Sebelum Jadi Selebgram atau Social Climber, Coba Perhatikan Dulu!



Caution: Di postingan ini, kembali saya ngomenin orang lain, meskipun bukan bloger. Dan juga, saya menulis dengan bahasa sarkas. Kalau belum terbiasa dengan bahasa ini, sebaiknya skip saja.

Saya nggak pernah tahu siapa itu Gita Savitri sampai beberapa hari yang lalu.

Well, kalau kamu ketinggalan ghibah eh gosip berita, ya kamu bisa baca selengkapnya saja di sini. Saya mah cuma penonton, nggak berhak cerita. Ntar bisa saya tambah-tambahin juga, soalnya.

Sampai dengan artikel ini ditulis, sepertinya bola salju masih menggelinjang menggelinding, hingga melibatkan hampir seluruh netyjen mahatahu dan mahabenar di jagat maya, sepertinya. Bahkan, konon, sampai jajaran direksi bank tempat si lelaki bekerja juga ikut turun tangan.

Entah bener entah enggak.
Saya sebenarnya enggak terlalu peduli.

Cuma, saya merasa lucu, karena kejadian seperti ini tuh enggak sekali dua terjadi di media sosial yang bak panggung sandiwara ini.

*lalu nyanyik*
Dunia maya ... panggung sandiwaraaaa. Ceritaaaanya mudah berubah.
Kisah para selebgram atau tragedi social climberrrrr ...

*anak lama*

Selebgram, selebtwit, seleb-embuh ... itu nggak hanya bisa menginspirasi, tapi juga bisa menjadi para aktor-aktris panggung medsos, dengan mempersembahkan drama-drama sebabak dua babak banyak babak, yang asyik ditonton. Apalagi kalau sampai ada war, alias perang, alias perseteruan. Bak adegan sinetron Indosiar, makin klimaks, makin seru.

So, here is my take.

Saya lihat, banyak orang pengin jadi selebgram. Bisa dapat produk-produk gratis untuk diendorse, dapat bayaran untuk postingan yang captionnya dibikinin sama ahensi (yang lalu berakhir ditulis apa adanya, tanpa edit, tanpa menghilangkan "Captionnya di tulis begini ya, Mbak."), diundang ke event-event menarik, dan seterusnya.

Banyak orang pengin jadi influencer, meski blank mesti gimana dan mesti ber-attitude seperti apa hingga malah genggeus. Banyak orang pengin difollow, sampai ngemis-ngemis, juga pengin di-like dan di-komen.

Well, yeah, setiap orang berhak dan bisa saja menjadi selebgram. Mereka hanya perlu sangat menginspirasi, atau sebaliknya, menjadi sangat menyebalkan. Pilihan ada di kita sendiri.

So, berikut ini adalah pesan buat kamu-kamu yang pengin menjadi selebgram dan femes, dari seorang penggemar dan penonton drama media sosial.


Sebelum jadi selebgram, berikut beberapa hal yang harus diingat, menurut seorang penonton drama maya (alias eikeh!)


1. Watch your emotion


Emosi selalu bisa menjadi bumerang. Emosi bisa bikin kita hilang kendali atas diri kita, termasuk jempol.

Mari kita jadikan kasus Gita Savitri ini sebagai contoh.

Menurut penelusuran saya, ada yang bilang bahwa si mbake ini tadinya punya reputasi perempuan anggun dan smart serta penuh inspirasi. Ini katanya lo, ya. Maaf, saya nggak sempat stalking soalnya. Bukan tipe yang saya idolain, jadi saya nggak tahu mbaknya ngapain aja di Instagram atau media sosial lain.

Dalam waktu sekejap, hanya beberapa menit, reputasi itu hilang seketika hanya gara-gara mbaknya lepas kontrol saat menjawab DM si masnya.

Emosi seperti apa yang bisa bikin lost control? Emosi kan ada banyak?
Hmmm, menurut saya, baik emosi negatif (yang berupa amarah, kesedihan, kekecewaan dll) dan juga emosi positif (rasa senang, puas, bahagia dll) itu sama-sama bisa menjadi bumerang bagi diri kita kalau diungkapkan atau dilampiaskan secara berlebihan.

Terlalu senang atau terlalu puas akan sesuatu lalu dilampiaskan secara berlebihan itu juga nggak akan bagus efeknya. Begitu pun kalau kita terlalu marah atau terlalu sedih.

So, kalau saat ini kamu merasa sedang berada di puncak emosi, lagi seneng banget, lagi sedih banget atau lagi marah banget, jauhi dulu media sosial.

Beneran deh ini.

Ah, kan bisa dihapus ini!
Udah ngetweet bisa dihapus. Udah nyetatus juga bisa dihapus!

Really? Are you sure?
Coba ke poin kedua berikut.


2. Screen capture does EXIST!


Tahu kan ya, fasilitas screen capture? Yes, screen capture--atau kadang juga disebut dengan screenshot--adalah gambar tampilan layar yang diambil langsung dengan gadgetnya. Tahulah ya, apa itu screen capture atau screenshot atau biasa juga disingkat SS.

Tahu kapan, si mbak selebgram itu benar-benar apesnya?
Saat si mas lawannya menyebarkan screen capture DM mereka di media sosial. Katanya sih atas nama pembersihan diri juga sih.

Yang salah siapa, hayo?

Saya bilang dua-duanya salah.

DM--atau Direct Message--nama lainnya adalah Private Message. Pesan pribadi. Namanya pribadi ya seharusnya tetap berada di ranah pribadi. Ngapain pakai disebar ke sana sini?

Oke, kalau itu demi membersihkan namanya--apalagi katanya direksi bank tempat si masnya kerja juga menuntut penjelasan. Tapi coba lihat, ke mana saja DM itu menyebar.
Bahkan di Chirpstory saja ada.

Sungguh. Ini lebih berbahaya ketimbang data bocor Facebook tempo hari loh. :))))

Ingat kasus seorang perempuan pendatang di Jogja yang ngatain orang Jogja miskin dan pemalas, hanya karena ia disuruh ngantre BBM saat BBM langka kapan dulu itu nggak? Kasusnya, si mbak ini bikin status di Path, dan diprotect pula, soal kejengkelannya karena disuruh ikut antre BBM di salah satu pom bensin di Jogja.

I mean, Path adalah media sosial yang paling private. Ini aja discreen capture, dan menyebar ke mana-mana lo! Jangan kira kasusnya berhenti dengan perundungan terhadap si mbak ini. Ia bahkan diadili di pengadilan, dan menerima hukuman lo!

Screen capture does exist, and it's even meaner than people talking!
Tweet kamu bisa diapus, status Facebook kamu bisa diapus. Tapi siapa yang bisa jamin bahwa tweet atau status kamu enggak dicapture orang?

Orang saya aja pernah, nyinyirin Jokan tapi akhirnya saya hapus. Eh, salah seorang teman ternyata lihat dan ngecapture tweet saya itu. Untungnya cuma dibawa ke WAG, dan semuanya teman sendiri :)))) Jadi, saya aman. Nggak diserang penggemar Jokan. Hahaha.

Coba kalau saya selebtweet or selebgram. Wew. Udah, pasti ke mana-mana deh itu.
Nah, ada untungnya juga kan kita bukan seleb. Wkwkwkw.


3. People are mean!


Netyjen itu jahap, bosque. Selain tentunya mereka mahabenar dan mahatahu.

Kalau yang ini sudah pasti pada ngeh dan nyadar seharusnya ya.
Apa saja yang digelindingkan di media sosial--terutama kalau kamu adalah seorang selebgram, selebtweet, atau seleb embuhlah--pasti akan jadi semacam bola salju. Makin gede. Ditambah-tambahin soalnya.

Kemudian muncullah makhluk-makhluk yang bernama haters.
Haters biasanya muncul setelah ada fans. Haters adalah "buah" kefemesan kita. Udah pastilah itu.

And, haters gonna hate.
They never like anything on you.

Siapkan saja mentalmu menghadapi mereka.

Kalau masih belum yakin kalau people are mean, coba bertandang ke akun Instagram Syahrini atau Ayu Ting Ting. Lihat di kolom komen-komennya.


4. You DON'T know people


Kalau kamu belum pernah ketemu dengan seseorang secara langsung, atau kenal seseorang di dunia nyata, maka tanamkan pada diri sendiri, that you don't really know that person.

Kenapa?
Kita nggak pernah tahu gimana orang yang sedang bersembunyi di balik sebuah akun media sosial.

Saya pernah nih ditanya--eh bukan pernah lagi deng, sering!--begini, "Kok nggambar sketsa-sketsanya kek gitu melulu sih? Ngeri amat. Are you OK? Are you happy with your life? Atau, bisa "lihat" kek gituan ya?"

Bahkan ada yang nanya, "Kamu indigo ya?"

Haelah!
FYI. Saya cukup normal. Saya bahagia dengan hidup saya. Permasalahan hidup saya nggak pernah jauh beda dengan orang lain. Nggak, saya nggak bisa "lihat" kek gituan. PUJI TUHAN!
Dan, enggak, saya bukan indigo.

Saya tahu banget, orang-orang yang nanya gitu tuh, adalah orang-orang yang belum pernah ketemu sama saya secara langsung, yang "hanya" bisa menilai saya dari apa yang saya perlihatkan di media sosial.

Ada yang bilang, "Don't judge me, because I only show you what I want you to see."
Ya, ini ada benarnya juga. Tapi, saya pribadi sih dengan besar hati dan sadar betul menerima konsekuensi dari "apa yang saya perlihatkan". Yaitu di-judge sebagai orang aneh.

Nggak papa.
Lagi-lagi, untung saya bukan selebtweet atau selebgram. Jadi, nggak masalah.

Kita nggak bisa menghakimi orang lain hanya berdasar apa yang kita lihat di media sosial. Ya, kita boleh saja sih berasumsi atau berkesimpulan sendiri. Hal tersebut juga hak kita kok. Kadang bukan salah kita juga kalau kita berkesimpulan salah, karena memang hanya sebegitu yang diperlihatkan. Iya nggak sih?

Begitu juga dengan kasus mbak seleb dan mas bankir. Mbak seleb karena marah telah dilecehkan langsung deh pasang foto orang yang melecehkan di Instagram Story. Padahal itu foto yang dicolong dari akun lain.

Ya, memang. Gimana kita bisa tahu kalau itu adalah fake account?
Makanya saya bilang, we don't know people.

Terus kenapa?
Mari kita ke poin selanjutnya.


5. Karena nggak kenal, maka sopanlah


Dan, karena kita nggak bisa kenal betul dengan orang lain di media sosial, maka ya sebaiknya kita harus menjaga setiap kata yang kita keluarkan dan tetap sopan sama siapa pun. Termasuk pada penggemar, kalau kita nanti jadi selebgram.

Pernah kepoin komen-komen di Instagram Yuni Shara belum?
Kapan itu pernah viral, soal jawaban-jawaban Yuni Shara pada para hatersnya yang savage banget :))


Jawaban Yuni Shara pada haters. Demen deh waaaa =)) Image via Tribun Jambi

Tuh, jawaban perempuan pinter dan cerdas tuh gitu. Balikin deh ke komentatornya. Dan, tetap denga sopan.

Jangan malah nyebut "Nyet!"
*masih ngekek* Ya Allah. *shake my head*

Sekali lagi deh ya, jangan balas komen atau nyetatus saat emosi ya. Ya gitu tuh, hasil keluarannya. Nyat nyet nyat nyet.




Nah, itu cuma 5 hal yang mesti diperhatiin kalau kamu mau manjat sosial, terus pengin jadi selebgram. Tentu masih banyak hal lain juga yang mesti kamu persiapkan. Yang lebih teknis-teknis, kayak ratecard, grafik demografi, email dan nomor WhatsApp untuk dihubungi, dan lain-lainnya.

Semoga ini bisa jadi bekalmu untuk menjadi seorang selebgram yang bermartabat.

Moral of the story.
Jangan pernah ganggu cewek yang lagi PMS!

Bahaya, cyin. Cewek PMS lagi jalan ketemu batu, yang pindah batunya!

Ya sudah, saya pamit dulu.
Mau cari selebgram berpengikut 600K++ untuk diajak ribut. Biar follower IG saya nambah 3000an lagi.

Kan mayan.

13 comments:

  1. Mbaaaaakkkk ini isi hatiku syekaliiihhh. Apalagi yang seputar screencapture sih. Banyak yang belain si masnya karena dia "buka" sifat aslinya si mbak selebgram. Tapi buatku, sama aja salah. Tapi yah, porsi salahnya tetep berat ke si mbak seleb. Wong kita yg orang b-aja mikir 10000000x buat ngomel2 sambil bawa nama orang di medsos, kok dia dengan follower segitu ngga bisa nahan :(((

    Jadiin pembelajaran aja deh :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yahhh, kalau orang B aja kek kita mah, udahlah, Fa. Ambil popcorn (abis buka kalau pas puasa) terus nonton aja. Mayan kan dapat suguhan drama kek gini. Seru. Wkwkwkw.

      Delete
  2. Isi kepala manusia kalau bisa dibaca ala indigo ya seperti yang selama ini kita lihat, tdk semua orang siap.Kenapa, ya dari awal tidak pakai jalur hukum saja drpada memanfaatkan medsos sebagai alat untuk mengadili..kalau salah tuduh akhirnya bisa berabe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang penting mah ramein dulu di medsos. Wkwkwkw.
      Penyakit sih emang. Hahaha.

      Delete
  3. Saya malah baru tau nama mbak gita gita itu saat baca tulisan mba carra ini. Ceritanya sekarang ini mulai pengen manjat sosial.. Tapi saya g up to date begini soal dunia sosial.. 😂😅

    Untungnya saya pernah ketemu mba carra.. Jadi enjoy aja kalau lihat gambar2 mba carra.. 😄

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Baru mulai mau manjat sosial kan? :)) Nanti lama-lama akan update sendiri kok, Mbak.
      Makasih yaaaa, sudah mampir~~

      Delete
  4. Well, everyone's got problems. Some choose to solve them. Some post them on socmed :) Btw, suka blognya mbak Carolina. Salam kenal ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal kembali~
      Makasih ya, sudah mampir~~

      Delete
  5. Setuju, Mbak. Jangan main sosmed deh kalo lagi emosi. Bisa berabe.

    Aku kadang suka jawabin komentar kayak Yuni Shara, tapi kadang kalo lagi kesel bisa ngegas juga hahaha. Sekarang mah harus diem dulu, dan bikin witty reply biar si komentator ngerasa dongkol hahahahaha. #Revenge

    ReplyDelete
  6. Kebetulan saya follow mba akun gita. Tapi bukan fansnya... wkwkkkk.....
    Bisa dibilang agak kecewa karena dia ternyata bisa ngeluarin kata2 hewan. Yang disayangkan bukan karena dia selebgram, tapi sebagai mahasiswa, kuliah di luar negeri lagi seharusnya bisa lebih bijak.

    Aku setuju mba, kalau lagi emosi berlebihan harus hindari sosmed. Aku aja lagi belajar. sering banget udah ngetik panjang, tapi dihapus lagi setelah memikirkan banyak hal. :D

    ReplyDelete
  7. kalau mau jadi selebgram, mending kayak white _coffe_cat atau nala_cat... yang jadi seleb itu meongnya..

    karena meong nggak peduli apa netijen omongkan.. :D

    ngomong2 gitri, saya sih nggak ngikutin apapun terkait beliau. apalgi bak pia palen...

    ReplyDelete
  8. Oalaaah Jadi ini toh yg kemarin sempet di singgung Ranny di FB :p. Kalo mau nambah followers secara cepet, ajakin ribut aja selebgram hahahah.. Aku tau sih mba Gita savitri ini.ngefans sih ga, tp sempet suka ama salah satu videonya pas dia sky jump di Dubai. Hahahaha. Secara aku juga pecinta permainan ekstreme gitu.

    Pernah juga baca novel dia yang tentang kisah si mba nya sendiri. Dari kisahnya itu, sebenernya aku bisa ambil kesimpulan, mba gita ini walo lembut terlihat, tp sifatnya juga keras :p. Jadi kalo dia emosi dan tertulis nyat nyet nyet, ga gitu heran :D. Tapi ya sudlah yaaa.. Moga2 ntar si mbak dan si mas bisa ketemu titik damai.



    ReplyDelete
  9. Sapa itu Gita Savitri, kok nggak tau *emak2 nggak tau berita nih, nggak gaul yaa :D
    Intinya mesti hati2 deh ber-sosmed ya, ini yg aku wanti2 betul ke anak-anak, jgn sampai keprucut nulis sesuatu negatif. Kadang mungkin niatnya cuma guyon, nggak ada maksud buruk, eh si penerima salah tanggap, bisa juga tuh. Gawat!

    ReplyDelete