[Studi Kasus] Artikel Putu Sukartini: Memaklumi Kekacauan?

Hai, saya datang lagi dengan analisis konten studi kasus terakhir nih. Kali ini yang saya ubek-ubek adalah artikel dari Mbak Putu Sukart...


Hai, saya datang lagi dengan analisis konten studi kasus terakhir nih.
Kali ini yang saya ubek-ubek adalah artikel dari Mbak Putu Sukartini yang berjudul Memaklumi Kekacauan?

Silakan dibaca dulu yah :) kalau pengin tahu.

So, lagi-lagi saya akan menggunakan 5W1H untuk melakukan analisis konten, demi bisa menelusur struktur yang runtut dan informatif. Tapi, selain itu, nanti di akhir saya juga mau sedikit menganalisis berdasar beberapa pakem viral content yang biasanya saya pakai :)


Analisis Konten "Memaklumi Kekacauan?"


Jadi, ini dia mindmapping yang sudah berhasil saya bikin untuk artikel Memaklumi Kekacauan? dari Mbak Putu Sukartini.




Seperti biasa, saya mengawali analisis konten ini dengan mencoba menebak tujuan Mbak Putu Sukartini menulis artikel ini.
Well, sepertinya tujuannya ada 2:

  1. Menyoroti kondisi rumah yang biasanya berantakan
  2. Mengajak pembaca untuk beres-beres rumah, dan melibatkan anak-anak

So, setiap elemennya sebenarnya sudah bisa dilihat pada mindmapping di atas ya.
Nah, saya mau langsung ke "WHY", karena "WHO", "WHERE", "WHEN" sudah checked semua dan sudah benar.

"WHY" pada artikel ini merupakan alasan Mbak Putu Sukartini menulis, yaitu mengenai kondisi rumah yang berisi anak-anak itu cenderung berantakan. Lalu apa akibat dari rumah yang berantakan ini?

Bayangkan bagaimana kita bisa tersenyum lebar jika rumah kotor, berantakan lalu bising. Rumah kotor yang saya maksud adalah ketika sampah sisa makanan dan sejenisnya berserakan, tumpahan sisa makanan ada dimana-mana, rumah berantakan ketika aneka barang asal taruh, menghalangi ruang gerak, bahkan bisa jadi berbahaya untuk anggota keluarga. Bising lebih parah lagi, ketika semua ingin berbicara berbarengan, teriak atau bahkan tak ada yang mengalah untuk memutar jenis musik sesuai selera masing-masing. Bayangkan, apakah itu nyaman?

Nah, itulah akibat yang ditimbulkan dari rumah yang berantakan.
Dari situ jadilah ada alasan mengapa kita sebisa mungkin tetap menjaga agar rumah tetap bersih dan rapi.

"HOW"?

Nah. Kan kemudian muncul pertanyaan, "Lalu gimana cara merapikan rumah?" Kan ada anak-anak yang bakalan bikin riweuh, dan akhirnya berantakan lagi.

Di sini kemudian Mbak Putu menawarkan beberapa solusi yang ada dalam rincian pada paragraf-paragraf berikutnya.
Berikut beberapa solusi yang ditawarkan:

  • Buat aturan bersama anak mengenai beres-beres rumah
  • Libatkan anak dalam aktivitas rumah tangga
  • Langsung bersihkan jika ada tumpahan (bebas dari kotoran)
  • ...
Dan, yes, nonton TV itu kok saya belum lihat korelasinya dengan beres-beres rumah ya :))) Maafkan saya, Mbak Putu. Barangkali nanti bisa dijelaskan di kolom komen jika berkenan ya, apa relasi dari nonton TV dan rumah yang selalu rapi.

Anyway, biasanya saya kalau menulis tips atau solusi begini minimal ada 5 poin. So, barangkali bisa ditambahkan lagi.

Nah, sampai di sini saya akan memberikan beberapa catatan saja dalam menulis artikel yang read-able.

Sebagai referensi, teman-teman bisa melihat dan membaca artikel mengenai anatomi viral content oleh Backlinko berdasarkan survei yang mereka lakukan. Ada juga infografisnya ya, silakan dicermati. Namun, jangan jadikan satu-satunya pakem dalam menulis viral content, karena ada banyak sekali faktor yang memengaruhi sebuah konten untuk bisa jadi viral.

Kalau mau diterapkan semuanya sih boleh saja. Tapi saya sendiri juga nggak semua saya pakai kok pakemnya. Pada dasarnya, nggak ada yang bersifat absolut. Karena ya itu tadi, banyak faktor yang menyebabkan satu konten bisa viral.

Namun, dari list Backlinko tersebut, saya biasanya menggunakan beberapa poin ini dalam "menjahit" konten sehingga lebih mudah dan lebih menarik dibaca.


1. Struktur artikel


Struktur artikel haruslah praktis dan scannable.
Maksudnya, dalam sekali pandang, orang bisa langsung scanning dan membaca dengan cepat, aka fast reading.

Mengapa begitu?

Ya, karena begitulah behavior-nya orang yang suka membaca artikel online. Mereka akan skimming dulu, dan jika memang benar tertarik maka mereka akan mengulang membaca dengan lebih detail.

Struktur artikel Mbak Putu Sukartini "Memaklumi Kekacauan?" ini kurang reader friendly.
Dalam sekali scanning, orang nggak akan mendapatkan gambaran mengenai isi dari artikel tersebut. Akibatnya?
Ya, barangkali hanya dibaca sekilas, dan pembaca pun akan pergi dan mencari informasi yang lain. Padahal bisa saja konten yang lain itu informasinya sama atau malah less quality, tapi karena strukturnya enak dibaca, jadilah yang dibaca beneran malah konten yang lain tersebut.

Saran saya, pecahlah dalam beberapa pointer.
Karena toh Mbak Putu Sukartini kan menawarkan beberapa macam solusi atas permasalahan yang diangkat kan?
Dengan menuliskannya dalam format storytelling, orang kurang bisa menemukan solusi yang mereka cari dengan cepat.

2. Judul harus catchy


Let me ask.
Jika teman-teman membaca judul "Memaklumi Kekacauan?", apakah langsung terbayang apa isi konten dan apa solusi yang coba ditawarkan?

Hmmm ... saya kok meragukan ya.
Pada kata kekacauan saja saya sudah bertanya-tanya, kekacauan apa?
Jika tujuannya untuk membuat pembaca penasaran dan mau membaca lebih lanjut, well, saya harus bilang, bahwa rasa penasarannya belum muncul sama sekali. Bahkan saya tak tahu apakah dengan membaca artikel ini akan membuat rasa ingin tahu atau rasa haus informasi saya akan terpuaskan.

Judul ibarat wajah, harus mempresentasikan isi.
So, barangkali judulnya bisa diutak atik kembali dengan formula ini.





Atau bisa juga intip tips saya untuk menulis judul yang lebih menarik di sebelah sini yah.

3. Gunakan hierarki


Dalam SEO, ada H2, H3, H4 dan seterusnya yang memang disarankan untuk dipergunakan demi performa konten kita yang lebih baik di Google.

Tapi selain itu saya juga melihat, bahwa dengan mempergunakan hierarki H2, H3, H4 itu akan membuat konten kita jadi scannable dan readable.
Iya, ini balik lagi sih ke poin 1 di atas, yaitu tentang struktur artikelnya.

Jadi, barangkali bisa mulai dipelajari bagaimana menggunakan H2, H3 dan seterusnya, agar kontennya lebih Google-friendly.
Sayang saja, isinya sudah bagus tapi yang baca hanya sedikit karena nggak teridentifikasi oleh Google ya.


Nah, untuk selebihnya barangkali bisa dicermati lagi artikel dari Backlinko di atas.
Saya pernah menulis mengenai anatomi konten viral ini untuk beberapa Arisan Ilmu KEB, tapi memang sepertinya belum pernah saya publikasikan di blog.
Nanti deh, saya unggah ke slideshare aja :)


Kesimpulan


Untuk konten, sebenarnya Mbak Putu Sukartini sudah baik secara umum. Tinggal menambahkan beberapa solusi lagi agar panjang tulisan juga cukup memadai bagi Google.

Yang menjadi PR adalah struktur artikelnya, bisa diperbaiki lagi supaya lebih menarik dan scannable hingga kemudian readable, likeable dan shareable.

Sampai di sini seri Analisis Konten Studi Kasus Artikel dari saya.
Kapan-kapan, kalau selo, saya barangkali akan menawarkan diri lagi untuk melakukan analisis konten terhadap artikel teman-teman yang lain ;)

You Might Also Like

4 comments

  1. Ish keren analisisnya. Baru membaca seksama analisanya di postingan ini. Aih jadi penisirin kalo artikelku yang dibedah. :D
    Makasih Mbak Carraaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kapan-kapam mau bikin lagi, Mas :D Ntar aku ke Mas Dani dulu yes?

      Delete
  2. cukup memadai bagi google, oke oke. ayo mba ditunggu pembahasan soal keyword hehehe

    ReplyDelete

Silakan masukkan link blog Anda dalam kotak ID yang sudah disediakan.
Semua komen yang berisi link hidup, will go straight to spam.

Search This Blog