Meningkatkan Skill dan Produktivitas Menulis - Cepat Tapi Tetap Berkualitas

Dalam satu workshop, di mana saya menjadi salah satu mentornya, pernah diadakan tantangan. Para pesertanya (yang kesemuanya kepengin me...




Dalam satu workshop, di mana saya menjadi salah satu mentornya, pernah diadakan tantangan. Para pesertanya (yang kesemuanya kepengin menjadi penulis) ditantang untuk menulis artikel sepanjang minimal 800 kata dalam waktu seminggu.

And you know what, beberapa di antaranya ada yang mengeluh; kepanjangan, kecepetan deadline-nya, dan seterusnya.

Saya pun dipanggil oleh mbak moderator untuk menanggapi keluhan para peserta ini.

Saya hanya bilang begini, "800 kata, itu kalau saya, paling sejam. Sudah dengan riset."

Kelas berdengung. Protes pun terlayang lagi dari berbagai sudut. "Beda jam terbang!"

Saya ketawa.

Begitulah. Mindset kita.
Padahal saya cuma pengin direspon dengan, "Dia aja bisa 800 kata sejam, saya mestinya juga bisa." Tapi kok ya, nggak ada tuh yang ngomong gitu. Hahaha.

Saya penulis, betul. Kerjaan saya tiap hari menulis, iya. Makanya saya sudah terlatih.
Kamu, pengin nulis. Baru dikasih 800 kata seminggu, udah ngeluh. Gimana latihan lainnya?

Orang terlalu terbiasa untuk membenarkan posisi diri sendiri ketika merasa ditantang. Sebelum jabanin, sudah merasa nggak bisa dulu.

Iya, Mbak. Kamu kan sudah lama nulisnya. Saya mah apah atuh, baru mulai kemarin sore.
Lha, kalau kamu mau jadi penulis, dikasih tantangan, ngeluh. Njuk kudu piye? Ya udah, bikinlah tantanganmu sendiri!

Hahahaha. Mentornya galak.

Dalam menulis, apalagi kalau kepengin menjadi profesional, sempitnya waktu akan jadi konsumsi sehari-hari. Kalau penginnya menulis dengan waktu longgar, tanpa target, bagus, terus royalti atau fee bagus, coba deh. Ada nggak kerjaan kayak gitu? Kalau ada, saya juga mau.

Sejauh ini saya kerja buat klien, target jumlah tulisan itu selalu banyak, dan pasti ada batas waktu. Kalau kita nggak bisa kejar target jumlah atau molor setor ya bhay.

Ok, ini tulisan sebenarnya sudah pernah ditayangkan di blog Mas Dani Rachmat. Tapi, kemudian saya publish ulang dengan editing.

Saya pernah membaca cerita Angela Lauria, founder Author Incubator, yang juga seorang trainer kepenulisan untuk penulis-penulis pemula. Author Incubator sendiri merupakan wadah bagi para calon penulis buku untuk melatih keterampilan menulis, dan terutama agar lebih produktif menghasilkan karya dan lebih efektif dalam mengelola waktunya.

Angela berbagi tips soal bagaimana meningkatkan produktivitas kita dalam menulis. Memang tips ini khususnya untuk para penulis buku. Tapi bisa juga diterapkan untuk menulis apa pun juga, termasuk menulis blogpost ataupun untuk para content writer.


Tips menulis dengan cepat namun tetap berkualitas



1. Kenali pembacamu


Mungkin tips ini sudah terdengar klise banget.
Tapi, memang benar. Untuk bisa menghasilkan tulisan yang fokus dan tepat sasaran ya kita harus menentukan dulu kita mau menulis buat siapa.

Ya, pembaca memang harus kita bentuk sedari awal. Bukannya menulis, terus baru pasrah, nggak tahu siapa saja yang datang.

No. Cara itu salah sebenernya.
Untuk bisa menulis dengan fokus dan tepat sasaran, pembaca justru harus kamu definisikan sejak awal.

Contoh nih. Blog keuangan kayak punya Mas Dani Rachmat.
Pertanyaan yang mesti dijawab berkaitan dengan pembaca blog adalah tips keuangan buat siapa? Para first jobber, para esmud, investor? Atau untuk awam, misalnya buat emak-emak rempong (kayak saya)? Or for singles?

Untuk blog ini pun begitu.
Saya akan menulis untuk para blogger dan penulis konten pada umumnya. Penulis buku? Ya, bisa juga, tapi nggak jadi fokus utama. Blogger pun saya nggak narget blogger pemula. Saya menarget ke blogger yang sudah pengalaman, tapi pengin meningkatkan kualitas blog.

Kenapa sasaran saya begitu?
Ya, soalnya saya juga lagi belajar di situ. Kan blog ini ada buat catatan proses belajar saya. So, apa yang saya tulis di sini tuh, udah saya terapin.

Dengan mengenali pembacamu secara lebih detail, apalagi kamu bisa sekalian "menghadirkannya" atau mengimajinasikannya untuk hadir di depanmu saat kamu sedang menulis, maka seakan-akan kamu berbicara dengannya langsung. Informasi pun akan dengan cepat mengalir keluar.

Dengan membayangkan pembaca yang hadir langsung di depanmu, kamu nggak akan galau arah tulisan akan di-ke mana-kan, karena biasanya bisa langsung dengan cepat mengalir saja.

Itu yang namanya membuat persona membaca. Kapan-kapan kita akan bahas khusus.
(Kalau nggak lupa) *dikeplak*


2. Collect your ideas


Bank ide, mutlak kamu punya kalau kamu adalah seorang penulis konten yang harus membuat tulisan yang berbeda setiap harinya.

Mengapa bank ide ini penting?
Karena kalau kita duduk dan baru mikir mau nulis apaan, itu HANYA akan menghabiskan waktu.

Ada beberapa cara untuk mengumpulkan ide:

  • Kumpulkan sambil jalan, berarti kamu harus selalu siap membawa catatan kecil supaya bisa sewaktu-waktu menangkap ide yang tiba-tiba lewat, atau unduh beberapa aplikasi catatan dalam smartphone kamu. Bisa pakai Trello, Evernote, atau Google Drive. Apa punlah.
  • Sempatkan waktu untuk duduk dan brainstorming ide.

Sesuaikan mana yang paling nyaman untukmu.


3. Repurpose content


Nah, yang ini sering saya lakukan nih. Salah satu tips jitu menulis artikel dengan cepat adalah dengan me-repurpose tulisan lama. Atau rewrite.

Kalau saya menulis guest posting, maka itu berarti saya sudah "nabung" satu artikel buat blog ini. Beberapa tulisan juga sudah saya rewrite dan repurpose, dan kemudian saya tayangkan ulang di sini.

Saya kebetulan dulu juga pernah menulis untuk satu majalah online secara borongan. Tapi entah kenapa semua konten saya tersebut sekarang di-take down.

Ya, nggak masalah sih, yang penting invoice kan sudah cair ya. Muahahaha.

Artikel-artikel yang sudah di-take down itu kemudian saya rewrite, lalu voila! Dapat 60-an artikel secara instan deh. Yay! :)))

Iya, Angela juga melakukan hal yang sama untuk buku-buku yang sedang ditulis oleh penulis-penulis didikannya.


4. Buatlah waktu untuk menulis


Bukan meluangkan waktu, menyisihkan atau malah menyempatkan diri ya. Kamu seharusnya membuat waktu.

Meluangkan waktu berarti kamu akan menulis saat ada sisa waktu setelah kegiatan yang lain.
Menyisihkan waktu berarti juga sama, kalau ada waktu kamu akan menulis. Menyempatkan diri? Lebih parah lagi. Kalau nggak sempat ya nggak nulis.

Memangnya salah?
Ya enggak! Semua tergantung kebutuhanmu. Tapi, kalau memang kamu mau profesional menjadi penulis, maka saran saya sih buatlah waktu untuk menulis.

Membuat waktu berarti kamu memasukkan kegiatan menulis kamu dalam to do list atau agenda harian kamu.
Dengan membuat waktu menulis, maka kamu akan berusaha fokus terhadap tulisan kamu, dan mengenyahkan semua hal yang mungkin mengganggu.

Logikanya, kalau kamu lebih fokus, pastinya tulisan pun lebih cepat kelar.


5. Jalin network dengan orang-orang yang tepat


Angela meng-encourage para penulisnya satu sama lain agar saling berinteraksi, saling menularkan semangat menulis.

Dan, memang. Kalau kita ngumpulnya dengan orang-orang yang sama visinya, sama passion-nya, energi kita tuh nggak bakalan habis. Ide dan daya kreativitas kita akan adaaa aja.

Pun ilmu dan wawasan kita juga akan bertambah. Pokoknya saya mengamini banget soal positivity yang akan kita rasakan kalau kita deket-deket dengan orang-orang yang juga punya aura positif.

Biarkan saja kalau dibilang sok eksklusif karena pilih-pilih teman atau pilih-pilih komunitas untuk diikuti. Lakukan saja, demi kewarasan!


6. Pilih dan ikut kelas menulis


Mengikuti kelas menulis (yang kredibel) akan sangat membantu untuk meningkatkan keterampilan menulis kita. Setidaknya, kita akan punya mentor yang akan memberitahu mana yang harus diperbaiki, yang juga pasti dengan senang hati akan mengingatkan kita untuk lebih fokus terhadap target kita sendiri.

Jangan sampai terjebak kelas nulis bodong, ya! Kelas-kelas yang cuma meminta bayaran tanpa memberikan nilai tambah buat kita.

Gimana caranya tahu kelasnya kelas bodong?
Gampang sebenernya.

Kalau materi kelas nulis tersebut bisa saya dapatkan dengan gratis hanya dengan googling, sedangkan saya harus bayar untuk mendapatkannya di kelas tersebut, maka kelas itu nggak layak untuk diikuti. Makanya kita harus tahu dulu materi apa yang akan diajarkan.

Lihat pemateri. Kalau pematerinya nggak lebih hebat dari saya, ya buat apa saya ikutan kan? Nggaaak, maaf ya, ini bukan belagu. Tapi logis dong. Kan saya mau belajar, ya pasti harus dari mereka yang punya kelebihan dibanding saya. Iya nggak sih?

Misalnya, kalau kelas menulis buku, apakah buku yang ditulis oleh sang pemateri jumlahnya sudah lebih banyak dari buku saya?

Bagaimana penjualannya, ini bisa dilihat dari banyak cara sih, salah satunya dengan melihat kepopulerannya di media sosial.

Atau kalau pelatihan menulis konten, ya apakah dia sudah berpengalaman lebih?
Ya pokoknya harus kepo maksimal dulu deh sama pematerinya.


7. Terbiasalah dengan tantangan


Yang terakhir ini sebenarnya nggak ada di tipsnya Angela sih. Saya tambahin sendiri.

Tapi, kamu setuju nggak? Apa pun itu, kalau ada tantangannya, pasti lebih exciting.
Betul?
Makanya, jangan komplen duluan kalau ada tantangan. Jabanin dulu, urusan belakang.
Mindsetnya itu loh.

Kalaupun nggak ada tantangan dari luar, kita juga bisa kok nantangin diri sendiri.
Kayak saya, misal, pernah narget tiap hari nulis 1 artikel. Pernah juga setiap weekend 8 artikel. Berubah-ubah terus.
Iya, soalnya saya juga pembosan.
Kalau tantangannya kayak gitu terus, lama-lama ya bosan.

Kalau udah gitu ya, bikin tantangan baru lagi. Hahaha.

Tantangan akan membuat kita terpacu untuk bisa do more, better.


Nah, itu dia cara meningkatkan skill menulis dan juga cara menulis dengan lebih cepat dan efisien ala Angela Lauria, sang founder Author Incubator.
Selanjutnya ya tergantung niat masing-masing sih.

Yah, kepenginan itu memang bisa saja banyak. Tinggal benar-benar niat apa enggak. Gitu aja sih.
Saya kadang juga masih ada rasa malas kok. Capek. Bosan. Jenuh. Endebre endebre. Wajarlah. Saya tetap menikmatinya meski lagi bosan.

Iya, maksudnya ya saya nikmati saja rasa bosan itu.

So, sampai ketemu di artikel selanjutnya ya :)



You Might Also Like

6 comments

  1. Langsung deh belajar diterapin ilmunya dari bunda carolina. Maksih ya 😃

    ReplyDelete
  2. wah saya banyak belajar nih dari tulisan-tulisannya mbak :D
    semakin saya membaca tulisan-tulisan mbak semakin saya ngerasa ga tau apa-apa soal menulis haha
    tapi ternyata itu yang saya butuhkan



    ReplyDelete
  3. Ya aku terbiasa suruh bikin report dalam hitungan menit sama si bos. Heu.
    Klo ngeblog, asal aku paham sama yg kutulis biasanya ngalir aja tau2 udah 700an kata belum pakai bunga2. Tapi kalau yg kudu riset dl misal nulis beauty gitu mah ngos ngosan sejam.

    ReplyDelete
  4. Membuat waktu untuk menulis memang perlu sekali ya kak, jadikan menulis sebagai salah satu aktivitas wajib di tiap harinya :D

    ReplyDelete
  5. Ini pertama kaliny saya membaca tulisan di blog ini. Alhamdulillah isinya daging semua. Dan pastinya saya akan kembali lagi untuk membaca tentang semua tips yang Anda bagikan. Thanks ya! 😊

    ReplyDelete
  6. Aku susah banget kalo diminta nulis dalam waktu singkat, rasanya otak nggak bisa diajak kompromi. Padahal latihan menulis dengan cepat perlu juga ya.

    ReplyDelete

Silakan masukkan link blog Anda dalam kotak ID yang sudah disediakan.
Semua komen yang berisi link hidup, will go straight to spam.

Search This Blog