashfiction.
Flashfiction adalah fiksi super pendek kurang dari 1.000 kata. Saya berlatih dengan panjang yang bervariasi. Mulai dari 500 kata, lalu memendek lagi jadi 300 kata, memendek lagi jadi 100 kata. Hingga 50 kata.
Dari situ saya mengamati komentar teman-teman yang mampir. Kalau mereka mengerti, berarti saya berhasil menyampaikan pesan. Kalau enggak? Misalnya, ada yang nggak paham, atau penangkapannya lain dari yang saya maksudkan, berarti ada yang salah dengan cara penyampaian saya. Berikutnya, saya harus perbaiki lagi.
Mau lihat beberapa flashfiction saya, ada di Blog Fiksi Carra. Blog yang sudah cukup berjamur sebenarnya. *mengheningkan cipta dimulai*

Wah, saya nggak bisa nulis fiksi. Gimana dong?

Kamu bisa mencoba menulis haiku.
Haiku adalah puisi kuno asal Jepang. Kalau mau nurutin pakem kuno Jepang, berarti kamu harus membuat puisi dengan aturan penulisan yang terdiri atas 17 suara, yang terbagi dalam tiga frase: 5 suara, 7 suara, dan 5 suara (kalau diartikan, suara berarti suku kata).
Sedangkan kini juga berkembang haiku modern, yang aturannya lebih bebas lagi.
Mau tahu cara bikin haiku, coba intip di artikel WikiHow ini.

Ada beberapa haiku milik Aghan S Parmin yang barangkali bisa kamu nikmati juga di sebelah sini.
Kamu juga bisa googling lagi untuk mendapatkan contoh haiku yang lebih banyak.

Atau kamu juga bisa berlatih dengan pantun.

Lakukan latihan menulis pendek-pendek ini setiap waktu hingga kamu terbiasa.
Dengan menulis beberapa jenis karangan singkat ini, kamu akan terbiasa menggunakan kata-kata seeefektif mungkin untuk menyampaikan pesan seakurat mungkin.


2. Freewrite nonstop dalam 2 menit, lalu jadikan setengah panjangnya.


Saat melakukan latihan ini, hanya ada 1 aturan yang harus dipatuhi, yaitu jangan berhenti menulis sampai waktu habis. Cuma 2 menit kok. Nggak lama kan?
Tulislah apa pun yang terlintas dalam pikiranmu. Nggak usah pedulikan typo, nggak usah pedulikan tanda baca apalagi kata baku. Bablas saja!

Setelah 2 menit habis, lalu hitung perolehan jumlah kata kamu. Katakanlah kamu berhasil menulis sepanjang 150 kata.
Tugas kamu selanjutnya, adalah memotong tulisan sepanjang 150 kata itu menjadi setengahnya, yaitu 75 kata tanpa mengurangi arti atau makna tulisan kamu.

Dengan latihan ini, kamu akan melihat kekuranganmu dalam menulis. Apakah ada kata yang terlalu sering diulang? Apakah kata-kata kamu terlalu rumit? Bisakah dicarikan sinonimnya yang lebih simpel? Apakah kamu terlalu banyak menggunakan kalimat-kalimat pasif?

Dicatat semua ya, untuk bisa kamu perbaiki sendiri nanti.



3. Menulis ulang atau meringkas Wikipedia


Wikipedia bisa jadi tempat latihan menulis yang bagus lho.
Coba kunjungi salah satu artikelnya secara random. Lalu tulis ulang, lebih baik kalau bisa kamu ringkas lagi.

Nih, saya kasih contoh ya. Saya ambil secara random, artikel mengenai Lifty ini.

Tulisan asli.
Lifty adalah karakter fiksi pada serial kartun Happy Tree Friends. Mereka adalah dua rakun kleptomania yang merupakan saudara kembar. Mereka suka mencuri benda-benda dari karakter Happy Tree Friends lainnya. Mereka kebanyakan mencuri milik Lumpy.


Tulisan ala saya
Lifty merupakan karakter fiksi rakun kembar kleptomania di Happy Tree Friends. Mereka suka mencuri benda-benda karakter lain, terutama Lumpy.

Ha! Bisa jadi 2 kalimat sahaja kan? :D
Ayo, sekarang kamu coba juga ya! :)



4. Membaca, kemudian tuliskan inti bacaan dalam satu kalimat


Saya biasa melakukan ini saat membaca artikel trigger untuk kemudian saya tuliskan kembali, seperti yang saya jelaskan dalam artikel Keidean yang lalu.

Saya ambil contoh yang pernah saya perlihatkan pada Mbak Ade Delina Putri di grup Rocking Mama Writing Lab. 
Ada artikel mengenai 8 Life Skills to Help You Improve Your Personality ini
Untuk membantu saya mengambil inti setiap poinnya, lagi-lagi saya mengandalkan mind mapping.




Nah, jadi ringkas kan, per poinnya?


Dengan latihan menulis begitu secara teratur, biasanya sih skill juga akan meningkat. Ingat, practice makes perfect.
Jangan lupa untuk mengondisikan dirimu sendiri dalam lingkungan dan orang yang tepat.

Selamat menulis!

You Might Also Like

18 comments

  1. Tips latihan yang nomer dua kayaknya deh gue mau untuk mencobanya. Cukup dengan 2 menit memikirkan kata, lalu menuliskannya. Biasanya nih gue titip dulu ke note di handphone, kan gak setiap gue on di komputer. Hehe

    Kalo udah sering-sering berlatih, nalar kita akan menjadi lebih peka. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes, practice makes perfect.
      Keep writing ya!

      Delete
  2. Ya ampuuun kerennya artikel inih! Makasih Mbak Carra. Yg dua menit sama mind mapping harus saya lakukan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, Mas Dani yang harus diperhatikan adalah kebiasaannya mengulang-ulang kata dan penjelasan :D Ayo, dipadetin lagi.

      Delete
  3. Betul. Nulis itu berproses dan panjang banget. Nggak bisa ujug-ujug langsung jago banget.

    Dari beberapa di atas saya sudah mencoba dan hasilnya efektif.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haseeeek :D
      Keep writing, Mbak Tikha!

      Delete
  4. Bener banget mbak, menulis itu bukan hanya karena bakat, tapi juga karena latihan. Kalau gak punya bakat dan mau pinter nulis ya latihan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul.
      Terima kasih ya, sudah membaca.

      Delete
  5. hai mbak, salam kenal!
    saya merasa memang menulis itu suatu gift yang harus diasah. Cara mengasahnya ya, cuma menulis terus & membaca tulisan orang lain. Kalau kita menemukan tulisan seseorang yang menurut kita enak untuk dibaca, kita catat aja, apa sih yang bikin si tulisan ini enak dibaca, lantas coba praktekkan di tulisan sendiri. saya juga tipe yang suka menulis flashfiction dan terbantu banget sama hadirnya twitter hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, ada tambahan tips nih.
      Memperhatikan yang sudah ditulis oleh orang lain.

      Terima kasih ya!

      Delete
  6. Makasih ya Mbak Carra. Pas banget isi artikelnya dengan yang sedang saya cari. Habit menulis perlu dibentuk, biar ga mood-mood an isi blognya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes! :D
      Happy blogging, Mbak Eva :D

      Delete
  7. Ntar mau nyoba ah yang menulis ulang atau meringkas wikipedia.
    Kalo nggak latihan, sepertinya agak susah ini, ujung-ujungnya malah ngutip kalimatnya trus cantumin sumbernya aja :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Kalau memang jadi bahan rujukan sih, sebaiknya nggak usah ditulis ulang juga sih, MakLi :D Tapi kalau jadi inspirasi, harus direwrite dan direphrase :D

      Delete
  8. Keren!! Ngomong-ngomong, boleh bagi saran nggak mbak. Saya tipe kalau habis jalan-jalan ke tulisan temen-temen, jadi agak2 kebawa arus. Gimana caranya agar nyaman dengan gaya sendiri. TFS :)

    ReplyDelete
  9. Waaah boleh nih untuk latihan ringan. Saya seringkali merasa "tidak sempat" menulis :(
    Terima kasih, Mbak Carra.
    Duh, saya juga mau dibimbing >,<

    ReplyDelete

Silakan masukkan link blog Anda dalam kotak ID yang sudah disediakan.
Semua komen yang berisi link hidup, will go straight to spam.

Search This Blog