• Home
  • About
  • Daftar Isi
  • Konten Kreatif
    • Penulisan Konten
    • Penulisan Buku
    • Kebahasaan
    • Visual
  • Internet
    • Blogging
    • Marketing
    • User
    • WordPress
  • Media Sosial
    • Facebook
    • Twitter
    • Instagram
  • Stories
    • My Stories
    • Featured
    • Freelancer
  • Guest Posts
Diberdayakan oleh Blogger.
facebook twitter instagram pinterest Email

Carolina Ratri



Hae! Apa kabar kerjaan? Sudah merasa mantap untuk resign dan mulai bekerja dari rumah?

Memang, bekerja di sebuah perusahaan menjanjikan jenjang karier yang cemerlang. Apalagi, kalau kamu adalah seseorang yang sangat berdedikasi pada pekerjaan. Gajinya (relatif) lumayan, cukup untuk membantu keuangan keluarga, sekaligus bisa menabung untuk keperluan masa depan.

Tapi, setelah mempertimbangkan banyak hal, saat ini kamu pun yakin untuk mengundurkan diri dari kantor dan memilih untuk freelance, dan bekerja dari rumah saja. Way to go, gaes! Apa pun keputusannya, jika sudah dipikirkan masak-masak adalah yang terbaik untuk keluarga, saya akan senantiasa mendukung! Semoga sukses, ya!

Oh iya, sudah mempersiapkan sebuah tempat di rumah untuk 'disulap' menjadi ruang kerja belum?

Iya, untuk mendukung keberhasilan niat kamu untuk bekerja dari rumah. Kalau belum, yuk intip langkah-langkah membuat ruang kerja di rumah berikut ini!

Ada 2 hal yang harus kamu perhatikan dalam membuat ruang kerja di rumah. Yang pertama adalah membuat pertanyaan-pertanyaan, yang kedua persiapan fisik.

Ini 5 pertanyaan yang bisa kamu ajukan untuk membuat sebuah ruang kerja di rumah agar proses bekerja dari rumah lancar


1. Jenis pekerjaan apa yang akan dilakukan dari rumah ini?

Jenis pekerjaan tentu saja memengaruhi ruang kerjanya, gaes. Yang bekerja sebagai penulis tidak membutuhkan ruangan sebesar instruktur senam, misalnya.

Oleh karena itu, coba kamu bayangkan sendiri, kira-kira berapa besar ruangan yang dibutuhkan untuk mendukung pekerjaanmu ini.

2. Apakah pekerjaan kamu membutuhkan team work, atau single-fighter?

Seorang pekerja single-fighter yang bekerja dari rumah akan melakukan semua pekerjaannya sendiri.

Misalnya saja akuntan, yang sibuk sendiri. Berbeda dengan seorang arsitek yang butuh kerja tim, sehingga perlu ruang kerja yang lebih besar.

3. Akankah menerima tamu?

Namanya kerja, meski itu bekerja dari rumah, tentu menjalin hubungan dengan banyak orang. Tapi, seorang penjahit akan membutuhkan juga sofa-sofa empuk bagi tamunya.

Sedangkan seorang guru bahasa private-online cukup punya backdrop keren, atau sekadar dinding berlapis wall paper yang bermotif bagus untuk melakukan banyak video calling dengan para murid.

4. Berhubungan dengan banyak kertas, atau barang?

Jika kamu seorang agen asuransi, maka pasti akan berhubungan dengan banyak kertas. Berbeda cerita jika kamu punya toko online, yang tentunya butuh ruang penyimpanan untuk menaruh stock barang.

5. Bagaimana dengan jam kerjanya?

Seorang desainer grafis bergantung lebih pada mood dan ide, sehingga jam kerjanya relatif fleksibel. Di sisi lain, seorang psikolog yang bekerja dari rumah pastinya tetap punya jadwal praktik.

Jika jam kerja kamu fleksibel, bisa menempati sebuah ruangan strategis yang dekat dengan ruang-ruang lain di dalam rumah. Sebaliknya, jika terjadwal, sebaiknya memiliki ruangan yang tersendiri agar lebih profesional dan lebih fokus.


Nah, sekarang coba kita lihat mengenai persiapan fisik untuk ruang kerja kamu, agar kamu bisa lancar bekerja dari rumah.


1. 3x3 meter persegi

Idealnya, seseorang harus memiliki space sebesar 9-10 meter persegi untuk dirinya sendiri agar leluasa bergerak --baik bergerak secara fisik maupun mental. Kurang dari itu akan mengganggu kinerja, karena badan merasa terkurung, dan ide jadi susah keluar.

Jika kamu bekerja dari rumah, maka usahakan untuk melakukannya di dalam ruangan (minimal) sebesar itu, ya!


2. Ruangan yang lebih besar untuk pekerjaan team work dan didatangi tamu

Setidaknya butuh 4x5 meter persegi untuk bekerja dengan sebuah tim kecil sebanyak 2-3 orang.
Dalam ruangan 20 meter persegi itu, kamu bisa meletakkan 3 buah meja kerja berukuran standar dan satu set sofa kecil untuk para tamu.

Jangan lupa untuk membaca tip-tip tata ruang mungil agar tidak berkesan sempit, ya!


3. Beli meja kerja dan kursi yang nyaman

Ini penting, mengingat kamu akan menghabiskan waktu berjam-jam di sana. Sebuah meja kerja yang pas untuk seorang penulis dengan sebuah laptop dan printer biasanya cukup yang panjangnya 120 sentimeter.

Bila butuh rak berisi kertas-kertas pesanan dan tagihan, juga berbagai alat tulis kantor lain, pilih yang panjangnya 150 sentimeter. Yang jelas, kamu harus punya kursi dengan sandaran empuk.

Kalau Hayati lelah, segera sandarkan punggung untuk rehat sejenak.


4. Perhatikan pencahayaan

Pilih sebuah ruangan dalam rumah yang sekiranya memiliki pencahayaan alami yang cukup. Misalnya di samping jendela, atau yang dekat dengan teras depan atau belakang.

Ruang kerja di sudut terpencil rumah akan butuh banyak lampu, dan cepat membuat mata lelah karena terus-menerus menyesuaikan diri dengan cahaya yang seadanya.


5. Buatlah senyaman mungkin

Karena kamu bekerja dari rumah, maka bagaimanapun juga, kamu sudah tidak berada di tempat yang penuh dengan formalitas lagi.

Kamu bekerja dari rumah, yang tentunya akan sekali-sekali diganggu oleh orang-orang rumah, dan berbagai keperluan lain yang mendesak. Menata ruang kerja yang homey atau berkesan rumahan akan selalu mengingatkan bahwa kamu ada pada sekaligus dua alam yang berbeda: kantor dan rumah.


Nah, sekarang sudah siap membuat home office yang nyaman, gaes?
Selamat bekerja, menghasilkan karya dan berkontribusi untuk sesama, sambil tetap mengawasi rumah!
Share
Tweet
Pin
Share
2 comments


Kamu suka utak atik desain grafis?

Suka bingung nggak sih, di mana naruh portofolio? Pastinya kamu butuh tempat buat naruh karya-karya yang sudah kamu hasilkan kan?

Ditaruh di facebook sih bisa, tapi kalau kamu cuma punya teman sedikit, ya, jadi cuma sedikit juga yang bisa lihat. Bikin blog atau website? Sudah pasti harus. Kamu harus banyak-banyak promosi ya.

Nah, kalau menurut beberapa desainer profesional, selain kamu harus punya web sendiri, taruhlah juga portfoliomu di platform-platform atau website-website community.

4 Website community yang bisa menjadi tempat portfolio online kamu

1. Coroflot.com

 

 


Beberapa keunggulan Coroflot.com adalah:

  • Free, unlimited storage
  • Mobile access. Yep, Clorofot dapat diakses via handphone, Gaes.
  • Ada statistik berapa orang yang melihat karyamu online, berapa yang follow dan siapa yang favoritin karya kamu
  • Kamu bisa personalize online portfolio menurut selera kamu masing-masing
  • Personal URL. Yep, jadi kayak blog di blogspot. Kamu bisa pilih sendiri URL online portfoliomu.
Hanya saja untuk bisa join, mereka punya standar yang harus dipenuhi. Jadi memang nggak sembarang orang bisa jadi member. But see this way, kalau kamu berhasil join, berarti karya kamu sudah pasti dianggap bagus. What do you think about that? :)


2. Behance.net




Behance.net juga merupakan tempat yang tepat buat menyimpan portfolio secara online.

FYI, Behance ini milik Adobe loh. Tahu kan, Adobe? Yep, developernya Photoshop dan banyak software grafis itu. :) Yang menguntungkan dari Behance, ada apps-nya di Android juga lho.


3. Deviantart.com

 


Deviantart ini bagaikan jejaring pertemanan tapi khusus untuk para artist.

Nggak cuma desainer grafis yang bisa kumpul di deviantart, poems, penyair juga banyak yang bergabung di sana. It's a right place untuk mengumpulkan portfolio juga di sana.

Saya sudah punya akun di Deviantart. Pernah rajin juga submit artwork dan portfolio saya di sana. Sayang, nggak ada waktu lagi sekarang. Boleh cek ke http://r3dcarra.deviantart.com/. Dulu bahkan saking rajinnya posting di sana, saya sampai dibeliin membership premium selama setahun lho sama temen saya. :))))

Deviantart ini juga ada Android apps-nya.

4. Dribbble.com




Yes, with 3 'b's in dribbble.

Merupakan komunitas di mana para desainer berkumpul dan memamerkan karya masing-masing secara online. Tak hanya menyediakan tempat untuk memamerkan karya, dribbble juga memungkinkan para pemilik proyek mencari talents untuk setiap proyek yang mereka miliki.




Konon, kata seorang desainer pro luar, kalau kamu mau branding sebagai desainer grafis, ada baiknya kamu punya portfolio di semua web community gitu. Karena masing-masing kan punya massa sendiri-sendiri. Menebar jala, gitu istilahnya.

Saya juga pernah pengin juga punya online portfolio di web-web community itu. Dulu. Pas saya masih banyak ngerjain desain grafis. Saya pernah dapat klien dari Deviantart. Sekali doang sih, tapi cukup bisa memompa kepedean saya untuk terus berkarya.

Sekarang, saya sudah nggak banyak desain grafis lagi. Corel pun udah downgrade. Huhuhu.

Well, sebenarnya masih ada beberapa online portfolio yang lain juga sih, nggak cuma lima ini. Silakan aja digugling dengan keyword "online portfolio".
Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Ngeblog itu mudah. Siapa aja bisa melakukannya, asal punya internet. Tapi pada akhirnya, hanya sedikit yang bisa survive hingga sukses.

Kesuksesan dalam ngeblog ini--saya yakin banget--bukan karena cuma lagi beruntung. Well, ya mungkin ada sih faktor keberuntungan dan nasib, tapi ya bisa dibilang hanya sekian persen. Sisanya adalah kerja keras.

Para seleblog, yang sekarang kalau dapat job fee-nya bisa dipake buat beli laptop Asus terbaru ini, juga nggak punya tongkat sihir kok. Tapi mereka sudah melalui banyak proses, yang kita tak pernah tahu beratnya seperti apa, hingga mereka berhasil mencapai level seperti sekarang.

Namun, process is a process. Baik ke arah yang baik atau sebaliknya. Dari para seleblog ini kita bisa belajar, apa yang membawa mereka akhirnya bisa mencapai level yang lebih.


5 Hal yang Bisa Kita Pelajari dari Para Seleblog

1. Ciri Khas

Meski pada awalnya tujuan ngeblog hampir semua blogger itu sama, yaitu memulai ngeblog untuk arena curhat, atau sekadar catatan sehari-hari.

Tapi biasanya, para seleblog adalah mereka yang berhasil mengembangkan tujuan awal dimulainya aktivitas ngeblog tersebut. Banyak seleblog yang akhirnya berhasil membuat niche tersendiri mengenai apa yang ditulisnya dan dicatatnya sehari-hari. Banyak yang akhirnya juga menjadi seleblog karena keunikannya membahas topik tertentu dari sudut pandangnya sendiri.

So, tujuan ngeblog boleh sama; untuk curhat dan catatan sehari-hari. Tapi, akan lebih baik jika kita mengembangkan tujuan awal tersebut sehingga bisa lebih bermanfaat bagi orang-orang yang membaca blog kita, ketimbang hanya bermanfaat bagi diri sendiri.

2. Konsistensi

Thing comes up berikutnya yang menjadi rahasia sukses para seleblog, adalah fokus. Baik itu fokus pada keunikan cara menulisnya, keunikannya pada topik pembahasan, atau keunikannya dalam hal-hal tertentu dalam blognya.

Misalnya nih, saya kasih contoh aja, blognya si banker yang suka ngobrolin duit dibawa santai. Tanpa saya link, sebagian besar pasti sudah tahu siapa yang saya maksud.Sebagian besar pasti mengenali tulisannya yang rada-rada kurang rapi tapi justru malah di situ kekhasannya, bahkan jika tanpa ada penulisnya.

Hayo, siapa? Sila ditulis di kolom komen jawabannya, kalau tahu :))

So, kalau masih belum bisa menemukan ‘suara’ khas untuk blog kamu, maka pilihlah topik blog yang bisa membuatmu ‘stand out’ di antara para blogger yang lain. Kalau belum bisa menemukan topik yang pas karena kamu pengin bahas semua-mua yang melintas di pikiran, segera temukan cara menulis yang paling cocok untukmu. Either akan membawamu ke arah yang lebih baik dalam ngeblog.

Atau kalau kamu pengin bahas beberapa topik sekaligus, masing-masing dengan fokus yang berbeda-beda, coba bikin beberapa blog. Untuk mengelolanya, yang diperlukan adalah jadwal. Sukur-sukur kamu sudah bisa membuat editorial calendar.


3. Pesan yang tersampaikan dengan baik

Salah satu hal yang bisa membuat saya kembali untuk mengunjungi blog lain adalah saat saya bisa mendapatkan pesan (dan kesan) baik dari tulisan seseorang.

Kadang saya memang randomly blogwalking, kadang karena ada yang lewat di temlen media sosial. Ada yang direkomendasikan oleh teman.

Tapi sejauh pengalaman, begitu saya bisa menangkap pesan di paragraf pertama, maka saya akan lanjut ke paragraf-paragraf berikutnya hingga selesai. Besoknya, kalau tulisan bloger yang sama lewat lagi--dengan topik lain yang juga menarik--ya saya tanpa pikir dua kali akan berkunjung lagi.

Meski saya jarang banget ninggal komen, dan lebih suka menjadi silent reader, tapi saya banyak kok datang untuk membaca-baca, apalagi kalau tulisannya menawarkan ilmu dan pengetahuan baru. Dan saya akan balik lagi untuk mencari ilmu yang lain.

Kamu juga gitu enggak sih? Atau saya aja?

4. Multimedia dan Diversifikasi

Meskipun ngeblog itu merely tentang tulisan, tapi makin ke sini konten blog yang dilengkapi dengan gambar, audio, dan video menjadi lebih menarik.

Sekarang coba lihat trend ngeblog yang sedang terjadi. Para seleblog banyak yang ‘menghias’ artikel mereka dengan blog titles yang menarik, memasukkan video, bikin infografis, dan lain sebagainya. Tulisan bukan lagi menjadi konten utama, meski tetap yang terpenting. Namun, hal-hal yang melengkapi ini juga menentukan apakah informasi kamu bisa lebih bermanfaat buat pembaca blog.

Katakanlah begini. Kamu mau bahas tentang tempat wisata baru yang belum banyak dikunjungi. Apakah cukup hanya dengan menulis ceritamu menuju ke sana? Nggak kayaknya ya. Kamu harus menyertakan google maps untuk menunjukkan lokasinya, kamu juga perlu meng-attach foto-foto seputar objek wisata tersebut. Kalau perlu video tentang apa saja yang bisa dilakukan di sana.

Atau kamu pengin bikin tutorial menghilangkan background pada foto, misalnya. Apakah cukup dengan ditulis saja langkah-langkahnya? Nggak, minimal harus dengan screenshoot per step-nya. Kalau perlu, sekarang, dengan video tutorial.


5. Networking

Misalnya, tentang job review. Job review yang bagus, biasanya didapatkan dari networking. Dan para seleblog nyadar bener mengenai hal ini. Mereka tahu, bahwa di antara teman-teman bloggernya ada yang menjadi ‘wakil’ dari brand atau agency yang akan selalu membutuhkan jasa mereka untuk membantu menyukseskan marketing campaign-nya.

Contoh, mungkin ada yang sering kepikiran, kok orang yang dapat job review yang itu-itu aja ya? Ya, gimana ya. Jangan salahkan si seleblog ataupun si agency. Si agency ataupun ‘wakil’nya pasti akan mencari orang-orang yang dikenalnya lebih dulu ketimbang mencari muka-muka baru. Makanya, networking itu sangat penting. Kalau baru nongol udah ngarep langsung dapat job review, ya sebentar. Para agency sedang ‘mempertaruhkan’ kesuksesan campaign-nya nih.

Seperti juga kalau kita kerja kantoran, kalau kita karyawan baru dan masih fresh graduate pula, ya pasti selalu dianggap anak bawang yang nggak tahu apa-apa. Tapi nanti seiring waktu kita bisa menunjukkan apa yang menjadi keahlian kita, nah, orang akan mulai melirik. Bos akan mempertimbangkan untuk promosiin kita ke jenjang karier yang lebih tinggi.

Begitu juga di dunia blogging. Kalau belum ada ‘sesuatu’, ya pasti belum dilirik. Maka, menulislah dahulu mengenai topik yang menjadi kekuatanmu banyak-banyak, sering ikut lomba (sukur-sukur juga sering menang), hadir ke acara-acara yang mengundang para blogger lalu tulis reportasenya (walau tanpa diminta) sekadar untuk update blog.

Reportase yang tanpa diminta ini juga nggak bisa dibilang hal yang sia-sia lho. Bisa saja orang agency membacanya, lalu merasa kamu bagus cara nulis reportasenya, dan mereka kemudian akan memasukkan namamu di daftar undangan event selanjutnya. Who knows kan?

Nah, itu dia 5 hal penting yang biasanya menjadi resep sukses para seleblog, tapi diabaikan oleh para blogger pada umumnya.

Sekarang, coba cek blog sendiri-sendiri yuk. Kira-kira apa nih yang perlu dibenahi, kalau kamu memang ingin mendapatkan penghasilan dari blog. Dan, catat lagi ya, penghasilan dari blog nggak melulu soal uang lo ;)

Kalau kamu berpikir seperti itu, barangkali ada baiknya, kamu melihat kembali tujuan awal kamu ngeblog.

Semangat!
Share
Tweet
Pin
Share
2 comments


Kalau denger SEO Off Page, apa yang terlintas di benak?

Rumit? Penuh dengan coding-coding, dan akal-akalan?

Padahal sebenarnya SEO Off Page (yang bener) itu simpel banget lo! Sesimpel SEO On Page. Cuma memang butuh sedikit effort sih--yang kayak-kayak enggak nyambung aja sama blog kita. Tapi sebenarnya kalau dilakuin, efeknya cukup dahsyat untuk peluang "mudah ditemukan" di hasil pencarian.

Bahkan banyak yang enggak mudeng sama konsep SEO Off Page ini hingga mempertanyakan apa efeknya buat blog kita sendiri, saking kayak enggak nyambungnya. Hehehe. Kita akan bahas nanti yah.
Jenjangan ini juga kesalahan kamu dalam memahami SEO Off Page.


Tapi, apa sih bedanya SEO Off Page dan SEO On Page?

Nah, kalau biasanya yang Emak kenal adalah SEO On-page–yang meliputi ngulik-ulik keywords, lalu ditempatkan di tempat yang tepat, optimasi image, ngulik permalink, dan sebagainya itu–ada pula yang namanya SEO Off-page.

Bedanya, kalau SEO On-page itu kita mengoptimasi dari dalam blog kita, kalau SEO Off-page, itu kita memberikan support untuk blog kita secara SEO dari luar blog kita. Jadi yang dioptimasi adalah yang ada di sekitar blog kita. Gampangannya sih gitu.

Dengan kata lain, kita mempergunakan situs ataupun tool di luar blog kita demi mendukung performa blog kita di “hadapan” Yang Mulia Google.

Sampai di sini paham kan ya?
Semoga sih. Rada susah juga jelasinnya secara verbal. Wqwqwq.

Ya, kalau saya lihat-lihat nih ya *CMIIW* beberapa langkah inti SEO Off-page itu prinsipnya meliputi link building yang dilakukan di luar blog, promosi media sosial, dan mengirim URL ke search engine agar lebih cepat terindeks.

Nah, siap untuk bahas satu per satu ya?


Beberapa langkah SEO Off-page yang perlu kita lakukan untuk mendukung performa blog kita di Google

1. Submit URL ke search engine

Hmmm, bukankah blog kita–khususnya artikel-artikel blog yang sudah kita tulis itu–akan terindeks secara otomatis ketika robot crawler search engine datang ke blog kita?

Iya, tapi normalnya kita bisa saja akan butuh waktu beberapa lama untuk terindeks sepenuhnya oleh Google. Apalagi kalau blognya baru, dan nggak full optimized. Bisa lebih lama lagi, mungkin satu artikel baru bisa masuk ke database Google setelah beberapa bulan! 

Terus, kapan deh ada orang yang datang untuk baca, kalau misal 3 bulan lagi baru keindeks dan masuk ke database Google? Entahlah. Hanya Tuhan dan Google yang tahu.

Jadi, kalau kita mengirimkan URLnya secara manual ke Google, ini akan lebih mempercepat proses indexing ini, sehingga artikel blog kita tuh akan ada di database Google lebih cepat juga.

Inilah pentingnya Google Search Console. Cara signup dan setting Google Search Console ini sudah pernah saya jelaskan di web KEB. Sila diintip ya.

Google Search Console ini wajib dipunya, seperti halnya Google Analytics. Nggak susah kok settingnya. Sila disetting, buat yang belum. Segera.


2. Link building

Link building artinya kita “membuat” tautan-tautan di luar blog yang mengarah ke blog kita. Nah, tentang link building ini juga sering ada salah kaprah.

Silakan dibaca artikel tentang External Link ini. Baca pelan-pelan, dan mohon dipahami betul-betul ya. Karena kalau mindset-nya salah, ya udah, enggak bakalan mudeng juga sih sampe lebaran kuda juga.

Ada juga kultwit Makmin Spesialis Malamnya KEB yang mesti dibaca juga nih, kalau masih kurang.

So, coba perhatikan do’s dan dont’s-nya yah, mengenai link building ini, Mak. Jangan sampai kita melanggar aturan. Maunya supaya “dapat tempat” di Google, tapi karena menyalahi aturan malah kena semprit.
Nah, link building untuk bisa mendapatkan tautan yang berkualitas bisa kita lakukan dengan:
  • Guest posting, soal ini juga pernah dibahas di sini yah. Yang saya sesali dari para bloger yang kurang paham mengenai konsep SEO Off Page ini, mereka sering bertanya, "Guest post apa untungnya buat gue? Rugi dong, nulis artikel buat dimuat di blog/web lain tanpa bayaran. Wani piro?" Geeze. Cuma bisa ngelus dada aja sih, kalau dengar (atau baca) beginian. Lu kira lu pinter gitu?
  • Bikin artikel dengan backlink ke blog kita di platform menulis bebas lain, misalnya di Kompasiana, Medium, dll.
  • Memposting link di forum-forum, tentu saja forum yang punya reputasi baik, tanpa spamming
  • Memposting link di situs Q&A, Quora Indonesia misalnya.
  • Meminimalisasi broken link dan bad link


3. Promosi media sosial

Langkah SEO Off-page yang berikutnya ini sudah banyak kita lakukan sehari-hari sih.

Banyak yang suka share link ke akun-akun Twitter or grup-grup di Facebook kan ya? Nah, itu juga merupakan salah satu langkah SEO Off Page yang memang wajib dilakukan, selain untuk sekadar sharing, siapa tahu ada yang butuh. Yekan?

Makanya jangan cuma sekali postingnya di media sosial. Kita bisa berulang kali sharing URL blog di akun pribadi kita kok. Hanya saja ya, awas jebakan spamming juga ya! Tiati lo! Terutama sih usahakan agar setiap share itu ada engagement yang muncul. Jadi jangan hanya share, lalu ditinggal. Sebaiknya, kalau ada yang komen ya direspons ya.

Nah, ini ada hubungannya dengan kebijakan si media sosialnya. Kalau engagement kurang, juga akan berefek nggak baik buat kita juga. Bisa-bisa dibilang spammer itu tadi.



Nah, demikian kurang lebih beberapa langkah SEO Off Page yang mesti kita lakukan utk mendukung performa blog kita.

Rumit? Enggak kan? Cuma 3 biji doang.

Simpel sebenarnya. Rumit itu karena kita aja yang ngeliatnya. Belum dilakuin udah bilang rumit. :P

Yukkk~
Yang ada tambahan atau mau diskusi, saya tunggu di kolom komen yah!
Share
Tweet
Pin
Share
2 comments



Di zaman yang serba digital ini, media sosial memainkan peran yang sangat penting. Rasanya aneh bets kalau sampai ada yang enggak pernah punya akun di media sosial satu pun.

Apalagi Instagram.

Ya emang ada sih yang enggak suka main Instagram. (Saya juga enggak terlalu, cuma posting kalau memang ada momen penting aja). Tapi, kita enggak bisa mungkir kan, kalau Instagram itu aplikasi yang paling populer sekarang?

Oh yes.
Barangkali kamu juga salah satu yang sekarang lagi getol banget main Instagram. Baru aja join, terus penasaran, kok rangorang bisa ya punya foto yang bagus-bagus? Para Instagram influencer itu kok foto-fotonya kelihatan mentereng, gitu. Padahal objeknya ya biasa aja.

Apakah mereka pake kamera yang mahal?

Nope. Rerata bahkan enggak pernah pegang kamera yang mahal. Rerata hanya mengandalkan kamera hape. Hape yang mahal dong? Enggak juga.

I tell you what.
It's not about the gun. It's the man behind the gun.

Ciyehhh.

Maksudnya gimana?
Maksudnya, untuk menghasilkan foto yang keren dan Instagramable itu kadang cuma butuh trik-trik kecil doang.

Mau tau?
Here we go, sedikit rahasia memotret dengan handphone dan menghasilkan foto yang Instagramable.


Trik Foto Instagram That Is (Almost) Perfect

 1. Hindari menggunakan lampu flash

Ini hukum haram pertama dalam mengambil foto untuk Instagram.

Hahaha. Lebayatun.
Nggak deng. Bukan haram, tapi enggak disarankan pake lampu flash.

Jangan hidupkan lampu flash ketika mengambil gambar. Terutama kalau kamu menggunakan smartphone. Hasilnya akan kurang bagus lantaran malah justru akan membuat fotomu terlihat tidak natural dan tanpa dimensi.

Kalau selfie, wajahmu justru akan terlihat datar, kusam, dan sedikit berkeringat. Skincare mah lewat semua.

So sebaiknya, gunakanlah pencahayaan yang natural. Cahaya matahari adalah yang paling maha deh. Tapi seumpama memang cahaya mataharinya kurang, kita bisa edit pakai aplikasi kok.

Pokoknya, jangan pake flash deh, untuk mendapatkan hasil yang bagus.


2. When in doubts, go symmetrics

Bidang atau gambar yang simetris akan selalu terlihat indah dipandang. Rasanya membuat kita selalu tenggelam dalam tempat yang ada di gambar tersebut.

So, kalau kamu memang belum menguasai ilmu komposisi, go for symmetrics untuk lebih safe.

Saat kamu mengambil gambar, selagi melihat layar smartphone, aturlah garis simetris sehingga membuat objekmu persis di tengah-tengah. Atau, cobalah membuatnya terlihat seperti ada dua elemen dari kedua sisi.

Jangan khawatir kalau tetep saja enggak perfect, nanti kamu bisa ulik lagi. Dikrop misalnya.


3. Pakai aturan pertigaan

Pernah mendengar rumus pertigaan dalam komposisi enggak?

Begini. Misalnya saat kita sedang mengambil foto, kita akan berhadapan dengan bidang segiempat lensa kamera. Betul?

Nah, bidang segiempat itu bisa kita bayangkan terbagi dalam 9 kotak. 3 kolom dan 3 baris. Masing-masing kotak mewakili satu point of view.




Kalau mau safe, kamu bisa menaruh objek target fotomu di kotak yang paling tengah. Ini sudah pasti safe. Bakalan balance deh, tanpa effort lebih.

Tapi hasilnya, foto bisa akan sangat standar dan datar. Tanpa cerita.



Nah, untuk membuat fotomu lebih luas, kamu bisa menggeser objekmu pada titik pertemuan atau kotak-kotak imajiner yang ada di pinggir bidang lensa kamera itu.

Selengkapnya tentang rumus pertigaan dalam komposisi ini pernah saya jelaskan di sini.


4. Berceritalah dengan fotomu

Picture talks a thousand words.

Indeed!
So, lakukanlah.

Biarkan fotomu bercerita untukmu. Yang bahkan tanpa menulis caption terlalu panjang pun, orang akan tahu ceritanya.

Gimana caranya?

Berpikirlah secara makro. Pikirkan untuk mengambil foto yang lebih besar. Perhatikan detail latar belakangnya. Perhatikan pula foregroundnya. Dan suasana yang melingkupi.

Bayangkanlah di dalam benakmu sebelum kamu mulai memotret. Kalau sudah mendapatkan bayangan foto yang kamu inginkan, pursue that picture(s)! Fotolah hingga sesuai dengan bayanganmu.

 

5. Gunakan fitur HDR jika perlu

Smartphone kamu sebenarnya sudah mempunyai fitur di pengaturan kamera yang disebut HDR. Mungkin kamu enggak sering menggunakannya saat mengambil foto ya? Atau, malah belum tahu kalau ada fitur ini?

Coba deh mengambil foto dengan pengaturan HDR sedang menyala. Hasilnya akan lumayan lo, pencahayaannya jadi lebih baik.


6. Foto saat golden hour

Golden Hour terjadi sesaat setelah matahari terbit dan sebelum matahari terbenam. Biasanya sih sebelum pukul 10 pagi, atau antara pukul 16.00 - 17.00.

So, kalau kamu pengin mengambil foto di luar, cobalah untuk memotret di antara jam-jam itu. Golden Hour. Pencahayaannya lebih lembut dan hangat sehingga membuat foto-foto kamu terlihat autokeren, dan langsung siap posting.


7. Jangan menggunakan zoom

Kadang kita ngerasa, objek foto kita terlalu jauh. So, kita pun memutuskan untuk menggunakan zoom.

Well, mungkin ini adalah langkah yang kurang oke.

Akan lebih baik, kalau kita gosah menggunakan zoom saat memotret apa pun, dengan alat apa pun.

Mengapa?
Karena penggunaan zoom akan membuat kualitas foto jadi kurang. Foto akan kurang fokus, karena zoom akan membuat kamera semakin peka terhadap getaran tangan kita.

So, mendingan mendekat saja ke objek, lalu foto senatural mungkin untuk hasil yang lebih baik.


Nah, gampang kan ya, trik untuk mendapatkan foto Instagram yang (hampir) sempurna ini.

Keep practicing, maka kamu akan bisa menemukan the best way to take photos for Instagram. Sering-sering liat foto orang lain--bukan untuk ngiri ya--tapi untuk mempelajari berbagai trik dan teknik memotret supaya fotomu lebih keren lagi.

Have fun!


Disclaimer:
Tip fotografi instagram di atas adalah rangkuman beberapa hal yang saya alami dan lakukan--tip khusus for dummies, yang kurang menguasai teori fotografi, tapi pengin menghasilkan foto yang fokus dan bercerita dengan keterampilan standar. FYI, tangan saya tremor, sehingga susah memegang kamera dengan stabil. Dan mata saya mata plus, sehingga juga susah melihat secara fokus melalui lensa. Agak menyulitkan sih. Tapi bisa kok, bikin foto yang baik.

Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Newer Posts
Older Posts

Cari Blog Ini

About me





Content & Marketing Strategist. Copy & Ghost Writer. Editor. Illustrator. Visual Communicator. Graphic Designer. | Email for business: mommycarra@yahoo.com

Terbaru!

Kapan Waktu buat Nulis? Begini Cara Saya Membagi Waktu dengan Urusan Warung dan Rumah

Kalau ditanya kapan saya punya waktu untuk menulis, jawabannya enggak pernah pasti. Jadi, memang bukan di jam segini atau jam segini. Dalam ...

Postingan Populer

  • Beberapa Tip Jitu untuk Membantu Kamu Menjaga Konsentrasi dan Fokus Menulis
    Masalah fokus atau konsentrasi biasa memang menjadi permasalahan umum bagi para penulis--baik itu penulis buku, konten, dan blog. Dist...
  • Yang Harus Blogger Ketahui Mengenai Link Eksternal - The Bloggers' Biggest Fear
    Warning: artikel ini akan panjang. Tapi I guaranteed, akan membahas hingga ke detail mengenai outbound links atau link eksternal. Karena...
  • 15 Ide Style Feed Instagram yang Bisa Kamu Sontek Supaya Akunmu Lebih Stylish
    Hae! Kemarin saya sudah bahas mengenai do's and donts dalam mengelola akun Instagram , terus ada pertanyaan yang mampir, "Ka...
  • Bagaimana Cara Menulis 100 Kata Pertama yang Ajaib Agar Orang Mau Terus Membaca Artikel Kita
    5 Cara Menulis 100 Kata Pertama yang Ajaib Agar Orang Mau Terus Membaca Artikel Kita Dalam artikel guest post mengenai Cara Mudah Tuli...
  • Ukuran Feed Instagram 6 Kotak dan Cara Membuatnya Tanpa Ribet
    Eits. Bukan, ini bukan fitur baru. Ada yang nanya soal feed Instagram 6 kotak dari Google, masuk deh ke Console. Hehehe. Iya, ini bukan fitu...

Blog Archive

Portofolio

  • Buku Mayor
  • Portfolio Konten
  • Portfolio Grafis
  • Konten Web
  • Copywriting
  • E-book
  • Buku Fiksi
  • Ilustrasi

Follow Me

  • instagram
  • Threads

Created with by ThemeXpose