• Home
  • About
  • Daftar Isi
  • Konten Kreatif
    • Penulisan Konten
    • Penulisan Buku
    • Kebahasaan
    • Visual
  • Internet
    • Blogging
    • Marketing
    • User
    • WordPress
  • Media Sosial
    • Facebook
    • Twitter
    • Instagram
  • Stories
    • My Stories
    • Featured
    • Freelancer
  • Guest Posts
Diberdayakan oleh Blogger.
facebook twitter instagram pinterest Email

Carolina Ratri





Sudah membuat daftar resolusi ngeblog tahun ini?

Nah, sekarang saatnya kamu mulai memikirkan bagaimana caranya untuk bisa konsisten melakukan atau menepati resolusi itu hingga bisa terwujud pada akhir tahun 2020 nanti.

Karena, percuma juga kan, kalau sudah bikin resolusi dan akhirnya hanya sekadar janji ngeblog yang lebih oke tahun ini, tapi cuma numpang lewat doang? Sayang banget kan? Padahal sudah ada niat di awal.

Nah, supaya nggak sekadar menjadi janji tanpa bukti, lakukan beberapa hal berikut ini deh.

1. Realistis

Nah, coba kamu perhatikan daftar resolusi yang kemarin sudah dibuat. Apakah cukup realistis? Hal ini patut diperhatikan karena menjadi awal tanda-tanda, apakah resolusi tersebut benar-benar bisa kita lakukan atau tidak.

Katakanlah begini. Resolusi ngeblog kamu tahun ini adalah ngeblog lebih sering. Kamu pengin bisa posting setiap hari. Sedangkan, sehari-hari kamu sudah sibuk banget dengan urusan pekerjaan, yang kadang bikin kamu pulang ke rumah larut malam.

Nah, kalau kek gini, realistis enggak resolusinya?
Enggak sih, kalau menurut saya.

Untuk bisa membuat resolusi yang realistis, yang harus selalu kamu ingat adalah bahwa tak ada sesuatu pun yang instan hasilnya. Semua harus melalui usaha dan cobaan.

Saat mulai membuat resolusi seharusnya kamu sudah bisa membayangkan apa saja usaha dan cobaan yang mungkin harus dihadapi di depan. Akan bagus juga, kalau kamu sudah punya rencana yang matang pula untuk bisa mewujudkannya.

Setelah ada bayangan dan rencana yang matang, tanyakan pada diri sendiri, sanggupkah kamu menjalaninya? Kira-kira akhir tahun nanti, apakah kamu masih bisa survive dengan resolusi itu?

Kalau jawabannya tidak, ada baiknya kamu agak menyesuaikan resolusi tersebut agar lebih realistis. Ini juga berlaku untuk segala jenis resolusi sih, enggak cuma resolusi ngeblog doang.


2. Tak perlu terlalu banyak

Kebanyakan janji memang membuat peluang untuk nggak menepati akan lebih besar.

Jadi, daripada membuat banyak resolusi, akan lebih baik jika kamu hanya membuat dua hingga tiga resolusi ngeblog aja untuk diwujudkan tahun 2020 ini. Hal ini akan membuatmu lebih fokus dan tentu saja menjadi lebih gampang untuk merealisasikan hal-hal yang sudah kamu rencanakan.

Dan, ingat, tetap realistis ya.


3. Tuliskan

Apa yang dituliskan, memang akan lebih mudah diingat. Jadi, tuliskan apa yang sudah kamu rencanakan tahun ini ke atas kertas.

Kamu bisa membuat kartu resolusi sendiri, seperti kartu ucapan Lebaran atau Natal, dihias dengan berbagai pernak pernik yang lucu. Atau juga bisa memanfaatkan whiteboard atau papan styrofoam. Tempelkan kertas-kertas berisi resolusi di atas papan tersebut, dan letakkan di tempat-tempat yang mudah terlihat.

Kalau saya sih pake bullet journal. Hehehe.

Mau pake media apa pun enggak masalah sih. Yang penting, bisa bantu kamu untuk selalu ingat pada si janji awal tahun ini.


4. Make a plan

Selanjutnya, setelah kamu punya resolusi ngeblog yang realistis, kamu juga akan membutuhkan rencana step by step yang realistis juga.

Misalnya, ketimbang hanya pengin meningkatkan intensitas ngeblog, mendingan kamu mikirin gimana caranya meningkatkan kualitas kontenmu. Perbanyak konten organik, yang bermanfaat buat pembaca misalnya.

Perkaya lagi juga jenisnya. Enggak cuma teks doang, tahun ini juga mau perbanyak infografis. Atau, mungkin tahun ini kamu mulai bikin podcast.

Nah, dari sini kemudian kamu bisa membuat daftar apa saja yang bisa dan harus dilakukan. Misalnya, bikin jadwal, kapan harus siapkan materi podcast. Kapan take-nya, terus editnya gimana?

Mungkin kamu tetap hanya ngeblog seminggu sekali--atau bahkan sebulan sekali--tapi sekali bikin konten kamu sudah menyeluruh. Sekali nyiapin materi, kamu bisa produce blog post berupa tulisan, sekalian infografis (untuk dipost di Instagram), slide (untuk dipost di SlideShare), podcast untuk didengarkan oleh mereka yang lebih suka ngedengerin, bahkan sampai video untuk dipublish di Youtube.

Tuh! Lengkap kan? Padahal dari materi yang sama. Sekali sebulan aja, kamu mikir. Dapat banyak media.


5. Track your progress

Resolusi yang ditulis dan diletakkan di tempat yang mudah terlihat akan membuatnya menjadi semacam reminder untukmu. Dari situ, kamu lebih mudah untuk memonitor diri sendiri, sudah sampai seberapa jauh kamu sudah menjalani resolusi tersebut, dan melaksanakan rencanamu.

Inilah mengapa kamu harus membuat rencana-rencana pendek setiap bulan. Rencana pendek selalu lebih mudah dilakukan, ketimbang rencana satu tahun kan? Catat apa saja yang harus kamu ingat selama proses resolusi itu berjalan.

Misalnya begini. Di bulan pertama minggu pertama, kamu akan memproses ide konten untuk blog post. Misalnya saja kamu pengin bahas mengenai hobi yang bisa dijadikan bisnis. Minggu kedua, kamu memproses ide ini untuk dijadikan infografis dan slide untuk SlideShare. Minggu ketiga, kamu mencari narasumber untuk interview bagaimana mengembangkan hobi menjadi bisnis. Ini akan menjadi bahan untuk podcast-mu. Minggu keempat, kamu mendatangi sebuah outlet yang kamu tahu ownernya memulai bisnis tersebut dari hobi. Konten ini kamu siapkan untuk menjadi materi video.

Nah, dengan begini, rencanamu akan bisa dibuat dan dilaksanakan setahap demi setahap kan? Progress-nya juga akan traceable, sampai sejauh mana kamu bisa merealisasikan resolusi ngeblogmu ini. Kalau ada yang perlu diperbaiki, kamu bisa melakukan di bulan berikutnya.


6. Gagal itu biasa

Yes, gaes! Gagal itu biasa.

Resolusi dibuat agar kita semangat untuk membuat keadaan yang lebih baik. Selalu ada kesulitan pada saatnya nanti, dan kemudian menggagalkan rencana kita menuju kondisi yang lebih baik itu.

Well, that’s okay. Nggak perlu khawatir, insekyur, or baper. Kamu selalu bisa start over again. Kalau kamu gagal, selalu ada jalan untuk memperbaikinya lagi.



Yang pasti, yuk semangat untuk 2020 yang lebih baik!
Share
Tweet
Pin
Share
3 comments


Artikel ini pernah ditayangkan di carramedia.

Ada beberapa cara untuk mencegah pencurian terhadap materi online kita, di antaranya adalah dengan membubuhkan watermark di atas foto yang akan kita upload.


Kali ini saya akan kasih lihat caranya membuat watermark pada foto dengan menggunakan Photoshop, meski sudah banyak tools instan online gratisan bertebaran di internet. Nanti lain waktu, saya akan kasih lihat cara bikin watermark dengan tools instan itu satu per satu. Hal ini karena saya anggap, Photoshop adalah dasar dari semua tools editing foto.

Shall we?


Tutorial Membuat Watermark Foto dengan Photoshop

Sebelumnya, saya sarankan untuk lebih dulu punya logo atau apa pun yang akan ditempelkan sebagai watermark dalam bentuk PSD/PNG transparan. Artinya transparan, yaa kalo dibuka di Photoshop, itu backgroundnya kotak-kotak. Semacam yang dilihat di sini ini.

Nggak harus logo juga sih. Kalau belum pernah punya logo, bisa juga pakai tulisan biasa yang langsung ditulis di TKP. Tapi sebenarnya kalau udah punya logo atau apa pun yang sudah dalam bentuk PNG transparan kayak gini, kita jadi lebih cepat nambahinnya.



Selanjutnya buka file yang ingin ditempelin watermark.



Nah, tinggal drag and drop deh itu logo yang ber bekgron transparan ke dalam foto yang dituju.

Caranya dengan tool "move" *itu yang tanda anak panah yang di toolbar sebelah kiri*, terus drag logo ke arah fotonya.




Masih dengan tool "move", resize logo hingga seukuran yang sesuai dan yang diinginkan.

Caranya ya tinggal di klik dan drag aja sudutnya. Jangan lupa nge-drag nya sambil mencet tombol shift ya. Biar tetep proporsional :)



Terus, masih dengan tool "move" posisikan di tempat yang diinginkan. Trus klik kanan pada layer logo > Blending Options.




Pada Blending Options ini kita bisa menambahkan efek drop shadow atau efek bevel pada logo. Dipake dua-duanya juga boleh. Saya biasanya pake dua-duanya buat yang logo pribadi.



Yang di atas itu drop shadow, opacity, angle, distance, spread dan size nya bisa diatur sesuai keinginan. Monggo dicoba-coba saja.


Yang di atas adalah pilihan bevel dan emboss. Ini untuk menampilkan efek timbul gitu pada logo. Monggo dicoba-coba untuk diliat efeknya :D ga usah takut salah. Semuanya bisa dikembalikan ke awal lewat panel history :D
Kalo sudah, kita sekarang ke bagian opacity untuk bikin efek watermark-nya.



Tuh, udah jadi watermark fotonya :D
Gampang kan?


Sampai ketemu lagi di tutorial berikutnya :)
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments


Artikel ini pernah ditayangkan di Indoblognet.

Salah satu PR terbesar yang (paling) biasa dihadapi oleh para bloger--saya duga--adalah soal ide. Sering banget deh terdengar kalimat, “Duh, enggak punya ide.”

... yang kemudian bisa membuat seorang blogger menunda menulis.


Nggak punya ide menulis? Memangnya ide ke mana ya? Jalan-jalan ke mana ya?

Well, kabar baiknya adalah ide enggak ke mana-mana kok. Cuma ya, kalau dia ditunggu datang, biasanya semakin lama malah semakin nggak datang. Ide mesti dijemput, karena ide bukan jelangkung #eh

Sebenarnya, kita tak perlu sampai bilang ‘nggak punya ide’, kalau kita terus menulis setiap hari. Tak perlu risaukan panjang tulisan, dengan kita terus menulis setiap hari, kita telah melatih diri kita sendiri untuk menangkap segala sesuatu yang bisa dituliskan.

Semakin sering menulis, kita akan semakin peka: semakin peka menangkap ide, semakin peka pula mengeksekusi sesuatu hingga menjadi ide tulisan.

So, mari kita lihat.


Cara Paling Efektif Mencari Ide Menulis untuk Blog


1. Lihat kolom komentar

Kolom komen biasanya dipenuhi dengan feedback oleh pembaca. Kalau memang tulisan kita bisa memancing, maka pasti banyak komen bisa kita panen.

Dari komen ini, bisa barangkali satu, dua, atau tiga kita jadikan sebagai ide menulis untuk artikel baru, sekalian menjawab pertanyaan ataupun feedback dari pembaca.

Dengan begini, ada 2 hal yang kita dapatkan; update blog plus memelihara engagement dengan pembaca. Karena pasti deh, si komentator itu bakalan dengan senang hati balik lagi ke blog kita untuk membaca artikel terbaru yang merupakan respons untuk komentarnya.

Jadi, ayo, coba teliti komen satu per satu. Siapa tahu ada pertanyaan yang mampir, atau feedback oke yang bisa dijadikan artikel.


2. Baca buku atau artikel

Kalau mau menulis banyak, maka harus banyak juga membaca.

Hal ini masuk akal. Seperti halnya tubuh yang kalau mau sehat harus dijaga asupan nutrisinya yang masuk. Kalau yang dimakan adalah makanan sehat, maka tubuh pun sehat, jauh dari penyakit. Begitu pula otak. Agar keluaran otak bagus, maka masukannya juga harus bagus. Apa yang keluar berbanding lurus dengan yang masuk, baik kualitas maupun kuantitas.

Jadi, selain kita harus membuat waktu untuk menulis, kita juga harus ada waktu untuk membaca. Membacalah kapan pun ada waktu. Berbeda dengan menulis yang mungkin perlu waktu dan tempat khusus, membaca kan bisa di mana saja, bukan?


3. Ngobrol dengan teman-teman, atau siapa pun

Pastinya pada punya sahabat, komunitas, atau mungkin keluarga kan ya? It works for me everytime setelah saya meetup dengan beberapa teman yang sevisi, para besties, bahkan sehabis ngobrol sama keluarga. Ngobrol dengan mereka-mereka ini bisa juga dijadikan momen untuk mencari inspirasi atau ide menulis di blog.

Nah, kalau saya sih agak pemilih ya. Saya biasanya memilih untuk ngobrol sama mereka yang nyambung aja. Yang sepemikiran, sevisi.

Mengapa harus dengan orang-orang yang nyambung atau sepemikiran? Soalnya kalau enggak, ya yang ada saya malah pusing sendiri karena perbedaan pendapat.

Tapi, kamu enggak mesti gitu sih. Bisa aja kamu menulis mengenai perbedaan pendapat ini. Hanya saja kita harus lebih berhati-hati saat menuliskannya.

Fokuslah pada bahasan yang diobrolkan, latih kepekaan untuk menangkap inspirasi yang barangkali akan muncul. Jangan sekali-sekali menyerang personnya.


4. Jalan-jalan

Jalan-jalan nggak selalu berarti traveling keluar negeri kok. Jalan-jalan ini bisa saja hanya sekadar keliling kompleks rumah, atau pergi ke minimarket di jalan depan jalan kaki.

Dalam perjalanan, barangkali kita akan melihat satu dua hal yang menarik dan bisa dijadikan sebagai ide menulis blog. Segera tangkap dan catat, supaya nggak pergi lagi.


5. Manfaatkan Google Trends


Google Trends adalah salah satu layanan Google yang menampilkan data artikel-artikel yang sedang trending di internet hari ini, dan beberapa hari sebelumnya.

Ada yang belum kenal sama Google Trends?
Hayuk, kenalan! Lumayan banget kok buat dijadiin temen nyari ide tulisan.

Kita bisa mendapatkan banyak banget ide menulis dari Google Trends ini, tak perlu susah-susah melihat berita satu per satu. Lihat saja headlines-nya, lalu ambil beberapa yang menarik atau cocok dengan topik yang pengin kita tulis.

Misalnya saja, dua hari ini topik “BBM naik” masuk ke topik laris. Kita bisa mengambil momen ini nih. Misalnya, menulis mengenai berkendara dengan hemat BBM. Atau, hal-hal yang memengaruhi saya kalau BBM naik. Dan lain-lain.

Dengan begini, kita tak hanya mendapatkan ide menulis biasa. Bisa jadi, kita mendapatkan ide menulis artikel trending juga. Bakalan banyak yang baca lo, kalau kita bisa–istilahnya–riding the waves gini.


6. Headline generator


Headline generator adalah layanan template headlines. Kamu mesti coba, soalnya ini mengasyikkan banget deh!

Sebenarnya ada beberapa headline generator yang bisa kita pakai (dan semuanya gratis). Salah satunya yang saya rekomendasikan adalah FatJoe.



Coba lihat. Saya memasukkan kata “ngeblog” di kotak “Title Generator” pada gambar di atas, dan FatJoe pun memberikan 10 alternatif topik untuk bisa saya kembangkan. Memang tak semuanya bisa dipakai, jadi pilih saja yang sekiranya oke. Grammarnya dia kan pake English, so kita mesti ulik sedikit biar pas dengan grammar kita.
Olah sedikit, jadi deh topik cetar.

Misalnya, saya ambil “the worst advice you could ever get about ngeblog” yang bisa saya terjemahkan bebas menjadi “Beberapa Tip Ngeblog yang Ternyata Hoaks Belaka”.

Hmmm, cukup catchy kan? Selanjutnya, saya tinggal mikirin dan riset deh, isinya apa saja. *brb simpen dulu idenya*


7. Buat survei atau ajukan pertanyaan di media sosial

Cara ketujuh ini juga efektif banget, yaitu dengan mengajukan pertanyaan atau buat survei ataupun polling di media sosial.

Misalnya, teman-teman punya food blog. Coba tanyakan melalui media sosial–Facebook, Twitter, dan Instagram punya fasilitas untuk survei dan polling kan?–misalnya review makanan apa yang pengin dibaca oleh pembaca?

Atau, tinggal tanya saja, “Pada mau ditulisin apa nih di blog?” Semoga pada jawab ya! Dan, bisa kasih ide menulis yang banyak.



Sekali lagi, menulis adalah soal kepekaan. Semakin sering kita menulis, kita akan semakin peka. Peka dalam menyampaikan pesan, juga peka dalam menangkap ide menulis atau inspirasi. Kalau sudah peka, apa pun bisa kok jadi bahan tulisan.

Jangan lupa untuk mencatat semua yang melintas. Jadi, selalulah membawa blocknote atau bisa juga sih dicatat di aplikasi notes apa pun di smartphone teman-teman.

Selamat nulis!
Share
Tweet
Pin
Share
8 comments


Menjadi pekerja online, saya sudah tahu betul apa konsekuensinya. Salah satu yang terbesar adalah tentang plagiarisme.

Enggak melulu harus siap kalau karya kita diambil orang tanpa izin, tapi juga ketika kita terjebak plagiarisme sendiri.

Eits iya loh! Bisa jadi, "tanpa sadar" kita juga melakukan hal yang sama loh! Kesempatan setiap orang untuk menjadi plagiat itu sama besarnya kok. Enggak pandang bulu, yang namanya dosa dan kesalahan itu kan bisa saja terjadi pada siapa pun.

Saya pun demikian.
Mungkin karena enggak (atau belum) ketahuan aja.

Karena itu, saya berusaha enggak terlalu ngegas kalau menemukan tulisan saya telah diambil oleh orang lain tanpa izin. Karena (pada dasarnya, saya percaya karma) siapa tahu, saya masih melakukan kesalahan yang sama juga. Biasanya sih, saya cuma tegur langsung. Kalau mereka meminta maaf dan segera melakukan tindakan perbaikan, ya saya lantas menghapus komen/teguran apa pun bentuknya tadi. Saya anggap case closed. Enggak perlu diperpanjang lagi.

Tapi, iseng-iseng, saya mengingat seenggaknya ada beberapa reaksi yang diberikan oleh para pengambil konten ketika mereka saya konfrontasi. Ada yang bikin saya gedheg-gedheg, ada yang bikin rolls my eyes, ada yang malahan bikin saya berteman sama si pengambil konten itu. Lucu kan? Iya, makanya mau saya share di sini.

Buat apa?
Ya kali-kali kamu juga mengalami hal yang sama; konten kamu diambil tanpa izin. Atau, bisa jadi kamulah yang melakukan kesalahan ini. Barangkali reaksi-reaksi berikut akan kamu berikan juga.


Beberapa Reaksi Para Pengambil Konten yang Pernah Saya Dapatkan

1. Diem bae, pura-pura enggak liat komen/teguran

Reaksi ini adalah yang paling umum terjadi. Hahaha. Diem aja, (pura-pura) enggak tahu ada komen. Ini berkali-kali saya alami.

Pura-pura web/blognya enggak aktif, gitu. Tapi update terus :))
Lucu banget emang.

Sesungguhnya, tipe yang pertama ini adalah tipe yang paling menjengkelkan :))
Sudah ditegur, enggak dengerin. Tetep aja gitu.

Kalau udah gini, biasanya sih saya ya udahlah ya. Susah mah urusan sama orang yang nggak mau respons kan? Kek ngomong sama tembok. Eman-eman energi saya.


2. Diem bae, tapi langsung hapus konten

Ini  tipe yang juga menjengkelkan sih. Tapi masih ada reaksilah ya. Enggak "pura-pura" nggak aktif akunnya atau situsnya.

Mayanlah.

Biasanya saya juga enggak memperpanjang lagi sih. Saya punya banyak aktivitas lain yang lebih penting, soalnya :))

Ini kejadian sama saya pas bermasalah dengan situs Detikpedia tempo hari. Saya berusaha hubungin enggak bisa, hingga akhirnya saya menayangkan surat terbuka. Entahlah, dibaca atau enggak.
Yang pasti, sekarang situs itu sudah enggak ada.


3. Diem bae, hapus konten, terus saya diblok

Update: Pembuat konten penerbit berikut ini sudah mengirimkan surel permintaan maaf. Meski bukan officially dari pihak penerbitnya selaku institusi yang bertanggung jawab atas konten mereka, saya menghargai iktikad baiknya. So, nama penerbit saya hapus.

Nah, ini yang baru kejadian kemarin sama saya.

Sebuah penerbit--yang sudah beberapa waktu saya follow akunnya di Instagram--mengunggah satu konten dengan judul yang rasanya familier banget buat saya. Konten ini diposting di Instagram, yang captionnya mengajak untuk lihat detailnya di Instagram Story--yang kemudian dari IG Story di-swipe up ke sebuah video Youtube.

Sungguh, gaes. Saya kaget setelah melihat poin-poinnya.

Lalu saya coba bandingkan dengan artikel saya di Medium yang saya posting Januari 2018 lalu, berjudul 7 Kebiasaan yang Bisa Membuatmu Menjadi Penulis Profesional.

Ternyata bener. Sama persis! Hanya dikurangi saja satu poin, dan diambil intisari.

Karena penasaran, saya pun bertanya melalui kolom komen konten Instagram penerbit tersebut. Ndilalah, komen saya itu typo. Hahaha. Jadi, sebagai seorang perfeksionis, saya pun berusaha memposting ulang komen yang sudah terlanjur terposting sebelumnya. Tapi kok enggak bisa dipost? Yaaah, iyalah. Jebulnya konten tersebut sudah dihapus dari akun penerbit indie ini.

Wow! Gercep!
Sayangnya, video yang di Youtube masih ada--dan sempat saya screen record, sehingga bisa saya tunjukin di atas. Inilah satu-satunya bukti yang sempat saya dapatkan, karena konten yang lain dengan cepat dihapus.



Saya pun komen lagi di salah satu konten mereka.
Tapi tetap enggak ada reaksi.

Saya kepoin, dan ternyata saya diblok! :)) Ya ampun. Dan pastinya, komen saya yang kedua juga dihapus.

Ya sudah. Sorry, not sorry. Cukup tau aja jadinya.

Saya sebenarnya follow juga karena salah seorang teman menerbitkan bukunya di sini. Saya pikir, ya kali memang bagus, jadi saya mau "mencuri" ilmu atau apalah ya. Hahaha. Yah, emang niat nggak baik duluan sih ya.

So, saya anggap case closed. Kontennya di Youtube sudah dihapus.
Saya unggah ulang, supaya bisa jadi cerita. *evily laugh*

PS. Salah kalau ngeblok saya, biar saya enggak bisa komen/liat konten. Saya punya banyak alter akun, btw. Wqwqwq. Siapa pun bisa ngeblok saya di media sosial, tapi di blog, I rule!


4. Balik marah-marah ke saya

Nah, ini nih. Yang ini lucu juga.

Jadi, ada tuh kemarin seseorang yang "sok" minta izin untuk kopas artikel di blog ini, untuk ditayangkan di blognya. Saya ketawa, monmaap. Minta izin kopas?

Kenapa enggak dia bikin saja artikel baru, yang ditulisnya sendiri, dengan kata-katanya sendiri. Lalu kasih backlink saja ke blog ini, sebagai referensi? Kenapa harus kopas? Minta izin pula?

Sungguh, saya enggak paham.

Begitu saya komen di artikel kopasannya dia (Iya, dia udah publish duluan sebelum saya memberikan izin. Kan lucu lagi?), beliau malah marah-marah sama saya. Katanya, mentang-mentang saya bloger ngetop, dia bloger pemula, saya lalu semena-mena padanya. Lalu--dengan tone yang sarkas dan penuh sindiran--dia bilang, akan menghapus kopasannya dan mendoakan saya semakin sukses.

Ya sudah, aminkan saja. :))

Saya justru speechless. Dalam hati, saya bilang berkali-kali. Jangan salahkan diri sendiri, kamu nggak salah kok ngomongnya. Udah bener, cuma dia yang salah terima.

Ya soalnya, yang begini ini justru berpotensi menimbulkan rasa bersalah pada diri sendiri. Iya nggak sih?


5. Minta maaf, memperbaiki kesalahan

Beberapa waktu yang lalu, Mojok.co dalam salah satu artikelnya juga mengutip salah satu analisis saya mengenai perubahan algoritme Instagram, dan ketinggalan kreditnya. Hehehe.

Sebenarnya artikel Mojok ini sih enggak plek tiplek sih ngutipnya. Masih ada parafrase, meski sedikit. Tapi ya, karena artikelnya bersifat analisis, jadi ya masuk ke radar saya sih.

Sedikit berkelakar dengan mengikuti gaya komunikasi mereka, saya pun mempertanyakan hal ini melalui Twitter.

Surprise, pemimpin redaksi Mojok saat itu--Prima Sulistya--segera mengirimkan DM pada saya di Twitter.



Saya sangat respek terhadap respons ini. Nama besar Mojok ternyata enggak sia-sia.
Saya segera menghapus twit saya, dan juga meminta maaf ke Mojok secara resmi. Prima malahan bilang, twit saya itu enggak perlu dihapus sebenarnya biar inget kalau Mojok pernah salah.

Aih.

... dan malah saya ditawari untuk bisa nulis di Mojok :))



Nah, dari berbagai reaksi di atas, kita bisa lihat--siapa yang memang punya tanggung jawab, punya jiwa yang dewasa, dan siapa yang belum matang dalam berpikir.

Semoga bisa jadi pelajaran saja buat semuanya.

Saya sebenarnya bukan tipe orang yang suka cari ribut. Saya cinta damai, brosis. Tapi kalau saya merasa disepelekan ya gitu deh ... Ada banyak hal yang bisa saya lakukan juga. Saya bukan termasuk penulis yang terlalu ngegas untuk urusan kek gini. Ada banyak penulis dan kreator lain yang lebih "galak" ketimbang saya. Trust me, you won't want to deal with them.

Cuma ya gitu. Kalau saya merasa ditantangin, ya saya jabanin :))

Saya sendiri, jika suatu kali nanti kedapatan melakukan kesalahan yang sama *knocks on wood--semoga jangan sampai*, semoga bisa bereaksi seperti halnya Prima Sulistya.
Semoga!
Share
Tweet
Pin
Share
3 comments


Hae!
Selamat tahun baru ya!

Buat saya, 2019 ini kek roller coaster. Semangat naik turun, traffic blog ini pun setelah menembus 1500 pv/bulan, akhir-akhir ini juga meroket turun. Penyebabnya banyak sih, salah satunya yang terbesar adalah saya males ngulik kayak dulu lagi :)))

So yeah.
Paling bisa emang nulis tip-tip untuk melejitkan blog, tapi sendirinya malas banget ngoptimasi, bahkan malas update. Yagemanaya, energinya sudah habis buat ngerjain yang lain.


Jadi, inilah 5 artikel 2019 yang paling banyak diminati, didatangi, dan dibaca di blog CarolinaRatri.com ini.

1. Yang Perlu Kamu Tahu tentang Caption Instagram: Rules and How Tos 



Meski caption adalah hal kedua yang menjadi perhatian para penduduk Instagram--setelah foto, tapi dia tetap pegang peranan penting. Apalagi kalau buat saya, yang benar-benar jualan barang.

Nulis caption itu enggak bisa sembarangan, apalagi asal comot punya orang. Perkara bakalan panjang. Apalagi buat akun bisnis, caption itu penting banget, karena bisa menentukan tingkat kemudahan konten kita ditemukan oleh orang. Karena di caption ada hashtag.

Silakan mampir, kalau pengin baca ya.


2. 15 Ide Style Feed Instagram yang Bisa Kamu Sontek Supaya Akunmu Lebih Stylish 



Beberapa lama mengamati, ada beberapa style feed Instagram yang sering saya temui.

So, saya kumpulin aja dalam satu tempat, siapa tahu bisa kasih kamu ide pengin nata feed Instagram kamu. Yang pasti, temukan style kamu sendiri, yang ada di sini sekadar jadi inspirasi.


3. Menjadi Penulis Konten: Apa dan Bagaimana Saya Menjalaninya 



 Ternyata tahun 2019 kemarin sudah tahun ke-8 saya mengklaim diri saya sendiri sebagai penulis konten. Ada yang tertarik menerjuni profesi sebagai penulis konten?

Kalau ada, ini tulisan buat kamu--tanpa bermaksud menakut-nakuti. Semua saya tulis berdasarkan pengalaman, tanpa saya tutup-tutupi faktanya. Beberapa hal bahkan bisa terasa menakutkan, tapi bisa sekaligus menjadi motivasi.

Boleh banget kalau mau mampir.


4. Beberapa Jenis Latihan Menulis yang Bisa Dilakukan untuk Menghasilkan Tulisan yang Powerful



 Menulis itu 10% bakat, 90%-nya latihan.


Percaya enggak? Saya sih percaya. Saya bukan orang yang punya bakat alami untuk menulis. Tapi saat didahului dengan suka, lalu latihan, dan akhirnya melakukannya setiap hari, kita bisa menyamai orang yang kondisinya punya bakat menulis sejak lahir.

Latihannya gimana?
Ada di sini.

Lagi-lagi, ini saya tulis berdasarkan pengalaman. Kamu punya metode lain, enggak masalah. Ambil aja yang cocok, yang kurang sesuai tinggalin.


5. Jangan Mentang-Mentang Kamu (Menganggap Diri) Influencer



 Sebentar. Saya malah ngekek. Tulisan ini saya buat dengan senyinyir-nyinyirnya. Tapi banyak yang baca ya. Hahaha.

Meski yang baca enggak ada yang nyinyir balik, saya sebenarnya berharap sih, ada yang kerasa gitu. Wqwqwq. Takut ketahuan kali ya, jadi enggak komen.

Yah, enggak komen nggak apa. Yang penting, ngerasa, terus bertaubat.

*evily laugh*



Nah, itu dia 5 artikel terbaik di blog ini tahun 2019 menurut data statistik Google Analytics.
Menurut kamu, mana di antara 7 artikel di atas yang paling useful?

Atau kamu ada ide topik lain untuk dibahas di blog ini? Tulis saja di kolom komentar ya.

Selamat menyambut tahun baru, semua!
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

Cari Blog Ini

About me





Content & Marketing Strategist. Copy & Ghost Writer. Editor. Illustrator. Visual Communicator. Graphic Designer. | Email for business: mommycarra@yahoo.com

Terbaru!

Kapan Waktu buat Nulis? Begini Cara Saya Membagi Waktu dengan Urusan Warung dan Rumah

Kalau ditanya kapan saya punya waktu untuk menulis, jawabannya enggak pernah pasti. Jadi, memang bukan di jam segini atau jam segini. Dalam ...

Postingan Populer

  • Beberapa Tip Jitu untuk Membantu Kamu Menjaga Konsentrasi dan Fokus Menulis
    Masalah fokus atau konsentrasi biasa memang menjadi permasalahan umum bagi para penulis--baik itu penulis buku, konten, dan blog. Dist...
  • Yang Harus Blogger Ketahui Mengenai Link Eksternal - The Bloggers' Biggest Fear
    Warning: artikel ini akan panjang. Tapi I guaranteed, akan membahas hingga ke detail mengenai outbound links atau link eksternal. Karena...
  • 15 Ide Style Feed Instagram yang Bisa Kamu Sontek Supaya Akunmu Lebih Stylish
    Hae! Kemarin saya sudah bahas mengenai do's and donts dalam mengelola akun Instagram , terus ada pertanyaan yang mampir, "Ka...
  • Bagaimana Cara Menulis 100 Kata Pertama yang Ajaib Agar Orang Mau Terus Membaca Artikel Kita
    5 Cara Menulis 100 Kata Pertama yang Ajaib Agar Orang Mau Terus Membaca Artikel Kita Dalam artikel guest post mengenai Cara Mudah Tuli...
  • Ukuran Feed Instagram 6 Kotak dan Cara Membuatnya Tanpa Ribet
    Eits. Bukan, ini bukan fitur baru. Ada yang nanya soal feed Instagram 6 kotak dari Google, masuk deh ke Console. Hehehe. Iya, ini bukan fitu...

Blog Archive

Portofolio

  • Buku Mayor
  • Portfolio Konten
  • Portfolio Grafis
  • Konten Web
  • Copywriting
  • E-book
  • Buku Fiksi
  • Ilustrasi

Follow Me

  • instagram
  • Threads

Created with by ThemeXpose