Beberapa Hal yang Sering Dilupakan oleh Para Content Writer (Termasuk Blogger) dalam Membuat Konten yang Bagus

Semua orang memang bisa menulis. Menuliskan nama di presensi kuliah, itu juga menulis kan? Tapi menulis dengan baik, yang berhasil men...



Semua orang memang bisa menulis. Menuliskan nama di presensi kuliah, itu juga menulis kan?

Tapi menulis dengan baik, yang berhasil menyampaikan pesan dengan tepat, itu memang terkadang agak-agak rumit. Meski struktur kalimat saja sudah berusaha memenuhi kaidah SPOK, KSPO, SPO, dan lain sebagainya itu, tetep saja ya ada yang kesulitan menyampaikan pesannya.

Tulisannya nggak fokus, nggak bisa hook pembaca untuk mau membaca sampai akhir, dan hal-hal lain bisa terjadi yang membuat tulisan kita jadi failed. Akibatnya? Pembaca nggak mudeng dengan pesan yang ingin kita sampaikan.

Kalau penerima pesan nggak mudeng, berarti tugas kita sebagai penyampai pesan gagal kan? Terus ngapain nulis? #eh

So, setidaknya ada 7 hal yang sering dilupakan oleh penulis (content writer), dan juga blogger, saat sedang "memasak" kontennya.

7 Hal yang Sering Dilupakan oleh Penulis Konten


 

1. 5W 1H


Apa itu 5W 1H?
Saya pernah menuliskannya dengan lumayan lengkap di blog ini. Silakan dibaca ya, untuk yang belum. Atau yang sudah baca tapi lupa. Ehe.

Mengapa 5W 1H itu penting dalam sebuah tulisan?
Salah satu tujuan menulis adalah menyampaikan informasi secara lengkap, from A to Z dalam satu tulisan, yang bisa membuat pembaca well-informed. Sehingga saat dia selesai membaca tulisan kita, semua rasa ingin tahunya terpuaskan.

5W 1H bisa menolong kita untuk bisa menyajikan informasi itu secara lengkap.
Saya garis bawahi di bagian "secara lengkap", karena 5W 1H itu mencakup semua elemen knowledge yang harus diberitahukan pada pembaca, yaitu apa, siapa, kapan, di mana, mengapa dan bagaimana.

Kehilangan salah satunya?
Informasi akan kurang lengkap.

Sering saya menemui tulisan yang tanggung. Mau menjelaskan soal obat baru, misalnya. Kandungannya ada, bentuknya difotoin, tapi lupa ngasih lihat gimana cara makainya. Seperti itu saja sudah berarti ada yang missed. Lalu gimana dong? Akhirnya ya, saya harus browsing lagi mencari sumber informasi lain kan?

Kalau saya butuh infonya cepet, jadi berasa diPHPin kan?
Ya gitu deh, sebelnya kalau dikasih info nggak lengkap.


2. "Suara"


Salah satu keterampilan yang dituntut dari seorang content writer (and sometimes blogger too) adalah kemampuannya untuk menjadi bunglon.

Content writer yang menulis untuk website lain harus bisa "mewakili" voice and tone brand yang menjadi kliennya untuk menyampaikan pesan pada masyarakat. "Suara" tulisannya harus bisa berubah-ubah sesuai image brand yang direpresentasikannya.

Nah, di sini rumitnya. Kadang ini juga menjadikan tulisannya kehilangan "suara" khas, karena semuanya disajikan datar saja. Maksudnya begini, sebenarnya setiap brand itu punya ciri khas gaya bahasa masing-masing lho. Misalnya, Rocking Mama aja deh, yang gampang. Gaya bahasa Rocking Mama itu berbeda dengan gaya bahasa yang ada di Ributrukun, misalnya.

Content writer harus bisa menyesuaikan ini. Kalau akhirnya rancu, ya brand pun akan kehilangan "suara"-nya yang khas.

Untuk para blogger, terutama, biasanya akan (atau sengaja?) melupakan "suara" saat menerima job content placement. Saya pernah "curhat" soal ini juga sih di blog ini. Hehehe.

Apalagi blogger. Karena bekerjanya adalah di ranah pribadi, yaitu personal blognya, maka dia harusnya punya voice and tone yang khas dari dirinya sendiri. Saat "suara"-nya tergantikan oleh "suara" yang lain, maka seharusnya dia tersinggung. Rumahnya "dimasukin" orang lain, meski izin. Tahulah, rumah dimasukin orang asing atau tamu, meski sudah dipersilakan tapi kan tetep ya ditemuinnya di ruang tamu. Masa sih tamu dibolehin ngubek-ubek isi rumah, berantakin. Sampai-sampai ngubah penataan rumah. Ya, kalau lebih bagus sih ya, okelaaah. Kalau bikin rusak?


3. Variasi Kata


Nah, ini persoalan yang sering banget saya temui saat mengedit tulisan teman-teman. Variasi kata itu penting banget, supaya tulisan kita mengalir dan nggak membosankan.

Penulis yang melupakan variasi kita akan cenderung melakukan pengulangan secara terus menerus dalam tulisannya.

Pengulangan ini bisa 2 macam biasanya yang bikin genggeus:
  • Pengulangan kata dalam 1 paragraf
  • Pengulangan informasi dalam 1 artikel
Maksudnya di sini sih ya, bukan kata ulang. Kalau itu mah ... beda. Memang sebuah kata yang bermakna sendiri, meski disebutkan 2 kali. Untuk menunjukkan bentuk jamak, misalnya.

Contohnya gimana ya? Hmmm.

Ibu baru pulang dari pasar dari tiga jam yang lalu.

Nah, di situ "dari"-nya kan diulang sampai 2 kali dalam 1 kalimat pendek. Yang seperti itu biasanya akan saya ubah menjadi:

Setelah tiga jam berlalu, ibu akhirnya pulang dari pasar.

Iya, kalimatnya jadi panjang. Tapi kadang juga lebih pendek. Tergantung juga sih.
Saya pribadi menghindari banget mengulang kata yang sama dalam 1 kalimat, bahkan kalau bisa dalam 1 paragraf. Cara menghindarinya bisa macam-macam, misalnya saya ubah menjadi pasif, saya carikan sinonim, saya ubah begini dan beginu. Gunakan saja kreativitas kita.

Pengulangan kata dan informasi yang terlalu banyak, akan membuat tulisan jadi boring dan mbulet. Maka, sebaiknya hindari ya.

4. Gambar dan Image yang Merepresentasikan Tulisan


Sebelumnya, sudah tahu kan kalau kita punya banyak sekali source image CC0, yang foto dan image-nya bisa kamu ambil secara free dan boleh digunakan semau kita?

Saya punya 11 ++ source image CC0. Nanti kapan-kapan saya update lagi.

Menemukan ke-11 situs source CC0 yang bebas pakai itu bisa jadi kayak menemukan harta karun ya. Yang biasanya asal comot dari Google, sekarang jadi lebih "beretika".
Tapi ternyata, kesalahan nggak cuma berhenti di situ, pemirsah.

Ketepatan kita dalam memilih image itu ternyata juga jadi masalah lagi.
Biasanya sih karena pada males ngubek-ubek untuk mencari gambar yang pas dengan tulisannya, sehingga asal ambil.

Beberapa kesalahan pemilihan image yang pernah saya lihat itu adalah, tulisannya cukup relijius tapi milih gambarnya foto perempuan bule yang pakai tanktop. Nah loh. Kan aneh!

Saya tahu penulisnya itu berhijab, tapi lho ... imagenya kok perempuan pakai bikini ya?

Rada missed aja di situ.

Sebaiknya sih, pilihlah image yang sesuai dengan isi tulisan dan image si penulis, apalagi kalau blog ya. Saya cenderung malah lebih selektif lho memilih untuk blog ketimbang untuk Rocking Mama. Ya, karena blog itu lagi-lagi merupakan ranah pribadi. Merepresentasikan diri saya. Jangan pakai image yang bisa merusaknya.

Meski kalau buat Rocking Mama, saya juga nggak akan pakai image yang merusak citra juga. Hahaha.

Lalu, kesalahan lain lagi adalah memilih image yang size-nya nggak sesuai (males nge-resize), atau malah pakai image yang pecah pixelnya.

Dan, kesalahan terakhir. Sering lihat image-image semacam ini kan di CC0 source?

Basi nggak sih kayak gini?
Please ya, jangan memilih yang model stick man kayak gitu. Dilihatnya nggak asyique. Kurang karakter jadinya. Yang kayak-kayak gitu biar buat papan penanda toilet aja, jangan dimasukin ke web. Ok?

5. Pembaca


Nah, ini nih. Fatal.
Kita ini penulis, tapi melupakan pembaca. Kita malah nulis untuk search engine.

Nah loh.
Iya, saya juga masih sering melakukannya.

Menulis supaya diindeks Google. Jadinya ya keyword stuffing, keywords dijejal-jejalkan dalam satu artikel sampai bikin tulisannya mbulet susah dimengerti.

Menulis untuk mesin kadang bikin kita akhirnya juga sound like a machine. Jadi kayak robot, tulisannya nggak bermakna. Informasinya kabur. Yang ada keyword semua.

Melelahkan.

Saya sendiri sedang berusaha agar selain tulisan bisa menjadi top searches, sekaligus juga memberikan user experience yang baik untuk pembaca.

Susah banget, gaes. Saya akui, butuh ekstra kerja keras deh ini.
Sebagian berhasil, sebagian gagal.
Ya, biasalah ya.

Yang penting, tetap semangat!


6. Kreativitas


Permata yang belum diasah.
Jodoh/rezeki tak akan ke mana.
Apalah arti sebuah nama.

Beberapa frasa atau kalimat di atas itu sudah terlalu sering digunakan di mana-mana, sampai bosen denger/bacanya.

Ya, oke sih, bukannya terus dilarang sama sekali untuk menggunakan kalimat-kalimat klise tersebut. Tapi kalau kebanyakan ya ... duh, malesin amat yak.

Kreatif dong!
Kita punya berapa miliar kata sih? Bahkan bisa diramu dengan bahasa daerah dan bahasa asing juga, jika memungkinkan. Come on, play your words!

Don't be boring!


7. Konsistensi istilah


Nah, ini juga sering saya jumpai nih. Yang merasa nggak usah baper yak. Nggak usah juga ngaku, diem aja. Tapi dicatat, dan jangan diulang lagi.

Bahahaha.

Misalnya nih, di bagian atas tulisan pakai "saya", lalu di tengah jadi "aku", terus closing-nya pakai "gue". Hayolohhhh.
Bagian atas pakai menyebut pembaca dengan "Anda", tengah jadi "kamu", lalu jadi "Anda" lagi.
Bagian atas menyapa dengan, "Hai, Moms. Apa kabar?". Bagian tengah jadi, "Kalau Bunda tak keberatan, maka ..." Lalu di akhir jadi, "Nah, gitu deh, Ma, tips dari saya."

Hahahaha. Siapa hayoh yang masih suka nggak fokus gitu?
Sebaiknya sih diseragamkan. Kalau mau pakai "saya" ya "saya" terus. Mau sebut "Moms" ya "Moms" terus sampai akhir.


Baca juga: 8 Langkah Self Editing bagi Para Blogger untuk Menghasilkan Artikel yang Bersih dan Rapi


Nah, itu dia, 7 kesalahan penulis, lebih khususnya content writer termasuk blogger, yang biasa terjadi saat mereka menulis artikel.

Jadi, "salah"-mu ada berapa? Bhihihik.

You Might Also Like

23 comments

  1. wah asik nih diingetin lagi biar lebih rapi dan menarik nulisnya. Makasih Mbak Cara.

    .: Efi :.

    ReplyDelete
  2. Syudah pernah semuanyaaaa~

    Nek yang terakhir, aku nggak dalam satu artikel Mbak. Dulu aku pake "aku" tapi sekarang lebih milih pake "saya". Ben kesannya nggak nglunjak gitu 😂 Nyahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa, nggak apa. Sebenarnya nggak ada yang salah, asal konsisten :D

      Delete
  3. Baru2 ini sih Mbak kalo dapat CP aku ubah banyak biar sesuai dengan suara blogku.

    ReplyDelete
  4. Jangan2 aku sering menggunakan point yang terakhir hahaha

    ReplyDelete
  5. huwah jleb banget ini mba, terutama bagian suara. oiya yang soal gambar stick itu aku juga kesel, tulisan mantep...ilustrasinya begono kan sayang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul :D Sayang nulisnya bagus-bagus, gambarnya gitu doang ya, Nay ^^

      Delete
  6. Salahku adalah....

    gak pake persona mbak. itu mbak. itu.... hehehehe.

    Kadang memang dah mood nulis dg 5WIH dan kemudian pas nulisnya lupa - efek gak didraft tangan dulu. kalau draft tangan lebih gampang.

    Tanya mbak... soal suara:

    Menulis di berbagai media online kan salah satu cara membangun branding dan juga portfolio kita sbg penulis. Dan spt yg mbak bilang, masing-masing punya "suara" beda - ngalamin banget pas nulis di RM nih. Kita kan kadang jadi lepas dari kebiasaan suara kita sendiri nih. Ini bisa bermasalah dengan personal branding kita gak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seharusnya sih nggak ngaruh ke personal branding. Justru aku memandangnya sebagai portfolio, bahwa aku bisa fleksibel mengikuti suara brand, namun tetap juga punya suaraku sendiri :D

      Delete
  7. Wah materinya suka banget. Terima kasih 😍

    ReplyDelete
  8. Jangan sampai di-so-what-in orang :))

    ReplyDelete
  9. Nomer dua nih yg kudu diperbaiki di aku, makasih ilmunya mbak, bermanfaat bingit.

    ReplyDelete
  10. Yay! Tambah ilmu lagiiii :')

    ReplyDelete
  11. Judul yang mengandung klik bait juga perlu hehe :D

    ReplyDelete

Silakan masukkan link blog Anda dalam kotak ID yang sudah disediakan.
Semua komen yang berisi link hidup, will go straight to spam.

Search This Blog