Beberapa Catatan dari Blogwalking Hari Ini: Blogger Versus

Hari ini saya blogwalking ke beberapa blog. Iya, karena menjelang weekend, dan biasanya weekend itu memang jadwalnya saya belanja artike...



Hari ini saya blogwalking ke beberapa blog. Iya, karena menjelang weekend, dan biasanya weekend itu memang jadwalnya saya belanja artikel untuk diadopsi di portal sebelah.

Dan hmmm ... wow!
Dari 10 artikel blog, hanya 1 yang nggak bersponsor.

Wow!
Yes, saya membuktikan sendiri tuh di Feedly saya. Karena dengan mudah memang saya membaca blog teman-teman dalam sekali jembrengan doang. Langsung kelihatan semua. :D

Another observation is ...
... dari 5 artikel blog, mungkin ada 2 - 3 artikel di antaranya berbentuk listicle. Ada yang ala portal, ada yang ala howto atau tips. Storytelling masih cukup banyak, terutama untuk reportase dan traveling.

Ya, itu berdasar data Feedly saya. Tapi memang Feedly saya hanya menampung sekitar 215 feed blog. Apalah artinya dengan jumlah blogger Indonesia seluruhnya kan? Barangkali juga hanya seper sejutanya. So, mungkin saja kurang valid.
Meski begitu, ada beberapa kesimpulan yang bisa saya dapatkan kali ini.

Sponsored vs Original


Sponsored vs Original



Dalam sekali scrolling, dari beberapa artikel terbaru yang ada di halaman depannya, semuanya bersponsor, baik itu job review maupun content placement. Postingan original-nya hanya nyempil, itu pun pendek, kurang lebih 300 kata.

So, is it a good thing or bad thing?
Subjektif dan relatif.

Kita bisa bilang itu pertanda baik. Pertanda para blogger mendapatkan job. Bahwa ada "mata pencaharian" yang bisa mungkin membantu mereka mengepulkan dapur. Mau bilang, itu "mengotori kesucian" kegiatan blogging? Nggak bisa juga.
Masa sih nggak senang kalau ada lapangan kerja baru?

Zaman sekarang makin susah, broh, cari uang yang halal.
Dan menulis artikel bersponsor halal kan?
Halal.
Jadi, apakah mereka salah?
Tentu saja enggak.

Pada prinsipnya kan gitu?
Let's get real!

Tinggal pembaca yang membutuhkan yang akan memutuskan. Dan kebutuhan informasi setiap pembaca blog itu berbeda. Saya sering juga tuh, mendapatkan informasi bagus dari job review atau content placement orang.

Kayak kemarin saya ketemu tulisan soal pengusir tikus yang merupakan sponsored article. Akhirnya saya ikutan nyobain. Hasilnya? Walah. Jangan tanya hasil dulu. Baru beberapa hari ini. Lagian ya, kalau dibahas di sini ya jadi gagal fokus.

But, however, saya juga masih suka baca artikel orisinil. Macam pada berbagi pengalaman mengasuh anak, mengatur rumah, mengatur hidup, curhat ini, curhat itu. Saya juga suka baca blog yang cerita hal-hal keseharian, macam lagi arisan, ketemu ini ketemu itu. Nggak cuma baca blog tutorial doang atau howto doang.

Pada dasarnya, saya suka tahu banyak hal dengan berbagai sudut pandang.

Tapi, sering banget saya merasa kehilangan citarasa orisinalitas tulisan para blogger untuk satu dua artikel. Dugaan saya sih, artikel tersebut pasti content placement.
Sedangkan artikel lain, meski bersponsor, tapi personality si blogger masih bisa dikenali. Dugaan saya, yang ini pasti job review.

Yang kehilangan citarasa orisinalitasnya, well, saya menyayangkan saja sih. Eman-eman punya blog, tapi nggak ada personality-nya. Sependek yang saya tahu, even itu adalah content placement, kita bisa kan mengeditnya supaya sesuai dengan gaya bahasa kita?
Beberapa kali saya mendapat tawaran content placement, selalu ada term bahwa kita diperbolehkan untuk melakukan editing agar sesuai dengan karakter blog tuh.
Apakah beda ya term and condition-nya dengan yang pernah saya dapatkan?

Apakah memang sulit melakukan editing ini, sekadar untuk memberikan sentuhan personal sedikiiit saja? Karena di beberapa blog, saya benar-benar menemukan artikel yang sangat beda tone-nya.
I don't know about the blogger sih, tapi saya sebagai pembaca kok merasa sayang :(

Karena blog is about personality. Dengan membiarkan personality nggak nampak dalam satu artikel saja, personal branding si blogger akan hilang lho.
Mungkin, kamu bisa mempertimbangkan untuk menyeimbangkan antara artikel original dan artikel bersponsor, demi personal branding kamu sebagai blogger tetap terjaga.

Tapi ya, kembali lagi ke si pemilik blog sih. Pembaca ya tinggal membaca saja. Blogwalker ya tinggal blogwalking saja. Suka ya baca terus. Nggak suka ya, skip. Gampang kan?
Iya dong, gampang. Hehehe. Nggak perlu sampai nyinyirin yang nulis. Yang nulis juga nggak perlu nyinyirin pembacanya, yahhh ... kok di-skip? Ya iyalah. Orang saya nggak butuh informasinya. Simpel aja. Hahaha. No baper please! :P

Iya kan? Saya sebagai pembaca tinggal bertanya pada diri sendiri saja, informasi mana yang dibutuhkan? Saya punya privilege untuk memilih artikel mana yang menarik, artikel mana yang saya butuhkan.

Dan saya pun memilah. Yang mana, yang saya baca untuk kebutuhan informasi pribadi. Yang mana, yang ingin saya adopsi untuk artikel portal sebelah. Yang mana, yang saya skip saja karena saya nggak butuh informasinya.
Yang berhak tahu yang mana yang mananya, ya saya sendiri.

Pada akhirnya semua tergantung pada user experience yang ditawarkan oleh para blogger sendiri. Yang nggak bersponsor tapi user experience nggak begitu baik, ya baibai juga.

Hanya saja (well, ini juga self reminder banget sih) kita sebagai blogger harus bijak, memilih job. Saya sendiri sekarang lebih memilih untuk berpikir dulu saat mendapatkan email penawaran kerja sama.

Apakah bermanfaat untuk pembaca blog saya? Apakah bermanfaat untuk orang yang belum pernah datang ke sini? Apakah baik untuk personal branding saya?

Makanya, kadang balas email penawaran kerja sama juga lama. Udah gitu pun, nggak jadi kerja sama pula. Hahahaha. Yaoloh, malah curcol.

Lanjut!

Storytelling vs Listicle


Storytelling vs listicle


Which one is better?
Tergantung kebutuhan juga.

Semakin ke sini, memang makin banyak yang menulis dengan gaya listicle, artikel berbentuk list dengan poin-poin.

Terusnya, barangkali ada yang komplain, kok jadi kayak portal ini blognya?

Memangnya nggak bolehkah?

Boleh dong.
Saya sendiri sering banget menulis dengan format listicle di blog ini. Kenapa? Ya, karena bentuknya roundup post, atau howto, atau tutorial.
Dengan berformat listicle, saya lebih mudah menuliskannya. Yang membaca pun juga lebih mudah memahami.

Tapi untuk artikel tertentu, ya saya storytelling aja. Kayak cerita proses perjalanan blogging saya pas Hari Blogger yang lalu, itu saya storytelling aja.
Memang jumlah artikel storytelling terbatas jumlahnya di blog ini. Hawong saya make blog ini sebagai catatan belajar saya nulis, marketing dan blogging. Yang mana pasti banyakan artikel howto sama tutorial.
Kecuali kalau blog saya ini blog traveling. Pasti banyak storytellingnya.
Atau blog fiksi. Ya, pasti storytelling-lah! Nggak mungkin listicle.

So, masing-masing sesuai kebutuhan menulis si penulisnya. Si penulislah yang harus jeli memilih format mana yang sesuai sebagai format penyampaian pesannya.

Yang membaca? Ya, sama. Pilih saja sesuai dengan kebutuhan. Mau baca yang kayak gimana. Pilihan ada banyak!

Memangnya ada ya, yang memilih membaca informasi atau artikel berdasarkan formatnya? Nggak ada kan? Pilihan pembaca ya berdasarkan topiknya pasti.
Masa mau baca mikirnya, "Eh, ini storytelling. Malas ah."
:))) Kayaknya enggak banget deh.

Yang pastinya sih, kalau saya pribadi ya, dari topiknya. Mau storytelling atau listicle, saya selalu lihat judul dulu, baru paragraf pertama. Kalau dua itu sudah menarik saya untuk terus baca, ya udah, baca terus sampai habis.

Bukankah begitu behavior pembaca tulisan online?

Masalah kok kayaknya listicle lebih banyak disuka, itu adalah data yang menyajikan. Data kan bisa berubah sesuai behavior pembaca tulisan online, yang mana juga berubah sesuai zaman. Sesuai tren. Bukan data yang membuat tren, tapi tren-lah yang menjadi data. See the difference kan?
Jangan dibalik :P

Banyak juga artikel storytelling yang viral, dan disuka orang.

Catatan aja sih. Meski storytelling, saya pribadi juga lebih nyaman membaca storytelling yang dibagi dalam beberapa subheading.
Kenapa?
Karena mata nggak terlalu lelah. Ada semacam jeda untuk bernapas kalau ada pembagian subheading begitu. Lebih nyaman, apalagi kalau panjang.

Itu saya, nggak tahu Mas Anang.

 

Kesimpulan


Jadi kesimpulan dari tulisan kali ini apa, Ra?

1. Menjadi bijak. 

Bijak dalam menulis, bijak dalam membaca. Pahami saja, bahwa orang punya kebutuhan dan kecenderungan berbeda. Bukankah kalau sama semua juga akan membosankan?

2. Fleksibel

Zaman itu berkembang, zaman berubah. Trend biasa terjadi. Pahami saja, dan maklumi.
Sekarang mungkin zamannya content placement. Zamannya listicle.

Bukankah menjadi fleksibel itu adalah salah satu survival skill manusia? Bukankah sejak zaman purba, ice age sampai kolonial berlalu pun, manusia berubah sesuai zamannya?
Akan tiba saatnya tren bergeser, atau malah balik lagi ke tren sebelumnya.

Yang mau mengikuti tren, harus siap-siap keep informed. Yang mau stay dengan gaya orisinilnya, keep the good work.

Yang baca, tinggal menerima yang baik-baik saja :D


3. Have fun!

Ya, bukankah kita ngeblog karena kita suka? Sebagian besar blogger yang bisa bertahan adalah orang-orang yang memang menikmati kegiatan bloggingnya sebagai passion dan melakukannya dengan fun.
So, why don't we just have fun?

Kalau mau menulis, tulislah hal yang membuatmu senang, apa pun motivasi di baliknya. Tulislah yang bisa kamu tulis dengan bahagia. Lalu, bijaklah menimbang, bahwa akan lebih baik juga kalau dengan menulis kita juga menyebarkan kebahagiaan itu pada orang lain. So, adalah penting juga untuk pikirkan efek dari tulisan kita.

Kalau mau membaca, bacalah hal-hal yang menarik minatmu. Yang membuatmu puas dan bahagia.

Nggak perlu saling mengotak-kotakkan. Buat apa sih?
Ada manfaatnyakah mengotakkan diri seperti itu?




Intinya, dunia maya itu bebas. Tapi akan lebih baik jika kita bebas dengan bertanggung jawab. Dan tanggung jawab adalah masalah pribadi.

Pada akhirnya, semua memang kembali pada pelaku masing-masing. Dan demi kebebasan berpendapat juga kebebasan mendapatkan informasi, bukankah kita akan lebih baik jika saling bersinergi?

Keep learning untuk yang pengin terus belajar menjadi lebih baik.
Keep writing untuk yang pengin terus menulis no matter what.
Keep sharing untuk yang pengin terus bagi-bagi hal yang bermanfaat.

Saya akan dengan senang hati membaca dan menerima informasi yang dibagikan yang sekiranya saya butuhkan. :)))

Well, selamat menikmati long weekend, fellas!
You have life, so have fun!

You Might Also Like

45 comments

  1. Jd kesindir :p
    Alesannya sih belum pas di waktu. Dulu pas dapet CP masih sempat edat edit, tapi sekarang weleh-weleh XD makasi mba udah diingatkan ;D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau bisa sih, sempatkan selalu untuk editing. Sayang aja sih branding yang sudah dibangun, ciri khas yang sudah ada :)

      Delete
  2. Artikel pertama di pagi ini, dan langsung 'bergizi' Saya sangat setuju dengan 3 point dalam kesimpulan. Masalah gaya tulisan, saya pun merasa nggak ada masalah antara listicle atau storytelling, tergantung topik yang dibutuhkan. Job placement atau review juga sering saya kunjungi, karena bisa jadi rekomendasi kalau lagi butuh suatu produk. Artinya, tulisan teman-teman blogger lebih bisa saya percayai. Dan, terus terang, saya betah berlama-lama di 'rumah' yang 'disewa' tapi tuan rumahnya tetap eksis. Ahh.. Anak Bawang lagi belajar dari para master, jadi suka mondar-mandir silaturahmi. TFS ya Mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih ya, Mbak, sudah mau membaca :)

      Delete
  3. Makasih Mba Carra udah diingatkan. CP emang bahasanya suka kaku. Kadang kuedit, kadang juga ngga >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kadang waktunya ya, Mak Irit, yang bikin nggak bisa edit ya. Yah, coba diatur lagi aja. Kalau bisa sih pakai diedit meski sedikit ya. Biar personality-nya nggak hilang. Eman-eman.

      Delete
  4. Baca artikel ini lantas merenung. *introspeksi blog
    Thanks alot mbak.... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mari merenung bersama ...
      *sampai tahun depan
      :))))
      Makasih yaaa.

      Delete
  5. Untuk bisa terus menulis saja bagi saya sulit mbk, jadi ya mari nikmati saja :)

    Lalu...cara ngusir tikusnya gimana? Perlu juga nih mbk #ehsekalian

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh, coba cek ke blognya Mbak Injul, Mbak Esti. Yang review Extro :D Saya mah barusan makenya. Belum terlalu valid :D

      Delete
  6. Ih kesindir jugak >,<
    Pada dasarnya aku lebih suka job review Mba, soalnya bisa banget ditulis denga gaya sendiri. Kalo CP hiyaampun, kadang bahasanya acak adut bangeeeet, alih-alih ngedit biasanya aku hapus semua kecuali link, terus bikin dengan bahasaku sendiri.

    Tapi, itu kalau waktuku senggang dan nggak dikejar DL. Kalaulah mepet dan mesti buru2, aku edit sekenanya deh T.T

    Yang bikin galau adalah pas lagi males ngeblog ada aja job , jadilah bikin postingan ringan buat 'menjeda' postingan berbayar. Heuheu.

    Makasih banyak remindernya Mbaaaa. Mestilah nek baca postingan Mba Carra kok aku berujung curcol. Muahahahaa.
    Maafkan akoh. *Ketjup*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boleeeehhh. Boleh kok, curhat di sini mah. Boleh :))
      Makasih yaaa, sudah membaca :D

      Delete
  7. Salah satu alesyan saya gak begitu suka cp. Ngeditnya sadis kakaaakk... Biar bisa dpt style kita. Wkwkwk....oya original post di blog saya malah jauh lebih panjang daripada sponsor post. Rasanya nulis konten non sponsor itu kayak cerita aja. Nggedabrus tau-tau udah 2000 words ajah. Ha..ha..thanks mbak. Tulisannya mencerahkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. (((nggedabrus)))
      Iya ya, Mbak. Lebih lepas tanpa beban sih yaaa :D

      Delete
  8. Versus-versusan yang menarik dianalisa. Kalau pembaca mikirnya sederhana, tergantung sikon, apa yang dibutuhkan saat itu. Nambah perbendaharaan kata baru, listicle. Thanks mba Carra sudah berbagi pemikiran.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kalau pembaca mah simpel, enak. Tinggal pilih :D

      Delete
  9. setiap dapat job review/cp, pasti selalu saya edit biar gaya bahasanya sesuai dengan yang saya gunakan sehari-hari di blog saya. soalnya, biar pembaca gak kaget karena tiba-tiba gaya bahasa saya berubah~ :))
    saya sependapat sama mbak Carra, lebih enak baca/nulis storytelling yang dibagi dalam beberapa subheading! XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Toss dulu.
      Terima kasih ya sudah baca :)

      Delete
  10. Feedly itu maksudnya bagaimana sih? Pengen jawabnya dalam bentuk postingan biar lengkap. #FansBanyakMau

    ReplyDelete
    Replies
    1. (((fansbanyakmau)))
      Okedeh, nanti kita bahas khusus Feedly ya :D

      Delete
  11. Haha, aku banget ini, nulis postingan sponsor sama non sponsor bahasanya beda banget. Biasa alay langsung switch jadi rada kaku, kayak lomba gadget ituh #eeaa

    ReplyDelete
  12. Aku malah jarang dapat JR atau CP duh hahaha. Jadinya kebanyakan curhatan semua. Ada sih beberapa yg storytelling dan list mb. Tapi bener sih dari ketiga poin itu, have fun ajah

    ReplyDelete
  13. Soalnya buuuu... kalau story telling itu makin berkurang pembacanya. Di blogku loh ya. Orang makin stress hidupnya kali ya? Jadi daripada baca story orang, mendingan makan pisang goreng. Yang mereka cari itu kebanyakan poin2 solusi, kalau perlu step by step atau instruksi, supaya ringkas & bisa langsung dipraktekkan, jadilah sering bikin listicle. Pernah ya aku bikin resep gaya story telling, eh komen pembaca (blogger papan atas, yang aku tuduh sebagai pembaca serius) seperti kecewa gitu. Katanya, "Kirain ada resepnya". Laaa.... Emang habis baca apaan? Beda tiap aku bikin listicle, kayaknya penonton pada puas. Story telling aku letakkan di tiap poin penjlentrehannya. CP baru lolos satu, wisata ke tempat yang pernah aku datangi & diedit. Trus bahasa iklan yang dibuatkan ahensi itu kadang bikin bloggernya tampak sumugih padahal dia itu sederhana dan baik hati. Sumugih itu sama dengan humble brag nggak ya? Kayaknya humble brag itu masih mendingan deh, dia punya apa yang dipamerkannya itu tapi pura2 merendah supaya dipuji. Kalau sumugih itu aslinya yo begitulah. Muke lu jauh gitu deh. *dapet masalah nggak ya habis komen gini? hihihiii

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah. Memang kelebihan listicle adalah to the point, bisa meminimalisir kemungkinan kita gagal fokus dan malah cerita nggak tentu arah.

      (((muke lu jauh)))
      *nyembur

      Delete
  14. Mba boleh tanya, Terkadang masih bingung untuk menemukan jati diri dalam menulis, Kalo untuk dibaca yg enak mending formal atau gaya bahasa kita sendiri ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tergantung pembaca yang disasar dan tujuan menulis.
      Kalau aku pribadi lebih suka yang personal, karena serasa ngobrol :)

      Delete
  15. Artikelnya keren, Mbak. Salut! Saya sendiri termasuk yang ogah kalo content placement tidak bisa diedit sesuai gaya bahasa kita. Sampai-sampai pernah lho saya nolak artikel dari pemberi job, soalnya beda banget sama tulisan-tulisan saya. Yang baca dengan mudah bakal ngeliat itu posting berbayar. Saya bilang ke agency, "Saya nggak suka artikel yang disediakan. Biar saya tulis sendiri aja, fee nggak ditambahin gpp." Eh, agency mau kok kasih tambah. Hehehe...

    Jadi, kalau memang artikel yang dikasih agency nggak sreg di hati, tolak aja. Bener kata Mbak Ratri, eman-eman blognya kalau dimasuki satu saja artikel yang tone-nya beda dengan gaya kita. Kalau mereka nggak bisa kasih yang sesuai gaya kita, ya tulis sendiri aja. Minta mereka nambah fee.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, bagus tuh sebagai masukan ya :) Tulis dan ubah aja sesuai dengan gaya kita.
      Makasih, sudah membaca ya :)

      Delete
  16. main ke blog ku mba, ada artikel orisinil hehehhe dan bukan tutorial

    ReplyDelete
    Replies
    1. Blogmu sudah masuk Feedly-ku kok, Nay. Jadi aku selalu baca ;)

      Delete
  17. Wah artikelnya bermanfaat dan menampar !(?) Selama ini saya blogging masih sekedar have fun dari rutinitas jadi gaya ceritanya kebanyakan story telling. Akhir-akhir ini baru ngeh dibilangin teman kalau ngeblog mbokya punya kategorisasi, gitu. Trus saya galau... apakah memang harus, mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tergantung tujuan kamu ngeblog, dan niat ngeblognya juga sih :)
      Kalau memang hanya buat ekspresi semata, ya terserah kamu aja mau gimana :))) But, pastinya apa yang kamu dapat juga akan berbeda dengan yang punya tujuan untuk mem-profesional-kan blog ;)

      Delete
  18. Makasih artikelnya yang bergizi, mba..sekarang aku pisahin blogku biar ngga melulu sponsored post, yang event dan job review banyak di Semarang Coret, yang curcol di dewirieka dan yang wisata di pejalansantai, semoga sehatdan istiqomah ngeblog aamiin :)

    ReplyDelete
  19. Saya pernah sekali dapat content placement. Rasanya kok jadi kaya pela*ur ya. Kapok ah nggak mau lagi. Mending di suruh nulis sendiri.

    ReplyDelete
  20. Aku ya aslinya storytelling blogger n selalu gak bs meninggalkan personality dlm tulisan itu. Tp belakangan mulai belajar yg listicle juga krn utk jenis yg macam ini kok kayaknya (perasaaan saya) lebih banyak dimintai.
    Tp msh belajar terus sihm dan sepakat soal having fun

    ReplyDelete
  21. Well noted, Mak Carra. *Brb ngedit postingan* :D

    ReplyDelete
  22. Kalo habis baca tulisan mba carra tuh langsung merasa... Apalah tulisankuuu... Kapan bisa sebagus iniii...

    Anyway, setujuuu sama semua yg mba carra beberkan di atas!

    ReplyDelete
  23. hmm thanks sharingnya mba..
    jadi dapat sudut pandang baru tentang perkembangan dunia perbloggingan nusantara.. :)

    ReplyDelete
  24. sampe skr, aku cuma trima 1x doang sponsored post..dan setelah itu, aku lgs ga kepengin lagi mbak :D.. kayaknya memang bukan di sana lah buatku.. pertama aku ga nyaman untuk nulis review sesuatu yg blm prnh aku rasain langsung (waktu itu trima sponsored ttg review hotel), kedua krn aku blm tertarik nyari uang dr situ.. gaji dari kerjaan kantor masih cukuplah :D..

    tapiiiii, walo akunya sendiri udah ga trima lagi tulisan sponsor, aku msh seneng kalo baca tulisan temen2 yg bersponsor, apalagi kalo cara nulisnya bagus, halus sponsornya, dan pake gayanya sendiri ;)..

    ReplyDelete
  25. Ulasannya ngena, apalagi saya kadang suka gantian. kadang storytelling , kadang listicle. Palinga gampang yang listicle karena ide sudah terkumpul dari list how to do, sedangkan storytelling butuh alur yang pas biar keliatan renyah.

    ReplyDelete
  26. Jadi ingat pernah terima CP, cuma sekitar 300 kata aja tapi ampun-ampun deh puyeng bacanya.
    Huruf kapital dan tanda baca berantakan banget, kalimatnya juga muter-muter nggak jelas.
    Hasilnya hampir 90 persen rombak total. Malah lebih enak nulis sendiri daripada edit yang seperti itu :D

    ReplyDelete
  27. Buat saya yang baru belajar menulis dan ngeblog ngerasa bermanafaat sekali tulisan ini. Terimakasih ya ilmunya 😃

    ReplyDelete

Silakan masukkan link blog Anda dalam kotak ID yang sudah disediakan.
Semua komen yang berisi link hidup, will go straight to spam.

Search This Blog