Buat saya, nulis artikel (yang enak dibaca dan disukai oleh orang banyak) itu gampang-gampang susah, dan menjadi seni tersendiri.

Dan, buat saya, kesempatan pertama dan terbesar artikel itu akan dibaca dan disuka oleh pembaca adalah pada judul. Sudah beberapa kali saya eksperimen dengan berbagai formula judul, baik saya sebagai penulis maupun saya sebagai pembaca. Hingga akhirnya, saya berkesimpulan, saya nggak bisa main-main dengan judul. Begitu judulnya nggak menarik, maka bhay!

Ah, gampang! Judul kan bisa diubah kalau seumpama kurang cocok?
Well, buat saya, kalau judul diubah kemudian, itu sudah telat.

Betapa saya mengamati, bahwa begitu klik tombol 'publish', maka di situlah kesempatan terbesar kita. Bukan nanti-nanti, apalagi kalau sudah beredar di media sosial. Telat, kalau saat artikel sudah beredar di media sosial baru kemudian ubah judul. Somehow, rohnya sudah akan berbeda.

Maka, sebelum kita sampai di formula membuat judul yang menarik (yang mana sebenarnya sudah pernah saya bahas juga di blog ini: 7 Cara Menulis Judul Viral--silakan dibaca kalau belum baca), ada baiknya kita pelajari beberapa website yang artikel-artikelnya sering viral untuk kita telaah per judulnya.

Untuk apa?
Ya, untuk membuat formula judul yang bisa kita terapkan dalam tulisan kita sendiri.

So, tulisan ini merupakan telaah saya mengenai beberapa judul dalam 7 artikel terviral Hipwee sepanjang setahun ini berdasarkan data di Buzzsumo, dalam rangka pembelajaran saya dalam menulis judul.

Iyes, ini bahan belajar saya ya, yang saya catat dan mendingan saya tulis sekalian di sini.

Kenapa Hipwee? Saya sudah membandingkan beberapa portal, dan sepertinya artikel terviral masih dipegang oleh Hipwee, beda tipis di atas Trivia.id. Jadi, mari kita ke Hipwee dulu. Nanti kalau ada waktu lagi, kita coba telaah juga yang lain. Dan, ke luar negeri juga, mungkin Huffington Post ataupun Buzzfeed.

Sebelumnya, Buzzsumo pernah mencoba menelaah judul-judul artikel viral yang beredar di dunia maya. Dan, mereka merumuskan, bahwa artikel yang viral selalu mengandung elemen-elemen berikut ini.

Original image by Buzzsumo

Dan ternyata, elemen-elemen tersebut juga dimunculkan dalam headline atau judulnya. Mungkin enggak semua sih, tapi pasti ada satu dua yang tercantum di judul.

Saya nggak tahu itu bener apa enggak. MAKANYA, saya bikin telaah judul artikel Hipwee ini. Mari, kita buktikan, apakah formula Buzzsumo itu bener?


Telaah judul artikel terviral Hipwee.com



1.  Kerja Secukupnya! Karena Uang Tidak Akan Bisa Mengganti Waktu Bersama Keluarga dan Orang-Orang Tercinta yang Sudah Dikorbankan (581.9K shares)






Sepertinya, judul artikel ini memenuhi 3 elemen viral, yaitu promise atau janji (setelah membaca artikel ini, kamu (harap) akan bisa yakin bahwa mengurangi load kerja itu penting), topik yang menarik (topik uang dan waktu selalu jadi hal yang menarik untuk diulik, karena ini adalah permasalahan semua orang), dan emosional (dikorbankan pasti kan rasanya sedih).

Kecenderungan orang-orang millenial, kerja tanpa henti, tanpa kenal waktu, nggak kenal tempat. Hingga akhirnya mereka kehilangan waktu kebersamaan bersama keluarga.

Begitulah inti artikelnya. Such a pain, huh?
Jadi persoalan semua orang banget, baik buat yang kerja maupun buat yang ditinggalkan untuk kerja.

Maka, "pain" itu harus ditulis di judul? Mengapa?
Karena "pain" adalah "masalah yang dicari solusinya". Jadi target audience-nya juga jelas, yaitu mereka yang terlalu banyak kerja.

Artikel ini pasti dicari oleh orang yang punya problem sudah capek kebanyakan kerja. Mereka mencari pembenaran tentang pikiran mereka ini.

Dengan membawanya ke judul, maka orang akan berharap, mereka akan dibenarkan saat mereka ingin mengurangi load kerja.



2. 22 Gambar Pertumbuhan Janin dalam Perut yang Menyentuh Kalbu. Ah, Kuasa Tuhan Sehebat Itu (498.7K shares)





Ada 4 elemen judul viral dalam judul di atas, yaitu format, content, topic dan emotion.

Ah, setiap kali seorang ibu baru saja dinyatakan hamil, pasti ia akan cepat-cepat mencari informasi seputar kehamilan.

Saya dulu juga gitu, buru-buru googling tentang perkembangan janin dalam perut. Saya dulu tahunya pas kandungan sudah berusia 4 minggu. Lalu saya cari deh, bentuk janin usia 4 minggu.

Ya Tuhan. Mahakuasa Tuhan!

Nah, rasa syukur itulah yang disasar oleh penulis artikel ini dalam menampilkan gambar per gambar pertumbuhan janin, dari mulai sperma "menyerang" ovum hingga si dedek siap dilahirkan.
Ada target audience dalam judulnya, yaitu para ibu hamil.



3. Kakak Perempuan Itu Luar Biasa Tangguhnya, Kamu Akan Bersyukur Karena Ada Dia Dalam Keluarga (475.9K shares)




Nah, coba kita lihat. Ini target audience juga jelas, yaitu orang-orang yang punya kakak perempuan.

Artikel ini bisa jadi di-share oleh adik yang sayang banget sama kakaknya, atau oleh seorang kakak yang pengin nunjukkin ke si adik, bahwa, "Nih, kamu tuh mesti bersyukur karena Kakak baik sama kamu!"

Hahaha. If you know what I mean. Sibling rivalry.


4. Jodoh Itu di Tangan Kita, Campur Tangan Tuhan Sebatas Merestui atau Tidak (285.9K shares)



Jodoh.
Siapa sih yang nggak bermasalah dengan jodoh? Yang udah berjodoh ya tetap aja punya masalah kan? Apalagi yang jomblo.

Dan, topik jodoh dan perjombloan ini adalah topik yang evergreen deh. Sama kayak moms war.

Dalam judul di atas, mungkin hanya ada 1 elemen judul viral. Tapi, coba perhatikan. Ada pembalikan mindset di sana. Umumnya orang kan bilang, "Jodoh di tangan Tuhan.", tapi di situ ditulis, "Jodoh di tangan kita.", sedangkan Tuhan hanya memberi restu. Kalau Tuhan nggak merestui ya, bhay!

Pembalikan mindset itu memang harus diletakkan di judul. Karena sesuatu yang menyatakan hal yang sebaliknya dari apa yang kita anggap normal akan selalu menarik.

Contoh, misalnya, dari mana sih ajaran bahwa cowoklah yang harus pertama nembak cewek yang disukainya? Kalau kita bikin artikel, gimana caranya kita, para cewek, bisa nembak cowok tanpa berkesan agresif, maka "cewek nembak cowok" harus ada di judul.

Paham kan ya?
Ingat, suatu pembalikan mindset atau fakta itu selalu menarik perhatian.


5. 10 Cara Belajar Tidak Peduli Omongan Orang. Karena Hidupmu Bukan Mereka yang Menentukan (235.8K shares)




Angka 10 menunjukkan bahwa format artikel tersebut berbentuk list, ada promise bahwa setelah membaca artikel, maka kamu akan mendapatkan sesuatu, sedangkan "tak peduli omongan orang" adalah topik utama artikel.
"Bukan mereka yang menentukan" menjadi semacam emosi sebenarnya, tapi tidak secara eksplisit ya.


6. Bagi Anak Perempuan, Ditinggalkan Ayah adalah Patah Hati Terhebat (222.6K shares)



Buat saya pribadi, judulnya ini sudah yang emosional banget. Hehehe.
What do you think?

Di sini juga ada target audience, yaitu para anak perempuan. Lebih spesifik lagi, anak perempuan yang ditinggal oleh ayahnya. How related is that?


7. Kalau Kamu Sudah Tahu Trik-trik Microsoft Word Ini, Tugas dan Pekerjaanmu Bisa Cepat Selesai! (174.5K shares)



Sooo, ada content element, topic dan promise ya di judul di atas.
Kamu yang penulis, lebih khusus lagi, kamu yang mahasiswa dan harus menyelesaikan skripsi, mesti tahu trik-trik ini yes? Hahaha.


Kesimpulan



Jadi memang ada beberapa elemen yang penting dalam sebuah judul ya. Sehingga, saya bisa merumuskan, bahwa cara "memasak" judul yang menarik adalah sebagai berikut:

  1. Tentukan topik utama. Jelas ya, topik jelas harus ada dalam judul. Kalau enggak, ya ... njuk kudu piye? Tarik 1 frasa yang terdiri atas beberapa kata dari topik utama artikel yang kamu tulis, contoh: "anak ditinggalkan ayah", "uang dan waktu", "pertumbuhan janin dalam perut", dan seterusnya. Jangan terlalu panjang. Saya kira 3 - 4 kata sudah cukup.
  2. Siapkan sesuatu yang menarik orang. Hal-hal yang bertolak belakang dengan yang berlaku biasanya (antimainstream), itu menarik. Sesuatu yang berbau emosional, itu menarik. Sesuatu yang menjanjikan, itu menarik. Something interesting. Lalu, diulik bersama topik utama. 
  3. Selanjutnya, kamu bisa mengembangkannya lagi, misal dengan menambah elemen konten (fakta, mitos, gambar, kutipan, dan lain sebagainya) atau elemen format (cara, trik, tips, dan sebagainya)
  4. Ada target audience dalam kalimat judul. Langsung tunjuk saja audience artikel kita, kepada siapa artikel itu ditujukan penulisannya. Biasanya ini akan langsung menarik perhatian juga, karena orang cenderung baperan. Jadi kalau langsung tunjuk, kerasa, jadi kepo deh. Hehehe.
  5. Terakhir, akan lebih lengkap, tambahkan angka. Angka ini bisa agak-agak tricky sih. Saya biasa memakai "the magic number"; 7, 11, 13, 17, atau sekalian 25, 50, bahkan 101, untuk format list. Atau saya akan menambahkan angka dalam konteks waktu, misal 3 menit, 5 menit, 1 jam, dan seterusnya. Ini tergantung dengan konteks artikelnya pastinya ya.
Nah, sejauh pengamatan, sepertinya nih, kalau kita sudah memenuhi cara memasak poin 1 dan 2, itu sudah cukup menarik kok. Tinggal pemilihan katanya saja, dan ini perlu latihan yang cukup.

Yes, itu dia catatan saya tentang membuat judul artikel yang menarik, berdasarkan pengamatan terhadap beberapa artikel Hipwee.

Sampai ketemu lagi di artikel content writing selanjutnya ya.



Saya lagi patah hati. Ditawarin untuk menjadi narasumber di sebuah pelatihan nasional, tapi saya nggak bisa berangkat. Huhuhu. Di situ saya merasa nganu banget. Syediiiih.

*nyari bahu buat sobbing*

Udah curhatnya, Ra!

Oke! *cuci muka*

Melanjutkan seri tulisan How to Build Your Idea Bank, kemarin kita sudah bahas tentang tools apa saja yang bisa kita gunakan untuk menyimpan ide yes? Sebenarnya masih banyak tools lain juga yang bisa kamu manfaatkan, tapi yah, saya baru nyoba yang kemarin saya tulis itu. So, kalau kamu ada tambahan, please info ya. Nanti saya tambahkan di artikel yang kemarin. ;)

Kali ini kita akan ngulik Feedly ya.

Buat yang belum kenal, Feedly ini adalah aplikasi atau tool yang membantu kita untuk membaca situs-situs melalui RSS masing-masing situs tersebut.

Apa itu RSS Feed?

RSS adalah sebuah file berformat XML untuk sindikasi yang telah digunakan (di antaranya dan kebanyakan) situs web berita dan weblog. Singkatan ini biasanya mengarah ke beberapa jenis, yaitu:

  • Rich Site Summary (RSS 0.91)
  • RDF Site Summary (RSS 0.9 and 1.0)
  • Really Simple Syndication (RSS 2.0)

Teknologi yang dibangun dengan RSS mengizinkan kita untuk berlangganan kepada situs web yang menyediakan umpan web (feed) RSS, biasanya situs web yang isinya selalu diganti secara reguler.

Untuk memanfaatkan teknologi ini kita membutuhkan layanan pengumpul. Pengumpul bisa dibayangkan sebagai kotak surat pribadi. Kita kemudian dapat mendaftar ke situs yang ingin kita tahu perubahannya. Namun, berbeda dengan langganan koran atau majalah, untuk berlangganan RSS tidak diperlukan biaya, gratis. Tapi, kita biasanya hanya mendapatkan satu baris atau sebuah pengantar dari isi situs berikut alamat terkait untuk membaca isi lengkap artikelnya.

Nah, penjelasan selanjutnya, bisa dibaca di Wikipedia sajalah ya. :D

So, sudah dapat gambaran ya apa itu RSS dan RSS Feed.

Nah, Feedly ini adalah RSS Feed. So, kalau kita bisa memasukkan situs-situs yang biasa kita baca, maka dengan mudah kita akan membaca update terbaru mereka. Jadi kayak baca koran aja gitu. Dan, di sini ada fasilitas bookmarking-nya plus bisa di-organize dalam boards.

So, ini (senggaknya buat saya) efektif banget dijadikan sebagai bank ide.


Begini cara saya memaksimalkan Feedly sebagai bank ide.


1. Daftar Feedly

Langsung aja ke webnya yah, Feedly.com. Kamu akan menemui yang kayak gini.

Interface Feedly.com

Kalau sudah pernah punya akun ya klik yang Existing User. Kalau baru mau punya, pastinya harus pilih yang Get Started for Free.

Popup untuk Login Feedly

Nah, kamu bisa pilih mana yang paling mudah.
Ssst, saya nih sampai punya 2 akun Feedly demi memisahkan konten-konten yang pengin saya ikutin loh. Yang satu, untuk ide konten blog dan portal. Sedangkan akun yang lain, itu untuk scanning update blog teman-teman blogger :D

Niat ya?
Hahaha. Ya, soalnya asyik banget sih baca dari Feedly ini. Kayak baca buku. Sekali jembreng langsung dapat banyak. Nggak ngabisin kuota, bisa langsung sort out juga yang ngga dibutuhin :D
Kamu akan tahu deh ntar.


2. Kenalan dengan interface Feedly



Sebenarnya interface-nya cukup simpel.

Kotak no. 1, adalah tempat untuk memasukkan URL atau topic yang kita minati. Tinggal ketik saja, nanti langsung kelihatan result dengan beberapa keywords yang relevan. Saya coba masukin Carolina Ratri *narsis kumat*, dan blog ini pun muncul di urutan keempat.

Iyaaahh, saya mah kalah populer yah sama "carolina" yang lain. XD.

Kotak no. 2, adalah topik-topik populer yang sudah banyak penggemarnya di Feedly. Kita bisa klik aja salah satu hashtag, lalu pilih deh web yang sesuai minat.

Untuk menambah konten lagi, setelah konten yang lain sudah masuk ke dalam Feed, kita bisa klik kotak hijau yang ada di sudut kiri bawah itu, Add Content.

Nah di samping Sources, ada Keyword Alerts. Di situ kita bisa melihat banyak update berdasarkan keyword di Google.


Coba lihat kalau saya masukkan keyword "blogging". Maka yang keluar adalah semua artikel yang berkata kunci blogging.

Kalau yang Keyword Alerts ini, saya nggak gitu pakai sih. Saya lebih suka mengumpulkan berdasar topik aja, lalu situs-situs yang sesuai langsung saya simpan RSS-nya. Semacam saya bookmarking dulu, terus baru nanti saya pisahin per boards.

Gimana caranya?
Ke poin selanjutnya ya.


3. Bookmark situs yang sesuai dengan niche


Begini cara nge-bookmark dan langsung me-manage bookmarking kita. Soalnya kalau nggak sekalian ditata secara teratur sejak semula, nanti sami mawon, akan susah banget ditemukan lagi. Jadi, dari awal harus rapi yes.

Misalnya saya masukkan topik #fashion, atau klik aja dari Explore the Web hashtag #fashion, lalu muncul beberapa situs pilihan yang memang membahas topik seputar fashion. Lalu saya klik salah satu. Misalnya seperti ini.


Kalau saya pengin langsung follow Stay Bubble ya, langsung klik saja tombol Follow-nya. Kalau mau lihat-lihat dulu, tinggal klik Style Bubble-nya.

Saat mulai follow, kita juga akan ditanya ke kategori mana situs tersebut akan kita masukkan. Sedari sini saya sudah pisahkan per topik masing-masing situs. Supaya apa? Supaya gampang baca dan scanning-nya.

Itu berarti kita sudah menyimpan RSS-nya Style Bubble. Kalau next dia update, pasti artikelnya langsung masuk ke Feed kita.


4. Organize boards ide


Saya kasih lihat Feedly saya yah.


Pada artikel yang dipilih, akan muncul beberapa option di bagian atas.
Untuk menyimpannya, klik simbol bintang.

Maka akan muncul popup seperti ini.

Save to board

Nah, tinggal masukkan ke masing-masing boards yang sesuai. Kalau belum ada boards, bikin dulu dengan Create a Board.

Dan ... voila! Artikel tersebut sudah ada di dalam bookmark kita.

My boards on Feedly

Dengan boards yang sesuai niche begini, saya pun mudah membuat triggers menulis untuk para penulis Rocking Mama, untuk para internship, dan untuk saya sendiri.

Dan berikut ini adalah akun Feedly yang khusus untuk para blogger :D


Yang biasanya berinteraksi sama saya di Twitter atau di Facebook sih sudah masuk :D Masing-masing feed masih banyak sekali blognya tuh. Jadi yang kelihatan cuma sebagian aja.

Ayo, coba yang belum setor link blog, silakan ditulis URL blognya di kolom komen yah!

Dengan begini, pas ada update blog, dan artikelnya cucok untuk dimuat di Rocking Mama, saya akan langsung menuju ke blog yang bersangkutan dan langsung minta direpost :D

Oh yeah, I'm the silent reader. Kalau nemu yang bagus, baru komen. Komennya minta direpost :))))

Begitu cara saya memanfaatkan Feedly untuk memperkaya konten blog dan portal sebelah.
Next, kita akan bahas tool yang lain, masih dalam seri How to Build Your Idea Bank, ya.

Stay tune!


Hai!

Blogging seharusnya memang menjadi hobi yang--syukur-syukur--bisa menghasilkan. Menghasilkan apa? Nggak melulu soal duit, tapi bisa saja pertemanan, networking, wawasan, pengetahuan dan lain sebagainya.

Blogging memang bisa menghasilkan, tapi bukan dengan cara instan. Hari ini ngeblog, besok dapat traffic, besoknya lagi ada penghasilan masuk, besoknya lagi bisa nembus $1.000 sehari.

No way.

Blogging adalah soal konsistensi dan persistensi. Soal SEO aja, contohnya, nggak bisa instan untuk mendapatkan hasil. Sering saya dengar komentar atau kalimat, "Perasaan sudah SEO, tapi kok traffic segitu aja ya?". Setelah ditanya, mulai kapan terapin SEO? Ternyata, baru 3 hari yang lalu.

Hmmmmm .... *usap dagu*
I tell you what, segala macam yang instan itu sebenarnya akan menghasilkan sesuatu yang nggak optimal. Kopi instan aja pengaruhnya buruk kok ke tubuh. Analogi aja sih.

SEO bisa makan waktu beberapa bulan untuk bisa mendapatkan hasil. Itu pun nggak serta merta langsung peaking. Kadang dikiiit banget naiknya, kadang turun sedikit. Naik lagi, stagnan, dan seterusnya. Tapi kalau memang sudah terapkan SEO, dan sudah minimal 8 bulan, coba deh ditarik ke awal statistiknya. Pasti kita akan melihat perubahannya. Hingga nantinya, kita nggak update pun kamu akan tetap mendapatkan traffic.

Anyway.
Jalan-jalan ke banyak blog, saya sering mendapatkan banyak sekali statistik dan data yang menarik. Semisal, survei-survei yang telah membuktikan, bahwa kalau kita melakukan ini maka traffic naik sekian persen. Atau, sekian persen blog yang menerapkan teknik A, ternyata ranked highly di Google.

Sering nggak baca artikel-artikel yang menyebutkan data seperti itu?
Kalau kamu sering bw ke luar, iya, bakalan sering kamu lihat.

So, I intrigued untuk menjadikannya satu. Barangkali bisa jadi pegangan atau inspirasi kita kalau mau nulis artikel di blog yes? Nggak ada salahnya juga ikutan kan? Siapa tahu hasilnya juga baik.


Beberapa data dan fakta statistik blogging yang perlu kita manfaatkan



1. Using images in your blog posts gets them 94% more views. (Source: Jeff Bullas)



Yesssh, yang ini sih sebenernya saya sendiri mengamini banget.

Tadinya saya kira karena saya ini cenderung bertipe visual-kinestetis, makanya lebih tertarik dengan gambar. Setiap kali ada artikel nongol, entah itu di newsfeed Facebook atau di TL Twitter atau di mana pun, saya selalu tertarik dengan gambarnya lebih dulu.

Gambar, image atau foto yang burem, surem, gelap, nggak jelas, nggak sesuai dengan isi artikel, irritate me. Bikin saya langsung bhay.

Beli buku aja kadang karena tertarik cover. Hahaha.

Jadi, nggak ada salahnya, kita juga menyisipkan image-image yang bagus, yang relevan, yang menarik di artikel blog kita kan ya? Apalagi untuk featured image. Ini yang terpenting! Karena saat konten di-share, maka featured image-lah yang akan nongol di Facebook, Twitter, atau di mana pun kita share.

So, pastikan gambarnya benar-benar menarik!

2. 94% of people share blog content because they think it might be useful to other people. (Source: nymarketing.com)



Yes, saya juga.
Whenever saya menemukan sesuatu yang kira-kira bermanfaat untuk orang lain, saya pasti ngeshare. Nggak peduli tipe konten, nggak peduli SEO, nggak peduli aturan ina inu.

Begitu artikel tersebut bermanfaat buat saya, lalu saya pikir, mungkin orang lain juga butuh, apalagi kalau saya baca juga kok gampang dipahami dan applicable, maka saya pun dengan senang hati akan share. Nggak perlu mikir dua kali.

Yang pengin dapat share artikel bagus-bagus dari saya, bisa follow Twitter @RedCarra ya. Hahahaha. Saya banyak share artikelnya di sana soalnya. Di Facebook cuma sesekali. Atau join grup FB Blogster juga boleh. Itu adalah grup kecil para blogger yang suka berbagi. Tapi, di sana nggak boleh share artikel/blog sendiri ya :P

Jadi, gimana kita memanfaatkan data ini?
Ya, pastinya kita harus memastikan konten kita useful, nggak cuma untuk pembaca saja, tapi juga untuk orang lain yang kemungkinan belum baca. Jika memang benar-benar bermanfaat, "ada isinya", related atau applicable, pasti akan di-share bahkan tanpa kamu minta kok.

Untuk memastikan konten kamu bermanfaat, maka kamu harus make sure saat orang baca, informasi yang mereka dapat bisa lengkap tanpa menyisakan pertanyaan, "SO WHAT?" di benak mereka.


3. Blogs that post daily get 5X more traffic compared to those that don’t (Source: Social Media Examiner)


Sebenarnya ini logikanya simpel saja.
Saat kamu punya banyak artikel untuk dibaca, apalagi manfaatnya benar-benar terasa, maka makin banyak pula traffic yang akan datang.

Betul nggak?

Di Rocking Mama, saya publish rata-rata 3 - 4 artikel setiap hari. Dan, sekarang trafficnya secara perlahan tapi pasti, merangkak naik.

Google pun lebih suka blog atau situs web yang diupdate setiap hari, ketimbang yang sehari post 5 kali, dan kemudian libur berminggu-minggu dan berbulan-bulan.

Tapi, (dengan berbagai alasan) nggak bisa ngeblog tiap hari?
Ada juga kok source saya baca, bahwa masih lebih baik jika kamu membuat jadwal hari tertentu untuk update blog, kalau semisal kamu nggak bisa update setiap hari. Katakanlah sekali seminggu setiap hari Rabu? Atau setiap Selasa dan Jumat? Atau setiap weekend?

Kuncinya, adalah update teratur.
It's better ketimbang tergantung mood.

Tentu saja, kalau kamu pengin ngeblog menjadi hobi yang menghasilkan ya.
Kalau mau ngeblog untuk diri sendiri?
Ya, nggak apa. Nggak ada yang melarang. Bebas. Asal jangan baperan. Ok?


4. Written articles, especially “how to” posts, as well as case studies, are the kinds of content that lend blogs the most credibility. (Source: Social Marketing Writing)


Konten yang bertipe tutorial atau how-to memang yang berpotensi mendatangkan traffic terbanyak, menurut beberapa source. Juga paling ampuh untuk menurunkan angka Bounce Rate, pun mendatangkan unique visitor.

How-to dan tutorial juga bagus untuk personal branding dan meningkatkan kredibilitas si pemilik blog.

Dan, by surprise, written articles masih tetap jenis konten yang terbaik untuk tujuan credibility ini. Bukan podcast, bukan vlog.

Di beberapa source juga meyakini, bahwa vlog so far masih belum bisa mengalahkan kekuatan konten tertulis, meski kini semakin digemari.


5. 7 million people publish blogs on blogging websites, and another 12 million write blogs via their social networks. (Source: NM Incite)


Yes, ada 7 juta orang publish blog dari blogging websites, dan 12 juta yang lain ngeblog dari social networks.

What does it mean?

That means, if we just want to be a blogger, then we have to compete with those other 19  million bloggers!

What does that mean?

Artinya, kalau kita hanya mau jadi blogger average, ya puaskanlah diri untuk hanya menjadi salah satu dari 19 juta blogger itu. Ngeblog suka-suka, bahas apa saja, nulis yang sudah dibahas oleh semua orang, lakukan apa yang orang lain juga lakukan.

Gampang kan? Nggak butuh effort yang gimana-gimana. Nggak perlu pusing.

Memang kenapa kalau mau jadi average? Nggak boleh?

Boleh! Tapi ya jangan ngeluh dengan visitor yang sedikit, atau revenue yang segitu aja, atau blog yang ya gitu deh.

No pain, no gain.

Uniqueness is important! Untuk bisa stand out, kita perlu uniqueness and originality.
Tengok Sonia Eryka, Claradevi Handriatmaja, Diah Didi. Tengok blog alm. Cumi Lebay. Coba lihat Hans Danial, Marischka Prudence, dan sebagainya.

Mau blog lifestyle?
Coba tengok blog Agus Mulyadi. Dia menulis apa saja yang melintas di kepalanya, tapi coba amati gayanya menulis. Atau Benablog.

Saya nggak yakin Agus ngerti juga soal SEO, tapi nyatanya ya ramai kok. Kenapa hayo, kira-kira?

They're either pioneer or expert di masing-masing niche dan topik, karena mereka konsisten dengan diri mereka masing-masing.

Dari data statistik itu seharusnya kita bisa paham, mengapa keunikan diri kita itu penting. Bahwa menjadi "berbeda" itu penting. Bahwa menemukan niche yang cocok itu segalanya.


6. Once you write 21-54 blog posts, blog traffic can increase by up to 30%. (Source: TrafficGenerationCafe)


Data statistik ini sekali lagi membuktikan, bahwa blogging itu ibarat lari marathon, bukan lari sprint 100 meter.

Katakanlah kita ngeblog sekali seminggu, maka paling cepat kita mendapatkan traffic setelah 21 minggu. Itu paling cepat. Itu pun harus dibarengi dengan banyak usaha untuk mengoptimasi blog, nggak sekadar nulis artikel doang. Itu pun kalau artikel kita bagus dan bermanfaat.

Yes, dengan begitu banyak usaha itu, kita akan baru dapat traffic setelah menunggu cukup lama. Itu juga bukan angka yang pasti kan? Hanya berdasar survei.

Lalu, apakah masih ada yang mikir, hari ini mulai ngeblog, besok sudah dapat traffic? Hari ini nulis artikel, dioptimasi sesuai tips SEO, lalu bulan besok sudah dapat pejwan? Sudah dapat traffic ribuan?

Seperti yang disebutkan oleh Hubspot: The only thing blogging costs you: your time.


7. 6-13 word titles tend to attract the highest and most consistent amount of traffic. (Source: HubSpot)


Siapa yang ngeklik artikel tanpa lihat judul?
Ada nggak?

Saya enggak pernah.
Saya selalu baca judul lebih dulu.

Dan bikin judul ini memang gampang-gampang susah. Saya sendiri butuh latihan banyak kali untuk bisa melatih sense terhadap judul yang clickable. Clickable tetapi tidak clickbait.

Dari mulai judul yang pendek, sampai judul yang panjang, semua sudah pernah saya coba. Dan, so far, saya memang mengamati, kalau judulnya ada "pain" dan ada "promise" pasti akan lebih banyak yang penasaran.

Apa itu "pain" dan "promise" pada judul?
Besok kita bahas kalau sudah sampai ke artikel seri judul yah :D


8. 43% of people tend to skim blog posts. (Source: HubSpot)


Dari data tersebut, kita bisa lihat bahwa faktor readability adalah hal yang penting juga dalam ngeblog.

Tinggalin artikel dengan paragraf-paragraf panjang. Perbanyak kalimat-kalimat pendek, tanpa bertele-tele or muter-muter. Pergunakan bahasa yang sederhana, dan simpel. Akan lebih baik jika dilengkapi dengan infografis-infografis agar pembaca cepat mengerti.

Di akhir artikel, juga akan lebih bagus untuk memberi simpulan dari apa yang dibahas. Semacam summary, agar orang yang membaca langsung scroll ke bawah ini bisa dapat gambaran bahasan secara lengkap.


Kesimpulan


Apa yang kita dapatkan sekarang setelah mencermati berbagai data statistik di atas?
Ada beberapa hal, yang sebenarnya sudah sering kita baca, tapi sekarang (semoga) semakin yakin kalau penting, yaitu:

  • Ngeblog adalah soal konsistensi. Konsistensi di segala aspek: waktu, topik, juga saat sedang "memasak" konten. Semua harus konsisten.
  • Ngeblog adalah sebuah proses, bukan hasil. Inti dari ngeblog adalah pada prosesnya. Hasil, akan mengikuti kemudian. So, let's just enjoy the process.
  • Ada banyak cara untuk menumbuhkan blog secara optimal. Masing-masing cara akan tidak akan mesti cocok untuk satu blog dengan yang lainnya. So, cari yang paling pas untukmu. Mungkin kamu merasa nggak perlu ngerti SEO, tapi pastikan kamu punya ciri khas bak seorang Agus Mulyadi.
By blogging frequently, that is, by posting new, interesting and relevant content about key ideas from your industry or field, you are serving a burning need in the minds of your readers: the desire for solutions. (Source: expresswriters.com)

Sampai ketemu lagi di artikel selanjutnya ya!



Hai, semua!

Memang di luar kebiasaan sih, tapi saya mau post ini dulu sebelum hectic Paskah weekend ini.

Barangkali dari kemarin ada yang sempat menyimak saya, bahwa saya sudah menulis beberapa seri artikel di blog ini. Seperti seri Idea Mining, dan sekarang sudah ke seri kedua yaitu How To Build Your Idea Bank.

FYI, untuk rencana blogging di tahun 2017 hingga seterusnya, saya memang merencanakan masterplan blogging berdasarkan topik sesuai dengan flow chart orang kalau ngeblog dan menulis konten pada umumnya, dan semuanya memang akan saya bahas di blog ini. Saat artikel-artikel per seri sudah selesai tertulis, maka kemudian akan saya compile (plus tambahannya dan update jika ada) yang kemudian akan menjadi ebook.

Ebook tersebut akan saya jual sebagai produk mandiri di blog ini.
Istilahnya, ketimbang saya bikin kelas online, seperti yang disarankan oleh beberapa orang. Selain karena sudah banyak yang bikin kelas online, ebook akan jadi lebih praktis. Kapan pun dibutuhkan atau lupa, bisa dibuka kembali.
Saya tinggal collect artikel per topik, saya compile jadi satu. Siapa yang butuh bahasan tertentu, boleh ambil satu pack aja.

So, saya pikir, iya, mending saya bikin ebook aja.
Kok ebook? 
Ya, hemat saya, kalau jadi ebook pasti akan lebih long lasting ketimbang kelas online.

Materi-materinya bukan ditulis karena saya expert, tapi karena saya sudah atau sedang menjalani proses pembelajarannya. Sudah dipraktikkan, dan tips-tips juga how-to yang ada sudah pasti (seharusnya) applicable.

So, ini dia beberapa rencana topik yang akan saya bahas di blog ini di tahun 2017, dan seterusnya. Pokoknya sampai semua tuntas dibahas.


CarolinaRatri.com Blogging Masterplan


I. Idea Mining

  1. Mencari ide tulisan dengan berbagai tool
  2. Mendengarkan audience blog untuk mendapatkan ide
  3. Mendapatkan ide tulisan dari kompetitor
  4. Cara-cara mencari ide tulisan yang lain

II. How to build your idea bank

  1. Tools untuk menyimpan ide
  2. Mengumpulkan ide
  3. Brainstorming ide

III. Writing

  1. Berbagai jenis konten yang bisa kita produce 
  2. Checklist ide menulis
  3. Tools for content creation
  4. Types of article people will like
  5. Tips-tips menulis
  6. Apa yang mesti kamu persiapkan benar-benar sebelum mulai menulis konten.
  7. Set your blogging tone
  8. Seputar personality dalam tulisan
  9. Mengenali audience blog: membuat persona dan menggunakan Google Analytics
  10. Tips riset untuk tulisan

IV. Mau menulis di mana? (nggak cuma di blog)

  1. Beberapa platform blog and how to choose
  2. Blog niche
  3. Start blogging from scratch
  4. Blogging tools
  5. Blogging communities
  6. Media lain untuk menulis
  7. Running out of ideas? (how to)
   

V. Monetizing and selling

  1. When is the right time to start monetize?
  2. Produk yang bisa dijual
  3. Membuat media kit
  4. Masalah-masalah yang sering dihadapi saat monetizing

VI. Cook!

  1. Bagaimana mulai menulis? Mau menulis apa?
  2. Beberapa metode untuk membuat outline
  3. Struktur tulisan yang menarik
  4. Berbagai jenis konten
  5. Writing tools
  6. Yang perlu kamu tahu tentang plagiarisme
  7. Self editing (re-purposing)
  8. Publish!
  9. After publish actions

VII. Visual Content

  1. Visual identity
  2. Jenis-jenis konten visual
  3. Tools untuk visualizer
  4. Static Image hacks and enhancing
  5. Tutorial membuat infografis sederhana 
  6. Serba serbi GIF
  7. Typography

VIII. Content Promotion

  1. Promosi konten yang efektif
  2. Tools untuk promosi konten
  3. Beberapa cara promosi konten
  4. Memanfaatkan UG
  5. Serba serbi guest blogging (re-purposing dan update)
  6. Internal promotion

IX. Viral content

  1. Apa itu konten viral?
  2. Serba serbi karakter konten viral
  3. Tips konten viral

X. Let's be friend with Google!

  1. Alasan mengapa blogger harus memperhatikan SEO
  2. Beberapa poin SEO basic
  3. Serba serbi Google yang harus kamu tahu
  4. SEO tools

XI. Blogging Support and Tools

  1. Blog Analyzing
  2. How to be more productive
  3. Link shorteners
  4. Segala hal tentang mood management

XII. Freelancing

  1. Build your portfolio
  2. Serba serbi kesulitan dan masalah freelancing
  3. Personal branding as a freelancer
  4. Tools untuk freelancer (re-purposing dan review per tools kalau diperlukan)
  5. Metode Pomodoro

Nah, itu dia masterplan konten untuk blog ini di tahun 2017, dan tahun-tahun seterusnya. Nggak menutup kemungkinan akan berkembang ya, soalnya kita nggak pernah tahu perkembangan di dunia blogging dan content creation yang serba cepat ini.

Masing-masing poin setiap topik itu nanti akan dijembrengin juga per sub bahasan, jadi misal tips menulis artikel, itu nanti bisa terdiri atas beberapa artikel meliputi tips menulis personal story, tips melakukan interview dan lain-lain.

So, saya sudah membuat satu laman khusus untuk roundup artikel-artikel berseri ini. Kamu bisa lihat di laman Series ini ya. Setiap kali ada artikel yang masuk ke dalam masterplan ini, akan saya update di halaman tersebut.

Sedangkan Daftar Isi berisi semua postingan atau artikel, baik yang masuk dalam artikel berseri maupun yang enggak.

Nah, nanti ebook akan saya update melalui Newsletter. So, make sure kamu nggak ketinggalan setor email untuk mendapatkan Newsletter ini ya. Lihat ada banner di atas header di atas sana? Tuliskan emailmu di sana untuk mendapatkan update blog dan juga ebook-nya. Supaya kamu nggak ketinggalan dapatin artikel-artikel seputar menulis konten kreatif dan juga blogging.

So, begitulah rencana konten untuk blog ini, setidaknya setahun ini. Karena sudah tahu kita bakalan mau belajar bareng tentang apa saja, so, stick with me ya ;)

Well, see you di postingan selanjutnya ya!




Hai!

Seharusnya masih ada 3 topik artikel untuk seri Idea Mining. Tapi ... hmmm ... somehow, second thought, nanti akan saya masukkan saja ke ebook. Supaya yang dapat ebook nanti mendapatkan nilai tambah selain yang regular baca di blog saja. Hahaha.

Gimana cara dapatin ebook-nya?
Nanti ya, saya informasikan. Yang pasti, saat kamu buntu ide, lalu kamu buka ebook saya itu, insya Allah, kamu akan segera mendapat ide menulis ;)

Bentar ya, lagi saya kerjain layoutnya.

Now, we're moving to seri How to Build Your Ideas Bank.

Saat kamu sudah browsing, mencari ide, melakukan riset, menemukan source-source untuk tulisan, lalu apa yang kamu lakukan?

Kalau saya sih, sumber-sumber yang sudah saya percaya bisa mendukung konten saya supaya matang itu akan saya kumpulkan di satu tempat, agar kapan-kapan diperlukan bisa saya buka kembali.

So, I call it as my ideas bank.

Saya sendiri punya beberapa ideas bank saat ini. Ada yang saya simpan di Google Drive dalam bentuk Spreadsheet. Yang paling banyak sih saya masukkan ke Feedly, sekalian supaya ikutan update kalau ada artikel baru dalam blog-blog atau website-website yang saya rasa bermanfaat. Dari Feedly kemudian saya sortir lagi masuk ke Evernote.

Wih, niat amat yak, cuma buat ngumpulin ide aja.
JELANG DOS eh ... JELAS DONG!
Hari-hari saya bakalan habis cuma buat nyari ide kalau saya nggak gitu. Saya kan mesti cari ide nulis buat diri saya sendiri. Plus nyari trigger article buat para penulis Rocking Mama, pun ngasih umpan ide buat anak intern Zetta. Hahaha. Kalau saya nggak bangun database ide, meh ... semua target nulis pasti lewat. Saya keteteran.

So, I have to set all up.

Nah, sekarang saya akan kasih beberapa tools yang bisa kamu pakai untuk menyimpan ide yang kamu dapatkan secara online ya. Bisa juga kamu pakai untuk menulis catatan-catatan sih, karena beberapa ada feature notes-nya juga.

Kenapa mesti ada tools untuk menyimpan ide? Ya, itu tadi. Biar nggak bingung pas butuh. Tools bookmark bawaan browser mah terbatas ya. Bakalan panjang, kalau saya yang pake mah. Panjang dan ga jelas, akhirnya ya susah juga buat nyari lagi artikel yang saya mau.

Gitu. Yes? Yes.

Beberapa tools yang bisa kamu gunakan untuk menyimpan ide menulis atau untuk bookmarking.


1. Pocket




Tools yang satu ini cukup handy dan user friendly. Sekilas dilihat, interface-nya mirip sama Pinterest.

So, whenever kamu browsing dan tiba-tiba menemukan artikel yang cakep atau bisa jadi triggers untuk menulis, save dengan Pocket.

Kunci untuk penyimpanan link artikel yang rapi adalah terletak pada hashtag yang kamu gunakan. Saya sendiri memisahkan antara hashtag untuk Blogging, Writing, Parenting, Relationship dan seterusnya, sesuai dengan yang biasa saya bahas.

Pocket ini bisa kamu download juga Apps-nya di smartphone, iPad, iPhone, sehingga kamu tetap bisa browsing-browsing on the go.

Nanti, saya akan bahas khusus Pocket ini dalam satu artikel khusus. Gimana caranya merapikan bank ide, supaya kalau nemu apa-apa bisa cepet. 


2. Feedly



Ini dia andalan saya untuk kurasi artikel sekaligus bookmarking.

Saya punya 2 akun Feedly aktif, yang masing-masing saya pergunakan sesuai kebutuhan. Satu akun untuk menyimpan website-website sumber inspirasi, akun yang lain untuk menampung update artikel teman-teman blogger.

Feedly bisa didownload juga apps-nya di smartphone, juga bisa sync antara satu device dengan device yang lain.

Feedly ini memang merupakan RSS Reader, pembaca syndication. Apa itu RSS, Syndication, nanti akan saya jelaskan khusus di artikel Feedly ya. Juga nanti akan saya bahas detail tutorial gunainnya, dan gimana saya memanfaatkannya untuk menambang ide yang nggak pernah habis. Malah bikin galau deng, wong kebanyakan =)))

Kenapa harus 2 akun?
Biar nggak siwer.

Semua saya pisah-pisahin gini aja siwer parah. Apalagi kalau campur aduk jadi satu. Pusing pala Carra Barbie.

So far, saya paling bersahabat dengan Feedly. Cuma kekurangannya cuma satu, kalau memanfaatkan fitur Search, saya mesti bayar :)))
Jadi, kadang agak susah untuk mau mencari lagi artikel yang pernah saya bookmarked di sana. Iya, saya masih suka gratisan. Hahahaha.

So, gimana cara mengatasi hal ini?
Saya pakai Evernote.


3. Evernote



Evernote adalah tools kedua favorit saya setelah Feedly.

Di Evernote, saya nggak cuma bisa nyimpen link doang, tapi saya bisa menyusun sekalian per topik sesuai yang saya mau, plus artikel referensinya sekalian ditautkan.

Setiap kali menjelang hari Sabtu, saya akan mengecek Evernote untuk melihat topik apa yang akan saya tulis di blog ini.

Nggak cuma untuk blog ini, saya pun membangun bank ide yang sudah tersortir dengan rapi untuk Rocking Mama di Evernote.

Saya akan bahas selanjutnya di satu artikel khusus dalam seri How to Build Your Ideas Bank juga. So, stay tuned yah.

4. Scoop.it



Selain 3 tools yang sudah saya gunakan di atas, ada satu rekomendasi tools untuk membuat database ide tulisan juga nih. Saya sendiri belum pernah coba sih, tapi kalau kamu mau cobain, boleh saja silakan. Rekomendasinya dari sumber yang terpercaya kok ;)

Yes, Scoop.it.

Saya mau coba dulu ya. Nanti kalau saya sudah coba, mungkin bisa juga saya bahas sebagai salah satu bagian dari seri How to Build Your Ideas Bank.


Nah, Gaes. Itu beberapa tools yang bisa kamu manfaatkan untuk membangun database ide menulis.
Kalau kamu setuju dengan saya, bahwa menulis itu nggak cuma ngadepin laptop dan lalu bengong, maka kayaknya kamu perlu membuat bank ide ala kamu sendiri.

Saya akan tunjukkan cara saya membangun bank ide. Kamu boleh sontek cara saya, atau kamu bikin dengan caramu sendiri, disesuaikan dengan kebutuhan kamu.

Atau kamu tetap hanya akan menunggu dan berharap ide akan datang dengan sendirinya, dan lalu ngeluh nggak nulis karena nggak ada ide. Terus, akhirnya ngeluh lagi, blog kamu nggak dikunjungi atau dikomenin orang.

Semua pilihan ada di tanganmu.


"Kenapa sih blog mesti dipisahkan gitu? Seharam itukah menyatukannya dalam satu tempat?"

Saya mendapatkan pertanyaan tersebut dari Mbak Shanty Dewi Arifin.
Ahhh, Mbak Shan. Seringkali postingan atau artikel di blog ini memang terinspirasi oleh pertanyaan-pertanyaan Mbak Shan. Makasih ya. Keep asking me anything, karena, somehow, Mbak Shan telah menjadi sumber ide menulisku. Hahaha. *salim, cium tangan*

Pertanyaan tersebut dilontarkan oleh Mbak Shan saat kami sedang berdiskusi mengenai buku. Dalam sebuah grup menulis, ada yang meminta rekomendasi dari saya mengenai buku sastra yang cocok dibaca oleh pemula. Maka, segera saja saya memberikan tautan ke blog buku saya.

Dari situ, mungkin ya, mungkin, Mbak Shan kemudian kepikiran, ternyata Carra ini ternak blog.

Hahaha. Iya, saya mah ternak blog.

Awalnya semua memang jadi satu, di redcarra.com yang dulu itu. Tapi kemudian satu per satu saya lepas, seiring blog saya yang makin bermasalah. Saat blog kesayangan saya, yang PV per harinya udah 2.000 - 3.000 itu crashed down, maka saat itulah kesempatan besar untuk me-rebranding eksistensi blog. Saya nggak akan menyia-nyiakannya. Separuh sakit hati sih, blog sudah sebegitu tiba-tiba matik. Maka saya harus bikin lagi yang lebih bagus!

We have to use the rage wisely, right? Hahaha.

Saya lalu bikin blog ini, blog buku sendiri, blog fiksi sendiri, blog portfolio grafis sendiri, dan bahkan ketambahan sebuah portal dengan target audience mamah-mamah muda.

So far, saya baru bisa mengembangkan yang portal dan blog ini. Yang lainnya, masih sekilasan, karena tenaga yang terbatas.

Tapi, kenapa saya keukeuh memisahkan blog-blog saya itu dalam topik yang berbeda-beda? Apakah memang haram untuk menjadikannya dalam satu blog? Kan lebih gampang maintenance-nya?

Memisahkan blog dalam topik yang berbeda-beda, mungkin memang terlihat lebih susah dalam maintenance.

TAPI, ada lebih banyak keuntungan atau alasan lain yang membuat saya tetap lebih baik memisahkan blog-blog saya dalam topik yang berbeda.


Inilah alasan saya memisahkan blog dalam topik yang berbeda-beda.



1. Agar update blog saya jadi terlihat "teratur"



Bot Google akan crawling setiap hari. Saat dia berkunjung ke satu website dengan satu update baru, maka kemudian besoknya dia juga akan datang di waktu yang sama, dan berharap akan menemukan update baru lagi. Bot Google akan mencatat, kapan kita update. Kalau dia nggak kecele, dalam artian, setiap kali dia datang dia menemukan update baru, maka dia pun akan happy.

Tapi kalau enggak, si bot akan kecewa dan nggak datang lagi.

CMIIW, begitulah cara bot crawling Google bekerja. Koreksi kalau saya salah ya. Itu adalah pemahaman yang saya simpulkan dari membaca beberapa artikel dan berdasarkan pula apa yang dikatakan oleh guru SEO saya.

Bot crawling Google merupakan "cerminan" pengunjung blog. Saat pengunjung setia blog menantikan adanya update baru, tapi kemudian ternyata nggak ada update, maka mereka pun kecewa.

Saya semakin ke sini semakin yakin, kalau saya cuma bisa update blog di hari Sabtu dan Minggu. Hahaha. Hyaaah ... energi sudah kesedot abis di weekdays, bo'. Kerja di 2 juragan. Wakakakak. Tapi saya nggak mau mengeluh, karena toh semua juga saya nikmati banget. Tapi, ya gitu, ada "harga" yang harus saya bayar. Saya nggak bisa lagi update blog tiap hari.

So, saya putuskan saya cuma bisa ngeblog di weekend. Weekdays, saya rotasi share. Bahkan yang lama-lama pun saya share lagi. Maka, saya pun tetap mendapat traffic.

Dengan memisahkan blog per topik, maka saya bisa sekaligus update banyak artikel dalam sehari tanpa takut mengecewakan si Google bot. Dalam sehari, saya bisa update blog grafis, blog buku, blog ini, dan blog gambar saya sekaligus. Selama weekdays, blog-blog saya nggak ada update-an.

Dengan demikian, saya bisa menjaga irama ngeblog saya. Nggak ada beban karena saya membebaskan diri dari pikiran mesti update di weekdays. Sedangkan untuk weekend, sudah pasti banyak yang bisa saya bahas. Bahkan turah-turah sampai tahun depan nih topik artikelnya. Hahahaha.

Semua saya timbun memang. Tinggal keluarin satu per satu. Kok nggak nyekedul aja sih? Kan bisa ditulis di weekend, diskedul untuk keluar di weekdays. Nggak, saya kurang nyaman cara kerja kayak gitu. Karena dengan begitu, saya di weekdays berarti masih saja kepikiran blog. Wah, harusnya blog yang ini keluar nih artikel hari ini. Jadi, malah mantengin :)))))

Saya pengin benar-benar bebas merdeka di weekdays supaya saya bisa fokus kerja. Dan supaya nggak update langsung brek 4 topik, maka saya pisahkan per blog. Sehingga Google ngeh-nya ya per blog itu masing-masing update 1 artikel per minggu.

Tinggal konsisten aja nih, harinya. Saya penginnya sih tiap Sabtu. Tapi kadang Sabtu banyak acara juga ya. Sedangkan hari Minggu saya pengin libur total. Hahaha. Ya itu. Di situ masih galaunya aja.


2. Untuk memudahkan saya nge-branding



Saya nggak mau cuma dikenal sebagai "Carolina Ratri, blogger."
Saya pengin dikenal sebagai "Carolina Ratri, blogger ...."

Saya nggak mau berhenti di kata "blogger" saja. Saya mau ada kata lain yang mengikuti kata "blogger" itu. Tentunya yang bercitra positif.

Blogger itu banyak. Jutaan. Kalau saya hanya dikenal sebagai "blogger", maka apa bedanya saya dengan yang lain?

Dengan memisahkan blog-blog saya per topik, saya pun lebih mudah "mengarahkan" orang untuk tahu nama saya sebagai "blogger yang ...."

Saya pernah nanya. Mas Febriyan Lukito menyebut saya begini, "Mbak Carra itu yang suka nulis content writing tips."

Nah, itu berarti branding saya ke Mas Ryan sudah cukup berhasil :))))

Ranny Afandi lain lagi, "Makcar rocking mama."

Nah, itu berkaitan dengan personal branding saya untuk si portal. Hahahaha. Berhasil.

Mas Dani Rachmat bilangnya gini, "Blogger yang nulis tentang all you need to know about writing and blogging."

Berhasilkah? :D

Kamu sendiri, kalau ditanya, "Carolina Ratri itu siapa?", jawabanmu apa?
Silakan ditulis di kolom komen ya :D Saya kepo.

So far, yang saya branding mati-matian memang blog ini dan Rocking Mama. Untuk blog fiksi, saya lebih ngebranding Monday Flashfiction-nya. Untuk blog portfolio, blog gambar, blog buku, memang belum saya branding se-hidup mati blog ini dan Rocking Mama. :))))

Saya masih keteteran. Saya masih kewalahan dan takutnya nih, kalau saya branding beneran, nanti kalau ada client masuk, malah saya nggak bisa maintain. Jadi yang itu memang saya asal jalan saja. Sekadar mewadahi apa yang sudah saya lakukan, tapi saya belum tahu kapan bisa "jualan" lagi di sana.

Tapi, saya anggurin bukan berarti saya nggak bisa menghasilkan dari sana lho.
Coba lihat alasan saya berikutnya.


3. I work for targeted audience



Sebelum membahas mengenai alasan ini lebih lanjut, saya mau kamu membaca artikel ini terlebih dahulu. Artikel ini membahas mengenai super niche.
Silakan dibaca ya, nanti kalau sudah selesai balik lagi ke sini ya. Jangan kelamaan di sana. Nanti aja habis baca artikel ini boleh balik lagi ke sana. #hloh

Thank you, Mas Febriyan Lukito, yang udah kasih lihat artikel itu. Jadi makin yakin deh saya ngerjain blog ini. Hehehe.

Sudah selesai bacanya? Ceritanya tentang seorang blogger yang hanya mendapatkan visitor kurang dari 1.000 saja per month, tapi dia tetap mendapatkan revenue yang melimpah dari blognya tersebut.

Saya mau kutipkan yang bagian ini.

Relevancy to the readers, not quantity of visitors, has become the new measurement of a successful blog.
 

Being relevant cuts through the noise, makes connecting easier and builds authority quicker.
Once you have authority you can achieve just about anything.

Nah, yang saya bold dan highlight itu PENTING.

Saya punya targeted audience masing-masing untuk blog-blog saya.

Target audience blog ini pastinya adalah para blogger, para penulis dan content writer. Apa yang saya dapat dari target audience yang saya patok di blog ini? Pastinya saya sudah diundang sebagai speaker di beberapa event. Saya juga sudah nulis buku khusus untuk blogger. Shortly, saya akan jualan produk saya sendiri melalui blog ini, yang targetnya adalah para blogger dan writer.

Semoga lancar. Aminkan ya. :D

Target audience blog buku pastinya ya pembaca buku dan penerbit. Sekitar 2 tahun yang lalu, saya menjalin kerja sama dengan salah satu penerbit besar (non Stiletto Book) selama 3 bulan. Saya dikirimi sepaket buku, gratis, untuk saya baca dan saya review di blog tersebut.

Beberapa kali saya juga ikutan nge-host blog tour. Oh iya, April ini bakalan ada blog tour di blog buku saya itu. Ikutan ya. #teteup

Target audience blog grafis pastinya adalah orang-orang yang membutuhkan bantuan grafis, seperti kartu nama, logo, brosur dan lain sebagainya. Sebenarnya blog tersebut adalah yang paling potensial untuk bisa dipakai jualan. Tapi, saya lagi berhenti ngulik grafis sih. Hahaha.

Begitu juga dengan blog khusus sketsa. Ada targeted audience juga.

Saat saya sedang melakukan networking dengan para blogger dan pekerja digital, maka saya akan menyodorkan blog ini sebagai portfolio saya. Saat saya lagi networking dengan para desainer grafis, maka saya pun menyodorkan blog grafis saya.

Saat ada seorang penulis membutuhkan ilustrasi untuk bukunya, maka saya sodorkan blog sketsa.

Dengan demikian, masing-masing pihak yang membutuhkan bisa langsung saya kasih lihat tanpa terdistraksi oleh yang lainnya. Mereka pun dengan cepat bisa menemukan informasi yang mereka butuhkan.

Working with super niche akan membawa keuntungan dengan jangka yang lebih panjang buat kita. Saya pastinya nggak mau ngeblog hanya untuk jangka waktu yang pendek. Saya pengin ini menjadi "profesi" saya hingga saya sudah nggak boleh kerja lagi sama Tuhan. Maka, saya pun harus punya planning jangka panjang.

Jadi, kalau saya bikin laporan revenue ala-ala blogger luar itu sih, sudah bisa kayaknya ya. Buahahahaha. *ditabok karena sombong*

Tapi kalau ditanya pageview, wew, jauuuhhhh dari teman-teman blogger semua. Hahaha. Tapi saya nggak baper. Buat apa? Target masing-masing berbeda. Orang masing-masing blog dan web yang saya kelola saja beda-beda kok PV-nya. Nggak bisa dibandingin.

Contoh nih.
Bulan ini pageview Rocking Mama menembus angka 650K. Tapi, blog ini paling cuma 1%-nya doang. Apakah kemudian saya merasa gagal nge-maintain blog ini? NGGAK! Orang targetnya beda. Jumlah mamah muda di dunia ini jelas lebih banyak ketimbang jumlah blogger dan penulis.

Tapi Rocking Mama kalah jauh ketimbang Hipwee, misalnya. Ya jelas dong. Hipwee kan targetnya pukat harimau. Sedangkan coba ya yang single, mana mau mereka baca Rocking Mama? Alasannya, ih, eikeh kan belum mama-mama!

Iya kan???!!!
Padahal yang mama-mama baca Hipwee pun masuk.
See the point here?

Makanya kalau ada yang mau baca, apalagi mau nulis untuk Rocking Mama padahal masih single itu pengiiiin deh rasanya ta pelukin. Hahahaha =))) Beneran!

Kalau mau ngebandingin ya harus apple to apple. Saya punya beberapa target competitor yang harus di-smack down. Dan salah satu faktor mengapa mereka saya anggap kompetitor ya karena target audience yang sama.

So, kamu yang baper kalau lihat teman-teman blogger lain pada pamer pageview, coba deh, nggak usah dipikirin banget-banget. Ada banyak hal lain yang bisa menjadi patokan kesuksesan ngeblog. Jumlah pageview hanya salah satunya. Kamu bisa mencari jalan yang lain. Misalnya, coba diulik targeted audience-nya, lalu stick on it. Nggak usah mikirin angka dan ukuran, just be consistent. Kamu nanti, saya yakin deh, malah bisa mendapatkan revenue yang lebih.



Nah, itu dia beberapa alasan utama saya mengapa saya memisahkan blog-blog dalam topik yang berbeda sesuai niche. Bahkan sebenarnya saya pun pengin banget menyempitkan lagi niche-nya. Misalnya buku, saya pengin spesialis buku sastra ala SGA, Agus Noor, Djenar dkk. Tapi apa daya, godaan ternyata masih lebih kuat dari iman. Jadi saya masih review juga buku lain-lainnya.

Super niche, that's it.

Semoga pertanyaan Mbak Shan terjawab ya. Hahaha. Panjang pun begini. Tapi semoga memuaskan. Kalau ada yang masih kurang dan mengganjal, sila ditanyakan di komen yah. Pasti aku jawab.

Well, happy weekend, Fellas.
Jangan lupa untuk selalu ngeblog dengan bahagia.