Disclaimer: Artikel ini aslinya saya tulis untuk indoblognet.com, yang kemudian saya tayangkan ulang di sini dengan suntingan seperlunya.

Subheading dalam artikel blog ini kadang terlupakan. Bahkan mungkin banyak yang belum tau apa subheading, dan apa pentingnya pake subheading.

Apa sih subheading?

Subheading, atau penajukan (sebutannya di WordPress berbahasa Indonesia) adalah semacam judul kecil yang membagi artikel kita menjadi beberapa bagian. Meski disebut sebagai “judul kecil”, tapi subheadings punya peran besar untuk membuat para pembaca blog tetap menaruh perhatian pada artikel kita.

Font subheading ini biasanya memang lebih menonjol ketimbang font artikel umumnya, karena memang tujuannya untuk menjadi pembatas, penarik perhatian, dan penanda bagian penting.




Lalu, apa pentingnya subheading?


Tau enggak, bahwa hanya 10% dari pembaca online yang mau benar-benar membaca artikel blog kita. Nah, dengan subheading atau subjudul atau penajukan inilah, para pembaca bisa scanning dan skimming dengan baik dan gampang.

Lah, mereka suka baca cepat kok malah dibantuin supaya gampang skimming?

Coba lihat, gambar berikut.

pentingnya subheading

Enakeun mana untuk dibaca?

Ya, jadi gini, Marimar.
Saat mereka bisa scanning dan skimming dengan mudah dan baik, dan kemudian mereka menemukan bahwa konten artikel kita sungguh berfaedah dan banyak manfaatnya bagi mereka, maka saat itulah mereka akan mengulang lagi membaca artikel kita dengan lebih saksama.

So, ini sama halnya kek kita bikin kesempatan kedua agar tulisan kita kebaca, sampai selesai.

So, sampai di sini, setuju kan kalau subheading ini penting? Makanya kita harus tahu beberapa trik agar membuat subheadings ini tetap menarik. Kalau enggak ya, bhay juga nih mereka para fast reader ini.

So, bisa disimpulkan, bahwa subheading berfungsi untuk:
  • Menonjolkan bagian per bagian dalam artikel, sehingga tetap menarik untuk dibaca.
  • Membuat para fast reader yang selalu terburu-buru membaca itu bisa skimming dengan lebih baik, dengan harapan mereka akan tertarik membaca dengan lebih saksama.
  • Meringkas atau menyimpulkan dari beberapa bagian yang dipisahkannya.
  • Membuat pembaca lebih mudah memahami topik yang sedang kita bahas.
  • Membuat pembaca lebih penasaran, dan akhirnya mau scroll ke subheading berikutnya.
  • Memudahkan kita untuk merumuskan pikiran, dan tulisan pun menjadi lebih runtut dan fokus. Saat kita sudah punya poin-poin subjudul dalam kerangka tulisan, maka selanjutnya akan jauh lebih mudah bagi kita untuk mengembangkan kerangka menjadi tulisan utuh.
Nah, yang terakhir itu saya banget. Kalau saya bikin artikel tanpa subheading dulu itu bagai kehilangan arah tujuan. Tapi, kalau sudah ada poin-poin dulu--yang berupa subheading--nulis artikel bisa lebih cepet.


Di mana kita setting subheading?

Kalau di Wordpress dengan classic editor, ada di sebelah sini.

subheading di wordpress classic editor

Untuk Wordpress dengan Gutenberg, ada di sebelah sini.
Atau, bisa juga klik di bagian block, nanti akan ada tanda plus (+) nongol, untuk menyisipkan block baru. Klik, ntar ada pilihan tipe block. Pilih yang heading.

subheading di gutenberg



Kalau di Blogspot, setting subheading juga ada di sebelah kiri atas kotak editor, hanya saja berbeda istilah.

subheading di blogspot

Kalau di WordPress sudah langsung kelihatan heading 1, 2, 3, dan seterusnya. Nah, kalau di Blogspot, Heading = H2, Subheading = H3, Minor heading = H4.

Untuk WordPress, biasakan judul artikel sudah mendapatkan tag H1. Jadi untuk subheading pertama, kita bisa pakai mulai H2. Untuk Blogspot, subheading pertama, kita pakai yang Heading, berikutnya baru Subheading.

Bingung nggak? Hehehe. Semoga enggak ya.
Sambil dibuka blognya kalau bingung yah, sambil sebut nama saya 3 kali.
*lah*

Terus, gimana ya bikin subheading yang menarik, yang bisa bikin para skimmer dan fast reader jadi tertarik untuk baca ulang artikelnya dari awal?

Well, kuncinya--jujur aja nih--tetep dari konten kamu. Kalau konten kamu enggak worth to read atau topiknya enggak mereka butuhin, ya mau bikin subheading kek gimana ya, enggak bakalan dibaca ulang sik. *Mamak sang pengempas harapan*
Yagemana dong? Emang itu dulu yang mesti dipahami sik.
Kalau enggak, entar kalau misal udah coba praktikin tip-tip di bawah ini dan ternyata enggak manjur, terus bilang, "Meh, Carra mah omong doang!"

Kan ga gitu maennya. Yekan? YEKAN?!


Membuat Subheading yang Menarik

1. Inti persoalan

Para skimmer alias fast reader biasanya males baca apalah apalah pengantar artikel, mereka maunya langsung ke pokok persoalan.

So, tempatkanlah poin-poin pokok pikiran di subheading.

Jadinya tuh, saat para skimmer lagi skimming dan scanning subheading, mereka tuh kek udah disodorin inti dari artikel kita langsung, gitu loh.

Salah satu yang terpenting dalam subheadings adalah perletakan keywords utama. Pastikan setidaknya ada satu keywords utama yang menempati posisi subheadings, boleh di H2, H3, dan seterusnya. Ya, paling bagus sih di H2 sih–subjudul yang paling gede. Ini salah satu langkah SEO yang penting loh, bisa banget memengaruhi posisi artikel kita di Google.

Jadi, be smart merangkai kata-katanya ya.


2. Short and simple

Namanya juga sub-JUDUL. Judul. Jadi, bikinlah yang pendek dan simpel. Langsung ke masalah. Nggak usah endebre-endebre ke mana-mana.

Elah. Tapi, kan itu ada juga yang suka bikin judul panjang?
Ya iya, tapi kan juga enggak satu paragraf dibikin subheading semua. 
It's over optimized, dan Google tuh gak suka.

So, ingat, bahwa subheading ini berlaku layaknya judul. Jadi ya perlakukan seperti judul.

Berapa kata idealnya?

Enggak ada angka pasti. Hehehe. Silakan disesuaikan dengan kebutuhan, tapi jangan berlebihan.


3. Kreatif

Yep, kreativitas kita dalam mengulik kata jadi kuncinya.

Anggaplah sebagai judul--seperti yang sudah dijelaskan di atas--yang akan menentukan pembaca mau ngeklik dan kemudian baca artikel kita, jadi subheadings harus juga memberikan rasa penasaran.

Untuk apa? Supaya pembaca artikel kita semakin penasaran ingin tahu apa saja yang kita bahas, sehingga mereka nggak kerasa udah scroll dan baca sampai artikel selesai.

Jadi semua syarat-syarat judul yang baik itu berlaku; either mengandung kata-kata yang powerful, emosional, mengungkapkan keunggulan atau positiveness, dan lain-lain.



Nah, demikianlah sedikit perkenalan mengenai subheading. 

Jadi, sudah benar-benar setuju kan, kalau subheading itu penting? 
Nggak cuma akan memudahkan kita dalam merumuskan kerangka pikiran yang kemudian dikembangkan menjadi artikel utuh, tetapi juga dapat memberikan user experience yang baik bagi pembaca. Utamanya mereka yang males baca, penginnya cepet, dan langsung dapat solusi.

Ada tambahan?
Boleh tulis di kolom komen ya.


Banyak orang yang ngeliat, bahwa menjadi bloger itu salah satu jalan untuk bisa menghasilkan uang yang banyak tanpa harus bekerja keras seperti pegawai kantoran. 

Apalagi nih ya, sering terlihat beberapa bloger memang terlihat pamer, mengenai achievement apa saja yang sudah mereka dapatkan dengan jalan ngeblog.

YES! Saya menyalahkan klean-klean--para bloger komersial dan profesional--yang-dengan-atas-nama-bersyukur memamerkan handphone, acara jalan-jalan, acara makan gratis, gudibek, dan segala macam hal yang klean dapatkan dari ngeblog.

HAHAHA.
Dih. Jangan baper.

Saya menyalahkan juga cuma menyalahkan doang. Just keep going. Bikin orang lain kepanasan itu memang menyenangkan! :))

Namun, tahukah kamu? Bahwa di balik itu semua, ada beberapa realita menjadi bloger yang harus kamu tahu, terutama kalau kamu juga pengin jadi bloger karena kepanasan kek yang saya sebutkan di atas itu. 

Pengin juga euy, dapat hengpon gratis!
Mau juga dong, dapat duit buat jajan!
Wah, mupeng juga atuh, dapat produk-produk gratis buat direview!

Yha!

Sok eta. Jadilah bloger.

Hanya saja, kamu harus tahu. Menjadi bloger yang baik dan terkenal bukanlah hal yang mudah dilakukan. Apalagi kalau kamu mau mengandalkan jalan ngeblog sebagai sumber penghasilan.

No no no. Tidak pernah ada jalan yang mudah dan mulus, Pulgoso. Semua harus dibayar dengan keringat, air mata, dan darah.

Wuidih. Serem amat, Mak!
Tapi, itulah kenyataannya.


Yakalo dari awal niat cuma jadi bloger medioker sih ya ... yaudahlah ya. Berhenti saja. Ngapain? Bikin sesak blogosphere aja. Mendingan cari usaha lain aja yes?

Nah, tapi ... balik lagi. Nggak pernah ada jalan  mudah. Para bloger terkenal itu pasti juga pernah mengalami kesulitan. Setiap dari mereka--saya yaqin--pasti pernah menapak di stage menjadi bloger medioker. Tapi mereka punya sesuatu.

Mereka bisa membuat konten yang bagus.

Itu yang membedakan mereka. Tapi, mereka juga tidak begitu saja bisa membuat konten yang baik. Konten-konten blog yang ada dibuat lewat berbagai perjuangan panjang. 


Belum lagi, ada beberapa realita menjadi bloger yang harus dihadapi setiap hari. Realita seperti apa? Seperti ini.

1. Sulit membuat konten yang kreatif setiap hari


Berbagai bloger terkenal telah berhasil membuat ratusan, bahkan mungkin ribuan postingan yang menarik. Bagi orang lain, konten yang dibuat oleh mereka ini, apa saja bisa menjadi selalu menarik. 

Kadang saya sendiri juga heran. Yawlah. Kek gitu aja bisa jadi konten. Tapi kok ya bagus ya?

Hahaha. Ampun!

Nah, kalau kamu mau jadi bloger yang standout, kamu memang akan dituntut untuk membuat konten yang irresistible setiap waktu. 

Tapi, realitanya.
Itu nggak semudah seperti kalau Makcar lagi ngasih tip bikinlah konten yang berkualitas, Mak!

Adalah sulit untuk membuat konten yang kreatif, yang unik, yang berbeda dari bloger lain, apalagi kalau harus dituntut setiap hari

Menemukan ide yang bagus dan kreatif bukanlah hal yang mudah. Ide yang unik tidak selalu datang setiap hari.

Sampai di sini, berapa orang nih yang ngacung?

Untuk blogger profesional pun, bahkan ada suatu hari ketika mereka bingung dan tidak tahu harus membuat konten seperti apa. 

So, kamu mau jadi bloger? Percayalah, kamu akan mengalaminya juga. Hanya saja, please, jangan jadikan kebiasaan. 

Ide memang kadang mentok. Saya pun gitu.
Tapi dengan sedikit latihan brainstorming, ide bisa dipanggil datang.

Ini memang realita yang harus dihadapi oleh bloger kebanyakan, tapi jangan jadikan kebiasaan.

Paksa diri kamu juga setiap waktu untuk mulai menulis. Kalau kamu sudah mulai menulis, kamu akan tahu bahwa langkah selanjutnya akan lebih mudah. Kamu bisa mulai menulis dari mana saja kok, asalkan bisa memantik idemu untuk keluar secara liar. Kamu akan punya banyak waktu nanti untuk memolesnya, hingga menjadi tulisan yang bagus.

So, buat jadwal agar kamu bisa menulis dengan rutin. 


2. The first draft of anything is sh*t


Itu kata Ernest Hemingway.
Seorang empu penulis cerpen. Kamu sudah pernah baca cerpennya?

Itu juga berlaku di dunia blog.
Kalau kamu membaca hasil tulisan para selebloger, mungkin kamu merasakan bahwa tulisan yang mereka buat selalu bagus dan mengalir dengan indah. Mereka seperti bisa menulis dengan lancar tanpa perlu berusaha lebih.

Namun, tahukah kamu, bahwa kemungkinan besar tulisan yang mengalir indah tersebut merupakan hasil dari berbagai coretan, draf, dan revisi berkali-kali?

Draf tulisan yang pertama dibuat memang selalu jelek. Bloger profesional sudah terbiasa untuk mengedit dan merevisi kembali tulisan yang mereka buat.

Kamu--yang mau mulai menjadi bloger--nggak perlu takut untuk kalah dalam menulis dibandingkan dengan orang lain. Kamu tidak perlu banyak membandingkan hasil tulisanmu dengan milik orang lain. Untuk belajar lebih baik, kamu memang harus membaca banyak tulisan orang yang lebih bagus, ini wajib. Tapi itu berbeda dengan "membandingkan tulisan" kamu dengan yang lain ya.

Belajar dari tulisan orang berarti kamu akan mengambil hal-hal bagus yang dilakukan orang untuk kamu pelajari, modifikasi, dan lakukan untuk tulisanmu. Membandingkan berarti kamu hanya akan menghakimi tulisanmu dan tulisan orang lain, tanpa mengambil pelajaran.

Kalau kamu merasa tulisan kamu masih jelek, maka take your time for self editing. Kamu selalu punya waktu dan kesempatan banyak untuk merevisi artikelmu berkali-kali. 

So, luangkan waktu setiap kali untuk mengedit kembali tulisanmu. Dengan cara ini, kamu juga bisa membuat tulisan yang mengalir dengan indah. 

3. Bloger itu susah puas





Saya pernah nih lagi mentoring satu kelas blog, dan memberikan tugas pada peserta untuk membuat artikel sesuai tahapan-tahapan yang pernah dipelajari.
Dan, ternyata, soal kepuasan bloger terhadap artikelnya ini sungguh menarik :))
Ada lo, yang ngaku, ngedit sampai 6 kali, dan sesaat setelah disetorkan masih pengin edit lagi. Hahaha.

Pada dasarnya ini bagus. Sebagian besar bloger yang sukses cenderung selalu merasa bahwa mereka tidak pernah sepenuhnya puas dengan konten yang telah dibuat dan dipublikasikan. Mereka akan merasa bahwa selalu ada hal yang bisa diperbaiki dari konten mereka. 

Hal ini memang baik, apalagi jika kamu baru pertama menulis. Namun, jika tidak dikendalikan, perasaan ini akan menghalangi kamu untuk benar-benar membuat artikel. 
Manfaatkan perasaan ini untuk membuatmu selalu ingin berkembang, namun jangan jadikan alasan bagi kamu untuk tidak membuat konten. 

Perfectionism is self-abuse of the highest order.
- Anne Wilson Schaef.

Ada baiknya quote itu kamu renungkan.


4. Everybody is a procrastinator



Termasuk bloger, bahkan bloger yang sudah senior dan populer sekalipun!

Kalau enggak, mana ada kasus telat setor tulisan liputan event (sampe ditagih-tagih mulu sama ahensi)? Mana ada kasus telat posting, dan diingetin mulu sama PIC komunitas?

Everybody is a procrastinator! Especially bloggers.

So, kamu mau jadi bloger profesional? Jangan jadikan ini sebagai kebiasaan.

Kamu pasti pernah merasa tidak ingin melakukan suatu pekerjaan. Kamu hanya merasa ingin menundanya sehingga kamu bisa melakukannya di lain waktu. Kalau mood. 

Hal ini memang wajar, dan setiap orang pasti pernah merasakannya, termasuk para bloger. Menunda pekerjaan memang bisa menjadi hal yang menyenangkan untuk sesaat.

Tapi tahukah kamu? Menunda pekerjaan bisa jadi terkait dengan rasa takut. Kamu merasa takut membuat postingan yang jelek, sehingga kamu menundanya. But, stop. Kamu nggak bisa seterusnya begini. Kalau kamu pengin profesional sebagai bloger, kamu harus pegang komitmen kamu.

Untuk membantumu termotivasi segera menyelesaikan apa yang tertunda, maka tetapkan deadline. Kalau perlu, hukum diri sendiri jika tak bisa memegang komitmen. Yes, you deserve a punishment, karena sudah mengecewakan orang lain.

Dan sebaliknya, berikan diri sendiri rewards jika sudah menyelesaikan tugas dengan baik.



Menjadi blogger memang tidak mudah dan banyak tantangannya. Namun, kalau kamu konsisten dan berusaha dengan keras, kamu akan bisa mencapai apa yang kamu inginkan. 

Sudah siap menghadapi realita-realita di atas sebagai bloger?
Welcome on board!





Hae! Akhirnya blog ini update lagi yah? Hehe. Maaf, Juni itu sesuatu banget. Apalagi pake liburan yah, jadwal kacau bet. And believe or not, butuh waktu 2 minggu untuk menatanya lagi. Utamanya sih karena ada pengurangan job, tapi juga ada penambahan juga sih.

So, pa kabar liburannya, gaes? Sudah beberapa minggu berlalu dan belum bisa moveon? Wqwqwq. Makanya banyakin liburannya, biar nggak susah moveon. #hlah

Para bloger--terutama yang non travel bloger--apa kabar traffic kemarin pas liburan? Pada ditinggal kan ya? Kebanyakan sih gitu. Saatnya liburan, ya ngeblognya juga libur dulu. BW list juga libur yah?

Terus, sudah dilihat lagi belum statistiknya nih sekarang? Berkurang berapa? Stabil? Alhamdulillah ya. Stabil di angka < 30.000 per bulan kan? Ehe ehe.

Namanya traffic, biasalah berfluktuasi yah. Naik turun sampai batasan sekian ribu mah biasa. Blog ini juga begitu. Sekian persen naik turun, biasa aja.

Tapi tempo hari, blog saya yang di sebelah, Bicara Perempuan, sempat turun anjlok drastis. Dari 500-an pageview, tiba-tiba jadi 45 aja dalam sehari. Beugh. Berarti kan itu turun sampai 90% lebih kan ya?

Kalau sudah anomali seperti itu, kita patut waspada sih. Seenggaknya, pasti ada yang salah deh. Dengan segera, saya minta bantuan pada pakarnya buat nyari apa masalahnya. Syukurlah, suhu saya itu lagi selow seharian, jadilah dia bisa bantuin.

Turns out ternyata ... SSL certificate-nya bermasalah, sehingga blog saya itu di-mark sebagai situs tak aman oleh browser. Kalau masuk, langsung ada warning gitu. Untunglah, bisa segera diperbaiki.

Makasih ya, suhu!

Pernah nggak sih kamu mengalami hal yang sama dengan saya? Traffic blog menurun. Tapi bukan yang fluktuatif ya. Ya yang menurunnya drastis kek blog saya itu, signifikan gitu deh. Besar dan penyebabnya sih bisa berbeda-beda.

Kalau pernah, mungkin saja penyebabnya adalah salah satu atau beberapa hal sekaligus berikut ini. Coba kita lihat yuk.


Beberapa Penyebab Traffic Blog Menurun Drastis



1. Perubahan pola browsing dengan ponsel

Zaman sekarang, kita lagi berada dalam masa perubahan penting pola perambanan netijen. Kalau sebelumnya, orang-orang sangat biasa untuk mengakses interner melalui PC (di warnet), sekarang beralih ke perangkat perangkat seluler (dengan mengandalkan Wifi gratisan di ruang publik) yang kian canggih dan memudahkan orang untuk mengakses informasi.

Mau nggak mau, sadar nggak sadar, kepraktisan ponsel pun turut memengaruhi waktu kita untuk browsing.

Perubahan kecenderungan ini akhirnya memengaruhi situs-situs dan blog-blog yang belum mobile friendly.

Blog ini aja deh, pengunjung yang mengakses melalui perangkat mobile saja sebanyak 84%-nya. Jadi, seandainya blog ini enggak mobile friendly, berapa banyak blog ini akan kehilangan viewersnya? Seandainya PV adalah 25.000 per bulan, so blog ini akan kehilangan setidaknya 21.000 PV.  Ouch!

So, ini jadi catatan penting ya.
Buat yang blognya belum mobile friendly (bagus lagi kalau mobile first), silakan diulik ulang. Ada kemarin kasus juga, katanya kok pageview anjlok tiba-tiba kenapa? Tanya jawab sana-sini, katanya belio barusan ganti template. Hmmm, langsung dicek deh, apakah template barunya responsive. Ternyata, enggak. Nah, mungkin karena itu deh. Terus dicek lagi di Google Analytics. Ternyata bener, pengunjung mobile-nya yang anjlok.

So, kalau ada yang pernah dibilangin, "Ganti template bisa bikin PV turun." ... atau mungkin dibilangin, ganti template bisa memengaruhi SEO ... nah, mungkin karena ini ya. Bukan karena yang apalah-apalah. Simpel emang kadang penjelasannya sih.


2. Perubahan preferensi atau perilaku

Sebenarnya ini juga bukan perubahan preferensi atau perilaku juga sih, saya cuma bingung aja nyebutnya gimana. Mungkin malah disebut dengan perubahan generasi, itu lebih tepat.

Netizen zaman sekarang sudah dipenuhi oleh anak-anak millenial, gen X, hingga gen A (yang bakalan semakin banyak menyerbu di tahun-tahun mendatang). Dan, kecenderungannya, makin sedikit yang suka membaca.

Kecenderungan preferensinya teramati bergerak ke "membaca kalau butuh saja", itu pun skimming. Artinya mereka membaca cepat, langsung menuju ke pokok masalah atau solusi. Bahkan, kalau perlu tanpa membaca, mereka langsung bisa menemukan solusi.

Nah, masalah ini terjawab oleh konten yang juga makin bervariasi sekarang, mulai dari video hingga podcast.

Yes, dahulu rangorang lebih suka mengunjungi website atau blog untuk melihat-lihat suatu produk, membaca-baca artikel untuk menambah pengetahuan dan wawasan, pun membaca-baca cerita ngalor ngidul si bloger. Namun saat ini, rangorang lebih suka melihat review orang lain di Youtube atau platform podcast yang lain.

Jadi, nggak heran, pengunjung blog yang hanya menyediakan tulisan saja--tanpa variasi konten yang lain--jadi berkurang.

Lalu, apakah ini berarti kamu-kamu yang lebih cenderung textrovert--yang jijik liat muka sendiri, sebel denger suara sendiri--jadi nggak punya kesempatan untuk sukses?

Nggak juga sih. Hanya saja, kamu perlu strategi jitu untuk bisa standout dibanding yang lain. Salah satu triknya adalah pilih audience dan niche yang pas. Misalnya gini, kalau niche kamu adalah beauty, traveling, craft--misalnya--maka kamu harus banyak main di video, karena kecenderungan audiencenya punya preferensi visual lebih gede.

Tapi untuk niche--misalnya--keuangan, akan ada "harapan" bahwa audience masih ada yang suka baca text (meski tetep juga harus diolah bersama dengan visual secara seimbang). Karena audience topik keuangan ini tingkat intelektualnya lebih tinggi.

Bukan berarti lantas yang di keuangan bisa berpikir, "Oh, kalau gitu, aman deh. Gosah bikin video." Enggak juga. Kalau kamu mau jangkau lebih luas, maka ya kamu harus menyesuaikan, meski konten text tetap diperlukan.

Strategi lain yang bisa diterapkan adalah membuat konten yang irresistible.



No need more explanation-lah ya, yang ini mah. Sampe bosen bahasnya.


3. Penurunan user experience

Misalnya saja nih. Ini satu contoh saja.

Semakin banyaknya layar 404 Page Not Found ditemukan di blog kita, akan memengaruhi nilai user experience di situs yang kita kelola ini. Akibatnya, semakin banyak error page, semakin berkurang pula pengunjung kita.

Begitu pun kalau loading blog kita melambat. Ilustrasinya mungkin begini. Tadinya sih oke aja, terus diulik, misalnya ditambah slider dengan ukuran file gambar yang gede-gede. Taunya PV ada sinyal menurun nih, drastis. Wah, bisa jadi tuh karena loading blog melambat karena file-file yang gede itu tadi.

Nah, terkait user experience ini bisa jadi banyak penyebab sih. Jadi, memang harus diteliti satu per satu.


4. Keamanannya bermasalah

Nah, ini kek cerita saya di awal tadi. Tahu-tahu, SSL certificate-nya bermasalah.

Seriusan, tadinya saya menganggap remeh hal ini. Heleh, blog isi gado-gado begini, kan nggak butuh data pengunjung yang kek gimana-gimana, beda sama misalnya situs jual beli yang pengunjungnya diminta nama, email, alamat, hape dan sebagainya. Kan ini tinggal dateng terus baca aja. Securitynya nggak prioritaslah.

Elah. Ternyata ngaruh!

Dari 400-an terjun langsung ke 40-an. Bok! Nangis, bok!

Karena itu, coba yang blognya belum https ada baiknya kali dipertimbangkan untuk di-https-kan.


5. Google Mengubah Algoritma

Nah, ini nih. Yang terjadi baru-baru ini.

Berubahnya algoritma Google belakangan, yang telah memasukkan E.A.T--Expertise, Authority, dan Trustworthy--ke dalam rank factor sedikit banyak memengaruhi peringkat situs-situs dalam database-nya, yang akhirnya memengaruhi pula jumlah pengunjung yang masuk ke dalam situs atau blog.

Situs atau blog yang kurang fokus pada E.A.T ya akhirnya harus gigit jari, trafficnya menurun drastis.

SEO memang merupakan usaha demi bisa "ngakalin" algoritma Google. Prinsipnya sih gitu. Selama Google terus berubah, maka SEO pun akan juga terus berubah. Sedangkan, tujuan Google adalah meningkatkan kenyamanan bagi para penggunanya, sehingga pastinya akan selalu berubah mengikuti perkembangan yang ada. So, kalau mau terus exist dengan bantuan Google, ya harus siap untuk update terus.

Yang penting, lakukan saja yang terbaik and blog naturally. Enggak akan banyak perubahan yang harus dilakukan kok, kalau kita ngeblog sewajarnya. Nggak usah pakai ngakalin dengan cara curang, untuk hasil instan.



Yep, ada banyak alasan mengapa lalu lintas situs ataupun blog kita berubah. Mungkin saja belum tercakup di atas. Kamu bisa menambahkan yang kurang di kolom komen yah.

Cara ngatasin hal ini sebenarnya simpel saja. Yang penting memang adalah bisa mengidentifikasi akar masalah. Apabila kamu--sebagai bloger--bisa mengidentifikasi permasalahan apa yang muncul terkait menurunnya traffic, maka kamu pasti bisa segera mengatasinya.

Tanpa ini, ya bakalan susah dah.

Semoga bermanfaat. Cheers!